RESPON MULSA ORGANIK DAN BERBAGAI VARIETAS
TERHADAP PRODUKSI TANAMAN MENTIMUN (Cucumis
sativus. L)
Deni Nesti Asmeri
Program Studi Agroteknologi, Sekolah Tinggi Ilmu
Pertanian Swarnadwipa, Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7
Jake Telp : 085265303929 Teluk Kuantan, Riau.
Email :
deni.nesty@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian
ini berjudul Respon Mulsa Organik dan Berbagai Varietas terhadap Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus. L), telah dilaksanakan di Desa Tobek Panjang Teluk
Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini
menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 faktor
: M (mulsa Organik) yang terdiri dari 4
taraf yaitu : M0 (kontrol), M1 (alang – alang), M2 (serasah akasia), M3 (serbuk gergaji) dan Faktor V
terdiri 3 taraf Yaitu : V1 (Bundo F1),
V2 (Wuku) , V3 (Mercy F1). Dengan demikian
diperoleh 12 kombinasi perlakuan, pada masing-masing perlakuan terdiri dari
3 ulangan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara interaksi berbeda
nyata terhadap tanaman mentimun terdapat
pada pengamatan umur berbunga (hst), sedangkan secara tunggal pemberian mulsa
organik yang berbeda nyata terdapat pada jumlah
bunga (buah), persentase
putik jadi buah (%), jumlah
buah (buah). Perlakuan
berbagai varietas secara tunggal yang memberikan respon nyata hanya
pada jumlah buah (buah), juga ada beberapa pengamatan yang tidak
memperlihatkan respon nyata terhadap faktor perlakuan yaitu umur muncul buah
(hst), umur panen (hst) dan berat buah (gr).
Kata
kunci : mulsa organik, varietas, mentimun
PENDAHULUAN
Mentimun termasuk salah satu jenis
sayuran buah yang memiliki banyak manfaat dalam kehidupan masyarakat
sehari-hari, sehingga permintaan pasarnya semakin meningkat, baik untuk
keperluan domestik maupun keperluan ekspor. Buah ini sangat disukai oleh
seluruh golongan masyarakat mulai dari golongan masyarakat yang berpenghasilan
rendah sampai masyarakat yang berpenghasilan tinggi. Dengan demikian permintaan
buah mentimun dipasaran sangat besar dan berkesinambungan (Rukmana, 1994).
Di Kabupaten kuantan singingi produksi
mentimun dari tahun ke tahun mengalami penurunan, pada akhir tahun 2003
produksi mentimun 555 ton, pada tahun 2004 produksi mentimun menjadi 358 ton,
pada tahun 2005 produksi mentimun mengalami kenaikan sedikit dibanding dengan
tahun 2004 menjadi 466 ton,
pada tahun 2006 produksi mentimun terus mengalami peningkatan menjadi 465 ton,
pada akhir tahun 2007 produksi mentimun kembali mengalami penurunan yaitu
menjadi 224 ton. (Anonimus, 2008)
Pengembangan budidaya mentimun mempunyai
Respon dan sumbangan yang cukup besar terhadap peningkatan pendapatan taraf
hidup petani, penyediaan bahan pangan bergizi, perluasan kesempatan kerja dapat
diandalkan sebagai satu komoditas ekspor non migas dari sektor pertanian.
Peningkatan produksi mentimun dapat dipacu dengan usaha intensifikasi,
ekstensifikasi dan diversifikasi harus dilakukan secara terpadu.
Untuk itu peningkatan produksi perlu
diusahakan agar produksi maksimal dapat
dihasilkan tanpa melupakan faktor-faktor budidaya. Asfek agronomi dari tanaman
timun pada umumnya tidak jauh berbeda dengan tanaman lainnya. Penerapan usaha
tani yang intensif, kondisi iklim yang cocok, dan penerapan kultur teknis
dilapangan secara tepat merupakan hal yang perlu diperhatikan.
Kendala utama dalam budidaya yaitu
kurangnya unsur hara makro dan mikro, kandungan Al dan Fe tinggi, pH tanah
rendah dan sering terjadi fiksasi P, daya dukung lahan ini dapat diperbaiki
dengan memberikan bahan amelioran seperti kapur untuk tanah pH rendah atau
bahan organik (Lakitan. B, 2005).
Untuk mengatasi permasalahan tersebut
perlu dilakukan berbagai alternatif diantaranya penggunaan varietas yang dapat
meningkatkan hasil pertanian. Alternatif lainnya yaitu
penggunaan bahan organik yang
dapat meningkatkan kandungan hara tanah dan mampu mensuplai kebutuhan hara
untuk tanaman, seperti penggunaan mulsa organik yang dapat memperbaiki agregat
tanah, dapat pula meningkatkan hara, mengendalikan pertumbuhan gulma,
temperatur, ketersediaan air dan kelembaban.
Mulsa adalah bahan yang diaplikasikan
kepermukaan tanah yang terdiri dari bermacam-macam bahan organik. Secara tradisional mulsa terbuat dari organik alam ,
umumnya digunakan bahan-bahan termasuk jerami, daun-daun, serbuk gergaji,
tongkol jagung, kulit kacang tanah, kulit cemara, potongan kayu. Mulsa
memberikan manfaat besar bagi tanaman hortikultura, manfaat tersebut antara
lain konservasi kelembaban, pengontrol erosi, memperbaiki struktur tanah,
memperbaiki infiltrasi air, mengurangi fluktuasi temperatur tanah. Pada musim
panas mulsa digunakan untuk menurunkan temperatur tanah dan efek ini terutama
sekali pada lapisan – lapisan permukaan (Barden Halface,1989).
Tujuan utama penggunaan mulsa adalah
untuk mengendalikan besarnya panas yang diserap oleh tanah yang akan
berpengaruh terhadap penguapan air, melindungi tanah dari tumbukan air hujan
yang jatuh kepermukaan tanah, meningkatkan
infiltrasi tanah, meningkatkan kelembababan dalam tanah, menciptakan kondisi
yang optimal untuk aktifitas jasad renik dalam tanah, meningkatkan unsur hara melalui
pelapukan bahan mulsa, dan mampu mengendalikan gulma yang tumbuh disekitar
lahan budidaya. Mulsa dapat mengurangi penguapan air tanah setebal 1,5 cm memerlukan
waktu 3 – 5 hari. Sedangkan dengan pemberian mulsa dipermukaan mulsa akan
membantu dalam produktivitas lahan persatuan luas, sehingga dapat menjaga hasil
panen yang berkualitas (Aswad dkk,1990). Penggunaan alang-alang merupakan salah
satu jenis mulsa organik yang dapat meningkatkan hasil tanaman kedelai
(Fahrurrozi dkk,2005). Penggunaan 15 – 25 ton/ha mulsa alang – alang segar
menigkatkan kadar air tanah, memperbaiki pertumbuhan dan hasil biji kering
kedelai 30 – 60 % (Lawid dan Rahmah, 1993).
Pemakaian varietas harus sesuai dengan
kondisi lahan disamping penggunaan mulsa, pemilihan varietas yang tepat juga
berpengaruh terhadap lahan yang akan
ditanami, untuk dapat membedakan yang satu dengan yang lain, kita harus
mengetahui sifat-sifat tanaman tersebut. Identifikasi varietas merupakan salah
satu cara yang baik untuk pengenalan varietas yang akan digunakan.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka
penulis telah melakukan
penelitian dengan judul “Respon
Mulsa Organik dan Berbagai Varietas Terhadap Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis Sativus. L).
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk
mengetahui respon mulsa organik terhadap produksi tanaman mentimun,mengetahui
respon berbagai varietas terhadap
produksi tanaman mentimun serta untuk mengetahui respon interaksi mulsa organik
dan berbagai varietas terhadap produksi tanaman mentimun.
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Peneltian ini telah dilaksanakan di Desa
Tobek Panjang Teluk Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah pada bulan Februari
sampai bulan April 2010.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian
adalah mentimun varietas Bundo F1, mentimun varietas Wuku, mentimun varietas
Mercy F1, mulsa organik (serasa alang - alang, serbuk gergaji, serasa akasia), pupuk N, P, K, insektisida
(Decis dan Antracol). Sedangkan
alat yang digunakan adalah : parang, cangkul, meteran, gergaji, paku, gembor,
timbangan, alat-alat tulis, dan handsprayer.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari
2 faktor yaitu :M (mulsa Organik) yang
terdiri dari 4 taraf dan V (varietas) yang terdiri dari 3 taraf.
Faktor M
terdiri atas 4 taraf yaitu :
M0 = Tanpa perlakuan
mulsa (kontrol)
M1 = Perlakuan mulsa
alang – alang
M2 = Perlakuan mulsa
serasah akasia
M3 = Perlakuan mulsa
serbuk gergaji
Faktor V
terdiri 3 taraf Yaitu :
V1 =
Varietas Bundo F1
V2 =
Varietas Wuku
V3 =
Varietas Mercy F1
HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur Berbunga (hst)
Hasil
analisis sidik ragam terhadap umur berbunga dengan perlakuan mulsa organik dan
berbagai varietas memberikan\ respon nyata.
Rata – rata umur berbunga setelah diuji
dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rata – Rata Umur Berbunga dengan Perlakuan Mulsa Organik
dan Berbagai Varietas (hst)
|
Faktor M
(mulsa)
|
Faktor V (varietas)
|
Rerata
|
|||||||||
|
V1
|
V2
|
V3
|
|||||||||
|
M0
M1
M2
M3
|
29,55cd
28,44ab
28,99cd
28,66bc
|
28,66bc
27,77a
28,44ab
28,88cd
|
27,88ab
28,77bc
29,99d
28,10ab
|
28,69
28,32
29,14
28,54
|
|||||||
|
Rerata
|
28,91
|
28,43
|
28,68
|
|
|||||||
|
KK =
2,34%
|
BNJ MV = 0,86
|
||||||||||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Pada tabel 1 diatas interaksi perlakuan
menunjukkan nilai yang berbeda nyata, yaitu M1V2 (27,77), berbeda sangat nyata dengan
perlakuan M0V1 (29,55), tetapi
perlakuan M0V1 (29,55) tidak berbeda nyata dengan
perlakuan M2V3 (29,99).
Keragaman hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa masing – masing interaksi
perlakuan menunjukkan respon yang berbeda terhadap munculnya bunga.
Berdasarkan data pada tabel 1, dapat
dilihat bahwa penghitungan umur berbunga pada tanaman mentimun berbeda sangat
nyata dimana beberapa kombinasi mulsa organik dan berbagai varietas menunjukkan
respon yang berbeda dalam kemampuannya untuk mempercepat proses pembungaan pada
tanaman mentimun. Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa rerata umur berbunga
tercepat adalah 27,33 yang dihasilkan dari perlakuan M1V2 pada ulangan ke 2.
bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, cepatnya tanaman berbunga pada
perlakuan tersebut menandakan bahwa perlakuan berlangsung dengan baik terhadap
umur berbunga.
Perlakuan mulsa yang berperan dalam
mempertahankan ketersediaan unsur hara dalam tanah didukung oleh aplikasi
berbagai varietas yang mampu meningkatkan proses regenerasi sel dan
ketersediaan energi mengakibatkan serapan hara lebih banyak. Unsur – unsur yang
tersedia oleh tanah itu dilserap terutama oleh ujung – ujung akar dan air yang
akan diabsorbsi ke dalam tubuh tanaman, namun lebih dominan dilakukan oleh bulu
– bulu akar (Dwidjosapputro, 1986). Peningkatan jumlah akar ini juga diduga
karena respon tanaman terhadap mulsa organik dan berbagai varietas.
Jumlah
Bunga (buah)
Hasil analisis sidik ragam terhadap
jumlah bunga dengan perlakuan mulsa
organik dan berbagai varietas memberikan
respon nyata. Rata – rata jumlah bunga
setelah diuji dengan BNJ pada taraf 5%
dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rata – Rata Jumlah Bunga dengan Perlakuan Mulsa Organik
dan Berbagai Varietas (buah)
|
Faktor M
(mulsa)
|
Faktor V(varietas)
|
Rerata
|
|||
|
V1
|
V2
|
V3
|
|||
|
M0
M1
M2
M3
|
6,77
11,32
8,55
11,44
|
7,77
9,44
8,88
11,88
|
7,33
11,21
9,22
11,44
|
7,29c
10,65ab
8,88bc
11,58a
|
|
|
Rerata
|
9,52
|
9,49
|
9,80
|
|
|
|
KK =
9,39
|
BNJ M = 2,20
|
||||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dari tabel 2 diketahui bahwa perlakuan
interaksi mulsa organik dan berbagai varietas tidak memberikan respon yang
nyata terhadap jumlah bunga. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif
tanaman yang relatif yang sama sehingga
mengakibatkan alokasi fotosintat dan penumpukan fotosintat dan penumpukan
fotosintat berbeda tidak nyata yang akan digunakan untuk pembentukan dan
mempertahankan bunga, seperti yang terlihat pada tabel 2 dimana jumlah bunga
tidak berbada nyata. Menurut Hidayat (1985) besar kecilnya jumlah bunga
dipengaruhi oleh faktor – faktor pendukung seperti tinggi tanaman, berat
kering, jumlah hasil fotosintesis dan intensitas cahaya.
Data pada tabel 2 menunjukkan bahwa
mulsa organik memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah bunga. Hal ini diduga
dikarenakan lahan yang tanpa mulsa terjadi evaporasi yang berlebihan dan
kelembaban juga kurang dibanding lahan yang pakai mulsa sehingga air kurang
tersedia untuk melarutkan unsur hara yang tersedia.
Hidayat (1985) mengatakan bahwa jumlah
bunga maksimum tiap tanaman ditentukan secara genetik, namun jumlah bunga dapat
juga terbentuk karena pengaruh dari lingkungan selama proses pembentukan bunga.
Suprapto (1999) menjelaskan jumlah bunga yang terbentuk pada ketiak daun
beraneka ragam tergantung kulitvar dan lingkungan tumbuh tanaman seperti
lamanya penyinaran dan suhu. Tanaman dengan sifat genotif yang baik dan
mempunyai kemampuan beradaptasi yang baik akan dapat menghasilkan jumlah bunga
yang banyak di bandingkan dengan genotif lainnya. Disini
mulsa organik berperan sebagai stabilasator untuk menjaga kelembaban dan suhu.
Varietas Menunjukan perbedaan yang tidak
nyata terhadap jumlah bunga. Hal ini menunjukkan bahwa masing – masing varietas
yang diuji mempunyai kemampuan memproduksi jumlah bunga yang hampir sama
dan masing - masing varietas juga
mempunyai kemampuan yang hampir sama dalam penyesuaian terhadap tempat hidupnya
sehingga tidak ada respon yang nyata terhadap jumlah bunga pertanaman.
Umur Muncul Buah (hst)
Hasil analisis sidik ragam terhadap umur
muncul buah dengan perlakuan mulsa organik dan berbagai varietas memberikan
respon tidak nyata. Rata – rata umur
muncul buah setelah diuji dengan BNJ
pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 3
Tabel 3. Rata – Rata Umur Muncul Buah dengan Perlakuan Mulsa
Organik dan Berbagai Varietas (hst).
|
Faktor M
(mulsa)
|
Faktor V(varietas)
|
Rerata
|
||
|
V1
|
V2
|
V3
|
||
|
M0
M1
M2
M3
|
33,44
33,44
33,77
33,10
|
32,77
33,55
33,44
32,33
|
33,22
32,55
33,44
31,88
|
33,14
33,18
33,55
32,43
|
|
Rerata
|
33,43
|
33,02
|
32,77
|
|
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Dari
hasil penelitian bahwa semua perlakuan tidak memberikan respon nyata terhadap
umur muncul buah, ini erat kaitannya dengan intensitas cahaya yang diterima
tidak mencukupi, karena tingginya curah hujan selama penelitian yang
mengakibatkan semua perlakuan tidak memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap
umur muncul buah.
Sesuai dengan pendapat Jumin (1991) bahwa
dengan adanya panas yang cukup, maka proses pembentukan bunga dan buah dapat
berjalan dengan sempurna yang akan memperlancar proses pembentukan karbohidrat
dan akan mempercepat reaksi - reaksi
kimia atau biokimia yang akan memacu pertumbuhan menjadi lebih baik terutama
dalam pembentukan buah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi umur panen
tanaman.
Jumlah Buah (buah)
Hasil analisis sidik ragam terhadap jumlah
buah dengan perlakuan mulsa organik dan berbagai varietas memberikan pengaruh
nyata. Rata – rata jumlah buah setelah
diuji dengan BNJ pada taraf 5% dapat
dilihat pada tabel 4.
Tabel 4.Rata – Rata Jumlah
Buah dengan Perlakuan Mulsa Organik dan Berbagai Varietas (buah)
|
Faktor M
(mulsa)
|
Faktor V(varietas)
|
Rerata
|
||
|
V1
|
V2
|
V3
|
||
|
M0
M1
M2
M3
|
3,44
5,66
4,33
5,10
|
4,10
6,21
4,77
5,77
|
4,11
6,99
4,77
5,99
|
3,88d
6,28a
4,62c
5,62b
|
|
Rerata
|
4,63b
|
5,21ab
|
5,46a
|
|
|
KK =
3,90
|
BNJ M = 0,48 , BNJ V = 0,61
|
|||
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Data hasil pengamatan terhadap jumlah buah
pertanaman setelah dianalisis sidik ragam menunjukkan bahwa secara interaksi
perlakuan mulsa organik dan berbagai varietas tidak memberikan respon nyata,
sedangkan secara tunggal pada perlakuan mulsa organik (M) dan Berbagai Varietas
(V) memberikan respon yang nyata
terhadap jumlah buah pertanaman.
Hasil terbaik pada perlakuan mulsa organik
terdapat perlakuan mulsa alang – alang (M1 : 18,87), dan hasil terendah pada
perlakuan M0 (11,65). Perlakuan M1 berbeda nyata dengan perlakuan M2 dan M3,
dan sangat berbeda nyata terhadap M0. Hal ini tentunya berkaitan dengan peranan
mulsa alang – alang yang demikian penting dalam perbaikan struktur tanah
menjadi gembur sehingga aerase tanah menjadi lebih baik. Struktur tanah yang
baik penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena mempengaruh
aerase tanah, penetrasi akar serta resistensi tanah terhadap erosi yang dapat
diperoleh jika agregasi tanah terbentuk dengan baik (Hanafiah et all, 2005)
Perlakuan mulsa serbuk gergaji (M3)
terbukti mempunyai peranan yang baik dalam menjaga temperatur dan kelembaban tanah dan meningkatkan aerase
dalam tanah. Seringkali hasil panen suatu tanaman budidaya ditingkatkan dengan
memnfaatkan perubahan lingkungan.
Temperatur dapat mempengaruhi distribusi hasil asimilasi
dalam tubuh tanaman budidaya, temperatur yang sejuk menguntungkan transpor
karbohidrat kedalam cadangan makanan (Gardner, pearce dan Mitchell, 1991).
Berat
Buah (gr)
Hasil analisis sidik ragam terhadap berat
buah dengan perlakuan mulsa organik dan berbagai varietas memberikan respon
tidak nyata. Rata – rata berat buah setelah diuji dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada
tabel 5.
Tabel 5. Rata – Rata Berat Buah dengan Perlakuan Mulsa Organik dan
Berbagai Varietas (gr)
|
Faktor M
(mulsa)
|
Faktor V(varietas)
|
Rerata
|
||
|
V1
|
V2
|
V3
|
||
|
M0
M1
M2
M3
|
739,62
568,47
561,10
599,99
|
570,36
472,07
541,10
551,84
|
647,33
779,99
575,17
717,77
|
652,43
606,84
559,12
623,20
|
|
Rerata
|
617,29
|
533,84
|
680,06
|
|
Angka –
angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Mulsa
organik berperan dalam membantu penyerapan hara melalui stabilitas suhu,
kelembaban dan mengurangi pencucian unsur hara oleh air hujan, apabila kondisi
lingkungan dapat terjaga maka akan membantu tanaman mulai dari penyerapan unsur
hara hingga aktivitas fotosintesis. Hal
ini dapat disimpulkan jika ketersediaan unsur hara cukup didukung oleh
lingkungan yang sesuai akan dapat meningkatkan berat segar pertanaman, namun
perlu diketahui bahwa berat buah segar tanaman tergantung pada jumlah buah pertanaman. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa jumlah buah pertanaman yang banyak menyebabkan berat buah
menjadi lebih kecil (tabel 5).
Faktor tunggal penggunaan mulsa organik
menunjukkan respon yang tidak nyata terhadap berat segar tanaman. Hal ini
diduga produksi tanaman lebih ditentukan oleh ketersediaan unsur hara. Proses
dekomposisi dari bahan mulsa organik belum berjalan sempurna dan belum mampu
menunjukkan perbedaan hasil pada berat buah pertanaman. Rerata tertinggi
ditunjukkan pada pemberian mulsa pada pemberian serbuk gergaji. Hal ini diasumsikan
bahwa serbuk gergaji memiliki batasan yang lebih rendah dalam penyerapan air,
karena teksturnya lebih halus sehingga daya ikat airnya lebih kecil.
Varietas menunjukan perbedaan yang tidak
nyata terhadap berat buah pertanaman. Hal ini menunjukkan bahwa masing – masing
varietas yang diuji mempunyai kemampuan memproduksi berat buah yang sama dan
masing – masing varietas juga mempunyai kemampuan yang hampir sama dalam
penyesuaian terhadap tempat hidupnya sehingga tidak mempengaruhi berat buah pertanaman.
KESIMPULAN
Dari penelitian yang
telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa perlakuan terbaik secara interaksi yaitu perlakuan M1V2 (mulsa alang-alang dengan varietas wuku) yaitu dengan
umur berbunga 27,33 hari setelah tanam,
sedangkan secara tunggal yaitu perlakuan mulsa alang – alang dan berbagai
varietas yaitu perlakuan varietas mercy
F1.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus,
2004. Katalog 2001 – 2002 PT. Benih Inti
Subur Intani. Kediri.
Bari et all,1974. Teknologi
Mulsa dan Berbagai Varietas. Penebar Swadaya. Jakarta
Borden dan Halface,1989. Horticulture.
Jhon willey and Sons.Hal 288 - 289
Dwidjosaputro. 1986. Pengantar
Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Jakarta.
Fahrurrozi. 2005. Pengaruh mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil Paprika (Capsicum
annuum L.) jenis Bell dan populasi aphid. Jurnal
Penelitian Universitas Bengkulu II (4) : 1 - 8.
Garner,pearce dan mitchell,1991. Priciple of genetics. Six edition,Jhon willey & Sons,New York.
Hanafiah,A,K,Anas,I, Napoleon, A,Ghoffan,N, 2005. Biologi Tanah Ekologi dan Mikrobiologi
Tanah. Rajawali Press.Jakarta
Hidayat, 1985. Hubungan
Tanah, Air dan Tanaman. IKIP Semarang Press. Semarang
Jumin, H. B, 1992. Ekofisiologi
Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers. Jakarta
Lawid dan Rahma,1993, Pengaruh
persentase penutupan mulsa
terhadap sifat kimia tanah, pertumbuhan dan
hasil bawang merah. Skripsi.
Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu, Bengkulu.
Lakitan, B.2005. Fisiologi
Pertumbuhan dan Perkembangan tanaman. Raja Griffindo Persada Jakarta.
Rukmana, 1994. Budidaya
Mentimun. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Suprapto, 1999. Berbagai
Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar