PENGGUNAAN
BERBAGAI MULSA DAN PUPUK GROWMORE UJI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI CABAI
RAWIT (Capsicum frutescens.L)
Fika M, Chairil Ezward, dan Tri Nopsagiarti
Program Studi
Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Kuantan Singingi. Teluk
Kuantan Riau. Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake 29562,
ABSTRACT
This
research aims to determine the effect of test various organic mulch and gromore
fertilizer on the growth and production
cayenne pepper (Capsicum
frutesscens L). The design used was a
randomized block design (RBD) factorial with two factors. Factors giving
organic musa consists of 3 levels, namely: M1 (without mulch), M2 (mulch
sawdust), M3 (imperata grass mulch). While fertilizer application growmore
consist 4 levels namely: G0 (0 grams / L water), G1 (3 grams / L water), G2 (6
grams / L of water), G3 (9 grams / L water). The results showed an
organic mulch significantly affect plant height and days to flowering, plant
height that is best M3 (imperata grass mulch) and 32.72 cm flowering age is M3
(imperata grass mulch) 62.12 days.
Growmore
fertilizer application significantly affected the weight of the fruit, ie G2 (6
grams / liter of water) 160.69 grams. Organic mulch and fertilizer
interaction growmore significant effect on plant height, the best treatment
there is on M3G2 treatment (imperata grass mulch and 6 g / plant) is 34.11 cm.
Keywords: organic
mulch, fertilizer growmore and cayenne pepper
PENDAHULUAN
Cabai rawit merupakan salah satu jenis rempah yang
seringkali ditambahkan sebagai bumbu masakan karena rasanya yang pedas memberikan
kesegaran, serta mengandung Vitamin C yang bermanfaat bagi kesehatan. Karena
kekhasan rasanya sehingga hampir semua orang menggunakan cabe. Selain sebagai bumbu
juga dapat memberikan warna yang membuat orang yang melihat berselerah.
Kebutuhan sebagai bumbu memiliki indikator bahwa cabai diperlukan dalam jumlah yang besar.
Produksi cabe rawit di Kabupaten
Kuantan Singingi juga mengalami peningkatan dimana pada tahun 2011 jumlah
produksi 128,60 ton dengan luas panen 49 hektar, dan ditahun 2012 produksi cabe
rawit mencapai 134,35 ton dengan luas panen 52 hektar (Dinas Tanaman Pangan
Kuantan Singingi, 2012).
Walaupun terjadi peningkatan
produksi namun belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Kuantan Singingi, hal
ini dapat kita lihat masih tergantung dengan pasokan dari Daerah lain. Salah satu
upaya yang dapat dilakukan dalam pemeliharaan tanaman adalah pengendalian
terhadap gulma, pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan mulsa. Mulsa adalah bahan yang dipakai pada permukaan tanah dan berfungsi untuk
menghindari kehilangan air melalui penguapan dan menekan pertumbuhan gulma.
Alang–alang juga dapat dijadikan mulsa. Mulsa alang–alang mudah diperoleh
karena berasal dari tumbuhan termasuk jenis gulma yang banyak tumbuh di sekitar sentra
budidaya, sifatnya mudah melapuk dalam rentang waktu tertentu.
Selain penggunaan mulsa salah satu cara untuk peningkatan
produksi adalah dengan menggunakan pupuk. Pemupukan yang efektif adalah bila
unsur hara yang tersedia dalam pupuk dapat dimanfaatkan oleh tanaman secara
maksimal. Pupuk daun adalah pupuk industri yang pemberiaannya kepada tanaman
dilakukan melalui penyemprotan ke daun. Pada umumnya pupuk daun mengandung
unsur hara makro N, P, K, Ca, & Mg serta unsur hara mikro seperti Fe, Cu,
Co, Mn, & Zn. Pemberian pupuk melaui penyemprotan lewat daun dapat
mengatasi kekurangan hara karena berpengaruh cepat dan langsung pada tanaman.
Dengan demikian pemupukan lewat daun dapat meningkatkan efektifitas hara
tanaman (Lingga dan Marsono, 2004).
Pupuk growmore merupakan pupuk anorganik dengan bentuk
fisik seperti kristal yang mengandung unsur hara makro dan mikro yang dapat
meningkatkan pertumbuhan tanaman pangan dan hortikultura serta tanaman
perkebunan. Kandungan unsur hara yang terdapat pada pupuk ini adalah N 32%,
P2O5 10%, K2O 10%, Cu 0,05%, Mg 0,10%, S 0,20%, B 0,02%, Fe 0,10%, Mn 0,05% Mo 0,0005%
dan Zn 0,05% (Lingga dan Marsono, 2004).
BAHAN DAN METODE
Tempat
dan Waktu
Penelitian
ini telah dilaksanakan di Desa Pulau Sipan
Inuman Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian
ini dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai dari Januari sampai
April 2014.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah benih cabai rawit hibrida
varietas dewata,
pupuk Growmore, serbuk gergaji dan
alang-alang, Frudan 3G, Tocca. Alat-alat
yang digunakan dalam penelitian ini adalah ember ukuran 30 cm, timbangan
analitik, kayu, paku kawat, cangkul, sabit, kamera digital, meteran, handsprayer
dan alat tulis lainnya.
Metode
Penelitian
Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara
faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : faktor pertama adalah faktor M (Mulsa)
yang terdiri 3 taraf dan
faktor kedua adalah faktor G (Growmore)
yang terdiri dari 4 taraf sehingga terdapat 12 kombinasi dengan 3 ulangan
sehingga terdapat 36 plot. Dalam satu plot terdapat 4 batang tanaman dan 3
batang tanaman dijadikan tanaman sampel sehingga terdapat 144 tanaman. Semua
data dianalisis statistic, jika F hitung lebih besar dari F table, maka
dilakukan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Faktor M (Mulsa)
terdiri 3 taraf :
M1 =
Tanpa Mulsa
M2 =
Mulsa Serbuk Gergaji
M3 =
Mulsa Alang – Alang
Faktor G
(Growmore) terdiri 4 taraf :
G0 =
Tanpa pemberian Growmore/kontrol
G1 = Pemberian
Growmore 3 gram/liter
G2 =
Pemberian Growmore 6 gram/liter
G3 = Pemberian
Growmore 9 gram/liter.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Pemberian mulsa
organik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman cabai rawit. Rerata tinggi tanaman
disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1.
Rerata tinggi tanaman cabai rawit dengan pemberian pupuk growmore dan mulsa
organik pada saat umur 5 minggu (hari)
|
FAKTOR M
|
FAKTOR G
|
RERATA M
|
|||
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
||
|
M1
|
32,11ab
|
31,11ab
|
30,78b
|
30,78b
|
31,19a
|
|
M2
|
28,22b
|
31,33a
|
31,44ab
|
31,44ab
|
30,61b
|
|
M3
|
33,77a
|
31,66a
|
34,11a
|
31,33ab
|
32,72a
|
|
Rerata G
|
31,37
|
31,37
|
32,11
|
31,18
|
|
|
KK=4,24%
|
BNJM=1,50
|
BNJMG=3,93
|
|||
Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut uji
lanjut BNJ.
Tabel 1 menunjukkan
bahwa pemberian mulsa organik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman cabai
rawit, hasil di uji lanjut BNJ pada taraf 5% pada perlakuan M2 berbeda nyata
terhadap perlakuan M1 dan M3. Tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan M3 (musa
alang-alang) dengan tinggi 32,72 cm. Hal ini berkaitan dengan peranan mulsa alang – alang lebih efektif
menjaga kestabilan suhu. Adanya peningkatan pertumbuhan tanaman juga disebabkan
sumbangan unsur hara dari alang-alang yang terdekomposisi sehingga dapat
meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Hal ini sesuai dengan pendapat
Umboh (1997) yang menyatakan bahwa pada tanah-tanah yang tidak diberi mulsa ada
kecendrungan menurunnya bahan organik tanah dan sebaliknya pada tanah-tanah
yang diberi mulsa kandungan bahan organiknya cukup mantap dan cenderung
meningkat. Sedangkan
tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan M2(mulsa sebuk
gergaji) dengan tinggi 30,61 cm.
Pemberian pupuk growmore tidak berpengaruh
terhadap tinggi tanaman cabai, namun bila dilihat dari hasil yang diperoleh (Tabel
1) maka
perlakuan G2 (6 gr/ ltr air) memiliki tinggi tanaman lebih baik dibandingkan
perlakuan lainnya. Hal ini didukung oleh pendapat Ginting (2001) Pupuk growmore
mengandung unsur Nitrogen yang dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif, posfor
berpengaruh untuk merangsang pertumbuhan generatif, inisiasi akar dan
kedewasaan tanaman, sedangkan kalium berfungsi sebagai katalisator.
Interaksi antara mulsa organik
dan pupuk growmore berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman cabai rawit, dimana perlakuan M3G2 (mulsa alang-alang +
growmore 6 gr/ltr) merupakan kombinasi terbaik dibandingkan dengan perlakuan
lain, dengan tinggi tanaman 34,11 cm. Kombinasi antara mulsa
alang-alang dan pemberian pupuk growmore sebanyak 6 gram /liter air mampu
meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman cabai, mulsa alang-alang mampu menjaga
kelembaban dan suhu pada tanah, sedangkan growmore menambah pasokan hara dengan
pemberian melalui daun, sehingga dari kedua kombinasi tersebut akan memacu
pertumbuhan tanaman menjadi optimal.
Diameter Batang (mm)
Pemberian mulsa organik tidak berpengaruh nyata terhadap diameter tanaman
cabai rawit. Rerata tinggi tanaman
disajikan pad Tabel 2 dibaah ini.
Tabel 2.
Rerata diameter batang tanaman cabai rawit dengan pemberian pupuk growmore dan
mulsa organik.
|
FAKTOR M
|
FAKTOR G
|
RERATA M
|
|||
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
||
|
M1
|
3,20
|
3,60
|
3,83
|
3,30
|
3,48
|
|
M2
|
3,63
|
3,63
|
4,5
|
3,87
|
3,91
|
|
M3
|
3,66
|
3,73
|
4,30
|
3,96
|
3,92
|
|
Rerata G
|
3,50
|
3,66
|
4,21
|
3,71
|
|
|
KK= 14,52%
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti oleh
huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut uji
lanjut BNJ.
Dari Tabel 2 diatas menunjukkan pemberian mulsa organik tidak berpengaruh nyata
terhadap diameter tanaman cabai rawit, namun demikian perlakuan M3 (mulsa
alang-alang) dengan diameter 3,92 mm memberikan hasil yang lebih baik
dibandingkan dengan perlakuan M1 dan M2. Untuk perlakuan pupuk growmore juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter batang, namun
perlakuan G2 (6 gram/ liter air) mampu menghasilkan diameter batang yang lebih
baik dibandingkan perlakuan lain. Jumin (1989) menyatakan unsur
hara dalam jumlah yang cukup menyebabkan kegiatan metabolisme tanaman meningkat
sehingga terjadi pembesaran pada bagian batang. Batang merupakan daerah
akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya pada tanaman yang lebih muda sehingga
dengan adanya unsur hara dapat mendorong pertumbuhan vegetatif tanaman
diantaranya pembentukan klorofil sehingga akan memacu laju fotosintesis,
semakin laju fotosintesis maka semakin memberikan hasil yang besar pula
terhadap ukuran diameter batang.
Interaksi perlakuan mulsa organik
dan mulsa organik juga tidak berpengaruh nyata terhadap diameter batang tanaman
cabai rawit, namun perlakuan M2G2 (mulsa serbuk gergaji dan growmore 6 gr/ ltr
air) dengan diameter 4,5 mm, memberikan
hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan lain. Tidak berpengaruhnya
pemberian mulsa dan growmore terhadap diameter batang disebabkan karena perlakuan
yang diberikan memberikan respon yang sama terhadap pertumbuhan diameter batang
terutama dalam hal menjaga kondisi lingkungan dan asupan hara untuk
pertumbuhannya. Menurut Abdullah (1996) serbuk gergaji mempunyai kadar air
23,25%, ini menunjukkan kemampuan serbuk gergaji mengikat air lebih besar,
sehingga dapat menjaga kelembaban tanah dan menjaga kebutuhan air bagi tanaman.
Umur Berbunga (hari)
Pemberian mulsa organik berpengaruh nyata terhadap umur berbunga. Rerata umur muncul
bunga disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rerata umur berbunga tanaman cabai
rawit dengan pemberian pupuk growmore dan mulsa organik.
|
FAKTOR M
|
FAKTOR G
|
RERATA M
|
|||
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
||
|
M1
|
36,63
|
36,97
|
37,97
|
35,87
|
36,86 a
|
|
M2
|
36,73
|
39,63
|
36,87
|
36,77
|
37,5 a
|
|
M3
|
34,43333
|
34,2
|
33,53
|
35,63
|
34,45 a
|
|
Rerata G
|
35,93
|
36,93
|
36,12
|
36,09
|
|
|
KK= 4,80%
|
BNJ M=3,26
|
||||
Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan pemberian mulsa organik berpengaruh nyata
terhadap umur berbunga, tetapi hasil di uji lanjut BNJ taraf 5% menunjukkan
bahwa antar perlakuan tidak berbeda nyata. Mulsa
organik berperan dalam membantu penyerapan hara melalui stabilitas suhu,
kelembaban dan mengurangi pencucian unsur hara oleh air hujan, apabila kondisi
lingkungan dapat terjaga maka akan membantu tanaman mulai dari penyerapan unsur
hara hingga aktivitas fotosintesis. Hal ini jika ketersediaan unsur hara
cukup dan didukung oleh lingkungan yang sesuai akan dapat memicu munculnya
bunga. Perlakuan M3 (mulsa alang-alang) adalah perlakuan
terbaik dengan umur berbunga yaitu 34,45 hari, mulsa berperan dalam mempertahankan ketersediaan unsur hara dalam tanah yang
mampu meningkatkan proses regenerasi sel dan ketersediaan energi sehingga serapan
hara lebih banyak. (Dwidjosapputro, 1986) menyatakan bahwa unsur – unsur
yang tersedia di dalam tanah akan diserap terutama oleh ujung – ujung akar dan akan diabsorbsi ke dalam
tubuh tanaman.
Pemberian pupuk
growmore secara tunggal tidak memberikan pengaruh nyata terhadap umur berbunga
pada tanaman cabai rawit, namun perlakuan pada G0 ( 0 gr/ ltr) mampu lebih cepat dibandingkan dengan tanaman
yang diberikan growmore. Selanjutnya secara
interaksi pemberian mulsa organik dan pupuk growmore juga tidak berpengaruh
nyata terhadap umur berbunga pada tanaman cabai rawit, perlakuan M3G0 (mulsa
alang-alang dan growmore 0 gr/ ltr) memunculkan bunga lebih cepat dibandingkan
kombinasi perlakuan lainnya.
Umur Panen (hari)
Hasil pengamatan
terhadap umur panen setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan
bahwa pemberian mulsa organik dan pupuk growmore baik secara tunggal maupun secara interaksi
tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen.
Tabel 4. Rerata umur panen tanaman cabai rawit dengan
pemberian pupuk growmore dan mulsa organik.
|
FAKTOR M
|
FAKTOR G
|
RERATA M
|
|||
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
||
|
M1
|
75,83
|
78,07
|
78,5
|
74,77
|
76,79
|
|
M2
|
76,2
|
77,4
|
79,2
|
74,83
|
76,91
|
|
M3
|
75,3
|
77,1
|
73,73
|
77,2
|
75,83
|
|
Rerata G
|
75,78
|
77,52
|
77,14
|
75,6
|
|
|
KK=3,64%
|
|||||
Dari data dapat dilihat bahwa penggunaan mulsa organik yaitu pada perlakuan
M3 (mulsa alang-alang) dengan umur panen 75,83 hari,merupakan panennya lebih
cepat dibandingkan dengan M1 dan M2. Pemberian pupuk growmore
juga tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen, namun perlakuan G3 memiliki
umur panen lebih cepat dibandingkan perlakuan lain. Hal ini didukung oleh pendapat Sobir dan Siregar (2010) menyatakan
unsur K (kalium) pada growmore berfungsi untuk mendukung pertumbuhan tanaman,
pembungaan dan pembentukan buah.
Interaksi antara
mulsa organik dan pupuk growmore juga tidak mempengaruhi umur panen tanaman
cabai rawit, tetapi kombinasi M3G2
(mulsa alang-alang + growmore 6gr/ltr air) mampu mempercepat umur panen tanaman
cabai rawit pada hari ke 73.
Berat Buah (gr)
Hasil pengatan
terhadap parameter berat buah tanaman cabai rawit setelah dilakukan analisis
sidik ragam menunjukkan
bahwa pemberian mulsa
organik tidak berpengaruh nyata terhadap
berat buah, sedangkan pemberian pupuk growmore berpengaruh nyata terhadap berat buah.
Untuk interaksi mulsa organik dan pupuk growmore tidak berpengaruh nyata terhadap parameter berat buah tanaman cabai rawit. Hasil uji lanjut beda
nyata jujur (BNJ) taraf 5% dapat dilihat pada Tabel
5..
Dari Tabel 5 diatas menunjukkan bahwa perlakuan mulsa organik tidak berpengaruh nyata
terhadap berat buah pada tanaman cabai rawit, namun perlakuan M3 (mulsa
alang-alang) dengan berat buah 160,92 gram, menghasilkan buah yang lebih banyak
dibandingkan perlakuan M1 dan M2.
Tabel
5. Rerata berat buah tanaman cabai rawit dengan pemberian pupuk growmore dan
mulsa organik.
|
FAKTOR M
|
FAKTOR G
|
RERATA M
|
|||
|
G0
|
G1
|
G2
|
G3
|
||
|
M1
|
124,93
|
163,90
|
137,90
|
115,70
|
141,01
|
|
M2
|
145,30
|
159,73
|
140,45
|
120,75
|
148,49
|
|
M3
|
154,90
|
156,30
|
203,73
|
128,75
|
160,92
|
|
Rerata G
|
141,71ab
|
159,98ab
|
160,69a
|
121,73b
|
|
|
KK=17,04%
|
BNJG=50,02
|
||||
Angka-angka pada baris
dan kolam yang di ikuti oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata
pada taraf uji 5% menurut uji lanjut BNJ.
Pemberian pupuk growmore berpengaruh nyata parameter berat buah, tetapi
setelah diuji lanjut BNJ taraf 5% tidak ada perbedaan yang nyata antar
perlakuan, perlakuan terbaik terdapat pada G2 (growmore 6 gr/ ltr) dengan berat
160,69 gram, dosis ini merupakan takaran yang tepat. Perlakuan terendah
terdapat pada G3 (growmore 9 gr/ltr) dengan berat buah 121,73 gram, rendahnya
berat buah pada G3 disebabkan karena kelebihan growmore, berat buah pada tanaman
sangat dipengaruhi oleh unsur hara yang diberikan. Bila pupuk diberikan dengan
konsentrasi terlalu tinggi maka larutan pupuk akan menarik cairan tanaman
sehingga mengakibatkan keracunan tanaman. Dimana respon tanaman terhadap
pemberian unsur hara apabila telah mencapai batas optimum akan mengakibatkan
penghambatan dan penurunan pertumbuhan (Jhonsons, 1984). Hal ini
didukung oleh pendapat Osman (1996) yang mengemukakan bahwa hara yang
seimbang memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam keberhasilan produksi
tanaman pertanian, karena tanaman palawija sering kali tidak mampu berproduksi
dengan baik tanpa dilakukannya pemupukan.
Selanjutnya
secara interaksi antara mulsa organik dan pupuk growmore tidak berbeda nyata
terhadap berat buah pada tanaman cabai rawit. Namun perlakuan M3G2 (mulsa alang-alang dan
growmore 6 gr/ ltr) dengan berat 203,73 gram, menghasilkan buah lebih banyak
dibandingkan dengan kombinasi perlakuan yang lain.
Bila dilihat
secara menyeluruh dari hasil penelitian ini, maka penggunaan mulsa alang-alang
(M3) jauh lebih baik dibandingkan dengan jenis mulsa lainnya terutama untuk
pertumbuhan tanaman. Untuk pemberian growmore maka perlakuan G2 (6gram /liter
air) merupakan dosis yang lebih baik untuk memacu pertumbuhan dan produksi tanaman
cabai. Sedangkan untuk interaksi antara penggunaan mulsa organik dan pupuk
growmore, maka perlakuan M3G2 menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang lebih
baik.
Perlu
diinformasikan bahwa, pada saat tanaman berumur 75 hari, tepatnya pada saat
berbuah lokasi penelitian dilanda banjir, sehingga untuk berat buah hanya
diambil 1 kali panen, kemungkinan hasil yang diperoleh akan berbeda jika
tanaman tidak dilanda banjir.
KESIMPULAN
1. Penggunaan
Mulsa organik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan umur berbunga,
perlakuan terbaik terdapat pada M3 (mulsa alang-alang) yaitu dengan tinggi
32,72 cm dan umur berbunga 34,45 hari.
2. Pemberian pupuk
growmore hanya berpengaruh nyata terhadap berat buah, dimana perlakuan terbaik
terdapat pada G2 (growmore 6 gram /ltr air) dengan hasil 160,69 gram/tanaman.
3. Interakasi
mulsa organik dan pupuk growmore hanya berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman cabai rawit, perlakuan yang terbaik terdapat pada M3G2 (mulsa
alang-alang dan growmore 6gr/ ltr) dengan tinggi 34,11 (cm).
DAFTAR PUSTAKA
Dinas Tanaman Pangan,
2012. Survai Langan Produksi
Cabai Rawit,
Kabupaten Kuantan Singingi.
Ginting, B. 2001. Pengaruh Cara Pemberian Air, media, dan
pemupukan Anggrek Dendrobium. Balai Penelitian Tanaman Hias. Jakarta.
Jumin, H.B., 1986. Dasar-dasarAgronomi.Rajawali.Jakarta.
Jhonshons,W.R.
1984. Fertilizer Deficiens and Orchid
Nutrition. Australian orchid. Australia.
Lingga, P. dan
Marsono. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk.
Penebar Swadaya.
Jakarta.
Osman. 1996. Memupuk Padi dan
Palawija. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tisdale, S. And W. Nelson. 1975. Soil
Fertility and Fertilizers. Mc Millan Publs. Co, Inc., New York.
Tjahyadi. 1991. Bertanam cabai. Kasinus. Yogyakarta.
Umboh, H. A,
1997. Petunjuk Penggunaan Mulsa. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar