Rabu, 22 Januari 2014

jurnal green swarnadwipa hal 1-6


RESPON MULSA ORGANIK DAN BERBAGAI VARIETAS TERHADAP PRODUKSI TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus. L)


Deni Nesti Asmeri

Program Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake Telp : 085265303929 Teluk Kuantan, Riau.
Email : deni.nesty@gmail.com


ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Respon Mulsa Organik dan Berbagai Varietas terhadap Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus. L), telah dilaksanakan di Desa Tobek Panjang Teluk Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 faktor : M (mulsa Organik)  yang terdiri dari 4 taraf yaitu : M0 (kontrol), M1 (alang – alang), M2 (serasah  akasia), M3 (serbuk gergaji) dan Faktor V terdiri 3 taraf  Yaitu : V1 (Bundo F1), V2 (Wuku) , V3 (Mercy F1). Dengan demikian  diperoleh 12 kombinasi perlakuan, pada masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara interaksi berbeda nyata terhadap tanaman mentimun terdapat pada pengamatan umur berbunga (hst), sedangkan secara tunggal pemberian mulsa organik yang berbeda nyata  terdapat pada jumlah bunga (buah), persentase putik jadi buah (%), jumlah buah (buah).   Perlakuan berbagai varietas secara tunggal yang memberikan respon nyata  hanya pada jumlah buah (buah), juga ada beberapa pengamatan yang tidak memperlihatkan respon nyata terhadap faktor perlakuan yaitu umur muncul buah (hst), umur panen (hst) dan berat buah (gr).

Kata kunci : mulsa organik, varietas, mentimun


PENDAHULUAN

       Mentimun termasuk salah satu jenis sayuran buah yang memiliki banyak manfaat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, sehingga permintaan pasarnya semakin meningkat, baik untuk keperluan domestik maupun keperluan ekspor. Buah ini sangat disukai oleh seluruh golongan masyarakat mulai dari golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah sampai masyarakat yang berpenghasilan tinggi. Dengan demikian permintaan buah mentimun dipasaran sangat besar dan berkesinambungan (Rukmana, 1994).
       Di Kabupaten kuantan singingi produksi mentimun dari tahun ke tahun mengalami penurunan, pada akhir tahun 2003 produksi mentimun 555 ton, pada tahun 2004 produksi mentimun menjadi 358 ton, pada tahun 2005 produksi mentimun mengalami kenaikan sedikit dibanding dengan tahun 2004 menjadi 466 ton, pada tahun 2006 produksi mentimun terus mengalami peningkatan menjadi 465 ton, pada akhir tahun 2007 produksi mentimun kembali mengalami penurunan yaitu menjadi 224 ton. (Anonimus, 2008)
       Pengembangan budidaya mentimun mempunyai Respon dan sumbangan yang cukup besar terhadap peningkatan pendapatan taraf hidup petani, penyediaan bahan pangan bergizi, perluasan kesempatan kerja dapat diandalkan sebagai satu komoditas ekspor non migas dari sektor pertanian. Peningkatan produksi mentimun dapat dipacu dengan usaha intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi harus dilakukan secara terpadu.
     Untuk itu peningkatan produksi perlu diusahakan agar  produksi maksimal dapat dihasilkan tanpa melupakan faktor-faktor budidaya. Asfek agronomi dari tanaman timun pada umumnya tidak jauh berbeda dengan tanaman lainnya. Penerapan usaha tani yang intensif, kondisi iklim yang cocok, dan penerapan kultur teknis dilapangan secara tepat merupakan hal yang perlu diperhatikan.
     Kendala utama dalam budidaya yaitu kurangnya unsur hara makro dan mikro, kandungan Al dan Fe tinggi, pH tanah rendah dan sering terjadi fiksasi P, daya dukung lahan ini dapat diperbaiki dengan memberikan bahan amelioran seperti kapur untuk tanah pH rendah atau bahan organik (Lakitan. B, 2005).
     Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan berbagai alternatif diantaranya penggunaan varietas yang dapat meningkatkan hasil pertanian. Alternatif lainnya   yaitu     penggunaan  bahan organik yang dapat meningkatkan kandungan hara tanah dan mampu mensuplai kebutuhan hara untuk tanaman, seperti penggunaan mulsa organik yang dapat memperbaiki agregat tanah, dapat pula meningkatkan hara, mengendalikan pertumbuhan gulma, temperatur, ketersediaan air dan kelembaban.
     Mulsa adalah bahan yang diaplikasikan kepermukaan tanah yang terdiri dari bermacam-macam bahan organik. Secara  tradisional mulsa terbuat dari organik alam , umumnya digunakan bahan-bahan termasuk jerami, daun-daun, serbuk gergaji, tongkol jagung, kulit kacang tanah, kulit cemara, potongan kayu. Mulsa memberikan manfaat besar bagi tanaman hortikultura, manfaat tersebut antara lain konservasi kelembaban, pengontrol erosi, memperbaiki struktur tanah, memperbaiki infiltrasi air, mengurangi fluktuasi temperatur tanah. Pada musim panas mulsa digunakan untuk menurunkan temperatur tanah dan efek ini terutama sekali pada lapisan – lapisan permukaan (Barden Halface,1989).
       Tujuan utama penggunaan mulsa adalah untuk mengendalikan besarnya panas yang diserap oleh tanah yang akan berpengaruh terhadap penguapan air, melindungi tanah dari tumbukan air hujan yang jatuh kepermukaan tanah, meningkatkan infiltrasi tanah, meningkatkan kelembababan dalam tanah, menciptakan kondisi yang optimal untuk aktifitas jasad renik dalam tanah, meningkatkan unsur hara melalui pelapukan bahan mulsa, dan mampu mengendalikan gulma yang tumbuh disekitar lahan budidaya. Mulsa dapat mengurangi penguapan air tanah setebal 1,5 cm memerlukan waktu 3 – 5 hari. Sedangkan dengan pemberian mulsa dipermukaan mulsa akan membantu dalam produktivitas lahan persatuan luas, sehingga dapat menjaga hasil panen yang berkualitas (Aswad dkk,1990). Penggunaan alang-alang merupakan salah satu jenis mulsa organik yang dapat meningkatkan hasil tanaman kedelai (Fahrurrozi dkk,2005). Penggunaan 15 – 25 ton/ha mulsa alang – alang segar menigkatkan kadar air tanah, memperbaiki pertumbuhan dan hasil biji kering kedelai 30 – 60 % (Lawid dan Rahmah, 1993).
       Pemakaian varietas harus sesuai dengan kondisi lahan disamping penggunaan mulsa, pemilihan varietas yang tepat juga berpengaruh terhadap lahan yang akan  ditanami, untuk dapat membedakan yang satu dengan yang lain, kita harus mengetahui sifat-sifat tanaman tersebut. Identifikasi varietas merupakan salah satu cara yang baik untuk pengenalan varietas yang akan digunakan.
     Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis   telah  melakukan   penelitian  dengan judul “Respon Mulsa Organik dan Berbagai Varietas Terhadap Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis Sativus. L).
       Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui respon mulsa organik terhadap produksi tanaman mentimun,mengetahui respon  berbagai varietas terhadap produksi tanaman mentimun serta untuk mengetahui respon interaksi mulsa organik dan berbagai varietas terhadap produksi tanaman mentimun.

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu
       Peneltian ini telah dilaksanakan di Desa Tobek Panjang Teluk Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah pada bulan Februari sampai bulan April 2010.

Bahan dan Alat
       Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah mentimun varietas Bundo F1, mentimun varietas Wuku, mentimun varietas Mercy F1, mulsa organik (serasa alang - alang, serbuk gergaji,  serasa akasia), pupuk N, P, K, insektisida (Decis dan Antracol).       Sedangkan alat yang digunakan adalah : parang, cangkul, meteran, gergaji, paku, gembor, timbangan, alat-alat tulis, dan handsprayer.

Metode Penelitian
       Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu :M (mulsa Organik)  yang terdiri dari 4 taraf dan V (varietas) yang terdiri dari 3 taraf.

Faktor M terdiri atas 4 taraf yaitu :
M0     = Tanpa perlakuan mulsa (kontrol)
M1     = Perlakuan mulsa alang – alang
M2     = Perlakuan mulsa serasah  akasia
M3     = Perlakuan mulsa serbuk gergaji

Faktor V terdiri 3 taraf  Yaitu :
V1        =  Varietas Bundo F1
V2        =  Varietas Wuku
V3        =  Varietas Mercy F1

HASIL DAN PEMBAHASAN

Umur Berbunga (hst)

Hasil analisis sidik ragam terhadap umur berbunga dengan perlakuan mulsa organik dan berbagai varietas memberikan\ respon nyata.  Rata – rata umur berbunga setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Rata – Rata Umur Berbunga dengan Perlakuan Mulsa Organik dan Berbagai Varietas (hst)

Faktor M
(mulsa)
Faktor V (varietas)
Rerata

V1
V2
V3
M0
M1
M2
M3

29,55cd
28,44ab
28,99cd
28,66bc
28,66bc
27,77a
28,44ab
28,88cd
27,88ab
28,77bc
29,99d
28,10ab
28,69
28,32
29,14
28,54


Rerata
28,91
28,43
28,68


KK = 2,34%
BNJ MV = 0,86












Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


       Pada tabel 1 diatas interaksi perlakuan menunjukkan nilai yang berbeda nyata, yaitu M1V2 (27,77), berbeda sangat nyata dengan perlakuan M0V1 (29,55), tetapi perlakuan M0V1 (29,55) tidak berbeda nyata dengan perlakuan M2V3 (29,99). Keragaman hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa masing – masing interaksi perlakuan menunjukkan respon yang berbeda terhadap munculnya bunga.
       Berdasarkan data pada tabel 1, dapat dilihat bahwa penghitungan umur berbunga pada tanaman mentimun berbeda sangat nyata dimana beberapa kombinasi mulsa organik dan berbagai varietas menunjukkan respon yang berbeda dalam kemampuannya untuk mempercepat proses pembungaan pada tanaman mentimun. Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa rerata umur berbunga tercepat adalah 27,33 yang dihasilkan dari perlakuan M1V2 pada ulangan ke 2. bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, cepatnya tanaman berbunga pada perlakuan tersebut menandakan bahwa perlakuan berlangsung dengan baik terhadap umur berbunga.
       Perlakuan mulsa yang berperan dalam mempertahankan ketersediaan unsur hara dalam tanah didukung oleh aplikasi berbagai varietas yang mampu meningkatkan proses regenerasi sel dan ketersediaan energi mengakibatkan serapan hara lebih banyak. Unsur – unsur yang tersedia oleh tanah itu dilserap terutama oleh ujung – ujung akar dan air yang akan diabsorbsi ke dalam tubuh tanaman, namun lebih dominan dilakukan oleh bulu – bulu akar (Dwidjosapputro, 1986). Peningkatan jumlah akar ini juga diduga karena respon tanaman terhadap mulsa organik dan berbagai varietas.

Jumlah Bunga (buah)
       Hasil analisis sidik ragam terhadap jumlah bunga dengan perlakuan   mulsa organik  dan berbagai varietas memberikan respon nyata.  Rata – rata jumlah bunga setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 2.


Tabel 2. Rata – Rata Jumlah Bunga dengan Perlakuan Mulsa Organik dan Berbagai Varietas (buah)
Faktor M
(mulsa)
Faktor V(varietas)
Rerata
V1
V2
V3

M0
M1
M2
M3

6,77
11,32
8,55
11,44
7,77
9,44
8,88
11,88
7,33
11,21
9,22
11,44

7,29c
10,65ab
8,88bc
11,58a

Rerata
9,52
9,49
9,80

KK = 9,39
BNJ M = 2,20






Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


       Dari tabel 2 diketahui bahwa perlakuan interaksi mulsa organik dan berbagai varietas tidak memberikan respon yang nyata terhadap jumlah bunga. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif tanaman yang relatif  yang sama sehingga mengakibatkan alokasi fotosintat dan penumpukan fotosintat dan penumpukan fotosintat berbeda tidak nyata yang akan digunakan untuk pembentukan dan mempertahankan bunga, seperti yang terlihat pada tabel 2 dimana jumlah bunga tidak berbada nyata. Menurut Hidayat (1985) besar kecilnya jumlah bunga dipengaruhi oleh faktor – faktor pendukung seperti tinggi tanaman, berat kering, jumlah hasil fotosintesis dan intensitas cahaya.
       Data pada tabel 2 menunjukkan bahwa mulsa organik memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah bunga. Hal ini diduga dikarenakan lahan yang tanpa mulsa terjadi evaporasi yang berlebihan dan kelembaban juga kurang dibanding lahan yang pakai mulsa sehingga air kurang tersedia untuk melarutkan unsur hara yang tersedia.
     Hidayat (1985) mengatakan bahwa jumlah bunga maksimum tiap tanaman ditentukan secara genetik, namun jumlah bunga dapat juga terbentuk karena pengaruh dari lingkungan selama proses pembentukan bunga. Suprapto (1999) menjelaskan jumlah bunga yang terbentuk pada ketiak daun beraneka ragam tergantung kulitvar dan lingkungan tumbuh tanaman seperti lamanya penyinaran dan suhu. Tanaman dengan sifat genotif yang baik dan mempunyai kemampuan beradaptasi yang baik akan dapat menghasilkan jumlah bunga yang  banyak  di bandingkan dengan genotif lainnya. Disini mulsa organik berperan sebagai stabilasator untuk menjaga kelembaban dan suhu.
     Varietas Menunjukan perbedaan yang tidak nyata terhadap jumlah bunga. Hal ini menunjukkan bahwa masing – masing varietas yang diuji mempunyai kemampuan memproduksi jumlah bunga yang hampir sama dan  masing - masing varietas juga mempunyai kemampuan yang hampir sama dalam penyesuaian terhadap tempat hidupnya sehingga tidak ada respon yang nyata terhadap jumlah bunga pertanaman.

Umur Muncul Buah (hst)
     Hasil analisis sidik ragam terhadap umur muncul buah dengan perlakuan mulsa organik dan berbagai varietas memberikan respon tidak nyata.  Rata – rata umur muncul buah setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 3


Tabel 3. Rata – Rata Umur Muncul Buah dengan Perlakuan Mulsa Organik dan Berbagai Varietas (hst).
Faktor M
(mulsa)
Faktor V(varietas)
Rerata
V1
V2
V3
M0
M1
M2
M3
33,44
33,44
33,77
33,10
32,77
33,55
33,44
32,33
33,22
32,55
33,44
31,88
33,14
33,18
33,55
32,43
Rerata
33,43
33,02
32,77

Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


      Dari hasil penelitian bahwa semua perlakuan tidak memberikan respon nyata terhadap umur muncul buah, ini erat kaitannya dengan intensitas cahaya yang diterima tidak mencukupi, karena tingginya curah hujan selama penelitian yang mengakibatkan semua perlakuan tidak memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul buah.
      Sesuai dengan pendapat Jumin (1991) bahwa dengan adanya panas yang cukup, maka proses pembentukan bunga dan buah dapat berjalan dengan sempurna yang akan memperlancar proses pembentukan karbohidrat dan akan mempercepat reaksi  - reaksi kimia atau biokimia yang akan memacu pertumbuhan menjadi lebih baik terutama dalam pembentukan buah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi umur panen tanaman.

Jumlah Buah (buah)

     Hasil analisis sidik ragam terhadap jumlah buah dengan perlakuan mulsa organik dan berbagai varietas memberikan pengaruh nyata.  Rata – rata jumlah buah setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 4.









 Tabel 4.Rata – Rata Jumlah Buah dengan Perlakuan Mulsa Organik dan Berbagai Varietas (buah)

Faktor M
(mulsa)
Faktor V(varietas)
Rerata
V1
V2
V3
M0
M1
M2
M3
3,44
5,66
4,33
5,10
4,10
6,21
4,77
5,77
4,11
6,99
4,77
5,99
3,88d
6,28a
4,62c
5,62b
Rerata
4,63b
5,21ab
5,46a

KK  =  3,90
BNJ M = 0,48 , BNJ V = 0,61
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


     Data hasil pengamatan terhadap jumlah buah pertanaman setelah dianalisis sidik ragam menunjukkan bahwa secara interaksi perlakuan mulsa organik dan berbagai varietas tidak memberikan respon nyata, sedangkan secara tunggal pada perlakuan mulsa organik (M) dan Berbagai Varietas (V) memberikan respon yang  nyata terhadap jumlah buah pertanaman.
     Hasil terbaik pada perlakuan mulsa organik terdapat perlakuan mulsa alang – alang (M1 : 18,87), dan hasil terendah pada perlakuan M0 (11,65). Perlakuan M1 berbeda nyata dengan perlakuan M2 dan M3, dan sangat berbeda nyata terhadap M0. Hal ini tentunya berkaitan dengan peranan mulsa alang – alang yang demikian penting dalam perbaikan struktur tanah menjadi gembur sehingga aerase tanah menjadi lebih baik. Struktur tanah yang baik penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena mempengaruh aerase tanah, penetrasi akar serta resistensi tanah terhadap erosi yang dapat diperoleh jika agregasi tanah terbentuk dengan baik (Hanafiah et all, 2005)
     Perlakuan mulsa serbuk gergaji (M3) terbukti mempunyai peranan yang baik dalam menjaga temperatur  dan kelembaban tanah dan meningkatkan aerase dalam tanah. Seringkali hasil panen suatu tanaman budidaya ditingkatkan dengan memnfaatkan perubahan lingkungan.  Temperatur  dapat   mempengaruhi distribusi hasil asimilasi dalam tubuh tanaman budidaya, temperatur yang sejuk menguntungkan transpor karbohidrat kedalam cadangan makanan (Gardner, pearce dan Mitchell, 1991).

Berat Buah (gr)

      Hasil analisis sidik ragam terhadap berat buah dengan perlakuan mulsa organik dan berbagai varietas memberikan respon tidak  nyata.  Rata – rata berat buah setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 5.


Tabel 5. Rata – Rata Berat Buah dengan Perlakuan Mulsa Organik dan Berbagai Varietas (gr)
Faktor M
(mulsa)
Faktor V(varietas)
Rerata
V1
V2
V3
M0
M1
M2
M3
739,62
568,47
561,10
599,99
570,36
472,07
541,10
551,84
647,33
779,99
575,17
717,77
652,43
606,84
559,12
623,20
Rerata
617,29
533,84
680,06

Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ

     

Mulsa organik berperan dalam membantu penyerapan hara melalui stabilitas suhu, kelembaban dan mengurangi pencucian unsur hara oleh air hujan, apabila kondisi lingkungan dapat terjaga maka akan membantu tanaman mulai dari penyerapan unsur hara hingga aktivitas fotosintesis. Hal  ini dapat disimpulkan jika ketersediaan unsur hara cukup didukung oleh lingkungan yang sesuai akan dapat meningkatkan berat segar pertanaman, namun perlu diketahui bahwa berat buah segar tanaman tergantung pada  jumlah buah pertanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah buah pertanaman yang banyak menyebabkan berat buah menjadi lebih kecil (tabel 5).
      Faktor tunggal penggunaan mulsa organik menunjukkan respon yang tidak nyata terhadap berat segar tanaman. Hal ini diduga produksi tanaman lebih ditentukan oleh ketersediaan unsur hara. Proses dekomposisi dari bahan mulsa organik belum berjalan sempurna dan belum mampu menunjukkan perbedaan hasil pada berat buah pertanaman. Rerata tertinggi ditunjukkan pada pemberian mulsa pada pemberian serbuk gergaji. Hal ini diasumsikan bahwa serbuk gergaji memiliki batasan yang lebih rendah dalam penyerapan air, karena teksturnya lebih halus sehingga daya ikat airnya lebih kecil.
      Varietas menunjukan perbedaan yang tidak nyata terhadap berat buah pertanaman. Hal ini menunjukkan bahwa masing – masing varietas yang diuji mempunyai kemampuan memproduksi berat buah yang sama dan masing – masing varietas juga mempunyai kemampuan yang hampir sama dalam penyesuaian terhadap tempat hidupnya sehingga tidak mempengaruhi berat buah pertanaman. 

KESIMPULAN

      Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan terbaik secara interaksi yaitu perlakuan M1V2 (mulsa alang-alang dengan varietas wuku) yaitu dengan umur berbunga 27,33 hari setelah tanam, sedangkan secara tunggal yaitu perlakuan mulsa alang – alang dan berbagai varietas yaitu perlakuan varietas  mercy F1.





DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2004. Katalog 2001 – 2002 PT. Benih Inti Subur Intani. Kediri.
Bari et all,1974. Teknologi Mulsa dan Berbagai Varietas. Penebar Swadaya. Jakarta
Borden dan Halface,1989. Horticulture. Jhon willey and Sons.Hal 288 - 289
Dwidjosaputro. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Jakarta.
Fahrurrozi. 2005. Pengaruh mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil Paprika (Capsicum annuum L.) jenis Bell dan populasi aphid. Jurnal Penelitian Universitas Bengkulu II (4) : 1 - 8.
Garner,pearce dan mitchell,1991. Priciple of genetics. Six edition,Jhon willey & Sons,New York.
Hanafiah,A,K,Anas,I, Napoleon, A,Ghoffan,N, 2005. Biologi Tanah Ekologi dan Mikrobiologi Tanah. Rajawali Press.Jakarta
Hidayat, 1985. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. IKIP Semarang Press. Semarang
Jumin, H. B, 1992. Ekofisiologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers. Jakarta
Lawid dan Rahma,1993, Pengaruh persentase penutupan mulsa terhadap sifat kimia tanah, pertumbuhan dan hasil bawang merah. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu, Bengkulu.
Lakitan, B.2005. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan tanaman. Raja Griffindo Persada Jakarta.
Rukmana, 1994. Budidaya Mentimun. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Suprapto, 1999. Berbagai Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar