PENGARUH
PERENDAMAN DENGAN AIR KELAPA MUDA DAN PUPUK GROWMORE TERHADAP PERTUMBUHAN STEK
BUAH NAGA (Hylocereus polyhizus)
Nelvi Aysa, Heni Rosneti, dan Rover
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa
Teluk Kuantan
ABSTRACT
This research have been executed in Middle
Countryside Kampong Gunung Toar. Time
Research during 3 months counted from July until September 2012. Method
Research the used Factorial RAK consisting of 2 factor that is factor of A (young coconut water) consist of 4 treatment
level that is : A0 (control), A1 (20% young coconut water), A2 (40% young
coconut water) and A3 ( 60% young coconut water). And G factor ( Growmore)
consist of 4 treatment level that is : G0 (control), G1 (1 gr/litre), G2 (2gr
/litre), and G3 (3 gr/litre). To know growth of Dragon
fruit hence conducted by perception to age emerge sucker, sucker diameter,
amount of sucker, percentage grow and sucker length. Treatment of young coconut
water have an effect on reality to age emerge sucker with best result there are
treatment of A2 (19,95 day), and have an
effect on reality to percentage grow with best treatment A3 with percentage
grow 100,00%. Treatment of sprinkler of manure of growmore have an effect on
reality to sucker diameter parameter with treatment of G3 got by best result
2,63 cm and having an effect on reality to perception of sucker length with
best result there are treatment of G3 where sucker length which that is 37,92
cm. While treatment interactionly have an effect on is not real to all
perception parameter
Key words
: Dragon
fruit, stek, growmore fertilizer, young coconut water
PENDAHULUAN
Budidaya
tanaman buah naga (Hylocereus polyhizus)
banyak diminati saat ini karena akan mendatangkan nilai jual yang tinggi,
misalnya tanaman yang mempunyai ciri buahnya berwarna merah dan bersisir hijau
yang sering kita sebut buah naga, akhir-akhir ini memang baru diusahakan untuk
dikembangkan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tanaman buah naga baru bagi
dunia pertanian di Indonesia dan untuk melengkapi koleksi jenis tanaman yang
diusahakan. Pengembangan tanaman buah naga sangat mungkin dilakukan karena
cocok dibudidayakan di daerah tropis. Saat ini buah naga sudah menyebar luas ke
penjuru dunia, daerah asal kaktus hutan yang buahnya berwarna merah dan
bersisik ini adalah Meksiko (Winarsih, 2007).
Buah naga mengandung Vitamin C, Kalsium, Fosfor, serta serat.
Vitamin C paling tinggi terdapat pada buah naga jenis Hylocereus undatus, sedangkan kandungan Kalsium yang tinggi
terdapat pada buah kuning jenis Selenicerus
megalanthus, tapi jarang dibudidayakan di Indonesia. Buah naga dapat
dikomsumsi sebagai pencegah penyakit seperti ginjal, usus besar, kanker,
hipertensi dan sebagainya. Selain dilihat dari fungsi kesehatannya buah naga
juga mempunyai prosfek yang cukup menjanjikan untuk dikelola jika dilihat dari
manfaat dan kebutuhannya.
Buah naga dapat diperbanyak dengan biji dan
stek, penanaman menggunakan stek batang lebih baik kerena selain lebih mudah
diperoleh pertumbuhannya juga lebih cepat. Stek batang dapat di ambil pada
sulur batang dewasa yang dipotong-potong dengan panjang minimal 20 sampai 30
cm. Stek batang yang baru didiamkan selama 7-10 hari untuk menghilangkan
getahnya dan agar lukanya mengering.
Perbanyakan tanaman buah naga dengan cara vegetatif pada buah naga menggunakan stek batang atau cabang. Batang
atau cabang yang digunakan untuk stek harus dalam keadaan sehat, tua, keras,
sudah berbuah dan berwarna hijau kelabu. Ukuran stek yang ideal antara 50-60
cm, dari pengamatan dengan panjang stek tersebut maka mata tunas yang tumbuh
akan mudah membesar dan sesuai dengan cara perbanyakan stek batang, akan
mempercepat proses pertumbuhan buah naga serta terbentuknya bunga dan buah.
Sebelum ditanam, bagian pangkal stek dapat dicelupkan terlebih dahulu ke dalam
cairan peransang pertumbuhan akar. Untuk menghindari penggunaan Zat Pengatur
Tumbuh buatan salah satu alternatifnya adalah menggunakan air kelapa muda yang
merupakan Zat Pengatur Tumbuh alami yang banyak tersedia di alam dan efek
residunya tidak berbahaya untuk tanaman dan lingkungan.
Air kelapa muda merupakan
ZPT alami yang telah banyak di gunakan sebagai ZPT di laboratorium, karena di
dalam air kelapa terkandung zat peransang tumbuh seperti sitokinin, zeatin,
auksin, dan giberelin yang berfungsi
dapat mempercepat atau meransang pertumbuhan mata tunas dan akar.
Peranan sitokinin antara
lain: 1) bersama dengan auksin dan giberelin merangsang pembelahan sel-sel
tanaman, 2) merangsang morfogenesis (inisiasi/pembentukan tunas) pada kultur
jaringan, 3) merangsang perluasan daun yang dihasilkan dari pembesaran sel atau
merangsang pemanjangan titik tumbuh daun dan merangsang pembentukan akar
cabang, 4) meningkatkan membuka stomata pada beberapa spesies tanaman, 5)
mendukung konversi etioplastis ke kloroplas melalui stimulasi sintesis
klorofil, 6) menghambat proses penuaan (senescence) daun, 7) mematahkan
dormansi biji.
Sitokinin yang terkandung dalam air kelapa muda dapat menumbuhkan
mata tunas pada beberapa tumbuhan tertentu. Karena sitokinin bersifat sebagai
enzim (Suhardiman, 1991). Auksin adalah zat aktif
dalam sistem perakaran, senyawa ini membantu proses pembiakan vegatatif seperti untuk
merangsang pertumbuhan akar lateral, Giberelin merupakan hormon
tumbuh alami pada tanaman yang memiliki sifat menyerupai auksin. Peranan
giberalin adalah merangsang pembelahan sel (Syamsuri, 2004). Penggunaan air
kelapa muda sebagai peransang pertumbuhan tanaman khususnya akar dan untuk
mendukung pertumbuhan tunas digunakan pupuk growmore yang dapat menstimulan
pertumbuhan tunas-tunas tanaman buah naga.
Pupuk GrowMore merupakan pupuk
organik yang mengandung unsur Nitrogen yang dapat meningkatkan pertumbuhan
vegetatif, posfor berpengaruh untuk merangsang pertumbuhan generatif, inisiasi
akar, dan pendewasaan tanaman, sedangkan kalium berfungsi sebagai katalisator
(Ginting, 2001). Kebutuhan tanaman
buah naga dapat dilakukan dengan pemberian pupuk namun strategi untuk
memberikan konsentrasi larutan yang tepat pun sangat penting jangan sampai
suatu kerugian akibat penggunaan pupuk yang berlebih atau tanaman kekurangan
unsur hara pemberian langsung disiramkan ke dalam tanah.
Pupuk GrowMore ini
merupakan pupuk yang memberikan unsur-unsur Nitrogen, Phosphat dan Kalium
tersedia terhadap tanaman. Dapat digunakan sepanjang tahun, mulai saat tanaman
muda, sampai akhir musim baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan.
Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit (Departemen
Pertanian, 2006 ).
Berdasarkan permasalahan
diatas, maka penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh
Perendaman dengan Air Kelapa Muda dan Penyiraman Pupuk Growmore terhadap
Pertumbuhan Stek Buah Naga (Hylocereus polyhizus)”.
Adapun
tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh interaksi perendaman dengan air kelapa muda dan penyiraman
pupuk growmore terhadap pertumbuhan stek buah naga (Hylocereus polyhizus).
BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Kampung Tengah Kecamatan
Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini berlangsung selama 3
bulan yang dimulai pada bulan Juli sampai dengan September 2012.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah stek tanaman buah
naga merah (Hylocereus polyhizus),
pupuk kandang, air kelapa muda, pupuk GrowMore 32-10-10, polybag ukuran 25cm x
30cm, Decis, kayu, Furadan 3G, label nama, paku.
Alat yang digunakan yaitu cangkul, parang, benang, meteran, ember,
pisau cutter, kamera, gergaji, handspayer, dan alat tulis lainnya.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, yang terdiri
dari dua faktor : A (air kelapa) yang terdiri dari 4 taraf perlakuan dan G (GrowMore) terdiri dari 4 taraf
perlakuan.
Adapun
perlakuan tersebut sebagai berikut :
Faktor A perendaman air kelapa muda yang
terdiri dari empat taraf yaitu : A0 = Tanpa perlakuan air kelapa (kontrol), A1
= Pemberian perlakuan air kelapa 20%, A2 = Pemberian perlakuan air kelapa 40%,
A3 = Pemberian perlakuan air kelapa 60%.
Faktor G Penyiraman Pupuk Growmore
terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu G0 = Tanpa pemberian pupuk GrowMore
(kontrol), G1 = Pemberian GrowMore 1 gram / liter air, G2 = Pemberian GrowMore
2 gram / liter air, G3 = Pemberian GrowMore 3 gram / liter air.
Data
hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan di analisis secara statistik
sesuai dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Apabila dalam Analisis Sidik Ragam memberikan pengaruh yang nyata
terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur
(BNJ) pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur
Muncul Sulur (Hari)
Data
pengamatan terhadap umur muncul sulur stek buah naga, setelah dilakukan
analisis sidik ragam, menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian air kelapa
muda dan pemberian perlakuan pupuk growmore tidak memberikan pengaruh yang
nyata. Dan pemberian secara tunggal perlakuan perendaman air kelapa muda
memberikan pengaruh nyata. Hasil uji lanjut beda nyata jujur pada taraf 5%
terhadap umur muncul sulur stek buah naga dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel
1 . Rerata Umur muncul sulur (hari) dengan
perendaman air kelapa muda dan pemberian
pupuk Growmore terhadap pertumbuhan stek buah naga (Hylocereus polyhizus).
|
Faktor
|
Faktor G
|
Rerata A
|
|||
|
A
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
|
|
A0
|
25,78
|
26,56
|
25,56
|
22,61
|
25,13c
|
|
A1
|
23,11
|
22,11
|
22,44
|
22,11
|
22,44b
|
|
A2
|
17,78
|
20,00
|
21,00
|
21,00
|
19,95a
|
|
A3
|
21,45
|
22,11
|
21,67
|
21,45
|
21,67ab
|
|
Rerata G
|
22,03
|
22,70
|
22,67
|
21,79
|
-
|
|
KK = 9,49%
|
BNJA = 2,34
|
||||
Angka-angka
yang diikuti huruf kecil yang tidak sama menunjukkan perbedaan nyata menurut
uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Hasil analisis data menunjukkan perlakuan secara
tunggal air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap umur muncul sulur stek buah
naga. Dimana umur muncul tunas tercepat terdapat pada perlakuan pemberian air
kelapa 40%/ liter air yaitu 19,95 hari.
Cepatnya umur muncul sulur pada perlakuan A2 (pemberian air kelapa muda
40%/liter air) yaitu 19,95 hari. Hal ini disebabkan dosis yang
digunakan adalah sudah mendekati dosis
optimal untuk pertumbuhan umur muncul sulur. Seperti dalam penelitian Asnawi (1989) penggunaan air kelapa muda dengan merendam setek panili
sebelum tanam selama 4 jam dan ternyata air kelapa muda sebagai zat pengatur
tumbuh dengan konsentrasi 40% dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman panili.
penggunaan air kelapa muda sebagai peransang pertumbuhan tanaman khususnya akar
serta untuk mendukung pertumbuhan tunas digunakan air kelapa muda yang dapat
menstimulan pertumbuhan tunas-tunas tanaman buah naga. Karena didalam air
kelapa muda terkandung sitokinin, auksin dan giberelin yang dapat menstimulan
pembelahan sel tanaman.
Menurut Suhardiman (1991) sitokinin yang terkandung dalam air kelapa
muda dapat menumbuhkan mata tunas pada beberapa tanaman tertentu, termasuk
tanaman stek buah naga karena sitokinin bersifat sebagai enzim. Geberelin merupakan hormon tumbuh alami pada tanaman yang
memiliki sifat menyerupai auksin. Peranan giberelin adalah meransang pembelahan
sel, perkecambahan, pembentukan tunas dan mempercepat munculnya bunga (Syamsuri, 2004). Dan kandungan lain dari air kelapa yaitu auksin,
menurut Sudjadi (2007) auksin adalah zat aktif dalam sistem perakaran, senyawa
ini membantu proses pembiakan vegetatif, fungsi auksin untuk meransang
pembesaran sel dan meransang pertumbuhan akar lateral.
Diperkirakan bahwa dalam air kelapa juga
terkandung zeatin yang diketahui termasuk dalam kelompok sitokinin. Sitokinin
bersama dengan auksin mempunyai peranan penting untuk kemampuan mendorong
terjadinya pembelahan sel dan diferensiasi jaringan tertentu dalam pembentukan
tunas pucuk dan pertumbuhan akar.
Pemberian pupuk GrowMore secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata pada umur
muncul, karena stek belum memiliki akar yang
sempurna perkembangannya sehingga kandungan hara yang diberikan belum bisa diserap secara
sempurna oleh stek. Hal ini dikarenakan akar-akar tanaman belum terbentuk
secara sempurna sehingga fungsi dari masing-masing jaringan tanaman tidak
berjalan. Dan adanya kemungkinan hilangnya unsur yang
diberikan tercuci oleh air hujan karena pada waktu pemberian perlakuan GrowMore
sering terjadi hujan. Curah hujan yang terlalu tinggi dan berlangsung dalam
waktu yang lama ini membuat media tanam jenuh air sehingga kelembaban tinggi
yang berakibat kurang menguntungkan untuk pertumbuhan stek buah naga. Umur
muncul sulur tercepat pada perlakuan GrowMore yaitu pada perlakuan G2
(2gr/liter air) 21,67 hari, di ikuti dengan perlakuan G3 (3gr/liter air) 21,79
hari, berbeda dengan perlakuan G1 (1gr/liter air) 22,70 hari.
Interakasi antara air
kelapa muda dan pupuk GrowMore berpengaruh tidak nyata pada umur muncul
sulur, hal ini diduga karena faktor iklim yang menyebabkan unsur hara yang
diberikan tidak bisa diserap oleh akar tanaman karena terjadinya pencucian
unsur hara oleh air hujan.
Lingkar Sulur
Data
pengamatan terhadap pertambahan lingkar sulur stek buah naga, setelah dilakukan
analisis sidik ragam. Menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian air kelapa
muda dan pemberian perlakuan pupuk growmore memberikan pengaruh yang nyata.
Pemberian secara tunggal air kelapa muda yang menunjukkan pengaruh yang tidak
nyata. Dan pemberian secara tunggal perlakuan pupuk growmore memberikan pengaruh
nyata. Hasil uji beda nyata jujur pada
taraf 5% terhadap lingkar sulur stek buah naga dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel
2. Rerata lingkar Sulur (cm)
dengan Perlakuan Penyiraman Air Kelapa Muda dan Penyiraman Pupuk Growmore
terhadap Stek Buah Naga (Hylocereus
polyhizus).
|
Faktor A
|
Faktor G
|
Rerata A
|
|||
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
||
|
A0
|
1,61
|
2,28
|
2,44
|
2,70
|
2,26
|
|
A1
|
2,10
|
2,26
|
2,68
|
2,57
|
2,40
|
|
A2
|
1,94
|
2,12
|
2,92
|
2,79
|
2,44
|
|
A3
|
1,79
|
2,46
|
2,35
|
2,47
|
2,27
|
|
Rerata G
|
1,86b
|
2,28a
|
2,60a
|
2,63a
|
|
|
KK = 15,40%
|
BNJ G = 0,38
|
||||
Angka-angka
yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji
5% menurut Uji lanjut BNJ.
Perlakuan pupuk GrowMore
secara tunggal memperlihatkan pengaruh nyata pada
perlakuan G3
(2,63 cm) merupakan perlakuan terbaik, tidak berbeda
nyata dengan perlakuan G2 (2,60 cm) dan perlakuan G1 (2,28 cm) disebabkan karena GrowMore
aktif untuk memberikan pengaruh baik pada stek buah naga terutama pada lingkar sulur. Tingginya
angka diameter sulur pada perlakuan G3 disebabkan karena
perlakuan ini unsur hara yang tersedia sudah dalam keadaan seimbang. Sehingga
mencukupi untuk pertumbuhan tanaman termasuk diameter sulur stek buah naga itu
sendiri. Sugeng (2007) mengemukakan bahwa pemberian pupuk pada tanaman
didalam tanah dalam kondisi yang baik dapat menambah unsur hara pada tanaman.
Nitrogen yang terkandung didalam media tanam tersebut, apabila dapat dimanfaatkan
tanaman dengan baik maka laju fotosintesis akan berjalan lebih baik dan
menghasilkan asimilat yang dimanfaatkan oleh tanaman dalam
pembelahan dan perkembangan sel dalam jaringan tanaman.
Penyiraman pupuk growmore pada tanaman ini mendukung pertumbuhan
stek buah naga terutama pada diameter sulur, karena GrowMore adalah pupuk
lengkap dalam bentuk kristal berwarna biru yang sangat mudah larut dalam air.
Menurut Lingga dan Marsono (2000), GrowMore mengandung unsur makro N, P, K, Ca,
Mg, dan S serta unsur mikro lain seperti Fe, Mn, Mo dan Zn, dapat diserap
dengan mudah oleh tanaman melalui penyiraman lewat media tanam. Kandungan
Nitrogen yang cukup yang ada dalam tanah merupakan unsur utama bagi
pertumbuhan tanaman, terutama pertumbuhan vegetatif. Kandungan NPK dalam pupuk GrowMore
yang digunakan sebagai perlakuan dalam penelitian ini adalah dengan
perbandingan 32:10:10, dengan nilai N yang tinggi dari pupuk tersebut dapat
memacu pertumbuhan vegetatif stek buah naga terutama pertambahan diameter
sulur.
Ketersediaan Nitrogen sangat penting peranannya pada fase vegetatif, seperti
pertumbuhan diameter sulur, cabang dan akar tanaman. Dan menurut Salisbury dan
Ross (1969) Nitrogen merupakan bahan penting penyusun asam amino, amida,
nukleotida, serta untuk pembelahan sel.
Unsur Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk NH4+
dan NO3-, Nitrogen meransang pertumbuhan diatas tanah
memberikan warna hijau pada sulur stek. Menurut Jumin (2005) Nitrogen berperan
dalam 1) mempertinggi pertumbuhan vegetatif tanaman terutama sulur pada stek
buah naga, 2) meningkatkan kemampuan tanaman untuk menyerap unsur hara lain
seperti fosfor, kalium, dan sebagainya, 3) meransang pertunasan dan 4) menambah
tinggi tanaman. Kekurangan Nitrogen menyebabkan sulur menjadi kuning, membusuk
dan akhirnya rontok. Selain mengandung unsur Nitrogen pupuk GrowMore juga
mengandung unsur Fosfor.
Pupuk P yang terkandung dalam GrowMore larut dalam air maka akan
cepat larut dalam tanah dengan kelembaban yang sedang. Soepardi (1983) fosfor
pada tanaman berpengaruh dalam
pembelahan sel, pembentukan lemak dan albumin, pembungaan, pembuahan dalam
pengisian biji, perkembangan akar halus dan rambut, pencegahan kerebahan,
membantu mempercepat kematangan tanaman dengan mengurangi pemberian nitrogen
serta meningkatkan ketahanan terhadap
hama dan penyakit.
Kalium dapat diserap oleh akar dalam bentuk ion-ion K+,
kalium berperan dalam pembelahan sel, fotosintesis, translokasi gula, reduksi
nitrat dan mensintesis protein dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Kalium juga merupakan unsur logam yang paling banyak terdapat didalam cairan
sel, yang berfungsi mengatur keseimbangan garam-air atau mengatur keseimbangan
osmotik dalam tanaman sehingga memungkinkan pergerakan akar.
Perlakuan air kelapa muda secara tunggal menunjukkan pengaruh yang
tidak nyata terhadap diameter sulur. Hasil dari perlakuan air kelapa secara
tunggal dapat dilihat pada Tabel di atas dimana hasil tertinggi pada perlakuan
A2 yaitu 2.44 cm dan dilanjutkan dengan perlakuan A1 (2,40 cm) yang hasilnya
jauh berbeda dengan perlakuan A3 (2,27). Stek yang hanya mendapat perlakuan
perendaman air kelapa tanpa diberikan perlakuan penyiraman pupuk growmore tentu
saja tanaman mengalami pertumbuhan yang terhambat, dikarenakan tidak ada
pasokan unsur hara yang dibutuhkan untuk perkembangan tanaman seperti unsur
nitrogen yang berperan penting dalam masa vegetatif tanaman. Hal ini didukung
dengan pendapat Rinsema (1986) mengemukakan bahwa pemberian pupuk pada tanaman
didalam tanah dalam kondisi baik dapat menambah unsur hara pada tanaman. Stek
tanaman hanya memanfaatkan unsur hara yang ada pada media tanam tentunya hal
ini tidak mencukupi kebutuhan dari tanaman secara terus-menerus. Zat pengatur
tumbuh yang terkandung dalam air kelapa muda hanya berfungsi untuk pembelahan
sel saja tidak mendukung untuk perkembangan tanaman itu sendiri. Dan fungsi
utama air kelapa hanya sebagai zat pengatur tumbuh bukan sebagai unsur hara bagi
tanaman.
Secara interaksi perlakuan dengan air kelapa muda dan penyiraman
pupuk GrowMore menunjukkan pengaruh tidak yang nyata. Dimana didapat hasil
parameter pengamatan diameter sulur tertinggi terdapat pada perlakuan A2G2
(dengan perendaman air kelapa muda 40%/liter air dan penyiraman GrowMore 2
gr/liter air) yaitu 2,92 cm dan yang terendah pada perlakuan A2G1 dengan
diameter sulur 2,12 cm.
Panjang
Sulur (cm)
Data
pengamatan terhadap panjang sulur stek buah naga, setelah dilakukan analisis
sidik ragam. Menunjukkan bahwa secara tunggal penyiraman pupuk growmore
memberikan pengaruh nyata terhadap panjang sulur. Sedangkan interaksi pemberian
air kelapa muda dan pemberian perlakuan pupuk growmore, dan pemberian secara
tunggal perlakuan air kelapa tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua
perlakuan. Hasil rerata panjang sulur stek buah naga dapat dilihat pada Tabel 3.
Berdasarkan Tabel 3
menunjukan bahwa perlakuan penyiraman pupuk GrowMore secara tunggal menunjukkan
pengaruh yang nyata terhadap parameter panjang sulur. Dimana perlakuan terbaik
pada G3 (penyiraman growmore 3 gr/l air) dengan hasil 37,92 cm, berbeda dengan
perlakuan G0 (23,81 cm), G1 (30,14), dan G2 (30,17 cm). Hal ini sejalan dengan
diameter G3 yang paling besar sesuai dengan anjuran Departemen Pertanian RI
(2006) bahwa larutkan 1-2 gram pupuk growmore dalam 1 liter air, yang dapat
berperan dalam kegiatan fotosintesis tanaman. Kalau proses fotosintesis
berjalan dengan baik tentu pertumbuhan tanaman juga akan berjalan dengan baik.
Karena suatu tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan tindakan
manusia itu sendiri. Diantara faktor genetik itu adalah sifat ketahanan hidup
dari benih tersebut sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi adalah air,
suhu, cahaya, dan unsur hara lainnya.
Tabel 3. Rerata Panjang Sulur (cm) dengan
Perlakuan Penyiraman Air Kelapa Muda dan Penyiraman Pupuk Growmore terhadap Stek Buah Naga
(Hylocereus polyhizus).
|
Faktor A
|
Faktor G
|
Rerata A
|
|||
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
||
|
A0
|
21,11
|
28,55
|
33,22
|
37,67
|
30,14
|
|
A1
|
27,11
|
30,00
|
28,78
|
31,89
|
29,44
|
|
A2
|
25,11
|
35,44
|
28,22
|
42,33
|
32,78
|
|
A3
|
21,89
|
26,56
|
30,44
|
39,78
|
29,67
|
|
Rerata G
|
23,81b
|
30,14b
|
30,17b
|
37,92a
|
|
|
KK = 20,14%
|
BNJ G = 6,79
|
||||
Angka-angka
yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji 5% menurut Uji lanjut BNJ.
Abidin
(1995) mengemukakan bahwa batang tanaman yang menghasilkan daun atau sulur
seperti pada tanaman buah naga, pertambahan panjang tanaman terjadi karena
adanya peristiwa pembelahan dan perpanjangan sel yang di dominasi pada bagian
pucuk, maka pemberian unsur hara yang diberikan pada tanaman akan diserap oleh
tanaman yang dapat mengaktifkan dan meningkatkan sel-sel meristem pada ujung
batang serta akan mendorong memperlancar proses fotosintesis. Namun type
fotosintesis pada tanaman buah naga berbeda dengan tanaman lain karena
disekeliling batang buah naga terdapat lapisan lilin. Maka pemberian pupuk
GrowMore ini diberikan dengan cara disiramkan pada media tanam. Pupuk yang
diberikan melalui media tanam ini masih dapat diserap oleh tanaman melalui akar
tanaman dan dapat meningkatkan laju fotosintesis serta meningkatkan penumpukan
bahan organik yang pada akhirnya dapat meningkatkan panjang sulur tanaman buah
naga.
Semua
perlakuan secara tunggal perendaman air kelapa muda tidak memberikan pengaruh
nyata terhadap panjang sulur stek tanaman buah naga. Data hasil pengamatan yang
diperoleh pada perlakuan air kelapa muda secara tunggal yaitu, dimana sulur
terpanjang pada perlakuan A2 (40%) 32,78 cm, diikuti dengan perlakuan A1(20%)
29,44 cm dan perlakuan A3 (60%) dengan panjang sulur 29,67 cm.
Pemberian
secara interaksi zat pengatur tumbuh air kelapa muda dan pemberian pupuk
growmore tidak begitu membantu khususnya pada pertambahan panjang sulur stek
buah naga, karena pertambahan panjang sulur memerlukan pasokan unsur hara bukan
hanya zat pengatur tumbuh. Perendaman dengan air kelapa muda tidak lagi
berfungsi karena pada dasarnya fungsi utama air kelapa hanya untuk meransang
pembelahan sel. Dan pemberian air kelapa muda hanya dilakukan sekali selama
penelitian maka pengaruhnya pada panjang sulur tidak tampak. Hormon seperti giberelin yang
terkandung dalam air kelapa muda hanya dalam jumlah yang sedikit sekali, hormon
ini habis untuk pembelahan sel dan tidak mencukupi untuk pertumbuhan khususnya
panjang sulur stek buah naga. Perlakuan interaksi terbaik pada A2G3 (40% air kelapa muda dan 3 gr/ liter air
GrowMore) dengan hasil 42,33 cm. Dan perlakuan terendah pada perlakuan A3G2
(60% air kelapa muda dan 2 gr/l air growmore) dengan hasil 26,56 cm.
Jumlah Sulur (Batang)
Data
pengamatan terhadap jumlah sulur stek buah naga, setelah dilakukan analisis
sidik ragam. Menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian air kelapa muda dan
pemberian perlakuan pupuk growmore, dan pemberian secara tunggal perlakuan air
kelapa dan pupuk growmore tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua
perlakuan. Hasil pengamatan jumlah sulur stek buah naga dapat di lihat pada Tabel 4.
Semua perlakuan tidak memberikan
pengaruh yang nyata terhadap jumlah sulur stek tanaman buah naga. Perlakuan
tunggal pemberian pupuk GrowMore tidak
berbeda nyata terhadap jumlah sulur stek tanaman buah naga. Hal ini diduga
selama penelitian terjadi musim hujan yang terlalu tinggi, sehingga kelembaban
tanah serta kebutuhan air sudah melebihi batas maksimum sehingga jumlah sulur
tidak banyak terbentuk karena kurangnya mendapat cahaya matahari.
Tabel
4. Rerata Jumlah Sulur
(batang) dengan Perlakuan Penyiraman Air Kelapa Muda dan Penyiraman Pupuk GrowMore terhadap Stek Buah Naga (Hylocereus polyhizus).
|
Faktor A
|
Faktor G
|
Rerata A
|
|||
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
||
|
A0
|
2,22
|
1,78
|
2,33
|
2,61
|
2,23
|
|
A1
|
2,11
|
1,55
|
2,56
|
2,56
|
2,19
|
|
A2
|
2,22
|
2,22
|
2,22
|
1,78
|
2,11
|
|
A3
|
1,11
|
2,44
|
1,89
|
3,11
|
2,14
|
|
Rerata G
|
1,92
|
2,00
|
2,25
|
2,51
|
|
|
KK = 35,39 %
|
|||||
Angka-angka
yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji 5% menurut Uji lanjut BNJ.
Perlakuan
secara tunggal air kelapa muda terhadap pengamatan jumlah sulur tidak
menunjukkan pengaruh yang nyata. Dimana data yang diperoleh selama penelitian
yaitu jumlah sulur terbanyak terdapat pada perlakuan A1 (20%) 2,19 sulur, tidak
jauh berbeda dengan perlakuan A3 (60%) 2,14 sulur. Hasil terendah terdapat pada
perlakuan A2 (40%) dimana data yang diperoleh yaitu 2,11 sulur dan A0 (tanpa
perendaman air kelapa) dengan jumlah sulur 2,23. Tidak berpengaruhnya air
kelapa muda terhadap jumlah sulur diduga karena kandungan hormon dalam air
kelapa muda ini tidak bisa memberikan nutrisi pada stek buah naga.
Begitu
juga terhadap perlakuan pupuk GrowMore secara tunggal tidak memberikan pengaruh
yang nyata terhadap pengamatan jumlah sulur. Hasil tertinggi terdapat pada
perlakuan G3 (dengan pemberian GrowMore 3gr/liter air) yaitu 2,51 sulur,
diikuti oleh perlakuan G2 (dengan pemberian GrowMore 2gr/liter air) yaitu 2,25
sulur dan perlakuan G1 (dengan pemberian GrowMore 1gr/liter air) yaitu 2.00.
Hasil terendah terdapat pada G0 ( tanpa pemberian GrowMore) yaitu 1.92 sulur.
Hal ini diduga pada pertumbuhan yang lambat pada tanaman tanpa pemberian pupuk
GrowMore sehingga sulur yang terbentuk sedikit akibat kurangnya unsur hara
untuk pertumbuhan stek tanaman buah naga. Pemberian pupuk GrowMore 3gr/liter
air pada perlakuan G3 pertumbuhannya jauh lebih baik dibandingkan dengan tanpa
pemberian GrowMore sehingga pembentukan jumlah sulur yang akan terbentuk lebih
banyak.
Perlakuan
secara tunggal pupuk growmore, dapat dilihat pada Tabel 8 diatas, bahwa semakin
tinggi dosis yang diberikan terhadap stek tanaman buah naga, maka akan semakin
banyak sulur yang terbentuk. Hal ini disebabkan kebutuhan unsur hara yang cukup
tinggi dibutuhkan tanaman dalam
pembentukan jumlah sulur.
Perlakuan
secara interaksi pemberian air kelapa muda dan pupuk GrowMore menunjukkan
pengaruh yang tidak nyata. Hasil pengamatan perlakuan yang terbaik dalam
pembentukan jumlah sulur adalah perlakuan A3G3 (3,11) dan terendah pada
perlakuan A1G1 dengan jumlah sulur 1,55 sulur yang terbentuk, karena fungsi air
kelapa ini hanya sebagai zat pengatur tumbuh yang meransang pertumbuhan akar,
walaupun akar sudah terbentuk tapi unsur hara dari pupuk GrowMore ini tidak
bisa diserap oleh akar tanaman karena terjadinya pencucian unsur hara oleh air
hujan.
Walaupun
tidak terlihat pengaruh yang berbeda nyata dari interaksi air kelapa muda dan
pupuk GrowMore ini stek buah naga, pertumbuhan stek buah naga dapat tumbuh baik
dan jumlah sulur yang dihasilkan bervariasi. Kemampuan tanaman untuk membentuk
sulur pada batang sangat bervariasi dikemukakan oleh Lakitan (1997), bahwa
genotif yang berinteraksi dengan sejumlah faktor lingkungan seperti intensitas
cahaya matahari, temperature, kelembaban, dan kesuburan tanah sangat
mempengaruhi pembentukan cabang atau sulur tanaman.
Persentase Tumbuh (%)
Data
pengamatan terhadap panjang sulur stek buah naga, setelah dilakukan analisis
sidik ragam. Menunjukan bahwa secara interaksi pemberian air kelapa muda dan
pemberian perlakuan pupuk growmore tidak memberikan pengaruh yang nyata, dan
pemberian secara tunggal perlakuan air kelapa muda menunjukkan pengaruh yang
nyata. Perlakuan pupuk growmore secara tunggal tidak memberikan pengaruh nyata
terhadap semua perlakuan. Hasil rerata panjang sulur stek buah naga dapat
dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rerata Persentase Tumbuh (%) dengan Perlakuan
Penyiraman Air Kelapa Muda dan
Penyiraman Pupuk Growmore terhadap Stek Buah Naga (Hylocereus polyhizus).
|
Faktor A
|
Faktor G
|
Rerata A
|
|||
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
||
|
A0
|
83,33
|
91,67
|
83,33
|
83,33
|
85,42b
|
|
A1
|
100,00
|
91,67
|
100,00
|
100,00
|
97,92a
|
|
A2
|
91,67
|
83,33
|
91,67
|
91,67
|
89,58ab
|
|
A3
|
100,00
|
100,00
|
100,00
|
100,00
|
100,00a
|
|
Rerata G
|
93,75
|
91,67
|
93,75
|
93,75
|
|
|
KK = 11,82%
|
BNJ A = 12,21
|
||||
Angka-angka
pada kolom yang tidak sama adalah menunjukan perbedaan menurut Uji Beda Nyata
Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Dari
Tabel 5 dapat dilihat bahwa semua
perlakuan perendaman dengan air kelapa muda memberikan pengaruh yang nyata
terhadap persentase tumbuh stek tanaman buah naga. Hasil pengamatan selama
penelitian pada perlakuan perendaman air kelapa muda yakni diperoleh angka
persentase tumbuh tertinggi pada perlakuan A3 (60%/ liter air) yaitu 100,%,
tidak jauh berbeda dengan perlakuan A1(20%/ liter air) dengan persentase tumbuh
97,92% dan berbeda dengan perlakuan A2(40%/ liter air) persentase tumbuh
89,58%.
A0 merupakan perlakuan yang menghasilkan persentase tumbuh
terendah karena tanpa perlakuan perendaman air kelapa. Namun stek masih dapat
tumbuh karena zat pengatur tumbuh yang ada dalam tubuh tanaman cukup membantu
terjadinya pembelahan sel walau pertumbuhannya berjalan lambat. Abidin (1995)
mengemukakan bahwa pertumbuhan suatu tanaman sangat dipengaruhi oleh zat dalam
tubuh tanaman itu sendiri. Seperti karboidrat, protein, dan disamping itu juga
dipengaruhi oleh lingkungan seperti penyinaran dan suhu.
Tingginya persentase tumbuh terdapat pada perlakuan A3 (60% air
kelapa muda) dikarenakan kandungan auksin yang terdapat dalam air kelapa muda
dapat menyebabkan perakaran meningkat, stek akan teransang sehingga akibatnya
metabolisme tanaman akan meningkat. Kemudian akan mempercepat terbentuknya akar
ini diduga akan memperbesar peluang stek untuk tumbuh yang akhirnya dapat
meningkatkan persentase tumbuh. Dalam memperbanyak tanaman, salah satu faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah zat pengatur tumbuh karena
pemakaian zat tersebut dapat memacu pertumbuhan tanaman.
KESIMPULAN
Perlakuan perendaman dengan air kelapa muda (A) memberikan
pengaruh yang nyata terhadap umur muncul sulur dengan perlakuan terbaik yaitu
A2 (19.95 hari) dan
berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan persentase tumbuh dengan
perlakuan terbaik yaitu A3(60%/liter air) dengan persentase tumbuh 100%,
Perlakuan penyiraman dengan pupuk GrowMore (G) secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap lingkar sulur dengan perlakuan terbaik G3 (2.63
cm) dan terhadap pengamatan panjang sulur dengan perlakuan terbaik G3 (37,92
cm), Pemberian perlakuan secara interaksi air
kelapa muda dan pupuk growmore tidak menunjukkan pengaruh
nyata terhadap semua
parameter pengamatan, Dari parameter yang
telah diamati menunjukkan bahwa perlakuan terbaik secara tunggal perendaman
air kelapa muda yaitu A2 dengan dosis 40% / liter air untuk umur muncul sulur, A3 (60%/liter air)
untuk persentase tumbuh dan perlakuan GrowMore terbaik G3 dengan dosis 3g/liter
air.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin. 1995. Zat Pengatur
Tumbuh. Angkasa. Bandung
Asnawi, 1989. Pengaruh Air Kelapa terhadap Pertumbuhan Setek Panili. Pemb.
Littri. Puslitbangtri, Bogor 15 (2): 79-83.
Departemen
Pertanian Republik Indonesia. 2006. Pupuk
GrowMore. Jakarta
Ginting, B. 2001. Pengaruh
Cara Pemberian Air, media, dan Pemupukan Anggrek
Dendrobium. Balai
Penelitian Tanaman Hias. Jakarta.
Jumin H. B, 2005. Agroteknologi. Rajab
Grafindo Persada. Jakarta
Lakitan, B. 1997. Dasar-Dasar Fisiologi
Tumbuhan. Rajawali Pers. Jakarta
Lingga, P dan Marsono. 2000. Petunjuk
Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
P.
Suhardiman. 1991. Kultur Jaringan.
Trubus no.158Rinsema,W. T, 1986. Pupuk dan Cara Pe
mupukan. Bharata Karya Aksara. Jakarta
Salisbury,f.B and C. W. Ross. 1969. Plant Physiology. Jilid 1, 2. 3. ITB. Bandung.
Soepardi, G. 1983.
Sifat dan Ciri-Ciri Tanah. Jurusan
Ilmu Tanah IPB. Bogor.
Sugeng, 2007. Bercocok Tanam Padi. CV.
Aneka Ilmu Anggota IKAPI. Semarang
Winarsih,
Sri. 2007. Mengenal dan Membudidayakan Buah Naga. Penerbit Aneka Ilmu Visi Buku
Dunia Baru, Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar