Pengkajian
Varietas terhadap Pertumbuhan dan Produksi
Padi
Sawah (Oryza sativa. L) Irigasi di
Desa Petapahan Kecamatan Gunung Toar
Kabupaten
Kuantan Singingi
Elfi Indrawanis, Chairil Ezward dan Mashadi
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Islam Kuantan Singingi. Teluk Kuantan Riau. Jl. Gatot Subroto KM 7
Jake 29562,
ABSTRACT
The purpose of this
research was to determine the varieties of paddy rice (oryza sativa. L)
the right to be cultivated in paddy fields with irrigation systems in the
Village District of Gunung Toar Petapahan Singingi Kuantan district. The experiment was
conducted by using a randomized block design (RBD) Non-factorial, with the
level of treatment is rice varieties, V1 = Anak Daro
Variety, V2 = Wawan Variety, V3 = Kuning Variety, V4 = Malaysia Variety, V5 =
Gledek variety, V6 = Adam variety, V7 = Pandan Wangi variety, V8 = Batang
Piaman variety, V9 = Singgam Putih variety, dan V10 = Junjuang variety. The data were analyzed using analysis of variance to test
Real Honest further difference (HSD) at the level of 1%. The results showed
that the highest mean dry weight of 5.84 ton / ha in treatment V2 (Henry Rice
Varieties), while the lowest for the treatment outcome V6 (Adam Rice Varieties
= 0.84 tons / ha).
In
observation of the number of productive tillers which showed the highest mean of 58.75 tillers,
on treatment V10 (Junjuang Variety).
Keywords:
varieties, paddy rice (Oryza
sativa
L.)
PENDAHULUAN
Pertanian merupakan
suatu tindakan dalam memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk kemudian
dikelola yang akan menghasilkan bahan pangan maupun industri. Pertanian dalam
bidang ilmu budidaya tanaman (Agro) dikelompokan menjadi budidaya tanaman
perkebunan, hortikultura, hutan tanaman industri, hutan tanaman produksi dan
budidaya tanaman pangan.
Di Indonesia dalam pengembangan budidaya
tanaman pangan dikembangkan beberapa komoditi tanaman, seperti kacang tanah,
kedelai, jagung dan padi. Padi (Oryza
sativa L.) di Indonesia merupakan makanan pokok, karena padi yang perannya
sebagai bahan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia menyumbang
77,4 gr karbohidrat, 12 gr air, 7,5 gr
protein, 1,9 gr lemak dan serat 0,9 gr (Purwono dan Heni, 2009).
Peningkatan jumlah
penduduk di Indonesia membuat kebutuhan akan pangan juga ikut meningkat.
Produksi padi di Indonesia saat ini belum mampu untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat, sehingga sampai sekarang Indonesia masih mengimpor beras dari
Negara seperti Cina dan Thailand.
Di Propinsi Riau dan Kabupaten Kuantan
Singingi khusunya, laju pertumbuhan jumlah penduduk setiap tahunnya terus
meningkat.Hal ini baik disebabkan oleh migrasi maupun tingginya tingkat
kelahiran.
Kabupaten
Kuantan Singingi mempunyai potensi pertanian yang sangat besar untuk
dikembangkan.Daya dukung dan luas lahan yang besar, lebih dari setengah jumlah
penduduk bekerja pada sektor pertanian dengan keterampilan dasar yang dimiliki,
pasar yang tersedia dengan infrastruktur yang sedang digalakkan, merupakan
modal dasar untuk pengembangan agribisnis.Namun terkadang masih ada juga hal
yang sangat perlu untuk diperhatikan yaitu pola pendistribusian hasil panen
padi yang belum jelas.
Pemerintah
daerah Kuantan Singingi melalui Dinas Tanaman Pangan terus berupaya untuk
meningkatkan produksi dan produktifitas lahan padi dengan berbagai cara,
seperti dengan membuka lahan sawah baru, menanam padi dua kali satu tahun,
penggunaan pola tanam seperti pola legowo dan metode Sistem Rice Intensification (SRI).
Selain migrasi dan tingkat kelahiran,faktor
lain yang menyebabkan produksi padi setiap tahunnya tidak dapat memenuhi
kebutuhan akan suatu daerah adalah hasil atau produksi tanaman padi yang belum
sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu untuk mengatasi kekurangan
beras, pemerintah daerah Riau memasok beras dari Propinsi lain, seperti
Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.
Upaya lain yang dapat
dilakukan dalam pengembangan dan meningkatkan ketersediaan pangan yaitu dengan
pengkajian varietas-varietas baru yang telah ada saat ini, yang sesuai dengan
lingkungan dan selera masyarakat sekitar. Seperti pengunaan varietas – varietas
unggul lokal Sumatera Barat (Anak daro, batang piaman dan junjuang).
Pemilihan varietas juga sangat mempengaruhi
hasil dan konsumsi masyarakat.Karena tidak hanya hasil yang maksimal yang
diharapkan oleh masyarakat, tetapi rasa, tekstur nasi juga merupakan pertimbangan
masyarakat dan petani dalam mengkonsumsi serta dalam berbudidaya padi.Oleh
karena itu para ahli pemulia tanaman terus melakukan persilangan atau mencoba
memperoleh suatu varietas yang dapat memberikan hasil yang terbaik.Baik kepada
hasil dan baik kepada lingkungan.Dimana menurut Makmur (1985), yang mengatakan
bahwa pemuliaan tanaman adalah suatu metoda yang secara sistematik merakit
keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Desa
Petapahan, Kecamatan Gunung Toar. Penelitian ini berlangsung selama 5 bulan
yang dimulai pada bulan Oktober 2013 sampai dengan Maret 2014.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah benih padi varietas Anak Daro, Padi Wawan, Padi Kuning, Padi Malaysia,
Padi Gledek, Padi Adam, Pandan Wangi, Batang Piaman, Singgam Putih dan
Sijunjung, digunakan pula pupuk kompos/bokhasi serbuk gergaji, pupuk Urea,
pupuk TSP. Adapun alat yang digunakan yaitu cangkul, parang, tali, meteran,
karung, kamera, gergaji, dan alat tulis lainnya.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial, dimana masing-masing
perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Dengan demikian penelitian ini terdiri dari
30 unit percobaan, yang terdiri dari 16 tanaman perplot dan 12 diantaranya
dijadikan sampel. Jumlah tanaman keseluruhan 480 tanaman. Adapun taraf
perlakuannya adalah : V1 = Varietas Anak Daro, V2 = Varietas Padi Wawan, V3 =
Varietas Padi Kuning, V4 = Varietas Padi Malaysia, V5 = Varietas Padi Gledek,
V6 = Varietas Padi Adam, V7 = Varietas Pandan Wangi, V8 = Varietas Batang
Piaman, V9 = Varietas Singgam Putih, dan V10 = Varietas Junjuang.
Pengamatan terhadap tanaman meliputi parameter
pertumbuhan dan produksi yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan perumpun, umur
muncul bunga, umur panen, jumlah anakan produktif, berat basah dan berat
kering. Seluruh data dianalisis secara statistic dab jika F hitung lebih besar
dari F Tabel maka dilakukan uji lanjut
beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi tanaman, jumlah anakan perumpun dan umur muncul bunga
tanamanpadi
Setelah dianalisis
secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan perumpun dan umur
muncul bunga tanamanpadi. Hasil uji lanjut BNJ
pada taraf 1% dapat di lihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rerata tinggi tanaman, jumlah anakan
perumpun dan umur muncul bunga tanamanpadi (Oryza
sativaL.) dengan perlakuan varietas
|
Varietas
|
Rerata
Tinggi Tanaman
|
Rerata
Jumlah Anakan Perumpun
|
Rerata
Umur Muncul Bunga
|
|
V1 (Anak Daro)
|
130.94 abc
|
44.14
b
|
87.67 ab
|
|
V2 (Padi Wawan)
|
124.14 c
|
28.94
d
|
106.67 de
|
|
V3 (Padi Kuning)
|
115.27 cd
|
30.08
d
|
103.67 cde
|
|
V4 (Padi Malaysia)
|
100.50 d
|
30.05
d
|
95.67 bc
|
|
V5 (Padi Gledek)
|
121.80 c
|
30.89
cd
|
99.33 cd
|
|
V6 (Padi Adam)
|
140.77 ab
|
42.78
bc
|
86.33 a
|
|
V7(Pandan Wangi)
|
104.39 d
|
24.47
d
|
113.00 e
|
|
V8 (Batang Piaman)
|
129.58 abc
|
30.50
d
|
85.67 a
|
|
V9 (Singgam Putih)
|
125.69 bc
|
23.39
d
|
98.33 cd
|
|
V10 (Junjuang)
|
142.19 a
|
62.14
a
|
87.33 ab
|
|
BNJ
V = 15,70
|
BNJ V = 12,05
|
BNJ V = 8,43
|
Angka-angka pada kolom
dan baris yang diikuti huruf kecil yang samamenunjukkan berbeda tidak nyata
menurut BNJ pada taraf 1%.
Tabel 1 di atas menunjukkan tanaman tertinggi terlihat pada perlakuan V10
(Varietas Junjuang = 142,19 cm), dan tanaman
terendah pada perlakuan V4 (Varietas
Padi Malaysia = 100,50 cm). Tinggi tanaman pada perlakuan V10 dipengaruhi oleh
faktor genetik dan lingkungan, dimana sifat bawaan dari varietas tanaman yang
pertumbuhannya didukung oleh ketersediaan air dan hara. Tambing (1997)
mengatakan bahwa tanaman akan menjadi pendek apabila kekurangan unsur hara.
Dalam proses fisiologi tanaman, air dan unsur hara sangat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, hal ini karena tanaman terdiri dari bahan
organik dan bahan an-organik. Menurut Sutedjo (2008), yang mengatakan dari
hasil penelitian para ahli telah menunjukkan bahwa tanaman itu terdiri dari air
(±90%) dan bahan kering (±10%). Bahan kering terdiri dari bahan-bahan organik
dan an-organik. Menurut analisa kimia
ternyata bahan organik terdiri dari Karbon (C) 47%, Hidrogen (H) 7%, Oksigen
(O) 44%, dan Nitrogen (N) 0,2 - 2%. Sedangkanbahan an-organik adalah merupakan
bagian-bagian mineral atau abu.
Pada perlakuan V4 (Varietas Padi Malaysia =
100,50 cm), disebut perlakuan yang terendah, tetapi sebenarnya varietas
Malaysia ini belum diketahui dengan jelas dan pasti deskripsinya, sehingga
belum tentu rendahnya data yang muncul merupakan pengaruh dari faktor
lingkungan yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman.
Rata-rata
jumlah anakan perumpun tertinggi terlihat pada perlakuan V10 (Varietas Junjuang
= 62,14 anakan), dan terendah pada perlakuan
V9 (Varietas Padi Singgam Putih = 23,39 anakan). Rata-rata jumlah anakan
perumpun pada perlakuan V10 dipengaruhi oleh sifat genetik dari varitas
tersebut, dimana varietas Junjuang merupakan varietas unggul, yang tentu saja
telah termodifikasi sedemikian rupa untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan,
disamping sifat unggul yang dibawanya memiliki banyak kelebihan, salah satunya
adalah sangat merespon kondisi lingkungan yang menyediakan faktor –faktor
pendukung untuk pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Damardjati
dan Siwi (1982) dalam Lopulalan (2010) yang mengatakan bahwa varietas padi yang
unggul adalah varietas yangmemiliki potensi hasil yang baik, ketahanan
terhadaphama dan penyakit serta unggul dalam hal mutu ataukualitas beras.
Komponen mutu beras secara umumadalah mutu pasar yaitu mutu giling dan
penampilan,mutu masak, mutu aroma dan nilai gizi. Ditambahkan Syukur, Sriani
dan Rahmi (2012), yang mengatakan bahwa peningkatan kemampuan tanaman adalah
usaha untuk memperbaiki karakter tanaman agar diperoleh tanaman yang lebih
unggul. Usaha ini disebut pemuliaan tanaman, yang bertujuan untuk memperoleh
atau mengembangkan varietas agar lebih efisien dalam penggunaan unsur hara dan
tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik sehingga memberikan hasil tertinggi
persatuan luas.
Rerata jumlah anakan pada perlakuan V9
(Varietas Padi Singgam Putih = 23,39 anakan), disebut perlakuan yang
menghasilkan rata-rata jumlah anakan terendah, tetapi sebenarnya varietas
Singgam Putih ini adalah varietas lokal (disebut oleh masyarakat Kec. Kuantan
Mudik, dan daerah lain menyebutnya padi putih) yang merupakan turunan yang
kesekian kali dan terus digunakan oleh masyarakat lokal. Dan varietas ini belum
diketahui dengan jelas dan pasti deskripsinya, sehingga belum tentu rendahnya data
yang muncul merupakan pengaruh dari faktor lingkungan yang kurang mendukung
pertumbuhan tanaman. Karena salah satu pembeda antara varietas unggul dengan
varietas lokal adalah varietas lokal tidak terlalu respon dengan pemberian
pupuk yang berlebihan, maksudnya walaupun diberikan pupuk dalam jumlah besar,
tetap saja tanaman tidak mampu memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan
manusia, begitu sebaliknya dengan sifat dari varietas unggul. Hal ini didukung
oleh pendapat Syukur (2012) yang mengatakan adapun tujuan dari pemuliaan
tanaman yaitu untuk menghasilkan tanaman yang berdaya hasil tinggi dalam
ukuran, jumlah dan kandungan. Untuk mendapatkan tanaman yang tahan terhadap
cekaman biotik (tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman) dan Abiotik
(toleran tanah masam dan salin). Untuk mendapatkan tanaman yang berkualitas
baik rasa, aroma, warna, ukuran, dan lain-lain yang berhubungan dengan pola
makan, adat-istiadat dan moderenisasi.Untuk mendapatkan tanaman yang mempunyai
nilai estetika.
Umur muncul bunga tercepat terlihat pada
perlakuan V8 (85,67 hari) dan umur muncul bunga yang lebih lama terlihat pada
perlakuan V7 (varietas pandan wangi) yaitu 113,00 hari. Hal ini dipengaruhi
oleh karakter dari varietas yang berbada secara genetik.Sifat dari varietas
batang piaman adalah varietas unggul yang berasal dari persilangan dimana
memiliki sifat (salah satunya) adalah lebih cepat berbunga bila dibandingkan
dengan varietas lokal.Hal ini sesuai dengan pendapat (Jumin, 2008) yang
mengatakan bahwa persilangan bertujuan untuk menghasilkan suatu karakter
unggul, seperti masa juvenile yang pendek dari kecambah sampai mampu
menghasilkan bunga.Oleh karena itu umur muncul bunga dari varietas batang
piaman lebih cepat dari pada varietas padi pandan wangi.
Sebenarnya data yang diperoleh dari hasil
penelitian pada perlakuan V8 menjadi yang tercepat dalam munculnya bunga
(diantara varietas yang lain yang digunakan dalam penelitian), akan tetapi,
sebenarnya kalau dibandingkan dengan deskripsi justru terjadi keterlambatan munculnya
bunga. Sebagaimana disampaikan oleh Nopsagiarti (2012), bahwa umur berbunga
varietas batang piaman adalah rata-rata 74,83 hst, yaitu mulai dari 71 hst
sampai 77 hst. Hal ini dapat terjadi karena disamping pengaruh genetik,
lingkungan juga sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Watimena, Nurhajati, Armini, Agus, Darda, Bambang dan Nurul (2011), mengatakan
bahwa semua organisme itu terdiri dari genotipe dan fenotipe, tetapi yang
digunakan untuk pemenuhan kehidupan baik kubutuhan jasmaniah maupun kebutuhan
rohaniah adalah fenotipe dan bukan genotipe. Fenotipe berupa ekspresi dari
genotip sebagai hasil interaksi genotip dengan lingkungan.
Dari Tabel 1 diatas menunjukan
bahwa perlakuan V7 (Varietas Pandan Wangi = 113 hst), disebut perlakuan yang
muncul bunganya lebih lama, tetapi sebenarnya varietas pandan wangi ini tidak
jauh berbeda dengan deskripsi umur muncul bunganya. Dimana dari hasil
penelitian Sudarman (2003) bahwa umur muncul bunga tanaman padi varietas pandan
wangi adalah 110 hst. Artinya varietas pandan wangi mampu beradaptasi,
berinteraksi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan, dimana diketahui bahwa
varietas ini adalah varietas lokal daerah Banyumas.
Umur panen, jumlah
anakan produktif, berat basah dan berat kering tanamanpadi (Oryza sativa. L)
Dari Tabel 2 dibawah menunjukkan bahwa umur
panen tercepat terlihat pada perlakuan V10 (Varietas
Junjuang) yaitu 114,00hst dan umur panen yang lebih lama terlihat pada
perlakuan V7 (Varietas Pandan Wangi) yaitu 149,00 hst. Cepat umur panen pada
varietas Junjuang karena pengaruh dari cepatnya proses muncul bunga pada
varietas ini. Cepatnya umur tanaman atau umur panen pada perlakuan V10 bukanlah
hal yang positif, tetapi justru merupakan hal negatif. Dimana berdasarkan
deskripsi umur panen varietas junjuang ini adalah 155 hst. Hal ini dapat
terjadi karena pengaruh dari lingkungan.Lingkungan dapat dibagi menjadi dua
yaitu lingkungan biotik dan abiotik. Dalam hal ini yang lebih mempengaruhi
adalah lingkungan biotik, seperti gangguan dari hama yang menyerang tanaman
mulai dari masa pengisian biji. Hamanya adalah walang sangit (pianggang = Leptoricoriza acuta Thumb), yang
menyerang tanaman pada masa pengisian biji. Sehingga apabila tidak dikendalikan
dengan baik akan berpengaruh kepada umur panen dan akan menyebabkan produksi
menjadi rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat (Prastyo, 2008) yang mengatakan
bahwa walang sangit adalah salah satu hama yang sering muncul pada budidaya
padi, dimana gejala yang ditimbulkan dari serangan hama ini adalah tamapk butir
padi yang menjadi hampa atau setengah hampa. Pada butir yang terserang terdapat
lubang bekas tusukan berupa bintik abu-abu kekuningan.
Peningkatan produksi padi seringkali
mengalami kegagalan karena adanya kendala botik dan abiotik. Kendala biotik
berupa serangan hama dan penyakit, sedangkan kendala abiotik berupa tekanan
lingkungan yang bersifat fisiologis seperti kelebihan atau kekurangan air,
kelebihan atau kekurangan unsur hara, suhu rendah atau tinggi serta kabut
(Anwar, 1992).
Tabel 2 dibawah dapat dilihat bahwa Perlakuan
V7 (Varietas Pandan Wangi) menunjukkan umur panen yang lebih lama yaitu 149,00
hst. Sebenarnya kalau dibandingkan dengan deskripsi, data tersebut justru umur
panennya lebih cepat. Karena menurut deskripsi umur tanaman atau umur panennya
adalah 155 hst. Namun bila dibandingkan dengan varietas lain yang diuji,
varietas ini paling lama umur panennya. Faktor yang menyebabkan varietas ini
lebih cepat umur panennya karena kodisi atau factor lingkungan yang mendukung
perkembangan tanaman.Hal ini sesuai dengan pendapat (Crowder, 1990), yang
mengatakan bahwa kenampakan suatu fenotipe tergantung dari sifat hubungan
antara genotipe dan lingkungan.selain genetik, lingkungan juga berpengaruh.
Salah satu contoh faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman adalah tanah, dimana tanah merupakan medium alam tempat
tumbuhnya tumbuhan dan tanaman yang tersusun dari bahan-bahan padat, cair dan
gas.Hal ini sesuai dengan pendapat (Jumin, 2008), yang mengatakan bahwa tanah
(untuk kehidupan tanaman) mempunyai fungsi sebagai tempat berdiri tegak dan
bertumpunya tanaman, sebagai medium tumbuh yang menyediakan hara dan pertukaran
hara antara tanaman dengan tanah serta sebagai penyedia dan gudangnya air bagi
tanaman.
Tabel 2.Rerata umur
panen, jumlah anakan produktif, berat basah dan berat kering tanamanpadi (Oryza sativa. L) dengan perlakuan varietas.
|
Varietas
|
Rerata
Umur Panen
|
Rerata
Jumlah Anakan Produktif
|
Rerata
Berat Basah
|
Rerata
Berat Kering
|
|
V1 (Anak Daro)
|
116.67 ab
|
35.08 b
|
4.72 d
|
0.86 c
|
|
V2 (Padi Wawan)
|
129.00 d
|
27.64 bc
|
17.18 a
|
5.84 a
|
|
V3 (Padi Kuning)
|
126.00 c
|
26.94 bc
|
15.02 ab
|
5.60 ab
|
|
V4 (Padi Malaysia)
|
127.00 cd
|
26.52 bc
|
13.21 b
|
5.41 b
|
|
V5 (Padi Gledek)
|
127.33 cd
|
26.58 bc
|
17.03 a
|
5.63 ab
|
|
V6 (Padi Adam)
|
116.33 ab
|
31.36 bc
|
3.91 d
|
0.84 c
|
|
V7 ((Pandan Wangi)
|
149.00 e
|
24.11 c
|
17.17 a
|
5.75 ab
|
|
V8 (Batang Piaman)
|
117.67 b
|
24.24 c
|
6.98 cd
|
0.93 c
|
|
V9 (Singgam Putih)
|
129.00 d
|
22.03 c
|
13.99 ab
|
5.44 b
|
|
V10 (Junjuang)
|
114.00 a
|
58.75 a
|
8.72 c
|
0.98 c
|
|
BNJ V = 2,90
|
BNJ V = 10,17
|
BNJ V = 3,45
|
BNJ
V = 0,35
|
Angka-angka pada kolom dan baris
yang diikuti huruf kecil yang samamenunjukkan berbeda tidak nyata menurut BNJ
pada taraf 1%.
Dari Tabel 2 diatas terlihat bahwa rata-rata
jumlah anakan produktif tertinggi terdapat pada perlakuan V10 (Varietas
Junjuang = 58,75 anakan), dan terendah pada perlakuan V9 (Varietas Padi Singgam Putih = 22,03
anakan). Rata-rata jumlah anakan produktif pada perlakuan V10 dipengaruhi oleh
karakter atau sifat dari varietas junjuang yang termasuk kedalam golongan
varietas unggul yang berasal dari hasil pemuliaan tanaman yaitu persilangan
atau hibridisasi. Disamping sifat genetik respon dari masing – masing varietas
tentu saja akan berbeda terhadap lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat
(Siregar, Suparman dan Siregar, 1993), yang mengatakan bahwa interaksi faktor
genetik tanaman padi dengan lingkungan berperan penting dalam pengujian daya
hasil galur-galur padi.Tinggi rendahnya hasil padi dipengaruhi oleh komponen
hasil yang meliputi jumlah malai tiap rumpun, jumlah gabah tiap malai, bobot
1.000 butir gabah isi, dan persentase gabah isi.Lebih jauh komponen hasil
dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan, seperti pupuk, jarak
tanam dan radiasi (Taslim, Partohardjono dan Djunainah, 1989).
Perlakuan V9 (Varietas Padi Singgam Putih)
adalah perlakuan jumlah anakan produktif terendah yaitu 22,03 anakan, varietas
ini merupakan varietas lokal (padi putih). Biasanya petani lokal menggunakan
varietas ini secara turun temurun dari datuk moyang, dan benih yang digunakan
sudah turunan yang tidak terhitung lagi. Biji, yang dapat digunakan sebagai
benih ada ketentuannya, yaitu bermutu, karena ada masanya benih tersebut akan
menunjukkan atau memunculkan sifat tidak baiknya disuatu waktu. Hal ini yang
menyebabkan jumlah anakan produktif pada varietas singgam putih menjadi rendah.
Menurut Sadjad, 1972 dalam Ichsan (2006)
yang mengatakan bahwa Mutu benih mencakup mutu genetis, mutu fisiologis dan
mutu fisis. Mutu genetis ditentukan oleh derajat kemurnian genetis sedangkan
mutu fisiologis ditentukan oleh laju kemunduran dan vigor benih.Mutu fisis
ditentukan oleh kebersihan fisis. Disamping faktor diatas, faktor lain yang
mempengaruhi rendahnya varietas singgam putih adalah responnya terhadap pemupukan
yang berbeda dengan varietas unggul. Sadjad (1993) dalam Ichsan (2006),
menyatakan bahwa ketahanan terhadap faktor pembatas juga dipengaruhi oleh mutu
genetis yang dicerminkan oleh varietas.Varietas ini belum diketahui dengan
jelas dan pasti deskripsinya.Karena salah satu pembeda antara varietas unggul
dengan varietas lokal adalah varietas lokal tidak respon dengan pemberian pupuk
yang lebih. Walaupun diberikan pupuk dalam jumlah besar, tetap saja tanaman
tidak mampu memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan manusia, bahkan
mungkin akan menyebabkan kehilangan atau kekurangan hasil akibat dari dampak
kelebihan unsur hara.
Hal ini sesuai dengan pendapat Agustina
(2004), yang mengatakan salah satu fenomena respon tanaman terhadap nutrisi
tanaman adalah Hukum Minimum Leibig yang artinya : ”Laju pertumbuhan tanaman
diatur oleh adanya faktor yang berada pada jumlah minimum dan besar kecilnya
laju pertumbuhan ditentukan oleh peningkatan dan penurunan faktor yang berada
dalam jumlah minimum tersebut”. Dimana diperoleh gambaran bahwa status nutrisi
tanaman yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman pada saat nutrisi yang
diberikan sedikit/kurang maka pertumbuhan tanaman akan lambat. Pada saat
nutrisi yang diberikan cukup maka pertumbuhan tanaman akan normal dan pada saat
nutrisi yang diberikan terlalu banyak/berlebihan, maka pertumbuhan tanaman akan
terganggu atau tanaman akan keracunan.
Rata-rata berat basah tertinggi terlihat pada
perlakuan V2 (Varietas Padi Wawan = 17,18 ton/ha), dan terendah pada perlakuan V6 (Varietas Padi Adam = 3,91 ton/ha).
Rata-rata berat basah tertinggi terlihat pada perlakuan V2 dan terendah pada
perlakuan V6, dimana hal ini dipengaruhi oleh karakter atau sifat dari
masing-masing varietas padi yang dan kemampuannya beradaptasi dengan
lingkungan. Belum diketahui dengan jelas
deskripsi kedua varietas ini, namun dari hasil penelitian kali ini dapat
dianalisa bahwa faktor genetik akan berpengaruh terhadap hasil, karena ada
hubungan antara umur muncul bunga dan umur panen (umur tanaman) dengan hasil
atau produksi. Seperti genjahnya umur tanaman (cepatnya umur panen
tanaman).Analisanya, ketika ditanam antara varietas yang genjah dengan yang
lokal secara bersamaan, yang terjadi adalah peluang untuk gagal panen lebih
besar terjadi pada varietas yang berumur genjah. Karena umur genjah akan
mempengaruhi umur muncul bunga dan umur panen yang lebih cepat, yang akan
berpengaruh terhadap serangan hama seperti pianggang (walang sangit) dan burung
pipit. Pencegaha hama ini cukup berat, apalagi kalau tehnik budidaya yang
digunakan tidak dilakukan dengan benar dan tepat. Maka kehilangan hasil akan
terjadi sangat tinggi, akhirnya kerugian yang diperoleh. Andoko (2007),
mengatakan bahwa hama walang sangit dapat dicegah dengan cara teknik budidaya, secara
biologis, secara fisik dan secara kimia. Upaya dengan cara tehnik budidaya,
selain menggunakan tehnik rotasi tanaman, penanaman benih dan bibit yang
seragam merupakan salah satu cara dalam mendapatkan hasil yang diinginkan.
Dari Tabel 2 di
atas menunjukan bahwa perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap berat kering, dimana perlakuan yang menunjukkan rerata tertinggi yaitu 5,84ton/ha pada perlakuan V2 (Varietas
Padi Wawan), perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan V3,
V5 dan V7, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan V1, V4, V6, V8, V9
dan V10.
Rata-rata berat basah tertinggi terlihat pada
perlakuan V2 (Varietas Padi Wawan = 5,84 ton/ha), dan terendah pada
perlakuan V6 (Varietas Padi Adam = 0,84
ton/ha). Rata-rata berat basah tertinggi terlihat pada perlakuan V2 dan
terendah pada perlakuan V6, dimana hal ini dipengaruhi oleh karakter atau sifat
dari masing-masing varietas padi yang dan kemampuannya beradaptasi dengan
lingkungan. Berhubungan dengan pembahasan pada berat basah, dimana deskripsi
kedua varietas ini belum diketahui dengan jelas dan pasti, namun dari hasil
penelitian kali ini tingginya produksi dari varietas padi wawan dan rendahnya
produksi dari varietas padi adam disebabkan karena faktor genetik yang merespon
kondisi lingkungan. Secara genetik berhubungan dengan umur panen (cepat dan
lamanya umur tanaman) dan sifat resistensi terhadap serangan hama dan penyakit.
Menurut Jumin (2008) dalam agronomi salah satu tujuan pemuliaan tanaman adalah
memperoleh tanaman yang memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit dan hama
baik dilapangan maupun pada penyimpanan.
Secara lingkungan berhubungan dengan
pengolahan tanah, irigasi, pupuk dan pemupukan dan pengendalian hama dan
penyakit. Tujuan pengolahan tanah
menyiapkan tempat pertumbuhan benih dan bibit yang serasi dan baik,
menghindarkan saingan terhadap tumbuhan pengganggu, serta memperbaiki
sifat-sifat fisik, kimia dan biologis tanah.Air merupakan bahan yang sangat
penting bagi kehidupan tanaman.Kekurangan air dapat menyebabkan gangguan perkembangan
morfologis dan fisiologis tanaman. Oleh karena itu salah satu ilmu yang
mengkaji dan membahas tentang masalah air bagi pertanian adalah ilmu irigasi,
dimana Jumin (2008), mengatakan bahwa kegunaan air irigasi adalah untuk
mempermudah pengolahan tanah, mengatur suhu tanah dan iklim mikro, dan
membersihkan tanah dari kotoran, kadar unsur-unsur racun, garam dan asam yang
berlebihan, serta menekan pertumbuhan gulma, hama dan penyakit tanaman.
KESIMPULAN
Parameter pengamatan Berat Kering perlakuan V2 (Varietas
Padi Wawan) adalah perlakuan yang menunjukkan rerata
tertinggi yaitu 5,84ton/ha,
sedangkan hasil terendah terdapat pada perlakuan V6 (Varietas Padi Adam yaitu
0,84 ton/ha). Pada parameter pengamatan jumlah anakan produktif perlakuan yang menunjukkan rerata tertinggiadalah perlakuanV10 (Varietas
Junjuang)dengan jumlah anakan 58,75.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina L, 2004, Dasar Nutrisi, PT. Rineka Cipta, Jakarta
Anwar, M, 1992, Pemuliaan Tanaman Padi Prosiding Simposium Pemuliaan Tanaman I.
Perhimpunan Pemuliaan Tanaman Indonesia Komisariat Jawa Timur.Pusat Penelitian
dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor
Crowder LV, 1990, Genetika Tumbuhan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Damardjati,
D.S. dan B.H. Siwi. 1982. Kadar dan MutuProtein Beras serta Permasalahannya. Makalah yang disampaikan dalam Simposium
Nasional Pangan dan Gizi.26-28 Nopember.Yogyakarta.
Ichsan cn, 2006, UjiViabilitas dan Vigor Benih Beberapa
Varietas Padi (oryza sativa l.) Yang Diproduksi Pada Temperatur Yang
Berbeda Selama KemasakanJurnal. Floratek 2 : 37 – 42
Jumin HB, 2008, Dasar-dasar Agronomi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Lopulalan C. G. C., 2010, Analisa Ketahanan
Beberapa Varietas Padi Terhadap Serangan Hama Gudang, (Sitophilus zeamais
Motschulsky),Jurnal Budidaya Pertanian
Volume 6, Nomor 1
Makmur. A, 1985, Pengantar Pemuliaan Tanaman, Bina Aksara, Jakarta
Nopsagiarti, T, 2012, Uji Berbagai Varietas dan Pemberian
Pupuk Agrobost terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Sawah (oryza
sativa. L), Jurnal green swarnadwipa,
vol. 2 no. 2
Prastyo YT, 2008, Bertanam Padi Gogo Tanpa Olah Tanah (edisi revisi), Penebar
Swadaya, Jakarta
Purwono. MS dan Heni,P, 2009, Budidaya Delapan Jenis Tanaman Pangan Unggul,
Penebar Swadaya, Jakarta
Sadjad, S. 1972. Kekuatan
tumbuh benih.Penataran penyuluhan pertanian spesialis.Bagian Penataran
BIMAS. Departemen Agronomi IPB. Bogor
Sadjad, S. 1993. Dari benih kepada benih. Grasindo,
Jakarta
Siregar, H. E,
Suparman. Siregar, B, 1993, Daya hasil Galur harapan padi sawah dan
interaksinya dengan lingkungan, Prosiding
pertanian 13 (1) : 12-15
Sudarman O, 2003, Tehnik Pengujian Galur
Harapan dan Varietas Padi pada Beberapa Perlakuan Pemupukan, Buletin Pertanian, Vol 8 nomor 2
Sutedjo MM, 2008, Pupuk dan Cara Pemupukan, Rineka Cipta, Jakarta
Syukur M, Sriani S, Rahmi Y, 2012, Teknik Pemuliaan Tanaman, Penebar
Swadaya, Jakarta
Tambing. Y, 1997, Pengaruh Natrium Nitrat dan
Cekaman air Pada Fase Reproduktif Terhadap Pertumbuhan Pembungaan dan Hasil
Kedelai(Glycine max (L) Merrill), Thesis
Program Pascasarjana IPB, Bogor
Taslim.H, S. Partohardjono dan Djunainah,
1989, Bercocok tanam padi sawah. Padi
Buku 2.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor
Wattimena GA, Nurhajayti AM, NM Amini W, Agus
P, Darda E, Bamabang SP dan Nurul K, 2011, Bioteknologi
dalam Pemuliaan, Penerbit IPB Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar