Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 EDISI MEI 2014 ISSN 2252-861X

KAJIAN PEMASARAN DAN PENDAPATAN USAHA TANAMAN SAWI
(STUDI KASUS PETANI SAWI KELURAHAN TANAH ENAM RATUS, KECAMATAN MEDAN MARELAN, KOTA MEDAN, PROPINSI SUMATERA UTARA)

Mahrani
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Medan


ABSTRACT

This study purpose to determine the marketing channels of collards yield. To analyze this level of marketing efficiency on various marketing channels of collards in research, a result of analysis of marketing margin indicates, the total margin for the first channel was Rp. 822,5/kg and the total margin for the second channel was Rp. 420,95/Kg. According to the analysis of marketing efficiency with cost efficiency analysis approach, to collard marketing agencies in the research area already efficient. This is because the average cost is still relatively small compared with the difference in price obtained by each of the marketing agency of collard. While the analysis of revenue, indicates that second channel bigger than the first channel, this is because producer in the first channel paid the marketing cost, and not for the second channel.

Keywords : marketing, revenue, collards


PENDAHULUAN

            Pembangunan holtikultura di masa mendatang diarahkan untuk menumbuh kembangkan sistem agribisnis dan agroindustri. Salah satu komoditas hortikultura dari  kelompok sayur-sayuran yang mempunyai prospek baik dan nilai ekonomi tinggi  adalah sawi (Rukmana, 1994).
            Tata niaga merupakan salah satu aspek pemasaran yang menekankan bagaimana suatu produksi dapat sampai ke tangan konsumen (distribusi). Tata niaga dapat dikatakan efisien apabila mampu menyampaikan hasil produksi kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan mampu mengadakan pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen kepada semua pihak yang ikut serta didalam kegiatan produksi dan pemasaran. Dewasa ini pemasaran harus dipahami tidak dalam arti lama yaitu penjualan “bercerita dan menjual” tetapi dalam arti baru yaitu memuaskan kebutuhan pelanggan dengan baik dalam mengembangkan produk yang memberikan nilai superior, menetapkan harga, mendistribusikan serta mempromosikan secara efektif. Dalam arti sebenarnya pemasaran adalah suatu proses sosial managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan serta inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain (Koetler, 1996).
            Sayuran merupakan makanan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Komoditi ini sangat penting karena banyak mengandung berbagai vitamin. Selain itu, sayuran berfungsi sebagai sumber karbohidrat, protein dan mineral. Kandungan serat kasar juga berguna dalam mencegah penyakit kanker pada saluran pencernaan. Sayuran didefinisikan sebagai tanaman atau bagian yang dapat dinamakan atau dilalap sebagi makanan utama, lengkap atau sekedar pembangkit selera makan. Aneka sayuran dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu sayuran komersial dan sayuran non komersial. Sayuran komersial berarti sayuran tersebut mempunyai banyak peminat meskipun harga relative murah atau sayuran tersebut diminati oleh kalangan tertentu dengan harga yang tinggi (Rahardi, 2001).
            Jalur pemasaran hasil pertanian adalah saluran yang digunakan petani produsen untuk mengalirkan hasil-hasil pertanian dari produsen ke konsumen. Lembaga-lembaga yang ikut aktif dalam saluran ini adalah petani/produsen, pedagang pengumpul, pedagang besar, pengecer dan konsumen. Pada umumnya jalur tata niaga ada dua macam yaitu (i) Jalur yang langsung sederhana, disini berhadapan dengan konsumen. Harga yang dibayar konsumen sama besarnya yang diterima produsen. Dengan demikian, dari segi harga, produsen mendapatkan harga yang wajar. Dilain pihak konsumen mendapatkan keuntungan karena mendapatkan keuntungan karena mendapatkan produk yang lebih segar (ii) Jalur tataniaga dengan perantara, jalur tataniaga ini melibatkan pedagang perantara sehingga produsen tidak dapat langsung berhubungan dengan konsumen. Yang dimaksud dengan pedagang perantara yaitu pedagang yang memiliki dan menguasai barang serta menyalurkan dengan tujuan mendapatkan keuntungan (Rahardi, dkk. 1997).
            Petani sayur sawi yang berlokasi di Kelurahan Tanah Enam Ratus dalam memasarkan produknya juga memanfaatkan saluran pemasaran. Terdapat bebarapa saluran pemasaran yang mereka gunakan yaitu (i) Petani menjual hasil taninya ke pedagang pengecer yang kemudian dijual langsung ke konsumen (ii) Petani menjual hasil taninya dengan melalui ke pedagang pengecer yang kemudian dijual langsung ke konsumen (iii) Petani menjual hasil taninya dengan melalui pedagang pengumpul yang datang ke tempat mereka dan membeli sayur mereka. Kemudian, pedagang pengumpul menjual sayur tersebut ke pengecer yang akan menjualnya langsung ke konsumen. Dan tidak semua pula petani produsen memiliki harga jual pokok yang sama kepada para pedagang pengumpul, pedagang pengecer atau konsumen.
            Pentingnya peranan lembaga tataniaga dalam tiap saluran tataniaga, menyebabkan petani produsen harus mempunyai pertimbangan yang cermat dalam memilih saluaran pemasaran yang efisien. Permasalahan yang dapat timbul dari adanya penggunaan sistem mata rantai pemasaran tidak sama menjalankan lembaga sesuai dengan fungsinya. Hal ini menyebabkan sistem pemasaran sayuran didaerah ini menjadi tidak efisien (Soekartawi, 2002).

BAHAN DAN METODE

Metode Penentuan Daerah Penelitian
            Penelitian dilakukan di Kelurahan Tanah Enam Ratus, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Penentuan daerah sebagai lokasi penelitian ditetapkan secara purposive dengan alasan Kelurahan ini adalah termasuk daerah yang sebagian besar penduduknya bertani tanaman sawi.

Metode Penelitian
            Metode penelitian studi kasus adalah penelitian tentang status objek penelitian yang berkenan dengan fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Peneliti menggunakan metode studi kasus karena peduli dibatasi oleh biaya, waktu dan tenaga yang tersedia.

Metode Penarikan Sampel
            Pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah petani yang mengusahakan tanaman sawi. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara Stratified Random Sampling. Sampel dalam penelitian ini haruss distratakan terlebih dahulu berdasarkan atas mata rantai agar tidak overlapping.
            Jumlah sampel yang diambil 45 orang dari jumlah petani 85 orang yang mengusahakan tanaman sawi. Pedagang pengumpul yang digunakan sebagai sampel adalah sebanyak 3 orang dari 5 orang. Pedagang pengecer berjumlah 15 orang dengan sampel 8 orang sehingga jumlah sampel keseluruhan sebanyak 56 orang. Untuk menetapkan sampel masing-masing strata dengan menggunakan rumus :
           
            Nh
nh =              n
            N

Keterangan :
nh         : Jumlah sampel pada strata ke – h
Nh        : jumlah satuan pada strata ke-h
N          : jumlah satuan elementer
n      : jumlah seluruh sampel yang akan diambil (Daniel, 2002).

Besarnya populasi dapat dilihat pada tabel I dibawah ini :


Tabel 1. Distribusi jumlah sampel menurut mata rantai pemasaran di kelurahan tanah enam ratus, 2008.
NO

Strata mata rantai
Populasi (orang)
Sampel (orang)
1.
Produsen
85
45
2.
Pedagang pengumpul
5
3
3.
Pengecer
15
8

Jumlah
105
56
Sumber data : data dari kelompok tani


Metode Analisis Data
            Saluran tataniaga dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Yaitu mengumpulkan, mengklasifikasikan dan menginterprestasikan data, sehingga memberikan suatu gambaran mengenai masalah yang diteliti.
            Dimana proses atau tahapan penentuan saluran tataniaga ini yaitu penelusuran pemasaran dari saluran pemasaran I yang terdiri dari petani langsung menjual hasil usaha taninya melalui pedagang pengumpul, kemudian pedagang pengumpul menjual langsung kepada konsumen dan ada juga melalui pedagang pengecer.
            Untuk menganalisa besarnya margin pemasaran, maka digunakan rumus sebagai berikut :

Mji = Psi – Pbi
Keterangan :
Mji        = Marjin Pemasaran pada Lembaga Pemasaran ke-i
Psi       = Harga Penjualan pada Lembaga Pemasaran ke-i
Pbi       = Haraga Pembelian pada Lembaga Pemasaran ke-i
i           = 1,2,3,....,n (soekartawi, 2002)
           
Untuk menentukan tingkat efisiensi pemasaran di daerah penelitian menggunakan teori soekartawi, 1993. Adapun rumus yang digunakan adalah presentase total biaya pemasaran dibagi dengan nilai produk yang dipasarkan.
            Secara umum matematis dapat ditulis sebagai berikut :
                                     
                                                                               
                                     Total biaya pemasaran
Efisiensi pemasaran
           (EP)  =  Total nilai produk  yang dipasarkan
Keterangan :
            Ep        = Efisiensi Pemasaran
            TB        = Total Biaya Pemasaran
            TNP      = Total Nilai Produk (Soekartawi, 1993)  
            Adapun kriteria koefisienan menurut soekartawi (1993) adalah dimana biaya pemasaran merupakan suatu produk sedangkan nilai produk yang dipasrkan sama dengan tital produk yan dipasrkan.
            Untuk melihat bagaimana pendapatan petani pada setiap saluran tataniaga, menurut Soekartawi (2002) dapat digunakan rumus :
            Pd = TR – TC
Dimana : Pd = Pendapatan Usaha
                TR = Total Penerimaan
                TC = Total Biaya
                Penerimaan adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual, menurut Soekartawi (2002) dapat menggunakan rumus :

TR = Y . Py

Dimana :   TR = Total Penerimaan
                Y = Produksi yang di peroleh dalam   suatu usaha
         Py = Harga Y

HASIL DAN PEMBAHASAN

Saluran Tataniaga Sawi
            Ini menunjukkan bahwa petani lebih tertarik menjual hasil taninya ke pedagang pengumpul didasarkan atas beberapa alas an. Pertama, kekhawatiran pedagang pengumpul didasarkan atas bebarapa alas an. Pertama, kekhawatiaran terhadap keadaan sayur. Petani begitu khawatir jika mereka memasarkan hasil pertaniannya ke pengecer atau konsumen yang ada dipasar tradisional, sebab biasanya pedagang pengecer tidak membeli dalam jumlah yang besar sehingga dikhawatirkan sayuran akan rusak taanpa ada yang membeli. Kedua, petani agak keberatan untuk mengeluarkan biaya dantenaga untuk proses pemasaran sebab meraka sangat membutuhkan kesiapan modal sehingga dapat melakukan budidaya kembali. Jika petani menjaul hasilnya ke pedagang pengumpul, maka petani tidak mengeluarkan biaya apapun, sebab seluruh biaya ditanggung oleh pedagang pengumpul tersebut.
Kondisi diatas menunjukkan bahwa system pemasaran yang terdapat didaerah penelitian dapat dibagi atas 2 saluran atau mata rantai pemasaran yaitu (i) dari petani produsen sawi dijual kepedagang pengecer dan selanjutnya ke konsumen yang pada penelitian ini disebut sebagai saluran pemsaran I. (ii) dari petani sawi dijual kepedagang pengumpul kemudian pedagang pengecer dan selanjutnya kekonsumen yang pada penelitian ini disebut sebagai saluran pemasaran II.

Margin Pemasaran Saluran I.
            Pada saluaran pemasan I, lembaga yang terlibat dalam rantai tataniaga adalah petani, pedagang pengecer dan konsumen. Pada saluran ini petani mengeluarkan biaya pemasaran, karena petani biasanya mengantar sawinya kepada pedagang-pedagang pengecer yang ada dipasar V marelan. Selain itu petani juga mengeluarkan biaya retribusi pasar. Pedagang pengecer juga mengeluarkan biaya pemasaran lain.









Tabel 2. Rincian Biaya Pemasaran Sawi Saluran I Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
N0.
Uraian
Margin pemasaran (Rp/Kg)
Presentase (%)
1.
Petani
a. Biaya Pemasaran
- Transportasi
- Ongkos timbangan
- Bongkar muat
- Retribusi pasar
- Biaya total
b. Profit Margin
c. Harga Jual


5,488
2,00
6,096
0,617
14,201
2.517,92
2,640


0,15
0,05
0,17
0,01
0,41
71,71
76,24
2.
Pedagang Pengecer
a. Haraga Beli
b. Biaya Pemasaran
-Ongkos Angkut
-Sewa tempat
-Sampah
-Keamanan
-Tali plastik
-Tenaga kerja
-Biaya lain-lain
-Biaya total
c. Profit Margin
d. Harga Jual

2,640

152,77
70,37
7,77
8,88
8,47

76,24

4,41
2,03
0,22
0,25
0,24

244,44
89.44
582,14
240,36
3,462,5
7,05
2,58
16,81
6,94
100
3.
Konsumen
a. Harga Jual

3,462,5

100


Dalam usahatani sawi ini, petani mengeluarkan biaya produksi yaitu benih, pupuk, tenaga kerja, penyusunan peralatan, dan sewa lahan. Rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani dalam 1 kali panen ini sebesar Rp. 662.498,66,-. Biaya produksi yang telah dikeluarkan petani ini kemudian dibagi dengan rata-rata jumlah produksi sawi yang dihasilkan oleh petani dalam 1 kali musim panen juga. Dari perhitungan kemudian diperoleh rata-rata biaya produksi yang dikelurkan petani sebesar Rp 107.87,;/kg sehingga keuntungan diperoleh petani sebesar Rp 2.517,92,-/kg.
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa keuntungan yang diperoleh petani jauh lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh pedagang pengecer. Hal ini disebabkan karena pedagang pengecer lebih banyak mengelurkan biaya pemasaran dibandingkan dengan petani. Petani hanya mengeluarkan biaya transportasi dan retribusi pasar saja. Sadangkan pedagang pengecer harus mengeluarkan biaya sewa tempat, pedagang harus mengelurkan biaya sebesar Rp 70,37,-/kg. besarnya biaya sewa tempat ini disebbkan karena daya jual pedagang yang rendah yaitu rata-rata sebanyak 900 kg/bulan.

             

Tabel 3. Rincian Biaya Pemasaran Pada Pedagang Pengecer Di Kelurahan Tanh Enam Ratus, 2008.
No.
Biaya pemasaran
Harga (Rp/Bulan)
Daya jual  (kg/bulan)
Total (kg)
1.
Sewa tempat
63,333,33
900
70,37
2.
Ongkos parker
137.500
900
152,77
3.
Sampah
7.000
900
7,77
4.
Keamanan
8.000
900
8,88
5.
Tali plastic
7.625
900
8,47
6.
Tenaga kerja
220.000
900
244,44
7.
Biaya lain-lain
80.500
900
89,44

Tabel 4. Rincian Biaya Pemasaran Pada Saluran I di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
No.
Uraian
Petani (Rp/kg)
Pedagang pengecer (Rp/kg)
Konsumen (Rp/kg)
1.
Harga beli
-
2.640
3.462,5
2.
Biaya pemasaran
14.201
582,14
-
3.
Profit margin
2.517,92
240,36
-
4.
Harga jual
2.640
3,462,5
-
5.
Margin pemasaran
-
822,5
-
      

           

Dari tabel 4 diatas, dapat dilihat bahwa keuntungan yang diperoleh petani jauh lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh pedagang engecer. Hal ini disebabkan karena pedagang pengecer lebih banyak mengelurkan biaya pemasaran dibandingkan dengan petani. Petani hanya mengeluarkan biaya transportasi dan retribusi pasar saja. Sadangkan pedagang pengecer harus mengeluarkan biaya sewa tempat ini pedagang harus mengelurkan biaya sebesar Rp 70,37,-/kg. besarnya biaya sewa tempat ini disebbkan karena daya jual pedagang yang rendah yaitu rata-rata sebanyak 900 kg/bulan.

.

konsumen
 
Pengecer
 
Petani
 
Berikut ini gambar presentase margin pemasaran antara petani dan pedagang pengecer.
                                      








 

                                                                       
        


 


                                          23,76 %
Gambar 2. Presentase keuntungan pemasan saluran I



Margin Pemasaran Saluran II
            Pada saluran pemasaran II ini lembaga yang terlibat adalah petani, pedagang pengumpul, pedagang pengecer dan konsumen. Kegiatan yang dilakukan petani pada saluran pemasaran II ini tidak sama dengan kegiatan yang dilakukan pada saluran pemasaran I, dalam saluran ini petani tidak mengeluarkan biaya pemasaran.
            Namun pada saluran pemasaran ini pedagang menjual sawinya kepedagang pengecer dengan harga sedikit lebih mahal daripada pengecer membeli langsung kepetani produsen. Padahal biaya pemasaran yang dikelurkan pedagang pengecer sama besarnya jika membeli langsung kepetani.
Hal ini disebakan Karena pada umumnya pedagang pengumpul yang berlangsumg mengambil sendiri sayur sawi dari petani. Karena itulah tidak selamanya petani menjual sendiri hasil panen sawinya kepasar-pasar tradisional di marelan, kebanyakan dari mereka lebih menyukai menjual hasil penennya kepada pedagang pengumpul. Pada tabel 19 dapat dilihat analisis biaya pemasaran II.


Tabel 5. Rincian Biaya Pemasaran Sawi Saluran II Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
No.
Uraian
Margin/pemasaran (Rp/kg)
Presentase (%)
1.
Petani
a. Biaya Pemasaran
b. Harga Jual

-
2,445,71

-
70,63
2.
Pedagang Pengumpul
a. Harga Beli
b. Biaya Pemasaran
- Ongkos angkut
- Sampah
- Keamanan
- Tali plastik
- Biaya lain-lain
- Biaya total
c. Profit Margin
d. Harga Jual

2.445,71

183,33
40
6,4
6,66
76,66
313,15
107,8
2.866,66

70,63
5,29
1,15
0,18
0,19
2,21
9,04
3,11
82,79
3.
Pedagang Pengecer
A. Harga Beli
B.Biaya Pemasaran
- Sewa Tempat
- Ongkos Agkut
- Sampah
- Keamanan
- Tali Plastik
- Tenaga Kerja
- Biaya Lain-Lain
- Biaya Total
C. Profit Margin
D. Harga Jual

2.866,66

70,37
152,77
7,77
8,88
8,47
244,44
89,44
582,14
240,36
3.462,5

82,79

2,03
4,41
0,22
0,25
0,24
7,05
2,58
16,81
6,94
100
4.
Konsumen
a. Harga Beli

3.462,5

100


Tabel 6. Rincian Biaya Pemasaram Pada Pedagang Pengumpul Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
No.
Biaya pemasaran
Harga (Rp/bulan)
Daya jual (kg/bulan)
Total (kg)
1.
Ongkos angkut
183.333,33
1000
183,33
2.
Sampah
40.000
1000
40
3.
Keamanan
6.500
1000
6,5
4.
Tali plastic
6.666.666
1000
6,66
5.
Biaya lain-lain
76.666,66
1000
76,66

Tabel 7. Rekapitulasi Margin Pemasaran Pada Saluran Ii (Rp/Kg) Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
No.
Uraian
Petani
Pedagang pengecer
Konsumen
1.
Harga beli
-
2.445,71
3.462,-5
2.
Biaya pemasaran
-
313,15
-
3.
Profit margin
2.337,84
107,8
-
4.
Harga jual
2.445,71
2.866,66
-
5.
Margin pemasaran
-
420,95
-
    

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa keuntungan yang diperoleh petani juga lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh pedagang pengumpul dan pedagang pengecer yaitu sebesar Rp. 2.337, 84,-/kg sama halnya pada saluran pemasaran I, biaya pemasaran yang dikeluarkaan oleh pedagang juga besar. Namun pada saluran pemasaran II ini, petani tidak mengeluarkan biaya pemasaran sama sekali. Semua biaya pemasaran yang telah dikeluarkan ditanggung oleh pedagang pengumpul.
Berikut ini digambarkan presentase margin pemasaran yang diperoleh masing-masing lembaga pemasaran.

    

Pengumpul
 
Pengecer
 
konsumen
 
Petani
 
                         70,71%                          82,59 %                         100 %










 

                        








 

                     
                      11,88 %                                                                17,41%



4. Efisiensi Pemasaran

Tabel 8. Nilai Efisiensi Pemasaran pada masing-masing Saluran Pemasaran Sawi Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
No.
Saluran pemasaran
Efisiensi (%)
1.
I
17,22
2.
II
25,85


5. Pendapatan
            Pendapaatan yaitu pendapatan yang diperoleh dari perhitungan total penerimaan dikurang dengan total niaya. Pendapatan yang diperoleh dari saluran pemasaran yang I dan saluran pemasran II dapat dilihat pada tabel dibawah ini.


Tabel 9. Pendapatan Pada Setiap Saluran Tataniaga Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
Saluran pemasaran
Pendapatan

I
Petani
Rp. 914.130,-
Pedagang pengecer
Rp. 1.707.500,-

II
Petani
Rp. 925.597,14
Petani pedagang pengumpul
Rp. 3.417.000,-


KESIMPULAN

1.      Terdapat dua saluran pemasaran didaerah penelitian untuk tingkat desa dalam memasarkan komoditas sawi ke Marelan dan sekitarnya. Saluran I dari petani sawi kepedagang pengecer kemudian kekonsumen, saluran II dari petani sawi kepedagang pengumpul kemudian kepedagang pengecer dan kemudian kekonsumen.
2.      Terdapat perbedaan harga (margin pemasaran) pada tiap-tiap saluran pemasaran, dimana pada saluran I margin pemasarannya sebesar Rp. 822,5/kg untuk pedagang pengecer sebesar Rp. 420,95/kg  untuk pedagang pengumpul dan Rp.595,84/kg untuk pedagang pengecer. Perbedaan harga ini disebabkan karena masing-masing lembaga pemasaran ingin memperoleh keuntungan dari usaha yang dilakukannya.
3.      Efisiensi pada saluran pemasaran I sebesar 17,22 % dan merupakan saluran pemasaran yang lebih efisien jika dibandingkan dengan saluran pemasaran II sebesr 25,85 %. Hal ini disebabkan karena keuntngan yang diperoleh petani pada saluran pemasaran II.
4.      Pendapatan petani untuk saluran pemasaran I diperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp. 914.130,- sedangkan pendapatan pedagang pengecer rata-rata sebesar Rp. 1.707.500,- sedangkan pendapatan petani pada saluran pemasaran II diperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp. 925.597,14,- dan pendapatan pengumpul diperoleh rata-rata sebesar Rp. 3.147.000,-

SARAN

1.     Untuk memaksimalkan keuntungan dalam pemasaran sawi, maka petani sebaiknya memilih saluran I pemasaran sawi.
2.     Para pedagang pengecer agar mampu meminimalkan jumlah biaya pemasaran yang akan dikeluarkan untuk memperoleh keuntungan maksimal, misalnya dengan mengurangi biaya tenaga kerja.
3.     Pada penelitian lanjutan diharapkan agar peneliti lain dapat mendalami tentang pemasaran sawi yang mungkin belum dibahas pada penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Haryanto E. Suhartini, T dan Rahayu E, 1994. Sawi. Penebur Swadaya. Jakarta.
Gitosudarmo. I, 1994. Manajemen Pemasaran . BPFE. Yogyakarta.
Gultom. H.L.T, 1996. Tataniaga Hasil-Hasil Pertanian Diktat Fakuultas Pertanian. USU. Medan.
Haryanto. E, Suhartini T dan Rahayu E, 1994. Sawi dan Bayam. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hermanto. F, 1994. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Isnani, 1993. Analisis Margin Pemasaran dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Petani Kentang Pada Usahatani Kentang. Skripsi Fp UMI. Medan.
Kotler, P. 1996. Manajemen Pemasaran. Jakarta.
Mubyarto, 1999. Pengantar Ekonomi Pertanian, LP3S. Jakarta.
Nasir, 1999. Metode penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Rahardi, Pulungkun R, dan Budiarti A. 2001. Agribisnis Tanaman Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sa’id E.G dan Intan A.H, 2001. Manajemen Gribisnis. Gahala Indonesia. Jakarta
Sinaga. U, 2003. System Pemasaran Jeruk Manis. Skripsi UMI. Medan.
siregar. S, 2001. Analisa Sistemtataniaga Benih Kedele. Skripsi FP UISU. Medan.
Soekartawi, 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori Dan Aplikasinya. PT. Rajawali Pers. Jakarta.
Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sukirno. S, 2001. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Yahya, 2004. Analisa Komparatatif Pendapatan Petani Tanaman Sawi Dan Bayam. Skripsi FP UISU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar