Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 hAL 55-62

STATUS C-ORGANIK DAN NITROGEN PADA
LAHAN SAWAH BUKAAN BARU
DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI


Ikel Rianto, Rover dan Deno Okalia
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 085263424173 Teluk Kuantan


ABSTRACT

This study aims to determine the status of C-organic and nitrogen in paddy fields of new openings in Kuantan District Singingi. This research was conducted wetland new openings in 9 (nine) District which consists of 21 (twenty one) village in Kuantan District Singingi and soil analysis performed at the Laboratory of Soil Chemistry Andalas University in Padang. This research was carried on in January until April 2013. This research was conducted using a survey method consists of four stages: 1) pre-survey, 2) the main survey (soil sampling), 3) laboratory analysis, 4) of process data. Soil sampling conducted in composites with random soil sampling method results showed that the pH value tegolong very sour to mildly acidic ie from 4.00 to 6.33, C-organic content is at low to very high criteria ie from 1.29 to 13, 54%, while for nitrogen in paddy Regency Kuantan Singingi new openings are at low to moderate criterion is 0.11 to 0.70%, and the value of C / N is at low to moderate criterion is 9.21 to 24.65.

Keyword : carbon organic, nitrogen, paddy field


PENDAHULUAN

            Tanaman padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman penghasil beras yang di gunakan sebagai bahan pangan utama hampir 90 % penduduk Indonesia. Pada  tahun 2009, kebutuhan beras nasional mencapai sekitar 32 juta ton yang diperoleh dari 66 juta ton gabah padi dari areal luas panen di seluruh Indonesia 13,2 juta Ha (BPS, 2010 ). Kebutuhan akan pangan beras ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan laju pertambahan populasi penduduk Indonesia yang tahun 2011 telah mencapai 230 juta jiwa ( BPS, 2011).
Kabupaten  Kuantan Singingi, berdasarkan laporan tahunan Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi (2011), bahwa perkembangan penggunaan lahan Kabupaten Kuantan Singingi pada tahun 2011 dari luas wilayah 765.603 Ha terdapat 16.120 Ha lahan sawah, lahan bukan sawah 586.326 Ha. Terdiri dari 12 kecamatan, dari 12 kecamatan 2 kecamatan tidak memiliki lahan sawah yakni kecamatan Logas Tanah Darat dan Singingi hilir.
Dari data yang dikeluarkan oleh Dinas Tanaman Pangan Kuantan singingi tersebut, membuktikan bahwa hanya sekitar 2,1 % lahan sawah yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi. Hal tersebut menjadi masalah utama dalam penyediaan beras bagi masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Padahal tingkat kebutuhan beras di Kabupaten Kuantan Singingi sangat tinggi sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan Kabupaten sendiri.
Menurut data Dinas tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi  (2011), dengan jumlah penduduk 354.268 jiwa membutuhkan beras sebanyak 40.645,12 ton sedangkan produksi hanya 27.158,15 ton. Berarti ketergantungan Kabupaten Kuantan Singingi  dari daerah lain sebanyak 13.180 ton atau 32,43 %, hal ini di sebabkan oleh berkurangnya luas lahan, teknik budidaya yang sederhana, tidak menggunakan varietas unggul, selain itu juga kurang tepatnya pemberian unsur hara, dimana kondisi tanah tidak menguntungkan dan tingginya serangan hama dan penyakit.
            Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi padi pada lahan sawah yang luasnya terbatas di kabupaten Kuantan Singingi ini  dengan mencetak sawah bukaan baru. Sawah bukaan baru umumnya dicetak pada tanah yang relatif tidak subur sehingga butuh pemupukan. Pemberian pupuk ini ternyata haruslah tepat dan berimbang sehingga tanah dapat menyediakan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan produksi tanaman.
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status C- organik dan Nitrogen pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi.
BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat
      Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2013  sampai bulan April 2013 yang terdiri dari dua tahap yaitu di Lapangan dan di Laboratorium. Penelitian dilapangan  dilaksanakan pada 9 (Sembilan) Kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi. Kemudian dilanjutkan dengan analisis tanah di Laboratorium Kimia Tanah Universitas Andalas Padang.

Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya buku catatan, bor mineral (bor belgi), cangkul, kertas label, kantong plastik 2 kg, karet, kompas, meteran, peta dasar (Peta Kawasan Kabupaten Kuantan Singingi dan Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Kuantan Singingi), pisau komando.

Metode Penelitian
 Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survai yang terdiri dari empat tahap yaitu: 1) pra survai, 2) survai utama (pengambilan sampel tanah), 3)analisis laboratorium, 4) pengolahan data. Pengambilan  sampel tanah dilakukan dengan metode soil random sampling,  pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi. Sampel tanah sawah bukaan baru  diambil sesuai dengan luasan lahan sawah bukaan baru yang di cetak pada masing-masing kecamatan diambil Satu contoh tanah komposit mewakili 15 Ha lahan sawah bikaan baru.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis pH tanah
Sawah bukaan baru di tempat penelitian umumnya memiliki pH  tanah sangat masam sampai masam berdasarkan tabel kriteria sifat kimia tanah. Hasil analisis pH tanah sawah bukaan baru disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1 menunjukan bahwa pH tanah sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi tergolong sangat masam sampai  agak masam. Nilai pH sangat masam terdapat di desa pembatang Kecamatan Pangean dengan pH tanah 4 ,00, dan pH agak masam terdapat pada desa pasar inuman dengan pH 6,33.
Nilai pH tanah yang rendah pada sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi ini disebabkan oleh 2 hal yaitu (1) jenis tanah yang didominasi oleh tanah masam yaitu Podsolik Merah Kuning (PMK) atau menurut klasifikasi tanah USDA disebut Ultisol dan (2) Tanah mineral yang dilapisi gambut tipis yang dikenal dengan tanah rawa. Tanah rawa ini banyak terdapat jaringan tanaman yang belum melapuk sehingga melepaskan asam-asam organik.
Nilai pH tanah dapat mempengaruhi ketersediaan hara tanah dan bisa menjadi faktor yang berhubungan dengan kualitas hara tanah. Nilai pH tanah sangat penting dalam menentukan aktivitas dan dominasi mikroorganisme tanah yang berhubungan dengan proses-proses yang sangat erat kaitannya dengan siklus hara, penyakit tanaman, dekomposisi dan sintesa senyawa-senyawa organik dan transfer gas ke atmosfir  oleh mikroorganisme (Sudaryono, 2009).
Menurut Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Kuantan Singingi( 2012) Kabupaten Kuantan Singingi memiliki luas 529.527 Ha dan terdiri dari 17.509 rawa dan 16120 lahan sawah lebih dari setangahnya terdapat tanah Podzolik Merah Kuning. Pada tanah Podzolik Merah Kuning (PMK) yang banyak mengandung bahan organik yang baru melapuk di lahan rawa atau lahan tergenang, bahan organik lama melapuk akan mengeluarkan asam-asam organik yang menyebabkan tanah masam sehingga tanah akan memiliki pH rendah.
Menurut (Hardjowigeno 2007) lahan kering Podzolik Merah Kuning (PMK)  beriklim basah didominan oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya, kandungan bahan organik yang memadai, produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis.
Salah satu faktor penghambat meningkatnya produksi  tanaman padi adalah karena adanya masalah keasaman tanah. Tanah masam memberikan pengaruh yang buruk pada pertumbuhan tanaman padi hingga hasil yang dicapai rendah. Untuk mengatasi keasaman tanah perlu di lakukan usaha pemberian kapur kedalam tanah. Sebagian besar lahan yang mempunyai pH sangat rendah atau tinggi kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman padi (Sanchez, 1976).



Tabel 1. Hasil analisis pH tanah sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi

No
Kecamatan
Lokasi
pH
Kriteria
1.
Cerenti
1 .Sikakak
4,68
Masam


2.Teluk pauh
4,52
Masam


3.Pulau Panjang
4,58
Masam


4.Pasikaian
4,70
Masam


5.Kampung Baru
4,56
Masam


6.Koto Cerenti 1
4,82
Masam


7.Koto cerenti 2
4,73
Masam


8.Tanjung Medan 1
4,62
Masam


9.Tanjung Medan 2
4,34
Sangat Masam





2.
Pangean
10.Pembatang
4,00
Sangat masam





3.
Kuantan Hilir
11.Kasanglimau Sundai
4,55
Masam





4.
Inuman
12.Pulau sipan
4,61
Masam


13. Pasar Inuman
6,33
Agak masam





5.
Kuantan Tengah
14.Mansalo 1.
4,48
Sangat Masam


15.Mansalo 2.
4,46
SangatMasam


16.Bandar Alai 1.
4,48
Sangat Masam


17.Bandar Alai 2.
4,14
Sangat Masam





6.
Singingi
18.Pangkalan Indarung
4,55
Masam





7.
Hulu Kuantan
19. Mudik ulo
4,50
Masam





8.
Gunung Toar
20.Sibarobah
4,50
Masam


21.Teluk Beringin
4,22
Sangat Masam





9.
Kuantan Mudik
22.Sangau
4,48
Sangat Masam


23.Sungi Besar
4,56
Masam


24 Saik
4,42
 Sangat Masam
Keterangan : sangat masam ;< 4,50 masam; 4,50-5,50 agak masam;5,60-6,50
Sumber: Hardjowigeno (2003).



Hasil Analisis C-organik
Tanah sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi berdasarkan Tabel kriteria sifat kimia tanah berada pada kriteria rendah sampai sangat tinggi. Hasil analisis C- organik dapat di lihat pada Tabel 2.



Tabel 2. Hasil analisis C- organik tanah sawah bukan baru di Kabupaten Kuantan Singingi

No
Kecamatan
Desa/Lokasi
C(%)
Kriteria
1.
Cerenti
1.Sikakak
2,00
Rendah


2.Teluk pauh
4,27
Tinggi


3.Pulau Panjang
5,45
Sangat tinggi


4.pasikaian
4,59
Tinggi


5.Kampung Baru
3,49
Tinggi


6.Koto Cerenti 1
1,29
Rendah


7.Koto cerenti 2
3,02
Sedang


8.Tanjung Medan 1
2,55
Sedang


9.Tanjung Medan 2
3,8
Tinggi





2.
Pangean
10.Pembatang
8,98
Sangat tinggi





3.
Kuantan Hilir
11.Kasang limau sundai
9,14
Sangat tinggi





4.
Inuman
12.Pulau sipan
4,67
Tinggi


13. Ps. Inuman
6,32
Sangat tinggi
5.
Kuantan Tengah
14.Mansalo 1.
9,37
Sangat tinggi


15.Mansalo 2.
13,54
Sangat tinggi


16.Bandar Alai 1.
6,39
Sangat tinggi


17.Bandar Alai 2.
6,86
Sangat tinggi





6.
Singingi
18.Pangkalan Indarung
5,92
Sangat tinggi





7.
Hulu Kuantan
19. Mudik ulo
7,26
Sangat tinggi





8.
Gunung Toar
20.Siberoba
10,32
Sangat tinggi


21.Teluk Beringin
9,85
Sangat tinggi





9.
Kuantan Mudik
22.Sangau
4,28
Tinggi


23.Sungi Besar
8,98
Sangat tinggi


24 Saik
12,28
Sangat tinggi
Keterangan: rendah; 1-2 sedang; 2,01-3 tinggi;3,01-5 sangat tinggi;>5
Sumber:  Hardjowigeno,(2003)


Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa kandungan C- organik terendah terdapat di desa Koto Cerenti 1 Kecamatan Cerenti sebesar 1,29 % (rendah) dan yang tertinggi terdapat di desa Munsalo  2 Kecamatan Kuantan tengah yaitu 13,54 % (sangat tinggi).  Namun secara umum kandungan C-organik  sawah bukaan baru di kabupaten Kuantan singing berada pada kriteria tinggi karna banyaknya jaringan tanaman yang belum melapuk  pada daerah rawa.           
Umumnya sawah bukaan baru pada penelitian ini terdiri dari lahan rawa dalam dan dangkal. Lahan sawah bukaan baru yang bersifat rawa tersebut banyak mengandung jaringan tanaman, kondisi lahan yang tergenang membuat jaringan tanaman tersebut lambat melapuk dan menumpuk menjadi bahan organik.
Kandungan Bahan organik pada setiap tanah bervariasi, mulai dari kurang dari 1% pada tanah berpasir, sampai lebih dari 20% pada tanah yang berlumpur. Warna tanah menunjukkan kandungan Bahan organik tanah tersebut. Tanah yang berwarna hitam kelam mengandung C-organik lebih tinggi,makin cerah warna tanah kandungan Bahan organik makin rendah (Darliana, 2011).


Hasil Analisis N-total tanah Sawah Bukaan Baru di Kabupaten Kuantan Singingi
Kandungan N-total pada tanah sawah bukaan baru berdasarkan Tabel kriteria sifat kimia tanah berada pada kriteria rendah sampai tinggi. Hasil N-total  dapat di lihat pada Tabel 3.


Tabel 3.Hasil Analisis N-total tanah Sawah Bukaan Baru di Kabupaten Kuantan Singingi.
No
Kecamatan
Lokasi
N (%)
Kriteria
1.
Cerenti
1.Sikakak
0,11
Rendah


2.Teluk pauh
0,24
Sedang


3.Pulau Panjang
0,36
Sedang


4.pasikaian
0,28
Sedang


5.Kampung Baru
0,21
Sedang


6.Koto Cerenti 1
0,14
Rendah


7.Koto cerenti 2
0,24
Sedang


8.Tanjung Medan 1
0,20
Rendah


9.Tanjung Medan 2
0,31
Sedang





2.
Pangean
10.Pembatang
0,46
Sedang





3.
Kuantan Hilir
11.Kasanglimau Sundai
0,46
Sedang





4.
Inuman
12.Pulau sipan
0,25
Sedang


13. Pasar Inuman
0,42
Sedang





5.
Kuantan Tengah
14.Mansalo 1.
0,37
Sedang


15.Mansalo 2.
0,66
Tinggi


16.Bandar Alai 1.
0,36
Sedang


17.Bandar Alai 2.
0,36
Sedang





6.
Singingi
18.P. Indarung
0,38
Sedang





7.
Hulu Kuantan
19. Mudik ulo
0,70
Tinggi





8.
Gunung Toar
20.Siberoba
0,48
Sedang


21.Teluk Beringin
0,67
Tinggi





9.
Kuantan Mudik
22.Sangau
0,27
Sedang


23.Sungi Besar
0,59
Tinggi


24 Saik
0,67
Tinggi
Keterangan: rendah ;0,1-0,20 sedang;0,21-0,50 tinggi;0,51-0,75
Sumber:  Hardjowigeno,(2003)


Kandungan N-total berdasarkan Tabel kriteria sifat kimia tanah  berada pada kriteria rendah sampai tinggi. Kandungan N-total rendah terdapat di desa Sikakak sebesar 0,11% sedangkan yang tertinggi terdapat pada desa  Mudik Ulo sebesar 0,70%.  pH rendah ( Tabel 1) seharusnya kandungan N juga rendah namun dalam penelitian ini N  justru tinggi, hal ini disebabkan karna adanya akumulasi bahan organik, namun bahan organi tersebut belum melapuk karena kondisi lahan yang rawa.
 Nilai N yang rendah pada tanah sawah bukaan baru tentunya akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, sedikitnya jumlah anakan padi dan daun pendek dan menyempit. Nitrogen yang dikandung tanah umumnya rendah sehingga harus ditambahkan pupuk buatan atau sumber lainnya pada setiap awal tanaman.  Menurut Hasegewa (1992) selain kadar N rendah didalam tanah, N mempunyai sifat yang dinamis (muda berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain seperti NH4 menjadi NO3, NO, N2O dan N2) dan muda hilang menguap tercuci bersama drainase. Berdasarkan serapan N tanaman padi, diketahui bahwa 60% N diserap bersal dari N tanah dan 40% bersal dari pupuk N.
Unsur N didalam tanaman dijumpai dalam bentuk anorganik atau organik yang bergabung dengan C, H, O dan kadangkala dengan S, untuk membentuk asam-asam amino, enzim-enzim amino, asam nukleat, klorofil , meskipun N anorganik dapat berakumulasi membentuk nitrat, N organik dominan membentuk protein. Tanaman menyerap kedua bentuk N ammonium maupun N nitrat, tetapi tanaman lebih banyak menyerap N ammonium dibandingkan N- nitrat, hal ini ada kaitannya dengan pembentukan N anomium yang segera dapat diinkorporasikan kedalam bentuk  N – organik penyusun konstituen organ –organ tanaman (Hardjowigeno 2007).

Rasio C/N Tanah Sawah Bukaan Baru di Kabupaten Kuantan Singingi
            Rasio C/N tanah sawah bukaan baru Kabupaten Kuantan Singingi berdasarkan tabel kriteria sifat kimia tanah berada pada kriteria rendah sampai tinggi.Hasil C/N dapat di lihat pada Tabel 4.


Tabel 4. Rasio C/N tanah sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi
No
Kecamatan
Desa/Lokasi
C/N
Kriteria
1.
Cerenti
1.Sikakak
18
Tinggi


2.Teluk pauh
17,79
Tinggi


3.Pulau Panjang
15,13
Sedang


4.pasikaian
16.39
Tinggi


5.Kampung Baru
16,61
Tinggi


6.Koto Cerenti 1
9,21
Rendah


7.Koto cerenti 2
12,58
Sedang


8.Tanjung Medan 1
12,75
Sedang


9.Tanjung Medan 2
12,25
Sedang





2.
Pangean
10.Pembatang
19,52
Tinggi





3.
Kuantan Hilir
11.Kasang limau Sundai
19,86
Tinggi





4.
Inuman
12.Pulau sipan
18,68
Tinggi


13. Pasar. Inuman
15,04
Tinggi
5.
Kuantan Tengah
14.Munsalo 1.
24,65
Tinggi


15.Munsalo 2.
20,51
Tinggi


16.Bandar Alai 1.
17,75
Tinggi


17.Bandar Alai 2.
19,05
Tinggi





6.
Singingi
18.Pangkalan Indarung
15,57
Sedang





7.
Hulu Kuantan
19. Mudik ulo
10,37
Rendah





8.
Gunung Toar
20.Siberoba
21,5
Tinggi


21.Teluk Beringin
14,70
Sedang
9.
Kuantan Mudik
22.Sangau
15,85
Sedang


23.Sungi Besar
15,22
Sedang


24 Saik
18,32
Tinggi
Keterangan: rendah;5-10, sedang;11-15, tinggi;16-25


Berdasarkan tabel kriteria sifat kimia tanah di kategorikan C/N sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi adalah  rendah, sedang, dan  tinggi. Namun  Rasio C/N tanah ini umumnya tinggi. Rasio C/N  terendah terdapat pada desa Koto Cerenti 1 Kecamatan Cerenti sebesar 9,21 dan yang tertinggi terdapat di desa munsalo  1 yaitu 24,65.
Rasio C/N yang tinggi menandahkan bahwa sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi mengandung bahan organik yang tinggi namun belum melapuk sempurna karena adanya genangan air. Hal ini akan menyebabkan unsur hara belum tersedia walaupun berada dalam jumlah  tinggi. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya pengelolaan lahan agar proses dekomposisi bahan organik dapat berjalan lancar,  salah satu yang dapat dilakukan adalah pembuatan saluran drainase.
Rasio C/N ini merupakan indikator mineralisasi dan immobilisasi N oleh mikroba decomposer bahan organik. Mineralisasi N akan terjadi pada C/N bila dibawa atau sama dengan 20, sedangkan proses immobilisasi terjadi bila C/N lebih besar dari 30, sedangkan jika nisbah C/N 20-30, proses mineralisasi dan immobilisasi terjadi secara seimbang. Tingkat pelapukan bahan organik (C/N) juga perlu diperhatikan. Penambahan pupuk kandang dalam jumlah yang banyak tapi dengan C/N yang masih tinggi dapat mengganggu kadar N dalam tanah, sehingga terjadi kompetisi antara tanaman yang tumbuh diatasnya dengan jasad- jasad renik yang membutukan N.  Peristiwa ini disebut dengan immobilisasi nitrogen (Hasibuan, 2006).
Hakim, Yakpa, lubis, Pulung, Munawar (1988)  menjelaskan bahwa nilai C/N bahan organik segar menentukan reaksi dalam tanah. Bila C/N bahan organik tinggi maka akan terjadi persaingan N antara tanaman dengan mikroba, dalam hal ini N di immobilisasi. Bila nitrifikasi baik, maka C/N akan rendah, dengan demikian bahan organik bisa cepat habis, untuk mempertahankan bahan organik dalam tanah harus disediakan N yang cukup. Suatu dekomposisi bahan organik yang lanjut dicirikan oleh C/N yang rendah, sedangkan C/N yang tinggi menunjukan dekomposisi belum lanjut atau baru dimulai.
                 Nisbah C/N merupakan indikator yang menunjukan proses mineralisasi im-mobilisasi oleh mikrobiadekomposer bahan organik. Nisbah C/N  bahan organik tanah berkisar  antara 8:1-15:1  (umumnya antara 10:1-12:1), terkait dengan curah hujan dan suhu, mikrobia yang terlibat, dan nisbah C/N vegetasi diatasnya, nisbah C/N  didaerah kering lebih rendah dibandingkan didaerah basa, demikian pula diwilayah panas ketimbang wilayah dingin. Apabila nisbah C/N lebih kecil dari 20 menunjukan terjadinya mineralisasi N, sedangkan jika diantara 20-30 berarti mineralisasi seimbang dengan imobilisasi (Hardjowigeno, 2010).

KESIMPULAN
Sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi umumnya mempunyai Status hara C-organik rendah sampai sangat tinggi yaitu 1,29%-13,54%, sedangkan untuk Nitrogen (N) sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi berada pada kriteria rendah sampai tinggi yaitu 0,11%-0,70%, dan nilai C/N pada kriteria sedang sampai tinggi yaitu 9,21-24,65.

DAFTAR PUSTAKA

BPN. 2012. Badan Pernahan Negara. Kabupaten Kuantan Singingi
BPS.2010. Statistik Indonesia. Balai Pusat Penelitian Statistik. Jakarta
BPS.2011. Statistik Indonesia. Balai Pusat Penelitian Statistik. Jakarta
Darliana, 2011.Pengaruh Jenis Bokasi Terhadap Bobot Isi, C-organik, dan KTK Tanah, Serta Hasil Daun Teh pada Andosols Asal Gambung. [onlinhttp://p4tkipa.org/lihat.php?id=ARTIKEL&hari=UMUM&%20tanggal=1&%20bulan=Pebruari%20&%20oleh=Darliana. Senin, 28-11-2011.
Hardjowigeno, S. 2010. Ilmu Tanah. Cetakan ke-6. Akademika Pressindo.  Jakarta. 288 hal
Hasegawa, K.1992. Studies on the dynamies of Nitrogen in paddy Soil and its environmental Impact.
Hakim, N., m .y . N yakpa., A.M. lubis, M.A . Pulung., G.A. Amruh., A. Munawar dan G.B  Hang. 1988. Kesuburan tanah. Universitas Lampung. Bandar Lampung 258 hal.
Laporan Tahunan, 2011. Dinas Tanaman Pangan Kuantan Singingi
Sanchez, P. A.1976. Properties and Management of Soil in the Tropics. John Wil-
        ey and   Sons. New Yrok. 618 p.





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar