Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 63-70


Pengkajian Varietas terhadap Pertumbuhan dan Produksi
Padi Sawah (Oryza sativa. L) Irigasi di Desa Petapahan Kecamatan Gunung Toar
Kabupaten Kuantan Singingi

Elfi Indrawanis, Chairil Ezward dan Mashadi
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Kuantan Singingi. Teluk Kuantan Riau. Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake 29562,

ABSTRACT

The purpose of this research was to determine the varieties of paddy rice (oryza sativa. L) the right to be cultivated in paddy fields with irrigation systems in the Village District of Gunung Toar Petapahan Singingi Kuantan district. The experiment was conducted by using a randomized block design (RBD) Non-factorial, with the level of treatment is rice varieties,  V1 = Anak Daro Variety, V2 = Wawan Variety, V3 = Kuning Variety, V4 = Malaysia Variety, V5 = Gledek variety, V6 = Adam variety, V7 = Pandan Wangi variety, V8 = Batang Piaman variety, V9 = Singgam Putih variety, dan V10 = Junjuang variety. The data were analyzed using analysis of variance to test Real Honest further difference (HSD) at the level of 1%. The results showed that the highest mean dry weight of 5.84 ton / ha in treatment V2 (Henry Rice Varieties), while the lowest for the treatment outcome V6 (Adam Rice Varieties = 0.84 tons / ha). In observation of the number of productive tillers  which showed the highest mean of 58.75 tillers, on treatment V10 (Junjuang Variety).

Keywords: varieties, paddy rice (Oryza sativa L.)


PENDAHULUAN

Pertanian merupakan suatu tindakan dalam memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk kemudian dikelola yang akan menghasilkan bahan pangan maupun industri. Pertanian dalam bidang ilmu budidaya tanaman (Agro) dikelompokan menjadi budidaya tanaman perkebunan, hortikultura, hutan tanaman industri, hutan tanaman produksi dan budidaya tanaman pangan.
Di Indonesia dalam pengembangan budidaya tanaman pangan dikembangkan beberapa komoditi tanaman, seperti kacang tanah, kedelai, jagung dan padi. Padi (Oryza sativa L.) di Indonesia merupakan makanan pokok, karena padi yang perannya sebagai bahan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia menyumbang 77,4 gr karbohidrat, 12 gr air,   7,5 gr protein, 1,9 gr lemak dan serat 0,9 gr (Purwono dan Heni, 2009).
Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia membuat kebutuhan akan pangan juga ikut meningkat. Produksi padi di Indonesia saat ini belum mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga sampai sekarang Indonesia masih mengimpor beras dari Negara seperti Cina dan Thailand.
Di Propinsi Riau dan Kabupaten Kuantan Singingi khusunya, laju pertumbuhan jumlah penduduk setiap tahunnya terus meningkat.Hal ini baik disebabkan oleh migrasi maupun tingginya tingkat kelahiran.
Kabupaten Kuantan Singingi mempunyai potensi pertanian yang sangat besar untuk dikembangkan.Daya dukung dan luas lahan yang besar, lebih dari setengah jumlah penduduk bekerja pada sektor pertanian dengan keterampilan dasar yang dimiliki, pasar yang tersedia dengan infrastruktur yang sedang digalakkan, merupakan modal dasar untuk pengembangan agribisnis.Namun terkadang masih ada juga hal yang sangat perlu untuk diperhatikan yaitu pola pendistribusian hasil panen padi yang belum jelas.
Pemerintah daerah Kuantan Singingi melalui Dinas Tanaman Pangan terus berupaya untuk meningkatkan produksi dan produktifitas lahan padi dengan berbagai cara, seperti dengan membuka lahan sawah baru, menanam padi dua kali satu tahun, penggunaan pola tanam seperti pola legowo dan metode Sistem Rice Intensification (SRI).
Selain migrasi dan tingkat kelahiran,faktor lain yang menyebabkan produksi padi setiap tahunnya tidak dapat memenuhi kebutuhan akan suatu daerah adalah hasil atau produksi tanaman padi yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu untuk mengatasi kekurangan beras, pemerintah daerah Riau memasok beras dari Propinsi lain, seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.
Upaya lain yang dapat dilakukan dalam pengembangan dan meningkatkan ketersediaan pangan yaitu dengan pengkajian varietas-varietas baru yang telah ada saat ini, yang sesuai dengan lingkungan dan selera masyarakat sekitar. Seperti pengunaan varietas – varietas unggul lokal Sumatera Barat (Anak daro, batang piaman dan junjuang).
Pemilihan varietas juga sangat mempengaruhi hasil dan konsumsi masyarakat.Karena tidak hanya hasil yang maksimal yang diharapkan oleh masyarakat, tetapi rasa, tekstur nasi juga merupakan pertimbangan masyarakat dan petani dalam mengkonsumsi serta dalam berbudidaya padi.Oleh karena itu para ahli pemulia tanaman terus melakukan persilangan atau mencoba memperoleh suatu varietas yang dapat memberikan hasil yang terbaik.Baik kepada hasil dan baik kepada lingkungan.Dimana menurut Makmur (1985), yang mengatakan bahwa pemuliaan tanaman adalah suatu metoda yang secara sistematik merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.


BAHAN DAN METODE

Tempat dan waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Petapahan, Kecamatan Gunung Toar. Penelitian ini berlangsung selama 5 bulan yang dimulai pada bulan Oktober 2013 sampai dengan Maret 2014.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi varietas Anak Daro, Padi Wawan, Padi Kuning, Padi Malaysia, Padi Gledek, Padi Adam, Pandan Wangi, Batang Piaman, Singgam Putih dan Sijunjung, digunakan pula pupuk kompos/bokhasi serbuk gergaji, pupuk Urea, pupuk TSP. Adapun alat yang digunakan yaitu cangkul, parang, tali, meteran, karung, kamera, gergaji, dan alat tulis lainnya.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial, dimana masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Dengan demikian penelitian ini terdiri dari 30 unit percobaan, yang terdiri dari 16 tanaman perplot dan 12 diantaranya dijadikan sampel. Jumlah tanaman keseluruhan 480 tanaman. Adapun taraf perlakuannya adalah : V1 = Varietas Anak Daro, V2 = Varietas Padi Wawan, V3 = Varietas Padi Kuning, V4 = Varietas Padi Malaysia, V5 = Varietas Padi Gledek, V6 = Varietas Padi Adam, V7 = Varietas Pandan Wangi, V8 = Varietas Batang Piaman, V9 = Varietas Singgam Putih, dan V10 = Varietas Junjuang.
Pengamatan terhadap tanaman meliputi parameter pertumbuhan dan produksi yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan perumpun, umur muncul bunga, umur panen, jumlah anakan produktif, berat basah dan berat kering. Seluruh data dianalisis secara statistic dab jika F hitung lebih besar dari F  Tabel maka dilakukan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi tanaman, jumlah anakan perumpun dan umur muncul bunga tanamanpadi
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan perumpun dan umur muncul bunga tanamanpadi. Hasil uji lanjut BNJ pada taraf 1% dapat di lihat pada Tabel 1.



Tabel 1.    Rerata tinggi tanaman, jumlah anakan perumpun dan umur muncul bunga tanamanpadi (Oryza sativaL.) dengan perlakuan varietas
Varietas
Rerata Tinggi Tanaman
Rerata Jumlah Anakan Perumpun
Rerata Umur Muncul Bunga
V1 (Anak Daro)
130.94 abc
44.14 b
87.67    ab
V2 (Padi Wawan)
124.14 c
28.94 d
106.67  de
V3 (Padi Kuning)
115.27 cd
30.08 d
103.67  cde
V4 (Padi Malaysia)
100.50 d
30.05 d
95.67    bc
V5 (Padi Gledek)
121.80 c
30.89 cd
99.33    cd
V6 (Padi Adam)
140.77 ab
42.78 bc
86.33    a
V7(Pandan Wangi)
104.39 d
24.47 d
113.00  e
V8 (Batang Piaman)
129.58 abc
30.50 d
85.67    a
V9 (Singgam Putih)
125.69 bc
23.39 d
98.33    cd
V10 (Junjuang)
142.19 a
62.14 a
87.33    ab

BNJ V = 15,70
BNJ V = 12,05
BNJ V = 8,43
Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti huruf kecil yang samamenunjukkan berbeda tidak nyata menurut BNJ pada taraf 1%.



Tabel 1 di atas menunjukkan  tanaman tertinggi terlihat pada perlakuan V10 (Varietas Junjuang = 142,19 cm), dan tanaman terendah pada perlakuan  V4 (Varietas Padi Malaysia = 100,50 cm). Tinggi tanaman pada perlakuan V10 dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan, dimana sifat bawaan dari varietas tanaman yang pertumbuhannya didukung oleh ketersediaan air dan hara. Tambing (1997) mengatakan bahwa tanaman akan menjadi pendek apabila kekurangan unsur hara. Dalam proses fisiologi tanaman, air dan unsur hara sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, hal ini karena tanaman terdiri dari bahan organik dan bahan an-organik. Menurut Sutedjo (2008), yang mengatakan dari hasil penelitian para ahli telah menunjukkan bahwa tanaman itu terdiri dari air (±90%) dan bahan kering (±10%). Bahan kering terdiri dari bahan-bahan organik dan an-organik. Menurut  analisa kimia ternyata bahan organik terdiri dari Karbon (C) 47%, Hidrogen (H) 7%, Oksigen (O) 44%, dan Nitrogen (N) 0,2 - 2%. Sedangkanbahan an-organik adalah merupakan bagian-bagian mineral atau abu.
Pada perlakuan V4 (Varietas Padi Malaysia = 100,50 cm), disebut perlakuan yang terendah, tetapi sebenarnya varietas Malaysia ini belum diketahui dengan jelas dan pasti deskripsinya, sehingga belum tentu rendahnya data yang muncul merupakan pengaruh dari faktor lingkungan yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman.
Rata-rata jumlah anakan perumpun tertinggi terlihat pada perlakuan V10 (Varietas Junjuang = 62,14 anakan), dan terendah pada perlakuan  V9 (Varietas Padi Singgam Putih = 23,39 anakan). Rata-rata jumlah anakan perumpun pada perlakuan V10 dipengaruhi oleh sifat genetik dari varitas tersebut, dimana varietas Junjuang merupakan varietas unggul, yang tentu saja telah termodifikasi sedemikian rupa untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan, disamping sifat unggul yang dibawanya memiliki banyak kelebihan, salah satunya adalah sangat merespon kondisi lingkungan yang menyediakan faktor –faktor pendukung untuk pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Damardjati dan Siwi (1982) dalam Lopulalan (2010) yang mengatakan bahwa varietas padi yang unggul adalah varietas yangmemiliki potensi hasil yang baik, ketahanan terhadaphama dan penyakit serta unggul dalam hal mutu ataukualitas beras. Komponen mutu beras secara umumadalah mutu pasar yaitu mutu giling dan penampilan,mutu masak, mutu aroma dan nilai gizi. Ditambahkan Syukur, Sriani dan Rahmi (2012), yang mengatakan bahwa peningkatan kemampuan tanaman adalah usaha untuk memperbaiki karakter tanaman agar diperoleh tanaman yang lebih unggul. Usaha ini disebut pemuliaan tanaman, yang bertujuan untuk memperoleh atau mengembangkan varietas agar lebih efisien dalam penggunaan unsur hara dan tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik sehingga memberikan hasil tertinggi persatuan luas.
Rerata jumlah anakan pada perlakuan V9 (Varietas Padi Singgam Putih = 23,39 anakan), disebut perlakuan yang menghasilkan rata-rata jumlah anakan terendah, tetapi sebenarnya varietas Singgam Putih ini adalah varietas lokal (disebut oleh masyarakat Kec. Kuantan Mudik, dan daerah lain menyebutnya padi putih) yang merupakan turunan yang kesekian kali dan terus digunakan oleh masyarakat lokal. Dan varietas ini belum diketahui dengan jelas dan pasti deskripsinya, sehingga belum tentu rendahnya data yang muncul merupakan pengaruh dari faktor lingkungan yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman. Karena salah satu pembeda antara varietas unggul dengan varietas lokal adalah varietas lokal tidak terlalu respon dengan pemberian pupuk yang berlebihan, maksudnya walaupun diberikan pupuk dalam jumlah besar, tetap saja tanaman tidak mampu memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan manusia, begitu sebaliknya dengan sifat dari varietas unggul. Hal ini didukung oleh pendapat Syukur (2012) yang mengatakan adapun tujuan dari pemuliaan tanaman yaitu untuk menghasilkan tanaman yang berdaya hasil tinggi dalam ukuran, jumlah dan kandungan. Untuk mendapatkan tanaman yang tahan terhadap cekaman biotik (tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman) dan Abiotik (toleran tanah masam dan salin). Untuk mendapatkan tanaman yang berkualitas baik rasa, aroma, warna, ukuran, dan lain-lain yang berhubungan dengan pola makan, adat-istiadat dan moderenisasi.Untuk mendapatkan tanaman yang mempunyai nilai estetika.
Umur muncul bunga tercepat terlihat pada perlakuan V8 (85,67 hari) dan umur muncul bunga yang lebih lama terlihat pada perlakuan V7 (varietas pandan wangi) yaitu 113,00 hari. Hal ini dipengaruhi oleh karakter dari varietas yang berbada secara genetik.Sifat dari varietas batang piaman adalah varietas unggul yang berasal dari persilangan dimana memiliki sifat (salah satunya) adalah lebih cepat berbunga bila dibandingkan dengan varietas lokal.Hal ini sesuai dengan pendapat (Jumin, 2008) yang mengatakan bahwa persilangan bertujuan untuk menghasilkan suatu karakter unggul, seperti masa juvenile yang pendek dari kecambah sampai mampu menghasilkan bunga.Oleh karena itu umur muncul bunga dari varietas batang piaman lebih cepat dari pada varietas padi pandan wangi.
Sebenarnya data yang diperoleh dari hasil penelitian pada perlakuan V8 menjadi yang tercepat dalam munculnya bunga (diantara varietas yang lain yang digunakan dalam penelitian), akan tetapi, sebenarnya kalau dibandingkan dengan deskripsi justru terjadi keterlambatan munculnya bunga. Sebagaimana disampaikan oleh Nopsagiarti (2012), bahwa umur berbunga varietas batang piaman adalah rata-rata 74,83 hst, yaitu mulai dari 71 hst sampai 77 hst. Hal ini dapat terjadi karena disamping pengaruh genetik, lingkungan juga sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Watimena, Nurhajati, Armini, Agus, Darda, Bambang dan Nurul (2011), mengatakan bahwa semua organisme itu terdiri dari genotipe dan fenotipe, tetapi yang digunakan untuk pemenuhan kehidupan baik kubutuhan jasmaniah maupun kebutuhan rohaniah adalah fenotipe dan bukan genotipe. Fenotipe berupa ekspresi dari genotip sebagai hasil interaksi genotip dengan lingkungan.
Dari Tabel 1 diatas menunjukan bahwa perlakuan V7 (Varietas Pandan Wangi = 113 hst), disebut perlakuan yang muncul bunganya lebih lama, tetapi sebenarnya varietas pandan wangi ini tidak jauh berbeda dengan deskripsi umur muncul bunganya. Dimana dari hasil penelitian Sudarman (2003) bahwa umur muncul bunga tanaman padi varietas pandan wangi adalah 110 hst. Artinya varietas pandan wangi mampu beradaptasi, berinteraksi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan, dimana diketahui bahwa varietas ini adalah varietas lokal daerah Banyumas.

Umur panen, jumlah anakan produktif, berat basah dan berat kering tanamanpadi (Oryza sativa. L)

Dari Tabel 2 dibawah menunjukkan bahwa umur panen tercepat terlihat pada perlakuan V10 (Varietas Junjuang) yaitu 114,00hst dan umur panen yang lebih lama terlihat pada perlakuan V7 (Varietas Pandan Wangi) yaitu 149,00 hst. Cepat umur panen pada varietas Junjuang karena pengaruh dari cepatnya proses muncul bunga pada varietas ini. Cepatnya umur tanaman atau umur panen pada perlakuan V10 bukanlah hal yang positif, tetapi justru merupakan hal negatif. Dimana berdasarkan deskripsi umur panen varietas junjuang ini adalah 155 hst. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh dari lingkungan.Lingkungan dapat dibagi menjadi dua yaitu lingkungan biotik dan abiotik. Dalam hal ini yang lebih mempengaruhi adalah lingkungan biotik, seperti gangguan dari hama yang menyerang tanaman mulai dari masa pengisian biji. Hamanya adalah walang sangit (pianggang = Leptoricoriza acuta Thumb), yang menyerang tanaman pada masa pengisian biji. Sehingga apabila tidak dikendalikan dengan baik akan berpengaruh kepada umur panen dan akan menyebabkan produksi menjadi rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat (Prastyo, 2008) yang mengatakan bahwa walang sangit adalah salah satu hama yang sering muncul pada budidaya padi, dimana gejala yang ditimbulkan dari serangan hama ini adalah tamapk butir padi yang menjadi hampa atau setengah hampa. Pada butir yang terserang terdapat lubang bekas tusukan berupa bintik abu-abu kekuningan.
Peningkatan produksi padi seringkali mengalami kegagalan karena adanya kendala botik dan abiotik. Kendala biotik berupa serangan hama dan penyakit, sedangkan kendala abiotik berupa tekanan lingkungan yang bersifat fisiologis seperti kelebihan atau kekurangan air, kelebihan atau kekurangan unsur hara, suhu rendah atau tinggi serta kabut (Anwar, 1992).
Tabel 2 dibawah dapat dilihat bahwa Perlakuan V7 (Varietas Pandan Wangi) menunjukkan umur panen yang lebih lama yaitu 149,00 hst. Sebenarnya kalau dibandingkan dengan deskripsi, data tersebut justru umur panennya lebih cepat. Karena menurut deskripsi umur tanaman atau umur panennya adalah 155 hst. Namun bila dibandingkan dengan varietas lain yang diuji, varietas ini paling lama umur panennya. Faktor yang menyebabkan varietas ini lebih cepat umur panennya karena kodisi atau factor lingkungan yang mendukung perkembangan tanaman.Hal ini sesuai dengan pendapat (Crowder, 1990), yang mengatakan bahwa kenampakan suatu fenotipe tergantung dari sifat hubungan antara genotipe dan lingkungan.selain genetik, lingkungan juga berpengaruh. Salah satu contoh faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah tanah, dimana tanah merupakan medium alam tempat tumbuhnya tumbuhan dan tanaman yang tersusun dari bahan-bahan padat, cair dan gas.Hal ini sesuai dengan pendapat (Jumin, 2008), yang mengatakan bahwa tanah (untuk kehidupan tanaman) mempunyai fungsi sebagai tempat berdiri tegak dan bertumpunya tanaman, sebagai medium tumbuh yang menyediakan hara dan pertukaran hara antara tanaman dengan tanah serta sebagai penyedia dan gudangnya air bagi tanaman.


Tabel 2.Rerata umur panen, jumlah anakan produktif, berat basah dan berat kering tanamanpadi (Oryza sativa. L) dengan perlakuan varietas.
Varietas
Rerata Umur Panen
Rerata Jumlah Anakan Produktif
Rerata Berat Basah
Rerata Berat Kering
V1 (Anak Daro)
116.67 ab
35.08 b
4.72   d
0.86 c
V2 (Padi Wawan)
129.00 d
27.64 bc
17.18 a
5.84 a
V3 (Padi Kuning)
126.00 c
26.94 bc
15.02 ab
5.60 ab
V4 (Padi Malaysia)
127.00 cd
26.52 bc
13.21 b
5.41 b
V5 (Padi Gledek)
127.33 cd
26.58 bc
17.03 a
5.63 ab
V6 (Padi Adam)
116.33 ab
31.36 bc
3.91   d
0.84 c
V7 ((Pandan Wangi)
149.00 e
24.11 c
17.17 a
5.75 ab
V8 (Batang Piaman)
117.67 b
24.24 c
6.98   cd
0.93 c
V9 (Singgam Putih)
129.00 d
22.03 c
13.99 ab
5.44 b
V10 (Junjuang)
114.00 a
58.75 a
8.72   c
0.98 c

BNJ V = 2,90
BNJ V = 10,17
BNJ V = 3,45
BNJ V = 0,35
Angka-angka pada kolom dan baris yang diikuti huruf kecil yang samamenunjukkan berbeda tidak nyata menurut BNJ pada taraf 1%.


Dari Tabel 2 diatas terlihat bahwa rata-rata jumlah anakan produktif tertinggi terdapat pada perlakuan V10 (Varietas Junjuang = 58,75 anakan), dan terendah pada perlakuan  V9 (Varietas Padi Singgam Putih = 22,03 anakan). Rata-rata jumlah anakan produktif pada perlakuan V10 dipengaruhi oleh karakter atau sifat dari varietas junjuang yang termasuk kedalam golongan varietas unggul yang berasal dari hasil pemuliaan tanaman yaitu persilangan atau hibridisasi. Disamping sifat genetik respon dari masing – masing varietas tentu saja akan berbeda terhadap lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Siregar, Suparman dan Siregar, 1993), yang mengatakan bahwa interaksi faktor genetik tanaman padi dengan lingkungan berperan penting dalam pengujian daya hasil galur-galur padi.Tinggi rendahnya hasil padi dipengaruhi oleh komponen hasil yang meliputi jumlah malai tiap rumpun, jumlah gabah tiap malai, bobot 1.000 butir gabah isi, dan persentase gabah isi.Lebih jauh komponen hasil dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan, seperti pupuk, jarak tanam dan radiasi (Taslim, Partohardjono dan Djunainah, 1989).
Perlakuan V9 (Varietas Padi Singgam Putih) adalah perlakuan jumlah anakan produktif terendah yaitu 22,03 anakan, varietas ini merupakan varietas lokal (padi putih). Biasanya petani lokal menggunakan varietas ini secara turun temurun dari datuk moyang, dan benih yang digunakan sudah turunan yang tidak terhitung lagi. Biji, yang dapat digunakan sebagai benih ada ketentuannya, yaitu bermutu, karena ada masanya benih tersebut akan menunjukkan atau memunculkan sifat tidak baiknya disuatu waktu. Hal ini yang menyebabkan jumlah anakan produktif pada varietas singgam putih menjadi rendah. Menurut  Sadjad, 1972 dalam Ichsan (2006) yang mengatakan bahwa Mutu benih mencakup mutu genetis, mutu fisiologis dan mutu fisis. Mutu genetis ditentukan oleh derajat kemurnian genetis sedangkan mutu fisiologis ditentukan oleh laju kemunduran dan vigor benih.Mutu fisis ditentukan oleh kebersihan fisis. Disamping faktor diatas, faktor lain yang mempengaruhi rendahnya varietas singgam putih adalah responnya terhadap pemupukan yang berbeda dengan varietas unggul. Sadjad (1993) dalam Ichsan (2006), menyatakan bahwa ketahanan terhadap faktor pembatas juga dipengaruhi oleh mutu genetis yang dicerminkan oleh varietas.Varietas ini belum diketahui dengan jelas dan pasti deskripsinya.Karena salah satu pembeda antara varietas unggul dengan varietas lokal adalah varietas lokal tidak respon dengan pemberian pupuk yang lebih. Walaupun diberikan pupuk dalam jumlah besar, tetap saja tanaman tidak mampu memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan manusia, bahkan mungkin akan menyebabkan kehilangan atau kekurangan hasil akibat dari dampak kelebihan unsur hara.
Hal ini sesuai dengan pendapat Agustina (2004), yang mengatakan salah satu fenomena respon tanaman terhadap nutrisi tanaman adalah Hukum Minimum Leibig yang artinya : ”Laju pertumbuhan tanaman diatur oleh adanya faktor yang berada pada jumlah minimum dan besar kecilnya laju pertumbuhan ditentukan oleh peningkatan dan penurunan faktor yang berada dalam jumlah minimum tersebut”. Dimana diperoleh gambaran bahwa status nutrisi tanaman yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman pada saat nutrisi yang diberikan sedikit/kurang maka pertumbuhan tanaman akan lambat. Pada saat nutrisi yang diberikan cukup maka pertumbuhan tanaman akan normal dan pada saat nutrisi yang diberikan terlalu banyak/berlebihan, maka pertumbuhan tanaman akan terganggu atau tanaman akan keracunan.
Rata-rata berat basah tertinggi terlihat pada perlakuan V2 (Varietas Padi Wawan = 17,18 ton/ha), dan terendah pada perlakuan  V6 (Varietas Padi Adam = 3,91 ton/ha). Rata-rata berat basah tertinggi terlihat pada perlakuan V2 dan terendah pada perlakuan V6, dimana hal ini dipengaruhi oleh karakter atau sifat dari masing-masing varietas padi yang dan kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan.  Belum diketahui dengan jelas deskripsi kedua varietas ini, namun dari hasil penelitian kali ini dapat dianalisa bahwa faktor genetik akan berpengaruh terhadap hasil, karena ada hubungan antara umur muncul bunga dan umur panen (umur tanaman) dengan hasil atau produksi. Seperti genjahnya umur tanaman (cepatnya umur panen tanaman).Analisanya, ketika ditanam antara varietas yang genjah dengan yang lokal secara bersamaan, yang terjadi adalah peluang untuk gagal panen lebih besar terjadi pada varietas yang berumur genjah. Karena umur genjah akan mempengaruhi umur muncul bunga dan umur panen yang lebih cepat, yang akan berpengaruh terhadap serangan hama seperti pianggang (walang sangit) dan burung pipit. Pencegaha hama ini cukup berat, apalagi kalau tehnik budidaya yang digunakan tidak dilakukan dengan benar dan tepat. Maka kehilangan hasil akan terjadi sangat tinggi, akhirnya kerugian yang diperoleh. Andoko (2007), mengatakan bahwa hama walang sangit dapat dicegah dengan cara teknik budidaya, secara biologis, secara fisik dan secara kimia. Upaya dengan cara tehnik budidaya, selain menggunakan tehnik rotasi tanaman, penanaman benih dan bibit yang seragam merupakan salah satu cara dalam mendapatkan hasil yang diinginkan.
Dari Tabel 2 di atas menunjukan bahwa perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap berat kering, dimana perlakuan yang menunjukkan rerata tertinggi yaitu 5,84ton/ha pada perlakuan V2 (Varietas Padi Wawan), perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan V3, V5 dan V7, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan V1, V4, V6, V8, V9 dan V10.
Rata-rata berat basah tertinggi terlihat pada perlakuan V2 (Varietas Padi Wawan = 5,84 ton/ha), dan terendah pada perlakuan  V6 (Varietas Padi Adam = 0,84 ton/ha). Rata-rata berat basah tertinggi terlihat pada perlakuan V2 dan terendah pada perlakuan V6, dimana hal ini dipengaruhi oleh karakter atau sifat dari masing-masing varietas padi yang dan kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan. Berhubungan dengan pembahasan pada berat basah, dimana deskripsi kedua varietas ini belum diketahui dengan jelas dan pasti, namun dari hasil penelitian kali ini tingginya produksi dari varietas padi wawan dan rendahnya produksi dari varietas padi adam disebabkan karena faktor genetik yang merespon kondisi lingkungan. Secara genetik berhubungan dengan umur panen (cepat dan lamanya umur tanaman) dan sifat resistensi terhadap serangan hama dan penyakit. Menurut Jumin (2008) dalam agronomi salah satu tujuan pemuliaan tanaman adalah memperoleh tanaman yang memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit dan hama baik dilapangan maupun pada penyimpanan.
Secara lingkungan berhubungan dengan pengolahan tanah, irigasi, pupuk dan pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit.  Tujuan pengolahan tanah menyiapkan tempat pertumbuhan benih dan bibit yang serasi dan baik, menghindarkan saingan terhadap tumbuhan pengganggu, serta memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologis tanah.Air merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan tanaman.Kekurangan air dapat menyebabkan gangguan perkembangan morfologis dan fisiologis tanaman. Oleh karena itu salah satu ilmu yang mengkaji dan membahas tentang masalah air bagi pertanian adalah ilmu irigasi, dimana Jumin (2008), mengatakan bahwa kegunaan air irigasi adalah untuk mempermudah pengolahan tanah, mengatur suhu tanah dan iklim mikro, dan membersihkan tanah dari kotoran, kadar unsur-unsur racun, garam dan asam yang berlebihan, serta menekan pertumbuhan gulma, hama dan penyakit tanaman.

KESIMPULAN

Parameter pengamatan Berat Kering perlakuan V2 (Varietas Padi Wawan) adalah perlakuan yang menunjukkan rerata tertinggi yaitu 5,84ton/ha, sedangkan hasil terendah terdapat pada perlakuan V6 (Varietas Padi Adam yaitu 0,84 ton/ha). Pada parameter pengamatan jumlah anakan produktif perlakuan yang menunjukkan rerata tertinggiadalah perlakuanV10 (Varietas Junjuang)dengan jumlah anakan 58,75.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina L, 2004, Dasar Nutrisi, PT. Rineka Cipta, Jakarta
Anwar, M, 1992, Pemuliaan Tanaman Padi Prosiding Simposium Pemuliaan Tanaman I. Perhimpunan Pemuliaan Tanaman Indonesia Komisariat Jawa Timur.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor
Crowder LV, 1990, Genetika Tumbuhan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Damardjati, D.S. dan B.H. Siwi. 1982. Kadar dan MutuProtein Beras serta Permasalahannya. Makalah yang disampaikan dalam Simposium Nasional Pangan dan Gizi.26-28 Nopember.Yogyakarta.
Ichsan cn, 2006,  UjiViabilitas dan Vigor Benih Beberapa Varietas Padi (oryza sativa l.) Yang Diproduksi Pada Temperatur Yang Berbeda Selama KemasakanJurnal. Floratek 2 : 37 – 42
Jumin HB, 2008, Dasar-dasar Agronomi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Lopulalan C. G. C., 2010, Analisa Ketahanan Beberapa Varietas Padi Terhadap Serangan Hama Gudang, (Sitophilus zeamais Motschulsky),Jurnal Budidaya Pertanian Volume 6, Nomor 1
Makmur. A, 1985, Pengantar Pemuliaan Tanaman, Bina Aksara, Jakarta
Nopsagiarti, T, 2012, Uji Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Agrobost terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Sawah (oryza sativa. L), Jurnal green swarnadwipa, vol. 2 no. 2
Prastyo YT, 2008, Bertanam Padi Gogo Tanpa Olah Tanah (edisi revisi), Penebar Swadaya, Jakarta
Purwono. MS dan Heni,P, 2009, Budidaya Delapan Jenis Tanaman Pangan Unggul, Penebar Swadaya, Jakarta
Sadjad, S. 1972. Kekuatan tumbuh benih.Penataran penyuluhan pertanian spesialis.Bagian Penataran BIMAS. Departemen Agronomi IPB. Bogor
Sadjad, S. 1993. Dari benih kepada benih. Grasindo, Jakarta
Siregar, H. E, Suparman. Siregar, B, 1993, Daya hasil Galur harapan padi sawah dan interaksinya dengan lingkungan, Prosiding pertanian 13 (1) : 12-15
Sudarman O, 2003, Tehnik Pengujian Galur Harapan dan Varietas Padi pada Beberapa Perlakuan Pemupukan, Buletin Pertanian, Vol 8 nomor 2
Sutedjo MM, 2008, Pupuk dan Cara Pemupukan, Rineka Cipta, Jakarta
Syukur M, Sriani S, Rahmi Y, 2012, Teknik Pemuliaan Tanaman, Penebar Swadaya, Jakarta
Tambing. Y, 1997, Pengaruh Natrium Nitrat dan Cekaman air Pada Fase Reproduktif Terhadap Pertumbuhan Pembungaan dan Hasil Kedelai(Glycine max (L) Merrill), Thesis Program Pascasarjana IPB, Bogor
Taslim.H, S. Partohardjono dan Djunainah, 1989, Bercocok tanam padi sawah. Padi Buku 2.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor
Wattimena GA, Nurhajayti AM, NM Amini W, Agus P, Darda E, Bamabang SP dan Nurul K, 2011, Bioteknologi dalam Pemuliaan, Penerbit IPB Press






Tidak ada komentar:

Posting Komentar