Rabu, 22 Januari 2014

JGS vol 1 no 1 hal 41-48

PENGARUH PEMBERIAN ABU JANJANG KELAPA SAWIT DAN HORMON
TANAMAN UNGGUL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI
JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt)


GUSKA RIANTO

Program Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan.  Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau.



ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu penelitian selama 5 bulan tehitung dari bulan Januari sampai Mei 2010.  Penelitian ini menggunakan Rancang Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu A (Abu janjang kelapa sawit) terdiri dari 4 taraf  perlakuan yaitu : A0 (Tanpa pemberian Abu janjang kelapa sawit), A1 (Pemberian Abu janjang kelapa sawit 1ton/ha = 168 gr/plot) A2 (Pemberian Abu janjang kelapa sawit 2ton/ha = 336 gr/plot), A3 (Pemberian Abu janjang kelapa sawit 3ton/ha = 504 gr/plot). dan B (Hormon Tanaman Unggul) terdiri dari 4 taraf yaitu : B0 (Tanpa Pemberian Hormon Tanaman Unggul), B1 (Pemberian Hormon Tanaman Unggul = 6 cc/ 1 liter Air), B2 (Pemberian Hormon Tanaman Unggul = 8 cc/ 1 liter Air), B3 (Pemberian Hormon Tanaman Unggul  = 10 cc/ 1 liter Air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan abu janjang kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan jumlah biji pertongkol dan berat seribu biji dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2 (336 g/plot abu janjang kelapa sawit), sedangkan perlakuan tunggal hormon tanaman unggul berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan jumlah biji pertongkol dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan B1 (6 cc/liter air hormon tanaman unggul). Abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul berpengaruh nyata terhadap jumlah biji pertongkol dan berat seribu biji perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A3B2 (504 gr/plot abu janjang kelapa sawit dan 8 cc/liter air hormon tanaman unggul).

Kata kunci : abu janjang, kelapa sawit, jagung, hormon


PENDAHULUAN

Di Indonesia, jagung termasuk bahan pangan penting karena merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras. Sebagai salah satu sumber bahan pangan, jagung telah menjadi komoditas utama setelah beras.  Bahkan di beberapa daerah di Indonesia, jagung dijadikan sebagai bahan pangan utama.  Tidak hanya sebagai bahan pangan, jagung juga dikenal sebagai salah satu bahan baku untuk pakan ternak dan industri.
Potensi ekonomi dan sosial jagung sangat luas, baik untuk pemenuhan pangan bergizi bagi penduduk, sarana pelayanan kesehatan masyarakat, sumber pendapatan petani dan Negara, maupun bahan penganekaragaman usaha tani dan pangan penduduk.
Jenis jagung yang banyak disukai di Indonesia adalah jagung manis karena mempunyai rasa yang lebih enak dan lebih manis bila dibandingkan dengan jagung biasa, oleh karena itu maka dikembangkan lah jagung manis (Zea mays saccharata Shut) untuk memenuhi selera konsumen.
Berdasarkan Badan Statistik Kabupaten Kuantan Singingi produksi jagung mengalami penurunan, pada tahun 2008 produksi jagung mencapai 1290,04 ton/ha, sedangkan pada tahun 2009 produksi jagung hanya mencapai 1180,91 ton/ha, penurun produksi mencapai 109,13 ton/ha  (Badan Statistik, 2010)
Akhir – akhir ini permintaan pasar terhadap jagung manis meningkat dan harga yang tinggi merupakan faktor yang dapat merangsang petani untuk dapat mengembangkan usaha tani jagung manis, dan berbagai upaya yang dilakukan para petani untuk meningkatkan produsi jagung manis.
Adapun upaya peningkatan produksi tanaman jagung manis yaitu dengan penggunaan bibit unggul, pengolahan tanah yang baik, dan pemupukan yang teratur dan sesuai. Kendala yang sering terjadi adalah pH tanah yang rendah dan tingkat kesuburan tanah yang rendah, serta pemupukan yang tidak sesuai dengan tanaman yang ditanam.

          Dengan ditemukamya abu janjang kelapa sawit yang dapat  memperbaiki sifat fisik, kimia dan  biologis tanah serta memenuhi persedian unsur hara   dalam    meningkatkan pertumbuhan tanaman, juga mengaktifkan fungsi   pupuk   kandang   untuk   memperbaiki pH tanah. Abu janjang memudahkan ketersediaan unsur hara didalam tanah bagi tanaman, karena ekstrak abu janjang mudah larut didalam tanah dan apabilah di integrasikan dengan pupuk akan mempermudah dan mempercepat tanaman dalam menyerap unsur hara (Tampubolon, 1992)
Untuk meningkatkan produksi juga dapat digunakan zat pengatur tumbuh, zat pengatur tumbuh dapat mengatur pertumbuhan tanaman dengan baik serta dapat meningkatkan produksi tanaman (Styati. H, 2009).
Pemakaian zat perangssang tumbuh berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar yang lebih banyak, mengaktifkan penyerapan unsur hara, meningkatkan keluarnya kuncup dan buah serta memperbaiki kualitas panen.  Untuk meningkatkan keberhasilan penggunaan zat pengatur tumbuh tersebut maka cara pemakaiannya harus diperhatikan dengan baik dan tepat (Styati. H, 2009)
Hormon tanaman unggul adalah Super Improvement Organik Fertilizer yang mengandung hormon perangsang tumbuh dan kadar pupuk paling lengkap sehingga pengaplikasiannya selain dapat meningkatkan produksi tanaman hingga 100 % juga dapat berfungsi memperbaiki sifat fisik tanah yang rusak sekaligus menyuburkan serta memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif pada tanaman ( akar, tunas, bunga dan tandan  buah). Penggunaan hormon tanaman unggul sangatlah mudah cukup dilarutkan kedalam air bersih lalu disemprotkan pada tanaman seperti penyemprotan biasa pada umumnya (Jimmy, 2008).
Hormon tanaman unggul selain terbuat dari bahan herbal organik murni juga memiliki banyak kelebihan dari pupuk dan ZPT yang lainnya.  Penggunaan hormon tanamn unggul ini tidak meninggalkan residu kimia yang sangat membahayakan bagi kehidupan manusia. mampu memperbaiki dan memperkaya sekaligus mengembalikan ketersediaan unsur hara bagi tanah (Jimmy, 2008)

Berdasarkan permasalahan diatas penulis telah melakukan penelitian dengan judul : Pengaruh Pemberian Abu Janjang Kelapa Sawit dan Homon Tanaman Unggul (ZPT) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi  Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt)”

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi.  Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 bulan yang dimulai bulan Januari sampai Mei 2010.
.
Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih Jagung manisSuper Sweet”, Abu janjang kelapa sawit, Hormon Tanaman Unggul, Sevin 85 S, Curater 3 G, Dithane M-45 WP. Sedangkan alatnya adalah cangkul, sabit, paku, Handsparayer, Cat, papan label, martil, timbangan, gembor, meteran, ember, dan alat – alat lain yang mendukung penelitian.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancang Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu A (Abu janjang kelapa sawit) terdiri dari 4 taraf dan B (Hormon Tanaman Unggul) terdiri dari 4 taraf.

Faktor pertama pemberian Abu janjang kelapa sawit :
A0 : Tanpa pemberian Abu janjang kelapa sawit.
A1 : Pemberian Abu janjang kelapa sawit 1ton/ha = 168 gr/plot.
A2 : Pemberian Abu janjang kelapa sawit 2ton/ha = 336 gr/plot.
A3 : Pemberian Abu janjang kelapa sawit 3ton/ha = 504 gr/plot
Faktor kedua pemberian Hormon Tanaman Unggul.

B0      : Tanpa Pemberian Hormon Tanaman
            Unggul
B1      : Pemberian Hormon Tanaman Unggul =
            6 cc/ 1 liter Air
B2      : Pemberian Hormon Tanaman Unggul =
            8 cc/ 1 liter Air
B3      : Pemberian Hormon Tanaman Unggul =
            10 cc/ 1 liter Air



HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa dan pemberian hormon tanaman unggul tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis, dan perlakuan tunggal pemberian hormon tanaman unggul dan abu janjang kelapa sawit juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis. Data tinggi tanaman disajikan pada tabel  1.


Tabel 1.   Rerata Tinggi Tanaman Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.
Faktor A
(Abu Janjang Kelapa Sawit)
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
Rerata
A
B0
B1
B2
B3
A0
A1
A2
A3

204,88
196,99
174,35
227,16
138,02
191,99
173,83
197,44
153,72
172,10
180,,72
178,55
185,38
188,53
171,05
183,22
170,01
187,40
174,98
196,59
Rerata B
200,84
175,32
171,27
182,04
182,24
           

Dari Tabel 1 diatas dapat menunjukan bahwa perlakuan abu janjang kelapa sawit tadak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman ini disebabkan oleh kandungan unsur hara didalam tanah telah cukup untuk melakukan pertumbuhan dengan baik dan juga dipengaruhi oleh pengolahan tanah yang baik sesuai dengan ketentuan berlaku.  Pertumbuhan dari perlakuan kontrol sama dengan pertumbuhan perlakuan abu janjang kelapa sawit.
            Kemampuan tanah untuk memberikan segala nutrisi bagi pertumbuhan dan produksi tanah akan selalu memberikan hasil yang seimbang, dan pemberian pupuk yang berlebihan dapat menimbulkan akibat-akibat yang merugikan (Sutejo. M, 2008). Pengolahan tanah yang baik juga sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, didalam penelitian pengolahan tanahnya disesuaikan dengan ketentuan pengolahan tanah yang baik, sehingga tanaman dapat menyerap zat hara didalam tanah dengan baik dan tanaman dapat tumbuh dengan normal.
            Abidin dan Sudaryono (1980) dalam Gultum (2001) mengemungkakan bahwa perbaikan suasana lingkungan tanah dapat memberikan kemungkinan lebih baik terhadap pertumbuhan, perkenmbangan, pernapasan akar serta penyerapan zat hara dan air di dalam tanah.
Pemberian hormon tanaman unggul secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, ini diduga disebabkan oleh pemberian dosis yang terlalu tinggi sehingga mengakibatkan pemberian hormon tanaman unggul tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman.
Hakim dkk (1986) menambahkan bahwa unsur hara yang diberikan pada tanaman dalam bentuk yang tersedia  dan dosis yang seimbang akan dapat memberikan pertumbuhan yang baik pada tanaman, sedangkan tanaman yang mengalami kekurangan unsur hara akan menampakkan gejala pertumbuhan tanaman yang tidak normal karena terjadinya gangguan pada pembelahan sel dan defisiensi dapat menyebabkan terjadinya sel kerdil pada tanaman.
Pemberian secara interaksi juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman ini diduga tersedianya unsur hara didalam tanah sehingga pemberian secara interaksi jaga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman karena dapat mengakibatkan kelebihan unsur hara.

Umur Berbunga (hari)
Setelah dianalisis secara statistik (tabel 2) dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa sawit dan pemberian hormon tanaman unggul tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga jagung manis, demikian juga terhadap perlakuan tunggal abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul.
Dari tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan Abu janjang kelapa sawit dan Hormon tanaman unggul baik secara tunggal maupun interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga tanaman jagung manis. Dalam hal ini diduga bahwa tanaman jagung memiliki kemampuan yang baik untuk beradaptasi dengan lingkungan sehingga tanaman jagung manis dapat tumbuh dengan baik pada perlakuan kontrol, serta karena tingginya curah hujan selama penelitian.

Tabel 2.   Rerata Umur Berbunga Tanaman Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.

Faktor A
(Abu Janjang Kelapa Sawit)
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
Rerata
A
B0
B1
B2
B3
A0
A1
A2
A3

44,33
43,99
43,21
43,21
46,77
44,33
44,33
45,66
46,33
45,55
44,77
43,66
44,99
45,33
44,33
45,66
45,60
44,8
44,16
44,54
Rerata B
43,68
45,27
45,07
44,95
44,77

           

Pertumbuhan jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Intensitas sinar matahari sangat penting bagi tanaman, terutama dalam masa pertumbuhan.  Sebaiknya tanaman jagung mendapatkan sinar matahari langsung.  Dengan demikian, hasil yang akan diperoleh akan maksimal.  Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat, produksi biji yang dihasilkan pun kurang baik, bahkan tidak dapat berbentuk buah ( Purwono, 2008)
            Selain itu proses metabolisme yang akan terjadi pada tanaman sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkunagan tanaman seperti unsur hara, jumlah intensitas  cahaya matahari yang dapat diserap tanaman ataupun kondisi ketersediaan air didalam tanah (Salibury dan Ross, 1995)

Umur Panen (hari)
Setelah dianalisis secara statistik  (table 3) dari hasil sidik ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa dan hormon tanaman unggul tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen jagung manis, demikian juga pemberian secara tunggal abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul tidak memberikan pengaruh nyata terhadap umur panen jagung manis.


Tabel 3. Rerata Umur Panen Tanaman Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.

Faktor A
(Abu Janjang Kelapa Sawit)
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul
Rerata
A
B0
B1
B2
B3
A0
A1
A2
A3

63,88
62,08
62,22
61,55
64,22
64,11
65,22
64,10
65,66
62,33
65,10
63,11
62,10
63,99
63,99
62,33
63,96
63,12
63,96
62,77
Rerata B
62,43
65,66
64,05
62,93
63,45

           

Dilihat dari tabel 3 diatas menunjukan bahwa perlakuan Abu janjang dan Hormon tanaman unggul baik secara tunggal maupun secara interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen.  Hal ini diduga apabila unsur hara didalam tanah telah tersediah dan didukung oleh pengolahan tanah yang baik dalam penelitian ini maka tanaman jagung manis dapat tumbuh dengan baik sehingga umur panen tidak dipengaruhi oleh abu janjang dan hormon tanaman unggul.
            Pada tanah padat atau system aerasi tanah yang buruk akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar, kahnrena akar akan menembus kedalaman tanah melalui pori-pori tanah sambil mengisap air dan unsur hara yang terlarut. Pada kondisi tanah yang padat ruang pori yang dimilikinya sempit sehingga akar akan mengalami kesukaran untuk menembus kedalam tanah. (Sarief, 1986)
            Ketersediaan unsur hara yang terkandung didalam tanah dan curah hujan yang tinggi sangat memepengaruhi pertumbuhan tanaman jagung manis.  Menurut Dwjoseputro (1984) menyatakan bahwa proses fotosintesis yang berjalan lancar pada tumbuhan akan menjamin perkembangan tumbuhan tersebut baik vegetatif maupun generative. Harjadi (1989) menambahkan bahwa tanaman akan tumbuh subur bila unsur hara yang tersedia dapat diserap tanaman sesuai tingkat kebutuhan tanaman.      

Hasil Perplot (gr)
Setelah dianalisis secara statistik  (table 4) dari hasil sidik ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa dan pemberian hormon tanaman unggul tidak berpengaruh nyata terhadap hasil perplot tanaman jagung manis, demikian juga pemberian abu janjang kelapa sawit secara tunggal dan hormon tanaman unggul tidak memberikan pengaruh nyata terhadap hasil perplot.


Tabel 4.   Rerata Hasil Perplot Tanaman Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.
Faktor A
(Abu Janjang Kelapa Sawit)
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
Rerata
A
B0
B1
B2
B3
A0
A1
A2
A3

650,00
723,33
583,00
656,66
530,00
583,33
553,33
533,33
566,66
650,00
540,00
543,33
640,00
563,33
506,00
600,66
596,66
629,99
545,58
583,49
Rerata B
653,24
529,99
574,99
577,49
585,20


Dari tabel  4 diatas dapat dilihat bahwa pemberian Abu janjang Kelapa Sawit dan Hormon tanaman unggul baik secara tunggal maupun interaksi tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap hasil perplot, karena dalam pertumbuhan genetatif unsur hara yang banyak diperlukan adalah unsur K, sedangkan abu janjang tidak mengandung unsur hara K.  Sedangkan fungsi abu janjang hanya memperbaiki sifat fisik tanah sehingga dapat mempercepat tanaman dalam menyerap unsur hara.  Sedangkan hormon tanaman unggul memiliki kandungan unsur hara K, tetapi sedikit sehingga tidak mempengaruhi hasil perplot.  Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2004) yang mengatakan bahwa tanaman jagung manis memerlukan unsur hara K untuk fase generatif.
            Unsur kalium yang diserap tanaman sangat berperan dalam membantu pembentukan karbohidrat dan protein, mempercepat proses fotosintesis dan respirasi tanaman, membantu transportasi tepung dan lemak pada jaringan tanaman, meningkatkan daya resistensi tanaman terhadap penyakit serta meningkatkan kualitas produksi tanaman (Sutejo dan Kartasapoetra,1988)
            Menurut Sarif (1986) tanaman yang kekurangan unsur hara akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan tetapi sebaliknya apabilah unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka dapat merusak tanaman itu sendiri.           

Jumlah Biji Pertongkol (biji)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa sawit dan Hormon Tanaman Unggul berpengaruh nyata terhadap jumlah biji pertongkol jagung manis, demikian juga pemberian abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul secara tunggal.  Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 5.


Tabel 5. Rerata Jumlah Biji Pertongkol Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.
Faktor A
(Abu Janjang Kelapa Sawit)
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
Rerata
A
B0
B1
B2
B3
A0
A1
A2
A3

440,00mn
513,33de
477,33ij
543,33a
502,00ef
526,88bc
532,00b
471,33jk
418,00no
562,00a
516,00cd
491,33hi
445,33lm
447,33kl
498,00fg
493,88gh
451,33d
512,38a
505,83b
499,96bc
Rerata B
493,49b
508,05a
496,83a
471,13c
492,37
KK = 9,39
BNJ A = 11,59      BNJ B = 11,59                BNJ AB = 25,19
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


a.     Perlakuan Abu janjang kelapa sawit
Berdasarkan tabel 5 terlihat  bahwa perlakuan abu janjang kelapa sawit memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah biji pertongkol yaitu hasil yang tertinggi (A1) 512,38 dan hasil terendah terdapat pada perlakuan abu janjang kelapa sawit  adalah (A0) yaitu 451,33, perlakuan A1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A2, perlakuan A2 tidak berbedanyata dengan perlakuan A3, perlakuan A0 berbeda nyata dengan perlakuan A1, A2 dan A3.
Perlakuan A1 adalah perlakuan yang hasilnya tertinggi, ini disebabkan karena tingkat kesuburan tanah yang cukup tinggi, oleh karena itu kandungan organik dan unsur hara  didalam tanah tersedia tapi belum mencukupi, dan abu janjang yang dibutuhkan hanya dalam jumlah sedikit, sehingga perlakuan A1 adalah hasil perlakuan yang tertinggi.
Menurut Musa (1990) abu janjang kelapa sawit mempunyai 2 peranan yang penting sebagai bahan organik yang dapat menurunkan keasaman tanah sebagai pengganti pupuk kandang, dan kandungan hara yang dikandungnya mudah tersedia bagi tanaman.
Kandungan Mg yang terdapat pada abu janjang kelapa sawit berperan mengikat unsur P dalam tanah. Posfat diserap tanaman dalam bentuk P205 yang berperan dalam fase vegetatif dan generatif, terutama pembentukan biji. (Hakim, 1986) 

b.    Perlakuan Hormon Tanaman unggul
Hasil tertinggi pada perlakuan Hormon tanaman unggul adalah B1 (508,05), yaitu dengan perlakuan 6 cc/liter air dan hasil terendah adalah perlakuan  B3 (471,13). Yaitu dengan perlakuan 10 cc/liter air. Perlakuan B1  tidak berbeda nyata dengan perlakuan B2, perlakuan B2 tidak berbeda nyata dengan B0, dan perlakuan B3 nyata terhadap perlakuan B0, B1, B2, ini diduga disebabkan perlakuan pada B3 kelebihan dosis sehingga mengakibatkan perlakuan ini menunjukkan nilai yang terendah..
Menurut Sarif (1986) tanaman yang kekurangan unsur hara yang akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan tetapi sebaliknya apabilah unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka dapat merusak tanaman itu sendiri.
Dalam hormon tanaman unggul yang banyak terkandung ZPT adalah gibberellins.  Sedangkan gebberellins berfungsi untuk pembentukan biji dan pembentukan buah        ( Harjadi. S, 2009)
c.   Interaksi Perlakuan Abu Janjang kelapa Sawit dan Hormone Tanaman Unggul
Pada tabel 5 diatas perlakuan interaksi meberikan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan jumlah biji pertongkol.  Hasil perlakuan yang terbaik adalah pada perlakuan A1B2 (562,00) hasil perlakuan yang terendah adalah pada perlakuan A0B2 (418,00).
Berdasarkan data pada tabel 5, dapat dilihat bahwa jumlah biji pertongkol pada tanaman jagung manis berbedat nyata dimana beberapa perlakuan abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul menunjukkan pengaruh yang nyata dalam kemampuannya untuk memperbanyak jumlah biji pada tanaman jagung manis.  Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa rerata jumlah biji pertongkol adalah 562 yang dihasilkan dari perlakuan A1B2 (336 g/plot abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul 8 cc/liter air pada ulangan ke 3. bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, banyaknya jumlah biji pertongkol pada perlakuan tersebut menandakan bahwa perlakuan berlangsung dengan baik terhadap jumlah biji pertongkol. 

4.2.  Berat Seribu Biji (gr)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa dan pemberian hormon tanaman unggul berpengaruh nyata terhadap Berat seribu biji, Pemberian abu janjang kelapa sawit secara tunggal juga memberikan pengaruh nyata terhadap berat seribu biji sedangkan perlakuan tunggal pemberian Hormon Tanaman Unggul tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat seribu biji.


Tabel 6.     Rerata Berat Seribu Biji Tanaman Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang  Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.
Faktor A
(Abu Janjang Kelapa Sawit)
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
Rerata
A
B0
B1
B2
B3

A0
A1
A2
A3

225,00de
230,00cd
195,00gh
230,00cd
198,33fg
200,00e
250,00a
225,00de
225,00de
200,00ef
240,00bc
250,00a
20,005e
240,00bc
246,66ab
190,00hi
213,33cd
217,50bc
232,91a
223,75b
Rerata B
220,00
218,33
228,75
220,41
221,87
KK = 9,39
BNJ AB = 16,17                                      BNJ A = 7,45

a.   Perlakuan Abu janjang kelapa sawit 
Berdasarkan tabel 6 terlihat  bahwa perlakuan abu janjang kelapa sawit memberikan pengaruh yang  nyata terhadap berat seribu biji.  Perlakuan yang tertinggi yaitu (A2) 232,915 dan hasil terendah terdapat pada perlakuan abu janjang kelapa sawit yaitu (A0) 213,33.  Perlakuan A2 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan A1, perlakuan A1 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan A0, perlakuan A3 berbeda nyata terhadap perlakuan A1, A2, dan A0, dan perlakuan A2 juga berbeda nyata dengan perlakuan A0, A1, A3.
Hasil perlakuan A0 lebih besar dari pada hasil perlakuan A3, ini diduga disebabkan oleh pemberian abu janjang yang berlebihan sehingga mempengaruhi berat seribu biji.  Menurut Soegiman (1982) menegaskan bahwa tidak seimbangnya takaran pupuk yang diberikan dapat menurunkan hasil. 
Abu janjang kelapa sawit memberikan pengaruh positif karena abu janjang kelapa sawit mampu menyediakan unsur hara tanaman dan mampu merombak siklus dan fase vegetatif dan generatif tanaman dan berpengaruh terhadap modifikasi sifat-sifat tanah (Azhari dalam Indra 2007).

b.  Perlakuan Hormon Tanaman unggul
Dari tabel 6 dapat dilihat perlakuan hormon tanaman unggul tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat seribu biji, ini disebabkan karena dalam pembentukan biji yang dibutuhkan adalah unsur hara K, sedangkan pada hormon tanaman unggul kadungan K hanya sedikit, sehingga tidak mempengaruhi paremeter berat seribu biji.
Hormon tanman unggul adalah yang pemberiannya dilakukan dengan disemprotkan sehingga sangat dipengaruhi oleh cuaca, pada waktu penelitian sering terjadi hujan setelah pemberian hormon tanaman unggul sehingga mengakibatkan tidak efisienya pemberian pupuk.

c.   Interaksi Perlakuan Abu Janjang Kelapa Sawit dan Hormon Tanaman Unggul
Pada tabel 6 diatas menunjukkan bahwa iteraksi antara abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul berpengaruh yang nyata terhadap parameter berat seribu biji dimana perlakuan terbaik ditunjukan kombinasi perlakuan A3B2 ( 504 gr/plot abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul 8 cc/liter air) yaitu dengan hasil 250 dan perlakuan A2B1 (336 gr/plot abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul 6 cc/liter air) dengan hasil yang sama yaitu 250. Perlakuan A3B2 (250)  sangat berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan A0B3(205), perlakuan A2B1 (250) tidak berbeda nyata terhadap perlakuan A3B2 (250).
Persamaan hasil perlakuan A3B2 dan A2B1 diduga disebabkan oleh tidak samanya kesuburan tanah, pada perlakuan A3B2 tanahnya kurang subur sehingga memerlukan banyak pupuk, dan pada perlakuan A2B1 tanahnya cukup subur dan pupuk yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, sehingga perlakuan A3B2 dan A2B1 hasilnya menjadi sama.
Terjadinya interaksi pemberian abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul pada parameter berat seribu biji tanaman jagung manis, ini disebabkan karena dosis yang diberikan mampu menyediakan kebutuhan hara bagi tanaman dalam melangsungkan pertumbuhan terutama fase generatif.  Abu janjang kelapa sawit merupakan bahan organik yang mampu memperbaiki tingkat kesuburan tanah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hakim (1986) yang menyatakan bahwa untuk menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman maka perlu dilakukan pemupukan yaitu pemberian zat hara tanaman kedalam tanah yang bertujuan untuk memacu perkembangan tanaman.  Unsur hara yang diberikan adalah dalam bentuk pupuk organik.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pemberian perlakuan tunggal abu janjang kelapa sawit (A) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan jumlah biji pertongkol dengan perlakuan terbaik A1 (512,38) dan berat seribu biji dengan perlakuan terbaik A2 (232,91).
2.      Pemberian perlakuan tunggal hormon tanaman unggul (B) memberikan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan jumlah biji pertongkol dengan perlakuan terbaik B1 (508,05).
3.      Pemberian perlakuan interaksi abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul (AB) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan jumlah biji pertongkol dengan perlakuan terbaik A1B2 (562,00) dan pengamatan berat seribu biji dengan perlakuan terbaik A2B1 (250,00)
4.      Dari parameter yang telah diamati menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah secara tunggal yaitu perlakuan A2 pada pengamatan berat seribu biji yaitu dengan dosis 336 gr/plot, sedangkan secara interaksi yaitu perlakuan A1B2 pada pengamatan biji pertongkol yaitu dengan dosis 168 gr/plot abu janjang dan 8cc/liter air Hormon tanaman unggul.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2004, sweet corn Baby corn, Penebar swadaya, Jakarta.

Badan Pusat Statistik, 2010, Survei Lapangan Produksi Jagung, Kabupaten Kuantan Singingi.

Dwijoseputro, D., 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT.Gramedia. Jakarta

Hakim N, Go Ban Hong, Saul. M.R. Nugroho. S. G, Lubis. A. M, Nyakpa. M. Y, Beiley. H. H, Diha M. A, 1986, Dasar – dasar Ilmu Tanah, Penerbit Universitas Lampung.
Harjadi, S. S. 1989. Pengantar Agronomi. PT Rajawali Press. Jakarta

Jimmy, 2008. Pupuk Hantu. Mutiara Keraton. Bogor.

Musa. L, 1990. Pengaruh Pemupukan N dan Abu Janjang Kelapa Sawit pada Tanaman dan Kimcan Tanah Kultur. Fakultas Pertanian USU, Medan.

Salisbury, F. B. dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid II. Penerbit ITB. Bandung.

Sarif. E.S, 1986. Kesuburan Tanah dan Pemupukan Tanah Pertanian, Pustaka Buana Bandar Lampung.

Setyati. H, 2009, Zat Pengatur Tumbuh, Penebar Swadaya, Jakarta.

Sutedjo. M, 2008, Pupuk dan Cara Pemupukan, PT Rinika Cipta, Jakarta.

Tampubolon. M, 1992, Pemanfaatan Limbah Perkebunan Dalam Prosedig Lokakarya Medan PTP, Wilayah I P4TM, Sumatera Utara.






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar