Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 113-120


PENGARUH PENGGUNAAN AMPAS TAHU DAN  KULIT TAUGE DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMANS PUYUH (Coturnix coturnix japonica) UMUR 2 - 42 HARI.

Sri Melati, Darmiwati, dan Muslim
Program Studi Peternakan Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan
Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau


ABSTRACT

The purpose of this study is to determine the effect of the use of tofu and bean sprouts in a ration of skin on the performances quail (Coturnix coturnix japonica) aged 2-42 days. This study was conducted on August 13 till September 23, 2012 in the village of Lubuk Ambacang District of Hulu Kuantan, Kuantan District Singingi. This study using the quail (Cortunix-cortunix japonica) as much as 100 individuals. The method used in this study is an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and consists of A (0% Dregs tofu and bean sprouts skin), B (4% Dregs tofu and bean sprouts skin), C (8% Dregs know and leather bean sprouts), and D (12% Dregs tofu and bean sprouts leather) and 5 replicates each consisting of 5 replicates quails. Parameters measured included feed intake, body weight gain and feed conversion. The results of this study showed quail feed intake on average 11.88 grams / head / day, body weight gain quail 3:03 g / head / day and feed conversion of quail 3.93. Based on these results it can be concluded that the use of tofu and bean sprouts skin to the level of 12% in the ration was highly significant tehadap feed intake and body weight gain quail and significant effect on feed conversion of quail.

Keywords : tofu, bean sprout, performance, quail


PENDAHULUAN

Usaha peternakan unggas termasuk puyuh ditentukan oleh banyak faktor untuk mencapai keberhasilan di antaranya faktor produksi dan pemasaran. Pada faktor produksi yang paling berpengaruh adalah ransum, karena dalam penyediaannya menghabiskan 60 –70 % dari total biaya produksi (Siregar dkk, 1980). Ransum berguna untuk memenuhi kebutuhan unggas agar bertahan hidup dan berlangsungnya proses biologi serta mampu berproduksi.
Tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk menyediakan ransum karena pakan yang digunakan untuk membuat ransum itu sebagian besar masih merupakan bahan impor seperti jagung, bungkil kedelai, dan tepung ikan yang harganya mahal dan disamping itu bahan penyusun ini juga merupakan bahan yang bersaing dengan kebutuhan manusia.
          Untuk mengatasi berbagai masalah ransum di atas berbagai cara dilakukan untuk menekan biaya yaitu dengan jalan menyediakan pakan yang murah, menggunakan bahan-bahan alternatif yang dapat menggantikan sebagian atau keseluruhan dari bahan impor dan bahan konvensional lainnya seperti limbah atau hasil sampingan suatu produk. Bahan-bahan alternatif yang digunakan dalam membuat ransum itu harus mempunyai kandungan gizi yang baik, harga murah, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, tidak mengandung racun dan tersedia dalam jumlah yang banyak serta berkesinambungan. Oleh karena itu, ransum berperan sangat penting dalam pertumbuhan puyuh petelur. Ransum yang sesuai dengan kebutuhan baik kualitas maupun kuantitasnya sangat menentukan produk akhir. Limbah pertanian merupakan bahan pakan alternatif yang masih memiliki kandungan nutrisi yang baik sehingga dapat digunakan dalam penyusunan ransum puyuh petelur. Salah satu limbah pertanian tersebut adalah  ampas tahu dan kulit tauge.
Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padat dari bubur kedelei yang diperas sebagai sisa dalam pembuatan tahu.  Ampas tahu yang berupa padatan ini dapat dijadikan pakan ternak sumber protein, karena kandungan proteinnya cukup tinggi yaitu sekitar 28.36% dan kandungan zat-zat makanan lainnya adalah lemak 5.52%, serat kasar 7.06% dan BETN 45.44% (Nuraini dkk, 2007). Selain itu ampas tahu juga mengandung asam amino, lisin, methionin dan vitamin B ( Hsieh dan Yang, 2003). Ampas tahu sering menimbulkan masalah lingkungan  karena berbau busuk bila tidak cepat dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Selanjutnya dijelaskan bahwa ampas tahu cukup potensial sebagai bahan makanan ternak karena dapat meningkatkan produksi ternak dan sekaligus memberi hasil sampingan bagi pembuat tahu.
Kulit tauge pada umumnya menjadi limbah di pasar-pasar tradisional hanya sebagian kecil yang memanfaatkan untuk campuran ransum puyuh. Sebagai limbah, kulit touge cenderung mudah mengalami pembusukan dan kerusakan, sehingga perlu dilakukan pengolahan untuk memperpanjang masa simpan. Pengeringan dan pengilingan (penepungan) adalah  upaya untuk memperpanjang masa simpan.
Berdasarkan permasalahan diatas maka dilakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Penggunaan Ampas Tahu Dan Kulit Tauge Dalam Ransum Terhadap Performans Puyuh (Coturnix  coturnix japonica) Umur 2 – 42 Hari.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ampas tahu dan  kulit tauge terhadap performans ( konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum) puyuh (Coturnix coturnix japonica) umur 2 - 42 hari. Manfaat hasil penelitian dapat memberi informasi kepada masyarakat bahwa ampas tahu dan kulit tauge dapat dimanfaatkan salah satu bahan pakan alternatif.

BAHAN DAN METODE

Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan selama 42 hari mulai tanggal 13 Agustus sampai tanggal 23 September 2012 di desa Lubuk Ambacang Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten  Kuantan Singingi.

Bahan dan Alat
Ternak Percobaan
Ternak yang digunakan pada penelitian ini adalah puyuh (Coturnix   coturnix japonica) berumur 2 hari sebanyak 100 ekor tanpa membedakan jenis kelamin. Dengan bobot awal rata-rata 6,21 gram/ekor. Puyuh berasal dari pembibitan milik Buk fitri di Desa Kasang Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi.

Ransum Percobaan
Ransum disusun sendiri dari bahan-bahan seperti jagung, dedak, bungkil kelapa, kepala ikan teri, minyak kelapa, dan tepung batu  serta ampas tahu dan kulit tauge. Dengan dosis ransum A (0 % ATKT), ransum B (4 % ATKT), ransum C (8 % ATKT), ransum D (12 % ATKT). Komposisi zat makanan zat ransum bahan penyusun penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1. Kandungan zat-zat makanan (%) dan energi metabolisme Kkal/kg) bahan   penyusun ransum.
Bahan Pakan
PK
Lemak
SK
Ca

%
P
Lys
Met
ME (Kkal/kg)
Jagung
Dedak
B Klpa
K Ikan tri
M Kelapa
T Batu
ATKKT
Topmix
11,8
13,9
20,65
49,56
-
-
22,56
-
2,66
4,09
6
2,18
100
-
0,8
-
2,08
11,5
6,2
3,55
-
-
10,56
-
0,37
0,7
0,13
3,11
-
35
0,18
5,38
0,06
0,07
0,01
1,6
-
5
0,02
1,44
0,17
0,67
0,47
5,2
-
-
0,48
-
0,2
0,27
0,29
1,6
-
-
1,32
-
3300*
1640*
2460*
2720*
8600*
-
1665
-
 Keterangan : Nuraini (2009).

Tabel 2.     Komposisi ransum perlakuan selama penelitian
Bahan Pakan 
Ransum Perlakuan (%)

A
B
C
D
Jagung giling Dedak halus
B Kelapa
K Ikan tri
M. Kelapa
ATKT
T Batu
Topmix
54,5
7
13
20
0,5
0
4,5
0,5
50,5
7
13
20
0,5
4
4,5
0,5
46,5
7
13
20
0,5
8
4,5
0,5
42,5
7
13
20
0,5
12
4,5
0,5
Total
100
100
100
100

Tabel 3. Kandungan zat-zat makanan (%) dan energi metabolisme (Kkal/Kg)  ransum   perlakuan
Bahan Pakan 
Ransum Perlakuan (%)

A
B
C
D
PK (%)
Lemak (%)
SK (%)
Ca (%)
P (%)
Lysine (%)
Metionin (%)
ME (Kkal/kg)
20,00
3,45
3,45
2,49
0,59
1,24
0,48
2820,1
20,17
3,78
3,60
2,48
0,59
1,24
0,52
2814,6
20,34
4,11
3,75
2,47
0,58
1,24
0,56
2809,1
20,52
4,44
3,91
2,46
0,58
1,24
0,60
2803,6
Keterangan : Dihitung berdasarkan Tabel 4. dan Tabel 5.
              

Kandang dan Peralatan
            Kandang yang digunakan pada penelitian ini yaitu kandang baterai yang di buat dari kawat sebanyak 20 unit dimana masing-masing unit ditempati 5 ekor puyuh. Setiap unit kandang berukuran Panjang 40 x tinggi 45 x  Lebar 30 cm dilengkapi dengan tempat makan dan minum di setiap unitnya. Sebagai alat pemanas dan penerangan di malam hari digunakan 1 buah lampu pijar 25 Watt. Untuk menimbang ransum  digunakan timbangan dengan Weston dengan tingkat ketelitin 0,1 gr

Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap unit terdiri dari 5 ekor puyuh sebagai unit percobaan. Perlakuan adalah ransum yang menggunakan Ampas Tahu dan Kulit Tauge (ATKT). Perlakuan penelitian adalah sebagai berikut:
A.      Ransum tanpa menggunakan ATKT (Kontrol)
B.      Ransum dengan menggunakakan 4%  ATKT
C.      Ransum dengan menggunakan 8%  ATKT
D.     Ransum dengan menggunakan 12%  ATKT

Model matematika dan rancangan yang digunakan  adalah menurut Steel and Torrie (1991). Jika terdapat perbedaan antara perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan uji BNJ pada taraf 5%.

Pelaksanan Penelitian

a.   Persiapan Ampas tahu dan kulit tauge
      1. Pengambilan
          Pengambilan ampas tahu ini di tempat mbak Sarah yang ada di Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi. Kulit tauge ini dari pedagang sayuran di pasar-pasar yang ada di Kecamatan Kuantan Mudiki di peroleh dengan cara mengumpulkan.
2. Pengeringan
          Pengeringan ampas tahu dan kulit tauge ini dilakukan di ruangan terbuka menggunakan cahaya matahari sampai ampas tahu dan kulit tauge benar-benar kering.
      3. Pengilingan
          Penggilingan ampas tahu dan kulit tauge ini dilakukan menggunakan blender sampai ampas tahu dan kulit tauge tersebut menjadi lebih halus (tepung).

b.     Persiapan Ransum Penelitian
       Bahan-bahan penyusun ransum terdiri dari : jagung giling, dedak halus, bungkil kelapa, kepala ikan tri, minyak kelapa, top mix, tepung batu dan ATKT. Masing-masing ditimbang menurut komposisi ransum perlakuan, kemudian di aduk sampai merata. Pengadukan dimulai dari bahan yang sedikit jumlahnya sampai bahan yang terbanyak jumlahnya.

c.   Persiapan Kandang
       Kandang di bersihkan satu minggu sebelum puyuh masuk, dengan cara pengapuran dan penyemprotan desinfektan (Rhodalon). Kemudian di masukkan seperti tempat makan dan tempat minum serta setiap kandang perlakuan diberi 1 buah lampu pijar 25 watt. Kandang ditata sesuai dengan denah tempat perlakuan penelitian.

d.      Persiapan Puyuh Percobaan
       Puyuh yang baru tiba diistirahatkan terlebih dahulu selama ± 10 menit, kemudian diberikan minuman air gula yang berfungsi untuk mencegah terjadinya cekaman atau stress akibat transfortasi. Setelah puyuh berumur dua hari baru dilakukan penelitian yang diawali dengan melakukan penimbangan bobot badan awal, selanjutnya puyuh ditempatkan ke dalam kandang secara acak

e.      Penempatan puyuh ke dalam  Kandang
Penempatan puyuh dalam kandang dimulai dengan pengambilan puyuh secara acak sebanyak 5 ekor, lalu ditimbang dan dicari berat rata-rata untuk dijadikan berat patokan. Semua puyuh (100 ekor) ditimbang dan dimasukan kedalam kotak sesuai dengan berat badannya. Kemudian puyuh dimasukan kedalam kandang mulai dari berat terendah sampai berat tertinggi dan sebaliknya sampai puyuh habis.
. 
f.       Pelaksanan Penelitian
1. Puyuh percobaan diberikan 2 x sehari yaitu pagi pukul 08.00 dan sore pukul 16.00 sedangkan air minum diberikan secara ad libitum.
2. Ransum yang akan diberikan ditimbang terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan pada masing-masing perlakuan.

g.      Sanitasi
1. Tempat makan dan minum dibersihkan setiap hari.
       2. Kotoran dibersihkan setiap hari.
       3. Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan kandang.

Parameter yang di ukur 
     Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.     Konsumsi ransum, dihitung setiap hari dengan cara mengurangi jumlah ransum yang telah diberikan dengan ransum sisa.
2.     Pertambahan bobot badan, dihitung dengan cara menimbang  bobot badan puyuh setiap minggu penelitian kemudian dikurangi bobot badan pada minggu sebelumnya dibagi jumlah hari dalam seminggu
  1. Konversi ransum, dihitung dengan membandingkan konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan yang dihasilkan pada minggu yang sama.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Ransum

 Rataan konsumsi ransum puyuh dengan penggunaan ampas tahu dan kulit tauge pada puyuh umur 2 - 42 hari yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.


Tabel 4. Rataan konsumsi ransum puyuh selama penelitian (gram/ekor/hari).

 Perlakuan
Konsumsi Ransum
A  (0%)
11.39a
B  (4%)
11.96b
                                         C (8%)
 11,99bc
  D (12%)
12.19d
Rataan
11.88
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata  (P < 0.05).


Berdasarkan data pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa rataan konsumsi ransum puyuh selama penelitian adalah 11.88 gram/ekor/hari dengan kisaran 11.39 – 12.19 gram/ekor/hari. Konsumsi ransum terendah terdapat pada perlakuan A (0 % ampas tahu dan kulit tauge yaitu sebesar 11.39 gram/ekor/hari) sedangkan konsumsi ransum tertinggi terdapat pada perlakuaan D (12 %  ampas tahu dan kulit tauge yaitu sebesar 12.19 gram/ekor/hari).
Hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggunaan ampas tahu dan kulit tauge dalam ransum sangat  berpengaruh  nyata (P<0.05) terhadap konsumsi ransum puyuh. Setelah dilakukan uji BNJ terlihat bahwa perlakuan 12% dan 8% ampas tahu dan kulit tauge berbeda nyata (P<0.05) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan 0% dan 4%  ampas tahu dan kulit tauge.
Konsumsi ransum yang tinggi pada perlakuan 12%  ampas tahu dan kulit tauge menunjukkan bahwa ransum tersebut disukai (palaTabel) oleh puyuh sampai level 12%. Berpengaruh nyatanya konsumsi ransum yang diperoleh selama penelitian diduga karena kandungan protein ampas tahu  24.56% yang hampir sama dengan kandungan Protein Kacang hijau (Rahman, 1983) sedangakan limbah kulit tauge memiliki kandungan protein sebesar 13,62% (Rahayu dkk, 2010). Al-Amin (2012) menambahkan bahwa kandungan protein kulit tauge sebesar 18.58%, serat kasar 33.35%, lemak 0%, calsium 0.92%, posfor 0.21%, abu 6.69%. Selanjutnya Rasaf (1992) menyatakan bahwa yang mempengaruhi konsumsi ransum adalah faktor lingkungan, kesehatan, jenis kelamin, genetik, kecepatan pertumbuhan, bentuk ransum dan keseimbangan zat makanan. Rizal (2006) menyatakan bahwa ransum merupakan susunan bahan makanan baik dari satu jenis, maupun dari bermacam-macam bahan makanan yang disusun menurut aturan tertentu untuk dapat memenuhi kebutuhan seekor ternak  selama 24 jam.
Ransum yang diberikan pada penelitian ini berupa tepung sehingga lebih muda dikonsumsi dan dicerna oleh puyuh sesuai dengan pendapat Listiyowati dan Rooospitasari (2003), ransum terbaik dikonsumsi puyuh adalah dalam bentuk tepung, sebab puyuh mempunyai sifat usil dan sering mematuk lawannya, bila makanan dalam bentuk tepung puyuh akan mempunyai kesibukan lain yaitu mematuk pakannya. Ditambah lagi bahwa makanan yang berbentuk tepung mudah dicerna, cepat dilepas unsur nutrisinya dan cepat dipindahkan ketubuh unggas untuk dimanfaatkan bagi kepentingan tubuh dan produksi dibanding butiran. Konsumsi ransum puyuh diperoleh selama penelitian adalah 12.19 gram/ekor/hari. Angka ini tidak terlalu berbeda dengan konsumsi ransum yang diperoleh oleh Adharianti (2012) yaitu 12.72 gram/ekor/hari.

Pertambahan Bobot Badan

Rataan pertambahan  bobot badan puyuh  pada penggunaan ampas tahu dan kulit tauge yang peroleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 5. Berdasarkan data pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan pertambahan bobot badan puyuh selama penelitian adalah 3.03 gram/ekor/hari dengan kisaran 2.86-3.14 gram/eko/hari. Pertambahan bobot badan puyuh yang terrendah terdapat pada perlakuan A (0 % tanpa ampas tahu dan kulit tauge yaitu sebesar 2.86 gram/ekor) sedangkan pertambahan bobot badan puyuh tertinggi terdapat pada perlakuaan D (12 % ampas tahu dan kulit tauge yaitu sebesar 3.14 gram/ekor/hari).





Tabel 5. Rataan pertambahan bobot badan puyuh selama penelitian  
(gram/ekor/hari).
Perlakuan
Pertambahan Bobot Badan
A  (0%)
2,86a
B  (4%)
3,04b
                                       C (8%)
  3,07bc
 D (12%)
3,14d
Rataan
3.03
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukan pengaruh yang berbeda nyata  ( P< 0.05)


Hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan ampas tahu dan kulit tauge dalam ransum memberikan pengaruh yang  berbeda sangat nyata (P< 0.01) terhadap pertambahan bobot badan puyuh. Berbeda nyatanya pertambahan bobot badan yang diperoleh selama penelitian diduga disebabkan karena konsumsi ransum yang juga menunjukkan berpengaruh nyata. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Lukman (2005) bahwa pertambahan bobot badan sangat erat kaitannya dengan peningkatan konsumsi ransum. Konsumsi ransum akan meningkat berdasarkan pertambahan bobot badan, artinya semakin laju pertambahan bobot badan maka akan semakin besar pula ransum yang akan dikonsumsi ternak tersebut. Ditambahkan Kartadisastra (1997) bahwa bobot tubuh ternak senantiasa berbanding lurus dengan konsumsi ransum, makin tinggi konsumsi ransum, makin tinggi pula pertambahan bobot badan yang dihasilkan.
Hal lain disebabkan karena protein yang terkandung dalam ampas tahu dan kulit touge mampu diserap atau dicerna secara  maksimal. Ampas tahu memiliki protein yang tinggi yaitu 24.39% dan 28.36% (Nuraini dkk, 2009), sedangkan kulit tauge memiliki kandungan protein 18,58 %  ( Al-Amin,  2012). Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Abun dkk, (2005) bahwa pertambahan bobot badan dipengaruhui oleh pertumbuhan ternak yang sangat berhubungan erat dengan kecernaan protein.
Menurut Suprijatna (2002) bahwa pakan yang kurang mengandung protein menyebabkan laju pertumbuhan menurun. Pertambahan bobot badan pada penelitian ini  lebih tinggi dibanding dengan penelitian Elfawati meneliti tentang pengaruh pemakaian tepung umbi talas (Xanthosoma sagittipolium) dan penambahan metionin dalam ransum puyuh periode pertumbuhan (2006) yaitu 2.58 gram/ekor/hari.
Pertambahan bobot badan yang diperoleh selama penelitian adalah 3.14 gram/ekor. Angka ini lebih tinggi dari  pada Elfawati (2006) yang mendapatkan pertambahan bobot badan 2.58 gram/ekor, dengan pemakaian umbi talas (Xanthosoma sagittipolium) dan penambahan metionin dalam ransum periode pertumbuhan.

Konversi Ransum 
 
Rataan konversi ransum puyuh penggunaan ampas tahu dan kulit tauge yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.


Tabel 6. Rataan konversi ransum puyuh selama penelitian.
Perlakuan
Konversi Ransum
 A  (0%)
3.98a
 B  (4%)
3.94b
C (8%)
3.91c
  D (12%)
3.88c
Rataan
3.93
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukan pengaruh yang berbeda nyata ( P< 0,05).


Berdasarkan data pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa rataan konversi ransum puyuh selama penelitian adalah 3.93, dengan kisaran 3.88 – 3.98. Konversi ransum terendah terdapat pada perlakuan D (12 % ampas tahu dan kulit tauge) yaitu sebesar 3.88, sedangkan konversi ransum tertinggi terdapat pada perlakuan A (0 % ampas tahu dan kulit tauge yaitu sebesar 3.98 gram/ekor/hari.
Hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan ampas tahu dan kulit tauge dalam ransum memberikan pengaruh nyata (P<0.05) terhadap konversi ransum puyuh. Adanya pengaruh yang nyata terhadap konversi ransum menujukkan bahwa penggunaan ampas tahu dan kulit tauge dalam ransum puyuh dapat meningkatkan efesiensi ransum. Hal ini disebabkan oleh konsumsi yang tinggi diiringi oleh pertambahan bobot badan dan dapat dilihat bahwa semangkin tinggi level ampas tahu dan kulit tauge semangkin rendah konversi ransum.
           Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (1994), bahwa konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah kilogram makanan yang dikonsumsi dengan kilogram daging yang dihasilkan, lebih jauh dijelaskan bahwa semakin kecil angka konversi semakin efisiensi penggunaan ransum. Menurut Rasyaf (1991), konversi ransum dapat digunakan sebagai gambaran koefisien produksi, semakin kecil nilai konversi semakin efesien penggunaan ransum dan demikian sebaliknya.  Konversi ransum dapat diukur setiap minggu atau komulatifnya. Secara praktis dilapangan biasanya konversi ransum dihitung secara komulatif dan pengukuran ini dapat dipertimbangkan sebagai perhitungan ekonomis (Rasyaf, 1991).
           Konversi ransum yang diperoleh pada penelitian ini yaitu 3.88 angka ini lebih rendah yang diperoleh elfawati (2006) yaitu 4.26 dengan pemakaian umbi talas (Xanthosoma sagittipolium) dan penambahan metionin dalam ransum periode pertumbuhan. Semakin kecil angka konversi ransum maka semakin baik efesiensi penggunaan pakan (Siregar dkk, 1992).

KESIMPULAN

Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan ampas tahu dan kulit tauge (ATKT) sampai level 12% dalam ransum dapat meningkatkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan menurunkan konversi ransum  puyuh.

DAFTAR PUSTAKA

Abun, D. Rusmana dan D. Saefulhadjar. 2005. Efek Ransum Mengandung Ampas Umbi Garut Produksi Fermentasi oleh Kapang Aspergillus niger terhadap Imbangan Efisiensi Protein dan Konversi Ransum Pada Ayam Broiler. [Laporan Penelitian]. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Sumedang.
Adharianti, W. 2011. Performans Burung Puyuh Periode Starter Dengan Pemberian Tepung Biji Karet pada Level Berbeda. Fakultas Pertanian dan Perternakan, Universitas Islam Negri Sultan Syarif Kasim Riau.
Djulardi, A, dkk. 2006. Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa Harapan. Andalas university Press. Padang.
Elfawati, 2006. Pengaruh Pemakaian Tepung Umbi Talas (xanhosoma Sagittifolium) dan Penambahan Metionin dalam Ransum Puyuh Periode Pertumbuhan. Jurnal Peternakan. Vol. 3-no 1 halaman 10. 
Kartadisastra, H, R, 1997. Penyediaan dan Pengelolaan pakann Ternak Ruminansia. Kanisius, Yogyajakarta.
Lystiowati. E dan K. Roospitasari. 2003. Tata Laksana Budidaya Puyuh Secara Komersil. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lukman, H. 2005. Evaluasi Pemberian Feed Aditiv Alami Berapa Campuran Herbal, Probiotik dan Prebiotik terhadap Performans, Karkas dan Lemak Abdominan, serta HDI, LDL Daging. [Skripsi]. Depertemen Ilmu Nutrisi Dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nuraini, S.A. Latif. Dan Sabrina, 2009a. Improving the quality of tapioka by Paoduct thrugh fermentation by Neurospora crassa to produce β caroten rich feed. Pakistan J of Nutri. Vol. 8(4):487-490.
Nuraini, Sabrina dan S. A. Latif. 2007. Teknologi peningkatan kualitas limbah Angroindustri menjadi pakan kaya B karotin untuk mengurangi penggunaan jagung dalam ransum ayam petelur. Laporan Penelitian Hibah Bersaing. Lembaga Penelitian Universitas Andalas, Padang.
Parakkasi. A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. P.T. Angkasa. Bandung.
Rahman, J. 1983. Pemanfaatan ampas tahu dan pemamfaatannya dalam ransum broiler. [Laporan Penelitian]. Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang.
  Rasyaf, M. 1992. Produksi dan Pemberian Ransum Unggas. Kanisius, Yogyakarta.
Rasyaf. M. 1991. Memelihara Burung Puyuh. Penerbit Yayasan Kanisius. Yogyakarta.
Rasyaf. M. 1994. Bahan Makanan Unggas di Indoesia. Kanisius, Yayasan Kanisius. Yogyakarta.
Rasyaf, M. 2003. Berternak Ayam Petelur. Kanisius.Yogyakarta.
Rahayu, S., D. S. Wandito, & W. W. Ifafah,. 2010. Survei Potensi Limbah Tauge                                                 di Kota Madya Bogor. Laporan Penelitian. Fakultas Peternakan. Institut   Pertanian Bogor, Bogor.
Rizal, Y. 2006. Ilmu Nutri Unggas, Cetakan 1. Andalas University Press, Padang.
Sanyoto, T. 2001. Pengaruh Pemberian Limbah Padat Pembuatan Tahu Sebagai                   Pakan Tambahan Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). [Skripsi]. Universitas Negeri Fakultas MIPA: Malang.
Siregar, A. P. M. C. Sarbani dan P. Suroparwiro. 1992. Tehnik berternak ayam Pedaging di Indonesia. Margie Group, Jakarta.

SNI. 01-3907-2006. Persyaratan Mutu Standar Untuk Ransum Puyuh Petelur Dewasa (Quail Layer).
Suprijatna, E. 2002. Ayam Buras Krosing Petelur. Penerbar Swadaya. Jakarta.
Siregar A. P. N. Sabrani dan P. Suroprowiro. 1980. Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia. Margie Group. Jakarta.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar