Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 2 No. 2, Oktober 2012 HAL 1-10


PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN
KOMPOS TITONIA ( Tithonia diversifolia) DENGAN AGEN HAYATI UNTUK
TANAMAN KEDELAI (Glycine max(L) Merr) PADA ULTISOLS

Deno Okalia*

Laboratorium Pusat Penelitian Pemanfaatan Iptek Nuklir (P3IN)
Universitas Andalas Limau Manis
Padang. Sumatera Barat
*E-mail : oka_lia@yahoo.co.id

ABSTRACT

Research on the manufacture and use of compost Titonia (Tithonia diversifolia) with a biological agent for soybean (Glycine max (L) Merr) on Ultisols have been conducted at the Faculty of Animal Science, University of Andalas Padang and Utilization Laboratory of Nuclear Science and Technology Research Center (P3IN) Universitas Andalas Limau Manis Padang. The study was conducted from December 2007 to June 2008. This study consisted of 7 treatments with 3 groups in a randomized complete block design (RAK). The research data were analyzed using the F test at the 5% level, and if the treatment effect is real, then proceed with the test HSD (Honestly Significant Difference) at the level of 5%. The treatments were A = Compost (Titonia + Orgadec) + 50% NK fertilizers needed soy, B = Compost (Titonia + EM4 ) + 50% NK fertilizers needed soy, C = Compost (Titonia + stardec) + 50 % NK fertilizers needed soy, D = Compost (Titonia without biological agents) + 50% NK fertilizers needed soy, E = fresh Titonia + 50% NK fertilizers needed soy, F = 100% artificial fertilizers, and G = Without any input. From these results it can be concluded that the use of biological agents such as Orgadec, EM4 and stardec not needed in composting Titonia. The use compost of Titonia can improve Ultisols chemical properties such as pH increased by 0.53 units, 0.07% N, 1.5 K me/100 g, P at 136.42 ppm, Ca of 0.56 me/100 g, and an increase Mg of 0.08 me/100g.

Keywords: compost, Titonia, biological agents, ultisol.


PENDAHULUAN

Tanah mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia. Akan tetapi pertambahan pen duduk yang semakin meningkat membuat lahan pertanian yang subur dan produktif semakin berkurang karena sudah dipakai dan sebagian mengalami pengalihan fungsi, sehingga yang tersisa hanyalah lahan-lahan yang bermasalah dan tidak subur atau marginal.  Salah satu tanah marginal yang keberadaanya paling luas di Indonesia adalah ordo Ultisols yang memiliki tingkat kesuburan rendah karena bereaksi masam dan miskin hara terutama unsur N, P dan K. Ultisols mempunyai sebaran yang sangat luas, meliputi hampir 25% dari total daratan Indonesia. Ultisols umumnya mempunyai horizon A yang tipis, dengan kandungan bahan organik dan hara yang rendah (Subagyo et al., 2004).
Perbaikan produktivitas dan kesu buran Ultisols dapat dilakukan dengan pengapuran, pemupukan NPK dan penambahan bahan organik yang cukup. Masalah  timbul  ketika  petani  harus  selalu memberikan pupuk dalam jumlah tinggi, sedangkan harga pupuk semakin mahal, padahal modal petani sangat terbatas.  Oleh karena itu, harus ada upaya mencari bahan lain yang dapat mengurangi penggunaan pupuk buatan tanpa menurunkan produksi, misalnya penggunaan bahan organik yang mudah dihasilkan.
Salah satu sumber bahan organik yang berpotensi untuk maksud tersebut adalah Tithonia diversifolia (titonia) atau yang dikenal dengan nama bunga matahari Meksiko (Mexican sun flower).  Titonia me rupakan gulma tahunan yang memiliki potensi besar untuk memperbaiki ke suburan tanah.  Daun kering titonia me ngandung hara yang tinggi yaitu 3,5% N, 0,35% P, dan 4,1% K (Jama et al., 2000).
Hakim dan Agustian (2003) melaporkan bahwa rata-rata kandungan hara titonia yang terdapat di Sumatera Barat juga tinggi, yaitu 3,16% N; 0,38% P dan 3,45% K.  Oleh karena itu, tumbuhan ini dapat dijadikan sumber hara, terutama N dan K bagi tanaman. Berdasarkan hasil penelitian Hakim dan Agustian (2005) pada Ultisols diketahui, bahwa kebutuhan NK pupuk buatan untuk tanaman cabe, jahe dan jagung dapat disubstitusi (digantikan) sebanyak 25% sampai 50% dengan NK titonia. Dengan substitusi NK sebanyak 50% dari titonia tersebut diperoleh buah cabe segar sebanyak 9,36 ton/ha dan rimpang jahe segar sebanyak 11 ton/ha, serta jagung pipilan kering sebanyak 3,84 ton/ha.  Sedangkan dengan 100% pupuk buatan diperoleh hasil cabe sebanyak 8,29 ton/ha, jahe segar sebanyak  9,8 ton/ha, dan jagung pipilan kering sebanyak 3,05 ton/ha.
Tanaman kedelai merupakan tanaman semusim, berupa semak rendah, tumbuh tegak dan berdaun lebat yang tergolong famili Leguminoceae (legum). Tinggi tanaman kedelai berkisar antara 20 – 100 cm dan dapat bercabang sedikit atau banyak tergantung kultivar dan lingkungan hidupnya (Hidayat,1985). Tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik pada tanah gembur dan kaya akan humus atau bahan organik. Akan tetapi, pada tanah yang kurang subur pertumbuhannya akan terhambat dan produksinya akan rendah.
Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui apakah diperlukan agen hayati dalam pengomposan titonia; (2) untuk mengetahui pengaruh berbagai kompos titonia terhadap perbaikan sifat kimia Ultisols; (3) untuk mengetahui agen hayati yang paling tepat dalam pembuatan kompos titonia guna memperoleh hasil kedelai yang tinggi pada Ultisols.

BAHAN DAN METODA

Waktu dan Tempat
   Penelitian ini berbentuk percobaan lapangan di Kebun Percobaan Fakultas Peternakan Universitas Andalas Limau Manis Padang. Dilanjutkan dengan analisis kompos, tanah dan tanaman di Laboratorium P3IN (Pusat Penelitian Pemanfaatan IPTEK Nuklir) Universitas Andalas Padang.  Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan Juni 2008.

Bahan dan Alat
            Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pangkasan tanaman titonia yang diambil di kebun percobaan Fakultas Peternakan Universitas Andalas Limau Manis Padang. Agen hayati yang digunakan adalah Orgadec, EM4 (campuran), dan Stardec. Tanah yang di gunakan adalah ordo Ultisols yang terdapat di Kebun Percobaan Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang. Untuk mengurangi kemasaman tanah diberi tambahan kapur giling dolomitik 100% lolos saringan 20 mesh. Pupuk buatan yang digunakan adalah Urea, SP36 dan KCl. Bibit kedelai yang digunakan adalah varietas Baluran. Untuk pe ngendalian hama dan penyakit pada tanaman digunakan curater, Dithane M-45, dan Leybachit.

Metode Penelitian
   Penelitian ini dilakukan dalam bentuk percobaan lapangan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 7 perlakuan dengan 3 kelompok. Dengan demikian, percobaan ini terdiri dari 21 satuan percobaan. Penelitian ini menggunakan petak bekas tanaman jagung pada musim tanam pertama.  Hasil penelitian ini diuji secara statistik dengan uji F, kemudian bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) pada taraf 5%.
Takaran titonia sebagai sumber bahan organik dan sekaligus sumber unsur hara terutama N dan K, dihitung berdasarkan kadar N titonia 3% N, dan kadar air 500% (KKA = 6).  Mengingat Ultisol sangat miskin, takaran N titonia disetarakan dengan 100% kebutuhan N tanaman kedelai, berarti jumlah titonia yang akan dikomposkan sebanyak 15 kg titonia segar. Perlakuan dirancang berdasarkan rekomendasi pemupukkan tanaman kedelai yaitu 100 kg Urea/ha,   100 kg SP36/ha, 100 kg KCl/ha dan 100 kg kiserit/ha, serta kapur 500 kg/ha. Pupuk NK 1 untuk 50% N dan K kebutuhan tanaman kedelai, sedangkan pupuk P dan  Mg diberikan   100%   kebutuhan  tanaman   kedelai.

Perlakuan dalam pembuatan kompos sebagai berikut :

A  =   Titonia + orgadec
B  =   Titonia + EM4
C  =   Titonia + Stardec
D  =   Titonia tidak ditambah agen hayati.

Perlakuan dilapangan sebagai berikut:

A =
Kompos A + 50% NK pupuk buatan         kebutuhan kedelai
B =
Kompos B + 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai
C =
Kompos C + 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai
D =
Kompos D + 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai
E =
Titonia segar dibenamkan 4  minggu sebelum tanam + 50% NK pupuk
buatan kebutuhan kedelai
F =
100 % pupuk buatan
G =
tanpa masukkan apapun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Analisis Kompos
Kandungan Hara Kompos Titonia
Ciri kimia kompos titonia yang meliputi pH, C-organik, N-total, C/N, P-total, K, Ca, dan Mg dapat dilihat pada Tabel 1. Semua kompos titonia mempunyai pH netral dan pemberian agen hayati tidak berpengaruh terhadap kandungan hara kompos titonia.  Nilai pH 6,5 – 6,7 sudah sesuai dengan syarat kompos yang baik, seperti yang dikemukakan oleh Salundik dan Simamora (2006), bahwa nilai pH kompos sekitar 6,5 – 7,5 sudah bagus. 


Tabel 1.  Ciri kimia kompos titonia dengan agen hayati yang berbeda - beda dan tanpa agen hayati.
Ciri kimia Kompos
Perlakuan
A (15 kg Titonia + Orgadec)
B (15 kg Titonia + EM4)
C (15 kg Titonia + Stardec)
D (15 kg Titonia)
pH
6,61
6,74
6,63
6,51
C-organik  (%)
42,169
43,079
41,859
43,640
N-total  (%)
2,800
3,236
3,204
3,329
C/N
15,060
13,314
13,063
13,110
P-total  (%)
0,163
0,234
0,191
0,229
K-total(%)
3,512
3,789
3,948
4,265
Ca-total  (%)
1,333
1,364
2,054
1,677
Mg-total  (%)
0,763
0,772
0,803
0,824




Pada Tabel 1 terlihat bahwa kandungan C-organik kompos titonia relatif sama pada semua perlakuan (A, B, C dan D ) berkisar antara 41,859 – 43,079% atau sekitar 71,997–74,095% bahan organik.  Kadar C-organik yang relatif sama tersebut menunjukkan bahwa titonia tidak perlu diberi agen hayati dalam      pengomposan nya.  Dengan kata lain titonia mudah melapuk.  Kandungan bahan organik ≥ 70% sudah memenuhi syarat kompos yang baik.  Hal ini berarti kompos titonia dapat me nyumbangkan  bahan organik tinggi  yang merupakan sumber unsur  hara bagi tanaman. 
Kandungan N-total kompos titonia pada Tabel 1 hampir seragam, yaitu sekitar 2,800 – 3,329%.  Kadar N sebesar 2,8 – 3,3% tersebut sudah sesuai dengan syarat kompos yang baik pada Lampiran 11, yaitu ≥ 2,12% N.  Kandungan N kompos yang paling tinggi terdapat pada perlakuan D (3,329%), kemudian disusul oleh perlakuan B (3,236%) dan C (3,204%).  Kadar N yang paling rendah didapatkan pada perlakuan A (2,800%), yaitu kompos yang menggunakan    titonia + Orgadec. 
Parnata (2004), menyatakan bahwa tumbuhan memerlukan N untuk pertumbuhan, terutama pada fase vegetatif yaitu pertumbuhan cabang, daun, dan batang.  Kekurangan N dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak normal atau kerdil, jaringan tanaman mengering dan mati, pertumbuhan buah tidak sempurna yaitu cepat masak dan kadar proteinnya kecil.



Pada Tabel 1, dapat dilihat ratio C/N seluruh kompos titonia pada semua perlakuan (A, B, C dan D) ≤ 20.  Hal ini berarti kompos titonia yang diinkubasikan selama empat minggu sudah mencapai tingkat kematangan sempurna dan siap untuk diaplikasikan di lapangan.  Indriani (2001), menyatakan bahwa nilai C/N merupakan hasil perbandingan antara karbohidrat dengan N.  Hal yang sama juga dinyatakan oleh Simamora dan Salundik (2006), bahwa kompos yang sudah matang akan memiliki ciri: 1) tingkat kemasaman (pH) kompos agak masam sampai netral (6,5 – 7,5);  2) memiliki C/N sebesar 10 – 20; dan 3) daya absorbsi (penyerapan) air tinggi.
Pada Tabel 1 dapat dilihat kandungan hara P, K, Ca dan Mg pada semua perlakuan sudah memenuhi syarat kualitas kompos yang baik. Kandungan hara kompos pada semua perlakuan hampir seragam yaitu sekitar 0,163 - 0,229% P; 3,512 - 4,265% K; 1,333 - 2,054% Ca; dan 0,763 - 0,824% Mg. Namun demikian, kandungan P dan K tertinggi masih terdapat pada perlakuan D (kompos tanpa agen hayati).  Hal itu menunjukkan bahwa titonia yang diberi agen hayati telah kehilangan sebagian unsur hara P, K, Ca, dan Mg.  Pemberian agen hayati telah menyebabkan perombakan lebih meningkat dan membebaskan sejumlah unsur hara N, P, K, Ca, dan Mg.  Sayangnya unsur yang larut tersebut terbawa hanyut bersama cairan titonia yang mengalir keluar wadah pengomposan.


Hasil Analisis Tanah

Kemasaman (pH), dan Al-dd Tanah
Pengaruh penambahan kompos titonia terhadap pH dan Al-dd tanah ultisol dapat dilihat pada Tabel 2.  Pada  Tabel 2 terlihat bahwa  pH tanah awal sebelum pemberian kompos titonia pada semua perlakuan (A, B, C, D, E, F, dan G), tergolong agak masam (berdasarkan Tabel kriteria sifat kimia tanah).  Nilai pH pada semua perlakuan berkisar 5,9 – 6,21. 


Tabel 2.  Hasil analisis pH dan Al-dd tanah awal dan setelah diinkubasi dengan kompos titonia selama 1 minggu.
Perlakuan
Ciri Kimia Tanah Awal
Ciri Kimia Tanah Inkubasi
pH H2O
pH KCl
Al-dd (me/100g)
pH H2O
pH KCl
Al-dd (me/100g)
A  kompos (Tt + Org)
5,75am
5,21am
Tu
6,33am
5,83am
tu
B  kompos (Tt + EM4)
5,72am
5,40am
Tu
6,34am
5,92am
tu
C  kompos (Tt + Std)
5,69am
5,46am
Tu
6,27am
5,90am
tu
D  kompos (Tt)
5,83am
5,27am
Tu
6,42am
5,88am
tu
E  (Tt segar)
6,19am
5,39am
Tu
 6,26am
6,60am
tu
F  (100%  P btn)
5,89am
5,32am
Tu
5,89am
5,32am
tu
G  (Kontrol)
6,21am
5,28am
0,20
6,21am
5,28am
0,20
Ket :  am : agak masam, tu : tidak terukur, P btn : pupuk buatan


Tabel 2 menunjukkan bahwa pH setelah tanah diinkubasikan dengan titonia baik dalam bentuk kompos ataupun segar, masih berada pada kriteria agak masam (A, B, C, D, dan E), meskipun tidak terjadi perubahan kriteria pH setelah diin kubasikan dengan kompos titonia, tetapi peningkatan nilai pH beberapa unit setelah inkubasi cukup menggembirakan. Pening katan nilai pH H2O pada perlakuan A, B, C, D dan E sekitar  0,50 – 0,61 unit dan pH KCl sebesar  0,44 - 0,62 unit.  Peningkatan nilai pH tersebut, menyebabkan Al-dd pun tetap tidak terukur, sedangkan perlakuan F dan G (kontrol) tidak mengalami peningkatan pH, karena memang tidak diberikan input apapun dalam proses inkubasi. Peningkatan pH H2O tertinggi terdapat pada perlakuan B (kompos dengan agen hayati EM4) yaitu sebesar 0,61 unit, kemudian disusul oleh perlakuan D (tanpa agen hayati) sebesar 0,59 unit. 
Nilai pH seluruh tanah setelah diinkubasi dengan kompos titonia jika dibandingkan dengan pH perlakuan F, lebih tinggi sekitar 0,38 – 0,53 unit.  Peningkatan nilai pH tanah ini, berhubungan erat dengan tingginya nilai pH dan kandungan  C-organik kompos titonia pada perlakuan tersebut (Tabel 1).

Kandungan C - Organik,  N total, dan C/N Tanah
Pengaruh inkubasi titonia  pada Ultisols terhadap kandungan  C- organik,   N-total, dan C/N tanah dapat dilihat pada Tabel 3.  Kandungan C-organik di dalam tanah mengalami peningkatan setelah diinkubasikan dengan perlakuan kompos titonia dan titonia segar (A, B, C, D, dan E).  Tanah yang diinkubasi dengan kompos dan titonia segar tersebut, mengalami  peningkatan kadar C-organik yang relatif seragam, dari kriteria rendah menjadi kriteria sangat tinggi.
Hasil analisis kimia (Tabel 3) menunjukkan bahwa kandungan  C-organik tanah awal pada semua perlakuan sebelum diinkubasi dengan kompos titonia tergolong rendah. Kandungan C-organik tertinggi terdapat pada perlakuan A  yaitu 1,70% dan terendah terdapat pada perlakuan F (100% pupuk buatan) yaitu sebesar 1,48%.  Kadar C yang lebih rendah pada perlakuan F ini disebabkan petakan F memang tidak pernah diberikan input bahan organik pada musim tanam sebelumnya, hanya dilakukan pemberian 100% pupuk buatan saja.
Peningkatan kandungan C-organik pada semua tanah yang diinkubasikan di atas disebabkan oleh pemberian kompos titonia, yang merupakan sumber bahan organik. Tampaknya, titonia lebih baik diberikan dalam bentuk kompos karena dapat meningkatkan kandungan C-organik lebih tinggi. Hal ini selaras dengan pendapat Suriadikarta et al. dalam PPPTA (2005), yang menyatakan bahwa jika sisa tanaman berupa kompos ditambahkan ke dalam tanah, maka berbagai bahan organik akan mengalami dekomposisi.  Gula, tepung dan protein akan mengalami dekomposisi secara cepat, sedangkan lemak, lilin dan lignin mengalami dekomposisi secara lambat bahkan lignin sangat lambat.  Semua bahan itu, akan menjadi bahan organik tanah.


Tabel 3.  Hasil analisis kandungan C-organik, N total, dan C/N tanah awal dan setelah diinkubasi dengan kompos titonia selama 1 minggu.
Perlakuan
Ciri Kimia Tanah
Tanah Awal

Tanah setelah diinkubasi dg kompos
C-organik
N - total
C/N

C-organik
N - total
C/N
(%)


(%)

A  kompos (Tt + Org)
1,70rd
0,25sd
6,80rd

6,45st
0,39sd
16,55tg
B  kompos (Tt + EM4)
1,52rd
0,29sd
5,24rd

5,39st
0,39sd
13,62sd
C  kompos (Tt + Std)
1,57rd
0,23sd
4,90rd

5,17st
0,32sd
16,03tg
D  kompos (Tt)
1,75rd
0,18sd
9,72rd

5,26st
0,29sd
18,13tg
E  (Tt segar)
1,62rd
0,29sd
5,59rd

4,76st
0,30sd
15,68sd
F  (100%  P btn)
1,48rd
0,32sd
4,63sr

1,48rd
0,32sd
4,63sr
G  (Kontrol)
1,52rd
0,20rd
7,60rd

1,52rd
0,20rd
7,60m
Ket  : rd : rendah, st : sangat tinggi, sd :sedang, sr : sangat rendah.


Pada Tabel 3 terlihat bahwa tidak terjadi perubahan kriteria N-total tanah setelah diinkubasikan dengan kompos titonia perlakuan (A, B, C, dan D), karena nilai N-total tanah masih tetap berada pada kriteria sedang.  Meskipun tidak terjadi perubahan kriteria N-total pada tanah inkubasi, namun masih terdapat  peningkatan nilai persentase N sekitar 0,14% pada perlakuan A; 0,1% pada perlakuan B; 0,09% pada perlakuan C; 0,11% pada perlakuan D; dan 0,01% pada perlakaun E.  Kenaikan kadar N tanah tersebut sebetulnya sangat tinggi, karena 0,1 % N sedalam 10 cm saja sudah sama dengan 1000 kg N/ha.

Kandungan Kation Basa dan Nilai P -  tersedia
Hasil analisis kimia kation basa K dan P-tersedia tanah awal dan setelah diinkubasi dengan kompos titonia dapat dilihat pada Tabel 4, sedangkan hasil analisis kimia kation basa Ca dan Mg tanah awal dan setelah setelah inkubasi dengan kompos titonia disajikan pada Tabel 5. 


Tabel 4.  Hasil analisis K dan P-tersedia tanah awal dan setelah diinkubasi dengan kompos titonia selama 1 minggu
Perlakuan
Tanah Awal
Tanah setelah diinkubasi dengan kompos
K-dd
P-tersedia
    K-dd
P-tersedia

(me/100g)            
ppm     ppm
    (me/100g)
ppm
A  kompos (Tt + Org)
0,21 rd
8,88rd
1,38st
146,10st

B  kompos (Tt + EM4)
0,35sd
1,85sr
1,89st
159,10st

C  kompos (Tt + Std)
0,25 rd
0,32sr
1,56st
73,20st

D  kompos (Tt)
0,31sd
2,10sr
1,75st
18,40sd

E  (Tt segar)
0,27rd
2,89sr
1,19st
15,90sd

F  (100%  P btn)
0,38sd
22,68sd
0,38sd
22,68sd

G  (Kontrol)
0,19rd
0,02sr
0,19rd
0,02 sr

Ket :  sr = sangat rendah,  rd   = rendah,  sd = sedang, Tg   = tinggi, st  = sangat tingi


Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa K-dd tanah awal pada semua perlakuan berada pada kriteria rendah sampai sedang. Nilai K-dd tanah awal untuk perlakuan D, B, dan F tergolong kriteria sedang yaitu sekitar 0,31 - 0,38 me/100g.  Nilai K-dd tertinggi terdapat pada perlakuan F yaitu sebesar 0,38 me/100g tanah karena memang pada musim tanam sebelumnya petakan F ini diberikan pupuk buatan 100% sehingga unsur hara K lebih banyak tersedia.  Perlakuan lainnya (A, C, E, dan G) mempunyai nilai K-dd yang  tergolong  rendah yaitu sekitar 0,19 – 0,27 me/100g. Hal ini menunjukkan bahwa dibutuhkan input K tambahan ke dalam tanah tersebut. 
Pada Tabel 4, juga terlihat bahwa P-tersedia tanah awal pada semua perlakuan berada pada kriteria sangat rendah sampai sedang yaitu sekitar 0,02 – 22,68 ppm. Nilai P-tersedia paling rendah terdapat pada perlakuan G (kontrol) yaitu 0,02 ppm, hal ini disebabkan memang tanah ini dari musim tanam sebelumnya tidak pernah diberikan input apapun.

Tabel 5. Hasil analisis Ca dan Mg  tanah awal dan setelah diinkubasi dengan kompos titonia selama 1 minggu.
Perlakuan
Tanah Awal
Tanah setelah diinkubasi dengan kompos
Ca-dd
Mg-dd
Ca-dd
Mg-dd
(me/100g)
A  kompos (Tt + Org)
1,50sr
0,24sr
2,06rd
0,32rd
B  kompos (Tt + EM4)
1,74sr
0,31rd
2,15rd
0,34rd
C  kompos (Tt + Std)
2,63rd
0,27sr
2,38rd
0,33rd
D  kompos (Tt)
2,06rd
0,27sr
2,41rd
0,34rd
E  (Tt segar)
2,89rd
0,27sr
2,70rd
0,33rd
F  (100%  P btn)
2,97rd
0,26sr
2,97rd
0,26sr
G  (Kontrol)
2,84rd
0,27sr
2,84rd
0,27sr
Ket : Sr = sangat rendah,  rd  = rendah,  sd = sedang, Tg   = tinggi, st  = sangat tinggi


Pada Tabel 5 terlihat bahwa perlakuan A dan B mempunyai kandungan Ca-dd tanah awal yang sangat rendah, sedangkan perlakuan (C, D, E, F, dan G) mempunyai Ca-dd tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan Ca-dd tanah awal yang berada pada kriteria sangat rendah sampai rendah, tanah harus dikapur untuk meningkatkan pH dan untuk meningkatkan ketersediaan Ca dan kation basa lainnya.   Semua perlakuan mempunyai kandung-an Ca-dd yang relatif sama setelah dilakukan inkubasi yaitu berada pada kriteria rendah, tetapi terdapat peningkatan nilai Ca-dd yang bervariasi terhadap tanah awalnya.





Hasil Pengamatan Tanaman

Pertumbuhan Tanaman
Pertumbuhan tanaman kedelai akibat penambahan kompos titonia dengan agen hayati atau tanpa agen hayati dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 menunjukkan pertumbuhan tanaman kedelai perlakuan A, B, C dan D terlihat sangat bagus pada umur 8 minggu setelah tanam, karena diberikan kompos titonia dan 50% NK pupuk buatan.  Pertumbuhan  tanaman dengan  pemberian kompos titonia tanpa agen hayati  (D) sama bagusnya dengan tanaman yang diberikan kompos + agen hayati (A, B, dan C).  Pada Gambar 1 tampak bahwa perlakuan A, B, C, D, E dan F  kanopi tanamannya sudah menutupi permukaan tanah.
             

 












Text Box:








Gambar 1. Pertumbuhan tanaman kedelai umur 8 minggu setelah tanam yang dipengaruhi oleh penambahan kompos titonia dan  pupuk buatan pada Ultisols Limau Manis Padang.


Pengamatan tinggi tanaman pada saat 2 minggu akan panen atau umur 75 hari. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian kompos titonia dengan agen hayati berbeda-beda memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman kedelai.



Tabel 6. Tinggi tanaman kedelai umur 75 hari dan jumlah polong pertanaman pada Ultisols Limau Manis Padang yang dipengaruhi penggunaan kompos titonia dan 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai.
Perlakuan
Tinggi Tanaman (cm)
A (Kompos Org + 50% NK pb)
80,33  a
B (Kompos EM4 + 50% NK pb)
70,00  ab
C (Kompos Std + 50% NK pb)
57,33  ab
D (Kompos Tt + 50% NK pb)
77,33  ab
E (Tt segar + 50% NK pb)
51,66  bc
F (100% pupuk buatan)
74,00  ab
G (kontrol)
43,33   c
Angka - angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama, menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada uji BNJ dengan taraf 5%.


Pada Tabel 6 terlihat bahwa pemberian kompos titonia + Orgadec (A)  memberikan pertumbuhan tanaman kedelai tertinggi yaitu 80,33 cm, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan B, D, F, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan G (kontrol) dan E (titonia segar yang langsung dibenamkan). Tingginya pertumbuhan tanaman pada perlakuan yang diberikan kompos  titonia disebabkan oleh tingginya kandungan hara yang disumbangkan oleh kompos titonia tersebut serta kandungan hara tanah yang tinggi setelah diinkubasikan dengan kompos titonia (Tabel 1 dan 6) sehingga unsur hara semakin banyak tersedia akibat terjadinya dekomposisi bahan organik.  Sedangkan pada perlakuan E, titonia segar yang dibenamkan langsung ke dalam tanah belum tentu terlapuk sempurna, sehingga unsur haranya dapat lambat tersedia. 
Tinggi tanaman kedelai menjadi lebih baik dengan penambahan kompos dan 50% NK pupuk buatan (A, B, C, dan D).  Tinggi tanaman tersebut tidak berbeda nyata dengan perlakuan F yang diberikan 100% pupuk buatan.   Perbaikan tinggi tanaman sejalan dengan tingginya kandungan C-organik, N, P dan K kompos yang diberikan (Tabel 1).  Pertumbuhan tanaman yang bagus akibat pemberian kompos ini diharapkan akan memberikan hasil kedelai yang tinggi.

Jumlah Polong, Berat Kering Biji, dan Berat kering 100 biji
Hasil pengamatan jumlah polong, berat kering biji 80% populasi dan 100% populasi serta berat 100 biji dapat dilihat pada Tabel 7 dengan sidik ragam pada Lampiran 10.  Populasi 80% dijadikan dasar perlakuan karena 20% lahan ditanami titonia, sedangkan 100% untuk menilai potensi hasil kedelai.



Tabel 7.  Jumlah polong, hasil berat  kering dan berat 100 biji kedelai pada Ultisols Limau Manis Padang yang dipengaruhi penggunaan kompos  dan 50% NK pupuk buatan kebutuhan kedelai.
Perlakuan
Jumlah polong
Berat Biji
Berat Biji
Berat 100 biji
(buah)
80% (ton/ha)
100% (ton/ha)
    (g)
A
33,767a
1,573  a
1,966  a
11,702 ab
B
27,323 a
1,913  a
2,391  a
12,142 a
C
29,430 a
1,662  a
2,077  a
11,715 ab
D
22,920 a
1,632  a
2,040  a
11,414 ab
E
19,300 a
0,989 b
1,236 b
10,709 ab
F
22,580 a
1,860  a
2,325  a
12,994 a
G
15,250 b
0,159  c
0,198  c
 9,403 b
Angka - angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama, menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada uji BNJ dengan taraf 5%.




Pemberian kompos titonia  ber pengaruh nyata terhadap jumlah polong tanaman kedelai (Tabel 7).  Jumlah polong yang lebih banyak  terdapat pada per lakuan A, B, dan C yang menggunakan agen hayati Orgadec, EM4 dan Stardec, yang berjumlah sekitar 27 – 33 buah. Perlakuan yang menggunakan 100% pupuk buatan (F) memiliki jumlah polong yang hampir sama dengan kompos titonia tanpa agen hayati (D) yaitu sekitar 22 buah. Untuk perlakuan yang dibenamkan titonia  segar  hanya  memberikan  jumlah polong  sebanyak 19 buah, sedangkan kontrol hanya sebanyak 15 buah.  Jumlah polong ini berhubungan erat dengan tinggi tanaman. Banyaknya jumlah polong pada perlakuan A  (33,767 buah) disebabkan oleh tinggi tanaman pada perlakuan A ini juga lebih tinggi dari yang lainnya (Tabel 6).
Jumlah polong tersebut menunjukkan bahwa penambahan kompos titonia dengan agen hayati maupun tanpa agen hayati  serta penambahan 50% NK pupuk buatan mampu meningkatkan  pertumbuhan serta jumlah polong pada tanaman kedelai jika dibandingkan dengan tanpa input.  Tidak ada perbedaan nyata jumlah polong yang diberikan kompos dengan agen hayati dan  kompos tanpa agen hayati, tetapi berbeda nyata dengan tanpa masukan.  Diharapkan jumlah polong yang cukup banyak dengan penambahan kompos ini, akan sejalan dengan peningkatan hasil biji kering kedelai.
Tabel 7 menunjukkan bahwa pemberian kompos titonia mempengaruhi hasil berat biji kering kedelai. Berat biji kering tertinggi didapatkan pada perlakuan B yaitu sebesar 2,391 ton/ha. Hasil ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan  A, C, D dan perlakuan F (100% pupuk buatan) dengan hasil 2,325 ton/ha.  Namun dapat diketahui bahwa berat biji pada perlakuan B lebih tinggi dari perlakuan F yang menggunakan 100% pupuk buatan.  Hasil yang terendah didapatkan pada perlakuan G (kontrol) yaitu 0,198 ton/ha. Tingginya berat biji perlakuan B ini sejalan dengan kandungan hara kompos B serta kadar K dan P tanah yang memang lebih tinggi daripada perlakuan lain  (Tabel 1 dan 7), serta  pertumbuhan tanamannya dan jumlah polong yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan A.
Hal di atas sesuai dengan pendapat Husin (1992 cit Hasnelly, 2001) yang menyatakan bahwa peningkatan berat kering tanaman berhubungan erat dengan pertumbuhan tanaman, serapan hara dan kandungan hara tanah.   Pada media yang baik, serapan hara akan lebih baik sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman, sekaligus meningkatkan hasil tanaman.
            Penggunaan kompos titonia dapat mengurangi kebutuhan pupuk buatan hingga 50% guna memperoleh hasil kedelai yang tinggi sebesar 2 ton/ha.  Berbeda sekali dengan hasil yang didapatkan pada kontrol (G) yang hanya menghasilkan berat bii kering sebesar 0,198 ton/ha, atau sekitar 200% lebih rendah dibandingkan dengan hasil biji kering pada perlakuan yang diberi kompos dan pupuk buatan.

KESIMPULAN

1.      Penggunaan agen hayati seperti Orgadec, EM4 dan Stardec tidak diperlukan dalam pengomposan titonia.
2.      Penggunaan kompos titonia untuk mengurangi 50% NK pupuk buatan dapat memperbaiki sifat kimia tanah Ultisol berupa peningkatan pH sebesar 0,53 unit, N sebesar 0,07%, K sebesar 1,5 me/100 g, P sebesar 136,42 ppm, Ca sebesar 0,56 me/100 g, dan Mg sebesar 0,08 me/100g.
3.      Jika pengomposan titonia meng gunakan agen hayati, maka agen hayati yang dikemas dengan nama EM4 adalah lebih tepat, dengan hasil kedelai paling tinggi sebanyak 2,4 ton/ha.

DAFTAR PUSTAKA

Foth, H.D. 1998. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Purbayanti, E. D., Dwi, R.L., Rahayuning, T., penerjemah. Yogyakarta. UGM Press. Terjemahan dari: Fundamental of Soil Science. 782 hal.
Hakim, N., Lubis., Pulung., Nyakpa., Amrah., dan G.B Hong. 1987. Pupuk dan  Pemupukkan. Universitas lampung. Bandar lampung. 289 hal.
Hakim, N, dan Agustian. 2003.  Gulma Titonia dan Pemanfaatannya sebagai Sumber Bahan Organik dan Unsur Hara untuk Tanaman Holtikultura. Laporan Penelitian Tahun I Hibah Bersaing. Proyek Peningkatan Penelitian Perguruan Tinggi DP3M Ditjen Dikti. Unand. Padang. 62 hal.
Hakim, N, dan Agustian. 2005.  Budidaya Titonia dan Pemanfaatannya dalam Usaha Tani Tanaman Hortikultura dan Tanaman Pangan Secara Berkelanjutan pada Ultisol.  Laporan Penelitian Hibah Bersaing XI/III Perguruan Tinggi. Unand. Padang. 61 hal
Hardjowigeno. S. 2003. Ilmu Tanah. Akademi Presindo. Jakarta. 268 hal.
Hasnelly. 2001. Kontribusi Nitrogen Tanaman Kirinyuh (Eupatorium odoratum) Terhadap pertumbuhan Tanaman jagung yang dirunut dengan N15 [Tesis]. Fakultas Pertanian Univeritas Andalas Padang. 56 hal.
Hidayat, O, 1985. Morfologi tanaman kedelai. Balai penelitian pengembangan pertanian dan pusat penelitian tanaman pangan, Bogor. 14 hal.
Husin, E.F. 1991. Respon Tanaman Jagung terhadap Mikoriza Versikular Arbuskular dan Sesbania rostrata di tanah Podsolik. Laporan  Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang. 70 hal.
Indriani Y. H. 2001.Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta. PT Penebar Swadaya. 62 hal.
Jama, BA., C.A Plam., R.J Bures ., A.I Niang., C. Gachego., G. Nzigubeha.,  dan Amadalo. 2000. Tithonia diversifolia as a Green manure for soil Fertility Improvmen in Western Kenya : a Review Agroforestry System. 135 pp.
Nyakpa., Lubis., Pulung., Amrah., Munawar., Hong., dan Hakim,. 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Universitas Lampung.
Parnata, A.S. 2004. Pupuk Organik Cair Aplikasi dan Manfaatnya. PT. Agro Media Pustaka. 112 hal.
[PPPTA] Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2005. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Edisi ke 2. Bogor. 245 hal.
Sanchez, P.A and B.A Jama.  2000.  Soil Fertility Replishment Takes at in East an Southern Africa. International Symposium on Balanched Nutrient Manajemen System For The Moist Savana and Humid Forest Zones of Africa.  Held on 9 Oktoer 2000 in Benin., Africa. 655 pp.
Simamora. S, dan Salundik. 2006.  Meningkatkan Kualitas Kompos. Penerbit AgroMedia Pustaka. Jakarta. 64 hal.
Soeprapto, H.S , 1996. Bertanam kedelai. Penebar Swadaya .Jakarta. 74 hal.
Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto.2004.Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Dalam A. Adimihardja, L.I. Amien,F. Agus, D. Djaenudin (Ed.). SumberdayaLahan Indonesia dan Pengelolaannya. PusatPenelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. hal.21−66. http://124.81.86.181/publikasi/p3252061.pdf. [28 Desember 2007].









Tidak ada komentar:

Posting Komentar