PENGARUH PEMBERIAN ABU JANJANG KELAPA
SAWIT DAN HORMON
TANAMAN UNGGUL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
PRODUKSI
JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt)
GUSKA RIANTO
Program Studi Agroteknologi, Sekolah
Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau.
ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan di
Desa Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan
Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu penelitian selama 5 bulan
tehitung dari bulan Januari sampai Mei 2010.
Penelitian ini menggunakan Rancang
Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2
faktor yaitu A (Abu janjang kelapa sawit) terdiri
dari 4 taraf perlakuan yaitu : A0 (Tanpa
pemberian Abu janjang kelapa sawit), A1
(Pemberian Abu janjang kelapa sawit 1ton/ha =
168 gr/plot) A2 (Pemberian Abu janjang kelapa sawit 2ton/ha =
336 gr/plot), A3 (Pemberian Abu janjang kelapa sawit 3ton/ha
= 504 gr/plot). dan B (Hormon
Tanaman Unggul) terdiri dari 4 taraf yaitu :
B0 (Tanpa Pemberian
Hormon Tanaman Unggul), B1 (Pemberian Hormon Tanaman Unggul = 6 cc/ 1 liter Air), B2 (Pemberian
Hormon Tanaman Unggul =
8 cc/ 1 liter Air), B3 (Pemberian
Hormon Tanaman Unggul = 10
cc/ 1 liter Air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
perlakuan abu janjang kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap parameter
pengamatan jumlah biji pertongkol dan berat seribu biji dimana perlakuan
terbaik terdapat pada perlakuan A2 (336 g/plot abu janjang kelapa sawit),
sedangkan perlakuan tunggal hormon tanaman unggul berpengaruh nyata terhadap
parameter pengamatan jumlah biji pertongkol dimana perlakuan terbaik terdapat
pada perlakuan B1 (6 cc/liter air hormon tanaman unggul). Abu janjang kelapa
sawit dan hormon tanaman unggul berpengaruh nyata terhadap jumlah biji
pertongkol dan berat seribu biji perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A3B2
(504 gr/plot abu janjang kelapa sawit dan 8 cc/liter air hormon tanaman
unggul).
Kata kunci : abu janjang, kelapa sawit,
jagung, hormon
PENDAHULUAN
Di Indonesia, jagung termasuk bahan pangan penting karena
merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras. Sebagai salah satu sumber
bahan pangan, jagung telah menjadi komoditas utama setelah beras. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia,
jagung dijadikan sebagai bahan pangan utama.
Tidak hanya sebagai bahan pangan, jagung juga dikenal sebagai salah satu
bahan baku untuk pakan ternak dan industri.
Potensi ekonomi dan sosial jagung sangat luas,
baik untuk pemenuhan pangan bergizi bagi penduduk, sarana pelayanan kesehatan
masyarakat, sumber pendapatan petani dan Negara, maupun bahan penganekaragaman
usaha tani dan pangan penduduk.
Jenis jagung yang banyak disukai di Indonesia adalah
jagung manis karena mempunyai rasa yang lebih enak dan lebih manis bila
dibandingkan dengan jagung biasa, oleh karena itu maka dikembangkan lah jagung
manis (Zea mays saccharata Shut)
untuk memenuhi selera konsumen.
Berdasarkan Badan Statistik Kabupaten Kuantan Singingi
produksi jagung mengalami penurunan, pada
tahun 2008 produksi jagung mencapai 1290,04 ton/ha, sedangkan pada tahun 2009 produksi jagung hanya
mencapai 1180,91 ton/ha, penurun produksi mencapai 109,13 ton/ha (Badan Statistik, 2010)
Akhir – akhir ini permintaan pasar terhadap jagung
manis meningkat dan harga yang tinggi merupakan faktor yang dapat merangsang
petani untuk dapat mengembangkan usaha tani jagung manis, dan berbagai upaya
yang dilakukan para petani untuk meningkatkan produsi jagung manis.
Adapun upaya peningkatan produksi tanaman jagung manis
yaitu dengan penggunaan bibit unggul, pengolahan tanah yang baik, dan pemupukan
yang teratur dan sesuai. Kendala yang sering terjadi adalah pH tanah yang
rendah dan tingkat kesuburan tanah yang rendah, serta pemupukan yang tidak sesuai
dengan tanaman yang ditanam.
Dengan ditemukamya abu janjang kelapa
sawit yang dapat memperbaiki sifat
fisik, kimia dan biologis tanah serta
memenuhi persedian unsur hara
dalam meningkatkan pertumbuhan
tanaman, juga mengaktifkan fungsi pupuk
kandang untuk memperbaiki pH tanah. Abu janjang memudahkan
ketersediaan unsur hara didalam tanah bagi tanaman, karena ekstrak abu janjang
mudah larut didalam tanah dan apabilah di integrasikan dengan pupuk akan
mempermudah dan mempercepat tanaman dalam menyerap unsur hara (Tampubolon,
1992)
Untuk meningkatkan produksi juga dapat digunakan zat
pengatur tumbuh, zat pengatur tumbuh dapat mengatur pertumbuhan tanaman dengan
baik serta dapat meningkatkan produksi tanaman (Styati. H, 2009).
Pemakaian zat perangssang tumbuh berfungsi untuk
merangsang pertumbuhan akar yang lebih banyak, mengaktifkan penyerapan unsur
hara, meningkatkan keluarnya kuncup dan buah serta memperbaiki kualitas
panen. Untuk meningkatkan keberhasilan
penggunaan zat pengatur tumbuh tersebut maka cara pemakaiannya harus
diperhatikan dengan baik dan tepat (Styati. H, 2009)
Hormon tanaman unggul adalah
Super Improvement Organik Fertilizer yang
mengandung hormon perangsang tumbuh dan kadar pupuk paling
lengkap sehingga pengaplikasiannya selain dapat meningkatkan
produksi tanaman hingga 100 % juga dapat berfungsi memperbaiki sifat fisik
tanah yang rusak sekaligus menyuburkan serta memacu pertumbuhan vegetatif dan
generatif pada tanaman ( akar, tunas, bunga dan tandan buah). Penggunaan hormon tanaman unggul
sangatlah mudah cukup dilarutkan kedalam air bersih lalu disemprotkan pada
tanaman seperti penyemprotan biasa pada umumnya
(Jimmy, 2008).
Hormon tanaman unggul selain
terbuat dari bahan herbal organik murni juga memiliki
banyak kelebihan dari pupuk dan ZPT
yang lainnya. Penggunaan hormon tanamn unggul ini tidak
meninggalkan residu kimia yang sangat membahayakan bagi kehidupan manusia.
mampu memperbaiki dan memperkaya sekaligus mengembalikan ketersediaan unsur
hara bagi tanah (Jimmy, 2008)
Berdasarkan permasalahan diatas penulis telah
melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Pemberian Abu Janjang Kelapa Sawit dan Homon
Tanaman Unggul (ZPT) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt)”
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di
Desa Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan
Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu
yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5
bulan yang dimulai bulan Januari sampai Mei 2010.
.
Bahan dan alat
Bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih Jagung
manis “Super Sweet”, Abu
janjang kelapa sawit, Hormon Tanaman Unggul, Sevin 85 S, Curater
3 G, Dithane M-45 WP. Sedangkan alatnya adalah cangkul,
sabit, paku, Handsparayer, Cat, papan label, martil, timbangan, gembor, meteran, ember, dan alat – alat lain yang mendukung penelitian.
Metode
Penelitian
Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Rancang Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2
faktor yaitu A (Abu janjang kelapa sawit) terdiri
dari 4 taraf dan B (Hormon Tanaman Unggul) terdiri
dari 4 taraf.
Faktor
pertama pemberian Abu janjang kelapa sawit :
A0 : Tanpa pemberian Abu janjang kelapa sawit.
A1 : Pemberian Abu janjang kelapa sawit 1ton/ha =
168 gr/plot.
A2 : Pemberian Abu janjang kelapa sawit 2ton/ha =
336 gr/plot.
A3 : Pemberian Abu janjang kelapa sawit 3ton/ha
= 504 gr/plot
Faktor
kedua pemberian Hormon Tanaman Unggul.
B0 : Tanpa Pemberian
Hormon Tanaman
Unggul
B1 : Pemberian
Hormon Tanaman Unggul
=
6 cc/ 1
liter Air
B2 : Pemberian
Hormon Tanaman Unggul =
8
cc/ 1 liter Air
B3 : Pemberian
Hormon Tanaman Unggul =
10
cc/ 1 liter Air
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa dan pemberian
hormon tanaman unggul tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung
manis, dan perlakuan tunggal pemberian hormon tanaman unggul dan abu janjang
kelapa sawit juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman
jagung manis. Data tinggi tanaman disajikan pada tabel 1.
Tabel 1.
Rerata Tinggi Tanaman Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang Kelapa
Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.
|
Faktor A
(Abu Janjang Kelapa Sawit)
|
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
|
Rerata
A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
A1
A2
A3
|
204,88
196,99
174,35
227,16
|
138,02
191,99
173,83
197,44
|
153,72
172,10
180,,72
178,55
|
185,38
188,53
171,05
183,22
|
170,01
187,40
174,98
196,59
|
|
Rerata B
|
200,84
|
175,32
|
171,27
|
182,04
|
182,24
|
Dari Tabel 1 diatas dapat menunjukan bahwa perlakuan
abu janjang kelapa sawit tadak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi
tanaman ini disebabkan oleh kandungan unsur hara didalam tanah telah cukup
untuk melakukan pertumbuhan dengan baik dan juga dipengaruhi oleh pengolahan
tanah yang baik sesuai dengan ketentuan berlaku. Pertumbuhan dari perlakuan kontrol sama
dengan pertumbuhan perlakuan abu janjang kelapa sawit.
Kemampuan tanah untuk memberikan
segala nutrisi bagi pertumbuhan dan produksi tanah akan selalu memberikan hasil
yang seimbang, dan pemberian pupuk yang berlebihan dapat menimbulkan
akibat-akibat yang merugikan (Sutejo. M, 2008). Pengolahan tanah yang baik juga
sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, didalam penelitian pengolahan tanahnya
disesuaikan dengan ketentuan pengolahan tanah yang baik, sehingga tanaman dapat
menyerap zat hara didalam tanah dengan baik dan tanaman dapat tumbuh dengan
normal.
Abidin dan Sudaryono (1980) dalam
Gultum (2001) mengemungkakan bahwa perbaikan suasana lingkungan tanah dapat
memberikan kemungkinan lebih baik terhadap pertumbuhan, perkenmbangan,
pernapasan akar serta penyerapan zat hara dan air di dalam tanah.
Pemberian hormon tanaman unggul secara tunggal tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, ini diduga disebabkan
oleh pemberian dosis yang terlalu tinggi sehingga mengakibatkan pemberian
hormon tanaman unggul tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi
tanaman.
Hakim dkk (1986) menambahkan bahwa unsur hara yang
diberikan pada tanaman dalam bentuk yang tersedia dan dosis yang seimbang akan dapat memberikan
pertumbuhan yang baik pada tanaman, sedangkan tanaman yang mengalami kekurangan
unsur hara akan menampakkan gejala pertumbuhan tanaman yang tidak normal karena
terjadinya gangguan pada pembelahan sel dan defisiensi dapat menyebabkan
terjadinya sel kerdil pada tanaman.
Pemberian secara interaksi juga tidak memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman ini diduga tersedianya unsur hara
didalam tanah sehingga pemberian secara interaksi jaga tidak memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman karena dapat mengakibatkan
kelebihan unsur hara.
Umur Berbunga (hari)
Setelah dianalisis secara statistik (tabel 2) dari
hasil sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa
sawit dan pemberian hormon tanaman unggul tidak berpengaruh nyata terhadap umur
berbunga jagung manis, demikian juga terhadap perlakuan tunggal abu janjang
kelapa sawit dan hormon tanaman unggul.
Dari tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan Abu janjang
kelapa sawit dan Hormon tanaman unggul baik secara tunggal maupun interaksi
tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga tanaman jagung
manis. Dalam hal ini diduga bahwa tanaman jagung memiliki kemampuan yang baik
untuk beradaptasi dengan lingkungan sehingga tanaman jagung manis dapat tumbuh
dengan baik pada perlakuan kontrol, serta karena tingginya curah hujan selama
penelitian.
Tabel 2.
Rerata Umur Berbunga Tanaman Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang
Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.
|
Faktor A
(Abu Janjang
Kelapa Sawit)
|
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
|
Rerata
A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
A1
A2
A3
|
44,33
43,99
43,21
43,21
|
46,77
44,33
44,33
45,66
|
46,33
45,55
44,77
43,66
|
44,99
45,33
44,33
45,66
|
45,60
44,8
44,16
44,54
|
|
Rerata B
|
43,68
|
45,27
|
45,07
|
44,95
|
44,77
|
Pertumbuhan jagung sangat membutuhkan sinar matahari.
Intensitas sinar matahari sangat penting bagi tanaman, terutama dalam masa
pertumbuhan. Sebaiknya tanaman jagung mendapatkan
sinar matahari langsung. Dengan
demikian, hasil yang akan diperoleh akan maksimal. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya
akan terhambat, produksi biji yang dihasilkan pun kurang baik, bahkan tidak
dapat berbentuk buah ( Purwono, 2008)
Selain itu proses metabolisme yang
akan terjadi pada tanaman sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang
terjadi pada lingkunagan tanaman seperti unsur hara, jumlah intensitas cahaya matahari yang dapat diserap tanaman
ataupun kondisi ketersediaan air didalam tanah (Salibury dan Ross, 1995)
Umur Panen (hari)
Setelah dianalisis secara statistik (table 3) dari hasil sidik ragam menunjukan
bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa dan hormon tanaman unggul tidak
berpengaruh nyata terhadap umur panen jagung manis, demikian juga pemberian
secara tunggal abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul tidak
memberikan pengaruh nyata terhadap umur panen jagung manis.
Tabel 3. Rerata Umur Panen Tanaman Jagung
Manis dengan Perlakuan Abu Janjang Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman
Unggul.
|
Faktor A
(Abu Janjang
Kelapa Sawit)
|
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul
|
Rerata
A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
A1
A2
A3
|
63,88
62,08
62,22
61,55
|
64,22
64,11
65,22
64,10
|
65,66
62,33
65,10
63,11
|
62,10
63,99
63,99
62,33
|
63,96
63,12
63,96
62,77
|
|
Rerata B
|
62,43
|
65,66
|
64,05
|
62,93
|
63,45
|
Dilihat dari tabel 3 diatas menunjukan bahwa perlakuan
Abu janjang dan Hormon tanaman unggul baik secara tunggal maupun secara
interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen. Hal ini diduga apabila unsur hara didalam
tanah telah tersediah dan didukung oleh pengolahan tanah yang baik dalam
penelitian ini maka tanaman jagung manis dapat tumbuh dengan baik sehingga umur
panen tidak dipengaruhi oleh abu janjang dan hormon tanaman unggul.
Pada tanah padat atau system aerasi
tanah yang buruk akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar, kahnrena
akar akan menembus kedalaman tanah melalui pori-pori tanah sambil mengisap air
dan unsur hara yang terlarut. Pada kondisi tanah yang padat ruang pori yang
dimilikinya sempit sehingga akar akan mengalami kesukaran untuk menembus
kedalam tanah. (Sarief, 1986)
Ketersediaan unsur hara yang
terkandung didalam tanah dan curah hujan yang tinggi sangat memepengaruhi
pertumbuhan tanaman jagung manis.
Menurut Dwjoseputro (1984) menyatakan bahwa proses fotosintesis yang
berjalan lancar pada tumbuhan akan menjamin perkembangan tumbuhan tersebut baik
vegetatif maupun generative. Harjadi (1989) menambahkan bahwa tanaman akan
tumbuh subur bila unsur hara yang tersedia dapat diserap tanaman sesuai tingkat
kebutuhan tanaman.
Hasil Perplot (gr)
Setelah dianalisis secara statistik (table 4) dari hasil sidik ragam menunjukan
bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa dan pemberian hormon tanaman unggul
tidak berpengaruh nyata terhadap hasil perplot tanaman jagung manis, demikian
juga pemberian abu janjang kelapa sawit secara tunggal dan hormon tanaman
unggul tidak memberikan pengaruh nyata terhadap hasil perplot.
Tabel 4.
Rerata Hasil Perplot Tanaman Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang
Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.
|
Faktor A
(Abu Janjang
Kelapa Sawit)
|
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
|
Rerata
A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
A1
A2
A3
|
650,00
723,33
583,00
656,66
|
530,00
583,33
553,33
533,33
|
566,66
650,00
540,00
543,33
|
640,00
563,33
506,00
600,66
|
596,66
629,99
545,58
583,49
|
|
Rerata B
|
653,24
|
529,99
|
574,99
|
577,49
|
585,20
|
Dari tabel 4
diatas dapat dilihat bahwa pemberian Abu janjang Kelapa Sawit dan Hormon
tanaman unggul baik secara tunggal maupun interaksi tidak menunjukkan pengaruh
nyata terhadap hasil perplot, karena dalam pertumbuhan genetatif unsur hara
yang banyak diperlukan adalah unsur K, sedangkan abu janjang tidak mengandung
unsur hara K. Sedangkan fungsi abu
janjang hanya memperbaiki sifat fisik tanah sehingga dapat mempercepat tanaman
dalam menyerap unsur hara. Sedangkan
hormon tanaman unggul memiliki kandungan unsur hara K, tetapi sedikit sehingga
tidak mempengaruhi hasil perplot. Hal
ini sesuai dengan pendapat Anonim (2004) yang mengatakan bahwa tanaman jagung
manis memerlukan unsur hara K untuk fase generatif.
Unsur kalium yang diserap tanaman
sangat berperan dalam membantu pembentukan karbohidrat dan protein, mempercepat
proses fotosintesis dan respirasi tanaman, membantu transportasi tepung dan
lemak pada jaringan tanaman, meningkatkan daya resistensi tanaman terhadap
penyakit serta meningkatkan kualitas produksi tanaman (Sutejo dan
Kartasapoetra,1988)
Menurut Sarif (1986) tanaman yang
kekurangan unsur hara akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan
tetapi sebaliknya apabilah unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka
dapat merusak tanaman itu sendiri.
Jumlah
Biji Pertongkol (biji)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam menunjukkan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa sawit dan Hormon
Tanaman Unggul berpengaruh nyata terhadap jumlah biji pertongkol jagung manis,
demikian juga pemberian abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul
secara tunggal. Hasil uji lanjut BNJ pada
taraf 5% dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Rerata Jumlah Biji Pertongkol
Jagung Manis dengan Perlakuan Abu Janjang Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon
Tanaman Unggul.
|
Faktor A
(Abu Janjang
Kelapa Sawit)
|
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
|
Rerata
A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
A1
A2
A3
|
440,00mn
513,33de
477,33ij
543,33a
|
502,00ef
526,88bc
532,00b
471,33jk
|
418,00no
562,00a
516,00cd
491,33hi
|
445,33lm
447,33kl
498,00fg
493,88gh
|
451,33d
512,38a
505,83b
499,96bc
|
|
Rerata B
|
493,49b
|
508,05a
|
496,83a
|
471,13c
|
492,37
|
|
KK = 9,39
|
BNJ A =
11,59 BNJ B = 11,59 BNJ AB = 25,19
|
||||
Angka – angka yang ikuti
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
a.
Perlakuan Abu janjang kelapa sawit
Berdasarkan
tabel 5 terlihat bahwa perlakuan abu janjang kelapa sawit
memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah
biji pertongkol yaitu hasil
yang tertinggi (A1) 512,38 dan hasil terendah terdapat pada
perlakuan abu janjang kelapa sawit adalah (A0) yaitu 451,33, perlakuan A1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A2, perlakuan
A2 tidak berbedanyata dengan perlakuan A3,
perlakuan A0 berbeda nyata dengan perlakuan A1, A2 dan A3.
Perlakuan A1 adalah perlakuan yang hasilnya tertinggi,
ini disebabkan karena tingkat kesuburan tanah yang cukup tinggi, oleh karena
itu kandungan organik dan unsur hara
didalam tanah tersedia tapi belum mencukupi, dan abu janjang yang
dibutuhkan hanya dalam jumlah sedikit, sehingga perlakuan A1 adalah hasil
perlakuan yang tertinggi.
Menurut Musa (1990) abu janjang kelapa sawit mempunyai
2 peranan yang penting sebagai bahan organik yang dapat menurunkan keasaman
tanah sebagai pengganti pupuk kandang, dan kandungan hara yang dikandungnya
mudah tersedia bagi tanaman.
Kandungan Mg yang terdapat pada abu janjang kelapa
sawit berperan mengikat unsur P dalam tanah. Posfat diserap tanaman dalam
bentuk P205 yang berperan dalam fase vegetatif dan generatif, terutama
pembentukan biji. (Hakim, 1986)
b.
Perlakuan Hormon Tanaman unggul
Hasil
tertinggi pada
perlakuan Hormon tanaman unggul adalah B1 (508,05), yaitu dengan perlakuan 6 cc/liter air
dan hasil terendah adalah perlakuan B3
(471,13). Yaitu dengan perlakuan 10 cc/liter air.
Perlakuan B1 tidak berbeda
nyata dengan perlakuan B2, perlakuan B2 tidak berbeda nyata dengan B0, dan perlakuan B3 nyata terhadap perlakuan B0, B1, B2, ini diduga disebabkan perlakuan
pada B3 kelebihan dosis sehingga mengakibatkan perlakuan ini menunjukkan nilai
yang terendah..
Menurut Sarif (1986) tanaman yang kekurangan unsur
hara yang akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan tetapi
sebaliknya apabilah unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka dapat
merusak tanaman itu sendiri.
Dalam hormon tanaman unggul yang banyak terkandung ZPT
adalah gibberellins. Sedangkan
gebberellins berfungsi untuk pembentukan biji dan pembentukan buah ( Harjadi. S, 2009)
c.
Interaksi
Perlakuan Abu Janjang kelapa Sawit
dan Hormone Tanaman Unggul
Pada
tabel 5 diatas perlakuan interaksi meberikan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan jumlah
biji pertongkol. Hasil perlakuan yang terbaik adalah pada
perlakuan A1B2 (562,00) hasil perlakuan yang terendah adalah pada perlakuan
A0B2 (418,00).
Berdasarkan
data pada tabel 5, dapat dilihat bahwa jumlah biji pertongkol pada
tanaman jagung manis berbedat nyata dimana beberapa perlakuan abu
janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul
menunjukkan pengaruh yang nyata dalam kemampuannya untuk memperbanyak jumlah biji pada
tanaman jagung manis. Pada
penelitian ini dapat dilihat bahwa rerata jumlah
biji pertongkol adalah 562
yang dihasilkan dari perlakuan A1B2 (336 g/plot abu
janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul 8 cc/liter air
pada ulangan ke 3. bila dibandingkan dengan
perlakuan lainnya, banyaknya jumlah biji pertongkol
pada perlakuan tersebut menandakan bahwa perlakuan berlangsung dengan baik
terhadap jumlah biji pertongkol.
4.2.
Berat Seribu
Biji (gr)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian abu janjang kelapa dan pemberian
hormon tanaman unggul berpengaruh nyata terhadap Berat seribu biji, Pemberian
abu janjang kelapa sawit secara tunggal juga memberikan pengaruh nyata terhadap
berat seribu biji sedangkan perlakuan tunggal pemberian Hormon Tanaman Unggul
tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat seribu biji.
Tabel 6. Rerata Berat Seribu Biji Tanaman Jagung
Manis dengan Perlakuan Abu Janjang
Kelapa Sawit dan Pemberian Hormon Tanaman Unggul.
|
Faktor A
(Abu Janjang
Kelapa Sawit)
|
Faktor B (Hormon Tanaman Unggul)
|
Rerata
A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
A1
A2
A3
|
225,00de
230,00cd
195,00gh
230,00cd
|
198,33fg
200,00e
250,00a
225,00de
|
225,00de
200,00ef
240,00bc
250,00a
|
20,005e
240,00bc
246,66ab
190,00hi
|
213,33cd
217,50bc
232,91a
223,75b
|
|
Rerata B
|
220,00
|
218,33
|
228,75
|
220,41
|
221,87
|
|
KK = 9,39
|
BNJ AB = 16,17 BNJ A =
7,45
|
||||
a.
Perlakuan Abu janjang kelapa sawit
Berdasarkan
tabel 6 terlihat bahwa perlakuan abu janjang kelapa sawit
memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat seribu biji.
Perlakuan yang tertinggi yaitu (A2) 232,915 dan hasil
terendah terdapat pada perlakuan abu
janjang kelapa sawit yaitu (A0) 213,33. Perlakuan A2 tidak
berbeda nyata terhadap perlakuan A1,
perlakuan A1 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan A0, perlakuan A3 berbeda
nyata terhadap perlakuan A1, A2, dan A0, dan perlakuan A2 juga berbeda nyata
dengan perlakuan A0, A1, A3.
Hasil perlakuan A0 lebih besar dari pada hasil
perlakuan A3, ini diduga disebabkan oleh pemberian abu janjang yang berlebihan
sehingga mempengaruhi berat seribu biji.
Menurut Soegiman (1982) menegaskan bahwa tidak seimbangnya takaran pupuk
yang diberikan dapat menurunkan hasil.
Abu janjang kelapa sawit memberikan pengaruh positif
karena abu janjang kelapa sawit mampu menyediakan unsur hara tanaman dan mampu
merombak siklus dan fase vegetatif dan generatif tanaman dan berpengaruh
terhadap modifikasi sifat-sifat tanah (Azhari dalam Indra 2007).
b.
Perlakuan Hormon Tanaman unggul
Dari tabel 6 dapat dilihat perlakuan hormon tanaman
unggul tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat seribu biji, ini
disebabkan karena dalam pembentukan biji yang dibutuhkan adalah unsur hara K,
sedangkan pada hormon tanaman unggul kadungan K hanya sedikit, sehingga tidak
mempengaruhi paremeter berat seribu biji.
Hormon tanman unggul adalah yang pemberiannya
dilakukan dengan disemprotkan sehingga sangat dipengaruhi oleh cuaca, pada
waktu penelitian sering terjadi hujan setelah pemberian hormon tanaman unggul
sehingga mengakibatkan tidak efisienya pemberian pupuk.
c.
Interaksi Perlakuan Abu Janjang Kelapa Sawit dan Hormon Tanaman Unggul
Pada
tabel 6 diatas menunjukkan bahwa iteraksi antara
abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul berpengaruh yang nyata
terhadap parameter berat seribu biji dimana perlakuan terbaik ditunjukan
kombinasi perlakuan A3B2 ( 504 gr/plot abu janjang kelapa sawit dan hormon
tanaman unggul 8 cc/liter air) yaitu dengan hasil 250 dan perlakuan A2B1 (336
gr/plot abu janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul 6 cc/liter air)
dengan hasil yang sama yaitu 250. Perlakuan A3B2 (250) sangat berbeda nyata dengan kombinasi
perlakuan A0B3(205), perlakuan A2B1 (250) tidak berbeda nyata terhadap
perlakuan A3B2 (250).
Persamaan hasil perlakuan A3B2 dan A2B1 diduga
disebabkan oleh tidak samanya kesuburan tanah, pada perlakuan A3B2 tanahnya
kurang subur sehingga memerlukan banyak pupuk, dan pada perlakuan A2B1 tanahnya
cukup subur dan pupuk yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, sehingga perlakuan
A3B2 dan A2B1 hasilnya menjadi sama.
Terjadinya interaksi pemberian abu janjang kelapa
sawit dan hormon tanaman unggul pada parameter berat seribu biji tanaman jagung
manis, ini disebabkan karena dosis yang diberikan mampu menyediakan kebutuhan
hara bagi tanaman dalam melangsungkan pertumbuhan terutama fase generatif. Abu janjang kelapa sawit merupakan bahan
organik yang mampu memperbaiki tingkat kesuburan tanah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hakim (1986) yang
menyatakan bahwa untuk menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman maka perlu
dilakukan pemupukan yaitu pemberian zat hara tanaman kedalam tanah yang
bertujuan untuk memacu perkembangan tanaman.
Unsur hara yang diberikan adalah dalam bentuk pupuk organik.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan
di atas maka dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Pemberian perlakuan tunggal abu
janjang kelapa sawit (A)
memberikan pengaruh yang
nyata terhadap parameter pengamatan jumlah
biji pertongkol dengan perlakuan terbaik A1 (512,38) dan berat seribu biji
dengan perlakuan terbaik A2 (232,91).
2.
Pemberian perlakuan tunggal hormon
tanaman unggul (B) memberikan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan
jumlah biji pertongkol dengan perlakuan
terbaik B1 (508,05).
3.
Pemberian perlakuan interaksi abu
janjang kelapa sawit dan hormon tanaman unggul (AB) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter
pengamatan jumlah biji pertongkol dengan perlakuan
terbaik A1B2 (562,00) dan pengamatan berat seribu biji dengan perlakuan terbaik
A2B1 (250,00)
4.
Dari parameter yang telah diamati menunjukkan
bahwa perlakuan terbaik adalah secara tunggal yaitu perlakuan A2
pada pengamatan berat seribu biji yaitu dengan
dosis 336 gr/plot, sedangkan secara interaksi
yaitu perlakuan A1B2 pada pengamatan biji pertongkol yaitu
dengan dosis 168 gr/plot abu janjang dan 8cc/liter air Hormon tanaman unggul.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2004, sweet corn Baby corn, Penebar swadaya, Jakarta.
Badan Pusat Statistik, 2010, Survei Lapangan Produksi
Jagung, Kabupaten Kuantan Singingi.
Dwijoseputro, D.,
1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT.Gramedia. Jakarta
Hakim N, Go Ban Hong, Saul. M.R. Nugroho.
S. G, Lubis. A. M, Nyakpa. M. Y, Beiley. H. H, Diha M. A, 1986, Dasar – dasar
Ilmu Tanah, Penerbit Universitas Lampung.
Harjadi, S. S. 1989. Pengantar Agronomi.
PT Rajawali Press. Jakarta
Jimmy, 2008. Pupuk Hantu. Mutiara Keraton.
Bogor.
Musa. L, 1990. Pengaruh Pemupukan N dan
Abu Janjang Kelapa Sawit pada Tanaman dan Kimcan Tanah Kultur. Fakultas
Pertanian USU, Medan.
Salisbury, F. B. dan C. W. Ross. 1995.
Fisiologi Tumbuhan. Jilid II. Penerbit ITB. Bandung.
Sarif. E.S, 1986. Kesuburan Tanah dan
Pemupukan Tanah Pertanian, Pustaka Buana Bandar Lampung.
Setyati. H, 2009, Zat Pengatur Tumbuh,
Penebar Swadaya, Jakarta.
Sutedjo. M, 2008, Pupuk dan Cara
Pemupukan, PT Rinika Cipta, Jakarta.
Tampubolon. M, 1992, Pemanfaatan Limbah
Perkebunan Dalam Prosedig Lokakarya Medan PTP, Wilayah I P4TM, Sumatera Utara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar