Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 121-130


PEMBERIAN CAMPURAN PUPUK ANORGANIK DAN PUPUK ORGANIK PADA TANAH ULTISOL  UNTUK TANAMAN PADI GOGO (Oryza sativa. L)

ROVER
Dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau. Email : roverblazer@yahoo.com


ABSTRACT

This research aims to determine the effect of a mixture of inorganic fertilizer and organic fertilizer either singly or in interaction ultisol land for upland rice crop. This research used a completely randomized design (CRD) factorial consisting of two factors: The first factor A (a mixture of inorganic fertilizer) which consists of 5 level treatment and the second factor is O (organic fertilizer) which consists of 3 levels of treatment. The results of this study indicate that the administration of a mixture of inorganic fertilizer treatment and the interaction of organic fertilizers significantly affect harvesting age, number of grains / panicle, grain dry weight / clumps, and plant dry weight berangkasan. The best treatment is A5O1. A1 (25 g 20 g Urea + TSP + 10 g KCl) and O1 (manure 1 kg / plot). Treatment of a mixture of inorganic fertilizer singly significant effect on plant height, maturity, number of grains / panicle, grain dry weight / clumps, and plant dry weight berangkasan, the best treatment is the treatment of A4 (30 g 10 g Urea + TSP + 10 g KCl ). While the organic fertilizer treatments significantly affected the number of grains / panicle, grain dry weight / clumps, and plant dry weight berangkasan, the best treatment is O1 (manure 1 kg / plot).

Key words : Ultisols, organic fertilizer, inorganic fertilizer


PENDAHULUAN

Tanaman padi (Oryza sativa, L) merupakan tanaman pangan yang sangat penting karena hingga kini beras merupakan makanan pokok bagi sebagian penduduk dunia terutama di Asia. Di Indonesia beras juga merupakan komoditas strategis karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap kestabilan ekonomi dan politik, upaya untuk meningkatkan produksi beras terus dilakukan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk serta berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi menjadi kawasan perkebunan dan pemukiman.
Beras mengandung berbagai zat makanan yang diperlukan oleh tubuh, Dalam seratus gram padi pecah kulit mengandung karbohidrat 86,7%, lemak 2,45%, serat kasar 0,88%, abu 1,22%, protein 8,6%. Sedangkan pada padi giling mengandung karbohidrat 80,79%, lemak 0,37%, serat kasar 0,16%, abu 0,36% dan protein 8,2% (AAK, 1990).
      Masalah utama budidaya padi gogo di Riau antara lain kondisi tanah dan serangan organisme pengganggu tanaman, sebagian besar lahan kering di Riau di dominasi oleh tanah Podzolik Merah Kuning atau tanah ultisol, Masalah yang sering ditemui ditanah Podzolik Merah Kuning adalah pH rendah, miskin unsur hara, miskin bahan organik, keracunan Al dan Mn dan mudah terjadinya erosi, Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanah Podzolik Merah Kuning atau tanah Ultisol sering diidentikkan dengan tanah yang tidak subur tetapi sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian potensial, asalkan dilakukan pengolahan tanah yang baik. Untuk meningkatkan produktivitasnya dapat dilakukan melalui pemberian kapur, pemupukan, penambahan bahan organik, penerapan teknik budi daya tanaman lorong (tumpang sari), tersering pengaturan drainase (Munir, 1998).
      Menurut Hakim, Nyakpa, Go Ban Hong, Nugroho (1986) tanah Podzolik Merah Kuning atau tanah Ultisol sangatlah berpotensi dalam perluasan lahan pertanian, namun banyak sekali hambatan dan kendala yang harus dihadapi dengan tingkat kepadatan tanah yang selalu mengikat unsur hara yang relatif sedikit terutama unsur mikro Mo dan B, dan dengan kandungan bahan organik yang rendah. Maka pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik adalah salah satu bahan yang dapat melengkapi semua unsur yang kurang pada tanah Podzolik Merah Kuning atau tanah Ultisol.
Pemberian pupuk organik berpengaruh sangat baik terhadap tanah dan tanaman, dengan bantuan jasad renik yang ada dalam tanah, bahan ini akan diubah menjadi humus. Humus ini merupakan perekat yang baik bagi butir-butir tanah saat membentuk gumpalan tanah, Akibatnya susunan tanah akan menjadi lebih baik dan lebih tahan terhadap daya perusak dari luar seperti hanyutan air (erosi) ataupun hembusan angin. Selain itu pemberian pupuk organik akan menambah unsur hara yang dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman (Musnamar, 2003). Pupuk kompos, pupuk kandang dan pupuk hijau dapat memperbaiki aerasi udara dalam tanah secara tidak langsung, juga menyuburkan tanah sehingga sistem perakaran tanaman akan membaik dan produksi akan meningkat (Anonimus, 2004)
Usaha lain yang dilakukan dalam peningkatan kesuburan tanah yaitu dengan cara pemupukan , Terutama dengan memberikan unsur hara N dari pupuk Urea, unsur hara P dari pupuk TSP, dan unsur hara K dari pupuk KCl. Dimana unsur hara N, P, dan K merupakan unsur hara utama yang dibutuhkan oleh tanaman.                                                                                                            
Fakta dilapangan menunjukan bahwa rata-rata penggunaan pupuk belum sesuai dengan anjuran akibat mahalnya harga pupuk menyebabkan penurunan penerapan teknologi pemupukan sampai 18,8% hal ini menyebabkan usaha tani padi dirasakan oleh petani bukan lagi merupakan usaha tani yang memberikan keuntungan (Suriatna, 1999).
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian campuran pupuk anorganik dan organik pada tanah Ultisol untuk tanaman padi gogo (Oryza sativa, L).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau Jalan Kaharudin Nasution Km 113 Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Marpoyan, Kota Pekanbaru. Penelitian dilaksanakan selama 5 (Lima) bulan dari bulan Desember 2008 sampai  April 2009.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi Varietas Towuti, pupuk Urea, TSP, KCl, pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos, Dithan M-45, Decis,
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, parang, sabit, gembor, meteran, gergaji, hand sprayer, Alat-alat tulis, timbangan analitik, kayu pagar, kamera, cat, kuas

Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan mengunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL ) faktorial 5 x 3 dengan 3 ulangan.
Faktor pertama  (A) adalah Campuran Pupuk Anorganik yang terdiri dari 5 (lima) taraf perlakuan yaitu :
A1 :  300 kg/ha Urea + 200 kg/ha TSP
        + 150 kg/ha KCl
A2  :  250 kg/ha Urea + 150 kg/ha TSP
         + 100 kg/ha KCl
A3  :  200 kg/ha Urea + 100 kg/ha TSP
         +  50 kg/ha KCl
A4  :  300 kg/ha Urea + 100 kg/ha TSP
         + 100 kg/ha KCl
A5  :  250 kg/ha Urea + 200 kg/ha TSP
         + 100 kg/ha KCl
Faktor kedua (O) adalah Pupuk Organik yang terdiri dari 3 (tiga) taraf perlakuan yaitu:
O1  :  Pupuk Kandang 10 Ton/Ha
O2  :  Pupuk Hijau 10 Ton/Ha
O3  :  Pupuk Kompos 10 Ton/Ha
Seluruh data dianalisis secara statistic, jika F hitung lebih besar dari F table maka dilakukan uji lanjut beda nyata jujur pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi tanaman (cm)
Hasil analisis sidik ragam (anova) terhadap tinggi tanaman menunjukkan interaksi antara pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, sedangkan secara tunggal pupuk anorganik memberikan perbedaan yang nyata, dan perlakuan pupuk organik tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Hasil rerata pengamatan tinggi tanaman dapat dilihat pada Tabel 1.







Tabel  1. Rerata tinggi tanaman padi gogo terhadap pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organic pada tanah ultisol.
Peralakuan
Pupuk  Organik
Rerata A
Pupuk Anorganik
O1
O2
O3
A1
86.00
82.66
83.66
84.10ab
A2
72.00
74.33
76.33
74.22bc
A3
85.33
83.66
85.00
        84.66a
A4
83.66
85.00
80.33
 82.99ab
A5
82.33
80.66
82.00
   81.66abc
Rerata O
81.86
81.26
81.46

KK = 6,93%            BNJ A = 7,72 
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ taraf 5%


Dari tabel 1 diatas dapat dikatakan bahwa tinggi tanaman padi gogo hanya dipengaruhi oleh perlakuan campuran pupuk anorganik saja, tinggi tanaman yang tertinggi terdapat pada perlakuan A3 (20 g Urea, 15 g TSP, 5 g KCl) yaitu 84,66cm, dan yang paling terendah terdapat pada perlakuan A2 (25 g Urea, 15 g TSP, 10 g KCl).
Terjadinya perbedaan yang nyata terhadap pemberian campuran pupuk anorganik  pada parameter tinggi tanaman padi gogo lebih disebabkan oleh dosis yang diberikan mampu menyediakan kebutuhan unsur hara bagi tanaman dalam melangsungkan pertumbuhan terutama fase vegetatif. Menurut pendapat Hakim (1986), yang menyatakan bahwa untuk menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman maka perlu dilakukan pemupukan yaitu pemberian zat hara tanaman kedalam tanah yang bertujuan untuk memacu perkembangan tanaman. Unsur hara yang diberikan adalah dalam bentuk pupuk anorganik dan pupuk organik.
Pada fase pertumbuhan tanaman memerlukan unsur N, P dan K yang seimbang sejalan dengan pendapat Mardawilis (2004) yang mengatakan bahwa pemberian unsur Nitrogen tanaman akan banyak mengandung unsur hijau daun yang penting dalam proses fotosintesis dan mempercepat pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara diantaranya N, P dan K.
Kandungan P yang terdapat pada TSP berfungsi untuk pembentukan membran sel berkaitan dengan hal ini Agus (2004) menyatakan bahwa unsur P berperan  penting dalam transfer energi dalam sel tanaman (ADP/ATP) dan dapat meningkatkan efiesiensi fungsi dan penggunaan unsur N. Selain unsur N dan P unsur K juga berperan penting dalam pertumbuhan tanaman, unsur K pada tanaman membantu pembentukan protein dan pembentukan protein dan memperkuat jaringan tanaman, sesuai dengan pendapat (Marsono 2002) yang menyatakan dimana fungsi unsur kalium yaitu mengaktifkan kerja beberapa enzim, memacu translokasi karbohidrat dari daun keorgan tanaman yang lain.
Pupuk anorganik selain dapat menyumbangkan unsur hara makro juga mampu memperbaiki struktur tanah, menaikkan daya serap tanah terhadap air dan mampu meningkatkan aktivitas organisme dalam tanah sehingga pertumbuhan akan lebih baik karena terciptanya kondisi tanah yang sesuai dengan tanaman, sehingga akar tanaman mampu tumbuh dan berkembang sebagai mana mestinya (Lingga, 1998). 
Pada proses pertumbuhan tinggi tanaman dengan pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik tidak ada interaksi sesuai dengan pernyataan Wudianto (1994) karena pada awal pertumbuhan tanaman metabolisme sangat tinggi yang mana tanaman mendapat cadangan makanan yang cukup dari batang dalam menyediakan karbohidrat yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian Gardner (1991) dalam Ruskandi (2003) mengatakan berkurangnya laju pertumbuhan tanaman karena sebahagian makanan digunakan perkembangan selanjutnya yaitu pembungaan dan buah.

Umur Berbunga (hari)
Hasil analisis sidik ragam (anova) terhadap umur berbunga pada pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara tunggal tidak berpengaruh nyata, demikian juga secara interaksi kedua faktor tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga. Hasil rerata pengamatan umur berbunga dapat dilihat pada Tabel 2.
            Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa umur berbunga tanaman padi gogo sudah mulai muncul pada hari ke-82, tetapi kebanyakan muncul pada hari ke-83 dan paling lambat bunga muncul pada hari 89.66. dalam perlakuan campuran pupuk anorganik, bunga tercepat muncul pada perlakuan A1 (campuran 30 g Urea, 20 g TSP, 15g KCl) yaitu pada hari 83.66 sedangkan bunga terlama muncul pada perlakuan A2 (campuran 25 g Urea, 15 g TSP, 10 g KCl) yaitu hari 88.55. dalam perlakuan pupuk organik bunga tercepat muncul pada perlakuan O1 (pupuk kandang) yaitu 84.46 sedangkan bunga terlama muncul pada perlakuan O3 (pupuk kompos) yaitu hari ke-86.66.


Tabel 2. Rerata umur berbunga tanaman padi gogo terhadap pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
Perlakuan
Pupuk Organik
Rerata A
Pupuk Anorganik
O1
O2
O3
A1
82.00
84.66
84.33
83.66
A2
86.66
89.33
89.66
88.55
A3
87.00
85.00
83.33
85.11
A4
83.00
83.00
87.66
84.55
A5
83.66
86.00
89.66
86.44
Rarata O
84.46
85.60
86.93



Umur berbunga pada tanaman tidaklah hanya dipengaruhi oleh suatu perlakuan saja akan tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan lainnya maupun genetik. Pembungaan merupakan fenomena fisiologi yang tidak sederhana, dimana perubahan fase vegetatif menjadi generatif merupakan perubahan yang sangat besar karena struktur jaringannya berbeda sekali. Perubahan ini merupakan cerminan dari pemacuan kelompok gen tertentu yang yang berperan dalam pembungaan. Tanaman akan menghasilkan bunga bila zat cadangan dan juga ditentukan oleh sifat tanaman dan faktor lingkungan. Selain itu varietas yang digunakan juga mempengaruhi pembungaan. Bila varietas yang digunakan dari varietas yang sama maka umur berbunga tanaman tidak akan berpengaruh nyata antara tanaman satu dengan tanaman yang lain. Karena tanaman yang berasal dari varietas yang sama akan cenderung mempunyai sifat yang sama pula (Lakitan, 2007).
      Harjadi (1979) juga menjelaskan suatu tanaman sangat dipegaruhi oleh faktor genetik terutama dalam faktor pembentukan organ-organ generatif, penyimpangan akan berlansung pada waktu yang lama dan kondisi-kondisi lingkungan yang ekstrim.
            Sedangkan Gultom (1996), mengatakan bahwa umur tanaman padi di Indonesia berkisar 100-180 hari, dimana dapat di bagi kedalam empat fase pertumbuhan yaitu fase vegetatif cepat, fase vegetatif lambat, fase reprodiktif dan fase pemasakan. Di dalam fase vegetatif cepat dimulai pada saat berkecambah sampai anakan maksimum, fase vegetatif lambat di mulai pada saat jumlah anakan maksimum sampai primordia bunga. Fase reproduktif mulai keluarnya primordia bunga sampai malai keluar dan fase pemasakan mulai keluar bunga sampai saat panen.
            Mardawilis (2004) melaporkan bahwa absorbsi nitrogen tanaman berlansung selama fase pertumbuhannya. Akumulasi nitrogen dalam tanaman relatif lambat diawal pertumbuhan, tetapi setelah tanaman berumur 4 minggu akumulasi nitrogen sangat cepat dan pada saat keluar bunga tanaman telah mengabsorbsi nitrogen sebanyak 50% kebutuhannya. Pembungaan juga dipengaruhi sinar matahari, dimana bila udara panas dan kering keluarnya bunga keluarnya lambat sehingga proses persarian gagal yang pada akhirnya mempengaruhi jumlah bunga.
     
Umur Panen (hari)
Hasil analisis sidik ragam (anova) terhadap umur panen pada pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara interaksi memberikan pengaruh nyata, sedangkan secara tunggal pemberian pupuk anorganik juga memberikan pengaruh yang nyata, sedangkan pemberian pupuk organik tidak memberikan perbedaan yang nyata.


Tabel 3. Rerata umur panen tanaman padi gogo terhadap pemberian campuran  pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
Peralakuan
Pupuk Organik
Rerata A
Pupuk Anorganik
O1
O2
O3
A1
 110.33 ab
110.33  ab
  110.33  ab
110.33  a

A2
111.66   d
 111.00abc
111.00abc
    111.22 d

A3
 111.00   c
 110.66abc
110.66abc
110.77bc

A4
   110.33 ab
110.33  ab
110.66abc
110.44ab

A5
 110.00   a
 110.66abc
111.00abc
 110.55abc

Rerata O
110.66
110.66
110.73

KK = 0.32%                        BNJ A = 0.49            BNJ AO = 1.06 









Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ taraf 5%.


Berdasarkan Tabel 3 pada pemberian campuran berbagai dosis pupuk anorganik secara tunggal, diketahui bahwa perlakuan A2 dengan dosis campuran 25 g Urea, 15 gram TSP, dan 10 gram KCl. Berbeda nyata dengan semua perlakuan, tetapi perlakuan A1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A4 dan A5. Umur panen tercepat pada perlakuan A1 yaitu 110,33 hari.
Panen  dilaksanakan pada saat bulir padi sekitar 95% telah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai terdapat sedikit gabah hijau, kadar air   21-28%, dan jumlah butir hijau rendah. Cara pemanenan yaitu dengan menggunakan sabit dan memotong pangkal batang tanaman, atau dengan menggunakan ani-ani dan memotong bagian tangkai buah, lalu hasil panen diletakan ditempatkan yang telah disediakan (Reginawaty, 1999).
            Perlakuan A1 memperlihatkan hasil yang terbaik dalam umur panen, hal ini diduga karena dengan pemberian campuran pupuk anorganik dengan dosis  30 g Urea, 20 g TSP, dan 15 g KCl. Sudah dapat terpenuhi. Menurut Gultom (1996) mengatakan bahwa unsur fosfor diperlukan untuk pembentukan karbohidrat dan efiesiensinya mekanisme aktivitas kloroplas serta dalam aktifitas metabolisme. Peranan unsur P didalam tanaman sebagai penyusunan inti sel serta dalam pembelahan sel dan perkembangan jaringan meristem. Dalam hal tersebut maka fosfor berfungsi untuk : meransang pertumbuhan akar, meransang pertumbuhan tunas, mempercepat pemasakan buah, sehingga memepercepat masa panen.
Selain kandungan unsur fosfor, kandungan nitrogen yang berupa urea dapat juga memacu perkembangan dalam pertumbuhan tanaman, karena nitrogen yang cukup untuk keperluan tanaman akan ditranslokasikan kebagian daun tanaman, kemudian segera terbentuk asam amino dan protein yang sangat berguna untuk pembentukan daun dan pertumbuhan yang optimal sehingga umur panen lebih cepat. Selain unsur fosfor dan nitrogen pertumbuhan tanaman juga tersedia kandungan unsure K, dimana unsur K pada tanaman membantu dalam membantu dalam pembentukan protein dan karbohidrat serta memperkuat jaringan dalam tanaman (Marsono 2002).
 Selanjutnya dari perlakuan secara interaksi ini dapat mempercepat umur panen, dimana secara interaksi umur panen tercepat pada perlakuan (A5O1) A5: (250 ton/ha Urea + 200 ton/ha TSP + 100 ton/ha KCl) dan O1 : pupuk kandang 10 ton/ha, yaitu pada umur 110 hari dan yang paling lama umur panennya pada perlakuan (A2O1) A2:  (250 ton/ha Urea + 150 ton/ha TSP + 100 ton/ha KCl) dan O1 : pupuk kandang 10 ton/ha, yaitu umur 111,66 hari. Hal ini dipengaruhi oleh pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik yang berupa pupuk kandang dapat mempercepat pembungaan dan pembuahan serta mempercepat pemasakan buah dan biji sehingga menghasilkan tanaman yang umur panennya lebih cepat. Sesuai Menurut Dwidjoseputro (1994) menyatakan bahwa proses pematangan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor alam seperti suhu, intensitas cahaya dan lamanya penyinaran
Pemberian campuran pupuk anorganik berperan nyata terhadap umur panen tanaman padi gogo, hal ini diduga bahwa ketersediaan unsur hara didalam pupuk Urea, TSP dan KCl (NPK) yang diberikan pada tanaman akan dapat mendorong pertumbuhan generatif tanaman. Hal ini sejalan dengan pendapat lingga (2002) yang menyatakan bahwa suatu tanaman akan dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik apabila tersedia cukup unsur hara. Pemupukan salah satu cara untuk dapat memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman. Tujuan ini bisa dicapai bila memperhatikan dosis pupuk dan unsur yang dikandungnya.
Unsur N yang ada pada tanah dengan pemberian pupuk organik mengandung N total lebih banyak, meskipun peningkatannya tidak secara mencolok. Peningkatan N berasal dari mineralisasi bahan organik, sementara pada sistem anorganik N yang dihasilkan berasal dari penambahan dalam bentuk pupuk N. Ternyata penambahan pupuk N dalam tanah tidak mesti diikuti peningkatan kandungan N total dalam tanah, hal ini karena banyak N yang hilang terangkat hasil panen atau melalui penguapan     ( Marsono 2002)
Unsur posfor (P) dalam tanaman berperan dalam pembentukan protein, meransang pembentukan akar memepercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman dan juga dapat mempercepat munculnya bunga serta mempercepat masaknya buah dan biji. Lingga menyatakan bahwa unsur P bagi tanaman berguna untuk memacu pertumbuhan akar tanaman yang masih muda dan juga sebagai bahan baku pembentukan beberapa protein tertentu, mendukung asimilasi pernapasan sekaligus mempercepat pembungaan dan pematangan buah.
Hakim (1986) yang menyatakan bahwa untuk menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman maka perlu dilakukan pemupukan yaitu pemberian zat hara tanaman kedalam tanah yang bertujuan untuk memacu perkembangan tanaman.

Jumlah Anakan Produktif (batang)
Hasil analisis sidik ragam (anova) terhadap jumlah anakan produktif pada pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara tunggal tidak berpengaruh nyata, demikian juga secara interaksi kedua faktor tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif. Hasil rerata pengamatan umur berbunga dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah ini.


Tabel 4. Rerata jumlah anakan produktif tanaman padi gogo terhadap pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
Peralakuan
Pupuk Organik
Rerata A
Pupuk Anorganik
O1
O2
O3
A1
12.00
18.00
12.66
14.22
A2
12.33
10.33
15.66
12.77
A3
17.00
12.33
14.33
14.55
A4
14.33
14.66
14.00
14.33
A5
13.33
13.00
12.33
12.88
Rerata O
13.80
13.66
13.80



Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa jumlah anakan produktif pada perlakuan pupuk anorganik dan pupuk oraganik menunjukan angka yang tertinggi pada perlakuan A3O1 yaitu 17 anakan dan angka yang terendah terdapat pada perlakuan A2O2 yaitu 10,33 anakan. Adapun faktor lingkungan yang mempengaruhi jumlah anakan produktif tersebut seperti tanah, pemupukan, jarak tanam, suhu dan cuaca. Sesuai dengan pendapat Yosida dalam Asmardi (1987) untuk mendapatkan jumlah anakan produktif (jumlah anakan yang mengeluarkan malai) hal ini juga dapat ditentukan oleh jarak tanam, cahaya, kesuburan tanah, pemupukan, jarak tanam, suhu dan cuaca.
Pada fase vegetatif tanaman, terjadi kegiatan perpanjangan dan pembelahan sel, oleh sebab itu diperlukan karbohidrat yang banyak, gula serta pemberian air yang cukup. Menurut Lingga (1986) menyatakan bahwa pupuk N berperan dalam meransang pertumbuhan jumlah anakan produktif, unsur P berperan dalam pembentukan akar dan sistem perakaran tanaman serta unsur K berperan dalam memperkuat vigor tanaman dan mempercepat pertumbuhan jaringan meristem.

Jumlah Bulir/Malai (Biji)
           
      Hasil analisis sidik ragam (anova) terhadap jumlah anakan produktif pada pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara tunggal memberikan  pengaruh yang nyata, demikian juga secara interaksi kedua faktor tersebut memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah bulir/malai. Hasil rerata pengamatan jumlah bulir/malai dapat dilihat pada Tabel 5

.
Tabel 5. Rerata jumlah bulir/malai tanaman padi gogo terhadap pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
Peralakuan
Pupuk Organik
Rerata A
Pupuk Anorganik
O1
O2
O3
A1
177.66abc
171.33c
186.66abc
178.55  c

A2
179.33abc
181.66abc
181.33abc
180.77  c

A3
     198.67  ab
180.66abc
180.33abc
  186.55bc

A4
     200.00    a
182.66abc
192.66abc
191.77  a

A5
 190.33abc
184.00abc
189.66abc
  188.00ab

Rerata O
     189.19a
     180.06b
     186.12ab


KK = 2.06%                   BNJ A = 5.21         BNJ O = 3.41       BNJ AO = 25.80 









Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ taraf 5%

           

Dari Tabel 5 menunjukan bahwa jumlah bulir/malai pada perlakuan A4O1 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A4O2, A4O3, A1O1, A2O1, A2O2, A2O3, A5O1, A5O2 dan A5O3. Tetapi perlakuan A4O1 berbeda nyata dengan A1O2 dan A1O3. Jumlah bulir/malai tertinggi adalah terdapat pada perlakuan A4O1 yaitu 200.00 biji dan angka yang terendah terdapat pada perlakuan A1O2 yaitu 171.33 biji.
      Pengaruh dari pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik berpengaruh nyata terhadap jumlah bulir/malai. Hal ini diduga karena pemberian pupuk anorganik telah mampu memenuhi kebutuhan unsur hara dalam tanaman, sehingga jumlah gabah yang dihasilkan oleh tanaman tinggi. Menurut Supardi (1992) mengatakan bahwa unsur P dapat merangsang pengisian biji. Pada saat fase pertumbuhan generatif fosfat dibutuhkan tanaman untuk sintesis protein dan proses enzimatik. Dengan demikian bila pengisian biji berjalan optimal maka biji yang dihasilkan lebih bernas.
            Gultom (1996), mengatakan bahwa jumlah gabah bernas/malai sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, faktor iklim, ketersediaan air, relatif sama maka yang memberikan pengaruh dominan adalah pemupukan. Karena pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik telah bisa berperanan dalam pembentukan anakan dan fase reproduksi tanaman maka jumlah anakan produktif yang didapat juga berbeda berdasarkan dosis pupuk yang diberikan. Jumlah bulir/malai pertanaman ditentukan selama fase vegetatif, junlah gabah permalai ditentukan selama fase reproduktif, berta gabah ditentukan oleh oleh selama fase pemasakan. Dan jumlah bulir/malai tergantung pada aktifitas tanaman selama fase reproduktif (Ismail, 1984).
            Nitrogen dapat memacu perkembangan dan pertumbuhan tanaman, karena nitrogen yang cukup untuk keperluan tanaman akan ditranslokasikan kebagian tanaman, kemudian segera terbentuk asam amino dan protein yang dapat dilihat pada persentase jumlah polong bernas/tanaman dihasilkan. Menurut Lingga (2003) mengatakan bahwa fungsi pupuk Urea terhadap tanaman kacang hijau adalah menambah berat jumlah polong bernas/tanaman,merangsang pertunbuhan tanaman secara keseluruhan, selain itu nitrogen juga berperan dalam membentuk protein, lemak, dan berbagai persenyawaan organik lainnya.
      Persentase bulir bernas yang ditentukan dari pembelahan reduksi, yaitu pada fase terjadinya persarian, sedangkan terjadinya persarian ditentukan oleh empat komponen, yaitu ; cahaya, suhu, kelembaban dan air. Suhaidi (1978), mengatakan produksi suatu tanaman dapat dilihat selama pertumbuhan vegetatif dan generatif, kalau pertumbuhannya tidak adanya penyimpangan kemungkinan untuk berproduksi sangat besar.

Berat Gabah Kering/Rumpun (gram)

      Hasil analisis sidik ragam (anova) terhadap berat gabah kering/umpun   pada pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara tunggal memberikan  pengaruh yang nyata, demikian juga secara interaksi kedua faktor tersebut memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah bulir/malai. Hasil rerata pengamatan jumlah bulir/malai dapat dilihat pada Tabel 6.


Tabel 6. Rerata berat gabah kering/rumpun padi gogo terhadap pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
Perlakuan
Pupuk Organik
Rerata A
Pupuk Anorganik
O1
O2
O3
A1
19.26  cd
17.25abcd
20.36  cd
18.95     d
A2
21.16abc
23.33  abc
21.16abc
21.88   ab
A3
23.61abc
21.05   bc
19.30  cd
21.32bcd
A4
25.39  ab
21.05   bc
20.91  cd
22.45abc
A5
25.58    a
20.81  cd
23.62abc
23.33    a
Rerata O
23.00a
20.69bc
21.07b

KK = 6.74%                   BNJ A = 1.97        BNJ O = 1.28       BNJ AO = 4.46 








Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ taraf 5%.

     

Berdasarkan angka-angka pada Tabel 6 memperlihatkan bahwa berat gabah kering/rumpun tertinggi pada perlakuan A5 (23,33 g) dan perlakuan yang terendah yaitu perlakuan A1 (18,95 g), sedangkan perlakuan pupuk organik berat gabah kering/rumpun tertinggi terdapat pada perlakuan O1 (23,00 g) dan perlakuan yang terendah terdapat pada perlakuan O2 (20,69 g), sedangkan secara interaksi antara perlakuan pupuk anorganik dan pupuk organik terhadap berat gabah kering/rumpun tertinggi pada perlakuan A5O1 (25,58 g), dan perlakuan yang terendah terdapat pada perlakuan  A1O2 (17,25 g).
      Produksi berat gabah kering/rumpun sangat berkaitan dengan jumlah gabah bernas, menurut Tohari (1992), sebahagian besar bahan kering biji padi-padian berasal dari asimilasi yang dihasilkan setelah pembungaan. Terjadinya proses dengan baik diperkirakan terpenuhinya unsur hara dalam media tanah tanaman untuk pertumbuhan tanaman padi baik dalam proses vegetatif maupun generatif.
      Peningkatan bahan kering terjadi karena bahan kering yang merupakan hasil dari proses fisiologi tanaman disalurkan secara terus menerus kebiji sebagai organ penampung. Sehingga bahan cadangan makanan yang terkandung pada biji cenderung meningkat seiring dengan perkembangan tanaman. Penyaluran bahan kering ini terhenti dan mencapai maksimal pada saat panen. Egli (1981) juga menyatakan bahwa berat kering biji akan mengalami peningkatan yang teratur seiring dengan perkembangan biji menjelang masak fisiologi.
            Prasetyo (1996) mengatakan bahwa berkaitan dengan pemupukan padi gogo jenis dan dosis pupuk serta waktu pemupukan merupakan tiga hal yang perlu diperhatikan. Jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk organik dan Urea, SP-36, dan KCl. Dosisnya adalah pupuk kandang 20 ton/ha, Urea 150 kg/ha, SP-36 135 kg/ha, KCl 60 kg/ha. Pemberian pupuk berbeda untuk setiap daerah, tergantung kesuburan tanah setempat, secara umum dosis diatas dapat dijadikan patokan untuk bertanam padi gogo. Tanaman padi gogo memiliki tahapan dalam pertumbuhannya. Tahap-tahap pertumbuhannya terdiri dari tahap vegetatif, reproduktif dan pematangan. Lama tahap vegetatif berbeda pada setiap varietas. Sementara tahap reproduktif dan pematangan relatif konstan untuk kebanyakan varietas. Sebagai contoh adalah untuk padi gogo yang berumur 120 hari umumnya memiliki tahap vegetatif kira-kira 55 hari dan tahap reproduktif serta pemasakan kira-kira 65 hari.
Perlakuan pupuk anorganik secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat gabah kering/rumpun , dimana pelakuan A5 merupakan berat gabah kering yang paling tertinggi angkanya dan angka yang paling terendah terdapat pada perlakuan A1. menurut Jumin (1994) bahwa sink adalah jaringan yang mensuplai asimilat yang aktif melakukan kegiatan fotosintesis disebut source.
      Berat gabah kering/rumpun berkaitan erat dengan jumlah anakan produksi yang tumbuh maka akan meningkatkan bobot gabah kering/rumpun. Bobot gabah kering/rumpun sangat berkaitan dengan proses fotosintesis dengan meningkatnya fotosintesis maka meningkat pula asimilat, asimilat ini ditampung dalam jaringan yang disebut sink termasuk biji dan buah. Dari tabel diatas menunjukkan pada perlakuan pupuk organik dimana perlakuan O1 berbeda nyata dengan perlakuan O2 dan O3, sedangkan perlakuan O3 tidak berbeda nyata denagn perlakuan O2.
      Berbeda nyatanya perlakuan O1 dengan perlakuan O2 dan O3, hal ini diduga atau disebabkan pada pemberian pupuk kandang 1 kg/plot, mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap berat gabah kering/rumpun karena pupuk kandang mengandung mikroorganisme yang dapat melarutkan senyawa pospat yang tersedia menjadi tersedia bagi perakaran tanaman , sehingga tanaman dapat tumbuh subur dan dengan tersedianya pospat maka pembentukan bunga akan lebih baik yang akhirnya dapat menghasilkan jumlah berat gabah kering/rumpun yang baik pula.
      Menurut Lingga (2003) pupuk kandang mengandung asam laktat, asam hidrat, etil alkohol. Karbohidrat dan etanol yang merupakan senyawa organik yang dapat melarutkan ion-ion (unsur hara) didalam tanah. Terlarutnya ion- ion tersebut dapat mudah diserap oleh tanaman. Selain itu tanah diberi pupuk kandang mampu mempengaruhi keadaan tanah seperti sifat fisika tanah, kimia, boilogi tanah dan proses dekomposisi bahan organik yang diberikan berjalan dengan baik, sehingga bahan organik yang tersedia dapat dimanfaatkan oleh tanaman.
     
Berat Berangkasan Kering Tanaman (gram)
      Hasil analisis sidik ragam (anova) terhadap berat berangkasan kering tanaman   pada pemberian campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol untuk tanaman padi gogo secara tunggal memberikan  pengaruh yang nyata, demikian juga secara interaksi kedua faktor tersebut memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah bulir permalai. Hasil rerata pengamatan berat berangkasan kering tanaman  dapat dilihat pada Tabel 7.


Tabel 7. Rerata berat berangkasan kering tanaman padi gogo terhadap pemberian  campuran pupuk anorganik dan pupuk organik pada tanah ultisol.
Peralakuan
Pupuk Organik
Rerata A
Pupuk Anorganik
O1
O2
O3
A1
 58.65e
63.52c
 63.40cd
 61.85cd
A2
          34.80f
 57.19ef
57.31ef
49.76d
A3
  57.13ef
  63.45cd
 68.29bc
62.95b
A4
  57.55ef
  68.29bc
         72.29a
66.04a
A5
  58.16ef
  60.58cd
 67.05bc
  61.93bc
Rerata O
 53.25c
62.60b
  65.66a

KK = 1.86%            BNJ A = 1.52         BNJ O = 1.009       BNJ AO = 3.45
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji BNJ taraf 5%.


            Berdasarkan angka-angka pada Tabel 7 memperlihatkan bahwa berat berangkasan kering tanaman  tertinggi pada perlakuan A4 (66.04 g) dan perlakuan yang terendah yaitu perlakuan A2 (49.76 g), sedangkan perlakuan pupuk organik berat berat berangkasan kering tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan O3 (65.66 g) dan perlakuan yang terendah terdapat pada perlakuan O1 (53.25 g), sedangkan secara interaksi antara perlakuan pupuk anorganik dan pupuk organik terhadap berat berangkasan kering tanaman tertinggi pada perlakuan A4O3 (72.29 g), dan perlakuan yang terendah terdapat pada perlakuan  A2O1 (32.80 g).


KESIMPULAN

1.      Interaksi perlakuan campuran pupuk anorganik dan pupuk organik berpengaruh nyata terhadap umur panen, jumlah bulir/malai, berat gabah kering/rumpun dan berat berangkasan kering tanaman, perlakuan yang terbaik adalah 25 g Urea + 20 g TSP + 10 g KCl dan pupuk kandang            1 kg/plot (A5O1).
2.      Pemberian campuran pupuk  anorganik berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, umur panen, jumlah bulir/malai, berat gabah kering/rumpun dan berat berangkasan kering tanaman, perlakuan yang terbaik adalah   A4 (30 g + 10 g + 10 g )
3.      Pemberian Pupuk organik berpengaruh nyata terhadap jumlah bulir/malai, berat gabah kering/rumpun dan berangkasan kering tanaman, perlakuan yang terbaik adalah 01 pupuk kandang 1 kg/plot

DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih. J.S. dan M. Soepartini. 1995. Pengelolaan Pupa Pada Sistem Usahatani Lahan sawah. Makalah Apresiasi Metodologi Pengkajian Sistem Usahatani Berbasis Padi dengan Wawasan Agribisnis. Bogor 7-9 September 1995. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.
Agus. F dan Rujiter. 2004. Perhitungan Kebutuhan Pupuk Tanaman. Agro Foresty Center.
Anonim. 2004. Mengubah Sampah Menjadi Pupuk Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.
Dwidjosapoetrao. D., 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Egli. D. B., J. E Leggett, J. M. Wood,1978. Influence. Of  Soybean Seed Size and Position On The Rate and Duration Of  Filling. Agron. J. 70 : 127 – 130.
Gusta. L. V., E. N. Johnson, N. T. Nesbitt and K. J. Kirkland. 2003. Effect Of Seeding Date On Canola Seed Vigor. Can. J. Plant Sci. 45:32-39
Hakim. N. Go Ban Hong, Saul. M. R. Nugroho. S. G, Lubis. A. M, Nyakpa. M. K, Bailey. H. H, Dhiha M. A. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung.
Harjadi. SS. 1979. Pengantar Agronomi. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta. 197 Hal.
Iskandar. D.2003. Pengaruh Dosis Pupuk N, P dan K Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung Manis Dilahan Kering. J. Saint Dan Teknologi BPPT, Vol  2 : 1 – 5
Jumin.H.B., 1992. Ekologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Press.
Jumin.H.B., 2002. Dasar-dasar Agronomi. PT. Raja Grafindo Persada Jakarta.
Lakitan. B. 2007. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Penerbit. Raja Grafindo. Persada. Jakarta.205 hal.
Lingga P. 2002. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mardawilis. 2004. Pemanfaatan Tanaman Optimal Dan Efisiensi Penggunaan Pupuk Nitrogen Pada Beberapa Varietas Jagung (Zea mays) Dilahan Kering.Jurnal Dinamika Pertanian. 19 (3) : 303-314.
Marsono.  P. S. 2002. Pupuk Akar Jenis Dan Aplikasinya. Penebar Swadaya.
Musnamar EL. 2003. Pupuk P Cair Dan Padat, Pembuatan, Aplikasi. Jakarta. Penebar Swadaya.
Prasetyo. 1996. Padi Gogo Tanpa Olah Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Priestley. D. A 1986 Seed Aging. Comstock Publishing Associates. A Division Of Cornell University Press.
Sinaga. P. H. 2002. Penampilan Delapan Genotipe Jagung Yang Tanggap Terhadap (Azosirillium, sp) Pada Lima Dosis Nitrogen. Jurnal Dinamika Pertanian Vol. 21 (2) : 91-99.
Siregar. H., 1981. Budidaya Tanaman Padi  DiIndonesia. Sastra Budaya. Jakarta.
Suhartatik. E. dan R. Sismiyati. 2000. Pemanfaatan Pupuk Anorganik Dan Agent Hayati Pada Padi Sawah. Dalam Suwarno et al. (Esd). Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Paket Komponen Teknologi Produksi Padi. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
            Sumatera Barat.
Supardi. G. 1992. Pemanfaatan Sumber Daya Dolomit  Alamiah Menuju Produktifitas Perkebunan. Makalah Pada Seminar Lahan Pertanian Se Kalimantan. 98 hal
Suparyono. A. S. 1993. Budidaya Tanaman Padi. Penebar Swadaya.
Suraiatna S. 1987. Pupuk Dan Pemupukan. Penerbit CV. Simpleks. Jakarta
Suriadikarta, D.A., Trihatini, D. Setyorini, dan W. Hartatiek. 2002. Teknologi Pengelolaan Bahan Organik Tanah Dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif Dana Rama Lingkungan.Penelitian dan
Syekhfani. 1997. Strategi Penanggulangan Kemunduran Kesuburan Tanah Dalam Rangka Pengamatan Produksi Tanaman Pertanian. Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Kimia Tanah Pada Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang. Universitas Indonesia. Jakarta.
Wudianto. 1994. Membuat Setek Dan Okulasi. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar