Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 HAL 71-76


PENGARUH PEMBERIAN KOMPOS KULIT BUAH KAKAO DAN NPK MUTIARA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.)

Nistitia Melta Dewi, Tri Nopsagiarti dan Mashadi
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Teluk Kuantan

ABSTRACT
This research has been conducted in Agricultural Research Institute (BPP), Sei Rumbio Kari, Kuantan Tengah. Time study for 5 months from January to May 2013. The design used in this study is Completely Randomized Design (RAL) factorial consisting of two factors, namely K (Compost cocoa pods) consisted of 4 levels: K0 (without treatment), K1 (0.25 kg compost cocoa pods ), K2 (0.5 kg compost cocoa pods), K3 (0.75 kg compost cocoa pods). Factor P (NPK fertilizer Pearl) consists of 4 levels: P0 (without pemerian NPK), P1 (2.5 g of NPK fertilizer), P2 (5 g of NPK fertilizer), P3 (7.5 g NPK fertilizer ) and repeated 3 times so that there are 48 plots. In one plot, there are 4 plants consisting of 3 plant samples. A total of 192 cocoa seedlings. Parameters measured were seedling height (cm), stem diameter (mm), number of leaves (strands). Observed data from each treatment were statistically analyzed and followed by a Further Test of Honest Significant Difference at the 5% level. The results showed that the interaction of cocoa pods and compost fertilizer NPK Mutiara had no significant effect on all parameters of the observations. Cocoa pods compost treatments did not significantly affect seedling height and number of leaf parameters. Only effect on stem diameter observation parameters with the best treatment K3 (5.26 mm). NPK fertilizer treatment Pearls singly significantly affect seedling height with the best treatment P3 (38.00 cm), stem diameter best treatment P3 (5.77 mm), number of leaves best treatment P3 (19.89 strands).
Key words : compost, NPK Mutiara, Cocoa, treatment.


PENDAHULUAN
Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan tanaman perkebunan yang termasuk ke dalam famili Sterculiaceae. Bagian dari buah kakao yang dapat dimanfaatkan adalah berupa biji, yang dapat diolah sehingga menghasilkan bubuk coklat. Hasil olahan biji dapat digunakan sebagai bahan baku dan penambah rasa untuk minuman. Menurut Darmawan (2010), sebagai  tanaman  perkebunan kakao merupakan salah satu komoditas yang memiliki prospek baik karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun sehingga dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat. Disamping itu permintaan pasar terhadap kakao sangat besar baik untuk konsumsi dalam negeri maupun diekspor ke luar negeri.
Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an. Pada tahun 2010 ditargetkan produksinya hingga 8% sehingga mencapai 540.000 ton, dengan areal perkebunan seluas 914.051 ha. Perkebunan kakao sebagian besar  dikelola oleh rakyat yaitu 87,4 %, 6,0 % dikelola oleh negara dan 6,7% dikelola oleh swasta (Ditjen Perkebunan, 2006). Seiring dengan hal tersebut kebutuhan akan bibit kakao juga mengalami peningkatan. Bibit kakao yang baik adalah yang dapat menghasilkan tanaman  yang sehat, sulit diserang penyakit, daya hasil tinggi, cepat berproduksi dan lebih tanggap terhadap pemupukan (Setyamidjaya, 1986). untuk menghasilkan bibit yang berkualitas,salah satunya dengan cara penggunaan pupuk yang tepat. Pupuk buatan yang biasa digunakan untuk pembibitan kakao memberikan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan bibit kakao, namun saat ini pengadaan pupuk buatan sangat sulit untuk didapatkan disamping harganya mahal ketersediaannya dipasaran juga sulit, karena masih di impor dari luar.untuk mengantisipasi kekurangan pupuk buatan, pupuk organik adalah salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Kompos adalah salah satu pupuk organik yang dapat dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik seperti kulit buah kakao. Kulit kakao mengandung 8,5% protein kasar dan dapat meningkatkan produktivitas sampai 60% karena kulit kakao merupakan biomassa yang sangat berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan memperbaiki struktur tanah secara alami (Dirjen Perkebunan, 2010). Hasil penelitian  Sudirja (2005) menunjukkan  bahwa
penggunaan kompos kulit buah kakao perbandingan (1:1) dengan  media tanah pada bibit kakao mampu meningkatkan  pH tanah dan kadar C organik.
Selain pupuk organik pupuk majemuk NPK juga sering digunakan dalam pembibitan kakao, karena dibandingkan dengan pupuk tunggal, pupuk majemuk lebih efektif untuk digunakan pada tahap pembibitan. Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara utama lebih dari dua jenis. Dengan kandungan unsur hara Nitrogen 15 % dalam bentuk NH3, fosfor 15 % dalam bentuk P2O5, dan kalium 15 % dalam bentuk K2O. Sifat Nitrogen (pembawa nitrogen ) terutama dalam bentuk amoniak dapat menunjang pertumbuhan tanaman.(Hardjowigeno, 2003).
 Media tanam yang  biasa digunakan dalam pembibitan kakao adalah berupa campuran antara tanah dan pupuk organik. Teoh dan Ramadasan (1978) mengemukakan bahwa perbandingan campuran tanah dengan pasir atau pupuk organik sangat berbeda, tergantung pada jenis tanahnya. Beberapa penelitian memperlihatkan  bahwa  terdapat  perbedaan  perbandingan  dan campuran medium tumbuh antara suatu tempat dengan tempat yang lain. Menurut Adri (2009) pemupukan pada fase bibit kakao dengan NPK    (2 : 1 : 2) dengan  dosis  1 gram/bibit dengan usia 1 bulan, 2 gram/bibit dengan usia 2 bulan dan 3 gram/bibit  untuk usia 3 bulan.        
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian pupuk kompos kulit buah kakao dan NPK mutiara terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma Cacao L.) baik secara tunggal maupun interaksi.

BAHAN DAN METODA
Tempat dan waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Balai Penelitian Pertanian (BPP) yang terletak di Sei Rumbio Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu  penelitian selama 5 bulan terhitung dari bulan  Januari  sampai Mei 2013.
Alat dan Bahan
Dalam penelitian ini alat yang digunakan adalah : alat tulis (kertas, penggaris, spidol, pulpen, pensil), cangkul, parang, gergaji,gembor, polybag ukuran 30 x 25, kamera, jangka sorong, pisau dan alat lainnya. 
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kakao Forestero dari PT.Tri Bhakti Sarimas(TBS), tanah top soil, pupuk  NPK Mutiara, kompos kulit buah kakao, dan fungisida Dithane M-45 atau bahan aktif deltrametrin (Decis 2,5 EC).

Metode Penelitian
Penelitian ini adalah metode Eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu K (Kompos Kulit Kakao) terdiri dari 4 taraf dan P (NPK) terdiri dari 4 taraf perlakuan sehingga diperoleh 16 kombinasi perlakuan, pada masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Jumlah plot yang digunakan dalam percobaan sebanyak 48 plot, pada masing-masing plot terdiri dari 4 tanaman dan 3 diantaranya dijadikan tanaman sampel. Jumlah tanaman keseluruhan 192 tanaman.
Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut faktor pertama adalah dosis kompos kulit kakao (K) yang terdiri dari beberapa taraf = K0  : 0 kg per polybag, K1 : 0,25 kg per polybag, K2 : 0,5  kg per polybag, K3 : 0,75 kg per polybag. Faktor kedua :  Dosis Pupuk NPK (P) = P0 : NPK 0 kg per polybag, P1 : NPK 2,5 g per  polybag, P2 : NPK  5 g  per polybag, P3 : NPK 7,5 g  per polybag.
 Data hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan di analisis secara statistik apabila dalam Analisis Sidik Ragam memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter yang di amati, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%, untuk mengetahui perbedaan masing-masing perlakuan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Bibit Kakao (cm)
Pada tabel 1 rerata perlakuan kompos kulit buah kakao secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi bibit, dimana perlakuan terbaik adalah K3 yaitu 38,00 cm dan perlakuan terendah yaitu K0 26,81 cm. Hal ini diduga oleh pemberian pupuk kompos mampu menyediakan kebutuhan hara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman untuk pertumbuhan tinggi tanaman. Sesuai dengan pernyataan Nihayati (1987) kebutuhan tanaman untuk menunjang pertumbuhan vegetatifnya, termasuk pertumbuhan tinggi tanaman diperlukan tersedianya unsur hara yang cukup dan keadaan lingkungan yang sesuai serta faktor genetik dari tanaman itu sendiri.
Pemberian bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah sehingga jaringan akar dengan leluasa menyerap air dan nutrisi makanan untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Souri (2011) menyatakan bahwa bahan organik merupakan pupuk lengkap, karena mengandung semua hara makro yang dibutuhkan oleh tanaman, juga mengandung hara mikro. Unsur hara makro seperti N, P, dan K dibutuhkan dalam jumlah yang cukup besar terdapat pada pemberian pupuk buatan sedangkan unsur hara mikro seperti Fe, Cu, Zn, Si dibutuhkan dalam jumlah yang kecil. Untuk  merangsang pertumbuhan vegetatif pada tanaman memerlukan unsur N yang cukup. Kompos kulit buah kakao mampu memenuhi kebutuhan N umtuk pertumbuhan bibit.


Tabel 1. Rata – rata tinggi bibit Kakao (cm) dengan perlakuan Kompos Kulit Buah Kakao dan NPK Mutiara pada saat tanaman berumur 16 Minggu.
FAKTOR
P0
P1
P2
P3
Rerata
K0
25,94
28,00
26,22
27,05
26,81c
K1
33,83
28,83
30,89
31,05
31,15b
K2
38,22
35,61
37,63
36,06
36,88a
K3
36,39
38,78
37,78
39,06
38,00a
Rerata
33,60
32,81
33,13
33,31

  KK= 6,02 %                                              BNJ K=2,21
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5%.


Diameter Batang (mm)
Berdasarkan Tabel 2 hasil rerata perlakuan kompos kulit buah kakao secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan diameter batang, dimana perlakuan terbaik adalah K2 yaitu 7,69 mm, dan perlakuan yang terendah yaitu K0 yaitu 3,83 mm. Hal ini disebabkan kompos kulit buah kakao mampu mempertahankan sifat fisik tanah, juga menyediakan unsur hara N, P, K. Unsur hara yang diserap oleh tanaman berperan dalam menunjang pertumbuhan vegetatif tanaman. Unsur N berperan dalam pembentukan sistem perakaran yang baik. Unsur K yang berada pada ujung akar merangsang proses pemanjangan akar.
Dalam perkembangan diameter batang tanaman kakao cenderung lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah daun. Hal ini disebabkan oleh laju dan kuantitas fotosintat yang dipasok dari daun tanaman. Menurut Gardner et al., (1991) yang menyatakan unsur hara makro dan mikro yang diberikan pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan pembentukan protein, karbohidrat dan lemak yang dibentuk tanaman dalam proses fotositesis dan asimilat akan digunakan oleh tanaman untuk pembentukan dan perkembangan sel baru. Kompos limbah kulit kakao menyediakan unsur hara kalium bagi tanaman, sehingga tanaman mengalami pembelahan dan pembesaran sel serta batang tumbuh menjadi lebih tinggi.
Pemberian pupuk NPK secara tunggal memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang. Dimana perlakuan terbaik adalah P3 yaitu 7,41 mm dan yang terendah dalah P0 yaitu 4,64 mm. Hal ini diduga karena tersedianya unsur hara dalam jumlah yang cukup melalui pemberian pupuk NPK menyebabkan kegiatan metabolisme dari tanaman akan meningkat demikian juga akumulasi asimilat pada daerah batang akan meningkat sehingga terjadi perbesaran pada bagian batang. Menurut Jumin (1986) batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya pada tanaman yang lebih muda. Adanya unsur hara dapat mendorong pertumbuhan vegetatif tanaman sehingga akan memacu laju fotosintesis. Semakin laju fotosintesis maka fotosintat yang dihasilkan akhirnya akan memberikan ukuran lingkar batang yang besar.
Diameter batang terendah terlihat pada tanpa perlakuan (P0) karena keterbatasan hara yang terkandung pada media menghambat pertumbuhan tanaman. Hal ini diduga karena kandungan K sedikit tersedianya sehingga batang kurang berkembang dengan baik, sesuai pernyataan Hakim (1986) unsur K berfungsi menguatkan vigor tanaman yang dapat mempengaruhi besar lingkaran batang tidak terlepas dari peranan unsur hara dan hasil fotosintesis, keduanya saling berkaitan. Jumin (1986) menyatakan bahwa batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya tanaman tanaman muda, dengan adanya unsur hara dapat mendorong laju fotosintesis dalam menghasilkan fotosintat, sehingga membantu dalam pembentukan lilit batang.


Tabel 2. Rata –Rata Diameter Batang Kakao (mm) dengan Perlakuan Kompos Kulit Buah Kakao dan Pupuk NPK Mutiara pada saat tanaman berumur 16 minggu.
FAKTOR
P0
P1
P2
P3
Rerata
K0
3,60
3,83
3,80
4,10
3,83d
K1
4,73
5,13
4,99
4,87
4,93c
K2
4,83
5,39
5,78
4,77
7,69a
K3
5,39
5,86
5,89
5,92
5,77b
Rerata
4,64c
5,06b
5,12b
7,41a

     KK=8,60                      BNJ K=0,47          BNJ P=0,47
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5 %.


Jumlah Daun (Helai)
Perlakuan pemberian kompos kulit buah kakao secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan jumlah daun. Dimana perlakuan terbanyak adalah K3 yaitu 19,89 helai. Sementara jumlah daun yang paling sedikit terdapat pada perlakuan K0 yaitu 11,42 helai. Hal ini disebabkan karena pembentukan daun pada bibit kakao membutuhkan hara esensial yang diantaranya adalah nitrogen. Terbentuknya daun bibit kakao melalui proses pembelahan dan pembesaran sel tanaman. Unsur hara nitrogen sangat berperan dalam proses pembelahan dan pembesaran sel.


Tabel 3. Rata-rata Jumlah Daun Kakao (helai) dengan Perlakuan Kompos Kulit Buah Kakao dan NPK Mutiara pada tanaman berumur 16 minggu.
FAKTOR
P0
P1
P2
P3
Rerata
K0
12,11
11,89
9,70
12,00
11,42c
K1
14,00
13,67
15,67
14,34
14,42b
K2
21,00
17,89
17,44
16,22
18,14a
K3
19,78
19,89
20,33
19,55
19,89a
Rerata
16,72
15,83
15,79
15,53

       KK=12,92 %                                                    BNJ K=2,28
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf  kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5%

Menurut Jumin (2002) nitrogen berfungsi untuk merangsang pertunasan dan penambahan tinggi tanaman. Sejalan dengan pendapat Lingga (2001) menyatakan bahwa nitrogen dalam jumlah yang cukup berperan dalam mempercepat pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, khususnya batang dan daun. Kandungan nitrogen yang terdapat dalam tanah akan dimanfaatkan oleh tanaman kakao dalam pembelahan sel. Selain itu faktor yang mempengaruhi pertambahan jumlah daun adalah angin dan temperatur. Bibit kakao tidak tahan terhadap guncangan angin yang kencang. Selain itu angin dapat juga merebahkan tanaman dan tentunya juga dapat merontokkan daun pada bibit kakao.
KESIMPULAN
1.      Kompos kulit buah kakao memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pengamatan Pada parameter pengamatan tinggi bibit kakao  perlakuan terbaik yaitu P3 (38,00),  pengamatan diameter batang perlakuan terbaik K2 (7,69), dan pada parameter pengamatan jumlah daun denga perlakuan terbaik K3 (19,89). 
2.      Pemberian pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata pada  parameter pengamatan diameter batang dengan perlakuan terbaik P2 (7,41).
3.      Interaksi kompos kulit buah kakao dan pupuk NPK mutiara tidak berpengaruh nyata pada semua parameter pengamatan bibit kakao.

DAFTAR PUSTAKA
Adri, 2009. Respon Pertumbuhan Bibit Kakao(Theobroma Cacao L.)Terhadap Lumpur Kering Limbah Domestik dan Pupuk NPK Pada Tanah Subsoil. Medan. Universitas Sumatra Utara
Darmawan, 2010. Dasar-dasar Fisiologi Tanaman. PT. Suryandaru Utama. Semarang
Direktorat Jendral Produksi Perkebunan. 2006. Statistik Perkebunan Indonesia Kelapa Sawit(Oil Palm). Direktorat Jendral Produksi Perkebunan Departement Pertanian. Jakarta
Direktorat Jendral Perkebunan 2010, Potensi Pemanfaatan Limbah Perkebunan Menjadi              ,         Pupuk Organik  Direktorat Pembenihan dan Sarana Produksi,Jakarta.
Gardner, F.P., R.B. Peace dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademi Pressindo. Jakarta.
Hakim, N, M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul, 1986. Dasar –Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.
Jumin, H.B. 1986. Ekologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali. Jakarta
Jumin, H.B. 1987. Dasar-Dasar Agronomi. Rajawali. Jakarta
Lingga, P. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nihayati, E. 1987. Anatomi Tumbuhan dalam Biologi pertanian. oleh suwasono heddy. Rajawali Pers. Jakarta.
Setyamidjaya, 1986. Pupuk dan Pemupukan. CV. Simplek. Jakarta.
Souri, S. 2001. Penggunaan Pupuk Kandang Meningkatkan Produksi Padi. Mataram. Institut Penelitian dan Pengakajian Teknologi Pertanian Mataram.
Sudirja, 2005. Pengaruh Kompos Kulit Buah Kakao dan Kascing terhadap Perbaikan Beberapa Sifat Kimia Fluventic eutrudepts. Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran.
 Teoh, C.H. and K. Ramadasan. 1978. Effect on Potting Media Composition on Grouth and Development of Young Cocoa Sedling. International Conference on Cocoa and Coconut. Kuala Lumpur


















































Tidak ada komentar:

Posting Komentar