DAN PUPUK SP-36TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN PRODUKSI
JAGUNG MANIS (Zea mays saccarata Sturt)
Edwin Saputra, Heni
Rosneti, dan Mashadi
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Islam Kuantan Singingi. Teluk Kuantan Riau. Jl. Gatot Subroto KM 7
Jake 29562, E-mail : edwinsaputra14@yahoo.com
ABSTRACT
This
research aims to determine the Effect of Oil Palm Solid Waste (Sludge) and
SP-36 Fertilizer on growth and production of Sweet Corn (Zea
mays saccarata Sturt). The design used in
this research was a randomized block design (RBD) factorial consisting of two
factors, namely factor D (sludge) consists of 4 levels: D0 (control), D1 (1.5
kg / plot), D2 (3 kg / plot), D3 (4.5 kg / plot). Factor S (SP-36
fertilizer) consists of 4 levels: S 0 (control), S1 (giving 3 g / plant), S2
(giving 6 g / plant), S3 (giving 9 g / plant). The results showed
that sludge treatment singly significant effect on all parameters observed. The best treatment is
observation D3 for plant height (197.23 cm) , age show of sprout (54.58 days),
ear length (20.09 cm) and weight of cob (205.43 grams) Treatment of SP-36
singly significantly affect high observation plants with the best treatment S3
(143.46 cm), days to flowering (56.00 days), and the weight of cob (205.35
grams). Then
the interaction of the sludge and SP-36 had no significant effect on all
parameters observed.
Keywords: sweet
corn, sludge, SP-36
PENDAHULUAN
Sektor pertanian dalam tatanan pembangunan nasional
memegang peranan penting, karena dapat menyediakan pangan bagi seluruh penduduk
dan penyumbang devisa dari sektor nonmigas. Dimasa mendatang pembangunan sektor
pertanian tidak terlepas dari pengaruh globalisasi perdagangan bebas, maka
orientasi pembangunan khususnya sektor pertanian lebih diarahkan pada
pengembangan agronomi dan agribinis. Salah satu komoditi pertanian yang
memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan adalah jagung. Jenis
jagung yang dibudidayakan di Indonesia adalah jagung biasa dan jagung manis.
Berdasarkan Data Dinas tanaman Pangan
Kabupaten Kuantan Singingi (2012) produksi jagun g mengalami fluktuasi, pada
tahun 2010 produksi jagung mencapai 445,43 ton, kemudian pada tahun 2011
produksi jagung hanya mencapai 435,13 ton, dan mengalami peningkatan produksi pada tahun 2012, dimana produksi
Jagung mencapai 524,83 ton.
Berfluktuasinya produksi tanaman jagung manis
di Kabupaten Kuantan Singingi disebabkan oleh teknologi budidaya yang masih
rendah, tidak menggunakan varietas unggul, pengendalian hama dan penyakit yang
kurang intensif serta rendahnya tingkat kesuburan tanah serta pemakaian pupuk
yang tidak berimbang. Berdasarkan permasalahan ini maka, peningkatan produksi
jagung manis perlu dilakukan. Salah satu upaya yang dapat dilaksanakan adalah
peningkatan kesuburan tanah melalui pemupukan, pupuk yang digunakan dapat
berupa pupuk organik dan anorganik.
Pupuk organik dapat berupa kotoran hewan dan
limbah pertanian, contoh limbah pertanian adalah limbah pabrik kelapa sawit. Menurut Lubis dan
Naibaho (1994), dalam industri pengolahan sawit untuk mendapatkan 1 ton minyak
kelapa sawit akan dihasilkan 2,5 ton limbah industri, dari keterangan ini dapat
disimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan oleh pabrik lebih besar dari pada
hasil olahan itu sendiri. Tampubolon (1980) dalam Dwiatmini, Sutater dan
Goenadi (1996), mengatakan bahwa dengan mengolah atau mendaur ulang limbah
lebih menguntungkan karena limbah yang telah didaur ulang secara sederhana
dapat diolah menjadi pupuk organik, hal ini dipandang efektif dan efisien
karena banyak memberikan keuntungan dan mempunyai nilai ekonomis.
Dari hasil analisis kandungan limbah sawit
ini sludge mengandung unsur hara antara lain : Nitrogen (N), Fospor (P), Kalium
(K), Magnesium (Mg) dan Kalsium. Penggunaan limbah sawit berupa sludge ini
dapat menggantikan kebutuhan pupuk organik yang berasal dari kotoran
hewan.Menurut Abdi (2000), pemanfaatan limbah sawit berupa sludge ini dapat
meningkatkan hasil tanaman jagung dan tomat.Sedangkan menurut Tarigan (1991).
Mengatakan bahwa dari hasil analisis didalam sludge kelapa sawit banyak
terkandung unsur hara N = 0,49-2,1%, P205 = 0,26-0,46%, K20 = 1,3 % dan Mg =
0,64%.
Gumbira (1996) menambahkan, pemanfaatan
sludge kelapa sawit berguna sebagai substrat dan sumber energi untuk
pertumbuhan mikroorganisme.Silalahi
(1996), Pada tanaman jagung pemberian limbah sawit berupa sludge dapat
meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produksi, karena limbah berfungsi sebagai
bahan organik dapat memasok sebagian unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Cara
pemberian yang sederhana untuk dapat memanfaatkan sludge kelapa sawit agar
tidak mengganggu lingkungan adalah dengan membenamkannya kedalam tanah sebagai
masukan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah
(Silalahi, 1996).
Tarigan (1991) mengatakan bahwa dengan
pemberian sludge kelapa sawit sebanyak 20 ton / hektar pada tanaman kubis bulat
dapat meningkatkan produksi, hal ini mampu menyamai dengan pemberian sebanyak
30 ton pupuk kandang pada tanaman yang sama. Silalahi (1996), mengatakan bahwa
dengan pemberian sludge kelapa sawit sebanyak 20 ton / hektar akan dapat
memberikan hasil yang lebih pada tanaman ercis dibandingkan dengan penggunaan
pupuk kandang hewan pada dosis tanaman yang sama.
Pupuk
SP-36 merupakan hasil reaksi antara asam sulfat dan batuan fosfat dengan kadar
36% P2O5 serta P larut dalam air. Efektivitas yang tinggi
dari pupuk fospat sangat dipengaruhi oleh ukuran butir, cara dan waktu
pemberian. Pupuk fospat yang larut dalam air seperti SP-36 lebih respon bila
pupuk tersebut di berikan secara larikan terutama pada tanah-tanah yang miskin
akan fospor. Oleh karena itu pemberian dengan cara lubang dan jalur merupakan
salah satu cara yang tertingi. Pupuk fospat (SP-36) sangat dianjurkan sebagai
pupuk dasar yaitu diberikan pada saat tanam. Hal ini disebabkan karena pupuk
SP-36 yang unsurnya tidak cepat atau segera tersedia dan sangat dibutuhkan pada
stadia permulaan tumbuh. Keuntungan pemberian pupuk seawal mungkin dalam
pertumbuhan tanaman akan mendorong pertumbuhan akar permulaan, sehingga daya
serap unsur hara tanaman akan lebih baik, (Setyamidjaja, Hakim dan Sarif,
1986).
Pemberian
pupuk SP-36 dilakukan dengan cara ditugal sedalam kira-kira 8 cm di samping
pangkal tanaman dan ditutup dengan tanah.Anjuran umum dosis pupuk SP-36 bagi
tanaman jagung adalah 150 kg/ha atau 5
gram/tanaman (Dinas Tanaman Pangan Sumatra Barat, 2012).sedangkan menurut Balai Penelitian Buah Tropika Solok tahun 2011
optimalnya pemberian pupuk SP-36 pada tanaman Jagung adalah 200 kg/ha.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
sludge dan pupuk SP-36 terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis (Zea
mays saccarata Sturt) baik secara tunggal maupun secara interaksi.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan
Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Kenun
Kolektif Kelompok Wanita Tunas Muda Harapan Tani Desa Tanah Bekali Kecamatan
Pangean Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu penelitian selama 3 bulan terhitung
dari bulan Februari sampai bulan April
2014.
Bahan dan
Alat
Bahan
yang digunakan adalah benih Jagung
manis varietas Master sweet,
Limbah Padat Kelapa Sawit (Sludge) PT Citra Riau Sarana kolam III, SP-36, kayu,
triplek, Furadan 3G. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah cangkul, parang, gergaji, martil, meteran, ember, gembor dan alat-alat
tulis.
Metode
Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial yang terdiri dari 2
faktor yaitu : faktor D (Sludge) yang terdiri dari 4 taraf dan faktor S (pupuk
SP-36) dengan 4 taraf perlakuan.
Faktor
pertama adalah faktor D (sludge) dengan 4 taraf yaitu :
D0 : Tanpa PemberianSludge kelapa sawit (kontrol)
D1 : Pemberian 10 ton / ha = 1,5 kg/plot
D2 : Pemberian 20 ton / ha = 3 kg/plot
D3 : Pemberian 30 ton / ha = 4,5 kg/plot
Faktor
kedua adalah faktor S (pupuk SP-36) dengan 4 taraf yaitu :
S0 : Tanpa Pemberian SP-36
S1 : Pemberian 3 g / tanaman
S2 : Pemberian 6 g / tanaman
S3 : Pemberian 9 g / tanaman.
Dari hasil penelitian masing-masing perlakuan
dianalisis secara statistik, jika F hitung lebih besar dari F Tabel, maka
dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm).
Setelah dianalisis secara statistik dari
hasil sidik ragam terlihat bahwa secara tunggal pemberian Sludge dan pupuk
SP-36 memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, namun secara
interaksi pemberian Sludge dan pupuk SP-36 tidak memberikan pengaruh yanag
nyata terhadap tinggi tanaman. Data pengamatan terhadap tinggi tanaman dapat
dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.
Tabel 1 : Tinggi tanaman jagung manis dengan
perlakuan dosis Sludge dan pemberian
pupuk SP-36 (cm).
|
Faktor D
|
Faktor S
|
Rerata D
|
|||
|
S0
|
S1
|
S2
|
S3
|
||
|
D0
|
167.82
|
168.47
|
175.23
|
176.30
|
171.95b
|
|
D1
|
178.58
|
178.16
|
193.36
|
193.91
|
186.01a
|
|
D2
|
188.13
|
197.97
|
198.66
|
201.09
|
196.47a
|
|
D3
|
189.11
|
197.14
|
200.14
|
202.53
|
197.23a
|
|
Rerata S
|
180.91a
|
185.44a
|
191.85a
|
193.46a
|
|
|
KK =
6.20%
|
BNJ D
dan S = 12.91 %
|
|
|
||
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti
hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju
Lanjut BNJ.
Berdasarkan Tabel 1 diatas perlakuan secara
tunggal pemberian Sludge pada parameter tinggi tanaman memberikan pengaruh yang
nyata, tetapi setelah di uji lanjut menurut BNJ pada taraf 5% tidak mengalami
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, hasil yang tertinggi perlakuan D3
(197.23 cm) tidak berbeda nyata dengan D2, dan D1 dan berbeda nyata dengan D0,
hasil yang terendah terdapat pada perlakuan D0 (169.69cm), Berpengaruhnya
perlakuan sludge (D) karena diduga pemberian dosis yang seimbang pemberian
Sludge pada tanaman dapat diserap dengan baik oleh tanaman. Menurut Sutejo dan
Kartasapoetra(1988) bahwa pemberian bahan organik dapat meningkatkan aktifitas
jasad renik tanah dan memperbaiki daya serap tanah terhadap unsur hara yang
tersedia, karena struktur tanah menjadi gembur dan porositas tanah menjadi
meningkat sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara dengan baik.
Sludge (bahan organik) mengandung unsur
protein yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.Hal ini didukung oleh Sutejo (1994)
yang menyatakan bahwa protein merupakan unsur utama bagi pertumbuhan tanaman
yang pada umumnya diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian
vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar.Hal ini sejalan dengan
Setyamidjaja (1986) yang menyatakan bahwa unsur nitrogen berperan merangsang
pertumbuhan vegetatif yaitu menambah tinggi tanaman.
Perlakuan D0 adalah hasil yang terendah, hal
ini diduga karena tanaman tidak diberi pupuk atau kekurangan unsur hara akan
mendapatkan gejala pertumbuhan tanaman yang tidak normal, karena terjadinya
gangguan pada pembelahan sel-sel yang dapat menyebabkan terjadinya sel kerdil
pada tanaman (Hakim, 1986). Pendapat ini didukung oleh Sarif (1986)
mengemukakan bahwa bila unsur hara kurang mencukupi pada suatu tanaman, maka
pertumbuhan tanaman akan terhambat.
Begitu juga dengan pemberian SP36 secara
tunggal berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Hasil yang tertinggi
terdapat pada perlakuan S3 (193,46cm) tidak berbeda nyata dengan lainnya, namun
berbeda nyata dengan S0, dan pengamatan terendah terdapat pada perlakuan S0
(180.91 cm), berpengaruhnya perlakuan diduga karena unsur P mampu memberikan
pengaruh yang baik didalam perkembangan akar dan pemberian pupuk telah
terpenuhi sehingga unsur hara mampu diserap dengan baik oleh tanaman.
Rismunandar (1992) mengemukakan bahwa tanaman dapat tumbuh dengan sempurna bila
tersedianya unsur hara yang cukup.
Hardjowigeno (2007) menyatakan bahwa Phospor
berfungsi dalam merangsang pertumbuhan akar, pembentukan biji, dan bunga serta
buah.Phosphor yang terkandung dalam SP-36 sangat dibutuhkan sebagai sumber
energi dalam berbagai aktivitas metabolisme.Salah satu aktivitas metabolisme
tersebut adalah fotosintesis.Dengan fospor yang cukup, laju fotosintesis
menjadi lebih optimal sehingga asimilat yang dihasilkan sebagian dimanfaatkan
bagi pembentuk dan penyusun organ tanaman.
Salah satu pengaruh fospor dapat merangsang
pertumbuhan akar sehingga dapat meningkatkan resapan unsur hara terutama N,
sehingga pertumbuhan tanaman akan meningkat.
Walaupun secara tunggal pemberian sludge
maupun pemberian perlakuan pupuk SP-36 menunjukkan pengaruh yang nyata, namun
secara interaksi perlakuan sludge dan pupuk SP-36 tidak memberikan respon yang
nyata, hal ini diduga karena ketersediaan unsur hara yang terkandung didalam
tanah dan curah hujan yang tinggi sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman
jagung manis. Menurut Hakim, (1986) menyatakan bahwa proses fotosintesis yang
berjalan lancar pada tumbuhan akan menjamin perkembangan tumbuhan tersebut baik
vegetatif maupun generatif.
Umur Berbunga (hari).
Setelah dianalisis secara satistik dari hasil
sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian secara tunggal Sludge dan SP-36
menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap muncul bunga, namun secara interaksi
pemberian sludge dan pupuk SP-36 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
umur berbunga. Hasil pengamatan umur berbunga dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel
2. Umur berbunga tanaman jagung manis dengan perlakuan Sludge dan pemberian
SP-36 (hari).
|
Faktor D
|
Faktor S
|
Rerata D
|
|||
|
S0
|
S1
|
S2
|
S3
|
||
|
D0
|
58.77
|
58.55
|
58.33
|
58.22
|
58.47a
|
|
D1
|
58.66
|
58.66
|
57.22
|
58.00
|
57.64a
|
|
D2
|
57.89
|
57.89
|
57.55
|
55.11
|
57.11a
|
|
D3
|
58.33
|
55.45
|
52.78
|
52.66
|
54.58b
|
|
Rerata S
|
58.41a
|
56.91ab
|
56.47ab
|
56.00b
|
|
|
KK =
3,63%
|
BNJ D
dan S = 2,29 %
|
|
|
||
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti
hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju
Lanjut BNJ.
Dari Tabel 2 memperlihatkan bahwa perlakuan sludge menunjukkan pengaruh
yang nyata terhadap umur berbunga, pemberian perlakuan yang tercepat pada
perlakuan D3 (54,58 hari) dan tanaman yang lambat berbunga terdapat pada
perlakuan D0 (58,47 hari), perlakuan D0 tidak berpengaruh nyata dengan D1, D2,
dan berbeda nyata dengan D3.
Perlakuan D3 lebih cepat berbunga dari
perlakuan lainnya, hal ini disebabkan ketersediaan unsur hara yang cukup bagi
tanaman, oleh karena itu pemberian dosis yang tertinggi baru mampu memenuhi
kebutuhan unsur hara didalam tanah, sehingga dapat meransang pertumbuhan
tanaman termasuk saat muncul bunga. Ketersediaan unsur hara yang terkandung
didalam tanah dan curah hujan yang tinggi sangat mempengaruhi pertumbuhan
tanaman jagung manis. Menurut hakim (1986) menyatakan bahwa proses fotosintesis
yang berjalan lancar pada tumbuhan akan menjamin perkembangan tumbuhan tersebut
baik vegetatif maupun generatif. Kaswara (1986) menambahkan bahwa tanaman akan
tumbuh subur bila unsur hara yang tersedia dapat diserap tanaman sesuai tingkat
kebutuhan tanaman.
Pemberian sludge akan dapat mendorong dan
memacu pertumbuhan tanaman, baik itu pertumbuhan vegetatif maupun pertumbuhan
generatif tanaman. Pada proses pembungaan sludge yang diberikan pada tanaman
jagung manis bisa dimanfaatkan tanaman dengan sempurna untuk proses fisiologis
tanaman dalam proses pembungaan.
Syarief (1986) mengemukakan bahwa suatu
tanaman akan tumbuh baik apabila faktor lingkungan memungkinkan tanaman
tersebut dapat tumbuh dengan baik, dimana semakin baik faktor lingkungannya
semakin baik pula tanaman tersebut akan tumbuh. Dalam hal ini pemberian sludge
mampu merangsang kemampuan organ tanaman untuk penyerapan unsur hara lebih
banyak sehingga pertumbuhan vegetatif yang baik juga akan diikuti fase
generatif yang sempurna.
Berdasarkan Tabel 2 pemberian secara tunggal
perlakuan SP-36 jugamemberikan pengaruh nyata terhadap umur berbunga.
Pengamatan yang tertinggi terdapat pada perlakuan S3 (56,00 hari), dan yang
terendah terdapat pada perlakuan S0 (58,41 hari). Tidak berbeda nyata dengan
perlakuan S1, S2 dan berbeda nyata dengan S3. Hal ini disebabkan karena P berfungsi
merangsang terbentuknya bunga, buah dan biji. Kataren dan Djatmiko (1981),
mengatakan sebagaimana dijelaskan fungsi dari pupuk fospor (P) ini merupakan
salah satu unsur utama dan makro bagi pembungaan tanaman, yang pada umumnya
untuk memacu munculnya bunga dan mempengaruhi kualitas bunga.
Pemberian pupuk P yang diberikan pada dosis
yang sesuai mampu mempercepat masa berbunga, sebab perlakuan yang diberikan
dapat memberikan unsur hara yang seimbang bagi tanaman dan sumbangan unsur hara
tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman dengan baik sebab unsur hara yang
diberikan tersebut berada dalam keadaan yang cukup (Basroh, 1982).
Unsur posfor dalam tanaman berperan dalam
pembentukan protein, merangsang pembentukan akar, mempercepat dan memperkuat
pertumbuhan tanaman dan juga dapat mempercepat munculnya bunga serta
mempercepat masaknya buah dan biji. Lingga dan Marsono (2007) menyatakan bahwa
unsur P bagi tanaman berguna untuk memacu pertumbuhan akar tanaman yang masih
muda dan juga sebagai bahan baku pembentukan beberapa protein tertentu,
mendukung asimilisi pernapasan sekaligus mempercepat pembungaan, pemasakan buah
dan biji.
Berdasarkan Tabel 2, tidak terjadinya
perbedaan yang nyata interaksi sludge dan SP-36 diduga disebabkan karena
dipengaruhi oleh faktor genetik dan kesesuaian konsentrasi yang diberikan
dengan kebutuhan dan kemampuan tanaman jagung manis untuk menyerap unsur hara
bagi tanaman untukmerangsang tanaman untuk memasuki fase generatif yaitu berupa
umur berbunga, sehingga hasil penelitian yang berpengaruh nyata hanya terlihat
pada pengamatan perlakuan tunggal sludge dan SP-36 saja.
Walaupun secara
analisa sidik ragam tidak ada pengaruh nyata dari perlakuan, namun secara
angka-angka terlihat perbedaan umur berbunga baik itu secara interaksi maupun
secara tunggal, tapi perbedaan itu tidak signifikan. Bila tanaman tumbuh dengan
sempurna atau pertumbuhan vegetatifnya baik, akan mempercepat pembungaan bila
dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh tidak sempurna. Perbedaan umur berbunga
berhubungan dengan pupuk sludge yang diberikan, dimana perlakuan dosis 4,5
kg/plot lebih cepat berbunga bila dibandingkan dengan perlakuan lain.
Panjang Tongkol
Setelah dianalisis secara statistik dari
hasil sidik ragam menunjukkan pemberian Sludge secara tunggal berpengaruh nyata
terhadap panjang tongkol dan pemberian secara tunggal pupuk SP-36 tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tongkol, begitu juga secara
interaksi pengaruh pemberian Sludge dan pupuk SP-36 juga tidak memberikan
pengaruh nyata terhadap panjang tongkol. Data pengamatan panjang tongkol dapat
dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.
Tabel
3. Rerata Panjang Tongkol Jagung Manis Dengan Perlakuan Dosis Sludge dan SP-36.
|
Faktor D
|
Faktor S
|
Rerata D
|
|||
|
S0
|
S1
|
S2
|
S3
|
||
|
D0
|
16.77
|
17.26
|
17.44
|
17.16
|
17.16a
|
|
D1
|
18.40
|
18.69
|
18.95
|
20.64
|
19.17a
|
|
D2
|
16.91
|
19.43
|
20.70
|
20.21
|
19.31a
|
|
D3
|
18.63
|
20.72
|
20.19
|
20.83
|
20.09a
|
|
Rerata S
|
17.68
|
19.03
|
19.32
|
19.71
|
|
|
KK =
11.37%
|
BNJ
D =2.39 %
|
|
|
||
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti
hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju
Lanjut BNJ.
Berdasarkan
Tabel 3 perlakuan secara tunggal sludge menunjukkan pengaruh yang nyata
terhadap pengamatan panjang tongkol. Tetapi setelah di uji lanjut menurut uji
lanjut BNJ pada taraf 5% tidak mengalami perbedaan yang nyata. Adapun panjang
tongkol terbaik terdapat pada perlakuan D3 (20,09) tidak berbeda nyata dengan
perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan karena penggunaan limbah sawit berupa
sludge ini dapat menggantikan kebutuhan pupuk organik yang berasal dari kotoran
hewan yang dibutuhkan oleh tanaman. Menurut Abdi (2000), pemanfaatan limbah
sawit berupa sludge dapat meningkatkan hasil tanaman jagung dan tomat.
Pemberian bahan organik yang terkandung
didalam sludge berpengaruh besar terhadap sifat-sifat tanah. Daya mengikat
unsur kimia yang baik sehingga menyebabkan unsur kimia itu tidak tercuci dan
membuat keadaan hara tetap tersedia didalam tanah. Selanjutnya tanaman akan
mendapatkan suplai hara untuk pertumbuhan dan dapat meningkatkan produksi
tanaman (Murbandono, 2003).
D3 merupakan hasil panjang tongkol
terpanjang, hal ini diduga pemberian sludge telah terpenuhi atau optimalnya
pemberian dosis sehingga dapat diserap dengan baik oleh tanaman dan berpengaruh
terhadap panjang tongkol. Kaswara (1982)
mengemukakan bahwa unsur nitrogen bagi tanaman jagung manis sangat dibutuhkan
sekali untuk pertumbuhan vegetatifnya. Apabila unsur yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan tidak terpenuhi atau tidak tersedia dalam jumlah yang cukup selama
pertumbuhan, maka tongkol yang dihasilkan membengkak dan mengecil.
Berat Tongkol
Setelah dianalisis secara statistik dari
hasil sidik ragam menunjukkan bahwa secara tunggal pemberian Sludge dan pupuk
SP-36 menunjukkan pengaruh nyata terhadap berat tongkol, namun secara interaksi
pengaruh pemberian Sludge dan pupuk SP36 tidak memberikan pengaruh nyata
terhadap umur berbunga. Data pengamatan pada berat togkol dilihat pada Tabel 4
dibawah ini.
Tabel 4. Berat tongkol jagung manis dengan
perlakuan dosis sludge dan pupuk SP-36 (cm).
|
Faktor D
|
Faktor S
|
Rerata D
|
|||
|
S0
|
S1
|
S2
|
S3
|
||
|
D0
|
164.96
|
165.92
|
177.33
|
183.22
|
172.86b
|
|
D1
|
181.93
|
204.66
|
203.59
|
203.55
|
198.44a
|
|
D2
|
185.81
|
202.92
|
214.14
|
217.14
|
205.00a
|
|
D3
|
190.19
|
203.13
|
210.92
|
217.50
|
205.43a
|
|
Rerata S
|
180.72b
|
194.16ab
|
201.50ab
|
205.35a
|
|
|
KK =
11.23%
|
BNJ D
dan S = 24.34 %
|
|
|
||
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti
hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju
Lanjut BNJ. 5%.
Berdasarkan Tabel 4 menerangkan bahwa
perlakuan secara interaksi pemberian sludge dan pupuk SP-36 tidak menunjukkan
pengaruh yang nyata terhadap berat tongkol, hal ini diduga apabila unsur hara
didalam tanah telah tersedia dan didukung pengolahan tanah yang baik dalam
penelitian ini maka tanaman jagung manis dapat tumbuh dengan baik sehingga
berat tongkol tidak dipengaruhi oleh sludge dan pupuk SP-36, sehingga hasil
pengamatan yang berpengaruh nyata hanya terdapat pada perlakuan sludge dan
SP-36 secara tunggal saja, adapun perlakuan terbaik terdapat pada D3 (205.43
cm) tidak berbeda nyata dengan D2 dan D1 namun berbeda nyata dengan D0. Dan D0
adalah hasil pengamatan yang terendah yaitu (172.86 cm).
Berdasarkan Tabel 4 diatas, hasil perlakuan
D3 adalah yang terbaik, hal ini diduga pemberian dosis yang tertinggi dapat
diserat dengan baik oleh tanaman. Hakim (1986) menyatakan dengan pemberian
dosis yang optimal dapat menjamin ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh
tanaman, dengan demikian dapat meningkatkan produksi tanaman tersebut. Maka
jelaslah dengan pemberian sludge dengan dosis yang lebih tinggi akan memberikan
produksi yang lebih baik terhadap berat tongkol yang akan dihasilkan oleh
tanaman.
Pembentukan dan perkembangan buah sangat
dipengaruhi oleh ketersediaan Nitrogen.
Tanaman yang memiliki perakaran yang baik tentu akan menyebabkan proses
penyerapan unsur hara didalam tanah lebih banyak juga diperoleh tanaman melalui
simbiosis bakteril bintil akar dengan tanaman. (Berrie, 1987).
Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa perlakuan
SP-36 berpengaruh nyata terhadap berat tongkol, perlakuan yang terbaik pada S3
(205.35 cm) dan hasil yang terendah terdapat pada perlakuan S0 (180.72 cm).S0
tidak berbeda nyata dengan S1 dan S2, namun berbeda nyata dengan S3.
Perlakuan S3 adalah perlakuan yang terbaik,
ini diduga karena ketersediaan P didalam tanah yang berasal dari pupuk SP-36
sudah mencukupi, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik dengan dosis yang
tertinggi S3 (9 gram/tanaman).
Pupuk SP-36 mengandung unsur hara P yang
sangat diperlukan oleh tanaman.Hal ini didukung oleh Sutejo (1994) yang
menyatakan bahwa pospor merupakan unsur hara utama bagi prtumbuhan tanaman
seperti akar, batang, daun dan buah.Hal ini sejalan dengan pendapat Setyadjasa
(1986) Pospor berperan meransang pertumbuhan bunga dan buah.Unsur P menentukan
keberhasilan pertumbuhan yang akan berhubungan dengan kualitas buah dan biji
(Kanisius, 1993).
Sudjiati (1989) mengemukakan bahwa untuk
mendapatkan pertumbuhan dan produksi yang baik, tanaman harus diimbangi oleh
unsur hara yang seimbang, sebab bila tanaman kekurangan unsur hara, tanaman
tidak dapat menjalankan fungsi fisiologisnya dengan baik. Diketahui unsur P
yang terkandung dalam SP-36 akan sangat berguna untuk membentuk protein dan
karbohidrat serta memperkuat tanaman, bunga dan buah.
KESIMPULAN
1.
Pemberian
perlakuan tunggal sludge (D) memberikan pengaruh nyata terhadap parameter
pengamatan tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik D3 (197,23 cm), umur
berbunga tanaman dengan perlakuan terba D3 (54,58 hari).panjang tongkol dengan
perlakuan terbaik D3 (20,09 cm), dan berat tongkol dengan perlakuan terbaik D3
(205,43 gram).
2.
Pemberian
perlakuan tunggal pupuk SP-36 (S) memberikan pengaruh nyata terhadap parameter
tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik S3 (193,46 cm), umur berbunga dengan
perlakuan terbaik S3 (56.00 hari), berat tongkol dengan perlakuan terbaik S3
(205,35 gram).
3.
Pemberian
perlakuan interaksi sludge dan pupuk SP-36 tidak berpengaruh nyata terhadap
semua parameter pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdi A, 2000. Pemanfaatan Limbah Sawit Pada Tanah PMK Untuk Kacang Hijau.Skripsi
Fakultas Pertanian. UNRI.Pekanbaru.
Barrie, G, A 1987 Tropical Plant Science. John Willey and Sons, Inc, New York.
Basroh, 1982. http:www.Pupuk Kotoran Ayam.com
Dinas Tanaman Pangan
Propinsi Sumatra Barat, 2012.Cara
pemupukan.Sumatra Barat.
Dinas Tanaman Pangan
Kuantan Singingi, 2012. Laporan tahunan
produksi jagung. Kuantan Singingi.
Dwiatmini. K,
Sutater. K. dan Goenadi.DH.1996, Media
Tanam Krisan dikompos Dari Lima Macam Limbah Pertanian.Jurnal Hortikultura
Vol. 5 No. 5. Puslitbang Holtikultura. Jakarta.
Gumbira.S, 1996, Penanganan Dan Pemanfaatan Limbah Kelapa
Sawit. Untuk Dana Mitra Lingkungan. Trubus Agriwidiya.
Hakim,
N, Nyapka, M. Y Lubis, A, Nugroho, S. G., Saul., M. R., Dina, M, A. HONG, G.
Dan Barley, H. H. 1986. Dasar-Dasar Ilmu
Tanah.Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
Hardjowigeno,
2007.Petunjuk Pemupukan Yang Efektif.
Penerbit Agro Media Pustaka Jakarta, 114 Hal.
Kaswara.J,
1986.Budidaya Jagung Manis (Zea mays
Saccarata Sturt).Fakultas IPB
Bogor.
Kanisius.
1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung
Kanisius. Yokyakarta.
Ketaren
dan Djatmiko 1981, Petunjuk Pemupukan
Yang Efektif, Penerbit, Agromedia Pustaka, Jakarta.
Lakitan,
B. 1996.Fisiologi Pertumbuhan dan
Perkembangan Tanaman.Raja Griffindo Persada Jakarta.
Lubis.AU.
Dan P.M, Naibaho, 1994, Peluang Dan
Prospek Pengembangan Agribisnis dan Agroindistri Kelapa Sawit.
Lingga.2007. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swdaya. Jakarta.
Murbandono,
L. 2003. Membuat kompos. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sarif.E.S,
1986.Kesuburan Tanah dan Pemupukan Tanah
Pertanian, Pustaka Buana Bandar Lampung.
Setyamidjaja.D 1986.Pupuk
dan Pemupukan. CV. Siplek. Jakarta.
Setyadjasa. 1986. Pupuk dan
Pemupukan. CV. Simplek. Jakarta.
Silalahi. F. H. 1996, Hubungan
Pemberian Limbah Pabrik Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Ercis.Jurnal
Hortikultura Vol. 5 No. 5 Puslitbang Hortikultura. Jakarta.
Sutedjo,
MM, 1994. Pupuk dan Cara Pemupukan.
Rineka Cipta, Jakarta.
Sutedjo
dan Kartasapoetra, 1988, Pupuk dan Cara
Pemupukan, PT. Rinika Cipta, Jakarta.
Sudjiati,
1989. Tekhnik Pemupukan, Penebar
Swadaya.
Tampubolon.
M, 1992, Pemanfaatan Limbah Perkebunan
Dalam Prosedig lokakarya Medan PTP, Wilayah I P4TM, Sumatra Utara.
Tarigan.
D, 1991. Pengaruh Limbah Pabrik Kelapa
Sawit Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Kubis Bulat,.Jurnal Holtikultura
Vo5. 1 no 2. Puslitbang Hortikultura, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar