PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN
KOMPOS TITONIA ( Tithonia diversifolia) DENGAN AGEN HAYATI UNTUK
TANAMAN KEDELAI (Glycine max(L) Merr) PADA ULTISOLS
Deno Okalia*
Laboratorium Pusat Penelitian Pemanfaatan Iptek Nuklir
(P3IN)
Universitas Andalas Limau Manis
Padang. Sumatera Barat
*E-mail : oka_lia@yahoo.co.id
ABSTRACT
Research on the manufacture and use of compost Titonia
(Tithonia diversifolia) with a biological agent for soybean (Glycine max (L)
Merr) on Ultisols have been conducted at the Faculty of Animal Science,
University of Andalas Padang and Utilization Laboratory of Nuclear Science and
Technology Research Center (P3IN) Universitas Andalas Limau Manis Padang. The
study was conducted from December 2007 to June 2008. This study consisted of 7
treatments with 3 groups in a randomized complete block design (RAK). The
research data were analyzed using the F test at the 5% level, and if the
treatment effect is real, then proceed with the test HSD (Honestly Significant
Difference) at the level of 5%. The treatments were A = Compost (Titonia + Orgadec)
+ 50% NK fertilizers needed soy, B = Compost (Titonia + EM4 ) + 50%
NK fertilizers needed soy, C = Compost (Titonia + stardec) + 50 % NK
fertilizers needed soy, D = Compost (Titonia without biological agents) + 50% NK
fertilizers needed soy, E = fresh Titonia + 50% NK fertilizers needed soy, F =
100% artificial fertilizers, and G = Without any input. From these results it
can be concluded that the use of biological agents such as Orgadec, EM4 and
stardec not needed in composting Titonia. The use compost of Titonia can
improve Ultisols chemical properties such as pH increased by 0.53 units, 0.07%
N, 1.5 K me/100 g, P at 136.42 ppm, Ca of 0.56 me/100 g, and an increase Mg of
0.08 me/100g.
Keywords:
compost, Titonia, biological agents, ultisol.
PENDAHULUAN
Tanah mempunyai peranan yang penting dalam
pengembangan pertanian di Indonesia. Akan tetapi pertambahan pen duduk yang
semakin meningkat membuat lahan pertanian yang subur dan produktif semakin
berkurang karena sudah dipakai dan sebagian mengalami pengalihan fungsi,
sehingga yang tersisa hanyalah lahan-lahan yang bermasalah dan tidak subur atau
marginal. Salah satu tanah marginal yang
keberadaanya paling luas di Indonesia adalah ordo Ultisols yang memiliki
tingkat kesuburan rendah karena bereaksi masam dan miskin hara terutama unsur
N, P dan K. Ultisols mempunyai sebaran yang sangat luas,
meliputi hampir 25% dari total daratan Indonesia. Ultisols umumnya mempunyai horizon A yang tipis, dengan kandungan
bahan organik dan hara yang rendah (Subagyo et
al., 2004).
Perbaikan produktivitas dan kesu buran Ultisols dapat
dilakukan dengan pengapuran, pemupukan NPK dan penambahan bahan organik yang
cukup. Masalah timbul ketika
petani harus selalu memberikan pupuk dalam jumlah tinggi,
sedangkan harga pupuk semakin mahal, padahal modal petani sangat terbatas. Oleh karena itu, harus ada upaya mencari
bahan lain yang dapat mengurangi penggunaan pupuk buatan tanpa menurunkan
produksi, misalnya penggunaan bahan organik yang mudah dihasilkan.
Salah satu sumber bahan organik yang berpotensi untuk
maksud tersebut adalah Tithonia
diversifolia (titonia) atau yang dikenal dengan nama bunga matahari Meksiko
(Mexican sun flower). Titonia me rupakan
gulma tahunan yang memiliki potensi besar untuk memperbaiki ke suburan
tanah. Daun kering titonia me ngandung
hara yang tinggi yaitu 3,5% N, 0,35% P, dan 4,1% K (Jama et al., 2000).
Hakim dan Agustian (2003) melaporkan bahwa rata-rata
kandungan hara titonia yang terdapat di Sumatera Barat juga tinggi, yaitu 3,16%
N; 0,38% P dan 3,45% K. Oleh karena itu,
tumbuhan ini dapat dijadikan sumber hara, terutama N dan K bagi tanaman.
Berdasarkan hasil penelitian Hakim dan Agustian (2005) pada Ultisols diketahui,
bahwa kebutuhan NK pupuk buatan untuk tanaman cabe, jahe dan jagung dapat
disubstitusi (digantikan) sebanyak 25% sampai 50% dengan NK titonia. Dengan
substitusi NK sebanyak 50% dari titonia tersebut diperoleh buah cabe segar
sebanyak 9,36 ton/ha dan rimpang jahe segar sebanyak 11 ton/ha, serta jagung
pipilan kering sebanyak 3,84 ton/ha.
Sedangkan dengan 100% pupuk buatan diperoleh hasil cabe sebanyak 8,29
ton/ha, jahe segar sebanyak 9,8 ton/ha,
dan jagung pipilan kering sebanyak 3,05 ton/ha.
Tanaman kedelai merupakan tanaman semusim, berupa semak
rendah, tumbuh tegak dan berdaun lebat yang tergolong famili Leguminoceae (legum). Tinggi tanaman
kedelai berkisar antara 20 – 100 cm dan dapat bercabang sedikit atau banyak
tergantung kultivar dan lingkungan hidupnya (Hidayat,1985). Tanaman kedelai dapat
tumbuh dengan baik pada tanah gembur dan kaya akan humus atau bahan organik.
Akan tetapi, pada tanah yang kurang subur pertumbuhannya akan terhambat dan
produksinya akan rendah.
Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui
apakah diperlukan agen hayati dalam pengomposan titonia; (2) untuk mengetahui
pengaruh berbagai kompos titonia terhadap perbaikan sifat kimia Ultisols; (3)
untuk mengetahui agen hayati yang paling tepat dalam pembuatan kompos titonia
guna memperoleh hasil kedelai yang tinggi pada Ultisols.
BAHAN DAN METODA
Waktu dan Tempat
Penelitian ini berbentuk
percobaan lapangan di
Kebun Percobaan Fakultas Peternakan Universitas Andalas Limau Manis Padang. Dilanjutkan
dengan analisis kompos, tanah dan tanaman di Laboratorium P3IN (Pusat Penelitian
Pemanfaatan IPTEK Nuklir) Universitas Andalas Padang. Penelitian ini
telah dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan Juni 2008.
Bahan dan Alat
Bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah pangkasan tanaman titonia yang diambil di
kebun percobaan Fakultas Peternakan Universitas Andalas Limau Manis Padang.
Agen hayati yang digunakan adalah Orgadec, EM4 (campuran), dan
Stardec. Tanah yang di gunakan adalah ordo Ultisols yang
terdapat di Kebun Percobaan Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang.
Untuk mengurangi kemasaman tanah diberi tambahan kapur giling dolomitik 100%
lolos saringan 20 mesh. Pupuk buatan yang digunakan adalah Urea, SP36
dan KCl. Bibit kedelai yang digunakan adalah varietas Baluran. Untuk pe ngendalian
hama dan penyakit pada tanaman digunakan curater, Dithane M-45, dan Leybachit.
Metode Penelitian
Penelitian
ini dilakukan dalam bentuk percobaan lapangan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang
terdiri atas 7 perlakuan dengan 3 kelompok. Dengan demikian, percobaan ini
terdiri dari 21 satuan percobaan. Penelitian ini
menggunakan petak bekas tanaman jagung pada musim tanam pertama. Hasil penelitian ini diuji secara statistik
dengan uji F, kemudian bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji BNJ (Beda
Nyata Jujur) pada taraf 5%.
Takaran titonia sebagai sumber bahan organik dan
sekaligus sumber unsur hara terutama N dan K, dihitung berdasarkan kadar N titonia 3% N, dan kadar air
500% (KKA = 6). Mengingat Ultisol sangat miskin, takaran N titonia
disetarakan dengan 100% kebutuhan N tanaman kedelai, berarti jumlah titonia yang akan dikomposkan sebanyak 15 kg titonia segar. Perlakuan dirancang berdasarkan rekomendasi pemupukkan tanaman
kedelai yaitu 100 kg Urea/ha, 100 kg SP36/ha, 100 kg KCl/ha dan 100 kg kiserit/ha, serta kapur 500
kg/ha. Pupuk NK 1
untuk 50% N dan K kebutuhan tanaman kedelai, sedangkan pupuk P dan Mg diberikan
100% kebutuhan tanaman kedelai.
Perlakuan dalam
pembuatan kompos sebagai berikut :
A = Titonia
+ orgadec
B = Titonia + EM4
C = Titonia
+ Stardec
D = Titonia
tidak ditambah agen hayati.
Perlakuan dilapangan sebagai berikut:
|
A =
|
Kompos A + 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai
|
|
B =
|
Kompos B + 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai
|
|
C =
|
Kompos C + 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai
|
|
D =
|
Kompos D + 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai
|
|
E =
|
Titonia segar dibenamkan 4 minggu sebelum tanam + 50% NK pupuk
buatan
kebutuhan kedelai
|
|
F =
|
100 % pupuk buatan
|
|
G =
|
tanpa masukkan apapun.
|
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Analisis Kompos
Kandungan Hara Kompos Titonia
Ciri kimia kompos titonia
yang meliputi pH, C-organik, N-total, C/N, P-total, K, Ca, dan Mg dapat dilihat
pada Tabel 1. Semua kompos titonia mempunyai pH netral
dan pemberian agen hayati tidak berpengaruh terhadap kandungan hara kompos
titonia. Nilai pH 6,5 – 6,7 sudah sesuai
dengan syarat kompos yang baik, seperti yang dikemukakan oleh Salundik dan
Simamora (2006), bahwa nilai pH kompos sekitar 6,5 – 7,5 sudah bagus.
Tabel 1.
Ciri kimia kompos titonia dengan agen hayati yang berbeda - beda dan
tanpa agen hayati.
|
Ciri kimia Kompos
|
Perlakuan
|
|||
|
A (15 kg
Titonia + Orgadec)
|
B (15 kg
Titonia + EM4)
|
C (15 kg
Titonia + Stardec)
|
D (15 kg
Titonia)
|
|
|
pH
|
6,61
|
6,74
|
6,63
|
6,51
|
|
C-organik
(%)
|
42,169
|
43,079
|
41,859
|
43,640
|
|
N-total
(%)
|
2,800
|
3,236
|
3,204
|
3,329
|
|
C/N
|
15,060
|
13,314
|
13,063
|
13,110
|
|
P-total
(%)
|
0,163
|
0,234
|
0,191
|
0,229
|
|
K-total(%)
|
3,512
|
3,789
|
3,948
|
4,265
|
|
Ca-total
(%)
|
1,333
|
1,364
|
2,054
|
1,677
|
|
Mg-total
(%)
|
0,763
|
0,772
|
0,803
|
0,824
|
Pada Tabel
1 terlihat bahwa kandungan C-organik kompos titonia relatif sama pada semua
perlakuan (A, B, C dan D ) berkisar antara 41,859 – 43,079% atau sekitar
71,997–74,095% bahan organik. Kadar
C-organik yang relatif sama tersebut menunjukkan bahwa titonia tidak perlu
diberi agen hayati dalam pengomposan nya. Dengan kata lain titonia mudah melapuk. Kandungan bahan organik ≥ 70% sudah memenuhi
syarat kompos yang baik. Hal ini berarti
kompos titonia dapat me nyumbangkan
bahan organik tinggi yang
merupakan sumber unsur hara bagi
tanaman.
Kandungan N-total kompos titonia pada Tabel 1 hampir
seragam, yaitu sekitar 2,800 – 3,329%. Kadar N sebesar 2,8 – 3,3% tersebut sudah
sesuai dengan syarat kompos yang baik pada Lampiran 11, yaitu ≥ 2,12% N. Kandungan N kompos yang paling tinggi terdapat pada perlakuan D (3,329%), kemudian disusul oleh perlakuan B (3,236%)
dan C (3,204%). Kadar N yang paling rendah didapatkan pada
perlakuan A (2,800%), yaitu kompos yang menggunakan titonia + Orgadec.
Parnata (2004), menyatakan
bahwa tumbuhan memerlukan N untuk pertumbuhan, terutama pada fase vegetatif
yaitu pertumbuhan cabang, daun, dan batang.
Kekurangan N dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak normal atau
kerdil, jaringan tanaman mengering dan mati, pertumbuhan buah tidak sempurna
yaitu cepat masak dan kadar proteinnya kecil.
Pada Tabel 1, dapat dilihat ratio C/N seluruh kompos
titonia pada semua perlakuan (A, B, C dan D) ≤ 20. Hal ini berarti kompos titonia yang
diinkubasikan selama empat minggu sudah mencapai tingkat kematangan sempurna
dan siap untuk diaplikasikan di lapangan.
Indriani (2001), menyatakan bahwa nilai C/N merupakan hasil perbandingan
antara karbohidrat dengan N. Hal yang sama
juga dinyatakan oleh Simamora dan Salundik (2006), bahwa kompos yang sudah
matang akan memiliki ciri: 1) tingkat kemasaman (pH) kompos agak masam sampai
netral (6,5 – 7,5); 2) memiliki C/N
sebesar 10 – 20; dan 3) daya absorbsi (penyerapan) air tinggi.
Pada Tabel
1 dapat dilihat kandungan hara P, K, Ca dan Mg pada semua perlakuan sudah
memenuhi syarat kualitas kompos yang baik. Kandungan hara kompos pada semua
perlakuan hampir seragam yaitu sekitar 0,163 - 0,229% P; 3,512 - 4,265% K;
1,333 - 2,054% Ca; dan 0,763 - 0,824% Mg. Namun demikian, kandungan P dan K
tertinggi masih terdapat pada perlakuan D (kompos tanpa agen hayati). Hal itu menunjukkan bahwa titonia yang diberi
agen hayati telah kehilangan sebagian unsur hara P, K, Ca, dan Mg. Pemberian agen hayati telah menyebabkan
perombakan lebih meningkat dan membebaskan sejumlah unsur hara N, P, K, Ca, dan
Mg. Sayangnya unsur yang larut tersebut
terbawa hanyut bersama cairan titonia yang mengalir keluar wadah pengomposan.
Hasil Analisis Tanah
Kemasaman (pH), dan Al-dd Tanah
Pengaruh
penambahan kompos titonia terhadap pH dan Al-dd tanah ultisol dapat dilihat
pada Tabel 2. Pada Tabel 2 terlihat bahwa pH tanah awal sebelum pemberian kompos
titonia pada semua perlakuan (A, B, C, D, E, F, dan G), tergolong agak masam
(berdasarkan Tabel kriteria sifat kimia tanah).
Nilai pH pada semua perlakuan berkisar 5,9 – 6,21.
Tabel 2. Hasil analisis pH
dan Al-dd tanah awal dan setelah diinkubasi dengan kompos titonia selama 1
minggu.
|
Perlakuan
|
Ciri Kimia Tanah Awal
|
Ciri Kimia Tanah Inkubasi
|
||||
|
pH H2O
|
pH KCl
|
Al-dd (me/100g)
|
pH H2O
|
pH KCl
|
Al-dd (me/100g)
|
|
|
A kompos (Tt + Org)
|
5,75am
|
5,21am
|
Tu
|
6,33am
|
5,83am
|
tu
|
|
B kompos (Tt + EM4)
|
5,72am
|
5,40am
|
Tu
|
6,34am
|
5,92am
|
tu
|
|
C kompos (Tt + Std)
|
5,69am
|
5,46am
|
Tu
|
6,27am
|
5,90am
|
tu
|
|
D kompos (Tt)
|
5,83am
|
5,27am
|
Tu
|
6,42am
|
5,88am
|
tu
|
|
E (Tt segar)
|
6,19am
|
5,39am
|
Tu
|
6,26am
|
6,60am
|
tu
|
|
F (100% P btn)
|
5,89am
|
5,32am
|
Tu
|
5,89am
|
5,32am
|
tu
|
|
G (Kontrol)
|
6,21am
|
5,28am
|
0,20
|
6,21am
|
5,28am
|
0,20
|
Ket : am : agak masam, tu : tidak terukur, P btn :
pupuk buatan
Tabel 2
menunjukkan bahwa pH setelah tanah diinkubasikan dengan titonia baik dalam
bentuk kompos ataupun segar, masih berada pada kriteria agak masam (A, B, C, D,
dan E), meskipun tidak terjadi perubahan kriteria pH setelah diin kubasikan
dengan kompos titonia, tetapi peningkatan nilai pH beberapa unit setelah
inkubasi cukup menggembirakan. Pening katan nilai pH H2O pada
perlakuan A, B, C, D dan E sekitar 0,50
– 0,61 unit dan pH KCl sebesar 0,44 -
0,62 unit. Peningkatan nilai pH
tersebut, menyebabkan Al-dd pun tetap tidak terukur, sedangkan perlakuan F dan G
(kontrol) tidak mengalami peningkatan pH, karena memang tidak diberikan input
apapun dalam proses inkubasi. Peningkatan pH H2O tertinggi terdapat
pada perlakuan B (kompos dengan agen hayati EM4) yaitu sebesar 0,61
unit, kemudian disusul oleh perlakuan D (tanpa agen hayati) sebesar 0,59
unit.
Nilai pH
seluruh tanah setelah diinkubasi dengan kompos titonia jika dibandingkan dengan
pH perlakuan F, lebih tinggi sekitar 0,38 – 0,53 unit. Peningkatan nilai pH tanah ini, berhubungan
erat dengan tingginya nilai pH dan kandungan
C-organik kompos titonia pada perlakuan tersebut (Tabel 1).
Kandungan C - Organik, N
total, dan C/N Tanah
Pengaruh
inkubasi titonia pada Ultisols terhadap
kandungan C- organik, N-total, dan C/N tanah dapat dilihat pada Tabel
3. Kandungan C-organik di dalam tanah
mengalami peningkatan setelah diinkubasikan dengan perlakuan kompos titonia dan
titonia segar (A, B, C, D, dan E). Tanah
yang diinkubasi dengan kompos dan titonia segar tersebut, mengalami peningkatan kadar C-organik yang relatif
seragam, dari kriteria rendah menjadi kriteria sangat tinggi.
Hasil
analisis kimia (Tabel 3) menunjukkan bahwa kandungan C-organik tanah awal pada semua perlakuan
sebelum diinkubasi dengan kompos titonia tergolong rendah. Kandungan C-organik
tertinggi terdapat pada perlakuan A
yaitu 1,70% dan terendah terdapat pada perlakuan F (100% pupuk buatan)
yaitu sebesar 1,48%. Kadar C yang lebih
rendah pada perlakuan F ini disebabkan petakan F memang tidak pernah diberikan
input bahan organik pada musim tanam sebelumnya, hanya dilakukan pemberian 100%
pupuk buatan saja.
Peningkatan kandungan C-organik pada semua tanah yang
diinkubasikan di atas disebabkan oleh pemberian kompos titonia, yang merupakan
sumber bahan organik. Tampaknya, titonia lebih baik diberikan dalam bentuk
kompos karena dapat meningkatkan kandungan C-organik lebih tinggi. Hal ini
selaras dengan pendapat Suriadikarta et
al. dalam PPPTA (2005), yang
menyatakan bahwa jika sisa tanaman berupa kompos ditambahkan ke dalam tanah,
maka berbagai bahan organik akan mengalami dekomposisi. Gula, tepung dan protein akan mengalami
dekomposisi secara cepat, sedangkan lemak, lilin dan lignin mengalami
dekomposisi secara lambat bahkan lignin sangat lambat. Semua bahan itu, akan menjadi bahan organik
tanah.
Tabel 3. Hasil analisis
kandungan C-organik, N total, dan C/N tanah awal dan setelah diinkubasi dengan
kompos titonia selama 1 minggu.
|
Perlakuan
|
Ciri Kimia Tanah
|
||||||
|
Tanah Awal
|
|
Tanah setelah diinkubasi dg
kompos
|
|||||
|
C-organik
|
N - total
|
C/N
|
|
C-organik
|
N - total
|
C/N
|
|
|
(%)
|
|
|
(%)
|
|
|||
|
A
kompos (Tt + Org)
|
1,70rd
|
0,25sd
|
6,80rd
|
|
6,45st
|
0,39sd
|
16,55tg
|
|
B
kompos (Tt + EM4)
|
1,52rd
|
0,29sd
|
5,24rd
|
|
5,39st
|
0,39sd
|
13,62sd
|
|
C
kompos (Tt + Std)
|
1,57rd
|
0,23sd
|
4,90rd
|
|
5,17st
|
0,32sd
|
16,03tg
|
|
D
kompos (Tt)
|
1,75rd
|
0,18sd
|
9,72rd
|
|
5,26st
|
0,29sd
|
18,13tg
|
|
E
(Tt segar)
|
1,62rd
|
0,29sd
|
5,59rd
|
|
4,76st
|
0,30sd
|
15,68sd
|
|
F
(100% P btn)
|
1,48rd
|
0,32sd
|
4,63sr
|
|
1,48rd
|
0,32sd
|
4,63sr
|
|
G
(Kontrol)
|
1,52rd
|
0,20rd
|
7,60rd
|
|
1,52rd
|
0,20rd
|
7,60m
|
Ket : rd : rendah, st : sangat tinggi, sd :sedang,
sr : sangat rendah.
Pada Tabel
3 terlihat bahwa tidak terjadi perubahan kriteria N-total tanah setelah
diinkubasikan dengan kompos titonia perlakuan (A, B, C, dan D), karena nilai
N-total tanah masih tetap berada pada kriteria sedang. Meskipun tidak terjadi perubahan kriteria
N-total pada tanah inkubasi, namun masih terdapat peningkatan nilai persentase N sekitar 0,14%
pada perlakuan A; 0,1% pada perlakuan B; 0,09% pada perlakuan C; 0,11% pada
perlakuan D; dan 0,01% pada perlakaun E.
Kenaikan kadar N tanah tersebut sebetulnya sangat tinggi, karena 0,1 % N
sedalam 10 cm saja sudah sama dengan 1000 kg N/ha.
Kandungan Kation Basa dan Nilai P - tersedia
Hasil
analisis kimia kation basa K dan P-tersedia tanah awal dan setelah diinkubasi
dengan kompos titonia dapat dilihat pada Tabel 4, sedangkan hasil analisis
kimia kation basa Ca dan Mg tanah awal dan setelah setelah inkubasi dengan
kompos titonia disajikan pada Tabel 5.
Tabel 4. Hasil analisis K
dan P-tersedia tanah awal dan setelah diinkubasi dengan kompos titonia selama 1
minggu
|
Perlakuan
|
Tanah Awal
|
Tanah setelah diinkubasi dengan
kompos
|
|||||||
|
K-dd
|
P-tersedia
|
K-dd
|
P-tersedia
|
||||||
|
(me/100g)
|
ppm ppm
|
(me/100g)
|
ppm
|
||||||
|
A
kompos (Tt + Org)
|
0,21 rd
|
8,88rd
|
1,38st
|
146,10st
|
|||||
|
B
kompos (Tt + EM4)
|
0,35sd
|
1,85sr
|
1,89st
|
159,10st
|
|||||
|
C
kompos (Tt + Std)
|
0,25 rd
|
0,32sr
|
1,56st
|
73,20st
|
|||||
|
D
kompos (Tt)
|
0,31sd
|
2,10sr
|
1,75st
|
18,40sd
|
|||||
|
E
(Tt segar)
|
0,27rd
|
2,89sr
|
1,19st
|
15,90sd
|
|||||
|
F
(100% P btn)
|
0,38sd
|
22,68sd
|
0,38sd
|
22,68sd
|
|||||
|
G
(Kontrol)
|
0,19rd
|
0,02sr
|
0,19rd
|
0,02 sr
|
|||||
Ket : sr = sangat rendah, rd =
rendah, sd = sedang, Tg = tinggi, st
= sangat tingi
Pada
Tabel 4 dapat dilihat bahwa K-dd tanah awal pada semua perlakuan berada pada
kriteria rendah sampai sedang. Nilai K-dd tanah awal untuk perlakuan D, B, dan
F tergolong kriteria sedang yaitu sekitar 0,31 - 0,38 me/100g. Nilai K-dd tertinggi terdapat pada perlakuan
F yaitu sebesar 0,38 me/100g tanah karena memang pada musim tanam sebelumnya
petakan F ini diberikan pupuk buatan 100% sehingga unsur hara K lebih banyak
tersedia. Perlakuan lainnya (A, C, E,
dan G) mempunyai nilai K-dd yang
tergolong rendah yaitu sekitar
0,19 – 0,27 me/100g. Hal ini menunjukkan bahwa dibutuhkan input K tambahan ke
dalam tanah tersebut.
Pada
Tabel 4, juga terlihat bahwa P-tersedia tanah awal pada semua perlakuan berada
pada kriteria sangat rendah sampai sedang yaitu sekitar 0,02 – 22,68 ppm. Nilai
P-tersedia paling rendah terdapat pada perlakuan G (kontrol) yaitu 0,02 ppm,
hal ini disebabkan memang tanah ini dari musim tanam sebelumnya tidak pernah
diberikan input apapun.
Tabel 5. Hasil analisis Ca dan Mg
tanah awal dan setelah diinkubasi dengan kompos titonia selama 1 minggu.
|
Perlakuan
|
Tanah Awal
|
Tanah setelah diinkubasi dengan
kompos
|
|||
|
Ca-dd
|
Mg-dd
|
Ca-dd
|
Mg-dd
|
||
|
(me/100g)
|
|||||
|
A kompos (Tt + Org)
|
1,50sr
|
0,24sr
|
2,06rd
|
0,32rd
|
|
|
B kompos (Tt + EM4)
|
1,74sr
|
0,31rd
|
2,15rd
|
0,34rd
|
|
|
C kompos (Tt + Std)
|
2,63rd
|
0,27sr
|
2,38rd
|
0,33rd
|
|
|
D kompos (Tt)
|
2,06rd
|
0,27sr
|
2,41rd
|
0,34rd
|
|
|
E (Tt segar)
|
2,89rd
|
0,27sr
|
2,70rd
|
0,33rd
|
|
|
F (100% P btn)
|
2,97rd
|
0,26sr
|
2,97rd
|
0,26sr
|
|
|
G (Kontrol)
|
2,84rd
|
0,27sr
|
2,84rd
|
0,27sr
|
|
Ket : Sr = sangat rendah, rd =
rendah, sd = sedang, Tg = tinggi, st
= sangat tinggi
Pada Tabel
5 terlihat bahwa perlakuan A dan B mempunyai kandungan Ca-dd tanah awal yang
sangat rendah, sedangkan perlakuan (C, D, E, F, dan G) mempunyai Ca-dd
tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan Ca-dd tanah awal
yang berada pada kriteria sangat rendah sampai rendah, tanah harus dikapur
untuk meningkatkan pH dan untuk meningkatkan ketersediaan Ca dan kation basa
lainnya. Semua perlakuan mempunyai
kandung-an Ca-dd yang relatif sama setelah dilakukan inkubasi yaitu berada pada
kriteria rendah, tetapi terdapat peningkatan nilai Ca-dd yang bervariasi
terhadap tanah awalnya.
Hasil Pengamatan Tanaman
Pertumbuhan Tanaman
Pertumbuhan tanaman kedelai akibat
penambahan kompos titonia dengan agen hayati atau tanpa agen hayati dapat
dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 menunjukkan pertumbuhan tanaman kedelai
perlakuan A, B, C dan D terlihat sangat bagus pada umur 8 minggu setelah tanam,
karena diberikan kompos titonia dan 50% NK pupuk buatan. Pertumbuhan
tanaman dengan pemberian kompos
titonia tanpa agen hayati (D) sama
bagusnya dengan tanaman yang diberikan kompos + agen hayati (A, B, dan C). Pada Gambar 1 tampak bahwa perlakuan A, B, C,
D, E dan F kanopi tanamannya sudah
menutupi permukaan tanah.


Gambar 1. Pertumbuhan tanaman kedelai umur
8 minggu setelah tanam yang dipengaruhi oleh penambahan kompos titonia dan pupuk buatan pada Ultisols Limau Manis Padang.
Pengamatan tinggi tanaman pada saat 2
minggu akan panen atau umur 75 hari. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa
pemberian kompos titonia dengan agen hayati berbeda-beda memberikan pengaruh
yang nyata terhadap tinggi tanaman kedelai.
Tabel 6. Tinggi tanaman kedelai umur 75
hari dan jumlah polong pertanaman pada Ultisols Limau Manis Padang yang
dipengaruhi penggunaan kompos titonia dan 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai.
|
Perlakuan
|
Tinggi Tanaman (cm)
|
|
A (Kompos Org + 50% NK pb)
|
80,33
a
|
|
B (Kompos EM4 +
50% NK pb)
|
70,00 ab
|
|
C (Kompos Std + 50% NK pb)
|
57,33 ab
|
|
D (Kompos Tt + 50% NK pb)
|
77,33
ab
|
|
E (Tt segar + 50% NK pb)
|
51,66
bc
|
|
F (100% pupuk buatan)
|
74,00
ab
|
|
G (kontrol)
|
43,33
c
|
Angka -
angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama, menunjukkan tidak ada perbedaan
yang nyata pada uji BNJ dengan taraf 5%.
Pada Tabel
6 terlihat bahwa pemberian kompos titonia + Orgadec (A) memberikan pertumbuhan tanaman kedelai
tertinggi yaitu 80,33 cm, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan B, D, F,
tetapi berbeda nyata dengan perlakuan G (kontrol) dan E (titonia segar yang
langsung dibenamkan). Tingginya pertumbuhan tanaman pada perlakuan yang
diberikan kompos titonia disebabkan oleh tingginya kandungan
hara yang disumbangkan oleh kompos titonia tersebut serta kandungan hara tanah
yang tinggi setelah diinkubasikan dengan kompos titonia (Tabel 1 dan 6)
sehingga unsur hara semakin banyak tersedia akibat terjadinya dekomposisi bahan
organik. Sedangkan pada perlakuan E,
titonia segar yang dibenamkan langsung ke dalam tanah belum tentu terlapuk
sempurna, sehingga unsur haranya dapat lambat tersedia.
Tinggi
tanaman kedelai menjadi lebih baik dengan penambahan kompos dan 50% NK pupuk
buatan (A, B, C, dan D). Tinggi tanaman
tersebut tidak berbeda nyata dengan perlakuan F yang diberikan 100% pupuk
buatan. Perbaikan tinggi tanaman
sejalan dengan tingginya kandungan C-organik, N, P dan K kompos yang diberikan
(Tabel 1). Pertumbuhan tanaman yang bagus akibat pemberian kompos
ini diharapkan akan memberikan hasil kedelai yang tinggi.
Jumlah Polong, Berat
Kering Biji, dan Berat kering 100 biji
Hasil pengamatan jumlah
polong, berat kering biji 80% populasi dan 100% populasi serta berat 100 biji
dapat dilihat pada Tabel 7 dengan sidik ragam pada Lampiran 10. Populasi 80% dijadikan dasar perlakuan karena
20% lahan ditanami titonia, sedangkan 100% untuk menilai potensi hasil kedelai.
Tabel 7.
Jumlah polong, hasil berat kering
dan berat 100 biji kedelai pada Ultisols Limau Manis Padang yang dipengaruhi
penggunaan kompos dan 50% NK pupuk
buatan kebutuhan kedelai.
|
Perlakuan
|
Jumlah polong
|
Berat Biji
|
Berat Biji
|
Berat 100 biji
|
|
(buah)
|
80% (ton/ha)
|
100% (ton/ha)
|
(g)
|
|
|
A
|
33,767a
|
1,573 a
|
1,966 a
|
11,702 ab
|
|
B
|
27,323 a
|
1,913 a
|
2,391 a
|
12,142 a
|
|
C
|
29,430 a
|
1,662 a
|
2,077 a
|
11,715 ab
|
|
D
|
22,920 a
|
1,632 a
|
2,040 a
|
11,414 ab
|
|
E
|
19,300 a
|
0,989 b
|
1,236 b
|
10,709 ab
|
|
F
|
22,580 a
|
1,860 a
|
2,325 a
|
12,994 a
|
|
G
|
15,250 b
|
0,159 c
|
0,198 c
|
9,403 b
|
Angka -
angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama, menunjukkan tidak ada perbedaan
yang nyata pada uji BNJ dengan taraf 5%.
Pemberian
kompos titonia ber pengaruh nyata
terhadap jumlah polong tanaman kedelai (Tabel 7). Jumlah polong yang lebih banyak terdapat pada per lakuan A, B, dan C yang
menggunakan agen hayati Orgadec, EM4 dan Stardec, yang berjumlah
sekitar 27 – 33 buah. Perlakuan yang menggunakan 100% pupuk buatan (F) memiliki
jumlah polong yang hampir sama dengan kompos titonia tanpa agen hayati (D)
yaitu sekitar 22 buah. Untuk perlakuan yang dibenamkan titonia segar
hanya memberikan jumlah polong
sebanyak 19 buah, sedangkan kontrol hanya sebanyak 15 buah. Jumlah polong ini berhubungan erat dengan
tinggi tanaman. Banyaknya jumlah polong pada perlakuan A (33,767 buah) disebabkan oleh tinggi tanaman
pada perlakuan A ini juga lebih tinggi dari yang lainnya (Tabel 6).
Jumlah
polong tersebut menunjukkan bahwa penambahan kompos titonia dengan agen hayati
maupun tanpa agen hayati serta penambahan
50% NK pupuk buatan mampu meningkatkan
pertumbuhan serta jumlah polong pada tanaman kedelai jika dibandingkan
dengan tanpa input. Tidak ada perbedaan
nyata jumlah polong yang diberikan kompos dengan agen hayati dan kompos tanpa agen hayati, tetapi berbeda
nyata dengan tanpa masukan. Diharapkan
jumlah polong yang cukup banyak dengan penambahan kompos ini, akan sejalan
dengan peningkatan hasil biji kering kedelai.
Tabel 7
menunjukkan bahwa pemberian kompos titonia mempengaruhi hasil berat biji kering
kedelai. Berat biji kering tertinggi didapatkan pada perlakuan B yaitu sebesar
2,391 ton/ha. Hasil ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan A, C, D dan perlakuan F (100% pupuk buatan)
dengan hasil 2,325 ton/ha. Namun dapat
diketahui bahwa berat biji pada perlakuan B lebih tinggi dari perlakuan F yang
menggunakan 100% pupuk buatan. Hasil
yang terendah didapatkan pada perlakuan G (kontrol) yaitu 0,198 ton/ha.
Tingginya berat biji perlakuan B ini sejalan dengan kandungan hara kompos B
serta kadar K dan P tanah yang memang lebih tinggi daripada perlakuan lain (Tabel 1 dan 7), serta pertumbuhan tanamannya dan jumlah polong yang
tidak berbeda nyata dengan perlakuan A.
Hal di atas
sesuai dengan pendapat Husin (1992 cit Hasnelly,
2001) yang menyatakan bahwa peningkatan berat kering tanaman berhubungan erat
dengan pertumbuhan tanaman, serapan hara dan kandungan hara tanah. Pada media yang baik, serapan hara akan
lebih baik sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman, sekaligus meningkatkan
hasil tanaman.
Penggunaan kompos titonia dapat mengurangi kebutuhan pupuk
buatan hingga 50% guna memperoleh hasil kedelai yang tinggi sebesar 2
ton/ha. Berbeda sekali dengan
hasil yang didapatkan pada kontrol (G) yang hanya menghasilkan berat bii kering
sebesar 0,198 ton/ha, atau sekitar 200% lebih rendah dibandingkan dengan hasil
biji kering pada perlakuan yang diberi kompos dan pupuk buatan.
KESIMPULAN
1.
Penggunaan agen hayati seperti Orgadec, EM4 dan Stardec
tidak diperlukan dalam pengomposan titonia.
2.
Penggunaan kompos titonia untuk mengurangi 50% NK pupuk buatan
dapat memperbaiki sifat kimia tanah Ultisol berupa peningkatan pH sebesar 0,53
unit, N sebesar 0,07%, K sebesar 1,5 me/100 g, P sebesar 136,42 ppm, Ca sebesar
0,56 me/100 g, dan Mg sebesar 0,08 me/100g.
3.
Jika pengomposan titonia meng gunakan agen hayati, maka agen
hayati yang dikemas dengan nama EM4 adalah lebih tepat, dengan hasil
kedelai paling tinggi sebanyak 2,4 ton/ha.
DAFTAR PUSTAKA
Foth, H.D. 1998. Dasar-dasar
Ilmu Tanah. Purbayanti, E. D., Dwi, R.L., Rahayuning, T., penerjemah.
Yogyakarta. UGM Press. Terjemahan dari: Fundamental
of Soil Science. 782 hal.
Hakim, N., Lubis., Pulung., Nyakpa.,
Amrah., dan G.B Hong. 1987. Pupuk
dan Pemupukkan. Universitas lampung.
Bandar lampung. 289 hal.
Hakim, N, dan Agustian. 2003.
Gulma Titonia dan Pemanfaatannya sebagai Sumber Bahan Organik dan Unsur
Hara untuk Tanaman Holtikultura. Laporan Penelitian Tahun I Hibah Bersaing.
Proyek Peningkatan Penelitian Perguruan Tinggi DP3M Ditjen Dikti. Unand.
Padang. 62 hal.
Hakim, N, dan Agustian. 2005.
Budidaya Titonia dan Pemanfaatannya dalam Usaha Tani Tanaman
Hortikultura dan Tanaman Pangan Secara Berkelanjutan pada Ultisol. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XI/III
Perguruan Tinggi. Unand. Padang. 61 hal
Hardjowigeno. S. 2003. Ilmu Tanah. Akademi Presindo. Jakarta.
268 hal.
Hasnelly. 2001. Kontribusi Nitrogen
Tanaman Kirinyuh (Eupatorium odoratum)
Terhadap pertumbuhan Tanaman jagung yang dirunut dengan N15 [Tesis]. Fakultas
Pertanian Univeritas Andalas Padang. 56 hal.
Hidayat, O, 1985. Morfologi
tanaman kedelai. Balai penelitian pengembangan pertanian dan pusat
penelitian tanaman pangan, Bogor. 14 hal.
Husin, E.F. 1991. Respon Tanaman Jagung
terhadap Mikoriza Versikular Arbuskular dan Sesbania rostrata di tanah
Podsolik. Laporan Penelitian Fakultas
Pertanian Universitas Andalas Padang. 70 hal.
Indriani Y. H. 2001.Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta. PT Penebar Swadaya. 62 hal.
Jama, BA., C.A Plam., R.J Bures ., A.I
Niang., C. Gachego., G. Nzigubeha., dan
Amadalo. 2000. Tithonia
diversifolia as a Green manure for soil Fertility Improvmen in Western Kenya : a
Review Agroforestry System. 135 pp.
Nyakpa., Lubis., Pulung., Amrah.,
Munawar., Hong., dan Hakim,. 1988. Kesuburan
Tanah. Penerbit Universitas Lampung.
Parnata, A.S. 2004. Pupuk Organik Cair Aplikasi dan Manfaatnya. PT. Agro Media Pustaka. 112
hal.
[PPPTA] Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2005. Teknologi Pengelolaan
Lahan Kering. Edisi ke 2. Bogor. 245 hal.
Sanchez, P.A and B.A Jama.
2000. Soil Fertility Replishment
Takes at in East an Southern Africa. International Symposium on Balanched
Nutrient Manajemen System For The Moist Savana and Humid Forest Zones of
Africa. Held on 9 Oktoer 2000 in Benin.,
Africa. 655 pp.
Simamora. S, dan Salundik. 2006.
Meningkatkan Kualitas Kompos.
Penerbit AgroMedia Pustaka. Jakarta. 64 hal.
Soeprapto, H.S ,
1996. Bertanam kedelai. Penebar
Swadaya .Jakarta. 74 hal.
Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto.2004.Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Dalam A. Adimihardja,
L.I. Amien,F. Agus, D. Djaenudin (Ed.). SumberdayaLahan Indonesia dan
Pengelolaannya. PusatPenelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. hal.21−66. http://124.81.86.181/publikasi/p3252061.pdf.
[28 Desember 2007].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar