UJI BERBAGAI VARIETAS DAN PEMBERIAN PUPUK AGROBOST TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa. L)
Tri Nopsagiarti
Program
Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan.
Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Telp : 081276859849 Teluk Kuantan, Riau.
ABSTRACT
Research conducted at the Screen Inuman Market Village
District Inuman Kuantan District Singingi. Time this study was 5 months from
January to May 2012. This research used Completely Randomized Design (CRD) in
factorial consisting of 2 factors: factor V (varieties of rice plants) consists
of 3 levels: V1 = Trunk Piaman varieties, varieties PB-V2 = 42, V3 = Ciherang.
A factor (fertilizer Agrobost) Consist 4 levels, A0 = Without treatment /
control, A1 = 1% Agrobost Fertilizer, A2 = 1.5% Agrobost Fertilizer, A3 = 2% Agrobost
Fertilizer. Each treatment consisted of 3 replicates. To determine the growth
and production of the rice crop was observed with the following parameters:
plant height, number of productive tillers, flowering, harvesting, grain
weight. Then the data - the data were analyzed statistically, and if F
calculated is greater than F table, then proceed to Test Advanced Honestly
Significant Difference (HSD) at the level of 5%. The results showed that a
single treatment of the various varieties significantly affect the parameters
of plant height, productive tillers, flowering, harvesting and grain weight
perumpun, whereas treatment singly Agrobost fertilizer significantly affect the
parameters plant height, days to flowering and harvesting. The treatment is the
interaction of various varieties and fertilizer Agrobost significantly affect
plant height observations, flowering and harvesting.
Keyword
: Agrobost, rice, fertilizer
PENDAHULUAN
Padi (Oryza sativa.L) merupakan salah satu
tanaman makanan pokok Bangsa Indonesia.Perjalanan Bangsa Indonesia dalam
pengadaan padi sebagai penghasil beras sangat berliku, yang akhirnya dapat
berswasembada beras pada tahun 1984.Menurut Hafsah dan Sudaryanto (2004) dalam
periode1968-1984 produksi beras meningkat dengan laju rata-rata 5%
pertahun.Produktivitas padi sawah Indonesia saat itu adalah yang tertinggi di
Asia Tenggara dan Asia Selatan.Keadaan tersebut tentunya perlu dipertahankan
oleh bangsa Indonesia.
Jumlah
penduduk Indonesia yang semakin bertambah menjadi masalah dalam pengadaan
beras. Dilihat daritingkat konsumsi beras per kapita penduduk Indonesia pada
tahun 1984 mencapai 117/kg/tahun. Sementara pada tahun 2002 tingkat konsumsi
beras per kapita sudah mencapai sekitar 155 kg/orang/tahun. Adanya pertambahan
penduduk dan naiknya konsumsi per kapita akan meningkatkan konsumsi beras
nasional. Dilihat dari angka konsumsi nasional pada tahun 1984 mencapai 25,835
juta ton dan pada tahun 1998 sudah mencapai 32,3 juta ton. Sedangkan pada tahun
2010 konsumsi beras diproyeksikan mencapai 37,31 juta ton. Dengan angka sebesar
itu diproyeksikan pula
pada
tahun tersebut akan terjadi defesit beras sebesar 6,32 juta ton (Prasetyo,
2006).
Kebutuhan
pangan khususnya beras di Kabupaten Kuantan Singingisetiap tahunnya terus
meningkat seiring denganmeningkatnya jumlah penduduk.Sementara itu peningkatan
produksi tanaman pangan tidak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk
sehingga produksi belum mampu mencukupi kebutuhan terutama untuk kebutuhan
beras. Pada tahun 2009 Kabupaten Kuantan Singingi memproduksi beras sebanyak 26.232,04
ton,sedangkan kebutuhan beras Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 36.58350 ton,
jadi kekurangan beras di Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 28,30% atau
10.351,45 ton. Sedangkan pada tahun 2010 memproduksi beras sebanyak 44.132,83
ton sementara kebutuhan beras sebanyak 46,264,91 ton(Dinas Tanaman Pangan
Kabupaten Kuantan Singingi, 2010).
Adapun
upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi padi dalam menghadapi tantangan
yang cukup berat karena semakin berkurangnya lahan sawah yang produktif,
terbatasnya lahan subur, saluran irigasi banyak yang rusak dan tidak berfungsi
dan keadaan iklim yang tidak menentu serta serangan hama/penyakit muncul
sewaktu-waktu sehingga sering terjadi kegagalan panen, maka perlu adanya
penggunaan benih varietas unggul dalam budidayanya, pengolahan tanah yang baik,
pengaturan jarak tanam serta menggunakan pupuk yang teratur dan sesuai gunanya
untuk mendukung ketahanan pangan serta untuk mengatasi berbagai permasalahan
dalam meningkatkan produksi pangan, cara ini lebih aman dan ramah lingkungan.
Penggunaan
varietas unggul dapat mendukung ketahanan pangan serta mengatasi berbagai
masalah dalam meningkatkan produksinya.Khususnya di Kabupaten Kuantan Singingi
penggunaan varietas unggul masih tergolong rendah karena pada umumnya varietas
padi unggul rasa nasinya pulen.Sebagian masyarakat kurang menyukai beras
pulen.Namun kelebihan varietas unggul adalah produksinya tinggi dan umur
panennya lebih singkat.Sehingga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan beras
penggunaan varietas unggul merupakan salah satu solusinya.
Selain
penggunaan varietas unggul, pemupukan juga satu cara untuk meningkatkan
produksi padi. Pemupukan akan dapat menambah atau mencukupi hara yang
dibutuhkan tanaman agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang serta berproduksi
seperti yang diharapkan. Salah satu pupuk yang dapat digunakan adalah
penggunaan pupuk organik.Pupuk organik mengandung bahan organik yang sangat
penting yang berperanan dapat memperbaiki struktur tanah, sifat fisik tanah dan
sebagai persediaan unsur hara bagi tanaman (Yuliarti, 2009).
Pupuk
agrobost merupakan salah satu pupuk organik yang berbentuk cair yang dapat
langsung dimamfaatkan oleh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan subur
dan meningkatkan produksi.Pupuk agrobost merupakan pupuk yang ramah lingkungan
karena tidak mengandung logam berat seperti Ag, As, Pb, Hg, Cd dan mikroba
pathogen. Mikroba yang terkandung dalam pupuk ini sanggup menghasilkan
kandungan N yang diserap dari udara sebesar 100 kg, P sebanyak 50 kg, dan K
sebanyak 50 kg, sehingga unsur hara tanaman dapat tercukupi atau bertambah
(Gunarto, 2009). Adapun tujuan pemupukan
yaitu: a) mengisi pembekalan zat makanan yang cukup, b) memperbaiki atau
memelihara kebutuhan kondisi tanah.
Dalam hal struktur, kondisi derajat keasaman, serta pengikat terhadap
zat makanan tanaman dan sebagainya
(Rinsema W.J, 1983).
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk
mengetahui uji berbagai varietas padi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman
padi sawah (Oryza sativa. L).
2. Untuk
mengetahui uji pemberian pupukagrobost terhadap pertumbuhan dan produksi
tanaman padi sawah (Oryza sativa. L).
3. Untuk
mengetahuiinteraksiuji berbagai varietas dan pemberian pupuk Agrobost terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa. L).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian
ini dilaksanakan di rumah kasa Desa Pasar Inuman Kecamatan Inuman Kabupaten
Kuantan Singingi. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan, dimulai dari
Januari sampai Mei 2012.
Bahan dan Alat
Bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi varietas batang Piaman,
PB42, Ciherang, pupuk Agrobost, dan insektisida Diazinon 60 EC.
Alat-alat
yang digunakan dalam penelitian ini adalah ember ukuran 30 cm, timbangan
analitik, baskom, kayu, paku kawat, cangkul, sabit, kamera digital, meteran,
handsprayer dan alat tulis lainnya.
Metode Penelitian
Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) secara
faktorial terdiri dari 2 faktor.Faktor pertama adalah faktor V (varietas)
tanaman padi yang terdiri dari 3 taraf dan faktor ke dua adalah faktor A (pupuk
Agrobost) yang terdiri dari 4 taraf.
Faktor V
(Varietas tanaman padi) terdiri dari 3 taraf:
V1 =Varietas Batang Piaman
V2=Varietas
PB42
V3
=Varietas Ciherang
Faktor A
(pemberian pupuk Agrobost) terdiri dari 4 taraf:
A0 =
Tanpa pemberian pupuk Agrobost
A1=
Pemberian pupuk Agrobost = 1 %
A2 =
Pemberian pupuk Agrobost = 1,5 %
A3 =
Pemberian pupuk Agrobost = 2 %
Data hasil pengamatan masing-masing perlakuan dianalisis secara
statistik dan apabila F hitung lebih besar dari F tabel, maka dilanjutkan
dengan uji lanjut BedaNyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Dari
hasil analisa sidik ragam (ansira) pada perlakuan uji berbagai varietas dan
perlakuan pupuk agrobost baik secara tunggal maupun secara interaksi memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman.Rata-rata tinggi tanaman setelah
diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman Padi Sawah
dengan Uji Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Agrobost
|
Faktor V
(Varietas)
|
Faktor A
(Pupuk Agrobost)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
V1
|
91.53abcd
|
97.28abc
|
93.08abcd
|
95.38abcd
|
94.32a
|
|
V2
|
91.79abcd
|
103.21ab
|
100.51abc
|
103.90a
|
99.85a
|
|
V3
|
83.60e
|
77.53e
|
88.08cde
|
89.09cde
|
84.58b
|
|
Rerata
|
88.97b
|
92.67ab
|
93.89ab
|
96.12a
|
-
|
|
KK =
5,40% BNJ V = 7,57 BNJ A=6,16 BNJ VA=14,02
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda
nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dari
tabel diatas dapat dilihat bahwa perlakuan berbagivarietas secara tunggal
menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman padi sawah.Tanaman yang
tertinggi yaitu varietas V2 (99,85 cm) dan yang terendah varietas V3 (84,58
cm). Nilai V2 tidak berbeda nyata dengan V1 dan berbeda nyata dengan V3 (84,58
cm). Hal ini disebabkan oleh faktor genetik tanaman itu sendiri, dimana
varietas yang digunakan adalah varietas unggul yang mempunyai daya tumbuh biji
yang cukup tinggi yang mengakibatkan pertumbuhannya lebih cepat serta kemampuan
masing - masing varietas beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya. Hal ini
sesuai dengan pendapat (Siregar, 1981) bahwa
tinggi tanaman adalah faktor genetik dari tanaman itu sendiri.
Perlakuan
pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi
tanaman. Tanaman yang paling tinggi adalah pada perlakuan A3 (konsentrasi 2%
Agrobost) yaitu 96,12 cm,). Tingginya tanaman pada perlakuan A3 disebabkan
karena pemberian volume pupuk agrobost lebih banyak dari perlakuan lainnya,
sedangkan yang terendah adalah pada perlakuan A0(kontrol) yaitu 88,97 cm.Hal
ini disebabkan karena unsur N yang dihasilkan oleh bakteri Azotobakter, sp
mampumencukupi untuk pertumbuhan tinggi tanaman. Bakteri Azotobakter, sp merupakan
mikroorganisme yang berfungsi dalam mengikat bebas unsur N yang ada di alam
bebas sehingga kebutuhan unsur N dalam pertumbuhan tanaman terpenuhi (Gunarto,
2009).
Menurut
Sutedjo (2008) bahwa fungsi unsur N adalah untuk mempercepat pertumbuhan
tanaman, menyehatkan pertumbuhan daun, tanaman menjadi lebar dengan warna yang
lebih hijau, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan, meningkatkan
perkembangan mikro organisme di dalam tanah. Kekurangan unsur N menyebabkan
warna daun hijau kekuning-kuningan selanjutnya berubah menjadi kuning
lengkap.Jaringan mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi
kering dan berwarna merah kecoklatan. Pada tanaman dewasa pertumbuhan yang
terhambat ini akan berpengaruh pada pembuahan yang mengakibatkan buah tidak
sempurna, umumnya kecil-kecil dan cepat matang (Sutedjo, 2010).
Perlakuan
beberapa varietas dan pemberian pupuk agrobost secara interaksi memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman. Tanaman yang tertinggi adalah
perlakuan V2A3 (103,90 cm) dan yang terendah adalah perlakuan V3A1 (77,53
cm).Hal ini disebabkan karena varietas yang digunakan adalah varietas unggul
dimana varietas unggul sangat respon terhadap pemupukan. Iskandar (2003)
menyatakan tanaman akan tumbuh dengan baik apabila unsur yang tersedia cukup
untuk pertumbuhan tanaman. Pemberian nutrisi merupakan salah satu untuk
memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman, tujuan ini baru akan tercapai apabila
memperhatikan konsentrasi dalam pemberian nutrisi dan unsur hara yang
dikandung.Penambahan tinggi tanaman terjadi karena adanya peristiwa pembelahan
sel yang didominasi pada pucuk, dimana unsur hara yang diserap oleh tanaman
akan mengaktifkan sel meristem pada ujung batang.
Jumlah
Anakan Produktif (Batang)
Dari
hasil analisa sidik ragam (ansira) pada perlakuan uji berbagai varietas secara
tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan produktif.
Sedangkan perlakuan pupuk agrobost secara tunggal tidak memberikan pengaruh
yang nyata terhadap jumlah anakan produktif, demikian juga dengan perlakuan
secara interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan
produktif.Rata-rata jumlah anakan produktif setelah diuji dengan uji lanjut BNJ
pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.
Rerata Jumlah Anakan Produktif Tanaman
Padi Sawah dengan Uji Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Agrobost
|
Faktor V
(Varietas)
|
Faktor A
(Pupuk Agrobost)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
V1
|
5.67
|
6.56
|
6.33
|
5.33
|
5.97a
|
|
V2
|
7.56
|
7.44
|
8.22
|
7.44
|
7.67a
|
|
V3
|
3.56
|
3.44
|
4.00
|
3.56
|
3.64b
|
|
Rerata
|
5.59
|
5.81
|
6.19
|
5.44
|
-
|
|
KK =
22,23%
BNJ V = 3,92
|
|||||
Angka –
angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak
berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji
lanjut BNJ.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa perlakuan berbagaivarietas
secara tunggal memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah anakan tanaman padi
sawah. Anakan produktif yang tertinggi yaitu varietas V2 (7,67 anakan),
sedangkan yang terendah adalah varietas
V3 (3,64 anakan). Nilai V2 tidak berbeda nyata dengan V1 dan berbeda
nyata dengan V3).Hal ini diduga oleh kemampuan masing-masing varietas dalam
beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya serta faktor genetiknya.Dimana
penelitian ini menggunakan varietas unggul yang sifatnya mempunyai daya tumbuh
yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Yatim (1991) bahwa setiap gen
dari tanaman itu sendiri memiliki pekerjaan sendiri-sendiri untuk menumbuhkan
dan mengatur berbagai jenis karakter dalam tubuh tanaman. Varietas merupakan
kelompok tanaman dalam jenis atau spesies tertentu yang dapat dibedakan dari
kelompok lain berdasarkan suatu sifat atau sifat-sifat tertentu.
Berdasarkan deskripsi untuk tanaman padi varietas batang piaman
dapat mencapai anakan produktif 14-19 batang,varietas PB-42 anakan produktif
20-25 batangdan ciherang anakan produktif 20-25 batangdibandingkan dengan
penelitian ini didapati anakan produktif lebih rendah dari deskripsi, hal ini
diduga karena pengaruh jarak tanam yang terlalu dekat yang menyebabkan pembentukan
anakan terganggu. Sesuai dengan pendapat Hasyim (2000) bahwa sebagian anakan
yang telah mencapai batas maksimum akan berkurang karena pertumbuhan yang lemah
bahkan mati. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya disebabkan
karena persaingan antara anakan, saling terlindungi, kekurangan nitrogen dan
juga jarak tanam.
Perlakuan pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang
tidak nyata terhadap anakan produktif. Hal ini diduga karena dosis pupuk yang
diberikan belum optimal sehingga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
anakan produktif tanaman padi dan kurangnya akan unsur hara, hal ini terlihat
pada perlakuan A0 (kontrol). Selain dari pemberian dosis, waktu pemberian pupuk
juga mempengaruhi jumlah anakan produktif.Pemupukan lewat daun yang paling
optimal dilakukan adalah pada pagi hari pukul 08.00-10.00 karena penyerapan
pupuk melalui daun dilakukan oleh tanaman pada saat stomata sedang membuka
sempurna (Sarmono dan Sigit, 2001).
Umur
Berbunga (Hari)
Dari
hasil analisa sidik ragam (ansira) pada perlakuan uji berbagai varietas dan
pemberian pupuk agrobost baik secara tunggal maupun secara interaksi memberikan
pengaruh yang nyataterhadap umur berbunga.Rata-rataumur berbunga setelah diuji
lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel. 3. Rerata Umur Berbunga
Tanaman padi sawah dengan Uji Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Agrobost
|
Faktor V
(Varietas)
|
Faktor A
(Pupuk Agrobost)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
V1
|
74.67bcd
|
77.67bcd
|
71.33ab
|
75.67bcd
|
74.83b
|
|
V2
|
81.33cd
|
76.00bcd
|
77.00bcd
|
78.33cd
|
78.17c
|
|
V3
|
72.33bc
|
71.00ab
|
65.00a
|
72.67bc
|
70.25a
|
|
Rerata
|
76.11b
|
74.89ab
|
71.11a
|
75.56b
|
-
|
|
KK =
3,23% BNJ V=3,81 BNJ A=3,12 BNJ VA=7,08
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda
nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dari
tabel di atas dapat dilihat bahwaperlakuan berbagai varietas memberikan
pengaruh nyata terhadap umur berbunga. Varietas yang paling cepat muncul bunga
yaitu V3 (70,25 hari) dan yang lambat berbunga yaitu V2 (78,17 hari). Nilai V3
berbeda nyata dengan V1 (74,83 hari) dan V2 (78,17).Adanya perbedaan umur
berbunga dipengaruhi oleh faktor genetik masing-masingtanaman itu sendiri
karena varietas yang digunakan adalah varietas unggul.Setiap varietas
menampakkan ketanggapan dalam mengeluarkan malai. Faktor lain yang mempengaruhi
umur berbunga yaitu faktor lingkungan seperti tanah,pemupukan, jarak tanam.Hal
ini sesuai dengan pendapat Las, Makarim, Hidayat dan Manwan (1991) bahwa faktor
lingkungan seperti tanah dan iklim sangat dominan mempengaruhi pertumbuhan
tanaman dilapangan.
AAK
(1990) menambahkan proses pembungaan juga dipengaruhi oleh intensitas
penyinaran dan keadaan awan. Cahaya merupakan pendorong untuk membuka bunga
tanaman padi, sedangkan organ generatifnya sudah terbentuk dari fase vegetatif dan itu juga merupakan
pembawa masing-masing varietas (Partahardjono, 1980).
Perbedaan
umur berbunga antar varietas sangat dipengaruhi oleh sifat genetik dari
masing-masing benih. Sifat genetik benih yaitu nonpreferensi (ketidaksukaan),
antibiosis dan toleran menunjukkan terhadap serangan hama yang berbeda
(Mugnisyah, 1998). Bila varietas yang digunakan dari varietas yang sama maka
umur berbunga tidak akan berpengaruh
nyata antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lainnya. Jika tanaman yang
berasal dari varietas yang sama akan cenderung mempunyai sifat yang sama pula
(Lakitan, 2007).
Perlakuan
pupuk agrobost secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur
muncul bunga pada tanaman padi. Hal ini disebabkan pupuk yang diberikan telah
termanfaatkan secara optimal oleh tanaman padi sehingga menyebabkan perbedaan
umur berbunga.Ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman.Jenis dan jumlah
unsur hara pada dasarnya harus tesedia dalam keadaan cukup dan berimbang agar
tanaman dapat tumbuh dengan baik (Hakim, et.
al., 1986).
Perlakuan beberapa varietas dan pemberian
pupuk agrobost secara interaksi menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap umur
berbunga tanaman padi.Hal ini disebabkan karena terjadinya interaksi antara
varietas dengan aplikasi pemupukan tanaman padi sehingga mempengaruhi umur
berbunga tanaman padi.
Pembungaan
merupakan fenomena fisiologi yang terjadi tidak sederhana, dimana perubahan
fase vegetatif menjadi generatif merupakan perubahan yang sangat besar karena
perbedaan struktur jaringannya. Perubahan ini merupakan cerminan dari pemacuan
kelompok gen tertentu yang berperan dalam pembungaan. Tanaman akan menghasilkan
bunga ditentukan oleh zat cadangan makanan, sifat tanaman dan faktor
lingkungan. Selain itu suatu tanaman berbunga juga dipengaruhi oleh varietasnya
(Lakitan, 2007).
Umur
Panen (Hari)
Dari
hasil analisa sidik ragam (ansira) pada perlakuan uji berbagai varietas dan
pemberian pupuk agrobost baik secara tunggal maupun secara interaksi memberikan
pengaruh yang nyata terhadap umur panen.Rata-rata umur panen setelah diuji
lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rerata Umur PanenTanaman
Padi Sawah dengan Uji Berbagi Varietas dan
Pemberian Pupuk Agrobost.
|
Faktor V (Varietas)
|
Faktor A
(Pupuk Agrobost)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
V1
|
106.33bc
|
104.00ab
|
104.67ab
|
104.67ab
|
104.92a
|
|
V2
|
110.00d
|
110.33d
|
109.33cd
|
109.33cd
|
109.75a
|
|
V3
|
105.33ab
|
105.67abc
|
102.33a
|
102.33a
|
103.92a
|
|
Rerata
|
107.22b
|
106.67ab
|
105.44a
|
105.44a
|
-
|
|
KK =
1,06% BNJ V=9,78 BNJ A=1,44 BNJ VA=3,83
|
|||||
Angka
–angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak
berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dari
tabel di atas dapat dilihat bahwa perlakuan berbagai varietas secara tunggal
memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen. Perlakuan terbaik terdapat
pada V3 yaitu (103,92 hari) merupakan tanaman padi yang paling cepat dipanen,
hal ini sejalan dengan muncul umur bunga, selanjutnya V1 yaitu (104,92 hari)
dan V2 yaitu (109,75 hari) merupakan tanaman padi yang paling lambat dipanen.
Dimana varietas V3 menunjukkan umur malai keluar lebih cepat dan itu merupakan
pertanda bahwa umur panen yang lebih cepat.Hal ini disebabkan karena faktor
genetik dari tanaman itu sendiri yang mampu bersaing dalam mengeluarkan malai
yang lebih cepat.
Menurut
deskripsi lampiran dari masing-masing varietas umur panen tanaman padi V1 yaitu
100-117 hari, V2 yaitu 135-145 hari dan V3 yaitu 110-120 hari.Pada penelitian
ini V2 dan V3 umur panennya lebih cepat dari umur panen yang tertera pada
deskripsinya, hal ini diduga karena faktor genetik yang menunjukkan umur panen
yang berlainan serta pengaruh umur berbunga yang lebih cepat sehingga
mempengaruhi umur panen tanaman padi.
Menurut
Sumarno dan Harnoto (1983) bahwa cepat atau lambatnya tanaman dipanen
dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain sifat genetik tanaman, temperatur,
curah hujan dan intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman.
Perlakuan
pemberian pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang nyata
terhadap umur panen tanaman padi. Hal ini disebabkan karena kandungan
unsur hara P yang ada dalam pupuk agrobost dapat memenuhi kebutuhan
untuk pertumbuhan tanaman padi. Jika unsur P diberikan dalam jumlah yang cukup
maka akan mempengaruhi umur panen tanaman.
Menurut
Lingga dan Marsono (2011) bahwa Fospor merupakan unsur makro yang berfungsi sebagai
bahan mentah untuk pembentukan sejumlah protein tertentu : membantu asimilasi
dan pernafasan, serta mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah.
Perlakuan
beberapa varietas dan pemberian pupuk agrobost secara interaksi memberikan
pengaruh yang nyata terhadap umur panen tanaman padi. Hal ini disebabkan karena
terjadinya interaksi antara varietas dengan aplikasi pemupukan tanaman padi
sehingga mempengaruhi umur panen tanaman padi serta faktor lingkungan yang
saling mendukung dalam mempercepat proses pematangan buah.
Menurut
Partohardjono (1980) mengatakan lamanya pertumbuhan vegetatif memberikan
kesempatan pada tanaman untuk menumpuk hasil fotosintesis lebih besar dan
kemungkinan memperpanjang umur panen, bila faktor lingkungan seperti cahaya,
suhu dan air yang saling menunjang.Jumin (1978) menambahkan umur suatu tanaman
ditentukan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.
Berat
Gabah Perumpun (gram)
Dari
hasil analisa sidik ragam (ansira) menunjukkan perlakuan berbagai varietas
memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat gabah perumpun.Sedangkan
perlakuan pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang tidak nyata
terhadap berat gabah perumpun, demikian juga dengan perlakuan interaksi
berbagai varietas dan pemberian pupuk agrobost.Rata-rata berat gabah perumpun
setelah diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5.
Rerata Berat Gabah Perumpun Tanaman Padi Sawah dengan Uji Berbagai Varietas dan
Pemberian Pupuk Agrobost
|
Faktor V
(Varietas)
|
Faktor A
(Pupuk Agrobost)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
V1
|
21.89
|
21.11
|
19.22
|
18.44
|
20.17a
|
|
V2
|
18.89
|
19.78
|
21.78
|
21.89
|
20.58a
|
|
V3
|
9.11
|
9.44
|
11.78
|
10.11
|
10.11b
|
|
Rerata
|
16.63
|
16.78
|
17.59
|
16.81
|
-
|
|
KK
=16,03% BNJ V = 4,09
|
|||||
Angka –
angka pada baris dan kolom yang diikuti
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji
Lanjut BNJ
Dari
tabel di atas dapat dilihat bahwa perlakuan berbagai varietas secara tunggal
memberikan pengaruh nyata terhadap berat gabah perumpun.Berat gabah yang
terbaik adalah pada varietas V2 yaitu 20,58gram, selanjutnya V1 yaitu 20,17
gram dan V3 yaitu10,11 gram. Perlakuan V3 (10,11 gram) berbeda nyata V1 (20,58
gram) dan V2 (20,17 gram). Hal ini disebabkan karena faktor genetik dari
tanaman itu sendiri dan kemampuan masing-masing varietas juga dalam beradaptasi
dengan lingkungan tumbuhnya. Apabila varietas yang digunakan adalah varietas
yang sama maka berat biji tanaman tidak akan berpengaruh nyata antara tanaman
yang satu dengan tanaman yang lain. Karena tanaman yang berasal dari varietas
yang sama akan cenderung mempunyai sifat yang sama pula (Lakitan, 2007).
Berdasarkan
tabel di atas berat gabah sejalan dengan jumlah anakan produktif, semakin
banyak jumlah anakan produktif maka akan semakin berat gabah perumpun.
Berpengaruhnya berat gabah perumpun ini disertai dengan pertumbuhan vegetatif
dan generatifnya yaitu jumlah anakan produktif, umur berbunga dan umur panen
sehingga memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat gabah perumpunnya.
Perlakuan
pemberian pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang tidak nyata
terhadap berat gabah perumpun. Berat gabah yang terberat terdapat pada A2
(17,59 gr) dan paling sedikit terdapat pada A0 (16,63 gr). Hal ini disebabkan
karena kandungan unsur Kalium (K) yang
ada pada pupuk agrobost belum mampu mencukupi kebutuhan unsur hara bagi
pertumbuhan tanaman padi sehingga berat gabah perumpun tidak berbeda nyata.
Unsur
Kalium (K) yang diserap oleh tanaman berperan dalam pembentukan protein,
karbohidrat, memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah
gugur serta merupakan sumber kekuatan tanaman dalam menghadapi kekeringan dan
penyakit (Marsono dan Lingga, 2011).
Perlakuan
beberapa varietas dan pemberian pupuk biologi agrobost secara interaksi
menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap berat gabah perumpun.Hal ini
disebabkan oleh kekurangan unsur hara dalam pembentukan biji terutama unsur
hara Kalium serta varietas yang digunakan adalah varietas unggul yang sangat
respon terhadap pemupukan sehingga menyebabkan tidak berpengaruh nyata terhadap
berat gabah perumpun.
Menurut
AAK (1989) bahwa berat biji dapat dipengaruhi oleh lingkungan selama
pembentukkan biji, namun yang lebih mempenngaruhi oleh faktor genetik dan
dipengaruhi oleh organ-organ pertumbuhan tanaman.
KESIMPULAN
1.
Perlakuan berbagai varietas (V) secara tungggal memberikan pengaruh yang nyata
terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman, anakan produktif, umur berbunga,
umur panen dan berat gabah perumpun.
2.
Pemberian perlakuan pupuk agrobost (A) secara tunggal memberikan pengaruh yang
nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman, umur berbunga dan umur
panen.
3.
Perlakuan secara interaksi berbagai varietas dan pupuk agrobost (VA) memberikan
pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman dan umur
panen.
DAFTAR
PUSTAKA
Aksi Agraris Kanisius, 1990. Budaya
Tanaman Padi, Kanisius , Yogyakarta.
Badan Pengendali Bimas, Wereng
dan Virus Padi, Indonesia, 1975.
Bittner.A,
1988.Ekologi Tanaman. Yayasan Obra
Jakarta.
Dinas
Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi, 2009. Laporan Tahunan Produksi Padi
Sawah.
Dinas
Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi, 2010. Laporan Tahunan Produksi Padi
Sawah.
Gunarto,
L. 2009. Penemu Pupuk Agrobost.
Bogor.
Giri Sonta, 1990. Budaya Tanaman Padi, Kanisius, Yogyakarta.
Hakim, N, M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G.
Nugroho, M. R. Saul, M. A. Dika dan H. M. Bailey, 1986.Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.
Hafsah, M. dan Sudaryanto, T. 2004. Ekonomi Padi dan Beras Indonesia.Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta
Selatan.606 Halaman.
Iskandar. D. 2003. Pengaruh Dosis Pupuk N, P, dan K Terhadap Pertumbuhan dan Produksi
Tanaman Jagung Manis Di lahan Kering. J. Saint dan Teknologi BPPT, Vol
2:1-5.
Iswanto, H , 2002. Petunjuk Praktis Merawat Anggrek. Agro
Media. Jakarta.
Jumin, H. B, 1992. Ekofisiologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers.
Jakarta.
Kartasapoetra,
A.G,.1991. Budidaya Tanaman Pangan di Derah Tropik. Bina Aksara,
Jakarta
Lakitan.B, 2007.Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan, Penerbit Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 205 halaman.
Las, AK.Makarim, A. Hidayat, A. Syarifuddin
K. dan Manwan I, 1991.Peta Agroklimat
Utama Tanaman Pangan di Indonesia. Pusbalitbangtan. Bogor.
Lingga, P dan Marsono,
2011.Petunjuk Penggunaan Pupuk,
Penebar Swadaya, Jakarta.
Mugnisyah, W .Q., 1998. Teknologi Benih. Universitas
terbuka.Depdikbud. Jakarta.
Muhadjir, F., Darmaijati S., dan Ratna F,
1989.Peranan Pupuk Daun dan Zat Pengatur
Tumbuh Pada Tanaman Pangan.Dalam Seminar Aplikasi dan Konservasi Lingkungan
Agrokimia.IPB. Bogor.
Okalia, D. 2011. Pembuatan dan Pemamfaatan Pupuk Organik Titonia (Tithonia
diversifolia) Plus Untuk Pengendalian Keracunan Besi dan Penyediaan Hara Padi
Sawah Bukaan Baru.Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Andalas. Padang.
150 Halaman.
Partohardjono, 1980.Morfologi dan Fisiologi Padi.Puslitbangtan. Bogor.
Pitojo, S, 2006, Budidaya Padi Sawah Tabela, Jakarta. Penebar Swadaya.
Prasetyo, 2006, Bertanam Padi Gogo Tanpa Olah Tanah,
Jakarta. Penebar Swadaya.
Rinsema W.J. 1983. Pupuk dan Cara Pemupukan. Bharatama Karya Aksara. Jakarta.
Sarmono dan P. Sigit.2001. Pupuk Akar Jenis
dan Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar.H, 1981.Budidaya Tanaman Padi Di Indonesia.Departemen Pertanian dan Kebudayaan
Jakarta.
Subandi, B. Prabowo dan F. Muhadjir, 1990.Penggunaan Pupuk Cair dan Zat Pengatur
Tumbuh Pada Tanaman Pangan.Prosiding Lokakarya Nasional Efesiensi
Penggunaan Pupuk. Cisarua 12-13 November 1990. Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat.
Sugeng, 2011.Bercocok Tanam Padi, CV. Aneka Ilmu Anggota IKAPI, Semarang.
Sumarno dan Hartono, 1983.Kedelai dan Cara Bercocok Tanam.
BuletinTeknik No. 6. Puslitbangtan Bogor.
Suparyono, 1993.PADI.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Suparyono dan Setyono,
1997.PADI. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar