UJI BERBAGAI MEDIA DAN LAMA PERENDAMAN
IAA (Indole
Acetic Acid) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK LADA (Piper nigrum L)
Oji Darwinto, Tri
Nopsagiarti dan Chairil Ezward
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Islam Kuantan Singingi. Teluk Kuantan Riau. Jl. Gatot Subroto KM 7
Jake 29562
ABSTRACT
The
purpose of this research was to
determine the effect of Various Medium and long time Immersion IAA (Indole
Acetic Acid) on the growth of
cuttings pepper (Piper nigrum L.). This research used a
completely randomized design (CRD) factorial consisting of two factors: the
first factor is the use of growing medium types (Factor M) consisting of 4
levels, namely: M0: (Topsoil), M1 (Topsoil + compost), M2: (Topsoil + rice husk
charcoal), M3 (topoil + sand).
The
second factor is immersion with IAA (Factor A) consists of 4 levels, namely A0:
(Without immersion IAA), A1: (1 hour immersion IAA), A2: (2 hours immersion
IAA), A3: (3 hours immersion IAA).
Results
showed the treatment of different types of growing medium and immersion IAA
either singly or interactions significantly affected all parameters of the
observations with the best treatment where age appears M1 shoots (18,53 today),
shoot length (11,34 cm), number of leaves (7,47 strands) and growing percentage
(97.92%). IAA
immersion treatment is best contained A2 treatment (2 hour with IAA) emerged
shoots were age (18,12 day), shoot length (10.98 cm), number of leaves (8,11
strands) and percentage growth (100.00%). The treatment is the best treatment is
the interaction with the M1A2 (the use of compost and topsoil + 2 hours
immersion with IAA) with age emerged shoots (15,33 day), shoot length (15.61
cm), number of leaves (8.67 piece) and the percentage of growth (100.00%)
Keywords:
planting medium, immersion IAA, pepper cuttings
PENDAHULUAN
Tanaman lada (Piper
nigrum L) merupakan salah satu jenis tanaman tahunan yang umumnya
diperbanyaksecara vegetatif melalui setek. Tanaman Lada adalah tanaman yang
dapat dibudidayakan secara besar besaran dan tanaman ini termasuk tanaman
memanjat yang mana buahnya digunakan sebagai bahan rempah-rempah untuk
kebutuhan rumah tangga, industri, obat-obatan bisa juga digunakan sebagai bahan
pengawat daging. Lada merupakan salah satu komoditas ekspor tradisional andalan
Indonesia yang diperoleh dari buah tanaman lada. Walaupun bukan tanaman asli
Indonesia peranannya sangat besar didalam perekonomian nasional.
Untuk meningkatkan produksi lada dalam usaha
menunjang peningkatan nilai ekspor bukan migas maka disamping usaha-usaha
intensifikasi dapat pula melalui usaha-usaha ekstensifikasi (Penambahan lahan)
dan replanting (peremajaan). Untuk
menjamin kebutuhan bahan tanaman bagi terlaksananya tujuan tersebut, maka
diperlukan bibit dalam jumlah yang banyak. Biasanya Tanaman lada diperbanyak dengan
cara vegetatif yaitu melalui penyetekan. Setek ini akan baik bila didukung oleh
media yang dibutuhkan tanaman lada tersebut.
Media tanam yang digunakan untuk penanaman setek
lada sangat mempengaruhi persentase tumbuh bibit. Media tanam tersebut harus
mengandung hara yang cukup dan tanaman lada menghendaki tanah yang gembur yang
mengandung humus cukup tinggi.
Pertumbuhan tunas dan akar dari setek batang lada
dapat dirangsang dengan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT). Auksin adalah
sekelompok senyawa yang fungsinya merangsang pemanjangan sel-sel pucuk. Hormon
auksin dikenal sebagai zat pengatur pertumbuhan yang dapat mempercepat muncul
dan berkembangnya akar tanaman. Hormon ini banyak digunakan ketika melakukan
perbanyakan tanaman salah satunya dengan cara setek. Umumnya aplikasi auksin
saat melakukan setek yaitu dengan cara mengoleskannya pada luka akibat potongan
dimana pada luka tersebut diharapkan akar akan tumbuh. Penggunaan IAA mampu memberikan
efek fisiologis pada suatu tanaman baik dengan cara disemprotkan ataupun dengan
perendaman batang lada yang sudah dipotong sebelum tanam.
Tujuan Penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh Uji Berbagai Media dan Lama Perendaman IAA (Indole Acetic Acid) terhadap pertumbuhan
setek lada ( Piper nigrum L.) secara
tunggal dan interaksi.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini
dilaksanakan di lahan Balai Benih Unggulan (BBU) Dinas Tanaman Pangan Desa
Kampung Baru Sentajo Kecamatan Sentajo Raya Kabupaten Kuantan Singingi.
Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan dari bulan November 2013 sampai
dengan Januari 2014.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah potongan batang lada yang masih muda
diambil dari batang induk yang telah berumur dua tahun, diperoleh dari petani desa Geringging Jaya
Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi, topsoil, pasir, sekam padi, pupuk kompos yang
siap pakai dan IAA dengan konsentrasi 4 mg/liter air sedangkan Alat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah polibag ukuran 5 X 10 cm, pisau, gunting
kertas, kertas, alat tulis dan perlengkapan pencucian.
Metode Penelitian
Rancangan
percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap
(RAL) yang terdiri dari dua faktor. Faktor tersebut adalah : M ( media tanam)
yang terdiri dari 4 taraf, dan A (Perendaman IAA) terdiri dari 4 taraf,
Sehingga diperoleh 16 kombinasi perlakuan, pada masing-masing perlakuan terdiri
dari 3 ulangan. Sehingga diperoleh 48 perlakuan dan setiap perlakuan terdapat 4
tanaman dan 3 tanaman diantara sebagai tanaman sampel.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Umur Muncul Tunas
(hari)
Data hasil pengamatan terhadap parameter umur
muncul tunas tanaman lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan
bahwa perlakuan secara tunggal maupun penggunaan berbagai jenis media tanam dan
lama perendaman menggunakan IAA berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas.
Perlakuan secara interaksi berbagai media tanam dan lama perendaman IAA
berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur
(BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.
Tabel 1. Rerata umur muncul tunas dengan penggunaan berbagai
jenis media tanam dan perendaman dengan IAA
|
FAKTOR M
|
FAKTOR A
|
YM
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
M0
|
21.83d
|
20.22bcd
|
21.50cd
|
18.66bc
|
20.55b
|
|
M1
|
20.33bcd
|
19.55bcd
|
15.33a
|
18.89bcd
|
18.53a
|
|
M2
|
19.00bcd
|
21.00cd
|
17.89ab
|
20.33bcd
|
19.56ab
|
|
M3
|
20.33bcd
|
21.00cd
|
17.77ab
|
20.00bcd
|
19.78b
|
|
YA
|
20.38b
|
20.44b
|
18.12a
|
19.47b
|
|
|
KK =
5.15 % BNJ M dan A =
1.10 BNJ MA = 3.01
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom
yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda
nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%
Berdasarkan
Tabel 1 dapat dilihat bahwa penggunaan media tanam secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas tanaman lada, dimana perlakuan
terbaik terdapat pada perlakuan M1 (penggunaan topsoil + kompos) yaitu 18.53 hari.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan topsoil dengan kompos tersebut dengan
kandungan hara yang terkandung didalamnya telah mampu memenuhi kebutuhan hara
tanaman lada tersebut sehingga tunas tumbuh dengan baik.
Hasil
uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan M1 tidak
berbeda nyata dengan perlakuan M2 (penggunaan topsoil + arang sekam) yaitu
19.56 hari namun berbeda nyata dengan perlakuan M3 (penggunaan topsoil + pasir)
yaitu 19.78 hari dan perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 20.55 hari.
Pada
tahap pembibitan media tumbuh menjadi faktor utama yang menjadi perhatian
supaya mendapatkan tanaman muda yang sehat, dan mampu tumbuh baik setelah
ditanam pada lahan. Media tanam yang berupa campuran tanah dan bahan organik
memberikan dua keuntungan yaitu berperan sebagai media pertumbuhan akar dan
penyedia unsur hara dan air untuk pertumbuhan perakaran (Wasito dan Nuryani
2005).
Hasil
analisis sidik ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan lama perendaman
dengan IAA secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap muncul tunas tanaman lada dimana
perlakuan terbaik terdapat pada A2 (perendaman 2 jam) yaitu 18.12 hari. Hasil
uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A2
berbeda nyata dengan semua perlakuan. Perlakuan A1 (perendaman 1 jam) merupakan
hasil terendah dengan umur muncul tunas 20.44 hari, perlakuan A0 (tanpa
perendaman) dengan umur muncul tunas yaitu 20.38 hari dan perlakuan A3
(perendaman 3 jam) dengan umur muncul tunas yaitu 19.47 hari.
Zat
Pengatur Tumbuh (ZPT) berfungsi sebagai pemacu dan penghambat pertumbuhan
tanaman. Penggunaan ZPT yang tepat akan berpengaruh baik bagi pertumbuhan
tanaman namun dalam jumlah yang terlalu banyak justru akan merugikan tanaman
karena akan meracuni tanaman tersebut. Sebaliknya jika dalam jumlah yang
sedikit akan kurang berpengaruh terhadap petumbuhan tanaman tersebut (Ardana,
2009).
Dari
hasil percobaan ini, secara umum terlihat bahwa perendaman stek lada dalam
larutan IAA mampu meningkatkan pertumbuhan bibit stek lada. Keadaan ini
mengindikasikan bahwa perendaman selama 2 jam dalam larutan IAA dengan
konsentrasi 4 gr/liter air lebih efisien dari pada perendaman selama 3 jam
dalam memacu dan meningkatkan pertumbuhan bibit stek lada, terutama dalam merangsang
dan memacu pertumbuhan awal stek (inisiasi akar dan tunas stek). Dugaan ini
diperkuat oleh laporan penelitian Dwipa (1992), dimana perendaman stek lada
selama 2 jam dalam larutan IAA mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan
akar serta tajuk bibit stek lada selama masa pembimbibitan. Pada awalnya,
pemberian ZPT pada stek dimaksudkan untuk merangsang dan memacu terjadinya
pembentukan akar stek, sehingga perakaran stek menjadi lebih lebih baik
(Rochiman dan Harjadi, 1973).
ZPT
pada tanaman adalah senyawa organik yang bukan hara yang dalam jumlah yang
sedikit dapat mendukung, menghambat dan mengubah proses fisiologis. Auksin adalah salah satu hormon tumbuh
yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Auksin
mempunyai beberapa peran dalam mendukung kehidupan tanaman diantaranya adalah
menstimulasi terjadinya perpanjangan pucuk dan mendorong primordial akar
(Artanti, 2007). Gardner 1991 menyatakan bahwa auksin mempunyai pengaruh yang
nyata terhadap pertumbuhan pucuk.
Hasil
analisis sidik ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi
penggunaan berbagai jenis media tanam dan perendaman dengan menggunakan IAA
memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas tanaman lada dimana
kombinasi terbaik terdapat pada perlakuan M1A2 (penggunaan topsoil + kompos dan
perendaman 2 jam) dengan umur muncul tunas 15.33 hari. Hasil Uji Lanjut Beda
Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan kombinasi perlakuan M1A2
(penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 2 jam) berbeda nyata dengan
perlakuan M0A3 (penggunaan topsoil dan
perendaman 3 jam) yaitu 18.66 hari, M3A3 (penggunaan topsoil + pasir dan
perendaman 3 jam) yaitu 20 hari, M3A1 (penggunaan topsoil + pasir dan
perendaman 1 jam) yaitu 21 hari, dan M0A0 (penggunaan topsoil dan tanpa
perendaman) yaitu 21.83 hari, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan M3A2
(penggunaan topsoil + pasir dan perendaman 2 jam) yaitu 17.77 hari dan
perlakuan M2A2 (penggunaan topsoil + arang sekam padi dan perendaman 2 jam)
yaitu 17.89 hari.
Penggunaan
topsoil, kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA menghasilkan umur muncul tunas
tanaman lada tercepat dibandingkan dengan perlakuan lain. Hal ini karena pada media yang digunakan bisa memenuhi unsur hara yang dibutuhkan oleh
tanaman lada dan begitu juga dengan perendaman 2 jam dengan IAA. Ardana (2009)
menyatakan bahwa tanaman akan tumbuh subur apabila nutrisi yang terkandung pada media dapat mendukung pertumbuhan
tanaman. Media yang baik untuk penyetekan adalah media yang mempunyai
porositas cukup, aerasi baik, drainase
baik, kapasitas mengikat air tinggi dan bebas pathogen. Media dalam penyetekan
ini berfungsi sebagai penahan setek selama masa pertumbuhan akar, menjaga
kelembaban, dan memudahkan penetrasi udara (Wuryaningsih, 1998).
Amirudin
(2004) menyatakan bahwa penggunaan ZPT sintesis meningkatkan persentase stek
hidup lada perdu. Sumiasri dan Priadi (2003) menyatakan bahwa tanaman
memerlukan konsentrasi auksin yang sesuai untuk pertumbuhannya baik diberikan
dengan penyemprotan ataupun dengan perendaman sebelum tanam. Menurut Salisbury
dan Ross (1995) konsentrasi yang tidak sesuai tidak akan memacu pertumbuhan,
bahkan bisa menghambat. Namun Pengaruh penyerapan auksin tidak hanya dilihat
dari konsentrasi auksin tetapi dari kepekaan jaringan penerima (protein
tanaman).
Panjang Tunas (cm)
Data hasil pengamatan terhadap parameter panjang tunas
tanaman lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa
perlakuan secara tunggal penggunaan berbagai jenis media memberikan pengaruh
yang nyata terhadap panjang tunas tanaman lada dan perlakuan perendaman dengan
IAA secara tunggal juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun
tanaman lada. Perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai jenis media dan
perendaman dengan IAA juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang
tunas tanaman lada. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat
dilihat pada Tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2. Rerata panjang
Tunas dengan penggunaan berbagai jenis media tanam dan perendaman dengan IAA
|
FAKTOR M
|
FAKTOR A
|
YM
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
M0
|
6.87f
|
7.50ef
|
9.05de
|
7.33ef
|
7.69d
|
|
M1
|
7.86ef
|
12.82b
|
15.61a
|
9.05de
|
11.34a
|
|
M2
|
7.71ef
|
10.72cd
|
11.78bc
|
8.83e
|
9.76b
|
|
M3
|
8.44ef
|
11.61bc
|
7.50ef
|
8.67ef
|
9.05c
|
|
YA
|
7.72c
|
10.66a
|
10.98a
|
8.47b
|
|
|
KK =
6.63 % BNJ M dan A = 0.69 BNJ MA = 1.87
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom
yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda
nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%
Berdasarkan Tabel
2 dapat dilihat bahwa perlakuan penggunaan berbagai jenis media secara tunggal
memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tunas tanaman lada dimana
perlakuan terbaik terdapat pada M1 (penggunaan topsoil + kompos) yaitu 11.34
cm. Hasil uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan bahwa
perlakuan M1 berbeda nyata dengan perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 7.69
cm, M3 (penggunaan topsoil + pasir) yaitu 9.05 cm dan perlakuan M2 (penggunaan
topsoil + arang sekam padi) yaitu 9.76 cm.
Media tanam berfungsi untuk menyokong
tanaman, menahan air dan pupuk untuk sementara waktu. Bahan media tumbuh harus
memiliki kemampuan untuk mempertahankan kelembaban yang cukup tinggi bagi akar
dan tidak berlebihan serta memiliki ruang makro yang cukup untuk respirasi
(Lestariningsih, 2012).
Media
tanam merupakan tempat tumbuh bibit dan tempat mencari makan bagi bibit,
sehingga media tanam yang sesuai akan memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Pertumbuhan yang dapat terlihat langsung dari tanaman adalah
pertumbuhan panjang tunas. Menurut Rudianto (2008) manfaat pemberian bahan
organik adalah meningkatkan humus tanah, mengurangi pencemaran lingkungan dan
mengurangi pengusaran hara. Penggunanaan media campuran topsoil dan kompos
dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman (Indradewa, 1995). Penambahan
kompos pada media mampu memberikan hasil lebih baik pada panjang tunas karena
kompos sangat baik untuk memasok unsur hara dan memperbaiki kualitas tanah.
Penambahan
arang sekam pada media tanam juga memberikan hasil yang baik di bandingkan dengan
yang lain karena arang sekam dapat memperbaiki system drainase dengan sifatnya
yang mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, dan tidak mudah memadat (Redaksi
PS, 2007). Hal ini sesuai dengan Dewi (2007) yang menyatakan bahwa tanaman lada
menghendaki kondisi tanah yang memiliki aerasi dan drainase yang baik.
Pertumbuhan
tinggi batang terjadi didalam meristem interkalar dari ruas. Ruas itu memanjang
sebagai akibat meningkatnya jumlah sel dan terutama karena meluasnya sel.
Pertumbuhan karena pembelahan sel terjadi pada dasar ruas (interkalar) bukan
meristem ujung. Jumlah hormon pada meristem interkalar terbatas karena hormon
ini tidak diproduksi sendiri seperti yang terjadi pada meristem ujung maka
pengatur pertumbuhannyan harus dipasok dari luar (Gardner. 1991).
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa
perlakuan perendaman dengan IAA secara
tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tunas tanaman lada
dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2 (perendaman 2 jam dengan
IAA) yaitu 10.98 cm, tidak berbeda nyata dengan perlakuan A1 (perendaman 1 jam
dengan IAA) yaitu 10.66 cm, namun berbeda nyata dengan perlakuan A3 (perendaman
3 dengan IAA) yaitu 8.47 cm dan perlakuan A0 (tanpa perendaman) yaitu 7.72 cm.
Perlakuan A2 menunjukkan angka
tertinggi 10.98 cm dengan lama perendaman 2 jam dengan IAA karena akan meningkatkan kerja auksin
secara keseluruhan, dengan perendaman selama 2 jam dengan IAA sehingga dapat
mempercepat pertumbuhan akar dan menghasilkan jumlah akar yang berlipat ganda. Menurut
Suwasono Heidy (1986) senyawa auksin sangat penting dalam proses pembentukan
akar stump. Hormon tersebut bekerja secara sinergis membentuk kelompok
rizokalin yaitu kompleks antara auksin dengan kofaktor, untuk selanjutnya
terlibat langsung dalam proses inisiasi akar. Selain itu auksin juga dapat
melonggarkan dinding sel korteks sehingga mudah ditembus akar. Dengan
pertumbuhan akar yang baik maka akan diikuti dengan munculnya tunas-tunas baru
yang makin baik pertumbuhan akar maka tunas-tunas tersebut makin bertambah
banyak dan makin panjang.
Hasil analisis
sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai
jenis media dan perendaman dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap
panjang tunas tanaman lada dimana kombinasi terbaik terdapat pada perlakuan
M1A2 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA) yaitu 15.61
cm. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan bahwa
perlakuan M1A2 berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan. Namun perlakuan
M1A1 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 1 jam dengan IAA) yaitu 12.82
cm tidak berbeda nyata dengan perlakuan M2A2 (penggunaan topsoil + arang sekam
padi dan perendaman 2 jam dengan IAA) yaitu 11.78 cm dan M3A1 (penggunaan
topsoil + pasir dan perendaman 1 jam dengan IAA) yaitu 11.61 cm.
Pada
semua parameter pengamatan, topsoil + arang sekam padi menunjukkan pertumbuhan
dan hasil yang rendah dibandingkan dengan media topsoil + kompos dan media
topsoil + pasir. Hal ini terjadi karena lada tidak dapat memanfaatkan langsung
unsur-unsur hara yang terkandung dalam arang sekam dan pasir. Media tumbuh
merupakan salah satu unsur penting dalam menunjang pertumbuhan tanaman, karena
sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman, dipasok melalui media
tumbuh, selanjutnya diserap oleh akar dan digunakan untuk pertumbuhan tanaman.
Media tumbuh adalah tempat akar tanaman tumbuh dan mengisap zat makanan untuk
pertumbuhannya serta tempat memperkokoh berdirinya tanaman, sehingga di dalam
media tumbuh harus tersedia unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Menurut Wira
(2000), bahwa bahan-bahan untuk media tumbuh dapat dibuat dari bahan tunggal
ataupun kombinasi dari beberapa bahan, asalkan tetap berfungsi sebagai media
tumbuh yang baik. Jenis media tumbuh akan memberikan pengaruh yang berbeda
terhadap pertumbuhan tanaman (Hajrah, 1997). Selain media, pemupukan diperlukan pula dalam usaha
untuk meningkatkan hasil, pemupukan adalah setiap usaha pemberian pupuk baik
dengan cara di semprotkan ataupun dengan cara perendaman bibit sebelum tanam
bertujuan menambah persediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman (Sarief, 1986)
Pada
semua parameter pengamatan, perendaman 1 jam dengan IAA menunjukkan pertumbuhan
dan hasil terendah. Menurut
Tripepi (1997) hal ini kemungkinan berhubungan dengan kemampuan sel dalam
mencapai batas optimum konsentrasi zat pengatur tumbuh untuk memacu
diferensiasi tunas sehingga bibit mempunyai batas fisiologi untuk dapat
berdiferensiasi.
Jumlah Daun (helai)
Data hasil pengamatan terhadap parameter jumlah daun tanaman
lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara
tunggal penggunaan berbagai jenis media dan perendaman dengan IAA memberikan
pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada. Perlakuan secara interaksi
penggunaan berbagai jenis media dan perendaman dengan IAA juga memberikan
pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada. Hasil uji lanjut Beda
Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 3.
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan
penggunaan berbagai jenis media secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata
terhadap jumlah daun tanaman lada. Dimana perlakuan terbaik terdapat pada
perlakuan M1 (penggunaan topsoil + kompos) yaitu 7.47 helai. Hasil uji lanjut
Beda Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan bahwa perlakuan M1 berbeda nyata
dengan perlakuan M3 (penggunaan topsoil + pasir) yaitu 5.39 helai dan perlakuan
M0 (penggunaan topsoil) yaitu 5.05, perlakuan M2 (penggunaan topsoil + arang
sekam padi) yaitu 6.33 helai. Namun perlakuan M3 (penggunaan topsoil + pasir)
yaitu 5.39 helai tidak berbeda nyata dengan perlakuan M0 (penggunaan topsoil)
yaitu 5.05 helai. Hasil terendah terdapat pada perlakuan M0 hal ini disebabkan
oleh kurangnya hara yang dibutuhkan tanaman dan juga hasil yang rendah terdapat
pada perlakuan M3 Hal
ini dikarenakan penggunaan media tanam dengan topsoil saja tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman yang terlihat perbedaan pada jumlah daun
tanaman lada. Dan juga tekstur tanah pada perlakuan M3 terlalu banyak pori
sehingga tidak menyerap air dengan baik dan juga pada topsoil dan pasir tidak
ada penyerapan pupuk. Rinsema (2008) menyatakan bahwa penyerapan air dan unsur hara cukup bagi
tanaman maka pertumbuhan dan kesuburan suatu tanaman akan semakin baik.
Tabel 3. Rerata jumlah daun ladadengan penggunaan
berbagai jenis media tanam dan perendaman dengan IAA
|
FAKTOR M
|
FAKTOR A
|
YM
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
M0
|
5.55cde
|
2.22f
|
8.22ab
|
4.22ef
|
5.05c
|
|
M1
|
7.33abc
|
6.78abcd
|
8.67a
|
7.11abcd
|
7.47a
|
|
M2
|
4.11ef
|
6.89abcd
|
7.67abc
|
6.67abcd
|
6.33b
|
|
M3
|
2.44f
|
5.00de
|
7.89ab
|
6.22bcde
|
5.39c
|
|
YA
|
4.86c
|
5.22c
|
8.11a
|
6.05b
|
|
|
KK =
12.31 % BNJ M dan A =
0.81 BNJ MA = 2.22
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom
yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda
nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa
perlakuan perendaman dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah
daun tanaman lada, dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2 (perendaman
2 jam) yaitu 8.11 helai, berbeda nyata dengan perlakuan A3 (perendaman 3 jam)
yaitu 6.05 helai, A1 (perendaman 1 jam) yaitu 5.22 helai dan A0 (tanpa
perendaman) yaitu 4.86 helai. Namun perlakuan A1 (perendaman 1 jam) yaitu 5.22
helai tidak berbeda nyata dengan perlakuan A0 (tanpa perendaman) yaitu 4.86
helai.
Perlakuan A2 menunjukkan angka tertinggi 8.11
helai dengan perendaman 2 jam dengan IAA, hal ini karena perendaman selama 2
jam telah dapat merangsang pertumbuhan akar sehingga tanaman tumbuh dengan baik
dan ada daun. Pemberian dosis 4 gr/liter air untuk perendaman tersebut telah
mampu memenuhi kebutuhan hara tanaman lada, sehingga tanaman bias tumbuh dengan
maksimal.
Setymidjaya (1986) menyatakan bahwa pupuk
diberikan dalam konsentrasi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan keracunan
bagi tanaman. Respon tanaman terhadap pemberian unsur hara apabila telah
mencapai batas optimum akan mengakibatkan penghambatan dan penurunan
pertumbuhan. Pemberian unsur hara dengan konsentrasi yang rendah pengaruhnya
terhadap tanaman tidak akan tampak (Osman 2002)
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa
perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai jenis media dan perendaman
dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada,
dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M1A2 (penggunaan topsoil +
kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA) yaitu 8.67 helai. Hasil
uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan M1A2
berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan perlakuan M3A3 (penggunaan topsoil +
pasir dan perendaman 3 jam) yaitu 6.22 helai, M0A0, M3A1, M0A3, M2A0, M3A0 dan
M0A1. Namun perlakuan M1A2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan M0A2, M3A2,
M2A2, M1A2.
Hal ini disebabkan
media yang digunakan telah menyediakan hara untuk pertumbuhan tanaman, baik
yang berasal dari media tanam itu sendiri atau yang sengaja ditambahkan pada
media tanam tersebut. Sifat-sifat tersebut antara lain tekstur media, pori-pori
media, daya simpan air dan hara. Media tanam yang disukai tanaman adalah
bertekstur gembur karena media yang gembur memudahkan perkembangan akar
tanaman, selain itu, media yang gembur memiliki pori tanah yang baik untuk
sirkulasi udara dan menahan air lebih baik daripada media yang keras dan padat.
Selain media, pemberian ZPT juga diperlukan
dalam pertumbuhan tanaman lada. Zat pengatur tumbuh (ZPT) merupakan senyawa
sintetis yang mempunyai aktifitas kerja yang sama seperti halnya hormon
tanaman, dimana dengan konsentrasi tertentu dapat mendorong ataupun menghambat
pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Wattimena, 1988).
Persentase Tumbuh (%)
Data hasil pengamatan terhadap
parameter persentase tumbuh tanaman lada, setelah dilakukan analisis sidik
ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal penggunaan berbagai jenis
media serta perendaman dengan IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap
parameter persentase tumbuh tanaman lada.
Berdasarkan Tabel 4 hasil uji lanjut
BNJ menunjukkan bahwa perlakuan penggunaan berbagai jenis media secara tunggal
memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada dimana
perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M1(penggunaan topsoil + kompos) yaitu
97.92 %. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan
perlakuan M1 berbeda nyata dengan perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 79.17
% namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan M3 (penggunaan topsoil + pasir)
yaitu 95.83 %, M2 (penggunaan topsoil + arang sekam padi) yaitu 91.67 % dan
perlakuan M0 (penggunaan topsoil) yaitu 79.17 %.
Tabel 4. Rerata persentase tumbuh lada dengan penggunaan
berbagai jenis media tanam dan perendaman dengan IAA
|
FAKTOR M
|
FAKTOR A
|
YM
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
M0
|
50.00c
|
91.67ab
|
100.00a
|
75.00b
|
79.17b
|
|
M1
|
100.00a
|
91.67ab
|
100.00a
|
100.00a
|
97.92a
|
|
M2
|
91.67ab
|
75.00b
|
100.00a
|
100.00a
|
91.67a
|
|
M3
|
91.67ab
|
100.00a
|
100.00a
|
91.67ab
|
95.83a
|
|
YA
|
83.33b
|
89.58b
|
100.00a
|
91.67ab
|
|
|
KK =
8.85 % BNJ M dan A =
8.83 BNJ MA = 24.08
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom
yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda
nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%
Tingginya
persentase bibit hidup diduga dipengaruhi oleh asal bibit yang cukup bagus dan
juga pengaruh factor lingkungan dan pemeliharaan. Faktor lingkungan sangat
berpengaruh dikarenakan media tumbuh yang tepat dan bibit berasal dari bibit yang bermutu dan sehat.
Pemeliharaan sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan sehingga persentase
jumlah bibit yang hidup cukup tinggi.
Saat penanaman perlu dijaga kelembaban dengan cara dilakukan
penyungkupan bibit selama dua minggu dengan menggunakan plastik. Penyungkupan
pada dua minggu pertama terbukti meningkatkan persentase tumbuh bibit,
disamping itu penyiraman dilakukan setiap
hari untuk mencegah kekeringan pada bibit.
Hasil
analisis sidik ragam pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan perendaman dengan
IAA memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada,
dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2 (perendaman 2 jam dengan
IAA) yaitu 100.00 %. Hasil
uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan A2
berbeda nyata dengan perlakuan A1 (perendaman 1 jam dengan IAA) yaitu 89.58 %, dan perlakuan A0 (tanpa perendaman dengan IAA) yaitu 83.33
%, namun perlakuan A2 tidak berbeda nyata dengan A3 (perendaman 3 jam dengan IAA)
yaitu 91.67 %
Perendaman
dengan auksin mampu merangsang akar karena auksin zat pengatur tumbuh yang
mampu merangsang pertumbuhan akar. Hal ini sesuai dengan Riseksane (2005) yang
menyatakan bahwa auksin berperan mendorong pertumbuhan akar karena auksin
merupakan hormone yang berperan dalam merangsang pertumbuhan akar sehingga
persentase tumbuh bibit tinggi.
Perlakuan
secara interaksi penggunaan berbagai jenis media dan perendaman dengan IAA
menghasilkan persentase tumbuh yang baik karena media yang di gunakan sudah
mampu memenuhi kebutuhan hara yang dibutuhkan tanaman lada dan juga perendaman
dengan IAA dengan waktu yang tepat dan perlakuan terbaik terdapat pada
perlakuan M1A2 (penggunaan topsoil + kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA)
dengan persentase tumbuh 100.00% dan perlakuan M1A3, M2A2 dan lain-lain. Namun
perlakuan M1A2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan M2A0, M3A0, M0A1, M1A1 dan
M3A3.Perlakuan M1A2 berbeda nyata dengan perlakuan M2A1, M0A0 dan M0A3.
KESIMPULAN
1.
Perlakuan
penggunaan berbagai jenis media tanam dan perendaman IAA baik secara tunggal
maupun interaksi berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan dengan
perlakuan terbaik M1 dimana umur muncul tunas (18.53 hari), panjang tunas
(11.34 cm), jumlah daun (7.47 helai) dan persentase tumbuh (97.92 %).
2.
Perlakuan
perendaman IAA yang terbaik terdapat perlakuan A2 (perendaman 2 jam dengan IAA)
yaitu umur muncul tunas (18.12 hari), panjang tunas (10.98 cm), jumlah daun
(8.11 helai) dan persentase tumbuh (100.00%).
3.
Perlakuan
secara interaksi dengan perlakuan terbaik adalah M1A2 (penggunaan topsoil +
kompos dan perendaman 2 jam dengan IAA) dengan umur muncul tunas (15.33 hari),
panjang tunas (15.61 cm), jumlah daun (8.67 helai) dan persentase tumbuh
(100.00%)
DAFTAR PUSTAKA
Artanti, F. Y.2007.Pengaruh
Pupuk Organik Cair dan Konsentrasi IAA terhadap Pertumbuhan Stek Tanaman Stevia
(Steviarebaudiana Bertoni M).
Skripsi S1 FP UNS Surakarta
Dewi.2007.
Petunjuk Teknis pembibitan Lada Perdu.http;//ditjenbun.deptan.go.id
Akses Sabtu 29 September 2007 pukul 16.51 WIB
Hajrah, S. 1997. Pengaruh Macam Media Tumbuh Dalam Teknik
Hidroponik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Paprika. (Skripsi),
Fakultas Pertanian, Unuversitas Mataram. 139 h.
Indradewa, D.1995. Analisis
Pertumbuhan Kailan (Brassica oleracea
var. acepala) pada Berbagai Dosis Pupuk NPK dan perbandingan Sekam dengan
Pupuk Kandang Sebagai Media.Bulletin
Ilmiah Azolla. Vol.2(6):6-11.FP Universitas Wangsa manggala.Yogyakarta.
Lestariningsih,
A. 2012.Meramu Media Tanam Untuk Pembibitan. Cahayaa Atma
Osman, F dan Prasasti. 2002. Anggrek
Dendrodium. Penebar Swadaya, Jakarta
Redaksi PS.
2007.Pengaruh Macam Media.http://www.kebonkembang.info Akses
Sabtu10 November 2007 pukul 17.33 WIB
Rochiman, K. Dan S.S. Harjai. 1973. Pembiakan Vegetatif.
Departemen Agronomi Fakultas Pertanian IPB. Bogor. 72 Hal.
Salisbury,f.B
and C. W. Ross. 1969. Plant Physiology. Jilid 1, 2, 3.ITB. Bandung
Salisbury,f.B
and C. W. Ross. 1995. Plant Physiology. Jilid 1 .ITB. Bandung
Sarief, E.S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan
Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung. 182 h.
Setyamidjaja,
1986.Kultur Jaringan Anggrek skala Rumah
Tangga. Agromedia
Pustaka.
Jakarta
Swasono
Heddy, 1986. Hormon Tumbuhan. Rajawali Pers, Jakarta.
Wattimena, G. A.
1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman.
Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Wira, N.J. 2000. Pengaruh Campuran Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Seledri. (Skripsi), Fakultas Pertanian. Universitas Mataram.149h.
Wuryaningsih, S.
1998. Pertumbuhan Beberapa Stek Melati Pada Tiga Macam Media .Agrin Jurnal Penelitian Pertanian Unsoed.
Vol 3 (5) : 50-57.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar