Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 41-46


PENGGUNAAN BERBAGAI MULSA DAN PUPUK GROWMORE UJI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI CABAI RAWIT (Capsicum frutescens.L)

Fika M, Chairil Ezward, dan Tri Nopsagiarti
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Kuantan Singingi. Teluk Kuantan Riau. Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake 29562,

ABSTRACT

This research aims to determine the effect of test various organic mulch and gromore fertilizer on the growth and production  cayenne pepper (Capsicum frutesscens L). The design used was a randomized block design (RBD) factorial with two factors. Factors giving organic musa consists of 3 levels, namely: M1 (without mulch), M2 (mulch sawdust), M3 (imperata grass mulch). While fertilizer application growmore consist 4 levels namely: G0 (0 grams / L water), G1 (3 grams / L water), G2 (6 grams / L of water), G3 (9 grams / L water). The results showed an organic mulch significantly affect plant height and days to flowering, plant height that is best M3 (imperata grass mulch) and 32.72 cm flowering age is M3 (imperata grass mulch) 62.12 days. Growmore fertilizer application significantly affected the weight of the fruit, ie G2 (6 grams / liter of water) 160.69 grams. Organic mulch and fertilizer interaction growmore significant effect on plant height, the best treatment there is on M3G2 treatment (imperata grass mulch and 6 g / plant) is 34.11 cm.

Keywords: organic mulch, fertilizer growmore and cayenne pepper


PENDAHULUAN

Cabai rawit merupakan salah satu jenis rempah yang seringkali ditambahkan sebagai bumbu masakan karena rasanya yang pedas memberikan kesegaran, serta mengandung Vitamin C yang bermanfaat bagi kesehatan. Karena kekhasan rasanya sehingga hampir semua orang menggunakan cabe. Selain sebagai bumbu juga dapat memberikan warna yang membuat orang yang melihat berselerah. Kebutuhan sebagai bumbu memiliki indikator bahwa cabai diperlukan dalam jumlah yang besar.
Produksi cabe rawit di Kabupaten Kuantan Singingi juga mengalami peningkatan dimana pada tahun 2011 jumlah produksi 128,60 ton dengan luas panen 49 hektar, dan ditahun 2012 produksi cabe rawit mencapai 134,35 ton dengan luas panen 52 hektar (Dinas Tanaman Pangan Kuantan Singingi, 2012).
Walaupun terjadi peningkatan produksi namun belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Kuantan Singingi, hal ini dapat kita lihat masih tergantung dengan pasokan dari Daerah lain. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam pemeliharaan tanaman adalah pengendalian terhadap gulma, pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan mulsa. Mulsa adalah bahan yang dipakai pada permukaan tanah dan berfungsi untuk menghindari kehilangan air melalui penguapan dan menekan pertumbuhan gulma.
Alang–alang juga dapat dijadikan mulsa. Mulsa alang–alang mudah diperoleh karena berasal dari tumbuhan termasuk jenis gulma yang banyak tumbuh di sekitar sentra budidaya, sifatnya mudah melapuk dalam rentang waktu tertentu.
Selain penggunaan mulsa salah satu cara untuk peningkatan produksi adalah dengan menggunakan pupuk. Pemupukan yang efektif adalah bila unsur hara yang tersedia dalam pupuk dapat dimanfaatkan oleh tanaman secara maksimal. Pupuk daun adalah pupuk industri yang pemberiaannya kepada tanaman dilakukan melalui penyemprotan ke daun. Pada umumnya pupuk daun mengandung unsur hara makro N, P, K, Ca, & Mg serta unsur hara mikro seperti Fe, Cu, Co, Mn, & Zn. Pemberian pupuk melaui penyemprotan lewat daun dapat mengatasi kekurangan hara karena berpengaruh cepat dan langsung pada tanaman. Dengan demikian pemupukan lewat daun dapat meningkatkan efektifitas hara tanaman (Lingga dan Marsono, 2004).
Pupuk growmore merupakan pupuk anorganik dengan bentuk fisik seperti kristal yang mengandung unsur hara makro dan mikro yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman pangan dan hortikultura serta tanaman perkebunan. Kandungan unsur hara yang terdapat pada pupuk ini adalah N 32%, P2O5 10%, K­­­2­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­O 10%, Cu 0,05%, Mg 0,10%, S 0,20%, B 0,02%, Fe 0,10%, Mn 0,05% Mo 0,0005% dan Zn 0,05% (Lingga dan Marsono, 2004).




BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Pulau Sipan Inuman Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai dari Januari sampai April 2014. 

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih cabai rawit hibrida varietas dewata, pupuk Growmore, serbuk gergaji dan alang-alang, Frudan 3G, Tocca. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ember ukuran 30 cm, timbangan analitik, kayu, paku kawat, cangkul, sabit, kamera digital, meteran, handsprayer dan alat tulis lainnya.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : faktor pertama adalah faktor M (Mulsa) yang terdiri 3 taraf dan faktor kedua adalah faktor G (Growmore) yang terdiri dari 4 taraf sehingga terdapat 12 kombinasi dengan 3 ulangan sehingga terdapat 36 plot. Dalam satu plot terdapat 4 batang tanaman dan 3 batang tanaman dijadikan tanaman sampel sehingga terdapat 144 tanaman. Semua data dianalisis statistic, jika F hitung lebih besar dari F table, maka dilakukan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Faktor M (Mulsa) terdiri 3 taraf :
M1 = Tanpa Mulsa
M2 = Mulsa Serbuk Gergaji
M3 = Mulsa Alang – Alang

Faktor G (Growmore) terdiri 4 taraf :
G0 = Tanpa pemberian Growmore/kontrol
G1 = Pemberian Growmore 3 gram/liter
G2 = Pemberian Growmore 6 gram/liter
G3 = Pemberian Growmore 9 gram/liter.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
            Pemberian mulsa organik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman cabai rawit. Rerata tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1.


Tabel 1. Rerata tinggi tanaman cabai rawit dengan pemberian pupuk growmore dan mulsa organik pada saat umur 5 minggu (hari)
FAKTOR M
FAKTOR G
RERATA M
G0
G1
G2
G3
M1
32,11ab
31,11ab
30,78b
30,78b
31,19a
M2
28,22b
31,33a
31,44ab
31,44ab
30,61b
M3
33,77a
31,66a
34,11a
31,33ab
32,72a
Rerata G
31,37
31,37
32,11
31,18

KK=4,24%
BNJM=1,50
BNJMG=3,93



Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut uji lanjut BNJ.

                        

Tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian mulsa organik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman cabai rawit, hasil di uji lanjut BNJ pada taraf 5% pada perlakuan M2 berbeda nyata terhadap perlakuan M1 dan M3. Tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan M3 (musa alang-alang) dengan tinggi 32,72 cm. Hal ini berkaitan dengan peranan mulsa alang – alang lebih efektif menjaga kestabilan suhu. Adanya peningkatan pertumbuhan tanaman juga disebabkan sumbangan unsur hara dari alang-alang yang terdekomposisi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Hal ini sesuai dengan pendapat Umboh (1997) yang menyatakan bahwa pada tanah-tanah yang tidak diberi mulsa ada kecendrungan menurunnya bahan organik tanah dan sebaliknya pada tanah-tanah yang diberi mulsa kandungan bahan organiknya cukup mantap dan cenderung meningkat. Sedangkan tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan M2(mulsa sebuk gergaji) dengan tinggi 30,61 cm.
 Pemberian pupuk growmore tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman cabai, namun bila dilihat dari hasil yang diperoleh (Tabel 1) maka perlakuan G2 (6 gr/ ltr air) memiliki tinggi tanaman lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini didukung oleh pendapat Ginting (2001) Pupuk growmore mengandung unsur Nitrogen yang dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif, posfor berpengaruh untuk merangsang pertumbuhan generatif, inisiasi akar dan kedewasaan tanaman, sedangkan kalium berfungsi sebagai katalisator.
Interaksi antara mulsa organik dan pupuk growmore berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman cabai rawit, dimana perlakuan M3G2 (mulsa alang-alang + growmore 6 gr/ltr) merupakan kombinasi terbaik dibandingkan dengan perlakuan lain, dengan tinggi tanaman 34,11 cm. Kombinasi antara mulsa alang-alang dan pemberian pupuk growmore sebanyak 6 gram /liter air mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman cabai, mulsa alang-alang mampu menjaga kelembaban dan suhu pada tanah, sedangkan growmore menambah pasokan hara dengan pemberian melalui daun, sehingga dari kedua kombinasi tersebut akan memacu pertumbuhan tanaman menjadi optimal.

Diameter Batang (mm)
                  Pemberian mulsa organik tidak berpengaruh nyata terhadap diameter tanaman cabai rawit. Rerata tinggi tanaman disajikan pad Tabel 2 dibaah ini.


Tabel  2. Rerata diameter batang tanaman cabai rawit dengan pemberian pupuk growmore dan mulsa organik.
FAKTOR M
FAKTOR G
RERATA M
G0
G1
G2
G3
M1
3,20
3,60
3,83
3,30
3,48
M2
3,63
3,63
4,5
3,87
3,91
M3
3,66
3,73
4,30
3,96
3,92
Rerata G
3,50
3,66
4,21
3,71

KK= 14,52%





Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut uji lanjut BNJ.


Dari Tabel 2 diatas menunjukkan pemberian mulsa organik tidak berpengaruh nyata terhadap diameter tanaman cabai rawit, namun demikian perlakuan M3 (mulsa alang-alang) dengan diameter 3,92 mm memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan M1 dan M2. Untuk perlakuan pupuk growmore juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter  batang, namun perlakuan G2 (6 gram/ liter air) mampu menghasilkan diameter batang yang lebih baik dibandingkan perlakuan lain. Jumin (1989) menyatakan unsur hara dalam jumlah yang cukup menyebabkan kegiatan metabolisme tanaman meningkat sehingga terjadi pembesaran pada bagian batang. Batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya pada tanaman yang lebih muda sehingga dengan adanya unsur hara dapat mendorong pertumbuhan vegetatif tanaman diantaranya pembentukan klorofil sehingga akan memacu laju fotosintesis, semakin laju fotosintesis maka semakin memberikan hasil yang besar pula terhadap ukuran diameter batang.
Interaksi perlakuan mulsa organik dan mulsa organik juga tidak berpengaruh nyata terhadap diameter batang tanaman cabai rawit, namun perlakuan M2G2 (mulsa serbuk gergaji dan growmore 6 gr/ ltr air) dengan diameter  4,5 mm, memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan lain. Tidak berpengaruhnya pemberian mulsa dan growmore terhadap diameter batang disebabkan karena perlakuan yang diberikan memberikan respon yang sama terhadap pertumbuhan diameter batang terutama dalam hal menjaga kondisi lingkungan dan asupan hara untuk pertumbuhannya. Menurut Abdullah (1996) serbuk gergaji mempunyai kadar air 23,25%, ini menunjukkan kemampuan serbuk gergaji mengikat air lebih besar, sehingga dapat menjaga kelembaban tanah dan menjaga kebutuhan air bagi tanaman.

Umur Berbunga (hari)
                  Pemberian mulsa organik berpengaruh nyata terhadap umur berbunga. Rerata umur muncul bunga disajikan pada Tabel 3.


Tabel 3. Rerata umur berbunga tanaman cabai rawit dengan pemberian pupuk growmore dan mulsa organik.
FAKTOR M
FAKTOR G
RERATA M
G0
G1
G2
G3
M1
36,63
36,97
37,97
35,87
36,86 a
M2
36,73
39,63
36,87
36,77
37,5 a
M3
34,43333
34,2
33,53
35,63
34,45 a
Rerata G
35,93
36,93
36,12
36,09

KK= 4,80%
BNJ M=3,26





Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan pemberian mulsa organik berpengaruh nyata terhadap umur berbunga, tetapi hasil di uji lanjut BNJ taraf 5% menunjukkan bahwa antar perlakuan tidak berbeda nyata. Mulsa organik berperan dalam membantu penyerapan hara melalui stabilitas suhu, kelembaban dan mengurangi pencucian unsur hara oleh air hujan, apabila kondisi lingkungan dapat terjaga maka akan membantu tanaman mulai dari penyerapan unsur hara hingga aktivitas fotosintesis. Hal  ini jika ketersediaan unsur hara cukup dan didukung oleh lingkungan yang sesuai akan dapat memicu munculnya bunga. Perlakuan M3 (mulsa alang-alang) adalah perlakuan terbaik dengan umur berbunga yaitu 34,45 hari, mulsa berperan dalam mempertahankan ketersediaan unsur hara dalam tanah yang mampu meningkatkan proses regenerasi sel dan ketersediaan energi sehingga serapan hara lebih banyak. (Dwidjosapputro, 1986) menyatakan bahwa unsur – unsur yang tersedia di dalam tanah akan diserap terutama oleh ujung – ujung akar dan akan diabsorbsi ke dalam tubuh tanaman.
Pemberian pupuk growmore secara tunggal tidak memberikan pengaruh nyata terhadap umur berbunga pada tanaman cabai rawit, namun perlakuan pada G0 ( 0 gr/ ltr)  mampu lebih cepat dibandingkan dengan tanaman yang diberikan growmore. Selanjutnya secara interaksi pemberian mulsa organik dan pupuk growmore juga tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga pada tanaman cabai rawit, perlakuan M3G0 (mulsa alang-alang dan growmore 0 gr/ ltr) memunculkan bunga lebih cepat dibandingkan kombinasi perlakuan lainnya.

Umur Panen (hari)
Hasil pengamatan terhadap umur panen setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian mulsa organik  dan pupuk growmore  baik secara tunggal maupun secara interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen.


Tabel 4.   Rerata umur panen tanaman cabai rawit dengan pemberian pupuk growmore dan mulsa organik.
FAKTOR M
FAKTOR G
RERATA M
G0
G1
G2
G3
M1
75,83
78,07
78,5
74,77
76,79
M2
76,2
77,4
79,2
74,83
76,91
M3
75,3
77,1
73,73
77,2
75,83
Rerata G
75,78
77,52
77,14
75,6

KK=3,64%







Dari data dapat dilihat bahwa penggunaan mulsa organik yaitu pada perlakuan M3 (mulsa alang-alang) dengan umur panen 75,83 hari,merupakan panennya lebih cepat dibandingkan dengan M1 dan M2. Pemberian pupuk growmore juga tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen, namun perlakuan G3 memiliki umur panen lebih cepat dibandingkan perlakuan lain. Hal ini didukung oleh pendapat Sobir dan Siregar (2010) menyatakan unsur K (kalium) pada growmore berfungsi untuk mendukung pertumbuhan tanaman, pembungaan dan pembentukan buah.
Interaksi antara mulsa organik dan pupuk growmore juga tidak mempengaruhi umur panen tanaman cabai rawit, tetapi kombinasi  M3G2 (mulsa alang-alang + growmore 6gr/ltr air) mampu mempercepat umur panen tanaman cabai rawit pada hari ke 73.



Berat Buah (gr)

Hasil pengatan terhadap parameter berat buah tanaman cabai rawit setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian mulsa organik tidak berpengaruh nyata terhadap berat buah, sedangkan pemberian pupuk growmore berpengaruh  nyata  terhadap berat buah. Untuk interaksi mulsa organik dan pupuk growmore  tidak  berpengaruh nyata terhadap parameter berat  buah tanaman cabai rawit.  Hasil uji  lanjut  beda nyata jujur (BNJ) taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 5..
Dari Tabel 5 diatas menunjukkan bahwa perlakuan mulsa organik tidak berpengaruh nyata terhadap berat buah pada tanaman cabai rawit, namun perlakuan M3 (mulsa alang-alang) dengan berat buah 160,92 gram, menghasilkan buah yang lebih banyak dibandingkan perlakuan M1 dan M2.


Tabel 5. Rerata berat buah tanaman cabai rawit dengan pemberian pupuk growmore dan mulsa organik.
FAKTOR M
FAKTOR G
RERATA M
G0
G1
G2
G3
M1
124,93
163,90
137,90
115,70
141,01
M2
145,30
159,73
140,45
120,75
148,49
M3
154,90
156,30
203,73
128,75
160,92
Rerata G
141,71ab
159,98ab
160,69a
121,73b

KK=17,04%
BNJG=50,02




Angka-angka pada baris dan kolam yang di ikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut uji lanjut BNJ.


Pemberian pupuk growmore berpengaruh nyata parameter berat buah, tetapi setelah diuji lanjut BNJ taraf 5% tidak ada perbedaan yang nyata antar perlakuan, perlakuan terbaik terdapat pada G2 (growmore 6 gr/ ltr) dengan berat 160,69 gram, dosis ini merupakan takaran yang tepat. Perlakuan terendah terdapat pada G3 (growmore 9 gr/ltr) dengan berat buah 121,73 gram, rendahnya berat buah pada G3 disebabkan karena kelebihan growmore, berat buah pada tanaman sangat dipengaruhi oleh unsur hara yang diberikan. Bila pupuk diberikan dengan konsentrasi terlalu tinggi maka larutan pupuk akan menarik cairan tanaman sehingga mengakibatkan keracunan tanaman. Dimana respon tanaman terhadap pemberian unsur hara apabila telah mencapai batas optimum akan mengakibatkan penghambatan dan penurunan pertumbuhan (Jhonsons, 1984). Hal ini didukung oleh pendapat Osman (1996) yang mengemukakan bahwa hara yang seimbang memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam keberhasilan produksi tanaman pertanian, karena tanaman palawija sering kali tidak mampu berproduksi dengan baik tanpa dilakukannya pemupukan.
Selanjutnya secara interaksi antara mulsa organik dan pupuk growmore tidak berbeda nyata terhadap berat buah pada tanaman cabai rawit. Namun  perlakuan M3G2 (mulsa alang-alang dan growmore 6 gr/ ltr) dengan berat 203,73 gram, menghasilkan buah lebih banyak dibandingkan dengan kombinasi perlakuan yang lain.
Bila dilihat secara menyeluruh dari hasil penelitian ini, maka penggunaan mulsa alang-alang (M3) jauh lebih baik dibandingkan dengan jenis mulsa lainnya terutama untuk pertumbuhan tanaman. Untuk pemberian growmore maka perlakuan G2 (6gram /liter air) merupakan dosis yang lebih baik untuk memacu pertumbuhan dan produksi tanaman cabai. Sedangkan untuk interaksi antara penggunaan mulsa organik dan pupuk growmore, maka perlakuan M3G2 menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang lebih baik.
Perlu diinformasikan bahwa, pada saat tanaman berumur 75 hari, tepatnya pada saat berbuah lokasi penelitian dilanda banjir, sehingga untuk berat buah hanya diambil 1 kali panen, kemungkinan hasil yang diperoleh akan berbeda jika tanaman tidak dilanda banjir.

KESIMPULAN

1.   Penggunaan Mulsa organik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan umur berbunga, perlakuan terbaik terdapat pada M3 (mulsa alang-alang) yaitu dengan tinggi 32,72 cm dan umur berbunga 34,45 hari.
2.   Pemberian pupuk growmore hanya berpengaruh nyata terhadap berat buah, dimana perlakuan terbaik terdapat pada G2 (growmore 6 gram /ltr air) dengan hasil  160,69 gram/tanaman.
3.   Interakasi mulsa organik dan pupuk growmore hanya berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman cabai rawit, perlakuan yang terbaik terdapat pada M3G2 (mulsa alang-alang dan growmore 6gr/ ltr) dengan tinggi 34,11 (cm).


DAFTAR PUSTAKA

Dinas Tanaman Pangan, 2012. Survai Langan Produksi Cabai Rawit, Kabupaten Kuantan Singingi.
Ginting, B. 2001. Pengaruh Cara Pemberian Air, media, dan pemupukan Anggrek Dendrobium. Balai Penelitian Tanaman Hias. Jakarta.
Jumin, H.B., 1986. Dasar-dasarAgronomi.Rajawali.Jakarta.
Jhonshons,W.R. 1984. Fertilizer Deficiens and Orchid Nutrition. Australian orchid. Australia.
Lingga, P. dan Marsono. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Osman. 1996. Memupuk Padi dan Palawija. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tisdale, S. And W. Nelson. 1975. Soil Fertility and Fertilizers. Mc Millan Publs. Co, Inc., New York.
Tjahyadi. 1991. Bertanam cabai. Kasinus. Yogyakarta.
Umboh, H. A, 1997. Petunjuk Penggunaan Mulsa. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar