Rabu, 22 Januari 2014

JGS Vol 1 No 1 hal 25-32

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK SUBURIN DAN ZPT ATONIK  TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG HIJAU (Phaseolus radiates. L)


JUANDES SAPUTRA

Program Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan.  Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau.


ABSTRAK

            Penelitian ini telah dilaksanakan dilahan sewa di Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi dari bulan  November 2009 sampai dengan Februari 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Pupuk SuburIn dan ZPT Atonik baik secara tunggal maupun interaksi terhadap pertumbuhan dan produksi kacang hijau. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu faktor S (Pupuk Suburin) terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu : S0 (Tanpa Pemberian/Control) S1            (Dosis pemberian 2 tablet/ tanaman), S2 (Dosis pemberian 6 tablet/ tanaman), S3 (Dosis pemberian 8 tablet/tanaman). Dan faktor A ( ZPT Atonik), A0 (Tanpa Pemberian), A1(2 cc/liter air), A2 (4 cc/liter air), A3 (6 cc/liter air). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik, dan apabila F hitung lebih besar dari F tabel, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil peneltian menunjukan bahwa perlakuan pupuk suburIn berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman, jumlah cabang primer, jumlah polong pertanaman, jumlah biji per polong, hasil per plot. perlakuan ZPT Atonik berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan umur tanaman berbunga, umur panen. Sedangkan perlakuan secara interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan.

Kata kunci : suburin, ZPT, kacang hijau


PENDAHULUAN

Kacang hijau (Phaseolus radiatus L) merupakan tanaman kacang-kacangan yang penting dalam peningkatan gizi masyarakat. Kacang hijau dibawa masuk ke Indonesia pada abad ke-17, oleh pedagang Cina dan Portugis.Pusat pengembangan kacang hijau pada mulanya terpusat di Pulau Jawa dan Bali, tetapi pada tahun 1920-an mulai berkembang di Sulawesi, Sumatra, Kalimantan dan Indonesia bagian timur (Rukmana, 2006)
Di Indonesia kacang hijau menempati urutan ketiga setelah kedelai dan kacang tanah, baik mengenai luas areal penanaman dan produksinya maupun peranannya sebagai bahan makanan. Kacang hijau mengandung nilai gizi yang cukup tinggi. Dalam 100 g biji kering mengandung 22,2 g protein, 6,29 g karbohidrat, 0,64 g vitamin B1, dan 6 IU vitamin C (Soeprapto,2001).
Produksi kacang hijau di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, dimana hasil rata-rata kacang hijau di Indonesia 1,25 ton per hektar, dimana masalah yang dihadapi adalah masih rendahnya produksi dan produktivitas yang dicapai petani. Hal ini disebabkan oleh tehnik budidaya yang kurang baik, terutama masalah pemupukan (Rukmana, 2006).
Secara nasional produktivitas kacang hijau di Riau cukup baik, yang berada pada peringkat kelima setelah Aceh, Irian Jaya, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan. Di Riau sendiri, kacang hijau menduduki posisi penting kedua setelah kedelai dengan produktivitas 1,03 ton/Ha. Meskipun demikian, kacang hijau yang dihasilkan belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Riau sendiri. Hingga saat ini Riau masih mengimpor kacang hijau dari daerah lain yakni sebesar 5.901 ton (Badan Pusat Statistik Riau, 2001).
Di Kabupaten Kuantan Singingi produksi kacang hijau pada tahun 2006 mencapai 2,194 ton/Ha, namun pada tahun 2007 produksi mengalami penurunan menjadi 1,65/Ha (Badan Statistik Kabupaten Kuantan Singingi , 2007).
Permintaan terhadap kacang hijau cukup tinggi dari tahun ketahun, sementara produktivitas dan luas areal tanamnya masih rendah bila dibandingkan dengan jagung, kedelai, dan kacang tanah. Memperhatikan kekurangan tersebut, maka perlu dilakukan suatu upaya untuk meningkatkan produksi kacang hijau. Salah satu peningkatan produksi kacang hijau dapat dilakukan dengan cara perbaikan budidaya diantaranya pengolahan tanah yang baik, pemupukan, penberian zat peransang tumbuh,  menggunakan varietas unggul dan masak serempak, serat peningkatan usaha pengelolaan lepas panennya (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Riau, 2004).
Dalam hal pemupukan ada beberapa yang menjadi kendala, dimana kondisi yang ada memperlihatkan kalau sebagian besar petani Indonesia belum memiliki akses yang memadai terhadap penguasaan data dan informasi kesuburan lahan tempat pengusahaan pertaniannya.Tanpa pemupukan spesifik lokasi, untuk mengejar produktivitas yang sama akan dibutuhkan rataan asupan dosis pupuk yang makin meningkat, dan sejalan dengan itu pencemaran lingkungan tanah pertanian pun makin tinggi. Bertambahnya lahan kritis tercemar pupuk kimiawi akibat dosis tinggi, berpindahnya bahan organik ke kota tanpa pengembalian dari material sisa konsumsi manusia serta pengalih fungsian lahan akan mengancam pada produksi pangan dan hasil pertanian nasional dimasa datang.
Pola pertanian Indonesia dan umumnya di negara berkembang yang memanen dan mengirim seluruh bagian tanaman ke pusat konsumsi (kota) juga berperanan dalam peningkatan kerusakan lahan pertanian akibat kekurangan bahan organik (C Organik) tanah pertanian di desa. Material sisa (sampah) tanaman yang tidak termakan manusia, di sortir di pasar, di dapur dan pusat perbelanjaan di kota, telah membentuk kumpulan sampah organik dan kemudian menjadi masalah sampah di kota. Sementara lain, pada saat sama, lahan pertanian di desa tidak memiliki bahan cukup bagi pemenuhan sumber organik (C Organik). Dengan demikian telah terjadi pemiskinan hara lahan pertanian, dan seiring waktu tingkat kesuburan tanah pertanian Indonesia menurun. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan pupuk dalam dosis yang kecil dan tidak merusak lingkungan.
Pemupukan merupakan penambahan unsur hara ke dalam tanah yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan dapat meningkatkan produksi sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan penambahan pupuk SuburIn. Pupuk SuburIn berbentuk tablet, yang mengandung 6 unsur hara makro dan minimal 3 unsur hara mikro yang dapat memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman (Hatta, 2009).
Disamping pemberian pupuk dapat juga diberikan Zat Pengatur Tumbuh atau Hormon Pertumbuhan Tanaman. Zat Pengatur Tumbuh memiliki kegunaan tersendiri dan tidak berlaku untuk setiap tanaman yang dibudidayakan, ada yang berguna untuk banyak tanaman dan ada yang hanya untuk satu tanaman tertentu saja. Dalam penelitian ini digunakan salah satu peransang tumbuh  yaitu atonik. Atonik dibangun dari bahan aktif Natrium senyawa fenol dan berfungsi sebagai karier metabolit dalam proses metabolisme, dan ion Na+ mampu menggantikan sebagian fungsi ion K+ (Sumiati, 1989).
Pemakaian atonik pada tanaman berfungsi untuk meransang pertumbuhan akar tanaman yang lebih banyak, mengaktifkan penyerapan unsur hara, meningkatkan keluarnya kuncup dan buah serta memperbaiki kualitas panen. Untuk meningkatkan keberhasilan penggunaan zat pengatur tumbuh tersebut maka cara pemakaiannya harus diperhatikan dengan baik dan tepat.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitan ini dilakukan di lahan sewa yang berlokasi di desa Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 bulan yang dimulai bulan oktober 2009 sampai februari 2010.

Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kacang hijauVarietas Walet”, Pupuk SuburIn, Atonik, Curater 3G. Sedangakan alatnya adalah cangkul, sabit, paku, hand sprayer, Cat, label, ajir martil, timbangan, meteran, papan nama, ember, alat – alat tulis dll.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancang Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu S (pupuk SuburIn) terdiri dari 4 taraf dan A (Atonik) terdiri dari 4 taraf.

Faktor pertama pemberian pupuk SuburIn terdiri dari 4 taraf :
S0 : Tanpa pemberian pupuk SuburIn.
S1 : Pemberian pupuk SuburIn 2 tablet atau 6  gr/tanaman.
S2 : Pemberian pupuk SuburIn 6 tablet atau 18 gr/ tanaman.
S3 : Pemberian pupuk SuburIn 8 tablet atau 24 gr/ tanaman.

Faktor kedua pemberian ZPT Atonik terdiri dari 4 taraf :
A0 : Tanpa pemberian ZPT Atonik
A1 : Pemberian ZPT Atonik = 2 cc/ 1 liter Air
A2 : Pemberian ZPT Atonik = 4 cc/ 1 liter Air
A3 : Pemberian ZPT Atonik = 6 cc/ 1 liter Air

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian pupuk SuburIn dan pemberian zat pengatur tumbuh Atonik tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman kacang hijau. Akan tetapi, pemberian pupuk SuburIn memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman.
Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap tinggi tanaman pada setiap kombonasi pupuk SuburIn dan ZPT Atonik dapat dilihat pada tabel 1.


Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman Kacang Hijau dengan Perlakuan Pupuk SuburIn dan Pemberian ZPT Atonik (cm) pada umur 30 HST.

Faktor S
(Pupuk SuburIn)
Faktor A (ZPT Atonik)
Rerata S
A0
A1
A2
A3

S0
S1
S2
S3

14,06
15,94
16,66
15,55
15,33
16,44
16,49
15,33
15,20
16,33
17,05
15,6
15,38
15,94
16,88
16,44
14,99cd
16,16bc
16,77ab
15,73d
Rerata A
15,55
15,89
16,04
16,16

KK = 7,16
BNJ S = 0,86
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
                           

Dilihat dari tabel di atas interaksi pemberian pupuk suburIn dan ZPT atonik tidak  memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, begitu juga dengan pemberian tunggal ZPT atonik, tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman. Namun perlakuan tunggal pupuk suburin memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman. Perlakuan pada S2 (16,77) menunjukan hasil yang paling tinggi setelah itu diikuti oleh perlakuan S1 (16,16) dan perlakuan S3(15,73).
            Adanya perbedaan tinggi tanaman disebabkan oleh tingkat unsur hara yang diberikan juga berbeda, dimana pada perlakuan S1 unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tidak terpenuhi, berbanding terbalik dengan perlakuan S3 unsur hara yang diberikan berlebih. Kelebihan kadar unsur hara yang diberikan dapat menghambat, meracuni bahkan mematikan tanaman (Sarief 1985). Namun pada perlakuan S2 terjadi peningkatan pertumbuhan tinggi tanaman, karena pemberian pupuk SuburIn dapat memenuhi kebutuhan unsur N bagi tanaman. Unsur N sangat penting peranannya bagi tanaman diantaranya mampu merangsang pertumbuhan tinggi tanaman (Gustian, 2000).
            Perlakuan interaksi antara pupuk suburIn dan ZPT atonik tidak memberikan pengaruh yang nyata, hal ini disebabkan karena dosis yang diberikan belum sesuai, sehingga tanaman menjadi terganggu pertumbuhannya dan secara otomatis produksinya juga menurun.
            Perlakuan tunggal ZPT atonik juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi  tanaman, diduga karena waktu pemberian tidak sesuai dimana setiap kali pemberian selalu terjadi hujan, hal ini ada kaitannya dengan waktu pananaman yang tidak tepat. Selain hal tersebut Pemberian ZPT atonik juga lebih mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam fase generatif (Abidin, 1986).
Penempatan pupuk dalam tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan efisiensi penggunaan pupuk oleh tanaman. Pemberian pupuk SuburIn akan cukup memberikan pertumbuhan yang baik bagi tanaman. Kalsium yang terkandung dalam pupuk suburIn sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk meransang pertumbuhan bulu-bulu akar, sehingga tanaman dapat lebih banyak menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah dan magnesium berperan dalam proses fotosintesis. Cukupnya kandungan kalsium dan magnesium di dalam tanah dapat memacu tanaman untuk melakukan kegiatan fotosintesis. Sehingga hasil-hasil akumulasi fotosintat tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk kegiatan pembelahan sel terutama pada pertumbuhan vegetatif tanaman (Lakitan, 1993).
Disamping unsur hara, pertumbuhan dan perkembangan tanaman juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti tanah, temperatur, sinar matahari, hujan dan faktor iklim lainnya (Suprapto, 1997).

Jumlah Cabang Primer (buah)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam  menunjukan bahwa interaksi pemberian pupuk SuburIn dan pemberian zat pengatur tumbuh Atonik tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang primer kacang hijau, begitu juga dengan pemberian tunggal ZPT Atonik. Akan tetapi, pemberian tunggal pupuk SuburIn memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah cabang primer. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap jumlah cabang primer pada setiap kombonasi pupuk SuburIn dan ZPT Atonik disajikan pada tabel 2.



Tabel 2. Rerata Jumlah Cabang Primer dengan Perlakuan Pupuk suburin dan  Pemberian ZPT Atonik (Buah) pada umur 30 HST.

Faktor S
(Pupuk SuburIn)
Faktor A (ZPT Atonik)
Rerata S
A0
A1
A2
A3

S0
S1
S2
S3

4,55
5,66
5,77
5,21
4,77
5,99
5,22
4,99
4,88
5,66
5,22
4,99
4,55
5,99
6,44
5,88
4,68d
5,82ab
5,74bc
5,32c
Rerata A
5,29
5,38
5,18
5,4

KK = 12,02
BNJ S = 0,48
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
           

Dari tabel di atas perlakuan tunggal pupuk suburIn memberikan peningkatan jumlah cabang primer yang lebih banyak dari pada perlakuan tunggal ZPT atonik dan perlakuan interaksi antara pupuk suburIn dan ZPT atonik. Perlakuan pada S1 (5,82) menunjukan hasil yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan S2 (5,74) dan S3(5,32). Hal ini menunjukan bahwa tanaman kacang hijau memberikan respon yang positif terhadap pemberian Pupuk SuburIn dalam peningkatan jumlah cabang primer.
Pemberian ZPT atonik tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan jumlah cabang primer, hal ini diduga karena ZPT  atonik lebih mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam fase generatif (Abidin, 1986).

Umur Tanaman Berbunga (hari)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menghasilkan bahwa pemberian tunggal ZPT Atonik memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur tanaman berbunga. Sedangkan perlakuan tunggal pupuk SuburIn tidak berpergaruh terhadap umur bunga, begitu juga dengan perlakuan interaksi antara pupuk SuburIn dan ZPT Atonik. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap umur tanaman berbunga disajikan pada tabel 3.


Tabel 3. Rerata Umur Tanaman Berbunga dengan Perlakuan Pupuk suburin dan Pemberian ZPT Atonik ( Hari).
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
Faktor A (ZPT Atonik)
Rerata
A0
A1
A2
A3

S0
S1
S2
S3

39,99
39,66
40,1
39,33
39,22
39,77
39,55
38,99
39,22
38,88
38,66
39,33
38,44
37,88
38,1
38,1
39,21
39,04
39,1
38,93
Rerata
39,77ab
39,38bc
39,02c
38,13d

KK = 2,11
BNJ A = 0,61
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5%
menurut Uji Lanjut BNJ


Dari tabel di atas perlakuan tunggal ZPT atonik memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur tanaman berbunga, lain halnya dengan perlakuan tunggal SuburIn dan interaksi antara SuburIn dan ZPT Atonik yang tidak memberikan pengaruh terhadap umur berbunga. Perlakuan pada A3(38,13) menunjukan hasil yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan A2 (39,02) dan A1 (39,38).
Pada perlakuan A3 lebih cepat menimbulkan bunga dari perlakuan A1 dan A2, hal ini disebabkan oleh senyawa fenol yang terkandung pada ZPT Atonik yang diberikan tidak melampaui batas dosis yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga sifatnya akan menjadi promotor pada pertumbuhan dan perkembangan bunga, sedangkan dalam konsentrasi yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bunga (Lingga, 1996).
Keadaan lamanya muncul bunga dipengaruhi oleh pH tanah, yang mana pH sangat erat hubungannya dengan ketersediaan unsur hara yang tersedia dalam tanah (Nyakpa, et al.,1988). Hal tersebut terjadi karena jika pH rendah mengakibatkan kejenuhan Al tinggi sehingga bersifat racun bagi tanaman, dan gejala keracunan Al pada bagian atas tanaman ditunjukan dengan lambatnya waktu pembungaan (Sutarto, 1989).
Zat pengatur tumbuh mempunyai peranan yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan juga untuk kelangsungan hidup suatu tanaman serta berfungsi untuk mempengaruhi dan mengontrol pertumbuhan dari semua tingkat, mulai dari perkecambahan biji, perubahan dari fase vegetatif, pembentukan buah, dan masaknya buah serta biji (Abidin, 1986).

Umur Panen (hari)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menghasilkan bahwa pemberian tunggal ZPT Atonik memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap umur panen disajikan pada tabel 4.


Tabel 4. Rerata Umur Panen dengan Perlakuan Pupuk SuburIn dan  Pemberian ZPT Atonik (hari).

Faktor S
(Pupuk SuburIn)
Faktor A (ZPT Atonik)
Rerata
A0
A1
A2
A3

S0
S1
S2
S3

52,33
50,99
51,44
51,77
51,66
52,1
51,21
51,99
51,33
50,66
50,21
51,33
50,1
49,66
49,77
49,99
51,35
50,85
50,65
51,27
Rerata
51,63bc
51,74ab
50,88c
49,88d

KK = 1,79
BNJ A = 0,69
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ



Dilihat dari tabel di atas interaksi pemberian pupuk suburIn dan ZPT atonik tidak  memberikan pengaruh terhadap umur panen, begitu juga dengan pemberian tunggal pupuk SuburIn. Namun perlakuan tunggal ZPT Atonik dapat mempercepat umur panen tanaman kacang hijau. Dimana perlakuan pada A3 (49,88) menunjukan hasil yang paling tinggi setelah itu diikuti oleh perlakuan A1 (51,74) dan perlakuan A2(50,88). Hal ini membuktikan bahwa pemberian ZPT Atonik pada perlakuan A3 telah memenuhi hormon yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga dapat mempercepat waktu panen, salah satunya adalah hormon Etilen yang berfungsi membantu pemasakan buah. Sedangkan perlakuan A1  dan perlakuan A2 tidak memberikan pengaruh terhadap umur panen, hal ini diduga karena pemberian ZPT atonik  belum memenuhi dosis yang dibutuhkan oleh tanaman.

Adanya perbedaan umur panen yang ditunjukkan oleh tanaman kacang hijau terhadap masing-masing perlakuan tunggal diduga dipengaruhi oleh  hormon yang terkandung dalam ZPT Atonik. Dimana hormon ini dapat meningkatkan aktivitas metabolisme didalam sel yang menghasilkan energi dan penyimpanan asimilat, sehingga proses respirasi berjalan lancar dengan demikian umur panennya menjadi cepat (Lingga, 1996).
Keuntungan penggunaan Zat pengatur tumbuh adalah memperbaiki perakaran, mempercepat pertumbuhan tanaman muda, membantu penyerapan unsur hara dalam tanah, membantu proses metabolisme (Lingga, 1996). ZPT atonik mengandung hormon etilen yang berpengaruh pada lapisan sel absisi dan pemasakan buah (Kusumo, 1990).

Jumlah Polong Pertanaman (buah)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian pupuk SuburIn dan pemberian zat pengatur tumbuh Atonik tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah polong pertanaman, begitu juga dengan pemberian tunggal ZPT Atonik. Akan tetapi, pemberian tunggal pupuk SuburIn memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah polong pertanaman. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap jumlah polong pertanaman pada setiap kombonasi pupuk SuburIn dan ZPT Atonik disajikan pada tabel 5.


Tabel 5. Rerata Jumlah Polong Pertanaman dengan Perlakuan Pupuk SuburIn dan   Pemberian ZPT Atonik (Buah)
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
Faktor A (ZPT Atonik)
Rerata
A0
A1
A2
A3

S0
S1
S2
S3

95,11
106,11
106,22
103,77
99,1
107,22
103,88
103,33
102,88
106,11
102,44
101,66
98,88
110,1
109,33
105,55
98,99d
107,38ab
105,46bc
103,57c
Rerata
102,8
103,38
103,27
105,96

KK = 4,10
BNJ S = 3,28
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Pada tabel 5, terlihat perlakuan tunggal pupuk SuburIn memberikan pengaruh yang positif terhadap jumlah polong pertanaman. Sedangkan pemberian interaksi pupuk SuburIn dan ZPT Atonik dan pemberian tunggal ZPT Atonik tidak dapat meningkatkan jumlah polong pertanaman. Dimana hasil tertinggi ditunjukan pada perlakuan S1 (107,38), setelah itu diikuti oleh perlakuan S2 (105,46) dan perlakuan S3(103,57).
Tingginya jumlah polong yang dihasilkan oleh perlakuan S1 di sebabkan oleh tersedianya unsur hara yang cukup, seperti P yang berperan dalam pembentukan sejumlah protein tertentu, membantu asimilasi dan pernapasan sekaligus mempercepat pembungaan, sehingga dengan jumlah bunga yang lebih banyak dapat menghasilkan jumlah polong yang banyak pula (Lingga, 1993). Bunga yang terbentuk akan mengalami proses fertilisasi antara serbuk sari dengan putik, kemudian akan membentuk polong (Lakitan, 1995).
Perlakuan S2 dan perlakuan S3 memperlihatkan penurunan jumlah polong pertanaman. Hal ini menunjukan bahwa pemberian pupuk suburIn memiliki Batas maksimum, karena bila diberikan dalam jumlah yang banyak, akan memberikan pengaruh yang buruk terhadap produksi pertanaman terutama terjadi kelebihan N yang dapat menghambat terbentuknya bunga, sehingga jumlah polong yang terbentuk menjadi berkurang, karrena bunga yang telah terbentuk akan gugur (Lakitan, 1995).

Jumlah Biji per Polong (biji)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menghasilkan bahwa pemberian tunggal pupuk suburIn memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah biji perpolong. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap jumlah biji perpolong disajikan pada tabel 6.

Tabel 6.    Rerata Jumlah Biji Perpolong dengan Perlakuan Pupuk SuburIn dan  Pemberian ZPT Atonik (biji).
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
Faktor A (ZPT Atonik)
Rerata
A0
A1
A2
A3

S0
S1
S2
S3

11,44
12,33
11,66
10,88
11,44
13,66
12,99
11,66
11,22
12,44
11,77
11,99
11,33
13,55
12,55
10,55
11,35cd
12,99a
12,24b
11,27d
Rerata
11,57
12,43
11,85
11,99

KK = 7,66
BNJ S = 0,69
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Dari tabel di atas perlakuan tunggal pupuk suburIn dapat meningkatan jumlah biji tanaman kacang hijau yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan tunggal ZPT atonik dan perlakuan interaksi antara pupuk suburIn dengan ZPT atonik yang sama sekali tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah biji perpolong. Perlakuan pada S1 (12,99) menunjukan hasil yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan S2 (12,24) dan S3(11,27). Hal ini menunjukan bahwa tanaman kacang hijau memberika respon yang positif terhadap pemberian Pupuk SuburIn dalam peningkatan jumlah biji per polong.
Tingginya jumlah biji per polong yang dihasilkan perlakuan S1, diduga disebabkan oleh fotorespirasi yang lebih kecil pada perlakuan S1 dibandingkan dengan perlakuan S2 dan S3. Fotorespirasi terjadi bila suhu daun mencapai 300 C (Goldswothy dan Fisher, 1992).
Fotorespirasi kurang menguntungkan bagi tanaman kacang hijau, karena dapat menurunkan hasil fotosintat. Akibatnya, proses penimbunan kebagian organ-organ lain dan pengisian biji akan berkurang. Selain fotorespirasi, jumlah biji per polong juga dipengaruhi oleh peristiwa translokasi kembali asimilat yang tersimpan (Goldswothy dan Fisher, 1992).
Pembentukan dan perkembangan biji sangat dipengaruhi oleh ketersediaan posfor dan nitrogen. Tanaman yang memiliki perakaran yang baik tentunya akan menyebabkan proses penyerapana unsur hara di dalam tanah lebih banyak terutama Posfor, sedangkan nitrogen juga diperoleh tanaman melalui simbiosis bakteri bintil akar dengan akar tanaman (Palawa, 2000).
Fiksasi bakteri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor anatara lain efektifitas bakteri, tingkat ketersediaan N an-organik,  P dan K serta unsur hara lainnya (Sumadi dan Subur, 1985).

Hasil per Plot (gram)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menghasilkan bahwa pemberian tunggal pupuk suburIn memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil perplot. Sedangkan pemberian tunggal ZPT Atonik tidak berpengaruh nyata terhadap hasil panen, begitu juga dengan perlakuan interaksi pupuk SuburIn dengan ZPT Atonik tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap hasil perplot disajikan pada tabel 7.



Tabel 7. Rerata Hasil Perplot dengan Perlakuan Pupuk SuburIn dan  Pemberian ZPT Atonik (gram).

Faktor S
(Pupuk SuburIn)
Faktor A (ZPT Atonik)
Rerata
A0
A1
A2
A3

S0
S1
S2
S3

280,46
330,5
287,13
340,53
303,86
354,1
303,93
260,4
270,5
300,56
283,86
290,5
247,33
387,03
300,63
260,56
275,53d
343,04a
293,88bc
287,99cd
Rerata
309,65
305,57
286,35
298,88

KK = 12,26
BNJ S = 28,56
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5%




Dilihat dari tabel di atas interaksi pemberian pupuk suburIn dan ZPT atonik tidak  memberikan pengaruh terhadap hasil, begitu juga dengan pemberian tunggal ZPT Atonik. Namun perlakuan tunggal pupuk SuburIn dapat meningkatkan hasil panen tanaman kacang hijau. Dimana perlakuan pada S1 (343,04) menunjukan hasil yang paling tinggi setelah itu diikuti oleh perlakuan S2(293,88) dan perlakuan S3 (287,99). Hal ini membuktikan bahwa pemberian pupuk SuburIn yang berlebihan tidak dapat meningkatkan hasil panen kacang hijau, disebabkan oleh kandungan unsur hara N yang berlebihan dapat membuat tanah menjadi asam sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan tanaman tidak berproduksi maksimal.
Kalsium berperan dalam meristem tanaman terutama untuk memfungsikan ujung-ujung akar tanaman. Semakin tinggi akumulasi senyawa-senyawa organik yang dihasilkan yang kemudian senyawa tersebut ditranlokasikan kebiji, sehingga dapat meningkatkan hasil perplot tanaman kacang hijau (Poerwowidodo, 1993).
Unsur hara Ca berfungsi mengaktifkan pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta menguatkan batang. Membantu keberhasilan penyerbukan. Membantu pemecahan sel. membanti aktivitas beberapa enzim pertumbuhan. Serta menetralisir senyawa dan kondisi tanah yang merugikan (Lakitan, 2004).
Hasil perplot dipengaruhi oleh akumulasi pada biji selama berlangsungnya proses pengisian biji. Fotosintesis yang terakumulasi pada biji dapat berasal dari aktivitas fotosintesis yang berlangsung pada saat pengisian biji dan atau remobilisasi asimilat yang sudah diakumulasi pada organ lain dari tanaman.pada prinsipnya laju fotosintesis meningkat, kegiatan respirasi kecil dan translokasi asimilat lancar ke bagian generatif, maka secara tidak langsung pruduksi akan meningkat (Jumin, 2002).


KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pemberian perlakuan pupuk SuburIn (S) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan Tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik S2 (16,77), jumlah cabang primer S1 (5,82), jumlah polong pertanaman S1 (107,38), jumlah biji per polong S1 (12,99), dan hasil per plot S1 (343,04).
2.      Pemberian perlakuan ZPT Atonik (A) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan umur tanaman berbunga dengan hasil terbaik pada perlakuan A3 (38,13) dan umur panen pada perlakuan A3 (49,88).
3.      Interaksi perlakuan pupuk SuburIn (S) dan ZPT Atonik (A) tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pengamatan.
4.       Dari parameter yang telah diamati menunjukkan bahwa perlakuan terbaik  adalah perlakuan secara tunggal yaitu perlakuan S1 dengan dosis 2 tablet/tanaman dan perlakuan A3 dosis pemberian 6 cc/liter air.





DAFTAR PUSTAKA

Abidin.Z, 1986. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh .Penerbit Akasia Bandung.79 hal.
Danarti dan Najiyati, S., 1994. Palawija Budidaya dan Analisa Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Goldsworthy, P.R. dan N.,M Fisher, 1992 Fisiologi Budidaya Tanaman Tropik. Terjemahan Oleh Herawati Susilo.UI.Press.Jakarta.
Hakim N, Go Ban Hong, Saul. M.R. Nugroho. S. G, Lubis. A. M, Nyakpa. M. Y, Beiley. H. H, Diha M. A, 1986, Dasar – dasar Ilmu Tanah, Penerbit Universitas Lampung.
Hatta, M. 2009. Pupuk SuburIn. PT Saribumi Dewata Lestari.Jakarta.
Kusumo.S,1990.Zat Pengatur Tumbuh Tanaman.CV.Yasaguna.Jakarta.75 Hal.
Lakitan, B. 1996. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan, PT. Raja Grafindo Persada.Jakarta.
Lakitan, Benyamin. 2004. Dasar dasar Fisiologi Tumbuhan. Cetakan Kelima. PT RajaGrafindo Perkasa. p.69-71
Lingga, P dan Marsono. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lingga, P. 1986. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nyakpa, M. Yusuf, et al. 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung.
Purwowidodo, M.1991. Gatra Tanah Dalam Pembangunan Tanaman Di Indonesia. Rajawali Press. Jakarta.
Soeprapto, H.S., 1997. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sumiati, E., 1989. Pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap hasil curd broccoli (Brassica oleraceae) kultivar Green Comet. Bul.Penel.Hort. Vol. XVIII. No.1, 1989.
Rukmana, H.R., 2006.Budidaya dan Pascapanen Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar