KAJIAN
PEMASARAN DAN PENDAPATAN USAHA TANAMAN SAWI
(STUDI
KASUS PETANI SAWI KELURAHAN TANAH ENAM RATUS, KECAMATAN MEDAN MARELAN, KOTA
MEDAN, PROPINSI SUMATERA UTARA)
Mahrani
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Medan
ABSTRACT
This study purpose to determine the marketing
channels of collards yield. To analyze this level of marketing efficiency on
various marketing channels of collards in research, a result of analysis of
marketing margin indicates, the total margin for the first channel was Rp.
822,5/kg and the total margin for the second channel was Rp. 420,95/Kg.
According to the analysis of marketing efficiency with cost efficiency analysis
approach, to collard marketing agencies in the research area already efficient.
This is because the average cost is still relatively small compared with the
difference in price obtained by each of the marketing agency of collard. While
the analysis of revenue, indicates that second channel bigger than the first
channel, this is because producer in the first channel paid the marketing cost,
and not for the second channel.
Keywords : marketing, revenue, collards
PENDAHULUAN
Pembangunan holtikultura di masa
mendatang diarahkan untuk menumbuh kembangkan sistem agribisnis dan
agroindustri. Salah satu komoditas hortikultura dari kelompok sayur-sayuran yang mempunyai prospek
baik dan nilai ekonomi tinggi adalah
sawi (Rukmana, 1994).
Tata niaga merupakan salah satu
aspek pemasaran yang menekankan bagaimana suatu produksi dapat sampai ke tangan
konsumen (distribusi). Tata niaga dapat dikatakan efisien apabila mampu
menyampaikan hasil produksi kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan
mampu mengadakan pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhan harga yang
dibayar konsumen kepada semua pihak yang ikut serta didalam kegiatan produksi
dan pemasaran. Dewasa ini pemasaran harus dipahami tidak dalam arti lama yaitu
penjualan “bercerita dan menjual” tetapi dalam arti baru yaitu memuaskan
kebutuhan pelanggan dengan baik dalam mengembangkan produk yang memberikan
nilai superior, menetapkan harga, mendistribusikan serta mempromosikan secara
efektif. Dalam arti sebenarnya pemasaran adalah suatu proses sosial managerial
yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan serta
inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan
orang lain (Koetler, 1996).
Sayuran merupakan makanan yang tak
terpisahkan dari kehidupan manusia. Komoditi ini sangat penting karena banyak
mengandung berbagai vitamin. Selain itu, sayuran berfungsi sebagai sumber
karbohidrat, protein dan mineral. Kandungan serat kasar juga berguna dalam
mencegah penyakit kanker pada saluran pencernaan. Sayuran didefinisikan sebagai
tanaman atau bagian yang dapat dinamakan atau dilalap sebagi makanan utama,
lengkap atau sekedar pembangkit selera makan. Aneka sayuran dapat digolongkan
menjadi dua golongan yaitu sayuran komersial dan sayuran non komersial. Sayuran
komersial berarti sayuran tersebut mempunyai banyak peminat meskipun harga
relative murah atau sayuran tersebut diminati oleh kalangan tertentu dengan
harga yang tinggi (Rahardi, 2001).
Jalur pemasaran hasil pertanian
adalah saluran yang digunakan petani produsen untuk mengalirkan hasil-hasil
pertanian dari produsen ke konsumen. Lembaga-lembaga yang ikut aktif dalam
saluran ini adalah petani/produsen, pedagang pengumpul, pedagang besar,
pengecer dan konsumen. Pada umumnya jalur tata niaga ada dua macam yaitu (i)
Jalur yang langsung sederhana, disini berhadapan dengan konsumen. Harga yang
dibayar konsumen sama besarnya yang diterima produsen. Dengan demikian, dari
segi harga, produsen mendapatkan harga yang wajar. Dilain pihak konsumen
mendapatkan keuntungan karena mendapatkan keuntungan karena mendapatkan produk
yang lebih segar (ii) Jalur tataniaga dengan perantara, jalur tataniaga ini
melibatkan pedagang perantara sehingga produsen tidak dapat langsung
berhubungan dengan konsumen. Yang dimaksud dengan pedagang perantara yaitu
pedagang yang memiliki dan menguasai barang serta menyalurkan dengan tujuan
mendapatkan keuntungan (Rahardi, dkk. 1997).
Petani sayur sawi yang berlokasi di
Kelurahan Tanah Enam Ratus dalam memasarkan produknya juga memanfaatkan saluran
pemasaran. Terdapat bebarapa saluran pemasaran yang mereka gunakan yaitu (i)
Petani menjual hasil taninya ke pedagang pengecer yang kemudian dijual langsung
ke konsumen (ii) Petani menjual hasil taninya dengan melalui ke pedagang
pengecer yang kemudian dijual langsung ke konsumen (iii) Petani menjual hasil
taninya dengan melalui pedagang pengumpul yang datang ke tempat mereka dan
membeli sayur mereka. Kemudian, pedagang pengumpul menjual sayur tersebut ke
pengecer yang akan menjualnya langsung ke konsumen. Dan tidak semua pula petani
produsen memiliki harga jual pokok yang sama kepada para pedagang pengumpul,
pedagang pengecer atau konsumen.
Pentingnya peranan lembaga tataniaga
dalam tiap saluran tataniaga, menyebabkan petani produsen harus mempunyai
pertimbangan yang cermat dalam memilih saluaran pemasaran yang efisien.
Permasalahan yang dapat timbul dari adanya penggunaan sistem mata rantai
pemasaran tidak sama menjalankan lembaga sesuai dengan fungsinya. Hal ini
menyebabkan sistem pemasaran sayuran didaerah ini menjadi tidak efisien
(Soekartawi, 2002).
BAHAN DAN METODE
Metode Penentuan
Daerah Penelitian
Penelitian dilakukan di Kelurahan
Tanah Enam Ratus, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.
Penentuan daerah sebagai lokasi penelitian ditetapkan secara purposive dengan
alasan Kelurahan ini adalah termasuk daerah yang sebagian besar penduduknya
bertani tanaman sawi.
Metode
Penelitian
Metode penelitian studi kasus adalah
penelitian tentang status objek penelitian yang berkenan dengan fase spesifik
atau khas dari keseluruhan personalitas. Peneliti menggunakan metode studi
kasus karena peduli dibatasi oleh biaya, waktu dan tenaga yang tersedia.
Metode Penarikan
Sampel
Pada penelitian ini yang menjadi
sampel adalah petani yang mengusahakan tanaman sawi. Metode pengambilan sampel
dilakukan dengan cara Stratified Random Sampling. Sampel dalam penelitian ini
haruss distratakan terlebih dahulu berdasarkan atas mata rantai agar tidak
overlapping.
Jumlah sampel yang diambil 45 orang
dari jumlah petani 85 orang yang mengusahakan tanaman sawi. Pedagang pengumpul
yang digunakan sebagai sampel adalah sebanyak 3 orang dari 5 orang. Pedagang
pengecer berjumlah 15 orang dengan sampel 8 orang sehingga jumlah sampel
keseluruhan sebanyak 56 orang. Untuk menetapkan sampel masing-masing strata
dengan menggunakan rumus :
Nh
N
Keterangan
:
nh : Jumlah sampel pada strata ke – h
Nh : jumlah satuan pada strata ke-h
N : jumlah satuan elementer
n : jumlah seluruh sampel yang akan diambil
(Daniel, 2002).
Besarnya
populasi dapat dilihat pada tabel I dibawah ini :
Tabel 1. Distribusi
jumlah sampel menurut mata rantai pemasaran di kelurahan tanah enam ratus,
2008.
|
NO
|
Strata mata rantai
|
Populasi (orang)
|
Sampel (orang)
|
|
1.
|
Produsen
|
85
|
45
|
|
2.
|
Pedagang pengumpul
|
5
|
3
|
|
3.
|
Pengecer
|
15
|
8
|
|
|
Jumlah
|
105
|
56
|
Sumber
data : data dari kelompok tani
Metode Analisis Data
Saluran tataniaga dalam penelitian
ini menggunakan metode deskriptif. Yaitu mengumpulkan, mengklasifikasikan dan
menginterprestasikan data, sehingga memberikan suatu gambaran mengenai masalah
yang diteliti.
Dimana proses atau tahapan penentuan
saluran tataniaga ini yaitu penelusuran pemasaran dari saluran pemasaran I yang
terdiri dari petani langsung menjual hasil usaha taninya melalui pedagang
pengumpul, kemudian pedagang pengumpul menjual langsung kepada konsumen dan ada
juga melalui pedagang pengecer.
Untuk menganalisa besarnya margin
pemasaran, maka digunakan rumus sebagai berikut :
Mji
= Psi – Pbi
Keterangan
:
Mji = Marjin Pemasaran pada Lembaga
Pemasaran ke-i
Psi = Harga Penjualan pada Lembaga Pemasaran
ke-i
Pbi = Haraga Pembelian pada Lembaga Pemasaran
ke-i
i = 1,2,3,....,n (soekartawi, 2002)
Untuk menentukan tingkat efisiensi pemasaran
di daerah penelitian menggunakan teori soekartawi, 1993. Adapun rumus yang
digunakan adalah presentase total biaya pemasaran dibagi dengan nilai produk
yang dipasarkan.
Secara umum matematis dapat ditulis
sebagai berikut :
Total biaya pemasaran
(EP) = Total
nilai produk yang dipasarkan
Keterangan
:
Ep =
Efisiensi Pemasaran
TB =
Total Biaya Pemasaran
TNP =
Total Nilai Produk (Soekartawi, 1993)
Adapun kriteria koefisienan menurut
soekartawi (1993) adalah dimana biaya pemasaran merupakan suatu produk
sedangkan nilai produk yang dipasrkan sama dengan tital produk yan dipasrkan.
Untuk melihat bagaimana pendapatan
petani pada setiap saluran tataniaga, menurut Soekartawi (2002) dapat digunakan
rumus :
Pd = TR – TC
Dimana
: Pd = Pendapatan Usaha
TR = Total Penerimaan
TC
= Total Biaya
Penerimaan
adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual, menurut Soekartawi
(2002) dapat menggunakan rumus :
TR = Y . Py
Dimana : TR
= Total Penerimaan
Y = Produksi yang di peroleh
dalam suatu usaha
Py = Harga Y
HASIL DAN PEMBAHASAN
Saluran Tataniaga
Sawi
Ini menunjukkan bahwa petani lebih
tertarik menjual hasil taninya ke pedagang pengumpul didasarkan atas beberapa
alas an. Pertama, kekhawatiran pedagang pengumpul didasarkan atas bebarapa alas
an. Pertama, kekhawatiaran terhadap keadaan sayur. Petani begitu khawatir jika
mereka memasarkan hasil pertaniannya ke pengecer atau konsumen yang ada dipasar
tradisional, sebab biasanya pedagang pengecer tidak membeli dalam jumlah yang
besar sehingga dikhawatirkan sayuran akan rusak taanpa ada yang membeli. Kedua,
petani agak keberatan untuk mengeluarkan biaya dantenaga untuk proses pemasaran
sebab meraka sangat membutuhkan kesiapan modal sehingga dapat melakukan
budidaya kembali. Jika petani menjaul hasilnya ke pedagang pengumpul, maka
petani tidak mengeluarkan biaya apapun, sebab seluruh biaya ditanggung oleh pedagang
pengumpul tersebut.
Kondisi diatas menunjukkan bahwa system
pemasaran yang terdapat didaerah penelitian dapat dibagi atas 2 saluran atau
mata rantai pemasaran yaitu (i) dari petani produsen sawi dijual kepedagang
pengecer dan selanjutnya ke konsumen yang pada penelitian ini disebut sebagai
saluran pemsaran I. (ii) dari petani sawi dijual kepedagang pengumpul kemudian
pedagang pengecer dan selanjutnya kekonsumen yang pada penelitian ini disebut
sebagai saluran pemasaran II.
Margin Pemasaran
Saluran I.
Pada saluaran pemasan I, lembaga
yang terlibat dalam rantai tataniaga adalah petani, pedagang pengecer dan
konsumen. Pada saluran ini petani mengeluarkan biaya pemasaran, karena petani
biasanya mengantar sawinya kepada pedagang-pedagang pengecer yang ada dipasar V
marelan. Selain itu petani juga mengeluarkan biaya retribusi pasar. Pedagang
pengecer juga mengeluarkan biaya pemasaran lain.
Tabel 2. Rincian Biaya
Pemasaran Sawi Saluran I Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
|
N0.
|
Uraian
|
Margin pemasaran
(Rp/Kg)
|
Presentase (%)
|
|
1.
|
Petani
a. Biaya Pemasaran
- Transportasi
- Ongkos timbangan
- Bongkar muat
- Retribusi pasar
- Biaya total
b. Profit Margin
c. Harga Jual
|
5,488
2,00
6,096
0,617
14,201
2.517,92
2,640
|
0,15
0,05
0,17
0,01
0,41
71,71
76,24
|
|
2.
|
Pedagang Pengecer
a. Haraga Beli
b. Biaya Pemasaran
-Ongkos Angkut
-Sewa tempat
-Sampah
-Keamanan
-Tali plastik
-Tenaga kerja
-Biaya lain-lain
-Biaya total
c. Profit Margin
d. Harga Jual
|
2,640
152,77
70,37
7,77
8,88
8,47
|
76,24
4,41
2,03
0,22
0,25
0,24
|
|
|
244,44
89.44
582,14
240,36
3,462,5
|
7,05
2,58
16,81
6,94
100
|
|
|
3.
|
Konsumen
a. Harga Jual
|
3,462,5
|
100
|
Dalam usahatani sawi
ini, petani mengeluarkan biaya produksi yaitu benih, pupuk, tenaga kerja,
penyusunan peralatan, dan sewa lahan. Rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan
oleh petani dalam 1 kali panen ini sebesar Rp. 662.498,66,-. Biaya produksi
yang telah dikeluarkan petani ini kemudian dibagi dengan rata-rata jumlah
produksi sawi yang dihasilkan oleh petani dalam 1 kali musim panen juga. Dari perhitungan
kemudian diperoleh rata-rata biaya produksi yang dikelurkan petani sebesar Rp
107.87,;/kg sehingga keuntungan diperoleh petani sebesar Rp 2.517,92,-/kg.
Dari tabel diatas,
dapat dilihat bahwa keuntungan yang diperoleh petani jauh lebih besar daripada
keuntungan yang diperoleh pedagang pengecer. Hal ini disebabkan karena pedagang
pengecer lebih banyak mengelurkan biaya pemasaran dibandingkan dengan petani.
Petani hanya mengeluarkan biaya transportasi dan retribusi pasar saja.
Sadangkan pedagang pengecer harus mengeluarkan biaya sewa tempat, pedagang
harus mengelurkan biaya sebesar Rp 70,37,-/kg. besarnya biaya sewa tempat ini
disebbkan karena daya jual pedagang yang rendah yaitu rata-rata sebanyak 900
kg/bulan.
Tabel 3. Rincian Biaya
Pemasaran Pada Pedagang Pengecer Di Kelurahan Tanh Enam Ratus, 2008.
|
No.
|
Biaya pemasaran
|
Harga (Rp/Bulan)
|
Daya jual (kg/bulan)
|
Total (kg)
|
|
1.
|
Sewa tempat
|
63,333,33
|
900
|
70,37
|
|
2.
|
Ongkos parker
|
137.500
|
900
|
152,77
|
|
3.
|
Sampah
|
7.000
|
900
|
7,77
|
|
4.
|
Keamanan
|
8.000
|
900
|
8,88
|
|
5.
|
Tali plastic
|
7.625
|
900
|
8,47
|
|
6.
|
Tenaga kerja
|
220.000
|
900
|
244,44
|
|
7.
|
Biaya lain-lain
|
80.500
|
900
|
89,44
|
Tabel 4. Rincian Biaya
Pemasaran Pada Saluran I di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
|
No.
|
Uraian
|
Petani (Rp/kg)
|
Pedagang pengecer
(Rp/kg)
|
Konsumen (Rp/kg)
|
|
1.
|
Harga beli
|
-
|
2.640
|
3.462,5
|
|
2.
|
Biaya pemasaran
|
14.201
|
582,14
|
-
|
|
3.
|
Profit margin
|
2.517,92
|
240,36
|
-
|
|
4.
|
Harga jual
|
2.640
|
3,462,5
|
-
|
|
5.
|
Margin pemasaran
|
-
|
822,5
|
-
|
Dari
tabel 4 diatas, dapat dilihat bahwa keuntungan yang diperoleh petani jauh lebih
besar daripada keuntungan yang diperoleh pedagang engecer. Hal ini disebabkan
karena pedagang pengecer lebih banyak mengelurkan biaya pemasaran dibandingkan
dengan petani. Petani hanya mengeluarkan biaya transportasi dan retribusi pasar
saja. Sadangkan pedagang pengecer harus mengeluarkan biaya sewa tempat ini
pedagang harus mengelurkan biaya sebesar Rp 70,37,-/kg. besarnya biaya sewa
tempat ini disebbkan karena daya jual pedagang yang rendah yaitu rata-rata
sebanyak 900 kg/bulan.
.
|
|
|
23,76
%
Gambar 2. Presentase
keuntungan pemasan saluran I
Margin Pemasaran
Saluran II
Pada saluran pemasaran II ini
lembaga yang terlibat adalah petani, pedagang pengumpul, pedagang pengecer dan
konsumen. Kegiatan yang dilakukan petani pada saluran pemasaran II ini tidak
sama dengan kegiatan yang dilakukan pada saluran pemasaran I, dalam saluran ini
petani tidak mengeluarkan biaya pemasaran.
Namun pada saluran pemasaran ini
pedagang menjual sawinya kepedagang pengecer dengan harga sedikit lebih mahal
daripada pengecer membeli langsung kepetani produsen. Padahal biaya pemasaran
yang dikelurkan pedagang pengecer sama besarnya jika membeli langsung kepetani.
Hal
ini disebakan Karena pada umumnya pedagang pengumpul yang berlangsumg mengambil
sendiri sayur sawi dari petani. Karena itulah tidak selamanya petani menjual
sendiri hasil panen sawinya kepasar-pasar tradisional di marelan, kebanyakan
dari mereka lebih menyukai menjual hasil penennya kepada pedagang pengumpul.
Pada tabel 19 dapat dilihat analisis biaya pemasaran II.
Tabel 5. Rincian
Biaya Pemasaran Sawi Saluran II Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
|
No.
|
Uraian
|
Margin/pemasaran
(Rp/kg)
|
Presentase (%)
|
|
1.
|
Petani
a. Biaya Pemasaran
b. Harga Jual
|
-
2,445,71
|
-
70,63
|
|
2.
|
Pedagang Pengumpul
a. Harga Beli
b. Biaya Pemasaran
- Ongkos angkut
- Sampah
- Keamanan
- Tali plastik
- Biaya lain-lain
- Biaya total
c. Profit Margin
d. Harga Jual
|
2.445,71
183,33
40
6,4
6,66
76,66
313,15
107,8
2.866,66
|
70,63
5,29
1,15
0,18
0,19
2,21
9,04
3,11
82,79
|
|
3.
|
Pedagang Pengecer
A. Harga Beli
B.Biaya Pemasaran
- Sewa Tempat
- Ongkos Agkut
- Sampah
- Keamanan
- Tali Plastik
- Tenaga Kerja
- Biaya Lain-Lain
- Biaya Total
C. Profit Margin
D. Harga Jual
|
2.866,66
70,37
152,77
7,77
8,88
8,47
244,44
89,44
582,14
240,36
3.462,5
|
82,79
2,03
4,41
0,22
0,25
0,24
7,05
2,58
16,81
6,94
100
|
|
4.
|
Konsumen
a. Harga Beli
|
3.462,5
|
100
|
Tabel 6. Rincian
Biaya Pemasaram Pada Pedagang Pengumpul Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
|
No.
|
Biaya pemasaran
|
Harga (Rp/bulan)
|
Daya jual
(kg/bulan)
|
Total (kg)
|
|
1.
|
Ongkos angkut
|
183.333,33
|
1000
|
183,33
|
|
2.
|
Sampah
|
40.000
|
1000
|
40
|
|
3.
|
Keamanan
|
6.500
|
1000
|
6,5
|
|
4.
|
Tali plastic
|
6.666.666
|
1000
|
6,66
|
|
5.
|
Biaya lain-lain
|
76.666,66
|
1000
|
76,66
|
Tabel 7. Rekapitulasi
Margin Pemasaran Pada Saluran Ii (Rp/Kg) Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
|
No.
|
Uraian
|
Petani
|
Pedagang pengecer
|
Konsumen
|
|
1.
|
Harga beli
|
-
|
2.445,71
|
3.462,-5
|
|
2.
|
Biaya pemasaran
|
-
|
313,15
|
-
|
|
3.
|
Profit margin
|
2.337,84
|
107,8
|
-
|
|
4.
|
Harga jual
|
2.445,71
|
2.866,66
|
-
|
|
5.
|
Margin pemasaran
|
-
|
420,95
|
-
|
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa
keuntungan yang diperoleh petani juga lebih besar dibandingkan dengan keuntungan
yang diperoleh pedagang pengumpul dan pedagang pengecer yaitu sebesar Rp.
2.337, 84,-/kg sama halnya pada saluran pemasaran I, biaya pemasaran yang
dikeluarkaan oleh pedagang juga besar. Namun pada saluran pemasaran II ini,
petani tidak mengeluarkan biaya pemasaran sama sekali. Semua biaya pemasaran
yang telah dikeluarkan ditanggung oleh pedagang pengumpul.
Berikut
ini digambarkan presentase margin pemasaran yang diperoleh masing-masing
lembaga pemasaran.
|
|
|
|
11,88 % 17,41%
4.
Efisiensi Pemasaran
Tabel 8. Nilai
Efisiensi Pemasaran pada masing-masing Saluran Pemasaran Sawi Di Kelurahan
Tanah Enam Ratus, 2008.
|
No.
|
Saluran
pemasaran
|
Efisiensi
(%)
|
|
1.
|
I
|
17,22
|
|
2.
|
II
|
25,85
|
5. Pendapatan
Pendapaatan yaitu pendapatan yang
diperoleh dari perhitungan total penerimaan dikurang dengan total niaya.
Pendapatan yang diperoleh dari saluran pemasaran yang I dan saluran pemasran II
dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 9. Pendapatan
Pada Setiap Saluran Tataniaga Di Kelurahan Tanah Enam Ratus, 2008.
|
Saluran pemasaran
|
Pendapatan
|
|
|
I
|
Petani
|
Rp. 914.130,-
|
|
Pedagang pengecer
|
Rp. 1.707.500,-
|
|
|
II
|
Petani
|
Rp. 925.597,14
|
|
Petani pedagang
pengumpul
|
Rp. 3.417.000,-
|
|
KESIMPULAN
1.
Terdapat
dua saluran pemasaran didaerah penelitian untuk tingkat desa dalam memasarkan
komoditas sawi ke Marelan dan sekitarnya. Saluran I dari petani sawi kepedagang
pengecer kemudian kekonsumen, saluran II dari petani sawi kepedagang pengumpul
kemudian kepedagang pengecer dan kemudian kekonsumen.
2.
Terdapat
perbedaan harga (margin pemasaran) pada tiap-tiap saluran pemasaran, dimana
pada saluran I margin pemasarannya sebesar Rp. 822,5/kg untuk pedagang pengecer
sebesar Rp. 420,95/kg untuk pedagang
pengumpul dan Rp.595,84/kg untuk pedagang pengecer. Perbedaan harga ini
disebabkan karena masing-masing lembaga pemasaran ingin memperoleh keuntungan
dari usaha yang dilakukannya.
3.
Efisiensi
pada saluran pemasaran I sebesar 17,22 % dan merupakan saluran pemasaran yang
lebih efisien jika dibandingkan dengan saluran pemasaran II sebesr 25,85 %. Hal
ini disebabkan karena keuntngan yang diperoleh petani pada saluran pemasaran
II.
4.
Pendapatan
petani untuk saluran pemasaran I diperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp.
914.130,- sedangkan pendapatan pedagang pengecer rata-rata sebesar Rp.
1.707.500,- sedangkan pendapatan petani pada saluran pemasaran II diperoleh
pendapatan rata-rata sebesar Rp. 925.597,14,- dan pendapatan pengumpul
diperoleh rata-rata sebesar Rp. 3.147.000,-
SARAN
1.
Untuk
memaksimalkan keuntungan dalam pemasaran sawi, maka petani sebaiknya memilih
saluran I pemasaran sawi.
2.
Para
pedagang pengecer agar mampu meminimalkan jumlah biaya pemasaran yang akan
dikeluarkan untuk memperoleh keuntungan maksimal, misalnya dengan mengurangi
biaya tenaga kerja.
3.
Pada
penelitian lanjutan diharapkan agar peneliti lain dapat mendalami tentang
pemasaran sawi yang mungkin belum dibahas pada penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Haryanto
E. Suhartini, T dan Rahayu E, 1994. Sawi. Penebur Swadaya. Jakarta.
Gitosudarmo.
I, 1994. Manajemen Pemasaran . BPFE. Yogyakarta.
Gultom.
H.L.T, 1996. Tataniaga Hasil-Hasil Pertanian Diktat Fakuultas Pertanian. USU.
Medan.
Haryanto.
E, Suhartini T dan Rahayu E, 1994. Sawi dan Bayam. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hermanto.
F, 1994. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Isnani,
1993. Analisis Margin Pemasaran dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Petani
Kentang Pada Usahatani Kentang. Skripsi Fp UMI. Medan.
Kotler,
P. 1996. Manajemen Pemasaran. Jakarta.
Mubyarto,
1999. Pengantar Ekonomi Pertanian, LP3S. Jakarta.
Nasir,
1999. Metode penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Rahardi,
Pulungkun R, dan Budiarti A. 2001. Agribisnis Tanaman Sayur. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sa’id
E.G dan Intan A.H, 2001. Manajemen Gribisnis. Gahala Indonesia. Jakarta
Sinaga.
U, 2003. System Pemasaran Jeruk Manis. Skripsi UMI. Medan.
siregar.
S, 2001. Analisa Sistemtataniaga Benih Kedele. Skripsi FP UISU. Medan.
Soekartawi,
1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori Dan Aplikasinya. PT. Rajawali Pers.
Jakarta.
Soekartawi,
2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian. PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Sukirno.
S, 2001. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Yahya, 2004. Analisa Komparatatif Pendapatan
Petani Tanaman Sawi Dan Bayam. Skripsi FP UISU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar