PENGARUH
PEMBERIAN ZPT ATONIK DAN PUPUK TSP TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKS UBI
JALAR (Ipomoea batatas L.)
Rahmad Saleh, Rover dan Marlinda
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa
Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 085365718113. E-mail : Rahmadsaleh80@yahoo.co.id
ABSTRACT
This
research has been carried out in the village of
Koto Kari, Central District of Kuantan Singingi. When the study for 4
months, starting in September 2012 until January 2013. This study uses a
randomized block design in factorial,
consists of two factors each with 4 levels (4x4) with 3 replications. A first
factor is the provision Atonik with concentration 0 cc, 2 cc, 4 cc and 6 cc /
liter of water. The second factor is the P fertilizer dose of TSP with 0 gram,
2 grams, 4 grams and 6 grams / plant. To determine the growth and production of
sweet potato was observed with the following parameters: Age Appears of bud (days), Percentage Growth (%),
Number of Bulbs by the research partition
(fruit), Weight of Bulbs by the research partition (grams).
Then each of the final data were statistically analyzed and if the count is
greater than F Tabel, then continued with Advanced Test Honestly Significant
Difference (HSD) at the level of 5%. From the research and discussion that has
been done can be concluded Atonik have
significantly affected the age parameter buds appear, the best treatment is A2
= 7.22 days and tuber weight parameters, the best is the commission of A3 =
498.33 grams. While a single treatment and treatment interaction TSP and ZPT Atonik no significant effect on
all treatments.
Key words : Sweet Potato, ZPT Atonik, TSP
PENDAHULUAN
Ubi jalar merupakan salah satu komoditas pertanian
penghasil karbohidrat sudah tidak disangsikan lagi bagi masyarakat Indonesia.
Bahkan ubi jalar mamiliki peran yang penting sebagai cadangan pangan yang bila
produksi padi dan jagung tidak mencukupi lagi. Dalam kapasitas sebagai bahan
pangan, ubi jalar merupakan sumber energi (kalori) sebesar 215 kal / hari,
sedangkan padi dan jagung hanya 176 kal dan 110 kal (Rukmana, 1997). Produksi
ubi jalar di Kabupaten Kuantan Singingi mengalami peningkatan pada tahun 2010 dan sedikit menurun pada
tahun 2011 yaitu 395,15 ton/ha (Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan
Singingi, 2011).
Pemberian
Zat Perangsang Tumbuh Atonik secara eksogen di harapkan mampu mengoptimalkan
pertumbuhan dan perkembangan akar stek ubi jalar. ZPT Atonik termasuk golongan
auksin yang berfungsi merangsang pembesaran sel, sintetis DNA kromosom, serta
pertumbuhan aksis longitudinal tanaman yang berguna untuk merangsang
pertumbuhan akar pada stekan atau cangkokan (Sumiati, 1989).
TSP
merupakan salah satu pupuk fosfor yang mengandung (46 % P2O5).
Rumus kimianya Ca(H2PO4). Peran Fosfor pada tanaman umbi-umbian sangat besar dalam
pembentukan akar, yang mana akar tersebut akan menimbun sejumlah karbohidrat
sehingga ukuran umbi menjadi lebih besar. Dalam penelitian Komaria (2007),
kenaikan hasil ubi jalar varietas prambanan rata-rata 16,6 ton/ha tanpa
pemupukan P, sedangkan dengan pemupukan P (60 kg P2O5 /ha)
kenaikan hasil rata-rata 20,5 % ton/ha.
Penelitian
ini bertujuan ini mengetahui pertumbuhan dan produksi ubi jalar dengan
pemberian ZPT Atonik dan pupuk TSP.
BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu
Penelitian
ini telah dilakukan di Desa Koto Kari Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten
Kuantan Singingi. Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4 bulan yang
dimulai bulan September 2012 sampai Januari 2013.
Bahan dan
Alat
Bahan
yang digunakan dalam penelitian adalah ubi jalar, ZPT Atonik dan pupuk TSP.
Sedangkan alat yang digunakan adalah : parang, cangkul, meteran, gergaji, paku,
gembor, timbangan, alat-alat tulis, dan handsprayer.
Metoda Penelitian
Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut : yaitu faktor
A (Atonik) terdiri dari 4 taraf : A0 (kontrol), A1 (2 cc/liter air), A2 (4
cc/liter air), A3 (6 cc/liter air). Faktor P (TSP) terdiri dari 4 taraf : P0
(kontrol), P1 (2 gram/tanaman), P2 (4 gram/tanaman), P3 (6 gram/tanaman).
Untuk
mendapatkan kesimpulan hasil penelitian, maka data yang dapat dikumpulkan di
analisis secara statistik sesuai
dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan model analisis sebagai
berikut : Yijk = µ + Mi + Dj + Kk + ( MD
)ij + εijk.
Dari
hasil penelitian masing– masing perlakuan dianalisis secara statistik, jika F
hitung lebih besar dari F Tabel, maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata
Jujur ( BNJ ) pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur
Muncul Tunas
Dari
percobaan dapat dilihat bahwa pemberian ZPT Atonik memberikan pengaruh nyata
terhadap parameter umur muncul tunas (Tabel 1).
Tabel 1. Rerata umur muncul
tunas (hari) dengan perlakuan ZPT Atonik
dan pupuk TSP
|
Faktor A
(cc/tanaman)
|
Faktor P (gram/tanaman)
|
Rerata A
|
|||
|
P0= 0
|
P1= 2
|
P2= 4
|
P3= 6
|
||
|
A0= 0
|
8.44
|
8.22
|
8.00
|
8.67
|
8.33b
|
|
A1= 2
|
8.11
|
7.33
|
6.67
|
7.44
|
7.39a
|
|
A2= 4
|
7.11
|
7.00
|
7.56
|
7.22
|
7.22a
|
|
A3= 6
|
7.89
|
7.11
|
7.22
|
7.56
|
7.44a
|
|
Rerata P
|
7.89
|
7.42
|
7.36
|
7.72
|
|
Anka-angka
pada baris dan kolam yang di ikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda
nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.
Dari
Tabel 1 dapat di lihat bahwa perlakuan ZPT Atonik A2 yaitu 7,22 berbeda nyata
dengan perlakuan A0 yaitu 8,33, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan
A1(7,39) dan A3(7,44). Perlakuan Atonik memberikan pengaruh terhadap parameter
umur muncul tunas, hal ini di duga karena karena tercapainya konsentrasi yang
optimal yang dapat memacu pertumbuhan tunas tanaman ubi jalar, yaitu 4 cc/liter
air.
Sumiati
(1989) menjelaskan kandungan Atonik termasuk dalam jenis auksin yang berfungsi
merangsang pembesaran sel, sintetis DNA kromosom, serta pertumbuhan aksis longitudinal
tanaman yang berguna untuk merangsang pertumbuhan akar pada stekan atau
cangkokan sehingga tunas baru lebih capat muncul.
Dwidjoseputro (1983) menyatakan bahwa, zat pengatur
tumbuh berperan terhadap proses fisiologi dan biokimia tanaman. Zat pengatur
tumbuh merupakan senyawa yang terdiri-dari senyawa aromatik yang bersifat asam.
Dalam pemberiannya harus diperhatikan kosentrasi
yang digunakan., jika kosentrasinya terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan
bahkan mengakibatkan kematian bagi tanaman.
Persentase Tumbuh
Pemberian
ZPT Atonik dan pupuk TSP tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
parameter Persentase Tumbuh (Tabel 2). Hasil pada Tabel 2 menunjukkan bahwa
perlakuan ZPT Atonik 4 cc/tanaman memiliki rerata tertinggi persentase tumbuh
tanaman ubi jalar yaitu 100 % dan menurun pada perlakuan Atonik 2 dan 6
cc/tanaman.
Pada
perlakuan pupuk TSP dengan perlakuan 4 cc/tanaman memiliki rerata tertinggi
dari persentase tumbuh per tanaman yaitu 100 %. dan turun pada perlakuan 2 dan
6 cc/tanaman (97,92). Walaupun secar statistik pemberian perlakuan ZPT Atonik
dan pupuk TSP tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase tumbuh
tanaman ubi jalar.
Tabel 2. Rerata persentase tumbuh (%) dengan perlakuan ZPT Atonik
dan pupuk TSP
|
Faktor A
(cc/tanaman)
|
Faktor P (gram/tanaman)
|
Rerata A
|
|||
|
P0= 0
|
P1= 2
|
P2= 4
|
P3= 6
|
||
|
A0= 0
|
91.67
|
100.00
|
100.00
|
100.00
|
97.92
|
|
A1= 2
|
100.00
|
100.00
|
100.00
|
91.67
|
97.92
|
|
A2= 4
|
100.00
|
100.00
|
100.00
|
100.00
|
100.00
|
|
A3= 6
|
91.67
|
100.00
|
91.67
|
100.00
|
95.83
|
|
Rerata P
|
95.83
|
100.00
|
97.92
|
97.92
|
|
Angka-angka pada baris dan kolam yang di ikuti hurup kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.
Pada
awal pertumbuhan proses metabolisme sangat tinggi untuk pertumbuhan tunas,
dimana tanaman mendapatkan makanan yang cukup dari batang. Widianto (2000)
mengatakan bahwa bagian kayu pada stek sangat diperlukan untuk menyediakan
karbohidrat yang cukup bagi pertumbuhan stek itu sendiri.
Jumlah
Umbi Perplot
Berdasarkan penelitian
menunjukkan bahwa jumlah umbi ubi jalar tidak berpengaruh nyata dengan
pemberian ZPT Atonik dan pupuk TSP. Akan tetapi dapat dilihat bahwa rerata
jumlah umbi tertinggi pada perlakuan Atonik terdapat pada perlakuan A3
(6 cc/tanaman) yaitu 5,58. Dan menurun pada pemberian 2
gram/tanaman yaitu 5,50. Pada perlakuan pupuk TSP 6 gram/tanaman menunjukkan
rerata tertinggi jumlah umbi perplot sebesar
5,42.
Pemberian perlakuan ZPT
Atonik dan pupuk TSP tidak berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah umbi
perplot. Hal ini diduga karena faktor genetik tanaman, walaupun konsentrasi
Atonik yang diberikan berbeda namun sifat genetik tanaman lebih dominan. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Knight (1979) yang menyatakan bahwa sifat daya
hasil ditentukan oleh penampilan banyak gen (gen minor) yang masing-masing
memberikan efek penampilan yang sangat kecil terhadap sifat yang ditampakkan.
Tabel 3. Rerata jumlah umbi ubi jalar /plot dengan perlakuan ZPT Atonik dan pupuk TSP
|
Faktor A
(cc/tanaman)
|
Faktor P (gram/tanaman)
|
Rerata A
|
|||
|
P0= 0
|
P1= 2
|
P0= 4
|
P1= 6
|
||
|
A0= 0
|
5.00
|
4.33
|
5.00
|
5.33
|
4.92
|
|
A1= 2
|
5.33
|
5.67
|
5.33
|
5.67
|
5.50
|
|
A2= 4
|
5.33
|
5.67
|
5.33
|
5.33
|
5.42
|
|
A3= 6
|
5.33
|
5.67
|
6.00
|
5.33
|
5.58
|
|
Rerata P
|
5.25
|
5.33
|
5.42
|
5.42
|
|
Anka-angka
pada baris dan kolam yang di ikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda
nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.
Pemberian pupuk TSP tidak berpengaruh diduga
karena pupuk TSP yang diberikan belum tersedia bagi tanaman, disebabkan sifat
pupuk yang tidak higroskopis (Novizan, 1999). Fosfor merupakan unsur paling
kritikal bagi pertumbuhan tanaman karena kekurangan unsur ini akan menyebabkan
tanaman tidak mampu menyerap unsur hara, yang mengakibatkan produksi menurun
(Soepardi, 1983).
Berat Umbi Perplot
Pemberian perlakuan ZPT Atonik
memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter rataan berat umbi prplot
tanaman ubi jalar (Tabel 4.)
Tabel 4. Rerata berat umbi ubi jalar (gram) dengan
perlakuan ZPT Atonik dan pupuk TSP.
|
Faktor A
(cc/tanaman)
|
Faktor P (gram/tanaman)
|
Rerata A
|
|||
|
P0= 0
|
P1= 2
|
P0= 4
|
P1= 6
|
||
|
A0= 0
|
406.67
|
373.33
|
373.33
|
403.33
|
389.17b
|
|
A1= 2
|
410.00
|
376.67
|
500.00
|
340.00
|
406.67 b
|
|
A2= 4
|
396.67
|
393.33
|
420.00
|
396.67
|
401.67 b
|
|
A3= 6
|
506.67
|
473.33
|
503.33
|
510.00
|
498.33a
|
|
Rerata P
|
430.00
|
404.17
|
449.17
|
412.50
|
|
Anka-angka
pada baris dan kolam yang diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda
nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.
Dari
Tabel 4 dapat dilihat pemberian perlakuan ZPT Atonik A3 yaitu 498,33 berbeda
nyata dengan perlakuan A2 (401,67) dan A1 (406,67). Perlakuan Atonik memberikan
pengaruh nyata diduga karena konsentrasi ZPT yang diberikan merupakan
konsentrasi yang optimal yang dapat meningkatkan berat umbi tanaman ubi jalar. Sejalan
dengan pendapat Kusumo (1984), Zat pengatur tumbuh Atonik mengandung bahan
aktif triakontanol, yang umumnya berfungsi mendorong pertumbuhan, dimana dengan
pemberian zat pengatur tumbuh terhadap tanaman dapat merangsang penyerapan hara
oleh tanaman sehingga produksi akan meningkat. Selanjutnya ditambahkan Lingga
(1996) Atonik dapat juga untuk meningkatkan hasil atau produksi, mutu, warna,
kandungan vitamin dan menciptakan buah matang seragam serta menciptakan daya
tahan terhadap serangan hama.
KESIMPULAN
Pemberian perlakuan ZPT Atonik hanya
berpengaruh pada parameter umur muncul tunas per tanaman dan bobot umbi perplot
tanaman ubi jalar, sedangkan untuk parameter yang lain tidak berpengaruh. Dan
pemberian perlakuan pupuk TSP tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
semua parameter pengamatan.
DAFTAR PUSATAKA
Dinas Tanaman Pangan, 2011. Laporan Tahunan Produksi Ubi Jalar.
Kuantan Singingi.
Dwijoseputro, 1996. Pengantar
fisiologi tumbuhan. Jakarta. P. T. Gramedia. 200 p.
Komariah. 2007. Pengaruh Pemupukan Nitrogen, Fosfor dan Kalium Terhadap Produksi dan
Kualitas Jagung Semi. (Skripsi).
Bogor. Institut Pertanian Bogor. 52 hal
Knight,
R. 1979. Quantitative Genetics, Statistic
and Plant Breeding. A Course Manual in Plant Breeding. Brisbane Australia
Vice Consellor Committee. Australia.
Kusumo,
S. 1990. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman.
CV Yasaguna. Jakarta. 75 Hal.
Lingga, P
dan Marsono. 1996. Petunjuk Penggunaan
Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta. Hal 86-87.
Rukmana. (1997). Ubi jalar: budi daya dan pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. Bogor.
Institut Pertanian Bogor. 591 hal.
Sumiati, E. 1989. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh. Bul. Panel.Hort. Vol. XIII.No.1
Widianto. 2000. Membuat
stek, cangkok dan okulasi. Penebar swadaya. Yokyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar