PEMBERIAN BERBAGAI
KONSENTRASI IAA DAN BAP PADA MEDIA SUB
KULTUR JARINGAN TANAMAN NANAS (Ananas comosus
(L.) Merr)
Senpriadi, Rover dan Tri Nopsagiarti
Prodi
Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan jl. Gatot
Subroto KM 7 Jake Telp. 085376755108. Senpriadi_sen@yahoo.com Teluk Kuantan
ABSTRACT
This research has been carried out in the Laboratory of Plant Biotechnology Faculty of Agriculture, Universitas Islam Riau, Pekanbaru. The design used in this study is completely randomized design
(CRD) factorial consisting of two factors, namely the provision of IAA (Factor
A) and provision of BAP (Factor B). The first factor is the provision of IAA (Factor A) are: A0 (0 ppm), A1 (1 ppm), A2 (2 ppm) and A3 (3 ppm). The second factor is the provision of BAP are: B0 (0 ppm), B1 (2 ppm), B2 (4 ppm), and B3 (6 ppm). From the results of the study concluded that the treatment of the provision of various concentrations of IAA singely provide significant effect on all parameters of the observations with the best treatment age emerged shoots A2 (8.88 days), number of shoots A2 (12.00 fruits), shoot height A2 (3.83 cm), and weight wet roots A2 (19.08 mg). Treatment provision of various concentrations of BAP singely provide significant effect on the parameters age observations emerged buds with the best treatment B3 (10.21 today), number of shoots B1 (11.33 total), shoot height B0 (4.75 cm), and root fresh weight B2 (13.58 mg). Interactions are granting various concentrations of IAA and BAP provide significant effect on the parameters of the observation age appears buds with the best treatment in the combination treatment A0B1 (7.17 today), number of shoots with A0B0 treatment (17.00 fruits), High shoot with A1B0 treatment (6.00 cm) and root fresh weight with A2B1 treatment (21.33 mg).
Keyword :
IAA, BAP, Ananas, tissues
PENDAHULUAN
Tanaman nanas (Ananas comosus (L.) Merr) merupakan
tanaman hortikultura yang telah banyak dikenal orang, karena mempunyai buah
yang manis, lezat, beraroma serta warna dan bentuk buah yang menarik. Buah
nanas juga mengandung gizi yang cukup tinggi dan lengkap yang sangat dibutuhkan
oleh tubuh manusia (Rukmana, 1996). Kandungan gizi buah nanas segar tiap 100
gram bahan terdiri dari ; Kalori 52.00 Kal, Protein 0.40 gram, Lemak 0.20 gram,
Karbohidrat 16.00 gram, Fospor 11.00 miligram, Zat besi 0.30 miligram, Vitamin
A 130.000 S.I, Vitamin B1 0.80 miligram, Vitamin C 24.00 miligram, Air 85.30
gram dan Bagian yang dapat dimakan 53.00 % (Direktorat Gizi Depkes R.I (1981) dalam Rukmana, 1996).
Data Departemen
Pertanian pada tahun 2009 menyebutkan bahwa nanas menempati urutan pertama
ekspor komoditas buah di Indonesia dengan volume ekspor sebesar 148.000 ton
dengan nilai hampir $90 juta pada tahun 2003. Volume ekspor meningkat menjadi
269.000 ton pada 2008 dengan nilai tidak kurang dari $200 juta Kebutuhan akan
bibit yang cukup besar membuat perbanyakan bibit tanaman nanas secara vegetatif
yang membutuhkan waktu yang terlalu lama dan menghasilkan bibit dalam jumlah
kecil tidak mampu memenuhi kebutuhan akan bibit, oleh karena itu metode kultur
jaringan mulai banyak digunakan untuk mendapatkan bibit nanas dengan jumlah
yang besar dalam waktu yang lebih singkat.
Yusnita (2003)
mengemukakan, teknik kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman
dengan menumbuh kembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan atau organ
dalam kondisi aseptik secara in-vitro.
Teknik ini dicirikan dengan kondisi kultur yang aseptik, penggunaan media
kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap dan ZPT (zat pengatur tumbuh),
serta kondisi ruang kultur yang suhu dan pencahayaannya terkontrol. Zat
pengatur tumbuh pada tanaman merupakan senyawa organik bukan hara, dalam jumlah
sedikit dapat berfungsi mendukung, menghambat dan dapat merubah proses
fisiologi tumbuhan. Zat pengatur tumbuh (ZPT) sangat diperlukan sebagai
komponen medium bagi pertumbuhan dan diferensiasi. ZPT yang biasa dan sering
digunakan adalah golongan auksin dan sitokinin yaitu Indole Acetic Acid (IAA) dan Benzyl
Amino-Purine (BAP). Indole Acetic
Acid (IAA) merupakan auksin yang sintesis secara alamiah didalam tubuh
tanaman, namun senyawa ini mudah mengalami degradasi akibat pengaruh cahaya dan
enzimatik (Zulkarnain, 2009).
Pada proses pembelahan
sel IAA berperan dalam pembentukan akar pada potongan jaringan dan juga
pembentukan tunas pada beberapa jaringan tanaman yang diperbanyak melalui
teknik kultur jaringan. Sitokinin
adalah jenis zat pengatur tumbuh yang berperan dalam memacu pembelahan sel,
memacu pembentukan organ, menunda penuaan, meningkatkan aktivitas wadah
penampang hara, dan memacu perkembangan kuncup sampai keluar. Yang termasuk dalam golongan sitokinin adalah Kinetin,
Zeatin, dan Benzylamino-purine (BAP) (Salisbury dan Ross, 1995). Dalam aktivitas kultur jaringan, BAP berperan dalam pembentukan tunas, menstimulir
terjadinya pembelahan sel, proliferasi kalus, mendorong
proliferasi meristem ujung, serta mendorong pembentukan
klorofil pada kalus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh
pemberian berbagai konsentrasi Indole
Acetic Acid (IAA) dan Benzylamino-purine
(BAP) pada media sub kultur tanaman nanas (Ananas comosus (L) Merr).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan
Waktu
Penelitian ini telah
dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian
Universitas Islam Riau, Jalan Kaharuddin Nasution No. 113 Kelurahan Simpang
Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Penelitian telah dilaksanakan selama Tiga bulan dari
bulan Februari sampai April 2013.
Bahan dan
Alat
Bahan-bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah eksplan tanaman
nanas varietas Queen
turunan ke III, aquades
steril, Alkohol, komposisi media MS (lampiran 2),
tepung agar, glukosa, IAA, BAP. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laminar air flow cabinet, autoclave,
timbangan analitik, erlenmeyer, gelas
ukur, gelas piala, petridish, jarum
injeksi, pipet, pengaduk kaca, pinset, scapel,
lampu spritus, hand sprayer, pisau,
pH meter, botol kultur, kompor gas, panci berlapis enamel, lemari penyimpan
bahan kimia, tabung reaksi, labu ukur, gunting, rak kultur, kulkas, ember
plastik, alat tulis dan perlengkapan pencucian.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor
pertama adalah pemberian IAA (Faktor A) dan Pemberian BAP (Faktor B).
Factor A adalah : A0 (0 ppm), A1 (1 ppm), A2 (2 ppm) and A3 (3 ppm). Faktor B: B0 (0 ppm), B1 (2 ppm), B2 (4 ppm), and B3 (6 ppm). Seluruh data dianalisis sidik ragam dan diuji lanjut
BNJ 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur Muncul Tunas (Hari)
Hasil
analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan BAP secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas eksplan tanaman nanas dimana
perlakuan umur muncul tunas tercepat terdapat pada perlakuan B3 = 10.21 hari,
diikuti oleh B1 = 10.46 hari, B0 = 11.35hari, dan B2 = 12.08 hari. Secara
interaksi pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata
terhadap umur muncul tunas eksplan tanaman nanas dimana hasil terbaik terdapat
pada kombinasi perlakuan A0B1 umur muncul tunas 7.17 hari, dan terendah A0B0
21.58, hal ini sesuai dengan pernyataan Rozen dan Nelwida (2002) bahwa kandungan
auksin dalam eksplan yang dikulturkan (auksin endogen) masih cukup untuk
mendukung pertumbuhan eksplan tersebut, sehingga eksplan yang dikulturkan masih
dapat memunculkan tunas tanpa penambahan auksin dari luar (auksin eksogen).
Pemberian
konsentrasi IAA 1 ppm menghasilkan umur muncul tunas tanaman nanas yang
tercepat yaitu 8.88 hari, ini merupakan
konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan eksplan tanaman nanas dalam
memunculkan tunas. IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat dapat
mempercepat umur muncul tunas pada eksplan tanaman nanas, karena IAA ini
merupakan zat pengatur tumbuh golongan auksin yang berfungsi untuk merangsang
pertumbuhan tunas-tunas baru.
Pada
perlakuan A1 =12.85 dan A3 =10.33 menghasilkan umur muncul tunas yang lambat,
lambatnya muncul tunas pada eksplan ini disebabkan konsentrasi IAA yang
diberikan terlalu tinggi. IAA merupakan zat pengatur tumbuh golongan auksin
yang jika diberikan dengan konsentrasi yang tepat akan menunjukkan respon yang
positif terhadap pertumbuhan eksplan tanaman nanas terutama dalam umur muncul
tunas, tetapi sebaliknya pemberian konsentrasi auksin yang terlalu tinggi
menyebabkan lambatnya muncul tunas pada eksplan. Hal ini disebabkan karena
konsentrasi auksin yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan tunas adventif dan
kalus tidak dapat terdiferensiasi menjadi tunas (George & Sherington, 1983)
Pemberian
BAP konsentrasi 6 ppm menghasilkan umur muncul tunas eksplan tanaman nanas
tercepat yaitu 10.21 hari. Ini merupakan konsentrasi BAP yang optimum untuk pertumbuhan
eksplan tanaman nanas dalam mengetahui umur tunas, karena BAP ini merupakan zat
pengatur tumbuh golongan sitokinin yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan
tunas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Simatupang (1996) bahwa adanya
sitokinin dalam kultur in-vitro mempunyai peran sebagai perangsang tunas.
Sesuai dengan pendapat Wetherell (1982) menyatakan bahwa sitokinin mempunyai
peran yang penting untuk propagasi secara in-vitro, yaitu mendorong pembelahan
sel dalam jaringan yang dibuat eksplan dan mendorong pertumbuhan tunas.
Tabel
1. Rerata umur muncul tunas eksplan tanaman
nanas dengan pemberian berbagai konsentrasi
IAA
dan BAP (Hari).
|
FAKTOR A
|
FAKTOR B
|
RERATA A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
|
21.58f
|
7.17a
|
9.42abc
|
10.00bc
|
12.04c
|
|
A1
|
8.00ab
|
17.33ab
|
18.49e
|
7.58ab
|
12.85c
|
|
A2
|
7.67ab
|
7.58ab
|
11.25c
|
9.00ab
|
8.88a
|
|
A3
|
8.17ab
|
9.75abc
|
9.17abc
|
14.25d
|
10.33b
|
|
RERATA B
|
11.35bc
|
10.46ab
|
12.08c
|
10.21a
|
|
|
KK = 8.37 %
BNJ A & B =1.01
BNJ AB = 2.76
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti huruf
kecil yang sama tidak berbeda
nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Tanpa
Pemberian IAA dan pemberian BAP 2 ppm menghasilkan umur muncul tunas tercepat
eksplan tanaman nanas dibandingkan dengan perlakuan lainnya, ini merupakan
konsentrasi yang tepat pemberian secara interaksi IAA dan BAP untuk pertumbuhan
eksplan buah naga dalam memunculkan tunas. Hal ini terjadi karena pada
konsentrasi yang tepat pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP memberikan
efek yang positif terhadap pertumbuhan eksplan buah naga.Penggunaan media
dengan komposisi auksin-sitokinin demikian diduga bahwa pada konsentrasi
tersebut telah terjadi perimbangan antara sitokinin dan auksin sehingga terjadi
pembelahan sel yang menstimulasi pembentukan tunas (George & Sherington,
1983).
Tanpa
Pemberian IAA dan tanpa pemberian BAP menghasilkan umur muncul tunas terlama
yaitu 21.58 hari. Hal ini tejadi disebabkan Pengaruh interaksi perlakuan IAA
dan BAP dengan konsentrasi IAA yang tinggi tanpa pemberian BAP , dimana dengan
peningkatan konsentrasi IAA tanpa diimbangi dengan pemberian BAP akan
memperlama kemunculan tunas. Bahkan dari hasil penelitian menunjukkan perlakuan
penambahan IAA dengan konsentrasi rendah justru memunculkan tunas paling cepat.
Jumlah Tunas
(Buah)
Berdasarkan
pengamatan umur muncul tunas dapat terlihat bahwa perlakuan A2 = 2 ppm
menunjukan angka terbaik, begitu juga dengan jumlah tunas tanaman nanas.
Perlakuan secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah tunas
eksplan tanaman nanas dimana perlakuan jumlah tunas terbanyak adalah A2 = 12.00
buah, diikuti A0 = 10.33 buah, A1 = 9.50 buah, dan A3 = 9.15 buah. Pemberian
IAA dan BAP secara tunggal dan interaksi memberikan pengaruh yang nyata
terhadap umur muncul tunas.
Tanpa Pemberian IAA menghasilkan jumlah tunas
tertinggi yaitu 17.00 buah, hal ini sesuai dengan pernyataan Rozen dan Nelwida
(2002) bahwa kandungan auksin dalam eksplan yang dikulturkan (auksin endogen)
masih cukup untuk mendukung pertumbuhan eksplan tersebut, sehingga eksplan yang
dikulturkan masih dapat memunculkan tunas tanpa penambahan auksin dari luar
(auksin eksogen). IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat berperan dalam
mempengaruhi perkembangan dan pembesaran sel, sehingga tekanan dinding sel
terhadap protoplasma berkurang, hal ini mengakibatkan protoplast dapat
mengabsorbsi air di sekitar sel, sehingga sel menjadi panjang terutama sel-sel
di bagian maristem dan tanaman akan bertambah tinggi (Hidayat, 2007).
Pemberian BAP konsentrasi 2 ppm menghasilkan
jumlah tunas eksplan tanaman nanas terbanyak dibandingkan perlakuan pemberian
BAP 4 ppm yaitu 11.33 buah. Ini merupakan konsentrasi BAP yang optimum untuk
pertumbuhan jumlah eksplan tanaman nanas.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa
perlakuan BAP secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah
tunas tanaman nanas. Hal ini diduga pada perlakuan pemberian BAP eksplan yang
ditanam menghasilkan sitokinin endogen dan ditambah lagi dengan sitokinin
eksogen yaitupemberian BAP sehingga menyebabkan terhambatnya proses pemanjangan
sel dan eksplan yang ditanam tidak bertambah tinggi, pada perlakuan dengan BAP
ini, aktivitas dari auksin endogen terhambat karena adanya sitokinin eksogen
(dalam hal ini BAP).
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa
secara interaksi pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata
terhadap jumlah tunas tanaman nanas dimana kombinasi terbaik terdapat pada
kombinasi perlakuan A0B0 jumlah tunas 17.00. Ini menunjukan bahwa subkultur
tanaman nanas yang digunakan dalam penelitian ini adalah turunan yang ke III.
Jumlah tunas terendah terdapat pada kombinasi perlakuan A1B0 = 6 buah dan A3B0
= 4 buah.
Tabel
2. Rerata jumlah tunas eksplan tanaman nanas dengan
pemberian berbagai konsentrasi IAA
dan BAP (buah).
|
FAKTOR A
|
FAKTOR B
|
RERATA A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
|
17.00a
|
10.67cd
|
7.33fgh
|
6.33gh
|
10.33b
|
|
A1
|
6.00hi
|
10.67cd
|
8.67def
|
12.67bc
|
9.50c
|
|
A2
|
12.67bc
|
12.00bc
|
9.67de
|
13.67b
|
12.00a
|
|
A3
|
4.00i
|
12.00bc
|
12.25bc
|
8.33efg
|
9.15c
|
|
RERATA B
|
9.92bc
|
11.33ªª
|
9.48c
|
10.25b
|
|
|
KK =
6.61 % BNJ A & B = 0.74 BNJ AB = 2.02
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti huruf
kecil yang sama tidak berbeda
nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Tinggi tunas (cm)
Berdasarkan pengamatan umur muncul tunas dan
jumlah tunas dapat terlihat bahwa perlakuan A2 = 2 ppm menunjukan angka
terbaik, begitu juga dengan tinggi tunas tanaman nanas. Perlakuan secara
tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap eksplan tanaman nanas dimana
tinggi tunas tertinggi adalah A2 = 3.83 cm, diikuti oleh A1 = 3.79cm, A0 = 3.00
cm, dan A3 = 3.00 cm. Pemberian IAA dan
BAP secara tunggal dan interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur
muncul tunas.
Pemberian IAA 2 ppm menghasilkan tinggi tunas
tertinggi yaitu 3.83 cm, ini merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan
tinggi tunas eksplan tanaman nanas. IAA jika diberikan pada konsentrasi yang
tepat berperan dalam mempengaruhi perkembangan dan pembesaran sel, sehingga
tekanan dinding sel terhadap protoplasma berkurang, hal ini mengakibatkan
protoplast dapat mengabsorbsi air di sekitar sel, sehingga sel menjadi panjang
terutama sel-sel di bagian maristem dan tanaman akan bertambah tinggi (Hidayat,
2007).
Pemberian IAA 3 ppm menghasilkan tinggi tunas
terendah yaitu 3.00 cm. hal ini terjadi karena konsentrasi ini terlalu tinggi
dan kurang cocok untuk pertumbuhan tinggi tunas eksplan tanaman nanas. IAA jika
diberikan pada konsentrasi yang terlalu tinggi dapat manghambat pertumbuhan
dari eksplan yang dikulturkan. Hal ini terjadi karena IAA ini merupakan zat
pengatur tumbuh golongan auksin yang jika diberikan pada media kultur jaringan
dapat berperan mendukung pertumbuhan, menghambat dan merubah proses fisiologi
tumbuhan, tergantung konsentrasi yang diberikan. (Hendaryono & Wijayani,
1994).
Hasil
analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan BAP secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan tanaman nanas. Hal ini diduga
pada perlakuan pemberian BAP eksplan yang ditanam menghasilkan sitokinin
endogen dan ditambah lagi dengan sitokinin eksogen yaitupemberian BAP sehingga
menyebabkan terhambatnya proses pemanjangan sel dan eksplan yang ditanam tidak
bertambah tinggi, pada perlakuan dengan BAP ini, aktivitas dari auksin endogen
terhambat karena adanya sitokinin eksogen (dalam hal ini BAP). Menurut Klerk
(2006) zat pengatur tumbuh sitokinin dapat menghambat terjadinya pemanjangan
sel sehingga eksplan yang ditanam tidak bertambah tinggi.Tingginya konsentrasi
BAP menghambat pemanjangan tunas, karena dengan BAP yang tinggi akan
meningkatkan jumlah tunas sehingga pengaruh pemanjangan tunas dihambat oleh
pembentukan tunas baru.
Hasil
analisis sidik ragam menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian perlakuan IAA
dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan tanaman
nanas dimana kombinasi terbaik terdapat pada kombinasi perlakuan A1B0 tinggi
tunas 6.00 cm, sedangkan Tinggi tunas terendah terdapat pada kombinasi
perlakuan A0B2 dan A0B3 tinggi tunas 2 cm.
Pemberian
konsentrasi IAA 1 ppm dan tanpa pemberian BAP menghasilkan tinggi tunas terbaik
yaitu 6.00 cm, ini merupakan konsentrasi IAA dan BAP secara interaksi yang
tepat untuk pertumbuhan tinggi tunas eksplan buah naga.Jika diberikan pada
konsentrasi yang tepat pemberian secara interaksi IAA dan BAP dapat memberikan
efek yang positif terhadap pertumbuhan tinggitunas eksplan buah nanas. Hal ini terjadi karena
auksin akan menstimulasi pembesaran dan pemanjangan sel setelah terjadi
pembelahan sel yang distimulir oleh sitokinin.
Perlakuan
A0B2 dan A0B3 menghasilkan tinggi tunas terendah yaitu tinggi tunas 2 cm. Hal
ini terjadi karena konsentrasi IAA yang digunakan terlalu tinggi sehingga
menghambat pertumbuhan tinggi tunas pada eksplan yang dikulturkan. Begitu juga
dengan pemberian BAP pada A0B3, diduga konsentrasi ini terlalu tinggi untuk
pertumbuhan eksplan tanaman nanas. Semakin tinggi konsentrasi sitokinin yang
digunakan maka aktivitas pemanjangan tunas akan terhambat.
Tabel 3. Rerata
tinggi tunas eksplan tanaman nanas dengan pemberian berbagai konsentrasi IAA dan
BAP (cm).
|
FAKTOR A
|
FAKTOR B
|
RERATA A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
|
5.00b
|
3.00de
|
2.00f
|
2.00f
|
3.00b
|
|
A1
|
6.00a
|
3.14d
|
3.00de
|
3.00de
|
3.79a
|
|
A2
|
5.00b
|
3.33cd
|
4.00c
|
3.00de
|
3.83a
|
|
A3
|
3.00de
|
4.00c
|
2.33ef
|
2.67def
|
3.00b
|
|
RERATA B
|
4.75aª
|
3.37b
|
2.83c
|
2.67c
|
3.40
|
|
KK =
7.45 % BNJ A & B = 0.28 BNJ AB = 0.76
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti huruf
kecil yang sama tidak berbeda
nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Berat
Basah Akar (mg)
Berdasarkan pengamatan umur muncul tunas,
jumlah tunas, dan berat basah akar dapat terlihat bahwa perlakuan A2 = 2 ppm
menunjukan angka terbaik, begitu juga dengan tinggi tunas tanaman nanas.
Perlakuan secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap eksplan
tanaman nanas dimana tinggi tunas tertinggi adalah A2 = 3.83 cm, diikuti oleh
A1 = 3.79cm, A0 = 3.00 cm, dan A3 = 3.00
cm. Pemberian IAA dan BAP secara tunggal dan interaksi memberikan pengaruh yang
nyata terhadap umur muncul tunas.
Pemberian
IAA 2 ppm telah mampu menghasilkan berat basah akar terbaik yaitu 19.08 mg, ini
merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan akar eksplan tanaman nanas.
Hal ini terjadi karena IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat dapat memacu
pembelahan sel, pemanjangan sel dan berperan dalam pengakaran. Menurut Gunawan
(1990), IAA merupakan jenis auksin yang sering digunakan dalam media
pengakaran.George dan Sherington (1984) menyatakan bahwa auksin berpengaruh
luas terhadap pertumbuhan merangsang dan mempercepat pertumbuhan akar serta
meningkatkan kulitas dan kuantitas akar.
Pemberian
BAP konsentrasi 4 ppm menghasilkan berat basah akar eksplan tanaman nanas
terbaik dibandingkan perlakuan pemberian BAP 4 ppm yaitu 11.33 buah. Ini merupakan konsentrasi BAP yang optimum dalam
pembentukan akar eksplan tanaman nanas.
Pemberian perlakuan secara interaksi IAA 2 ppm dan BAP 2
ppm menghasilkan berat basah akar terbaik yaitu 21.33 mg, ini merupakan
konsentrasi interaksi IAA dan BAP yang tepat untuk pertumbuhan eksplan tanaman
nanas terutama dalam pembentukan akar. Auksin dan sitokinin merupakan dua jenis
zat pengatur tumbuh tanaman yang seringkali digunakan untuk menginduksi
morfogenetik tanaman (Zulkarnaen, 2009). IAA
merupakan jenis auksin yang seringkali digunakan bersamaan dengan
sitokinin (BAP) untuk menginduksi akar tanaman.
Pemberian perlakuan tanpa pemberian IAA dan tanpa pemberian BAP menghasilkan berat basah
akar terendah yaitu 4.67 mg. Pemberian perlakuan pada konsentrasi ini kurang
cocok untuk pertumbuhan eksplan tanaman nanas dalam pembentukan akar. Hal ini
terjadi karena pada perlakuan ini konsentrasi IAA dan BAP yang digunakan tanpa
ada penambahan ,sehingga tidak ada interaksi dan keseimbangan dari kedua zat
pengatur tumbuh ini. Menurut Gunawan (1998), interaksi dan perimbangan zat
pengatur tumbuh yang ditambahkan dalam media dan yang diproduksi oleh sel
tanaman secara endogen menentukan kecepatan dan arah perkembangan suatu kultur.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa secara interaksi
pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat
basah akar eksplan buah nanas dimana kombinasi terbaik terdapat pada
kombinasi perlakuan A2B1 berat basah
akar 21.33 mg, sedangkan Berat basah akar terendah terdapat pada kombinasi
perlakuan A0B0 berat basah akar 4.67 mg.
Tabel 4. Rerata
berat basah akar eksplan tanaman nanas dengan pemberian berbagai konsentrasi
IAA dan BAP (mg).
|
FAKTOR A
|
FAKTOR B
|
RERATA A
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
|
4.67i
|
5.33hi
|
6.67gh
|
7.67g
|
6.08d
|
|
A1
|
16.67cde
|
15.67de
|
16.00de
|
15.33e
|
15.92b
|
|
A2
|
17.33cd
|
21.33ª
|
19.33b
|
18.33bc
|
19.08a
|
|
A3
|
11.67cde
|
11.67f
|
12.33f
|
12.67f
|
12.08c
|
|
RERATA B
|
12.58b
|
13.50a
|
13.58a
|
13.50a
|
|
|
KK =
4.61% BNJ A &
B = 0.67 BNJ AB =
1.83
|
|||||
KESIMPULAN DAN SARAN
Perlakuan pemberian berbagai konsentrasi IAA secara
tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pengamatan yaitu umur muncul tunas A2
(pemberian IAA 2 ppm) 12.85 hari, jumlah tunas 12.00 buah , tinggi tunas 3.83
cm, dan berat basah akar 19.08 mg. Perlakuan pemberian berbagai konsentrasi BAP
secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan
yaitu perlakuan terbaik B2 (pemberian BAP 4 ppm) umur muncul tunas 12.08 hari,
jumlah tunas dengan perlakuan B1 (pemberian BAP 2 ppm) 11.33 buah, Tinggi Tunas
dengan perlakuan B0 (tanpa pemberian BAP) 4.75 cm, dan berat basah akar dengan
perlakuan B0 (tanpa pemberian BAP) yaitu 12.85 mg. Perlakuan secara interaksi
pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata
terhadap parameter pengamatan umur muncul tunas dengan perlakuan terbaik pada
kombinasi perlakuan A0B1 umur muncul tunas 7.17 hari, jumlah tunas dengan
perlakuan A0B0 (IAA tanpa perlakuan dan BAP tanpa perlakuan) jumlah tunas
17.00, Tinggi tunas dengan perlakuan A1B0 (perlakuan IAA 1 ppm dan BAP tanpa
perlakuan) yaitu tinggi tunas 6.00 cm dan berat basah akar dengan perlakuan
terbaik A2B1 (perlakuan IAA 2ppm dan BAP 2 ppm) yaitu berat basah akar 21.33
mg.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Gizi Depkes R.I ( 1981 )
George,
E.F and P.D Sherington, 1983.Handbook of
Plant Propagation by Tissue Culture.Easterm Press
Ltd. England.
Hidayat.
2007. Induksi Pertumbuhan Eksplan Endosperm Ulin dengan IAA dan Kinetin.
Agritop. 26 (4): 147-152.
Rozen dan Nelwida. 2002. Inisiasi kalus
eksplan melinjo (Gnetumgnemon L Pada berbaga ikonsentrasi arang aktif ,
BAP, dan NAA secara in-vitro. Stigma 10(1)
: 26-30.
Rukmana. 1996. Budidaya Tanaman Nenas.
Kanisius. Yogyakarta.
Salisbury. F.B. dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid
3. Terjemahan oleh Lukmandan Sumariyono. ITB Bandung.
Simatupang.S, 1996.Pengaruh
penambahan sitokinin dan asam naftalen asetat pada media murashigedanskoogterhadapperkembanganeksplan
asparagus. JurnalHortikultura.
6(2).105-108.
Wetherell, D. F. 1982. PengantarPropagasiTanamanSecaraIn
Vitro.IKIP Semarang Press.
Semarang.
Yusnita. 2003. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman
Secara Efisien. Agromedia
Pustaka,
Jakarta.
Zulkarnain.
2009. Kultur Jaringan Tanaman. PT Bumi Aksara, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar