PENGARUH PEMBERIAN KOMPOS KULIT BUAH KAKAO DAN NPK MUTIARA
TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma
cacao L.)
Nistitia
Melta Dewi, Tri Nopsagiarti dan Mashadi
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa
Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Teluk Kuantan
ABSTRACT
This
research has been conducted in Agricultural Research Institute (BPP), Sei
Rumbio Kari, Kuantan Tengah.
Time study for 5
months from January to May 2013. The design used
in this study is Completely
Randomized Design (RAL) factorial
consisting of two
factors, namely K (Compost cocoa pods)
consisted of 4 levels: K0 (without treatment),
K1 (0.25 kg
compost cocoa pods
), K2 (0.5
kg compost cocoa
pods), K3 (0.75
kg compost cocoa
pods). Factor P
(NPK fertilizer Pearl) consists of 4 levels: P0
(without pemerian NPK), P1 (2.5 g
of NPK fertilizer), P2 (5 g of NPK fertilizer), P3
(7.5 g NPK
fertilizer ) and repeated 3 times so
that there are 48 plots. In one plot, there are 4 plants consisting of
3 plant samples.
A total of 192 cocoa
seedlings. Parameters measured
were seedling height (cm), stem diameter
(mm), number of leaves (strands). Observed data from each treatment were
statistically analyzed and followed
by a Further Test of Honest
Significant Difference at the 5% level. The results showed that the interaction of
cocoa pods and
compost fertilizer NPK Mutiara had no
significant effect on all parameters of the observations. Cocoa pods compost
treatments did not significantly affect
seedling height and
number of leaf parameters. Only effect on stem diameter
observation parameters with the best treatment
K3 (5.26 mm).
NPK fertilizer treatment
Pearls singly significantly
affect seedling height with the best treatment
P3 (38.00 cm),
stem diameter best treatment P3 (5.77 mm), number of leaves best treatment
P3 (19.89 strands).
Key words : compost, NPK Mutiara, Cocoa, treatment.
PENDAHULUAN
Tanaman
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan tanaman perkebunan yang
termasuk ke dalam famili Sterculiaceae.
Bagian dari buah kakao yang dapat dimanfaatkan adalah berupa biji, yang dapat
diolah sehingga menghasilkan bubuk coklat. Hasil olahan biji dapat digunakan sebagai bahan
baku dan penambah rasa untuk minuman. Menurut Darmawan (2010), sebagai tanaman
perkebunan kakao merupakan salah satu komoditas yang memiliki
prospek baik karena tanaman ini dapat
berbunga dan berbuah sepanjang tahun sehingga dapat menjadi sumber pendapatan
masyarakat. Disamping itu permintaan pasar terhadap kakao sangat besar baik untuk konsumsi dalam negeri
maupun diekspor ke luar negeri.
Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan
pesat sejak awal tahun 1980-an. Pada tahun 2010 ditargetkan produksinya hingga
8% sehingga mencapai 540.000 ton, dengan
areal perkebunan seluas 914.051 ha. Perkebunan kakao sebagian besar dikelola oleh rakyat yaitu 87,4 %, 6,0 %
dikelola oleh negara dan 6,7% dikelola oleh swasta (Ditjen Perkebunan, 2006).
Seiring
dengan hal tersebut kebutuhan akan bibit kakao juga mengalami peningkatan.
Bibit kakao yang baik adalah yang dapat menghasilkan tanaman yang sehat,
sulit diserang penyakit, daya hasil tinggi,
cepat berproduksi dan lebih tanggap terhadap pemupukan
(Setyamidjaya, 1986). untuk
menghasilkan bibit yang berkualitas,salah satunya dengan cara penggunaan pupuk
yang tepat.
Pupuk buatan yang biasa digunakan
untuk pembibitan kakao memberikan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan
bibit kakao, namun saat ini pengadaan pupuk buatan sangat sulit untuk
didapatkan disamping harganya mahal ketersediaannya dipasaran juga sulit,
karena masih di impor dari luar.untuk mengantisipasi kekurangan pupuk buatan,
pupuk organik adalah salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Kompos
adalah salah satu pupuk organik yang dapat dihasilkan dari proses fermentasi
bahan organik seperti kulit buah kakao. Kulit
kakao mengandung 8,5% protein kasar dan dapat meningkatkan produktivitas sampai
60% karena kulit kakao merupakan biomassa yang sangat berpotensi untuk diproses
menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan
memperbaiki struktur tanah secara alami (Dirjen Perkebunan, 2010). Hasil
penelitian Sudirja (2005) menunjukkan bahwa
penggunaan kompos kulit buah kakao perbandingan (1:1)
dengan media tanah pada bibit kakao
mampu meningkatkan pH tanah dan kadar C
organik.
Selain
pupuk organik pupuk majemuk NPK juga sering digunakan dalam pembibitan kakao,
karena dibandingkan dengan pupuk tunggal, pupuk majemuk lebih efektif untuk
digunakan pada tahap pembibitan. Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung
unsur hara utama lebih dari dua jenis. Dengan kandungan unsur hara Nitrogen 15
% dalam bentuk NH3, fosfor 15 % dalam bentuk P2O5,
dan kalium 15 % dalam bentuk K2O. Sifat Nitrogen (pembawa nitrogen )
terutama dalam bentuk amoniak dapat menunjang pertumbuhan
tanaman.(Hardjowigeno, 2003).
Media tanam
yang biasa digunakan dalam pembibitan
kakao adalah berupa campuran antara tanah dan pupuk organik. Teoh dan Ramadasan
(1978) mengemukakan bahwa perbandingan campuran tanah dengan pasir atau pupuk
organik sangat berbeda, tergantung pada jenis tanahnya. Beberapa penelitian
memperlihatkan bahwa terdapat
perbedaan perbandingan dan campuran medium tumbuh antara suatu
tempat dengan tempat yang lain. Menurut Adri (2009) pemupukan pada fase bibit kakao dengan NPK (2 : 1 : 2) dengan dosis
1 gram/bibit dengan usia 1 bulan, 2 gram/bibit
dengan usia 2 bulan dan 3 gram/bibit
untuk usia 3 bulan.
Penelitian
ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian pupuk kompos kulit buah kakao
dan NPK mutiara terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma Cacao L.) baik secara tunggal maupun interaksi.
BAHAN DAN METODA
Tempat dan
waktu
Penelitian
ini telah dilaksanakan di Balai Penelitian Pertanian (BPP) yang terletak di Sei
Rumbio Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu penelitian selama 5 bulan terhitung dari
bulan Januari sampai Mei 2013.
Alat dan Bahan
Dalam penelitian ini alat yang digunakan adalah : alat tulis
(kertas, penggaris, spidol, pulpen, pensil), cangkul, parang, gergaji,gembor, polybag ukuran 30 x 25, kamera, jangka
sorong, pisau dan alat lainnya.
Bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kakao Forestero dari PT.Tri Bhakti
Sarimas(TBS), tanah top soil, pupuk NPK Mutiara, kompos kulit
buah kakao, dan
fungisida Dithane M-45 atau bahan aktif deltrametrin (Decis 2,5 EC).
Metode Penelitian
Penelitian ini adalah metode Eksperimen dengan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial
yang terdiri dari 2 faktor yaitu K (Kompos Kulit Kakao) terdiri dari 4 taraf
dan P (NPK) terdiri dari 4 taraf perlakuan sehingga diperoleh 16 kombinasi
perlakuan, pada masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Jumlah plot
yang digunakan dalam percobaan sebanyak 48 plot, pada masing-masing plot
terdiri dari 4 tanaman dan 3 diantaranya dijadikan tanaman sampel. Jumlah
tanaman keseluruhan 192 tanaman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Bibit Kakao (cm)
Pada
tabel 1 rerata perlakuan kompos kulit buah kakao secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi bibit, dimana perlakuan terbaik adalah K3
yaitu 38,00 cm dan perlakuan terendah yaitu K0 26,81 cm. Hal ini diduga oleh
pemberian pupuk kompos mampu menyediakan kebutuhan hara yang sesuai dengan
kebutuhan tanaman untuk pertumbuhan tinggi tanaman. Sesuai dengan pernyataan
Nihayati (1987) kebutuhan tanaman untuk menunjang pertumbuhan vegetatifnya,
termasuk pertumbuhan tinggi tanaman diperlukan tersedianya unsur hara yang
cukup dan keadaan lingkungan yang sesuai serta faktor genetik dari tanaman itu
sendiri.
Tabel
1. Rata – rata tinggi bibit Kakao (cm) dengan perlakuan Kompos Kulit Buah Kakao
dan NPK Mutiara pada saat tanaman berumur 16 Minggu.
|
FAKTOR
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
Rerata
|
|
K0
|
25,94
|
28,00
|
26,22
|
27,05
|
26,81c
|
|
K1
|
33,83
|
28,83
|
30,89
|
31,05
|
31,15b
|
|
K2
|
38,22
|
35,61
|
37,63
|
36,06
|
36,88a
|
|
K3
|
36,39
|
38,78
|
37,78
|
39,06
|
38,00a
|
|
Rerata
|
33,60
|
32,81
|
33,13
|
33,31
|
|
|
KK= 6,02 %
BNJ K=2,21
|
|||||
Diameter Batang (mm)
Berdasarkan Tabel 2 hasil rerata
perlakuan kompos kulit buah kakao secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata
terhadap pertambahan diameter batang, dimana perlakuan terbaik adalah K2 yaitu
7,69 mm, dan perlakuan yang terendah yaitu K0 yaitu 3,83 mm. Hal ini disebabkan
kompos kulit buah kakao mampu mempertahankan sifat fisik tanah, juga
menyediakan unsur hara N, P, K. Unsur hara yang diserap oleh tanaman berperan
dalam menunjang pertumbuhan vegetatif tanaman. Unsur N berperan dalam
pembentukan sistem perakaran yang baik. Unsur K yang berada pada ujung akar
merangsang proses pemanjangan akar.
Dalam
perkembangan diameter batang tanaman kakao cenderung lebih lambat dibandingkan
dengan pertumbuhan jumlah daun. Hal ini disebabkan oleh laju dan kuantitas
fotosintat yang dipasok dari daun tanaman. Menurut Gardner et al., (1991) yang menyatakan unsur hara makro dan mikro yang
diberikan pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan pembentukan protein,
karbohidrat dan lemak yang dibentuk tanaman dalam proses fotositesis dan
asimilat akan digunakan oleh tanaman untuk pembentukan dan perkembangan sel
baru. Kompos limbah kulit kakao menyediakan unsur hara kalium bagi tanaman,
sehingga tanaman mengalami pembelahan dan pembesaran sel serta batang tumbuh
menjadi lebih tinggi.
Pemberian
pupuk NPK secara tunggal memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang.
Dimana perlakuan terbaik adalah P3 yaitu 7,41 mm dan yang terendah dalah P0
yaitu 4,64 mm. Hal ini diduga karena tersedianya unsur hara dalam jumlah yang
cukup melalui pemberian pupuk NPK menyebabkan kegiatan metabolisme dari tanaman
akan meningkat demikian juga akumulasi asimilat pada daerah batang akan
meningkat sehingga terjadi perbesaran pada bagian batang. Menurut Jumin (1986)
batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya pada tanaman
yang lebih muda. Adanya unsur hara dapat mendorong pertumbuhan vegetatif
tanaman sehingga akan memacu laju fotosintesis. Semakin laju fotosintesis maka
fotosintat yang dihasilkan akhirnya akan memberikan ukuran lingkar batang yang
besar.
Diameter
batang terendah terlihat pada tanpa perlakuan (P0) karena keterbatasan hara
yang terkandung pada media menghambat pertumbuhan tanaman. Hal ini diduga
karena kandungan K sedikit tersedianya sehingga batang kurang berkembang dengan
baik, sesuai pernyataan Hakim (1986) unsur K berfungsi menguatkan vigor tanaman
yang dapat mempengaruhi besar lingkaran batang tidak terlepas dari peranan
unsur hara dan hasil fotosintesis, keduanya saling berkaitan. Jumin (1986)
menyatakan bahwa batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman
khususnya tanaman tanaman muda, dengan adanya unsur hara dapat mendorong laju
fotosintesis dalam menghasilkan fotosintat, sehingga membantu dalam pembentukan
lilit batang.
Tabel
2. Rata –Rata Diameter Batang Kakao (mm) dengan Perlakuan Kompos Kulit Buah
Kakao dan Pupuk NPK Mutiara pada saat tanaman berumur 16 minggu.
|
FAKTOR
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
Rerata
|
|
K0
|
3,60
|
3,83
|
3,80
|
4,10
|
3,83d
|
|
K1
|
4,73
|
5,13
|
4,99
|
4,87
|
4,93c
|
|
K2
|
4,83
|
5,39
|
5,78
|
4,77
|
7,69a
|
|
K3
|
5,39
|
5,86
|
5,89
|
5,92
|
5,77b
|
|
Rerata
|
4,64c
|
5,06b
|
5,12b
|
7,41a
|
|
|
KK=8,60 BNJ K=0,47 BNJ P=0,47
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak
berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5 %.
Jumlah Daun (Helai)
Perlakuan
pemberian kompos kulit buah kakao secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata
terhadap pertambahan jumlah daun. Dimana perlakuan terbanyak adalah K3 yaitu
19,89 helai. Sementara jumlah daun yang paling sedikit terdapat pada perlakuan
K0 yaitu 11,42 helai. Hal ini disebabkan karena pembentukan daun pada bibit
kakao membutuhkan hara esensial yang diantaranya adalah nitrogen. Terbentuknya
daun bibit kakao melalui proses pembelahan dan pembesaran sel tanaman. Unsur
hara nitrogen sangat berperan dalam proses pembelahan dan pembesaran sel.
Tabel 3.
Rata-rata Jumlah Daun Kakao (helai) dengan Perlakuan Kompos Kulit Buah Kakao
dan NPK Mutiara pada tanaman berumur 16 minggu.
|
FAKTOR
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
Rerata
|
|
K0
|
12,11
|
11,89
|
9,70
|
12,00
|
11,42c
|
|
K1
|
14,00
|
13,67
|
15,67
|
14,34
|
14,42b
|
|
K2
|
21,00
|
17,89
|
17,44
|
16,22
|
18,14a
|
|
K3
|
19,78
|
19,89
|
20,33
|
19,55
|
19,89a
|
|
Rerata
|
16,72
|
15,83
|
15,79
|
15,53
|
|
|
KK=12,92 %
BNJ K=2,28
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf
kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada
taraf 5%
Menurut Jumin (2002) nitrogen berfungsi
untuk merangsang pertunasan dan penambahan tinggi tanaman. Sejalan dengan
pendapat Lingga (2001) menyatakan bahwa nitrogen dalam jumlah yang cukup
berperan dalam mempercepat pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, khususnya
batang dan daun. Kandungan nitrogen yang terdapat dalam tanah akan dimanfaatkan
oleh tanaman kakao dalam pembelahan sel. Selain itu faktor yang mempengaruhi
pertambahan jumlah daun adalah angin dan temperatur. Bibit kakao tidak tahan
terhadap guncangan angin yang kencang. Selain itu angin dapat juga merebahkan
tanaman dan tentunya juga dapat merontokkan daun pada bibit kakao.
KESIMPULAN
1.
Kompos kulit buah kakao
memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pengamatan Pada
parameter pengamatan tinggi bibit kakao
perlakuan terbaik yaitu P3 (38,00),
pengamatan diameter batang perlakuan terbaik K2 (7,69), dan pada
parameter pengamatan jumlah daun denga perlakuan terbaik K3 (19,89).
2.
Pemberian pupuk NPK Mutiara
memberikan pengaruh yang nyata pada
parameter pengamatan diameter batang dengan perlakuan terbaik P2 (7,41).
3.
Interaksi kompos kulit buah kakao
dan pupuk NPK mutiara tidak berpengaruh nyata pada semua parameter pengamatan
bibit kakao.
DAFTAR PUSTAKA
Adri, 2009. Respon Pertumbuhan Bibit Kakao(Theobroma Cacao L.)Terhadap Lumpur
Kering Limbah Domestik dan Pupuk NPK Pada Tanah Subsoil. Medan. Universitas
Sumatra Utara
Darmawan, 2010. Dasar-dasar
Fisiologi Tanaman. PT. Suryandaru Utama. Semarang
Direktorat Jendral Produksi Perkebunan. 2006. Statistik Perkebunan
Indonesia Kelapa Sawit(Oil Palm). Direktorat Jendral Produksi Perkebunan
Departement Pertanian. Jakarta
Direktorat Jendral Perkebunan 2010, Potensi Pemanfaatan Limbah Perkebunan
Menjadi , Pupuk Organik Direktorat Pembenihan dan Sarana Produksi,Jakarta.
Gardner,
F.P., R.B. Peace dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi
Tanaman Budidaya. Jakarta
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu
Tanah. Akademi Pressindo. Jakarta.
Hakim, N,
M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul, 1986. Dasar –Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.
Jumin, H.B. 1986. Ekologi
Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali. Jakarta
Jumin, H.B. 1987. Dasar-Dasar
Agronomi. Rajawali. Jakarta
Lingga, P. 2001. Petunjuk
Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nihayati,
E. 1987. Anatomi Tumbuhan dalam Biologi
pertanian. oleh suwasono heddy. Rajawali Pers. Jakarta.
Setyamidjaya,
1986. Pupuk dan Pemupukan. CV. Simplek. Jakarta.
Souri, S.
2001. Penggunaan Pupuk Kandang
Meningkatkan Produksi Padi. Mataram. Institut Penelitian dan Pengakajian
Teknologi Pertanian Mataram.
Sudirja,
2005. Pengaruh Kompos Kulit Buah Kakao dan Kascing terhadap Perbaikan Beberapa
Sifat Kimia Fluventic eutrudepts. Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran.
Teoh, C.H. and K. Ramadasan. 1978. Effect on
Potting Media Composition on Grouth and Development of Young Cocoa Sedling.
International Conference on Cocoa and Coconut. Kuala Lumpur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar