RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea mays L) SUPER HIBRIDA BISI - 16
TERHADAP PEMBERIAN PUPUK GANDASIL-B DAN ZAT PENGATUR TUMBUH DEKAMON
INDAH FIDDIANTI
Program Studi Agroteknologi, Sekolah
Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake
Teluk Kuantan, Riau.
ABSTRAK
Penelitian
ini berjudul Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea mays L) Super
Hibrida Bisi – 16 terhadap Pemberian Pupuk Gandasil-B dan Zat Pengatur Tumbuh
Dekamon. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tanaman jagung (Zea mays L) Super
Hibrida Bisi – 16 terhadap pemberian pupuk Gandasil-B dan zat pengatur tumbuh
Dekamon, baik secara tunggal
maupun interaksi. Penelitian ini telah dilaksanakan di Pulau Komang Sentajo Kecamatan Kuantan Tengah
Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini dilaksanakan bulan September sampai
Desember 2009. Penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari yaitu G (Pupuk
Gandasil-B) terdiri dari 4 taraf dan D (ZPT
Dekamon) terdiri
dari 3 taraf. Faktor pertama pemberian Pupuk
Gandasil-B (G) : G0
(kontrol), G1 : 5 gram/1 lite air, G2 : 10 gram/1 liter air, G3 : 15
gram/1 liter air. Faktor kedua pemberian
ZPT Dekamon (D): D0 : (kontrol), D1 : 2
ml/1 liter air, D2 : 3 ml/1 liter air. Data akhir dianalisis
secara statistik, dan apabila F hitung lebih besar
dari tabel, maka dilanjutkan dengan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Dari hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa secara interaksi berbeda nyata terhadap tanaman jagung super hibrida terdapat
pada pengamatan tinggi tanaman dan umur
berbunga (hst), sedangkan secara tunggal pemberian Gandasil-B yang berbeda nyata
terhadap tinggi tanaman, umur berbunga (hst), umur panen (hst), jumlah biji pertongkol
(biji) dan perlakuan zat pengatur tumbuh dekamon secara tunggal yang memberikan respon nyata terhadap
tinggi tanaman umur berbunga dan berat biji per plot (gr).
Keyword :
pupuk , hibrida, zat pengatur tumbuh
PENDAHULUAN
Jagung termasuk tanaman serealia yang dapat tumbuh
baik di daerah tropis maupun sub tropis. Kandungan gizi yang dominan terdapat
didalamnya adalah karbohidrat dan merupakan sumber bahan pangan kedua setelah
beras. Dibeberapa daerah, jagung bahkan dijadikan sebagai perubahan pangan
utama pengganti beras (Dinas Tanaman Pangan Propinsi Riau 2008).
Pemanfaatan tanaman jagung tidak saja dikonsumsi sebagai
bahan pangan, tetapi juga untuk bahan pakan ternak dan kebutuhan industri hulu
maupun hilir. Permintaan jagung terhadap kebutuhan diatas mengalami
peningkatan, sementara ketersediaannya masih terbatas. Upaya untuk mencukupi kebutuhan telah dilakukan baik melalui
perluasan lahan penanaman maupun dengan meningkatkan produktivitas (Dinas
Tanaman Pangan Propinsi Riau 2008).
Di
Kabupaten Kuantan Singingi produksi jagung dari tahun ke tahun mengalami
kenaikan dan penurunan. Pada akhir tahun 2003 produksi jagung 14.581 ton,
produksi jagung mengalami peningkatan pada tahun 2004 produksi jagung menjadi
19.185 ton, pada tahun 2005 produksi jagung mengalami penurunan menjadi 16.524 ton, pada tahun 2006 prokdusi
jagung terus menurun menjadi 15.539 ton, pada akhir tahun 2007 produksi jagung
naik kembali yaitu menjadi 18.379 ton (Badan Pusat Statistik, 2008).
Penggunaan lahan kering untuk pertanaman jagung di
Propinsi Riau masih berpeluang cukup besar karena sebagian sudah ditanami
tanaman perkebunan dan banyak juga yang ditumbuhi alang-alang. Bila ditinjau
dari aspek sumberdaya alam di Propinsi Riau, potensi lahan kering baru mencapai
662.880 hektar. Namun sejauh ini produktivitas jagung di lahan kering baru
mencapai 2,169 ton/hektar. Produktivitas ini masih rendah bila dibandingkan
dengan produktivitas hasil penelitian yang mencapai 3,5 – 5 ton/hektar. Hal ini
disebabkan masih rendahnya teknik budidaya yang diterapkan petani, varietas
yang digunakan juga berdaya hasil rendah,serta pemupukan dan penggunaan ZPT
(Dinas Tanaman Pangan Propinsi Riau 2008).
Produksi jagung dapat ditingkatkan dengan penambahan
pupuk ataupun unsur hara. Penggunaan pupuk sangat baik dilakukan dengan
mempertimbangkan kebutuhan hara selama tahap pertumbuhannya, sehingga produksi
yang diperoleh dapat mendekati titik optimum (Anonimus, 1993).
Pemupukan adalah setiap usaha untuk menambah atau
mencukupi unsur-unsur hara
yang dibutuhkan tanaman agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang serta
berproduksi seperti yang diharapkan. Salah satunya adalah penggunaan pupuk
Gandasil-B yang merupakan pupuk anorganik makro ataupun mikro yang
berbentuk kristal yang digunakan untuk
pertumbuhan generatif yaitu pembentukan buah dan bunga.
Pupuk
Gandasil B berbentuk kristal yang dilarutkan dalam air sehingga dapat dengan
mudah diserap dan ditranslokasikan keseluruh bagian tanaman, sehingga mampu
mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Pupuk Gandasil B
merupakan salah satu pupuk bunga dan buah yang mengandung unsur hara Nitrogen 6
%, Fosfor 20%, Kalium 30% dan Magnesium 3%. Selain itu terdapat beberapa unsur
hara mikro seperti Cobalt (Co), Tembaga (Cu), Boron (Br) dan Seng (Zn) serta
Vitamin (PT. Kalatham, 2007)
Zat pengatur tumbuh (ZPT) memiliki peran pengendalian
yang sangat penting dalam dunia tumbuhan. Kini, ZPT tanaman digunakan berbagai
tujuan, diantaranya penundaan atau mempercepat pematangan buah, perangsangan
perakaran, peningkatan peluruhan daun atau pentil buah, pemberantasan gulma,
serta pengendalian ukuran organ (Harjadi, S. S, 2009)
Salah satunya adalah ZPT Dekamon yang merupakan suatu
zat kimia yang dapat merangsang proses bio kimia dan fisiologi tanaman. Karena
merangsang pertumbuhan maka zat ini diharapkan dapat menghasilkan produksi dan
mutu yang lebih tinggi.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian
ini telah dilaksanakan di Desa di Pulau
Komang Sentajo Kecamatan Kuantan Tengah
Kabupaten Kuantan Singingi. Pada bulan September
sampai Desember 2009.
Bahan dan alat
Bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih Jagung
Super Hibrida Bisi - 16, Pupuk
Gandasil-B dan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon. Sedangkan
alat yang digunakan adalah Cangkul, Sabit, Paku, Cat, Label, Martil, Timbangan, Gembor, Meteran, Ember, Handsprayer, alat –
alat tulis dan lain-lain.
Metode Penelitian
Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Rancangan Acak Kelompok (RAK)
Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu G
(Pupuk Gandasil-B) terdiri
dari 4 taraf dan D (ZPT Dekamon) terdiri dari 3 taraf.
Faktor
pertama pemberian Pupuk Gandasil-B :
G0
: Tanpa pemberian Pupuk Gandasil-B.
G1
: Pemberian Pupuk Gandasil-B = 5 gram/1
liter air
G2
: Pemberian Pupuk Gandasil-B = 10 gram/1
liter air
G3
: Pemberian Pupuk Gandasil-B = 15 gram/1
liter air
Faktor
kedua pemberian ZPT Dekamon:
D0
: Tanpa pemberian
ZPT Dekamon:
D1
: Pemberian ZPT Dekamon = 2
ml/1 liter air
D2
: Pemberian ZPT Dekamon = 3
ml/1 liter air
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi
Tanaman (cm)
Data
pengamatan terhadap tinggi tanaman di analisis secara statistik. Hasil analisis
sidik ragam terhadap tinggi tanaman dengan perlakuan gandasil-B dan zat
pengatur tumbuh Dekamon memberikan respon nyata. Rata – rata tinggi tanaman
setelah diuji dengan BNJ pada taraf 5%
dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1.
Rata – Rata Tinggi Tanaman dengan Perlakuan Gandasil-B dan Pengatur Tumbuh
Dekamon Umur 6 minggu sudah tanam.
|
Faktor G
(Gandasil-B)
|
Faktor D
|
Rerata
|
||
|
D0
|
D1
|
D2
|
||
|
G0
G1
G2
G3
|
75,49jk
115,78de
78,5hi
102,08fg
|
117,97bc
114,88ef
123,16ab
112,60ef
|
78,99gh
81,69g
127,66a
117,77cd
|
90,81d
104,11bc
109,77ab
110,81a
|
|
Rerata
|
92,96bc
|
117,15a
|
101,52b
|
103,87
|
Angka – angka yang ikuti
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Berdasarkan
data pada tabel di atas dapat lihat bahwa semua perlakuan memberikan respon
yang nyata . Hal ini diduga karena semua perlakuan yang diberikan mampu
memberikan respon yang positif bagi tinggi tanaman. Faktor lain yang
menyebabkan perlakuan memberikan respon yang nyata adalah cahaya, dan pada saat
penelitian dilakukan tanaman mendapat intensitas cahaya yang sama. Di samping
itu juga disebabkan karena sifat genetik atau keturunan lebih menonjol untuk
mempengaruhi tinggi tanaman pertanaman.
Lingkungan
merupakan pembentuk akhir suatu organisme, keragaman sebagai akibat faktor
lingkungan dan keragaman genetik umumnya berinteraksi satu sama lain dalam
mempengaruhi penampilan fenotipe tanaman.
Faktor genetik tidak akan memperlihatkan sifat yang dibawanya kecuali
adanya faktor lingkungan yang diperlukan. Sebaliknya, manipulasi dan
perbaikan-perbaikan terhadap faktor lingkungan tidak akan menyebabkan
perkembangan dari suatu sifat, kecuali bila faktor genetik yang diperlukan
terdapat pada individu tanaman yang bersangkutan (Bari et. al. 1974).
Jagung
hibrida merupakan hasil perkawinan antara kedua jenis jagung yang terdiri dari
galur murni, sehingga terjadi perpaduan sifat unggul Varietas hibrida mempunyai
potensi hasil yang tinggi, daya adaptasi luas, pertumbuhan dan hasil tanaman
lebih seragam, tahan penyakit bulai dan karat daun. Lingkungan memberikan peranan dalam rangka
penampakan karakter yang sebenarnya terkandung dalam gen tersebut. Penampilan suatu gen masih labil, karena
masih dipengaruhi oleh faktor lingkungan sehingga sering didapatkan tanaman
sejenis tapi dengan karakter yang berbeda (Riani et. al., 2001).
Zat
pengatur tumbuh dekamon mengandung unsur protein yang sangat dibutuhkan
tanaman. Hal ini didukung oleh sutedjo(1992) yang banyak menyatakan bahwa
protein unsur utama bagi pertumbuhan tanaman yang pada umumnya diperlukan untuk
pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan
akar. Hal ini sejalan dengan setyamidjaya(1986) yang menyatakan bahwa unsur
Nitrogen berperan merangsang pertumbuhan vegetatif yaitu menambah tinggi
tanaman.
Nitrogen
dalam tanaman unsur penting sebagai penyusun asam amino, amida, nukleotida dan
nukleoprotein serta essensial untuk pembelahan sel maupun pembesaran sel
tanaman. Dengan adanya peranan tersebut memungkinkan persediaan unsur hara
nitrogen yang optimal mengakibatkan terjadinya penambahan tinggi tanaman karena
dalam kondisi yang optimum tersebut akan mendorong pembelahan maupun pembesaran
sel tanaman. Defisiensi nitrogen menggangu proses pertumbuhan dan menyebabkan
tanaman menjadi kerdil (Gadner dkk (1991).
Dalam
pembelahan dan pembesaran sel ini, unsur nitrogen dan fosfor memiliki peranan
yang cukup penting. Setyamidjaya (1986) menyatakan unsur nitrogen dan fosfor
merupakan penyusun lemak dan protein, dimana lemak dan protein merupakan
senyawa organik penyusun sel.
Unsur
hara kalium berperan dalam memperlancar fotosintesis dan membantu pembentukan
protein dan karbohidrat. Peningkatan unsur kalium akan memperlancar proses
fotosintesis. Semakin lancar fotosintesis akan semakin banyak karbohidrat yang
dihasilkan. Dengan demikian laju pembentukan sel-sel baru akan semakin
meningkat, dengan semakin banyak banyaknya sel-sel baru terbentuk pada tanaman
akan menyebabkan terjadinya pertambahan tinggi tanaman (Setyamidjaya (1986).
Perlakuan
Zat Pengatur Tumbuh Dekamon memberikan respon nyata terhadap parameter tinggi
tanaman. Hal ini diduga karena kebutuhan hormon tumbuh untuk pertumbuhan
tanaman dapat dipenuhi dengan pemberian zat pengatur tumbuh dekamon. Zat yang dihasilkan
oleh ujung tumbuhan dan yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman.
(Dwijoseputro, 1983)
Pendapat
ini didukung oleh Sach didalam Wattimena (1988) yang menyebutkan tanaman juga
mengandung senyawa dimulainya proses – proses biokimia yang selanjutnya menuju
pembentukan organ dan asfek – asfek pertumbuhan lainnya. Dikenal dengan senyawa
– senyawa organik sebagai zat penggerak atau pemacu seperti auksin. Zat
penggerak atau pemacu dikenal sebagai fitohormon yang mengawali reaksi – reaksi
biokimia dan mengubah komposisi didalam tanaman. Sebagai akibat perubahan
komposisi kimia terjadi pembentukan organ – organ tanaman. Pada tumbuh –
tumbuhan setiap yang aktif bermetabolisme sanggup membuat hormon – hormon
tumbuhan pada kondisi tertentu.
Umur Muncul
Bunga (hst)
Data
pengamatan terhadap umur berbunga dianalisis secara statistik. Hasil analisis
sidik ragam terhadap umur berbunga dengan perlakuan gandasil-B dan zat pengatur
tumbuh Dekamon memberikan respon nyata. Rata – rata umur berbunga setelah diuji dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada
table 2.
Tabel 2.
Rata – Rata Umur Berbunga dengan Perlakuan Gandasil-B dan Pengatur Tumbuh
Dekamon (hst)
|
Faktor G
(Gandasil-B)
|
Faktor D
|
Rerata
|
||
|
D0
|
D1
|
D2
|
||
|
G0
G1
G2
G3
|
48,88jk
46,88ef
47,33gh
47,10fg
|
48,22i
45,55dcb
46,44ce
45,33bc
|
48,66ij
43,88a
45,32b
45,88dec
|
48,58d
45,43a
46,36b
46,10cba
|
|
Rerata
|
47,54d
|
46,38ab
|
45,93a
|
46,61
|
|
KK = 0,49
|
BNJ GD=0,89, BNJ G = 0,56, BNJ D = 0,68
|
|||
Angka – angka yang ikuti
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Pada
tabel 2 diatas interaksi perlakuan menunjukkan nilai yang berbeda nyata, yaitu
G1D2 (43,88),
berbeda sangat nyata dengan perlakuan G2D2 (45,32),
tetapi perlakuan G3D1 (45,33) tidak berbeda nyata dengan
perlakuan G1D1 (45,55).
Keragaman hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa masing – masing interaksi
perlakuan menunjukkan respon yang berbeda terhadap munculnya bunga.
Berdasarkan
data pada tabel 2, dapat dilihat bahwa penghitungan umur berbunga pada tanaman
mentimun berbeda nyata dimana beberapa kombinasi Perlakuan Gandasil-B (G) dan
pengatur tumbuh Dekamon (D) menunjukkan respon yang berbeda dalam kemampuannya
untuk mempercepat proses pembungaan pada tanaman jagung super hibrida. Pada
penelitian ini dapat dilihat bahwa rerata umur berbunga tercepat adalah 43,88
yang dihasilkan dari perlakuan G1D3 pada ulangan ke3. bila dibandingkan dengan
perlakuan lainnya, cepatnya tanaman berbunga pada perlakuan tersebut menandakan
bahwa perlakuan berlangsung dengan baik terhadap umur berbunga. Dari
tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa umur berbunga tercepat terdapat pada
perlakuan G1(45,43) dan menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan yang
lainnya.
Pemberian
Gandasil-B (G) dengan dengan perlakuan G1 mampu mensuplai unsur hara dan mampu
meningkatkan hasil fotosintesis melalui peningkatan jumlah klorofil dalam daun
dan meningkatkan aktivitas pembelahan dan pembesaran sel. Sepanjang fase
perkembangan tanaman, hasil asimilasi banyak digunakan untuk tumbuh dan
berkembang dan kelebihan dari penggunaannya dapat disimpan sebagai senyawa
cadangan. Pada prinsipnya apabila laju fotosintesis besar, kegiatan respirasi
kecil, dan translokasi asimilat lancar maka produksi akan naik (Jumin, 1992).
Pertumbuhan jagung membutuhkan sinar
matahari langsung. Intensitas cahaya sangat penting bagi tanaman terutama dalam
masa pertumbuhan. Sebaiknya tanaman jagung mendapatkan sinar matahari langsung.
Dengan demikian hasil yang diperoleh akan maksimal. Tanaman jagung yang ternaungi
pertumbuhannya akan terhambat. Produksi biji yang dihasilkan pun kurang baik,
bahkan tidak dapat berbentuk buah (Purwono,2008).
Perlakuan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon berpengaruh
nyata terhadap umur berbunga. Hal ini diduga karena pemberian zat pengatur Dekamon
dapat merubah jumlah klorofil daun karena bahan aktif dari dekamon berfungsi
secara langsung unutk menstimulir terbentuknya klorofil daun. Dwidjoseputro (1983) menyatakan bahwa
faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan klorofil adalah faktor pembawa
atau genetis, cahaya, oksigen, karbohidrat, N, Mg, Mn, Cu, Zn, air dan juga
mengandung N dan Na. Dimana peran utama N adalah untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan,
khususnya batang dan daun. Kecuali itu N juga berperan penting dalam hal
pembentukan hijau daun yang berguna sekali dalam proses fotosintesa. Sedangkan
Na berperan dalam pembentukan stomata untuk mengatur keseimbangan air.
Menurut Abidin (1985) bahwa zat pengatur tumbuh dengan
cepat masuk kedalam tubuh tanaman, mempercepat aliran plasma dalam sel dan
meningkatkan pembentukkan akar serta mengaktifkan metabolisme di dalam sel
tanaman yang membantu proses fotosintesis yang aktif sehingga distribusi
fotosintat dapat lebih efisien.
Setiap
hibrida menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang beragam sebagai akibat dari
pengaruh genetik dan lingkungan, di mana pengaruh genetik merupakan pengaruh
keturunan yang dimiliki oleh setiap galur sedangkan pengaruh lingkungan adalah
pengaruh yang ditimbulkan oleh habitat dan kondisi lingkungan. Selanjutnya
Sitompul dan Guritno (1995), menambahkan bahwa fak-tor genetis tanaman
merupakan salah satu penyebab perbedaan antara tanaman satu dengan lainnya.
Selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan
membentuk bermacam-macam organ. Secara umum, organ tanaman terdiri dari organ
vegetatif dan organ generatif. Akar, batang, dan daun dikelompokkan sebagai
organ vegetatif; sedangkan bunga, buah, dan biji digolongkan sebagai organ
generatif. Organ-organ vegetatif akan terbentuk lebih awal dibandingkan dengan
organ-organ generatif. Fase dimana tanaman hanya membentuk organ-organ
vegetatif disebut fase pertumbuhan vegetatif.
Pertumbuhan vegetatif dicirikan dengan berbagai aktivitas
pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang berhubungan dengan pembentukan dan pembesaran
daun, pembentukan meristem apikal atau lateral dan pertumbuhannya menjadi
cabang-cabang dan ekspansi system perakaran tanaman.
Pertumbuhan generatif atau pertumbuhan reproduktif
dimulai dengan pembentukan bunga. Bunga kemudian berkembang menjadi buah. Biji
terbentuk bersama dengan perkembangan buah. Biji terbentuk bersama dengan
perkembangan buah. Pada beberapa spesies, bunga mulai terbentuk hanya dalam
waktu beberapa bulan setelah ditanam. Kelompok tanaman ini secara agronomis
digolongkan sebagai tanaman semusim. Pada beberapa spesies lainnya, bunga baru
terbentuk setelah tanaman berumur beberapa tahun. Malah pada tanaman duku (Lansium domesticum) yang diperbanyak
secara generatif, bunga terbentuk setelah tanaman berumur lebih dari 5 tahun.
Kelompok tanaman yang berbunga setelah berumur beberapa tahun digolongkan
sebagai tanaman tahunan.
Inisiasi bunga merupakan tahap yang sangat penting pada
beberapa tanaman, karena merupakan awal yang menentukan terbentuknya organ
hasil dan jumlahnya pertanaman. Perubahan tunas apikal atau aksilar dari
vegetatif menjadi tunas bunga merupakan hasil dari aktivitas hormonal yang
berlangsung pada tanaman tersebut yang umumnya dirangsang oleh kondisi
lingkungan tertentu, misalnya suhu dan
perubahan panjang hari (lama penyinaran). Kepekaan tanaman terhadap rangsangan
faktor eksternal tersebut bertambah dengan bertambahnya umur tanaman. Tanaman
semusim lebih cepat terangsang, sehingga mulai berbunga setelah berumur
beberapa bulan atau beberapa hari; sedangkan tanaman tahunan membutuhkan waktu
yang lebih lama. Tanaman jagung hibrida termasuk tanaman semusim sehingga waktu
berbunganya lebih cepat. Tanaman tahunan mungkin mulai peka terhadap rangsangan
untuk berbunga setelah berumur beberapa tahun.
Perubahan tunas vegetatif menjadi tunas generatif
merupakan perubahan yang sangat besar, karena struktur jaringannya menjadi
berbeda sama sekali. Perubahan yang besar ini merupakan cerminan dari pemacuan
kelompok gen-gen tertentu yang terpendam dalam pembentukan bunga
(Guritno, 1995).
Umur
Panen
(hst)
Data
pengamatan terhadap umur panen dianalisis secara statistik. Hasil analisis
sidik ragam terhadap umur panen dengan perlakuan gandasil-B dan zat pengatur
tumbuh Dekamon memberikan respon nyata. Rata – rata umur panen setelah diuji dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada
tabel 3.
Tabel 3. Rata – Rata Umur Panen dengan dengan Perlakuan Gandasil-B
dan Pengatur Tumbuh Dekamon (hst)
|
Faktor G
(Gandasil-B)
|
Faktor D
|
Rerata
|
||
|
D0
|
D1
|
D2
|
||
|
G0
G1
G2
G3
|
68,55
67,55
66,21
63,88
|
68,21
65,88
65,66
65,11
|
68,66
65,55
66,33
64,99
|
68,47d
66,32cb
66,06b
64,66a
|
|
Rerata
|
66,54
|
66,21
|
66,38
|
66,37
|
|
KK = 0,84
|
BNJ G = 1,35
|
|||
Angka – angka yang ikuti
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Hasil
perlakuan secara interaksi yang terdapat pada tabel 3 diatas ternyata tidak menunjukkan respon nyata terhadap umur
panen akibat pertumbuhan yang lambat. Sehingga hasil penelitian yang nyata
hanya tampak pada pengamatan secara tunggal. Hal ini diduga karena mikroba yang
berkembang didalam tanah sudah cukup tersedia, sehingga mampu memproduksi ZPT
yang dibutuhkan oleh tanaman. (Hanafiah, 2005)
Beberapa spesies tanaman hanya akan memasuki fase
pertumbuhan generatif jika mendapat perlakuan lama penyinaran (panjang hari)
tertentu atau suhu rendah. Dari tabel 3 diatas terlihat bahwa perlakuan ZPT
Dekamon dan Gandhasil-B secara interaksi pada penelitian ini tidak berpengaruh
secara nyata. Perbedaan munculnya bunga dalam perlakuan jenis tanah hanya berselang
≤1 hari saja, begitu juga pada perlakuan bokasi dan interaksi keduanya. Jadi
tanaman jagung hibrida pada penelitian ini termasuk pada golongan ini yaitu
tanaman yang akan memasuki pertumbuhan generatif jika mendapat perlakuan lama penyinaran atau
suhu rendah. Secara umum, bunga akan berkembang menjadi buah setelah bunga
tersebut mengalami penyerbukan, yakni peristiwa dimana tepung sari jatuh pada
kepala putik. Walaupun perlu diingat bahwa buah pada spesies tanaman tertentu
akan tetap tumbuh membesar walaupun tidak terjadi penyerbukan. Tidak semua
bunga pada satu individu tanaman akan berkembang menjadi buah, karena
keberhasilan pembentukan buah ini tergantung pada proses penyerbukan dan
kondisi lingkungan.
Beberapa
hal yang mempengaruhi sehingga perlakuan Gandasil-B dan Zat Pengatur Tumbuh
Dekamon(D) menunjukkan tidak berbeda nyata terhadap parameter umur panen yaitu
karena kondisi cuaca yang tidak menunjang dalam proses penuaan Pengaruh buruk
yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi yaitu mengakibatkan terjadinya
pencucian unsur hara yang menyebabkan produktivitas lahan menurun dan
menyebabkan lambatnya tanaman mamasuki umur panen, ini terjadi karena unsur
hara yang sebelumnya dalam bentuk mineral akan terhidrolisa sehingga mudah
tercuci (Mulyani Sutedjo dan Kartasapoetra, 2002).
Hasil
terbaik pada perlakuan Gandasil-B (G) terdapat pada perlakuan G3 : (64,66), dan
hasil terendah pada perlakuan G0 (68,47). Perlakuan G1 Tidak berbeda nyata
dengan perlakuan G2 dan sangat berbeda nyata terhadap G3 dan G0.
Ketersediaan
unsur hara yang terkandung didalam tanah dan curah hujan yang tinggi sangat
mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung super hibrida. Menurut Dwijoseputro
(1984) menyatakan bahwa proses fotosintesis yang berjalan lancar pada tumbuhan
akan menjamin perkembangan tumbuhan tersebut baik vegetatif maupun generatif.
Harjadi (1989) menambahkan bahwa tanaman akan tumbuh subur bila unsur hara yang
tersedia dapat diserap tanaman sesuai tingkat kebutuhan tanaman.
Perlakuan Zat Pengatur Tumbuh
Dekamon (D) menunjukan perbedaan yang tidak nyata terhadap umur panen. Hal ini
menunjukkan bahwa masing – masing perlakuan yang diuji mempunyai kemampuan
untuk menghasilkan umur panen yang sama dan masing – masing perlakuan juga
mempunyai kemampuan yang hampir sama dalam penyesuaian terhadap tempat hidupnya
sehingga tidak mempengaruhi umur panen pertanaman.
Sesuai
dengan pendapat Jumin (1991) bahwa dengan adanya panas yang cukup, maka proses
pembentukan bunga dan buah dapat berjalan dengan sempurna yang akan memperlancar
proses pembentukan karbohidrat dan akan mempercepat reaksi - reaksi kimia atau biokimia yang akan memacu
pertumbuhan menjadi lebih baik terutama dalam pembentukan buah yang pada
akhirnya dapat mempengaruhi umur panen tanaman.
Berat Biji Pertongkol (gr)
Data
pengamatan terhadap Berat Biji Pertongkol dianalisis secara statistik. Hasil
analisis sidik ragam terhadap berat biji pertongkol dengan perlakuan gandasil-B
dan zat pengatur tumbuh Dekamon memberikan respon nyata. Rata – rata berat biji
pertongkol setelah diuji dengan BNJ pada
taraf 5% dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4.
Rata – Rata Berat Biji Pertongkol dengan Perlakuan Gandasil-B dan Pengatur Tumbuh
Dekamon (gr)
|
Faktor G
(Gandasil-B)
|
Faktor D
|
Rerata
|
||
|
D0
|
1
|
D2
|
||
|
G0
G1
G2
G3
|
205,55
255,55
255,55
261,11
|
211,10
283,33
300
300
|
200
277,77
266,66
283,33
|
205,55d
272,21bc
274,07ab
281,48a
|
|
Rerata
|
244,44
|
273,60
|
256,94
|
244,44
|
|
KK = 0,84
|
BNJ G =14,05
|
|||
Angka – angka yang ikuti
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Interaksi perlakuan Gandasil-B (G) dan Zat Pengatur
Tumbuh Dekamon(D) tidak memberikan respon yang nyata terhadap berat biji pada tanaman jagung.
Diduga bahwa perlakuan yang diberikan tidak saling bebas atau dengan kata lain
kedua perlakuan tersebut tidak saling mempengaruhi. Dimana Gandasil-B (G)
merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur Nitrogen, Phosfat dan Kalium yang
sangat berperan dalam kegiatan metabolisme. Menurut Salisbury dan Ross (1995) yang
menyatakan bahwa dua kelompok yaitu yang berperan dalam struktur suatu senyawa
penting dan berperan dalam mengaktifkan enzim. Karena beberapa unsur menjadi
bagian dari struktur enzim esensial dan juga membantu mengkatalis reaksi kimia
yang diperankan oleh enzim adalah magnesium yang menjadi bagian struktur
molekul klorofil serta mengaktifkan banyak enzim. Oleh sebab itu perlakuan
Berat Biji Pertongkol tidak memberikan respon yang nyata terhadap jagung super
hibrida.
Berdasarkan
data pada tabel 4 diatas, dapat dilihat bahwa berat biji pertongkol pada
tanaman jagung super hibrida berbeda nyata dimana beberapa perlakuan Gandasil-B
(G) mampu meningkatkan dan memperbanyak berat
biji pada jagung super hibrida. Jumlah biji terbanyak terdapat pada perlakuan
G3 (281,48) sedangkan jumlah biji terendah terdapat
pada perlakuan G0(205,55).
Harjadi
(2009) mengemukakan bahwa peningkatan berat buah dapat terjadi apabila
fotosintesis lebih besar dari pada respirasi sehingga terjadi penumpukan bahan
organik di dalam jaringan tanaman dalam jumlah yang cukup oleh karenanya unsur
hara yang ada didalam tanah harus cukup tersedia bagi tanaman.
Pemberian
pupuk yang seimbang juga mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman sesuai
pendapat Soegiman (1982) menegaskan bahwa tidak seimbangnya takaran pupuk yang
diberikan dapat menurunkan hasil bagi tanaman yang dibudidayakan.
Menurut
Sarief (1986) tanaman yang kekurangan unsur hara akan mengakibatkan
perkembangannya lebih lambat tetapi sebaliknya apabila unsur hara yang
diberikan dalam jumlah besar maka dapat merusak tanaman itu sendiri.
Perlakuan Zat Pengatur Tumbuh
Dekamon (D) menunjukan perbedaan yang tidak nyata terhadap berat biji
pertongkol. Hal ini menunjukkan bahwa setiap perlakuan yang diuji mempunyai
kemampuan memproduksi berat biji yang sama dan settiap perlakuan juga mempunyai
kemampuan yang hampir sama dalam penyesuaian terhadap tempat hidupnya sehingga
tidak mempengaruhi berat biji pertongkol.
Zat
Pengatur Tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik yang bukan hara yang dalam
jumlah sedikit dapat mendukung (promote), menghambat (inhibit) dan dapat
mengubah proses fisiologi tumbuhan (Abidin,1982).
Persaingan antar tanaman menyebabkan masing-masing tanaman harus tumbuh
lebih tinggi agar memperoleh cahaya lebih banyak (Salisbury dan Ross, 1995).
Pemanjangan batang pada tanaman sering menguntungkan dalam persaingan
memperebutkan cahaya matahari, tetapi tidak demikian halnya pada pertanaman
bebijian yang seragam. Peningkatan hasil biji diperoleh pada kultivar kerdil
atau semi-kerdil yang mengalokasikan lebih banyak fotosintat ke biji daripada
ke batang. Keuntungan lain ialah kultivar ini tidak akan rebah dibandingkan
kultivar yang jangkung terutama jika dipupuk banyak nitrogen (Salisbury dan
Ross, 1995).
Hasil biji yang rendah dari kebanyakan varietas jagung tropik disebabkan
oleh pembagian bahan kering total ke biji yang rendah (Goldsworthy dan
Colegrove cit. Fischer dan Palmer, 1995). Aliran relatif dan
remobilisasi C dan N ke biji selama pengisian biji tergantung pada nisbah sumber/lubuk
tertentu pada tanaman. Nisbah sumber/lubuk tergantung pada genotipe dan
kombinasi lingkungan yang dapat diubah oleh faktor manajemen tanaman seperti
waktu tanam, kerapatan populasi, unsur hara, air, dll.
Jumlah
Biji Pertongkol (gr)
Data
pengamatan terhadap Produksi Biji Pertongkol dianalisis secara statistik. Hasil
analisis sidik ragam terhadap persentase putik jadi buah dengan perlakuan
gandasil-B dan zat pengatur tumbuh Dekamon memberikan respon nyata. Rata – rata Produksi Biji Pertongkol setelah
diuji dengan BNJ pada taraf 5% dapat
dilihat pada tabel 5.
Tabel 5.
Rata – Rata Jumlah Biji Pertongkol dengan Perlakuan Gandasil-B dan Pengatur
Tumbuh Dekamon (gr)
|
Faktor G
(Gandasil-B)
|
Faktor D
|
Rerata
|
||
|
D0
|
D1
|
D2
|
||
|
G0
G1
G2
G3
|
611,11
678,88
694,44
698,88
|
616,66
703,33
698,88
705,55
|
616,66
697,77
704,44
705,5
|
614,81d
693,32bc
699,25ab
703,31a
|
|
Rerata
|
670,82
|
681,10
|
681,09
|
677,39
|
|
KK =3,59
|
BNJ G = 22,68
|
|||
Angka – angka yang ikuti
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf
uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Pada
tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa Interaksi Perlakuan Gandasil-B (G) dan Zat
Pengatur Tumbuh Dekamon(D) tidak memberikan respon yang nyata terhadap
pengamatan jumlah biji pertongkol. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan
vegetatif tanaman yang relatif yang sama
sehingga mengakibatkan alokasi fotosintat dan penumpukan fotosintat berbeda
tidak nyata yang akan digunakan untuk pembentukan dan mempertahankan bunga, seperti
yang terlihat pada tabel 5 dimana berat biji perplot tidak berbada nyata. Menurut Hidayat (1985)
besar kecilnya jumlah biji pertongkol dipengaruhi oleh faktor – faktor
pendukung seperti tinggi tanaman, berat kering, jumlah hasil fotosintesis dan
intensitas cahaya.
Hasil
terbaik pada perlakuan Gandasil-B (G) terdapat
pada perlakuan
(G3 :
703,31), dan hasil terendah pada perlakuan G0
(614,81). Perlakuan G1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan G2,tapi berbeda
nyata dengan perlakuan G3, dan sangat berbeda nyata terhadap G0. Hal ini
tentunya berkaitan dengan peranan Gandasil-B (G yang demikian penting dalam
menyediakan unsur hara sehingga jumlah biji pertongkol tanaman jagung super hibrida melihatkan
respon yang nyata.
Pupuk Gandasil B berbentuk kristal yang
dilarutkan dalam air sehingga dapat dengan mudah diserap dan ditranslokasikan
keseluruh bagian tanaman, sehingga mampu mendukung proses pertumbuhan dan
perkembangan tanaman .Pupuk Gandasil B merupakan salah satu pupuk daun yang
mengandung unsur hara Nitrogen 6 %, Fosfor 20%, Kalium 30% dan Magnesium 3%.
Selain itu terdapat beberapa unsur hara mikro seperti Cobalt (Co), Tembaga
(Cu), Boron (Br) dan Seng (Zn) serta Vitamin (Lingga, 1994).
Pada
tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa perlakuan tunggal Zat pengatur tumbuh
Dekamon tidak memberikan respon yang nyata terhadap jumlah biji pertongkol.
Namun dapat dilihat angka tertinggi terdapat pada perlakuan D1(681,10)
sedangkan angka terendah pada perlakuan D0 (670).
Perlakuan
zat pengatur tumbuh Dekamon berpengaruh tidak
nyata dalam peningkatan jumlah biji pertongkol, Hal ini diduga zat
pengatur tumbuh Dekamon belum mampu mempengaruhi aktivitas metabolisme dalam
meningkatkan jumlah biji pertongkol. Hal ini disebabkan karena faktor genetik
tanaman jauh pengaruhnya dibandingkan dengan faktor luar tanaman, sehingga
tanaman itu sendiri akan menghasilkan jumlah biji pertongkol relatif sama.
Pendapat ini didukung oleh Gardner dkk (1991) menyatakan bahwa jumlah biji
pertongkol dipengaruhi oleh faktor genotif terutama posisi daun. Hal ini dapat
dijelaskan dengan pernyataan bahwa duduk daun pada batang merata sepanjang
batang, tersusun dalam spiral yang memutar dalam rumus tertentu yang ditentukan
secara genetis.
Ukuran dan laju pembesaran ovary umumnya bervariasi
tergantung pada posisinya pada batang. Hal
ini menyebabkan perbedaan ukuran buah dan biji setelah organ-organ ini matang.
Ukuran biji rata-rata untuk kultivar tanaman tertentu umumnya tidak terlalu
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tetapi jumlah biji per individu tanaman
dapat terpengaruh secara nyata. Ukuran biji agaknya lebih dikendalikan oleh
faktor genetik daripada faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang diketahui
dapat mempengaruhi ukuran biji adalah kondisi kekeringan. Ukuran buah, berbeda
dengan biji, lebih dipengaruhi oleh kondisi lingkungan selama perkembangannya,
terutama buah yang mengandung banyak biji (multi-seedes) dan buah berdaging
(fleshy fruit).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Pemberian perlakuan Gandasil-B (G) memberikan respon yang
nyata terhadap parameter pengamatan tinggi
tanaman (cm), umur berbunga (hst), umur panen (hst), jumlah
biji pertongkol (biji), berat biji perplot(gr) (G) yaitu G3 (281,48).
2.
Pemberian perlakuan zat pengatur tumbuh Dekamon (D)
memberikan respon yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman(cm),
dan umur berbunga (hst) (D) yaitu D2 (45,93).
3.
Interaksi perlakuan Gandasil-B (G) dan zat pengatur tumbuh Dekamon (D) memberikan respon yang nyata terhadap
parameter pengamatan tinggi tanaman dan umur
berbunga.
4.
Dari parameter yang telah diamati
menunjukkan bahwa perlakuan terbaik secara interaksi terdapat pada parameter pengamatan umur berbunga
yaitu perlakuan G1D3 (43,88).
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin,
1985. Dasar-dasar pengetahuan tentang Zat
Pengatur Tumbuh, Angkasa, Bandung.
Anonimus.
1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Anonimus.
2008. Badan Statistik Propinsi Riau.
Pekanbaru
Anonimus. 1993. Kenali Bahan Aktif ZPT Sebelum Memakainya.
Tim Trubus. Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2008, Survei Lapangan Produksi Jagung.
Kabupaten Kuantan Singingi.
Dinas Tanaman Pangan Propinsi
Riau. 2008, Prospek dan Peluang
Agrobisnis Jagung. Pekanbaru.
Dwijoseputro, D. 1984. Pengantar Fisisologi Tumbuhan. PT.
Gramedia
Garner,pearce dan Mitchell. 1991. Priciple of genetics. Six edition, Jhon willey & Sons. New York
Hanafiah,A,K,Anas,I, Napoleon, A,Ghoffan,N. 2005. Biologi Tanah Ekologi dan Mikrobiologi
Tanah. Rajawali Press.Jakarta
Harjadi, S. S. 2009. Zat Pengatur Tumbuh. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Heddy, S. 1983. Hormon Tumbuhan. PT. Grafindo Persada.
Jakarta.
Jumin, H. B. Ekofisioligi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers.
Jakarta
Kusumo, S., 1990. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Jasaguna.
Jakarta.
L. Marbandono. HS, 2003, Membuat Kompos, Penebar Swadaya,
Jakarta.
Lingga. P. 1991. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar
Swadaya. Jakarta
Purwono, Hartono. R.
2008. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta
Soegiman. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara.
Jakarta
Sutedjo, M. Kartasapoetra. 2002. Pengetahuan Ilmu Tanah Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian Edisi Revisi. Rineka Cipta. Jakarta
Syarief. S, 1989. Kesuburan Dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Jakarta.
Thamrin, H. 2007. Pengaruh Pemberian Limbah Sawit Dan Zat Pengatur Tumbuh Dekamon
Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis queineensis Jacg) Di Main Nusery. Sekolah Tinggi Ilmu
Pertanian Unggulan Swarnadwipa. Kabupaten Kuantan Singingi.
PT. Kalatham. 2007. Pupuk Gandasil-B. PT. Klatham. Jakarta.
Wattimena. G4. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar