Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 2 No. 2, Oktober 2012 HAL 11-18

PENGARUH PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS BIBIT KELAPA SAWIT
  (Elaeis queneensis. Jacq) DAN VOLUME PEMBERIAN AIR DI PEMBIBITAN UTAMA

ROVER

Program Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Telp : 081371442912 E-mail : roverblazer@yahoo.com Teluk Kuantan, Riau.

ABSTRACT

The experiment was conducted at Main nursery (BBU) Horticulture Sentajo Middle District of Kuantan Singingi Riau Province. This research time is 4 (four) months from April to July 2012. This study uses a Complete Randomized Design (CRD) factorial consisting of two factors, factors V (several varieties) treatment consists of 3 levels, namely: V1 = D x P Topaz (age 4 months), V2 = Seed sweep (age 4 months), V3 = D x P Yangambi (age 4 months). and factors A (giving water) which consists of 3 levels: A1 (giving water 1,500 ml / plant), A2 (giving of water 3,000 ml / plant), A3 (giving 4,500 ml/ plant). To determine the growth of oil palm seedlings (Elaeis queneensis. Jacq) in the main nursery was observed with the following parameters: plant height (cm), number of leaves (strands) and stem diameter (mm). The results showed a single treatment in some varieties of oil palm seedlings at the last observation significantly affect at plant height parameters, namely (V3) varieties yangambi 65.13 cm, number of leaves of (V3) 8.70 yangambi varieties strands and also on the stem diameter (V3 ) varieties yangambi 12.29 mm. Single provision of water treatment had no significant effect on all parameters. interaction of several varieties and the provision of water had no significant effect on all parameters.

Key word : varieties, oil palm, water


PENDAHULUAN
Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848, saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mauritius dan Amsterdam lalu ditanam di kebun Raya Bogor. Selanjutnya hasil anakannya dipindahkan ke Deli Sumatera Utara. Ditempat ini selama beberapa puluh tahun tanaman kelapa sawit berkembang hanya sebagai tanaman hias sehingga potensi yang sesungguhnya belum kelihatan. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia). Budidaya yang dilakukannya diikuti oleh K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh, luas areal perkebunan mencapai 5.123 Ha (Satyawibawa dkk, 1992).
Kelapa sawit merupakan komoditas yang mempunyai nilai strategis karena merupakan bahan baku utama pembuatan minyak goreng.  Kebutuhan minyak nabati dan lemak dunia terus meningkat sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan. Jumlah penduduk di negara-negara kawasan Timur sekitar 3,2 milyar atau 50% dari penduduk dunia.  Dimana tingkat pertumbuhan ekonomi pada saat ini hingga tahun 2010 merupakan yang paling tinggi.  Selain itu, konsumsi minyak per kapita penduduk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara juga masih jauh dibawah rata-rata penggunaan minyak nabati dan lemak per kapita per tahun penduduk dunia (Pahan,2007).
Bibit kelapa sawit yang baik harus berasal dari pusat sumber benih yang telah memiliki legalitas dari pemerintah. Menurut SK Menteri Pertanian Nomor KB. 320/ 261/ Kpts/5/1984, institusi penjual kecambah berlegitimasi di Indonesia yaitu PPP Marihat, PPP Medan (RISPA), PT. Scofindo, Dami Mas (SMART), Sriwijaya (Selapan Jaya), PPP Marihat dan PPP Medan (RISPA) sekarang telah dilebur menjadi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan (Pahan, 2007).
Dengan meningkatnya luas areal perkebunan sawit, maka diperlukan juga ketersedian bahan tanaman atau bibit kelapa sawit dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Bibit yang bervarietas unggul adalah DxP Marihat dan DxP Yangambi. Suatu bibit dikatakan bibit unggul adalah bibit yang berasal dari benih yang telah melewati sebuah pengawasan mulai dari persilangan, pemanenan buah, pemilihan buah dan perkecambahan. Bibit unggul adalah bibit yang telah mengikuti proses produksi benih seperti yang lazim digunakan oleh produsen benih dan dipersyaratkan oleh pemerintah untuk benih kelapa sawit. Keunggulan kelapa sawit yang berasal dari bibit unggul adalah mampu berproduksi sekitar 7,5-8,5 ton CPO/ha/tahun.
      Bibit sapuan (tidak unggul) secara umum dapat diketahui produksi tandan dan minyak dari tanaman yang berasal dari benih sapuan setinggi-tingginya hanya 50% dari tanaman yang berasal dari benih unggul. Selain merugikan konsumen dari segi produksi, penggunaan benih sapuan menimbulkan kerugian pada berbagai subsektor seperti : merusak peralatan pabrik karena harus mengolah biji bercangkang tebal, menurunkan tingkat produktivitas dan daya saing nasional dibidang perkelapa sawitan.
      Ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sepanjang kehidupannya, yaitu (1) innate, (2) induce, (3) enforce. Faktor innate adalah faktor yang terkait dengan genetik tanaman, faktor ini bersifat mutlak dan sudah ada sejak mulai terbentuknya embrio dalam biji. Bagi pengelola kebun tindakan yang bisa dilakukan untuk mengelola faktor innate ini hanyalah dengan memilih jenis kecambah dan membeli jaminan (legitimasi) yang dikeluarkan oleh institusi yang menjual kecambah. Faktor induce adalah faktor yang mempengaruhi ekspresi sifat genetik sebagai manifestasi faktor lingkungan yang terkait dengan keadaan buatan manusia (artifisial). Faktor enforce adalah faktor lingkungan (alam) yang bisa bersifat merangsang dan/atau menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman. Misal faktor keadaan tanah dan iklim, seperti temperatur, kelembapan udara, curah hujan, serta lama penyinaran (Pahan, 2007).
      Bertitik tolak dari faktor di atas terhadap faktor enforce yaitu curah hujan/pengairan untuk menjaga ketersediaan air di pembibitan maka harus dibuat bak penampung untuk mencegah kekurangan air/kekeringan. Curah hujan optimum yang diperlukan tanaman kelapa sawit rata-rata 2.000-2.500 mm/tahun dengan distribusi merata sepanjang tahun tanpa bulan kering yang berkepanjangan. Curah hujan yang merata dapat menurunkan panguapan dari tanah dan tanaman kelapa sawit (Fauzi, 2006).
      Seluruh bibit membutuhkan sejumlah air setiap harinya, air merupakan kebutuhan utama bagi pembibitan karena sangat diperlukan tanaman dalam proses fisiologis. Penyiraman yang kurang sempurna akan mengakibatkan kelainan dan bahkan bisa sampai mengakibatkan kematian. Air yang diberikan harus disesuaikan dengan kehilangan air akibat proses fisiologis tanaman seperti evapotranspirasi, gutasi dan asimilasi yang sangat dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Rata-rata kebutuhan air dipembibitan setara dengan curah hujan 3,4 mm/hari (34.000 liter/ha/hari atau 2,25 liter per polibag). Penyiraman tidak perlu dilakukan jika turun hujan pada hari tersebut dengan curahan minimum 8 mm (Pahan, 2007).
      Faktor yang sangat penting untuk menjamin keberhasilan pembibitan adalah kemampuan menyediakan air dan unsur hara untuk bibit dalam jumlah yang cukup dengan jaringan irigasi yang baik. Kebutuhan air di pembibitan bertambah sejalan dengan pertambahan umur bibit. Di pembibitan utama bibit akan tumbuh secara normal bila kebutuhannya terpenuhi yaitu sebesar 12,5 mm (ekivalen hujan) setiap 2 liter per hari (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Indonesia Oil Palm Research Institute, 2008).  Tujuan Penelitian ini untuk  mengetahui pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit dan volume pemberian air  di pembibitan utama baik secara tunggal maupun secara interaksi.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Balai Benih Utama (BBU) Hortikultura Sentajo Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau. Waktu yang digunakan selama 4 (empat) bulan yaitu dari bulan April sampai Juli 2012.

Bahan dan alat
Bahan yang digunakan adalah bibit kelapa sawit varietas D x P Topaz, Bibit sapuan dan D x P Yangambi yang masing-masing varietas berumur 4 bulan, polybag hitam berukuran 35 x 40 cm, tanah top soil disekitar Balai Benih Utama (BBU), pupuk kandang, pupuk NPK Mutiara (16:16:16) 20 g/polybag, pupuk kandang insektisida Decis, Fungisida Dithane M-45 dan air.
Alat yang digunakan adalah cangkul, ayakan tanah 5 mm, parang, pisau, ember, kayu, hand sprayer, kamera, tabung air mineral, alat tulis, papan ulangan, tali, meteran,timbangan, plang nama serta alat lain yang mendukung dalam penelitian ini.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial  yang terdiri dari 2 faktor  yaitu : Faktor V (Varietas) terdiri dari 3 taraf dan faktor A (Pemberian Air) terdiri dari 3 taraf.
Faktor V (Varietas) yang terdiri dari 3 taraf yaitu:
V1  = D x P Topaz (Umur 4 bulan)
V2  = Bibit sapuan (Umur 4 bulan)
V3  = D x P Yangambi (Umur 4 bulan)

Faktor (A) Pemberian Air terdiri dari 3 taraf yaitu:
A1  = Pemberian Air 1.500 ml/tanaman
A2  = Pemberian Air 3.000 ml/tanaman
       A3             = Pemberian Air 4.500 ml/tanaman

Dari hasil pengamatan masing-masing perlakuan dianalisis secara statistik apabila F Hitung lebih besar dari F Tabel 5% maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
            Hasil analisis sidik ragam (ansira) pada tinggi tanaman terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (elaeis guineensis jacq) dan volume pemberian air di pembibitan utama menunjukkan bahwa pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit secara tunggal berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, pada pengamatan ke-1 (saat tanam), pengamatan ke-2 (minggu ke-4), pengamatan ke-3 (minggu ke-8) dan pengamatan ke-4 (minggu ke-12), sedangkan  perlakuan volume pemberian air  tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman dan begitu juga perlakuan secara interaksi antara beberapa varietas bibit kelapa sawit  dan pemberian air juga tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.
            Dari hasil pengamatan di lapangan diketahui bahwa bibit kelapa sawit asal benih unggul lebih seragam pertumbuhannya dibandingkan dengan bibit kelapa sawit asal benih liar. Kondisi ini dapat dilihat dari pertumbuhan yang lebih seragam pada pertambahan bibit kelapa sawit asal benih unggul dibandingkan dengan bibit kelapa sawit benih liar.
Pada Tabel 1 di bawah terlihat bahwa tinggi tanaman bibit kelapa sawit pada pengamatan ke-1 (saat tanam) pada penelitian ini berkisar antara 19,89 cm - 31,33 cm. Dalam perlakuan beberapa varietas bibit kelapa sawit (V), tinggi tanaman berkisar antara 20,96 cm - 31,18 cm. Sedangkan perlakuan pemberian air (A) tinggi tanaman berkisar antara 26,48 cm - 28,00 cm.



Tabel 1.   Rerata tinggi tanaman  terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (Elaeis quineensis. Jacq) dan volume pemberian air  di pembibitan utama (cm).

Pengamatan
Faktor V
(Varietas)
Faktor A (Pemberian air )
A1
A2
A3
Rerata V

I
(saat tanam)
V1
30.97
31.23
31.33
31.18a
V2
19.89
20.09
22.90
20.96c
V3
30.07
28.11
29.78
29.32ab
Rerata A
26.97
26.48
28.00

KK = 7,61%            BNJ V = 2,45

II
(minggu ke 4)
V1
40.76
40.44
40.60
40.60a
V2
28.01
22.94
27.09
26.01b
V3
41.63
40.67
44.90
42.40a
Rerata A
36.80
34.69
37.53

KK = 11,84%          BNJ V = 5,16
III
(minggu ke 8)
V1
52.13
49.67
50.16
50.65a
V2
36.89
32.87
37.01
35.59b
V3
53.74
54.51
58.62
55.63a
Rerata A
47.59
45.68
48.60

KK = 10,54%        BNJ V = 5,99

IV
(minggu ke 12)
V1
60.89
58.72
61.36
60.32a
V2
42.39
39.33
43.67
41.80b
V3
62.44
67.00
65.94
65.13a
Rerata A
55.24
55.02
56.99

KK = 10,25%       BNJ V = 6,85
Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
                     


Perlakuan beberapa varietas (V), varietas topaz (V1) tinggi tanaman memiliki nilai tertinggi yaitu 31,18 cm. Tinggi tanaman ke-2 diperoleh pada perlakuan varietas yangambi (V3) dengan nilai 29,32 cm, Tinggi tanaman terendah diperoleh pada perlakuan bibit sapuan (V2) dengan nilai 20,96 cm.
Pada pengamatan ke-2 (minggu ke-4) menunjukkan bahwa perlakuan beberapa varietas secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, dimana perlakuan varietas yang terbaik adalah  yangambi (V3) yaitu 42,40 cm tidak berbeda nyata dengan topaz (V1) 40,60 cm, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan V2 (bibit sapuan) yaitu 26,01 cm. Begitu juga dengan pada pengamatan ke-3 (minggu ke-8), dimana perlakuan varietas yang terbaik adalah  yangambi (V3) yaitu  55,63 cm tidak berbeda nyata dengan topaz (V1) 50,65 cm tetapi berbeda nyata dengan perlakuan V2 (bibit sapuan) 35,59 cm.
Pengamatan ke-4 (minggu ke-12) juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, dimana perlakuan varietas yang terbaik adalah  yangambi (V3) yaitu 65,13 cm tidak berbeda nyata dengan topaz (V1) 60,32 cm, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan V2 (bibit sapuan) yaitu 41,80 cm. Hal ini diduga karena perbedaan varietas bibit kelapa sawit yang kita gunakan. Varieatas D x P Yangambi merupakan bibit yang paling bagus pertumbuhannya kemudian diikuti  D x P Topaz jika dibandingkan dengan bibit sapuan yang terlihat pada gambar dibawah ini.


Gambar 1. Perbedaan varietas V1 (topaz), V2 (sapuan), dan V3 (yangambi)






Perbedaan pertumbuhan yang berbeda terhadap tinggi tanaman pada beberapa varietas ini disebabkan oleh bibit kelapa sawit asal benih liar berasal dari induk yang kurang baik/asalnya tidak diketahui sehingga pertumbuhannya tidak seperti yang diharapkan. Setyamidjaja (1996) menjelaskan bahwa tujuan dari pembibitan adalah untuk mendapatkan bibit yang tumbuh seragam dan bebas dari bibit yang abnormal sehingga didapatkan bibit yang baik. Selanjutnya Fauzi (2005) mencirikan bahwa ciri-ciri bibit liar adalah pertumbuhan bibit yang tidak seragam, persentase pertumbuhan bibit yang abnormal cukup tinggi dan bibit terlihat kurus karena endosperm yang berisi cadangan makanan berukuran kecil. Untuk pemenuhan kebutuhan bibit kelapa sawit sangat berhubungan dengan kegiatan pengadaan benih mulai dari pemungutan, penyimpanan, pengujian, pendistribusian hingga kegiatan penyemaian dan pemeliharaan bibit di lapangan. 
 Menurut Solahudin (2004) menyatakan bahwa keberhasilan pertumbuhan tanaman kelapa sawit di lapangan sangat ditentukan oleh kondisi bibit yang ditanam, sementara itu keberhasilan pembibitan di lapangan diawali oleh pengadaan dan penggunaan benih, perolehan bibit yang unggul hanya dapat diperoleh dari benih yang unggul dan bermutu.
Jumlah Daun (helai)    
Hasil analisis sidik ragam (ansira) pada jumlah daun terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) dan volume pemberian air di pembibitan utama menunjukkan bahwa pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit secara tunggal berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, pada pengamatan ke-1 (saat tanam), pengamatan ke-2 (minggu ke-4), pengamatan ke-3 (minggu ke-8) dan pengamatan ke-4 (minggu ke-12), sedangkan  perlakuan volume pemberian air  tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun pada pengamatan ke-1 (saat tanam), pengamatan ke-2 (minggu ke-4), dan pengamatan ke-4 (minggu ke-12) tetapi pada pengamatan ke-3 (minggu ke-8) menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit. Sedangkan perlakuan secara interaksi antara beberapa varietas bibit kelapa sawit  dan pemberian air juga tidak menunjukkan pengaruh  nyata.

           

Tabel 2. Rerata jumlah daun terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (Elaeis quineensis. Jacq) dan volume pemberian air  di pembibitan utama (helai).
Pengamatan
Faktor V
(Varietas)
Faktor A (Pemberian air )
A1
A2
A3
Rerata V

I
(saat tanam)
V1
4.56
4.44
4.22
4.41b
V2
4.44
4.22
4.00
4.22b
V3
5.44
5.44
5.44
5.44a
Rerata A
4.81
4.70
4.56

KK = 8,52%            BNJ V = 0,46

II
(minggu ke 4)
V1
5.56
5.22
5.22
5.33b
V2
5.00
4.56
4.89
4.81b
V3
6.89
6.33
6.67
6.63a
Rerata A
5.81
5.37
5.59

KK = 8,94%            BNJ V = 0,57

III
(minggu ke 8)
V1
7.00
6.56
6.78
6.78b
V2
6.22
6.11
6.00
6.11c
V3
7.89
7.78
7.78
7.81a
Rerata A
7.04
6.81
6.85

KK = 7,66%            BNJ V = 0,61

IV
(minggu ke 12)
V1
7.78
7.89
7.89
7.85b
V2
6.56
6.67
7.00
6.74c
V3
8.33
8.78
9.00
8.70a
Rerata A
7.56
7.78
7.96

KK = 6,93%       BNJ V = 0,61
Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ

           

            Pada pengamatan ke-4 (minggu ke-12) Jumlah daun bibit kelapa sawit asal benih unggul Yangambi (V3) mempunyai rata-rata yang lebih banyak dari yang lainnya yaitu sebesar 8,70 helai, varietas Yangambi (V3) berbeda nyata dengan varietas Topaz (V1) yaitu 7,85 helai dan varietas sapuan (V2) yaitu 6,74 helai. Hal ini memberikan gambaran bahwa daun bibit kelapa sawit yang berasal dari benih unggul mempunyai penampilan fisik yang lebih rimbun dan pertumbuhan yang seragam dari benih sapuan disebabkan oleh benih yang digunakan berasal dari induk yang sama dan jelas asal usulnya sehingga menghasilkan bibit-bibit yang lebih seragam dalam pertumbuhannya. Sedangkan bibit sawit asal benih liar benih yang digunakan berasal dari induk yang tidak jelas asalnya dan beragam sehingga menyebabkan pertumbuhan yang beragam/berbeda-beda pula mengikuti sifat induknya masing-masing.  
Dalam perlakuan volume pemberian air (A), pada pengamatan ke-4 (minggu ke-12) perlakuan pemberian air A3 (4500ml/tanaman) memberikan nilai jumlah daun tertinggi yaitu 7.96 helai. Kemudian diikuti pada perlakuan pemberian air A2 (3000ml/tanaman) dengan nilai 7,78 helai dan jumlah daun terrendah diperoleh pada perlakuan A1 (1500ml/ tanaman) dengan nilai 7,56 helai, dari hasil tersebut terlihat bahwa perbedaan jumlah daun untuk beberapa varietas kelapa sa wit tidak memberikan perbedaan jumlah daun yang hampir sama atau tidak berbeda nyata.
Hal ini dijelaskan oleh Gardner et al (1991) bahwa jumlah bakal daun yang terdapat pada embrio biji yang masak merupakan karakteristik spesies, jumlah dan ukuran daun dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan.
            Dari hasil pengamatan pertambahan jumlah daun terlihat bahwa perbedaan jumlah daun untuk perlakuan beberapa varietas dan pemberian  air  tidak memberikan perbedaan jumlah daun yang hampir sama atau tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan jumlah daun dan terjadinya pertambahan tinggi tanaman sehingga akan menyebabkan  unsur  hara dan ketersediaan air dalam tanah akan sangat berkurang dan kemudian akan mempengaruhi perkembangan tanaman terutama dalam pembentukan jumlah daun pada bibit kelapa sawit. Hal ini dijelaskan oleh Gardner et al (1991) bahwa jumlah bakal daun yang terdapat pada embrio biji yang masak merupakan karakteristik spesies. Jumlah dan ukuran daun dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan.
Jumin (2002) Menyatakan bahwa defisit air langsung mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman, proses pada sel tanaman ditentukan oleh tegangan turgor. Hilangnya turginitas dapat menghentikan pertumbuhan sel (penggandaan dan pembesaran) yang akibatnya pertumbuhan terhambat.

Diameter Batang (mm)

            Hasil analisis sidik ragam (ansira) pada diameter batang terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (elaeis guineensis jacq) dan volume pemberian air di pembibitan utama menunjukkan bahwa pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit secara tunggal berpengaruh nyata terhadap diameter batang tanaman, pada pengamatan ke-1 (saat tanam), pengamatan ke-2 (minggu ke-4), pengamatan ke-3 (minggu ke-8) dan pengamatan ke-4 (minggu ke-12), sedangkan  perlakuan volume pemberian air  tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap diameter batang dan begitu juga perlakuan secara interaksi antara beberapa varietas bibit kelapa sawit  dan pemberian air juga tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.
Pada pengamatan ke-4 (minggu ke-12) menunnjukan bahwa diameter batang bibit kelapa sawit benih unggul Yangambi (V3) mempunyai rata-rata yang lebih besar dari yang lain yaitu sebesar 12,29 mm, berbeda nyata dengan varietas Topaz (V1) yaitu 10,41 mm dan varietas sapuan (V2) yaitu 6,85 mm. akan tetapi standard deviasi diameter batang bibit kelapa sawit benih unggul adalah lebih besar dibandingkan dengan diameter batang bibit kelapa sawit benih sapuan.
Hal ini memberikan gambaran bahwa diameter batang bibit kelapa sawit yang berasal dari benih unggul mempunyai penampilan fisik yang lebih besar akan tetapi bibit kelapa sawit asal benih unggul lebih seragam diameter batangnya dibanding bibit kelapa sawit sapuan. Diameter batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya tanaman yang masih mudah. Salisbury & Ross (1997) menyatakan bahwa bertambahnya ukuran organ tanaman secara keseluruhan merupakan akibat dari bertambahnya jaringan dan ukuran sel.





Tabel 3. Rerata diameter batang terhadap pengaruh pertumbuhan beberapa varietas bibit kelapa sawit (Elaeis quineensis. Jacq) dan volume pemberian air  di pembibitan utama (mm).
Pengamatan
Faktor V
(Varietas)
Faktor A (Pemberian air )
A1
A2
A3
Rerata V

I
(saat tanam)
V1
2.03
2.09
2.02
2.05b
V2
1.74
1.79
1.63
1.72b
V3
2.48
2.84
2.61
2.64a
Rerata A
2.08
2.24
2.09

KK = 23,36%          BNJ V = 0,57

II
(minggu ke 4)
V1
5.40
4.73
5.00
5.04b
V2
4.14
3.74
4.26
4.05b
V3
6.49
6.98
7.01
6.83a
Rerata A
5.34
5.15
5.42

KK = 15,97%           BNJ V = 1,01



III
(minggu ke 8)
V1
8.08
7.51
8.02
7.87b
V2
4.73
4.12
5.51
4.79c
V3
10.02
8.54
10.76
9.77a
Rerata A
7.61ab
6.73b
8.10a

KK = 13,09%         BNJ V = 1,15          BNJ A = 1,15

IV
(minggu ke 12)
V1
10.24
10.22
10.78
10.41b
V2
6.29
6.33
7.92
6.85c
V3
12.29
12.39
12.18
12.29a
Rerata A
9.61
9.65
10.29

KK = 14,95%       BNJ V = 1,76
Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Dalam perlakuan pemberian air (A), perlakuan pemberian air 4500 ml/tanaman (A3) memberikan nilai diameter batang tertinggi yaitu 10,29 mm yang terendah diperoleh pada perlakuan pemberian air 1500 ml/tanaman (A1) dengan nilai 9,61 mm.
Diameter batang bibit kelapa sawit secara interaksi pada pengamatan ke-4 (minggu ke-12) menunnjukan bahwa diameter batang bibit kelapa sawit pada penelitian ini berkisar antara 6,29 – 12,39 mm. Penggunaan air oleh tanaman tidak dapat dilepaskan oleh adanya pengaruh suhu, kelembaban, dan evaporasi. Diketahui suhu didalam rumah kasa cukup tinggi sehingga transpirasi pada tanaman akan tinggi yang menyebabkan kehilangan air dalam jumlah yang cukup besar bagi tanaman.
Meskipun respon pertumbuhan beberapa varietas dan volume pemberian air menunjukkan hasil berbeda tidak nyata, pada penelitian memperlihatkan hasil rata-rata diameter batang bibit kelapa sawit, pertambahan diameter batang yang tertinggi dari semua perlakuan adalah perlakuan V3A2 (varietas Yangambi dan pemberian air 3000mm) yaitu 12,39 mm, sedangkan yang terendah adalah V2A1 (varietas sapuan dan pemberian air 1500mm) yaitu 6,29 mm. Namun secara keseluruhan tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata, hal ini menimbulkan dugaan bahwa pemberian air tersebut tidak memperlihatkan kontribusi yang nyata, dimana fungsinya dalam pengangkutan unsur hara, pelarut, serta sebagai penyusun jaringan tanaman berjalan dengan baik.
Jumin (2002) air sangat  berfungsi dalam pengangkutan atau transportasi unsur hara dari akar ke jaringan tanaman sebagai pelarut garam-garam nineral, serta yang terpenting air merupakan penyusun dari jaringan tanaman. Bonggol merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman yang masih mudah. Menurut Salisbury dan ross (1997) bahwa bertambahnya ukuran organ tanaman secara keseluruhan merupakan akibat dari bertambahnya jaringan dan ukuran sel. Sarif (1985) menyatakan ketersediaan unsur hara yang dapat diserap tanaman dengan pemberian air yang cukup oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi  bonggol.




KESIMPULAN

1.      Perlakuan tunggal beberapa varietas bibit kelapa sawit pada pengamatan akhir penelitian berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman yaitu (V3) varietas yangambi 65,13 cm, jumlah daun yaitu (V3) varietas yangambi 8,70 helai dan diameter batang diameter batang juga pada (V3) varietas yangambi 12,29 mm.
2.      Perlakuan tunggal pemberian air pada bibit kelapa sawit pada pengamatan akhir penelitian tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter,
3.      Perlakuan secara interaksi beberapa varietas dan pemberian air tidak berpengaruh nyata terhadap semua pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Fauzi. Y dkk, 2006, Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah, Analisa dan Panen Kelapa Sawit, Penebar Swadaya, Jakarta.
Gardner, F.P., R.B. Pearce, dan R.L. Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants (Fisiologi Tanaman Budidaya, alih bahasa oleh Susilo, H.). Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Harjadi, S dan Yahya S. 1996. Fisiologi Stress Lingkungan. PAU Bioteknologi IPB. Bandung
Lakitan. B, 1996. Fisiologi Tumbuhandan Perkembangan Tanaman. Rajawali pers. Jakarta. 203 hal.
Pahan, Iyung. 2007.  Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir.  Penebar Swadaya.  Jakarta.
Salisbury, F.B. dan Ross, C.W. 1995. Fisiologi Tumbuhan II. Ed. 4. Terjemahan: D.R. Lukman dan Sumaryono. Penerbit ITB. Bandung.
Solahuddin, 2004. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembibitan Kelapa Sawit di PT. Kerinci Agung. Makalah pada Training Senior Konduktor dan Supervisor PT. TKA dan PT. SSS. Sungai Talang.





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar