Rabu, 22 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa vol 1 no 1 hal 7-16

RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea mays L) SUPER HIBRIDA BISI - 16 TERHADAP PEMBERIAN PUPUK GANDASIL-B DAN ZAT PENGATUR TUMBUH DEKAMON


INDAH FIDDIANTI

Program Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau.


ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea mays L) Super Hibrida Bisi – 16 terhadap Pemberian Pupuk Gandasil-B dan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tanaman jagung (Zea mays L) Super Hibrida Bisi – 16 terhadap pemberian pupuk Gandasil-B dan zat pengatur tumbuh Dekamon, baik secara tunggal maupun interaksi. Penelitian ini telah dilaksanakan di Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini dilaksanakan bulan September sampai Desember 2009. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari yaitu G (Pupuk Gandasil-B) terdiri dari 4 taraf dan D (ZPT Dekamon) terdiri dari 3 taraf. Faktor pertama pemberian Pupuk Gandasil-B (G) : G0 (kontrol), G1 : 5 gram/1 lite air, G2 : 10 gram/1 liter air, G3 : 15 gram/1 liter air. Faktor kedua pemberian ZPT Dekamon (D): D0 :  (kontrol), D1 : 2 ml/1 liter air, D2 :  3 ml/1 liter air. Data akhir dianalisis secara statistik, dan apabila F hitung lebih besar dari tabel, maka dilanjutkan dengan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara interaksi berbeda nyata terhadap tanaman jagung super hibrida terdapat pada pengamatan tinggi tanaman dan umur berbunga (hst), sedangkan secara tunggal pemberian Gandasil-B yang berbeda nyata  terhadap tinggi tanaman, umur berbunga (hst), umur panen (hst), jumlah biji pertongkol (biji)  dan perlakuan zat pengatur tumbuh dekamon secara tunggal yang memberikan respon nyata  terhadap tinggi tanaman umur berbunga dan berat biji per plot (gr).

Keyword : pupuk , hibrida, zat pengatur tumbuh




PENDAHULUAN

Jagung termasuk tanaman serealia yang dapat tumbuh baik di daerah tropis maupun sub tropis. Kandungan gizi yang dominan terdapat didalamnya adalah karbohidrat dan merupakan sumber bahan pangan kedua setelah beras. Dibeberapa daerah, jagung bahkan dijadikan sebagai perubahan pangan utama pengganti beras (Dinas Tanaman Pangan Propinsi Riau 2008).
Pemanfaatan tanaman jagung tidak saja dikonsumsi sebagai bahan pangan, tetapi juga untuk bahan pakan ternak dan kebutuhan industri hulu maupun hilir. Permintaan jagung terhadap kebutuhan diatas mengalami peningkatan, sementara ketersediaannya masih terbatas. Upaya untuk mencukupi kebutuhan telah dilakukan baik melalui perluasan lahan penanaman maupun dengan meningkatkan produktivitas (Dinas Tanaman Pangan Propinsi Riau 2008).
Di Kabupaten Kuantan Singingi produksi jagung dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dan penurunan. Pada akhir tahun 2003 produksi jagung 14.581 ton, produksi jagung mengalami peningkatan pada tahun 2004 produksi jagung menjadi 19.185 ton, pada tahun 2005 produksi jagung mengalami penurunan menjadi 16.524 ton, pada tahun 2006 prokdusi jagung terus menurun menjadi 15.539 ton, pada akhir tahun 2007 produksi jagung naik kembali yaitu menjadi 18.379 ton (Badan Pusat Statistik, 2008).
Penggunaan lahan kering untuk pertanaman jagung di Propinsi Riau masih berpeluang cukup besar karena sebagian sudah ditanami tanaman perkebunan dan banyak juga yang ditumbuhi alang-alang. Bila ditinjau dari aspek sumberdaya alam di Propinsi Riau, potensi lahan kering baru mencapai 662.880 hektar. Namun sejauh ini produktivitas jagung di lahan kering baru mencapai 2,169 ton/hektar. Produktivitas ini masih rendah bila dibandingkan dengan produktivitas hasil penelitian yang mencapai 3,5 – 5 ton/hektar. Hal ini disebabkan masih rendahnya teknik budidaya yang diterapkan petani, varietas yang digunakan juga berdaya hasil rendah,serta pemupukan dan penggunaan ZPT (Dinas Tanaman Pangan Propinsi Riau 2008).    
Produksi jagung dapat ditingkatkan dengan penambahan pupuk ataupun unsur hara. Penggunaan pupuk sangat baik dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan hara selama tahap pertumbuhannya, sehingga produksi yang diperoleh dapat mendekati titik optimum (Anonimus, 1993).
Pemupukan adalah setiap usaha untuk menambah atau mencukupi                unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang serta berproduksi seperti yang diharapkan. Salah satunya adalah penggunaan pupuk Gandasil-B yang merupakan pupuk anorganik makro ataupun mikro yang berbentuk  kristal yang digunakan untuk pertumbuhan generatif yaitu pembentukan buah dan bunga.
Pupuk Gandasil B berbentuk kristal yang dilarutkan dalam air sehingga dapat dengan mudah diserap dan ditranslokasikan keseluruh bagian tanaman, sehingga mampu mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Pupuk Gandasil B merupakan salah satu pupuk bunga dan buah yang mengandung unsur hara Nitrogen 6 %, Fosfor 20%, Kalium 30% dan Magnesium 3%. Selain itu terdapat beberapa unsur hara mikro seperti Cobalt (Co), Tembaga (Cu), Boron (Br) dan Seng (Zn) serta Vitamin (PT. Kalatham, 2007)
Zat pengatur tumbuh (ZPT) memiliki peran pengendalian yang sangat penting dalam dunia tumbuhan. Kini, ZPT tanaman digunakan berbagai tujuan, diantaranya penundaan atau mempercepat pematangan buah, perangsangan perakaran, peningkatan peluruhan daun atau pentil buah, pemberantasan gulma, serta pengendalian ukuran organ (Harjadi, S. S, 2009)
Salah satunya adalah ZPT Dekamon yang merupakan suatu zat kimia yang dapat merangsang proses bio kimia dan fisiologi tanaman. Karena merangsang pertumbuhan maka zat ini diharapkan dapat menghasilkan produksi dan mutu yang lebih tinggi.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa di Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Pada bulan September sampai Desember  2009.

Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih Jagung Super Hibrida Bisi - 16, Pupuk Gandasil-B dan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon. Sedangkan alat yang digunakan adalah Cangkul, Sabit, Paku, Cat, Label, Martil, Timbangan, Gembor, Meteran, Ember, Handsprayer, alat – alat tulis dan lain-lain.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu G (Pupuk Gandasil-B) terdiri dari 4 taraf dan D (ZPT Dekamon) terdiri dari 3 taraf.

Faktor pertama pemberian Pupuk Gandasil-B :

G0 : Tanpa pemberian Pupuk Gandasil-B.
G1 : Pemberian Pupuk Gandasil-B = 5 gram/1
        liter air
G2 : Pemberian Pupuk Gandasil-B = 10 gram/1
        liter air
G3 : Pemberian Pupuk Gandasil-B = 15 gram/1
        liter air

Faktor kedua pemberian ZPT Dekamon:

D0 :  Tanpa pemberian ZPT Dekamon:
D1 :  Pemberian ZPT Dekamon = 2 ml/1 liter air
D2 :  Pemberian ZPT Dekamon = 3 ml/1 liter air


HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
Data pengamatan terhadap tinggi tanaman di analisis secara statistik. Hasil analisis sidik ragam terhadap tinggi tanaman dengan perlakuan gandasil-B dan zat pengatur tumbuh Dekamon memberikan respon nyata. Rata – rata tinggi tanaman setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 1.


Tabel 1. Rata – Rata Tinggi Tanaman dengan Perlakuan Gandasil-B dan Pengatur Tumbuh Dekamon Umur 6 minggu sudah tanam.

Faktor G
(Gandasil-B)
Faktor D
Rerata
D0
D1
D2
G0

G1

G2

G3

75,49jk

115,78de

78,5hi

102,08fg
117,97bc

114,88ef

123,16ab

112,60ef
78,99gh

81,69g

127,66a

117,77cd
90,81d

104,11bc

109,77ab

110,81a
Rerata
92,96bc
117,15a
101,52b
103,87
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.


Berdasarkan data pada tabel di atas dapat lihat bahwa semua perlakuan memberikan respon yang nyata . Hal ini diduga karena semua perlakuan yang diberikan mampu memberikan respon yang positif bagi tinggi tanaman. Faktor lain yang menyebabkan perlakuan memberikan respon yang nyata adalah cahaya, dan pada saat penelitian dilakukan tanaman mendapat intensitas cahaya yang sama. Di samping itu juga disebabkan karena sifat genetik atau keturunan lebih menonjol untuk mempengaruhi tinggi tanaman pertanaman.
Lingkungan merupakan pembentuk akhir suatu organisme, keragaman sebagai akibat faktor lingkungan dan keragaman genetik umumnya berinteraksi satu sama lain dalam mempengaruhi penampilan fenotipe tanaman.  Faktor genetik tidak akan memperlihatkan sifat yang dibawanya kecuali adanya faktor lingkungan yang diperlukan. Sebaliknya, manipulasi dan perbaikan-perbaikan terhadap faktor lingkungan tidak akan menyebabkan perkembangan dari suatu sifat, kecuali bila faktor genetik yang diperlukan terdapat pada individu tanaman yang bersangkutan (Bari et. al. 1974).
Jagung hibrida merupakan hasil perkawinan antara kedua jenis jagung yang terdiri dari galur murni, sehingga terjadi perpaduan sifat unggul Varietas hibrida mempunyai potensi hasil yang tinggi, daya adaptasi luas, pertumbuhan dan hasil tanaman lebih seragam, tahan penyakit bulai dan karat daun.  Lingkungan memberikan peranan dalam rangka penampakan karakter yang sebenarnya terkandung dalam gen tersebut.  Penampilan suatu gen masih labil, karena masih dipengaruhi oleh faktor lingkungan sehingga sering didapatkan tanaman sejenis tapi dengan karakter yang berbeda (Riani et. al., 2001).
Zat pengatur tumbuh dekamon mengandung unsur protein yang sangat dibutuhkan tanaman. Hal ini didukung oleh sutedjo(1992) yang banyak menyatakan bahwa protein unsur utama bagi pertumbuhan tanaman yang pada umumnya diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar. Hal ini sejalan dengan setyamidjaya(1986) yang menyatakan bahwa unsur Nitrogen berperan merangsang pertumbuhan vegetatif yaitu menambah tinggi tanaman.
Nitrogen dalam tanaman unsur penting sebagai penyusun asam amino, amida, nukleotida dan nukleoprotein serta essensial untuk pembelahan sel maupun pembesaran sel tanaman. Dengan adanya peranan tersebut memungkinkan persediaan unsur hara nitrogen yang optimal mengakibatkan terjadinya penambahan tinggi tanaman karena dalam kondisi yang optimum tersebut akan mendorong pembelahan maupun pembesaran sel tanaman. Defisiensi nitrogen menggangu proses pertumbuhan dan menyebabkan tanaman menjadi kerdil (Gadner dkk (1991).
Dalam pembelahan dan pembesaran sel ini, unsur nitrogen dan fosfor memiliki peranan yang cukup penting. Setyamidjaya (1986) menyatakan unsur nitrogen dan fosfor merupakan penyusun lemak dan protein, dimana lemak dan protein merupakan senyawa organik penyusun sel.
Unsur hara kalium berperan dalam memperlancar fotosintesis dan membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Peningkatan unsur kalium akan memperlancar proses fotosintesis. Semakin lancar fotosintesis akan semakin banyak karbohidrat yang dihasilkan. Dengan demikian laju pembentukan sel-sel baru akan semakin meningkat, dengan semakin banyak banyaknya sel-sel baru terbentuk pada tanaman akan menyebabkan terjadinya pertambahan tinggi tanaman (Setyamidjaya (1986).
Perlakuan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon memberikan respon nyata terhadap parameter tinggi tanaman. Hal ini diduga karena kebutuhan hormon tumbuh untuk pertumbuhan tanaman dapat dipenuhi dengan pemberian zat pengatur tumbuh dekamon. Zat yang dihasilkan oleh ujung tumbuhan dan yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman. (Dwijoseputro, 1983)
Pendapat ini didukung oleh Sach didalam Wattimena (1988) yang menyebutkan tanaman juga mengandung senyawa dimulainya proses – proses biokimia yang selanjutnya menuju pembentukan organ dan asfek – asfek pertumbuhan lainnya. Dikenal dengan senyawa – senyawa organik sebagai zat penggerak atau pemacu seperti auksin. Zat penggerak atau pemacu dikenal sebagai fitohormon yang mengawali reaksi – reaksi biokimia dan mengubah komposisi didalam tanaman. Sebagai akibat perubahan komposisi kimia terjadi pembentukan organ – organ tanaman. Pada tumbuh – tumbuhan setiap yang aktif bermetabolisme sanggup membuat hormon – hormon tumbuhan pada kondisi tertentu.

Umur Muncul Bunga (hst)
Data pengamatan terhadap umur berbunga dianalisis secara statistik. Hasil analisis sidik ragam terhadap umur berbunga dengan perlakuan gandasil-B dan zat pengatur tumbuh Dekamon memberikan respon nyata. Rata – rata umur berbunga setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada table 2.


Tabel 2. Rata – Rata Umur Berbunga dengan Perlakuan Gandasil-B dan Pengatur Tumbuh Dekamon (hst)

Faktor G
(Gandasil-B)
Faktor D
Rerata
D0
D1
D2
G0

G1

G2

G3

48,88jk

46,88ef

47,33gh

47,10fg

48,22i

45,55dcb

46,44ce

45,33bc
48,66ij

43,88a

45,32b

45,88dec
48,58d

45,43a

46,36b

46,10cba
Rerata
47,54d
46,38ab
45,93a
46,61
KK = 0,49
BNJ  GD=0,89, BNJ G = 0,56, BNJ D = 0,68
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Pada tabel 2 diatas interaksi perlakuan menunjukkan nilai yang berbeda nyata, yaitu G1D2 (43,88), berbeda sangat nyata dengan perlakuan G2D2 (45,32), tetapi perlakuan G3D1 (45,33) tidak berbeda nyata dengan perlakuan G1D1 (45,55). Keragaman hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa masing – masing interaksi perlakuan menunjukkan respon yang berbeda terhadap munculnya bunga.
Berdasarkan data pada tabel 2, dapat dilihat bahwa penghitungan umur berbunga pada tanaman mentimun berbeda nyata dimana beberapa kombinasi Perlakuan Gandasil-B (G) dan pengatur tumbuh Dekamon (D) menunjukkan respon yang berbeda dalam kemampuannya untuk mempercepat proses pembungaan pada tanaman jagung super hibrida. Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa rerata umur berbunga tercepat adalah 43,88 yang dihasilkan dari perlakuan G1D3 pada ulangan ke3. bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, cepatnya tanaman berbunga pada perlakuan tersebut menandakan bahwa perlakuan berlangsung dengan baik terhadap umur berbunga.      Dari tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa umur berbunga tercepat terdapat pada perlakuan G1(45,43) dan menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan yang lainnya.
Pemberian Gandasil-B (G) dengan dengan perlakuan G1 mampu mensuplai unsur hara dan mampu meningkatkan hasil fotosintesis melalui peningkatan jumlah klorofil dalam daun dan meningkatkan aktivitas pembelahan dan pembesaran sel. Sepanjang fase perkembangan tanaman, hasil asimilasi banyak digunakan untuk tumbuh dan berkembang dan kelebihan dari penggunaannya dapat disimpan sebagai senyawa cadangan. Pada prinsipnya apabila laju fotosintesis besar, kegiatan respirasi kecil, dan translokasi asimilat lancar maka produksi akan naik (Jumin, 1992).
Pertumbuhan jagung membutuhkan sinar matahari langsung. Intensitas cahaya sangat penting bagi tanaman terutama dalam masa pertumbuhan. Sebaiknya tanaman jagung mendapatkan sinar matahari langsung. Dengan demikian hasil yang diperoleh akan maksimal. Tanaman jagung yang ternaungi pertumbuhannya akan terhambat. Produksi biji yang dihasilkan pun kurang baik, bahkan tidak dapat berbentuk buah (Purwono,2008).
Perlakuan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon berpengaruh nyata terhadap umur berbunga. Hal ini diduga karena pemberian zat pengatur Dekamon dapat merubah jumlah klorofil daun karena bahan aktif dari dekamon berfungsi secara langsung unutk menstimulir terbentuknya klorofil  daun. Dwidjoseputro (1983) menyatakan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan klorofil adalah faktor pembawa atau genetis, cahaya, oksigen, karbohidrat, N, Mg, Mn, Cu, Zn, air dan juga mengandung N dan Na. Dimana peran utama N adalah untuk merangsang  pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, khususnya batang dan daun. Kecuali itu N juga berperan penting dalam hal pembentukan hijau daun yang berguna sekali dalam proses fotosintesa. Sedangkan Na berperan dalam pembentukan stomata untuk mengatur keseimbangan air.
Menurut Abidin (1985) bahwa zat pengatur tumbuh dengan cepat masuk kedalam tubuh tanaman, mempercepat aliran plasma dalam sel dan meningkatkan pembentukkan akar serta mengaktifkan metabolisme di dalam sel tanaman yang membantu proses fotosintesis yang aktif sehingga distribusi fotosintat dapat lebih efisien.
Setiap hibrida menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang beragam sebagai akibat dari pengaruh genetik dan lingkungan, di mana pengaruh genetik merupakan pengaruh keturunan yang dimiliki oleh setiap galur sedangkan pengaruh lingkungan adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh habitat dan kondisi lingkungan. Selanjutnya Sitompul dan Guritno (1995), menambahkan bahwa fak-tor genetis tanaman merupakan salah satu penyebab perbedaan antara tanaman satu dengan lainnya.
Selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan membentuk bermacam-macam organ. Secara umum, organ tanaman terdiri dari organ vegetatif dan organ generatif. Akar, batang, dan daun dikelompokkan sebagai organ vegetatif; sedangkan bunga, buah, dan biji digolongkan sebagai organ generatif. Organ-organ vegetatif akan terbentuk lebih awal dibandingkan dengan organ-organ generatif. Fase dimana tanaman hanya membentuk organ-organ vegetatif disebut fase pertumbuhan vegetatif.
Pertumbuhan vegetatif dicirikan dengan berbagai aktivitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang berhubungan dengan pembentukan dan pembesaran daun, pembentukan meristem apikal atau lateral dan pertumbuhannya menjadi cabang-cabang dan ekspansi system perakaran tanaman.
Pertumbuhan generatif atau pertumbuhan reproduktif dimulai dengan pembentukan bunga. Bunga kemudian berkembang menjadi buah. Biji terbentuk bersama dengan perkembangan buah. Biji terbentuk bersama dengan perkembangan buah. Pada beberapa spesies, bunga mulai terbentuk hanya dalam waktu beberapa bulan setelah ditanam. Kelompok tanaman ini secara agronomis digolongkan sebagai tanaman semusim. Pada beberapa spesies lainnya, bunga baru terbentuk setelah tanaman berumur beberapa tahun. Malah pada tanaman duku (Lansium domesticum) yang diperbanyak secara generatif, bunga terbentuk setelah tanaman berumur lebih dari 5 tahun. Kelompok tanaman yang berbunga setelah berumur beberapa tahun digolongkan sebagai tanaman tahunan.
Inisiasi bunga merupakan tahap yang sangat penting pada beberapa tanaman, karena merupakan awal yang menentukan terbentuknya organ hasil dan jumlahnya pertanaman. Perubahan tunas apikal atau aksilar dari vegetatif menjadi tunas bunga merupakan hasil dari aktivitas hormonal yang berlangsung pada tanaman tersebut yang umumnya dirangsang oleh kondisi lingkungan tertentu, misalnya  suhu dan perubahan panjang hari (lama penyinaran). Kepekaan tanaman terhadap rangsangan faktor eksternal tersebut bertambah dengan bertambahnya umur tanaman. Tanaman semusim lebih cepat terangsang, sehingga mulai berbunga setelah berumur beberapa bulan atau beberapa hari; sedangkan tanaman tahunan membutuhkan waktu yang lebih lama. Tanaman jagung hibrida termasuk tanaman semusim sehingga waktu berbunganya lebih cepat. Tanaman tahunan mungkin mulai peka terhadap rangsangan untuk berbunga setelah berumur beberapa tahun.
Perubahan tunas vegetatif menjadi tunas generatif merupakan perubahan yang sangat besar, karena struktur jaringannya menjadi berbeda sama sekali. Perubahan yang besar ini merupakan cerminan dari pemacuan kelompok gen-gen tertentu yang terpendam dalam pembentukan bunga (Guritno, 1995).

Umur Panen (hst)
Data pengamatan terhadap umur panen dianalisis secara statistik. Hasil analisis sidik ragam terhadap umur panen dengan perlakuan gandasil-B dan zat pengatur tumbuh Dekamon memberikan respon nyata. Rata – rata umur panen setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 3.



Tabel 3. Rata – Rata Umur Panen dengan dengan Perlakuan Gandasil-B dan Pengatur Tumbuh Dekamon (hst)

Faktor G
(Gandasil-B)
Faktor D
Rerata
D0
D1
D2
G0

G1

G2

G3

68,55

67,55

66,21

63,88
68,21

65,88

65,66

65,11
68,66

65,55

66,33

64,99
68,47d

66,32cb

66,06b

64,66a
Rerata
66,54
66,21
66,38
66,37
KK = 0,84
BNJ G = 1,35
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Hasil perlakuan secara interaksi yang terdapat pada tabel 3 diatas ternyata  tidak menunjukkan respon nyata terhadap umur panen akibat pertumbuhan yang lambat. Sehingga hasil penelitian yang nyata hanya tampak pada pengamatan secara tunggal. Hal ini diduga karena mikroba yang berkembang didalam tanah sudah cukup tersedia, sehingga mampu memproduksi ZPT yang dibutuhkan oleh tanaman. (Hanafiah, 2005)
Beberapa spesies tanaman hanya akan memasuki fase pertumbuhan generatif jika mendapat perlakuan lama penyinaran (panjang hari) tertentu atau suhu rendah. Dari tabel 3 diatas terlihat bahwa perlakuan ZPT Dekamon dan Gandhasil-B secara interaksi pada penelitian ini tidak berpengaruh secara nyata. Perbedaan munculnya bunga dalam perlakuan jenis tanah hanya berselang ≤1 hari saja, begitu juga pada perlakuan bokasi dan interaksi keduanya. Jadi tanaman jagung hibrida pada penelitian ini termasuk pada golongan ini yaitu tanaman yang akan memasuki pertumbuhan generatif  jika mendapat perlakuan lama penyinaran atau suhu rendah. Secara umum, bunga akan berkembang menjadi buah setelah bunga tersebut mengalami penyerbukan, yakni peristiwa dimana tepung sari jatuh pada kepala putik. Walaupun perlu diingat bahwa buah pada spesies tanaman tertentu akan tetap tumbuh membesar walaupun tidak terjadi penyerbukan. Tidak semua bunga pada satu individu tanaman akan berkembang menjadi buah, karena keberhasilan pembentukan buah ini tergantung pada proses penyerbukan dan kondisi lingkungan.
Beberapa hal yang mempengaruhi sehingga perlakuan Gandasil-B dan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon(D) menunjukkan tidak berbeda nyata terhadap parameter umur panen yaitu karena kondisi cuaca yang tidak menunjang dalam proses penuaan Pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi yaitu mengakibatkan terjadinya pencucian unsur hara yang menyebabkan produktivitas lahan menurun dan menyebabkan lambatnya tanaman mamasuki umur panen, ini terjadi karena unsur hara yang sebelumnya dalam bentuk mineral akan terhidrolisa sehingga mudah tercuci (Mulyani Sutedjo dan Kartasapoetra, 2002).
Hasil terbaik pada perlakuan Gandasil-B (G) terdapat pada perlakuan G3 : (64,66), dan hasil terendah pada perlakuan G0 (68,47). Perlakuan G1 Tidak berbeda nyata dengan perlakuan G2 dan sangat berbeda nyata terhadap  G3 dan G0.
Ketersediaan unsur hara yang terkandung didalam tanah dan curah hujan yang tinggi sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung super hibrida. Menurut Dwijoseputro (1984) menyatakan bahwa proses fotosintesis yang berjalan lancar pada tumbuhan akan menjamin perkembangan tumbuhan tersebut baik vegetatif maupun generatif. Harjadi (1989) menambahkan bahwa tanaman akan tumbuh subur bila unsur hara yang tersedia dapat diserap tanaman sesuai tingkat kebutuhan tanaman.
Perlakuan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon (D) menunjukan perbedaan yang tidak nyata terhadap umur panen. Hal ini menunjukkan bahwa masing – masing perlakuan yang diuji mempunyai kemampuan untuk menghasilkan umur panen yang sama dan masing – masing perlakuan juga mempunyai kemampuan yang hampir sama dalam penyesuaian terhadap tempat hidupnya sehingga tidak mempengaruhi umur panen pertanaman. 
Sesuai dengan pendapat Jumin (1991) bahwa dengan adanya panas yang cukup, maka proses pembentukan bunga dan buah dapat berjalan dengan sempurna yang akan memperlancar proses pembentukan karbohidrat dan akan mempercepat reaksi  - reaksi kimia atau biokimia yang akan memacu pertumbuhan menjadi lebih baik terutama dalam pembentukan buah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi umur panen tanaman.

Berat Biji Pertongkol (gr)
Data pengamatan terhadap Berat Biji Pertongkol dianalisis secara statistik. Hasil analisis sidik ragam terhadap berat biji pertongkol dengan perlakuan gandasil-B dan zat pengatur tumbuh Dekamon memberikan respon nyata. Rata – rata berat biji pertongkol setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 4.


Tabel 4. Rata – Rata Berat Biji Pertongkol dengan Perlakuan Gandasil-B dan Pengatur Tumbuh
              Dekamon (gr)

Faktor G
(Gandasil-B)
Faktor D
Rerata
D0
1
D2
G0

G1

G2

G3

205,55

255,55

255,55

261,11
211,10

283,33

300

300
200

277,77

266,66

283,33
205,55d

272,21bc

274,07ab

281,48a
Rerata
244,44
273,60
256,94
244,44
KK = 0,84
BNJ G =14,05
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ



Interaksi  perlakuan Gandasil-B (G) dan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon(D) tidak memberikan respon yang nyata  terhadap berat biji pada tanaman jagung. Diduga bahwa perlakuan yang diberikan tidak saling bebas atau dengan kata lain kedua perlakuan tersebut tidak saling mempengaruhi. Dimana Gandasil-B (G) merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur Nitrogen, Phosfat dan Kalium yang sangat berperan dalam kegiatan metabolisme. Menurut Salisbury dan Ross (1995) yang menyatakan bahwa dua kelompok yaitu yang berperan dalam struktur suatu senyawa penting dan berperan dalam mengaktifkan enzim. Karena beberapa unsur menjadi bagian dari struktur enzim esensial dan juga membantu mengkatalis reaksi kimia yang diperankan oleh enzim adalah magnesium yang menjadi bagian struktur molekul klorofil serta mengaktifkan banyak enzim. Oleh sebab itu perlakuan Berat Biji Pertongkol tidak memberikan respon yang nyata terhadap jagung super hibrida.
Berdasarkan data pada tabel 4 diatas, dapat dilihat bahwa berat biji pertongkol pada tanaman jagung super hibrida berbeda nyata dimana beberapa perlakuan Gandasil-B (G) mampu meningkatkan dan memperbanyak berat biji pada jagung super hibrida. Jumlah biji terbanyak terdapat pada perlakuan G3 (281,48) sedangkan jumlah biji terendah terdapat pada perlakuan G0(205,55).
Harjadi (2009) mengemukakan bahwa peningkatan berat buah dapat terjadi apabila fotosintesis lebih besar dari pada respirasi sehingga terjadi penumpukan bahan organik di dalam jaringan tanaman dalam jumlah yang cukup oleh karenanya unsur hara yang ada didalam tanah harus cukup tersedia bagi tanaman.
Pemberian pupuk yang seimbang juga mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman sesuai pendapat Soegiman (1982) menegaskan bahwa tidak seimbangnya takaran pupuk yang diberikan dapat menurunkan hasil bagi tanaman yang dibudidayakan.
Menurut Sarief (1986) tanaman yang kekurangan unsur hara akan mengakibatkan perkembangannya lebih lambat tetapi sebaliknya apabila unsur hara yang diberikan dalam jumlah besar maka dapat merusak tanaman itu sendiri.
Perlakuan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon (D) menunjukan perbedaan yang tidak nyata terhadap berat biji pertongkol. Hal ini menunjukkan bahwa setiap perlakuan yang diuji mempunyai kemampuan memproduksi berat biji yang sama dan settiap perlakuan juga mempunyai kemampuan yang hampir sama dalam penyesuaian terhadap tempat hidupnya sehingga tidak mempengaruhi berat biji pertongkol. 
Zat Pengatur Tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik yang bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung (promote), menghambat (inhibit) dan dapat mengubah proses fisiologi tumbuhan (Abidin,1982).
Persaingan antar tanaman menyebabkan masing-masing tanaman harus tumbuh lebih tinggi agar memperoleh cahaya lebih banyak (Salisbury dan Ross, 1995). Pemanjangan batang pada tanaman sering menguntungkan dalam persaingan memperebutkan cahaya matahari, tetapi tidak demikian halnya pada pertanaman bebijian yang seragam. Peningkatan hasil biji diperoleh pada kultivar kerdil atau semi-kerdil yang mengalokasikan lebih banyak fotosintat ke biji daripada ke batang. Keuntungan lain ialah kultivar ini tidak akan rebah dibandingkan kultivar yang jangkung terutama jika dipupuk banyak nitrogen (Salisbury dan Ross, 1995).
Hasil biji yang rendah dari kebanyakan varietas jagung tropik disebabkan oleh pembagian bahan kering total ke biji yang rendah (Goldsworthy dan Colegrove cit. Fischer dan Palmer, 1995). Aliran relatif dan remobilisasi C dan N ke biji selama pengisian biji tergantung pada nisbah sumber/lubuk tertentu pada tanaman. Nisbah sumber/lubuk tergantung pada genotipe dan kombinasi lingkungan yang dapat diubah oleh faktor manajemen tanaman seperti waktu tanam, kerapatan populasi, unsur hara, air, dll.

Jumlah Biji Pertongkol (gr)
Data pengamatan terhadap Produksi Biji Pertongkol dianalisis secara statistik. Hasil analisis sidik ragam terhadap persentase putik jadi buah dengan perlakuan gandasil-B dan zat pengatur tumbuh Dekamon memberikan respon nyata.  Rata – rata Produksi Biji Pertongkol setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 5.








Tabel 5. Rata – Rata Jumlah Biji Pertongkol dengan Perlakuan Gandasil-B dan Pengatur Tumbuh Dekamon (gr)

Faktor G
(Gandasil-B)
Faktor D
Rerata
D0
D1
D2
G0

G1

G2

G3

611,11

678,88

694,44

698,88
616,66

703,33

698,88

705,55
616,66

697,77

704,44

705,5
614,81d

693,32bc

699,25ab

703,31a
Rerata
670,82
681,10
681,09
677,39
KK =3,59
BNJ G = 22,68
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.


Pada tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa Interaksi Perlakuan Gandasil-B (G) dan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon(D) tidak memberikan respon yang nyata terhadap pengamatan jumlah biji pertongkol. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif tanaman yang relatif  yang sama sehingga mengakibatkan alokasi fotosintat dan penumpukan fotosintat berbeda tidak nyata yang akan digunakan untuk pembentukan dan mempertahankan bunga, seperti yang terlihat pada tabel 5 dimana berat biji perplot  tidak berbada nyata. Menurut Hidayat (1985) besar kecilnya jumlah biji pertongkol dipengaruhi oleh faktor – faktor pendukung seperti tinggi tanaman, berat kering, jumlah hasil fotosintesis dan intensitas cahaya.
Hasil terbaik pada perlakuan Gandasil-B (G) terdapat pada perlakuan (G3 : 703,31), dan hasil terendah pada perlakuan G0 (614,81). Perlakuan G1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan G2,tapi berbeda nyata dengan perlakuan G3, dan sangat berbeda nyata terhadap G0. Hal ini tentunya berkaitan dengan peranan Gandasil-B (G yang demikian penting dalam menyediakan unsur hara sehingga jumlah biji pertongkol  tanaman jagung super hibrida melihatkan respon yang nyata.
Pupuk Gandasil B berbentuk kristal yang dilarutkan dalam air sehingga dapat dengan mudah diserap dan ditranslokasikan keseluruh bagian tanaman, sehingga mampu mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman .Pupuk Gandasil B merupakan salah satu pupuk daun yang mengandung unsur hara Nitrogen 6 %, Fosfor 20%, Kalium 30% dan Magnesium 3%. Selain itu terdapat beberapa unsur hara mikro seperti Cobalt (Co), Tembaga (Cu), Boron (Br) dan Seng (Zn) serta Vitamin (Lingga, 1994).
Pada tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa perlakuan tunggal Zat pengatur tumbuh Dekamon tidak memberikan respon yang nyata terhadap jumlah biji pertongkol. Namun dapat dilihat angka tertinggi terdapat pada perlakuan D1(681,10) sedangkan angka terendah pada perlakuan D0 (670).
Perlakuan zat pengatur tumbuh Dekamon berpengaruh tidak  nyata dalam peningkatan jumlah biji pertongkol, Hal ini diduga zat pengatur tumbuh Dekamon belum mampu mempengaruhi aktivitas metabolisme dalam meningkatkan jumlah biji pertongkol. Hal ini disebabkan karena faktor genetik tanaman jauh pengaruhnya dibandingkan dengan faktor luar tanaman, sehingga tanaman itu sendiri akan menghasilkan jumlah biji pertongkol relatif sama. Pendapat ini didukung oleh Gardner dkk (1991) menyatakan bahwa jumlah biji pertongkol dipengaruhi oleh faktor genotif terutama posisi daun. Hal ini dapat dijelaskan dengan pernyataan bahwa duduk daun pada batang merata sepanjang batang, tersusun dalam spiral yang memutar dalam rumus tertentu yang ditentukan secara genetis.
Ukuran dan laju pembesaran ovary umumnya bervariasi tergantung pada posisinya pada batang. Hal ini menyebabkan perbedaan ukuran buah dan biji setelah organ-organ ini matang. Ukuran biji rata-rata untuk kultivar tanaman tertentu umumnya tidak terlalu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tetapi jumlah biji per individu tanaman dapat terpengaruh secara nyata. Ukuran biji agaknya lebih dikendalikan oleh faktor genetik daripada faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang diketahui dapat mempengaruhi ukuran biji adalah kondisi kekeringan. Ukuran buah, berbeda dengan biji, lebih dipengaruhi oleh kondisi lingkungan selama perkembangannya, terutama buah yang mengandung banyak biji (multi-seedes) dan buah berdaging (fleshy fruit).

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Pemberian perlakuan Gandasil-B (G) memberikan respon yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman (cm), umur berbunga (hst), umur panen (hst), jumlah biji pertongkol (biji), berat biji perplot(gr) (G) yaitu G3 (281,48).
2.      Pemberian perlakuan zat pengatur tumbuh Dekamon (D) memberikan respon yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman(cm),  dan umur berbunga (hst) (D) yaitu D2 (45,93).
3.      Interaksi perlakuan Gandasil-B (G) dan zat pengatur tumbuh Dekamon (D)  memberikan respon yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman dan umur berbunga.
4.      Dari parameter yang telah diamati menunjukkan bahwa perlakuan terbaik secara interaksi terdapat pada parameter pengamatan umur berbunga yaitu perlakuan G1D3 (43,88).

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, 1985. Dasar-dasar pengetahuan tentang Zat Pengatur Tumbuh, Angkasa, Bandung.
Anonimus. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Anonimus. 2008. Badan Statistik Propinsi Riau. Pekanbaru
Anonimus. 1993. Kenali Bahan Aktif ZPT Sebelum Memakainya. Tim Trubus. Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2008, Survei Lapangan Produksi Jagung. Kabupaten Kuantan Singingi.
Dinas Tanaman Pangan Propinsi Riau. 2008, Prospek dan Peluang Agrobisnis Jagung. Pekanbaru.
Dwijoseputro, D. 1984. Pengantar Fisisologi Tumbuhan. PT. Gramedia
Garner,pearce dan Mitchell. 1991. Priciple of genetics. Six edition, Jhon willey & Sons. New York
Hanafiah,A,K,Anas,I, Napoleon, A,Ghoffan,N. 2005. Biologi Tanah Ekologi dan Mikrobiologi Tanah. Rajawali Press.Jakarta
Harjadi, S. S. 2009. Zat Pengatur Tumbuh. Penebar Swadaya. Jakarta.
Heddy, S. 1983. Hormon Tumbuhan. PT. Grafindo Persada. Jakarta.
Jumin, H. B. Ekofisioligi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers. Jakarta
Kusumo, S., 1990. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Jasaguna. Jakarta.

L. Marbandono. HS, 2003, Membuat Kompos, Penebar Swadaya, Jakarta.
Lingga. P. 1991. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta
Purwono, Hartono. R. 2008. Bertanam Jagung Unggul.  Penebar Swadaya. Jakarta
Soegiman. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara. Jakarta
Sutedjo, M. Kartasapoetra. 2002. Pengetahuan Ilmu Tanah Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian  Edisi Revisi. Rineka Cipta. Jakarta
Syarief. S, 1989. Kesuburan Dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Jakarta.
Thamrin, H. 2007. Pengaruh Pemberian Limbah Sawit Dan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis queineensis Jacg) Di Main Nusery. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Unggulan Swarnadwipa. Kabupaten Kuantan Singingi.
PT. Kalatham. 2007. Pupuk Gandasil-B. PT. Klatham. Jakarta.
Wattimena. G4. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Institut Pertanian Bogor. Bogor.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar