Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 HAL 37-42


PENGARUH SUPER DOLOMITE DAN GROWMORE TERHADAP PRODUKSI TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merril)

Hutri Melda, Elfi Indrawanis dan Heni Rosneti
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake.Tlp. 085376755108. Email : meldahutri178 @yahoo.com. Fax (0760)7014730 Teluk Kuantan

ABSTRACT
This research uses a randomized block design (RBD) factorial consisting of 2 factors: the factor S (Super Dolomite) and G (Growmore) which consists of 4 levels, namely: S0 (Without giving Super Dolomite / control), S1 (granting Super Dolomite 200 g), S2 (granting Super Dolomite 400 gr), S3 (granting Super Dolomite 600 g), and the factor G (Growmore) consists of 4 levels, namely: G0 (without fertilizer Growmore), G1 (Growmore fertilizer 1 g / l water), G2 (Growmore fertilizer 2 g / l of water), G3 (Growmore fertilizer 3 g / l of water. From the research it can be concluded that the influence of Super Dolomite shows a marked difference in the weight of single pods / plant with the best treatment contained in S2 treatment, pods weighing 242 grams, and is also found in the treatment Growmore fertilizer G2, weighing 252.83 grams pod. Influence of Growmore showed significant differences in the dry weight of a single seed / plant, seed dry weight best found in G2 treatment, with a dry weight of 131.50 grams. Effect of Super Dolomite and Growmore not provide a noticeable difference in the interaction of the stem diameter, pod weight / plant, and seed dry weight / plant.

Key words : soya, growmore fertilizer, dan super dolomite


PENDAHULUAN
Kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu komoditas pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung, dalam upaya memacu produksi kedelai untuk mengurangi impor, berbagai paket program telah dilaksanakan antara lain : penyuluhan usaha tani, dan kebijaksanaan harga. Tingginya pertumbuhan konsumsi kedelai diduga tidak hanya karena meningkatnya konsumsi kedelai untuk pangan, tetapi juga karena pesatnya pertumbuhan industri pakan ternak, terutama unggas (Swastika,1997).Kedelai juga sebagai sumber bahan baku utama bagi kelangsungan berbagai industri antara lain tempe dan tahu, kacang-kacangan memiliki prospek yang multiguna, sehingga memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan. Selain itukedelai dapat di ambil minyaknya untuk minyak goreng, karena kebutuhan minyak goreng yang semakin meningkat memberikan harapan baik untuk pengembangan tanaman kedelai sebagai bahan baku minyak. Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor kacang-kacangan, terutama kacang kedelai (Suprapto, 1995).
Masyarakat kita telah mengenal kedelai sejak lama, sebagai salah satu tanaman yang diolah menjadi bahan makanan, minuman serta penyedap cita rasa makanan, misalnya yang sudah sangat terkenal adalah tempe, tahu, kecap, tauco dan touge, bahkan diolah secara modren menjadi susu dan minuman sari kedelai yang dikemas dalam karton khusus atau botolan.Tanaman kedelai membutuhkan unsur hara makro diantaranya Nitrogen (N), fosfor ( P ), kalium (K), kalsium (Ca), Magnesium (Mg), dan Sulfur (S), sedangkan unsur hara mikro adalah Boron (B), tembaga (Cu), besi (Fe), Mangan (Mn), Molibdenum (Mo), seng (Zn) agar bisa mengoptimalkan pertumbuhan pada tanaman (Departemen Pertanian, 2009 ).
Menurut Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi 2011, luas areal tanaman kedelai pada tahun 2008 seluas 13 ha dimana 1 ha mengalami kegagalan, dengan jumlah produksinya 17,31 ton. Sementara itu pada tahun 2009 hasil produksi tanaman kedelai mengalami peningkatan, produksi keseluruhannya mencapai 25,12 ton, dengan luas areal yang berproduksi 20 ha, dan 7 ha mengalami kegagalan (Dinas Tanaman Pangan, 2011).Pada tahun 2010 produksi menurun, keseluruhan produksi mencapai 21,06 ton, dengan luas areal yang berproduksi 19 ha. Hal ini disebabkan oleh salah satu faktor lingkungan yaitu tanah, pada umumnya tanah di Kabupaten Kuantan Singing  adalah PMK (podsolik merah kuning), tanah PMK bereaksi masam; maka ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman relatif sedikit (Dinas Tanaman Pangan, 2011).
Tanah podsolik merah kuning pada umumnya ber pH rendah karena pencucian basa berlangsung secara intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi berjalan cepat dan sebagian terbawa erosi (Prasetyono danSuriadikarta, 2006).Jenis tanah yang memiliki pH rendah perlu diperhatikan, salah satu upaya dalam meningkatkan pH tanah adalah dengan menggunakan pengapuran Super Dolomite, sehingga bisa membantu memberikan perbaikan terhadap tanah dan pertumbuhan tanaman (Risna, 2006). Menurut (Marsono dan Paulus Sigit, 2001) Super Dolomite juga dapat membantu menciptakan struktur tanah yang lebih baik sehingga mikroorganisme tanah berjalan dengan baik, dengan demikian dekomposisi bahan organik dan anorganik juga berjalan lebih lancar.
Sejalan dengan itu menggunakan pupuk organik juga menambah nilai tambah terhadap pertumbuhan tanaman, yaitu dengan menggunakan pupuk daun. Pupuk daun adalah salah satu upaya untuk menggalakkan teknik dalam pemupukan, karena dengan menggunakan pupuk daun yaitu GrowMore 20-20-20 ini dilakukan secara penyemprotan pada tanaman, sehingga  mempermudah dalam pemberian perlakuan pada tanaman. Pupuk GrowMore 20-20-20 adalah pupuk organik yang dapat dilakukan dengan penyemprotan pada tanaman, pupuk GrowMore mengandung unsur  Nitrogen, Phospat dan Kalium, ketiga kandungan unsur hara tersebut sama-sama memiliki  unsur hara yang seimbang bagi tanaman   ( Anonimus, 2010).Unsur Nitrogen berfungsi sebagai memacu pertumbuhan tanaman, terutama pada fase generatif, berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak, enzim. Unsur hara fosfor membantu pembentukan protein dan mineral yang sangat penting bagi tanaman, unsur fosfor ini bertugas mengedarkan energi keseluruh tanaman, serta merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar dan mempercepat pembungaan, pembuahan, dan pemasakan biji, Sedangkan Unsur Kalium membantu pembentukan protein, karbohidrat, serta membantu  pengangkutan dari daun kebuah, memperkuat jaringan tanaman serta meningkatkan daya tahan terhadap penyakit (Anonimus, 2010).
Adapun tujuan penelitian ini adalah : Untuk mengetahui Pengaruh Super Dolomite dan Growmore terhadap produksi tanaman kedelai “(Glycine Max (L) Merril)”.

BAHAN DAN METODA

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun percobaan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, di Desa Jake, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu Penelitian selama 4 bulan terhitung dari bulan Mei sampai Agustus 2012.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah benih kedelai Varietas Wilis (Diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang), Super Dolomite, Pupuk GrowMore 20-20-20, Insektisida Decis 25 EC, Fungisida Furadan 3G, sedangkan alat yang digunakan cangkul, parang, paku, palu, tajak, papan label, plastik, Handsprayer, timbangan analitik, jangka sorong, gembor, meteran, spidol, camera, alat-alat tulis.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu :Faktor pertama adalah faktor S (Super Dolomite) yang terdiri dari 4 taraf dan faktor kedua faktor G ( GrowMore) yang terdiri 4 taraf perlakuan.  Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut : faktor S (Super Dolomite)  dan G (Growmore) yang terdiri dari 4 taraf yaitu : S0 ( Tanpa pemberian Super Dolomite/kontrol), S1 (pemberian Super Dolomite 200 gr), S2 ( pemberian Super Dolomite 400 gr ), S3 (pemberian Super Dolomite 600 gr ), dan faktor G (Growmore)  terdiri dari 4 taraf  yaitu : G0 ( tanpa pemberian pupuk GrowMore), G1 (pemberian pupuk GrowMore 1 gr/l air ), G2 (pemberian pupuk GrowMore 2 gr/l air), G3 (pemberian pupuk GrowMore 3 gr/l air).
Data hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan di analisis secara statistik sesuai dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan rumus sebagai berikut :Yijk = µ + Ai + Gj + Kk + (AG)ij + εijk. Apabila dalam Analisis Sidik Ragam memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%, untuk mengetahui perbedaan masing-masing perlakuan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Diameter Batang ( mm )
Hasil dari analisis data menunjukkan perlakuan secara tunggal maupun interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap Diameter  Batang. Hal ini diduga disebabkan oleh kurangnya ketersediaan unsur hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium yang cukup yang disebabkan oleh unsur Al didalam tanah sehingga kegiatan metabolisme berkurang. Sesuai dengan pendapat Jumin     (1986), tersedianya unsur hara dalam jumlah yang cukup menyebabkan kegiatan metabolisme tanaman meningkat sehingga terjadi pembesaran pada bagian batang. Batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya pada tanaman yang lebih muda sehingga dengan adanya unsur hara dapat mendorong pertumbuhan vegetative tanaman diantaranya pembentukan klorofil sehingga akan memacu laju fotosintesis, semakin laju fotosintesis maka semakin memberikan hasil yang besar pula terhadap ukuran diameter batang.


Tabel 1 Rata-rata diameter batang dengan perlakuan super dolomite dan growmore (mm)

Faktor S
(Super Dolomite)
Faktor G (Growmore)
Rerata S
G0
G1
G2                      G3

S0
S1
S2
S3

6,83
7,72
6,64
6,15


6,84
6,98
7,50
6,61

  
    6,82                   6,38
    6,95                   6,26
    7,63                   7,35
    7,12                   6,28


6,72
6,98
7,28
6,54

Rerata G
6,84
6,98
 7,13                       6,57

KK = 21,21 %

Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.


Berat Polong/Tanaman ( Gr )
Perlakuan secara tunggal Super Dolomite memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap berat polong. Berat polong tertinggi terdapat pada perlakuan S2 ( Super Dolomite dengan kandungan 400 gr ) dengan berat polong 242 grmerupakan perlakuan terbaik, berbeda dengan perlakuan S1 ( Super Dolomite dengan kandungan 200 gr ) dengan berat polong  225,58 gr, akan tetapi sangat berbeda nyata dengan perlakuan  S0  (Super Dolomite  tanpa perlakuan ) dengan berat polong 211,33 gr, dan perlakuan S3 ( Super Dolomite dengan kandungan 600 gr ) dengan berat polong 211,25 gr, hal ini diduga pada kandungan dosis ini hara Mg dan Ca mampu menetralisasikan aluminium didalam tanah secara optimal ketanaman, sejalan dengan itu didukung oleh kondisi fisik tanah yang baik, dan gembur, dan mempunyai kemampuan untuk menyimpan air yang bagus sehingga memberikan hasil yang positif terhadap berat polong/tanaman. Sesuai dengan pendapat Suprapto (1995). Unsur hara yang tersedia harus dalam jumlah yang cukup selama pertumbuhan tanaman dan dalam keadaan yang seimbang, akan memberikan manfaat yang sangat berarti dalam pertumbuhan dan pembentukan polong dan biji kedelai, pengisian polong dan pembentukan biji sangat tergantung kepada ketersediaan unsur fospat dan kalium yang seimbang sehingga memperoleh polong dan biji yang bernas.


Tabel 2.  Rata- rata berat polong dengan perlakuan super dolomite dan growmore (gr) pada umur 63 HST

Faktor S
(Super Dolomite)
Faktor G (Growmore)
Rerata S
G0
G1
 G2                               G3

S0
S1
S2
S3

140
93,33
173,33
130
233,33
233,33
230
216,67
235                            237
243                         232,67
283,33                    281,33
250                         248,33
211,33cd
225,58ab
242,00a
211,25cd
Rerata G
159,17d
228,33abc
252,83a                249,83ab

KK = 10,29 %
BNJ S : 25,39                       BNJ G : 25,39
Angka – angka yang  diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5%   menurut Uji Lanjut BNJ.


perlakuan pupuk Growmore secara tunggal berpengaruh nyata terhadap berat polong/tanaman. Berat polong tertinggi terdapat pada perlakuan G2 ( Growmore dengan dosis 2 gr/l air) dengan berat polong  252,83 gr,selanjutnya perlakuan G3 ( Growmore dengan dosis 3 gr/l air ), dengan berat polong 249,83 gr, G1 ( Growmore dengan dosis 1 gr/l air) dengan berat polong 228,33 gr, dan yang terendah terdapat pada perlakuan  G0 ( Tanpa Perlakuan ) dengan berat polong 159,17 gr.Berat polong terbaik terdapat pada Perlakuan G2 (Growmore dengan dosis  2 gr/l air) dengan berat polong 252,83 gr, hal ini disebabkan oleh  tersedianya unsur hara Nirogen, fosfor, dan kalium yang seimbang ke tanaman sehingga berpengaruh baik terhadap fase vegetative dan generative tanaman dan berpengaruh nyata terhadap Berat Polong/tanaman. sedangkan Secara interaksi perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat polong/tanaman, perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan S2G2 (Super Dolomite dengan kandungan 400 gr dan pupuk Growmore 2 gr/l air) dengan berat polong 283,33 gr, hal ini diduga kombinasi perlakuan Super Dolomite dan Growmore dengan dosis ini dapat memberikan hasil yang optimal terhadap fase vegetative dan generative tanaman sehingga memberikan hasil berat polong tertinggi, hal ini dapat terlihat pada berat polong yang tertinggi dengan berat polong 283,33 gr dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lainnya.

Berat Kering Biji/Tanaman (Gr)
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Growmore (G) secara tunggal memberikan pengaruh yang  nyata terhadap berat kering biji/tanaman, ini diduga disebabkan oleh keseimbangan ketersediaan kandungan pupuk Growmore yang tersedia didalam tanah, sehingga dapat memicu kecepatan pembentukan polong dan pengisian biji polong kedelai, sesuai dengan pendapat Pasaribu dan Suprapto (1993), apabila disertai dengan ketersediaan unsur N, P dan K berada dalam keadaan seimbang akan mengakibatkan pembentukan asam amino dan protein meningkat dalam pembentukan biji sehingga polong dapat terisi penuh. Berat kering biji terbaik terdapat pada Perlakuan G2 ( Growmore dengan dosis 2 gr/l air) dengan berat kering 131,50 gr.


Tabel 3 Rata-rata berat kering biji/tanaman dengan perlakuan super dolomite dan growmore (gr)

Faktor S (Super Dolomite)
Faktor G (Growmore)
Rerata S
G0
G1
     G2                 G3

S0
S1
S2
S3

102,00
103,33
102, 33
100,67

120, 00
116,66
121,33
108,33


   115,66          110,00
   126,67          147,33
   158,33          141,66
   125,33          125,00

111,92
123,50
130,92
114,83
Rerata G
102,08bc
116,58abc
131,50a           131,00ab

KK = 19, 60 %
BNJ G : 26,14
Angka – angka yang  diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.


Berat kering biji tertinggi terdapat pada perlakuan G2 ( Growmore dengan dosis 2 gr/l air) dengan berat kering 131,50 gr, hal ini diduga diperolehnya keseimbangan hara oleh tanaman antar masing-masing tanaman, sesuai dengan pendapat Suprapto (1995), kekurangan atau kelebihan unsur hara tidak baik untuk pertumbuhan kedelai, oleh sebab itu untuk memperoleh produksi yang tinggi unsur hara yang tersedia harus dalam jumlah yang cukup selama pertumbuhan dan dalam keadaan seimbang. Selanjutnya menurut Osman (1996), mengemukakan bahwa hara yang seimbang memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam keberhasilan produksi tanaman pertanian, karena tanaman palawija sering kali tidak mampu berproduksi dengan baik tanpa dilakukannya pemupukan.

KESIMPULAN
Pengaruh Super Dolomite memperlihatkan perbedaan yang nyata secara tunggalterhadap Berat Polong/Tanaman dengan perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan S2 (Super Dolomite dengan kandungan 400 gr) dengan berat polong 242 gr, dan juga pupuk Growmore terdapat pada perlakuan G2 (Growmore dengan dosis 2 gr/l air) dengan berat polong 252,83 gr.Pengaruh Growmore memperlihatkan perbedaan yang nyata secara tunggal terhadap Berat Kering Biji/Tanaman, Berat Kering Biji terbaik terdapat pada Perlakuan G2 (Growmore dengan dosis 2 gr/l air) dengan berat kering 131,50 gr.Pengaruh Super Dolomite dan Growmore tidak memberikan perbedaan yang nyata secara interaksi terhadap Diameter Batang (mm), Berat Polong/Tanaman (gr) maupun Berat Kering Biji/Tanaman (gr).

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2010, Agritekno, pupuk growmore, diakses pada tangal 22 februari 2012
Departemen Pertanian, 2009, Pengembangan Usaha Agribisnis Kedelai, Jakarta.
Dinas Tanaman Pangan, 2011, Rekab Tahunan Budidaya Kedelai, Kabupaten Kuantan Singingi.
Jumin, H.B., 1986. Dasar-dasarAgronomi.Rajawali.Jakarta
Marsono dan Paulus Sigit, 2001, Pupuk Akar dan Jenis Aplikasi, Penebar Swadaya, Jakarta
Osman. 1996. Memupuk Padi dan Palawija. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pasaribu, D. dan S. Suprapto. 1993. Pemupukan NPK Pada Kedelai. Dalam S. Somaatmadja, M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam, S. O. Manurung, dan Yuswadi (eds). Kedelai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
Prasetyono dan Suriadikarta. 2006. Karakteristik, Potensi dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol Untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering di Indonesia. Pustaka – Deptan.
Risna, 2006,  Pemberian Pupuk Urea dan Dolomite Pada Tanah Masam, jurnal Universitas Sumatra Utara.
Suprapto, H.S. 1995. Bertanam Kedelai. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Swastika, 1997, Swasembada Kedelai, Antara Harapan dan Kenyataan, Forum Penelitian dan Agro Ekonomi, Departemen Pertanian. Jakarta.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar