Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 55-62


UJI BERBAGAI MEDIA DAN LAMA PERENDAMAN  IAA (Indole Acetic Acid) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK LADA (Piper nigrum L)

Oji Darwinto, Tri Nopsagiarti dan Chairil Ezward
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Kuantan Singingi. Teluk Kuantan Riau. Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake 29562


ABSTRACT

The purpose of this research  was to determine the effect of Various Medium and long time Immersion IAA (Indole Acetic Acid) on the growth of cuttings pepper (Piper nigrum L.). This research used a completely randomized design (CRD) factorial consisting of two factors: the first factor is the use of growing medium types (Factor M) consisting of 4 levels, namely: M0: (Topsoil), M1 (Topsoil + compost), M2: (Topsoil + rice husk charcoal), M3 (topoil + sand). The second factor is immersion with IAA (Factor A) consists of 4 levels, namely A0: (Without immersion IAA), A1: (1 hour immersion IAA), A2: (2 hours immersion IAA), A3: (3 hours immersion IAA). Results showed the treatment of different types of growing medium and immersion IAA either singly or interactions significantly affected all parameters of the observations with the best treatment where age appears M1 shoots (18,53 today), shoot length (11,34 cm), number of leaves (7,47 strands) and growing percentage (97.92%). IAA immersion treatment is best contained A2 treatment (2 hour with IAA) emerged shoots were age (18,12 day), shoot length (10.98 cm), number of leaves (8,11 strands) and percentage growth (100.00%). The treatment is the best treatment is the interaction with the M1A2 (the use of compost and topsoil + 2 hours immersion with IAA) with age emerged shoots (15,33 day), shoot length (15.61 cm), number of leaves (8.67 piece) and the percentage of growth (100.00%)

Keywords: planting medium, immersion IAA, pepper cuttings



PENDAHULUAN

Tanaman lada (Piper nigrum L) merupakan salah satu jenis tanaman tahunan yang umumnya diperbanyaksecara vegetatif melalui setek. Tanaman Lada adalah tanaman yang dapat dibudidayakan secara besar besaran dan tanaman ini termasuk tanaman memanjat yang mana buahnya digunakan sebagai bahan rempah-rempah untuk kebutuhan rumah tangga, industri, obat-obatan bisa juga digunakan sebagai bahan pengawat daging. Lada merupakan salah satu komoditas ekspor tradisional andalan Indonesia yang diperoleh dari buah tanaman lada. Walaupun bukan tanaman asli Indonesia peranannya sangat besar didalam perekonomian nasional.
Untuk meningkatkan produksi lada dalam usaha menunjang peningkatan nilai ekspor bukan migas maka disamping usaha-usaha intensifikasi dapat pula melalui usaha-usaha ekstensifikasi (Penambahan lahan) dan replanting (peremajaan). Untuk menjamin kebutuhan bahan tanaman bagi terlaksananya tujuan tersebut, maka diperlukan bibit dalam jumlah yang banyak. Biasanya Tanaman lada diperbanyak dengan cara vegetatif yaitu melalui penyetekan. Setek ini akan baik bila didukung oleh media yang dibutuhkan tanaman lada tersebut.
Media tanam yang digunakan untuk penanaman setek lada sangat mempengaruhi persentase tumbuh bibit. Media tanam tersebut harus mengandung hara yang cukup dan tanaman lada menghendaki tanah yang gembur yang mengandung humus cukup tinggi.
Pertumbuhan tunas dan akar dari setek batang lada dapat dirangsang dengan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT). Auksin adalah sekelompok senyawa yang fungsinya merangsang pemanjangan sel-sel pucuk. Hormon auksin dikenal sebagai zat pengatur pertumbuhan yang dapat mempercepat muncul dan berkembangnya akar tanaman. Hormon ini banyak digunakan ketika melakukan perbanyakan tanaman salah satunya dengan cara setek. Umumnya aplikasi auksin saat melakukan setek yaitu dengan cara mengoleskannya pada luka akibat potongan dimana pada luka tersebut diharapkan akar akan tumbuh. Penggunaan IAA mampu memberikan efek fisiologis pada suatu tanaman baik dengan cara disemprotkan ataupun dengan perendaman batang lada yang sudah dipotong sebelum tanam.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Uji Berbagai Media dan Lama Perendaman IAA (Indole Acetic Acid) terhadap pertumbuhan setek lada ( Piper nigrum L.) secara tunggal dan interaksi.
BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di lahan Balai Benih Unggulan (BBU) Dinas Tanaman Pangan Desa Kampung Baru Sentajo Kecamatan Sentajo Raya Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan dari bulan November 2013 sampai dengan Januari 2014.

Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah potongan batang lada yang masih muda diambil dari batang induk yang telah berumur dua tahun,  diperoleh dari petani desa Geringging Jaya Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi, topsoil, pasir, sekam padi, pupuk kompos yang siap pakai dan IAA dengan konsentrasi 4 mg/liter air sedangkan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah polibag ukuran 5 X 10 cm, pisau, gunting kertas, kertas, alat tulis dan perlengkapan pencucian. 

Metode Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor. Faktor tersebut adalah : M ( media tanam) yang terdiri dari 4 taraf, dan A (Perendaman IAA) terdiri dari 4 taraf, Sehingga diperoleh 16 kombinasi perlakuan, pada masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Sehingga diperoleh 48 perlakuan dan setiap perlakuan terdapat 4 tanaman dan 3 tanaman diantara sebagai tanaman sampel.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Umur Muncul Tunas (hari)
Data hasil pengamatan terhadap parameter umur muncul tunas tanaman lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal maupun penggunaan berbagai jenis media tanam dan lama perendaman menggunakan IAA berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas. Perlakuan secara interaksi berbagai media tanam dan lama perendaman IAA berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.


Tabel 1. Rerata umur muncul tunas dengan penggunaan berbagai jenis media tanam dan perendaman dengan IAA
FAKTOR M
FAKTOR A
YM
A0
A1
A2
A3
M0
21.83d
20.22bcd
21.50cd
18.66bc
20.55b
M1
20.33bcd
19.55bcd
15.33a
18.89bcd
18.53a
M2
19.00bcd
21.00cd
17.89ab
20.33bcd
19.56ab
M3
20.33bcd
21.00cd
17.77ab
20.00bcd
19.78b
YA
20.38b
20.44b
18.12a
19.47b

KK = 5.15 %                 BNJ M dan A = 1.10                BNJ MA = 3.01
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%


Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa penggunaan media tanam secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas tanaman lada, dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M1 (penggunaan topsoil + kompos) yaitu 18.53 hari. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan topsoil dengan kompos tersebut dengan kandungan hara yang terkandung didalamnya telah mampu memenuhi kebutuhan hara tanaman lada tersebut sehingga tunas tumbuh dengan baik.
Hasil uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan M1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan M2 (penggunaan topsoil + arang sekam) yaitu 19.56 hari namun berbeda nyata dengan perlakuan M3 (penggunaan topsoil + pasir) yaitu 19.78 hari dan perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 20.55 hari.
Pada tahap pembibitan media tumbuh menjadi faktor utama yang menjadi perhatian supaya mendapatkan tanaman muda yang sehat, dan mampu tumbuh baik setelah ditanam pada lahan. Media tanam yang berupa campuran tanah dan bahan organik memberikan dua keuntungan yaitu berperan sebagai media pertumbuhan akar dan penyedia unsur hara dan air untuk pertumbuhan perakaran (Wasito dan Nuryani 2005).
Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan lama perendaman dengan IAA secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata  terhadap muncul tunas tanaman lada dimana perlakuan terbaik terdapat pada A2 (perendaman 2 jam) yaitu 18.12 hari. Hasil uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A2 berbeda nyata dengan semua perlakuan. Perlakuan A1 (perendaman 1 jam) merupakan hasil terendah dengan umur muncul tunas 20.44 hari, perlakuan A0 (tanpa perendaman) dengan umur muncul tunas yaitu 20.38 hari dan perlakuan A3 (perendaman 3 jam) dengan umur muncul tunas yaitu 19.47 hari.
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) berfungsi sebagai pemacu dan penghambat pertumbuhan tanaman. Penggunaan ZPT yang tepat akan berpengaruh baik bagi pertumbuhan tanaman namun dalam jumlah yang terlalu banyak justru akan merugikan tanaman karena akan meracuni tanaman tersebut. Sebaliknya jika dalam jumlah yang sedikit akan kurang berpengaruh terhadap petumbuhan tanaman tersebut (Ardana, 2009). 
Dari hasil percobaan ini, secara umum terlihat bahwa perendaman stek lada dalam larutan IAA mampu meningkatkan pertumbuhan bibit stek lada. Keadaan ini mengindikasikan bahwa perendaman selama 2 jam dalam larutan IAA dengan konsentrasi 4 gr/liter air lebih efisien dari pada perendaman selama 3 jam dalam memacu dan meningkatkan pertumbuhan bibit stek lada, terutama dalam merangsang dan memacu pertumbuhan awal stek (inisiasi akar dan tunas stek). Dugaan ini diperkuat oleh laporan penelitian Dwipa (1992), dimana perendaman stek lada selama 2 jam dalam larutan IAA mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akar serta tajuk bibit stek lada selama masa pembimbibitan. Pada awalnya, pemberian ZPT pada stek dimaksudkan untuk merangsang dan memacu terjadinya pembentukan akar stek, sehingga perakaran stek menjadi lebih lebih baik (Rochiman dan Harjadi, 1973).
ZPT pada tanaman adalah senyawa organik yang bukan hara yang dalam jumlah yang sedikit dapat mendukung, menghambat dan mengubah proses fisiologis. Auksin adalah salah satu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Auksin mempunyai beberapa peran dalam mendukung kehidupan tanaman diantaranya adalah menstimulasi terjadinya perpanjangan pucuk dan mendorong primordial akar (Artanti, 2007). Gardner 1991 menyatakan bahwa auksin mempunyai pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan pucuk.
Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai jenis media tanam dan perendaman dengan menggunakan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas tanaman lada dimana kombinasi terbaik terdapat pada perlakuan M1A2 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 2 jam) dengan umur muncul tunas 15.33 hari. Hasil Uji Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan kombinasi perlakuan M1A2 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 2 jam) berbeda nyata dengan perlakuan M0A3  (penggunaan topsoil dan perendaman 3 jam) yaitu 18.66 hari, M3A3 (penggunaan topsoil + pasir dan perendaman 3 jam) yaitu 20 hari, M3A1 (penggunaan topsoil + pasir dan perendaman 1 jam) yaitu 21 hari, dan M0A0 (penggunaan topsoil dan tanpa perendaman) yaitu 21.83 hari, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan M3A2 (penggunaan topsoil + pasir dan perendaman 2 jam) yaitu 17.77 hari dan perlakuan M2A2 (penggunaan topsoil + arang sekam padi dan perendaman 2 jam) yaitu 17.89 hari.
Penggunaan topsoil, kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA menghasilkan umur muncul tunas tanaman lada tercepat dibandingkan dengan perlakuan lain.  Hal ini karena pada media yang digunakan bisa  memenuhi unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman lada dan begitu juga dengan perendaman 2 jam dengan IAA. Ardana (2009) menyatakan bahwa tanaman akan tumbuh subur apabila nutrisi yang terkandung  pada media dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Media yang baik untuk penyetekan adalah media yang mempunyai porositas  cukup, aerasi baik, drainase baik, kapasitas mengikat air tinggi dan bebas pathogen. Media dalam penyetekan ini berfungsi sebagai penahan setek selama masa pertumbuhan akar, menjaga kelembaban, dan memudahkan penetrasi udara (Wuryaningsih, 1998).
Amirudin (2004) menyatakan bahwa penggunaan ZPT sintesis meningkatkan persentase stek hidup lada perdu. Sumiasri dan Priadi (2003) menyatakan bahwa tanaman memerlukan konsentrasi auksin yang sesuai untuk pertumbuhannya baik diberikan dengan penyemprotan ataupun dengan perendaman sebelum tanam. Menurut Salisbury dan Ross (1995) konsentrasi yang tidak sesuai tidak akan memacu pertumbuhan, bahkan bisa menghambat. Namun Pengaruh penyerapan auksin tidak hanya dilihat dari konsentrasi auksin tetapi dari kepekaan jaringan penerima (protein tanaman).

Panjang Tunas (cm)
Data hasil pengamatan terhadap parameter panjang tunas tanaman lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal penggunaan berbagai jenis media memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tunas tanaman lada dan perlakuan perendaman dengan IAA secara tunggal juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada. Perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai jenis media dan perendaman dengan IAA juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tunas tanaman lada. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini.


Tabel 2. Rerata panjang Tunas dengan penggunaan berbagai jenis media tanam dan perendaman dengan IAA
FAKTOR M
FAKTOR A
YM
A0
A1
A2
A3
M0
6.87f
7.50ef
9.05de
7.33ef
7.69d
M1
7.86ef
12.82b
15.61a
9.05de
11.34a
M2
7.71ef
10.72cd
11.78bc
8.83e
9.76b
M3
8.44ef
11.61bc
7.50ef
8.67ef
9.05c
YA
7.72c
10.66a
10.98a
8.47b

KK = 6.63 %                 BNJ M dan A = 0.69                BNJ MA = 1.87
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%


Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa perlakuan penggunaan berbagai jenis media secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tunas tanaman lada dimana perlakuan terbaik terdapat pada M1 (penggunaan topsoil + kompos) yaitu 11.34 cm. Hasil uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan bahwa perlakuan M1 berbeda nyata dengan perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 7.69 cm, M3 (penggunaan topsoil + pasir) yaitu 9.05 cm dan perlakuan M2 (penggunaan topsoil + arang sekam padi) yaitu 9.76 cm.
Media tanam berfungsi untuk menyokong tanaman, menahan air dan pupuk untuk sementara waktu. Bahan media tumbuh harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan kelembaban yang cukup tinggi bagi akar dan tidak berlebihan serta memiliki ruang makro yang cukup untuk respirasi (Lestariningsih, 2012).
Media tanam merupakan tempat tumbuh bibit dan tempat mencari makan bagi bibit, sehingga media tanam yang sesuai akan memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan yang dapat terlihat langsung dari tanaman adalah pertumbuhan panjang tunas. Menurut Rudianto (2008) manfaat pemberian bahan organik adalah meningkatkan humus tanah, mengurangi pencemaran lingkungan dan mengurangi pengusaran hara. Penggunanaan media campuran topsoil dan kompos dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman (Indradewa, 1995). Penambahan kompos pada media mampu memberikan hasil lebih baik pada panjang tunas karena kompos sangat baik untuk memasok unsur hara dan memperbaiki kualitas tanah.
Penambahan arang sekam pada media tanam juga memberikan hasil yang baik di bandingkan dengan yang lain karena arang sekam dapat memperbaiki system drainase dengan sifatnya yang mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, dan tidak mudah memadat (Redaksi PS, 2007). Hal ini sesuai dengan Dewi (2007) yang menyatakan bahwa tanaman lada menghendaki kondisi tanah yang memiliki aerasi dan drainase yang baik.
Pertumbuhan tinggi batang terjadi didalam meristem interkalar dari ruas. Ruas itu memanjang sebagai akibat meningkatnya jumlah sel dan terutama karena meluasnya sel. Pertumbuhan karena pembelahan sel terjadi pada dasar ruas (interkalar) bukan meristem ujung. Jumlah hormon pada meristem interkalar terbatas karena hormon ini tidak diproduksi sendiri seperti yang terjadi pada meristem ujung maka pengatur pertumbuhannyan harus dipasok dari luar (Gardner. 1991).          
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan perendaman dengan IAA secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tunas tanaman lada dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2 (perendaman 2 jam dengan IAA) yaitu 10.98 cm, tidak berbeda nyata dengan perlakuan A1 (perendaman 1 jam dengan IAA) yaitu 10.66 cm, namun berbeda nyata dengan perlakuan A3 (perendaman 3 dengan IAA) yaitu 8.47 cm dan perlakuan A0 (tanpa perendaman) yaitu 7.72 cm.
Perlakuan A2 menunjukkan angka tertinggi 10.98 cm dengan lama perendaman 2 jam dengan IAA karena akan meningkatkan kerja auksin secara keseluruhan, dengan perendaman selama 2 jam dengan IAA sehingga dapat mempercepat pertumbuhan akar dan menghasilkan jumlah akar yang berlipat ganda. Menurut Suwasono Heidy (1986) senyawa auksin sangat penting dalam proses pembentukan akar stump. Hormon tersebut bekerja secara sinergis membentuk kelompok rizokalin yaitu kompleks antara auksin dengan kofaktor, untuk selanjutnya terlibat langsung dalam proses inisiasi akar. Selain itu auksin juga dapat melonggarkan dinding sel korteks sehingga mudah ditembus akar. Dengan pertumbuhan akar yang baik maka akan diikuti dengan munculnya tunas-tunas baru yang makin baik pertumbuhan akar maka tunas-tunas tersebut makin bertambah banyak dan makin panjang. 
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai jenis media dan perendaman dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tunas tanaman lada dimana kombinasi terbaik terdapat pada perlakuan M1A2 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA) yaitu 15.61 cm. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan bahwa perlakuan M1A2 berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan. Namun perlakuan M1A1 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 1 jam dengan IAA) yaitu 12.82 cm tidak berbeda nyata dengan perlakuan M2A2 (penggunaan topsoil + arang sekam padi dan perendaman 2 jam dengan IAA) yaitu 11.78 cm dan M3A1 (penggunaan topsoil + pasir dan perendaman 1 jam dengan IAA) yaitu 11.61 cm.
Pada semua parameter pengamatan, topsoil + arang sekam padi menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang rendah dibandingkan dengan media topsoil + kompos dan media topsoil + pasir. Hal ini terjadi karena lada tidak dapat memanfaatkan langsung unsur-unsur hara yang terkandung dalam arang sekam dan pasir. Media tumbuh merupakan salah satu unsur penting dalam menunjang pertumbuhan tanaman, karena sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman, dipasok melalui media tumbuh, selanjutnya diserap oleh akar dan digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Media tumbuh adalah tempat akar tanaman tumbuh dan mengisap zat makanan untuk pertumbuhannya serta tempat memperkokoh berdirinya tanaman, sehingga di dalam media tumbuh harus tersedia unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Menurut Wira (2000), bahwa bahan-bahan untuk media tumbuh dapat dibuat dari bahan tunggal ataupun kombinasi dari beberapa bahan, asalkan tetap berfungsi sebagai media tumbuh yang baik. Jenis media tumbuh akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman (Hajrah, 1997). Selain media, pemupukan diperlukan pula dalam usaha untuk meningkatkan hasil, pemupukan adalah setiap usaha pemberian pupuk baik dengan cara di semprotkan ataupun dengan cara perendaman bibit sebelum tanam bertujuan menambah persediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman (Sarief, 1986)
Pada semua parameter pengamatan, perendaman 1 jam dengan IAA menunjukkan pertumbuhan dan hasil terendah. Menurut Tripepi (1997) hal ini kemungkinan berhubungan dengan kemampuan sel dalam mencapai batas optimum konsentrasi zat pengatur tumbuh untuk memacu diferensiasi tunas sehingga bibit mempunyai batas fisiologi untuk dapat berdiferensiasi.

Jumlah Daun (helai)
Data hasil pengamatan terhadap parameter jumlah daun tanaman lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal penggunaan berbagai jenis media dan perendaman dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada. Perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai jenis media dan perendaman dengan IAA juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 3.
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan penggunaan berbagai jenis media secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada. Dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M1 (penggunaan topsoil + kompos) yaitu 7.47 helai. Hasil uji lanjut Beda Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan bahwa perlakuan M1 berbeda nyata dengan perlakuan M3 (penggunaan topsoil + pasir) yaitu 5.39 helai dan perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 5.05, perlakuan M2 (penggunaan topsoil + arang sekam padi) yaitu 6.33 helai. Namun perlakuan M3 (penggunaan topsoil + pasir) yaitu 5.39 helai tidak berbeda nyata dengan perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 5.05 helai. Hasil terendah terdapat pada perlakuan M0 hal ini disebabkan oleh kurangnya hara yang dibutuhkan tanaman dan juga hasil yang rendah terdapat pada perlakuan M3 Hal ini dikarenakan penggunaan media tanam dengan topsoil saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman yang terlihat perbedaan pada jumlah daun tanaman lada. Dan juga tekstur tanah pada perlakuan M3 terlalu banyak pori sehingga tidak menyerap air dengan baik dan juga pada topsoil dan pasir tidak ada penyerapan pupuk. Rinsema (2008) menyatakan bahwa  penyerapan air dan unsur hara cukup bagi tanaman maka pertumbuhan dan kesuburan suatu tanaman akan semakin baik.


Tabel 3. Rerata jumlah daun ladadengan penggunaan berbagai jenis media tanam dan perendaman dengan IAA
FAKTOR M
FAKTOR A
YM
A0
A1
A2
A3
M0
5.55cde
2.22f
8.22ab
4.22ef
5.05c
M1
7.33abc
6.78abcd
8.67a
7.11abcd
7.47a
M2
4.11ef
6.89abcd
7.67abc
6.67abcd
6.33b
M3
2.44f
5.00de
7.89ab
6.22bcde
5.39c
YA
4.86c
5.22c
8.11a
6.05b

KK = 12.31 %                 BNJ M dan A = 0.81                BNJ MA = 2.22
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%


Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan perendaman dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada, dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2 (perendaman 2 jam) yaitu 8.11 helai, berbeda nyata dengan perlakuan A3 (perendaman 3 jam) yaitu 6.05 helai, A1 (perendaman 1 jam) yaitu 5.22 helai dan A0 (tanpa perendaman) yaitu 4.86 helai. Namun perlakuan A1 (perendaman 1 jam) yaitu 5.22 helai tidak berbeda nyata dengan perlakuan A0 (tanpa perendaman) yaitu 4.86 helai.
Perlakuan A2 menunjukkan angka tertinggi 8.11 helai dengan perendaman 2 jam dengan IAA, hal ini karena perendaman selama 2 jam telah dapat merangsang pertumbuhan akar sehingga tanaman tumbuh dengan baik dan ada daun. Pemberian dosis 4 gr/liter air untuk perendaman tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan hara tanaman lada, sehingga tanaman bias tumbuh dengan maksimal.
Setymidjaya (1986) menyatakan bahwa pupuk diberikan dalam konsentrasi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan keracunan bagi tanaman. Respon tanaman terhadap pemberian unsur hara apabila telah mencapai batas optimum akan mengakibatkan penghambatan dan penurunan pertumbuhan. Pemberian unsur hara dengan konsentrasi yang rendah pengaruhnya terhadap tanaman tidak akan tampak (Osman 2002)
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai jenis media dan perendaman dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada, dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M1A2 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA) yaitu 8.67 helai. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan M1A2 berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan perlakuan M3A3 (penggunaan topsoil + pasir dan perendaman 3 jam) yaitu 6.22 helai, M0A0, M3A1, M0A3, M2A0, M3A0 dan M0A1. Namun perlakuan M1A2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan M0A2, M3A2, M2A2, M1A2.
Hal ini disebabkan media yang digunakan telah menyediakan hara untuk pertumbuhan tanaman, baik yang berasal dari media tanam itu sendiri atau yang sengaja ditambahkan pada media tanam tersebut. Sifat-sifat tersebut antara lain tekstur media, pori-pori media, daya simpan air dan hara. Media tanam yang disukai tanaman adalah bertekstur gembur karena media yang gembur memudahkan perkembangan akar tanaman, selain itu, media yang gembur memiliki pori tanah yang baik untuk sirkulasi udara dan menahan air lebih baik daripada media yang keras dan padat.
Selain media, pemberian ZPT juga diperlukan dalam pertumbuhan tanaman lada. Zat pengatur tumbuh (ZPT) merupakan senyawa sintetis yang mempunyai aktifitas kerja yang sama seperti halnya hormon tanaman, dimana dengan konsentrasi tertentu dapat mendorong ataupun menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Wattimena, 1988).



Persentase Tumbuh (%)
            Data hasil pengamatan terhadap parameter persentase tumbuh tanaman lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal penggunaan berbagai jenis media serta perendaman dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter persentase tumbuh tanaman lada.                   
            Berdasarkan Tabel 4 hasil uji lanjut BNJ menunjukkan bahwa perlakuan penggunaan berbagai jenis media secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M1(penggunaan topsoil + kompos) yaitu 97.92 %. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan M1 berbeda nyata dengan perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 79.17 % namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan M3 (penggunaan topsoil + pasir) yaitu 95.83 %, M2 (penggunaan topsoil + arang sekam padi) yaitu 91.67 % dan perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 79.17 %.



Tabel 4. Rerata persentase tumbuh lada dengan penggunaan berbagai jenis media tanam dan perendaman dengan IAA
FAKTOR M
FAKTOR A
YM
A0
A1
A2
A3
M0
50.00c
91.67ab
100.00a
75.00b
79.17b
M1
100.00a
91.67ab
100.00a
100.00a
97.92a
M2
91.67ab
75.00b
100.00a
100.00a
91.67a
M3
91.67ab
100.00a
100.00a
91.67ab
95.83a
YA
83.33b
89.58b
100.00a
91.67ab

KK = 8.85 %                 BNJ M dan A = 8.83                BNJ MA = 24.08
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%

           

Tingginya persentase bibit hidup diduga dipengaruhi oleh asal bibit yang cukup bagus dan juga pengaruh factor lingkungan dan pemeliharaan. Faktor lingkungan sangat berpengaruh dikarenakan media tumbuh yang tepat dan bibit  berasal dari bibit yang bermutu dan sehat. Pemeliharaan sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan sehingga persentase jumlah bibit yang hidup cukup tinggi.  Saat penanaman perlu dijaga kelembaban dengan cara dilakukan penyungkupan bibit selama dua minggu dengan menggunakan plastik. Penyungkupan pada dua minggu pertama terbukti meningkatkan persentase tumbuh bibit, disamping itu penyiraman dilakukan setiap  hari untuk mencegah kekeringan pada bibit.
            Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan perendaman dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada, dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2 (perendaman 2 jam dengan IAA) yaitu 100.00 %. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A2 berbeda nyata dengan perlakuan A1 (perendaman 1 jam dengan IAA) yaitu 89.58 %, dan perlakuan A0 (tanpa perendaman dengan IAA) yaitu 83.33 %, namun perlakuan A2 tidak berbeda nyata dengan A3 (perendaman 3 jam dengan IAA) yaitu 91.67 %
            Perendaman dengan auksin mampu merangsang akar karena auksin zat pengatur tumbuh yang mampu merangsang pertumbuhan akar. Hal ini sesuai dengan Riseksane (2005) yang menyatakan bahwa auksin berperan mendorong pertumbuhan akar karena auksin merupakan hormone yang berperan dalam merangsang pertumbuhan akar sehingga persentase tumbuh bibit tinggi.
            Perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai jenis media dan perendaman dengan IAA menghasilkan persentase tumbuh yang baik karena media yang di gunakan sudah mampu memenuhi kebutuhan hara yang dibutuhkan tanaman lada dan juga perendaman dengan IAA dengan waktu yang tepat dan perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M1A2 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA) dengan persentase tumbuh 100.00% dan perlakuan M1A3, M2A2 dan lain-lain. Namun perlakuan M1A2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan M2A0, M3A0, M0A1, M1A1 dan M3A3.Perlakuan M1A2 berbeda nyata dengan perlakuan M2A1, M0A0 dan M0A3.


KESIMPULAN

1.      Perlakuan penggunaan berbagai jenis media tanam dan perendaman IAA baik secara tunggal maupun interaksi berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan dengan perlakuan terbaik M1 dimana umur muncul tunas (18.53 hari), panjang tunas (11.34 cm), jumlah daun (7.47 helai) dan persentase tumbuh (97.92 %).
2.      Perlakuan perendaman IAA yang terbaik terdapat perlakuan A2 (perendaman 2 jam dengan IAA) yaitu umur muncul tunas (18.12 hari), panjang tunas (10.98 cm), jumlah daun (8.11 helai) dan persentase tumbuh (100.00%).
3.      Perlakuan secara interaksi dengan perlakuan terbaik adalah M1A2 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA) dengan umur muncul tunas (15.33 hari), panjang tunas (15.61 cm), jumlah daun (8.67 helai) dan persentase tumbuh (100.00%)


DAFTAR PUSTAKA

Artanti, F. Y.2007.Pengaruh Pupuk Organik Cair dan Konsentrasi IAA terhadap Pertumbuhan Stek Tanaman Stevia (Steviarebaudiana Bertoni M). Skripsi S1 FP UNS Surakarta
Dewi.2007. Petunjuk Teknis pembibitan Lada Perdu.http;//ditjenbun.deptan.go.id Akses Sabtu 29 September 2007 pukul 16.51 WIB
Hajrah, S. 1997. Pengaruh Macam Media Tumbuh Dalam Teknik Hidroponik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Paprika. (Skripsi), Fakultas Pertanian, Unuversitas Mataram. 139 h.
Indradewa, D.1995. Analisis Pertumbuhan Kailan (Brassica oleracea var. acepala) pada Berbagai Dosis Pupuk NPK dan perbandingan Sekam dengan Pupuk Kandang Sebagai Media.Bulletin Ilmiah Azolla. Vol.2(6):6-11.FP Universitas Wangsa manggala.Yogyakarta.
Lestariningsih, A. 2012.Meramu Media Tanam Untuk Pembibitan. Cahayaa Atma
Osman, F dan Prasasti. 2002. Anggrek Dendrodium. Penebar Swadaya, Jakarta
Redaksi PS. 2007.Pengaruh Macam Media.http://www.kebonkembang.info Akses Sabtu10 November 2007 pukul 17.33 WIB
Rochiman, K. Dan S.S. Harjai. 1973. Pembiakan Vegetatif. Departemen Agronomi Fakultas Pertanian IPB. Bogor. 72 Hal.
Salisbury,f.B and C. W. Ross. 1969. Plant Physiology. Jilid 1, 2, 3.ITB. Bandung
Salisbury,f.B and C. W. Ross. 1995. Plant Physiology. Jilid 1 .ITB. Bandung
Sarief, E.S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung. 182 h.
Setyamidjaja, 1986.Kultur Jaringan Anggrek skala Rumah Tangga. Agromedia
Pustaka. Jakarta
Swasono Heddy, 1986. Hormon Tumbuhan. Rajawali Pers, Jakarta.
Wattimena, G. A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Wira, N.J. 2000. Pengaruh Campuran Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Seledri. (Skripsi), Fakultas Pertanian. Universitas Mataram.149h.
Wuryaningsih, S. 1998. Pertumbuhan Beberapa Stek Melati Pada Tiga Macam Media .Agrin Jurnal Penelitian Pertanian Unsoed. Vol 3 (5) : 50-57.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar