Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 2 No. 2, Oktober 2012 hAL 27-35


PENGARUH LEVEL GLISEROL PADA PENGENCER TRIS-KUNING TELUR TERHADAP KUALITAS SEMEN BEKU SAPI PESISIR

Dihan Kurnia1), Zaituni Udin2), Jaswandi2)
1)Program Pascasarjana Ilmu Ternak Universitas Andalas
2) Jurusan Produksi Ternak, FATERNA, Universitas Andalas

* korespondensi : d_ihan.1988@yahoo.co.id

ABSTRACT

Bull semen is easily demaged during freezing process, due to the formation of ice crystal. Consequently, semen quality decreases particularly the post-thaw sperm motility, viability, abnormality and intack plasma membrane.  Crioprotectant is one of determining factors for the success of bull semen cryopreservation.  For most mammalian sperm cryopreservation, glycerol has been widely used as the cryoprotectant.  The objectives of this research are to determine the optimum doses of glycerol in tris-egg yolk extender in maintaining  one head of Pesisir bull of 3 years old were used in this experiment.  Doses of glycerol used were 3%, 6%, 9% and 12%.  Semen was collected by using artificial vagina.  The experiment used a completely Randomized Block Design.  Result of this experiment indicated that the mean percentage of pre-freezing motility, live sperm, abnormality and sperm with intact plasma membrane cap in 3%, 6%, 9% and 12% glycerol were not significantly  different (P>0.05).  After freezing, the mean percentage of motility, live sperm, and sperm with intact plasma membrane cap in glycerol 6% (25%, 34.875%, and 36.875%) were significantly higher (P<0.05) than in 3%, 9% and 12%.  However, percentage of abnormality sperm were not significantly different (P>0.05).  It was concluded that supplementationof glycerol 6% in tris-egg yolk various shock during the process of semen cryipresevation, so that it could maintain of frozen semen quality (sperm motility, viability, abnormality and intack plasma membrane) of Pesisir bull.

Key words : Glycerol, Pesisir bull, semen quality

PENDAHULUAN


Sapi Pesisir merupakan salah satu sapi lokal yang banyak dipelihara petani terutama di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.  Berdasarkan Laporan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat tahun 2008 populasi sapi Pesisir pada tahun 2008 menurun drastis dibandingkan tahun 2004.  Populasi sapi Pesisir pada tahun 2008 tercatat 89 995 ekor, jauh menurun dibanding tahun 2004 yang mencapai 104 109 ekor. Penurunan ini diduga berkaitan dengan sistem pemeliharaan yang bersifat ekstensif, tingginya jumlah pemotongan ternak produktif, terbatasnya pakan, menyempitnya areal penggembalaan dan kurang tersedianya pejantan.  Tidak tersedianya pejantan sapi Pesisir untuk mengawini sapi betina disebabkan juga karena banyaknya permintaan untuk hewan qurban.
Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan populasi sapi Pesisir, salah satunya  dengan pemanfaatan teknologi reproduksi peternakan melalui teknik inseminasi buatan (IB) dengan menggunakan semen beku.  Berhasilnya suatu program kegiatan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak tidak hanya tergantung pada kualitas dan kuantitas semen yang diejakulasikan seekor pejantan, tetapi tergantung juga kepada kesanggupan untuk mempertahankan kualitas dan memperbanyak volume semen tersebut untuk beberapa saat lebih lama setelah ejakulasi sehingga lebih banyak betina yang akan diinseminasi.
Proses  pengenceran berkaitan erat dengan penggunaan semen beku untuk IB.  Pengenceran semen bertujuan untuk memperbanyak volume semen dan tidak menurunkan kualitas semen tersebut.  Menurut Toelihere (1993) menyatakan bahwa penggunaan bahan pengencer semen harus dapat mempertahankan viabilitas spermatozoa sebelum digunakan pada waktunya.  Syarat  bahan pengencer adalah harus dapat menyediakan nutrisi bagi kebutuhan spermatozoa selama penyimpanan, harus memungkinkan spermatozoa dapat bergerak secara progresif, tidak bersifat racun bagi spermatozoa, menjadi penyangga bagi spermatozoa, dapat melindungi spermatozoa dari kejutan dingin (cold shock) baik untuk semen beku maupun semen yang tidak dibekukan (semen cair). 
Kerusakan spermatozoa akan terjadi akibat adanya pengaruh kejutan dingin (cold shock) yang dapat merusak membran plasma sel yang berakibat kematian pada spermatozoa. Pada saat pembekuan, semen mengalami penurunan kualitas sekitar 10-40% (Parrish, 2003) hingga 50% (Sorenson, 1979).  Untuk meminimalkan kerusakan sel dapat dilakukan dengan menambahkan zat tertentu kedalam pengencer semen (Kayser et al. dalam Solihati, Idi, Rasad, Rizal dan Fitriati, 2008).  Zat tersebut dikenal dengan nama krioprotektan. Salah satu jenis krioprotektan yang sering digunakan pada mamalia adalah gliserol. Gliserol dapat masuk ke dalam sel spermatozoa untuk mengikat sebagian air bebas, sehingga kristal-kristal es yang terbentuk di dalam medium pengencer pada waktu pembekuan dapat dicegah (Azizah dan Arifiantini, 2009).
Penambahan dosis gliserol pada beberapa pengencer berbeda-beda. Menurut Evan dan Maxwell (1987) untuk melakukan pembekuan semen kambing standar penggunaan gliserol yang dianjurkan adalah 6% - 8%, jika kurang dari itu, maka giserol tidak akan memberikan efek yang berarti, sedangkan jika lebih tinggi akan menimbulkan efek toksik pada spermatozoa.  Ditambahkan oleh Toelihere (1993), kadar optimum gliserol untuk pengencer sitrat-kuning telur berkisar antara 7.0 sampai 7.6% volume dan dalam pengencer susu sekitar 10%.  Menurut Mumu (2009) penambahan gliserol 3%, 5% dan 7% masih dapat melindungi spermatozoa selama proses pembekuan pada sapi Simmental.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan level gliserol yang tepat dalam mempertahankan kualitas semen beku sapi Pesisir.

BAHAN DAN METODA

Penelitian ini dilakukan dengan mengggunakan seekor pejantan sapi Pesisir yang berumur 3 tahun yang terdapat pada Unit Pelaksanaan Teknis Farm Experience Fakultas Peternakan Universitas Andalas.. Semen ditampung dengan vagina buatan. Segera setelah penampungan seme di evaluasi meliputi evaluasi secara makroskopik (volume, warna, kekentalan, bau dan pH) dan secara mikroskopik (gerakan massa, konsentrasi, persentase motilitas, persentase hidup, persentase abnormalitas dan persentase membran plasma utuh).
            Selanjutnya dilakukan pengenceran semen dengan membagi semen menjadi 4 bagian dan dicampur dengan pengencer tris kuning telur.  Kemudian ditambahkan gliserol pada suhu kamar sampai mencapai dosis pengujian, 3%, 6%, 9% dan 12%.


Tabel 1.  Komposisi pengencer yang digunakan dalam penelitian
Bahan pengencer
Dosis gliserol
3%
 6%
9%
12 %

Tris aminomethan (g)

3.634

3.634

3.634

3.634
Glukosa  (g)
1.0
1.0
1.0
1.0
Kuning telur (ml)
20
20
20
20
Penisilin (IU)
1x 103
1x 103
1x 103
1x 103
Streptomisin (mg/ml)
1.0
1.0
1.0
1.0
Akuadestilata (ml) add
100
100
100
100

           

Semen yang telah diencerkan dikemas dalam straw 0.25 ml pada suhu 50C selama 4 jam di dalam lemari pendingin. Selanjutnya dilakukan pembekuan di atas uap nitrogen cair selama 9 menit.  Kemudian straw disimpan di dalam kontainer yang berisi N2 cair (suhu -1960C).  Thawing semen beku dilakukan dengan menggunakan air kran pada suhu 270C selama kurang lebih 30 detik.  Evaluasi semen dilakukan sebelum diencerkan, sesudah pengenceran dan sesudah pencairan kembali.
            Parameter yang diamati pada peneliian ini meliputi (1) kuantitas dan kualitas semen segar, yaitu volume, warna, kekentalan, pH, bau, gerakan massa, konsentrasi, persentase motilitas, persentase hidup, persentase abnormalitas dan persentase membran plasma utuh spermartozoa, dan (2) kualitas semen beku, yaitu persentase motilitas, persentase hidup, persentase abnormalitas dan persentase membran plasma utuh setelah pengenceran dan thawing.
            Motilitas adalah daya gerak yang dijadikan patokan atau cara yang paling sederhana dalam penilaian semen untuk Inseminasi Buatan.  Teteskan satu tetes semen pada glass objek yang di tutup dengan glass penutup untuk menipiskan dan mencegah penguapan, selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 10 kemudian dengan pembesaran 45x10. Penilaian persentase motilitas spermatozoa dihitung berdasarkan pergerakan dibandingkan dengan yang tidak bergerak dengan menggunakan rumus :



Penentuan persentase hidup spermatozoa dilakukan dengan meneteskan zat warna eosin pada glass objek yang bersih, kemudian ambil sedikit semen lalu diaduk dengan batang pengaduk. Kemudian dibuat preparat ulas yang tipis dan segera dikeringkan di atas nyala bunsen. Setelah itu, diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 45 x 10. Kepala spermatozoa yang telah mati akan menyerap zat warna, sedangkan yang masih hidup akan tetap bening. Hitung sekurang-kurangnya 200 spermatozoa yang hidup dan mati dengan menggunakan rumus :


Abnormalitas, pengamatan dilakukan dengan meneteskan zat warna eosin pada ujung sebuah glass objek kemudian diambil sedikit contoh semen lalu diaduk dengan batang pengaduk supaya bercampur dengan zat warna eosin sampai homogen. Buat preparat ulas yang tipis dan segera keringkan preparat ulas tersebut. Lihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 45 x 10. Spermatozoa dihitung secara diagonal dibawah mikroskop. Spermatozoa yang berubah morfologinya akan terlihat seperti ekor menggulung, ekor terputus dan bagian tengahnya terlipat. Toelihere (1993) menyatakan gunakan glass objek untuk membuat kaca preparat ulas dengan sudut 45o serta hitung sel spermatozoa normal dan abnormal dengan menggunakan rumus :


Persentase MPU dievaluasi dengan metode osmotic resistance test (ORT). Komposisi larutan hipoosmotik terdiri atas: 0.9 g fruktosa + 0.49 g natrium sitrat yang dilarutkan dengan aquadestilata hingga mencapai volume 100 ml. Sebanyak 200 μl larutan hipoosmotik ditambahkan dengan 20 μl semen dan dicampur hingga homogen kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 45 menit. Pengamatan dilakukan dengan pemberian satu tetes larutan spermatozoa di atas glass objek dan dicampur dengan satu tetes zat warna eosin. Buat preparat ulas tipis, kemudian dievaluasi di bawah mikroskop dengan pembesaran 45 x 10 terhadap minimum 200 sperma. Spermatozoa yang memiliki membran plasma utuh ditandai oleh ekor melingkar atau menggelembung, sedangkan yang rusak ditandai oleh ekor lurus.  Penilaian dilakukan dengan menghitung jumlah spermatozoa yang membran plasmanya utuh dibandingkan dengan yang membran plasmanya rusak.

Persentase MPU   =                 Jumlah MPU spermatozoa     x 100%
        Jumlah spermatozoa dihitung

Data motilitas, persentase hidup, abnormalitas dan membran plasma utuh (MPU) diolah secara statistik dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) (Steel and Torrie, 1995) dengan 4 perlakuan media tris-kuning telur  dan penambahan  3 %, 6 %, 9 %  dan 12 % gliserol dengan 4 kali ulangan.  Sedangkan untuk mengetahui perbedaan hasil antar perlakuan digunakan uji Duncan menurut Steel and Torrie (1995)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik semen segar sapi Pesisir
Dari hasil penampungan semen pada seekor sapi Pesisir yang berlangsung pada bulan September 2011 sampai dengan November 2011 sebanyak 4 kali penampungan memperlihatkan rataan nilai semen segar yang diperoleh selama penelitian berkualitas cukup baik untuk diolah menjadi semen beku (Tabel 2).


Tabel 2. Rataan nilai karakteristik Semen segar sapi Pesisir
Karakteristik semen
Nilai rataan
Makroskopis :
Volume (ml)
2.975 ± 1.25
Warna
KP
Bau
N
Konsistensi
1 x Encer, 2 x sedang dan 1 x kental
pH
7
Mikroskopis :
Gerakan Massa
++ dan +++
Konsentrasi (107 sperma/ml)
188.75 ± 69.22
Motilitas (%)
77.5 ± 5
Persentase Hidup (%)
84.125 ± 3.90
Abnormalitas (%)
10.375 ± 0.85
Membran Plasma Utuh (MPU) (%)
84.75 ± 3.28
Keterangan :KP   : Krem Keputih-putihan, N : Normal, +++ : Sangat Baik, ++ : Baik



Pengaruh Level Gliserol Terhadap Kualitas Semen Sapi Pesisir

Persentase Motilitas Spermatozoa
Hasil penelitian persentase motilitas semen sapi Pesisir setelah pengenceran dan setelah thawing selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 3. Perbandingan spermatozoa hidup yang bergerak ke depan dengan konsentrasi



spermatozoa total dalam semen menunujukkan persentase spermatozoa motil progresif (Evans dan Maxwell, 1987).  Widiastuti (2001) berpendapat bahwa motilitas atau daya gerak progresif spermatozoa mempunyai peranan yang penting untuk kerberhasilan fertilisasi. Ditambahkan oleh Nugroho (2003), motilitas atau daya gerak dapat dijadikan patokan dalam menilai kualitas semen.


Tabel 3. Rataan persentase motilitas Spermatozoa dalam berbagai kombinasi level gliserol pada pengencer tris kuning telur (%)
Tahapan pengamatan
Perlakuan Gliserol
 3%
6%
9%
12%
Pasca pengenceran
62.25±5.00
67.5±5.00
65±5.77
62.25±5.00
Pasca thawing
12.5±5.00a
25±5.77b
22.5±5.00bc
15±5.77ac
Keterangan : Superskrip dengan huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05)

           

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gliserol ke dalam pengencer tris kuning telur tidak mempengaruhi motilitas spermatozoa pasca pengenceran. Sesuai dengan hasil analisis statistik yang menunjukkan bahwa gliserol berbeda tidak nyata (P>0.05) terhadap persentase motilitas spermatozoa pasca pengenceran (Tabel 3). Hal ini disebabkan karena pada waktu pengenceran belum terjadi penurunan temperatur yang drastis (dari suhu tubuh ke temperatur yang sangat rendah) sehingga efek perlindungan gliserol belum terlihat. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Tambing, Toelihere, Yusuf dan Sutama (2000) yang menyatakan bahwa penambahan gliserol ke dalam pengencer tris tidak berpengaruh nyata terhadap persentase motilitas sebelum pembekuan.
Namun pada pasca thawing penambahan gliserol sudah memperlihatkan pengaruh yang berbeda nyata (P<0.05), dimana penambahan gliserol 6%  ke dalam pengencer tris menghasilkan persentase motilitas (25%) yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan penambahan gliserol 9%, 12% dan 3% dengan motilitas 22.5%, 15% dan 12.5%.  Lebih tingginya persentase motilitas spermatozoa setelah thawing pada perlakuan 6% memperlihatkan bahwa penambahan gliserol 6% dalam bahan pengencer sudah optimal untuk menyediakan perlindungan untuk kelangsungan hidup spermatozoa selama berlangsungnya proses pembekuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Tambing et al., (2000) bahwa penambahan gliserol 6% ke dalam pengencer tris mampu memberikan perlindungan terhadap semen kambing PE dari pengaruh yang merugikan. Menurut Toelihere (1993) pengaruh perlindungannya yaitu memodifisier kristal-kristal es yang terbentuk selama proses pembekuan, sehingga kerusakan organel-organel sel spermatozoa dapat dihindarkan. Bila organel-organel sel spermatozoa, seperti mitokondria maka rantai oksidasi akan terputus sehingga proses metabolisme tidak dapat berlangsung dan akhirnya mati.
Ditambahkan Tambing et al., (2000), efek perlindungannya adalah menjaga keseimbangan elektrolit intra dan extra seluler sehingga proses biokimia yang terjadi di dalam sel spermatozoa tetap berlangsung dan mengurangi kematian sel spermatozoa yang berlebihan.  Salah satu pengaruh yang merugikan adalah cekaman dingin (cold shock) dimana efeknya adalah kematian spermatozoa yang terjadi setelah spermatozoa dithawing, akibat tingginya daya konstraksi selubung lipoprotein dinding sel. Dengan adanya gliserol dalam pengencer maka efek dari kejutan dingin tersebut dapat diminimalisir sehingga kematian spermatozoa dapat dicegah. Peranan tris dalam pengencer juga berfungsi untuk mempertahankan daya hidup spermatozoa serta sebagai buffer (penyangga) dari perubahan pH bahan pengencer.
Gliserol memiliki peranan lain yaitu mencegah terjadinya dehidrasi, karena memiliki daya pengikat air yang kuat (Toelihere, 1993). Hal ini akan mempengaruhi tekanan uap sehingga titik beku medium menurun, akibatya sel spermatozoa akan memperoleh kesempatan lebih lama untuk mengeluarkan air. Gliserol akan memberikan perlindungan yang efektif terhadap spermatozoa selama proses pembekuan bila konsentrasinya di dalam pengencer optimal. Tambing et al., (2000) menyatkan bila konsentrasi gliserol tidak optimal akan menimbulkan gangguan pada sperma berupa penurunan kualitas spermatozoa.   
Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa penambahan konsentrasi gliserol 3% dan 12% dalam pengencer menyebabkan rataan persentase motilitas spermatozoa menurun.  Hal ini diduga karena dosis gliserol 3% yang ditambahkan ke dalam pengencer terlalu rendah sehingga tidak mampu untuk melindungi spermatozoa dari cekamam dingin sehingga belum mampu mencegah terbentuknya kristal-kristal es dalam sel spermatozoa selama proses pembekuan. Kristal-kristal es yang besar dan tajam akan merusak organel-organel sel spermatozoa secara mekanik (Supriatna dan Pasaribu, 1992).  Begitu juga dengan penambahan dosis gliserol 12% yang terlalu tinggi sehingga tidak mampu melindungi spermatozoa.  Kadar gliserol yang terlalu tinggi atau rendah tidak akan efektif menjalankan fungsi protektifnya. 
Menurut Rizal et al., (2002) konsentrasi gliserol yang berlebihan akan menimbulkan efek toksik pada spermatozoa, sebaliknya apabila kurang, gliserol tidak akan memberikan efek yang optimal.  Rendahnya persentase motilitas pasca thawing pada penambahan gliserol 12% kemungkinan disebabkan oleh efek toksik dari gliserol.  Semakin tinggi dosis gliserol yang ditambahkan ke dalam pengencer, efek toksik dari gliserol juga semakin besar.  Efek toksisitas dari gliserol adalah memodifikasi struktur membran plasma dan pada konsentrasi yang tinggi dapat menghambat metabolisme energi (Mclaughlin et al., 1992).   Akibat terganggunya mekanisme spermatozoa, menyebabkan spermatozoa akan mengalami kekurangan energi sehingga viabilitas dan motilitasnya menurun.

Persentase Hidup Spermatozoa
Rataan spermatozoa hidup pasca thawing yang diperoleh selama penelitian adalah 24.250-34.875%. Persentase spermatozoa hidup lebih tinggi daripada persentase spermatozoa motil (Bearden dan Fuquay, 1997) karena spermatozoa yang hidup belum tentu motil, tetapi sejumlah spermatozoa yang tidak motil terkadang masih hidup (Campbell et al, 2003).  Perbandingan persentase sperma hidup pada setiap tahap pengamatan dengan dosis gliserol yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 4.


Tabel 4. Rataan persentase hidup spermatozoa dalam berbagai kombinasi level  gliserol pada pengencer tris kuning telur  (%)
Tahapan pengamatan
Perlakuan Gliserol
3%
6%
9%
12%
Pasca pengenceran
77±3.512
81.625±1.93
79.5±2.58
77.625±1.31
Pasca thawing
24.25±3.97a
34.875±4.11b
31.125±2.98b
25±2.48a
Keterangan :Superskrip dengan huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama   menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05)


Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gliserol ke dalam pengencer tris belum mempengaruhi daya hidup spermatozoa pasca pengenceran.  Hal ini terlihat dari hasil analisis statistik yang menunjukkan bahwa penambahan gliserol berbeda tidak nyata (P>0.05) terhadap persentase hidup spermatozoa pasca pengenceran. Karena pada waktu pengenceran belum terjadi pendinginan yang akan menyebabkan penurunan suhu sehingga gliserol belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup spermatozoa.    Menurut Tambing et al., (2000) bahwa penambahan gliserol ke dalam pengencer tris belum mempengaruhi daya hidup spermatozoa sebelum pembekuan. Tetapi pada pasca thawing, penambahan gliserol telah mampu memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0.05) terhadap persentase hidup spermatozoa.
            Penambahan gliserol 6% dan 9% pada tahapan pengamatan pasca thawing dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa yang lebih baik daripada penambahan gliserol 3% dan 12%.  Lebih tingginya persentase hidup spermatozoa setelah pembekuan pada perlakuan gliserol 6% memperlihatkan bahwa penambahan gliserol 6% dalam bahan pengencer optimal menyediakan perlindungan untuk kelangsungan hidup spermatozoa selama berlangsungnya proses pembekuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusuf, Arifiantini dan Mulyadi (2006) yang melakukan penelitian pada semen domba Lokal pada pengencer tris-kuning telur dengan penambahan gliserol 6%  mampu melindungi spermatozoa dari cekaman dingin.
            Adapun mekanisme kerja dari gliserol adalah gliserol dapat berdifusi ke   dalam sel spermatozoa dan dapat dimetabolisir dalam proses-proses yang menghasilkan energi dan membentuk fruktosa.  Gliserol yang memasuki sel akan menggantikan sebagian air yang bebas dan mendesak ke luar elektolit-elektrolit, menurunkan konsentrasi intraseluler elektrolit-elektrolit tersebut dan mengurangi daya perusaknya terhadap spermatozoa (Toelihere, 1993).
            Rendahnya persentase hidup spermatozoa pada penambahan gliserol 3%, diduga karena penambahan gliserol 3% belum mampu melindungi spermatozoa dari cold shock.  Sedangkan rendahnya persentase hidup pada penambahan gliserol 12%  diduga  karena efek toksik dari gliserol.  Efek toksik ini akan memodifikasi struktur membran plasma dan pada konsentrasi yang tinggi menghambat metabolisme energi (Mclaughlin et al., 1992). Gliserol juga dapat merusak struktur membran spermatozoa selama proses pembekuan, menyebabkan cekaman osmotik dan menimbulkan efek negatif terhadap antibiotik di dalam pengencer (Toelihere, 1993).

Abnormalitas Spermatozoa
Pemeriksaan spermatozoa abnormal dilakukan setelah pemeriksaan persentase hidup spermatozoa.  Hasil penelitian spermatozoa abnormal semen sapi Pesisir pasca pengenceran dan pasca thawing pada pengencer tris kuning telur dengan kombinasi penambahan gliserol dapat dilihat pada Tabel 5.


Tabel 5. Rataan persentase abnormalitas spermatozoa dalam berbagai kombinasi level gliserol pada pengencer tris kuning telur  (%)
Tahapan pengamatan
Perlakuan Gliserol
3%
6%
9%
12%
Pasca pengenceran
12.75±1.19
11.125±0.95
12.125±0.63
13.375±1.44
Pasca thawing
17.125±1.88
15.75±1.71
16.875±1.93
18.375±1.97

           

Dari hasil penelitian terlihat bahwa penambahan gliserol ke dalam pengencer tris kuning telur tidak berpengaruh terhadap abnormalitas spermatozoa pasca pengenceran dan pasca thawing.  Rataan abnormalitas spermatozoa  pasca pengenceran dan pasca thawing berkisar antara 11.125–13.725% dan 15.75–18.375%.  Hasil penelitian ini masih dalam batas normal abnormalitas spermatozoa untuk IB.  Ini sesuai dengan yang dianjurkan Toelihere (1993) dan Hafez (2000) bahwa selama abnormalitas spermatozoa belum mencapai 20% dan tidak melebihinya maka spermatozoa masih dalam keadaan baik dan dapat dipakai untuk program IB.  Menurut Bearden dan Fuquay (1997), semen biasanya mengandung 5% spermatozoa yang abnormal, fertilitas tidak akan terganggu sampai tingkat abnormal 20-25%.  Spermatozoa yang abnormal tidak menunjukkan motilitas yang progresif.  Spermatozoa abnormal biasanya disebabkan oleh kejutan dingin atau panas, sinar X, ketidakseimbangan nutrisi dan endokrin (Arifiantini, Yusuf dan Graha, 2005) .
            Kecenderungan meningginya persentase abnormalitas pada penambahan gliserol 3% dan 12% disebabkan karena cold shock pada waktu proses pembekuan.  Dimana gliserol 3% belum mampu melindungi sel spermatozoa secara optimal dan pada penambahan gliserol 12% merupakan dosis gliserol yang tinggi akan berakibat toksik bagi spermatozoa.
Bentuk abnormal dari spermatozoa pada penelitian ini kebanyakan abnormalitas sekunder seperti ekor bergulung, leher patah, kepala dan leher putus. Abnormalitas sekunder disebabkan perlakuan ketika pembuatan preparat ulas (Solihati et al., 2008). Selain itu, juga ditemui bentuk dari abnormalitas primer seperti kepala terlampau kecil (microchepalic) dan ekor berganda.

Membran Plasma Utuh (MPU) Spermatozoa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gliserol ke dalam pengencer tris belum mempengaruhi persentase MPU pasca pengenceran, keadaan ini dapat memberikan gambaran bahwa gliserol belum memperlihatkan daya kerjanya dalam melindungi membran plasma spermatozoa, tetapi pada tahap pasca thawing gliserol telah memberikan pengaruh yang berbeda nyata.  Hal ini terlihat dari dari hasil analisis statistik yang menunjukkan bahwa penambahan gliserol berbeda nyata (P<0.05) terhadap persentase MPU spermatozoa pasca thawing (Tabel 6).  Keadaan ini dapat memberikan gambaran bahwa gliserol telah memperlihatkan daya kerjanya dalam melindungi membran plasma spermatozoa pasca thawing.
Kondisi membran plasma sel yang baik juga memberikan pengaruh yang baik pula terhadap motilitas, jumlah spermatozoa yang hidup dan tudung akrosom yang utuh (Rizal dan Herdis, 2005).  Hal ini karena menurut Subowo (1995) pada membran plasma sel terdapat banyak makromolekul berupa protein, lipoprotein, glikoprotein, dan lain-lain.  Makromolekul ini dapat berfungsi sebagai enzim, reseptor, saluran atau pembawa (carrier) yang mengatur lalu lintas keluar masuk sel semua senyawa dan elektrolit yang dibutuhkan dalam proses biokimia di dalam sel, termasuk metabolisme. Selain itu, membran plasma sel juga melindungi organel-organel yang terdapat di dalam sel dari perusakan secara mekanik. Gliserol momodifisier kristal-kristal es yang terbentuk di dalam medium sewaktu pembekuan, jadi menghambat pengrusakan sel secara mekanik (Toelihere, 1993).


Tabel 6. Rataan persentase membran plasma utuh (MPU) Spermatozoa dalam berbagai kombinasi level gliserol pada pengencer tris kuning telur (%)
Tahapan pengamatan
Perlakuan Gliserol
3%
6%
9%
12%
Pasca pengenceran
72.125±4.61
78.875±6.29
72±6.01
71.875±7.89
Pasca thawing
31.875±1.11a
36.875±1.60b
34.5±2.04c
31.25±1.19a
Keterangan : Superskrip dengan huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05)

           

Pada tahap pasca thawing nilai rataan persentase MPU menurun. Hal ini diduga bahwa pada tahap ini terjadi pencairan kristal-kristal es, perubahan tekanan osmotik dan arus keluar masuk elektrolit-elektrolit dari dalam sel ke luar sel yang terjadi secara hebat, sehingga akan membuat membran plasma sel spermatozoa bekerja secara ekstra jika tanpa perlindungan, akibatnya membran plasma sel akan mengalami kerusakan.  
            Menurut Toelihere (1993) gliserol akan memberikan perlindungan yang efektif tergantung pada konsentrasi dan lamanya kontak antara spermatozoa dengan gliserol.  Tingkat konsentrasi gliserol yang tidak optimal akan menyebabkan terjadinya cekaman osmotik dan menimbulkan efek negatif terhadap antibiotik yang ada dalam pengencer. 
            Rendahnya  persentase MPU yang nyata terjadi pada pasca thawing untuk penambahan gliserol 3% disebabkan karena belum optimalnya dosis gliserol sehingga tidak mampu melindungi sel spermatozoa. Hal ini menandakan bahwa gtliserol 3% belum mampu melindungi membran plasma sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan tekanan osmotik dalam membran plasma. Timbulnya gejala osmotic shock ini disebabkan pemaparan spermatozoa pada larutan hipotonik sesudah periode pemaparan pada kondisi hipertonik yang diinduksi melalui penambahan gliserol (Tambing et al., 2000).  Sedangkan penambahan gliserol 12% diduga disebabkan oleh efek toksik dari gliserol yang mengakibatkan kerusakan pada membran plasma sel spermatozoa. Akibat efek toksik dari gliserol maka membran plasma spermatozoa akan mengalami modifikasi struktur dan mengakibatkan terganggunya transport aktif zat-zat yang menjadi sumber energi bagi spermatozoa seperti glukosa, asam amino dan asam lemak. Akibat terganggunya mekanisme ini spermatozoa akan kekurangan energi sehingga viabilitas serta motilitasnya menurun (Correa dan Zavos, 1994).   Menurut Azizah dan Arifiantini (2009) menyatakan bahwa penambahan gliserol 7.5% dan 10% terlalu tinggi pada pembekuan semen kuda yang berakibat toksik bagi spermatozoa.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penambahan gliserol 6% pada pengencer tris kuning telur lebih efektif mempertahankan motilitas (25%), daya hidup (34.875%), abnormalitas (15.75%) dan membran plasma utuh (36.875%)  semen sapi Pesisir pasca thawing.

DAFTAR PUSTAKA
Arifiantini, R. I dan T.L. Yususf dan N. Graha.  2005.  Longivitas dan recivery rate pasca thawing semen beku sapi Friesian Holstein menggunakan bahan pengencer yang berbeda.  Buletin Peternakan. 28 (3): 53-61.
Azizah dan R I. Arifiantini. 2009. Kualitas semen beku kuda pada pengencer susu skim dengan kosentrasi gliserol yang berbeda. J. Vet. 10 (2) : 63-70.
Bearden, H.J. and Fuguay. 1997.  The Male Reproduction System.  In: Applied Animals Reproduction 4 th (Ed).  New Jersey : Prentice.

Champbell. J. R., K. L. Campbell and M. D. Kenealy. 2003.  Artificial insemination.  In : Anim. Sci. 4 th (Ed).  Mc Graw-Hili. New York.
Correa, J.R, and Zavos, P.M. 1994.  The hipoosmotic swelling test: it is employement as an assay to evaluete the fuctional integrity of the frozen-thawed bovine sperm membran.  Theriogenology. 42: 351-360.
Evans, G., and Maxwel, W. M. C. 1987.  Salamon’s Artificial Insemination of Sheep and Goat.  Sydney : Butterworths.

Hafez, E. S. E.  2000.  Reproduction in Farm Animal. 7th (ed). Lea and Febiger, Philadelphia.
Mclaughlin, E. A., Ford, W. C. L., and Hull, M. G. R. 1992.  Motility characteristics and membrane integrity of cryopreserved human spermatozoa.  J. Reprod.  95: 527-534.
Mumu. I. M. 2009.  Viabilitas semen sapi Simmental yang dibekukan menggunakan krioprotektan gliserol.  J. Agroland. 16 (2): 172-179.

Nugroho. W. E. 2003.  Efektivitas konsentrasi kuning telur dan plasma semen pada bahan pengencer tris terhadap kualitas semen beku Saenen.  Skripsi.  Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor.
Parrish, J. 2003. Techniques in Domestic Animal Reproduction-Evaluation and Freezing of semen. http://www.wisc.edu/anscirepro/.
Rizal. M., Toelihere. M.R., Yusuf. T.L., Purwantara. B., dan Situmorang.  2002.  Kaulitas semen beku domba Garut dalam berbagai dosis gliserol.  J. Vet.    7 (3): 194-199.
________., dan Herdis. 2005.  Daya hidup spermatozoa epididimis domba Garut yang dikriopreservasi menggunakan modidikasi pengencer tris.  J. Hayati. 12 (2): 61-66.
Sansone G, Nastri MJF. and Fabbrocini A. 2000. Storage of buffalo (Bubalus bubalis) semen. J. Anim. Reprod. Sci. 62:55–76.

Solihati, N., R. Idi, S.D. Rasad, M. Rizal dan M. Fitriati. 2008. Kualitas spermatozoa cauda epididymis sapi peranakan ongol (PO) dalam pengencer susu, tris dan sitrat kuning telur pada penyimpanan 4-50 C. J. Anim. Prod. Vol. 10 No. 1 : 22-29.
Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Parametrik .Ed 2. alih Bahasa B. Sumantri. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Subowo.  1995.  Biologi Sel.  Bandung. Angkasa.
Supriatna, I. dan F.H. Pasaribu. 1992.  In vitro Fertilisasi, Transfer Embrio dan Pembekuan Embrio. Pusat antar Universitas, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Tambing. S. N., Toelihere. M.R., Yusuf. T.L., dan I.K. Sutama. 2000.  Pengaruh gliserol dalam pengencer tris terhadap kualitas semen beku kambing Peranakan Etawah. J. Ilmu Ternak dan Vet. 5 (2): 1-8.
Toelihere, M.R.. 1993. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Penerbit Angkasa, cetakan ke-3,  Bandung.
Yusuf. T.L., R.I. Arifiantini., Y. Mulyadi. 2006.  Efektivitas waktu pemaparan gliserol terhadap motilitas spermatozoa pada pembekuan semen domba Lokal menggunakan pengencer tris kuning telur. J. Anim. Prod. 8 (3): 168-173.
Widiastuti. E. 2001. Kualitas semen beku sapi FH dengan penambahan antioksidan vitamin C dan E.  Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar