STATUS HARA FOSFOR (P) DAN
KALIUM (K) PADA LAHAN SAWAH BUKAAN BARU DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
Muharimis
Syafi’i,
Rover dan Deno Okalia
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa
Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Teluk Kuantan
ABSTRACT
This study aims to determine
the nutrient content of phosphorus (P) and potassium (K) in the new wetland
openings in District of Kuantan Singingi. The study was conducted in paddy
fields of new openings in District 9, which consists of 21 villages in the
district of Kuantan Singingi and soil analysis carried out at the Laboratory of
Soil Chemistry Andalas University in Padang. The research was conducted in
January to April 2013. This research was conducted using a survey method
consists of four stages: 1) pre-survey, 2) the main survey (soil sampling), 3)
laboratory analysis, 4) data processing. Soil sampling conducted in composites
with random soil samplingn method. Based on the research that has been done,
paddy soil nutrient status of new openings in District of Kuantan Singingi of
whom have very acidic pH to slightly acidic ie from 4.00 to 6.33. Phosphorus
(P) soil are the criteria is very low to moderate (4.02 to 17.27 ppm). While
the content of K-dd land located on the criteria of moderate to high (0.51 to
0.77 me/100gram ground).
Key words: Nutrients, fospor, potassium and opening new fields
PENDAHULUAN
Tanaman padi (Oryza
sativa L.) adalah tanaman penghasil beras yang digunakan sebagai bahan
pangan utama hampir 90 % penduduk Indonesia. Pada tahun 2009, kebutuhan beras nasional
mencapai sekitar 32 juta ton yang diperoleh dari 66 juta ton gabah padi dari
areal luas panen di seluruh Indonesia 13,2 juta Ha (Balai Pusat Penelitian
Statistik, 2010). Kebutuhan akan pangan beras ini diprediksi akan terus
meningkat seiring dengan laju pertambahan populasi penduduk Indonesia yang
tahun 2011 telah mencapai 230 juta jiwa. Perbaikan potensi hasil padi mutlak
diperlukan untuk mengantisipasi melonjaknya kebutuhan beras di masa sekarang
dan yang akan datang (Balai Pusat Penelitian Statistik, 2011).
Menurut data Dinas Tanaman
Pangan Kabupaten Kuantan Singingi pada tahun 2011 dengan jumlah penduduk 354.268 jiwa membutuhkan
beras sebanyak 40.645,12 ton sedangkan produksi hanya 27.158,15 ton. Berarti
Ketergantungan Kabupaten Kuantan Singingi dari daerah lain sebanyak 13.180 ton
atau 32,43% (Laporan tahunan Dinas
Tanaman Pangan, 2011). Lebih
dari 90% dari total beras dihasilkan melalui sawah beririgasi teknis dan
sisanya dihasilkan dari sistem sawah non irigasi.
Seiring dengan
meningkatnya permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk,
kebutuhan lahan untuk perumahan, kawasan industri dan fasilitas jalan,
kompetisi kebutuhan air antara sektor pertanian, industri dan rumah tangga, dan
pencemaran air, menyebabkan luas lahan sawah beririgasi yang tersedia untuk
penanaman padi menjadi semakin menyempit dan keberadaan air untuk kepentingan
irigasi menjadi semakin langka yang pada akhirnya menurunkan produksi padi
(Balai Pusat Penelitian Statistik, 2011). Oleh sebab itu peningkatan produktivitas
sawah bukaan baru perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik guna membantu
pencapaian target tambahan produksi padi 2 juta ton pertahun atau sekitar 5%
pertahun dan menjamin ketahanan beras nasional (Bouman and Tuong, 2001).
Fungsi utama dari fosfor
untuk penyimpanan dan mentransfer energi serta mempertahankan integritas
memberan. Unsur P mobile dalam tanaman dan memicu pembentukan anakan,
perkembangan akar, dan mempercepat pembungaan, dan pemasakan. Kekurangan unsur
P menyebabkan tanaman padi menjadi kerdil dengan warna daun hijau tua, daun
tegak dan anakan sedikit. Berat 1000 butir rendah, kualitas gabah rendah karena
banyak proporsi gabah hampa (Dobermann dan Fairhurst, 2000).
Unsur K
memperkuat dinding sel tanaman dan terlibat pada lignifikasi jaringan
sklerenkima. Unsur K dapat meningkatkan luas daun, kandungan klorofil total,
dan memperlambat kematian daun sehingga dapat memberikan kontribusi pada proses
fotosintesis dan pertumbuhan tanaman padi. Unsur K dapat meningkatkan jumlah
gabah per malai, persentase gabah bernas, dan bobot 1000 butir gabah. Tanaman
padi yang kekurangan unsur K, ujung daun berubah menjadi kekuningan Hara
Nitrogen, Fosfor, dan Kalium merupakan faktor pembatas utama untuk
produktivitas padi sawah. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui
status hara fospor
(P) dan kalium (K) pada
lahan sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan
pada bulan Januari 2013 sampai bulan April
2013 yang terdiri dari dua tahap yaitu di Lapangan dan di Laboratorium.
Penelitian di lapangan dilaksanakan pada 9 (Sembilan) Kecamatan di Kabupaten
Kuantan Singingi yang menjadi program pembukaan lahan sawah bukaan baru tahun
2012 Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi yaitu Kecamatan
Cerenti, Pangean, Kuantan Hilir, Inuman,
Kuantan Tengah, Singingi, Hulu Kuantan, Gunung Toar dan Kuantan Mudik. Kemudian
dilanjutkan dengan analisis tanah di Laboratorium Kimia Tanah Universitas
Andalas Padang.
Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam
penelitian ini, diantaranya buku catatan, bor mineral (bor belgi), cangkul,
kertas label, kantong plastik 2 kg, karet, kompas, meteran, peta dasar (Peta
Kawasan Kabupaten Kuantan Singingi dan Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Kuantan
Singingi), pisau komando.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
metode survai yang terdiri dari empat tahap yaitu: 1) pra survai, 2) survai
utama (pengambilan sampel tanah), 3) analisis laboratorium, 4) pengolahan data.
Pengambilan sampel tanah dilakukan
dengan metode soil random sampling pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten
Kuantan Singingi. Sampel tanah diambil pada 9 (Sembilan) Kecamatan di Kabupaten
Kuantan Singingi berdasarkan data luasan lahan sawah bukaan baru oleh Dinas
Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi tahun (2011).
Sampel
tanah sawah bukaan baru diambil sesuai
dengan luasan lahan sawah bukaan baru yang di cetak, pada masing-masing
kecamatan satu contoh komposit mewakili 15 Ha lahan sawah bukaan baru.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik
sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi
Sawah bukaan baru di
Kabupaten Kuantan Singingi telah dibuka sejak tahun 2008 dan pada saat
penelitian ini berlangsung telah memasuki tahun kelima. Setiap tahun Kabupaten
Kuantan Singingi mendapat program cetak sawah baru lebih kurang 300 Ha.
Sedangkan pada tahun penelitian ini
Kabupaten Kuantan Singingi merencanakan mencetak sawah baru seluas 600
Ha, namun yang ter realisasi hanya seluas 336 Ha. Kecamatan Logas Tanah Darat
yang semulanya direncanakan mencetak sawah baru seluas 25 Ha, namun dalam
pelaksanaanya mengalami kegagalan sehingga
kegiatan cetak sawah baru tersebut dipindahkan ke Kecamatan Cerenti. Hal
tersebut menyebabkan pengambilan sampel tanah yang awalnya direncanakan pada 10
kecamatan maka berubah menjadi 9 kecamatan, yang terdiri dari 21 desa.
Hasil analisis pH tanah sawah bukaan baru
di Kabupaten Kuantan Singingi berada pada kriteria sangat masam sampai agak
masam (Tabel 1). Terdapat
1 desa dengan nilai pH tanah yang agak
masam yaitu Pasar Inuman. Nilai pH tanah yang rendah pada penelitian ini
disebabkan karena umumnya tanah di Kabupaten Kuantan Singingi didominansi oleh
tanah Podzolik Merah Kuning (PMK) yang memiliki sifat masam. Kabupaten Kuantan
Singingi memiliki luas 529.527 Ha yang terdiri dari 17.509 Ha rawa dan 16120 Ha
lahan sawah lebih dari
setengahnya terdapat tanah Podzolik Merah Kuning.
Hasil
Analisis Fosfor (P) Tanah pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi
Hasil
analisis Fosfor (P) tanah pada lahan sawah bukan baru di Kabupaten Kuantan
singingi disajikan pada tabel 2. Hasil analisis menunjukkan
bahwa kandungan fosfor (P) pada umumnya
sangat rendah sampai sedang. Hasil analisis Fosfor (P).
Tabel 1. Hasil analisis pH tanah pada lahan sawah
bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi.
|
No
|
Kecamatan
|
Desa
|
Kriteria Sifat Kimia Tanah
|
|
|
Nilai pH
|
Kriteria
|
|||
|
01
|
Cerenti
|
Sikakak
|
4,68
|
Masam
|
|
|
|
Teluk
Pauh
|
4,52
|
Masam
|
|
|
|
Pulau
Panjang
|
4,58
|
Masam
|
|
|
|
Kampung
Baru
|
4,56
|
Masam
|
|
|
|
Koto
Cerenti 1
|
4,82
|
Masam
|
|
|
|
Koto
Cerenti 2
|
4,73
|
Masam
|
|
|
|
Tanjung
Medan 1
|
4,62
|
Masam
|
|
|
|
Tanjung
Medan 2
|
4,34
|
Sangat masam
|
|
|
|
Pesikaian
|
4,70
|
Masam
|
|
02
|
Pangean
|
Pembatang
|
4,00
|
Sangat masam
|
|
03
|
Kuantan
Hilir
|
Kasang
Limau Sundai
|
4,55
|
Masam
|
|
04
|
Inuman
|
Pulau
Sipan
|
4,61
|
Masam
|
|
|
|
Pasar
Inuman
|
6,33
|
Agak masam
|
|
05
|
Kuantan
Tengah
|
Mansalo
1
|
4,48
|
Sangat masam
|
|
|
|
Mansalo
2
|
4,46
|
Sangat masam
|
|
|
|
Bandar
Alai 1
|
4,48
|
Sangat masam
|
|
|
|
Bandar
Alai 2
|
4,14
|
Sangat masam
|
|
06
|
Singingi
|
Pangkalan
Indarung
|
4,55
|
Masam
|
|
07
|
Hulu
Kuantan
|
Mudik
Ulo
|
4,50
|
Masam
|
|
08
|
Gunung
Toar
|
Sibarobah
|
4,50
|
Masam
|
|
|
|
Teluk
Beringi
|
4,22
|
Sangat
masam
|
|
09
|
Kuantan
Mudik
|
Sungai
Besar
|
4,56
|
Masam
|
|
|
|
Sangau
|
4,48
|
Sangat
masam
|
|
|
|
Saik
|
4,42
|
Sangat masam
|
Keterangan:
sangat masam < 4,5; masam 4,5-5,5; agak masam 5,6-6,5.
Tabel
2. Hasil analisis fosfor (P) tanah pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten
Kuantan Singingi.
|
No
|
Kecamatan
|
Desa
|
Kriteria
Sifat Kimia Tanah(ppm)
|
|
|
Nilai P tanah
|
Kriteria
|
|||
|
01
|
Cerenti
|
Sikakak
|
7,48
|
Rendah
|
|
|
|
Teluk
Pauh
|
8,63
|
Rendah
|
|
|
|
Pulau
Panjang
|
8,92
|
Rendah
|
|
|
|
Kampung
Baru
|
11,22
|
Rendah
|
|
|
|
Koto
Cerenti 1
|
8,34
|
Rendah
|
|
|
|
Koto
Cerenti 2
|
6,89
|
Rendah
|
|
|
|
Tanjung
Medan 1
|
10,36
|
Rendah
|
|
|
|
Tanjung
Medan 2
|
9,49
|
Rendah
|
|
|
|
Pesikaian
|
10,93
|
Rendah
|
|
02
|
Pangean
|
Pembatang
|
17,27
|
Sedang
|
|
03
|
Kuantan
Hilir
|
Kasang
Limau Sundai
|
11,51
|
Rendah
|
|
04
|
Inuman
|
Pulau
Sipan
|
4,02
|
Sangat Rendah
|
|
|
|
Pasar
Inuman
|
6,89
|
Rendah
|
|
05
|
Kuantan
Tengah
|
Mansalo
1
|
7,48
|
Rendah
|
|
|
|
Mansalo
2
|
11,22
|
Rendah
|
|
|
|
Bandar
Alai 1
|
8,05
|
Rendah
|
|
|
|
Bandar
Alai 2
|
6,04
|
Rendah
|
|
06
|
Singingi
|
Pangkalan
Indarung
|
8,63
|
Rendah
|
|
07
|
Hulu
Kuantan
|
Mudik
Ulo
|
16,41
|
Sedang
|
|
08
|
Gunung
Toar
|
Sibarobah
|
12,09
|
Rendah
|
|
|
|
Teluk
Beringi
|
13,24
|
Rendah
|
|
09
|
Kuantan
Mudik
|
Sungai
Besar
|
6,89
|
Rendah
|
|
|
|
Sangau
|
12,37
|
Rendah
|
|
|
|
Saik
|
9,49
|
Rendah
|
Keterngan
: sangat rendah < 5 ppm; rendah 5-14 ppm; sedang 15-39 ppm.
Berdasarkan Tabel 2
terlihat bahwa kandungan fospor (P) tanah pada lokasi penelitian di lahan sawah
bukaan baru Kabupaten Kuantan Singingi pada umumnya dijumpai
rendah. Hanya 1 desa yang sangat rendah yaitu desa Pulau Sipan (4,02
ppm) dan 2 desa yang kandung fospor (P) tanahnya sedang yaitu Pembatang dan Mudik Ulo (17,27
ppm dan 16,41 ppm). Kandungan P yang rendah ini disebabkan oleh jenis tanah
tempat percetakan sawah baru yang memang bersifat miskin hara. Seperti telah
disebutkan sebelumnya bahwa sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi
didominansi oleh tanah PMK yang miskin hara teruma unsur hara P.
Setiap
status hara tersebut memberikan informasi
khusus tentang respon hasil
yang didapatkan. Kelas status hara rendah artinya mengindikasikan kebutuhan
pupuk yang banyak dan respon pemupukan P
tinggi pada tanah tersebut. Tanpa pemberian pupuk pada tanah tersebut akan
terjadi gejala kahat hara, pertumbuhan tanaman tidak normal, kemungkinan
tanaman bisa mati dan tidak berbuah (Rachim, 1995).
Hasil Analisis Kalium (K-dd) Tanah pada lahan sawah bukaan
baru di Kabupaten Kuantan Singingi
Hasil analisis kalium (K) tanah pada lahan sawah bukan baru di
Kabupaten Kuantan singingi berdasakan sifat kimia tanah menunjukkan bahwa
kandungan kalium (K) berada pada kriteria sedang sampai tinggi.
Tabel 3. Hasil analisis kalium (K-dd) tanah pada lahan sawah bukaan baru
di Kabupaten Kuantan Singingi.
|
No
|
Kecamatan
|
Desa
|
Sifat Kimia Tanah(me/100gr)
|
|
|
Nilai
K-dd tanah
|
Kriteria
|
|||
|
01
|
Cerenti
|
Sikakak
|
0,56
|
Sedang
|
|
|
|
Teluk Pauh
|
0,59
|
Sedang
|
|
|
|
Pulau Panjang
|
0,70
|
Tinggi
|
|
|
|
Kampung Baru
|
0,56
|
Sedang
|
|
|
|
Koto Cerenti 1
|
0,64
|
Tinggi
|
|
|
|
Koto Cerenti 2
|
0,56
|
Sedang
|
|
|
|
Tanjung Medan 1
|
0,64
|
Tinggi
|
|
|
|
Tanjung Medan 2
|
0,60
|
Tinggi
|
|
|
|
Pesikaian
|
0,51
|
Sedang
|
|
02
|
Pangean
|
Pembatang
|
0,65
|
Tinggi
|
|
03
|
Kuantan Hilir
|
Kasang Limau Sundai
|
0,56
|
Sedang
|
|
04
|
Inuman
|
Pulau Sipan
|
0,64
|
Tinggi
|
|
|
|
Pasar Inuman
|
0,61
|
Tinggi
|
|
05
|
Kuantan Tengah
|
Mansalo 1
|
0,78
|
Tinggi
|
|
|
|
Mansalo 2
|
0,67
|
Tinggi
|
|
|
|
Bandar Alai 1
|
0.64
|
Tinggi
|
|
|
|
Bandar Alai 2
|
0,57
|
Sedang
|
|
06
|
Singingi
|
Pangkalan Indarung
|
0,61
|
Tinggi
|
|
07
|
Hulu Kuantan
|
Mudik Ulo
|
0,59
|
Sedang
|
|
08
|
Gunung Toar
|
Sibarobah
|
0,54
|
Sedang
|
|
|
|
Teluk Beringi
|
0, 61
|
Tinggi
|
|
09
|
Kuantan Mudik
|
Sungai Besar
|
0,51
|
Sedang
|
|
|
|
Sangau
|
0,69
|
Tinggi
|
|
|
|
Saik
|
0,68
|
Tinggi
|
Tabel 3 menunjukan bahwa
kandungan kalium (K) tanah pada lahan sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi memiliki kriteria
sedang sampai tinggi. Unsur kalium (K) erat hubungannya dengan bahan organik, apabila tinggi kandungan
bahan organik maka kandungan kalium (K)
tanah juga akan tinggi. K-tersedia yang tinggi pada tanah sawah bukaan baru di
Kabupaten Kuantan Singingi dibuktikan dari
analisis K di
berbagai daerah yang sudah di tanami padi sawah seperti Pasar Inuman,
Pulau Sipan, Pasikaian, Saik, Teluk Beringin, Sibaroba, Mudik Ulo dan Pematang.
Kandungan kalium di lokasi
penelitian memiliki kriteria sedang sampai tinggi, disebabkan karena Kabupaten Kuantan Singingi merupakan daerah
aliran sungai yang dialiri sungai besar yaitu sungai Indragiri atau dikenal
dengan sungai Kuantan. Sungai Kuantan merupakan sumber air irigasi utama pada
hampir semua lahan sawah di Kabupaten Kuantan Singingi, sehingga menyebabkan K
tanah dapat bertambah karena aliran sungai membawa kalium terlarut dari bagian
hulu.
Menurut Bhuiyan (1994) kalium dalam tanah mempunyai
sifat yang mobile (mudah bergerak)
sehingga mudah hilang melalui proses pencucian atau terbawa arus gerakan air.
Berdasarkan sifat tersebut, efisiensi pupuk K biasanya rendah, namun dapat
ditingkatkan dengan cara pemberian pupuk K 2-3 kali selama musim tanam tanaman
padi sawah.
KESIMPULAN
Status hara tanah sawah bukaan baru di Kabupaten Kuantan Singingi di antaranya
memiliki pH sangat masam sampai agak
masam yaitu 4,00-6,33. Kandungan fosfor (P) tanah berada pada kriteria sangat
rendah sampai sedang (4,02-17,27ppm).
Sedangkan sedang sampai tinggi (0,51-0,77me/100gram tanah).
DAFTAR PUSTAKA
Bhuiyan, S. I.,
M. A. Sattar, and D. F.
Tabbal.1994. Wet seeded
rice : water use efficiency, productivity and constraints to
wider adoption. Paper presented at
the International Workshop
on constrains, opportunities, and
innovations for wet seeded rice, Bangkok, May 31 – June 3, 1994, 19 pp.
Bouman.
B. A. M. and T. P.
Tuong. 2001. Field
water management to
save water and increase its productivity in irrigatedlo wland
rice. Agricultural Water
Management. 49: 11-30
BPS.
2010. Satistik Indonesia. Balai Pusat Penelitian Statistik. Jakarta
BPS.
2011. Satistik Indonesia. Balai Pusat Penelitian Statistik. Jakarta
Dobermann, A.
And T. Fairhurst. 2000. Rice,
Nutrient Disorders and
Nutrient Management.
Handbook series. Potash
and Phosphate Institute (PPI). Potash and
Phosphate Institute of Canada (PPIC) and International Rice Institute.
Laporan
Tahunan. 2011. Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi.
Rachim,
A. 1995. Pembinaan uji tanah hara
makro N, P, K, S, Ca, Mg. Bahan Pelatihan pembinaan uji tanah dan analisa
tanaman. Bogor. 23
januari-4 Februari 1995
(tidak dipublikasikan)
Sanchez,
P. A.1976.Properties and management of Soil in the Tropics. John Wil- ey and
Sons. New Yrok. 618 p.
Situmorang, R
dan Sudadi, U.
2001. Bahan Kuliah
Tanah Sawah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar