Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 47-54


PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH PADAT KELAPA SAWIT (SLUDGE)
DAN PUPUK SP-36TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI
JAGUNG MANIS (Zea mays saccarata Sturt)

Edwin Saputra, Heni Rosneti, dan Mashadi
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Kuantan Singingi. Teluk Kuantan Riau. Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake 29562, E-mail : edwinsaputra14@yahoo.com


ABSTRACT

This research aims to determine the Effect of Oil Palm Solid Waste (Sludge) and SP-36 Fertilizer on growth and production of Sweet Corn (Zea mays saccarata Sturt). The design used in this research was a randomized block design (RBD) factorial consisting of two factors, namely factor D (sludge) consists of 4 levels: D0 (control), D1 (1.5 kg / plot), D2 (3 kg / plot), D3 (4.5 kg / plot). Factor S (SP-36 fertilizer) consists of 4 levels: S 0 (control), S1 (giving 3 g / plant), S2 (giving 6 g / plant), S3 (giving 9 g / plant). The results showed that sludge treatment singly significant effect on all parameters observed. The best treatment is observation D3 for plant height (197.23 cm) , age show of sprout (54.58 days), ear length (20.09 cm) and weight of cob (205.43 grams) Treatment of SP-36 singly significantly affect high observation plants with the best treatment S3 (143.46 cm), days to flowering (56.00 days), and the weight of cob (205.35 grams). Then the interaction of the sludge and SP-36 had no significant effect on all parameters observed.

Keywords: sweet corn, sludge, SP-36



PENDAHULUAN 
Sektor pertanian dalam tatanan pembangunan nasional memegang peranan penting, karena dapat menyediakan pangan bagi seluruh penduduk dan penyumbang devisa dari sektor nonmigas. Dimasa mendatang pembangunan sektor pertanian tidak terlepas dari pengaruh globalisasi perdagangan bebas, maka orientasi pembangunan khususnya sektor pertanian lebih diarahkan pada pengembangan agronomi dan agribinis. Salah satu komoditi pertanian yang memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan adalah jagung. Jenis jagung yang dibudidayakan di Indonesia adalah jagung biasa dan jagung manis.
Berdasarkan Data Dinas tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi (2012) produksi jagun g mengalami fluktuasi, pada tahun 2010 produksi jagung mencapai 445,43 ton, kemudian pada tahun 2011 produksi jagung hanya mencapai 435,13 ton, dan mengalami peningkatan  produksi pada tahun 2012, dimana  produksi  Jagung mencapai 524,83 ton.
Berfluktuasinya produksi tanaman jagung manis di Kabupaten Kuantan Singingi disebabkan oleh teknologi budidaya yang masih rendah, tidak menggunakan varietas unggul, pengendalian hama dan penyakit yang kurang intensif serta rendahnya tingkat kesuburan tanah serta pemakaian pupuk yang tidak berimbang. Berdasarkan permasalahan ini maka, peningkatan produksi jagung manis perlu dilakukan. Salah satu upaya yang dapat dilaksanakan adalah peningkatan kesuburan tanah melalui pemupukan, pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk organik dan anorganik.
Pupuk organik dapat berupa kotoran hewan dan limbah pertanian, contoh limbah pertanian adalah limbah  pabrik kelapa sawit. Menurut Lubis dan Naibaho (1994), dalam industri pengolahan sawit untuk mendapatkan 1 ton minyak kelapa sawit akan dihasilkan 2,5 ton limbah industri, dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan oleh pabrik lebih besar dari pada hasil olahan itu sendiri. Tampubolon (1980) dalam Dwiatmini, Sutater dan Goenadi (1996), mengatakan bahwa dengan mengolah atau mendaur ulang limbah lebih menguntungkan karena limbah yang telah didaur ulang secara sederhana dapat diolah menjadi pupuk organik, hal ini dipandang efektif dan efisien karena banyak memberikan keuntungan dan mempunyai nilai ekonomis.
Dari hasil analisis kandungan limbah sawit ini sludge mengandung unsur hara antara lain : Nitrogen (N), Fospor (P), Kalium (K), Magnesium (Mg) dan Kalsium. Penggunaan limbah sawit berupa sludge ini dapat menggantikan kebutuhan pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan.Menurut Abdi (2000), pemanfaatan limbah sawit berupa sludge ini dapat meningkatkan hasil tanaman jagung dan tomat.Sedangkan menurut Tarigan (1991). Mengatakan bahwa dari hasil analisis didalam sludge kelapa sawit banyak terkandung unsur hara N = 0,49-2,1%, P205 = 0,26-0,46%, K20 = 1,3 % dan Mg = 0,64%.
Gumbira (1996) menambahkan, pemanfaatan sludge kelapa sawit berguna sebagai substrat dan sumber energi untuk pertumbuhan mikroorganisme.Silalahi  (1996), Pada tanaman jagung pemberian limbah sawit berupa sludge dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produksi, karena limbah berfungsi sebagai bahan organik dapat memasok sebagian unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Cara pemberian yang sederhana untuk dapat memanfaatkan sludge kelapa sawit agar tidak mengganggu lingkungan adalah dengan membenamkannya kedalam tanah sebagai masukan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Silalahi, 1996).
Tarigan (1991) mengatakan bahwa dengan pemberian sludge kelapa sawit sebanyak 20 ton / hektar pada tanaman kubis bulat dapat meningkatkan produksi, hal ini mampu menyamai dengan pemberian sebanyak 30 ton pupuk kandang pada tanaman yang sama. Silalahi (1996), mengatakan bahwa dengan pemberian sludge kelapa sawit sebanyak 20 ton / hektar akan dapat memberikan hasil yang lebih pada tanaman ercis dibandingkan dengan penggunaan pupuk kandang hewan pada dosis tanaman yang sama.
Pupuk SP-36 merupakan hasil reaksi antara asam sulfat dan batuan fosfat dengan kadar 36% P2O5 serta P larut dalam air. Efektivitas yang tinggi dari pupuk fospat sangat dipengaruhi oleh ukuran butir, cara dan waktu pemberian. Pupuk fospat yang larut dalam air seperti SP-36 lebih respon bila pupuk tersebut di berikan secara larikan terutama pada tanah-tanah yang miskin akan fospor. Oleh karena itu pemberian dengan cara lubang dan jalur merupakan salah satu cara yang tertingi. Pupuk fospat (SP-36) sangat dianjurkan sebagai pupuk dasar yaitu diberikan pada saat tanam. Hal ini disebabkan karena pupuk SP-36 yang unsurnya tidak cepat atau segera tersedia dan sangat dibutuhkan pada stadia permulaan tumbuh. Keuntungan pemberian pupuk seawal mungkin dalam pertumbuhan tanaman akan mendorong pertumbuhan akar permulaan, sehingga daya serap unsur hara tanaman akan lebih baik, (Setyamidjaja, Hakim dan Sarif, 1986).
Pemberian pupuk SP-36 dilakukan dengan cara ditugal sedalam kira-kira 8 cm di samping pangkal tanaman dan ditutup dengan tanah.Anjuran umum dosis pupuk SP-36 bagi tanaman jagung adalah 150 kg/ha  atau 5 gram/tanaman (Dinas Tanaman Pangan Sumatra Barat, 2012).sedangkan menurut Balai Penelitian Buah Tropika Solok tahun 2011 optimalnya pemberian pupuk SP-36 pada tanaman Jagung adalah 200 kg/ha.
Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan, penulis telah melakukan penelitian dengan judul:Pengaruh Pemberian Limbah Padat Kelapa Sawit dan Pupuk SP-36 Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung  Manis (Zea mays saccharata Sturt).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sludge dan pupuk SP-36 terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis (Zea mays saccarata Sturt) baik secara tunggal maupun secara interaksi.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Kenun Kolektif Kelompok Wanita Tunas Muda Harapan Tani Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu penelitian selama 3 bulan terhitung dari bulan Februari  sampai bulan April 2014.

Bahan dan Alat
            Bahan yang digunakan adalah benih Jagung  manis  varietas Master sweet, Limbah Padat Kelapa Sawit (Sludge) PT Citra Riau Sarana kolam III, SP-36, kayu, triplek, Furadan 3G. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, parang, gergaji, martil, meteran, ember, gembor dan alat-alat tulis.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : faktor D (Sludge) yang terdiri dari 4 taraf dan faktor S (pupuk SP-36) dengan 4 taraf perlakuan.
Faktor pertama adalah faktor D (sludge) dengan 4 taraf yaitu :

D0        : Tanpa PemberianSludge kelapa sawit (kontrol)

D1        : Pemberian  10 ton / ha = 1,5 kg/plot

D2        : Pemberian  20 ton / ha = 3 kg/plot

D3        : Pemberian  30 ton / ha = 4,5 kg/plot


Faktor kedua adalah faktor S (pupuk SP-36) dengan 4 taraf yaitu :

S0        : Tanpa Pemberian  SP-36

S1        : Pemberian  3 g / tanaman

S2        : Pemberian  6 g / tanaman

S3        : Pemberian  9 g / tanaman.

Dari hasil penelitian masing-masing perlakuan dianalisis secara statistik, jika F hitung lebih besar dari F Tabel, maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm).
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam terlihat bahwa secara tunggal pemberian Sludge dan pupuk SP-36 memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, namun secara interaksi pemberian Sludge dan pupuk SP-36 tidak memberikan pengaruh yanag nyata terhadap tinggi tanaman. Data pengamatan terhadap tinggi tanaman dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.


Tabel   1 : Tinggi tanaman jagung manis dengan perlakuan dosis Sludge dan  pemberian pupuk SP-36 (cm).
Faktor D
Faktor S
Rerata D
S0
S1
S2
S3
D0
167.82
168.47
175.23
176.30
171.95b
D1
178.58
178.16
193.36
193.91
186.01a
D2
188.13
197.97
198.66
201.09
196.47a
D3
189.11
197.14
200.14
202.53
197.23a
Rerata S
180.91a
185.44a
191.85a
193.46a

KK = 6.20%
BNJ D dan S = 12.91 %


Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.


Berdasarkan Tabel 1 diatas perlakuan secara tunggal pemberian Sludge pada parameter tinggi tanaman memberikan pengaruh yang nyata, tetapi setelah di uji lanjut menurut BNJ pada taraf 5% tidak mengalami pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, hasil yang tertinggi perlakuan D3 (197.23 cm) tidak berbeda nyata dengan D2, dan D1 dan berbeda nyata dengan D0, hasil yang terendah terdapat pada perlakuan D0 (169.69cm), Berpengaruhnya perlakuan sludge (D) karena diduga pemberian dosis yang seimbang pemberian Sludge pada tanaman dapat diserap dengan baik oleh tanaman. Menurut Sutejo dan Kartasapoetra(1988) bahwa pemberian bahan organik dapat meningkatkan aktifitas jasad renik tanah dan memperbaiki daya serap tanah terhadap unsur hara yang tersedia, karena struktur tanah menjadi gembur dan porositas tanah menjadi meningkat sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara dengan baik.
Sludge (bahan organik) mengandung unsur protein yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.Hal ini didukung oleh Sutejo (1994) yang menyatakan bahwa protein merupakan unsur utama bagi pertumbuhan tanaman yang pada umumnya diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar.Hal ini sejalan dengan Setyamidjaja (1986) yang menyatakan bahwa unsur nitrogen berperan merangsang pertumbuhan vegetatif yaitu menambah tinggi tanaman.
Kaswara (1982) mengemukakan bahwa tanaman jagung sangat respon terhadap pemupukan nitrogen.Seperti diketahui bahwa sludge ini mengandung unsur nitrogen yang dibutuhkan oleh tanaman.Perbedaan pemberian dosis sludge pada masing-masing perlakuan menyebabkan terjadinya perbedaan tingkat ketersediaan unsur hara didalam tanah, hal ini dapat mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman.
Perlakuan D0 adalah hasil yang terendah, hal ini diduga karena tanaman tidak diberi pupuk atau kekurangan unsur hara akan mendapatkan gejala pertumbuhan tanaman yang tidak normal, karena terjadinya gangguan pada pembelahan sel-sel yang dapat menyebabkan terjadinya sel kerdil pada tanaman (Hakim, 1986). Pendapat ini didukung oleh Sarif (1986) mengemukakan bahwa bila unsur hara kurang mencukupi pada suatu tanaman, maka pertumbuhan tanaman akan terhambat.
Begitu juga dengan pemberian SP36 secara tunggal berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Hasil yang tertinggi terdapat pada perlakuan S3 (193,46cm) tidak berbeda nyata dengan lainnya, namun berbeda nyata dengan S0, dan pengamatan terendah terdapat pada perlakuan S0 (180.91 cm), berpengaruhnya perlakuan diduga karena unsur P mampu memberikan pengaruh yang baik didalam perkembangan akar dan pemberian pupuk telah terpenuhi sehingga unsur hara mampu diserap dengan baik oleh tanaman. Rismunandar (1992) mengemukakan bahwa tanaman dapat tumbuh dengan sempurna bila tersedianya unsur hara yang cukup.
Hardjowigeno (2007) menyatakan bahwa Phospor berfungsi dalam merangsang pertumbuhan akar, pembentukan biji, dan bunga serta buah.Phosphor yang terkandung dalam SP-36 sangat dibutuhkan sebagai sumber energi dalam berbagai aktivitas metabolisme.Salah satu aktivitas metabolisme tersebut adalah fotosintesis.Dengan fospor yang cukup, laju fotosintesis menjadi lebih optimal sehingga asimilat yang dihasilkan sebagian dimanfaatkan bagi pembentuk dan penyusun organ tanaman.
Salah satu pengaruh fospor dapat merangsang pertumbuhan akar sehingga dapat meningkatkan resapan unsur hara terutama N, sehingga pertumbuhan tanaman akan meningkat.
Walaupun secara tunggal pemberian sludge maupun pemberian perlakuan pupuk SP-36 menunjukkan pengaruh yang nyata, namun secara interaksi perlakuan sludge dan pupuk SP-36 tidak memberikan respon yang nyata, hal ini diduga karena ketersediaan unsur hara yang terkandung didalam tanah dan curah hujan yang tinggi sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung manis. Menurut Hakim, (1986) menyatakan bahwa proses fotosintesis yang berjalan lancar pada tumbuhan akan menjamin perkembangan tumbuhan tersebut baik vegetatif maupun generatif.

Umur Berbunga (hari).

Setelah dianalisis secara satistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian secara tunggal Sludge dan SP-36 menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap muncul bunga, namun secara interaksi pemberian sludge dan pupuk SP-36 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga. Hasil pengamatan umur berbunga dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Umur berbunga tanaman jagung manis dengan perlakuan Sludge dan pemberian SP-36 (hari).
Faktor D
Faktor S
Rerata D
S0
S1
S2
S3
D0
58.77
58.55
58.33
58.22
58.47a
D1
58.66
58.66
57.22
58.00
57.64a
D2
57.89
57.89
57.55
55.11
57.11a
D3
58.33
55.45
52.78
52.66
54.58b
Rerata S
58.41a
56.91ab
56.47ab
56.00b

KK = 3,63%
BNJ D dan S = 2,29 %


Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.


Dari Tabel 2 memperlihatkan  bahwa perlakuan sludge menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga, pemberian perlakuan yang tercepat pada perlakuan D3 (54,58 hari) dan tanaman yang lambat berbunga terdapat pada perlakuan D0 (58,47 hari), perlakuan D0 tidak berpengaruh nyata dengan D1, D2, dan berbeda nyata dengan D3.
Perlakuan D3 lebih cepat berbunga dari perlakuan lainnya, hal ini disebabkan ketersediaan unsur hara yang cukup bagi tanaman, oleh karena itu pemberian dosis yang tertinggi baru mampu memenuhi kebutuhan unsur hara didalam tanah, sehingga dapat meransang pertumbuhan tanaman termasuk saat muncul bunga. Ketersediaan unsur hara yang terkandung didalam tanah dan curah hujan yang tinggi sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung manis. Menurut hakim (1986) menyatakan bahwa proses fotosintesis yang berjalan lancar pada tumbuhan akan menjamin perkembangan tumbuhan tersebut baik vegetatif maupun generatif. Kaswara (1986) menambahkan bahwa tanaman akan tumbuh subur bila unsur hara yang tersedia dapat diserap tanaman sesuai tingkat kebutuhan tanaman.
Pemberian sludge akan dapat mendorong dan memacu pertumbuhan tanaman, baik itu pertumbuhan vegetatif maupun pertumbuhan generatif tanaman. Pada proses pembungaan sludge yang diberikan pada tanaman jagung manis bisa dimanfaatkan tanaman dengan sempurna untuk proses fisiologis tanaman dalam proses pembungaan.
Syarief (1986) mengemukakan bahwa suatu tanaman akan tumbuh baik apabila faktor lingkungan memungkinkan tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik, dimana semakin baik faktor lingkungannya semakin baik pula tanaman tersebut akan tumbuh. Dalam hal ini pemberian sludge mampu merangsang kemampuan organ tanaman untuk penyerapan unsur hara lebih banyak sehingga pertumbuhan vegetatif yang baik juga akan diikuti fase generatif yang sempurna.  
Berdasarkan Tabel 2 pemberian secara tunggal perlakuan SP-36 jugamemberikan pengaruh nyata terhadap umur berbunga. Pengamatan yang tertinggi terdapat pada perlakuan S3 (56,00 hari), dan yang terendah terdapat pada perlakuan S0 (58,41 hari). Tidak berbeda nyata dengan perlakuan S1, S2 dan berbeda nyata dengan S3. Hal ini disebabkan karena P berfungsi merangsang terbentuknya bunga, buah dan biji. Kataren dan Djatmiko (1981), mengatakan sebagaimana dijelaskan fungsi dari pupuk fospor (P) ini merupakan salah satu unsur utama dan makro bagi pembungaan tanaman, yang pada umumnya untuk memacu munculnya bunga dan mempengaruhi kualitas bunga.
Pemberian pupuk P yang diberikan pada dosis yang sesuai mampu mempercepat masa berbunga, sebab perlakuan yang diberikan dapat memberikan unsur hara yang seimbang bagi tanaman dan sumbangan unsur hara tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman dengan baik sebab unsur hara yang diberikan tersebut berada dalam keadaan yang cukup (Basroh, 1982).
Unsur posfor dalam tanaman berperan dalam pembentukan protein, merangsang pembentukan akar, mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman dan juga dapat mempercepat munculnya bunga serta mempercepat masaknya buah dan biji. Lingga dan Marsono (2007) menyatakan bahwa unsur P bagi tanaman berguna untuk memacu pertumbuhan akar tanaman yang masih muda dan juga sebagai bahan baku pembentukan beberapa protein tertentu, mendukung asimilisi pernapasan sekaligus mempercepat pembungaan, pemasakan buah dan biji.
Berdasarkan Tabel 2, tidak terjadinya perbedaan yang nyata interaksi sludge dan SP-36 diduga disebabkan karena dipengaruhi oleh faktor genetik dan kesesuaian konsentrasi yang diberikan dengan kebutuhan dan kemampuan tanaman jagung manis untuk menyerap unsur hara bagi tanaman untukmerangsang tanaman untuk memasuki fase generatif yaitu berupa umur berbunga, sehingga hasil penelitian yang berpengaruh nyata hanya terlihat pada pengamatan perlakuan tunggal sludge dan SP-36 saja.
Walaupun secara analisa sidik ragam tidak ada pengaruh nyata dari perlakuan, namun secara angka-angka terlihat perbedaan umur berbunga baik itu secara interaksi maupun secara tunggal, tapi perbedaan itu tidak signifikan. Bila tanaman tumbuh dengan sempurna atau pertumbuhan vegetatifnya baik, akan mempercepat pembungaan bila dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh tidak sempurna. Perbedaan umur berbunga berhubungan dengan pupuk sludge yang diberikan, dimana perlakuan dosis 4,5 kg/plot lebih cepat berbunga bila dibandingkan dengan perlakuan lain.

Panjang Tongkol

Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan pemberian Sludge secara tunggal berpengaruh nyata terhadap panjang tongkol dan pemberian secara tunggal pupuk SP-36 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tongkol, begitu juga secara interaksi pengaruh pemberian Sludge dan pupuk SP-36 juga tidak memberikan pengaruh nyata terhadap panjang tongkol. Data pengamatan panjang tongkol dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.


Tabel 3. Rerata Panjang Tongkol Jagung Manis Dengan Perlakuan Dosis Sludge dan SP-36.
Faktor D
Faktor S
Rerata D
S0
S1
S2
S3
D0
16.77
17.26
17.44
17.16
17.16a
D1
18.40
18.69
18.95
20.64
19.17a
D2
16.91
19.43
20.70
20.21
19.31a
D3
18.63
20.72
20.19
20.83
20.09a
Rerata S
17.68
19.03
19.32
19.71

KK = 11.37%
BNJ D  =2.39 %


Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ.  

              

Berdasarkan Tabel 3 perlakuan secara tunggal sludge menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan panjang tongkol. Tetapi setelah di uji lanjut menurut uji lanjut BNJ pada taraf 5% tidak mengalami perbedaan yang nyata. Adapun panjang tongkol terbaik terdapat pada perlakuan D3 (20,09) tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan karena penggunaan limbah sawit berupa sludge ini dapat menggantikan kebutuhan pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan yang dibutuhkan oleh tanaman. Menurut Abdi (2000), pemanfaatan limbah sawit berupa sludge dapat meningkatkan hasil tanaman jagung dan tomat.
Pemberian bahan organik yang terkandung didalam sludge berpengaruh besar terhadap sifat-sifat tanah. Daya mengikat unsur kimia yang baik sehingga menyebabkan unsur kimia itu tidak tercuci dan membuat keadaan hara tetap tersedia didalam tanah. Selanjutnya tanaman akan mendapatkan suplai hara untuk pertumbuhan dan dapat meningkatkan produksi tanaman (Murbandono, 2003).
D3 merupakan hasil panjang tongkol terpanjang, hal ini diduga pemberian sludge telah terpenuhi atau optimalnya pemberian dosis sehingga dapat diserap dengan baik oleh tanaman dan berpengaruh terhadap panjang tongkol.  Kaswara (1982) mengemukakan bahwa unsur nitrogen bagi tanaman jagung manis sangat dibutuhkan sekali untuk pertumbuhan vegetatifnya. Apabila unsur yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tidak terpenuhi atau tidak tersedia dalam jumlah yang cukup selama pertumbuhan, maka tongkol yang dihasilkan membengkak dan mengecil.

Berat Tongkol

Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa secara tunggal pemberian Sludge dan pupuk SP-36 menunjukkan pengaruh nyata terhadap berat tongkol, namun secara interaksi pengaruh pemberian Sludge dan pupuk SP36 tidak memberikan pengaruh nyata terhadap umur berbunga. Data pengamatan pada berat togkol dilihat pada Tabel 4 dibawah ini.



Tabel   4. Berat tongkol jagung manis dengan perlakuan dosis sludge dan pupuk SP-36 (cm).
Faktor D
Faktor S
Rerata D
S0
S1
S2
S3
D0
164.96
165.92
177.33
183.22
172.86b
D1
181.93
204.66
203.59
203.55
198.44a
D2
185.81
202.92
214.14
217.14
205.00a
D3
190.19
203.13
210.92
217.50
205.43a
Rerata S
180.72b
194.16ab
201.50ab
205.35a

KK = 11.23%
BNJ D dan S = 24.34 %


Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uju Lanjut BNJ. 5%.


Berdasarkan Tabel 4 menerangkan bahwa perlakuan secara interaksi pemberian sludge dan pupuk SP-36 tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap berat tongkol, hal ini diduga apabila unsur hara didalam tanah telah tersedia dan didukung pengolahan tanah yang baik dalam penelitian ini maka tanaman jagung manis dapat tumbuh dengan baik sehingga berat tongkol tidak dipengaruhi oleh sludge dan pupuk SP-36, sehingga hasil pengamatan yang berpengaruh nyata hanya terdapat pada perlakuan sludge dan SP-36 secara tunggal saja, adapun perlakuan terbaik terdapat pada D3 (205.43 cm) tidak berbeda nyata dengan D2 dan D1 namun berbeda nyata dengan D0. Dan D0 adalah hasil pengamatan yang terendah yaitu (172.86 cm).
Berdasarkan Tabel 4 diatas, hasil perlakuan D3 adalah yang terbaik, hal ini diduga pemberian dosis yang tertinggi dapat diserat dengan baik oleh tanaman. Hakim (1986) menyatakan dengan pemberian dosis yang optimal dapat menjamin ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, dengan demikian dapat meningkatkan produksi tanaman tersebut. Maka jelaslah dengan pemberian sludge dengan dosis yang lebih tinggi akan memberikan produksi yang lebih baik terhadap berat tongkol yang akan dihasilkan oleh tanaman.
Pembentukan dan perkembangan buah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan  Nitrogen. Tanaman yang memiliki perakaran yang baik tentu akan menyebabkan proses penyerapan unsur hara didalam tanah lebih banyak juga diperoleh tanaman melalui simbiosis bakteril bintil akar dengan tanaman. (Berrie, 1987).
Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa perlakuan SP-36 berpengaruh nyata terhadap berat tongkol, perlakuan yang terbaik pada S3 (205.35 cm) dan hasil yang terendah terdapat pada perlakuan S0 (180.72 cm).S0 tidak berbeda nyata dengan S1 dan S2, namun berbeda nyata dengan S3.
Perlakuan S3 adalah perlakuan yang terbaik, ini diduga karena ketersediaan P didalam tanah yang berasal dari pupuk SP-36 sudah mencukupi, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik dengan dosis yang tertinggi S3 (9 gram/tanaman).
Pupuk SP-36 mengandung unsur hara P yang sangat diperlukan oleh tanaman.Hal ini didukung oleh Sutejo (1994) yang menyatakan bahwa pospor merupakan unsur hara utama bagi prtumbuhan tanaman seperti akar, batang, daun dan buah.Hal ini sejalan dengan pendapat Setyadjasa (1986) Pospor berperan meransang pertumbuhan bunga dan buah.Unsur P menentukan keberhasilan pertumbuhan yang akan berhubungan dengan kualitas buah dan biji (Kanisius, 1993).
Sudjiati (1989) mengemukakan bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi yang baik, tanaman harus diimbangi oleh unsur hara yang seimbang, sebab bila tanaman kekurangan unsur hara, tanaman tidak dapat menjalankan fungsi fisiologisnya dengan baik. Diketahui unsur P yang terkandung dalam SP-36 akan sangat berguna untuk membentuk protein dan karbohidrat serta memperkuat tanaman, bunga dan buah.

KESIMPULAN

1.   Pemberian perlakuan tunggal sludge (D) memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pengamatan tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik D3 (197,23 cm), umur berbunga tanaman dengan perlakuan terba D3 (54,58 hari).panjang tongkol dengan perlakuan terbaik D3 (20,09 cm), dan berat tongkol dengan perlakuan terbaik D3 (205,43 gram).
2.   Pemberian perlakuan tunggal pupuk SP-36 (S) memberikan pengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman dengan perlakuan terbaik S3 (193,46 cm), umur berbunga dengan perlakuan terbaik S3 (56.00 hari), berat tongkol dengan perlakuan terbaik S3 (205,35 gram).
3.   Pemberian perlakuan interaksi sludge dan pupuk SP-36 tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdi A, 2000. Pemanfaatan Limbah Sawit Pada Tanah PMK Untuk Kacang Hijau.Skripsi Fakultas Pertanian. UNRI.Pekanbaru.
Barrie, G, A 1987 Tropical Plant Science. John Willey and Sons, Inc, New York.
Basroh, 1982. http:www.Pupuk Kotoran Ayam.com
Dinas Tanaman Pangan Propinsi Sumatra Barat, 2012.Cara pemupukan.Sumatra Barat.
Dinas Tanaman Pangan Kuantan Singingi, 2012. Laporan tahunan produksi jagung. Kuantan Singingi.
Dwiatmini. K, Sutater. K. dan Goenadi.DH.1996, Media Tanam Krisan dikompos Dari Lima Macam Limbah Pertanian.Jurnal Hortikultura Vol. 5 No. 5. Puslitbang Holtikultura. Jakarta.
Gumbira.S, 1996, Penanganan Dan Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit. Untuk Dana Mitra Lingkungan. Trubus Agriwidiya.
Hakim, N, Nyapka, M. Y Lubis, A, Nugroho, S. G., Saul., M. R., Dina, M, A. HONG, G. Dan Barley, H. H. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
Hardjowigeno, 2007.Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Penerbit Agro Media Pustaka Jakarta, 114 Hal.
Kaswara.J, 1986.Budidaya Jagung Manis (Zea mays Saccarata Sturt).Fakultas IPB Bogor.
Kanisius. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung Kanisius. Yokyakarta.
Ketaren dan Djatmiko 1981, Petunjuk Pemupukan Yang Efektif, Penerbit, Agromedia Pustaka, Jakarta.
Lakitan, B. 1996.Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman.Raja Griffindo Persada Jakarta.
Lubis.AU. Dan P.M, Naibaho, 1994, Peluang Dan Prospek Pengembangan Agribisnis dan Agroindistri Kelapa Sawit.
Lingga.2007. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swdaya. Jakarta.
Murbandono, L. 2003. Membuat kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sarif.E.S, 1986.Kesuburan Tanah dan Pemupukan Tanah Pertanian, Pustaka Buana Bandar Lampung.
Setyamidjaja.D 1986.Pupuk dan Pemupukan. CV. Siplek. Jakarta.
Setyadjasa. 1986. Pupuk dan Pemupukan. CV. Simplek. Jakarta.
Silalahi. F. H. 1996, Hubungan Pemberian Limbah Pabrik Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Ercis.Jurnal Hortikultura Vol. 5 No. 5 Puslitbang Hortikultura. Jakarta.
Sutedjo, MM, 1994. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.
Sutedjo dan Kartasapoetra, 1988, Pupuk dan Cara Pemupukan, PT. Rinika Cipta, Jakarta.
Sudjiati, 1989. Tekhnik Pemupukan, Penebar Swadaya.
Tampubolon. M, 1992, Pemanfaatan Limbah Perkebunan Dalam Prosedig lokakarya Medan PTP, Wilayah I P4TM, Sumatra Utara.
Tarigan. D, 1991. Pengaruh Limbah Pabrik Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Kubis Bulat,.Jurnal Holtikultura Vo5. 1 no 2. Puslitbang Hortikultura, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar