UJI BERBAGAI VARIETAS DAN
PEMBERIAN PUPUK BOKASI CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TERUNG (Solanum melongena.L)
Peni
Bauti,
Elfi Indrawanis dan Tri Nopsagiarti
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa
Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Fax (0760)7014730
Teluk Kuantan
Email : venny_b@yahoo.com
ABSTRACT
The
examine of some varieties and giving liquid bokasi toward the growing and
production of eggplant (solanum melongena, L), research agricultural colleges’s
garden of swarnadwipa, taluk kuantan kabupaten kuantan singingi, the time
of this reseach was 4 months, from
agustust until november 2, the first factor was varieties ( V ), that was V1 : lezata F1 varieties V2 :
Milano F1 varieties V3 : kenari. The second factor was the giving of liquid
bokasi, that was B0 : withaut treatment, B1 : 100 ml/ plants, B2 : 200 ml/
plants, B3 : 300 ml/ plants. Thereby, it wourld be gotten 12 combination of
each treadment, and the treadment consisted of 3 repetitions. The use of plot
in this experiment was 36 plots. Each plot consisted of 4 plants and 3 of them
was become the sample.the whole plants was 144. By parameter as : the of the
plant (cm), the age of flower oppearace, cropping, (day), fruit weight perplot
(gr).then, the obtained data would be contiued by continiue test different real
downright (BNJ) in 5 % level. The treadment of some varieties shawed the real
inttitence toward all abservation of singlely, parameter while the giving of
luquid bokasi singley diddn’t show the real intluence of all parameter,and
,as interaction some varieties and liquid bokasi show and the real intlience
toward parameter of the fruit weingh perplot, with the best treatment was in
V2B3 (1663.33 gr) treatment.
Key words : Varieties, bokasi,
eggplant
PENDAHULUAN
Sayuran
merupakan salah satu tanaman yang sangat
berguna dan dibutuhkan dalam kehidupan manusia sehari-hari baik berupa
daun, batang, umbi, bunga, maupun buah, dimana perananya sangat penting dalam
pemenuhan gizi, terutama sebagai sumber vitamin dan mineral. Berbagai jenis
sayuran telah banyak dikenal orang, salah satu diantaranya adalah terung
yang dikenal dengan nama ilmiah Solanum melongena. L.
Pengembangan
usaha terung memiliki nilai ekonomis yang tinggi, namun masyarakat Indonesia masih menganggap
terung sebagai usaha sampingan, akibatnya
rata-rata produksi terung secara nasional masih rendah yakni 3,5 - 4,7 ton per hektar. Peningkatan produksi terung sangat penting
bagi pemenuhan kebutuhan pasar
(konsumen) dalam negeri maupun
ekspor (Yuliani, 2004).
Kendala
yang sering terjadi selama budidaya tanaman terung adalah kurangnya peningkatan produksi
tanaman, untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan berbagai
alternatif diantaranya penggunaan varietas unggul dan
pengunaan pupuk organik salah satunya bokasi cair.
Pemakaian
varietas harus sesuai dengan kondisi lahan, disamping pemberian pupuk bokashi
cair, pemilihan varietas yang tepat juga berpengaruh terhadap lahan yang
ditanami, untuk dapat membedakan yang satu dengan yang lain kita harus
mengetahui sifat-sifat tanaman tersebut. Identifikasi varietas merupakan salah
satu cara yang baik untuk pengenalan varietas yang akan digunakan (Sunarjono 2003).
Pupuk
bokasi cair
merupakan larutan yang diperoleh dari hasil fermentasi bahan-bahan organik yang
berasal dari kotoran hewan yang kandungan unsur haranya lebih dari satu. Hampir semua kotoran hewan dapat
digunakan sebagai pupuk namun kotoran seperti kambing, sapi dan ayam merupakan
kotoran yang paling sering digunakan untuk dijadikan pupuk. Pupuk
kotoran hewan dapat membantu menetralkan racun logam berat di dalam tanah,
memperbaiki struktur tanah, membantu penyerapan hara,dan mempertahankan suhu
tanah. Kelebihan dari pupuk bokasi
adalah dapat secara cepat mengatasi defisiensi hara dan mampu menyediakan hara
secara cepat (Hadisuwito, 2007).
BAHAN DAN
METODA
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan dikebun percobaan Sekolah Tinggi
iIlmu Pertanian Swarnadwipa Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini
dilaksanakan selama 4 bulan terhitung dari bulan Agustus Sampai bulan
Nopember 2012.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah
terung varietas lezata Fl, milano
F1, kenari, EM4, kotoran sapi yang masih basah,
pupuk urea dan air. Sedangkan
alat yang digunakan adalah ember plastik bertutup dengan kapasitas 40 liter,
cangkul, meteran, ember, tali rapia, parang, palu, gergaji, paku, gembor,
papan, timbangan, alat-alat tulis, kamera dan handsprayer
Bahan Metode
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial
yang terdiri dari 2 faktor yaitu V (Varietas) terdiri dari 3 taraf dan B
(Bokasi) terdiri dari 4 taraf perlakuan
sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan masing – masing perlakuan
terdiri dari 3 ulangan. Jumlah plot yang digunakan dalam percobaan ini sebanyak
36 plot, masing – masing plot terdiri dari 4 tanaman dan 3 diantaranya
dijadikan tanaman sampel. Jumlah tanaman keseluruhan 144 tanaman.
Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut : Faktor
pertama V Varietas : V1 : Varietas
Lezata F1, V2 : Variatas Milano F1 , V3 Varietas Kenari : Faktor B Bokasi B0 :
Tanpa Perlakuan B1 : Pemberian bokasi
cair 100 ml/ Tanaman, B2 : Pemberian bokasi cair 200 ml/ Tanaman, B3 :
Pemberian bokasi cair 300 ml/ Tanaman.
Data hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan di analisis
secara statistik sesuai dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan
rumus sebagai berikut : Yijk = µ + Ai + Gj + Kk + (AG)ij + εijk. Apabila dalam Analisis Sidik Ragam memberikan
pengaruh yang nyata terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan
Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%, untuk mengetahui perbedaan
masing-masing perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Setelah
dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam pada pengamatan tinggi
tanaman terhadap uji berbagai varietas terung (Solanum melogena. L) dan pemberian pupuk bokasi cair menunjukan
bahwa respon pertumbuhan beberapa varietas terung secara tunggal berpengaruh
nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman, sedangkan perlakuan pemberian pupuk
bokasi cair secara tunggal tidak menunjukan pengaruh yang nyata terhadap
parameter tinggi tanaman dan begitu juga perlakuan secara interaksi antara
berbagai varietas terung dan pemberian pupuk bokasi cair juga tidak menunjukkan
pengaruh yang nyata.
Tabel 1.
Rata – rata Tinggi Tanaman umur 39 HST dengan Perlakuan Berbagai Varietas dan
Pemberian Pupuk Bokasi Cair (cm)
|
Faktor V
|
Faktor B
|
Rerata V
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
V1
|
17.22
|
17.89
|
21.00
|
19.78
|
18.78a
|
|
V2
|
15.22
|
20.33
|
14.67
|
15.56
|
16.44a
|
|
V3
|
9.00
|
8.17
|
8.56
|
9.17
|
8.72b
|
|
Rerata B
|
13.81
|
15.46
|
14.74
|
14.83
|
|
|
KK=25,35%
|
BNJ V=2,89
|
||||
Angka
– angka yang diikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada uji Lanjut BNJ taraf 5%.
Hasil
dari analisis data tabel diatas menunjukan bahwa tinggi tanaman terung
memberikan pengaruh yang nyata bahwa
nilai yang tertinggi terdapat pada varietas Lezata F1 (V1) yaitu 18,78 cm tidak
berbeda nyata dengan varietas milano F1 (V2) yaitu 16,44 cm, tetapi berbeda
nyata dengan perlakuan varietas kenari (V3) yaitu 8,72 cm. Hal ini diduga
karena perbedaan varietas yang digunakan. Varietas lezata F1 merupakan varietas
yang paling baik pertumbuhannya kemudian
diikuti varietas milano F1 dan varietas Kenari. Hal ini sesuai yang dikemukakan
oleh Yatim (1991), bahwa setiap gen itu
memiliki pekerjaan sendiri – sendiri untuk menumbuhkan dan mengatur berbagai
jenis karakter dalam tubuh tanaman. Varietas merupakan kelompok tanaman dengan
ciri khas yang seragam dan stabil serta mengandung perbedaan yang jelas dari
varietas lain. Menurut Lakitan (1996), faktor genetik menentukan tinggi tanaman
oleh sebab itu sangat penting dalam pembibitan menggunakan bibit yang
berkualitas.
Umur Muncul Bunga (Hari)
Setelah
dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam, pada parameter pengamatan umur muncul bunga terhadap
beberapa varietas terung (Solanum
melogena. L) dan pemberian bokasi cair menunjukan bahwa varietas terung
secara tunggal berpengaruh nyata terhadap umur muncul bunga, sedangkan
perlakuan pemberian pupuk bokasi cair secara tunggal tidak menunjukan pengaruh
yang nyata terhadap parameter umur muncul bunga begitu juga dengan perlakuan
secara interaksi antara berbagai varietas terung dan pemberian pupuk bokasi
cair juga tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.
Tabel 2.
Rata – rata Umur muncul bunga dengan Perlakuan Berbagai Varietas dan Pupuk
Bokasi Cair (Hari).
|
Faktor V
|
Faktor B
|
Rerata V
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
V1
|
64.00
|
63.67
|
64.11
|
61.89
|
63.42c
|
|
V2
|
61.67
|
58.22
|
62.78
|
61.56
|
61.06b
|
|
V3
|
47.00
|
49.11
|
50.67
|
49.67
|
49.11a
|
|
Rerata B
|
57.56
|
57.00
|
59.19
|
57.70
|
|
|
KK=4,47 %
|
BNJ V=1,98
|
||||
Angka – angka yang diikuti
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji Lanjut BNJ 5%.
Dilihat
dari tabel 2 diatas bahwa pengamatan parameter umur muncul bunga memberikan
pengaruh yang nyata. Dari masing – masing varietas menunjukan waktu yang
berbeda, dimana V3 waktu berbunga lebih cepat bila dibandingkan dengan V2 dan
V2 lebih cepat dari V1, hal ini diduga
karena varietas terung yang digunakan dianggap belum bisa beradaptasi dengan
kondisi lingkungan yang baru untuk mengeluarkan bunga. Menurut Siregar (1981)
keluarnya bunga pada tanaman ditentukan oleh berbagai faktor diantarannya
faktor linkungan dan genetik. Apabila fase generatatif sesuai yang dikehendaki maka faktor diatas
sangat mendorong kelurnya bunga dan membukanya bunga. Harjani (1979)
menjelaskan suatu tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor genetik terutama dalam
pembentukan organ-organ generatif, penyimpangan akan berlansung pada waktu yang
lama dan kondisi lingkungan yang
ekstrim. Inisiasi bunga merupakan tahap yang sangat penting pada beberapa
tanaman, karena merupakan awal yang menentukan terbentuknya organ hasil dan
jumlahnya pertanaman. Perubahan tunas apikal atau aksilar dari vegetatif
menjadi tunas bunga merupakan hasil dari aktivitas hormonal yang berlansung
pada tanaman tersebut yang umumnya diransang oleh kondisi lingkungan tertentu,
misalnya suhu dan perubahan panjang hari (lama penyiraman). Kepekaan tanaman
terhadap ransangan faktor eksternal tersebut bertambah dengan bertambahnya umur
tanaman. Tanaman semunsim lebih cepat teransang, mulai berbunga setelah berumur
beberapa bulan atau beberapa hari, sedangkan tanaman tahunan membutuhkan waktu
yang lebih lama.
Umur Panen (Hari)
Setelah
dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam (Lampiran 8). Pada
pengamatan parameter umur panen terhadap uji berbagai varietas terung (Solanum melogena. L) dan pemberian pupuk
bokasi cair menunjukan bahwa varietas secara tunggal berpengaruh nyata terhadap
parameter umur panen, sedangkan perlakuan pemberian pupuk bokasi cair tidak
menunjukan pengaruh yang nyata terhadap parameter umur panen, begitu juga dengan
perlakuan secara interaksi antara berbagai varietas terung dan pemberian pupuk
bokasi cair juga tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.
Tabel 3.
Rata – rata Umur Panen dengan Perlakuan Berbagai Varietas dan Pupuk Bokashi
Cair (hari).
|
FaktorV
|
Faktor B
|
Rerata V
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
V1
|
88.67
|
88.67
|
71.00
|
71.33
|
79.92b
|
|
V2
|
80.00
|
71.33
|
71.67
|
80.00
|
75.75b
|
|
V3
|
65.00
|
65.00
|
65.00
|
65.00
|
65.00a
|
|
Rerata B
|
77.89
|
75.00
|
69.22
|
72.11
|
|
|
KK=10,45
|
BNJ V=5,94
|
||||
Setelah
dianalisis secara statistik bahwa umur panen tanaman terung memberikan pengaruh
yang nyata terhadap parameter perlakuan varietas secara tunggal disebabkan oleh
perbedaan varietas, hal ini menunjukan bahwa masing-masing varietas yang diuji
mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Dilihat dari tabel diatas bahwa umur panen menunjukan waktu yang berbeda
dimana V3 (65,00) panennya lebih cepat dibandingkan dengan V2 (75,75), dan V2
lebih cepat dibandingkan dengan V1 (79,92). Pengaruh buruk yang ditimbulkan
oleh curah hujan yang tinggi yaitu mengakibatkan terjadinya pencucian unsure
hara yang menyebabkan produktifitas lahan menurun dan menyebabkan lambatnya
tanaman memasuki umur panen, ini terjadi karena unsure hara yang sebelumnya
dalam bentuk mineral akan terhidrolisa sehingga mudah tercuci (Sutedjo,2002). Menurut
Partoharjono (1980) mengatakan lamanya pertumbuhan vegetatif memberikan
kesempatan pada tanaman untuk menumpuk hasil fotosintesis lebih besar, dan
kemungkinan untuk memperpanjang umur saat panen, bila faktor kesuburan tanah
dan faktor lingkungn seperti cahaya, suhu dan air menunjang. Jumin (1992) juga
menjelaskan umur suatu tanaman ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan.
Berat Buah Perplot (gr)
Setelah
dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam, pada pengamatan
parameter berat buah terhadap uji
berbagai varietas terung (Solanum
melogena. L) dan pemberian pupuk bokasi cair menunjukan bahwa perlakuan varietas terung
secara tunggal berpengaruh nyata
terhadap parameter berat buah, begitu juga dengan perlakuan secara interaksi
antara berbagai varietas dan pemberian pupuk bokasi cair menunjukkan pengaruh
yang nyata terhadap jumlah buah, sedangkan perlakuan pemberian pupuk bokasi
cair secara tunggal tidak menunjukan berpengaruh nyata terhadap parameter
pengamatan berat buah.
Tabel 4.
Rata – rata tabel Berat Buah dengan Perlakuan Pupuk Bokasi Cair dan Berbagai Varietas (gr) per plot.
|
Faktor v
|
Faktor B
|
Rerata V
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
V1
|
1.216.67b
|
1.216.67b
|
1.096.67b
|
916.67c
|
1.111.67a
|
|
V2
|
706.67d
|
1.040.00bc
|
1.096.67b
|
1.663.33a
|
1.126.67a
|
|
V3
|
523.33de
|
616.67de
|
563.33de
|
506.67e
|
552.50b
|
|
Rerata B
|
815.56
|
957.78
|
918.89
|
1.028.89
|
|
|
KK=26,45%
|
BNJ V=62,52
|
|
BNJ VB=182,92
|
|
|
Angka – angka yang diikuti
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji Lanjut BNJ 5%.
Dari
tabel 4 diatas menunjukan bahwa perlakuan varietas secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap berat buah perplot. Perlakuan terbaik varietas
adalah V2 (1.126.67) diikuti dengan V1 (1.111.67) dan V3
(552.50) beda varietas maka berat buah yang dihasilkan berbeda pula.
Suprapto (2001) mengatakan bahwa produksi suatu tanaman dapat dilihat selama
pertumbuhan vegetatif dan generatif, kalau pertumbuhan tidak menunjukan
adanya penyimpangan kemungkinan untuk
produksi sangat besar produksinya. Menurut pendapat (Bari dan Rianto 1974),
mengatakan bahwa varietas merupakan kelompok tanaman dengan ciri khas yang
seragam dan stabil serta mengandung perbedaan yang jelas dari varietas lain.
Demikian halnya dengan ketiga jenis varietas hibrida yang digunakan meskipun
ketiganya merupakan jenis unggul tetapi karena adanya perbedaan varietas
sehingga sifat-sifat yang dimunculkan
juga berbeda. Varietas hibrida mempunyai potensi hasil yang tinggi, daya
adaptasi luas, pertumbuhan dan hasil tanaman lebih seragam. Produksi berat buah
perplot pertanaman berkaitan dengan
jumlah buah segar. Jadi produksi berat buah per plot tergantung pada ukuran
buah. walaupun demikian, hal ini sangat ditentukan pula oleh pertumbuhan tanaman
dan factor lingkunagan pada saat memasuki
fase generatif terjadi gangguan pertumbuhan, maka tetap juga jumlah buah
mempengaruhi berat buah.
KESIMPULAN
Perlakuan
tunggal berbagai varietas terung (V)
memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman
dengan perlakuan terbaik V1 (18,78), umur berbunga dengan perlakuan terbaik V3
(49,11), umur panen dengan perlakuan terbaik V3 (65,00), dan berat buah dengan
perlakuan terbaik V1 (1126.67) Pemberian perlakuan tunggal
pupuk bokasi cair (B) tidak memberikan
pengaruh yang nyata terhadap semua parameter . Perlakuan secara interaksi
berbagai varietas dan pemberian pupuk bokasi cair memberikan pengaruh yang
nyata terhadap parameter berat buah dengan perlakuan terbaik V2B3 (1663.33).
DAFTAR PUSTAKA
Bari dan
Rianto.1974. Teknologi Mulsa dan Berbagai Varietas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hadisuwito. Sukamto. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair. PT. Agro
Media Pustaka. Jakarta.
Jumin, H. B. 1992, Ekofisologi Tanaman Suatu Pendekatan
Fisiologi. Rajawali Pers. Jakarta
Lakitan, B.1996. Fisiologi
pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman.Raja Griffindo Persada Jakarta.
Partoharjono. 1980. Morfologi Dan
Fisiologi Padi Puslitbangtan. Bogor.
Siregar. H. 1981. Budidaya Tanaman
Padi Di Indonesia. Departemen
Pertanian dan Kebudayaan Jakarta.
Sunarjono, Hendro. 2003. Bertanam 30 Jenis Sayur.
Penebar Swadaya. Bogor.
Sutedjo, M. Kartasapoetra. 2002, Pengetahuan Ilmu Tanah Terbentuknya Tanah
dan Tanah Pertanian Edisi Revisi.
Rineka Cipta. Jakarta
Suprapto, HS. 2001.
Bertanam Kacang Panjang. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Yatim, 1991. Genetika Tumbuhan. PT. Penebar Swadaya
Yuliani, F. Kurnia. 2004. Pengaruh Pemberian Kompos Azolla dan Macam
Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terung (Solanum melogena L.)
Hibrida “Mustang”. Skripsi S1 Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.
makasi materinya,,,,sukses sllu,,aminnnn
BalasHapus