Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 HAL 43-47


UJI BERBAGAI VARIETAS DAN PEMBERIAN PUPUK BOKASI CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TERUNG (Solanum melongena.L)


Peni Bauti, Elfi Indrawanis dan Tri Nopsagiarti
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Fax (0760)7014730 Teluk Kuantan

ABSTRACT

The examine of some varieties and giving liquid bokasi toward the growing and production of eggplant (solanum melongena, L), research agricultural colleges’s garden of swarnadwipa, taluk kuantan kabupaten kuantan singingi, the time of  this reseach was 4 months, from agustust until november 2, the first factor was varieties  ( V ), that was V1 : lezata F1 varieties V2 : Milano F1 varieties V3 : kenari. The second factor was the giving of liquid bokasi, that was B0 : withaut treatment, B1 : 100 ml/ plants, B2 : 200 ml/ plants, B3 : 300 ml/ plants. Thereby, it wourld be gotten 12 combination of each treadment, and the treadment consisted of 3 repetitions. The use of plot in this experiment was 36 plots. Each plot consisted of 4 plants and 3 of them was become the sample.the whole plants was 144. By parameter as : the of the plant (cm), the age of flower oppearace, cropping, (day), fruit weight perplot (gr).then, the obtained data would be contiued by continiue test different real downright (BNJ) in 5 % level. The treadment of some varieties shawed the real inttitence toward all abservation of singlely, parameter while the giving of luquid  bokasi singley diddn’t  show the real intluence of all parameter,and ,as interaction some varieties and liquid bokasi show and the real intlience toward parameter of the fruit weingh perplot, with the best treatment was in V2B3 (1663.33 gr) treatment.

Key words : Varieties, bokasi, eggplant


PENDAHULUAN
Sayuran merupakan salah satu tanaman yang sangat  berguna dan dibutuhkan dalam kehidupan manusia sehari-hari baik berupa daun, batang, umbi, bunga, maupun buah, dimana perananya sangat penting dalam pemenuhan gizi, terutama sebagai sumber vitamin dan mineral. Berbagai  jenis  sayuran telah banyak dikenal orang, salah satu diantaranya adalah terung yang dikenal dengan nama ilmiah Solanum  melongena. L.
Pengembangan usaha terung memiliki nilai ekonomis yang tinggi,  namun masyarakat Indonesia masih menganggap terung sebagai usaha sampingan, akibatnya  rata-rata produksi terung secara nasional masih rendah yakni  3,5 - 4,7 ton per hektar.  Peningkatan produksi terung sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan pasar  (konsumen) dalam  negeri maupun ekspor (Yuliani, 2004).
Kendala yang sering terjadi selama budidaya tanaman terung adalah kurangnya peningkatan produksi tanaman, untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan berbagai alternatif diantaranya penggunaan varietas unggul dan pengunaan pupuk organik salah satunya bokasi cair.
Pemakaian varietas harus sesuai dengan kondisi lahan, disamping pemberian pupuk bokashi cair, pemilihan varietas yang tepat juga berpengaruh terhadap lahan yang ditanami, untuk dapat membedakan yang satu dengan yang lain kita harus mengetahui sifat-sifat tanaman tersebut. Identifikasi varietas merupakan salah satu cara yang baik untuk pengenalan varietas yang akan digunakan (Sunarjono 2003).
Pupuk bokasi cair merupakan larutan yang diperoleh dari hasil fermentasi bahan-bahan organik yang berasal dari kotoran hewan yang kandungan unsur haranya lebih dari satu. Hampir semua kotoran hewan dapat digunakan sebagai pupuk namun kotoran seperti kambing, sapi dan ayam merupakan kotoran yang paling sering digunakan untuk dijadikan pupuk. Pupuk kotoran hewan dapat membantu menetralkan racun logam berat di dalam tanah, memperbaiki struktur tanah, membantu penyerapan hara,dan mempertahankan suhu tanah. Kelebihan dari pupuk bokasi adalah dapat secara cepat mengatasi defisiensi hara dan mampu menyediakan hara secara cepat (Hadisuwito, 2007).

BAHAN DAN METODA

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan dikebun percobaan Sekolah Tinggi iIlmu Pertanian Swarnadwipa Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan terhitung dari bulan Agustus Sampai bulan Nopember 2012.

Bahan dan Alat
 Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah terung varietas lezata Fl, milano F1, kenari,  EM4, kotoran sapi yang masih basah, pupuk urea dan air.  Sedangkan alat yang digunakan adalah ember plastik bertutup dengan kapasitas 40 liter, cangkul, meteran, ember, tali rapia, parang, palu, gergaji, paku, gembor, papan, timbangan, alat-alat tulis, kamera dan handsprayer

Bahan Metode
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu V (Varietas) terdiri dari 3 taraf dan B (Bokasi) terdiri dari 4 taraf perlakuan sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan masing – masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Jumlah plot yang digunakan dalam percobaan ini sebanyak 36 plot, masing – masing plot terdiri dari 4 tanaman dan 3 diantaranya dijadikan tanaman sampel. Jumlah tanaman keseluruhan 144 tanaman.
Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut : Faktor pertama V  Varietas : V1 : Varietas Lezata F1, V2 : Variatas Milano F1 , V3 Varietas Kenari : Faktor B Bokasi B0 : Tanpa Perlakuan B1 :  Pemberian bokasi cair 100 ml/ Tanaman, B2 : Pemberian bokasi cair 200 ml/ Tanaman, B3 : Pemberian bokasi cair 300 ml/ Tanaman.
Data hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan di analisis secara statistik sesuai dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan rumus sebagai berikut : Yijk = µ + Ai + Gj + Kk + (AG)ij + εijk. Apabila dalam Analisis Sidik Ragam memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%, untuk mengetahui perbedaan masing-masing perlakuan.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam pada pengamatan tinggi tanaman terhadap uji berbagai varietas terung (Solanum melogena. L) dan pemberian pupuk bokasi cair menunjukan bahwa respon pertumbuhan beberapa varietas terung secara tunggal berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman, sedangkan perlakuan pemberian pupuk bokasi cair secara tunggal tidak menunjukan pengaruh yang nyata terhadap parameter tinggi tanaman dan begitu juga perlakuan secara interaksi antara berbagai varietas terung dan pemberian pupuk bokasi cair juga tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.


Tabel 1. Rata – rata Tinggi Tanaman umur 39 HST dengan Perlakuan Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Bokasi Cair (cm)                   
Faktor V
Faktor B
Rerata V
B0
B1
B2
B3
V1
17.22
17.89
21.00
19.78
18.78a
V2
15.22
20.33
14.67
15.56
16.44a
V3
9.00
8.17
8.56
9.17
8.72b
Rerata B
13.81
15.46
14.74
14.83
KK=25,35%
BNJ V=2,89
Angka – angka yang  diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada uji Lanjut BNJ taraf  5%.


Hasil dari analisis data tabel diatas menunjukan bahwa tinggi tanaman terung memberikan pengaruh yang nyata  bahwa nilai yang tertinggi terdapat pada varietas Lezata F1 (V1) yaitu 18,78 cm tidak berbeda nyata dengan varietas milano F1 (V2) yaitu 16,44 cm, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan varietas kenari (V3) yaitu 8,72 cm. Hal ini diduga karena perbedaan varietas yang digunakan. Varietas lezata F1 merupakan varietas yang paling baik  pertumbuhannya kemudian diikuti varietas milano F1 dan varietas Kenari. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh  Yatim (1991), bahwa setiap gen itu memiliki pekerjaan sendiri – sendiri untuk menumbuhkan dan mengatur berbagai jenis karakter dalam tubuh tanaman. Varietas merupakan kelompok tanaman dengan ciri khas yang seragam dan stabil serta mengandung perbedaan yang jelas dari varietas lain. Menurut Lakitan (1996), faktor genetik menentukan tinggi tanaman oleh sebab itu sangat penting dalam pembibitan menggunakan bibit yang berkualitas.
Umur Muncul Bunga (Hari)
    
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam, pada parameter  pengamatan umur muncul bunga terhadap beberapa varietas terung (Solanum melogena. L) dan pemberian bokasi cair menunjukan bahwa varietas terung secara tunggal berpengaruh nyata terhadap umur muncul bunga, sedangkan perlakuan pemberian pupuk bokasi cair secara tunggal tidak menunjukan pengaruh yang nyata terhadap parameter umur muncul bunga begitu juga dengan perlakuan secara interaksi antara berbagai varietas terung dan pemberian pupuk bokasi cair juga tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.


Tabel 2. Rata – rata Umur muncul bunga dengan Perlakuan Berbagai Varietas dan Pupuk Bokasi Cair (Hari).
Faktor V
Faktor B
Rerata V
B0
B1
B2
B3
V1
64.00
63.67
64.11
61.89
63.42c
V2
61.67
58.22
62.78
61.56
 61.06b
V3
47.00
49.11
50.67
49.67
49.11a
Rerata B
57.56
57.00
59.19
57.70
KK=4,47 %
BNJ V=1,98
Angka – angka yang  diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji Lanjut BNJ 5%.


Dilihat dari tabel 2 diatas bahwa pengamatan parameter umur muncul bunga memberikan pengaruh yang nyata. Dari masing – masing varietas menunjukan waktu yang berbeda, dimana V3 waktu berbunga lebih cepat bila dibandingkan dengan V2 dan V2 lebih cepat  dari V1, hal ini diduga karena varietas terung yang digunakan dianggap belum bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru untuk mengeluarkan bunga. Menurut Siregar (1981) keluarnya bunga pada tanaman ditentukan oleh berbagai faktor diantarannya faktor linkungan dan genetik. Apabila fase generatatif  sesuai yang dikehendaki maka faktor diatas sangat mendorong kelurnya bunga dan membukanya bunga. Harjani (1979) menjelaskan suatu tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor genetik terutama dalam pembentukan organ-organ generatif, penyimpangan akan berlansung pada waktu yang lama dan kondisi  lingkungan yang ekstrim. Inisiasi bunga merupakan tahap yang sangat penting pada beberapa tanaman, karena merupakan awal yang menentukan terbentuknya organ hasil dan jumlahnya pertanaman. Perubahan tunas apikal atau aksilar dari vegetatif menjadi tunas bunga merupakan hasil dari aktivitas hormonal yang berlansung pada tanaman tersebut yang umumnya diransang oleh kondisi lingkungan tertentu, misalnya suhu dan perubahan panjang hari (lama penyiraman). Kepekaan tanaman terhadap ransangan faktor eksternal tersebut bertambah dengan bertambahnya umur tanaman. Tanaman semunsim lebih cepat teransang, mulai berbunga setelah berumur beberapa bulan atau beberapa hari, sedangkan tanaman tahunan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Umur Panen (Hari)

Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam (Lampiran 8). Pada pengamatan parameter umur panen terhadap uji berbagai varietas terung (Solanum melogena. L) dan pemberian pupuk bokasi cair menunjukan bahwa varietas secara tunggal berpengaruh nyata terhadap parameter umur panen, sedangkan perlakuan pemberian pupuk bokasi cair tidak menunjukan pengaruh yang nyata terhadap parameter umur panen, begitu juga dengan perlakuan secara interaksi antara berbagai varietas terung dan pemberian pupuk bokasi cair juga tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.


Tabel 3. Rata – rata Umur Panen dengan Perlakuan Berbagai Varietas dan Pupuk Bokashi Cair (hari).
FaktorV
Faktor B
Rerata V
B0
B1
B2
B3
V1
88.67
88.67
71.00
71.33
79.92b
V2
80.00
71.33
71.67
80.00
75.75b
V3
65.00
65.00
65.00
65.00
65.00a
Rerata B
77.89
75.00
69.22
72.11
KK=10,45
BNJ V=5,94

Setelah dianalisis secara statistik bahwa umur panen tanaman terung memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter perlakuan varietas secara tunggal disebabkan oleh perbedaan varietas, hal ini menunjukan bahwa masing-masing varietas yang diuji mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Dilihat dari tabel diatas bahwa  umur panen menunjukan waktu yang berbeda dimana V3 (65,00) panennya lebih cepat dibandingkan dengan V2 (75,75), dan V2 lebih cepat dibandingkan dengan V1 (79,92). Pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi yaitu mengakibatkan terjadinya pencucian unsure hara yang menyebabkan produktifitas lahan menurun dan menyebabkan lambatnya tanaman memasuki umur panen, ini terjadi karena unsure hara yang sebelumnya dalam bentuk mineral akan terhidrolisa sehingga mudah tercuci (Sutedjo,2002).  Menurut Partoharjono (1980) mengatakan lamanya pertumbuhan vegetatif memberikan kesempatan pada tanaman untuk menumpuk hasil fotosintesis lebih besar, dan kemungkinan untuk memperpanjang umur saat panen, bila faktor kesuburan tanah dan faktor lingkungn seperti cahaya, suhu dan air menunjang. Jumin (1992) juga menjelaskan umur suatu tanaman ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan.

Berat Buah Perplot (gr)

Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam, pada pengamatan parameter  berat buah terhadap uji berbagai varietas terung (Solanum melogena. L) dan pemberian pupuk bokasi cair  menunjukan bahwa perlakuan varietas terung secara tunggal  berpengaruh nyata terhadap parameter berat buah, begitu juga dengan perlakuan secara interaksi antara berbagai varietas dan pemberian pupuk bokasi cair menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap jumlah buah, sedangkan perlakuan pemberian pupuk bokasi cair secara tunggal tidak menunjukan berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan berat buah.


Tabel 4. Rata – rata tabel Berat Buah dengan Perlakuan Pupuk Bokasi Cair dan    Berbagai Varietas (gr) per plot.   
Faktor v
Faktor B
Rerata V
B0
B1
B2
B3
V1
1.216.67b
1.216.67b
1.096.67b
   916.67c
1.111.67a
V2
   706.67d
  1.040.00bc
1.096.67b
1.663.33a
1.126.67a
V3
     523.33de
      616.67de
     563.33de
    506.67e
  552.50b
Rerata B
  815.56
 957.78
  918.89
    1.028.89
KK=26,45%
BNJ V=62,52

BNJ VB=182,92

Angka – angka yang  diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji Lanjut BNJ 5%.
    

Dari tabel 4 diatas menunjukan bahwa perlakuan varietas secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat buah perplot. Perlakuan terbaik varietas adalah V2 (1.126.67) diikuti dengan V1 (1.111.67) dan V3 (552.50) beda varietas maka berat buah yang dihasilkan berbeda pula. Suprapto (2001) mengatakan bahwa produksi suatu tanaman dapat dilihat selama pertumbuhan vegetatif dan generatif, kalau pertumbuhan tidak menunjukan adanya  penyimpangan kemungkinan untuk produksi sangat besar produksinya. Menurut pendapat (Bari dan Rianto 1974), mengatakan bahwa varietas merupakan kelompok tanaman dengan ciri khas yang seragam dan stabil serta mengandung perbedaan yang jelas dari varietas lain. Demikian halnya dengan ketiga jenis varietas hibrida yang digunakan meskipun ketiganya merupakan jenis unggul tetapi karena adanya perbedaan varietas sehingga sifat-sifat yang dimunculkan  juga berbeda. Varietas hibrida mempunyai potensi hasil yang tinggi, daya adaptasi luas, pertumbuhan dan hasil tanaman lebih seragam. Produksi berat buah perplot  pertanaman berkaitan dengan jumlah buah segar. Jadi produksi berat buah per plot tergantung pada ukuran buah. walaupun demikian, hal ini sangat ditentukan pula oleh pertumbuhan tanaman dan factor lingkunagan  pada saat memasuki fase generatif terjadi gangguan pertumbuhan, maka tetap juga jumlah buah mempengaruhi berat buah.
           
KESIMPULAN

Perlakuan tunggal berbagai varietas terung  (V) memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik V1 (18,78), umur berbunga dengan perlakuan terbaik V3 (49,11), umur panen dengan perlakuan terbaik V3 (65,00), dan berat buah dengan perlakuan terbaik V1 (1126.67) Pemberian perlakuan tunggal pupuk bokasi cair  (B) tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter . Perlakuan secara interaksi berbagai varietas dan pemberian pupuk bokasi cair memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter berat buah dengan perlakuan terbaik V2B3 (1663.33).

DAFTAR PUSTAKA

Bari dan Rianto.1974. Teknologi Mulsa dan Berbagai Varietas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hadisuwito. Sukamto. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair. PT. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Harjani, SS. 1979. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Jakarta.
Jumin, H. B. 1992, Ekofisologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers. Jakarta
Lakitan, B.1996. Fisiologi pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman.Raja Griffindo Persada Jakarta.
Partoharjono. 1980. Morfologi Dan Fisiologi Padi Puslitbangtan. Bogor.
Siregar. H. 1981. Budidaya Tanaman Padi Di Indonesia. Departemen Pertanian dan Kebudayaan Jakarta.
Sunarjono, Hendro. 2003. Bertanam 30 Jenis  Sayur. Penebar Swadaya. Bogor.
Sutedjo, M. Kartasapoetra. 2002, Pengetahuan Ilmu Tanah Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian  Edisi Revisi. Rineka Cipta. Jakarta
Suprapto, HS. 2001. Bertanam Kacang Panjang. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Yatim, 1991. Genetika Tumbuhan. PT. Penebar Swadaya
Yuliani, F. Kurnia. 2004. Pengaruh Pemberian Kompos Azolla dan Macam Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terung (Solanum melogena L.) Hibrida “Mustang”. Skripsi S1 Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

1 komentar: