PENGARUH PENGGUNAAN AMPAS TAHU
DAN KULIT TAUGE DALAM RANSUM TERHADAP
PERFORMANS PUYUH (Coturnix coturnix japonica)
UMUR 2 - 42 HARI.
Sri Melati, Darmiwati,
dan Muslim
Program Studi Peternakan Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan
Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau
ABSTRACT
The
purpose of this study is to determine the effect of the use of tofu and bean
sprouts in a ration of skin on the performances quail (Coturnix
coturnix japonica) aged
2-42 days. This
study was conducted on August 13 till September 23, 2012 in the village of
Lubuk Ambacang District of Hulu Kuantan, Kuantan District Singingi. This study using the
quail (Cortunix-cortunix japonica) as much as 100 individuals. The method used in
this study is an experimental method using a completely randomized design (CRD)
with 4 treatments and consists of A (0% Dregs tofu and bean sprouts skin), B
(4% Dregs tofu and bean sprouts skin), C (8% Dregs know and leather bean
sprouts), and D (12% Dregs tofu and bean sprouts leather) and 5 replicates each
consisting of 5 replicates quails.
Parameters
measured included feed intake, body weight gain and feed conversion. The results of this
study showed quail feed intake on average 11.88 grams / head / day, body weight
gain quail 3:03 g / head / day and feed conversion of quail 3.93. Based on these
results it can be concluded that the use of tofu and bean sprouts skin to the
level of 12% in the ration was highly significant tehadap feed intake and body
weight gain quail and significant effect on feed conversion of quail.
Keywords
: tofu, bean sprout, performance, quail
PENDAHULUAN
Usaha peternakan unggas termasuk puyuh ditentukan
oleh banyak faktor untuk mencapai keberhasilan di antaranya faktor produksi dan
pemasaran. Pada faktor produksi yang paling berpengaruh adalah ransum, karena
dalam penyediaannya menghabiskan 60 –70 % dari total biaya produksi (Siregar
dkk, 1980). Ransum berguna untuk memenuhi kebutuhan unggas agar bertahan hidup
dan berlangsungnya proses biologi serta mampu berproduksi.
Tingginya biaya yang
harus dikeluarkan
untuk menyediakan ransum karena pakan yang digunakan
untuk membuat ransum itu sebagian besar masih merupakan bahan impor seperti
jagung, bungkil kedelai, dan tepung ikan yang harganya mahal dan disamping itu
bahan penyusun ini
juga merupakan bahan yang bersaing dengan kebutuhan manusia.
Untuk mengatasi berbagai masalah
ransum di atas berbagai cara dilakukan untuk menekan biaya yaitu dengan jalan
menyediakan pakan yang murah, menggunakan bahan-bahan alternatif yang dapat
menggantikan sebagian atau keseluruhan dari bahan impor dan bahan konvensional
lainnya seperti limbah atau hasil sampingan suatu produk. Bahan-bahan
alternatif yang digunakan dalam membuat ransum itu harus mempunyai kandungan
gizi yang baik, harga murah, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, tidak
mengandung racun dan tersedia dalam jumlah yang banyak serta berkesinambungan.
Oleh karena itu, ransum berperan sangat penting dalam pertumbuhan puyuh
petelur. Ransum yang sesuai dengan kebutuhan baik kualitas maupun kuantitasnya
sangat menentukan produk akhir. Limbah pertanian merupakan bahan pakan
alternatif yang masih memiliki kandungan nutrisi yang baik sehingga dapat
digunakan dalam penyusunan ransum puyuh petelur. Salah satu limbah pertanian
tersebut adalah ampas tahu dan kulit
tauge.
Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padat dari bubur kedelei yang
diperas sebagai sisa dalam pembuatan tahu.
Ampas tahu yang berupa padatan ini dapat dijadikan pakan ternak sumber
protein, karena kandungan proteinnya cukup tinggi yaitu sekitar 28.36% dan
kandungan zat-zat makanan lainnya adalah lemak 5.52%, serat kasar 7.06% dan
BETN 45.44% (Nuraini dkk, 2007). Selain itu ampas tahu juga mengandung asam
amino, lisin, methionin dan vitamin B ( Hsieh dan Yang, 2003). Ampas tahu
sering menimbulkan masalah lingkungan
karena berbau busuk bila tidak cepat dikeringkan dan dimanfaatkan
sebagai makanan ternak. Selanjutnya dijelaskan bahwa ampas tahu cukup potensial
sebagai bahan makanan ternak karena dapat meningkatkan produksi ternak dan
sekaligus memberi hasil sampingan bagi pembuat tahu.
Kulit
tauge
pada umumnya menjadi limbah di pasar-pasar tradisional
hanya sebagian kecil yang memanfaatkan untuk campuran ransum puyuh.
Sebagai limbah, kulit touge cenderung mudah mengalami pembusukan dan kerusakan,
sehingga perlu dilakukan pengolahan untuk memperpanjang masa simpan.
Pengeringan dan pengilingan (penepungan) adalah
upaya untuk memperpanjang masa simpan.
Berdasarkan
permasalahan diatas maka dilakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Penggunaan
Ampas Tahu Dan Kulit Tauge Dalam Ransum Terhadap Performans Puyuh (Coturnix coturnix japonica) Umur 2 – 42 Hari.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh penggunaan ampas tahu dan kulit
tauge terhadap performans ( konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan
konversi ransum) puyuh (Coturnix coturnix
japonica) umur 2 - 42 hari. Manfaat hasil penelitian dapat memberi
informasi kepada masyarakat bahwa ampas tahu dan kulit tauge dapat dimanfaatkan
salah satu bahan pakan alternatif.
BAHAN
DAN METODE
Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian
ini telah dilaksanakan selama 42 hari mulai tanggal 13 Agustus sampai tanggal
23 September 2012 di desa Lubuk Ambacang Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi.
Bahan dan Alat
Ternak Percobaan
Ternak
yang digunakan pada penelitian ini adalah puyuh (Coturnix coturnix japonica)
berumur 2 hari sebanyak 100 ekor tanpa membedakan jenis kelamin. Dengan bobot
awal rata-rata 6,21 gram/ekor. Puyuh berasal dari pembibitan milik Buk fitri di
Desa Kasang Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi.
Ransum Percobaan
Ransum
disusun sendiri dari bahan-bahan seperti jagung, dedak, bungkil kelapa, kepala
ikan teri, minyak kelapa, dan tepung batu
serta ampas tahu dan kulit tauge. Dengan dosis ransum A (0 % ATKT),
ransum B (4 % ATKT), ransum C (8 % ATKT), ransum D (12 % ATKT). Komposisi zat
makanan zat ransum bahan penyusun penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan
zat-zat makanan (%) dan energi metabolisme Kkal/kg) bahan penyusun ransum.
|
|
PK
|
Lemak
|
SK
|
Ca
%
|
P
|
Lys
|
Met
|
ME (Kkal/kg)
|
|
Jagung
Dedak
B Klpa
K Ikan tri
M Kelapa
T Batu
ATKKT
Topmix
|
11,8
13,9
20,65
49,56
-
-
22,56
-
|
2,66
4,09
6
2,18
100
-
0,8
-
|
2,08
11,5
6,2
3,55
-
-
10,56
-
|
0,37
0,7
0,13
3,11
-
35
0,18
5,38
|
0,06
0,07
0,01
1,6
-
5
0,02
1,44
|
0,17
0,67
0,47
5,2
-
-
0,48
-
|
0,2
0,27
0,29
1,6
-
-
1,32
-
|
3300*
1640*
2460*
2720*
8600*
-
1665
-
|
Keterangan : Nuraini (2009).
Tabel
2. Komposisi ransum perlakuan selama
penelitian
|
Bahan
Pakan
|
Ransum Perlakuan (%)
|
|||
|
|
A
|
B
|
C
|
D
|
|
Jagung giling Dedak halus
B Kelapa
K Ikan tri
M. Kelapa
ATKT
T Batu
Topmix
|
54,5
7
13
20
0,5
0
4,5
0,5
|
50,5
7
13
20
0,5
4
4,5
0,5
|
46,5
7
13
20
0,5
8
4,5
0,5
|
42,5
7
13
20
0,5
12
4,5
0,5
|
|
Total
|
100
|
100
|
100
|
100
|
Tabel
3. Kandungan zat-zat makanan (%) dan energi metabolisme (Kkal/Kg) ransum
perlakuan
|
Bahan
Pakan
|
Ransum Perlakuan (%)
|
|||
|
|
A
|
B
|
C
|
D
|
|
PK (%)
Lemak (%)
SK (%)
Ca (%)
P (%)
Lysine (%)
Metionin (%)
ME (Kkal/kg)
|
20,00
3,45
3,45
2,49
0,59
1,24
0,48
2820,1
|
20,17
3,78
3,60
2,48
0,59
1,24
0,52
2814,6
|
20,34
4,11
3,75
2,47
0,58
1,24
0,56
2809,1
|
20,52
4,44
3,91
2,46
0,58
1,24
0,60
2803,6
|
Keterangan
: Dihitung berdasarkan Tabel 4. dan Tabel 5.
Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan pada
penelitian ini yaitu kandang baterai yang di buat dari kawat sebanyak 20 unit
dimana masing-masing unit ditempati 5 ekor puyuh. Setiap unit kandang berukuran
Panjang 40 x tinggi 45 x Lebar 30 cm
dilengkapi dengan tempat makan dan minum di setiap unitnya. Sebagai alat
pemanas dan penerangan di malam hari digunakan 1 buah lampu pijar 25 Watt.
Untuk menimbang ransum digunakan
timbangan dengan Weston dengan tingkat ketelitin 0,1 gr
Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan
percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap unit terdiri dari 5 ekor puyuh sebagai unit percobaan. Perlakuan adalah
ransum yang menggunakan Ampas Tahu dan Kulit
Tauge (ATKT). Perlakuan
penelitian adalah sebagai berikut:
A.
Ransum tanpa menggunakan
ATKT (Kontrol)
B.
Ransum dengan
menggunakakan 4% ATKT
C.
Ransum dengan
menggunakan 8% ATKT
D.
Ransum dengan
menggunakan 12% ATKT
Model matematika dan rancangan yang digunakan adalah menurut Steel and Torrie (1991). Jika
terdapat perbedaan antara perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan uji BNJ
pada taraf 5%.
Pelaksanan Penelitian
a. Persiapan Ampas tahu dan kulit tauge
1.
Pengambilan
Pengambilan ampas tahu ini di tempat
mbak Sarah yang ada di Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi.
Kulit tauge ini dari pedagang sayuran di pasar-pasar yang ada di Kecamatan
Kuantan Mudiki di peroleh dengan cara mengumpulkan.
2.
Pengeringan
Pengeringan ampas tahu dan kulit tauge ini dilakukan di ruangan terbuka
menggunakan cahaya matahari sampai ampas tahu dan kulit tauge benar-benar
kering.
3. Pengilingan
Penggilingan ampas tahu dan kulit tauge ini dilakukan menggunakan
blender sampai ampas tahu dan kulit tauge tersebut menjadi lebih halus
(tepung).
b. Persiapan
Ransum Penelitian
Bahan-bahan penyusun ransum terdiri dari
: jagung giling, dedak halus, bungkil kelapa, kepala ikan tri, minyak kelapa, top
mix, tepung batu dan ATKT. Masing-masing ditimbang menurut komposisi ransum
perlakuan, kemudian di aduk sampai merata. Pengadukan dimulai dari bahan yang
sedikit jumlahnya sampai bahan yang terbanyak jumlahnya.
c.
Persiapan Kandang
Kandang
di bersihkan satu minggu sebelum puyuh masuk, dengan cara pengapuran dan
penyemprotan desinfektan (Rhodalon). Kemudian di masukkan seperti tempat makan
dan tempat minum serta setiap kandang perlakuan diberi 1 buah lampu pijar 25
watt. Kandang ditata sesuai dengan denah tempat perlakuan penelitian.
d. Persiapan Puyuh
Percobaan
Puyuh yang baru tiba
diistirahatkan terlebih dahulu selama ± 10 menit, kemudian diberikan minuman
air gula yang berfungsi untuk mencegah terjadinya cekaman atau stress akibat
transfortasi. Setelah puyuh berumur dua
hari baru dilakukan penelitian yang diawali dengan melakukan penimbangan bobot
badan awal, selanjutnya puyuh ditempatkan ke dalam
kandang secara acak
e. Penempatan puyuh ke dalam Kandang
Penempatan puyuh
dalam kandang dimulai dengan pengambilan puyuh secara acak sebanyak 5
ekor, lalu ditimbang dan dicari berat rata-rata untuk dijadikan berat patokan.
Semua puyuh (100 ekor) ditimbang dan dimasukan kedalam kotak sesuai
dengan berat badannya. Kemudian puyuh dimasukan kedalam kandang mulai dari
berat terendah sampai berat tertinggi dan sebaliknya sampai puyuh habis.
.
f. Pelaksanan Penelitian
1. Puyuh percobaan diberikan 2 x sehari yaitu pagi pukul
08.00 dan sore pukul
16.00 sedangkan
air minum diberikan secara ad libitum.
2. Ransum
yang akan diberikan ditimbang terlebih dahulu sesuai dengan
kebutuhan pada masing-masing perlakuan.
g.
Sanitasi
1.
Tempat makan dan minum dibersihkan setiap hari.
2. Kotoran dibersihkan setiap hari.
3. Menjaga kebersihan kandang dan
lingkungan kandang.
Parameter yang di ukur
Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Konsumsi ransum,
dihitung setiap hari dengan cara mengurangi jumlah ransum yang telah diberikan
dengan ransum sisa.
2.
Pertambahan
bobot badan, dihitung dengan cara menimbang bobot badan puyuh setiap minggu penelitian kemudian dikurangi bobot badan pada minggu
sebelumnya dibagi jumlah hari dalam seminggu
- Konversi ransum, dihitung dengan membandingkan konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan yang dihasilkan pada minggu yang sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsumsi Ransum
Rataan
konsumsi ransum puyuh dengan penggunaan ampas tahu dan kulit tauge pada puyuh
umur 2 - 42 hari yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel
4. Rataan konsumsi ransum puyuh selama penelitian (gram/ekor/hari).
|
Perlakuan
|
Konsumsi Ransum
|
|
A
(0%)
|
11.39a
|
|
B
(4%)
|
11.96b
|
|
C (8%)
|
11,99bc
|
|
D
(12%)
|
12.19d
|
|
Rataan
|
11.88
|
Keterangan
: Superskrip yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P < 0.05).
Berdasarkan data pada Tabel 4 dapat dilihat
bahwa rataan konsumsi ransum puyuh selama penelitian adalah 11.88
gram/ekor/hari dengan kisaran 11.39 – 12.19 gram/ekor/hari. Konsumsi ransum
terendah terdapat pada perlakuan A (0 % ampas tahu dan kulit tauge yaitu
sebesar 11.39 gram/ekor/hari) sedangkan konsumsi ransum tertinggi terdapat pada
perlakuaan D (12 % ampas tahu dan kulit
tauge yaitu sebesar 12.19 gram/ekor/hari).
Hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa
perlakuan penggunaan ampas tahu dan kulit tauge dalam ransum sangat berpengaruh
nyata (P<0.05) terhadap konsumsi ransum puyuh. Setelah dilakukan uji BNJ terlihat bahwa perlakuan 12% dan 8% ampas tahu
dan kulit tauge berbeda nyata (P<0.05) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan 0% dan 4% ampas tahu dan kulit tauge.
Konsumsi ransum yang
tinggi pada perlakuan 12% ampas tahu dan
kulit tauge menunjukkan bahwa ransum tersebut disukai (palaTabel) oleh puyuh
sampai level 12%. Berpengaruh nyatanya konsumsi ransum yang diperoleh selama
penelitian diduga karena kandungan protein ampas tahu 24.56% yang hampir sama dengan kandungan
Protein Kacang hijau (Rahman, 1983) sedangakan limbah kulit tauge memiliki
kandungan protein sebesar 13,62% (Rahayu dkk, 2010). Al-Amin (2012) menambahkan bahwa kandungan protein kulit
tauge sebesar 18.58%, serat kasar 33.35%, lemak 0%, calsium 0.92%, posfor
0.21%, abu 6.69%. Selanjutnya Rasaf (1992) menyatakan bahwa yang mempengaruhi
konsumsi ransum adalah faktor lingkungan, kesehatan, jenis kelamin, genetik,
kecepatan pertumbuhan, bentuk ransum dan keseimbangan zat makanan. Rizal (2006)
menyatakan bahwa ransum merupakan susunan bahan makanan baik dari satu jenis,
maupun dari bermacam-macam bahan makanan yang disusun menurut aturan tertentu untuk
dapat memenuhi kebutuhan seekor ternak
selama 24 jam.
Ransum yang diberikan pada penelitian ini
berupa tepung sehingga lebih muda dikonsumsi dan dicerna oleh puyuh sesuai
dengan pendapat Listiyowati dan Rooospitasari (2003), ransum terbaik dikonsumsi
puyuh adalah dalam bentuk tepung, sebab puyuh mempunyai sifat usil dan sering
mematuk lawannya, bila makanan dalam bentuk tepung puyuh akan mempunyai
kesibukan lain yaitu mematuk pakannya. Ditambah lagi bahwa makanan yang
berbentuk tepung mudah dicerna, cepat dilepas unsur nutrisinya dan cepat
dipindahkan ketubuh unggas untuk dimanfaatkan bagi kepentingan tubuh dan
produksi dibanding butiran. Konsumsi ransum puyuh diperoleh selama penelitian
adalah 12.19 gram/ekor/hari. Angka ini tidak terlalu berbeda dengan konsumsi
ransum yang diperoleh oleh Adharianti (2012) yaitu 12.72 gram/ekor/hari.
Pertambahan Bobot
Badan
Rataan pertambahan bobot badan puyuh pada penggunaan ampas tahu dan kulit tauge
yang peroleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 5. Berdasarkan data
pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan pertambahan bobot badan puyuh selama
penelitian adalah 3.03 gram/ekor/hari dengan kisaran 2.86-3.14 gram/eko/hari.
Pertambahan bobot badan puyuh yang terrendah terdapat pada perlakuan A (0 %
tanpa ampas tahu dan kulit tauge yaitu sebesar 2.86 gram/ekor) sedangkan
pertambahan bobot badan puyuh tertinggi terdapat pada perlakuaan D (12 % ampas
tahu dan kulit tauge yaitu sebesar 3.14 gram/ekor/hari).
Tabel
5. Rataan pertambahan bobot badan puyuh selama penelitian
(gram/ekor/hari).
(gram/ekor/hari).
|
Perlakuan
|
Pertambahan Bobot Badan
|
|
A
(0%)
|
2,86a
|
|
B (4%)
|
3,04b
|
|
C (8%)
|
3,07bc
|
|
D (12%)
|
3,14d
|
|
Rataan
|
3.03
|
Keterangan
: Superskrip yang berbeda menunjukan pengaruh yang berbeda nyata ( P< 0.05)
Hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa
perlakuan ampas tahu dan kulit tauge dalam ransum memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P< 0.01) terhadap
pertambahan bobot badan puyuh. Berbeda nyatanya pertambahan bobot badan yang diperoleh
selama penelitian diduga disebabkan karena konsumsi ransum yang juga
menunjukkan berpengaruh nyata. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Lukman
(2005) bahwa pertambahan bobot badan sangat erat kaitannya dengan peningkatan
konsumsi ransum. Konsumsi ransum akan meningkat berdasarkan pertambahan bobot
badan, artinya semakin laju pertambahan bobot badan maka akan semakin besar
pula ransum yang akan dikonsumsi ternak tersebut. Ditambahkan Kartadisastra
(1997) bahwa bobot tubuh ternak senantiasa berbanding lurus dengan konsumsi
ransum, makin tinggi konsumsi ransum, makin tinggi pula pertambahan bobot badan
yang dihasilkan.
Hal lain disebabkan karena protein yang
terkandung dalam ampas tahu dan kulit touge mampu diserap atau dicerna
secara maksimal. Ampas tahu memiliki
protein yang tinggi yaitu 24.39% dan 28.36% (Nuraini dkk, 2009), sedangkan kulit tauge memiliki kandungan protein 18,58
% ( Al-Amin, 2012). Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan
Abun dkk, (2005) bahwa pertambahan bobot badan dipengaruhui oleh pertumbuhan
ternak yang sangat berhubungan erat dengan kecernaan protein.
Menurut Suprijatna (2002) bahwa pakan yang
kurang mengandung protein menyebabkan laju pertumbuhan menurun. Pertambahan
bobot badan pada penelitian ini lebih
tinggi dibanding dengan penelitian Elfawati meneliti tentang pengaruh pemakaian
tepung umbi talas (Xanthosoma
sagittipolium) dan penambahan metionin dalam ransum puyuh periode
pertumbuhan (2006) yaitu 2.58 gram/ekor/hari.
Pertambahan bobot badan yang diperoleh selama
penelitian adalah 3.14 gram/ekor. Angka ini lebih tinggi dari pada Elfawati (2006) yang mendapatkan
pertambahan bobot badan 2.58 gram/ekor, dengan pemakaian umbi talas (Xanthosoma sagittipolium) dan penambahan
metionin dalam ransum periode pertumbuhan.
Konversi Ransum
Rataan konversi ransum puyuh penggunaan ampas
tahu dan kulit tauge yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel
6. Rataan konversi ransum puyuh selama penelitian.
|
Perlakuan
|
Konversi Ransum
|
|
A (0%)
|
3.98a
|
|
B (4%)
|
3.94b
|
|
C (8%)
|
3.91c
|
|
D
(12%)
|
3.88c
|
|
Rataan
|
3.93
|
Keterangan
: Superskrip yang berbeda menunjukan pengaruh yang berbeda nyata ( P< 0,05).
Berdasarkan data pada Tabel 6 dapat dilihat
bahwa rataan konversi ransum puyuh selama penelitian adalah 3.93, dengan kisaran
3.88 – 3.98. Konversi ransum terendah terdapat pada perlakuan D (12 % ampas
tahu dan kulit tauge) yaitu sebesar 3.88, sedangkan konversi ransum tertinggi
terdapat pada perlakuan A (0 % ampas tahu dan kulit tauge yaitu sebesar 3.98
gram/ekor/hari.
Hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa
perlakuan ampas tahu dan kulit tauge dalam ransum memberikan pengaruh nyata
(P<0.05) terhadap konversi ransum puyuh. Adanya pengaruh yang nyata terhadap
konversi ransum menujukkan bahwa penggunaan ampas tahu dan kulit tauge dalam
ransum puyuh dapat meningkatkan efesiensi ransum. Hal ini disebabkan oleh
konsumsi yang tinggi diiringi oleh pertambahan bobot badan dan dapat dilihat
bahwa semangkin tinggi level ampas tahu dan kulit tauge semangkin rendah
konversi ransum.
Hal ini sesuai dengan pendapat
Rasyaf (1994), bahwa konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah kilogram
makanan yang dikonsumsi dengan kilogram daging yang dihasilkan, lebih jauh
dijelaskan bahwa semakin kecil angka konversi semakin efisiensi penggunaan
ransum. Menurut Rasyaf (1991), konversi ransum dapat digunakan sebagai gambaran
koefisien produksi, semakin kecil nilai konversi semakin efesien penggunaan
ransum dan demikian sebaliknya. Konversi
ransum dapat diukur setiap minggu atau komulatifnya. Secara praktis dilapangan
biasanya konversi ransum dihitung secara komulatif dan pengukuran ini dapat
dipertimbangkan sebagai perhitungan ekonomis (Rasyaf, 1991).
Konversi ransum yang diperoleh pada
penelitian ini yaitu 3.88 angka ini lebih rendah yang diperoleh elfawati (2006)
yaitu 4.26 dengan pemakaian umbi talas (Xanthosoma
sagittipolium) dan penambahan metionin dalam ransum periode pertumbuhan.
Semakin kecil angka konversi ransum maka semakin baik efesiensi penggunaan
pakan (Siregar dkk, 1992).
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan
bahwa penggunaan ampas tahu dan kulit tauge (ATKT)
sampai level 12% dalam ransum dapat meningkatkan konsumsi ransum,
pertambahan bobot badan dan menurunkan konversi ransum puyuh.
DAFTAR PUSTAKA
Abun,
D. Rusmana dan D. Saefulhadjar. 2005. Efek
Ransum Mengandung Ampas Umbi Garut Produksi Fermentasi oleh Kapang Aspergillus
niger terhadap Imbangan Efisiensi Protein dan Konversi Ransum Pada Ayam Broiler.
[Laporan Penelitian]. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Sumedang.
Adharianti,
W. 2011. Performans Burung Puyuh Periode
Starter Dengan Pemberian Tepung Biji Karet pada Level Berbeda. Fakultas
Pertanian dan Perternakan, Universitas Islam Negri Sultan Syarif Kasim Riau.
Djulardi, A, dkk. 2006. Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa Harapan. Andalas university
Press. Padang.
Elfawati,
2006. Pengaruh Pemakaian Tepung Umbi Talas (xanhosoma Sagittifolium) dan
Penambahan Metionin dalam Ransum Puyuh Periode Pertumbuhan. Jurnal Peternakan. Vol. 3-no 1 halaman
10.
Kartadisastra,
H, R, 1997. Penyediaan dan Pengelolaan
pakann Ternak Ruminansia.
Kanisius, Yogyajakarta.
Lystiowati. E dan K. Roospitasari. 2003. Tata Laksana Budidaya Puyuh Secara Komersil. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lukman,
H. 2005. Evaluasi Pemberian Feed Aditiv
Alami Berapa Campuran Herbal, Probiotik dan Prebiotik terhadap Performans,
Karkas dan Lemak Abdominan, serta
HDI, LDL Daging. [Skripsi]. Depertemen Ilmu Nutrisi Dan Teknologi Pakan,
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nuraini,
S.A. Latif. Dan Sabrina, 2009a. Improving the quality of tapioka by
Paoduct thrugh fermentation by Neurospora
crassa to produce β caroten rich feed. Pakistan
J of Nutri. Vol. 8(4):487-490.
Nuraini,
Sabrina dan S. A. Latif. 2007. Teknologi
peningkatan kualitas limbah Angroindustri menjadi pakan kaya B karotin untuk
mengurangi penggunaan jagung dalam ransum ayam petelur. Laporan Penelitian
Hibah Bersaing. Lembaga Penelitian Universitas Andalas, Padang.
Parakkasi.
A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak
Monogastrik. P.T. Angkasa. Bandung.
Rahman,
J. 1983. Pemanfaatan ampas tahu dan
pemamfaatannya dalam ransum broiler. [Laporan Penelitian]. Fakultas
Peternakan Universitas Andalas, Padang.
Rasyaf, M. 1992.
Produksi dan Pemberian Ransum Unggas. Kanisius,
Yogyakarta.
Rasyaf. M. 1991. Memelihara Burung Puyuh. Penerbit
Yayasan Kanisius. Yogyakarta.
Rasyaf. M. 1994. Bahan Makanan Unggas
di Indoesia.
Kanisius, Yayasan Kanisius. Yogyakarta.
Rasyaf,
M. 2003. Berternak Ayam Petelur.
Kanisius.Yogyakarta.
Rahayu,
S., D. S. Wandito, & W. W. Ifafah,. 2010. Survei Potensi Limbah Tauge
di Kota Madya Bogor. Laporan Penelitian. Fakultas Peternakan.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rizal, Y. 2006. Ilmu Nutri Unggas, Cetakan 1. Andalas
University Press, Padang.
Sanyoto, T. 2001. Pengaruh
Pemberian Limbah Padat Pembuatan Tahu Sebagai Pakan Tambahan Terhadap
Pertumbuhan Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). [Skripsi]. Universitas Negeri
Fakultas MIPA: Malang.
Siregar, A. P. M. C.
Sarbani dan P. Suroparwiro. 1992. Tehnik
berternak ayam Pedaging di Indonesia. Margie Group, Jakarta.
SNI. 01-3907-2006. Persyaratan
Mutu Standar Untuk Ransum Puyuh Petelur Dewasa (Quail Layer).
Suprijatna, E. 2002. Ayam Buras Krosing Petelur. Penerbar
Swadaya. Jakarta.
Siregar A. P. N. Sabrani dan P. Suroprowiro. 1980. Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia. Margie Group.
Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar