RESPON PEMBERIAN PUPUK BIO - EXTRIM DAN
PEMBERIAN 2,4 D TERHADAP PERTUMBUHAN DAN
PRODUKSI
KACANG TANAH (Arachis hypogaea. L)
ADE GUMAIDI
Program Studi Agroteknologi, Sekolah
Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan.
Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake
Teluk Kuantan, Riau.
ABSTRAK
Penelitan
ini telah dilaksanakan
di Desa Pulau
Ingu Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
pemberian pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D, baik secara tunggal maupun secara
interaksi terhadap pertumbuhan dan produksi kacang tanah. Penelitian
ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2
faktor yaitu N (Pupuk Bio-Extrim) terdiri
dari 4 taraf yaitu : N0 : Tanpa pemberian Pupuk Bio-Extrim, N1 : Pupuk Bio-Extrim = 5 ml/
liter air, N2 : Pupuk Bio-Extrim = 10 ml/
liter air, N3 : Pupuk Bio-Extrim = 15 ml/
liter air dan A (ZPT 2,4 D) terdiri dari 4 taraf yaitu : A0 : Tanpa pemberian
ZPT 2,4 D , A1 : Pemberian ZPT 2,4 D = 10 ppm, A2 : Pemberian ZPT 2,4 D = 15 ppm, A3 : Pemberian ZPT 2,4 D = 20 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian perlakuan tunggal pupuk bio-extrim (N) memberikan respon yang nyata terhadap parameter
pengamatan tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik N3
(28,49) dan umur berbunga dengan perlakuan terbaik N3 (26,83), berat polong
bernas dengan perlakuan terbaik N2 (47,21), berat kering pertanaman dengan
perlakuan terbaik N2 (42,21), berat 100 biji perlakuan terbaik N1 (52, 99). Pemberian
perlakuan tunggal ZPT 2,4 D (A)
memberikan respon yang nyata terhadap pengamatan berat 100 biji dengan perlakuan terbaik A1 (51,91). Pemberian
perlakuan interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D
(NA)
memberikan respon yang
nyata terhadap parameter pengamatan berat 100 biji dengan perlakuan
terbaik N1A1 (61,66).
Keyword :
pupuk, zat pengatur tumbuh, kacang tanah
PENDAHULUAN
Kacang tanah (Arachis hypogaea. L) merupakan salah satu sumber protein nabati
yang cukup penting dalam pola menu makanan dimasyarakat. Luas pertanaman kacang
tanah di Indonesia menepati urutan keempat setelah Padi, Jagung dan Kedelai
(Adisarwanto 2003).
Diperkirakan
juga bahwa dari tahun ketahun kebutuhan kacang tanah terus meningkat sejalan
dengan terus meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan gizi masyarakat, dan
peningkatan kapasitas industri pakan dan makanan karena dalam 100 gr bahan
kacang tanah terkandung 564 g kalori, 26 g protein, 47,5 g lemak, 18,6 g
karbohidrat, 69 g kalsium, 401 mg fosfor, 2,1 mg besi, 1,14 mg B1
dan 0,13 mg B2 (Burm dan Huffmann, 1975 dalam Adisarwanto, 2003)
Kacang tanah dapat dikonsumsi dalam
berbagai bentuk antaralain sebagai sayur, saus, dan digoreng atau direbus.
Sebagai bahan industri, kacang tanah dapat dibuat keju, mentega, sabun, dan
minyak. Daun kacang tanah dapat digunakan untuk pakan ternak atau pupuk
(Marzuki, 2009)
Dari segi
produktivitasnya, Indonesia dinilai masih rendah, yaitu hanya sebesar 1,0
ton/ha. Tingkat produktivitas hasil yang dicapai baru setengah dari potensi
hasil apabila dibandingkan dengan USA, Cina dan Argentina yang sudah mencapai
lebih dari 2,0 ton/ha (Adisarwanto, 2003) perbedaan tingkat produktivitas ini
sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh perbedaan teknologi produksi yang
sudah diterapkan petani, tetapi juga karena adanya pengaruh faktor lain
diantaranya adalah sifat atau karakter agroklimat, curah hujan intensitas dan
hama penyakit, varietas yang ditanam, umur panen dan usaha taninya.
Di Kabupaten Kuantan Singingi dari tahun
ketahun produksi kacang tanah mengalami penurunan. Pada tahun 2008 produksi
kacang tanah 319.69 ton/ha sedangkan pada tahun 2009 produksi kacang tanah
mengalami penurunan yaitu 202.08 ton/ha (Badan Pusat Statistik, 2010).
Adapun upaya peningkatan produksi kacang tanah yaitu
dengan penggunaan bibit unggul, pengolahan tanah yang baik, dan pemupukan yang
teratur dan sesuai. Kendala yang sering terjadi adalah pH tanah yang rendah dan
tingkat kesuburan tanah yang rendah, serta pemupukan yang tidak sesuai dengan
tanaman yang ditanam.
Pupuk yang digunakan hendaknya yang
dapat meningkatkan produksi dan dapat memperbaiki struktur tanah yaitu pupuk
Bio-Extrim adalah pupuk hayati majemuk cair mengandung bahan organik yang dapat
memperbaiki struktur tanah dan dapat meningkatkan produksi.
Zat pengatur tumbuh (ZPT) sangat
diperlukan oleh tanaman dimana ZPT dapat juga digunakan untuk memperbaiki
keadaan perakaran, yaitu mempercepat pertumbuhan akar tanaman mudah, membantu
penyerapan hara, dan meningkatkan proses kegiatan fotosintesis, serta dapat
memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman.
Salah satu zat pengatur tumbuh yang
beredar dipasaran adalah 2,4 D (Diclhorophenoxy-acetid-acid) yang berperan
meningkatkan hasil panen, daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan
penyakit, merangsang pertumbuhan akar, bunga dan buah, serta dapat memperbaiki
rasa dan aroma hasil pertanian.
BAHAN DAN METODE
Tempat
dan Waktu
Penelitan ini telah dilaksanakan di Desa Pulau
Ingu Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini dimulai
bulan Oktober 2009
sampai Januari 2010.
Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah benih Kacang tanah “Super varietas Gajah, Pupuk Bio-Extrim, ZPT 2,4 D, Dithane M-45, Decis 2,5
EC Pupuk Kandang dan Furadan. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah
cangkul, sabit, paku, Cat, label,
martil, timbangan, gembor, meteran,
ember, handspayer dan
alat–alat tulis.
Metode
Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah Rancangan Acak Kelompok RAK)
Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu A
(Pupuk Bio-Extrim) terdiri
dari 4 taraf dan B (ZPT 2,4 D) terdiri dari 4 taraf.
Faktor
pertama pemberian Pupuk Bio-Extrim:
N0 : Tanpa pemberian Pupuk Bio-Extrim.
N1 : Pupuk Bio-Extrim (5 ml/
liter air)
N2 : Pupuk Bio-Extrim (10 ml/
liter air)
N3 :
Pupuk Bio-Extrim (15 ml/
liter air)
Faktor
kedua pemberian ZPT 2,4 D
:
A0 :
Tanpa pemberian
ZPT 2,4 D
A1 :
Pemberian ZPT 2,4 D = 10 ppm
A2 :
Pemberian ZPT 2,4 D = 15 ppm
A3 :
Pemberian ZPT 2,4 D = 20 ppm
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Setelah dianalisis secara statistik dari
hasil sidik ragam menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara tunggal
memberikan respon yang nyata terhadap tinggi tanaman kacang tanah, sedangkan
pemberian tunggal ZPT 2,4 D dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT
2,4 D tidak memberikan respon yang nyata
terhadap tinggi tanaman kacang tanah.
Tabel 1.
Rerata Tinggi Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan Pupuk Bio-Extrim dan
Pemberian ZPT 2,4 D.
|
Faktor N
(Bio-Exrim)
|
Faktor A (ZPT 2,4 D)
|
Rerata
N
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
N0
N1
N2
N3
|
20,66
25,33
27,00
28,66
|
23,16
27,33
28,66
28,66
|
21,66
24,50
28,00
28,33
|
21,56
26,83
27,66
28,33
|
21,76 c
25,99 b
27,83 a
28,49 a
|
|
Rerata A
|
25,41
|
26,95
|
25,62
|
26,09
|
26,01
|
|
KK = 6,97
|
BNJ N = 1,39
|
||||
Angka – angka pada baris dan kolom
yang ikuti huruf kecil yang sama adalah
tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Tabel
1 menunjukan bahwa perlakuan pupuk bio-extrim
memberikan respon yang nyata terhadap tinggi tanaman ini disebabkan oleh
pupuk bio-extrim menyediakan unsur hara yang cukup tinggi sehingga mempengaruhi
tinggi tanaman kacang tanah.
Pemberian pupuk yang seimbang juga
mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman, sesuai menurut Soegiman (1982)
menegaskan bahwa tidak seimbangnya takaran pupuk yang diberikan dapat
menurunkan hasil.
Menurut Sarif (1986) tanaman yang
kekurangan unsur hara akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan
tetapi sebaliknya apabilah unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka
dapat merusak tanaman itu sendiri. Menurut Sutedjo (2008) Pemberian Unsur hara
N yang cukup dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, seperti tinggi tanaman,
pembentukan daun. sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik sehingga menghasilkan
produksi tanaman yang maksimal.
Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal dan
pemberian secara interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman ini diduga disebabkan oleh curah
hujan yang terlalu tinggi, karena ZPT 2,4 D diberikan melalui daun sehingga
dengan terjadinya hujan pemberian ZPT 2,4 D tidak efisien.
Umur Berbunga (hari)
Setelah dianalisis secara statistik dari
hasil sidik ragam menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara tunggal
memberikan respon yang nyata terhadap umur berbunga tanaman kacang tanah,
sedangkan pemberian tunggal ZPT 2,4 D dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim
dan ZPT 2,4 D tidak memberikan respon
yang nyata terhadap umur berbunga tanaman kacang tanah.
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa pemberian
pupuk bio–exrim secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap umur
berbunga, perlakuan yang terbaik adalah pada perlakuan N3 (26,83). Perlakuan N3
tidak berbeda nyata terhadap perlakuan N2 dan berbeda nyata terhadap perlakuan
N1 dan No.
Pemberian pupuk bio-extrim secara
tunggal berpengaruhnya terhadap umur berbunga diduga disebabkan oleh unsur hara
yang terdapat pada pupuk bio-exrim dapat mencukupi untuk pertumbuhan dan
pengaruh lingkungan yang mendukung sehingga pembentukan bunga berpengaruh
terhadap pemberian pupuk bio-extrim.
Selain itu proses metabolisme yang akan
terjadi pada tanaman sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi
pada lingkunagan tanaman seperti unsur hara, jumlah intensitas cahaya matahari yang dapat diserap tanaman
ataupun kondisi ketersediaan air didalam tanah (Salisbury dan Ross, 1995)
Menurut Sarif (1982) tanaman yang
kekurangan unsur hara yang akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan
tetapi sebaliknya apabila unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka
dapat merusak tanaman itu sendiri. Jumin (1991) menyatakan bahwa dengan adanya
panas yang cukup, maka proses pembentukan bunga dan buah dapat berjalan dengan
sempurna yang akan melancarkan proses pembentukan karbohidrat dan akan
mempercepat reaksi-reaksi kimia atau biokimia yang akan memacu pertumbuhan
menjadi lebih baik terutama dalam pembentukan buah yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi umur berbunga dan umur panen tanaman.
Tabel 2. Rerata
Umur Berbunga Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan Pupuk Bio-Extrim dan Pemberian ZPT 2,4 D.
|
Faktor N
(Bio-Exrim)
|
Faktor A (ZPT 2,4 D)
|
Rerata
N
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
N0
N1
N2
N3
|
30.33
28,00
27,00
27,00
|
29,66
28,00
26,33
26,00
|
29,66
28,00
27,00
27,00
|
29,66
28,00
27,33
27,33
|
29,82 c
28,00 b
26,91 a
26,83 a
|
|
Rerata A
|
28,08
|
27,49
|
27,91
|
28,08
|
27,89
|
|
KK = 3,51
|
BNJ N = 0,75
|
||||
Angka –
angka pada baris dan kolom
yang ikuti huruf kecil yang sama adalah
tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal dan pemberian
interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak memberikan respon yang nyata
terhadap umur berbunga ini diduga di waktu pemberian curah hujan tinggi
sehingga mengakibatkan tidak memberikan respon yang nyata terhadap umur
berbunga karena pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D diberikan melalui daun dengan
cara disemprotkan sehingga sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan kecepatan
angin.
Umur Panen (hari)
Setelah dianalisis secara statistik dari
hasil sidik ragam menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim dan pemberian ZPT 2,4 D
secara tunggal dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak memberikan respon yang nyata terhadap
umur panen tanaman kacang tanah. Pengamatan umur panen tanaman kacang tanah
disajikan pada tabel 3.
Tabel 3.
Rerata Umur Panen Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan Pupuk Bio-Extrim
dan
Pemberian ZPT 2,4 D.
|
Faktor N
(Bio-Exrim)
|
Faktor A (ZPT 2,4 D)
|
Rerata
N
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
N0
N1
N2
N3
|
90,00
86,66
86,00
88,00
|
89,00
88,00
86,66
88,33
|
89,66
87,00
89,00
88,33
|
89,66
88,00
89,00
88,00
|
89,58
87,41
87,66
88,16
|
|
Rerata A
|
87,66
|
87,99
|
88,49
|
88,66
|
88,20
|
Angka –
angka pada baris dan kolom
yang ikuti huruf kecil yang sama adalah
tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dilihat dari tabel 3 diatas menunjukan
bahwa perlakuan bio-exrim dan ZPT 2,4 D baik secara tunggal maupun secara
interaksi tidak memberikan respon yang nyata terhadap umur panen. Hal ini diduga apabila unsur hara di dalam
tanah telah tersedia dan didukung oleh pengolahan tanah yang baik dalam
penelitian ini maka tanaman kacang tanah dapat tumbuh dengan baik sehingga umur
panen tidak dipengaruhi oleh pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D.
Pada tanah padat atau sistem aerasi
tanah yang buruk akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar, karena
akar akan menembus kedalaman tanah melalui pori-pori tanah sambil mengisap air
dan unsur hara yang terlarut. Pada kondisi tanah yang padat ruang pori yang dimilikinya
sempit sehingga akar akan mengalami kesukaran untuk menembus ke dalam tanah.
(Sarief, 1986)
Berat Polong Pertanaman (gr)
Setelah dianalisis secara statistik
dari hasil sidik ragam (Tabel 4) menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara
tunggal memberikan respon yang nyata terhadap berat polong bernas tanaman
kacang tanah, sedangkan pemberian tunggal ZPT 2,4 D dan pemberian interaksi
pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak
memberikan respon yang nyata terhadap berat polong bernas tanaman kacang tanah.
Tabel 4.
Rerata Berat Polong bernas Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan Pupuk
Bio-Extrim dan Pemberian ZPT 2,4 D.
|
Faktor N
(Bio-Exrim)
|
Faktor A (ZPT 2,4 D)
|
Rerata
N
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
N0
N1
N2
N3
|
26,99
37,77
43,32
28,88
|
25,55
31,10
54,44
31,10
|
25,99
28,88
50,00
26,66
|
26,21
28,88
41,11
25,55
|
26,18 b
31,65 b
47,21 a
28,04 b
|
|
Rerata A
|
34,24
|
35,54
|
32,88
|
30,43
|
33,27
|
|
KK = 26, 89
|
BNJ N = 6,98
|
||||
Angka –
angka pada baris dan kolom
yang ikuti huruf kecil yang sama adalah
tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Tabel 4 menunjukkan bahwa pemberian
pupuk bio-extrim secara tunggal memberikan respon yang nyata terhadap berat
polong bernas. Perlakuan terbaik adalah N2 (47,21). Perlakuan N2 berbeda nyata
dengan perlakuan N3, dan perlakuan N1, N0.
Pemberian pupuk bio-extrim secara
tunggal berpengaruh nyata terhadap berat polong bernas ini diduga dengan
pemberian pupuk bio-extrim unsur hara tercukupi sehingga pembentukan polong
terbentuk dengan baik, karena dalam pupuk bio-extrim terdapat unsur K yang
tinggi, didalam pembentukan polong diperlukan unsur K.
Unsur kalium yang diserap tanaman sangat
berperan dalam membantu pembentukan karbohidrat dan protein, mempercepat proses
fotosintesis dan respirasi tanaman, membantu transportasi tepung dan lemak pada
jaringan tanaman, meningkatkan daya resistensi tanaman terhadap penyakit serta
meningkatkan kualitas produksi tanaman (Sutedjo, 2008).
Harjadi (1984) menerangkan bahwa
peningkatan berat buah dapat terjadi apabila fotosintesis lebih besar dari pada
respirasi sehingga terjadi penumpukan bahan organik di dalam jaringan tanaman
dalam jumlah yang cukup oleh karenanya unsur hara yang ada didalam tanah harus
cukup tersedia bagi tanaman.
Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal dan
pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak memberikan pengaruh
yang nyata terhadap berat polong bernas ini diduga karena pemberian dosis tidak
seimbang sehingga tidak menimbulkan pengaruh baik secara tunggal maupun secara
interaksi. Juga dapat disebabkan oleh lingkungan serta kandungan hara di dalam
tanah.
Menurut Sarif (1986) tanaman yang
kekurangan unsur hara akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat akan
tetapi sebaliknya apabila unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka
dapat merusak tanaman itu sendiri.
Berat Kering Pertanaman (gr)
Setelah dianalisis secara statistik
dari hasil sidik ragam (Tabel 5) menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara
tunggal memberikan respon yang nyata terhadap berat kering pertanaman,
sedangkan pemberian tunggal ZPT 2,4 D dan pemberian interaksi pupuk bio-extrim
dan ZPT 2,4 D tidak memberikan respon
yang nyata terhadap berat kering pertanaman.
Tabel 5.
Rerata Berat Kering Pertanaman Tanaman Kacang tanah dengan Perlakuan
Pupuk Bio-Extrim dan Pemberian ZPT 2,4 D.
|
Faktor N
(Bio-Exrim)
|
Faktor A (ZPT 2,4 D)
|
Rerata
N
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
N0
N1
N2
N3
|
21,99
32,77
38,32
23,88
|
20,55
26,10
49,44
26,10
|
20,88
23,88
45,00
21,66
|
21,21
23,88
36,11
20,55
|
21,15 b
26,65 b
42,21 a
23,04 b
|
|
Rerata A
|
29,24
|
30,54
|
27,85
|
25,43
|
28,26
|
|
KK = 31,68
|
BNJ N =
6,94
|
||||
Angka – angka pada baris dan kolom
yang ikuti huruf kecil yang sama adalah
tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Berdasarkan
tabel 5 terlihat bahwa perlakuan bio-extrim secara tunggal memberikan respon
yang nyata terhadap berat kering pertanaman. Perlakuan terbaik bio-extrim
adalah N2 (42,21), Perlakuan N2 berbeda nyata terhadap perlakuan N3, N1, N0.
Perlakuan N3 tidak berbeda nyata terhadap perlakuan N1, N0.
Berpengaruhnya pemberian pupuk bio-extrim secara
tunggal disebabkan oleh dosis yang diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman
dalam pembentukan polong, sehingga berpengaruh terhadap berat kering
pertanaman. Pupuk bio-extrim juga memiliki kandungan unsur hara K yang tinggi
sehingga dapat meningkatkan berat polong pada tanaman kacang tanah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2004) yang
mengatakan bahwa tanaman kacang tanah memerlukan unsur hara K untuk fase
generatif.
Unsur kalium yang diserap tanaman
sangat berperan dalam membantu pembentukan karbohidrat dan protein, mempercepat
proses fotosintesis dan respirasi tanaman, membantu transportasi tepung dan
lemak pada jaringan tanaman, meningkatkan daya resistensi tanaman terhadap
penyakit serta meningkatkan kualitas produksi tanaman (Sutejo, 2008)
Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal dan pemberian
secara interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D tidak memberikan respon yang
nyata terhadap berat kering pertanaman ini diduga disebabkan oleh tidak
seimbangnya dosis yang diberikan dan pengaruh curah hujan sehingga tidak
memberikan respon yang nyata.
Pemberian pupuk yang seimbang juga mempengaruhi
pertumbuhan dan produksi tanaman, sesuai menurut Soegiman (1982) menegaskan
bahwa tidak seimbangnya takaran pupuk yang diberikan dapat menurunkan hasil.
Ketersediaan unsur hara yang terkandung di dalam tanah
dan curah hujan yang tinggi sangat memepengaruhi pertumbuhan tanaman kacang
tanah. Menurut Dwjoseputro (1984)
menyatakan bahwa proses fotosintesis yang berjalan lancar pada tumbuhan akan
menjamin perkembangan tumbuhan tersebut baik vegetatif maupun generative.
Harjadi (1984) menambahkan bahwa tanaman akan tumbuh subur bila unsur hara yang
tersedia dapat diserap tanaman sesuai tingkat kebutuhan tanaman.
Berat 100 Biji (gr)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam (tabel 6) menunjukan pemberian pupuk Bio-exrim secara tunggal dan
pemberian tunggal ZPT 2,4 D, pemberian interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D
memberikan respon yang nyata terhadap berat 100 biji tanaman kacang tanah.
Tabel 6.
Rerata Berat 100 biji
Tanaman Kacang tanah
dengan Perlakuan Pupuk
Bio-Extrim dan Pemberian ZPT 2,4
D.
|
Faktor N
(Bio-Exrim)
|
Faktor A (ZPT 2,4 D)
|
Rerata
N
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
N0
N1
N2
N3
|
45,33 d
50,00 b
49,66 b
49,33 b
|
45,00 d
66,66 a
50,33 b
56,66 b
|
44,66 d
50,00 b
50,00 b
48,33 c
|
36,66 c
50,33 b
50,00 b
50,00 b
|
42,91 c
52,99 a
49,99 b
49,58 b
|
|
Rerata A
|
48,58b
|
51,91 a
|
48,24 b
|
46,74 c
|
48,86
|
|
KK = 2,69
|
BNJ N = 0,99
BNJ A = 0,99 BNJ NA =2,19
|
||||
Angka – angka pada baris dan kolom
yang ikuti huruf kecil yang sama adalah
tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Berdasarkan
tabel 6 terlihat bahwa pemberian
perlakuan pupuk bio-extrim dan pemberian ZPT 2,4 D baik secara tunggal maupun
secara interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat 100 biji tanaman
kacang tanah.
Perlakuan bio-extrim secara tunggal yang terbaik
adalah perlakuan N1 (52,99). Perlakuan N1 berbeda nyata dengan perlakuan N2 dan
N3 berbeda sngat nyata dengan perlakuan N0, perlakuan N2 dan N3 berbeda nyata
dengan perlakuan N0.
Pemberian pupuk bio-extrim berpengaruh diduga
disebabkan oleh, karena dalam pembentukan biji yang di utamakan adalah
kandungan unsur hara K, sedangkan pada pupuk bio-extrim kandungan yang
tertinggi adalah kandungan unsur hara K.
Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2004) yang mengatakan bahwa tanaman
kacang tanah memerlukan unsur hara K untuk fase generatif.
Unsur kalium yang diserap tanaman sangat berperan
dalam membantu pembentukan karbohidrat dan protein, mempercepat proses
fotosintesis dan respirasi tanaman, membantu transportasi tepung dan lemak pada
jaringan tanaman, meningkatkan daya resistensi tanaman terhadap penyakit serta
meningkatkan kualitas produksi tanaman (Sutejo,2008)
Pemberian ZPT 2,4 D secara tunggal
memberikan respon yang nyata terhadap berat 100 biji. Perlakuan terbaik adalah
A1 (51,91). Perlakuan A1 berbeda nyata terhadap A0, A2 berbeda sangat nyata
dengan perlakuan A3.
Perlakuan ZPT secara tunggal
memberikan respon disebabkan karena
menurut Setyati, H (2009) 2,4 D dapat mempercepat dan memperbesar biji dan buah
pada tanaman.
Pemberian secara interaksi pupuk
bio-extrim dan ZPT 2,4 D memberikan respon yang nyata terhadap berat 100 biji.
Perlakuan yang terbaik adalah perlakuan N1A1 (61,66) yaitu 5 ml/liter air
bio-extrim dan ZPT 2,4 D 10 ppm/liter air. Perlakuan N1A1 bebeda nyata dengan
perlakuan yang lainnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
:
1.
Pemberian perlakuan tunggal pupuk
bio-extrim (N) memberikan respon yang nyata terhadap parameter
pengamatan Tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik N3
(28,49) dan umur berbunga dengan perlakuan terbaik N3 (26,83), Berat polong
bernas dengan perlakuan terbaik N2 (47,21), berat kering pertanaman dengan
perlakuan terbaik N2 (42,21), berat 100 biji perlakuan terbaik N1 (52, 99)
2.
Pemberian perlakuan tunggal ZPT
2,4 D (A) memberikan respon yang nyata terhadap pengamatan
berat 100 biji dengan perlakuan terbaik A1
(51,91)
3.
Pemberian perlakuan interaksi pupuk bio-extrim dan ZPT 2,4 D
(NA) memberikan respon yang nyata terhadap parameter pengamatan berat 100 biji dengan perlakuan terbaik
N1A1 (61,66).
DAFTAR
PUSTAKA
Adisarwanto. 2003. Meningkatkan Produksi
Kacang Tanah di Lahan Sawah dan Lahan Kering. Penerbit Penebar Swadaya.
Jakarta. 88 hal.
Anonim,
2004, Kacang Tanah, Penebar swadaya, Jakarta.
Badan Pusat Statistik, 2010,
Survei Lapangan Produksi Jagung, Kabupaten Kuantan Singingi.
Dwijoseputro, D.,
1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT.Gramedia. Jakarta
Harjadi, S. S. 1984. Pengantar Agronomi.
PT Rajawali Press. Jakarta
Marzuki, R. 2009. Bertanam Kacang Tanah.
Penebar Swadaya, Jakarta.
ijin jadikan pustaka ya... :)
BalasHapus