PENGARUH PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS
BIBIT KELAPA SAWIT
(Elaeis queneensis. Jacq) DAN VOLUME
PEMBERIAN AIR DI PEMBIBITAN UTAMA
ROVER
Program
Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan.
Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Telp : 081371442912 E-mail : roverblazer@yahoo.com
Teluk Kuantan, Riau.
ABSTRACT
The experiment was conducted at Main nursery (BBU)
Horticulture Sentajo Middle District of Kuantan
Singingi Riau Province. This research time
is 4 (four) months
from April to July 2012. This study uses a Complete Randomized Design (CRD)
factorial consisting of two factors, factors V (several varieties)
treatment consists of 3 levels, namely: V1
= D x P Topaz (age 4 months), V2 = Seed sweep (age 4 months), V3 = D x P Yangambi (age 4 months). and factors A (giving
water) which consists
of 3 levels: A1
(giving water 1,500
ml / plant),
A2 (giving of water
3,000 ml /
plant), A3 (giving
4,500 ml/ plant). To determine the growth
of oil palm seedlings (Elaeis queneensis. Jacq)
in the main
nursery was observed with the following parameters:
plant height (cm), number of leaves (strands) and stem diameter
(mm). The results showed a single treatment in
some varieties of
oil palm seedlings at the last
observation significantly affect at plant height parameters, namely (V3) varieties yangambi
65.13 cm, number
of leaves of (V3) 8.70 yangambi varieties
strands and also
on the stem diameter (V3 ) varieties yangambi 12.29 mm.
Single provision of
water treatment had no significant
effect on all parameters. interaction
of several varieties and the provision of water
had no significant effect on all
parameters.
Key word : varieties, oil palm,
water
PENDAHULUAN
Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh
pemerintah Belanda pada tahun 1848, saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit
yang dibawa dari Mauritius dan Amsterdam lalu ditanam di kebun Raya Bogor. Selanjutnya
hasil anakannya dipindahkan ke Deli Sumatera Utara. Ditempat ini selama
beberapa puluh tahun tanaman kelapa sawit berkembang hanya sebagai tanaman hias
sehingga potensi yang sesungguhnya belum kelihatan. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia
adalah Adrien Hallet (orang Belgia). Budidaya yang dilakukannya diikuti oleh
K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan
Aceh, luas areal perkebunan mencapai 5.123 Ha (Satyawibawa dkk, 1992).
Kelapa sawit merupakan komoditas yang mempunyai nilai strategis
karena merupakan bahan baku utama pembuatan minyak goreng. Kebutuhan minyak nabati dan lemak dunia terus
meningkat sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan.
Jumlah penduduk di negara-negara kawasan Timur sekitar 3,2 milyar atau 50% dari
penduduk dunia. Dimana tingkat
pertumbuhan ekonomi pada saat ini hingga tahun 2010 merupakan yang paling
tinggi. Selain itu, konsumsi minyak per
kapita penduduk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara juga masih jauh dibawah
rata-rata penggunaan minyak nabati dan lemak per kapita per tahun penduduk
dunia (Pahan,2007).
Bibit kelapa sawit yang baik harus berasal dari pusat sumber benih yang
telah memiliki legalitas dari pemerintah. Menurut SK Menteri Pertanian Nomor
KB. 320/ 261/ Kpts/5/1984, institusi penjual kecambah berlegitimasi di
Indonesia yaitu PPP Marihat, PPP Medan (RISPA), PT. Scofindo, Dami Mas (SMART),
Sriwijaya (Selapan Jaya), PPP Marihat dan PPP Medan (RISPA) sekarang telah
dilebur menjadi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan (Pahan, 2007).
Dengan meningkatnya luas areal perkebunan sawit, maka diperlukan juga
ketersedian bahan tanaman atau bibit kelapa sawit dalam jumlah yang sesuai
dengan kebutuhan. Bibit yang bervarietas unggul adalah DxP Marihat dan DxP
Yangambi. Suatu bibit dikatakan bibit unggul adalah bibit yang berasal dari
benih yang telah melewati sebuah pengawasan mulai dari persilangan, pemanenan
buah, pemilihan buah dan perkecambahan. Bibit unggul adalah bibit yang telah
mengikuti proses produksi benih seperti yang lazim digunakan oleh produsen
benih dan dipersyaratkan oleh pemerintah untuk benih kelapa sawit. Keunggulan
kelapa sawit yang berasal dari bibit unggul adalah mampu berproduksi sekitar
7,5-8,5 ton CPO/ha/tahun.
Bibit sapuan (tidak unggul)
secara umum dapat diketahui produksi tandan dan minyak dari tanaman yang
berasal dari benih sapuan setinggi-tingginya hanya 50% dari tanaman yang
berasal dari benih unggul. Selain merugikan konsumen dari segi produksi,
penggunaan benih sapuan menimbulkan kerugian pada berbagai subsektor
seperti : merusak peralatan pabrik karena harus mengolah biji bercangkang
tebal, menurunkan tingkat produktivitas dan daya saing nasional dibidang
perkelapa sawitan.
Ada tiga faktor yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sepanjang kehidupannya, yaitu (1)
innate, (2) induce, (3) enforce. Faktor innate adalah faktor yang terkait
dengan genetik tanaman, faktor ini bersifat mutlak dan sudah ada sejak mulai
terbentuknya embrio dalam biji. Bagi pengelola kebun tindakan yang bisa
dilakukan untuk mengelola faktor innate ini hanyalah dengan memilih jenis
kecambah dan membeli jaminan (legitimasi) yang dikeluarkan oleh institusi yang
menjual kecambah. Faktor induce adalah faktor yang mempengaruhi ekspresi sifat
genetik sebagai manifestasi faktor lingkungan yang terkait dengan keadaan
buatan manusia (artifisial). Faktor enforce adalah faktor lingkungan (alam)
yang bisa bersifat merangsang dan/atau menghambat pertumbuhan dan produksi
tanaman. Misal faktor keadaan tanah dan iklim, seperti temperatur, kelembapan
udara, curah hujan, serta lama penyinaran (Pahan, 2007).
Bertitik tolak dari faktor di
atas terhadap faktor enforce yaitu curah hujan/pengairan untuk menjaga
ketersediaan air di pembibitan maka harus dibuat bak penampung untuk mencegah
kekurangan air/kekeringan. Curah hujan optimum yang diperlukan tanaman kelapa
sawit rata-rata 2.000-2.500 mm/tahun dengan distribusi merata sepanjang tahun
tanpa bulan kering yang berkepanjangan. Curah hujan yang merata dapat
menurunkan panguapan dari tanah dan tanaman kelapa sawit (Fauzi, 2006).
Seluruh bibit membutuhkan
sejumlah air setiap harinya, air merupakan kebutuhan utama bagi pembibitan
karena sangat diperlukan tanaman dalam proses fisiologis. Penyiraman yang
kurang sempurna akan mengakibatkan kelainan dan bahkan bisa sampai
mengakibatkan kematian. Air yang diberikan harus disesuaikan dengan kehilangan
air akibat proses fisiologis tanaman seperti evapotranspirasi, gutasi dan
asimilasi yang sangat dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Rata-rata kebutuhan air
dipembibitan setara dengan curah hujan 3,4 mm/hari (34.000 liter/ha/hari atau
2,25 liter per polibag). Penyiraman tidak perlu dilakukan jika turun hujan pada
hari tersebut dengan curahan minimum 8 mm (Pahan, 2007).
Faktor yang sangat penting untuk
menjamin keberhasilan pembibitan adalah kemampuan menyediakan air dan unsur
hara untuk bibit dalam jumlah yang cukup dengan jaringan irigasi yang baik.
Kebutuhan air di pembibitan bertambah sejalan dengan pertambahan umur bibit. Di
pembibitan utama bibit akan tumbuh secara normal bila kebutuhannya terpenuhi
yaitu sebesar 12,5 mm (ekivalen hujan) setiap 2 liter per hari (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Indonesia Oil Palm Research
Institute, 2008). Tujuan Penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit dan
volume pemberian air di pembibitan utama
baik secara tunggal maupun secara interaksi.
BAHAN DAN
METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Balai Benih Utama (BBU) Hortikultura Sentajo
Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau. Waktu yang digunakan selama 4 (empat) bulan yaitu dari bulan April
sampai Juli 2012.
Bahan dan alat
Bahan yang
digunakan adalah bibit kelapa sawit varietas D x P Topaz, Bibit sapuan dan D x
P Yangambi yang masing-masing varietas berumur 4 bulan, polybag hitam berukuran
35 x 40 cm, tanah top soil disekitar Balai Benih Utama (BBU), pupuk kandang,
pupuk NPK Mutiara (16:16:16) 20 g/polybag, pupuk kandang insektisida Decis,
Fungisida Dithane M-45 dan air.
Alat yang
digunakan adalah cangkul, ayakan tanah 5 mm, parang, pisau, ember, kayu, hand
sprayer, kamera, tabung air mineral, alat tulis, papan ulangan, tali,
meteran,timbangan, plang nama serta alat lain yang mendukung dalam penelitian
ini.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL) faktorial yang terdiri dari 2
faktor yaitu : Faktor V (Varietas)
terdiri dari 3 taraf dan faktor A (Pemberian Air) terdiri dari 3 taraf.
Faktor V (Varietas) yang terdiri dari 3 taraf yaitu:
V1 = D x P Topaz (Umur 4 bulan)
V2 = Bibit sapuan (Umur 4 bulan)
V3 = D x P Yangambi (Umur 4 bulan)
Faktor (A) Pemberian Air terdiri dari 3 taraf yaitu:
A1 = Pemberian Air 1.500 ml/tanaman
A2 = Pemberian Air 3.000 ml/tanaman
A3 =
Pemberian Air 4.500 ml/tanaman
Dari
hasil pengamatan masing-masing perlakuan dianalisis secara statistik apabila F
Hitung lebih besar dari F Tabel 5% maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda
Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Tinggi
Tanaman (cm)
Hasil
analisis sidik ragam (ansira) pada tinggi tanaman terhadap pengaruh
pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (elaeis guineensis jacq) dan volume pemberian air di pembibitan
utama menunjukkan bahwa pengaruh
pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit secara tunggal berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman, pada pengamatan ke-1 (saat tanam), pengamatan ke-2 (minggu ke-4),
pengamatan ke-3 (minggu ke-8) dan pengamatan ke-4 (minggu ke-12),
sedangkan perlakuan volume
pemberian air tidak
menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap
tinggi tanaman dan begitu juga perlakuan secara interaksi antara beberapa
varietas bibit kelapa sawit dan pemberian air juga tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.
Dari
hasil pengamatan di lapangan diketahui bahwa bibit kelapa sawit asal benih
unggul lebih seragam pertumbuhannya dibandingkan dengan bibit kelapa sawit asal
benih liar. Kondisi ini dapat dilihat dari pertumbuhan yang lebih seragam pada
pertambahan bibit kelapa sawit asal benih unggul dibandingkan dengan bibit kelapa
sawit benih liar.
Pada Tabel 1 di bawah terlihat bahwa tinggi tanaman bibit
kelapa sawit pada pengamatan ke-1 (saat tanam) pada penelitian ini berkisar
antara 19,89 cm - 31,33 cm. Dalam perlakuan beberapa varietas bibit
kelapa sawit (V), tinggi tanaman berkisar antara 20,96 cm
- 31,18 cm. Sedangkan perlakuan pemberian air (A) tinggi tanaman berkisar
antara 26,48 cm - 28,00 cm.
Tabel 1. Rerata tinggi tanaman terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (Elaeis quineensis. Jacq) dan volume pemberian air di pembibitan utama (cm).
|
Pengamatan
|
Faktor V
(Varietas)
|
Faktor A (Pemberian air )
|
|||
|
A1
|
A2
|
A3
|
Rerata V
|
||
|
I
(saat tanam)
|
V1
|
30.97
|
31.23
|
31.33
|
31.18a
|
|
V2
|
19.89
|
20.09
|
22.90
|
20.96c
|
|
|
V3
|
30.07
|
28.11
|
29.78
|
29.32ab
|
|
|
Rerata A
|
26.97
|
26.48
|
28.00
|
|
|
|
KK = 7,61% BNJ V = 2,45
|
|||||
|
II
(minggu ke 4)
|
V1
|
40.76
|
40.44
|
40.60
|
40.60a
|
|
V2
|
28.01
|
22.94
|
27.09
|
26.01b
|
|
|
V3
|
41.63
|
40.67
|
44.90
|
42.40a
|
|
|
Rerata A
|
36.80
|
34.69
|
37.53
|
|
|
|
KK = 11,84% BNJ V = 5,16
|
|||||
|
III
(minggu ke 8)
|
V1
|
52.13
|
49.67
|
50.16
|
50.65a
|
|
V2
|
36.89
|
32.87
|
37.01
|
35.59b
|
|
|
V3
|
53.74
|
54.51
|
58.62
|
55.63a
|
|
|
Rerata A
|
47.59
|
45.68
|
48.60
|
|
|
|
KK = 10,54% BNJ V = 5,99
|
|||||
|
IV
(minggu ke 12)
|
V1
|
60.89
|
58.72
|
61.36
|
60.32a
|
|
V2
|
42.39
|
39.33
|
43.67
|
41.80b
|
|
|
V3
|
62.44
|
67.00
|
65.94
|
65.13a
|
|
|
Rerata A
|
55.24
|
55.02
|
56.99
|
|
|
|
KK = 10,25% BNJ V = 6,85
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh huruf kecil
yang sama adalah tidak berbeda nyata
pada taraf uji 5% menurut Uji
Lanjut BNJ
Perlakuan beberapa varietas (V), varietas topaz (V1)
tinggi tanaman memiliki nilai tertinggi yaitu 31,18 cm. Tinggi tanaman ke-2
diperoleh pada perlakuan varietas yangambi (V3) dengan nilai 29,32 cm,
Tinggi tanaman terendah diperoleh pada perlakuan bibit sapuan (V2) dengan nilai
20,96 cm.
Pada pengamatan ke-2 (minggu ke-4) menunjukkan bahwa
perlakuan beberapa varietas secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, dimana perlakuan
varietas yang terbaik adalah yangambi
(V3) yaitu 42,40 cm tidak berbeda nyata dengan topaz (V1) 40,60 cm, tetapi
berbeda nyata dengan perlakuan V2 (bibit sapuan) yaitu 26,01 cm. Begitu juga
dengan pada pengamatan ke-3 (minggu ke-8), dimana perlakuan varietas yang
terbaik adalah yangambi (V3) yaitu 55,63 cm tidak berbeda nyata dengan topaz
(V1) 50,65 cm tetapi berbeda nyata dengan perlakuan V2 (bibit sapuan) 35,59 cm.
Pengamatan ke-4 (minggu ke-12) juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, dimana perlakuan
varietas yang terbaik adalah yangambi
(V3) yaitu 65,13 cm tidak berbeda nyata dengan topaz (V1) 60,32 cm, tetapi
berbeda nyata dengan perlakuan V2 (bibit sapuan) yaitu 41,80 cm. Hal ini diduga
karena perbedaan varietas bibit kelapa sawit yang kita gunakan. Varieatas D x P
Yangambi merupakan bibit yang paling bagus pertumbuhannya kemudian diikuti D x P Topaz jika dibandingkan dengan bibit
sapuan yang terlihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 1. Perbedaan varietas V1 (topaz), V2 (sapuan), dan
V3 (yangambi)
Perbedaan pertumbuhan yang berbeda terhadap tinggi
tanaman pada beberapa varietas ini disebabkan oleh bibit kelapa sawit asal
benih liar berasal dari induk yang kurang baik/asalnya tidak diketahui sehingga
pertumbuhannya tidak seperti yang diharapkan. Setyamidjaja (1996) menjelaskan
bahwa tujuan dari pembibitan adalah untuk mendapatkan bibit yang tumbuh seragam
dan bebas dari bibit yang abnormal sehingga didapatkan bibit yang baik.
Selanjutnya Fauzi (2005) mencirikan bahwa ciri-ciri bibit liar adalah
pertumbuhan bibit yang tidak seragam, persentase pertumbuhan bibit yang abnormal
cukup tinggi dan bibit terlihat kurus karena endosperm yang berisi cadangan
makanan berukuran kecil. Untuk pemenuhan kebutuhan bibit kelapa sawit sangat
berhubungan dengan kegiatan pengadaan benih mulai dari pemungutan, penyimpanan,
pengujian, pendistribusian hingga kegiatan penyemaian dan pemeliharaan bibit di
lapangan.
Menurut Solahudin (2004) menyatakan bahwa
keberhasilan pertumbuhan tanaman kelapa sawit di lapangan sangat ditentukan
oleh kondisi bibit yang ditanam, sementara itu keberhasilan pembibitan di
lapangan diawali oleh pengadaan dan penggunaan benih, perolehan bibit yang
unggul hanya dapat diperoleh dari benih yang unggul dan bermutu.
Jumlah Daun (helai)
Hasil analisis sidik ragam (ansira) pada jumlah daun
terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) dan volume
pemberian air di pembibitan utama menunjukkan
bahwa pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit secara tunggal berpengaruh nyata terhadap jumlah daun,
pada pengamatan ke-1 (saat tanam), pengamatan ke-2 (minggu ke-4), pengamatan
ke-3 (minggu ke-8) dan pengamatan ke-4 (minggu ke-12), sedangkan perlakuan volume pemberian air tidak menunjukkan
pengaruh yang nyata terhadap
jumlah daun pada pengamatan ke-1 (saat tanam), pengamatan ke-2 (minggu ke-4),
dan pengamatan ke-4 (minggu ke-12) tetapi pada pengamatan ke-3 (minggu ke-8)
menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan beberapa varietas bibit
kelapa sawit. Sedangkan perlakuan secara interaksi antara
beberapa varietas bibit kelapa sawit dan pemberian
air juga tidak menunjukkan pengaruh
nyata.
Tabel 2. Rerata jumlah daun
terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa
varietas bibit kelapa sawit (Elaeis
quineensis. Jacq) dan volume pemberian air di pembibitan utama (helai).
|
Pengamatan
|
Faktor V
(Varietas)
|
Faktor A (Pemberian air )
|
|||
|
A1
|
A2
|
A3
|
Rerata
V
|
||
|
I
(saat tanam)
|
V1
|
4.56
|
4.44
|
4.22
|
4.41b
|
|
V2
|
4.44
|
4.22
|
4.00
|
4.22b
|
|
|
V3
|
5.44
|
5.44
|
5.44
|
5.44a
|
|
|
Rerata
A
|
4.81
|
4.70
|
4.56
|
|
|
|
KK = 8,52% BNJ V = 0,46
|
|||||
|
II
(minggu ke 4)
|
V1
|
5.56
|
5.22
|
5.22
|
5.33b
|
|
V2
|
5.00
|
4.56
|
4.89
|
4.81b
|
|
|
V3
|
6.89
|
6.33
|
6.67
|
6.63a
|
|
|
Rerata
A
|
5.81
|
5.37
|
5.59
|
|
|
|
KK = 8,94% BNJ V = 0,57
|
|||||
|
III
(minggu ke 8)
|
V1
|
7.00
|
6.56
|
6.78
|
6.78b
|
|
V2
|
6.22
|
6.11
|
6.00
|
6.11c
|
|
|
V3
|
7.89
|
7.78
|
7.78
|
7.81a
|
|
|
Rerata
A
|
7.04
|
6.81
|
6.85
|
|
|
|
KK = 7,66% BNJ V = 0,61
|
|||||
|
IV
(minggu ke 12)
|
V1
|
7.78
|
7.89
|
7.89
|
7.85b
|
|
V2
|
6.56
|
6.67
|
7.00
|
6.74c
|
|
|
V3
|
8.33
|
8.78
|
9.00
|
8.70a
|
|
|
Rerata
A
|
7.56
|
7.78
|
7.96
|
|
|
|
KK = 6,93% BNJ V = 0,61
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh huruf kecil
yang sama adalah tidak berbeda nyata
pada taraf uji 5% menurut Uji
Lanjut BNJ
Pada pengamatan ke-4 (minggu ke-12)
Jumlah daun bibit kelapa sawit asal benih unggul Yangambi (V3) mempunyai
rata-rata yang lebih banyak dari yang lainnya yaitu sebesar 8,70 helai,
varietas Yangambi (V3) berbeda nyata dengan varietas Topaz (V1) yaitu 7,85
helai dan varietas sapuan (V2) yaitu 6,74 helai. Hal ini memberikan gambaran
bahwa daun bibit kelapa sawit yang berasal dari benih unggul mempunyai penampilan
fisik yang lebih rimbun dan pertumbuhan yang seragam dari benih sapuan
disebabkan oleh benih yang digunakan berasal dari induk yang sama dan jelas
asal usulnya sehingga menghasilkan bibit-bibit yang lebih seragam dalam
pertumbuhannya. Sedangkan bibit sawit asal benih liar benih yang digunakan
berasal dari induk yang tidak jelas asalnya dan beragam sehingga menyebabkan
pertumbuhan yang beragam/berbeda-beda pula mengikuti sifat induknya
masing-masing.
Dalam perlakuan
volume pemberian air (A), pada pengamatan ke-4 (minggu ke-12) perlakuan
pemberian air A3 (4500ml/tanaman) memberikan nilai jumlah daun tertinggi yaitu
7.96 helai. Kemudian diikuti pada perlakuan pemberian air A2 (3000ml/tanaman)
dengan nilai 7,78 helai dan jumlah daun terrendah diperoleh pada perlakuan A1
(1500ml/ tanaman) dengan nilai 7,56 helai, dari hasil tersebut terlihat bahwa
perbedaan jumlah daun untuk beberapa varietas kelapa sa wit tidak memberikan
perbedaan jumlah daun yang hampir sama atau tidak berbeda nyata.
Hal ini dijelaskan oleh Gardner et al (1991) bahwa jumlah bakal daun
yang terdapat pada embrio biji yang masak merupakan karakteristik spesies,
jumlah dan ukuran daun dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan.
Dari
hasil pengamatan pertambahan jumlah daun terlihat bahwa perbedaan jumlah daun
untuk perlakuan beberapa varietas dan pemberian
air tidak memberikan perbedaan
jumlah daun yang hampir sama atau tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan karena
terjadinya peningkatan jumlah daun dan terjadinya pertambahan tinggi tanaman
sehingga akan menyebabkan unsur hara dan ketersediaan air dalam tanah akan
sangat berkurang dan kemudian akan mempengaruhi perkembangan tanaman terutama
dalam pembentukan jumlah daun pada bibit kelapa sawit. Hal ini dijelaskan oleh Gardner et al (1991) bahwa
jumlah bakal daun yang terdapat pada embrio biji yang masak merupakan
karakteristik spesies. Jumlah dan ukuran daun dipengaruhi oleh genotipe dan
lingkungan.
Jumin
(2002) Menyatakan bahwa defisit air langsung mempengaruhi pertumbuhan vegetatif
tanaman, proses pada sel tanaman ditentukan oleh tegangan turgor. Hilangnya
turginitas dapat menghentikan pertumbuhan sel (penggandaan dan pembesaran) yang
akibatnya pertumbuhan terhambat.
Diameter Batang (mm)
Hasil analisis sidik ragam (ansira)
pada diameter batang terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (elaeis guineensis jacq) dan volume
pemberian air di pembibitan utama menunjukkan bahwa pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit secara tunggal berpengaruh nyata terhadap
diameter batang tanaman, pada pengamatan ke-1 (saat tanam), pengamatan ke-2
(minggu ke-4), pengamatan ke-3 (minggu ke-8) dan pengamatan ke-4 (minggu
ke-12), sedangkan perlakuan volume pemberian air tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap diameter batang dan
begitu juga perlakuan secara interaksi antara beberapa varietas bibit kelapa sawit dan pemberian air juga tidak menunjukkan pengaruh
yang nyata.
Pada pengamatan ke-4
(minggu ke-12) menunnjukan bahwa diameter batang bibit kelapa sawit benih
unggul Yangambi (V3) mempunyai rata-rata yang lebih besar dari yang lain yaitu
sebesar 12,29 mm, berbeda nyata dengan varietas Topaz (V1) yaitu 10,41 mm dan
varietas sapuan (V2) yaitu 6,85 mm. akan tetapi standard deviasi diameter
batang bibit kelapa sawit benih unggul adalah lebih besar dibandingkan dengan
diameter batang bibit kelapa sawit benih sapuan.
Hal ini memberikan
gambaran bahwa diameter batang bibit kelapa sawit yang berasal dari benih
unggul mempunyai penampilan fisik yang lebih besar akan tetapi bibit kelapa
sawit asal benih unggul lebih seragam diameter batangnya dibanding bibit kelapa
sawit sapuan. Diameter batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman
khususnya tanaman yang masih mudah. Salisbury & Ross (1997) menyatakan bahwa
bertambahnya ukuran organ tanaman secara keseluruhan merupakan akibat dari
bertambahnya jaringan dan ukuran sel.
Tabel 3. Rerata diameter batang
terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa
varietas bibit kelapa sawit (Elaeis
quineensis. Jacq) dan volume pemberian air di pembibitan utama (mm).
|
Pengamatan
|
Faktor V
(Varietas)
|
Faktor A (Pemberian air )
|
|||
|
A1
|
A2
|
A3
|
Rerata
V
|
||
|
I
(saat tanam)
|
V1
|
2.03
|
2.09
|
2.02
|
2.05b
|
|
V2
|
1.74
|
1.79
|
1.63
|
1.72b
|
|
|
V3
|
2.48
|
2.84
|
2.61
|
2.64a
|
|
|
Rerata
A
|
2.08
|
2.24
|
2.09
|
|
|
|
KK = 23,36% BNJ V = 0,57
|
|||||
|
II
(minggu ke 4)
|
V1
|
5.40
|
4.73
|
5.00
|
5.04b
|
|
V2
|
4.14
|
3.74
|
4.26
|
4.05b
|
|
|
V3
|
6.49
|
6.98
|
7.01
|
6.83a
|
|
|
Rerata
A
|
5.34
|
5.15
|
5.42
|
|
|
|
KK = 15,97% BNJ V = 1,01
|
|||||
|
|
|
||||
|
III
(minggu ke 8)
|
V1
|
8.08
|
7.51
|
8.02
|
7.87b
|
|
V2
|
4.73
|
4.12
|
5.51
|
4.79c
|
|
|
V3
|
10.02
|
8.54
|
10.76
|
9.77a
|
|
|
Rerata
A
|
7.61ab
|
6.73b
|
8.10a
|
|
|
|
KK = 13,09% BNJ V = 1,15 BNJ A = 1,15
|
|||||
|
IV
(minggu ke 12)
|
V1
|
10.24
|
10.22
|
10.78
|
10.41b
|
|
V2
|
6.29
|
6.33
|
7.92
|
6.85c
|
|
|
V3
|
12.29
|
12.39
|
12.18
|
12.29a
|
|
|
Rerata
A
|
9.61
|
9.65
|
10.29
|
|
|
|
KK = 14,95% BNJ V = 1,76
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh huruf kecil
yang sama adalah tidak berbeda nyata
pada taraf uji 5% menurut Uji
Lanjut BNJ
Dalam
perlakuan pemberian air (A), perlakuan pemberian air 4500 ml/tanaman (A3) memberikan
nilai diameter batang tertinggi yaitu 10,29 mm yang terendah diperoleh pada
perlakuan pemberian air 1500 ml/tanaman (A1) dengan nilai 9,61 mm.
Diameter batang bibit kelapa sawit secara interaksi pada pengamatan
ke-4 (minggu ke-12) menunnjukan bahwa diameter batang bibit kelapa sawit pada penelitian ini berkisar antara 6,29 – 12,39 mm. Penggunaan
air oleh tanaman tidak dapat dilepaskan oleh adanya pengaruh suhu, kelembaban,
dan evaporasi. Diketahui suhu didalam rumah kasa cukup tinggi sehingga transpirasi
pada tanaman akan tinggi yang menyebabkan kehilangan air dalam jumlah yang
cukup besar bagi tanaman.
Meskipun respon pertumbuhan beberapa varietas dan volume
pemberian air menunjukkan hasil berbeda tidak nyata, pada
penelitian memperlihatkan hasil rata-rata diameter batang bibit kelapa sawit,
pertambahan diameter batang yang tertinggi dari semua perlakuan adalah
perlakuan V3A2 (varietas Yangambi dan pemberian air 3000mm) yaitu 12,39 mm,
sedangkan yang terendah adalah V2A1 (varietas sapuan dan pemberian air 1500mm)
yaitu 6,29 mm. Namun secara keseluruhan tidak memperlihatkan perbedaan yang
nyata, hal ini menimbulkan dugaan bahwa pemberian air tersebut tidak
memperlihatkan kontribusi yang nyata, dimana fungsinya dalam pengangkutan unsur
hara, pelarut, serta sebagai penyusun jaringan tanaman berjalan dengan baik.
Jumin
(2002) air sangat berfungsi dalam
pengangkutan atau transportasi unsur hara dari akar ke jaringan tanaman sebagai
pelarut garam-garam nineral, serta yang terpenting air merupakan penyusun dari
jaringan tanaman. Bonggol merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman yang
masih mudah. Menurut Salisbury dan ross (1997) bahwa bertambahnya ukuran organ
tanaman secara keseluruhan merupakan akibat dari bertambahnya jaringan dan
ukuran sel. Sarif (1985) menyatakan ketersediaan unsur hara yang dapat diserap
tanaman dengan pemberian air yang cukup oleh tanaman merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi bonggol.
KESIMPULAN
1.
Perlakuan tunggal beberapa varietas bibit kelapa sawit pada
pengamatan akhir penelitian berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman
yaitu (V3) varietas yangambi 65,13 cm, jumlah daun yaitu (V3) varietas yangambi
8,70 helai dan diameter batang diameter batang juga pada (V3) varietas yangambi
12,29 mm.
2.
Perlakuan tunggal pemberian air pada bibit kelapa sawit pada
pengamatan akhir penelitian tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter,
3.
Perlakuan secara interaksi beberapa varietas dan pemberian air
tidak berpengaruh nyata terhadap semua pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA
Fauzi. Y dkk,
2006, Budidaya Pemanfaatan Hasil dan
Limbah, Analisa dan Panen Kelapa Sawit, Penebar Swadaya, Jakarta.
Gardner, F.P., R.B. Pearce, dan R.L. Mitchell. 1991. Physiology
of Crop Plants (Fisiologi Tanaman
Budidaya, alih bahasa oleh Susilo, H.). Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Harjadi, S dan Yahya S. 1996. Fisiologi Stress Lingkungan. PAU
Bioteknologi IPB. Bandung
Lakitan. B, 1996. Fisiologi Tumbuhandan Perkembangan Tanaman. Rajawali pers. Jakarta.
203 hal.
Pahan, Iyung. 2007. Manajemen
Agribisnis dari Hulu hingga Hilir.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Salisbury, F.B. dan Ross, C.W. 1995. Fisiologi Tumbuhan II.
Ed. 4. Terjemahan: D.R. Lukman dan Sumaryono. Penerbit ITB. Bandung.
Solahuddin, 2004. Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Pembibitan Kelapa Sawit di PT. Kerinci Agung. Makalah pada Training Senior
Konduktor dan Supervisor PT. TKA dan PT. SSS. Sungai Talang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar