Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 105-112


SUMBANGAN DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH PADA PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI DESA JAKE KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

Nofrizon, Deno Okalia, dan Marlinda Suri
Program Studi Agroteknologi Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau


ABSTRACT

Purpose of this study is to determine how many donations and litter decomposition rates in smallholder rubber plantations. Collection data is done by selecting two plots measuring 20 mx 20 m area of jungle rubber Jake Village Middle District of Kuantan, Kuantan Singingi. Plots were selected based on the time of planting rubber planting plot 1 had <5 years (the immature crops or TBM) and the yield (already can be tapped or TM) at age> 5 years. Each plot was selected three observation points dropping litter were randomly selected (purposive random sampling) are considered to represent the ecosystem condition called sub-plots. From the research it can be concluded that the production of litter on immature rubber plantations (TBM) is higher than the rubber plantations has resulted (TM), the TBM production in February as much as 43.91 g / m² and TM as much as 29.27 g / m², March TBM as 64.97 gr / m² and TM as much as 41.28 g / m². However, in April of litter production TBM results showed a decrease in which 41.06 g / m² and TM showed stable results that 41.43 g / m². The rate of litter decomposition at the end of the study week 12 in the TBM was 31.81% and 26.84% for TM.

Keywords: Rubber, Litter, Production, Decomposition.


PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara dengan perkebunan karet terbesar di dunia, meskipun tanaman karet sendiri baru diintroduksi pada tahun 1864. Dalam kurun waktu sekitar 150 tahun sejak dikembangkan pertama kalinya, luas areal perkebunan karet di Indonesia telah mencapai 3.262.291 hektar (Didit, 2008).
Menurut data dari Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, kecamatan Kuantan Tengah adalah salah satu daerah yang memiliki wilayah perkebunan karet terluas yaitu dengan luas 5.539,40 Ha (TBM) dan 5.983,22 Ha (TM) (Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, 2012).
Tanaman karet memiliki sifat gugur daun sebagai respon tanaman pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (kekurangan air/kemarau). Daun ini akan tumbuh kembali pada awal musim hujan. yang mempengaruhi jatuhan serasah baik dalam jumlah maupun kualitasnya, yaitu keadaan lingkungan (iklim, ketinggian, kesuburan tanah), jenis tanaman (hutan alam dan hutan buatan) dan waktu (musim dan umur tegakan). Guguran daun (serasah) yang berada di lantai kebun akan memberikan sumbangan bahan organik, serasah tersebut akan mengalami dekomposisi sehingga menghasilkan unsur hara yang berperan dalam mempertahankan kesuburan tanah.
Tanaman memberikan masukan bahan organik melalui daun-daun, cabang dan rantingnya yang gugur, dan juga melalui akar-akarnya yang telah mati. Serasah yang jatuh di permukaan tanah dapat melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan dan mengurangi penguapan. Tinggi rendahnya peranan serasah ini ditentukan oleh kualitas bahan oraganik tersebut. Semakin rendah kualitas bahan, semakin lama bahan tersebut dilapuk, sehingga terjadi akumulasi serasah yang cukup tebal pada permukaan tanah.
Bertanam tanaman secara monokultur dengan jenis tanaman yang sama tentu juga akan berpengaruh terhadap hara yang ada di dalam tanah seperti pada perkebunan karet ini. Tanaman karet sering menggugurkan daun sehingga jatuh ke permukaan tanah dan dapat menjadi bahan organik bagi tanah. Hal ini didukung oleh penelitian sebelumnya oleh Susep (2012) tentang hasil analisis C-organik tanah akibat alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sawit dan karet. Berdasarkan hasil penelitian tersebut ternyata persentase bahan organik tanah yang ditanami karet lebih tinggi dari pada lahan yang ditanami sawit yaitu 4,78 %.
Bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah mengandung karbon yang tinggi. Pengaturan jumlah karbon di dalam tanah meningkatkan produktivitas tanaman dan keberlanjutan umur tanaman karena dapat meningkatkan kesuburan tanah dan penggunaan hara secara efisien. Selain itu juga perlu diperhatikan bahwa ketersediaan hara bagi tanaman tergantung pada tipe bahan yang termineralisasi dan hubungan antara karbon dan nutrisi lain (misalnya rasio antara C/N, C/P, dan C/S) (Delgado dan Follet, 2002).
Berapa sumbangan bahan organik dari tanaman karet dalam bentuk serasah pada perkebunan karet ini sangat menarik untuk diteliti dan berapa laju dekomposisi serasah belum diketahui. Berdasarkan berdasarkan pemikiran di atas maka penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Sumbangan dan Laju Dekomposisi Serasah Pada Perkebunan Karet Rakyat di Desa Jake Kabupaten Kuantan Singingi”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa jumlah sumbangan dan laju dekomposisi serasah pada perkebunan karet rakyat di Desa Jake Kabupaten Kuantan Singingi.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari 2014 sampai April 2014, dengan lokasi penelitian pada tegakan karet di perkebunan rakyat Desa Jake kilometer 8 Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi dan laboratorium Fakultas Pertanian UNIKS.

Alat Dan Bahan
Alat yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah litertrap ukuran 1 m x 1 m x 0,5 m, literbag ukuran 25 cm x 20 cm, jarum, benang, bambu, paku, tali rafia, patok kayu, golok, kantong plastik, meteran, timbangan analitik digital, amplop, pisau, dirigen 5 liter, corong, kelereng, gelas ukur, oven, dan alat tulis.
Sedangkan bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah serasah dari kawasan perkebunan karet rakyat Desa Jake Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi.

Jenis Data
Data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari dua data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan, terdiri dari data produktivitas serasah, data berat sisa serasah, dan data curah hujan. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini berupa peta penggunaan lahan dari badan pertanahan Kabupaten Kuantan Singingi dan data curah hujan dinas tanaman pangan Kuantan Singingi.

Metode Penelitian
Pengumpulan data dilapangan dilakukan dengan membuat dua plot berukuran 20 m x 20 m dikawasan kebun karet rakyat di Desa Jake Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Plot dipilih berdasarkan masa tanam karet yaitu plot 1 memiliki masa tanam < 5 tahun (masa tanam belum menghasilkan atau TBM) dan masa menghasilkan (sudah dapat disadap atau TM) pada umur > 5 tahun. Setiap plot dipilih 3 titik pengamatan jatuhan serasah secara acak terpilih (purposive random sampling) yang dianggap mewakili kondisi ekosistem yang disebut sub plot.
Produktivitas serasah diambil dengan menggunakan alat berupa litter trap, yang menampung serasah yang jatuh dari tegakan pohon karet. Tahapan pelaksanaan pengukuran produktivitas serasah adalah sebagai berikut :
a.     Litter trap dibuat dari jaring berbentuk bujur sangkar berukuran 1 m x 1 m, yang direkatkan pada bambu dengan menggunakan paku. Litter trap dipasang pada ketinggian 100 cm dari tanah. Jumlah litter trap yang dipasang pada masing-masing plot adalah 3 buah (sub plot).
b.    Serasah yang jatuh dan tertampung dalam jaring diamati setiap minggu dengan dipisahkan antara daun, cabang/ranting, bunga/buah, yg bertujuan untuk mengetahui perbandingannya. Pengambilan serasah dilakukan setiap 2 minggu sekali selama 12 minggu.
c.     Serasah tersebut selanjutnya ditimbang berat basahnya (Wb). Kemudian (BBc) dimasukkan kedalam kantong kertas HVS (amplop) untuk dikeringkan/diovenkan dengan suhu 60º C selama 2 x 24 jam atau hingga beratnya konstan, kemudian ditimbang berat keringnya (BKc) dengan maksud untuk mengetahui potensi input bahan organik kering pada tegakan pohon karet. Hasil pengukuranberat basah dan berat kering dinyatakan dalam g/m², kemudian dikonversi menjadi satuan Kg/ha.
Laju produksi serasah dihitung dengan rumus menurut Soerianegara (1964) :

Xj = gram/m²

Dimana Xj adalah rata-rata produksi serasah setiap ulangan pada periode waktu tertentu, Xi adalah produksi serasah setiap ulangan pada periode waktu tertentu dan n adalah jumlah unit perangkap serasah yang digunakan.
Dekomposisi serasah diduga dengan menghitung berat sisa serasah pada tiap sub plot yang berbeda sekali 2 minggu dengan menggunakan metode litterbag (Ribeiro et al., 2002) langkah pelaksanaan pengukurannya adalah :
1.     Serasah yang sudah dikering anginkan dimasukkan kedalam kantong jaring (litterbag) berukuran 25 cm x 20 cm sebanyak 10 gram perberat kering litterbag.
2.     Kemudian kantong jaring (litterbag) ditempatkan pada lantai kebun yang diikatkan pada patok kayu (hal ini dimaksudkan agar terjadi proses dekomposisi sealami mungkin) pada masing-masing sub plot dimana serasah tersebut tadi diambil (Moore et al., 1984). Jumlah litterbag masing-masing sub plot ada 6 (sesuai dengan lama dekomposisi yaitu 12 minggu). Berarti jumlah sampel per sub plot selama penelitian adalah 6 kantong jaring, jadi total sampel selama penelitian adalah 6 x 6 = 36 kantong jaring.
3.     Setiap 2 minggu sekali diambil satu sampel kantong jaring (litterbag) dari setiap sub plot. Pengambilan kantong serasah dilakukan selama 12  minggu. Litterbag dibersihkan dengan hati-hati untuk membersihkan tanah dan bahan-bahan lain yang menempel di litterbag (Anderson dan Ingram, 1989 cit Harmita, 2011).
4.     Sisa biomasa serasah setelah dekomposisi tersebut dipindahkan dari litterbag ke amplop kertas, kemudian dioven pada suhu 60º C selama 48 jam atau sampai berat tetap dan ditimbang berat kering yang tersisa (%).
5.     Selisih berat antara berat kering awal dan berat kering akhir merupakan bagian serasah yang mengalami dekomposisi.
6.     Berkurangnya berat serasah dihitung dengan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh Guo dan Sims (1999) dan (2001) :
7.      
L (%) = 100

Keterangan : L     =   hilangnya berat serasah,
        Wo  =   berat serasah sebelum penelitian dimulai, (berat sampel awal).
Wt   =   berat kering serasah yang tertinggal setelah waktu t time.
Pengukuran Curah Hujan Selama Penelitian (mm)
Pengukuran curah hujan pada lokasi penelitian dilakukan secara manual untuk menentukan curah hujan spesifik selama penelitian. Pelaksanaan pengukuran curah hujan adalah sebagai berikut :
1.     Letakkan dirigen penampung curah hujan ukuran 5 liter pada kawasan terbuka didekat lokasi penelitian.
2.     Pada mulut dirigen diletakkan corong penampung curah hujan yang diberi kelereng agar siang hari evaporasi dapat dikurangi.
3.     Curah hujan diukur setiap kejadian hujan dengan cara mengukur volume air yang tertampung per luas penampung dengan rumus :
Curah hujan (mm) =
Keterangan : volume curah hujan (ml) setara dengan cm³,
Luas penampung = cm²,
Curah hujan (mm) didapat dari konversi cm ke mm.

Pengolahan Data
Seluruh data dari masing-masing pengamatan dirata-ratakan dan dibandingkan antara tanaman belum menghasilkan dan tanaman menghasilkan. Kemudian dibuat grafik pengaruh curah hujan terhadap produksi dan laju dekomposisi serasah.   

HASIL DAN PEMBAHASAN

Curah Hujan Selama Penelitian
Berdasarkan hasil pengukuran curah hujan selama 3 bulan penelitian (  4) yang dilakukan di Desa Jake didapatkan bahwa curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April dengan curah hujan 168.37 mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Februari 56.66 mm/bulan. Data rata-rata curah hujan bulanan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rata-rata curah hujan bulanan pada bulan Februari-April 2014
Bulan
Curah hujan (mm/bulan)


Februari
56.66

Maret
67.77

April
168.37



Berdasarkan data pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa jumlah curah hujan rata-rata pada bulan Februari adalah 56.66 mm/bulan dan bulan Maret dengan dengan curah hujannya 67.77 mm/bulan, bulan tersebut termasuk bulan kering. Sejalan dengan yang dikatakan oleh Schmidt dan Fergusson (1951) bulan kering (BK), yaitu curah hujan yang sampai ke permukaan bumi kurang dari 100 mm; dan bulan basah (BB), adalah curah hujan yang sampai kepermukaan bumi lebih dari 100 mm. Sedangkan pada bulan April curah hujan rata-rata 168.37 mm/bulan dan termasuk dalam kriteria bulan basah. Jika dikalkulasikan maka curah hujan bulanan pada bulan April lebih tinggi sekitar 111.71 mm dari bulan Februari dan 100.60 mm dari bulan Maret. Data curah hujan ini sangat erat kaitannya dengan sumbangan atau produksi bahan organik (serasah) dan proses dekomposisi serasah tersebut pada penelitian ini. Hal ini didasarkan pada sifat fisiologi tanaman karet menggugurkan daun pada musim kemarau.

Produksi serasah pada perkebunan karet
Berdasarkan hasil pengukuran produksi serasah karet di TBM dan TM selama 3 bulan (Februari-April 2014) di desa Jake, terlihat bahwa produksi serasah pada perkebunan karet belum menghasilkan (TBM) lebih banyak dibandingkan dengan perkebunan karet telah menghasilkan (TM). Hasil perbandingan rata-rata produksi serasah TBM dan TM dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2.    Perbandingan rata-rata produksi serasah TBM dan TM selama 3 bulan (Februari-April 2014) di desa Jake.
Perkebunan karet
Rata-rata total produksi serasah per bulan (gr/m²)
Februari
Maret
April
TBM
43.91
64.97
41.06
TM
29.27
41.28
41.43
Ket :     TBM     = Tanaman Belum Menghasilkan
TM        = Tanaman Menghasilkan


Pada Tabel 2 terlihat total rata-rata produksi serasah tertinggi pada TBM terdapat pada bulan Maret yaitu 64.97 gr/m² atau setara dengan 649.70 kg/ha dan terendah terdapat pada bulan April dengan produksi serasah 41.06 gr/m² atau setara dengan 410.60 kg/ha. Sedangkan pada TM produksi serasah tertinggi terdapat pada bulan April  yaitu 41.43 atau setara 414.30 kg/ha dan terendah terdapat pada bulan Februari yaitu 29.27 gr/m² atau setara 292.70 kg/ha.
Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa rata-rata total produksi serasah karet pada 2 bulan pertama penelitian TBM lebih tinggi dari TM. Pada bulan Februari produksi serasah pada TBM sebesar 43.91gr/m² yang berarti lebih tinggi 14.64 gr/m² dari produksi serasah di TM. Kemudian pada bulan Maret produksi serasah pada TBM sebesar 64.97 gr/m² yang berarti lebih tinggi 23.69 gr/m² dari produksi serasah di TM. Sedangkan pada bulan April rata-rata produksi serasah pada TM justru lebih tinggi dari TBM yaitu 41.06 gr/m², namun selisihnya hanya 0.37 gr/m².
Lebih tingginya produksi serasah TBM pada 2 bulan pertama penelitian disebabkan karna sifat fisiologi tanaman karet pada TBM yang aktif tumbuh dan menghasilkan sel baru atau berada pada fase vegetatif, karena tanaman masih berumur < 5 tahun. Pada fase vegetatif ini tanaman aktif tumbuh dan membentuk sel-sel baru sehingga lebih sering menggugurkan daun dan tumbuh menjadi daun baru. Menurut Suketi, 2010 bahwa fase vegetatif terutama terjadi pada perkembangan akar, daun dan batang baru. Fase ini berhubungan dengan 3 proses penting : (1) pembelahan sel, (2) pemanjangan sel, dan (3) tahap awal dari diferensiasi sel.
Secara umum produksi serasah yang berbeda beda setiap bulannya dipengaruhi oleh iklim dan musim gugur.



Gambar 1. Grafik hubungan curah hujan dengan produksi serasah selama penelitian di desa Jake.


Berdasarkan hasil pengukuran curah hujan (Tabel 1) dan pengukuran  produksi serasah (Tabel 2), dapat dibuatkan suatu hubungan antara curah hujan dengan produksi serasah seperti tersaji pada dan Gambar 1.
Pada Gambar 1 dibulan Februari dengan curah hujan 56.66 mm/bln TBM menghasilkan serasah 43.91 gr/m², kemudian meningkat menjadi 64.97 gr/m² pada bulan Maret dengan curah hujan 67.77 mm/bln. Produksi serasah di TBM pada 2 bulan diawal penelitian ini lebih tinggi sekitar 2.85 gr/m² - 23.91 gr/m² (setara 28.50 kg/ha – 239.10 kg/ha) dibandingkan produksi serasah dibulan April. Produksi serasah pada TM sedikit berbeda dengan TBM, produksi serasah tertinggi terdapat pada bulan April dengan curah hujan 168.37 mm/bln yaitu 41.43 gr/m² diikuti pada bulan Maret dengan curah hujan 67.77 mm/bln yaitu 41.28 gr/m². Hanya terdapat perbedaan selisih produksi serasah sebesar 0.15 gr/m² pada bulan Maret dengan April, sedangkan produksi serasah terendah pada bulan Februari sebesar 29.27 gr/m².

Dekomposisi Serasah
Persentase laju dekomposisi pada minggu ke 2 sampai minggu ke 10 pada TM lebih tinggi dibandingkan  TBM Perbandingan laju dekomposisi serasah pada TBM dan TM tanaman karet disajikan pada Tabel 3. Hal ini disebabkan karena TM memiliki umur tanam lebih lama sehingga pada lantai kebun karet TM sudah banyak serasah yang terlebih dahulu telah terdekomposisi sebelumnya sehingga banyak terkandung mikroorganism seperti bakteri dan fungi. Mikroorganisme merupakan agen yang mempercepat dekomposisi bahan organik, semakin banyak mikroorganisme maka semakin cepat dekomposisi terjadi. Selain itu juga ada pengaruh bahan organik. Bahan organik adalah sumber makanan bagi organisme, sehingga pada lahan yang banyak bahan organik akan banyak terdapat mikroorganisme.


Tabel 3.  Perbandingan laju dekomposisi serasah pada TBM dan TM selama 3 bulan (Februari-April 2014) di desa Jake.
Bulan
Lama dekomposisi minggu ke-
Persentase laju dekomposisi serasah karet


TBM (%)
TM (%)

Februari
2
5.63
6.33

4
11.46
20.47

Maret
6
16.54
22.95

8
19.82
24.72

April
10
22.11
26.40

12
31.81
26.84

Ket :     TBM     = Tanaman Belum Menghasilkan
            TM        = Tanaman Menghasilkan


Pada Tabel 3 terlihat bahwa di TBM pada akhir penelitian di bulan April (minggu ke 12) mengalami peningkatan dekomposisi dengan persentase 31.81 %. Sebaliknya pada TM yang pada awalnya persentase dekomposisi bulan pertama selalu lebih tinggi di banding TBM, tetapi pada minggu ke 12 bulan April lebih rendah hanya 26.84 %.  Hal ini disebabkan suatu proses yang dinamis dekomposisi memiliki kecepatan yang mungkin berbeda dari waktu ke waktu tegantung faktor- faktor yang mempengaruhinya, seperti faktor iklim terutama pengaruh dari curah hujan, kelembaban dan temperatur.
Faktor-faktor tersebut umumnya adalah faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dekomposer, disamping faktor bahan yang akan didekomposisi. Laju dekomposisi umumnya diukur secara tidak langsung melalui pendugaan konsumsi oksigen atau perubahan karbondioksida (Co2) atau dapat pula diduga melalui kehilangan berat atau pengurangan konsentrasi tiap waktu (Sunarto, 2004).
Menurut Sunarto (2004) bahwa faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap proses dekomposisi antara lain oksigen, bahan organik dan bakteri sebagai agen utama dekomposisi. Namun pada 2 minggu terakhir terjadi penurunan dekomposisi pada TM hal ini disebabkan karena curah hujan yang terlalu tinggi. Dengan kondisi di TM yang banyak vegetasi dan rapat sehingga tidak dimasuki oleh cahaya matahari menyebabkan kelebihan air dan kekurangan oksigen sehingga dekomposisi terhambat. Oksigen merupakan unsur penting dalam proses dekomposisi, karena dengan adanya oksigen maka proses pembakaran secara kimiawi berjalan cepat.
Penelitian ini menunjukan bahwa laju dekomposisi merupakan hal yang komplek dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor lingkungan (curah hujan) maupunkondisi bahan organiknya itu sendiri. Dapat dikatakan pula bahwa dekomposisi merupakan fungsi dari faktor lingkungan dan bahan organik. Dekomposisi serasah adalah perubahan secara fisik maupun kimiawi yang sederhana oleh mikroorganisme tanah (bakteri, fungi, dan hewan tanah lainnya) atau sering disebut juga mineralisasi yaitu proses penghancuran bahan organik yang berasal dari hewan dan tanaman menjadi senyawa-senyawa anorganik sederhana (Sutedjo, Kartasapoetra dan Sastroatmodjo, 1991).
Dekomposisi terbentuk melalui suatu proses fisika dan kimia yang mereduksi secara kimia bahan organik yang telah mati pada vegetasi dan binatang. Dekomposisi bahan organik hutan mempunyai dua tahap proses. Yang pertama, ukuran partikel yang besar, dipecah ke dalam bentuk yang lebih kecil yang dapat direduksi secara kimia. Yang kedua, biasanya sampai aktifitas organisme spesies kecil ini dari bahan organik direduksi dan dimineralisasi untuk melepaskan unsur dasar dari protein, karbohidrad, lipid dan mineral yang dapat dikonsumsi, diserap oleh tanaman (Golley, 1983). Pengaruh curah hujan terhadap dekomposisi tersebut digambarkan pada Gambar 2.



Gambar 2. Grafik hubungan curah hujan dengan dekomposisi serasah selama penelitian di Desa Jake


Pada Gambar 2 terlihat jelas bahwa semakin tinggi curah hujan maka peningkatan laju dekomposisi semakin lambat, juga terdapat perpotongan garis dekomposisi TBM dan TM. Pada TM laju dekomposisi menurun memotong garis grafik TBM sewaktu meningkatnya curah hujan. Terlihat jelas pada TBM curah hujan terendah 56.66 mm/bulan diminggu ke 2 dan ke 4 penelitian atau bulan Februari, laju dekomposisi serasah meningkat dari minggu ke 2 di TBM yaitu 5.63 % menjadi 11.46 % terdapat peningkatan sekitar 5.83 %, kemudian pada bulan Maret atau minggu ke 6 dan ke 8 penelitian dengan curah hujan 67.77 mm/bulan laju dekomposisi serasah meningkat dari minggu ke 6 yaitu 16.54 % menjadi 19.82 % dengan peningkatan sebesar 3.28 %, selanjutnya pada bulan April tepatnya minggu ke 10 dan 12 penelitian dengan curah hujan tinggi 168.37 mm/bulan dekomposisi serasah meningkat yaitu 22.11 % menjadi 31.81 % terdapat peningkatan yang besar sekitar 9.70 %.
Pada Gambar 2 terlihat jelas pada TM dengan curah hujan terendah 56.66 mm/bulan diminggu ke 2 dan ke 4 penelitian atau bulan Februari, laju dekomposisi serasah meningkat dari minggu ke 2 yaitu 6.33 % menjadi 20.47 % terdapat peningkatan yang besar sekitar 14.14 %, kemudian pada bulan Maret atau minggu ke 6 dan ke 8 penelitian dengan curah hujan 67.77 mm/bulan laju dekomposisi serasah meningkat dari minggu ke 6 yaitu 22.95 % menjadi 24.72 % dengan peningkatan sebesar 1.77 %, namun pada bulan April tepatnya minggu ke 10 dan 12 penelitian dengan curah hujan tinggi 168.37 mm/bulan dekomposisi serasah meningkat yaitu 26.40 % menjadi 26.84 % namun hanya selisih 0.44 %.

KESIMPULAN

1.  Produksi serasah pada perkebunan karet belum menghasilkan (TBM) lebih tinggi dibandingkan dengan perkebunan karet telah menghasilkan (TM), yakni bulan Februari produksi TBM sebanyak 43.91 gr/m² dan TM sebanyak 29.27 gr/m², bulan Maret TBM sebanyak 64.97 gr/m² dan TM sebanyak 41.28 gr/m². Namun pada bulan April produksi serasah TBM menunjukkan penurunan hasil yakni 41.06 gr/m² dan TM menunjukkan hasil yang stabil yakni 41.43 gr/m².
2.  Laju dekomposisi serasah pada akhir penelitian minggu ke 12 di TBM sebesar 31.81 % dan TM sebesar 26.84 %.

SARAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disarankan melakukan analisis hara yang terkandung dalam serasah, agar dapat memprediksi sumbangan hara dari bahan organik (serasah) dan penggunaan pupuk pada tanaman. Serta melakukan penelitian lanjutan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan penelitian sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air.Fakultas IPB Bogor.
Brady, N. C. 1990. The Nature and Properties of Soil. 10th ed. MacMillan Publishing Co. New York.
Budiman, Harianto. 2012. Budidaya Karet Unggul. Pustaka Baru Press.Yokyakarta.
Delgado, J. A. and R. F. Follett. 2002. Carbon and Nutrient Cycles. J. Soil and Water Conserv. Vol 57 no. 6: 455-464.
Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, 2012
Gardner, F.P., R.B. Pearce and R.L. Mitchell. 1985. Physiology of Crop Plants. Lowa State University Press.Iowa. p.271-318.
Golley, F. B. 1983. Tropical Rain Forest Ecosystem, Structure and Function. Elsevier Scientific Publishing Company. New York. (Terjemahan).
Halidah. 2000. Produksi dan Kecepatan Penguraian Serasah Rhizophora spp. dan B. gymnorrhiza di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. Prosiding Ekspose Hasil Penelitian Kehutanan. Makasar, 22 November 2000. Balai Penelitian Kehutanan Ujung Pandang.
Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Akademika Presindo. Jakarta.
Heru, didit setiawan dan Andoko, Agus. 2008. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia pustaka. Jakarta.
Humphries,E.C. and A.W. Whheeler. 1963. Ann. Rev. Plants Physiol. 14 :385-410.
Mindawati, N. dan Pratiwi. 2008. Kajian penetapan daur optimal hutan tanaman Acacia mangium ditinjau dari kesuburan tanah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol.V.No.2 ; P. 109-118.
Nazaruddin dan F.B. Paimin. 2006. Karet. PT Penebar Swadaya, Jakarta.
Nugroho, P.A. & Istianto. 2009. Zero burning dalam penyiapan lahan untuk perkebunan karet di sumatera utara Dalam A.D.
Pleguezuelo, C.R.R., V.H.D. Zuazo, J.L.M. Fernandes, F.J.M. Peinado & D.F. Tarifa. 2009. Litter decomposition and nitrogen release in a sloping Mediterranean subtropical agroecosystem on the coast of Granada (SE, Spain): Effect of floristic and topographic alteration on the slope. Agriculture, Ecosystem and Environment 134: 79-88.
Schmidt FH., Ferguson JHA. 1951. Rainfall type based on wet and dry period ratio for Indonesia with Western New Gurinea
Setiawan, 2000. Usaha Pembudidayaan Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soenardjo, N. 1999. Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove dan Hubungannya dengan Struktur Komunitas Mangrove di Kaliuntu Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Tesis. Ilmu Kelautan.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.
Suketi. K. 2010. Perimbangan dan Pengendalian Fase Pertumbuhan(Vegetatif – Reproduktif. Fak. Pertanian IPB.
Sulistiyanto, Y., J.O. Rieley & S.H. Limin. 2005. Laju dekomposisi dan pelepasan hara dari serasah pada dua sub-tipe hutan rawa gambut di kalimantan tengah. Jurnal Manajemen Hutan Tropica 11(2): 1-14.
Sunarto. 2004. Peranan Dekomposisi dalam proses Produksi pada Ekosistem Laut. http://rudyct.topcities.com/pps702_71034/sunarto.htm. [26 Oktober 2013].
Susep, 2012. Pengaruh Alih Fungsi Lahan Hutan Terhadap Kandungan Bahan Organic Dan Nitrogen (N) Tanah. Skripsi Strata 1 Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa. Teluk Kuantan. Riau.
Sutedjo MM, Kartasapoetra AG, Sastroatmodjo S. 1991. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta. Jakarta.
Young, A. 1989. Agroforestry for Soil Management. Second edition. CABI. ICRAF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar