UJI
FERMENTASI KOTORAN SAPI MENGGUNAKAN
EM4 (Effective Microorganism4)
TERHADAP
KUALITAS PUPUK ORGANIK CAIR
Zulkifli, Rover dan Deno Okalia
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian
Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Email
: zulkiiflii@gmail.com
Teluk Kuantan, Riau.
ABSTRACT
This research have was done in Perhentian Luas Logas Tanah Darat Subdistrict Kuantan
Singingi Regency Riau Province and chemical soil laboratory Andalas University Padang.
Allocated time for this research was 3 Months,started from October to
December 2012. The treatment that using in this research was Complete Random
Treatment non factorial which consist of 4 treatments as treatment A0:POC from
cow’s urine without fermentation, treatment A1:POC from cow’s urine added EM4
is fermentationed, treatment A2:POC from cow’s dense feses added water
and EM4 is fermentationed and treatment A3:POC from dense feses
added cow’s urine then added EM4 is fermentation. Each consist of 3
repetition, so it found 12 treatments combination. To know the influence of the
treatment, it has been done analysis parameter as follows: percentage of Nitrogen, Phosphor and
Potassium. Then the data was analyzed with statistic and if F count is bigger
than F Tabel, so it could be continued to the next test different fact and
honest in level 5%. Based on the result of the research, can be concluded that
POC which was given the highest nitrogen qualities in treatment A1(pH
8,temperature 26 0C,nitrogen 0,56) the highest phosphor in treatment
A1 (pH 8,temperature 26 0C,phosphor 0,13%) and the highest potassium
in A1 (pH 8,temperature 26 0C,potassium 1,27%). So,can be concluded
that the best composition was POC from cow’s urine is fermentationed with EM4
for three months.
Key words : cow’s dense feses,liquid organic fertilizer, and EM4 (Effective
Microorganism4)
PENDAHULUAN
Pupuk
adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsur-unsur
esensial bagi pertumbuhan tanaman atau tindakan mempertahankan dan meningkatkan
kesuburan tanah dengan penambahan zat-zat hara secara buatan diperlukan agar
produksi tanaman tetap normal atau meningkat (Hadisuwito, 2012). Namun dengan terjadinya krisis ekonomi yang
dialami oleh negara kita sampai sekarang berdampak pada berkurangnya daya beli
masyarakat tani akan pupuk, ditambah lagi harga pupuk buatan (anorganik) yang
semakin mahal. Masalah ini menyebabkan petani banyak menerapkan budidaya yang
tidak baik untuk meningkatkan produksinya.
Guna mengatasi hal itu, sistem pemanfaatan limbah ternak
sebagai pupuk organik pada tanaman pertanian dapat menyelesaikan masalah
tersebut. Pupuk organik dibedakan menjadi dua yaitu pupuk
organik padat dan pupuk organik cair (urine). Pupuk organik padat adalah pupuk
yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal
dari sisa-sisa tanaman atau hewan. Cara pengaplikasikannya melalui akar dan
pupuk organik cair (urine) berbentuk cairan yang berisi satu atau lebih pembawa
unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman guna untuk kesuburan tanah dan mudah
sekali larut pada tanah, cara pengaplikasiannya melalui daun.
Pupuk organik padat maupun cair
semakin lama semakin berkembang. Oleh karena itu banyak peneliti yang mulai
menggalakkan cara budidaya tanaman pertanian dengan limbah ternak terutama
kotoran padat dan urine sapi. Keuntungan limbah peternakan sapi diolah menjadi
pupuk organik adalah mempunyai efek jangka panjang yang baik bagi tanah yaitu
dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah karena memiliki banyak jenis kandungan unsur
hara yang diperlukan tanah dan hasil pertaniannya juga ramah lingkungan.
Pupuk organik cair dari urine
sapi ini merupakan pupuk yang berbentuk cair tidak padat yang mudah larut pada
tanah dan membawa unsur-unsur penting guna kesuburan tanah. Namun, pupuk
organik cair dari urine sapi ini memiliki kandungan unsur hara yang rendah jika
dibandingkan dengan pupuk buatan sehingga perlu upaya untuk meningkatkan
kualitasnya.
Dalam rangka memecahkan masalah
untuk mengoptimalkan kualitas pupuk organik cair agar menjadi lebih tinggi maka
perlu digunakan metode fermentasi kotoran sapi dengan penambahan EM4 (Effective
Microorganism4). Effective Microorganism4 berfungsi untuk tambahan nutrisi bagi
mikroba sehingga dapat mempercepat proses fermentasi serta dapat meningkatkan
kandungan unsur makro dalam pupuk.
BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu
Penelitian
ini dilaksanakan di Desa Perhentian Luas Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten
Kuantan Singingi Provinsi Riau dan Laboratorium kimia tanah Universitas Andalas
Padang. Waktu penelitian selama 3 bulan, terhitung dari bulan Oktober sampai
bulan Desember 2012.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kotoran padat dan urine sapi yang berasal dikawasan
peternakan sapi Desa Perhentian Luas Kecamatan Logas Tanah Darat, EM4
(Effective Microorganism4),
gula merah, dedak padi dan air. Alat yang digunakan dalam pengamatan pupuk
organik cair adalah ember plastik bertutup yang berukuran 25 liter, timbangan
elektronik, kayu pengaduk, selang pengontrol tekanan udara (diameter 0,5-1 cm),
saringan, galon kecil atau botol plastik dan lain-lain.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri dari empat perlakuan. Masing-masing diulang tiga kali, dengan demikian terdapat 12 kombinasi
perlakuan. Adapun perlakuan tersebut
sebagai berikut :
A0 :Pupuk organik cair dari urine sapi tanpa
fermentasi
A1 :Pupuk organik cair dari urine sapi
ditambah EM4
difermentasi
A2 :Pupuk organik cair dari kotoran padat
sapi ditambah
air dan EM4 difermentasi
A3 :Pupuk organik cair dari kotoran padat
ditambah dengan
urine sapi ditambah
EM4
difermentasi.
Data hasil penelitian yang diproleh dari lapangan dan
laboratorium di analisis secara statistik sesuai dengan Rancangan Acak lengkap (RAL) non faktorial dengan rumus sebagai berikut : Yij =
+
+
ij. Apabila dalam analisis sidik ragam memberikan pengaruh yang
berbeda nyata, maka dilakukan beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% untuk
mengetahui perbedaan masing-masing dari perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Analisis Nitrogen Pupuk Organik
Cair
Berdasarkan
hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa pemberian EM4 (Effective Microorganism) pada
kotoran padat dan urine sapi berpengaruh nyata terhadap kualitas Nitrogen dalam
pupuk organik cair. Data pengamatan pupuk organik cair dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel
1. Hasil Analisis Nitrogen Total Pupuk Organik Cair
|
Perlakuan
|
Nitrogen Total (%)
|
|
A0
|
0,44 b
|
|
A1
|
0,56 a
|
|
A2
|
0,29 c
|
|
A3
|
0,34 c
|
|
KK = 10,34 %
|
BNJ
= 0,09
|
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak
berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5%.
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa perlakuan yang
tertingi terdapat pada perlakuan A1 : 0,56 % berbeda nyata dengan perlakuan A0
: 0,44 %, A2 : 0,29 % dan A3 : 0,34 %. Perlakuan A0 : 0,44 % berbeda nyata
dengan perlakuan A2 : 0,29 % dan A3 : 0,34 %, tapi pada perlakuan A2 : 0,29 %
dan A3 : 0,34 % tidak berbeda nyata. Hal itu disebabkan oleh penambahan EM4
(Effective mikroorganism4)
karena EM4 ini dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik. Sejalan
dengan pendapat Nengsih (2002), menyatakan bahwa aktivator merupakan bahan yang
mampu meningkatkan dekomposisi bahan organik. Menurut Kallo dan Sariubang (2011), Fermentasi urine sapi dengan menggunakan
EM4 juga dapat meningkatkan kandungan hara nitrogen dalam pupuk
organik cair karena bakteri yang ada dalam EM4 ini dapat
menguraikan urine sapi dengan sempurna.
Hasil Analisis Fosfor Pupuk
Organik Cair
Berdasarkan
hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa pemberian EM4 (Effective Microorganism) pada
kotoran padat dan urine sapi berpengaruh nyata terhadap kualitas Fosfor dalam
pupuk organik cair. Data pengamatan pupuk organik cair dapat
dilihat pada Tabel 2.
Tabel
2. Hasil Analisis Fosfor Total Pupuk Organik Cair
|
Perlakuan
|
Fosfor Total (%)
|
|
A0
|
0,09 b
|
|
A1
|
0,13 a
|
|
A2
|
0,09 b
|
|
A3
|
0,10 ab
|
|
KK = 11,83 %
|
BNJ = 0,02
|
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak
berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5%.
Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa perlakuan yang
tertingi terdapat pada perlakuan A1 : 0,13 % tidak berbeda nyata dengan
perlakuan A3 0,10 % tapi, berbeda nyata dengan perlakuan A0 : 0,09 % dan A2 :
0,09 %. Perlakuan A0 : 0,09 % dan A1:
0,13 % tidak berbeda nyata. Hal ini
sejalan dengan kandungan hara nitrogen pada perlakuan A1 yang juga lebih tinggi
Hasil Analisis Kalium Pupuk
Organik Cair
Berdasarkan
hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa pemberian EM4 (Effective Microorganism) pada
kotoran padat dan urine sapi berpengaruh nyata terhadap kualitas Kalium dalam
pupuk organik cair. Data pengamatan pupuk organik cair dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel
3. Hasil Analisis Kalium Total Pupuk Organik Cair
|
Perlakuan
|
Kalium Total %
|
|
A0
|
0,97
b
|
|
A1
|
1,27 a
|
|
A2
|
1,08
ab
|
|
A3
|
0,94
b
|
|
KK = 9,34 %
|
BNJ = 0,22
|
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak
berbeda nyata menurut uji lanjut (BNJ) pada taraf 5%.
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa perlakuan yang
tertingi terdapat pada perlakuan A1 : 1,27 % berbeda nyata dengan perlakuan A0
: 0,97 %, A2 : 1,08 % dan A3 : 0,94 %. Sementara perlakuan A1: 1,27 % dan A2 : 1,08 % tidak berbeda nyata.
Perlakuan A0 : 0,97 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A2 1,08 % dan A3 : 0,94
%. Tingginya kandungan kalium pada perlakuan A1 ini disebabkan oleh tingginya nilai kandungan hara
nitrogen, fosfor dan dengan penambahan EM4 (Effective Mikroorganisme4) pada komposisi bahan pupuk organik
cair dari urine sapi, sehingga dengan kondisi seperti ini menyebabkan
mikroorganisme hidup pada keadaan lingkungan yang menguntungkan.
Penambahan EM4 (Effective
Microorganism) juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan kalium dan
fosfor pada proses pengomposan pupuk organik cair. Penambahan dedak padi juga
di indikasikan berpengaruh terhadap peningkatan kadar kalium. Sejalan dengan
pendapat Suswardany (2006), menjelaskan bahwa dengan penambahan EM4
(Effective
Microorganism) pada komposisi pupuk organik cair berpengaruh terhadap
peningkatan kandungan kalium dan fosfor pada proses pengomposan pupuk organik
cair serta penambahan dedak juga di indikasikan berpengaruh terhadap
peningkatan kadar kalium.
Hidayati (2008) menjelaskan
bahwa nilai kandungan hara nitrogen, fosfor dan kalium saling berkaitan dalam
pengomposan pupuk organik cair, semakin tinggi nilai kandungan hara nitrogen
dan fosfor yang dikandung dalam pengomposan pupuk organik cair, maka
mikroorganisme pengurai yang merombak unsur kalium akan meningkat, sehingga
nilai kandungan unsur kalium dalam komposisi pupuk organik cair juga meningkat.
KESIMPULAN
Kualitas
kandungan hara Nitrogen, Fosfor dan Kalium yang tertinggi dalam uji fermentasi
pupuk organik cair dari kotoran sapi terdapat pada perlakuan A1, dimana nilai
kandungan haranya adalah Nitrogen : 0,56 %, Fosfor : 0,13 % dan Kalium : 1,27
%. Komposisi pupuk organik cair yang
terbaik terdapat pada perlakuan A1, dengan komposisi urine sapi difermentasi
dengan menggunakan EM4 (Effective
Microorganism).
DAFTAR PUSTAKA
Hidayati.
2008. Pengolahan Limbah Ternak (feces)
Sapi Dengan Menggunakan Em4 dan Stradec. http://peternakanonline.blogspot.com.
Diakses pada hari Rabu,
16 November 2012.
Hadisuwito.
2012. Cara Mudah Fermentasi
Urine Sapi Untuk Pupuk Organik Cair.http://www.gerbangpertanian.com/2012/11/16/cara-mudah-fermentasi-urine-sapi-untuk.html. Diakses pada hari Rabu, 16 November 2012.
Kallo, R
dan Sariubang, M. 2011. Permentasi
Kencing Sapi Menjadi Pupuk Organik Cair. BPTP Sulewesi Selatan . Edisi
Khusus Penas XIII, 22 Juni 2011. Bptpmks@indosat.net.id.
Nengsih. 2002. Penggunaan EM4 dan GT1000-WTA dalam pembuatan pupuk organik
cair dan padat dari isi rumen limbah RPH. [skripsi]. Bogor: Fakultas
Petemakan. Institut Pertanian Bogor.
Suswardany.
2006. Pupuk Organik dan Pupuk
Hayati. Jawa Barat : Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Hal 2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar