PEMBERIAN
CAMPURAN PUPUK ANORGANIK DAN PUPUK ORGANIK PADA TANAH ULTISOL UNTUK TANAMAN PADI GOGO (Oryza sativa. L)
ROVER
Dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake
Teluk Kuantan, Riau. Email : roverblazer@yahoo.com
ABSTRACT
This
research aims to determine the effect of a mixture of inorganic fertilizer and
organic fertilizer either singly or in interaction ultisol land for upland rice
crop.
This research used a completely randomized design (CRD)
factorial consisting of two factors: The first factor A (a mixture of inorganic
fertilizer) which consists of 5 level treatment and the second factor is O
(organic fertilizer) which consists of 3 levels of treatment. The results of
this study indicate that the administration of a mixture of inorganic
fertilizer treatment and the interaction of organic fertilizers significantly
affect harvesting age, number of grains / panicle, grain dry weight / clumps,
and plant dry weight berangkasan. The best
treatment is A5O1. A1 (25 g 20 g Urea + TSP + 10
g KCl) and O1 (manure 1 kg / plot). Treatment of
a mixture of inorganic fertilizer singly significant effect on plant height,
maturity, number of grains / panicle, grain dry weight / clumps, and plant dry
weight berangkasan, the best treatment is the treatment of A4 (30 g 10 g Urea +
TSP + 10 g KCl ). While the organic fertilizer
treatments significantly affected the number of grains / panicle, grain dry
weight / clumps, and plant dry weight berangkasan, the best treatment is O1
(manure 1 kg / plot).
Key words : Ultisols,
organic fertilizer, inorganic fertilizer
PENDAHULUAN
Tanaman padi (Oryza sativa, L) merupakan tanaman pangan yang sangat penting
karena hingga kini beras merupakan makanan pokok bagi sebagian penduduk dunia
terutama di Asia. Di Indonesia beras juga merupakan komoditas strategis karena
mempunyai pengaruh yang besar terhadap kestabilan ekonomi dan politik, upaya
untuk meningkatkan produksi beras terus dilakukan seiring dengan bertambahnya
jumlah penduduk serta berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi menjadi
kawasan perkebunan dan pemukiman.
Beras mengandung berbagai zat makanan yang
diperlukan oleh tubuh, Dalam seratus gram padi pecah kulit mengandung
karbohidrat 86,7%, lemak 2,45%, serat kasar 0,88%, abu 1,22%, protein 8,6%. Sedangkan pada padi giling mengandung karbohidrat 80,79%, lemak 0,37%,
serat kasar 0,16%, abu 0,36% dan protein 8,2% (AAK, 1990).
Masalah utama budidaya padi gogo di Riau
antara lain kondisi tanah dan serangan organisme pengganggu tanaman, sebagian
besar lahan kering di Riau di dominasi oleh tanah Podzolik Merah Kuning atau
tanah ultisol, Masalah yang sering ditemui ditanah Podzolik Merah Kuning adalah
pH rendah, miskin unsur hara, miskin bahan organik, keracunan Al dan Mn dan
mudah terjadinya erosi, Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan produktivitas tanah Podzolik Merah Kuning atau tanah Ultisol
sering diidentikkan dengan tanah yang tidak subur tetapi sesungguhnya bisa
dimanfaatkan untuk lahan pertanian potensial, asalkan dilakukan pengolahan
tanah yang baik. Untuk meningkatkan produktivitasnya dapat dilakukan melalui
pemberian kapur, pemupukan, penambahan bahan organik, penerapan teknik budi
daya tanaman lorong (tumpang sari), tersering pengaturan drainase (Munir,
1998).
Menurut Hakim, Nyakpa, Go Ban Hong,
Nugroho (1986) tanah Podzolik Merah Kuning atau tanah Ultisol sangatlah
berpotensi dalam perluasan lahan pertanian, namun banyak sekali hambatan dan
kendala yang harus dihadapi dengan tingkat kepadatan tanah yang selalu mengikat
unsur hara yang relatif sedikit terutama unsur mikro Mo dan B, dan dengan
kandungan bahan organik yang rendah. Maka pemberian pupuk organik dan pupuk
anorganik adalah salah satu bahan yang dapat melengkapi semua unsur yang kurang
pada tanah Podzolik Merah Kuning atau tanah Ultisol.
Pemberian pupuk organik berpengaruh
sangat baik terhadap tanah dan tanaman, dengan bantuan jasad renik yang ada
dalam tanah, bahan ini akan diubah menjadi humus. Humus ini merupakan perekat
yang baik bagi butir-butir tanah saat membentuk gumpalan tanah, Akibatnya
susunan tanah akan menjadi lebih baik dan lebih tahan terhadap daya perusak
dari luar seperti hanyutan air (erosi) ataupun hembusan angin. Selain itu
pemberian pupuk organik akan menambah unsur hara yang dibutuhkan dalam pertumbuhan
tanaman (Musnamar, 2003). Pupuk kompos, pupuk kandang dan pupuk hijau dapat
memperbaiki aerasi udara dalam tanah secara tidak langsung, juga menyuburkan
tanah sehingga sistem perakaran tanaman akan membaik dan produksi akan
meningkat (Anonimus, 2004)
Usaha lain yang
dilakukan dalam peningkatan kesuburan tanah yaitu dengan cara pemupukan ,
Terutama dengan memberikan unsur hara N dari pupuk Urea, unsur hara P dari
pupuk TSP, dan unsur hara K dari pupuk KCl. Dimana unsur hara N, P, dan K
merupakan unsur hara utama yang dibutuhkan oleh tanaman.
Fakta dilapangan menunjukan bahwa rata-rata penggunaan pupuk belum sesuai
dengan anjuran akibat mahalnya harga pupuk menyebabkan penurunan penerapan
teknologi pemupukan sampai 18,8% hal ini menyebabkan usaha tani padi dirasakan
oleh petani bukan lagi merupakan usaha tani yang memberikan keuntungan
(Suriatna, 1999).
Penelitian ini
bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian campuran pupuk anorganik dan organik
pada tanah Ultisol untuk tanaman padi gogo (Oryza sativa, L).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini
telah dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau
Jalan Kaharudin Nasution Km 113 Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya,
Marpoyan, Kota Pekanbaru. Penelitian dilaksanakan
selama 5 (Lima) bulan dari bulan Desember 2008 sampai April 2009.
Bahan
dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah benih padi Varietas Towuti, pupuk Urea, TSP, KCl, pupuk hijau, pupuk
kandang, pupuk kompos, Dithan M-45, Decis,
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah cangkul, parang, sabit, gembor, meteran, gergaji, hand sprayer,
Alat-alat tulis, timbangan analitik, kayu pagar, kamera, cat, kuas
Metode
Penelitian
Penelitian ini adalah
penelitian eksperimen dengan mengunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL )
faktorial 5 x 3 dengan 3 ulangan.
Faktor pertama (A) adalah Campuran Pupuk Anorganik yang
terdiri dari 5 (lima) taraf perlakuan yaitu :
A1 : 300 kg/ha Urea + 200 kg/ha TSP
+ 150 kg/ha KCl
A2 : 250
kg/ha Urea + 150 kg/ha TSP
+ 100 kg/ha KCl
A3 : 200
kg/ha Urea + 100 kg/ha TSP
+
50 kg/ha KCl
A4 : 300
kg/ha Urea + 100 kg/ha TSP
+
100 kg/ha KCl
A5 : 250
kg/ha Urea + 200 kg/ha TSP
+ 100 kg/ha KCl
Faktor kedua (O)
adalah Pupuk Organik yang terdiri dari 3 (tiga) taraf perlakuan
yaitu:
O1 : Pupuk
Kandang 10 Ton/Ha
O2 : Pupuk
Hijau 10 Ton/Ha
O3 : Pupuk
Kompos 10 Ton/Ha
Seluruh data dianalisis secara statistic,
jika F hitung lebih besar dari F table maka dilakukan uji lanjut beda nyata
jujur pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi tanaman (cm)
Hasil analisis sidik
ragam (anova) terhadap tinggi tanaman menunjukkan interaksi antara pemberian
campuran pupuk anorganik dan pupuk organik tidak menunjukkan pengaruh yang
nyata terhadap tinggi tanaman, sedangkan secara tunggal pupuk anorganik
memberikan perbedaan yang nyata, dan perlakuan pupuk organik tidak menunjukkan
pengaruh yang nyata. Hasil rerata pengamatan tinggi tanaman dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Rerata
tinggi tanaman padi gogo terhadap pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organic
pada tanah ultisol.
|
Peralakuan
|
Pupuk
Organik
|
Rerata A
|
||
|
Pupuk Anorganik
|
O1
|
O2
|
O3
|
|
|
A1
|
86.00
|
82.66
|
83.66
|
84.10ab
|
|
A2
|
72.00
|
74.33
|
76.33
|
74.22bc
|
|
A3
|
85.33
|
83.66
|
85.00
|
84.66a
|
|
A4
|
83.66
|
85.00
|
80.33
|
82.99ab
|
|
A5
|
82.33
|
80.66
|
82.00
|
81.66abc
|
|
Rerata O
|
81.86
|
81.26
|
81.46
|
|
|
KK =
6,93% BNJ A = 7,72
|
||||
Keterangan :
Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata
berdasarkan Uji BNJ taraf 5%
Dari tabel 1 diatas
dapat dikatakan bahwa tinggi tanaman padi gogo hanya dipengaruhi oleh perlakuan
campuran pupuk anorganik saja, tinggi tanaman yang tertinggi terdapat pada
perlakuan A3 (20 g Urea, 15 g TSP, 5 g KCl) yaitu 84,66cm, dan yang paling
terendah terdapat pada perlakuan A2 (25 g Urea, 15 g TSP, 10 g KCl).
Terjadinya perbedaan
yang nyata terhadap pemberian campuran pupuk anorganik pada parameter tinggi tanaman padi gogo lebih
disebabkan oleh dosis yang diberikan mampu menyediakan kebutuhan unsur hara
bagi tanaman dalam melangsungkan pertumbuhan terutama fase vegetatif. Menurut
pendapat Hakim (1986), yang menyatakan bahwa untuk menambah ketersediaan unsur
hara bagi tanaman maka perlu dilakukan pemupukan yaitu pemberian zat hara
tanaman kedalam tanah yang bertujuan untuk memacu perkembangan tanaman. Unsur hara yang diberikan adalah dalam bentuk pupuk anorganik dan pupuk
organik.
Pada fase pertumbuhan tanaman memerlukan unsur N, P dan K yang seimbang
sejalan dengan pendapat Mardawilis (2004) yang mengatakan bahwa pemberian unsur
Nitrogen tanaman akan banyak mengandung unsur hijau daun yang penting dalam
proses fotosintesis dan mempercepat pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh
ketersediaan unsur hara diantaranya N, P dan K.
Kandungan P yang terdapat pada TSP berfungsi untuk pembentukan membran sel
berkaitan dengan hal ini Agus (2004) menyatakan bahwa unsur P berperan penting dalam transfer energi dalam sel
tanaman (ADP/ATP) dan dapat meningkatkan efiesiensi fungsi dan penggunaan unsur
N. Selain
unsur N dan P unsur K juga berperan penting dalam pertumbuhan tanaman, unsur K
pada tanaman membantu pembentukan protein dan pembentukan protein dan memperkuat
jaringan tanaman, sesuai dengan pendapat (Marsono 2002) yang menyatakan dimana
fungsi unsur kalium yaitu mengaktifkan kerja beberapa enzim, memacu translokasi
karbohidrat dari daun keorgan tanaman yang lain.
Pupuk anorganik
selain dapat menyumbangkan unsur hara makro juga mampu memperbaiki struktur
tanah, menaikkan daya serap tanah terhadap air dan mampu meningkatkan aktivitas
organisme dalam tanah sehingga pertumbuhan akan lebih baik karena terciptanya
kondisi tanah yang sesuai dengan tanaman, sehingga akar tanaman mampu tumbuh
dan berkembang sebagai mana mestinya (Lingga, 1998).
Pada proses pertumbuhan tinggi tanaman dengan pemberian pupuk anorganik dan
pupuk organik tidak ada interaksi sesuai dengan pernyataan Wudianto (1994)
karena pada awal pertumbuhan tanaman metabolisme sangat tinggi yang mana
tanaman mendapat cadangan makanan yang cukup dari batang dalam menyediakan
karbohidrat yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian Gardner
(1991) dalam Ruskandi (2003)
mengatakan berkurangnya laju pertumbuhan tanaman karena sebahagian makanan
digunakan perkembangan selanjutnya yaitu pembungaan dan buah.
Umur
Berbunga (hari)
Hasil analisis sidik
ragam (anova) terhadap umur berbunga pada pemberian campuran pupuk anorganik
dan pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara tunggal
tidak berpengaruh nyata, demikian juga secara interaksi kedua faktor tersebut
tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga. Hasil rerata pengamatan umur
berbunga dapat dilihat pada Tabel 2.
Dari
Tabel 2 dapat dilihat bahwa umur berbunga tanaman padi gogo sudah mulai muncul
pada hari ke-82, tetapi kebanyakan muncul pada hari ke-83 dan paling lambat
bunga muncul pada hari 89.66. dalam perlakuan campuran pupuk anorganik, bunga
tercepat muncul pada perlakuan A1 (campuran 30 g Urea, 20 g TSP, 15g KCl) yaitu
pada hari 83.66 sedangkan bunga terlama muncul pada perlakuan A2 (campuran 25 g
Urea, 15 g TSP, 10 g KCl) yaitu hari 88.55. dalam perlakuan pupuk organik bunga
tercepat muncul pada perlakuan O1 (pupuk kandang) yaitu 84.46 sedangkan bunga
terlama muncul pada perlakuan O3 (pupuk kompos) yaitu hari ke-86.66.
Tabel 2. Rerata umur berbunga tanaman padi gogo terhadap
pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
|
Perlakuan
|
Pupuk Organik
|
Rerata A
|
||
|
Pupuk Anorganik
|
O1
|
O2
|
O3
|
|
|
A1
|
82.00
|
84.66
|
84.33
|
83.66
|
|
A2
|
86.66
|
89.33
|
89.66
|
88.55
|
|
A3
|
87.00
|
85.00
|
83.33
|
85.11
|
|
A4
|
83.00
|
83.00
|
87.66
|
84.55
|
|
A5
|
83.66
|
86.00
|
89.66
|
86.44
|
|
Rarata O
|
84.46
|
85.60
|
86.93
|
|
Umur berbunga pada
tanaman tidaklah hanya dipengaruhi oleh suatu perlakuan saja akan tetapi juga
dipengaruhi oleh lingkungan lainnya maupun genetik. Pembungaan merupakan fenomena fisiologi yang tidak sederhana, dimana
perubahan fase vegetatif menjadi generatif merupakan perubahan yang sangat
besar karena struktur jaringannya berbeda sekali. Perubahan ini merupakan
cerminan dari pemacuan kelompok gen tertentu yang yang berperan dalam
pembungaan. Tanaman akan menghasilkan bunga bila zat cadangan dan juga
ditentukan oleh sifat tanaman dan faktor lingkungan. Selain itu varietas yang
digunakan juga mempengaruhi pembungaan. Bila varietas yang digunakan dari
varietas yang sama maka umur berbunga tanaman tidak akan berpengaruh nyata
antara tanaman satu dengan tanaman yang lain. Karena tanaman yang berasal dari
varietas yang sama akan cenderung mempunyai sifat yang sama pula (Lakitan,
2007).
Harjadi (1979) juga menjelaskan
suatu tanaman sangat dipegaruhi oleh faktor genetik terutama dalam faktor
pembentukan organ-organ generatif, penyimpangan akan berlansung pada waktu yang
lama dan kondisi-kondisi lingkungan yang ekstrim.
Sedangkan Gultom (1996), mengatakan
bahwa umur tanaman padi di Indonesia berkisar 100-180 hari, dimana dapat di
bagi kedalam empat fase pertumbuhan yaitu fase vegetatif cepat, fase vegetatif
lambat, fase reprodiktif dan fase pemasakan. Di dalam fase vegetatif cepat
dimulai pada saat berkecambah sampai anakan maksimum, fase vegetatif lambat di
mulai pada saat jumlah anakan maksimum sampai primordia bunga. Fase reproduktif
mulai keluarnya primordia bunga sampai malai keluar dan fase pemasakan mulai
keluar bunga sampai saat panen.
Mardawilis (2004) melaporkan bahwa
absorbsi nitrogen tanaman berlansung selama fase pertumbuhannya. Akumulasi
nitrogen dalam tanaman relatif lambat diawal pertumbuhan, tetapi setelah
tanaman berumur 4 minggu akumulasi nitrogen sangat cepat dan pada saat keluar
bunga tanaman telah mengabsorbsi nitrogen sebanyak 50% kebutuhannya. Pembungaan
juga dipengaruhi sinar matahari, dimana bila udara panas dan kering keluarnya bunga
keluarnya lambat sehingga proses persarian gagal yang pada akhirnya
mempengaruhi jumlah bunga.
Umur Panen (hari)
Hasil analisis sidik ragam (anova) terhadap umur panen pada pemberian
campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman
padi gogo secara interaksi memberikan pengaruh nyata, sedangkan secara tunggal
pemberian pupuk anorganik juga memberikan pengaruh yang nyata, sedangkan
pemberian pupuk organik tidak memberikan perbedaan yang nyata.
Tabel 3. Rerata umur
panen tanaman padi gogo terhadap pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah
ultisol.
|
Peralakuan
|
Pupuk Organik
|
Rerata A
|
||||||
|
Pupuk Anorganik
|
O1
|
O2
|
O3
|
|||||
|
A1
|
110.33 ab
|
110.33 ab
|
110.33 ab
|
110.33 a
|
||||
|
A2
|
111.66 d
|
111.00abc
|
111.00abc
|
111.22 d
|
||||
|
A3
|
111.00 c
|
110.66abc
|
110.66abc
|
110.77bc
|
||||
|
A4
|
110.33 ab
|
110.33 ab
|
110.66abc
|
110.44ab
|
||||
|
A5
|
110.00 a
|
110.66abc
|
111.00abc
|
110.55abc
|
||||
|
Rerata O
|
110.66
|
110.66
|
110.73
|
|
||||
|
KK =
0.32% BNJ A =
0.49 BNJ AO = 1.06
|
||||||||
Keterangan :
Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata
berdasarkan Uji BNJ taraf 5%.
Berdasarkan Tabel 3 pada pemberian campuran
berbagai dosis pupuk anorganik secara tunggal, diketahui bahwa perlakuan A2
dengan dosis campuran 25 g Urea, 15 gram TSP, dan 10 gram KCl. Berbeda nyata dengan semua perlakuan, tetapi perlakuan A1 tidak berbeda
nyata dengan perlakuan A4 dan A5. Umur panen tercepat pada perlakuan A1 yaitu
110,33 hari.
Panen dilaksanakan pada saat bulir padi sekitar 95%
telah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai terdapat
sedikit gabah hijau, kadar air 21-28%,
dan jumlah butir hijau rendah. Cara pemanenan yaitu dengan menggunakan sabit
dan memotong pangkal batang tanaman, atau dengan menggunakan ani-ani dan
memotong bagian tangkai buah, lalu hasil panen diletakan ditempatkan yang telah
disediakan (Reginawaty, 1999).
Perlakuan A1 memperlihatkan hasil yang terbaik dalam umur panen, hal ini
diduga karena dengan pemberian campuran pupuk anorganik dengan dosis 30 g Urea, 20 g TSP, dan 15 g KCl. Sudah
dapat terpenuhi. Menurut Gultom (1996) mengatakan bahwa unsur fosfor diperlukan
untuk pembentukan karbohidrat dan efiesiensinya mekanisme aktivitas kloroplas
serta dalam aktifitas metabolisme. Peranan unsur P didalam tanaman sebagai
penyusunan inti sel serta dalam pembelahan sel dan perkembangan jaringan
meristem. Dalam hal tersebut maka fosfor berfungsi untuk : meransang
pertumbuhan akar, meransang pertumbuhan tunas, mempercepat pemasakan buah,
sehingga memepercepat masa panen.
Selain kandungan
unsur fosfor, kandungan nitrogen yang berupa urea dapat juga memacu
perkembangan dalam pertumbuhan tanaman, karena nitrogen yang cukup untuk
keperluan tanaman akan ditranslokasikan kebagian daun tanaman, kemudian segera terbentuk
asam amino dan protein yang sangat berguna untuk pembentukan daun dan
pertumbuhan yang optimal sehingga umur panen lebih cepat. Selain unsur fosfor
dan nitrogen pertumbuhan tanaman juga tersedia kandungan unsure K, dimana unsur
K pada tanaman membantu dalam membantu dalam pembentukan protein dan
karbohidrat serta memperkuat jaringan dalam tanaman (Marsono 2002).
Selanjutnya dari perlakuan secara interaksi
ini dapat mempercepat umur panen, dimana secara interaksi umur panen tercepat
pada perlakuan (A5O1) A5: (250 ton/ha Urea + 200 ton/ha TSP + 100 ton/ha KCl)
dan O1 : pupuk kandang 10 ton/ha, yaitu pada umur 110 hari dan yang paling lama
umur panennya pada perlakuan (A2O1) A2:
(250 ton/ha Urea + 150 ton/ha TSP + 100 ton/ha KCl) dan O1 : pupuk kandang
10 ton/ha, yaitu umur 111,66 hari. Hal ini dipengaruhi oleh pemberian pupuk
anorganik dan pupuk organik yang berupa pupuk kandang dapat mempercepat
pembungaan dan pembuahan serta mempercepat pemasakan buah dan biji sehingga
menghasilkan tanaman yang umur panennya lebih cepat. Sesuai Menurut
Dwidjoseputro (1994) menyatakan bahwa proses pematangan sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor alam seperti suhu, intensitas cahaya dan lamanya penyinaran
Pemberian
campuran pupuk anorganik berperan nyata terhadap umur panen tanaman padi gogo,
hal ini diduga bahwa ketersediaan unsur hara didalam pupuk Urea, TSP dan KCl
(NPK) yang diberikan pada tanaman akan dapat mendorong pertumbuhan generatif
tanaman. Hal ini sejalan dengan pendapat lingga (2002) yang menyatakan bahwa
suatu tanaman akan dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik apabila tersedia
cukup unsur hara. Pemupukan salah satu cara untuk dapat memenuhi kebutuhan
unsur hara bagi tanaman. Tujuan ini bisa dicapai bila memperhatikan dosis pupuk
dan unsur yang dikandungnya.
Unsur N yang ada
pada tanah dengan pemberian pupuk organik mengandung N total lebih banyak,
meskipun peningkatannya tidak secara mencolok. Peningkatan N berasal dari
mineralisasi bahan organik, sementara pada sistem anorganik N yang dihasilkan
berasal dari penambahan dalam bentuk pupuk N. Ternyata penambahan pupuk N dalam
tanah tidak mesti diikuti peningkatan kandungan N total dalam tanah, hal ini
karena banyak N yang hilang terangkat hasil panen atau melalui penguapan ( Marsono 2002)
Unsur posfor (P)
dalam tanaman berperan dalam pembentukan protein, meransang pembentukan akar
memepercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman dan juga dapat mempercepat
munculnya bunga serta mempercepat masaknya buah dan biji. Lingga menyatakan
bahwa unsur P bagi tanaman berguna untuk memacu pertumbuhan akar tanaman yang
masih muda dan juga sebagai bahan baku pembentukan beberapa protein tertentu,
mendukung asimilasi pernapasan sekaligus mempercepat pembungaan dan pematangan
buah.
Hakim (1986) yang
menyatakan bahwa untuk menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman maka perlu
dilakukan pemupukan yaitu pemberian zat hara tanaman kedalam tanah yang
bertujuan untuk memacu perkembangan tanaman.
Jumlah Anakan
Produktif (batang)
Hasil analisis sidik ragam (anova) terhadap
jumlah anakan produktif pada pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk
organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara tunggal tidak
berpengaruh nyata, demikian juga secara interaksi kedua faktor tersebut tidak
berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif. Hasil rerata pengamatan umur berbunga dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah
ini.
Tabel 4. Rerata jumlah anakan produktif tanaman padi gogo
terhadap pemberian campuran
pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
|
Peralakuan
|
Pupuk Organik
|
Rerata A
|
||
|
Pupuk Anorganik
|
O1
|
O2
|
O3
|
|
|
A1
|
12.00
|
18.00
|
12.66
|
14.22
|
|
A2
|
12.33
|
10.33
|
15.66
|
12.77
|
|
A3
|
17.00
|
12.33
|
14.33
|
14.55
|
|
A4
|
14.33
|
14.66
|
14.00
|
14.33
|
|
A5
|
13.33
|
13.00
|
12.33
|
12.88
|
|
Rerata O
|
13.80
|
13.66
|
13.80
|
|
Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa jumlah
anakan produktif pada perlakuan pupuk anorganik dan pupuk oraganik menunjukan
angka yang tertinggi pada perlakuan A3O1 yaitu 17 anakan dan angka yang
terendah terdapat pada perlakuan A2O2 yaitu 10,33 anakan. Adapun faktor
lingkungan yang mempengaruhi jumlah anakan produktif tersebut seperti tanah,
pemupukan, jarak tanam, suhu dan cuaca. Sesuai dengan pendapat Yosida dalam
Asmardi (1987) untuk mendapatkan jumlah anakan produktif (jumlah anakan yang
mengeluarkan malai) hal ini juga dapat ditentukan oleh jarak tanam, cahaya,
kesuburan tanah, pemupukan, jarak tanam, suhu dan cuaca.
Pada fase vegetatif tanaman, terjadi kegiatan
perpanjangan dan pembelahan sel, oleh sebab itu diperlukan karbohidrat yang
banyak, gula serta pemberian air yang cukup. Menurut Lingga (1986) menyatakan
bahwa pupuk N berperan dalam meransang pertumbuhan jumlah anakan produktif,
unsur P berperan dalam pembentukan akar dan sistem perakaran tanaman serta
unsur K berperan dalam memperkuat vigor tanaman dan mempercepat pertumbuhan
jaringan meristem.
Jumlah Bulir/Malai
(Biji)
Hasil analisis sidik ragam (anova)
terhadap jumlah anakan produktif pada pemberian campuran pupuk anorganik dan
pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara tunggal
memberikan pengaruh yang nyata, demikian
juga secara interaksi kedua faktor tersebut memberikan pengaruh yang nyata
terhadap jumlah bulir/malai. Hasil rerata pengamatan
jumlah bulir/malai dapat dilihat pada Tabel 5
.
Tabel 5. Rerata jumlah bulir/malai tanaman padi gogo
terhadap pemberian campuran
pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
|
Peralakuan
|
Pupuk Organik
|
Rerata A
|
||||||
|
Pupuk Anorganik
|
O1
|
O2
|
O3
|
|||||
|
A1
|
177.66abc
|
171.33c
|
186.66abc
|
178.55 c
|
||||
|
A2
|
179.33abc
|
181.66abc
|
181.33abc
|
180.77 c
|
||||
|
A3
|
198.67 ab
|
180.66abc
|
180.33abc
|
186.55bc
|
||||
|
A4
|
200.00 a
|
182.66abc
|
192.66abc
|
191.77 a
|
||||
|
A5
|
190.33abc
|
184.00abc
|
189.66abc
|
188.00ab
|
||||
|
Rerata O
|
189.19a
|
180.06b
|
186.12ab
|
|
||||
|
KK =
2.06% BNJ A =
5.21 BNJ O = 3.41 BNJ AO = 25.80
|
||||||||
Keterangan : Angka-angka
yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ
taraf 5%
Dari Tabel 5
menunjukan bahwa jumlah bulir/malai pada perlakuan A4O1 tidak berbeda nyata
dengan perlakuan A4O2, A4O3, A1O1, A2O1, A2O2, A2O3, A5O1, A5O2 dan A5O3.
Tetapi perlakuan A4O1 berbeda nyata dengan A1O2 dan A1O3. Jumlah bulir/malai
tertinggi adalah terdapat pada perlakuan A4O1 yaitu 200.00 biji dan angka yang
terendah terdapat pada perlakuan A1O2 yaitu 171.33 biji.
Pengaruh dari pemberian pupuk anorganik
dan pupuk organik berpengaruh nyata terhadap jumlah bulir/malai. Hal ini diduga
karena pemberian pupuk anorganik telah mampu memenuhi kebutuhan unsur hara
dalam tanaman, sehingga jumlah gabah yang dihasilkan oleh tanaman tinggi.
Menurut Supardi (1992) mengatakan bahwa unsur P dapat merangsang pengisian
biji. Pada saat fase pertumbuhan generatif fosfat dibutuhkan
tanaman untuk sintesis protein dan proses enzimatik. Dengan demikian bila
pengisian biji berjalan optimal maka biji yang dihasilkan lebih bernas.
Gultom
(1996), mengatakan bahwa jumlah gabah bernas/malai sangat dipengaruhi oleh
keadaan lingkungan, faktor iklim, ketersediaan air, relatif sama maka yang
memberikan pengaruh dominan adalah pemupukan. Karena pemberian pupuk anorganik
dan pupuk organik telah bisa berperanan dalam pembentukan anakan dan fase
reproduksi tanaman maka jumlah anakan produktif yang didapat juga berbeda
berdasarkan dosis pupuk yang diberikan. Jumlah bulir/malai pertanaman
ditentukan selama fase vegetatif, junlah gabah permalai ditentukan selama fase
reproduktif, berta gabah ditentukan oleh oleh selama fase pemasakan. Dan jumlah
bulir/malai tergantung pada aktifitas tanaman selama fase reproduktif (Ismail,
1984).
Nitrogen
dapat memacu perkembangan dan pertumbuhan tanaman, karena nitrogen yang cukup
untuk keperluan tanaman akan ditranslokasikan kebagian tanaman, kemudian segera
terbentuk asam amino dan protein yang dapat dilihat pada persentase jumlah
polong bernas/tanaman dihasilkan. Menurut Lingga (2003) mengatakan bahwa fungsi
pupuk Urea terhadap tanaman kacang hijau adalah menambah berat jumlah polong
bernas/tanaman,merangsang pertunbuhan tanaman secara keseluruhan, selain itu
nitrogen juga berperan dalam membentuk protein, lemak, dan berbagai
persenyawaan organik lainnya.
Persentase bulir bernas yang
ditentukan dari pembelahan reduksi, yaitu pada fase terjadinya persarian,
sedangkan terjadinya persarian ditentukan oleh empat komponen, yaitu ; cahaya,
suhu, kelembaban dan air. Suhaidi (1978), mengatakan produksi suatu tanaman
dapat dilihat selama pertumbuhan vegetatif dan generatif, kalau pertumbuhannya
tidak adanya penyimpangan kemungkinan untuk berproduksi sangat besar.
Berat Gabah Kering/Rumpun (gram)
Hasil analisis sidik ragam (anova)
terhadap berat gabah kering/umpun pada
pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol untuk
tanaman padi gogo secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata, demikian juga secara interaksi kedua faktor
tersebut memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah bulir/malai. Hasil
rerata pengamatan jumlah bulir/malai dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rerata berat gabah kering/rumpun padi gogo
terhadap pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah
ultisol.
|
Perlakuan
|
Pupuk Organik
|
Rerata A
|
|||||
|
Pupuk Anorganik
|
O1
|
O2
|
O3
|
||||
|
A1
|
19.26 cd
|
17.25abcd
|
20.36 cd
|
18.95 d
|
|||
|
A2
|
21.16abc
|
23.33 abc
|
21.16abc
|
21.88 ab
|
|||
|
A3
|
23.61abc
|
21.05 bc
|
19.30 cd
|
21.32bcd
|
|||
|
A4
|
25.39 ab
|
21.05 bc
|
20.91 cd
|
22.45abc
|
|||
|
A5
|
25.58 a
|
20.81 cd
|
23.62abc
|
23.33 a
|
|||
|
Rerata O
|
23.00a
|
20.69bc
|
21.07b
|
|
|||
|
KK =
6.74% BNJ A =
1.97 BNJ O = 1.28 BNJ AO = 4.46
|
|||||||
Keterangan :
Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata
berdasarkan Uji BNJ taraf 5%.
Berdasarkan
angka-angka pada Tabel 6 memperlihatkan bahwa berat gabah kering/rumpun
tertinggi pada perlakuan A5 (23,33 g) dan perlakuan yang terendah yaitu
perlakuan A1 (18,95 g), sedangkan perlakuan pupuk organik berat gabah
kering/rumpun tertinggi terdapat pada perlakuan O1 (23,00 g) dan perlakuan yang
terendah terdapat pada perlakuan O2 (20,69 g), sedangkan secara interaksi
antara perlakuan pupuk anorganik dan pupuk organik terhadap berat gabah
kering/rumpun tertinggi pada perlakuan A5O1 (25,58 g), dan perlakuan yang
terendah terdapat pada perlakuan A1O2
(17,25 g).
Produksi
berat gabah kering/rumpun sangat berkaitan dengan jumlah gabah bernas, menurut
Tohari (1992), sebahagian besar bahan kering biji padi-padian berasal dari
asimilasi yang dihasilkan setelah pembungaan. Terjadinya proses dengan baik
diperkirakan terpenuhinya unsur hara dalam media tanah tanaman untuk
pertumbuhan tanaman padi baik dalam proses vegetatif maupun generatif.
Peningkatan bahan kering terjadi karena
bahan kering yang merupakan hasil dari proses fisiologi tanaman disalurkan
secara terus menerus kebiji sebagai organ penampung. Sehingga bahan cadangan makanan yang terkandung pada biji cenderung
meningkat seiring dengan perkembangan tanaman. Penyaluran bahan kering ini terhenti dan mencapai maksimal pada saat panen.
Egli (1981) juga menyatakan bahwa berat kering biji akan
mengalami peningkatan yang teratur seiring dengan perkembangan biji menjelang
masak fisiologi.
Prasetyo (1996) mengatakan bahwa
berkaitan dengan pemupukan padi gogo jenis dan dosis pupuk serta waktu
pemupukan merupakan tiga hal yang perlu diperhatikan. Jenis pupuk yang
diberikan adalah pupuk organik dan Urea, SP-36, dan KCl. Dosisnya adalah pupuk
kandang 20 ton/ha, Urea 150 kg/ha, SP-36 135 kg/ha, KCl 60 kg/ha. Pemberian
pupuk berbeda untuk setiap daerah, tergantung kesuburan tanah setempat, secara
umum dosis diatas dapat dijadikan patokan untuk bertanam padi gogo. Tanaman
padi gogo memiliki tahapan dalam pertumbuhannya. Tahap-tahap pertumbuhannya
terdiri dari tahap vegetatif, reproduktif dan pematangan. Lama tahap vegetatif
berbeda pada setiap varietas. Sementara tahap reproduktif dan pematangan
relatif konstan untuk kebanyakan varietas. Sebagai contoh adalah untuk padi
gogo yang berumur 120 hari umumnya memiliki tahap vegetatif kira-kira 55 hari
dan tahap reproduktif serta pemasakan kira-kira 65 hari.
Perlakuan pupuk anorganik secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata
terhadap berat gabah kering/rumpun , dimana pelakuan A5 merupakan berat gabah
kering yang paling tertinggi angkanya dan angka yang paling terendah terdapat
pada perlakuan A1. menurut Jumin (1994) bahwa sink adalah jaringan yang
mensuplai asimilat yang aktif melakukan kegiatan fotosintesis disebut source.
Berat gabah kering/rumpun
berkaitan erat dengan jumlah anakan produksi yang tumbuh maka akan meningkatkan
bobot gabah kering/rumpun. Bobot gabah kering/rumpun sangat berkaitan dengan
proses fotosintesis dengan meningkatnya fotosintesis maka meningkat pula
asimilat, asimilat ini ditampung dalam jaringan yang disebut sink termasuk biji
dan buah. Dari tabel diatas menunjukkan pada perlakuan pupuk organik dimana
perlakuan O1 berbeda nyata dengan perlakuan O2 dan O3, sedangkan perlakuan O3
tidak berbeda nyata denagn perlakuan O2.
Berbeda nyatanya perlakuan O1
dengan perlakuan O2 dan O3, hal ini diduga atau disebabkan pada pemberian pupuk
kandang 1 kg/plot, mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap berat gabah
kering/rumpun karena pupuk kandang mengandung mikroorganisme yang dapat
melarutkan senyawa pospat yang tersedia menjadi tersedia bagi perakaran tanaman
, sehingga tanaman dapat tumbuh subur dan dengan tersedianya pospat maka
pembentukan bunga akan lebih baik yang akhirnya dapat menghasilkan jumlah berat
gabah kering/rumpun yang baik pula.
Menurut Lingga (2003) pupuk
kandang mengandung asam laktat, asam hidrat, etil alkohol. Karbohidrat dan
etanol yang merupakan senyawa organik yang dapat melarutkan ion-ion (unsur
hara) didalam tanah. Terlarutnya ion- ion tersebut dapat mudah diserap oleh
tanaman. Selain itu tanah diberi pupuk kandang mampu mempengaruhi keadaan tanah
seperti sifat fisika tanah, kimia, boilogi tanah dan proses dekomposisi bahan
organik yang diberikan berjalan dengan baik, sehingga bahan organik yang
tersedia dapat dimanfaatkan oleh tanaman.
Berat Berangkasan Kering Tanaman (gram)
Hasil analisis sidik ragam
(anova) terhadap berat berangkasan kering tanaman pada pemberian campuran pupuk anorganik dan
pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara tunggal
memberikan pengaruh yang nyata, demikian
juga secara interaksi kedua faktor tersebut memberikan pengaruh yang nyata
terhadap jumlah bulir permalai. Hasil rerata pengamatan berat berangkasan
kering tanaman dapat dilihat pada Tabel
7.
Tabel 7. Rerata berat berangkasan kering tanaman padi gogo
terhadap pemberian campuran pupuk
anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
|
Peralakuan
|
Pupuk Organik
|
Rerata A
|
||
|
Pupuk Anorganik
|
O1
|
O2
|
O3
|
|
|
A1
|
58.65e
|
63.52c
|
63.40cd
|
61.85cd
|
|
A2
|
34.80f
|
57.19ef
|
57.31ef
|
49.76d
|
|
A3
|
57.13ef
|
63.45cd
|
68.29bc
|
62.95b
|
|
A4
|
57.55ef
|
68.29bc
|
72.29a
|
66.04a
|
|
A5
|
58.16ef
|
60.58cd
|
67.05bc
|
61.93bc
|
|
Rerata O
|
53.25c
|
62.60b
|
65.66a
|
|
|
KK =
1.86% BNJ A = 1.52 BNJ O = 1.009 BNJ AO = 3.45
|
||||
Keterangan :
Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata
berdasarkan Uji BNJ taraf 5%.
Berdasarkan
angka-angka pada Tabel 7 memperlihatkan bahwa berat berangkasan kering
tanaman tertinggi pada perlakuan A4
(66.04 g) dan perlakuan yang terendah yaitu perlakuan A2 (49.76 g), sedangkan
perlakuan pupuk organik berat berat berangkasan kering tanaman tertinggi
terdapat pada perlakuan O3 (65.66 g) dan perlakuan yang terendah terdapat pada
perlakuan O1 (53.25 g), sedangkan secara interaksi antara perlakuan pupuk anorganik
dan pupuk organik terhadap berat berangkasan kering tanaman tertinggi pada
perlakuan A4O3 (72.29 g), dan perlakuan yang terendah terdapat pada
perlakuan A2O1 (32.80 g).
KESIMPULAN
1. Interaksi perlakuan campuran pupuk anorganik dan pupuk organik berpengaruh nyata terhadap umur panen, jumlah
bulir/malai, berat gabah kering/rumpun dan berat berangkasan kering tanaman,
perlakuan yang terbaik adalah 25 g Urea + 20 g TSP + 10 g KCl dan pupuk
kandang 1 kg/plot (A5O1).
2. Pemberian campuran pupuk anorganik
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, umur panen, jumlah bulir/malai,
berat gabah kering/rumpun dan berat berangkasan kering tanaman, perlakuan yang
terbaik adalah A4 (30 g + 10 g + 10 g )
3. Pemberian Pupuk organik berpengaruh
nyata terhadap jumlah bulir/malai, berat gabah kering/rumpun dan berangkasan
kering tanaman, perlakuan yang terbaik adalah 01 pupuk kandang 1 kg/plot
DAFTAR PUSTAKA
Adiningsih. J.S.
dan M. Soepartini. 1995. Pengelolaan Pupa Pada Sistem
Usahatani Lahan sawah. Makalah Apresiasi Metodologi Pengkajian Sistem Usahatani Berbasis Padi dengan Wawasan
Agribisnis. Bogor 7-9 September 1995. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi
Pertanian. Bogor.
Agus. F dan
Rujiter. 2004. Perhitungan Kebutuhan Pupuk Tanaman. Agro Foresty Center.
Anonim. 2004. Mengubah Sampah Menjadi Pupuk Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.
Dwidjosapoetrao.
D., 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Egli. D. B., J. E
Leggett, J. M. Wood,1978. Influence. Of
Soybean Seed Size and Position On The Rate and Duration Of Filling. Agron. J. 70 : 127 – 130.
Gusta. L. V., E.
N. Johnson, N. T. Nesbitt and K. J. Kirkland. 2003. Effect Of Seeding Date On Canola
Seed Vigor. Can. J. Plant Sci. 45:32-39
Hakim. N. Go Ban Hong, Saul. M. R. Nugroho. S. G, Lubis. A. M, Nyakpa. M. K, Bailey. H. H, Dhiha M. A. 1986.
Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung.
Harjadi. SS.
1979. Pengantar Agronomi. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta. 197 Hal.
Iskandar. D.2003.
Pengaruh Dosis Pupuk N, P dan K Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman
Jagung Manis Dilahan Kering. J. Saint Dan Teknologi BPPT, Vol 2 : 1 – 5
Jumin.H.B., 1992.
Ekologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Press.
Jumin.H.B., 2002.
Dasar-dasar Agronomi. PT. Raja Grafindo Persada Jakarta.
Lakitan. B. 2007.
Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Penerbit. Raja Grafindo.
Persada. Jakarta.205 hal.
Lingga P. 2002.
Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mardawilis. 2004.
Pemanfaatan Tanaman Optimal Dan Efisiensi Penggunaan Pupuk Nitrogen Pada
Beberapa Varietas Jagung (Zea mays) Dilahan
Kering.Jurnal Dinamika Pertanian. 19 (3) : 303-314.
Marsono. P. S. 2002. Pupuk Akar Jenis Dan Aplikasinya.
Penebar Swadaya.
Musnamar EL.
2003. Pupuk P Cair Dan Padat, Pembuatan, Aplikasi. Jakarta.
Penebar Swadaya.
Prasetyo. 1996.
Padi Gogo Tanpa Olah Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Priestley. D. A 1986 Seed Aging. Comstock
Publishing Associates. A Division Of Cornell University Press.
Sinaga. P. H. 2002. Penampilan Delapan
Genotipe Jagung Yang Tanggap Terhadap (Azosirillium,
sp) Pada Lima Dosis Nitrogen. Jurnal Dinamika Pertanian Vol. 21 (2) :
91-99.
Siregar. H., 1981. Budidaya Tanaman Padi DiIndonesia. Sastra Budaya. Jakarta.
Suhartatik. E. dan R. Sismiyati. 2000. Pemanfaatan Pupuk Anorganik Dan Agent Hayati Pada Padi Sawah. Dalam
Suwarno et al. (Esd). Tonggak
Kemajuan Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Paket Komponen Teknologi Produksi
Padi. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
Sumatera Barat.
Supardi. G. 1992.
Pemanfaatan Sumber Daya Dolomit Alamiah
Menuju Produktifitas Perkebunan. Makalah Pada Seminar
Lahan Pertanian Se Kalimantan. 98 hal
Suparyono. A. S.
1993. Budidaya Tanaman Padi. Penebar Swadaya.
Suraiatna S.
1987. Pupuk Dan Pemupukan. Penerbit CV. Simpleks. Jakarta
Suriadikarta, D.A., Trihatini, D. Setyorini, dan W.
Hartatiek. 2002. Teknologi Pengelolaan Bahan Organik Tanah Dalam Teknologi
Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif Dana Rama
Lingkungan.Penelitian dan
Syekhfani. 1997.
Strategi Penanggulangan Kemunduran Kesuburan Tanah Dalam Rangka Pengamatan
Produksi Tanaman Pertanian. Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Kimia Tanah
Pada Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang. Universitas Indonesia. Jakarta.
Wudianto. 1994.
Membuat Setek Dan Okulasi. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar