Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 HAL 49-54


STATUS HARA FOSFOR (P) DAN KALIUM (K) PADA LAHAN SAWAH BUKAAN BARU DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI


Muharimis Syafi’i, Rover dan Deno Okalia
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Teluk Kuantan

ABSTRACT

This study aims to determine the nutrient content of phosphorus (P) and potassium (K) in the new wetland openings in District of Kuantan Singingi. The study was conducted in paddy fields of new openings in District 9, which consists of 21 villages in the district of Kuantan Singingi and soil analysis carried out at the Laboratory of Soil Chemistry Andalas University in Padang. The research was conducted in January to April 2013. This research was conducted using a survey method consists of four stages: 1) pre-survey, 2) the main survey (soil sampling), 3) laboratory analysis, 4) data processing. Soil sampling conducted in composites with random soil samplingn method. Based on the research that has been done, paddy soil nutrient status of new openings in District of Kuantan Singingi of whom have very acidic pH to slightly acidic ie from 4.00 to 6.33. Phosphorus (P) soil are the criteria is very low to moderate (4.02 to 17.27 ppm). While the content of K-dd land located on the criteria of moderate to high (0.51 to 0.77 me/100gram ground).

Key words: Nutrients, fospor, potassium and opening new fields



PENDAHULUAN

Tanaman padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman penghasil beras yang digunakan sebagai bahan pangan utama hampir 90 % penduduk Indonesia. Pada tahun 2009, kebutuhan beras nasional mencapai sekitar 32 juta ton yang diperoleh dari 66 juta ton gabah padi dari areal luas panen di seluruh Indonesia 13,2 juta Ha (Balai Pusat Penelitian Statistik, 2010). Kebutuhan akan pangan beras ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan laju pertambahan populasi penduduk Indonesia yang tahun 2011 telah mencapai 230 juta jiwa. Perbaikan potensi hasil padi mutlak diperlukan untuk mengantisipasi melonjaknya kebutuhan beras di masa sekarang dan yang akan datang (Balai Pusat Penelitian Statistik, 2011).
Menurut data Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi pada tahun 2011 dengan  jumlah penduduk 354.268 jiwa membutuhkan beras sebanyak 40.645,12 ton sedangkan produksi hanya 27.158,15 ton. Berarti Ketergantungan Kabupaten Kuantan Singingi dari daerah lain sebanyak 13.180 ton atau 32,43% (Laporan tahunan  Dinas Tanaman Pangan, 2011). Lebih dari 90% dari total beras dihasilkan melalui sawah beririgasi teknis dan sisanya dihasilkan dari sistem sawah non irigasi.
Seiring dengan meningkatnya permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan lahan untuk perumahan, kawasan industri dan fasilitas jalan, kompetisi kebutuhan air antara sektor pertanian, industri dan rumah tangga, dan pencemaran air, menyebabkan luas lahan sawah beririgasi yang tersedia untuk penanaman padi menjadi semakin menyempit dan keberadaan air untuk kepentingan irigasi menjadi semakin langka yang pada akhirnya menurunkan produksi padi (Balai Pusat Penelitian Statistik, 2011). Oleh sebab itu peningkatan produktivitas sawah bukaan baru perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik guna membantu pencapaian target tambahan produksi padi 2 juta ton pertahun atau sekitar 5% pertahun dan menjamin ketahanan beras nasional (Bouman and Tuong, 2001).
Fungsi utama dari fosfor untuk penyimpanan dan mentransfer energi serta mempertahankan integritas memberan. Unsur P mobile dalam tanaman dan memicu pembentukan anakan, perkembangan akar, dan mempercepat pembungaan, dan pemasakan. Kekurangan unsur P menyebabkan tanaman padi menjadi kerdil dengan warna daun hijau tua, daun tegak dan anakan sedikit. Berat 1000 butir rendah, kualitas gabah rendah karena banyak proporsi gabah hampa (Dobermann dan Fairhurst, 2000).
                 Unsur K memperkuat dinding sel tanaman dan terlibat pada lignifikasi jaringan sklerenkima. Unsur K dapat meningkatkan luas daun, kandungan klorofil total, dan memperlambat kematian daun sehingga dapat memberikan kontribusi pada proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman padi. Unsur K dapat meningkatkan jumlah gabah per malai, persentase gabah bernas, dan bobot 1000 butir gabah. Tanaman padi yang kekurangan unsur K, ujung daun berubah menjadi kekuningan Hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium merupakan faktor pembatas utama untuk produktivitas padi sawah. Penelitian  ini  bertujuan  untuk   mengetahui   status   hara  fospor  (P) dan kalium  (K)  pada  lahan  sawah bukaan baru  di Kabupaten Kuantan Singingi.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
             Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Januari 2013  sampai bulan April 2013 yang terdiri dari dua tahap yaitu di Lapangan dan di Laboratorium. Penelitian di lapangan dilaksanakan pada 9 (Sembilan) Kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi yang menjadi program pembukaan lahan sawah bukaan baru tahun 2012 Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi yaitu Kecamatan Cerenti,  Pangean, Kuantan Hilir, Inuman, Kuantan Tengah, Singingi, Hulu Kuantan, Gunung Toar dan Kuantan Mudik. Kemudian dilanjutkan dengan analisis tanah di Laboratorium Kimia Tanah Universitas Andalas Padang.
  
Bahan dan Alat
            Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya buku catatan, bor mineral (bor belgi), cangkul, kertas label, kantong plastik 2 kg, karet, kompas, meteran, peta dasar (Peta Kawasan Kabupaten Kuantan Singingi dan Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Kuantan Singingi), pisau komando.

Metode Penelitian
             Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survai yang terdiri dari empat tahap yaitu: 1) pra survai, 2) survai utama (pengambilan sampel tanah), 3) analisis laboratorium, 4) pengolahan data. Pengambilan  sampel tanah dilakukan dengan metode soil random sampling  pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi. Sampel tanah diambil pada 9 (Sembilan) Kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi berdasarkan data luasan lahan sawah bukaan baru oleh Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi tahun (2011).
Sampel tanah sawah bukaan baru  diambil sesuai dengan luasan lahan sawah bukaan baru yang di cetak, pada masing-masing kecamatan satu contoh komposit mewakili 15 Ha lahan sawah bukaan baru.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi

Sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi telah dibuka sejak tahun 2008 dan pada saat penelitian ini berlangsung telah memasuki tahun kelima. Setiap tahun Kabupaten Kuantan Singingi mendapat program cetak sawah baru lebih kurang 300 Ha. Sedangkan pada tahun penelitian ini  Kabupaten Kuantan Singingi merencanakan mencetak sawah baru seluas 600 Ha, namun yang ter realisasi hanya seluas 336 Ha. Kecamatan Logas Tanah Darat yang semulanya direncanakan mencetak sawah baru seluas 25 Ha, namun dalam pelaksanaanya mengalami kegagalan sehingga  kegiatan cetak sawah baru tersebut dipindahkan ke Kecamatan Cerenti. Hal tersebut menyebabkan pengambilan sampel tanah yang awalnya direncanakan pada 10 kecamatan maka berubah menjadi 9 kecamatan, yang  terdiri dari 21 desa.
Hasil analisis pH tanah sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi berada pada kriteria sangat masam sampai agak masam (Tabel 1). Terdapat 1 desa dengan nilai  pH tanah yang agak masam yaitu Pasar Inuman. Nilai pH tanah yang rendah pada penelitian ini disebabkan karena umumnya tanah di Kabupaten Kuantan Singingi didominansi oleh tanah Podzolik Merah Kuning (PMK) yang memiliki sifat masam. Kabupaten Kuantan Singingi memiliki luas 529.527 Ha yang terdiri dari 17.509 Ha rawa dan 16120 Ha lahan sawah lebih dari setengahnya terdapat tanah Podzolik Merah Kuning.

Hasil Analisis Fosfor (P) Tanah pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi

          Hasil analisis Fosfor (P) tanah pada lahan sawah bukan baru di Kabupaten Kuantan singingi disajikan pada tabel 2. Hasil analisis menunjukkan bahwa  kandungan fosfor (P) pada umumnya sangat rendah sampai sedang. Hasil analisis Fosfor (P).





Tabel  1. Hasil analisis pH tanah pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi.
No
Kecamatan
Desa

Kriteria Sifat Kimia Tanah
Nilai pH
Kriteria
01
Cerenti
Sikakak
4,68
Masam


Teluk Pauh
4,52
Masam


Pulau Panjang
4,58
Masam


Kampung Baru
4,56
Masam


Koto Cerenti 1
4,82
Masam


Koto Cerenti 2
4,73
Masam


Tanjung Medan 1
4,62
Masam


Tanjung Medan 2
4,34
Sangat masam


Pesikaian
4,70
Masam
02
Pangean
Pembatang
4,00
Sangat masam
03
Kuantan Hilir       
Kasang Limau Sundai
4,55
Masam
04
Inuman
Pulau Sipan
4,61
Masam


Pasar Inuman
6,33
Agak masam
05
Kuantan Tengah 
Mansalo 1
4,48
Sangat masam


Mansalo 2
4,46
Sangat masam


Bandar Alai 1
4,48
Sangat masam


Bandar Alai 2
4,14
Sangat masam
06
Singingi
Pangkalan Indarung
4,55
Masam
07
Hulu Kuantan
Mudik Ulo
4,50
Masam
08
Gunung Toar
Sibarobah
4,50
Masam


Teluk Beringi
4,22
Sangat masam
09
Kuantan Mudik
Sungai Besar
4,56
Masam


Sangau
4,48
Sangat masam


Saik
4,42
Sangat masam
Keterangan: sangat masam < 4,5; masam 4,5-5,5; agak masam 5,6-6,5.


Tabel 2. Hasil analisis fosfor (P) tanah pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi.
No
Kecamatan
Desa

Kriteria Sifat Kimia  Tanah(ppm)
Nilai  P tanah
Kriteria
01
Cerenti
Sikakak
7,48
Rendah


Teluk Pauh
8,63
Rendah


Pulau Panjang
8,92
Rendah


Kampung Baru
11,22
Rendah


Koto Cerenti 1
8,34
Rendah


Koto Cerenti 2
6,89
Rendah


Tanjung Medan 1
10,36
Rendah


Tanjung Medan 2
9,49
Rendah


Pesikaian
10,93
Rendah
02
Pangean
Pembatang
17,27
Sedang
03
Kuantan Hilir       
Kasang Limau Sundai
11,51
Rendah
04
Inuman
Pulau Sipan
4,02
Sangat Rendah


Pasar Inuman
6,89
Rendah
05
Kuantan Tengah 
Mansalo 1
7,48
Rendah


Mansalo 2
11,22
Rendah


Bandar Alai 1
8,05
Rendah


Bandar Alai 2
6,04
Rendah
06
Singingi
Pangkalan Indarung
8,63
Rendah
07
Hulu Kuantan
Mudik Ulo
16,41
Sedang
08
Gunung Toar
Sibarobah
12,09
Rendah


Teluk Beringi
13,24
Rendah
09
Kuantan Mudik
Sungai Besar
6,89
Rendah


Sangau
12,37
Rendah


Saik
9,49
Rendah
Keterngan : sangat rendah < 5 ppm; rendah 5-14 ppm; sedang 15-39 ppm.


Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa kandungan fospor (P) tanah pada lokasi penelitian di lahan sawah bukaan baru Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya  dijumpai  rendah. Hanya 1 desa yang sangat rendah yaitu desa Pulau Sipan (4,02 ppm) dan 2 desa yang kandung fospor (P) tanahnya  sedang yaitu Pembatang dan Mudik Ulo (17,27 ppm dan 16,41 ppm). Kandungan P yang rendah ini disebabkan oleh jenis tanah tempat percetakan sawah baru yang memang bersifat miskin hara. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi didominansi oleh tanah PMK yang miskin hara teruma unsur hara P.
             Setiap status hara tersebut memberikan informasi   khusus tentang respon hasil yang didapatkan. Kelas status hara rendah artinya mengindikasikan kebutuhan pupuk yang banyak dan respon pemupukan  P tinggi pada tanah tersebut. Tanpa pemberian pupuk pada tanah tersebut akan terjadi gejala kahat hara, pertumbuhan tanaman tidak normal, kemungkinan tanaman bisa mati dan tidak berbuah (Rachim, 1995).

Hasil Analisis  Kalium (K-dd) Tanah pada lahan sawah bukaan baru di   Kabupaten Kuantan Singingi
Hasil analisis kalium (K) tanah pada lahan sawah bukan baru di Kabupaten Kuantan singingi berdasakan sifat kimia tanah menunjukkan bahwa kandungan kalium (K) berada pada kriteria sedang sampai tinggi.


Tabel 3. Hasil analisis kalium (K-dd) tanah pada lahan sawah bukaan baru di  Kabupaten Kuantan Singingi.
No
Kecamatan
Desa

 Sifat Kimia  Tanah(me/100gr)
Nilai
 K-dd tanah
Kriteria
01
Cerenti
Sikakak
0,56
Sedang


Teluk Pauh
0,59
Sedang


Pulau Panjang
0,70
Tinggi


Kampung Baru
0,56
Sedang


Koto Cerenti 1
0,64
Tinggi


Koto Cerenti 2
0,56
Sedang


Tanjung Medan 1
0,64
Tinggi


Tanjung Medan 2
0,60
Tinggi


Pesikaian
0,51
Sedang
02
Pangean
Pembatang
0,65
Tinggi
03
Kuantan Hilir       
Kasang Limau Sundai
0,56
Sedang
04
Inuman
Pulau Sipan
0,64
Tinggi


Pasar Inuman
0,61
Tinggi
05
Kuantan Tengah 
Mansalo 1
0,78
Tinggi


Mansalo 2
0,67
Tinggi


Bandar Alai 1
0.64
Tinggi


Bandar Alai 2
0,57
Sedang
06
Singingi
Pangkalan Indarung
0,61
Tinggi
07
Hulu Kuantan
Mudik Ulo
0,59
Sedang
08
Gunung Toar
Sibarobah
0,54
Sedang


Teluk Beringi
0, 61
Tinggi
09
Kuantan Mudik
Sungai Besar
0,51
Sedang


Sangau
0,69
Tinggi


Saik
0,68
Tinggi
            

Tabel 3 menunjukan bahwa kandungan kalium (K) tanah pada lahan sawah bukaan baru di  Kabupaten Kuantan Singingi memiliki kriteria sedang sampai tinggi. Unsur kalium (K) erat    hubungannya dengan bahan organik, apabila tinggi kandungan bahan organik maka kandungan  kalium (K) tanah juga akan tinggi. K-tersedia yang tinggi pada tanah sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi dibuktikan dari   analisis  K  di  berbagai daerah yang sudah di tanami padi sawah seperti Pasar Inuman, Pulau Sipan, Pasikaian, Saik, Teluk Beringin, Sibaroba, Mudik Ulo dan Pematang.
Kandungan kalium di lokasi penelitian memiliki kriteria sedang sampai tinggi, disebabkan karena  Kabupaten Kuantan Singingi merupakan daerah aliran sungai yang dialiri sungai besar yaitu sungai Indragiri atau dikenal dengan sungai Kuantan. Sungai Kuantan merupakan sumber air irigasi utama pada hampir semua lahan sawah di Kabupaten Kuantan Singingi, sehingga menyebabkan K tanah dapat bertambah karena aliran sungai membawa kalium terlarut dari bagian hulu.
Menurut  Bhuiyan (1994) kalium dalam tanah mempunyai sifat yang mobile (mudah bergerak) sehingga mudah hilang melalui proses pencucian atau terbawa arus gerakan air. Berdasarkan sifat tersebut, efisiensi pupuk K biasanya rendah, namun dapat ditingkatkan dengan cara pemberian pupuk K 2-3 kali selama musim tanam tanaman padi sawah.

KESIMPULAN
                 Status hara tanah sawah bukaan baru  di Kabupaten Kuantan Singingi di antaranya memiliki pH sangat  masam sampai agak masam yaitu 4,00-6,33. Kandungan fosfor (P) tanah berada pada kriteria sangat rendah sampai sedang (4,02-17,27ppm).  Sedangkan sedang sampai tinggi (0,51-0,77me/100gram tanah).

DAFTAR PUSTAKA

Bhuiyan,  S. I.,  M. A. Sattar, and  D. F. Tabbal.1994.   Wet   seeded   rice :   water   use efficiency,   productivity   and constraints   to   wider   adoption.    Paper presented   at  the  International  Workshop  on  constrains, opportunities, and innovations for wet seeded rice, Bangkok, May 31 – June 3, 1994, 19 pp.
Bouman.  B. A. M.  and  T. P.  Tuong.  2001.  Field    water     management    to    save water and increase its productivity in irrigatedlo     wland    rice.    Agricultural Water Management. 49: 11-30
BPS. 2010. Satistik Indonesia. Balai Pusat Penelitian Statistik. Jakarta
BPS. 2011. Satistik Indonesia. Balai Pusat Penelitian Statistik. Jakarta
Dobermann, A.  And  T. Fairhurst. 2000.  Rice,  Nutrient     Disorders      and      Nutrient Management.  Handbook  series.  Potash   and   Phosphate  Institute (PPI).  Potash and  Phosphate Institute of Canada (PPIC) and International Rice Institute.
Laporan Tahunan. 2011. Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi.
Rachim, A. 1995. Pembinaan uji tanah hara  makro  N, P, K, S, Ca, Mg.  Bahan  Pelatihan pembinaan uji tanah dan analisa tanaman.  Bogor.  23  januari-4  Februari 1995 (tidak  dipublikasikan)
Sanchez, P. A.1976.Properties and management of Soil in the Tropics. John Wil-  ey and   Sons. New Yrok. 618 p.
Situmorang,  R  dan   Sudadi,  U.  2001.   Bahan  Kuliah  Tanah  Sawah,  Jurusan Tanah,      Fakultas Pertanian, Institut Pertanian bogor.























































Tidak ada komentar:

Posting Komentar