Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 2 No. 2, Oktober 2012 HAL 19-26


UJI BERBAGAI VARIETAS DAN PEMBERIAN PUPUK AGROBOST TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa. L)


Tri Nopsagiarti
Program Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Telp : 081276859849 Teluk Kuantan, Riau.

ABSTRACT

Research conducted at the Screen Inuman Market Village District Inuman Kuantan District Singingi. Time this study was 5 months from January to May 2012. This research used Completely Randomized Design (CRD) in factorial consisting of 2 factors: factor V (varieties of rice plants) consists of 3 levels: V1 = Trunk Piaman varieties, varieties PB-V2 = 42, V3 = Ciherang. A factor (fertilizer Agrobost) Consist 4 levels, A0 = Without treatment / control, A1 = 1% Agrobost Fertilizer, A2 = 1.5% Agrobost Fertilizer, A3 = 2% Agrobost Fertilizer. Each treatment consisted of 3 replicates. To determine the growth and production of the rice crop was observed with the following parameters: plant height, number of productive tillers, flowering, harvesting, grain weight. Then the data - the data were analyzed statistically, and if F calculated is greater than F table, then proceed to Test Advanced Honestly Significant Difference (HSD) at the level of 5%. The results showed that a single treatment of the various varieties significantly affect the parameters of plant height, productive tillers, flowering, harvesting and grain weight perumpun, whereas treatment singly Agrobost fertilizer significantly affect the parameters plant height, days to flowering and harvesting. The treatment is the interaction of various varieties and fertilizer Agrobost significantly affect plant height observations, flowering and harvesting.
Keyword : Agrobost, rice, fertilizer



PENDAHULUAN

Padi (Oryza sativa.L) merupakan salah satu tanaman makanan pokok Bangsa Indonesia.Perjalanan Bangsa Indonesia dalam pengadaan padi sebagai penghasil beras sangat berliku, yang akhirnya dapat berswasembada beras pada tahun 1984.Menurut Hafsah dan Sudaryanto (2004) dalam periode1968-1984 produksi beras meningkat dengan laju rata-rata 5% pertahun.Produktivitas padi sawah Indonesia saat itu adalah yang tertinggi di Asia Tenggara dan Asia Selatan.Keadaan tersebut tentunya perlu dipertahankan oleh bangsa Indonesia.
Jumlah penduduk Indonesia yang semakin bertambah menjadi masalah dalam pengadaan beras. Dilihat daritingkat konsumsi beras per kapita penduduk Indonesia pada tahun 1984 mencapai 117/kg/tahun. Sementara pada tahun 2002 tingkat konsumsi beras per kapita sudah mencapai sekitar 155 kg/orang/tahun. Adanya pertambahan penduduk dan naiknya konsumsi per kapita akan meningkatkan konsumsi beras nasional. Dilihat dari angka konsumsi nasional pada tahun 1984 mencapai 25,835 juta ton dan pada tahun 1998 sudah mencapai 32,3 juta ton. Sedangkan pada tahun 2010 konsumsi beras diproyeksikan mencapai 37,31 juta ton. Dengan angka sebesar itu diproyeksikan pula





pada tahun tersebut akan terjadi defesit beras sebesar 6,32 juta ton (Prasetyo, 2006).
Kebutuhan pangan khususnya beras di Kabupaten Kuantan Singingisetiap tahunnya terus meningkat seiring denganmeningkatnya jumlah penduduk.Sementara itu peningkatan produksi tanaman pangan tidak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk sehingga produksi belum mampu mencukupi kebutuhan terutama untuk kebutuhan beras. Pada tahun 2009 Kabupaten Kuantan Singingi memproduksi beras sebanyak 26.232,04 ton,sedangkan kebutuhan beras Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 36.58350 ton, jadi kekurangan beras di Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 28,30% atau 10.351,45 ton. Sedangkan pada tahun 2010 memproduksi beras sebanyak 44.132,83 ton sementara kebutuhan beras sebanyak 46,264,91 ton(Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi, 2010).
Adapun upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi padi dalam menghadapi tantangan yang cukup berat karena semakin berkurangnya lahan sawah yang produktif, terbatasnya lahan subur, saluran irigasi banyak yang rusak dan tidak berfungsi dan keadaan iklim yang tidak menentu serta serangan hama/penyakit muncul sewaktu-waktu sehingga sering terjadi kegagalan panen, maka perlu adanya penggunaan benih varietas unggul dalam budidayanya, pengolahan tanah yang baik, pengaturan jarak tanam serta menggunakan pupuk yang teratur dan sesuai gunanya untuk mendukung ketahanan pangan serta untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam meningkatkan produksi pangan, cara ini lebih aman dan ramah lingkungan.
Penggunaan varietas unggul dapat mendukung ketahanan pangan serta mengatasi berbagai masalah dalam meningkatkan produksinya.Khususnya di Kabupaten Kuantan Singingi penggunaan varietas unggul masih tergolong rendah karena pada umumnya varietas padi unggul rasa nasinya pulen.Sebagian masyarakat kurang menyukai beras pulen.Namun kelebihan varietas unggul adalah produksinya tinggi dan umur panennya lebih singkat.Sehingga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan beras penggunaan varietas unggul merupakan salah satu solusinya.
Selain penggunaan varietas unggul, pemupukan juga satu cara untuk meningkatkan produksi padi. Pemupukan akan dapat menambah atau mencukupi hara yang dibutuhkan tanaman agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang serta berproduksi seperti yang diharapkan. Salah satu pupuk yang dapat digunakan adalah penggunaan pupuk organik.Pupuk organik mengandung bahan organik yang sangat penting yang berperanan dapat memperbaiki struktur tanah, sifat fisik tanah dan sebagai persediaan unsur hara bagi tanaman (Yuliarti, 2009).
Pupuk agrobost merupakan salah satu pupuk organik yang berbentuk cair yang dapat langsung dimamfaatkan oleh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan subur dan meningkatkan produksi.Pupuk agrobost merupakan pupuk yang ramah lingkungan karena tidak mengandung logam berat seperti Ag, As, Pb, Hg, Cd dan mikroba pathogen. Mikroba yang terkandung dalam pupuk ini sanggup menghasilkan kandungan N yang diserap dari udara sebesar 100 kg, P sebanyak 50 kg, dan K sebanyak 50 kg, sehingga unsur hara tanaman dapat tercukupi atau bertambah (Gunarto, 2009). Adapun tujuan pemupukan  yaitu: a) mengisi pembekalan zat makanan yang cukup, b) memperbaiki atau memelihara kebutuhan kondisi tanah.  Dalam hal struktur, kondisi derajat keasaman, serta pengikat terhadap zat makanan tanaman dan sebagainya  (Rinsema W.J, 1983).



Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1.     Untuk mengetahui uji berbagai varietas padi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa. L).
2.     Untuk mengetahui uji pemberian pupukagrobost terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa. L).
3.     Untuk mengetahuiinteraksiuji berbagai varietas dan pemberian pupuk Agrobost terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa. L).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di rumah kasa Desa Pasar Inuman Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan, dimulai dari Januari sampai Mei 2012.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi varietas batang Piaman, PB42, Ciherang, pupuk Agrobost, dan insektisida Diazinon 60 EC.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ember ukuran 30 cm, timbangan analitik, baskom, kayu, paku kawat, cangkul, sabit, kamera digital, meteran, handsprayer dan alat tulis lainnya.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) secara faktorial terdiri dari 2 faktor.Faktor pertama adalah faktor V (varietas) tanaman padi yang terdiri dari 3 taraf dan faktor ke dua adalah faktor A (pupuk Agrobost) yang terdiri dari 4 taraf.

Faktor V (Varietas tanaman padi) terdiri dari 3 taraf:
V1  =Varietas Batang Piaman
V2=Varietas PB42
V3 =Varietas Ciherang

Faktor A (pemberian pupuk Agrobost) terdiri dari 4 taraf:
A0 = Tanpa pemberian pupuk Agrobost
A1= Pemberian pupuk Agrobost  =  1 %
A2 = Pemberian pupuk Agrobost  =  1,5 %
A3 = Pemberian pupuk Agrobost  =  2 %

Data hasil pengamatan masing-masing perlakuan dianalisis secara statistik dan apabila F hitung lebih besar dari F tabel, maka dilanjutkan dengan uji lanjut BedaNyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
Dari hasil analisa sidik ragam (ansira) pada perlakuan uji berbagai varietas dan perlakuan pupuk agrobost baik secara tunggal maupun secara interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman.Rata-rata tinggi tanaman setelah diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman Padi Sawah dengan Uji Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Agrobost
Faktor V (Varietas)
Faktor A (Pupuk Agrobost)
Rerata

A0
A1
A2
A3
V1
91.53abcd
97.28abc
93.08abcd
95.38abcd
94.32a
V2
91.79abcd
103.21ab
100.51abc
103.90a
99.85a
V3
83.60e
77.53e
88.08cde
89.09cde
84.58b
Rerata
88.97b
92.67ab
93.89ab
96.12a
-
KK = 5,40%            BNJ V = 7,57     BNJ A=6,16               BNJ VA=14,02
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa perlakuan berbagivarietas secara tunggal menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman padi sawah.Tanaman yang tertinggi yaitu varietas V2 (99,85 cm) dan yang terendah varietas V3 (84,58 cm). Nilai V2 tidak berbeda nyata dengan V1 dan berbeda nyata dengan V3 (84,58 cm). Hal ini disebabkan oleh faktor genetik tanaman itu sendiri, dimana varietas yang digunakan adalah varietas unggul yang mempunyai daya tumbuh biji yang cukup tinggi yang mengakibatkan pertumbuhannya lebih cepat serta kemampuan masing - masing varietas beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya. Hal ini sesuai dengan pendapat (Siregar, 1981) bahwa   tinggi tanaman adalah faktor genetik dari tanaman itu sendiri.
Perlakuan pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman. Tanaman yang paling tinggi adalah pada perlakuan A3 (konsentrasi 2% Agrobost) yaitu 96,12 cm,). Tingginya tanaman pada perlakuan A3 disebabkan karena pemberian volume pupuk agrobost lebih banyak dari perlakuan lainnya, sedangkan yang terendah adalah pada perlakuan A0(kontrol) yaitu 88,97 cm.Hal ini disebabkan karena unsur N yang dihasilkan oleh bakteri Azotobakter, sp mampumencukupi untuk pertumbuhan tinggi tanaman. Bakteri Azotobakter, sp merupakan mikroorganisme yang berfungsi dalam mengikat bebas unsur N yang ada di alam bebas sehingga kebutuhan unsur N dalam pertumbuhan tanaman terpenuhi (Gunarto, 2009).
Menurut Sutedjo (2008) bahwa fungsi unsur N adalah untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, menyehatkan pertumbuhan daun, tanaman menjadi lebar dengan warna yang lebih hijau, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan, meningkatkan perkembangan mikro organisme di dalam tanah. Kekurangan unsur N menyebabkan warna daun hijau kekuning-kuningan selanjutnya berubah menjadi kuning lengkap.Jaringan mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan. Pada tanaman dewasa pertumbuhan yang terhambat ini akan berpengaruh pada pembuahan yang mengakibatkan buah tidak sempurna, umumnya kecil-kecil dan cepat matang (Sutedjo, 2010).
Perlakuan beberapa varietas dan pemberian pupuk agrobost secara interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman. Tanaman yang tertinggi adalah perlakuan V2A3 (103,90 cm) dan yang terendah adalah perlakuan V3A1 (77,53 cm).Hal ini disebabkan karena varietas yang digunakan adalah varietas unggul dimana varietas unggul sangat respon terhadap pemupukan. Iskandar (2003) menyatakan tanaman akan tumbuh dengan baik apabila unsur yang tersedia cukup untuk pertumbuhan tanaman. Pemberian nutrisi merupakan salah satu untuk memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman, tujuan ini baru akan tercapai apabila memperhatikan konsentrasi dalam pemberian nutrisi dan unsur hara yang dikandung.Penambahan tinggi tanaman terjadi karena adanya peristiwa pembelahan sel yang didominasi pada pucuk, dimana unsur hara yang diserap oleh tanaman akan mengaktifkan sel meristem pada ujung batang.

Jumlah Anakan Produktif (Batang)
Dari hasil analisa sidik ragam (ansira) pada perlakuan uji berbagai varietas secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan produktif. Sedangkan perlakuan pupuk agrobost secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan produktif, demikian juga dengan perlakuan secara interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan produktif.Rata-rata jumlah anakan produktif setelah diuji dengan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Rerata Jumlah Anakan Produktif  Tanaman Padi Sawah dengan Uji Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Agrobost
Faktor V (Varietas)
Faktor A (Pupuk Agrobost)
Rerata

A0
A1
A2
A3
V1
5.67
6.56
6.33
5.33
5.97a
V2
7.56
7.44
8.22
7.44
7.67a
V3
3.56
3.44
4.00
3.56
3.64b
Rerata
5.59
5.81
6.19
5.44
-
KK = 22,23%                                                         BNJ V = 3,92
Angka – angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut  uji lanjut BNJ.


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa perlakuan berbagaivarietas secara tunggal memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah anakan tanaman padi sawah. Anakan produktif yang tertinggi yaitu varietas V2 (7,67 anakan), sedangkan yang terendah adalah varietas  V3 (3,64 anakan). Nilai V2 tidak berbeda nyata dengan V1 dan berbeda nyata dengan V3).Hal ini diduga oleh kemampuan masing-masing varietas dalam beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya serta faktor genetiknya.Dimana penelitian ini menggunakan varietas unggul yang sifatnya mempunyai daya tumbuh yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Yatim (1991) bahwa setiap gen dari tanaman itu sendiri memiliki pekerjaan sendiri-sendiri untuk menumbuhkan dan mengatur berbagai jenis karakter dalam tubuh tanaman. Varietas merupakan kelompok tanaman dalam jenis atau spesies tertentu yang dapat dibedakan dari kelompok lain berdasarkan suatu sifat atau sifat-sifat tertentu.
Berdasarkan deskripsi untuk tanaman padi varietas batang piaman dapat mencapai anakan produktif 14-19 batang,varietas PB-42 anakan produktif 20-25 batangdan ciherang anakan produktif 20-25 batangdibandingkan dengan penelitian ini didapati anakan produktif lebih rendah dari deskripsi, hal ini diduga karena pengaruh jarak tanam yang terlalu dekat yang menyebabkan pembentukan anakan terganggu. Sesuai dengan pendapat Hasyim (2000) bahwa sebagian anakan yang telah mencapai batas maksimum akan berkurang karena pertumbuhan yang lemah bahkan mati. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya disebabkan karena persaingan antara anakan, saling terlindungi, kekurangan nitrogen dan juga jarak tanam.
Perlakuan pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap anakan produktif. Hal ini diduga karena dosis pupuk yang diberikan belum optimal sehingga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap anakan produktif tanaman padi dan kurangnya akan unsur hara, hal ini terlihat pada perlakuan A0 (kontrol). Selain dari pemberian dosis, waktu pemberian pupuk juga mempengaruhi jumlah anakan produktif.Pemupukan lewat daun yang paling optimal dilakukan adalah pada pagi hari pukul 08.00-10.00 karena penyerapan pupuk melalui daun dilakukan oleh tanaman pada saat stomata sedang membuka sempurna (Sarmono dan Sigit, 2001).


Umur Berbunga (Hari)
Dari hasil analisa sidik ragam (ansira) pada perlakuan uji berbagai varietas dan pemberian pupuk agrobost baik secara tunggal maupun secara interaksi memberikan pengaruh yang nyataterhadap umur berbunga.Rata-rataumur berbunga setelah diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 3.




Tabel. 3. Rerata Umur Berbunga Tanaman padi sawah dengan Uji Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Agrobost
Faktor V (Varietas)
Faktor A (Pupuk Agrobost)
Rerata
A0
A1
A2
A3
V1
74.67bcd
77.67bcd
71.33ab
75.67bcd
74.83b
V2
81.33cd
76.00bcd
77.00bcd
78.33cd
78.17c
V3
72.33bc
71.00ab
65.00a
72.67bc
70.25a
Rerata
76.11b
74.89ab
71.11a
75.56b
-
KK = 3,23%             BNJ V=3,81            BNJ A=3,12          BNJ VA=7,08
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwaperlakuan berbagai varietas memberikan pengaruh nyata terhadap umur berbunga. Varietas yang paling cepat muncul bunga yaitu V3 (70,25 hari) dan yang lambat berbunga yaitu V2 (78,17 hari). Nilai V3 berbeda nyata dengan V1 (74,83 hari) dan V2 (78,17).Adanya perbedaan umur berbunga dipengaruhi oleh faktor genetik masing-masingtanaman itu sendiri karena varietas yang digunakan adalah varietas unggul.Setiap varietas menampakkan ketanggapan dalam mengeluarkan malai. Faktor lain yang mempengaruhi umur berbunga yaitu faktor lingkungan seperti tanah,pemupukan, jarak tanam.Hal ini sesuai dengan pendapat Las, Makarim, Hidayat dan Manwan (1991) bahwa faktor lingkungan seperti tanah dan iklim sangat dominan mempengaruhi pertumbuhan tanaman dilapangan.
AAK (1990) menambahkan proses pembungaan juga dipengaruhi oleh intensitas penyinaran dan keadaan awan. Cahaya merupakan pendorong untuk membuka bunga tanaman padi, sedangkan organ generatifnya sudah terbentuk  dari fase vegetatif dan itu juga merupakan pembawa masing-masing varietas (Partahardjono, 1980).
Perbedaan umur berbunga antar varietas sangat dipengaruhi oleh sifat genetik dari masing-masing benih. Sifat genetik benih yaitu nonpreferensi (ketidaksukaan), antibiosis dan toleran menunjukkan terhadap serangan hama yang berbeda (Mugnisyah, 1998). Bila varietas yang digunakan dari varietas yang sama maka umur berbunga  tidak akan berpengaruh nyata antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lainnya. Jika tanaman yang berasal dari varietas yang sama akan cenderung mempunyai sifat yang sama pula (Lakitan, 2007).
Perlakuan pupuk agrobost secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul bunga pada tanaman padi. Hal ini disebabkan pupuk yang diberikan telah termanfaatkan secara optimal oleh tanaman padi sehingga menyebabkan perbedaan umur berbunga.Ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman.Jenis dan jumlah unsur hara pada dasarnya harus tesedia dalam keadaan cukup dan berimbang agar tanaman dapat tumbuh dengan baik (Hakim, et. al., 1986).
   Perlakuan beberapa varietas dan pemberian pupuk agrobost secara interaksi menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga tanaman padi.Hal ini disebabkan karena terjadinya interaksi antara varietas dengan aplikasi pemupukan tanaman padi sehingga mempengaruhi umur berbunga tanaman padi.
Pembungaan merupakan fenomena fisiologi yang terjadi tidak sederhana, dimana perubahan fase vegetatif menjadi generatif merupakan perubahan yang sangat besar karena perbedaan struktur jaringannya. Perubahan ini merupakan cerminan dari pemacuan kelompok gen tertentu yang berperan dalam pembungaan. Tanaman akan menghasilkan bunga ditentukan oleh zat cadangan makanan, sifat tanaman dan faktor lingkungan. Selain itu suatu tanaman berbunga juga dipengaruhi oleh varietasnya (Lakitan, 2007).

Umur Panen (Hari)

Dari hasil analisa sidik ragam (ansira) pada perlakuan uji berbagai varietas dan pemberian pupuk agrobost baik secara tunggal maupun secara interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen.Rata-rata umur panen setelah diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 4.



Tabel 4. Rerata Umur PanenTanaman Padi Sawah dengan Uji Berbagi Varietas               dan Pemberian Pupuk Agrobost.
                   Faktor V (Varietas)
Faktor A (Pupuk Agrobost)
Rerata
A0
A1
A2
A3
V1
106.33bc
104.00ab
104.67ab
104.67ab
104.92a
V2
110.00d
110.33d
109.33cd
109.33cd
109.75a
V3
105.33ab
105.67abc
102.33a
102.33a
103.92a
Rerata
107.22b
106.67ab
105.44a
105.44a
-
KK = 1,06%            BNJ V=9,78                  BNJ A=1,44             BNJ VA=3,83
Angka –angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa perlakuan berbagai varietas secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen. Perlakuan terbaik terdapat pada V3 yaitu (103,92 hari) merupakan tanaman padi yang paling cepat dipanen, hal ini sejalan dengan muncul umur bunga, selanjutnya V1 yaitu (104,92 hari) dan V2 yaitu (109,75 hari) merupakan tanaman padi yang paling lambat dipanen. Dimana varietas V3 menunjukkan umur malai keluar lebih cepat dan itu merupakan pertanda bahwa umur panen yang lebih cepat.Hal ini disebabkan karena faktor genetik dari tanaman itu sendiri yang mampu bersaing dalam mengeluarkan malai yang lebih cepat.
Menurut deskripsi lampiran dari masing-masing varietas umur panen tanaman padi V1 yaitu 100-117 hari, V2 yaitu 135-145 hari dan V3 yaitu 110-120 hari.Pada penelitian ini V2 dan V3 umur panennya lebih cepat dari umur panen yang tertera pada deskripsinya, hal ini diduga karena faktor genetik yang menunjukkan umur panen yang berlainan serta pengaruh umur berbunga yang lebih cepat sehingga mempengaruhi umur panen tanaman padi.
Menurut Sumarno dan Harnoto (1983) bahwa cepat atau lambatnya tanaman dipanen dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain sifat genetik tanaman, temperatur, curah hujan dan intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman.
Perlakuan pemberian pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap umur panen tanaman padi. Hal ini disebabkan karena  kandungan  unsur hara P yang ada dalam pupuk agrobost dapat memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan tanaman padi. Jika unsur P diberikan dalam jumlah yang cukup maka akan mempengaruhi umur panen tanaman.
Menurut Lingga dan Marsono (2011) bahwa Fospor merupakan unsur makro yang berfungsi sebagai bahan mentah untuk pembentukan sejumlah protein tertentu : membantu asimilasi dan pernafasan, serta mempercepat pembungaan, pemasakan biji dan buah.
Perlakuan beberapa varietas dan pemberian pupuk agrobost secara interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen tanaman padi. Hal ini disebabkan karena terjadinya interaksi antara varietas dengan aplikasi pemupukan tanaman padi sehingga mempengaruhi umur panen tanaman padi serta faktor lingkungan yang saling mendukung dalam mempercepat proses pematangan buah.
Menurut Partohardjono (1980) mengatakan lamanya pertumbuhan vegetatif memberikan kesempatan pada tanaman untuk menumpuk hasil fotosintesis lebih besar dan kemungkinan memperpanjang umur panen, bila faktor lingkungan seperti cahaya, suhu dan air yang saling menunjang.Jumin (1978) menambahkan umur suatu tanaman ditentukan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.

Berat Gabah Perumpun (gram)
Dari hasil analisa sidik ragam (ansira) menunjukkan perlakuan berbagai varietas memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat gabah perumpun.Sedangkan perlakuan pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap berat gabah perumpun, demikian juga dengan perlakuan interaksi berbagai varietas dan pemberian pupuk agrobost.Rata-rata berat gabah perumpun setelah diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 5.



Tabel 5. Rerata Berat Gabah Perumpun Tanaman Padi Sawah dengan Uji Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Agrobost
Faktor V (Varietas)
Faktor A (Pupuk Agrobost)
Rerata
A0
A1
A2
A3
V1
21.89
21.11
19.22
18.44
20.17a
V2
18.89
19.78
21.78
21.89
20.58a
V3
9.11
9.44
11.78
10.11
10.11b
Rerata
16.63
16.78
17.59
16.81
-
KK =16,03%         BNJ V = 4,09
Angka – angka pada baris dan kolom yang  diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa perlakuan berbagai varietas secara tunggal memberikan pengaruh nyata terhadap berat gabah perumpun.Berat gabah yang terbaik adalah pada varietas V2 yaitu 20,58gram, selanjutnya V1 yaitu 20,17 gram dan V3 yaitu10,11 gram. Perlakuan V3 (10,11 gram) berbeda nyata V1 (20,58 gram) dan V2 (20,17 gram). Hal ini disebabkan karena faktor genetik dari tanaman itu sendiri dan kemampuan masing-masing varietas juga dalam beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya. Apabila varietas yang digunakan adalah varietas yang sama maka berat biji tanaman tidak akan berpengaruh nyata antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain. Karena tanaman yang berasal dari varietas yang sama akan cenderung mempunyai sifat yang sama pula (Lakitan, 2007).
Berdasarkan tabel di atas berat gabah sejalan dengan jumlah anakan produktif, semakin banyak jumlah anakan produktif maka akan semakin berat gabah perumpun. Berpengaruhnya berat gabah perumpun ini disertai dengan pertumbuhan vegetatif dan generatifnya yaitu jumlah anakan produktif, umur berbunga dan umur panen sehingga memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat gabah perumpunnya.
Perlakuan pemberian pupuk agrobost secara tunggal menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap berat gabah perumpun. Berat gabah yang terberat terdapat pada A2 (17,59 gr) dan paling sedikit terdapat pada A0 (16,63 gr). Hal ini disebabkan karena kandungan  unsur Kalium (K) yang ada pada pupuk agrobost belum mampu mencukupi kebutuhan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman padi sehingga berat gabah perumpun tidak berbeda nyata.
Unsur Kalium (K) yang diserap oleh tanaman berperan dalam pembentukan protein, karbohidrat, memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur serta merupakan sumber kekuatan tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit (Marsono dan Lingga, 2011).
Perlakuan beberapa varietas dan pemberian pupuk biologi agrobost secara interaksi menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap berat gabah perumpun.Hal ini disebabkan oleh kekurangan unsur hara dalam pembentukan biji terutama unsur hara Kalium serta varietas yang digunakan adalah varietas unggul yang sangat respon terhadap pemupukan sehingga menyebabkan tidak berpengaruh nyata terhadap berat gabah perumpun.
Menurut AAK (1989) bahwa berat biji dapat dipengaruhi oleh lingkungan selama pembentukkan biji, namun yang lebih mempenngaruhi oleh faktor genetik dan dipengaruhi oleh organ-organ pertumbuhan tanaman.


KESIMPULAN

1. Perlakuan berbagai varietas (V) secara tungggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman, anakan produktif, umur berbunga, umur panen dan berat gabah perumpun.
2. Pemberian perlakuan pupuk agrobost (A) secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman, umur berbunga dan umur panen.
3. Perlakuan secara interaksi berbagai varietas dan pupuk agrobost (VA) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman dan umur panen.


DAFTAR PUSTAKA

Aksi Agraris Kanisius, 1990. Budaya Tanaman Padi, Kanisius , Yogyakarta.

Badan Pengendali Bimas, Wereng dan Virus Padi, Indonesia, 1975.

Bittner.A, 1988.Ekologi Tanaman. Yayasan Obra Jakarta.

Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi, 2009. Laporan Tahunan Produksi Padi Sawah.

Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi, 2010. Laporan Tahunan Produksi Padi Sawah.

Gunarto, L. 2009. Penemu Pupuk Agrobost. Bogor.
Giri Sonta, 1990. Budaya Tanaman Padi, Kanisius, Yogyakarta.

Hakim, N, M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. R. Saul, M. A. Dika dan H. M. Bailey, 1986.Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.

Hafsah, M. dan Sudaryanto, T. 2004. Ekonomi Padi dan Beras Indonesia.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta Selatan.606 Halaman.

Iskandar. D. 2003. Pengaruh Dosis Pupuk N, P, dan K Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung Manis Di lahan Kering. J. Saint dan Teknologi BPPT, Vol 2:1-5.

Iswanto, H , 2002. Petunjuk Praktis Merawat Anggrek. Agro Media. Jakarta.

Jumin, H. B, 1992. Ekofisiologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers. Jakarta.
Kartasapoetra, A.G,.1991. Budidaya Tanaman Pangan di Derah Tropik. Bina Aksara,
Jakarta
Lakitan.B, 2007.Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan, Penerbit Raja Grafindo Persada, Jakarta, 205 halaman.

Las, AK.Makarim, A. Hidayat, A. Syarifuddin K. dan Manwan I, 1991.Peta Agroklimat Utama Tanaman Pangan di Indonesia. Pusbalitbangtan. Bogor.

Lingga, P dan Marsono, 2011.Petunjuk Penggunaan Pupuk, Penebar Swadaya, Jakarta.

Mugnisyah, W .Q., 1998. Teknologi Benih. Universitas terbuka.Depdikbud. Jakarta.

Muhadjir, F., Darmaijati S., dan Ratna F, 1989.Peranan Pupuk Daun dan Zat Pengatur Tumbuh Pada Tanaman Pangan.Dalam Seminar Aplikasi dan Konservasi Lingkungan Agrokimia.IPB. Bogor.

Okalia, D. 2011. Pembuatan dan Pemamfaatan Pupuk Organik Titonia (Tithonia diversifolia) Plus Untuk Pengendalian Keracunan Besi dan Penyediaan Hara Padi Sawah Bukaan Baru.Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Andalas. Padang. 150 Halaman.
Partohardjono, 1980.Morfologi dan Fisiologi Padi.Puslitbangtan. Bogor.
Pitojo, S, 2006, Budidaya Padi Sawah Tabela, Jakarta. Penebar Swadaya.

Prasetyo, 2006, Bertanam Padi Gogo Tanpa Olah Tanah, Jakarta. Penebar Swadaya.

Rinsema W.J. 1983. Pupuk dan Cara Pemupukan. Bharatama Karya Aksara. Jakarta.
Sarmono dan P. Sigit.2001. Pupuk Akar Jenis dan Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar.H, 1981.Budidaya Tanaman Padi Di Indonesia.Departemen Pertanian dan Kebudayaan Jakarta.

Subandi, B. Prabowo dan F. Muhadjir, 1990.Penggunaan Pupuk Cair dan Zat Pengatur Tumbuh Pada Tanaman Pangan.Prosiding Lokakarya Nasional Efesiensi Penggunaan Pupuk. Cisarua 12-13 November 1990. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Sugeng, 2011.Bercocok Tanam Padi, CV. Aneka Ilmu Anggota IKAPI, Semarang.
Sumarno dan Hartono, 1983.Kedelai dan Cara Bercocok Tanam. BuletinTeknik No. 6. Puslitbangtan Bogor.

Suparyono, 1993.PADI. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suparyono dan Setyono, 1997.PADI. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar