SUMBANGAN DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH
PADA PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI DESA JAKE KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
Nofrizon, Deno Okalia,
dan Marlinda Suri
Program Studi Agroteknologi Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake
Teluk Kuantan, Riau
ABSTRACT
Purpose
of this study is to determine how many donations and litter decomposition rates
in smallholder rubber plantations. Collection data is done by selecting two
plots measuring 20 mx 20 m area of jungle rubber Jake Village Middle District
of Kuantan, Kuantan Singingi.
Plots
were selected based on the time of planting rubber planting plot 1 had <5 years
(the immature crops or TBM) and the yield (already can be tapped or TM) at
age> 5 years. Each
plot was selected three observation points dropping litter were randomly
selected
(purposive random sampling) are
considered to represent the ecosystem condition called sub-plots. From the research it
can be concluded that the production of litter on immature rubber plantations
(TBM) is higher than the rubber plantations has resulted (TM), the TBM
production in February as much as 43.91 g / m² and TM as much as 29.27 g / m²,
March TBM as 64.97 gr / m² and TM as much as 41.28 g / m². However, in April of
litter production TBM results showed a decrease in which 41.06 g / m² and TM
showed stable results that 41.43 g / m². The rate of litter decomposition at
the end of the study week 12 in the TBM was 31.81% and 26.84% for TM.
Keywords:
Rubber, Litter, Production, Decomposition.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan Negara dengan perkebunan
karet terbesar di dunia, meskipun tanaman karet sendiri baru diintroduksi pada
tahun 1864. Dalam kurun waktu sekitar 150 tahun sejak dikembangkan pertama
kalinya, luas areal perkebunan karet di Indonesia telah mencapai 3.262.291
hektar (Didit, 2008).
Menurut data dari Dinas Perkebunan Kabupaten
Kuantan Singingi, kecamatan Kuantan Tengah adalah salah satu daerah yang
memiliki wilayah perkebunan karet terluas yaitu dengan luas 5.539,40 Ha (TBM)
dan 5.983,22 Ha (TM) (Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi, 2012).
Tanaman karet memiliki sifat gugur daun
sebagai respon tanaman pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan
(kekurangan air/kemarau). Daun ini akan tumbuh kembali pada awal musim hujan.
yang mempengaruhi jatuhan serasah baik dalam jumlah maupun kualitasnya, yaitu
keadaan lingkungan (iklim, ketinggian, kesuburan tanah), jenis tanaman (hutan
alam dan hutan buatan) dan waktu (musim dan umur tegakan). Guguran daun
(serasah) yang berada di lantai kebun akan memberikan sumbangan bahan organik,
serasah tersebut akan mengalami dekomposisi sehingga menghasilkan unsur hara yang
berperan dalam mempertahankan kesuburan tanah.
Tanaman memberikan masukan bahan organik
melalui daun-daun, cabang dan rantingnya yang gugur, dan juga melalui
akar-akarnya yang telah mati. Serasah yang jatuh di permukaan tanah dapat
melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan dan mengurangi penguapan.
Tinggi rendahnya peranan serasah ini ditentukan oleh kualitas bahan oraganik
tersebut. Semakin rendah kualitas bahan, semakin lama bahan tersebut dilapuk,
sehingga terjadi akumulasi serasah yang cukup tebal pada permukaan tanah.
Bertanam tanaman secara monokultur dengan
jenis tanaman yang sama tentu juga akan berpengaruh terhadap hara yang ada di
dalam tanah seperti pada perkebunan karet ini. Tanaman karet sering
menggugurkan daun sehingga jatuh ke permukaan tanah dan dapat menjadi bahan
organik bagi tanah. Hal ini didukung oleh penelitian sebelumnya oleh Susep
(2012) tentang hasil analisis C-organik tanah akibat alih fungsi lahan hutan
menjadi perkebunan sawit dan karet. Berdasarkan hasil penelitian tersebut
ternyata persentase bahan organik tanah yang ditanami karet lebih tinggi dari
pada lahan yang ditanami sawit yaitu 4,78 %.
Bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah
mengandung karbon yang tinggi. Pengaturan jumlah karbon di dalam tanah
meningkatkan produktivitas tanaman dan keberlanjutan umur tanaman karena dapat
meningkatkan kesuburan tanah dan penggunaan hara secara efisien. Selain itu
juga perlu diperhatikan bahwa ketersediaan hara bagi tanaman tergantung pada
tipe bahan yang termineralisasi dan hubungan antara karbon dan nutrisi lain
(misalnya rasio antara C/N, C/P, dan C/S) (Delgado dan Follet, 2002).
Berapa sumbangan bahan organik dari tanaman
karet dalam bentuk serasah pada perkebunan karet ini sangat menarik untuk
diteliti dan berapa laju dekomposisi serasah belum diketahui. Berdasarkan
berdasarkan pemikiran di atas maka penulis telah melakukan penelitian dengan
judul “Sumbangan dan Laju Dekomposisi Serasah Pada Perkebunan Karet Rakyat di
Desa Jake Kabupaten Kuantan Singingi”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
berapa jumlah sumbangan dan laju dekomposisi serasah pada perkebunan karet
rakyat di Desa Jake Kabupaten Kuantan Singingi.
BAHAN
DAN METODE
Waktu
dan Tempat
Penelitian ini telah
dilakukan pada bulan Februari 2014 sampai April 2014, dengan lokasi penelitian
pada tegakan karet di perkebunan rakyat Desa Jake kilometer 8 Kecamatan Kuantan
Tengah Kabupaten Kuantan Singingi dan laboratorium Fakultas Pertanian UNIKS.
Alat
Dan Bahan
Alat yang akan digunakan
dalam penelitian ini antara lain adalah litertrap ukuran 1 m x 1 m x 0,5 m,
literbag ukuran 25 cm x 20 cm, jarum, benang, bambu, paku, tali rafia, patok
kayu, golok, kantong plastik, meteran, timbangan analitik digital, amplop,
pisau, dirigen 5 liter, corong, kelereng, gelas ukur, oven, dan alat tulis.
Sedangkan bahan utama yang
digunakan dalam penelitian ini adalah serasah dari kawasan perkebunan karet
rakyat Desa Jake Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi.
Jenis
Data
Data yang digunakan pada
penelitian ini terdiri dari dua data yaitu data primer dan data sekunder. Data
primer merupakan data yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan,
terdiri dari data produktivitas serasah, data berat sisa serasah, dan data
curah hujan. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini berupa peta
penggunaan lahan dari badan pertanahan Kabupaten Kuantan Singingi dan data
curah hujan dinas tanaman pangan Kuantan Singingi.
Metode
Penelitian
Pengumpulan data dilapangan
dilakukan dengan membuat dua plot berukuran 20 m x 20 m dikawasan kebun karet
rakyat di Desa Jake Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi. Plot dipilih berdasarkan
masa tanam karet yaitu plot 1 memiliki masa tanam < 5 tahun (masa tanam
belum menghasilkan atau TBM) dan masa menghasilkan (sudah dapat disadap atau
TM) pada umur > 5 tahun. Setiap plot dipilih 3 titik pengamatan jatuhan
serasah secara acak terpilih (purposive
random sampling) yang dianggap mewakili kondisi ekosistem yang disebut sub
plot.
Produktivitas serasah diambil dengan
menggunakan alat berupa litter trap, yang menampung serasah yang jatuh dari
tegakan pohon karet. Tahapan pelaksanaan pengukuran produktivitas serasah
adalah sebagai berikut :
a.
Litter
trap dibuat dari jaring berbentuk bujur sangkar berukuran 1 m x 1 m, yang
direkatkan pada bambu dengan menggunakan paku. Litter trap dipasang pada
ketinggian 100 cm dari tanah. Jumlah litter trap yang dipasang pada
masing-masing plot adalah 3 buah (sub plot).
b.
Serasah
yang jatuh dan tertampung dalam jaring diamati setiap minggu dengan dipisahkan
antara daun, cabang/ranting, bunga/buah, yg bertujuan untuk mengetahui
perbandingannya. Pengambilan serasah dilakukan setiap 2 minggu sekali selama 12
minggu.
c.
Serasah
tersebut selanjutnya ditimbang berat basahnya (Wb). Kemudian (BBc) dimasukkan
kedalam kantong kertas HVS (amplop) untuk dikeringkan/diovenkan dengan suhu 60º
C selama 2 x 24 jam atau hingga beratnya konstan, kemudian ditimbang berat
keringnya (BKc) dengan maksud untuk mengetahui potensi input bahan organik
kering pada tegakan pohon karet. Hasil pengukuranberat basah dan berat kering
dinyatakan dalam g/m², kemudian dikonversi menjadi satuan Kg/ha.
Laju
produksi serasah dihitung dengan rumus menurut Soerianegara (1964) :
Xj
=
gram/m²
Dimana Xj adalah rata-rata produksi serasah
setiap ulangan pada periode waktu tertentu, Xi adalah produksi serasah setiap
ulangan pada periode waktu tertentu dan n adalah jumlah unit perangkap serasah
yang digunakan.
Dekomposisi serasah diduga dengan menghitung
berat sisa serasah pada tiap sub plot yang berbeda sekali 2 minggu dengan
menggunakan metode litterbag (Ribeiro
et al., 2002) langkah pelaksanaan pengukurannya adalah :
1.
Serasah
yang sudah dikering anginkan dimasukkan kedalam kantong jaring (litterbag) berukuran 25 cm x 20 cm
sebanyak 10 gram perberat kering litterbag.
2.
Kemudian
kantong jaring (litterbag)
ditempatkan pada lantai kebun yang diikatkan pada patok kayu (hal ini
dimaksudkan agar terjadi proses dekomposisi sealami mungkin) pada masing-masing
sub plot dimana serasah tersebut tadi diambil (Moore et al., 1984). Jumlah litterbag masing-masing sub plot ada 6 (sesuai dengan lama dekomposisi yaitu
12 minggu). Berarti jumlah sampel per sub plot selama penelitian adalah 6
kantong jaring, jadi total sampel selama penelitian adalah 6 x 6 = 36 kantong
jaring.
3.
Setiap
2 minggu sekali diambil satu sampel kantong jaring (litterbag) dari setiap sub plot. Pengambilan kantong serasah
dilakukan selama 12 minggu. Litterbag
dibersihkan dengan hati-hati untuk membersihkan tanah dan bahan-bahan lain yang
menempel di litterbag (Anderson dan Ingram, 1989 cit Harmita, 2011).
4.
Sisa
biomasa serasah setelah dekomposisi tersebut dipindahkan dari litterbag ke
amplop kertas, kemudian dioven pada suhu 60º C selama 48 jam atau sampai berat
tetap dan ditimbang berat kering yang tersisa (%).
5.
Selisih
berat antara berat kering awal dan berat kering akhir merupakan bagian serasah
yang mengalami dekomposisi.
6.
Berkurangnya
berat serasah dihitung dengan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh Guo dan
Sims (1999) dan (2001) :
7.
L (%) = 100
Keterangan
: L
= hilangnya berat serasah,
Wo = berat serasah sebelum penelitian dimulai,
(berat sampel awal).
Wt = berat kering serasah yang tertinggal setelah
waktu t time.
Pengukuran Curah Hujan Selama Penelitian (mm)
Pengukuran curah hujan pada lokasi penelitian
dilakukan secara manual untuk menentukan curah hujan spesifik selama
penelitian. Pelaksanaan pengukuran curah hujan adalah sebagai berikut :
1.
Letakkan
dirigen penampung curah hujan ukuran 5 liter pada kawasan terbuka didekat
lokasi penelitian.
2.
Pada
mulut dirigen diletakkan corong penampung curah hujan yang diberi kelereng agar
siang hari evaporasi dapat dikurangi.
3.
Curah
hujan diukur setiap kejadian hujan dengan cara mengukur volume air yang
tertampung per luas penampung dengan rumus :
Curah
hujan (mm) = 
Keterangan : volume curah hujan (ml) setara dengan cm³,
Luas penampung = cm²,
Curah hujan (mm) didapat dari konversi cm ke mm.
Pengolahan Data
Seluruh data dari masing-masing pengamatan
dirata-ratakan dan dibandingkan antara tanaman belum menghasilkan dan tanaman
menghasilkan. Kemudian dibuat grafik pengaruh curah hujan terhadap produksi dan
laju dekomposisi serasah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Curah Hujan Selama Penelitian
Berdasarkan hasil pengukuran curah hujan
selama 3 bulan penelitian ( 4) yang
dilakukan di Desa Jake didapatkan bahwa curah hujan tertinggi terjadi pada
bulan April dengan curah hujan 168.37 mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah
terjadi pada bulan Februari 56.66 mm/bulan. Data rata-rata curah hujan bulanan
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata
curah hujan bulanan pada bulan Februari-April 2014
|
Bulan
|
Curah
hujan (mm/bulan)
|
|
|
Februari
|
56.66
|
|
|
Maret
|
67.77
|
|
|
April
|
168.37
|
Berdasarkan data pada Tabel 1 dapat dilihat
bahwa jumlah curah hujan rata-rata pada bulan Februari adalah 56.66 mm/bulan
dan bulan Maret dengan dengan curah hujannya 67.77 mm/bulan, bulan tersebut
termasuk bulan kering. Sejalan dengan yang dikatakan oleh Schmidt dan
Fergusson
(1951) bulan kering (BK), yaitu curah
hujan yang sampai ke permukaan bumi kurang dari 100 mm; dan bulan basah (BB),
adalah curah hujan yang sampai kepermukaan bumi lebih dari 100 mm. Sedangkan pada bulan
April curah hujan rata-rata 168.37 mm/bulan dan termasuk dalam kriteria bulan
basah. Jika dikalkulasikan maka curah hujan bulanan pada bulan April lebih
tinggi sekitar 111.71 mm dari bulan Februari dan 100.60 mm dari bulan Maret.
Data curah hujan ini sangat erat kaitannya dengan sumbangan atau produksi bahan
organik (serasah) dan proses dekomposisi serasah tersebut pada penelitian ini.
Hal ini didasarkan pada sifat fisiologi tanaman karet menggugurkan daun pada
musim kemarau.
Produksi serasah pada perkebunan karet
Berdasarkan hasil pengukuran produksi serasah
karet di TBM dan TM selama 3 bulan (Februari-April 2014) di desa Jake, terlihat
bahwa produksi serasah pada perkebunan karet belum menghasilkan (TBM) lebih
banyak dibandingkan dengan perkebunan karet telah menghasilkan (TM). Hasil
perbandingan rata-rata produksi serasah TBM dan TM dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perbandingan rata-rata produksi serasah TBM
dan TM selama 3 bulan (Februari-April 2014) di desa Jake.
|
Perkebunan
karet
|
Rata-rata
total produksi serasah per bulan (gr/m²)
|
||
|
Februari
|
Maret
|
April
|
|
|
TBM
|
43.91
|
64.97
|
41.06
|
|
TM
|
29.27
|
41.28
|
41.43
|
Ket : TBM
= Tanaman Belum Menghasilkan
TM =
Tanaman Menghasilkan
Pada
Tabel 2 terlihat total rata-rata produksi serasah tertinggi pada TBM terdapat
pada bulan Maret yaitu 64.97 gr/m² atau setara dengan 649.70 kg/ha dan terendah
terdapat pada bulan April dengan produksi serasah 41.06 gr/m² atau setara
dengan 410.60 kg/ha. Sedangkan pada TM produksi serasah tertinggi terdapat pada
bulan April yaitu 41.43 atau setara
414.30 kg/ha dan terendah terdapat pada bulan Februari yaitu 29.27 gr/m² atau
setara 292.70 kg/ha.
Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa rata-rata
total produksi serasah karet pada 2 bulan pertama penelitian TBM lebih tinggi
dari TM. Pada bulan Februari produksi serasah pada TBM sebesar 43.91gr/m² yang
berarti lebih tinggi 14.64 gr/m² dari produksi serasah di TM. Kemudian pada
bulan Maret produksi serasah pada TBM sebesar 64.97 gr/m² yang berarti lebih
tinggi 23.69 gr/m² dari produksi serasah di TM. Sedangkan pada bulan April
rata-rata produksi serasah pada TM justru lebih tinggi dari TBM yaitu 41.06
gr/m², namun selisihnya hanya 0.37 gr/m².
Lebih tingginya produksi serasah TBM pada 2
bulan pertama penelitian disebabkan karna sifat fisiologi tanaman karet pada
TBM yang aktif tumbuh dan menghasilkan sel baru atau berada pada fase
vegetatif, karena tanaman masih berumur < 5 tahun. Pada fase vegetatif ini
tanaman aktif tumbuh dan membentuk sel-sel baru sehingga lebih sering
menggugurkan daun dan tumbuh menjadi daun baru. Menurut Suketi, 2010 bahwa fase vegetatif terutama terjadi pada perkembangan akar, daun
dan batang baru. Fase ini berhubungan dengan 3 proses penting : (1) pembelahan
sel, (2) pemanjangan sel, dan (3) tahap awal dari diferensiasi sel.
Secara umum produksi serasah yang berbeda
beda setiap bulannya dipengaruhi oleh iklim dan musim gugur.

Gambar 1. Grafik hubungan curah hujan dengan produksi
serasah selama penelitian di desa Jake.
Berdasarkan hasil pengukuran curah hujan
(Tabel 1) dan pengukuran produksi
serasah (Tabel 2), dapat dibuatkan suatu hubungan antara curah hujan dengan
produksi serasah seperti tersaji pada dan Gambar 1.
Pada Gambar 1 dibulan Februari dengan curah
hujan 56.66 mm/bln TBM menghasilkan serasah 43.91 gr/m², kemudian meningkat
menjadi 64.97 gr/m² pada bulan Maret dengan curah hujan 67.77 mm/bln. Produksi
serasah di TBM pada 2 bulan diawal penelitian ini lebih tinggi sekitar 2.85
gr/m² - 23.91 gr/m² (setara 28.50 kg/ha – 239.10 kg/ha) dibandingkan produksi
serasah dibulan April. Produksi serasah pada TM sedikit berbeda dengan TBM,
produksi serasah tertinggi terdapat pada bulan April dengan curah hujan 168.37
mm/bln yaitu 41.43 gr/m² diikuti pada bulan Maret dengan curah hujan 67.77
mm/bln yaitu 41.28 gr/m². Hanya terdapat perbedaan selisih produksi serasah
sebesar 0.15 gr/m² pada bulan Maret dengan April, sedangkan produksi serasah
terendah pada bulan Februari sebesar 29.27 gr/m².
Dekomposisi Serasah
Persentase laju dekomposisi pada minggu ke 2
sampai minggu ke 10 pada TM lebih tinggi dibandingkan TBM Perbandingan laju dekomposisi serasah pada
TBM dan TM tanaman karet disajikan pada Tabel 3. Hal ini disebabkan karena TM
memiliki umur tanam lebih lama sehingga pada lantai kebun karet TM sudah banyak
serasah yang terlebih dahulu telah terdekomposisi sebelumnya sehingga banyak
terkandung mikroorganism seperti bakteri dan fungi. Mikroorganisme merupakan
agen yang mempercepat dekomposisi bahan organik, semakin banyak mikroorganisme
maka semakin cepat dekomposisi terjadi. Selain itu juga ada pengaruh bahan
organik. Bahan organik adalah sumber makanan bagi organisme, sehingga pada
lahan yang banyak bahan organik akan banyak terdapat mikroorganisme.
Tabel 3. Perbandingan laju dekomposisi serasah pada
TBM dan TM selama 3 bulan (Februari-April 2014) di desa Jake.
|
Bulan
|
Lama
dekomposisi minggu ke-
|
Persentase
laju dekomposisi serasah karet
|
||
|
TBM
(%)
|
TM
(%)
|
|||
|
Februari
|
2
|
5.63
|
6.33
|
|
|
4
|
11.46
|
20.47
|
||
|
Maret
|
6
|
16.54
|
22.95
|
|
|
8
|
19.82
|
24.72
|
||
|
April
|
10
|
22.11
|
26.40
|
|
|
12
|
31.81
|
26.84
|
||
Ket
: TBM =
Tanaman Belum Menghasilkan
TM = Tanaman Menghasilkan
Pada
Tabel 3 terlihat bahwa di TBM pada akhir penelitian di bulan April (minggu ke
12) mengalami peningkatan dekomposisi dengan persentase 31.81 %. Sebaliknya
pada TM yang pada awalnya persentase dekomposisi bulan pertama selalu lebih
tinggi di banding TBM, tetapi pada minggu ke 12 bulan April lebih rendah hanya
26.84 %. Hal ini disebabkan suatu proses
yang dinamis dekomposisi memiliki kecepatan yang mungkin berbeda dari waktu ke
waktu tegantung faktor- faktor yang mempengaruhinya, seperti faktor iklim
terutama pengaruh dari curah hujan, kelembaban dan temperatur.
Faktor-faktor tersebut umumnya adalah faktor
lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dekomposer, disamping faktor bahan
yang akan didekomposisi. Laju dekomposisi umumnya diukur secara tidak langsung
melalui pendugaan konsumsi oksigen atau perubahan karbondioksida (Co2) atau
dapat pula diduga melalui kehilangan berat atau pengurangan konsentrasi tiap
waktu (Sunarto, 2004).
Menurut Sunarto (2004) bahwa faktor utama
yang sangat berpengaruh terhadap proses dekomposisi antara lain oksigen, bahan
organik dan bakteri sebagai agen utama dekomposisi. Namun pada 2 minggu
terakhir terjadi penurunan dekomposisi pada TM hal ini disebabkan karena curah
hujan yang terlalu tinggi. Dengan kondisi di TM yang banyak vegetasi dan rapat
sehingga tidak dimasuki oleh cahaya matahari menyebabkan kelebihan air dan
kekurangan oksigen sehingga dekomposisi terhambat. Oksigen merupakan unsur
penting dalam proses dekomposisi, karena dengan adanya oksigen maka proses
pembakaran secara kimiawi berjalan cepat.
Penelitian ini menunjukan bahwa laju
dekomposisi merupakan hal yang komplek dipengaruhi oleh banyak faktor baik
faktor lingkungan (curah hujan) maupunkondisi bahan organiknya itu sendiri.
Dapat dikatakan pula bahwa dekomposisi merupakan fungsi dari faktor lingkungan
dan bahan organik. Dekomposisi serasah adalah perubahan secara fisik maupun
kimiawi yang sederhana oleh mikroorganisme tanah (bakteri, fungi, dan hewan
tanah lainnya) atau sering disebut juga mineralisasi yaitu proses penghancuran
bahan organik yang berasal dari hewan dan tanaman menjadi senyawa-senyawa
anorganik sederhana (Sutedjo, Kartasapoetra dan Sastroatmodjo, 1991).
Dekomposisi
terbentuk melalui suatu proses fisika dan kimia yang mereduksi secara kimia
bahan organik yang telah mati pada vegetasi dan binatang. Dekomposisi bahan
organik hutan mempunyai dua tahap proses. Yang pertama, ukuran partikel yang
besar, dipecah ke dalam bentuk yang lebih kecil yang dapat direduksi secara
kimia. Yang kedua, biasanya sampai aktifitas organisme spesies kecil ini dari
bahan organik direduksi dan dimineralisasi untuk melepaskan unsur dasar dari
protein, karbohidrad, lipid dan mineral yang dapat dikonsumsi, diserap oleh
tanaman (Golley, 1983). Pengaruh curah hujan terhadap dekomposisi tersebut
digambarkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik hubungan curah hujan dengan dekomposisi
serasah selama penelitian di Desa Jake
Pada Gambar 2 terlihat jelas bahwa semakin
tinggi curah hujan maka peningkatan laju dekomposisi semakin lambat, juga
terdapat perpotongan garis dekomposisi TBM dan TM. Pada TM laju dekomposisi
menurun memotong garis grafik TBM sewaktu meningkatnya curah hujan. Terlihat
jelas pada TBM curah hujan terendah 56.66 mm/bulan diminggu ke 2 dan ke 4
penelitian atau bulan Februari, laju dekomposisi serasah meningkat dari minggu
ke 2 di TBM yaitu 5.63 % menjadi 11.46 % terdapat peningkatan sekitar 5.83 %,
kemudian pada bulan Maret atau minggu ke 6 dan ke 8 penelitian dengan curah
hujan 67.77 mm/bulan laju dekomposisi serasah meningkat dari minggu ke 6 yaitu
16.54 % menjadi 19.82 % dengan peningkatan sebesar 3.28 %, selanjutnya pada
bulan April tepatnya minggu ke 10 dan 12 penelitian dengan curah hujan tinggi
168.37 mm/bulan dekomposisi serasah meningkat yaitu 22.11 % menjadi 31.81 % terdapat
peningkatan yang besar sekitar 9.70 %.
Pada Gambar 2 terlihat jelas pada TM dengan
curah hujan terendah 56.66 mm/bulan diminggu ke 2 dan ke 4 penelitian atau
bulan Februari, laju dekomposisi serasah meningkat dari minggu ke 2 yaitu 6.33
% menjadi 20.47 % terdapat peningkatan yang besar sekitar 14.14 %, kemudian
pada bulan Maret atau minggu ke 6 dan ke 8 penelitian dengan curah hujan 67.77
mm/bulan laju dekomposisi serasah meningkat dari minggu ke 6 yaitu 22.95 %
menjadi 24.72 % dengan peningkatan sebesar 1.77 %, namun pada bulan April
tepatnya minggu ke 10 dan 12 penelitian dengan curah hujan tinggi 168.37
mm/bulan dekomposisi serasah meningkat yaitu 26.40 % menjadi 26.84 % namun
hanya selisih 0.44 %.
KESIMPULAN
1. Produksi serasah pada perkebunan karet belum
menghasilkan (TBM) lebih tinggi dibandingkan dengan perkebunan karet telah
menghasilkan (TM), yakni bulan Februari produksi TBM sebanyak 43.91 gr/m² dan
TM sebanyak 29.27 gr/m², bulan Maret TBM sebanyak 64.97 gr/m² dan TM sebanyak
41.28 gr/m². Namun pada bulan April produksi serasah TBM menunjukkan penurunan
hasil yakni 41.06 gr/m² dan TM menunjukkan hasil yang stabil yakni 41.43 gr/m².
2. Laju dekomposisi serasah pada akhir penelitian
minggu ke 12 di TBM sebesar 31.81 % dan TM sebesar 26.84 %.
SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
disarankan melakukan analisis hara yang terkandung dalam serasah, agar dapat
memprediksi sumbangan hara dari bahan organik (serasah) dan penggunaan pupuk
pada tanaman. Serta melakukan penelitian lanjutan dalam waktu yang lebih lama
dibandingkan penelitian sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad,
S. 2000. Konservasi Tanah dan Air.Fakultas
IPB Bogor.
Brady, N. C. 1990.
The Nature and Properties of Soil. 10th ed. MacMillan Publishing Co. New York.
Budiman,
Harianto. 2012. Budidaya Karet Unggul.
Pustaka Baru Press.Yokyakarta.
Delgado, J. A. and R.
F. Follett. 2002. Carbon and Nutrient Cycles. J. Soil and Water Conserv. Vol
57 no. 6: 455-464.
Dinas Perkebunan
Kabupaten Kuantan Singingi, 2012
Gardner, F.P., R.B. Pearce and R.L.
Mitchell. 1985. Physiology of Crop Plants. Lowa State University Press.Iowa.
p.271-318.
Golley, F. B. 1983.
Tropical Rain Forest Ecosystem, Structure and Function. Elsevier Scientific
Publishing Company. New York. (Terjemahan).
Halidah. 2000. Produksi
dan Kecepatan Penguraian Serasah Rhizophora spp. dan B. gymnorrhiza di
Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. Prosiding Ekspose Hasil Penelitian Kehutanan.
Makasar, 22 November 2000. Balai Penelitian Kehutanan Ujung Pandang.
Hardjowigeno,
S. 2007. Ilmu Tanah. Akademika
Presindo. Jakarta.
Heru,
didit setiawan dan Andoko, Agus. 2008. Petunjuk
Lengkap Budidaya Karet. Agromedia pustaka. Jakarta.
Humphries,E.C. and A.W. Whheeler.
1963. Ann. Rev. Plants Physiol. 14 :385-410.
Mindawati, N. dan
Pratiwi. 2008. Kajian penetapan daur optimal hutan tanaman Acacia mangium
ditinjau dari kesuburan tanah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol.V.No.2 ; P.
109-118.
Nazaruddin dan F.B.
Paimin. 2006. Karet. PT Penebar Swadaya, Jakarta.
Nugroho, P.A. &
Istianto. 2009. Zero burning dalam penyiapan lahan untuk perkebunan karet di
sumatera utara Dalam A.D.
Pleguezuelo, C.R.R.,
V.H.D. Zuazo, J.L.M. Fernandes, F.J.M. Peinado & D.F. Tarifa. 2009. Litter
decomposition and nitrogen release in a sloping Mediterranean subtropical
agroecosystem on the coast of Granada (SE, Spain): Effect of floristic and
topographic alteration on the slope. Agriculture, Ecosystem and Environment 134:
79-88.
Schmidt FH., Ferguson JHA. 1951. Rainfall
type based on wet and dry period ratio for Indonesia with Western New Gurinea
Setiawan, 2000. Usaha
Pembudidayaan Karet.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Soenardjo,
N. 1999. Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove dan Hubungannya dengan
Struktur Komunitas Mangrove di Kaliuntu Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Tesis.
Ilmu Kelautan.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.
Suketi. K. 2010. Perimbangan dan
Pengendalian Fase Pertumbuhan(Vegetatif – Reproduktif. Fak. Pertanian IPB.
Sulistiyanto, Y.,
J.O. Rieley & S.H. Limin. 2005. Laju dekomposisi dan pelepasan hara dari
serasah pada dua sub-tipe hutan rawa gambut di kalimantan tengah. Jurnal
Manajemen Hutan Tropica 11(2): 1-14.
Sunarto. 2004. Peranan
Dekomposisi dalam proses Produksi pada Ekosistem Laut. http://rudyct.topcities.com/pps702_71034/sunarto.htm.
[26 Oktober 2013].
Susep, 2012. Pengaruh Alih Fungsi Lahan Hutan Terhadap
Kandungan Bahan Organic Dan Nitrogen (N) Tanah. Skripsi Strata 1 Sekolah
Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa. Teluk Kuantan. Riau.
Sutedjo MM,
Kartasapoetra AG, Sastroatmodjo S. 1991. Mikrobiologi Tanah. Rineka
Cipta. Jakarta.
Young, A. 1989.
Agroforestry for Soil Management. Second edition. CABI. ICRAF
Tidak ada komentar:
Posting Komentar