STATUS C-ORGANIK DAN NITROGEN PADA
LAHAN SAWAH BUKAAN BARU
DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
Ikel Rianto, Rover dan Deno
Okalia
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa
Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 085263424173 Teluk Kuantan
ABSTRACT
This
study aims to determine the status of C-organic and nitrogen in paddy fields of
new openings in Kuantan District Singingi. This research was conducted wetland
new openings in 9 (nine) District which consists of 21 (twenty one) village in
Kuantan District Singingi and soil analysis performed at the Laboratory of Soil
Chemistry Andalas University in Padang. This research was carried on in January
until April 2013. This research was conducted using a survey method consists of
four stages: 1) pre-survey, 2) the main survey (soil sampling), 3) laboratory
analysis, 4) of process data. Soil sampling conducted in composites with random
soil sampling method results showed that the pH value tegolong very sour to
mildly acidic ie from 4.00 to 6.33, C-organic content is at low to very high
criteria ie from 1.29 to 13, 54%, while for nitrogen in paddy Regency Kuantan
Singingi new openings are at low to moderate criterion is 0.11 to 0.70%, and
the value of C / N is at low to moderate criterion is 9.21 to 24.65.
Keyword : carbon organic, nitrogen, paddy field
PENDAHULUAN
Tanaman padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman
penghasil beras yang di gunakan sebagai bahan pangan utama hampir 90 % penduduk
Indonesia. Pada tahun 2009, kebutuhan
beras nasional mencapai sekitar 32 juta ton yang diperoleh dari 66 juta ton gabah
padi dari areal luas panen di seluruh Indonesia 13,2 juta Ha (BPS, 2010 ).
Kebutuhan akan pangan beras ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan
laju pertambahan populasi penduduk Indonesia yang tahun 2011 telah mencapai 230
juta jiwa ( BPS, 2011).
Kabupaten Kuantan Singingi,
berdasarkan laporan tahunan Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi
(2011), bahwa perkembangan penggunaan lahan Kabupaten Kuantan Singingi pada
tahun 2011 dari luas wilayah 765.603 Ha terdapat 16.120 Ha lahan sawah, lahan
bukan sawah 586.326 Ha. Terdiri dari 12 kecamatan, dari 12 kecamatan 2
kecamatan tidak memiliki lahan sawah yakni kecamatan Logas Tanah Darat dan
Singingi hilir.
Dari
data yang dikeluarkan oleh Dinas Tanaman Pangan Kuantan singingi tersebut,
membuktikan bahwa hanya sekitar 2,1 % lahan sawah yang ada di Kabupaten Kuantan
Singingi. Hal tersebut menjadi masalah utama dalam penyediaan beras bagi
masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Padahal
tingkat kebutuhan beras di Kabupaten Kuantan Singingi sangat tinggi sehingga
belum dapat memenuhi kebutuhan Kabupaten sendiri.
Menurut
data Dinas tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi (2011), dengan jumlah penduduk 354.268 jiwa
membutuhkan beras sebanyak 40.645,12 ton sedangkan produksi hanya 27.158,15
ton. Berarti ketergantungan Kabupaten Kuantan Singingi dari daerah lain sebanyak 13.180 ton atau
32,43 %, hal ini di sebabkan oleh berkurangnya luas lahan, teknik budidaya yang
sederhana, tidak menggunakan varietas unggul, selain itu juga kurang tepatnya
pemberian unsur hara, dimana kondisi tanah tidak menguntungkan dan tingginya
serangan hama dan penyakit.
Salah
satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi padi pada lahan
sawah yang luasnya terbatas di kabupaten Kuantan Singingi ini dengan mencetak sawah bukaan baru. Sawah
bukaan baru umumnya dicetak pada tanah yang relatif tidak subur sehingga butuh
pemupukan. Pemberian pupuk ini ternyata haruslah tepat dan berimbang sehingga
tanah dapat menyediakan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan
produksi tanaman.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui status C- organik dan Nitrogen pada lahan sawah bukaan
baru di Kabupaten Kuantan Singingi.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan
Tempat
Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan Januari 2013
sampai bulan April 2013 yang terdiri dari dua tahap yaitu di Lapangan
dan di Laboratorium. Penelitian dilapangan
dilaksanakan pada 9 (Sembilan) Kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi.
Kemudian dilanjutkan dengan analisis tanah di Laboratorium Kimia Tanah
Universitas Andalas Padang.
Bahan
dan Alat
Bahan dan
alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya buku catatan, bor mineral
(bor belgi), cangkul, kertas label, kantong plastik 2 kg, karet, kompas,
meteran, peta dasar (Peta Kawasan Kabupaten Kuantan Singingi dan Peta
Penggunaan Lahan Kabupaten Kuantan Singingi), pisau komando.
Metode
Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
metode survai yang terdiri dari empat tahap yaitu: 1) pra survai, 2) survai
utama (pengambilan sampel tanah), 3)analisis laboratorium, 4) pengolahan data.
Pengambilan sampel tanah dilakukan
dengan metode soil random sampling, pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten
Kuantan Singingi. Sampel tanah sawah bukaan baru diambil sesuai dengan luasan lahan sawah
bukaan baru yang di cetak pada masing-masing kecamatan diambil Satu contoh
tanah komposit mewakili 15 Ha lahan sawah bikaan baru.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Hasil analisis pH tanah
Sawah
bukaan baru di tempat penelitian umumnya memiliki pH tanah sangat masam sampai masam berdasarkan
tabel kriteria sifat kimia tanah. Hasil analisis pH tanah sawah bukaan baru
disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan
Tabel 1 menunjukan bahwa pH tanah sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan
Singingi tergolong sangat masam sampai
agak masam. Nilai pH sangat masam terdapat di desa pembatang Kecamatan
Pangean dengan pH tanah 4 ,00, dan pH agak masam terdapat pada desa pasar
inuman dengan pH 6,33.
Nilai
pH tanah yang rendah pada sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi ini
disebabkan oleh 2 hal yaitu (1) jenis tanah yang didominasi oleh tanah masam
yaitu Podsolik Merah Kuning (PMK) atau menurut klasifikasi tanah USDA disebut
Ultisol dan (2) Tanah mineral yang dilapisi gambut tipis yang dikenal dengan
tanah rawa. Tanah rawa ini banyak terdapat jaringan tanaman yang belum melapuk
sehingga melepaskan asam-asam organik.
Nilai
pH tanah dapat mempengaruhi ketersediaan hara tanah dan bisa menjadi faktor
yang berhubungan dengan kualitas hara tanah. Nilai pH tanah sangat penting
dalam menentukan aktivitas dan dominasi mikroorganisme tanah yang berhubungan
dengan proses-proses yang sangat erat kaitannya dengan siklus hara, penyakit
tanaman, dekomposisi dan sintesa senyawa-senyawa organik dan transfer gas ke
atmosfir oleh mikroorganisme (Sudaryono,
2009).
Menurut
Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Kuantan Singingi( 2012) Kabupaten Kuantan
Singingi memiliki luas 529.527 Ha dan terdiri dari 17.509 rawa dan 16120 lahan
sawah lebih dari setangahnya terdapat tanah Podzolik Merah Kuning. Pada tanah
Podzolik Merah Kuning (PMK) yang banyak mengandung bahan organik yang baru
melapuk di lahan rawa atau lahan tergenang, bahan organik lama melapuk akan
mengeluarkan asam-asam organik yang menyebabkan tanah masam sehingga tanah akan
memiliki pH rendah.
Menurut
(Hardjowigeno 2007) lahan kering Podzolik Merah Kuning (PMK) beriklim basah didominan oleh tanah masam PMK
dengan bahan induk yang miskin unsur hara. Oleh karena itu lahan ini tergolong
lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Kesuburan tanah ini secara
alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi
bersifat labil. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya, kandungan bahan organik
yang memadai, produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan
kritis.
Salah satu faktor penghambat meningkatnya produksi tanaman padi adalah karena adanya masalah
keasaman tanah. Tanah masam memberikan pengaruh yang buruk pada pertumbuhan
tanaman padi hingga hasil yang dicapai rendah. Untuk mengatasi keasaman tanah
perlu di lakukan usaha pemberian kapur kedalam tanah. Sebagian besar lahan yang
mempunyai pH sangat rendah atau tinggi kurang menguntungkan untuk pertumbuhan
tanaman padi (Sanchez, 1976).
Tabel 1. Hasil analisis pH tanah sawah bukaan baru di Kabupaten
Kuantan Singingi
|
No
|
Kecamatan
|
Lokasi
|
pH
|
Kriteria
|
|
1.
|
Cerenti
|
1 .Sikakak
|
4,68
|
Masam
|
|
|
|
2.Teluk pauh
|
4,52
|
Masam
|
|
|
|
3.Pulau Panjang
|
4,58
|
Masam
|
|
|
|
4.Pasikaian
|
4,70
|
Masam
|
|
|
|
5.Kampung Baru
|
4,56
|
Masam
|
|
|
|
6.Koto Cerenti 1
|
4,82
|
Masam
|
|
|
|
7.Koto cerenti 2
|
4,73
|
Masam
|
|
|
|
8.Tanjung Medan 1
|
4,62
|
Masam
|
|
|
|
9.Tanjung Medan 2
|
4,34
|
Sangat
Masam
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Pangean
|
10.Pembatang
|
4,00
|
Sangat
masam
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Kuantan Hilir
|
11.Kasanglimau Sundai
|
4,55
|
Masam
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Inuman
|
12.Pulau sipan
|
4,61
|
Masam
|
|
|
|
13. Pasar Inuman
|
6,33
|
Agak
masam
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Kuantan Tengah
|
14.Mansalo 1.
|
4,48
|
Sangat
Masam
|
|
|
|
15.Mansalo 2.
|
4,46
|
SangatMasam
|
|
|
|
16.Bandar Alai 1.
|
4,48
|
Sangat
Masam
|
|
|
|
17.Bandar Alai 2.
|
4,14
|
Sangat
Masam
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Singingi
|
18.Pangkalan Indarung
|
4,55
|
Masam
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Hulu Kuantan
|
19. Mudik ulo
|
4,50
|
Masam
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Gunung Toar
|
20.Sibarobah
|
4,50
|
Masam
|
|
|
|
21.Teluk Beringin
|
4,22
|
Sangat Masam
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Kuantan Mudik
|
22.Sangau
|
4,48
|
Sangat Masam
|
|
|
|
23.Sungi Besar
|
4,56
|
Masam
|
|
|
|
24 Saik
|
4,42
|
Sangat Masam
|
Keterangan : sangat masam ;< 4,50 masam; 4,50-5,50 agak
masam;5,60-6,50
Sumber: Hardjowigeno (2003).
Hasil Analisis C-organik
Tanah
sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi berdasarkan Tabel kriteria
sifat kimia tanah berada pada kriteria rendah sampai sangat tinggi. Hasil
analisis C- organik dapat di lihat pada Tabel 2.
Tabel 2.
Hasil analisis C- organik tanah sawah bukan baru di Kabupaten Kuantan Singingi
|
No
|
Kecamatan
|
Desa/Lokasi
|
C(%)
|
Kriteria
|
|
1.
|
Cerenti
|
1.Sikakak
|
2,00
|
Rendah
|
|
|
|
2.Teluk
pauh
|
4,27
|
Tinggi
|
|
|
|
3.Pulau
Panjang
|
5,45
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
4.pasikaian
|
4,59
|
Tinggi
|
|
|
|
5.Kampung
Baru
|
3,49
|
Tinggi
|
|
|
|
6.Koto
Cerenti 1
|
1,29
|
Rendah
|
|
|
|
7.Koto
cerenti 2
|
3,02
|
Sedang
|
|
|
|
8.Tanjung
Medan 1
|
2,55
|
Sedang
|
|
|
|
9.Tanjung
Medan 2
|
3,8
|
Tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Pangean
|
10.Pembatang
|
8,98
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Kuantan
Hilir
|
11.Kasang
limau sundai
|
9,14
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Inuman
|
12.Pulau
sipan
|
4,67
|
Tinggi
|
|
|
|
13.
Ps. Inuman
|
6,32
|
Sangat tinggi
|
|
5.
|
Kuantan
Tengah
|
14.Mansalo
1.
|
9,37
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
15.Mansalo
2.
|
13,54
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
16.Bandar
Alai 1.
|
6,39
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
17.Bandar
Alai 2.
|
6,86
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Singingi
|
18.Pangkalan
Indarung
|
5,92
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Hulu
Kuantan
|
19.
Mudik ulo
|
7,26
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Gunung
Toar
|
20.Siberoba
|
10,32
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
21.Teluk
Beringin
|
9,85
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Kuantan
Mudik
|
22.Sangau
|
4,28
|
Tinggi
|
|
|
|
23.Sungi
Besar
|
8,98
|
Sangat tinggi
|
|
|
|
24
Saik
|
12,28
|
Sangat tinggi
|
Keterangan:
rendah; 1-2 sedang; 2,01-3 tinggi;3,01-5 sangat tinggi;>5
Sumber:
Hardjowigeno,(2003)
Berdasarkan
Tabel 2 terlihat bahwa kandungan C- organik terendah terdapat di desa Koto
Cerenti 1 Kecamatan Cerenti sebesar 1,29 % (rendah) dan yang tertinggi terdapat
di desa Munsalo 2 Kecamatan Kuantan
tengah yaitu 13,54 % (sangat tinggi). Namun secara umum kandungan C-organik sawah bukaan baru di kabupaten Kuantan singing
berada pada kriteria tinggi karna banyaknya jaringan tanaman yang belum
melapuk pada daerah rawa.
Umumnya
sawah bukaan baru pada penelitian ini terdiri dari lahan rawa dalam dan
dangkal. Lahan sawah bukaan baru yang bersifat rawa tersebut banyak mengandung
jaringan tanaman, kondisi lahan yang tergenang membuat jaringan tanaman
tersebut lambat melapuk dan menumpuk menjadi bahan organik.
Kandungan
Bahan organik pada setiap tanah bervariasi, mulai dari kurang dari 1% pada
tanah berpasir, sampai lebih dari 20% pada tanah yang berlumpur. Warna tanah
menunjukkan kandungan Bahan organik tanah tersebut. Tanah yang berwarna hitam
kelam mengandung C-organik lebih tinggi,makin cerah warna tanah kandungan Bahan
organik makin rendah (Darliana, 2011).
Hasil Analisis N-total tanah
Sawah Bukaan Baru di Kabupaten Kuantan Singingi
Kandungan
N-total pada tanah sawah bukaan baru berdasarkan Tabel kriteria sifat kimia
tanah berada pada kriteria rendah sampai tinggi. Hasil N-total dapat di lihat pada Tabel 3.
Tabel 3.Hasil
Analisis N-total tanah Sawah Bukaan Baru di Kabupaten Kuantan Singingi.
|
No
|
Kecamatan
|
Lokasi
|
N (%)
|
Kriteria
|
|
1.
|
Cerenti
|
1.Sikakak
|
0,11
|
Rendah
|
|
|
|
2.Teluk
pauh
|
0,24
|
Sedang
|
|
|
|
3.Pulau
Panjang
|
0,36
|
Sedang
|
|
|
|
4.pasikaian
|
0,28
|
Sedang
|
|
|
|
5.Kampung
Baru
|
0,21
|
Sedang
|
|
|
|
6.Koto
Cerenti 1
|
0,14
|
Rendah
|
|
|
|
7.Koto
cerenti 2
|
0,24
|
Sedang
|
|
|
|
8.Tanjung
Medan 1
|
0,20
|
Rendah
|
|
|
|
9.Tanjung
Medan 2
|
0,31
|
Sedang
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Pangean
|
10.Pembatang
|
0,46
|
Sedang
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Kuantan
Hilir
|
11.Kasanglimau
Sundai
|
0,46
|
Sedang
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Inuman
|
12.Pulau
sipan
|
0,25
|
Sedang
|
|
|
|
13.
Pasar Inuman
|
0,42
|
Sedang
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Kuantan
Tengah
|
14.Mansalo
1.
|
0,37
|
Sedang
|
|
|
|
15.Mansalo
2.
|
0,66
|
Tinggi
|
|
|
|
16.Bandar
Alai 1.
|
0,36
|
Sedang
|
|
|
|
17.Bandar
Alai 2.
|
0,36
|
Sedang
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Singingi
|
18.P.
Indarung
|
0,38
|
Sedang
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Hulu
Kuantan
|
19.
Mudik ulo
|
0,70
|
Tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Gunung
Toar
|
20.Siberoba
|
0,48
|
Sedang
|
|
|
|
21.Teluk
Beringin
|
0,67
|
Tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Kuantan
Mudik
|
22.Sangau
|
0,27
|
Sedang
|
|
|
|
23.Sungi
Besar
|
0,59
|
Tinggi
|
|
|
|
24
Saik
|
0,67
|
Tinggi
|
Keterangan:
rendah ;0,1-0,20 sedang;0,21-0,50 tinggi;0,51-0,75
Sumber:
Hardjowigeno,(2003)
Kandungan N-total berdasarkan Tabel kriteria sifat kimia tanah berada pada kriteria rendah sampai tinggi.
Kandungan N-total rendah terdapat di desa Sikakak sebesar 0,11% sedangkan yang
tertinggi terdapat pada desa Mudik Ulo
sebesar 0,70%. pH rendah ( Tabel 1)
seharusnya kandungan N juga rendah namun dalam penelitian ini N justru tinggi, hal ini disebabkan karna
adanya akumulasi bahan organik, namun bahan organi tersebut belum melapuk
karena kondisi lahan yang rawa.
Nilai N yang rendah pada
tanah sawah bukaan baru tentunya akan menyebabkan pertumbuhan tanaman
terhambat, sedikitnya jumlah anakan padi dan daun pendek dan menyempit.
Nitrogen yang dikandung tanah umumnya rendah sehingga harus ditambahkan pupuk
buatan atau sumber lainnya pada setiap awal tanaman. Menurut Hasegewa (1992) selain kadar N rendah
didalam tanah, N mempunyai sifat yang dinamis (muda berpindah dari satu bentuk
ke bentuk lain seperti NH4 menjadi NO3, NO, N2O
dan N2) dan muda hilang menguap tercuci bersama drainase.
Berdasarkan serapan N tanaman padi, diketahui bahwa 60% N diserap bersal dari N
tanah dan 40% bersal dari pupuk N.
Unsur N didalam tanaman dijumpai dalam bentuk anorganik atau
organik yang bergabung dengan C, H, O dan kadangkala dengan S, untuk membentuk
asam-asam amino, enzim-enzim amino, asam nukleat, klorofil , meskipun N
anorganik dapat berakumulasi membentuk nitrat, N organik dominan membentuk
protein. Tanaman menyerap kedua bentuk N ammonium maupun N nitrat, tetapi
tanaman lebih banyak menyerap N ammonium dibandingkan N- nitrat, hal ini ada
kaitannya dengan pembentukan N anomium yang segera dapat diinkorporasikan
kedalam bentuk N – organik penyusun
konstituen organ –organ tanaman (Hardjowigeno 2007).
Rasio C/N
Tanah Sawah Bukaan Baru di Kabupaten Kuantan Singingi
Rasio C/N tanah sawah bukaan baru
Kabupaten Kuantan Singingi berdasarkan tabel kriteria sifat kimia tanah berada
pada kriteria rendah sampai tinggi.Hasil C/N dapat di lihat pada Tabel 4.
Tabel
4. Rasio C/N tanah sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi
|
No
|
Kecamatan
|
Desa/Lokasi
|
C/N
|
Kriteria
|
|
1.
|
Cerenti
|
1.Sikakak
|
18
|
Tinggi
|
|
|
|
2.Teluk
pauh
|
17,79
|
Tinggi
|
|
|
|
3.Pulau
Panjang
|
15,13
|
Sedang
|
|
|
|
4.pasikaian
|
16.39
|
Tinggi
|
|
|
|
5.Kampung
Baru
|
16,61
|
Tinggi
|
|
|
|
6.Koto
Cerenti 1
|
9,21
|
Rendah
|
|
|
|
7.Koto
cerenti 2
|
12,58
|
Sedang
|
|
|
|
8.Tanjung
Medan 1
|
12,75
|
Sedang
|
|
|
|
9.Tanjung
Medan 2
|
12,25
|
Sedang
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Pangean
|
10.Pembatang
|
19,52
|
Tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Kuantan
Hilir
|
11.Kasang
limau Sundai
|
19,86
|
Tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Inuman
|
12.Pulau
sipan
|
18,68
|
Tinggi
|
|
|
|
13.
Pasar. Inuman
|
15,04
|
Tinggi
|
|
5.
|
Kuantan
Tengah
|
14.Munsalo
1.
|
24,65
|
Tinggi
|
|
|
|
15.Munsalo
2.
|
20,51
|
Tinggi
|
|
|
|
16.Bandar
Alai 1.
|
17,75
|
Tinggi
|
|
|
|
17.Bandar
Alai 2.
|
19,05
|
Tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Singingi
|
18.Pangkalan
Indarung
|
15,57
|
Sedang
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Hulu
Kuantan
|
19.
Mudik ulo
|
10,37
|
Rendah
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Gunung
Toar
|
20.Siberoba
|
21,5
|
Tinggi
|
|
|
|
21.Teluk
Beringin
|
14,70
|
Sedang
|
|
9.
|
Kuantan
Mudik
|
22.Sangau
|
15,85
|
Sedang
|
|
|
|
23.Sungi
Besar
|
15,22
|
Sedang
|
|
|
|
24
Saik
|
18,32
|
Tinggi
|
Keterangan:
rendah;5-10, sedang;11-15, tinggi;16-25
Berdasarkan tabel kriteria sifat kimia tanah di kategorikan C/N
sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi adalah rendah, sedang, dan tinggi. Namun
Rasio C/N tanah ini umumnya tinggi. Rasio C/N terendah terdapat pada desa Koto Cerenti 1
Kecamatan Cerenti sebesar 9,21 dan yang tertinggi terdapat di desa munsalo 1 yaitu 24,65.
Rasio C/N yang tinggi menandahkan bahwa sawah bukaan baru di
Kabupaten Kuantan Singingi mengandung bahan organik yang tinggi namun belum melapuk
sempurna karena adanya genangan air. Hal ini akan menyebabkan unsur hara belum
tersedia walaupun berada dalam jumlah
tinggi. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya pengelolaan lahan agar
proses dekomposisi bahan organik dapat berjalan lancar, salah satu yang dapat dilakukan adalah
pembuatan saluran drainase.
Rasio C/N ini merupakan indikator mineralisasi dan immobilisasi N
oleh mikroba decomposer bahan organik. Mineralisasi N akan terjadi pada C/N
bila dibawa atau sama dengan 20, sedangkan proses immobilisasi terjadi bila C/N
lebih besar dari 30, sedangkan jika nisbah C/N 20-30, proses mineralisasi dan
immobilisasi terjadi secara seimbang. Tingkat pelapukan bahan organik (C/N)
juga perlu diperhatikan. Penambahan pupuk kandang dalam jumlah yang banyak tapi
dengan C/N yang masih tinggi dapat mengganggu kadar N dalam tanah, sehingga
terjadi kompetisi antara tanaman yang tumbuh diatasnya dengan jasad- jasad
renik yang membutukan N. Peristiwa ini
disebut dengan immobilisasi nitrogen (Hasibuan, 2006).
Hakim, Yakpa, lubis, Pulung, Munawar (1988) menjelaskan bahwa nilai C/N bahan organik
segar menentukan reaksi dalam tanah. Bila C/N bahan organik tinggi maka akan
terjadi persaingan N antara tanaman dengan mikroba, dalam hal ini N di immobilisasi.
Bila nitrifikasi baik, maka C/N akan rendah, dengan demikian bahan organik bisa
cepat habis, untuk mempertahankan bahan organik dalam tanah harus disediakan N
yang cukup. Suatu dekomposisi bahan organik yang lanjut dicirikan oleh C/N yang
rendah, sedangkan C/N yang tinggi menunjukan dekomposisi belum lanjut atau baru
dimulai.
Nisbah
C/N merupakan indikator yang menunjukan proses mineralisasi im-mobilisasi oleh
mikrobiadekomposer bahan organik. Nisbah C/N
bahan organik tanah berkisar
antara 8:1-15:1 (umumnya antara
10:1-12:1), terkait dengan curah hujan dan suhu, mikrobia yang terlibat, dan
nisbah C/N vegetasi diatasnya, nisbah C/N
didaerah kering lebih rendah dibandingkan didaerah basa, demikian pula
diwilayah panas ketimbang wilayah dingin. Apabila nisbah C/N lebih kecil dari
20 menunjukan terjadinya mineralisasi N, sedangkan jika diantara 20-30 berarti
mineralisasi seimbang dengan imobilisasi (Hardjowigeno, 2010).
KESIMPULAN
Sawah
bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi umumnya mempunyai Status hara
C-organik rendah sampai sangat tinggi yaitu 1,29%-13,54%, sedangkan untuk
Nitrogen (N) sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi berada pada
kriteria rendah sampai tinggi yaitu 0,11%-0,70%, dan nilai C/N pada kriteria
sedang sampai tinggi yaitu 9,21-24,65.
DAFTAR
PUSTAKA
BPN.
2012. Badan Pernahan Negara. Kabupaten Kuantan Singingi
BPS.2010.
Statistik Indonesia. Balai Pusat Penelitian Statistik. Jakarta
BPS.2011. Statistik Indonesia. Balai Pusat Penelitian Statistik.
Jakarta
Darliana, 2011.Pengaruh
Jenis Bokasi Terhadap Bobot Isi, C-organik, dan KTK Tanah, Serta Hasil Daun Teh
pada Andosols Asal Gambung. [onlinhttp://p4tkipa.org/lihat.php?id=ARTIKEL&hari=UMUM&%20tanggal=1&%20bulan=Pebruari%20&%20oleh=Darliana. Senin, 28-11-2011.
Hardjowigeno,
S. 2010. Ilmu Tanah. Cetakan ke-6. Akademika Pressindo. Jakarta. 288 hal
Hasegawa,
K.1992. Studies on the dynamies of Nitrogen in paddy Soil and its environmental
Impact.
Hakim,
N., m .y . N yakpa., A.M. lubis, M.A . Pulung., G.A. Amruh., A.
Munawar dan G.B Hang. 1988. Kesuburan
tanah. Universitas Lampung. Bandar Lampung 258 hal.
Laporan
Tahunan, 2011. Dinas Tanaman Pangan Kuantan Singingi
Sanchez, P. A.1976.
Properties and Management of Soil in the Tropics. John Wil-
ey and Sons. New
Yrok. 618 p.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar