Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 17-24


PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI AKTIVATOR PADA PEMBUATAN KOMPOS JERAMI PADI TERHADAP KANDUNGAN C-ORGANIK  DAN NITROGEN(N)

            Endra kurniawan, Rover, dan Deno Okalia
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan. Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau

ABSTRACT

The aimed of this research is to know the effect of used several activator in made paddy straw compost concerning C-organic and Nitrogen content. This study uses a Complete Randomized Design (CRD) Non Factorial with nine treatment level: PO = Straw 20 Kg without activator, P1 = Straw 20 Kg + EM4 20 ml, P2 = Straw 15 Kg + manure fertilizer 5 Kg + EM4 20 ml, P3 = Straw 10 Kg + manure fertilizer 10 Kg + EM4 20 ml, P4 = Straw 5 Kg + manure fertilizer 15 Kg + EM4 20 ml, P5 = Straw 20 Kg + Stardec + 50 gr, P6 = Straw 15 Kg + manure fertilizer 5 Kg + Stardec 50 gr, P7 = Straw 10 Kg + manure fertilizer 10 Kg + Stardec 50 gr, and P8 = Straw 5 Kg + manure fertilizer 15 Kg + Stardec 50 gr. The results showed EM4 and Stardec can use in composting paddy straw, and give significant affect at pH, C-organik, and C/N. Compost with P8 treatment ( composition : Straw 5 Kg + manure fertilizer 15 Kg + Stardec 50 gr) had nutrition better than other compost with content : C-organic 17,39%, N 1,86% and C/N 11,58.

Key words : straw, compost, activator


PENDAHULUAN
         
          Indonesia merupakan negara agraris, negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Petani sangat membutuhkan pupuk untuk meningkatkan hasil produksi tanamanya. Kebutuhan akan pupuk semakin meningkat terlebih mendekati musim tanam. Oleh karena itu perlu adanya upaya antisipasi agar para petani di daerah tidak kesulitan memperoleh pupuk pada saat musim tanam tiba.
            Pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang penting bagi pertanian. Keberadaan pupuk secara tepat baik jumlah, jenis, mutu, harga, tempat, dan waktu akan menentukan kuantitas dan kualitas produk pertanian yang dihasilkan. Pupuk juga dapat menyumbangkan 20% terhadap keberhasilan peningkatan produksi sektor pertanian, diantaranya produk pertanian beras yang mencapai swasembada di tahun 1984. Disamping itu, sektor pertanian hingga sekarang ditopang oleh pupuk an-organik buatan yang konsumsinya meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan harga pupuk an organik semakin mahal.
Alternatif mengatasi pupuk an-organik ini adalah pemanfaatan  pupuk organic. Pupuk organik yang banyak tersedia dan belum termamfaatkan dengan optimal adalah jerami padi. Selama ini jerami padi banyak dibakar oleh petani. Jerami padi memiliki C/N tinggi sehingga dalam pemamfaatannya sebaiknya dikomposkan agar unsur hara dapat tersedia bagi tanaman. Pemanfaatkan jerami sisa panen padi untuk kompos secara bertahap ini nanti dapat mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas padi.
Sistem usaha tani yang intensif, jerami sering dianggap sebagai sisa tanaman yang mengganggu pengolahan tanah dan penanaman padi. Oleh karena itu, 70 – 80 % petani membakar jerami di tempat setelah beberapa hari padi dipanen dan sebagian petani memotong jerami dan menimbunnya di pinggir petakan sawah lalu membakarnya. Kebiasaan petani di lapangan yang biasanya membakar jerami dan sangat jarang dimanfaatkan oleh petani sebagai sumber bahan organik merupakan suatu kebiasaan yang salah, selain menyebabkan kerusakan pada lingkungan ternyata juga menyebabkan kerusakan pada  tanah areal persawahan karena lama kelamaan unsur hara yang terdapat pada tanah sawah akan selalu berkurang tanpa adanya pengembalian kembali. Dengan membakar jerami justru akan menghancurkan sebagian bahan organiknya (Sinar Tani, 2011).
Menurut data BPS Kabupaten Kuantan Singingi (2011) luas sawah di Kabupaten Kuantan singingi adalah 11.071 ha. Produksi per hektar sawah bisa mencapai 12-15 ton bahan kering setiap kali panen, tergantung lokasi dan varietas tanaman.
Menurut Deptan (2009), ketika kita memanen padi 5 ton gabah kering dari 1 ha sawah maka kita telah kehilangan unsur hara 150 kg N, 20 Kg P, 150 Kg K dan 20 Kg S yang terbawa oleh hasil panen. Dari hasil panen 5 ton gabah kering tersebut biasanya akan dihasilkan 7,5 ton jerami. Di Indonesia rata-rata kandungan unsur hara yang terkandung dalam jerami adalah 0,4 % N, 0,02 % P, 1,4 % K dan 5,6 % Si. Hal yang perlu diketahui adalah ketika kita memanen padi 5 ton/ha akan dihasilkan jerami sebanyak 7 ton yang mengandung 45 kg N, 10 Kg P, 125 Kg K, 10 Kg S, 350 Kg Si, 30 Kg Ca 10 Kg Mg. sedangkan untuk kompenennya sendiri terdiri dari 39% selulosa, 27% hemiselulosa, 12% legini, 11% abu.
Selain mengandung bahan-bahan organik yang dapat menyuburkan tanah, hara-hara yang terangkut oleh jerami pada saat panen dapat dikembalikan lagi ke lahan sawah, sehingga diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk buatan meskipun masih perlu penambahan pupuk buatan. Pembuatan kompos jerami biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melapuk bila dibandingkan dengan bahan kompos mudah lapuk lainnya. Sehingga perlu penambahan bahan yang mudah lapuk seperti pupuk kandang dan aktivator dalam mempercepat pengomposan tersebut.
Aktivator yang digunakan dalam pengomposan ini adalah EM4 dan Stardec. Effective Microorganisme4 dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman. Effective Microorganisme4 juga dapat digunakan untuk mempercepat pengomposan sampah organik atau kotoran hewan.
Stardec memiliki keunggulan dalam hal kepraktisan dan kandungan hayati/mikroorganisme yang terkandung di dalamnya.stardec merupakan koloni mikroorganisme aerob lignolitik, selulotic, proteolitik, lipolitik serta aminolitik yang mampu merubah kompos dalam waktu 4 minggu. Berdasarkan hal diatas penulis telah melakukan penelitian dengan judul “ Penggunaan Berbagai Aktivator pada Pembuatan Kompos Jerami terhadap kandungan C- Organik dan Nitrogen (N)“


BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di Desa Pisang Berebus Kecamatan Gunung Toar pada bulan November sampai Januari 2013. Terdiri dari dua tahap yaitu tahap pembuatan kompos dan tahap analisis C-organik dan nitrogen (N) di Laboratorium Universitas Andalas Padang.

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: garuk atau cangkul, pemotong rumput atau sabit, gembor, ember, kertas pH, termometer, Cetakan kayu dan  karung atau plastik. Bahan yang digunakan adalah jerami padi, pupuk kandang, EM-4, Stardec, dan gula merah.

Metode Penelitian
            Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial sembilan taraf perlakuan dengan  tiga ulangan yaitu:
P0=  Jerami Padi 20 Kg tanpa aktivator
P1=  Jerami Padi 20 Kg + EM4 20 ml
P2=  Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg
        + EM4 20 ml
P3=  Jerami Padi 10 Kg + Pukan 10 Kg
        + EM4 20 ml
P4= Jerami Padi 5 Kg + Pukan 15 Kg + EM4 20 ml
P5=  Jerami Padi 20 Kg + Stardec  50 gr
P6= Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg 
        + Stardec 50 gr
P7= Jerami Padi 10 Kg + Pukan 10 Kg
        + Stardec 50 gr
P8= Jerami Padi 5 Kg + Pukan 15 Kg
        + Stardec 50 gr
Kemudian masing-masing data akhir dianalisis secara statistik, dan apabila F Hitung lebih besar dari F Tabel, maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.


Tabel 1. Kombinasi perlakuan.
Perlakuan
Kelompok
1
2
3
P0
P01
P02
P03
P1
P11
P12
P13
P2
P21
P22
P23
P3
P31
P32
P33
P4
P41
P42
P43
P5
P51
P52
P53
P6
P61
P62
P63
P7
P71
P72
P73
P8
P81
P82
P83



Pelaksanaan Penelitian
            Pembuatan kompos dikerjakan dalam bangunan yang memiliki lantai rata  dan bebas dari genangan air serta adanya atap yang melindungi dari terik matahari dan hujan, serta dekat dengan sumber bahan organik seperti jerami dan pupuk kandang. Setiap petakan percobaan dibuat dengan ukuran 1 x 1 m dengan jarak antar petakan 0,5 m. Persiapan Bahan Organik
            Jerami yang digunakan adalah jerami padi kering. Jerami tersebut dipotong-potong sepanjang ± 3 cm dengan mesin chopper agar proses pengomposan berlangsung cepat. Selain itu, juga disediakan pupuk kandang yaitu  pukan dari kotoran sapi. Tahap pembuatan kompos adapun langkah dalam tahap pembuatan pengomposan adalah:  
         Kompos menggunakan Aktivator EM4. Pembuatan kompos ini diawali dengan menimbang bahan-bahan sesuai dengan perlakuan yang telah ditentukan.
Selanjutnya jerami yang telah dicacah dicampurkan dengan cara diaduk merata menggunakan tangan. Lalu disiramkan 40 ml EM4/40kg bahan kompos (setara dengan dosis 1liter EM4/ton bahan kompos). Lalu kompos dilembabkan dengan disiramkan air menggunakan gembor sampai kadar air 40-50% (jika digenggam akan keluar cairan kental di sela-sela jari dan jika gumpalan dibuka bahan tidak hancur)
Bahan kompos lalu dimasukan ke dalam kantong plastik 50 kg, kemudian diikat bagian atasnya dengan tali setiap satu kali seminggu kompos dibuka dan diaduk merata agar kompos tidak terlalu panas yang menyebabkan mikroorganisme didalamnya mati.
Kompos menggunakan Aktivator Stardec. Pembuatan kompos ini diawali dengan menimbang bahan-bahan sesuai dengan perlakuan yang telah ditentukan. Lebih rincinya kebutuhan kesuluruhan bahan disajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5. Semua bahan kompos diaduk merata dengan tangan lalu ditaburkan 100 gram stardec per perlakuan. Kemudian bahan disiram dengan air sampai kadar air 40-50%. Lalu dimasukan kedalam kantong plastik hitam 50 kg.
            Kompos menggunakan stardec dibiarkan terbuka dalam tempat kompos tersebut dan sekali seminggu kompos juga diaduk agar suhu tumpukan kompos tidak terlalu panas. Semua bahan kompos yang yang telah berisi diletakan dalam sebuah ruangan yang beratap sehingga terhindar dari air hujan dan cahaya matahari langsung. Setelah 30 hari kompos jerami padi telah memasuki masa pematangan. Kompos yang matang ditandai dengan suhu tumpukan yang menurun dan tidak berbau busuk, bentuk fisik kompos jerami padi menyerupai tanah dan berwarna kehitam-hitaman (Isroi dan Widiastuti, 2005).

Pengamatan
            Sampel kompos jerami dibawa ke Laboratorium Kimia Tanah Universitas Andalas lalu dianalisis sifat Kima komposnya. Rincian analisis sifat Kimia kompos di Laboratorium disajikan pada Tabel 1.


Tabel 1. Analisis Sifat Kimia Kompos
Analisis Sifat kimia
Satuan
Metoda
pH
-
Elektroda glass
C-Organik
%
Pengabuan kering
Nitrogen
%
Destruksi basah
C/N
-
Rasio



HASILDAN PEMBAHASAN

Hasil Analisis Nilai pH  Kompos Jerami Padi
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa pemberian aktivator EM4 (Effective Microorganism) dan Stardec pada pembuatan kompos jerami padi berpengaruh nyata terhadap kualitas nilai pH kompos jerami padi. Data pengamatan kompos jerami dapat di lihat pada Tabel 2.







Tabel 2. Analisis nila pH  kompos jerami padi
Perlakuan
pH
P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
6,79 b
P1(jerami padi 20 kg  + EM4 20 ml)
7,14 ab
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
7,90 a
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
7,99 a
P4 (jerami padi 15 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
7,83 a
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
7,77 ab
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50gr)
8,05 a
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50gr)
7,63 ab
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr)
7,92 a
KK=  4,82 %
BNJ = 0,99
Angka- angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada baris adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut bedanyata jujur(BNJ) padataraf 5%


Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa nilai pH kompos jerami padi berkisar antara 6,79 sampai 8,05. Nilai pH ini sudah sesuai dengan pH ideal untuk kompos adalah sekitar  4-8.  Nilai pH tertinggi terdapat pada perlakuan P6  dengan komposisi jerami 5 kg + pukan 15 kg  ditambah aktivator stardec yaitu 8,05. Nilai pH tersebut tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1, P2, P3, P4, P5, P7 dan P8, tetapi berbeda nyata dengan kontrol (P0)
 Tingginya pH perlakuan P6  ini disebabkan dari sumbangan kation-kation basa hasil mineralisasi bahan kompos. Menurut Dalzell (1987), mineralisasi adalah proses biologi untuk menguraikan bahan organik menjadi bahan humus oleh mikroorganisme. Menurut Liao (1995) nilai pH yang alkalis akan memudahkan bahan organik pupuk kompos mengalami volatilisasi amonium, yaitu perubahan senyawa N amonium menjadi gas amonia yang akan dibebaskan ke udara.
Nilai pH yang terendah terdapat pada perlakuan P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator), hal ini disebabkan oleh penggunaan jerami tanpa aktivator dan tanpa pupuk kandang. Proses penguraian jerami berjalan lambat karena tidak ada organisme perombak, sehingga kompos kurang terdekomposisi dan tingkat keasamannya akan tinggi sehingga nilai pH nya akan rendah.

Hasil Analisis C-Organik Kompos Jerami Padi
          Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa pemberian aktivator EM4 (Effective Microorganism4) dan Stardec pada pembuatan kompos jerami padi berpengaruh nyata terhadap  kandungan C-organik kompos jerami padi. Data pengamatan kompos jerami padi dapat di lihat pada Tabel 3.


Tabel 3. Analisis C-organik kompos jerami padi
Perlakuan
C-organik (%)
P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
23,18 ab
P1(jerami padi 20 kg  + EM4 20 ml)
25,98 a
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
24,34 ab
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
21,64 abc
P4 (jerami padi 15 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
22,84 ab
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
23,18 ab
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50gr)
21,21 bc
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50gr)
15,03 d
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr)
17,39 cd
KK=  7,07 %
BNJ = 4,41
Angka- angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada baris adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut bedanyata jujur(BNJ) padataraf 5%


Berdasarkan hasil Tabel 3, Terlihat bahwa rata-rata kandungan  C-organik pada kompos jerami berbeda nyata. Perlakuan P1: 25,98%, tidak berbeda nyata dengan perlakuan P0: 23,18%, P2: 24,34%, P3:21,64%, P4: 22,84% dan P5:23,18%, namun berbeda nyata dengan perlakuan, P6: 21,21%, P7: 15,03% dan P8: 17,39%. Berdasarkan hasil analisis laboratorium semua kompos jerami memiliki kandungan C-organik > 15%. Berdasarkan standar kualitas kompos menurut Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik kandungan C-organik  pada semua perlakuan sudah memenuhi standar yaitu 12 %.
Dilihat dari Tabel 3, dengan komposisi jerami padi 20 kg di tambah dengan EM4( 20 ml) memiliki kandungan hara C- organik tertinggi yaitu 25,98% C, meskipun kandungan C-organik perlakuan P1 ini tertinggi belum tentu perlakuan ini terbaik karena harus disesuaikan dengan kandungan Nitrogen kompos. Dalam proses pengomposan C-organik kompos seharusnya rendah pada kompos tanpa aktivator. Kandungan C-organik paling tinggi pada P1 berarti proses dekomposisi berjalan lambat pada pembuatan kompos tersebut. Karbon organik setelah pengomposan semakin menurun karena C dimanfaatkan oleh mikroorganisme perombak sebagai sumber energi dan dilepaskan dalam bentuk CO2. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Jurgens (1997), secara umum konsentrasi total C-organik turun secara bertahap selama proses pengomposan, hal ini disebabkan oleh lepasnya karbondioksida melalui respirasi mikroorganisme.
Hal ini disebabkan berdasarkan kondisi pengomposan di lapangan oleh kompos jerami dengan menggunakan aktivator EM4 kurang panas dari variasi tumpukan kompos yang menggunankan Stardec sehingga tingkat kematangannya lebih rendah dan jumlah kandungan     C-organik pada perlakuan ini lebih tinggi. Karena C-organik berpungsi sebagai sumber energi dan pertumbuhan bagi mikroba (Sutedjo, 1999).
Sedangkan kandungan hara C-organik terendah terdapat pada perlakuan P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50gr) yaitu 15,03 % nilai ini tidak berbeda nyata dengan kompos P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr) yaitu 17,39 %. Hal itu disebabkan oleh bahan kompos jerami itu  terdiri dari jerami dan kotoran sapi dengan mengunakan aktivator Stardec dengan berbagai aktifitas bakteri yang terdapat dalam kandungan kotoran sapi tersebut.
Sejalan dengan pendapat Djuarnani (2005) selama hidupnya, mikroorganisme mengambil air dan oksigen dari udara. Makanan yang diperoleh dari bahan organik yang akan diubah menjadi produk metabolisme berupa karbondioksida (CO2), air (H2O), humus dan energi. Sebagian dari energi yang dihasilkan digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan dan reproduksi.

Hasil Analisis Nitrogen(N) Pupuk Kompos Jerami Padi
          Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa penggunaan berbagai aktivator EM4 (Effective Microorganism) dan Stardec pada pembuatan kompos jerami berpengaruh nyata terhadap kualitas kandungan Nitrogen kompos tetapi tidak berbeda nyata menurut uji lanjut BNJ 5%.

Tabel 4. Analisis Nitrogen Total kompos jerami padi
Perlakuan
Nitrogen Total (%)
P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
0,69 a
P1(jerami padi 20 kg  + EM4 20 ml)
0,71 a
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
0,85 a
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
1,18 a
P4 (jerami padi 15 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
1,83 a
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
0,99 a
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50gr)
1,11 a
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50gr)
1,29 a
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr)
1,86 a
KK=  38,81 %
BNJ = 0,99
Angka- angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada baris adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut bedanyata jujur(BNJ) padataraf 5%

           

Berdasarkan hasil Tabel 4, terlihat bahwa penggunaan aktivator EM4 semakin rendah kompoisi jerami maka jumlah N semakin meningkat begitu juga dengan penggunaan aktivator Stardec. Hal ini  disebabkan oleh pengaruh kandungan N yang tinggi pada kotoran sapi sebagai bahan komposisi kompos. Adapun  kandungan unsur hara yang terdapat dalam kotoran sapi segar yaitu N 0,65% ( Ridwan, 2006). Sedangkan kandungan nitrogen yang terdapat dalam jerami segar adalah 0,04%. Ponnamperuna (1985) melaporkan kandungan hara jerami dari berbagai negara berkisar antara 0,38-1,01% N; 0,01-0,12% P; 1,0-3,0% K; dan 2,5-7,0% Si dengan rata-rata 0,57%  N; 0,07% P; 1,5% K, dan 3,09 Si.
Di dalam Stardec berisi beberapa mikroba, salah satunya adalah mikroba proteolitik yang mengeluarkan enzim protease yang dapat merombak protein menjadi polipeptida – polipeptida lalu menjadi peptida sederhana dan menjadi asam amino bebas, CO2 dan air. Stardec merupakan bubuk yang mengandung bibit mikroba, bibit mikroba ini berperan sebagai starter dalam penguraian bahan organik sehingga dapat dirombak menjadi kompos. Stardec merupakan bubuk yang mengandung bibit mikroba, bibit mikroba ini berperan sebagai starter dalam penguraian bahan organik sehingga dapat dirombak menjadi kompos (Sarwono, 2001).

Hasil Analisis Rasio C/N Pupuk Kompos Jerami Padi
          Berdasarkan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengaruh berbagai aktivator EM4 (Effective Microorganism) dan Stardec pada pembuatan kompos jerami berpengaruh nyata terhadap kualitas kandungan C/N kompos. Data pengamatan kompos jerami dapat di lihat pada Tabel 5.



Tabel 5. Analisis C/N Total kompos jerami padi
Perlakuan
Rerata
P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
36.13 ab
P1(jerami padi 20 kg  + EM4 20 ml)
38.83 a
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
27.67 abc
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
19.34 abc
P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
12.44 c
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
18.59 bc
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50gr)
20.81 abc
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50gr)
12.16 c
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr)
11.58 c
KK= 30.99 %
BNJ= 19.49
Angka- angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada baris adalah tidak berbeda nyata menurut uji lanjut bedanyata jujur(BNJ) padataraf 5%


Berdasarkan Tabel 5, perlakuan P1 dengan komposisi jerami padi 20 kg di tambah dengan EM4 20 ml memiliki kandungan hara C/N rasio tertinggi yaitu 38,83 nilai ini tidak berbeda nyata dengan C/N kontrol ( P0 ) yaitu 36,13. Tampaknya pada perlakuan ini penggunaan aktivator EM4 tidak seefektif penggunaan stardec dalam proses pengomposan. Pada perlakuan P0 bahan kompos yang digunakan adalah jerami padi saja sehingga prosees pengomposan berjalan lambat karena dpengaruhi oleh kandungan C/N jerami padi sangat tinggi. Menurut (Nuraini 2009) dalam penelitiannya kandungan C/N jerami segar adalah 51,2. Nisbah C/N yang optimum untuk pengomposan berkisar antara 25-40. Semakin rendah nilai C/N bahan, waktu yang diperlukan untuk pembuatan pupuk bokashi semakin singkat (Gaur,1983).
Penelitian ini sudah standar kualitas kompos menurut Standar kualitas kandungan C/N kompos yang ideal adalah 12 - 25. Rasio C/N yang tinggi menunjukkan kandungan selulosa dan lignin yang tinggi pada bahan, sehingga dekomposisi bahan sulit. Sebaliknya, C/N rasio yang rendah menunjukkan kandungan selulosa dan lignin yang rendah, sehingga dekomposisi bahan lebih mudah (Supadma, 2008 ).
Rasio C/N terendah adalah  pada perlakuan P8: 11,58 % dengan komposisi jerami padi 5 kg ditambah pukan 15 kg dengan menggunakan aktivator stardec. Hal ini disebabkan oleh perlakuan ini didominasi oleh pukan dari kotoran sapi yang rasio C/N yang renda sehingga proses degradasi berjalan cepat dan tingkat kematangan kompos lebih tinggi sehingga kualitas kompos pada perlakuan ini lebih baik. Selain itu , rasio C/N rendah pada perlakuan P8 juga disebabkan karena kandungan C-organik perlakuan P8 juga paling rendah dan perlakuan lainya yaitu 17,39 % ( lihat Tabel 3), sedangkan kandungan N nya yang paling tinggi dari perlakuan lainnya yaitu 1,8 % (lihat Tabel 4). Berdasarkan penelitian ini bahwa aktivator Stardec memiliki kualitas yang lebih baik dalam peubah rasio C/N dibanding aktivator EM4.
Jika bahan organik miskin akan nitrogen atau dengan kata lain C/N Rasio terlalu tinggi berkisar antara 25 - 40 maka aktivitas mikroorganisme dalam mendegradasikan bahan organik akan menurun, sehingga pengomposan akan berjalan lambat (Gaur, 1983). Semakin rendah nilai C/N Rasio bahan, waktu yang dibutuhkan untuk pengomposan semakin singkat (Indriani, 1999).

KESIMPULAN

1.      Penggunaan aktivator EM4 dan Stardec dalam berbagai pengomposan jerami padi berpengaruh nyata terhadap nilai pH, C-organik dan C/N kompos.
2.      Komposisi yang tepat dalam pengomposan jerami padi adalah kompos perlakuan P8 ( pupuk kandang dari kotoran sapi 15 kg + jerami padi 5 kg + Stardec 50gr)  dengan kandungan C-organik : 17,39% , N: 1,86 % dan C/N : 11, 58.

DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2011. Badan pusat statistik. Kuantan   Singingi.
Deptan, 2009. Dasar Dasar Penyuluhan Pertanian http: //www. pustaka.deptan. go.id. di akses 31 maret 2013 jam 10.00 WIB
Dalzell, H.W., Biddlestone, A.J., Gray, K.R, dan Thuraraijan, K. 1991. Soil Management: Compost Production and Use In Tropical and Subtropical Environment. Sol Bulletin 56. Food and Agriculture Organization of The United Nations
Djuarnani. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis.  Agromedia Pustaka.
Gaur, A. C. 1983. A Manual of Rural Composting. Project Field Document No. 15 FAO, Rome
Indriani. 1999. Membuat Kompos Secara Singkat. Penebar Swadaya. Jakarta
Liao, P. H., Achan & K. V. Lo. 1995. Removal of N from swine manure waste waters by ammonia stripping. Bioresource Technology. Elsevier Sciene Limited. 54:17-20
Jurgens, R. 1997. Membuat, Menjual, dan Menerapkan, Inilah Era Baru Kompos Pertanian. J.Biocycle. 38(35): 89-101
Nuraini, Nuraini, 2009. Pembuatan Kompos Jerami Menggunakan Mikroba Perombak Bahan Organik. Buletin Teknik Pertanian14:1
Ridwan.            Ridwan, 2006. Kotoran ternak sebagai pupuk dan sumber energy. Available at http://www. disnak. jabarprov.go.id /data/arsip di akses tanggal 20 juni 2014 jam 14: 30 WIB
Sarwono, 2001. Membuat Tanaman Cepat Berbuah. Penebar Swadaya. Jakarta
Sinar Tani, 2011. Gerakan Menuju Pertanian   Organik , Sinar  Tani  Edisi  19 – 25 Oktober 2011,  Jakarta.
Sutedjo, 2008. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta
Supadma, A., A. Nyoman dan D. M. Arthagama. 2008. Uji formulasi kualitas pupuk kompos yang bersumber dari sampah organik dengan penambahan limbah ternak ayam, sapi, babi dan tanaman pahitan. Jurnal Bumi Lestari 8: 113-121.



      











Tidak ada komentar:

Posting Komentar