PENGARUH PEMBERIAN PUPUK SUBURIN DAN ZPT ATONIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG HIJAU (Phaseolus radiates. L)
JUANDES SAPUTRA
Program Studi Agroteknologi, Sekolah
Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau.
ABSTRAK
Penelitian
ini telah dilaksanakan dilahan sewa di Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan
Tengah Kabupaten Kuantan Singingi dari bulan November 2009 sampai
dengan Februari 2010. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Pupuk SuburIn dan ZPT Atonik baik
secara tunggal maupun interaksi terhadap pertumbuhan dan produksi kacang hijau.
Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial
yang terdiri dari 2 faktor yaitu faktor S (Pupuk Suburin) terdiri dari 4 taraf
perlakuan yaitu : S0 (Tanpa Pemberian/Control) S1 (Dosis pemberian 2 tablet/
tanaman), S2 (Dosis pemberian 6 tablet/ tanaman), S3 (Dosis pemberian 8
tablet/tanaman). Dan faktor A ( ZPT Atonik), A0 (Tanpa Pemberian), A1(2
cc/liter air), A2 (4 cc/liter air), A3 (6 cc/liter air). Data yang diperoleh
dianalisis secara statistik, dan apabila F hitung lebih besar dari F tabel,
maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil
peneltian menunjukan bahwa perlakuan pupuk suburIn berpengaruh nyata terhadap
parameter pengamatan tinggi tanaman, jumlah cabang primer, jumlah polong
pertanaman, jumlah biji per polong, hasil per plot. perlakuan ZPT Atonik
berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan umur tanaman berbunga, umur
panen. Sedangkan perlakuan secara interaksi tidak memberikan pengaruh yang
nyata terhadap parameter pengamatan.
Kata kunci : suburin,
ZPT, kacang hijau
PENDAHULUAN
Kacang
hijau (Phaseolus radiatus L) merupakan tanaman
kacang-kacangan yang penting dalam peningkatan gizi masyarakat. Kacang hijau dibawa masuk ke Indonesia pada abad
ke-17, oleh pedagang Cina dan Portugis.Pusat pengembangan kacang hijau pada
mulanya terpusat di Pulau Jawa dan Bali, tetapi pada tahun 1920-an mulai
berkembang di Sulawesi, Sumatra, Kalimantan dan Indonesia bagian timur
(Rukmana, 2006)
Di
Indonesia kacang hijau menempati urutan ketiga setelah kedelai dan kacang
tanah, baik mengenai luas areal penanaman dan produksinya maupun peranannya
sebagai bahan makanan. Kacang hijau mengandung nilai gizi yang cukup tinggi.
Dalam 100 g biji kering mengandung 22,2 g protein, 6,29 g karbohidrat, 0,64 g
vitamin B1, dan 6 IU vitamin C (Soeprapto,2001).
Produksi
kacang hijau di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, dimana hasil rata-rata kacang hijau di Indonesia
1,25 ton per
hektar, dimana masalah yang dihadapi adalah masih
rendahnya produksi dan produktivitas yang dicapai petani. Hal ini disebabkan
oleh tehnik budidaya yang kurang baik, terutama masalah pemupukan (Rukmana,
2006).
Secara nasional produktivitas kacang hijau di Riau
cukup baik, yang berada pada peringkat kelima setelah Aceh, Irian Jaya, Sumatra
Barat, Sulawesi Selatan. Di Riau sendiri, kacang hijau menduduki posisi penting
kedua setelah kedelai dengan produktivitas 1,03 ton/Ha. Meskipun demikian,
kacang hijau yang dihasilkan belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Riau
sendiri. Hingga saat ini Riau masih mengimpor kacang hijau dari daerah lain
yakni sebesar 5.901 ton (Badan Pusat Statistik Riau, 2001).
Di Kabupaten Kuantan Singingi produksi kacang hijau
pada tahun 2006 mencapai 2,194 ton/Ha, namun pada tahun 2007 produksi mengalami
penurunan menjadi 1,65/Ha (Badan Statistik Kabupaten Kuantan Singingi , 2007).
Permintaan terhadap kacang hijau cukup tinggi dari
tahun ketahun, sementara produktivitas dan luas areal tanamnya masih rendah
bila dibandingkan dengan jagung, kedelai, dan kacang tanah. Memperhatikan
kekurangan tersebut, maka perlu dilakukan suatu upaya untuk meningkatkan
produksi kacang hijau. Salah satu peningkatan produksi
kacang hijau dapat
dilakukan dengan cara perbaikan budidaya diantaranya pengolahan
tanah yang baik, pemupukan, penberian zat peransang tumbuh, menggunakan varietas unggul dan masak serempak, serat
peningkatan usaha pengelolaan lepas panennya (Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Riau, 2004).
Dalam hal pemupukan ada beberapa yang menjadi kendala,
dimana kondisi yang ada memperlihatkan kalau sebagian besar petani
Indonesia belum memiliki akses yang memadai terhadap penguasaan data dan
informasi kesuburan lahan tempat pengusahaan pertaniannya.Tanpa pemupukan
spesifik lokasi, untuk mengejar produktivitas yang sama akan dibutuhkan rataan
asupan dosis pupuk yang makin meningkat, dan sejalan dengan itu pencemaran
lingkungan tanah pertanian pun makin tinggi. Bertambahnya lahan kritis tercemar
pupuk kimiawi akibat dosis tinggi, berpindahnya bahan organik ke kota tanpa
pengembalian dari material sisa konsumsi manusia serta pengalih fungsian lahan
akan mengancam pada produksi pangan dan hasil pertanian nasional dimasa datang.
Pola
pertanian Indonesia dan umumnya di negara berkembang yang memanen dan mengirim
seluruh bagian tanaman ke pusat konsumsi (kota) juga berperanan dalam
peningkatan kerusakan lahan pertanian akibat kekurangan bahan organik (C
Organik) tanah pertanian di desa. Material sisa (sampah) tanaman yang tidak
termakan manusia, di sortir di pasar, di dapur dan pusat perbelanjaan di kota,
telah membentuk kumpulan sampah organik dan kemudian menjadi masalah sampah di
kota. Sementara lain, pada saat sama, lahan pertanian di desa tidak memiliki
bahan cukup bagi pemenuhan sumber organik (C Organik). Dengan demikian telah terjadi
pemiskinan hara lahan pertanian, dan seiring waktu tingkat kesuburan tanah
pertanian Indonesia menurun. Salah satu cara
untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan pupuk dalam dosis
yang kecil dan tidak merusak lingkungan.
Pemupukan merupakan penambahan unsur hara ke dalam
tanah yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan dapat meningkatkan
produksi sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan
adalah dengan penambahan pupuk SuburIn. Pupuk SuburIn berbentuk tablet, yang
mengandung 6 unsur hara makro dan minimal 3 unsur hara mikro yang dapat memacu
pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman (Hatta, 2009).
Disamping pemberian pupuk dapat juga diberikan Zat
Pengatur Tumbuh atau Hormon Pertumbuhan Tanaman. Zat Pengatur Tumbuh memiliki
kegunaan tersendiri dan tidak berlaku untuk setiap tanaman yang dibudidayakan,
ada yang berguna untuk banyak tanaman dan ada yang hanya untuk satu tanaman
tertentu saja. Dalam penelitian ini digunakan salah satu peransang tumbuh yaitu atonik. Atonik dibangun
dari bahan aktif Natrium senyawa fenol dan
berfungsi sebagai karier metabolit dalam proses metabolisme, dan ion Na+
mampu menggantikan sebagian fungsi ion K+ (Sumiati, 1989).
Pemakaian atonik pada tanaman berfungsi untuk
meransang pertumbuhan akar tanaman yang lebih banyak, mengaktifkan penyerapan
unsur hara, meningkatkan keluarnya kuncup dan buah serta memperbaiki kualitas
panen. Untuk meningkatkan keberhasilan penggunaan zat pengatur tumbuh tersebut
maka cara pemakaiannya harus diperhatikan dengan baik dan tepat.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitan
ini dilakukan di lahan sewa yang berlokasi
di desa Pulau Komang Sentajo
Kecamatan Kuantan Tengah
Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 bulan yang dimulai bulan oktober
2009 sampai februari 2010.
Bahan dan alat
Bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kacang hijau “Varietas
Walet”, Pupuk SuburIn, Atonik, Curater 3G. Sedangakan alatnya adalah
cangkul, sabit, paku, hand sprayer, Cat,
label, ajir martil, timbangan, meteran, papan
nama, ember, alat – alat tulis dll.
Metode Penelitian
Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Rancang Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2
faktor yaitu S (pupuk SuburIn) terdiri dari 4 taraf dan
A (Atonik) terdiri dari 4 taraf.
Faktor
pertama pemberian pupuk SuburIn terdiri dari 4 taraf :
S0
: Tanpa pemberian pupuk SuburIn.
S1 : Pemberian pupuk SuburIn 2
tablet atau 6 gr/tanaman.
S2 : Pemberian pupuk SuburIn 6
tablet atau 18 gr/ tanaman.
S3 : Pemberian pupuk SuburIn 8
tablet atau 24 gr/ tanaman.
Faktor
kedua pemberian ZPT Atonik terdiri dari 4 taraf
:
A0
: Tanpa pemberian ZPT Atonik
A1
: Pemberian ZPT Atonik
= 2 cc/ 1 liter Air
A2
: Pemberian ZPT Atonik
= 4 cc/ 1 liter Air
A3
: Pemberian ZPT Atonik
= 6 cc/ 1 liter Air
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Setelah dianalisis secara statistik dari
hasil sidik ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian pupuk SuburIn dan
pemberian zat pengatur tumbuh Atonik tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman kacang hijau. Akan tetapi, pemberian pupuk SuburIn memberikan pengaruh
yang nyata terhadap tinggi tanaman.
Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5%
terhadap tinggi tanaman pada setiap kombonasi pupuk SuburIn dan ZPT Atonik
dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman Kacang
Hijau dengan Perlakuan Pupuk SuburIn dan Pemberian ZPT Atonik (cm) pada umur 30
HST.
|
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
|
Faktor A (ZPT Atonik)
|
Rerata S
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
14,06
15,94
16,66
15,55
|
15,33
16,44
16,49
15,33
|
15,20
16,33
17,05
15,6
|
15,38
15,94
16,88
16,44
|
14,99cd
16,16bc
16,77ab
15,73d
|
|
Rerata A
|
15,55
|
15,89
|
16,04
|
16,16
|
|
|
KK = 7,16
|
BNJ S = 0,86
|
||||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dilihat dari tabel di atas interaksi pemberian pupuk
suburIn dan ZPT atonik tidak memberikan
pengaruh terhadap tinggi tanaman, begitu juga dengan pemberian tunggal ZPT
atonik, tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman. Namun
perlakuan tunggal pupuk suburin memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman.
Perlakuan pada S2 (16,77) menunjukan hasil yang paling tinggi setelah itu
diikuti oleh perlakuan S1 (16,16) dan perlakuan S3(15,73).
Adanya perbedaan tinggi tanaman
disebabkan oleh tingkat unsur hara yang diberikan juga berbeda, dimana pada
perlakuan S1 unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tidak terpenuhi,
berbanding terbalik dengan perlakuan S3 unsur hara yang diberikan berlebih.
Kelebihan kadar unsur hara yang diberikan dapat menghambat, meracuni bahkan
mematikan tanaman (Sarief 1985). Namun pada
perlakuan S2 terjadi peningkatan pertumbuhan tinggi tanaman, karena pemberian
pupuk SuburIn dapat memenuhi kebutuhan unsur N bagi tanaman. Unsur N sangat
penting peranannya bagi tanaman diantaranya mampu merangsang pertumbuhan tinggi
tanaman (Gustian, 2000).
Perlakuan interaksi antara pupuk
suburIn dan ZPT atonik tidak memberikan pengaruh yang nyata, hal ini disebabkan
karena dosis yang diberikan belum sesuai, sehingga tanaman menjadi terganggu
pertumbuhannya dan secara otomatis produksinya juga menurun.
Perlakuan
tunggal ZPT atonik juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
tinggi tanaman, diduga karena waktu
pemberian tidak sesuai dimana setiap kali pemberian selalu terjadi hujan, hal
ini ada kaitannya dengan waktu pananaman yang tidak tepat. Selain hal tersebut Pemberian
ZPT atonik juga lebih
mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam fase generatif (Abidin, 1986).
Penempatan
pupuk dalam tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan efisiensi
penggunaan pupuk oleh tanaman. Pemberian pupuk SuburIn akan cukup memberikan
pertumbuhan yang baik bagi tanaman. Kalsium yang terkandung dalam pupuk suburIn
sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk meransang pertumbuhan bulu-bulu akar,
sehingga tanaman dapat lebih banyak menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah
dan magnesium berperan dalam proses fotosintesis. Cukupnya kandungan kalsium
dan magnesium di dalam tanah dapat memacu tanaman untuk melakukan kegiatan
fotosintesis. Sehingga hasil-hasil akumulasi fotosintat tersebut dapat
dimanfaatkan oleh tanaman untuk kegiatan pembelahan sel terutama pada
pertumbuhan vegetatif tanaman (Lakitan, 1993).
Disamping unsur hara, pertumbuhan dan perkembangan
tanaman juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti tanah, temperatur,
sinar matahari, hujan dan faktor iklim lainnya (Suprapto, 1997).
Jumlah Cabang Primer (buah)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam menunjukan bahwa interaksi
pemberian pupuk SuburIn dan pemberian zat pengatur tumbuh Atonik tidak
berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang primer kacang hijau, begitu juga
dengan pemberian tunggal ZPT Atonik. Akan tetapi, pemberian tunggal pupuk
SuburIn memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah cabang primer. Hasil uji
lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap jumlah cabang primer pada setiap kombonasi
pupuk SuburIn dan ZPT Atonik disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Rerata Jumlah Cabang Primer
dengan Perlakuan Pupuk suburin dan
Pemberian ZPT Atonik (Buah) pada umur 30 HST.
|
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
|
Faktor A (ZPT Atonik)
|
Rerata S
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
4,55
5,66
5,77
5,21
|
4,77
5,99
5,22
4,99
|
4,88
5,66
5,22
4,99
|
4,55
5,99
6,44
5,88
|
4,68d
5,82ab
5,74bc
5,32c
|
|
Rerata A
|
5,29
|
5,38
|
5,18
|
5,4
|
|
|
KK = 12,02
|
BNJ S = 0,48
|
||||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dari tabel di atas perlakuan tunggal pupuk suburIn
memberikan peningkatan jumlah cabang primer yang lebih banyak dari pada
perlakuan tunggal ZPT atonik dan perlakuan interaksi antara pupuk suburIn dan
ZPT atonik. Perlakuan pada S1 (5,82) menunjukan hasil yang paling tinggi dibandingkan
dengan perlakuan S2 (5,74) dan S3(5,32). Hal ini menunjukan bahwa tanaman
kacang hijau memberikan
respon yang positif terhadap pemberian Pupuk SuburIn dalam peningkatan jumlah
cabang primer.
Pemberian
ZPT atonik tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan jumlah cabang primer,
hal ini diduga karena ZPT atonik lebih
mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam fase generatif (Abidin, 1986).
Umur Tanaman Berbunga (hari)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam menghasilkan bahwa pemberian tunggal ZPT Atonik memberikan pengaruh yang
nyata terhadap umur tanaman berbunga. Sedangkan perlakuan tunggal pupuk SuburIn
tidak berpergaruh terhadap umur bunga, begitu juga dengan perlakuan interaksi
antara pupuk SuburIn dan ZPT Atonik. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5%
terhadap umur tanaman berbunga disajikan pada tabel 3.
Tabel 3. Rerata Umur Tanaman Berbunga
dengan Perlakuan Pupuk suburin dan Pemberian ZPT Atonik ( Hari).
|
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
|
Faktor A (ZPT Atonik)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
39,99
39,66
40,1
39,33
|
39,22
39,77
39,55
38,99
|
39,22
38,88
38,66
39,33
|
38,44
37,88
38,1
38,1
|
39,21
39,04
39,1
38,93
|
|
Rerata
|
39,77ab
|
39,38bc
|
39,02c
|
38,13d
|
|
|
KK = 2,11
|
BNJ A = 0,61
|
||||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5%
menurut
Uji Lanjut BNJ
Dari tabel di atas perlakuan tunggal ZPT atonik
memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur tanaman berbunga, lain halnya
dengan perlakuan tunggal SuburIn dan interaksi antara SuburIn dan ZPT Atonik
yang tidak memberikan pengaruh terhadap umur berbunga. Perlakuan pada A3(38,13)
menunjukan hasil yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan A2 (39,02)
dan A1 (39,38).
Pada perlakuan A3 lebih cepat menimbulkan bunga dari
perlakuan A1 dan A2, hal ini disebabkan oleh senyawa fenol yang terkandung pada
ZPT Atonik yang diberikan tidak melampaui batas dosis yang dibutuhkan oleh
tanaman sehingga sifatnya akan menjadi promotor pada pertumbuhan dan
perkembangan bunga, sedangkan dalam konsentrasi yang tinggi dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangan bunga (Lingga, 1996).
Keadaan lamanya muncul bunga dipengaruhi oleh pH
tanah, yang mana pH sangat erat hubungannya dengan ketersediaan unsur hara yang
tersedia dalam tanah (Nyakpa, et al.,1988).
Hal tersebut terjadi karena jika pH rendah mengakibatkan kejenuhan Al tinggi
sehingga bersifat racun bagi tanaman, dan gejala keracunan Al pada bagian atas
tanaman ditunjukan dengan lambatnya waktu pembungaan (Sutarto, 1989).
Zat
pengatur tumbuh mempunyai peranan yang sangat penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan tanaman dan juga untuk kelangsungan hidup suatu tanaman serta
berfungsi untuk mempengaruhi dan mengontrol pertumbuhan dari semua tingkat,
mulai dari perkecambahan biji, perubahan dari fase vegetatif, pembentukan buah,
dan masaknya buah serta biji (Abidin, 1986).
Umur Panen (hari)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam menghasilkan bahwa pemberian tunggal ZPT Atonik memberikan pengaruh yang
nyata terhadap umur panen. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap umur
panen disajikan pada tabel 4.
Tabel 4. Rerata Umur Panen dengan Perlakuan Pupuk SuburIn dan Pemberian ZPT Atonik (hari).
|
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
|
Faktor A (ZPT Atonik)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
52,33
50,99
51,44
51,77
|
51,66
52,1
51,21
51,99
|
51,33
50,66
50,21
51,33
|
50,1
49,66
49,77
49,99
|
51,35
50,85
50,65
51,27
|
|
Rerata
|
51,63bc
|
51,74ab
|
50,88c
|
49,88d
|
|
|
KK = 1,79
|
BNJ A = 0,69
|
||||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dilihat dari tabel di atas interaksi pemberian pupuk
suburIn dan ZPT atonik tidak memberikan
pengaruh terhadap umur panen, begitu juga dengan pemberian tunggal pupuk
SuburIn. Namun perlakuan tunggal ZPT Atonik dapat mempercepat umur panen
tanaman kacang hijau. Dimana perlakuan pada A3 (49,88) menunjukan hasil yang
paling tinggi setelah itu diikuti oleh perlakuan A1 (51,74) dan perlakuan
A2(50,88). Hal ini membuktikan bahwa pemberian ZPT Atonik pada perlakuan A3
telah memenuhi hormon yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga dapat mempercepat
waktu panen, salah satunya adalah hormon Etilen yang berfungsi membantu
pemasakan buah. Sedangkan perlakuan A1
dan perlakuan A2 tidak memberikan pengaruh terhadap umur panen, hal ini
diduga karena pemberian ZPT atonik belum
memenuhi dosis yang dibutuhkan oleh tanaman.
Adanya perbedaan umur panen yang ditunjukkan oleh
tanaman kacang hijau terhadap masing-masing perlakuan tunggal diduga
dipengaruhi oleh hormon yang terkandung
dalam ZPT Atonik. Dimana hormon ini dapat meningkatkan aktivitas metabolisme
didalam sel yang menghasilkan energi dan penyimpanan
asimilat, sehingga proses respirasi berjalan lancar dengan demikian umur
panennya menjadi cepat (Lingga, 1996).
Keuntungan
penggunaan Zat pengatur tumbuh adalah memperbaiki perakaran, mempercepat
pertumbuhan tanaman muda, membantu penyerapan unsur hara dalam tanah, membantu
proses metabolisme (Lingga, 1996). ZPT atonik mengandung hormon etilen yang
berpengaruh pada lapisan sel absisi dan pemasakan buah (Kusumo, 1990).
Jumlah Polong
Pertanaman (buah)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam menunjukan bahwa interaksi pemberian pupuk SuburIn dan pemberian zat
pengatur tumbuh Atonik tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah polong pertanaman,
begitu juga dengan pemberian tunggal ZPT Atonik. Akan tetapi, pemberian tunggal
pupuk SuburIn memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah polong pertanaman.
Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap jumlah polong pertanaman pada
setiap kombonasi pupuk SuburIn dan ZPT Atonik disajikan pada tabel 5.
Tabel 5. Rerata Jumlah Polong Pertanaman
dengan Perlakuan Pupuk SuburIn dan
Pemberian ZPT Atonik (Buah)
|
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
|
Faktor A (ZPT Atonik)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
95,11
106,11
106,22
103,77
|
99,1
107,22
103,88
103,33
|
102,88
106,11
102,44
101,66
|
98,88
110,1
109,33
105,55
|
98,99d
107,38ab
105,46bc
103,57c
|
|
Rerata
|
102,8
|
103,38
|
103,27
|
105,96
|
|
|
KK = 4,10
|
BNJ S = 3,28
|
||||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Pada tabel 5, terlihat perlakuan tunggal pupuk SuburIn
memberikan pengaruh yang positif terhadap jumlah polong pertanaman. Sedangkan
pemberian interaksi pupuk SuburIn dan ZPT Atonik dan pemberian tunggal ZPT
Atonik tidak dapat meningkatkan jumlah polong pertanaman. Dimana hasil
tertinggi ditunjukan pada perlakuan S1 (107,38), setelah itu diikuti oleh
perlakuan S2 (105,46) dan perlakuan S3(103,57).
Tingginya jumlah polong yang dihasilkan oleh perlakuan
S1 di sebabkan oleh tersedianya unsur hara yang cukup, seperti
P yang berperan dalam pembentukan sejumlah protein tertentu, membantu asimilasi
dan pernapasan sekaligus mempercepat pembungaan, sehingga dengan jumlah bunga
yang lebih banyak dapat menghasilkan jumlah polong yang banyak pula (Lingga,
1993). Bunga yang terbentuk akan mengalami
proses fertilisasi antara serbuk sari dengan putik, kemudian akan membentuk
polong (Lakitan, 1995).
Perlakuan S2 dan perlakuan S3 memperlihatkan penurunan
jumlah polong pertanaman. Hal ini menunjukan bahwa pemberian pupuk
suburIn memiliki Batas maksimum, karena bila diberikan dalam jumlah yang
banyak, akan memberikan pengaruh yang buruk
terhadap produksi pertanaman terutama terjadi kelebihan N yang dapat menghambat
terbentuknya bunga, sehingga jumlah polong yang terbentuk menjadi berkurang,
karrena bunga yang telah terbentuk akan gugur (Lakitan, 1995).
Jumlah Biji per
Polong (biji)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam menghasilkan bahwa pemberian tunggal pupuk suburIn memberikan pengaruh
yang nyata terhadap jumlah biji perpolong. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5%
terhadap jumlah biji perpolong disajikan pada tabel 6.
Tabel 6.
Rerata Jumlah Biji Perpolong dengan Perlakuan Pupuk SuburIn dan Pemberian ZPT Atonik (biji).
|
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
|
Faktor A (ZPT Atonik)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
11,44
12,33
11,66
10,88
|
11,44
13,66
12,99
11,66
|
11,22
12,44
11,77
11,99
|
11,33
13,55
12,55
10,55
|
11,35cd
12,99a
12,24b
11,27d
|
|
Rerata
|
11,57
|
12,43
|
11,85
|
11,99
|
|
|
KK = 7,66
|
BNJ S = 0,69
|
||||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dari tabel di atas perlakuan tunggal pupuk
suburIn dapat meningkatan jumlah biji tanaman kacang hijau yang lebih banyak
dibandingkan dengan perlakuan tunggal ZPT atonik dan perlakuan interaksi antara
pupuk suburIn dengan ZPT atonik yang sama sekali tidak memberikan pengaruh yang
nyata terhadap jumlah biji perpolong. Perlakuan pada S1 (12,99) menunjukan hasil
yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan S2 (12,24) dan S3(11,27). Hal
ini menunjukan bahwa tanaman kacang hijau memberika respon yang positif
terhadap pemberian Pupuk SuburIn dalam peningkatan jumlah biji per polong.
Tingginya jumlah biji per polong yang
dihasilkan perlakuan S1, diduga disebabkan oleh fotorespirasi yang lebih kecil
pada perlakuan S1 dibandingkan dengan perlakuan S2 dan S3. Fotorespirasi
terjadi bila suhu daun mencapai 300 C (Goldswothy dan Fisher, 1992).
Fotorespirasi kurang menguntungkan bagi
tanaman kacang hijau, karena dapat menurunkan hasil fotosintat. Akibatnya,
proses penimbunan kebagian organ-organ lain dan pengisian biji akan berkurang.
Selain fotorespirasi, jumlah biji per polong juga dipengaruhi oleh peristiwa
translokasi kembali asimilat yang tersimpan (Goldswothy dan Fisher, 1992).
Pembentukan dan perkembangan biji sangat dipengaruhi oleh
ketersediaan posfor dan nitrogen. Tanaman yang memiliki perakaran yang baik
tentunya akan menyebabkan proses penyerapana unsur hara di dalam tanah lebih
banyak terutama Posfor, sedangkan nitrogen juga diperoleh tanaman melalui
simbiosis bakteri bintil akar dengan akar tanaman (Palawa, 2000).
Fiksasi bakteri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor anatara
lain efektifitas bakteri, tingkat ketersediaan N an-organik, P dan K serta unsur hara lainnya (Sumadi dan Subur, 1985).
Hasil per Plot (gram)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam menghasilkan bahwa pemberian tunggal pupuk suburIn memberikan pengaruh
yang nyata terhadap hasil perplot. Sedangkan pemberian tunggal ZPT Atonik tidak
berpengaruh nyata terhadap hasil panen, begitu juga dengan perlakuan interaksi
pupuk SuburIn dengan ZPT Atonik tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
produksi. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 5% terhadap hasil perplot disajikan
pada tabel 7.
Tabel 7. Rerata Hasil Perplot dengan
Perlakuan Pupuk SuburIn dan Pemberian
ZPT Atonik (gram).
|
Faktor S
(Pupuk SuburIn)
|
Faktor A (ZPT Atonik)
|
Rerata
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
S0
S1
S2
S3
|
280,46
330,5
287,13
340,53
|
303,86
354,1
303,93
260,4
|
270,5
300,56
283,86
290,5
|
247,33
387,03
300,63
260,56
|
275,53d
343,04a
293,88bc
287,99cd
|
|
Rerata
|
309,65
|
305,57
|
286,35
|
298,88
|
|
|
KK = 12,26
|
BNJ S = 28,56
|
||||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5%
Dilihat dari tabel di atas interaksi pemberian pupuk
suburIn dan ZPT atonik tidak memberikan
pengaruh terhadap hasil, begitu juga dengan pemberian tunggal ZPT Atonik. Namun
perlakuan tunggal pupuk SuburIn dapat meningkatkan hasil panen tanaman kacang
hijau. Dimana perlakuan pada S1 (343,04) menunjukan hasil yang paling tinggi
setelah itu diikuti oleh perlakuan S2(293,88) dan perlakuan S3 (287,99). Hal
ini membuktikan bahwa pemberian pupuk SuburIn yang berlebihan tidak dapat meningkatkan
hasil panen kacang hijau, disebabkan oleh kandungan unsur hara
N yang berlebihan dapat membuat tanah
menjadi asam sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan tanaman tidak
berproduksi maksimal.
Kalsium
berperan dalam meristem tanaman terutama untuk memfungsikan ujung-ujung akar
tanaman. Semakin tinggi akumulasi senyawa-senyawa organik yang dihasilkan yang
kemudian senyawa tersebut ditranlokasikan kebiji, sehingga dapat meningkatkan
hasil perplot tanaman kacang hijau (Poerwowidodo, 1993).
Unsur
hara Ca berfungsi mengaktifkan pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta
menguatkan batang. Membantu keberhasilan penyerbukan. Membantu pemecahan sel.
membanti aktivitas beberapa enzim pertumbuhan. Serta menetralisir senyawa dan
kondisi tanah yang merugikan (Lakitan, 2004).
Hasil perplot dipengaruhi oleh akumulasi pada biji
selama berlangsungnya proses pengisian biji. Fotosintesis yang terakumulasi
pada biji dapat berasal dari aktivitas fotosintesis yang berlangsung pada saat
pengisian biji dan atau remobilisasi asimilat yang sudah diakumulasi pada organ
lain dari tanaman.pada prinsipnya laju fotosintesis meningkat, kegiatan
respirasi kecil dan translokasi asimilat lancar ke bagian generatif, maka
secara tidak langsung pruduksi akan meningkat (Jumin, 2002).
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa :
1.
Pemberian perlakuan pupuk SuburIn (S) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter
pengamatan Tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik S2
(16,77), jumlah cabang primer S1 (5,82), jumlah polong pertanaman S1 (107,38), jumlah biji per
polong S1 (12,99), dan hasil per plot S1 (343,04).
2.
Pemberian perlakuan
ZPT Atonik (A) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter
pengamatan umur tanaman berbunga dengan hasil terbaik
pada perlakuan A3 (38,13) dan umur panen pada perlakuan A3 (49,88).
3.
Interaksi perlakuan pupuk SuburIn (S) dan ZPT Atonik (A) tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pengamatan.
4.
Dari parameter yang telah diamati menunjukkan bahwa
perlakuan terbaik adalah perlakuan secara tunggal yaitu perlakuan S1 dengan dosis 2 tablet/tanaman dan perlakuan A3
dosis pemberian 6 cc/liter air.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin.Z,
1986. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh .Penerbit Akasia Bandung.79 hal.
Danarti
dan Najiyati, S., 1994. Palawija Budidaya
dan Analisa Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Goldsworthy,
P.R. dan N.,M Fisher, 1992 Fisiologi Budidaya Tanaman Tropik. Terjemahan Oleh
Herawati Susilo.UI.Press.Jakarta.
Hakim N, Go Ban Hong,
Saul. M.R. Nugroho. S. G, Lubis. A. M, Nyakpa. M. Y, Beiley. H. H, Diha M. A,
1986, Dasar – dasar Ilmu Tanah,
Penerbit Universitas Lampung.
Hatta, M.
2009. Pupuk SuburIn. PT Saribumi Dewata Lestari.Jakarta.
Kusumo.S,1990.Zat Pengatur Tumbuh Tanaman.CV.Yasaguna.Jakarta.75
Hal.
Lakitan,
B. 1996. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan, PT. Raja Grafindo Persada.Jakarta.
Lakitan, Benyamin. 2004. Dasar dasar Fisiologi Tumbuhan.
Cetakan Kelima. PT RajaGrafindo Perkasa. p.69-71
Lingga, P
dan Marsono. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lingga,
P. 1986. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Nyakpa, M. Yusuf, et al.
1988. Kesuburan Tanah. Penerbit
Universitas Lampung. Lampung.
Purwowidodo, M.1991. Gatra
Tanah Dalam Pembangunan Tanaman Di Indonesia.
Rajawali Press. Jakarta.
Soeprapto,
H.S., 1997. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sumiati,
E., 1989. Pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap hasil curd broccoli (Brassica oleraceae) kultivar
Green Comet. Bul.Penel.Hort. Vol. XVIII. No.1, 1989.
Rukmana,
H.R., 2006.Budidaya dan Pascapanen Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar