Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 HAL 1-6


KOMBINASI BERBAGAI MEDIA TUMBUH DAN PEMBERIAN PUPUK GANDASIL D TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO ( Theobroma cacao. L )

Anita Yulanda, Tri Nopsagiarti dan Rover
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 E-mail :  Anita Yulanda @ymail.com Teluk Kuantan

ABSTRACT

            This Research have been executed by in garden Attempt Of College Agronomy of Swarnadwipa. Time Research during 4 months counted from June until October month;moon 2012. Device which is used in this research is Random Device of Group ( Factorial RAK) consisting of two factor, that is factor of M (media grow) consist of 3 level: M0 (control), M1  ( top soil : sand : manure ), M2 (top soil: sand : compost). Factor of D giving of Gandasil D consist of 4 level: D0 ( without giving of Gandasil D), D1 ( giving of Gandasil D 2 gr), D2 (giving of Gandasil D 4 gr), D3 (giving of Gandasil D 6 gr). Parameter in this research is high of seed ( cm), diameter of stem (mm), and number of leaves. Result of research indicate that treatment of media grow singlely give real influence to high perception parameter of seed with best treatment is M1 ( 30,06), best treatment diameter of stem is M1 ( 8,06), amount of best treatment leaf is M1 ( 23,28). While treatment of Gandasil D singlely do not have an effect on reality at all of parameter and combination interaction treatment of media grow and giving of manure of gandasil.

Key words : kakao, media grow, Gandasil D.

PENDAHULUAN
Kakao (Theobroma cacao L ) merupakan salah satu tanaman  perkebunan yang strategis di Indonesia. Tanaman kakao memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena dari bijinya dapat diperoleh bubuk kakao dan produk-produk ekstraksi melalui proses fermentasi sehingga diperoleh bahan mentah yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri makanan seperti susu, cokelat, permen, industri farmasi dan kosmetik. Dengan demikian kakao mempunyai prospek yang cukup cerah dengan semakin berkembangnya sektor agro industri.
Perkembangan tanaman kakao di Indonesia bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya alam, meningkatkan pendapatan petani, menyediakan lapangan pekerjaan, memenuhi kebutuhan konsumen dan untuk memperoleh devisa melalui ekspor. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman kakao supaya berimbang dengan tanaman perkebunan lainnya seperti kelapa sawit dan karet, adalah dengan cara peningkatan kualitas dan kwantitas yang diawali dari tahap pembibitan.
Untuk mendapatkan bibit kakao yang yang berkualitas, maka diperlukan upaya perlakuan bibit secara intensif sejak dari pembibitan sampai siap dipindahkan kelapangan. Salah satu perlakuan pembibitan yang perlu di perhatikan adalah media tumbuh.
Media tumbuh sangat berpengaruh terhadap proses pembibitan karena secara langsung akan mempengaruhi perkembangan akar yang berfungsi sebagai penyokong tanaman itu sendiri. Untuk mendapatkan media yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tanaman, perlu dilakukan pencampuran berbagai jenis bahan yang digunakan sehingga diperoleh media dengan komposisi yang tepat.
Media yang biasa digunakan untuk pembibitan kakao adalah tanah. Tanah mempunyai peranan yang sangat penting karena adanya aktifitas mikroorganisme yang secara alami akan mendekomposisi serasah permukaan tanah yang pada akhirnya akan meningkatkan kesuburan tanah. Selain tanah, pasir juga dapat digunakan sebagai media pembibitan. Pasir mempunyai daya meloloskan air yang besar sehingga unsur hara yang terdapat pada media akan terbawa dengan mudah bersama dengan air. Ciri khas pasir ini adalah butirannya tidak kompak atau bercerai berai.
Menurut hasil penelitian Jumiati (2009) media tumbuh tanah dicampur kompos 1:1 dapat memperlihatkan lingkar batang yang baik pada pembibitan kakao dan  kombinasi media tumbuh pasir, kompos, pupuk kotoran sapi dengan perbandingan 2:1:2 dapat memberikan pengaruh pada jumlah daun bibit kakao yang lebih luas.
Dijelaskan pula oleh Andadari (2005)  bahwa Gandasil D dapat meningkatkan secara nyata produksi daun murbei  (morus sp). Ditambahkan dari hasil penelitian Sandra (2007) Gandasil D dapat berpengaruh terhadap tinggi bibit kakao (Theobroma cacao L).       
Untuk mendapatkan struktur tanah yang baik bagi pertumbuhan bibit kakao, maka pemakaian pupuk sangat dianjurkan. Pupuk dapat membantu aktivitas jasad renik, serta menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Jenis pupuk yang dapat digunakan untuk tanaman kakao diberikan melalui daun adalah Gandasil D.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian media tumbuh dan pupuk Gandasil D baik secara tunggal maupun secara interaksi terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao.L)


BAHAN DAN METODA

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa (STIP-S), Jalan Gatot Subroto KM 7 Kebun Nenas Jake, Desa Jake Kecamatan Kuantan Tengah. Waktu penelitian selama 4 bulan terhitung dari bulan Juni sampai bulan Oktober 2012.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah kecambah kakao forestero yang diperoleh dari PT. Tri Bakti Sarimas, tanah, pasir, pupuk kotoran (sapi), kompos, pupuk Gandasil D, dithane 45, decis 2.5 ec. 
Sedangkan alat yang digunakan adalah polybag, gembor, hand sprayer, kayu, meteran, penggaris, ember, cat, paku, kayu, papan, palu, daun kelapa, timbangan, kamera dan alat tulis lain.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) factorial. faktor M (media tumbuh) terdiri dari 3 taraf: M0 (kontrol), M1 (tanah : pasir : pupuk kotoran sapi ), M2 (tanah : pasir : kompos). Faktor D (pemberian Gandasil D) terdiri dari 4 taraf: D0 (tanpa pemberian Gandasil D), D1 (pemberian Gandasil D 2 gr), D2 (pemberian Gandasil D 4 gr), D3 (pemberian Gandasil D 6 gr).
Dari hasil penelitian masing– masing perlakuan dianalisis secara statistik, jika F hitung lebih besar dari F Tabel, maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur ( BNJ ) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Bibit
Data hasil pengamatan terhadap tinggi bibit dianalisis secara statistik dan hasil analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa perlakuan berbagai media tumbuh secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi bibit, sedangkan perlakuan pemberian Gandasil D secara tunggal tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tinggi bibit dan secara interaksi kombinasi media tumbuh dan pupuk Gandasil D tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi bibit.

Tabel 1. Rata-Rata Tinggi Bibit Kakao (cm) dengan Perlakuan Media Tumbuh  dan Pupuk Gandasil D Pada saat tanaman berumur 16 Minggu.
FaktorM
(              (Media Tumbuh)
Faktor D (Gandasil D)
Rerata
D0
D1
D2
D3
M0
20,56
24,33
23,67
27,78
24,08b
M1
31,56
31,56
29,56
29,67
30,06a
M2
25,56
23,22
26,33
29,44
26,14b
Rerata
25,89
26,37
26,52
28,96

KK=     13,54%                                 BNJ M=5,75
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5%.

Hasil dari analisis data kombinasi media tumbuh secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tinggi bibit, dimana perlakuan terbaik adalah M1 (tanah : pasir : pupuk kotoran sapi) yaitu 30,06 diikuti oleh perlakua M2 (tanah : pasir : kompos) yaitu 26,14, dan perlakuan terendah adalah M0 (tanah : pasir) yaitu 24,08 Perlakuan M1 dengan perbandingan 2:1:1 memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, hal ini diduga karena media juga dapat menentukan ketersediaan unsur hara bagi bibit. Purba dan Lubis (1987) mengatakan bahwa perakaran yang baik dapat mengaktifkan penyerapan unsur hara sehingga metabolisme cepat berlangsung dengan baik dan menyebabkan pertumbuhan tanaman lebih cepat dan dapat menambah pertumbuhan tinggi tanaman.

 
Gambar 1: Grafik Pertumbuhan Tinggi Bibit (cm)
Keterangan:
MST                 : Minggu Setelah Tanam
M0                    : ( tanah : pasir)
M1                    : (tanah : pasir : pupuk kotoran sapi)
M2                    : (tanah : pasir : kompos)


Dilihat dari grafik di atas maka pertumbuhan paling tinggi terdapat pada perlakuan M1 (tanah, pasir, pupuk kotoran sapi) ( 2: 1 :1) dan yang paling terendah adalah terdapat pada perlakuan M0 (tanah, pasir) (2 : 1). Kandungan bahan organik yang tinggi pada media terutama N dan terbentuknya kondisi media yang baik, telah mampu memberikan pertumbuhan yang baik bagi bibit kakao, karena telah dilakukan pencampuran tanah, pasir dan pupuk kotoran sapi. Menurut Hakim et. al (1986) sumbangan bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman berpengaruh terhadap sifat fisik, kimia dan biologi tanah .
Perlakuan M1 dengan perbandingan 2:1:1 memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, hal ini diduga karena media juga dapat menentukan ketersediaan unsur hara bagi bibit. Purba dan Lubis (1987) mengatakan bahwa perakaran yang baik dapat mengaktifkan penyerapan unsur hara sehingga metabolisme cepat berlangsung dengan baik dan menyebabkan pertumbuhan tanaman lebih cepat dan dapat menambah pertumbuhan tinggi tanaman.     
            Penambahan pasir kedalam media diduga berhasil memperbaiki aerase media. Dengan menigkatnya aerase media maka ketersediaan oksigen bagi akar tanaman akan bertambah. Hakim et. al (1986) mengatakan jika semakin tinggi presentase pasir di dalam tanah, semakin banyak ruang pori-pori diantara partikel-partikel tanah. Maka semakin dapat memperlancar gerakan udara dan air.
Selain itu, penambahan pupuk kotoran sapi ke dalam media menjadi lebih berarti dalam memperbaiki sifat fisik dan menambahkan unsur hara dalam tanah terutama nirogen (N). Menurut Jumin (2002) nitrogen berfungsi untuk merangsang pertunasan dan penambahan tinggi tanaman, sejalan dengan pendapat Lingga (2001) menyatakan bahwa nitrogen dalam jumlah yang cukup berperan dalam mempercepat pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, khususnya batang dan daun. Unsur nitrogen berperan dalam pembentukan sel , jaringan, dan organ tanaman.
            Perlakuan pemberian pupuk Gandasil D secara tunggal memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap tinggi bibit, hal ini diduga Gandasil D tidak berpengaruh nyata diduga karena pembentukan bagian – bagian tanaman lebih dipengaruhi oleh sifat genetis tanaman itu sendiri. Lakitan (2000) menjelaskan pertumbuhan tanaman seperti daun, batang dan akar sangat ditentukan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.
Secara interaksi perlakuan media tumbuh dan pemberian pupuk Gandasil D memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap tinggi bibit kakao. Hal ini diduga karena dosis Gandasil D dan kombinasi media yang digunakan belum seimbang dengan kebutuhan tanaman sehingga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi bibit. Sesuai dengan pendapat Hakim et. al (1986)  menjelaskan bahwa unsur hara yang diberikan pada tanaman dalam bentuk yang tersedia dan seimbang dapat memberikan pertumbuhan yang baik pada tanaman, sedangkan tanaman yang mengalami kekurangan unsur hara akan menunjukkan gejala pertumbuhan tanaman yang tidak normal bahkan bisa menyebabkan tanaman menjadi kerdil.

Diameter Batang
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap diameter batang, maka diperoleh hasil perlakuan kombinasi media tumbuh secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter batang, pada perlakuan pemberian Gandasil D secara tunggal tidak menunjukan pengaruh yang nyata terhadap diameter batang dan secara interaksi kombinasi media tumbuh dan pupuk Gandasil D tidak memberikan pengaruh yang nyata Perlakuan media tumbuh secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter batang, dimana perlakuan terbaik adalah M1 (tanah, pasir, pupuk kotoran sapi) yaitu 8,06 mm, perlakuan M2 (tanah, pasir, kompos) yaitu 7,17 mm, dan perlakuan terendah adalah M0  (tanah, pasir) yaitu 6,74 mm. Hal ini disebabkan pupuk kotoran sapi selain mampu mempertahankan sifat fisik tanah, juga menyediakan unsur hara  N, P, K. Unsur hara N yang diserap oleh tanaman berperan dalam menunjang pertumbuhan vegetatif tanaman. Unsur P berperan dalam pembentukan sistem perakaran yang baik. Unsur K yang berada pada ujung akar merangsang proses pemanjangan akar


fakt                         Faktor M
(              (Media Tumbuh)
Faktor D (Gandasil D)
Rerata
D0
D1
D2
D3
M0
6,38
7,24
6,39
6,93
6,74 b
M1
8,42
7,72
7,93
8,19
8,06 a
M2
7,34
6,50
7,20
7,65
7,17 b
Rerata
7,38
7,15
7,17
7,59

KK= 7,35   %                                  BNJ M=0,82
Tabel 2. Rata-Rata Diameter Batang Kakao (mm) dengan Perlakuan Media Tumbuh dan Pupuk Gandasil D
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5%.

Perbesaran batang dipengaruhi oleh ketersediaan unsur kalium karena kalium merupakan unsur hara yang diserap dalam jumlah yang sama dengan nitrogen jika kekurangan kalium akan menghambat pertumbuhan tanaman (Hakim et al, 1986). Pendapat ini didukung oleh  Purba dan Lubis (1987) mengatakan bahwa kalium mempunyai fungsi penting dalam menguatkan tanaman dan proses fisiologi tanaman serta berperan dalam proses metabolisme dan mempunyai pengaruh dalam absorbsi hara, transpirasi, kerja enzim serta translokasi karbohidrat.
Pemberian pupuk Gandasil D secara tunggal tidak memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang diduga karena unsur hara didalam tanah yang telah tercukupi dengan pemberian perlakuan media tumbuh, dapat dilihat dari pertumbuhan tanpa pemberian perlakuan. Lakitan (2007) menyatakan sebagian besar unsur yang dibutuhkan tanaman diserap dari larutan tanah melalui akar. Lingga dan Marsono (2001) mengatakan bahwa pemberian pupuk melalui daun akan segera diabsorbsi dan pengaruh tanaman akan terlihat beberapa hari, tetapi karena efek residunya kecil maka pemberian pupuk harus lebih sering dilakukan.
Interaksi antara kombinasi media tumbuh dan pupuk Gandasil D tidak berbeda nyata terhadap diameter batang, tetapi hasil yang terbaik menunjukan pada perlakuan M1D1 yaitu 8,42  cm. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan bibit yang lambat mengingat bahwa tanaman kakao adalah tanaman tahunan, sehingga pengaruh pemberian pupuk belum dapat dilihat secara nyata dalam waktu yang relatif singkat. Pertumbuhan tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal (laju fotosintetik, respirasi, ketahanan terhadap tekanan iklim dan lain-lain)  tetapi juga faktor eksternal diantaranya adalah status air dalam tanah, suhu diareal tanaman, kandungan unsur hara dalam tanah dan intensitas matahari. Bahkan pemberian pupuk bisa optimal apabila didukung oleh faktor lingkungan dan faktor tanaman itu sendiri, yaitu faktor genetik. Jika faktor-faktor tersebut tidak saling mendukung maka nutrisi tanaman yang diberikan tidak akan berarti bagi tanaman (Kartasopoetra, 1991). Pemberian pupuk bisa optimal apabila kedua faktor tersebut ada. 


Jumlah Daun
Data hasil pengamatan terhadap jumlah daun diperoleh hasil seperti pada Tabel 3 dimana perlakuan media tumbuh secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun. Sedangkan perlakuan pemberian Gandasil D secara tunggal tidak menunjukan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun dan secara interaksi antara kombinasi media tumbuh dan pupuk Gandasil D tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun.


Tabel 3.  Rata-Rata Jumlah Daun Kakao (cm) dengan Perlakuan Media Tumbuh  dan  Pupuk Gandasil D pada sat tanaman berumur 16 minggu
        FaktorM                                                     
(              (Media Tumbuh)
Faktor D (Gandasil D)
Rerata
D0
D1
D2
D3
M0
19,11
16,56
18,11
17,56
17,83 b
M1
19,67
19,67
25,78
24,67
23,28 a
M2
18,44
18,11
14,56
20,22
17,83 b
Rerata
19,07
18,11
19,48
20,81

              KK= 16,67    %                                 BNJ M=5,19
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5%.

Perlakuan media tumbuh secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata tehadap jumlah daun, dimana perlakuan terbaik adalah M1 (23,28 cm), diikuti perlakuan M2 (17,83 cm), dan perlakuan terendah adalah M0 (17,83 cm). Hal ini di sebabkan karena pupuk kandang teksturnya lebih halus sehingga efesiensi penyerapan hara lebih besar di bandingkan kompos. Sesuai dengan pendapat Hakim, et.al (1987) faktor yang lebih penting pada pupuk kandang adalah kehalusan dan homogenitas dari pupuk. Efisiensi dan efektifitas pupuk kandang akan meningkat dengan semakin halus dan homogen bahan tersebut.
Ketersediaan unsur hara yang terkandung pada media terutama N dan P yang cukup. Unsur N, P dan K yang ada didalam tanah mampu diserap akar dan diangkut ke tubuh tanaman dibantu oleh air yang tersedia. Pembelahan dan pembesaran sel yang cepat karena adanya unsur N, P, K yang mengakibatkan daun muda lebih cepat mencapai bentuk sempurna sehingga perkembangan primodia daun dapat berlangsung lebih awal. Hal ini ditegaskan oleh Rinsema (1986) bahwa mengemukakan unsur N sangat berperan terhadap pembentukan daun karena dengan ketersediaan N maka proses fotosintesis akan meningkat dan hasil fotosintat yang dihasilkan dimanfaatkan oleh tanaman untuk pembentukan daun.
  Pencampuran pasir ke dalam tanah dapat membuat media menjadi gembur penambahan pupuk kotoran sapi ke dalam media telah memberikan dampak yang baik dalam penbentukan suatu media di mana pupuk kotoran sapi menyediakan unsur hara ke dalam media dan membantu pembentukan agregat tanah sehingga proses penyerapan hara di dalam tanah dapat berjalan dengan baik karena dalam keadaan tersedia apabila proses penyerapan hara berjalan dengan baik maka proses fotosintesis berjalan dengan baik. Sehingga pertumbuhan jumlah daun dapat berlangsung. Nyakpa et. al (1988) menyatakan dalam pertumbuhan bibit memerlukan unsur N, P, K. Unsur nitrogen di perlukan untuk sintesis, protein dan bahan- bahan penting lainnya dalam pembentukan sel-sel baru serta berperan dalam pembentukan klorofil. Bila bibit kekurangan N maka sintesis khlorofil , protein pembentukan sel-sel baru dapat dicapai sehingga mampu membentuk organ-organ seperti pembentukan daun.
Tabel 3 menujukkan bahwa pemberian pupuk Gandasil D secara tunggal memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap jumlah daun dan nilai yang tertinggi terdapat pada perlakuan D3 (Gandsil D 6 g/l air) yaitu 20,81 sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan D0 (tanpa pemberian Gandasil D) yaitu 18,11. Hal ini disebabkan karena pemberian pupuk daun mampu mempengaruhi fisiologis tanaman dan pupuk daun juga dapat menghasilkan jumlah daun yang lebih banyak. Hal ini di sebabkan karena pupuk daun menyediakan nutrisi yang cukup bagi tanaman.
Pemberian pupuk Gandasil D secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan jumlah daun, hal ini diduga karena kondisi lingkungan yang kurang baik dan pemberian dosis yang tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman. Sedangkan proses  metabolisme yang akan terjadi pada tanaman sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan tanaman seperti unsur hara dan jumlah intensitas cahaya matahari yang dapat diserap tanaman ataupun kondisi ketersediaan air didalam tanah       (Silabus dan Ross, 1995).
Secara interaksi antara perlakuan kombinasi media tumbuh dan pupuk Gandasil D tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun. Keadaan ini diduga karena selama fase pertumbuhan vegetatif unsur hara yang paling dominan berperan adalah nitrogen. Hal ini sesuai dengan pendapat Soepardi (1983) bahwa nitrogen adalah unsur yang memberikan pengaruh yang baik dan cepat merangsang pertumbuhan tanaman dan memberikan warna hijau pada daun tanaman.
Sedikitnya jumlah daun yang terbentuk pada perlakuan tanpa pupuk daun disebabkan kurang tersedianya unsur hara. Shaleh (1994) menambahkan bahwa ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman.  Jenis dan jumlah unsur hara pada dasar nya harus tersedia dalam keadaan yang cukup dan berimbang agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap seluruh parameter yang diamati, maka perlakuan media yang terbaik adalah M1 tanah, pasir, pupuk kotoran sapi ( 2 : 1 : 1 ).

KESIMPULAN
Media tumbuh (M) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik M1 (30,06), pengamatan diameter batang dengan perlakuan terbaik M1 (8,06) dan pengamatan jumlah daun dengan perlakuan terbaik adalah M1 (23,28). Pemberian pupuk Gandasil D tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan. Interaksi kombinasi perlakuan media tumbuh dan pupuk Gandasil D tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA
Andadari, 2005. Pengaruh Pemberian Gandasil D Terhadap Daun Murbei. Skripsi. Universitas Hasanuddin.
Hakim, N, M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G.. Nugroho, M.R. Saul, M.A. Diha, H.M. Bailey.1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.
Jumiati, 2009. Pengaruh Pemberian Pupuk kompos dan Urea Terhadap Pembibitan Kakao (Theobroma cacao. L). Skripsi Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Riau. Pekanbaru.
Jumin, H. B. 2002. Agroteknologi. Rajab Grafindo Persada. Jakarta
Kartasapoetra. 1991. Teknik Budidaya Tanaman Tropika. Bina Aksara. Jakarta
Lakitan, B. 2000. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
 Lingga, P. 1996. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
 Lingga, P. dan Marsono. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk (Edisi Revisi).
              Penebar Swadaya. Jakarta
Purba dan Lubis.1987. Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit. Kumpulan Makalah Pertanian Teknis Kelapa Sawit. Medan
Sandra, 2007. Pemberian Pupuk Daun dan Kombinasi Media Gambut, pasir dan pupuk kandang untuk Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao. L).FakultasPertanian Universitas Riau.  
Saleh. 1994. Tanah dan Pemupukan Cokelat. Warta Pusat Penelitian Tanaman Kopi dan Kakao (17): 29-35
Soepardi. G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. IPB. Bogor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar