Selasa, 25 November 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 2 No. 2, Oktober 2012

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 147-156


PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI IAA (Indole Acetic Acid) DAN BAP (Benzyl Amino-Purine) PADA MEDIA SUB KULTUR JARINGAN TANAMAN
BUAH NAGA (Hylocereus undatus)

Rila Asjayantri, Tri Nopsagiarti dan Rover
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
JL. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 085265968284 E-mail : Rila_Asjayan3@yahoo.com Teluk Kuantan

ABSTRACT
            The study was carried out at the Laboratory of Plant Biotechnology Faculty of Agriculture, University of islam Riau Pekanbaru. The timing of the study during the three months from January to Maret 2013. The design used in this study is the factorialexperiment in completely randomized design (CRD), which consists of two factors and three replications. The first factor is the provision of IAA : A0 (0 ppm), A1 (2 ppm), A2 (4 ppm), and A3 (6 ppm).While the second factoris the provision of BAP : B0 (0 ppm), B1 (2 ppm), B2 (4 ppm), and B3 (6 ppm). From the results of this study concluded that the provision of various concentration of IAA treatment singely provide significant effect on all parameters of the observations with the best treatment A1 (2 ppm IAA administration) that age emerged shoots ( 27:03 days), persentage grow of shoots (100 %), shoot height (1:40 cm), and weight wet roots (20:1 mg). Treatment provision of various consentrations of BAP singely provide significant effect on the parameters  observations age emerged shoots observations with the best treatment B2 (23,86 days) and percentage grow of shoots B2 (100 %). Interactions are granting various concentrations of IAA and BAP provide significant effect of the parameters of the observation age emerged shoots with the best treatment in the combination treatment A1B2 (21,89 days), shoot height with the best treatment A1B1 (1,47 cm), and weight wet roots with the best treatment A1B1 (22,1 mg).

Keyword : Dragon fruit, IAA, BAP, tissues


PENDAHULUAN

Buah naga (Hylocerus undatus) merupakan pendatang baru didunia buah-buahan tanah air. Tanaman buah naga berasal dari Meksiko, Amerika tengah, dan Amerika selatan. Buah naga yang bentuknya eksotik, aromanya harum, dan rasanya manis membuat buah kaktus madu tersebut semakin mendapat tempat tersendiri dihati pencinta buah buahan di Indonesia. Meskipun demikian, ketersediaannya dipasar masih langka (terbatas). Buah naga mulai dikenal luas di Indonesia awal tahun 2000-an yang saat itu buah naga masih didatangkan dari Thailand (Hardjadinata, 2010).
Buah naga memiliki khasiat untuk manusia, diantaranya sebagai penyeimbang kadar gula darah, pencegah kanker usus, pengurangan kolestrol, pelindung kesehatan mulut, pencegahan pendarahan, dan obat keluhan keputihan. Adanya khasiat tersebut disebabkan oleh kandungan nutrisi dalam buahnya yang sangat mendukung kesehatan tubuh manusia. Adapun kandungan nutrisi buah naga yaitu: kadar gula 13-18 briks, air 90,20%, karbohidrat 11,5 gr, asam 0,139 gr, protein 0,53 gr, serat 0,71 gr, kalsium 134,5 mg, fosfor 8,7 mg, magnesium 60,4 mg, vitamin C 9,4 mg (Kristanto, 2008).
Dalam upaya pengembangan buah naga, iklim Indonesia sangat mendukung dalam pembudidayaannya. Oleh karena itu, tidak tertutup kemungkinan bila buah naga pun dapat memasyarakat di Indonesia. Apalagi pembudidayaan buah naga menjanjikan keuntungan. Memang upaya kearah tersebut memerlukan suatu pengenalan yang cukup panjang. Semakin banyak orang mengenal buah naga maka semakin banyak pembudidayaannya (Kristanto, 2009).
Keberhasilan budidaya buah naga diawali dengan menyiapkan bibit yang baik berkualitas tinggi. Bibit yang sehat serta bebas hama dan penyakit merupakan beberapa ciri bibit berkualitas tinggi. Bibit yang demikian akan menghasilkan tanaman yang berkualitas dengan hasil yang optimal. Usaha untuk mendapatkan bibit buah naga dalam jumlah yang banyak, seragam, bebas penyakit dan dalam waktu singkat agak sulit diperoleh. Saat ini perbanyakan bibit buah naga masih terbatas secara konvensional yaitu dengan perbanyakan secara stek. Penyediaan bibit tersebut selain terbatas jumlahnya juga kemungkinan terserang berbagai penyakit.
Perbanyakan tanaman secara kultur jaringan bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut. Meskipun diakui bahwa perbanyakan secara kultur jaringan membutuhkan dana awal yang mahal dalam mempersiapkan fasilitasnya. Perbanyakan tanaman buah naga secara kultur jaringan sampai saat ini belum ada rekomendasi jenis penggunaan media kultur, komposisi, dan zat pengatur tumbuh untuk menginisiasi dan multiplikasi eksplan. Untuk mendapatkan media kultur dan konsentrasi zat pengatur tumbuh perlu dilakukan penelitian.
Menurut Basri (2004), kultur jaringan merupakan suatu tehnik mengisolasi bagian tanaman, baik berupa organ, jaringan, sel ataupun protoplasma dan selanjutnya mengkultur bagian tanaman tersebut pada media buatan dengan kondisi lingkungan yang steril dan terkendali. Bagian tanaman tersebut dapat beregenerasi hingga membentuk tanaman lengkap (George dan Sherington, 1983 diacu dalam Samudin, 2009).
Kelebihan teknik kultur jaringan (in vitro) adalah dapat menghasilkan bibit yang sehat dan seragam dalam jumlah besar dalam kurun waktu yang relatif singkat, perbanyakannya tidak membutuhkan tempat yang luas, dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa mengenal musim, sehingga ketersediaan bibit terjamin.
Keberhasilan pelaksanaan kultur jaringan antara lain ditentukan oleh pengunaan komposisi media yang sesuai. Hendaryono dan Wijayani (1994) mengemukakan media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan. Media dasar yang biasa di gunakan dalam kultur jaringan adalah media MS (Murrashige dan Skoog). Menurut Gunawan (1992), dari sekian banyak jenis media dasar yang digunakan dalam teknik kultur jaringan, tampaknya media MS (Murashige-Skoog) mengandung jumlah hara organik yang layak untuk memenuhi kebutuhan banyak jenis sel tanaman dalam kultur jaringan.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan zat pengatur tumbuh khususnya kombinasi dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan. Zat pengatur tumbuh berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman, misalnya pertumbuhan akar, tunas, perkecambahan dan sebagainya (Hendaryono & Wijayani, 1994). Zat pengatur tumbuh yang biasa dan sering digunakan adalah golongan auksin dan sitokinin.
Auksin adalah sekelompok senyawa yang fungsinya merangsang pemanjangan sel-sel pucuk. Pierik (1997) diacu dalam Zulkarnain (2009)  mengemukakan bahwa pada umumnya auksin meningkatkan pemanjangan sel, pembelahan sel, dan pembentukan akar adventif. Konsentrasi auksin yang rendah akan meningkatkan pembentukan akar adventif, sedangkan auksin konsentrasi tinggi akan merangsang pembentukan kalus dan menekan morfogenesis (Smith, 1992 diacu dalam Zulkarnain, 2009). Golongan auksin yang sering digunakan pada media kultur jaringan adalah IAA. IAA merupakan auksin yang disintesis secara alamiah didalam tubuh tanaman, namun senyawa ini mudah mengalami degradasi akibat pengaruh cahaya dan enzimatik (Zulkarnain, 2009). Pada proses pembelahan sel IAA berperan dalam pembentukan akar adventif, pembesaran jaringan dan perpanjangan sel.
Sitokinin adalah senyawa yang dapat meningkatkan pembelahan sel pada jaringan tanaman serta mengatur pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pemberian sitokinin kedalam medium kultur jaringan penting untuk menginduksi perkembangan dan pertumbuhan eksplan. Senyawa tersebut dapat meningkatkan pembelahan sel, proliferasi pucuk, dan morfogenesis pucuk (Smith, 1992 diacu dalam Zulkarnain, 2009). Yang termasuk dalam golongan sitokinin adalah Kinetin, Zeatin, dan Benzylamino-purine (BAP) (Salisbury dan Ross, 1995). Dalam aktivitas kultur jaringan, BAP berperan dalam pembentukan tunas, menstimulir terjadinya pembelahan sel, proliferasi kalus, mendorong proliferasi meristem ujung, serta mendorong pembentukan klorofil pada kalus.
Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi IAA pada media  sub kultur jaringan tanaman buah naga (2) Untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi BAP pada media  sub kultur jaringan tanaman buah naga (3) Untuk mengetahui pengaruh interaksi pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP pada media  sub kultur jaringan tanaman buah naga.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau, Jalan Kaharuddin Nasution No. 113 Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Penelitian akan dilaksanakan selama tiga bulan dari bulan Januari sampai dengan Maret  2013.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplan buah naga berumur dua bulan (hasil inisiasi dari tim laboratorium bioteknologi UIR), bahan kimia Media Murashige-Skoog, aquades steril, Alkohol, tepung agar, gula, IAA, BAP, deterjen, kertas tisu, kertas label, karet gelang dan bahan-bahan lain  yang mendukung penelitian ini.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laminar air flow cabinet, autoclave, timbangan analitik, erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, petridish, jarum injeksi, pipet, pengaduk kaca, pinset, scapel, lampu spritus, hand sprayer, pisau, pH meter, botol kultur, kompor gas, lemari penyimpan bahan kimia, tabung reaksi, labu ukur, gunting, rak kultur, kulkas, ember plastik, alat tulis dan perlengkapan pencucian.

Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah pemberian IAA (Faktor A) yang terdiri dari 4 taraf dan faktor kedua adalah pemberian BAP (Faktor B) yang terdiri dari 4 taraf.
Faktor pertama (A) adalah IAA yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu :
A0     : Tanpa pemberian IAA
A1     : Pemberian IAA 2 ppm
A2     : Pemberian IAA 4 ppm
A3     : Pemberian IAA 6 ppm
Faktor kedua (B) adalah BAP terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu :
B0     : Tanpa Pemberian BAP
B1     : Pemberian BAP 2 ppm
B2     : Pemberian BAP 4 ppm
B3     : Pemberian BAP 6 ppm
Data hasil pengamatan dari masing-masing perlakuan dianalisis secara statistik dengan menggunakan analisa sidik ragam (ANSIRA). Jika F hitung yang diperoleh lebih besar dari F tabel, maka dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Umur Muncul Tunas (Hari)
Data hasil pengamatan terhadap parameter umur muncul tunas eksplan buah naga, setelah dilakukan analisis sidik ragam. Menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas eksplan buah naga, begitu juga dengan perlakuan secara interaksi. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel dibawah ini.



Tabel 1. Rerata umur muncul tunas eksplan buah naga dengan pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP (Hari).
FAKTOR A
FAKTOR B
RERATA A
B0
B1
B2
B3
A0
33.67 fg
28.44 de
23.56 ab
24.55 abc
27.56 ab
A1
35.22 g
27.11 cd
21.89 a
23.89 abc
27.03 a
A2
34.67 g
31.11 ef
23.44 ab
24.00 abc
28.31 b
A3
38.33 h
33.11 f
26.56 bcd
25.67 bcd
30.92 c
RERATA B
35.47 c
29.94 b
23.86 a
24.53 a
28.45
KK = 4.03 %
BNJ A = 1.25
BNJ B = 1.25
BNJ AB = 3.42
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf  kecil yang sama tidak  berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.



Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa perlakuan IAA secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas eksplan buah naga dimana perlakuan umur muncul tunas tercepat terdapat pada perlakuan A1 (pemberian IAA 2 ppm) yaitu 27,03 hari, Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A0 (Tanpa pemberian IAA) dengan umur muncul tunas 27,56 hari. Namun berbeda nyata dengan perlakuan A2 (pemberian IAA 4 ppm) dengan umur muncul tunas 28,31 hari dan perlakuan A3 (Pemberian IAA 6 ppm) dengan umur muncul tunas 30,92 hari.
Pemberian konsentrasi IAA 2 ppm menghasilkan umur muncul tunas eksplan buah naga yang tercepat yaitu 27,03 hari,  ini merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan eksplan buah naga dalam memunculkan tunas. IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat dapat mempercepat umur muncul tunas pada eksplan buah naga, karena IAA ini merupakan zat pengatur tumbuh golongan auksin yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru. IAA juga berfungsi untuk merangsang daya kerja akar sehingga dapat memenuhi kebutuhan makanan untuk pertumbuhan tunas (George & Sherington, 1983).
Pada perlakuan kontrol A0 eksplan masih dapat memunculkan tunas bahkan lebih cepat dari perlakuan A2 dan A3, hal ini sesuai dengan pernyataan Rozen dan Nelwida (2002) bahwa kandungan auksin dalam eksplan yang dikulturkan (auksin endogen) masih cukup untuk mendukung pertumbuhan eksplan tersebut, sehingga eksplan yang dikulturkan masih dapat memunculkan tunas tanpa penambahan auksin dari luar (auksin eksogen).
Pada pemberian IAA 4 dan 6 ppm menghasilkan umur muncul tunas yang lama, lambatnya muncul tunas pada eksplan ini disebabkan konsentrasi IAA yang diberikan terlalu tinggi. IAA merupakan zat pengatur tumbuh golongan auksin yang jika diberikan dengan konsentrasi yang tepat akan menunjukkan respon yang positif terhadap pertumbuhan eksplan buah naga terutama dalam umur muncul tunas, tetapi sebaliknya pemberian konsentrasi auksin yang terlalu tinggi menyebabkan lambatnya muncul tunas pada eksplan. Hal ini disebabkan karena konsentrasi auksin yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan tunas adventif dan kalus tidak dapat terdiferensiasi menjadi tunas (George & Sherington, 1983).
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan BAP secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas eksplan buah naga dimana perlakuan umur muncul tunas tercepat terdapat pada perlakuan B2 (pemberian BAP 4 ppm) yaitu 23,86 hari, hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan B2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan B3 (pemberian BAP 6 ppm) dengan umur muncul tunas 24,53 hari. Namun berbeda nyata dengan perlakuan B1 (pemberian BAP 2 ppm) dengan umur muncul tunas 29,94 hari, dan perlakuan B0 (tanpa pemberian BAP ) dengan umur muncul tunas 35,47 hari.
Pemberian BAP konsentrasi 2 ppm menghasilkan umur muncul tunas eksplan buah naga tercepat yaitu 23,86 hari. Ini merupakan konsentrasi BAP yang optimum untuk pertumbuhan eksplan buah naga dalam memunculkan tunas, karena BAP ini merupakan zat pengatur tumbuh golongan sitokinin yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Simatupang (1996) bahwa adanya sitokinin dalam kultur in-vitro mempunyai peran sebagai perangsang tunas. Sesuai dengan pendapat Wetherell (1982) menyatakan bahwa sitokinin mempunyai peran yang penting untuk propagasi secara in-vitro, yaitu mendorong pembelahan sel dalam jaringan yang dibuat eksplan dan mendorong pertumbuhan tunas.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas eksplan buah naga dimana hasil terbaik terdapat pada kombinasi perlakuan A1B2 umur muncul tunas 21,89 hari, hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan kombinasi perlakuan A1B2 tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan A2B2, A0B2, A1B3, A2B3, A0B3. Namun berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan A3B3, A3B2, A1B1, A0B1, A2B1, A3B1, A0B0, A2B0, A1B0, dan A3B0. Umur muncul tunas terlama terdapat pada kombinasi perlakuan A3B0 umur muncul tunas 38,33 hari.
Pemberian IAA 2 ppm dan pemberian BAP 4 ppm menghasilkan umur muncul tunas tercepat eksplan buah naga dibandingkan dengan perlakuan lainnya, ini merupakan konsentrasi yang tepat pemberian secara interaksi IAA dan BAP untuk pertumbuhan eksplan buah naga dalam memunculkan tunas. Hal ini terjadi karena pada konsentrasi yang tepat pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP memberikan efek yang positif terhadap pertumbuhan eksplan buah naga. Penggunaan media dengan komposisi auksin-sitokinin demikian diduga bahwa pada konsentrasi tersebut telah terjadi perimbangan antara sitokinin dan auksin sehingga terjadi pembelahan sel yang menstimulasi pembentukan tunas (George & Sherington, 1983).
Pemberian IAA 6 ppm dan tanpa pemberian BAP menghasilkan umur muncul tunas terlama yaitu 38,33 hari. Hal ini tejadi disebabkan Pengaruh interaksi perlakuan IAA dan BAP dengan konsentrasi IAA yang tinggi tanpa pemberian BAP , dimana dengan peningkatan konsentrasi IAA tanpa diimbangi dengan pemberian BAP akan memperlama kemunculan tunas. Bahkan dari hasil penelitian menunjukkan perlakuan penambahan IAA dengan konsentrasi rendah justru memunculkan tunas paling cepat.

Persentase Tumbuh Tunas (%)
Data hasil pengamatan terhadap parameter persentase tumbuh tunas eksplan buah naga, setelah dilakukan analisis sidik ragam. Menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tunas eksplan buah naga. Namun perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai konsentrasi IAA dan BAP tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tunas eksplan buah naga. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel dibawah ini.




Tabel 2. Rerata persentase tumbuh tunas eksplan buah naga dengan pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP (%).
FAKTOR A
FAKTOR B
RERATA A
B0
B1
B2
B3
A0
83.33
91.67
100.00
83.33
89.58 bc
A1
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00 a
A2
91.67
100.00
100.00
100.00
97.92 ab
A3
75.00
83.33
100.00
91.67
87.50 c
RERATA B
87.50 b
93.75 ab
100.00 a
93.75 ab
93.75
KK = 9.43 %
BNJ A = 9.67
BNJ B = 9.67
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf  kecil yang sama tidak  berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.



Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa perlakuan IAA secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tunas eksplan buah naga dimana perlakuan persentase tumbuh tunas terbaik terdapat pada perlakuan A1 (pemberian IAA 2 ppm) yaitu 100,00 %. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A2 (pemberian IAA 4 ppm) dengan persentase tumbuh tunas 97,92 %. Namun berbeda nyata dengan perlakuan A0 (Tanpa pemberian IAA) dengan persentase tumbuh tunas 89,58 % dan perlakuan A3 (Pemberian IAA 6 ppm ) dengan persentase tumbuh tunas 87,50 %.
Pemberian IAA 2 ppm menghasilkan persentase tumbuh tunas  terbaik yaitu 100,00 %, ini merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan eksplan buah naga dalam pembentukan tunas dimana keseluruhan  eksplan yang ditanam pada media dengan pemberian konsentrasi ini dapat menghasilan tunas. Hal ini terjadi karena zat pengatur tumbuh IAA ini sangat diperlukan dalam multiplikasi tunas yang jika diberikan pada konsentrasi yang tepat dapat menaktifkan enzim-enzim yang berperan dalam pembuatan komponen sel sehingga begitu mulai terjadinya pembelahan sel maka IAA akan merangsang pembentukan sel-sel dengan cepat, karena salah satu fungsi IAA yaitu  merangsang pembesaran dan perbanyakan sel (Wattimena, 1991).
Eksplan yang dikulturkan pada media kontrol tanpa penambahan zat pengatur tumbuh IAA masih dapat menumbuhkan tunas bahkan persentasenya lebih tinggi dari pemberian IAA 6 ppm. Hal ini terjadi karena eksplan tanaman kultur jaringan sebenarnya telah mampu menginduksi pembentukan tunas baru walaupun tanpa penambahan ZPT eksogen (BAP). Hal ini disebabkan kandungan sitokinin endogen yang ada dalam eksplan buah naga masih tersedia. Namun kandungan ZPT endogen ini belum mencukupi kebutuhan eksplan sehingga harus diberikan ZPT dari luar (eksogen) untuk mengaktifkan pemanfaatan ZPT oleh eksplan buah naga ini. Dengan diberikannya zat pengatur tumbuh BAP dapat mempengaruhi persentase tumbuh tunas eksplan buah naga (Rozen dan Nelwida, 2002).
Pemberian IAA konsentrasi 6 ppm menghasilkan persentase tumbuh tunas terendah yaitu 87,50 %, diduga konsentrasi ini terlalu tinggi dan kurang cocok untuk pertumbuhan tunas eksplan buah naga sehingga tidak semua eksplan yang ditanam dapat memunculkan tunas. Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (1995) yang mengemukakan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dengan mengikuti konsentrasi anjuran.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan BAP secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tunas eksplan buah naga dimana perlakuan persentase tumbuh tunas terbaik terdapat pada perlakuan B2 (pemberian BAP 4 ppm) yaitu 100 %, hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan B2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan B3 (pemberian BAP 6 ppm) dan B1 (pemberian BAP 2 ppm) dengan persentase tumbuh tunas 93,75%. Namun berbeda nyata dengan perlakuan B0 (tanpa pemberian BAP ) dengan persentase tumbuh tunas 87,50 %.
Pemberian BAP 4 ppm menghasilkan persentase tumbuh tunas eksplan buah naga tertinggi yaitu yaitu 100 %, ini merupakan konsentrasi optimum untuk pertumbuhan tunas eksplan buah naga dimana semua eksplan yang ditanam pada media dengan penambahan konsentrasi ini dapat memunculkan tunas. Hal ini terjadi dikarenakan BAP merupakan sitokinin turunan adenin yang paling aktif dalam proses pembelahan sel dan memacu pertumbuhan tunas (Zulkarnain, 2009). Hasil ini sesuai dengan pendapat Wattimena (1991) bahwa sitokinin jika diberikan dalam konsentrasi yang tepat dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman, khususnya menginduksi tunas adventif..
Pemberian konsentrasi BAP 2 ppm dan 6 ppm menghasikan persentase tumbuh tunas yang lebih rendah dibandingkan pemberian BAP 4 ppm. Hal ini terjadi diduga karena konsentrasi 2 ppm ini terlalu rendah dan 6 ppm terlalu tinggi dan  kurang cocok untuk pertumbuhan tunas eksplan buah naga sehingga tidak semua eksplan yang ditanam pada media dengan perlakuan tersebut dapat menumbuhkan tunas.
Eksplan yang ditanam pada media dengan perlakuan kontrol tanpa pemberian BAP menghasilkan persentase tumbuh tunas terendah yaitu 87,50 %. Hal ini terjadi karena eksplan pada perlakuan kontrol ini hanya tumbuh alami tanpa penambahan zat pengatur tumbuh dari luar (eksogen), sehingga pertumbuhannya belum optimal. Zat pengatur tumbuh endogen yang ada pada eksplan belum mencukupi untuk pertumbuhan tunas pada eksplan tersebut dan masih membutuhkan tambahan zat pengatur tumbuh dari luar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gunawan (1992) bahwa interaksi antara zat pengatur tumbuh eksogen dan endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur. Pembentukan dan multiplikasi tunas pada media perlakuan lebih baik dibandingkan media tanpa perlakuan (Widiastoety, Kusumo, dan Syafni, 1997).

Tinggi Tunas (cm)
Data hasil pengamatan terhadap parameter tinggi tunas eksplan buah naga, setelah dilakukan analisis sidik ragam. Menunjukkan bahwa pemberian berbagai konsentrasi IAA secara tunggal memberikan berpengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan buah naga, begitu juga perlakuan secara interaksi pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP memberikan berpengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan buah naga. Namun, pemberian berbagai konsentrasi BAP secara tunggal tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tunas eksplan buah naga. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel dibawah ini.



Tabel 3. Rerata tinggi tunas eksplan buah naga dengan pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP (cm).
FAKTOR A
FAKTOR B
RERATA A
B0
B1
B2
B3
A0
1.25 bcd
1.17 cd
1.20 bcd
1.23 bcd
1.21 c
A1
1.38 ab
1.47 a
1.38 ab
1.37 ab
1.40 a
A2
1.28 bcd
1.35 abc
1.23 bcd
1.25 bcd
1.28 b
A3
1.20 cd
1.12 d
1.20 cd
1.12 d
1.16 c
RERATA B
1.28
1.28
1.25
1.24
1.26
KK = 4.24  %
BNJ A = 0.06
BNJ AB = 0.16
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf  kecil yang sama tidak  berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.



Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan IAA secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan buah naga dimana perlakuan tinggi tunas terbaik terdapat pada perlakuan A1 (pemberian IAA 2 ppm) yaitu 1,40 cm, hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A1 berbeda nyata dengan semua perlakuan yaitu  perlakuan A2 (pemberian IAA 4 ppm) dengan tinggi tunas 1,28 cm, perlakuan A0 (tanpa pemberian IAA) dengan tinggi tunas 1,21 cm, dan perlakuan A3 (pemberian IAA 6 ppm) dengan tinggi tunas 1,16 cm.
Pemberian IAA 2 ppm menghasilkan tinggi tunas tertinggi yaitu 1,40 cm, ini merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan tinggi tunas eksplan buah naga. IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat berperan dalam mempengaruhi perkembangan dan pembesaran sel, sehingga tekanan dinding sel terhadap protoplasma berkurang, hal ini mengakibatkan protoplast dapat mengabsorbsi air di sekitar sel, sehingga sel menjadi panjang terutama sel-sel di bagian maristem dan tanaman akan bertambah tinggi (Hidayat, 2007).
Pemberian IAA 6 ppm menghasilkan tinggi tunas terendah yaitu 1,16 cm. hal ini terjadi karena konsentrasi ini terlalu tinggi dan kurang cocok untuk pertumbuhan tinggi tunas eksplan buah naga. IAA jika diberikan pada konsentrasi yang terlalu tinggi dapat manghambat pertumbuhan dari eksplan yang dikulturkan. Hal ini terjadi karena IAA ini merupakan zat pengatur tumbuh golongan auksin yang jika diberikan pada media kultur jaringan dapat berperan mendukung pertumbuhan, menghambat dan merubah proses fisiologi tumbuhan, tergantung konsentrasi yang diberikan. (Hendaryono & Wijayani, 1994).
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan BAP secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan buah naga. Hal ini diduga pada perlakuan pemberian BAP eksplan yang ditanam menghasilkan sitokinin endogen dan ditambah lagi dengan sitokinin eksogen yaitu pemberian BAP sehingga menyebabkan terhambatnya proses pemanjangan sel dan eksplan yang ditanam tidak bertambah tinggi, pada perlakuan dengan BAP ini, aktivitas dari auksin endogen terhambat karena adanya sitokinin eksogen (dalam hal ini BAP). Menurut Klerk (2006) zat pengatur tumbuh sitokinin dapat menghambat terjadinya pemanjangan sel sehingga eksplan yang ditanam tidak bertambah tinggi. Tingginya konsentrasi BAP menghambat pemanjangan tunas, karena dengan BAP yang tinggi akan meningkatkan jumlah tunas sehingga pengaruh pemanjangan tunas dihambat oleh pembentukan tunas baru.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan buah naga dimana kombinasi terbaik terdapat pada kombinasi perlakuan A1B1 tinggi tunas 1,47 cm, hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A1B1 tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan A1B2, A1B0 , A1B3, A2B1. Namun berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan A2B0, A2B3, A0B0, A2B2, A0B3, A0B2, A3B0, A3B2, A0B1, A3B1, A3B3. Tinggi tunas terendah terdapat pada kombinasi perlakuan A3B1 dan A3B3 tinggi tunas 1,12 cm.
Pemberian konsentrasi IAA 2 ppm dan pemberian BAP 2 ppm menghasilkan tinggi tunas terbaik yaitu 1,47 cm, ini merupakan konsentrasi IAA dan BAP secara interaksi yang tepat untuk pertumbuhan tinggi tunas eksplan buah naga. Jika diberikan pada konsentrasi yang tepat pemberian secara interaksi IAA dan BAP dapat memberikan efek yang positif terhadap pertumbuhan tinggi tunas  eksplan buah naga. Hal ini terjadi karena auksin akan menstimulasi pembesaran dan pemanjangan sel setelah terjadi pembelahan sel yang distimulir oleh sitokinin.
Perlakuan A3B1 dan A3B3 menghasilkan tinggi tunas terendah yaitu tinggi tunas 1,12 cm. Hal ini terjadi karena konsentrasi IAA yang digunakan terlalu tinggi sehingga menghambat pertumbuhan tinggi tunas pada eksplan yang dikulturkan. Begitu juga dengan pemberian BAP pada A3B3, diduga konsentrasi ini terlalu tinggi untuk pertumbuhan eksplan buah naga. Semakin tinggi konsentrasi sitokinin yang digunakan maka aktivitas pemanjangan tunas akan terhambat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dustan dan Shart (1977) bahwa sitokinin disamping merangsang pembelahan sel, juga dapat menghambat pertumbuhan memanjang batang.

Berat Basah Akar (mg)
Data hasil pengamatan terhadap parameter berat basah akar eksplan buah naga, setelah dilakukan analisis sidik ragam. Menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal pemberian berbagai konsentrasi IAA berpengaruh nyata terhadap berat basah akar eksplan buah naga, begitu juga dengan perlakuan secara interaksi pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP berpengaruh nyata terhadap berat basah akar eksplan buah naga. Namun, pemberian berbagai konsentrasi BAP secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tunas eksplan buah naga. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel dibawah ini.



Tabel 4. Rerata berat basah akar eksplan buah naga dengan pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP (mg).
FAKTOR A
FAKTOR B
RERATA A
B0
B1
B2
B3
A0
13.0 d
12.3 d
13.2 d
12.8 d
12.8 c
A1
18.1 bc
22.1 a
20.5 ab
19.6 abc
20.1 a
A2
17.4 bc
17.4 bc
17.1 c
16.9 c
17.2 b
A3
5.9 e
6.4 e
7.8 e
8.7 e
7.2 d
RERATA B
13.6
14.5
14.6
14.5
14.3
KK = 7.44%
BNJ A = 1.2
BNJ AB = 3.2
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf  kecil yang sama tidak  berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ)  pada taraf 5%.



Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan IAA secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat basah akar eksplan buah naga dimana perlakuan berat basah akar terbaik terdapat pada perlakuan A1 (pemberian IAA 2 ppm) yaitu 20,1 mg, hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A1 berbeda nyata dengan semua perlakuan yaitu  perlakuan A2 (pemberian IAA 4 ppm) dengan berat basah akar 17,2 mg, perlakuan A0 (tanpa pemberian IAA) dengan berat basah akar 12,8 mg, dan perlakuan A3 (pemberian IAA 6 ppm) dengan berat basah akar 7,2 mg.
Pemberian IAA 2 ppm telah mampu menghasilkan berat basah akar terbaik yaitu 20,1 mg, ini merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan akar eksplan buah naga. Hal ini terjadi karena IAA jika diberikan pada konsentrasi yang tepat dapat memacu pembelahan sel, pemanjangan sel dan berperan dalam pengakaran. Menurut Gunawan (1992), IAA merupakan jenis auksin yang sering digunakan dalam media pengakaran. George dan Sherington (1983) menyatakan bahwa auksin berpengaruh luas terhadap pertumbuhan merangsang dan mempercepat pertumbuhan akar serta meningkatkan kulitas dan kuantitas akar.
Pemberian IAA 6 ppm menghasilkan berat basah akar yang rendah, ini terjadi diduga karena konsentrasi ini terlalu tinggi dan kurang cocok untuk pertumbuhan eksplan buah naga terutama dalam pembentukan akar. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Sutter (1996), menyatakan bahwa akar akan terbentuk pada konsentrasi auksin yang rendah dan pada konsentrasi auksin tinggi pembentukan akar akan terhambat. Menurut Wethrell (1982) auksin dalam konsentrasi yang lebih tinggi cenderung menyebabkan terjadinya pertumbuhan kalus dari eskplan sehingga menghambat pertumbuhan akar.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa secara interaksi pemberian perlakuan IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat basah akar eksplan buah naga dimana kombinasi terbaik terdapat pada kombinasi  perlakuan A1B1 berat basah akar 22,1 mg, hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A1B1 tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan A1B2, dan A1B3. Namun berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan A1B0, A2B0 dan A2B1, A2B2 , A2B3, A0B2, A0B0, A0B3, A0B1, A3B3, A3B2, A3B1  dan A3B0. Berat basah akar terendah terdapat pada kombinasi perlakuan A3B0 berat basah akar 5,9 mg.
Pemberian perlakuan secara interaksi IAA 2 ppm dan BAP 2 ppm menghasilkan berat basah akar terbaik yaitu 22,1 mg, ini merupakan konsentrasi interaksi IAA dan BAP yang tepat untuk pertumbuhan eksplan buah naga terutama dalam pembentukan akar. Auksin dan sitokinin merupakan dua jenis zat pengatur tumbuh tanaman yang seringkali digunakan untuk menginduksi morfogenetik tanaman (Zulkarnaen, 2009). IAA  merupakan jenis auksin yang seringkali digunakan bersamaan dengan sitokinin (BAP) untuk menginduksi akar tanaman.
Pemberian perlakuan IAA 6 ppm dan tanpa pemberian BAP menghasilkan berat basah akar terendah yaitu 5,9  mg. Pemberian perlakuan pada konsentrasi ini kurang cocok untuk pertumbuhan eksplan buah naga dalam pembentukan akar. Hal ini terjadi karena pada perlakuan ini konsentrasi IAA yang digunakan terlalu tinggi yaitu 6 ppm tanpa ada penambahan BAP, sehingga tidak ada interaksi dan keseimbangan dari kedua zat pengatur tumbuh ini. Menurut Gunawan (1992), interaksi dan perimbangan zat pengatur tumbuh yang ditambahkan dalam media dan yang diproduksi oleh sel tanaman secara endogen menentukan kecepatan dan arah perkembangan suatu kultur.

KESIMPULAN

Perlakuan pemberian berbagai konsentrasi IAA secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter  pengamatan dengan perlakuan terbaik A1 (pemberian IAA 2 ppm) yaitu umur muncul tunas 27,03 hari, persentase tumbuh tunas 100%, tinggi tunas 1,40 cm, dan berat basah akar 20,1 mg. Perlakuan pemberian berbagai konsentrasi BAP secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan umur muncul tunas dan persentase tumbuh tunas dengan perlakuan terbaik B2 (pemberian BAP 4 ppm) yaitu umur muncul tunas 23,86 hari dan persentase tumbuh tunas 100 %. Perlakuan secara interaksi pemberian berbagai konsentrasi IAA dan BAP memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan umur muncul tunas dengan perlakuan terbaik pada kombinasi perlakuan A1B2 (pemberian IAA 2 ppm dan pemberian BAP 4 ppm) yaitu umur muncul tunas 21,89 hari, dan berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tunas dan berat basah akar dengan perlakuan terbaik A1B1 (pemberian IAA 4 ppm dan pemberian BAP 2 ppm) yaitu tinggi tunas 1,47 cm dan berat basah akar 22,1 mg.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin. 1995. Zat Pengatur Tumbuh. Angkasa. Bandung
Basri, Z. 2004. Kultur Jaringan Tanaman. Universitas Tadulako Press. Palu.
Dustan. D. I and Short. K. C. 1977. Improved Growth by Tissue Culture of the onion, Allium Cepa. Physiol. Plant. 41: 70-72.
George, E. F and P. D Sherington, 1983. Handbook of Plant Propagation by Tissue Culture. Easterm Press Ltd. England.
Gunawan, L. W. 1992. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Depdikbud. Dirjen Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Boiteknologi. IPB. Bogor.
Hardjadinata, S. 2010. Budidaya Buah Naga Super Red Secara Organik. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hendaryono, D. P. S. dan A. Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan, Pengenalan dan petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Modern. Kanisius. Jogjakarta.
Hidayat. 2007. Induksi Pertumbuhan Eksplan Endosperm Ulin dengan IAA dan Kinetin. Agritop. 26 (4): 147-152.
Klerk GJ de. 2006. Plant Hormones In Tissue Culture. In Duchefa Biochemie. Biochemicals Plant Cell And Tissue Culture Phytopathology. Duchefa Biochemie BV, Haarlem. Netherlands
Kristanto, D. 2008. Buah Naga Pembudidayaan Dipot dan Dikebun. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pierik, R. L. M. 1997. In Vitro Culture Of Hingher Plants. The Netherlands: Kluwer Academic Publishers, Dordrecht.
Rozen dan Nelwida. 2002. Inisiasi kalus eksplan melinjo (Gnetum gnemon L) Pada berbagai konsentrasi arang aktif , BAP,  dan NAA secara in-vitro. Stigma 10(1) : 26-30.
Salisbury. F. B. dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Terjemahan oleh Lukman dan Sumariyono. ITB Bandung.
Samudin, S. 2009. Pengaruh Kombinasi Auksin-Sitokinin Terhadap Pertumbuhan Buah Naga. Media Litbang Sulteng 2 (1) : 62 – 66. Diakses tanggal 02 September 2012.
Simatupang. S, 1996. Pengaruh penambahan sitokinin dan asam naftalen asetat pada media murashige dan skoog terhadap perkembangan eksplan asparagus. Jurnal Hortikultura. 6(2). 105-108.
Smith, R. H. 1992. Plant Tissue Culture : Technique and Experiments. New York. Academic Press Inc.
Sutter E.G., 1996. General Laboratory Recquiremets, Media and Sterelization Metods. In: Plant Tissue Culture Consept. Laboratory Exercixes. CRC. Press Inc., New York.
Wattimena, 1991. Bioteknologi Tanaman. Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat antar Universitas Bioteknologi. Institute Pertanian Bogor.
Wetherell, D. F. 1982. Pengantar Propagasi Tanaman Secara In Vitro. IKIP Semarang Press. Semarang.
Widiastoety. D. S, Kusumo, dan Syafni. 1997. Pengaruh Tingkat Ketuaan Air Kelapa Dan Jenis Kelapa Terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek Dendrobium. Jurnal Hortikultura 7 (3): 768-772.
Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. PT Bumi Aksara. Jakarta.