Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 HAL 7-10


PENGARUH PEMBERIAN ZPT ATONIK DAN PUPUK TSP TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKS UBI JALAR  (Ipomoea batatas L.)

Rahmad Saleh, Rover dan Marlinda
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 085365718113. E-mail : Rahmadsaleh80@yahoo.co.id

ABSTRACT
This research has been carried out in the village of  Koto Kari, Central District of Kuantan Singingi. When the study for 4 months, starting in September 2012 until January 2013. This study uses a randomized block design in factorial, consists of two factors each with 4 levels (4x4) with 3 replications. A first factor is the provision Atonik with concentration 0 cc, 2 cc, 4 cc and 6 cc / liter of water. The second factor is the P fertilizer dose of TSP with 0 gram, 2 grams, 4 grams and 6 grams / plant. To determine the growth and production of sweet potato was observed with the following parameters: Age Appears of bud (days), Percentage Growth (%), Number of Bulbs by the research partition (fruit), Weight of Bulbs by the research partition (grams). Then each of the final data were statistically analyzed and if the count is greater than F Tabel, then continued with Advanced Test Honestly Significant Difference (HSD) at the level of 5%. From the research and discussion that has been done can be concluded Atonik have significantly affected the age parameter buds appear, the best treatment is A2 = 7.22 days and tuber weight parameters, the best is the commission of A3 = 498.33 grams. While a single treatment and treatment interaction TSP and ZPT Atonik no significant effect on all treatments.
Key words : Sweet Potato, ZPT Atonik, TSP


PENDAHULUAN
Ubi jalar merupakan salah satu komoditas pertanian penghasil karbohidrat sudah tidak disangsikan lagi bagi masyarakat Indonesia. Bahkan ubi jalar mamiliki peran yang penting sebagai cadangan pangan yang bila produksi padi dan jagung tidak mencukupi lagi. Dalam kapasitas sebagai bahan pangan, ubi jalar merupakan sumber energi (kalori) sebesar 215 kal / hari, sedangkan padi dan jagung hanya 176 kal dan 110 kal (Rukmana, 1997). Produksi ubi jalar di Kabupaten Kuantan Singingi mengalami peningkatan  pada tahun 2010 dan sedikit menurun pada tahun 2011 yaitu 395,15 ton/ha (Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi, 2011).
Pemberian Zat Perangsang Tumbuh Atonik secara eksogen di harapkan mampu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan akar stek ubi jalar. ZPT Atonik termasuk golongan auksin yang berfungsi merangsang pembesaran sel, sintetis DNA kromosom, serta pertumbuhan aksis longitudinal tanaman yang berguna untuk merangsang pertumbuhan akar pada stekan atau cangkokan (Sumiati, 1989).
TSP merupakan salah satu pupuk fosfor yang mengandung (46 % P2O5). Rumus kimianya Ca(H2PO4). Peran Fosfor  pada tanaman umbi-umbian sangat besar dalam pembentukan akar, yang mana akar tersebut akan menimbun sejumlah karbohidrat sehingga ukuran umbi menjadi lebih besar. Dalam penelitian Komaria (2007), kenaikan hasil ubi jalar varietas prambanan rata-rata 16,6 ton/ha tanpa pemupukan P, sedangkan dengan pemupukan P (60 kg P2O5 /ha) kenaikan hasil rata-rata 20,5 % ton/ha.
Penelitian ini bertujuan ini mengetahui pertumbuhan dan produksi ubi jalar dengan pemberian ZPT Atonik dan pupuk TSP.

BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilakukan di Desa Koto Kari Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4 bulan yang dimulai bulan September 2012 sampai Januari 2013.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah ubi jalar, ZPT Atonik dan pupuk TSP. Sedangkan alat yang digunakan adalah : parang, cangkul, meteran, gergaji, paku, gembor, timbangan, alat-alat tulis, dan handsprayer.
Metoda Penelitian
Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut : yaitu faktor A (Atonik) terdiri dari 4 taraf : A0 (kontrol), A1 (2 cc/liter air), A2 (4 cc/liter air), A3 (6 cc/liter air). Faktor P (TSP) terdiri dari 4 taraf : P0 (kontrol), P1 (2 gram/tanaman), P2 (4 gram/tanaman), P3 (6 gram/tanaman).
Untuk mendapatkan kesimpulan hasil penelitian, maka data yang dapat dikumpulkan di analisis secara statistik sesuai dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan model analisis sebagai berikut : Yijk = µ + Mi + Dj + Kk + ( MD  )ij + εijk.
Dari hasil penelitian masing– masing perlakuan dianalisis secara statistik, jika F hitung lebih besar dari F Tabel, maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur ( BNJ ) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur Muncul Tunas
Dari percobaan dapat dilihat bahwa pemberian ZPT Atonik memberikan pengaruh nyata terhadap parameter umur muncul tunas (Tabel 1).


Tabel 1.   Rerata umur muncul tunas (hari) dengan perlakuan  ZPT Atonik dan pupuk TSP
Faktor A
(cc/tanaman)
Faktor P (gram/tanaman)
Rerata A
P0= 0
P1= 2
P2= 4
P3= 6
A0= 0
8.44
8.22
8.00
8.67
8.33b
A1= 2
8.11
7.33
6.67
7.44
7.39a
A2= 4
7.11
7.00
7.56
7.22
7.22a
A3= 6
7.89
7.11
7.22
7.56
7.44a
Rerata P
7.89
7.42
7.36
7.72

Anka-angka pada baris dan kolam yang di ikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.


            Dari Tabel 1 dapat di lihat bahwa perlakuan ZPT Atonik A2 yaitu 7,22 berbeda nyata dengan perlakuan A0 yaitu 8,33, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan A1(7,39) dan A3(7,44). Perlakuan Atonik memberikan pengaruh terhadap parameter umur muncul tunas, hal ini di duga karena karena tercapainya konsentrasi yang optimal yang dapat memacu pertumbuhan tunas tanaman ubi jalar, yaitu 4 cc/liter air.
            Sumiati (1989) menjelaskan kandungan Atonik termasuk dalam jenis auksin yang berfungsi merangsang pembesaran sel, sintetis DNA kromosom, serta pertumbuhan aksis longitudinal tanaman yang berguna untuk merangsang pertumbuhan akar pada stekan atau cangkokan sehingga tunas baru lebih capat muncul.
            Dwidjoseputro (1983) menyatakan bahwa, zat pengatur tumbuh berperan terhadap proses fisiologi dan biokimia tanaman. Zat pengatur tumbuh merupakan senyawa yang terdiri-dari senyawa aromatik yang bersifat asam.

Dalam pemberiannya harus diperhatikan kosentrasi yang digunakan., jika kosentrasinya terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan bahkan mengakibatkan  kematian bagi tanaman.

Persentase Tumbuh

Pemberian ZPT Atonik dan pupuk TSP tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter Persentase Tumbuh (Tabel 2). Hasil pada Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan ZPT Atonik 4 cc/tanaman memiliki rerata tertinggi persentase tumbuh tanaman ubi jalar yaitu 100 % dan menurun pada perlakuan Atonik 2 dan 6 cc/tanaman.
Pada perlakuan pupuk TSP dengan perlakuan 4 cc/tanaman memiliki rerata tertinggi dari persentase tumbuh per tanaman yaitu 100 %. dan turun pada perlakuan 2 dan 6 cc/tanaman (97,92). Walaupun secar statistik pemberian perlakuan ZPT Atonik dan pupuk TSP tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase tumbuh tanaman ubi jalar.

Tabel 2. Rerata persentase tumbuh (%) dengan perlakuan ZPT Atonik dan pupuk TSP
Faktor A
(cc/tanaman)
Faktor P (gram/tanaman)
Rerata A
P0= 0
P1= 2
P2= 4
P3= 6
A0= 0
91.67
100.00
100.00
100.00
97.92
A1= 2
100.00
100.00
100.00
91.67
97.92
A2= 4
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
A3= 6
91.67
100.00
91.67
100.00
95.83
Rerata P
95.83
100.00
97.92
97.92

          Angka-angka pada baris dan kolam yang di ikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.
         

          Pada awal pertumbuhan proses metabolisme sangat tinggi untuk pertumbuhan tunas, dimana tanaman mendapatkan makanan yang cukup dari batang. Widianto (2000) mengatakan bahwa bagian kayu pada stek sangat diperlukan untuk menyediakan karbohidrat yang cukup bagi pertumbuhan stek itu sendiri.
Jumlah Umbi Perplot
Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa jumlah umbi ubi jalar tidak berpengaruh nyata dengan pemberian ZPT Atonik dan pupuk TSP. Akan tetapi dapat dilihat bahwa rerata jumlah umbi tertinggi pada perlakuan Atonik terdapat pada perlakuan A3                  (6 cc/tanaman) yaitu 5,58. Dan menurun pada pemberian 2 gram/tanaman yaitu 5,50. Pada perlakuan pupuk TSP 6 gram/tanaman menunjukkan rerata tertinggi jumlah umbi perplot sebesar  5,42.
Pemberian perlakuan ZPT Atonik dan pupuk TSP tidak berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah umbi perplot. Hal ini diduga karena faktor genetik tanaman, walaupun konsentrasi Atonik yang diberikan berbeda namun sifat genetik tanaman lebih dominan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Knight (1979) yang menyatakan bahwa sifat daya hasil ditentukan oleh penampilan banyak gen (gen minor) yang masing-masing memberikan efek penampilan yang sangat kecil terhadap sifat yang ditampakkan.


Tabel 3. Rerata jumlah umbi ubi jalar /plot dengan perlakuan  ZPT Atonik dan pupuk TSP
Faktor A
(cc/tanaman)
Faktor P (gram/tanaman)
Rerata A
P0= 0
P1= 2
P0= 4
P1= 6
A0= 0
5.00
4.33
5.00
5.33
4.92
A1= 2
5.33
5.67
5.33
5.67
5.50
A2= 4
5.33
5.67
5.33
5.33
5.42
A3= 6
5.33
5.67
6.00
5.33
5.58
Rerata P
5.25
5.33
5.42
5.42

Anka-angka pada baris dan kolam yang di ikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.

Pemberian pupuk TSP tidak berpengaruh diduga karena pupuk TSP yang diberikan belum tersedia bagi tanaman, disebabkan sifat pupuk yang tidak higroskopis (Novizan, 1999). Fosfor merupakan unsur paling kritikal bagi pertumbuhan tanaman karena kekurangan unsur ini akan menyebabkan tanaman tidak mampu menyerap unsur hara, yang mengakibatkan produksi menurun (Soepardi, 1983).
Berat Umbi Perplot
Pemberian perlakuan ZPT Atonik memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter rataan berat umbi prplot tanaman ubi jalar (Tabel 4.)

                                                

Tabel 4.   Rerata berat umbi ubi jalar (gram) dengan perlakuan  ZPT Atonik dan pupuk TSP.
Faktor A
(cc/tanaman)
Faktor P (gram/tanaman)
Rerata A
P0= 0
P1= 2
P0= 4
P1= 6
A0= 0
406.67
373.33
373.33
403.33
389.17b
A1= 2
410.00
376.67
500.00
340.00
406.67 b
A2= 4
396.67
393.33
420.00
396.67
401.67 b
A3= 6
506.67
473.33
503.33
510.00
498.33a
Rerata P
430.00
404.17
449.17
412.50

Anka-angka pada baris dan kolam yang diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.
            

               Dari Tabel 4 dapat dilihat pemberian perlakuan ZPT Atonik A3 yaitu 498,33 berbeda nyata dengan perlakuan A2 (401,67) dan A1 (406,67). Perlakuan Atonik memberikan pengaruh nyata diduga karena konsentrasi ZPT yang diberikan merupakan konsentrasi yang optimal yang dapat meningkatkan berat umbi tanaman ubi jalar.  Sejalan dengan pendapat Kusumo (1984), Zat pengatur tumbuh Atonik mengandung bahan aktif triakontanol, yang umumnya berfungsi mendorong pertumbuhan, dimana dengan pemberian zat pengatur tumbuh terhadap tanaman dapat merangsang penyerapan hara oleh tanaman sehingga produksi akan meningkat. Selanjutnya ditambahkan Lingga (1996) Atonik dapat juga untuk meningkatkan hasil atau produksi, mutu, warna, kandungan vitamin dan menciptakan buah matang seragam serta menciptakan daya tahan terhadap serangan hama.


KESIMPULAN

Pemberian perlakuan ZPT Atonik hanya berpengaruh pada parameter umur muncul tunas per tanaman dan bobot umbi perplot tanaman ubi jalar, sedangkan untuk parameter yang lain tidak berpengaruh. Dan pemberian perlakuan pupuk TSP tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pengamatan.




DAFTAR PUSATAKA
Dinas Tanaman Pangan, 2011. Laporan Tahunan Produksi Ubi Jalar. Kuantan Singingi.
Dwijoseputro, 1996. Pengantar fisiologi tumbuhan. Jakarta. P. T. Gramedia. 200 p.
Komariah. 2007. Pengaruh Pemupukan Nitrogen, Fosfor dan Kalium Terhadap Produksi dan Kualitas   Jagung Semi. (Skripsi). Bogor. Institut Pertanian Bogor. 52 hal
Knight, R. 1979. Quantitative Genetics, Statistic and Plant Breeding. A Course Manual in Plant Breeding. Brisbane Australia Vice Consellor Committee. Australia.
Kusumo, S. 1990. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. CV Yasaguna. Jakarta. 75 Hal.
Lingga, P dan Marsono. 1996. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta. Hal 86-87.
Rukmana. (1997). Ubi jalar: budi daya dan pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. Bogor. Institut Pertanian Bogor. 591 hal.
Sumiati, E. 1989. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh. Bul. Panel.Hort. Vol. XIII.No.1
Widianto. 2000. Membuat stek, cangkok dan okulasi. Penebar swadaya. Yokyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar