PENGARUH SUPER DOLOMITE DAN GROWMORE TERHADAP PRODUKSI TANAMAN
KEDELAI (Glycine max (L.) Merril)
Hutri Melda, Elfi Indrawanis dan Heni
Rosneti
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa
Teluk Kuantan Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake.Tlp.
085376755108. Email : meldahutri178 @yahoo.com.
Fax (0760)7014730 Teluk Kuantan
ABSTRACT
This research uses a randomized block design (RBD) factorial
consisting of 2 factors: the factor S (Super Dolomite) and G (Growmore) which
consists of 4 levels, namely: S0 (Without giving Super Dolomite / control), S1
(granting Super Dolomite 200 g), S2 (granting Super Dolomite 400 gr), S3
(granting Super Dolomite 600 g), and the factor G (Growmore) consists of 4
levels, namely: G0 (without fertilizer Growmore), G1 (Growmore fertilizer 1 g /
l water), G2 (Growmore fertilizer 2 g / l of water), G3 (Growmore fertilizer 3
g / l of water.
From the research it can
be concluded that the influence of Super Dolomite shows a marked difference in
the weight of single pods / plant with the best treatment contained in S2
treatment, pods weighing 242 grams, and is also found in the treatment Growmore
fertilizer G2, weighing 252.83 grams pod. Influence of Growmore showed
significant differences in the dry weight of a single seed / plant, seed dry
weight best found in G2 treatment, with a dry weight of 131.50 grams. Effect of
Super Dolomite and Growmore not provide a noticeable difference in the
interaction of the stem diameter, pod weight / plant, and seed dry weight /
plant.
Key words
: soya, growmore fertilizer, dan super dolomite
PENDAHULUAN
Kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu komoditas pangan terpenting ketiga
setelah padi dan jagung, dalam upaya memacu produksi kedelai untuk mengurangi
impor, berbagai paket program telah dilaksanakan antara lain : penyuluhan usaha
tani, dan kebijaksanaan harga. Tingginya pertumbuhan konsumsi kedelai diduga
tidak hanya karena meningkatnya konsumsi kedelai untuk pangan, tetapi juga
karena pesatnya pertumbuhan industri pakan ternak, terutama unggas (Swastika,1997).Kedelai
juga sebagai sumber bahan baku utama bagi kelangsungan berbagai industri antara
lain tempe dan tahu, kacang-kacangan memiliki prospek yang multiguna, sehingga
memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan. Selain itukedelai dapat di ambil
minyaknya untuk minyak goreng, karena kebutuhan minyak goreng yang semakin
meningkat memberikan harapan baik untuk pengembangan tanaman kedelai sebagai
bahan baku minyak. Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor
kacang-kacangan, terutama kacang kedelai (Suprapto, 1995).
Masyarakat
kita telah mengenal kedelai sejak lama, sebagai salah satu tanaman yang diolah
menjadi bahan makanan, minuman serta penyedap cita rasa makanan, misalnya yang
sudah sangat terkenal adalah tempe, tahu, kecap, tauco dan touge, bahkan diolah
secara modren menjadi susu dan minuman sari kedelai yang dikemas dalam karton
khusus atau botolan.Tanaman
kedelai membutuhkan unsur hara makro diantaranya Nitrogen (N), fosfor ( P ),
kalium (K), kalsium (Ca), Magnesium (Mg), dan Sulfur (S), sedangkan unsur hara
mikro adalah Boron (B), tembaga (Cu), besi (Fe), Mangan (Mn), Molibdenum (Mo),
seng (Zn) agar bisa mengoptimalkan pertumbuhan pada tanaman (Departemen
Pertanian, 2009 ).
Menurut Dinas Tanaman
Pangan Kabupaten Kuantan Singingi 2011, luas areal tanaman kedelai pada tahun
2008 seluas 13 ha dimana 1 ha mengalami kegagalan, dengan jumlah produksinya
17,31 ton. Sementara itu pada tahun 2009 hasil produksi tanaman kedelai
mengalami peningkatan, produksi keseluruhannya mencapai 25,12 ton, dengan luas
areal yang berproduksi 20 ha, dan 7 ha mengalami kegagalan (Dinas Tanaman
Pangan, 2011).Pada tahun 2010 produksi menurun, keseluruhan produksi mencapai
21,06 ton, dengan luas areal yang berproduksi 19 ha. Hal ini disebabkan oleh
salah satu faktor lingkungan yaitu tanah, pada umumnya tanah di Kabupaten
Kuantan Singing adalah PMK (podsolik
merah kuning), tanah PMK bereaksi masam; maka ketersediaan unsur hara yang
dapat diserap oleh tanaman relatif sedikit (Dinas Tanaman Pangan, 2011).
Tanah podsolik merah
kuning pada umumnya ber pH rendah karena pencucian basa berlangsung secara
intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi
berjalan cepat dan sebagian terbawa erosi (Prasetyono danSuriadikarta, 2006).Jenis tanah yang memiliki pH rendah perlu
diperhatikan, salah satu upaya dalam meningkatkan pH tanah adalah dengan
menggunakan pengapuran Super Dolomite, sehingga bisa membantu memberikan
perbaikan terhadap tanah dan pertumbuhan tanaman (Risna, 2006). Menurut (Marsono dan Paulus Sigit, 2001) Super
Dolomite juga dapat membantu menciptakan struktur tanah yang lebih baik
sehingga mikroorganisme tanah berjalan dengan baik, dengan demikian dekomposisi
bahan organik dan anorganik juga berjalan lebih lancar.
Sejalan dengan itu menggunakan pupuk organik
juga menambah nilai tambah terhadap pertumbuhan tanaman, yaitu dengan
menggunakan pupuk daun. Pupuk daun adalah salah satu upaya untuk menggalakkan
teknik dalam pemupukan, karena dengan menggunakan pupuk daun yaitu GrowMore
20-20-20 ini dilakukan secara penyemprotan pada tanaman, sehingga mempermudah dalam pemberian perlakuan pada
tanaman. Pupuk GrowMore 20-20-20 adalah pupuk organik yang dapat dilakukan
dengan penyemprotan pada tanaman, pupuk GrowMore mengandung unsur Nitrogen, Phospat dan Kalium, ketiga
kandungan unsur hara tersebut sama-sama memiliki unsur hara yang seimbang bagi tanaman ( Anonimus, 2010).Unsur Nitrogen berfungsi
sebagai memacu pertumbuhan tanaman, terutama pada fase generatif, berperan
dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak, enzim. Unsur hara fosfor
membantu pembentukan protein dan mineral yang sangat penting bagi tanaman,
unsur fosfor ini bertugas mengedarkan energi keseluruh tanaman, serta
merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar dan mempercepat pembungaan,
pembuahan, dan pemasakan biji, Sedangkan Unsur Kalium membantu pembentukan
protein, karbohidrat, serta membantu
pengangkutan dari daun kebuah, memperkuat jaringan tanaman serta
meningkatkan daya tahan terhadap penyakit (Anonimus, 2010).
Adapun tujuan penelitian ini adalah : Untuk mengetahui Pengaruh Super
Dolomite dan Growmore terhadap produksi tanaman kedelai “(Glycine Max (L) Merril)”.
BAHAN DAN
METODA
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun percobaan Sekolah Tinggi
Ilmu Pertanian Swarnadwipa, di Desa Jake, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan
Singingi. Waktu Penelitian selama 4 bulan terhitung dari bulan Mei sampai
Agustus 2012.
Bahan dan
Alat
Bahan yang digunakan adalah benih kedelai
Varietas Wilis (Diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan
Umbi-umbian, Malang), Super Dolomite, Pupuk GrowMore 20-20-20,
Insektisida Decis 25 EC, Fungisida
Furadan 3G, sedangkan
alat yang digunakan cangkul, parang, paku, palu, tajak, papan label, plastik, Handsprayer,
timbangan analitik, jangka sorong, gembor, meteran, spidol, camera, alat-alat
tulis.
Metode
Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial yang
terdiri dari 2 faktor yaitu :Faktor pertama adalah faktor S (Super Dolomite)
yang terdiri dari 4 taraf dan faktor kedua faktor G ( GrowMore) yang terdiri 4
taraf perlakuan. Adapun perlakuan
tersebut sebagai berikut : faktor S (Super Dolomite) dan G (Growmore) yang terdiri dari 4 taraf yaitu
: S0 ( Tanpa pemberian Super Dolomite/kontrol), S1 (pemberian Super Dolomite
200 gr), S2 ( pemberian Super Dolomite 400 gr ), S3 (pemberian Super Dolomite
600 gr ), dan faktor G (Growmore)
terdiri dari 4 taraf yaitu : G0 (
tanpa pemberian pupuk GrowMore), G1 (pemberian pupuk GrowMore 1 gr/l air ), G2
(pemberian pupuk GrowMore 2 gr/l air), G3 (pemberian pupuk GrowMore 3 gr/l
air).
Data
hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan di analisis secara statistik
sesuai dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan rumus sebagai
berikut :Yijk = µ + Ai + Gj + Kk + (AG)ij + εijk. Apabila dalam Analisis Sidik Ragam memberikan
pengaruh yang nyata terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan
Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%, untuk mengetahui perbedaan
masing-masing perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Diameter Batang ( mm )
Hasil
dari analisis data menunjukkan perlakuan secara tunggal maupun interaksi tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap Diameter Batang. Hal ini diduga disebabkan oleh kurangnya
ketersediaan unsur hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium yang cukup yang disebabkan
oleh unsur Al didalam tanah sehingga kegiatan metabolisme berkurang. Sesuai
dengan pendapat Jumin (1986), tersedianya unsur hara dalam jumlah
yang cukup menyebabkan kegiatan metabolisme tanaman meningkat sehingga terjadi
pembesaran pada bagian batang. Batang merupakan daerah akumulasi
pertumbuhan tanaman khususnya pada tanaman yang lebih muda sehingga dengan
adanya unsur hara dapat mendorong pertumbuhan vegetative tanaman diantaranya
pembentukan klorofil sehingga akan memacu laju fotosintesis, semakin laju
fotosintesis maka semakin memberikan hasil yang besar pula terhadap ukuran
diameter batang.
Tabel 1
Rata-rata diameter batang dengan perlakuan super dolomite dan growmore (mm)
|
Faktor
S
(Super Dolomite)
|
Faktor G (Growmore)
|
Rerata S
|
||
|
G0
|
G1
|
G2 G3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
6,83
7,72
6,64
6,15
|
6,84
6,98
7,50
6,61
|
6,82
6,38
6,95 6,26
7,63 7,35
7,12 6,28
|
6,72
6,98
7,28
6,54
|
|
Rerata G
|
6,84
|
6,98
|
7,13 6,57
|
|
|
KK
= 21,21 %
|
|
|||
Angka
– angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Berat Polong/Tanaman ( Gr )
Perlakuan
secara tunggal Super Dolomite memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap berat
polong. Berat polong tertinggi terdapat pada perlakuan S2 ( Super Dolomite
dengan kandungan 400 gr ) dengan berat polong 242 grmerupakan perlakuan
terbaik, berbeda dengan perlakuan S1 ( Super Dolomite dengan kandungan 200 gr )
dengan berat polong 225,58 gr, akan
tetapi sangat berbeda nyata dengan perlakuan
S0 (Super Dolomite tanpa perlakuan ) dengan berat polong 211,33
gr, dan perlakuan S3 ( Super Dolomite dengan kandungan 600 gr ) dengan berat
polong 211,25 gr, hal ini diduga pada kandungan dosis ini hara Mg dan Ca mampu
menetralisasikan aluminium didalam tanah secara optimal ketanaman, sejalan
dengan itu didukung oleh kondisi fisik tanah yang baik, dan gembur, dan
mempunyai kemampuan untuk menyimpan air yang bagus sehingga memberikan hasil
yang positif terhadap berat polong/tanaman. Sesuai dengan pendapat Suprapto
(1995). Unsur hara yang tersedia harus dalam jumlah yang cukup selama pertumbuhan
tanaman dan dalam keadaan yang seimbang, akan memberikan manfaat yang sangat
berarti dalam pertumbuhan dan pembentukan polong dan biji kedelai, pengisian
polong dan pembentukan biji sangat tergantung kepada ketersediaan unsur fospat
dan kalium yang seimbang sehingga memperoleh polong dan biji yang bernas.
Tabel 2. Rata- rata berat polong
dengan perlakuan super dolomite dan growmore (gr) pada umur 63 HST
|
Faktor
S
(Super Dolomite)
|
Faktor G (Growmore)
|
Rerata S
|
||
|
G0
|
G1
|
G2 G3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
140
93,33
173,33
130
|
233,33
233,33
230
216,67
|
235 237
243 232,67
283,33 281,33
250 248,33
|
211,33cd
225,58ab
242,00a
211,25cd
|
|
Rerata G
|
159,17d
|
228,33abc
|
252,83a
249,83ab
|
|
|
KK
= 10,29 %
|
BNJ S : 25,39 BNJ G : 25,39
|
|||
Angka
– angka yang diikuti huruf kecil yang
sama adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut
Uji Lanjut BNJ.
perlakuan
pupuk Growmore secara tunggal berpengaruh nyata terhadap berat polong/tanaman.
Berat polong tertinggi terdapat pada perlakuan G2 ( Growmore dengan dosis 2
gr/l air) dengan berat polong 252,83
gr,selanjutnya perlakuan G3 ( Growmore dengan dosis 3 gr/l air ), dengan berat
polong 249,83 gr, G1 ( Growmore dengan dosis 1 gr/l air) dengan berat polong
228,33 gr, dan yang terendah terdapat pada perlakuan G0 ( Tanpa Perlakuan ) dengan berat polong
159,17 gr.Berat polong terbaik terdapat pada Perlakuan G2 (Growmore dengan
dosis 2 gr/l air) dengan berat polong
252,83 gr, hal ini disebabkan oleh
tersedianya unsur hara Nirogen, fosfor, dan kalium yang seimbang ke
tanaman sehingga berpengaruh baik terhadap fase vegetative dan generative
tanaman dan berpengaruh nyata terhadap Berat Polong/tanaman. sedangkan Secara interaksi perlakuan tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat polong/tanaman, perlakuan terbaik
terdapat pada perlakuan S2G2 (Super Dolomite dengan kandungan 400 gr dan pupuk
Growmore 2 gr/l air) dengan berat polong 283,33 gr, hal ini diduga kombinasi
perlakuan Super Dolomite dan Growmore dengan dosis ini dapat memberikan hasil
yang optimal terhadap fase vegetative dan generative tanaman sehingga
memberikan hasil berat polong tertinggi, hal ini dapat terlihat pada berat
polong yang tertinggi dengan berat polong 283,33 gr dibandingkan dengan
kombinasi perlakuan lainnya.
Berat Kering
Biji/Tanaman (Gr)
Dari hasil penelitian menunjukkan
bahwa perlakuan Growmore (G) secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat kering biji/tanaman, ini
diduga disebabkan oleh keseimbangan ketersediaan kandungan pupuk Growmore yang
tersedia didalam tanah, sehingga dapat memicu kecepatan pembentukan polong dan
pengisian biji polong kedelai, sesuai dengan pendapat Pasaribu dan Suprapto
(1993), apabila disertai dengan ketersediaan unsur N, P dan K berada dalam
keadaan seimbang akan mengakibatkan pembentukan asam amino dan protein
meningkat dalam pembentukan biji sehingga polong dapat terisi penuh. Berat
kering biji terbaik terdapat pada Perlakuan G2 ( Growmore dengan dosis 2 gr/l
air) dengan berat kering 131,50 gr.
Tabel 3 Rata-rata berat kering biji/tanaman
dengan perlakuan super dolomite dan growmore (gr)
|
Faktor
S (Super Dolomite)
|
Faktor G (Growmore)
|
Rerata S
|
||
|
G0
|
G1
|
G2 G3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
102,00
103,33
102, 33
100,67
|
120, 00
116,66
121,33
108,33
|
115,66 110,00
126,67 147,33
158,33 141,66
125,33 125,00
|
111,92
123,50
130,92
114,83
|
|
Rerata G
|
102,08bc
|
116,58abc
|
131,50a 131,00ab
|
|
|
KK
= 19, 60 %
|
BNJ G : 26,14
|
|||
Angka
– angka yang diikuti huruf kecil yang
sama adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Berat
kering biji tertinggi terdapat pada perlakuan G2 ( Growmore dengan dosis 2 gr/l
air) dengan berat kering 131,50 gr, hal ini diduga diperolehnya keseimbangan
hara oleh tanaman antar masing-masing tanaman, sesuai dengan pendapat Suprapto
(1995), kekurangan atau kelebihan unsur hara tidak baik untuk pertumbuhan kedelai,
oleh sebab itu untuk memperoleh produksi yang tinggi unsur hara yang tersedia
harus dalam jumlah yang cukup selama pertumbuhan dan dalam keadaan seimbang.
Selanjutnya menurut Osman (1996), mengemukakan bahwa hara yang seimbang
memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam keberhasilan produksi tanaman
pertanian, karena tanaman palawija sering kali tidak mampu berproduksi dengan
baik tanpa dilakukannya pemupukan.
KESIMPULAN
Pengaruh Super Dolomite
memperlihatkan perbedaan yang nyata secara tunggalterhadap Berat Polong/Tanaman
dengan perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan S2 (Super Dolomite dengan
kandungan 400 gr) dengan berat polong 242 gr, dan juga pupuk Growmore terdapat
pada perlakuan G2 (Growmore dengan dosis 2 gr/l air) dengan berat polong 252,83
gr.Pengaruh Growmore memperlihatkan perbedaan yang nyata secara tunggal
terhadap Berat Kering Biji/Tanaman, Berat Kering Biji terbaik terdapat pada
Perlakuan G2 (Growmore dengan dosis 2 gr/l air) dengan berat kering 131,50
gr.Pengaruh Super Dolomite dan Growmore tidak memberikan perbedaan yang nyata
secara interaksi terhadap Diameter Batang (mm), Berat Polong/Tanaman (gr)
maupun Berat Kering Biji/Tanaman (gr).
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus, 2010, Agritekno,
pupuk growmore, diakses pada
tangal 22 februari 2012
Departemen
Pertanian, 2009, Pengembangan Usaha
Agribisnis Kedelai, Jakarta.
Dinas
Tanaman Pangan, 2011, Rekab Tahunan
Budidaya Kedelai, Kabupaten Kuantan Singingi.
Jumin,
H.B., 1986. Dasar-dasarAgronomi.Rajawali.Jakarta
Marsono
dan Paulus Sigit, 2001, Pupuk Akar dan
Jenis Aplikasi, Penebar Swadaya, Jakarta
Osman.
1996. Memupuk Padi dan Palawija.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Pasaribu,
D. dan S. Suprapto. 1993. Pemupukan NPK
Pada Kedelai. Dalam S. Somaatmadja, M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam, S. O.
Manurung, dan Yuswadi (eds). Kedelai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Pangan, Bogor.
Prasetyono
dan Suriadikarta. 2006. Karakteristik,
Potensi dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol Untuk Pengembangan Pertanian
Lahan Kering di Indonesia. Pustaka – Deptan.
Risna,
2006, Pemberian Pupuk Urea dan Dolomite Pada Tanah Masam, jurnal
Universitas Sumatra Utara.
Suprapto,
H.S. 1995. Bertanam Kedelai. Penerbit
Penebar Swadaya, Jakarta.
Swastika,
1997, Swasembada Kedelai, Antara Harapan
dan Kenyataan, Forum Penelitian dan Agro Ekonomi, Departemen Pertanian.
Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar