Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 HAL 63-69


PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI IAA  DAN BAP PADA MEDIA SUB KULTUR JARINGAN TANAMAN NANAS (Ananas comosus (L.) Merr)

Senpriadi, Rover dan Tri Nopsagiarti
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Telp. 085376755108. Senpriadi_sen@yahoo.com Teluk Kuantan

ABSTRACT
This research has been carried out in the Laboratory of Plant Biotechnology Faculty of Agriculture, Universitas Islam Riau, Pekanbaru. The design used in this study is completely randomized design (CRD) factorial consisting of two factors, namely the provision of IAA (Factor A) and provision of BAP (Factor B). The first factor is the provision of IAA (Factor A) are: A0 (0 ppm), A1 (1 ppm), A2 (2 ppm) and A3 (3 ppm). The second factor is the provision of BAP are: B0 (0 ppm), B1 (2 ppm), B2 (4 ppm), and B3 (6 ppm). From the results of the study concluded that the treatment of the provision of various concentrations of IAA singely provide significant effect on all parameters of the observations with the best treatment age emerged shoots A2 (8.88 days), number of shoots A2 (12.00 fruits), shoot height A2 (3.83 cm), and weight wet roots A2 (19.08 mg). Treatment provision of various concentrations of BAP singely provide significant effect on the parameters age observations emerged buds with the best treatment B3 (10.21 today), number of shoots B1 (11.33 total), shoot height B0 (4.75 cm), and root fresh weight B2 (13.58 mg). Interactions are granting various concentrations of IAA and BAP provide significant effect on the parameters of the observation age appears buds with the best treatment in the combination treatment A0B1 (7.17 today), number of shoots with A0B0 treatment (17.00 fruits), High shoot with A1B0 treatment (6.00 cm) and root fresh weight with A2B1 treatment (21.33 mg).
Keyword : IAA, BAP, Ananas, tissues


PENDAHULUAN
Tanaman nanas (Ananas comosus (L.) Merr) merupakan tanaman hortikultura yang telah banyak dikenal orang, karena mempunyai buah yang manis, lezat, beraroma serta warna dan bentuk buah yang menarik. Buah nanas juga mengandung gizi yang cukup tinggi dan lengkap yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia (Rukmana, 1996). Kandungan gizi buah nanas segar tiap 100 gram bahan terdiri dari ; Kalori 52.00 Kal, Protein 0.40 gram, Lemak 0.20 gram, Karbohidrat 16.00 gram, Fospor 11.00 miligram, Zat besi 0.30 miligram, Vitamin A 130.000 S.I, Vitamin B1 0.80 miligram, Vitamin C 24.00 miligram, Air 85.30 gram dan Bagian yang dapat dimakan 53.00 % (Direktorat Gizi Depkes R.I (1981) dalam Rukmana, 1996).
Data Departemen Pertanian pada tahun 2009 menyebutkan bahwa nanas menempati urutan pertama ekspor komoditas buah di Indonesia dengan volume ekspor sebesar 148.000 ton dengan nilai hampir $90 juta pada tahun 2003. Volume ekspor meningkat menjadi 269.000 ton pada 2008 dengan nilai tidak kurang dari $200 juta Kebutuhan akan bibit yang cukup besar membuat perbanyakan bibit tanaman nanas secara vegetatif yang membutuhkan waktu yang terlalu lama dan menghasilkan bibit dalam jumlah kecil tidak mampu memenuhi kebutuhan akan bibit, oleh karena itu metode kultur jaringan mulai banyak digunakan untuk mendapatkan bibit nanas dengan jumlah yang besar dalam waktu yang lebih singkat.
Yusnita (2003) mengemukakan, teknik kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan menumbuh kembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan atau organ dalam kondisi aseptik secara in-vitro. Teknik ini dicirikan dengan kondisi kultur yang aseptik, penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap dan ZPT (zat pengatur tumbuh), serta kondisi ruang kultur yang suhu dan pencahayaannya terkontrol. Zat pengatur tumbuh pada tanaman merupakan senyawa organik bukan hara, dalam jumlah sedikit dapat berfungsi mendukung, menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan. Zat pengatur tumbuh (ZPT) sangat diperlukan sebagai komponen medium bagi pertumbuhan dan diferensiasi. ZPT yang biasa dan sering digunakan adalah golongan auksin dan sitokinin yaitu Indole Acetic Acid (IAA) dan Benzyl Amino-Purine (BAP). Indole Acetic Acid (IAA) merupakan auksin yang sintesis secara alamiah didalam tubuh tanaman, namun senyawa ini mudah mengalami degradasi akibat pengaruh cahaya dan enzimatik (Zulkarnain, 2009).
Pada proses pembelahan sel IAA berperan dalam pembentukan akar pada potongan jaringan dan juga pembentukan tunas pada beberapa jaringan tanaman yang diperbanyak melalui teknik kultur jaringan. Sitokinin adalah jenis zat pengatur tumbuh yang berperan dalam memacu pembelahan sel, memacu pembentukan organ, menunda penuaan, meningkatkan aktivitas wadah penampang hara, dan memacu perkembangan kuncup sampai keluar. Yang termasuk dalam golongan sitokinin adalah Kinetin, Zeatin, dan Benzylamino-purine (BAP) (Salisbury dan Ross, 1995). Dalam aktivitas kultur jaringan, BAP berperan dalam pembentukan tunas, menstimulir terjadinya pembelahan sel, proliferasi kalus, mendorong proliferasi meristem ujung, serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi Indole Acetic Acid (IAA) dan Benzylamino-purine (BAP) pada media sub kultur tanaman nanas (Ananas comosus (L) Merr).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau, Jalan Kaharuddin Nasution No. 113 Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Penelitian telah dilaksanakan selama Tiga bulan dari bulan Februari sampai April 2013.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplan tanaman nanas varietas Queen turunan ke III, aquades steril, Alkohol, komposisi media MS (lampiran 2), tepung agar, glukosa, IAA, BAP. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laminar air flow cabinet, autoclave, timbangan analitik, erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, petridish, jarum injeksi, pipet, pengaduk kaca, pinset, scapel, lampu spritus, hand sprayer, pisau, pH meter, botol kultur, kompor gas, panci berlapis enamel, lemari penyimpan bahan kimia, tabung reaksi, labu ukur, gunting, rak kultur, kulkas, ember plastik, alat tulis dan perlengkapan pencucian.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah pemberian IAA (Faktor A) dan Pemberian BAP (Faktor B).
Factor A adalah : A0 (0 ppm), A1 (1 ppm), A2 (2 ppm) and A3 (3 ppm). Faktor B: B0 (0 ppm), B1 (2 ppm), B2 (4 ppm), and B3 (6 ppm). Seluruh data dianalisis sidik ragam dan diuji lanjut BNJ 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur Muncul Tunas (Hari)
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan BAP secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas eksplan tanaman nanas dimana perlakuan umur muncul tunas tercepat terdapat pada perlakuan B3 = 10.21 hari, diikuti oleh B1 = 10.46 hari, B0 = 11.35hari, dan B2 = 12.08 hari. Secara interaksi pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas eksplan tanaman nanas dimana hasil terbaik terdapat pada kombinasi perlakuan A0B1 umur muncul tunas 7.17 hari, dan terendah A0B0 21.58, hal ini sesuai dengan pernyataan Rozen dan Nelwida (2002) bahwa kandungan auksin dalam eksplan yang dikulturkan (auksin endogen) masih cukup untuk mendukung pertumbuhan eksplan tersebut, sehingga eksplan yang dikulturkan masih dapat memunculkan tunas tanpa penambahan auksin dari luar (auksin eksogen).

Pemberian konsentrasi IAA 1 ppm menghasilkan umur muncul tunas tanaman nanas yang tercepat yaitu 8.88 hari,  ini merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan eksplan tanaman nanas dalam memunculkan tunas. IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat dapat mempercepat umur muncul tunas pada eksplan tanaman nanas, karena IAA ini merupakan zat pengatur tumbuh golongan auksin yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru.
Pada perlakuan A1 =12.85 dan A3 =10.33 menghasilkan umur muncul tunas yang lambat, lambatnya muncul tunas pada eksplan ini disebabkan konsentrasi IAA yang diberikan terlalu tinggi. IAA merupakan zat pengatur tumbuh golongan auksin yang jika diberikan dengan konsentrasi yang tepat akan menunjukkan respon yang positif terhadap pertumbuhan eksplan tanaman nanas terutama dalam umur muncul tunas, tetapi sebaliknya pemberian konsentrasi auksin yang terlalu tinggi menyebabkan lambatnya muncul tunas pada eksplan. Hal ini disebabkan karena konsentrasi auksin yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan tunas adventif dan kalus tidak dapat terdiferensiasi menjadi tunas (George & Sherington, 1983)
Pemberian BAP konsentrasi 6 ppm menghasilkan umur muncul tunas eksplan tanaman nanas tercepat yaitu 10.21 hari. Ini merupakan konsentrasi BAP yang optimum untuk pertumbuhan eksplan tanaman nanas dalam mengetahui umur tunas, karena BAP ini merupakan zat pengatur tumbuh golongan sitokinin yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Simatupang (1996) bahwa adanya sitokinin dalam kultur in-vitro mempunyai peran sebagai perangsang tunas. Sesuai dengan pendapat Wetherell (1982) menyatakan bahwa sitokinin mempunyai peran yang penting untuk propagasi secara in-vitro, yaitu mendorong pembelahan sel dalam jaringan yang dibuat eksplan dan mendorong pertumbuhan tunas.


Tabel 1. Rerata umur muncul tunas eksplan tanaman nanas dengan pemberian berbagai konsentrasi
             IAA dan BAP (Hari).
FAKTOR A
FAKTOR B
RERATA A
B0
B1
B2
B3
A0
21.58f
7.17a
9.42abc
10.00bc
12.04c
A1
8.00ab
17.33ab
18.49e
7.58ab
12.85c
A2
7.67ab
7.58ab
11.25c
9.00ab
8.88a
A3
8.17ab
9.75abc
9.17abc
14.25d
10.33b
RERATA B
11.35bc
10.46ab
12.08c
10.21a

KK = 8.37 %              BNJ A & B =1.01                BNJ AB = 2.76
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf  kecil yang sama tidak  berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Tanpa Pemberian IAA dan pemberian BAP 2 ppm menghasilkan umur muncul tunas tercepat eksplan tanaman nanas dibandingkan dengan perlakuan lainnya, ini merupakan konsentrasi yang tepat pemberian secara interaksi IAA dan BAP untuk pertumbuhan eksplan buah naga dalam memunculkan tunas. Hal ini terjadi karena pada konsentrasi yang tepat pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP memberikan efek yang positif terhadap pertumbuhan eksplan buah naga.Penggunaan media dengan komposisi auksin-sitokinin demikian diduga bahwa pada konsentrasi tersebut telah terjadi perimbangan antara sitokinin dan auksin sehingga terjadi pembelahan sel yang menstimulasi pembentukan tunas (George & Sherington, 1983).
Tanpa Pemberian IAA dan tanpa pemberian BAP menghasilkan umur muncul tunas terlama yaitu 21.58 hari. Hal ini tejadi disebabkan Pengaruh interaksi perlakuan IAA dan BAP dengan konsentrasi IAA yang tinggi tanpa pemberian BAP , dimana dengan peningkatan konsentrasi IAA tanpa diimbangi dengan pemberian BAP akan memperlama kemunculan tunas. Bahkan dari hasil penelitian menunjukkan perlakuan penambahan IAA dengan konsentrasi rendah justru memunculkan tunas paling cepat.
Jumlah Tunas (Buah)
Berdasarkan pengamatan umur muncul tunas dapat terlihat bahwa perlakuan A2 = 2 ppm menunjukan angka terbaik, begitu juga dengan jumlah tunas tanaman nanas. Perlakuan secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah tunas eksplan tanaman nanas dimana perlakuan jumlah tunas terbanyak adalah A2 = 12.00 buah, diikuti A0 = 10.33 buah, A1 = 9.50 buah, dan A3 = 9.15 buah. Pemberian IAA dan BAP secara tunggal dan interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas.
Tanpa Pemberian IAA menghasilkan jumlah tunas tertinggi yaitu 17.00 buah, hal ini sesuai dengan pernyataan Rozen dan Nelwida (2002) bahwa kandungan auksin dalam eksplan yang dikulturkan (auksin endogen) masih cukup untuk mendukung pertumbuhan eksplan tersebut, sehingga eksplan yang dikulturkan masih dapat memunculkan tunas tanpa penambahan auksin dari luar (auksin eksogen). IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat berperan dalam mempengaruhi perkembangan dan pembesaran sel, sehingga tekanan dinding sel terhadap protoplasma berkurang, hal ini mengakibatkan protoplast dapat mengabsorbsi air di sekitar sel, sehingga sel menjadi panjang terutama sel-sel di bagian maristem dan tanaman akan bertambah tinggi (Hidayat, 2007).
Pemberian BAP konsentrasi 2 ppm menghasilkan jumlah tunas eksplan tanaman nanas terbanyak dibandingkan perlakuan pemberian BAP 4 ppm yaitu 11.33 buah. Ini merupakan konsentrasi BAP yang optimum untuk pertumbuhan jumlah eksplan tanaman nanas.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan BAP secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah tunas tanaman nanas. Hal ini diduga pada perlakuan pemberian BAP eksplan yang ditanam menghasilkan sitokinin endogen dan ditambah lagi dengan sitokinin eksogen yaitupemberian BAP sehingga menyebabkan terhambatnya proses pemanjangan sel dan eksplan yang ditanam tidak bertambah tinggi, pada perlakuan dengan BAP ini, aktivitas dari auksin endogen terhambat karena adanya sitokinin eksogen (dalam hal ini BAP).
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah tunas tanaman nanas dimana kombinasi terbaik terdapat pada kombinasi perlakuan A0B0 jumlah tunas 17.00. Ini menunjukan bahwa subkultur tanaman nanas yang digunakan dalam penelitian ini adalah turunan yang ke III. Jumlah tunas terendah terdapat pada kombinasi perlakuan A1B0 = 6 buah dan A3B0 = 4 buah.


Tabel 2.  Rerata jumlah tunas eksplan tanaman nanas dengan pemberian berbagai konsentrasi IAA
              dan BAP (buah).
FAKTOR A
FAKTOR B
RERATA A
B0
B1
B2
B3
A0
17.00a
10.67cd
7.33fgh
6.33gh
10.33b
A1
6.00hi
10.67cd
8.67def
12.67bc
9.50c
A2
12.67bc
12.00bc
9.67de
13.67b
12.00a
A3
4.00i
12.00bc
12.25bc
8.33efg
9.15c
RERATA B
9.92bc
11.33ªª
9.48c
10.25b

KK = 6.61  %       BNJ A & B = 0.74            BNJ AB = 2.02
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf  kecil yang sama tidak  berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.


Tinggi tunas (cm)
Berdasarkan pengamatan umur muncul tunas dan jumlah tunas dapat terlihat bahwa perlakuan A2 = 2 ppm menunjukan angka terbaik, begitu juga dengan tinggi tunas tanaman nanas. Perlakuan secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap eksplan tanaman nanas dimana tinggi tunas tertinggi adalah A2 = 3.83 cm, diikuti oleh A1 = 3.79cm, A0 = 3.00 cm, dan A3 =  3.00 cm. Pemberian IAA dan BAP secara tunggal dan interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas.
Pemberian IAA 2 ppm menghasilkan tinggi tunas tertinggi yaitu 3.83 cm, ini merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan tinggi tunas eksplan tanaman nanas. IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat berperan dalam mempengaruhi perkembangan dan pembesaran sel, sehingga tekanan dinding sel terhadap protoplasma berkurang, hal ini mengakibatkan protoplast dapat mengabsorbsi air di sekitar sel, sehingga sel menjadi panjang terutama sel-sel di bagian maristem dan tanaman akan bertambah tinggi (Hidayat, 2007).
Pemberian IAA 3 ppm menghasilkan tinggi tunas terendah yaitu 3.00 cm. hal ini terjadi karena konsentrasi ini terlalu tinggi dan kurang cocok untuk pertumbuhan tinggi tunas eksplan tanaman nanas. IAA jika diberikan pada konsentrasi yang terlalu tinggi dapat manghambat pertumbuhan dari eksplan yang dikulturkan. Hal ini terjadi karena IAA ini merupakan zat pengatur tumbuh golongan auksin yang jika diberikan pada media kultur jaringan dapat berperan mendukung pertumbuhan, menghambat dan merubah proses fisiologi tumbuhan, tergantung konsentrasi yang diberikan. (Hendaryono & Wijayani, 1994).
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan BAP secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan tanaman nanas. Hal ini diduga pada perlakuan pemberian BAP eksplan yang ditanam menghasilkan sitokinin endogen dan ditambah lagi dengan sitokinin eksogen yaitupemberian BAP sehingga menyebabkan terhambatnya proses pemanjangan sel dan eksplan yang ditanam tidak bertambah tinggi, pada perlakuan dengan BAP ini, aktivitas dari auksin endogen terhambat karena adanya sitokinin eksogen (dalam hal ini BAP). Menurut Klerk (2006) zat pengatur tumbuh sitokinin dapat menghambat terjadinya pemanjangan sel sehingga eksplan yang ditanam tidak bertambah tinggi.Tingginya konsentrasi BAP menghambat pemanjangan tunas, karena dengan BAP yang tinggi akan meningkatkan jumlah tunas sehingga pengaruh pemanjangan tunas dihambat oleh pembentukan tunas baru.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan tanaman nanas dimana kombinasi terbaik terdapat pada kombinasi perlakuan A1B0 tinggi tunas 6.00 cm, sedangkan Tinggi tunas terendah terdapat pada kombinasi perlakuan A0B2 dan A0B3 tinggi tunas 2 cm.
Pemberian konsentrasi IAA 1 ppm dan tanpa pemberian BAP menghasilkan tinggi tunas terbaik yaitu 6.00 cm, ini merupakan konsentrasi IAA dan BAP secara interaksi yang tepat untuk pertumbuhan tinggi tunas eksplan buah naga.Jika diberikan pada konsentrasi yang tepat pemberian secara interaksi IAA dan BAP dapat memberikan efek yang positif terhadap pertumbuhan tinggitunas  eksplan buah nanas. Hal ini terjadi karena auksin akan menstimulasi pembesaran dan pemanjangan sel setelah terjadi pembelahan sel yang distimulir oleh sitokinin.
Perlakuan A0B2 dan A0B3 menghasilkan tinggi tunas terendah yaitu tinggi tunas 2 cm. Hal ini terjadi karena konsentrasi IAA yang digunakan terlalu tinggi sehingga menghambat pertumbuhan tinggi tunas pada eksplan yang dikulturkan. Begitu juga dengan pemberian BAP pada A0B3, diduga konsentrasi ini terlalu tinggi untuk pertumbuhan eksplan tanaman nanas. Semakin tinggi konsentrasi sitokinin yang digunakan maka aktivitas pemanjangan tunas akan terhambat.


Tabel 3.  Rerata tinggi tunas eksplan tanaman nanas dengan pemberian berbagai konsentrasi  IAA   dan BAP (cm).
FAKTOR A
FAKTOR B
RERATA A
B0
B1
B2
B3
A0
5.00b
3.00de
2.00f
2.00f
3.00b
A1
6.00a
3.14d
3.00de
3.00de
3.79a
A2
5.00b
3.33cd
4.00c
3.00de
3.83a
A3
3.00de
4.00c
2.33ef
2.67def
3.00b
RERATA B
4.75aª
3.37b
2.83c
2.67c
3.40
KK = 7.45  %                  BNJ A & B = 0.28              BNJ AB = 0.76
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf  kecil yang sama tidak  berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.


Berat Basah Akar (mg)
Berdasarkan pengamatan umur muncul tunas, jumlah tunas, dan berat basah akar dapat terlihat bahwa perlakuan A2 = 2 ppm menunjukan angka terbaik, begitu juga dengan tinggi tunas tanaman nanas. Perlakuan secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap eksplan tanaman nanas dimana tinggi tunas tertinggi adalah A2 = 3.83 cm, diikuti oleh A1 = 3.79cm, A0 = 3.00 cm, dan A3 =  3.00 cm. Pemberian IAA dan BAP secara tunggal dan interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas.
Pemberian IAA 2 ppm telah mampu menghasilkan berat basah akar terbaik yaitu 19.08 mg, ini merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan akar eksplan tanaman nanas. Hal ini terjadi karena IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat dapat memacu pembelahan sel, pemanjangan sel dan berperan dalam pengakaran. Menurut Gunawan (1990), IAA merupakan jenis auksin yang sering digunakan dalam media pengakaran.George dan Sherington (1984) menyatakan bahwa auksin berpengaruh luas terhadap pertumbuhan merangsang dan mempercepat pertumbuhan akar serta meningkatkan kulitas dan kuantitas akar.
Pemberian BAP konsentrasi 4 ppm menghasilkan berat basah akar eksplan tanaman nanas terbaik dibandingkan perlakuan pemberian BAP 4 ppm yaitu 11.33 buah. Ini merupakan konsentrasi BAP yang optimum dalam pembentukan akar eksplan tanaman nanas.
Pemberian perlakuan secara interaksi IAA 2 ppm dan BAP 2 ppm menghasilkan berat basah akar terbaik yaitu 21.33 mg, ini merupakan konsentrasi interaksi IAA dan BAP yang tepat untuk pertumbuhan eksplan tanaman nanas terutama dalam pembentukan akar. Auksin dan sitokinin merupakan dua jenis zat pengatur tumbuh tanaman yang seringkali digunakan untuk menginduksi morfogenetik tanaman (Zulkarnaen, 2009). IAA  merupakan jenis auksin yang seringkali digunakan bersamaan dengan sitokinin (BAP) untuk menginduksi akar tanaman.
Pemberian perlakuan tanpa pemberian IAA dan  tanpa pemberian BAP menghasilkan berat basah akar terendah yaitu 4.67 mg. Pemberian perlakuan pada konsentrasi ini kurang cocok untuk pertumbuhan eksplan tanaman nanas dalam pembentukan akar. Hal ini terjadi karena pada perlakuan ini konsentrasi IAA dan BAP yang digunakan tanpa ada penambahan ,sehingga tidak ada interaksi dan keseimbangan dari kedua zat pengatur tumbuh ini. Menurut Gunawan (1998), interaksi dan perimbangan zat pengatur tumbuh yang ditambahkan dalam media dan yang diproduksi oleh sel tanaman secara endogen menentukan kecepatan dan arah perkembangan suatu kultur.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat basah akar eksplan buah nanas dimana kombinasi terbaik terdapat pada kombinasi  perlakuan A2B1 berat basah akar 21.33 mg, sedangkan Berat basah akar terendah terdapat pada kombinasi perlakuan A0B0 berat basah akar 4.67 mg.


Tabel 4.   Rerata berat basah akar eksplan tanaman nanas dengan pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP (mg).
FAKTOR A
FAKTOR B
RERATA A
B0
B1
B2
B3
A0
4.67i
5.33hi
6.67gh
7.67g
6.08d
A1
16.67cde
15.67de
16.00de
15.33e
15.92b
A2
17.33cd
21.33ª
19.33b
18.33bc
19.08a
A3
11.67cde
11.67f
12.33f
12.67f
12.08c
RERATA B
12.58b
13.50a
13.58a
13.50a

KK = 4.61%                       BNJ A & B = 0.67                   BNJ AB = 1.83


KESIMPULAN DAN SARAN
Perlakuan pemberian berbagai konsentrasi IAA secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter  pengamatan yaitu umur muncul tunas A2 (pemberian IAA 2 ppm) 12.85 hari, jumlah tunas 12.00 buah , tinggi tunas 3.83 cm, dan berat basah akar 19.08 mg. Perlakuan pemberian berbagai konsentrasi BAP secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan yaitu perlakuan terbaik B2 (pemberian BAP 4 ppm) umur muncul tunas 12.08 hari, jumlah tunas dengan perlakuan B1 (pemberian BAP 2 ppm) 11.33 buah, Tinggi Tunas dengan perlakuan B0 (tanpa pemberian BAP) 4.75 cm, dan berat basah akar dengan perlakuan B0 (tanpa pemberian BAP) yaitu 12.85 mg. Perlakuan secara interaksi pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan umur muncul tunas dengan perlakuan terbaik pada kombinasi perlakuan A0B1 umur muncul tunas 7.17 hari, jumlah tunas dengan perlakuan A0B0 (IAA tanpa perlakuan dan BAP tanpa perlakuan) jumlah tunas 17.00, Tinggi tunas dengan perlakuan A1B0 (perlakuan IAA 1 ppm dan BAP tanpa perlakuan) yaitu tinggi tunas 6.00 cm dan berat basah akar dengan perlakuan terbaik A2B1 (perlakuan IAA 2ppm dan BAP 2 ppm) yaitu berat basah akar 21.33 mg.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Gizi Depkes R.I ( 1981 )
George, E.F and P.D Sherington, 1983.Handbook of Plant Propagation by Tissue Culture.Easterm   Press Ltd. England.
Hidayat. 2007. Induksi Pertumbuhan Eksplan Endosperm Ulin dengan IAA dan Kinetin. Agritop. 26 (4): 147-152.
Rozen dan Nelwida. 2002. Inisiasi kalus eksplan melinjo (Gnetumgnemon L Pada berbaga ikonsentrasi arang aktif , BAP,  dan NAA secara in-vitro. Stigma 10(1) : 26-30.
Rukmana. 1996. Budidaya Tanaman Nenas. Kanisius. Yogyakarta.
Salisbury. F.B. dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Terjemahan oleh Lukmandan Sumariyono. ITB Bandung.
Simatupang.S, 1996.Pengaruh penambahan sitokinin dan asam naftalen asetat pada media murashigedanskoogterhadapperkembanganeksplan asparagus. JurnalHortikultura.
6(2).105-108.
Wetherell, D. F. 1982. PengantarPropagasiTanamanSecaraIn Vitro.IKIP Semarang Press.
Semarang.
Yusnita. 2003. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. PT Bumi Aksara, Jakarta.








































Tidak ada komentar:

Posting Komentar