Rabu, 22 Januari 2014

JGS Vol 1 No 1 hal 17-24


RESPON PEMBERIAN PUPUK BIO - EXTRIM  DAN
PEMBERIAN 2,4 D TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI
KACANG TANAH (Arachis hypogaea. L)

ADE GUMAIDI

Program Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan.
 Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau.

ABSTRAK

Penelitan ini telah dilaksanakan di Desa Pulau Ingu Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D, baik secara tunggal maupun secara interaksi terhadap pertumbuhan dan produksi kacang tanah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu N (Pupuk Bio-Extrim) terdiri dari 4 taraf yaitu : N0 : Tanpa pemberian Pupuk Bio-Extrim, N1 : Pupuk Bio-Extrim = 5 ml/ liter air, N2 : Pupuk Bio-Extrim = 10 ml/ liter air, N3 : Pupuk Bio-Extrim = 15 ml/ liter air dan A (ZPT 2,4 D) terdiri dari 4 taraf yaitu : A0 :  Tanpa pemberian ZPT 2,4 D , A1 : Pemberian ZPT 2,4 D = 10 ppm, A2 : Pemberian ZPT 2,4 D = 15 ppm, A3 : Pemberian ZPT 2,4 D = 20 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan tunggal pupuk bio-extrim (N) memberikan respon yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik N3 (28,49) dan umur berbunga dengan perlakuan terbaik N3 (26,83), berat polong bernas dengan perlakuan terbaik N2 (47,21), berat kering pertanaman dengan perlakuan terbaik N2 (42,21), berat 100 biji perlakuan terbaik N1 (52, 99). Pemberian perlakuan tunggal ZPT 2,4 D (A) memberikan respon yang nyata terhadap pengamatan berat 100 biji dengan perlakuan terbaik A1 (51,91). Pemberian perlakuan interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D (NA) memberikan respon yang nyata terhadap parameter pengamatan berat 100 biji dengan perlakuan terbaik N1A1 (61,66).

Keyword : pupuk, zat pengatur tumbuh, kacang tanah



PENDAHULUAN

       Kacang tanah (Arachis hypogaea. L) merupakan salah satu sumber protein nabati yang cukup penting dalam pola menu makanan dimasyarakat. Luas pertanaman kacang tanah di Indonesia menepati urutan keempat setelah Padi, Jagung dan Kedelai (Adisarwanto 2003).
       Diperkirakan juga bahwa dari tahun ketahun kebutuhan kacang tanah terus meningkat sejalan dengan terus meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan gizi masyarakat, dan peningkatan kapasitas industri pakan dan makanan karena dalam 100 gr bahan kacang tanah terkandung 564 g kalori, 26 g protein, 47,5 g lemak, 18,6 g karbohidrat, 69 g kalsium, 401 mg fosfor, 2,1 mg besi, 1,14 mg B1 dan 0,13 mg B2 (Burm dan Huffmann, 1975 dalam Adisarwanto, 2003)
       Kacang tanah dapat dikonsumsi dalam berbagai bentuk antaralain sebagai sayur, saus, dan digoreng atau direbus. Sebagai bahan industri, kacang tanah dapat dibuat keju, mentega, sabun, dan minyak. Daun kacang tanah dapat digunakan untuk pakan ternak atau pupuk (Marzuki, 2009)
       Dari segi produktivitasnya, Indonesia dinilai masih rendah, yaitu hanya sebesar 1,0 ton/ha. Tingkat produktivitas hasil yang dicapai baru setengah dari potensi hasil apabila dibandingkan dengan USA, Cina dan Argentina yang sudah mencapai lebih dari 2,0 ton/ha (Adisarwanto, 2003) perbedaan tingkat produktivitas ini sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh perbedaan teknologi produksi yang sudah diterapkan petani, tetapi juga karena adanya pengaruh faktor lain diantaranya adalah sifat atau karakter agroklimat, curah hujan intensitas dan hama penyakit, varietas yang ditanam, umur panen dan usaha taninya. 
       Di Kabupaten Kuantan Singingi dari tahun ketahun produksi kacang tanah mengalami penurunan. Pada tahun 2008 produksi kacang tanah 319.69 ton/ha sedangkan pada tahun 2009 produksi kacang tanah mengalami penurunan yaitu 202.08 ton/ha (Badan Pusat Statistik, 2010).     
Adapun upaya peningkatan produksi kacang tanah yaitu dengan penggunaan bibit unggul, pengolahan tanah yang baik, dan pemupukan yang teratur dan sesuai. Kendala yang sering terjadi adalah pH tanah yang rendah dan tingkat kesuburan tanah yang rendah, serta pemupukan yang tidak sesuai dengan tanaman yang ditanam.
       Pupuk yang digunakan hendaknya yang dapat meningkatkan produksi dan dapat memperbaiki struktur tanah yaitu pupuk Bio-Extrim adalah pupuk hayati majemuk cair mengandung bahan organik yang dapat memperbaiki struktur tanah dan dapat meningkatkan produksi.
       Zat pengatur tumbuh (ZPT) sangat diperlukan oleh tanaman dimana ZPT dapat juga digunakan untuk memperbaiki keadaan perakaran, yaitu mempercepat pertumbuhan akar tanaman mudah, membantu penyerapan hara, dan meningkatkan proses kegiatan fotosintesis, serta dapat memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman.
       Salah satu zat pengatur tumbuh yang beredar dipasaran adalah 2,4 D (Diclhorophenoxy-acetid-acid) yang berperan meningkatkan hasil panen, daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, merangsang pertumbuhan akar, bunga dan buah, serta dapat memperbaiki rasa dan aroma hasil pertanian.
           
BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
       Penelitan ini telah dilaksanakan di Desa Pulau Ingu Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini dimulai bulan Oktober 2009 sampai Januari 2010.

Bahan dan alat
       Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih Kacang tanahSuper varietas Gajah, Pupuk Bio-Extrim, ZPT 2,4 D, Dithane M-45, Decis 2,5 EC Pupuk Kandang dan Furadan. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah cangkul, sabit, paku, Cat, label, martil, timbangan, gembor, meteran, ember, handspayer dan alat–alat tulis.

Metode Penelitian
       Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu A (Pupuk Bio-Extrim) terdiri dari 4 taraf dan B (ZPT 2,4 D) terdiri dari 4 taraf.
Faktor pertama pemberian Pupuk Bio-Extrim:
N0   : Tanpa pemberian Pupuk Bio-Extrim.
N1   : Pupuk Bio-Extrim (5 ml/ liter air)
N2   : Pupuk Bio-Extrim (10 ml/ liter air)
N3   : Pupuk Bio-Extrim (15 ml/ liter air)

Faktor kedua pemberian ZPT 2,4 D :
A0   : Tanpa pemberian ZPT 2,4 D
A1   : Pemberian ZPT 2,4 D = 10 ppm
A2   : Pemberian ZPT 2,4 D = 15 ppm                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    
A3   : Pemberian ZPT 2,4 D = 20 ppm

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
       Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap tinggi tanaman kacang tanah, sedangkan pemberian tunggal ZPT 2,4 D dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D  tidak memberikan respon yang nyata terhadap tinggi tanaman kacang tanah.

Tabel 1.  Rerata Tinggi Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan Pupuk Bio-Extrim dan Pemberian ZPT 2,4 D.

Faktor N
(Bio-Exrim)
Faktor A (ZPT 2,4 D)
Rerata
N
A0
A1
A2
A3
N0
N1
N2
N3

20,66
25,33
27,00
28,66
23,16
27,33
28,66
28,66
21,66
24,50
28,00
28,33
21,56
26,83
27,66
28,33
21,76 c
25,99 b
27,83 a
28,49 a
Rerata A

25,41

26,95

25,62

26,09

26,01

KK = 6,97
BNJ N = 1,39

Angka – angka pada baris dan kolom yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ



     


            Tabel 1 menunjukan bahwa perlakuan pupuk bio-extrim  memberikan respon yang nyata terhadap tinggi tanaman ini disebabkan oleh pupuk bio-extrim menyediakan unsur hara yang cukup tinggi sehingga mempengaruhi tinggi tanaman kacang tanah.
       Pemberian pupuk yang seimbang juga mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman, sesuai menurut Soegiman (1982) menegaskan bahwa tidak seimbangnya takaran pupuk yang diberikan dapat menurunkan hasil.
       Menurut Sarif (1986) tanaman yang kekurangan unsur hara akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan tetapi sebaliknya apabilah unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka dapat merusak tanaman itu sendiri. Menurut Sutedjo (2008) Pemberian Unsur hara N yang cukup dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, seperti tinggi tanaman, pembentukan daun. sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik sehingga menghasilkan produksi tanaman yang maksimal.
       Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal dan pemberian secara interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman ini diduga disebabkan oleh curah hujan yang terlalu tinggi, karena ZPT 2,4 D diberikan melalui daun sehingga dengan terjadinya hujan pemberian ZPT 2,4 D tidak efisien.
Umur Berbunga (hari)
       Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap umur berbunga tanaman kacang tanah, sedangkan pemberian tunggal ZPT 2,4 D dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D  tidak memberikan respon yang nyata terhadap umur berbunga tanaman kacang tanah.
       Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa pemberian pupuk bio–exrim secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap umur berbunga, perlakuan yang terbaik adalah pada perlakuan N3 (26,83). Perlakuan N3 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan N2 dan berbeda nyata terhadap perlakuan N1 dan No.
       Pemberian pupuk bio-extrim secara tunggal berpengaruhnya terhadap umur berbunga diduga disebabkan oleh unsur hara yang terdapat pada pupuk bio-exrim dapat mencukupi untuk pertumbuhan dan pengaruh lingkungan yang mendukung sehingga pembentukan bunga berpengaruh terhadap pemberian pupuk bio-extrim.
       Selain itu proses metabolisme yang akan terjadi pada tanaman sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkunagan tanaman seperti unsur hara, jumlah intensitas  cahaya matahari yang dapat diserap tanaman ataupun kondisi ketersediaan air didalam tanah (Salisbury dan Ross, 1995)
       Menurut Sarif (1982) tanaman yang kekurangan unsur hara yang akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan tetapi sebaliknya apabila unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka dapat merusak tanaman itu sendiri. Jumin (1991) menyatakan bahwa dengan adanya panas yang cukup, maka proses pembentukan bunga dan buah dapat berjalan dengan sempurna yang akan melancarkan proses pembentukan karbohidrat dan akan mempercepat reaksi-reaksi kimia atau biokimia yang akan memacu pertumbuhan menjadi lebih baik terutama dalam pembentukan buah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi umur berbunga dan umur panen tanaman.


Tabel 2.  Rerata Umur Berbunga Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan Pupuk  Bio-Extrim dan  Pemberian ZPT 2,4 D.
Faktor N
(Bio-Exrim)
Faktor A (ZPT 2,4 D)
Rerata
N
A0
A1
A2
A3

N0
N1
N2
N3


30.33
28,00
27,00
27,00


29,66
28,00
26,33
26,00

29,66
28,00
27,00
27,00

29,66
28,00
27,33
27,33


29,82 c
28,00 b
26,91 a
26,83 a
Rerata A
28,08
27,49
27,91
28,08
27,89
KK = 3,51
BNJ N = 0,75


Angka – angka pada baris dan kolom yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
  

Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak memberikan respon yang nyata terhadap umur berbunga ini diduga di waktu pemberian curah hujan tinggi sehingga mengakibatkan tidak memberikan respon yang nyata terhadap umur berbunga karena pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D diberikan melalui daun dengan cara disemprotkan sehingga sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan kecepatan angin.
Umur Panen (hari)
       Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim dan pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D  tidak memberikan respon yang nyata terhadap umur panen tanaman kacang tanah. Pengamatan umur panen tanaman kacang tanah disajikan pada tabel 3.



Tabel 3.   Rerata Umur Panen Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan Pupuk Bio-Extrim dan 
                Pemberian ZPT 2,4 D.
Faktor N
(Bio-Exrim)
Faktor A (ZPT 2,4 D)
Rerata
N
A0
A1
A2
A3
N0
N1
N2
N3
90,00
86,66
86,00
88,00
89,00
88,00
86,66
88,33
89,66
87,00
89,00
88,33
89,66
88,00
89,00
88,00
89,58
87,41
87,66
88,16
Rerata A
87,66
87,99
88,49
88,66
88,20
Angka – angka pada baris dan kolom yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ



       Dilihat dari tabel 3 diatas menunjukan bahwa perlakuan bio-exrim dan ZPT 2,4 D baik secara tunggal maupun secara interaksi tidak memberikan respon yang nyata terhadap umur panen.  Hal ini diduga apabila unsur hara di dalam tanah telah tersedia dan didukung oleh pengolahan tanah yang baik dalam penelitian ini maka tanaman kacang tanah dapat tumbuh dengan baik sehingga umur panen tidak dipengaruhi oleh pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D.
       Pada tanah padat atau sistem aerasi tanah yang buruk akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar, karena akar akan menembus kedalaman tanah melalui pori-pori tanah sambil mengisap air dan unsur hara yang terlarut. Pada kondisi tanah yang padat ruang pori yang dimilikinya sempit sehingga akar akan mengalami kesukaran untuk menembus ke dalam tanah. (Sarief, 1986)
     
Berat Polong Pertanaman (gr)
        Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam (Tabel 4) menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap berat polong bernas tanaman kacang tanah, sedangkan pemberian tunggal ZPT 2,4 D dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D  tidak memberikan respon yang nyata terhadap berat polong bernas tanaman kacang tanah.

       

Tabel 4.    Rerata Berat Polong bernas Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan Pupuk Bio-Extrim dan Pemberian ZPT 2,4 D.
Faktor N
(Bio-Exrim)
Faktor A (ZPT 2,4 D)
Rerata
N
A0
A1
A2
A3
N0
N1
N2
N3

26,99
37,77
43,32
28,88
25,55
31,10
54,44
31,10

25,99
28,88
50,00
26,66
26,21
28,88
41,11
25,55
26,18 b
31,65 b
47,21 a
28,04 b
Rerata A

34,24

35,54

32,88

30,43

33,27

KK = 26, 89
BNJ N = 6,98
Angka – angka pada baris dan kolom yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ

        Tabel 4 menunjukkan bahwa pemberian pupuk bio-extrim secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap berat polong bernas. Perlakuan terbaik adalah N2 (47,21). Perlakuan N2 berbeda nyata dengan perlakuan N3, dan perlakuan N1, N0.
       Pemberian pupuk bio-extrim secara tunggal berpengaruh nyata terhadap berat polong bernas ini diduga dengan pemberian pupuk bio-extrim unsur hara tercukupi sehingga pembentukan polong terbentuk dengan baik, karena dalam pupuk bio-extrim terdapat unsur K yang tinggi, didalam pembentukan polong diperlukan unsur K.
       Unsur kalium yang diserap tanaman sangat berperan dalam membantu pembentukan karbohidrat dan protein, mempercepat proses fotosintesis dan respirasi tanaman, membantu transportasi tepung dan lemak pada jaringan tanaman, meningkatkan daya resistensi tanaman terhadap penyakit serta meningkatkan kualitas produksi tanaman (Sutedjo, 2008).
       Harjadi (1984) menerangkan bahwa peningkatan berat buah dapat terjadi apabila fotosintesis lebih besar dari pada respirasi sehingga terjadi penumpukan bahan organik di dalam jaringan tanaman dalam jumlah yang cukup oleh karenanya unsur hara yang ada didalam tanah harus cukup tersedia bagi tanaman.
       Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat polong bernas ini diduga karena pemberian dosis tidak seimbang sehingga tidak menimbulkan pengaruh baik secara tunggal maupun secara interaksi. Juga dapat disebabkan oleh lingkungan serta kandungan hara di dalam tanah.
         Menurut Sarif (1986) tanaman yang kekurangan unsur hara akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan tetapi sebaliknya apabila unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka dapat merusak tanaman itu sendiri.

Berat Kering Pertanaman (gr)
        Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam (Tabel 5) menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap berat kering pertanaman, sedangkan pemberian tunggal ZPT 2,4 D dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D  tidak memberikan respon yang nyata terhadap berat kering pertanaman.


Tabel 5.     Rerata Berat Kering Pertanaman Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan Pupuk Bio-Extrim dan Pemberian ZPT 2,4 D.

Faktor N
(Bio-Exrim)
Faktor A (ZPT 2,4 D)
Rerata
N
A0
A1
A2
A3
N0
N1
N2
N3

21,99
32,77
38,32
23,88

20,55
26,10
49,44
26,10
20,88
23,88
45,00
21,66
21,21
23,88
36,11
20,55
21,15 b
26,65 b
42,21 a
23,04 b
Rerata A
29,24
30,54
27,85
25,43
28,26
KK = 31,68
BNJ N = 6,94

Angka – angka pada baris dan kolom yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ



Berdasarkan tabel 5 terlihat  bahwa perlakuan bio-extrim secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap berat kering pertanaman. Perlakuan terbaik bio-extrim adalah N2 (42,21), Perlakuan N2 berbeda nyata terhadap perlakuan N3, N1, N0. Perlakuan N3 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan N1, N0.
Berpengaruhnya pemberian pupuk bio-extrim secara tunggal disebabkan oleh dosis yang diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman dalam pembentukan polong, sehingga berpengaruh terhadap berat kering pertanaman. Pupuk bio-extrim juga memiliki kandungan unsur hara K yang tinggi sehingga dapat meningkatkan berat polong pada tanaman kacang tanah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2004) yang mengatakan bahwa tanaman kacang tanah memerlukan unsur hara K untuk fase generatif.
            Unsur kalium yang diserap tanaman sangat berperan dalam membantu pembentukan karbohidrat dan protein, mempercepat proses fotosintesis dan respirasi tanaman, membantu transportasi tepung dan lemak pada jaringan tanaman, meningkatkan daya resistensi tanaman terhadap penyakit serta meningkatkan kualitas produksi tanaman (Sutejo, 2008)
Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal dan pemberian secara interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak memberikan respon yang nyata terhadap berat kering pertanaman ini diduga disebabkan oleh tidak seimbangnya dosis yang diberikan dan pengaruh curah hujan sehingga tidak memberikan respon yang nyata.
Pemberian pupuk yang seimbang juga mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman, sesuai menurut Soegiman (1982) menegaskan bahwa tidak seimbangnya takaran pupuk yang diberikan dapat menurunkan hasil.
Ketersediaan unsur hara yang terkandung di dalam tanah dan curah hujan yang tinggi sangat memepengaruhi pertumbuhan tanaman kacang tanah.  Menurut Dwjoseputro (1984) menyatakan bahwa proses fotosintesis yang berjalan lancar pada tumbuhan akan menjamin perkembangan tumbuhan tersebut baik vegetatif maupun generative. Harjadi (1984) menambahkan bahwa tanaman akan tumbuh subur bila unsur hara yang tersedia dapat diserap tanaman sesuai tingkat kebutuhan tanaman.
           
Berat 100 Biji (gr)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam (tabel 6) menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara tunggal dan pemberian tunggal ZPT 2,4 D, pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D memberikan respon yang nyata terhadap berat 100 biji tanaman kacang tanah.


Tabel 6.   Rerata Berat 100 biji  Tanaman  Kacang   tanah   dengan   Perlakuan   Pupuk   Bio-Extrim  dan Pemberian ZPT 2,4 D.

Faktor N
(Bio-Exrim)
Faktor A (ZPT 2,4 D)
Rerata
N
A0
A1
A2
A3
N0
N1
N2
N3

45,33 d
50,00 b
49,66 b
49,33 b
45,00 d
66,66 a
50,33 b
56,66 b
44,66 d
50,00 b
50,00 b
48,33 c
36,66 c
50,33 b
50,00 b
50,00 b
42,91 c
52,99 a
49,99 b
49,58 b

Rerata A
48,58b
51,91 a
48,24 b
46,74 c
48,86
KK = 2,69
BNJ N = 0,99          BNJ A = 0,99       BNJ NA =2,19
Angka – angka pada baris dan kolom yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
 

Berdasarkan tabel 6 terlihat  bahwa pemberian perlakuan pupuk bio-extrim dan pemberian ZPT 2,4 D baik secara tunggal maupun secara interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat 100 biji tanaman kacang tanah.
Perlakuan bio-extrim secara tunggal yang terbaik adalah perlakuan N1 (52,99). Perlakuan N1 berbeda nyata dengan perlakuan N2 dan N3 berbeda sngat nyata dengan perlakuan N0, perlakuan N2 dan N3 berbeda nyata dengan perlakuan N0.
Pemberian pupuk bio-extrim berpengaruh diduga disebabkan oleh, karena dalam pembentukan biji yang di utamakan adalah kandungan unsur hara K, sedangkan pada pupuk bio-extrim kandungan yang tertinggi adalah kandungan unsur hara K.
Hal ini sesuai dengan pendapat  Anonim (2004) yang mengatakan bahwa tanaman kacang tanah memerlukan unsur hara K untuk fase generatif.
Unsur kalium yang diserap tanaman sangat berperan dalam membantu pembentukan karbohidrat dan protein, mempercepat proses fotosintesis dan respirasi tanaman, membantu transportasi tepung dan lemak pada jaringan tanaman, meningkatkan daya resistensi tanaman terhadap penyakit serta meningkatkan kualitas produksi tanaman (Sutejo,2008)
            Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap berat 100 biji. Perlakuan terbaik adalah A1 (51,91). Perlakuan A1 berbeda nyata terhadap A0, A2 berbeda sangat nyata dengan perlakuan A3.
            Perlakuan ZPT secara tunggal memberikan respon disebabkan  karena menurut Setyati, H (2009) 2,4 D dapat mempercepat dan memperbesar biji dan buah pada tanaman.
            Pemberian secara interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D memberikan respon yang nyata terhadap berat 100 biji. Perlakuan yang terbaik adalah perlakuan N1A1 (61,66) yaitu 5 ml/liter air bio-extrim dan ZPT 2,4 D 10 ppm/liter air. Perlakuan N1A1 bebeda nyata dengan perlakuan yang lainnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pemberian perlakuan tunggal pupuk bio-extrim (N) memberikan respon yang nyata terhadap parameter pengamatan Tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik N3 (28,49) dan umur berbunga dengan perlakuan terbaik N3 (26,83), Berat polong bernas dengan perlakuan terbaik N2 (47,21), berat kering pertanaman dengan perlakuan terbaik N2 (42,21), berat 100 biji perlakuan terbaik N1 (52, 99)
2.      Pemberian perlakuan tunggal ZPT 2,4 D (A) memberikan respon yang nyata terhadap pengamatan  berat 100 biji dengan perlakuan terbaik A1 (51,91)
3.      Pemberian perlakuan interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D (NA) memberikan respon yang nyata terhadap parameter pengamatan berat 100 biji dengan perlakuan terbaik N1A1 (61,66).

DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto. 2003. Meningkatkan Produksi Kacang Tanah di Lahan Sawah dan Lahan Kering. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta. 88 hal.
                                                                                  
Anonim, 2004, Kacang Tanah, Penebar swadaya, Jakarta.

Badan Pusat Statistik, 2010, Survei Lapangan Produksi Jagung, Kabupaten Kuantan Singingi.

Dwijoseputro, D., 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT.Gramedia. Jakarta

Harjadi, S. S. 1984. Pengantar Agronomi. PT Rajawali Press. Jakarta

Marzuki, R. 2009. Bertanam Kacang Tanah. Penebar Swadaya, Jakarta.

1 komentar: