Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 hAL 11-19

PENGARUH PERENDAMAN DENGAN AIR KELAPA MUDA DAN PUPUK GROWMORE TERHADAP PERTUMBUHAN STEK BUAH NAGA (Hylocereus polyhizus)

Nelvi Aysa, Heni Rosneti, dan Rover
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 E-mail as_vie70@yahoo.co.id Teluk Kuantan

ABSTRACT
This research have been executed in Middle Countryside Kampong  Gunung Toar. Time Research during 3 months counted from July until September 2012. Method Research the used Factorial RAK consisting of 2 factor that is factor of A      (young coconut water) consist of 4 treatment level that is : A0 (control), A1 (20% young coconut water), A2 (40% young coconut water) and A3 ( 60% young coconut water). And G factor ( Growmore) consist of 4 treatment level that is : G0 (control), G1 (1 gr/litre), G2 (2gr /litre), and G3 (3 gr/litre). To know growth of Dragon fruit hence conducted by perception to age emerge sucker, sucker diameter, amount of sucker, percentage grow and sucker length. Treatment of young coconut water have an effect on reality to age emerge sucker with best result there are treatment of A2  (19,95 day), and have an effect on reality to percentage grow with best treatment A3 with percentage grow 100,00%. Treatment of sprinkler of manure of growmore have an effect on reality to sucker diameter parameter with treatment of G3 got by best result 2,63 cm and having an effect on reality to perception of sucker length with best result there are treatment of G3 where sucker length which that is 37,92 cm. While treatment interactionly have an effect on is not real to all perception parameter

Key words : Dragon fruit, stek, growmore fertilizer, young coconut water


PENDAHULUAN
Budidaya tanaman buah naga (Hylocereus polyhizus) banyak diminati saat ini karena akan mendatangkan nilai jual yang tinggi, misalnya tanaman yang mempunyai ciri buahnya berwarna merah dan bersisir hijau yang sering kita sebut buah naga, akhir-akhir ini memang baru diusahakan untuk dikembangkan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tanaman buah naga baru bagi dunia pertanian di Indonesia dan untuk melengkapi koleksi jenis tanaman yang diusahakan. Pengembangan tanaman buah naga sangat mungkin dilakukan karena cocok dibudidayakan di daerah tropis. Saat ini buah naga sudah menyebar luas ke penjuru dunia, daerah asal kaktus hutan yang buahnya berwarna merah dan bersisik ini adalah Meksiko (Winarsih, 2007).
Buah naga mengandung Vitamin C, Kalsium, Fosfor, serta serat. Vitamin C paling tinggi terdapat pada buah naga jenis Hylocereus undatus, sedangkan kandungan Kalsium yang tinggi terdapat pada buah kuning jenis Selenicerus megalanthus, tapi jarang dibudidayakan di Indonesia. Buah naga dapat dikomsumsi sebagai pencegah penyakit seperti ginjal, usus besar, kanker, hipertensi dan sebagainya. Selain dilihat dari fungsi kesehatannya buah naga juga mempunyai prosfek yang cukup menjanjikan untuk dikelola jika dilihat dari manfaat dan kebutuhannya.
Buah naga dapat diperbanyak dengan biji dan stek, penanaman menggunakan stek batang lebih baik kerena selain lebih mudah diperoleh pertumbuhannya juga lebih cepat. Stek batang dapat di ambil pada sulur batang dewasa yang dipotong-potong dengan panjang minimal 20 sampai 30 cm. Stek batang yang baru didiamkan selama 7-10 hari untuk menghilangkan getahnya dan agar lukanya mengering.
              Perbanyakan tanaman buah naga dengan cara vegetatif pada buah naga  menggunakan stek batang atau cabang. Batang atau cabang yang digunakan untuk stek harus dalam keadaan sehat, tua, keras, sudah berbuah dan berwarna hijau kelabu. Ukuran stek yang ideal antara 50-60 cm, dari pengamatan dengan panjang stek tersebut maka mata tunas yang tumbuh akan mudah membesar dan sesuai dengan cara perbanyakan stek batang, akan mempercepat proses pertumbuhan buah naga serta terbentuknya bunga dan buah. Sebelum ditanam, bagian pangkal stek dapat dicelupkan terlebih dahulu ke dalam cairan peransang pertumbuhan akar. Untuk menghindari penggunaan Zat Pengatur Tumbuh buatan salah satu alternatifnya adalah menggunakan air kelapa muda yang merupakan Zat Pengatur Tumbuh alami yang banyak tersedia di alam dan efek residunya tidak berbahaya untuk tanaman dan lingkungan.
Air kelapa muda merupakan ZPT alami yang telah banyak di gunakan sebagai ZPT di laboratorium, karena di dalam air kelapa terkandung zat peransang tumbuh seperti sitokinin, zeatin, auksin, dan giberelin  yang berfungsi dapat mempercepat atau meransang pertumbuhan mata tunas dan akar.
Peranan sitokinin antara lain: 1) bersama dengan auksin dan giberelin merangsang pembelahan sel-sel tanaman, 2) merangsang morfogenesis (inisiasi/pembentukan tunas) pada kultur jaringan, 3) merangsang perluasan daun yang dihasilkan dari pembesaran sel atau merangsang pemanjangan titik tumbuh daun dan merangsang pembentukan akar cabang, 4) meningkatkan membuka stomata pada beberapa spesies tanaman, 5) mendukung konversi etioplastis ke kloroplas melalui stimulasi sintesis klorofil, 6) menghambat proses penuaan (senescence) daun, 7) mematahkan dormansi biji.
Sitokinin yang terkandung dalam air kelapa muda dapat menumbuhkan mata tunas pada beberapa tumbuhan tertentu. Karena sitokinin bersifat sebagai enzim (Suhardiman, 1991). Auksin adalah zat aktif dalam sistem perakaran, senyawa ini membantu proses pembiakan vegatatif seperti untuk merangsang pertumbuhan akar lateral, Giberelin merupakan hormon tumbuh alami pada tanaman yang memiliki sifat menyerupai auksin. Peranan giberalin adalah merangsang pembelahan sel (Syamsuri, 2004). Penggunaan air kelapa muda sebagai peransang pertumbuhan tanaman khususnya akar dan untuk mendukung pertumbuhan tunas digunakan pupuk growmore yang dapat menstimulan pertumbuhan tunas-tunas tanaman buah naga.
Pupuk GrowMore merupakan pupuk organik yang mengandung unsur Nitrogen yang dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif, posfor berpengaruh untuk merangsang pertumbuhan generatif, inisiasi akar, dan pendewasaan tanaman, sedangkan kalium berfungsi sebagai katalisator (Ginting, 2001). Kebutuhan tanaman buah naga dapat dilakukan dengan pemberian pupuk namun strategi untuk memberikan konsentrasi larutan yang tepat pun sangat penting jangan sampai suatu kerugian akibat penggunaan pupuk yang berlebih atau tanaman kekurangan unsur hara pemberian langsung disiramkan ke dalam tanah.
Pupuk GrowMore ini merupakan pupuk yang memberikan unsur-unsur Nitrogen, Phosphat dan Kalium tersedia terhadap tanaman. Dapat digunakan sepanjang tahun, mulai saat tanaman muda, sampai akhir musim baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit (Departemen Pertanian, 2006 ).
 Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Perendaman dengan Air Kelapa Muda dan Penyiraman Pupuk Growmore terhadap Pertumbuhan Stek Buah Naga (Hylocereus polyhizus)”.
            Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi perendaman dengan air kelapa muda dan penyiraman pupuk growmore terhadap pertumbuhan stek buah naga (Hylocereus polyhizus).

BAHAN DAN METODA

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Kampung Tengah Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan yang dimulai pada bulan Juli sampai dengan September 2012.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah stek tanaman buah naga merah (Hylocereus polyhizus), pupuk kandang, air kelapa muda, pupuk GrowMore 32-10-10, polybag ukuran 25cm x 30cm, Decis, kayu, Furadan 3G, label nama, paku.
Alat yang digunakan yaitu cangkul, parang, benang, meteran, ember, pisau cutter, kamera, gergaji, handspayer, dan alat tulis lainnya.

Metode Penelitian
              Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, yang terdiri dari dua faktor : A (air kelapa) yang terdiri dari 4 taraf perlakuan dan G (GrowMore) terdiri dari 4 taraf perlakuan.
Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut :
 Faktor A perendaman air kelapa muda yang terdiri dari empat taraf yaitu : A0 = Tanpa perlakuan air kelapa (kontrol), A1 = Pemberian perlakuan air kelapa 20%, A2 = Pemberian perlakuan air kelapa 40%, A3 = Pemberian perlakuan air kelapa 60%.
Faktor G Penyiraman Pupuk Growmore terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu G0 = Tanpa pemberian pupuk GrowMore (kontrol), G1 = Pemberian GrowMore 1 gram / liter air, G2 = Pemberian GrowMore 2 gram / liter air, G3 = Pemberian GrowMore 3 gram / liter air.
Data hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan di analisis secara statistik sesuai dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Apabila dalam Analisis Sidik Ragam memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur Muncul Sulur (Hari)
Data pengamatan terhadap umur muncul sulur stek buah naga, setelah dilakukan analisis sidik ragam, menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian air kelapa muda dan pemberian perlakuan pupuk growmore tidak memberikan pengaruh yang nyata. Dan pemberian secara tunggal perlakuan perendaman air kelapa muda memberikan pengaruh nyata. Hasil uji lanjut beda nyata jujur pada taraf 5% terhadap umur muncul sulur stek buah naga dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1 .  Rerata Umur muncul sulur (hari) dengan perendaman air kelapa muda dan  pemberian pupuk Growmore terhadap pertumbuhan stek buah naga  (Hylocereus polyhizus).
Faktor
Faktor G
Rerata A
A
G0
G1
G2
G3
A0
25,78
26,56
25,56
22,61
25,13c
A1
23,11
22,11
22,44
22,11
22,44b
A2
17,78
20,00
21,00
21,00
19,95a
A3
21,45
22,11
21,67
21,45
21,67ab
Rerata G
22,03
22,70
22,67
21,79
-
KK = 9,49%
BNJA = 2,34
Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang tidak sama menunjukkan perbedaan nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Hasil analisis data menunjukkan perlakuan secara tunggal air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap umur muncul sulur stek buah naga. Dimana umur muncul tunas tercepat terdapat pada perlakuan pemberian air kelapa 40%/ liter air yaitu 19,95 hari. Cepatnya umur muncul sulur pada perlakuan A2 (pemberian air kelapa muda 40%/liter air) yaitu 19,95 hari. Hal ini disebabkan dosis yang digunakan adalah sudah mendekati dosis optimal untuk pertumbuhan umur muncul sulur. Seperti dalam penelitian Asnawi (1989) penggunaan air kelapa muda dengan merendam setek panili sebelum tanam selama 4 jam dan ternyata air kelapa muda sebagai zat pengatur tumbuh dengan konsentrasi 40% dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman panili. penggunaan air kelapa muda sebagai peransang pertumbuhan tanaman khususnya akar serta untuk mendukung pertumbuhan tunas digunakan air kelapa muda yang dapat menstimulan pertumbuhan tunas-tunas tanaman buah naga. Karena didalam air kelapa muda terkandung sitokinin, auksin dan giberelin yang dapat menstimulan pembelahan sel tanaman.
Menurut Suhardiman (1991) sitokinin yang terkandung dalam air kelapa muda dapat menumbuhkan mata tunas pada beberapa tanaman tertentu, termasuk tanaman stek buah naga karena sitokinin bersifat sebagai enzim. Geberelin merupakan hormon tumbuh alami pada tanaman yang memiliki sifat menyerupai auksin. Peranan giberelin adalah meransang pembelahan sel, perkecambahan, pembentukan tunas dan mempercepat munculnya bunga (Syamsuri, 2004). Dan kandungan lain dari air kelapa yaitu auksin, menurut Sudjadi (2007) auksin adalah zat aktif dalam sistem perakaran, senyawa ini membantu proses pembiakan vegetatif, fungsi auksin untuk meransang pembesaran sel dan meransang pertumbuhan akar lateral.
Diperkirakan bahwa dalam air kelapa juga terkandung zeatin yang diketahui termasuk dalam kelompok sitokinin. Sitokinin bersama dengan auksin mempunyai peranan penting untuk kemampuan mendorong terjadinya pembelahan sel dan diferensiasi jaringan tertentu dalam pembentukan tunas pucuk dan pertumbuhan akar.
Pemberian pupuk GrowMore secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata pada umur muncul, karena stek belum memiliki akar yang sempurna perkembangannya sehingga kandungan hara yang diberikan belum bisa diserap secara sempurna oleh stek. Hal ini dikarenakan akar-akar tanaman belum terbentuk secara sempurna sehingga fungsi dari masing-masing jaringan tanaman tidak berjalan. Dan adanya kemungkinan hilangnya unsur yang diberikan tercuci oleh air hujan karena pada waktu pemberian perlakuan GrowMore sering terjadi hujan. Curah hujan yang terlalu tinggi dan berlangsung dalam waktu yang lama ini membuat media tanam jenuh air sehingga kelembaban tinggi yang berakibat kurang menguntungkan untuk pertumbuhan stek buah naga. Umur muncul sulur tercepat pada perlakuan GrowMore yaitu pada perlakuan G2 (2gr/liter air) 21,67 hari, di ikuti dengan perlakuan G3 (3gr/liter air) 21,79 hari, berbeda dengan perlakuan G1 (1gr/liter air) 22,70 hari.
Interakasi antara air kelapa muda dan pupuk GrowMore berpengaruh tidak nyata pada umur muncul sulur, hal ini diduga karena faktor iklim yang menyebabkan unsur hara yang diberikan tidak bisa diserap oleh akar tanaman karena terjadinya pencucian unsur hara oleh air hujan.

Lingkar Sulur
Data pengamatan terhadap pertambahan lingkar sulur stek buah naga, setelah dilakukan analisis sidik ragam. Menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian air kelapa muda dan pemberian perlakuan pupuk growmore memberikan pengaruh yang nyata. Pemberian secara tunggal air kelapa muda yang menunjukkan pengaruh yang tidak nyata. Dan pemberian secara tunggal perlakuan pupuk growmore memberikan pengaruh nyata.  Hasil uji beda nyata jujur pada taraf 5% terhadap lingkar sulur stek buah naga dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Rerata lingkar Sulur (cm) dengan Perlakuan Penyiraman Air Kelapa Muda dan Penyiraman Pupuk Growmore terhadap Stek Buah Naga (Hylocereus polyhizus).
Faktor A
Faktor G
Rerata A
G0
G1
G2
G3
A0
1,61
2,28
2,44
2,70
2,26
A1
2,10
2,26
2,68
2,57
2,40
A2
1,94
2,12
2,92
2,79
2,44
A3
1,79
2,46
2,35
2,47
2,27
Rerata G
1,86b
2,28a
2,60a
2,63a

KK = 15,40%
BNJ G = 0,38
 Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%  menurut Uji lanjut BNJ.

Perlakuan pupuk GrowMore secara tunggal memperlihatkan pengaruh nyata pada perlakuan G3 (2,63 cm) merupakan perlakuan terbaik, tidak berbeda nyata dengan perlakuan G2 (2,60 cm) dan perlakuan G1 (2,28 cm) disebabkan karena GrowMore aktif untuk memberikan pengaruh baik pada stek buah naga terutama pada lingkar sulur. Tingginya angka diameter sulur pada perlakuan G3 disebabkan karena perlakuan ini unsur hara yang tersedia sudah dalam keadaan seimbang. Sehingga mencukupi untuk pertumbuhan tanaman termasuk diameter sulur stek buah naga itu sendiri. Sugeng (2007) mengemukakan bahwa pemberian pupuk pada tanaman didalam tanah dalam kondisi yang baik dapat menambah unsur hara pada tanaman. Nitrogen yang terkandung didalam media tanam tersebut, apabila dapat dimanfaatkan tanaman dengan baik maka laju fotosintesis akan berjalan lebih baik dan menghasilkan asimilat yang dimanfaatkan oleh tanaman dalam pembelahan dan perkembangan sel dalam jaringan tanaman.
Penyiraman pupuk growmore pada tanaman ini mendukung pertumbuhan stek buah naga terutama pada diameter sulur, karena GrowMore adalah pupuk lengkap dalam bentuk kristal berwarna biru yang sangat mudah larut dalam air. Menurut Lingga dan Marsono (2000), GrowMore mengandung unsur makro N, P, K, Ca, Mg, dan S serta unsur mikro lain seperti Fe, Mn, Mo dan Zn, dapat diserap dengan mudah oleh tanaman melalui penyiraman lewat media tanam. Kandungan Nitrogen yang cukup yang ada dalam tanah merupakan unsur utama bagi pertumbuhan tanaman, terutama pertumbuhan vegetatif. Kandungan NPK dalam pupuk GrowMore yang digunakan sebagai perlakuan dalam penelitian ini adalah dengan perbandingan 32:10:10, dengan nilai N yang tinggi dari pupuk tersebut dapat memacu pertumbuhan vegetatif stek buah naga terutama pertambahan diameter sulur. Ketersediaan Nitrogen sangat penting peranannya pada fase vegetatif, seperti pertumbuhan diameter sulur, cabang dan akar tanaman. Dan menurut Salisbury dan Ross (1969) Nitrogen merupakan bahan penting penyusun asam amino, amida, nukleotida, serta untuk pembelahan sel.
Unsur Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk NH4+ dan NO3-, Nitrogen meransang pertumbuhan diatas tanah memberikan warna hijau pada sulur stek. Menurut Jumin (2005) Nitrogen berperan dalam 1) mempertinggi pertumbuhan vegetatif tanaman terutama sulur pada stek buah naga, 2) meningkatkan kemampuan tanaman untuk menyerap unsur hara lain seperti fosfor, kalium, dan sebagainya, 3) meransang pertunasan dan 4) menambah tinggi tanaman. Kekurangan Nitrogen menyebabkan sulur menjadi kuning, membusuk dan akhirnya rontok. Selain mengandung unsur Nitrogen pupuk GrowMore juga mengandung unsur Fosfor.
Pupuk P yang terkandung dalam GrowMore larut dalam air maka akan cepat larut dalam tanah dengan kelembaban yang sedang. Soepardi (1983) fosfor pada tanaman berpengaruh  dalam pembelahan sel, pembentukan lemak dan albumin, pembungaan, pembuahan dalam pengisian biji, perkembangan akar halus dan rambut, pencegahan kerebahan, membantu mempercepat kematangan tanaman dengan mengurangi pemberian nitrogen serta meningkatkan  ketahanan terhadap hama dan penyakit.
Kalium dapat diserap oleh akar dalam bentuk ion-ion K+, kalium berperan dalam pembelahan sel, fotosintesis, translokasi gula, reduksi nitrat dan mensintesis protein dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kalium juga merupakan unsur logam yang paling banyak terdapat didalam cairan sel, yang berfungsi mengatur keseimbangan garam-air atau mengatur keseimbangan osmotik dalam tanaman sehingga memungkinkan pergerakan akar.
Perlakuan air kelapa muda secara tunggal menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap diameter sulur. Hasil dari perlakuan air kelapa secara tunggal dapat dilihat pada Tabel di atas dimana hasil tertinggi pada perlakuan A2 yaitu 2.44 cm dan dilanjutkan dengan perlakuan A1 (2,40 cm) yang hasilnya jauh berbeda dengan perlakuan A3 (2,27). Stek yang hanya mendapat perlakuan perendaman air kelapa tanpa diberikan perlakuan penyiraman pupuk growmore tentu saja tanaman mengalami pertumbuhan yang terhambat, dikarenakan tidak ada pasokan unsur hara yang dibutuhkan untuk perkembangan tanaman seperti unsur nitrogen yang berperan penting dalam masa vegetatif tanaman. Hal ini didukung dengan pendapat Rinsema (1986) mengemukakan bahwa pemberian pupuk pada tanaman didalam tanah dalam kondisi baik dapat menambah unsur hara pada tanaman. Stek tanaman hanya memanfaatkan unsur hara yang ada pada media tanam tentunya hal ini tidak mencukupi kebutuhan dari tanaman secara terus-menerus. Zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam air kelapa muda hanya berfungsi untuk pembelahan sel saja tidak mendukung untuk perkembangan tanaman itu sendiri. Dan fungsi utama air kelapa hanya sebagai zat pengatur tumbuh bukan sebagai unsur hara bagi tanaman.
Secara interaksi perlakuan dengan air kelapa muda dan penyiraman pupuk GrowMore menunjukkan pengaruh tidak yang nyata. Dimana didapat hasil parameter pengamatan diameter sulur tertinggi terdapat pada perlakuan A2G2 (dengan perendaman air kelapa muda 40%/liter air dan penyiraman GrowMore 2 gr/liter air) yaitu 2,92 cm dan yang terendah pada perlakuan A2G1 dengan diameter sulur 2,12 cm.

Panjang Sulur (cm)
Data pengamatan terhadap panjang sulur stek buah naga, setelah dilakukan analisis sidik ragam. Menunjukkan bahwa secara tunggal penyiraman pupuk growmore memberikan pengaruh nyata terhadap panjang sulur. Sedangkan interaksi pemberian air kelapa muda dan pemberian perlakuan pupuk growmore, dan pemberian secara tunggal perlakuan air kelapa tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua perlakuan. Hasil rerata panjang sulur stek buah naga dapat dilihat pada Tabel 3.
Berdasarkan Tabel 3 menunjukan bahwa perlakuan penyiraman pupuk GrowMore secara tunggal menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap parameter panjang sulur. Dimana perlakuan terbaik pada G3 (penyiraman growmore 3 gr/l air) dengan hasil 37,92 cm, berbeda dengan perlakuan G0 (23,81 cm), G1 (30,14), dan G2 (30,17 cm). Hal ini sejalan dengan diameter G3 yang paling besar sesuai dengan anjuran Departemen Pertanian RI (2006) bahwa larutkan 1-2 gram pupuk growmore dalam 1 liter air, yang dapat berperan dalam kegiatan fotosintesis tanaman. Kalau proses fotosintesis berjalan dengan baik tentu pertumbuhan tanaman juga akan berjalan dengan baik. Karena suatu tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan tindakan manusia itu sendiri. Diantara faktor genetik itu adalah sifat ketahanan hidup dari benih tersebut sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi adalah air, suhu, cahaya, dan unsur hara lainnya.


Tabel 3.  Rerata Panjang Sulur (cm) dengan Perlakuan Penyiraman Air Kelapa Muda  dan Penyiraman Pupuk Growmore terhadap Stek Buah Naga (Hylocereus polyhizus).
Faktor A
Faktor G
Rerata A
G0
G1
G2
G3

A0

21,11

28,55

33,22

37,67

30,14
A1
27,11
30,00
28,78
31,89
29,44
A2
25,11
35,44
28,22
42,33
32,78
A3
21,89
26,56
30,44
39,78
29,67
Rerata G
23,81b
30,14b
30,17b
37,92a
KK = 20,14%
BNJ G = 6,79
Angka-angka yang diikuti huruf  kecil yang  sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji lanjut BNJ.

Abidin (1995) mengemukakan bahwa batang tanaman yang menghasilkan daun atau sulur seperti pada tanaman buah naga, pertambahan panjang tanaman terjadi karena adanya peristiwa pembelahan dan perpanjangan sel yang di dominasi pada bagian pucuk, maka pemberian unsur hara yang diberikan pada tanaman akan diserap oleh tanaman yang dapat mengaktifkan dan meningkatkan sel-sel meristem pada ujung batang serta akan mendorong memperlancar proses fotosintesis. Namun type fotosintesis pada tanaman buah naga berbeda dengan tanaman lain karena disekeliling batang buah naga terdapat lapisan lilin. Maka pemberian pupuk GrowMore ini diberikan dengan cara disiramkan pada media tanam. Pupuk yang diberikan melalui media tanam ini masih dapat diserap oleh tanaman melalui akar tanaman dan dapat meningkatkan laju fotosintesis serta meningkatkan penumpukan bahan organik yang pada akhirnya dapat meningkatkan panjang sulur tanaman buah naga.
Semua perlakuan secara tunggal perendaman air kelapa muda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap panjang sulur stek tanaman buah naga. Data hasil pengamatan yang diperoleh pada perlakuan air kelapa muda secara tunggal yaitu, dimana sulur terpanjang pada perlakuan A2 (40%) 32,78 cm, diikuti dengan perlakuan A1(20%) 29,44 cm dan perlakuan A3 (60%) dengan panjang sulur 29,67 cm.
Pemberian secara interaksi zat pengatur tumbuh air kelapa muda dan pemberian pupuk growmore tidak begitu membantu khususnya pada pertambahan panjang sulur stek buah naga, karena pertambahan panjang sulur memerlukan pasokan unsur hara bukan hanya zat pengatur tumbuh. Perendaman dengan air kelapa muda tidak lagi berfungsi karena pada dasarnya fungsi utama air kelapa hanya untuk meransang pembelahan sel. Dan pemberian air kelapa muda hanya dilakukan sekali selama penelitian maka pengaruhnya pada panjang sulur tidak tampak. Hormon seperti giberelin yang terkandung dalam air kelapa muda hanya dalam jumlah yang sedikit sekali, hormon ini habis untuk pembelahan sel dan tidak mencukupi untuk pertumbuhan khususnya panjang sulur stek buah naga. Perlakuan interaksi terbaik pada  A2G3 (40% air kelapa muda dan 3 gr/ liter air GrowMore) dengan hasil 42,33 cm. Dan perlakuan terendah pada perlakuan A3G2 (60% air kelapa muda dan 2 gr/l air growmore) dengan hasil 26,56 cm.

Jumlah Sulur (Batang)

Data pengamatan terhadap jumlah sulur stek buah naga, setelah dilakukan analisis sidik ragam. Menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian air kelapa muda dan pemberian perlakuan pupuk growmore, dan pemberian secara tunggal perlakuan air kelapa dan pupuk growmore tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua perlakuan. Hasil pengamatan jumlah sulur stek buah naga dapat di lihat pada Tabel 4.
Semua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah sulur stek tanaman buah naga. Perlakuan tunggal pemberian pupuk  GrowMore tidak berbeda nyata terhadap jumlah sulur stek tanaman buah naga. Hal ini diduga selama penelitian terjadi musim hujan yang terlalu tinggi, sehingga kelembaban tanah serta kebutuhan air sudah melebihi batas maksimum sehingga jumlah sulur tidak banyak terbentuk karena kurangnya mendapat cahaya matahari.


Tabel 4. Rerata Jumlah Sulur (batang) dengan Perlakuan Penyiraman Air Kelapa Muda dan Penyiraman  Pupuk GrowMore  terhadap Stek Buah Naga (Hylocereus polyhizus).
Faktor A
Faktor G
Rerata A
G0
G1
G2
G3
A0
2,22
1,78
2,33
2,61
2,23
A1
2,11
1,55
2,56
2,56
2,19
A2
2,22
2,22
2,22
1,78
2,11
A3
1,11
2,44
1,89
3,11
2,14
Rerata G
1,92
2,00
2,25
2,51
KK = 35,39 %
Angka-angka yang diikuti huruf  kecil yang  sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji lanjut BNJ.

Perlakuan secara tunggal air kelapa muda terhadap pengamatan jumlah sulur tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Dimana data yang diperoleh selama penelitian yaitu jumlah sulur terbanyak terdapat pada perlakuan A1 (20%) 2,19 sulur, tidak jauh berbeda dengan perlakuan A3 (60%) 2,14 sulur. Hasil terendah terdapat pada perlakuan A2 (40%) dimana data yang diperoleh yaitu 2,11 sulur dan A0 (tanpa perendaman air kelapa) dengan jumlah sulur 2,23. Tidak berpengaruhnya air kelapa muda terhadap jumlah sulur diduga karena kandungan hormon dalam air kelapa muda ini tidak bisa memberikan nutrisi pada stek buah naga. 
Begitu juga terhadap perlakuan pupuk GrowMore secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan jumlah sulur. Hasil tertinggi terdapat pada perlakuan G3 (dengan pemberian GrowMore 3gr/liter air) yaitu 2,51 sulur, diikuti oleh perlakuan G2 (dengan pemberian GrowMore 2gr/liter air) yaitu 2,25 sulur dan perlakuan G1 (dengan pemberian GrowMore 1gr/liter air) yaitu 2.00. Hasil terendah terdapat pada G0 ( tanpa pemberian GrowMore) yaitu 1.92 sulur. Hal ini diduga pada pertumbuhan yang lambat pada tanaman tanpa pemberian pupuk GrowMore sehingga sulur yang terbentuk sedikit akibat kurangnya unsur hara untuk pertumbuhan stek tanaman buah naga. Pemberian pupuk GrowMore 3gr/liter air pada perlakuan G3 pertumbuhannya jauh lebih baik dibandingkan dengan tanpa pemberian GrowMore sehingga pembentukan jumlah sulur yang akan terbentuk lebih banyak.
Perlakuan secara tunggal pupuk growmore, dapat dilihat pada Tabel 8 diatas, bahwa semakin tinggi dosis yang diberikan terhadap stek tanaman buah naga, maka akan semakin banyak sulur yang terbentuk. Hal ini disebabkan kebutuhan unsur hara yang cukup tinggi  dibutuhkan tanaman dalam pembentukan jumlah sulur.
Perlakuan secara interaksi pemberian air kelapa muda dan pupuk GrowMore menunjukkan pengaruh yang tidak nyata. Hasil pengamatan perlakuan yang terbaik dalam pembentukan jumlah sulur adalah perlakuan A3G3 (3,11) dan terendah pada perlakuan A1G1 dengan jumlah sulur 1,55 sulur yang terbentuk, karena fungsi air kelapa ini hanya sebagai zat pengatur tumbuh yang meransang pertumbuhan akar, walaupun akar sudah terbentuk tapi unsur hara dari pupuk GrowMore ini tidak bisa diserap oleh akar tanaman karena terjadinya pencucian unsur hara oleh air hujan.
Walaupun tidak terlihat pengaruh yang berbeda nyata dari interaksi air kelapa muda dan pupuk GrowMore ini stek buah naga, pertumbuhan stek buah naga dapat tumbuh baik dan jumlah sulur yang dihasilkan bervariasi. Kemampuan tanaman untuk membentuk sulur pada batang sangat bervariasi dikemukakan oleh Lakitan (1997), bahwa genotif yang berinteraksi dengan sejumlah faktor lingkungan seperti intensitas cahaya matahari, temperature, kelembaban, dan kesuburan tanah sangat mempengaruhi pembentukan cabang atau sulur tanaman.

Persentase Tumbuh (%)
Data pengamatan terhadap panjang sulur stek buah naga, setelah dilakukan analisis sidik ragam. Menunjukan bahwa secara interaksi pemberian air kelapa muda dan pemberian perlakuan pupuk growmore tidak memberikan pengaruh yang nyata, dan pemberian secara tunggal perlakuan air kelapa muda menunjukkan pengaruh yang nyata. Perlakuan pupuk growmore secara tunggal tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua perlakuan. Hasil rerata panjang sulur stek buah naga dapat dilihat pada Tabel 5.


Tabel 5.   Rerata Persentase Tumbuh (%) dengan Perlakuan Penyiraman Air Kelapa Muda dan  Penyiraman Pupuk Growmore terhadap Stek Buah Naga (Hylocereus polyhizus).
Faktor A
Faktor G
Rerata A
G0
G1
G2
G3
A0
83,33
91,67
83,33
83,33
85,42b
A1
100,00
91,67
100,00
100,00
97,92a
A2
91,67
83,33
91,67
91,67
89,58ab
A3
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00a
Rerata G
93,75
91,67
93,75
93,75

KK = 11,82%
BNJ A = 12,21
Angka-angka pada kolom yang tidak sama adalah menunjukan perbedaan menurut Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.


Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa semua perlakuan perendaman dengan air kelapa muda memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh stek tanaman buah naga. Hasil pengamatan selama penelitian pada perlakuan perendaman air kelapa muda yakni diperoleh angka persentase tumbuh tertinggi pada perlakuan A3 (60%/ liter air) yaitu 100,%, tidak jauh berbeda dengan perlakuan A1(20%/ liter air) dengan persentase tumbuh 97,92% dan berbeda dengan perlakuan A2(40%/ liter air) persentase tumbuh 89,58%.
A0 merupakan perlakuan yang menghasilkan persentase tumbuh terendah karena tanpa perlakuan perendaman air kelapa. Namun stek masih dapat tumbuh karena zat pengatur tumbuh yang ada dalam tubuh tanaman cukup membantu terjadinya pembelahan sel walau pertumbuhannya berjalan lambat. Abidin (1995) mengemukakan bahwa pertumbuhan suatu tanaman sangat dipengaruhi oleh zat dalam tubuh tanaman itu sendiri. Seperti karboidrat, protein, dan disamping itu juga dipengaruhi oleh lingkungan seperti penyinaran dan suhu.
Tingginya persentase tumbuh terdapat pada perlakuan A3 (60% air kelapa muda) dikarenakan kandungan auksin yang terdapat dalam air kelapa muda dapat menyebabkan perakaran meningkat, stek akan teransang sehingga akibatnya metabolisme tanaman akan meningkat. Kemudian akan mempercepat terbentuknya akar ini diduga akan memperbesar peluang stek untuk tumbuh yang akhirnya dapat meningkatkan persentase tumbuh. Dalam memperbanyak tanaman, salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah zat pengatur tumbuh karena pemakaian zat tersebut dapat memacu pertumbuhan tanaman.

KESIMPULAN

Perlakuan perendaman dengan air kelapa muda (A) memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul sulur dengan perlakuan terbaik yaitu A2 (19.95 hari) dan berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan persentase tumbuh dengan perlakuan terbaik yaitu A3(60%/liter air) dengan persentase tumbuh 100%, Perlakuan penyiraman dengan pupuk GrowMore (G) secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap lingkar sulur dengan perlakuan terbaik G3 (2.63 cm) dan terhadap pengamatan panjang sulur dengan perlakuan terbaik G3 (37,92 cm), Pemberian perlakuan secara interaksi air kelapa muda dan pupuk growmore tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan, Dari parameter yang telah diamati menunjukkan bahwa perlakuan terbaik secara tunggal perendaman air kelapa muda yaitu A2 dengan dosis 40% / liter air untuk umur muncul sulur, A3 (60%/liter air) untuk persentase tumbuh dan perlakuan GrowMore terbaik G3 dengan dosis 3g/liter air.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin. 1995. Zat Pengatur Tumbuh. Angkasa. Bandung
Asnawi, 1989. Pengaruh Air Kelapa terhadap Pertumbuhan Setek Panili. Pemb. Littri. Puslitbangtri, Bogor 15 (2): 79-83.
Departemen Pertanian Republik Indonesia. 2006. Pupuk GrowMore. Jakarta
Ginting, B. 2001. Pengaruh Cara Pemberian Air, media, dan Pemupukan Anggrek
Dendrobium. Balai Penelitian Tanaman Hias. Jakarta.
Jumin H. B, 2005. Agroteknologi. Rajab Grafindo Persada. Jakarta
Lakitan, B. 1997. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Pers. Jakarta
Lingga, P dan Marsono. 2000. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
P. Suhardiman. 1991. Kultur Jaringan. Trubus no.158Rinsema,W. T, 1986. Pupuk dan Cara Pe mupukan. Bharata Karya Aksara. Jakarta
Salisbury,f.B and C. W. Ross. 1969. Plant Physiology. Jilid 1, 2. 3. ITB. Bandung.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri-Ciri Tanah. Jurusan Ilmu Tanah IPB. Bogor.
Sugeng, 2007. Bercocok Tanam Padi. CV. Aneka Ilmu Anggota IKAPI. Semarang
Winarsih, Sri. 2007. Mengenal dan Membudidayakan Buah Naga. Penerbit Aneka Ilmu Visi Buku Dunia Baru, Semarang.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar