PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI AKTIVATOR
PADA PEMBUATAN KOMPOS JERAMI PADI TERHADAP KANDUNGAN C-ORGANIK DAN NITROGEN(N)
Endra kurniawan, Rover, dan Deno
Okalia
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian,
Universitas Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan. Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan,
Riau
ABSTRACT
The aimed of this research is to know the
effect of used several activator in made paddy straw compost concerning
C-organic and Nitrogen content. This study uses a Complete Randomized
Design (CRD) Non Factorial
with nine treatment level: PO = Straw 20 Kg without activator, P1 = Straw 20 Kg
+ EM4 20 ml, P2 = Straw 15 Kg + manure fertilizer 5 Kg + EM4 20 ml, P3 = Straw
10 Kg + manure fertilizer 10 Kg + EM4 20 ml, P4 = Straw 5 Kg + manure
fertilizer 15 Kg + EM4 20 ml, P5 = Straw 20 Kg + Stardec + 50 gr, P6 = Straw 15
Kg + manure fertilizer 5 Kg + Stardec 50 gr, P7 = Straw 10 Kg + manure
fertilizer 10 Kg + Stardec 50 gr, and P8 = Straw 5 Kg + manure fertilizer 15 Kg
+ Stardec 50 gr. The results
showed EM4 and Stardec can use in composting paddy straw, and give significant
affect at pH, C-organik, and C/N. Compost with P8 treatment ( composition : Straw 5
Kg + manure fertilizer 15 Kg + Stardec 50 gr) had nutrition better than other
compost with content : C-organic 17,39%, N 1,86% and C/N 11,58.
Key
words : straw, compost, activator
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan
negara agraris, negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian
sebagai petani. Petani sangat membutuhkan pupuk untuk meningkatkan hasil
produksi tanamanya. Kebutuhan akan pupuk semakin meningkat
terlebih mendekati musim tanam. Oleh karena itu perlu adanya upaya antisipasi
agar para petani di daerah tidak kesulitan memperoleh pupuk pada saat musim
tanam tiba.
Pupuk merupakan salah satu faktor
produksi yang penting bagi pertanian. Keberadaan pupuk secara tepat baik
jumlah, jenis, mutu, harga, tempat, dan waktu akan menentukan kuantitas dan
kualitas produk pertanian yang dihasilkan. Pupuk juga dapat menyumbangkan 20%
terhadap keberhasilan peningkatan produksi sektor pertanian, diantaranya produk
pertanian beras yang mencapai swasembada di tahun 1984. Disamping itu, sektor
pertanian hingga sekarang ditopang oleh pupuk an-organik buatan yang
konsumsinya meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan harga
pupuk an organik semakin mahal.
Alternatif mengatasi pupuk an-organik ini
adalah pemanfaatan pupuk organic. Pupuk
organik yang banyak tersedia dan belum termamfaatkan dengan optimal adalah
jerami padi. Selama ini jerami padi banyak dibakar oleh petani. Jerami padi
memiliki C/N tinggi sehingga dalam pemamfaatannya sebaiknya dikomposkan agar
unsur hara dapat tersedia bagi tanaman. Pemanfaatkan jerami sisa panen padi untuk
kompos secara bertahap ini nanti dapat mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan
produktivitas padi.
Sistem usaha tani
yang intensif, jerami sering dianggap sebagai sisa tanaman yang mengganggu
pengolahan tanah dan penanaman padi. Oleh karena itu, 70 – 80 % petani membakar
jerami di tempat setelah beberapa hari padi dipanen dan sebagian petani
memotong jerami dan menimbunnya di pinggir petakan sawah lalu membakarnya. Kebiasaan
petani di lapangan yang biasanya membakar jerami dan sangat jarang dimanfaatkan
oleh petani sebagai sumber bahan organik merupakan suatu kebiasaan yang salah,
selain menyebabkan kerusakan pada lingkungan ternyata juga menyebabkan
kerusakan pada tanah areal persawahan karena lama kelamaan unsur hara
yang terdapat pada tanah sawah akan selalu berkurang tanpa adanya pengembalian
kembali. Dengan membakar jerami justru akan menghancurkan sebagian bahan
organiknya (Sinar
Tani, 2011).
Menurut data BPS Kabupaten Kuantan Singingi (2011) luas sawah di Kabupaten Kuantan singingi adalah 11.071 ha.
Produksi per hektar sawah bisa mencapai 12-15 ton bahan kering setiap kali
panen, tergantung lokasi dan varietas
tanaman.
Menurut Deptan (2009),
ketika kita memanen padi 5 ton gabah kering dari 1 ha sawah maka kita telah
kehilangan unsur hara 150 kg N, 20 Kg P, 150 Kg K dan 20 Kg S yang terbawa oleh
hasil panen. Dari hasil panen 5 ton gabah kering tersebut biasanya akan
dihasilkan 7,5 ton jerami. Di Indonesia rata-rata kandungan unsur hara yang
terkandung dalam jerami adalah 0,4 % N, 0,02 % P, 1,4 % K dan 5,6 % Si. Hal yang perlu diketahui adalah ketika kita memanen padi 5 ton/ha
akan dihasilkan jerami sebanyak 7 ton yang mengandung 45 kg N, 10 Kg P, 125 Kg
K, 10 Kg S, 350 Kg Si, 30 Kg Ca 10 Kg Mg. sedangkan untuk kompenennya sendiri
terdiri dari 39% selulosa, 27% hemiselulosa, 12% legini, 11% abu.
Selain mengandung bahan-bahan organik
yang dapat menyuburkan tanah, hara-hara yang terangkut oleh jerami pada saat
panen dapat dikembalikan lagi ke lahan sawah, sehingga diharapkan dapat
mengurangi penggunaan pupuk buatan meskipun masih perlu penambahan pupuk
buatan. Pembuatan kompos jerami biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama
untuk melapuk bila dibandingkan dengan bahan kompos mudah lapuk lainnya. Sehingga perlu penambahan bahan yang mudah lapuk seperti
pupuk kandang dan aktivator dalam mempercepat pengomposan tersebut.
Aktivator yang digunakan dalam pengomposan ini adalah EM4 dan Stardec. Effective
Microorganisme4
dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi
tanaman. Effective
Microorganisme4 juga dapat
digunakan untuk mempercepat pengomposan sampah organik atau kotoran hewan.
Stardec
memiliki keunggulan dalam hal kepraktisan dan kandungan
hayati/mikroorganisme yang terkandung di dalamnya.stardec merupakan koloni
mikroorganisme aerob lignolitik, selulotic, proteolitik, lipolitik serta
aminolitik yang mampu merubah kompos dalam waktu 4 minggu. Berdasarkan hal diatas penulis telah melakukan penelitian dengan judul “
Penggunaan
Berbagai Aktivator pada Pembuatan Kompos Jerami terhadap kandungan C- Organik
dan Nitrogen (N)“
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini
dilakukan di
Desa Pisang Berebus Kecamatan
Gunung Toar pada bulan November sampai Januari 2013. Terdiri dari dua tahap
yaitu tahap pembuatan kompos dan tahap analisis C-organik dan nitrogen (N) di
Laboratorium Universitas Andalas Padang.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah: garuk atau cangkul, pemotong rumput atau sabit, gembor, ember, kertas
pH, termometer, Cetakan kayu dan karung atau plastik. Bahan yang
digunakan adalah jerami padi, pupuk kandang, EM-4, Stardec, dan gula merah.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial sembilan
taraf perlakuan dengan tiga ulangan
yaitu:
P0=
Jerami Padi 20 Kg tanpa aktivator
P1=
Jerami Padi 20 Kg + EM4 20 ml
P2=
Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg
+ EM4 20 ml
P3=
Jerami Padi 10 Kg + Pukan 10 Kg
+ EM4 20 ml
P4=
Jerami Padi 5 Kg + Pukan 15 Kg + EM4 20 ml
P5=
Jerami Padi 20 Kg + Stardec 50 gr
P6=
Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg
+
Stardec 50 gr
P7=
Jerami Padi 10 Kg + Pukan 10 Kg
+ Stardec 50 gr
P8=
Jerami Padi 5 Kg + Pukan 15 Kg
+ Stardec 50 gr
Kemudian masing-masing data akhir dianalisis
secara statistik, dan apabila F Hitung lebih besar dari F Tabel, maka
dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Tabel
1. Kombinasi perlakuan.
|
Perlakuan
|
Kelompok
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
P0
|
P01
|
P02
|
P03
|
|
P1
|
P11
|
P12
|
P13
|
|
P2
|
P21
|
P22
|
P23
|
|
P3
|
P31
|
P32
|
P33
|
|
P4
|
P41
|
P42
|
P43
|
|
P5
|
P51
|
P52
|
P53
|
|
P6
|
P61
|
P62
|
P63
|
|
P7
|
P71
|
P72
|
P73
|
|
P8
|
P81
|
P82
|
P83
|
Pelaksanaan
Penelitian
Pembuatan kompos dikerjakan dalam
bangunan yang memiliki lantai rata dan
bebas dari genangan air serta adanya atap yang melindungi dari terik matahari
dan hujan, serta dekat dengan sumber bahan organik seperti jerami dan pupuk
kandang. Setiap petakan percobaan dibuat dengan ukuran 1 x 1 m dengan jarak
antar petakan 0,5 m. Persiapan Bahan Organik
Jerami yang digunakan adalah jerami
padi kering. Jerami tersebut dipotong-potong sepanjang ± 3 cm dengan mesin
chopper agar proses pengomposan berlangsung cepat. Selain itu, juga disediakan
pupuk kandang yaitu pukan dari kotoran
sapi. Tahap pembuatan kompos adapun langkah dalam tahap pembuatan pengomposan
adalah:
Kompos menggunakan Aktivator EM4. Pembuatan
kompos ini diawali dengan menimbang bahan-bahan sesuai dengan perlakuan yang
telah ditentukan.
Selanjutnya jerami yang telah dicacah
dicampurkan dengan cara diaduk merata menggunakan tangan. Lalu disiramkan 40 ml
EM4/40kg bahan kompos (setara dengan dosis 1liter
EM4/ton bahan kompos). Lalu kompos dilembabkan dengan disiramkan air
menggunakan gembor sampai kadar air 40-50% (jika digenggam akan keluar cairan
kental di sela-sela jari dan jika gumpalan dibuka bahan tidak hancur)
Bahan kompos lalu dimasukan ke
dalam kantong plastik 50 kg, kemudian diikat bagian atasnya dengan tali setiap
satu kali seminggu kompos dibuka dan diaduk merata agar kompos tidak terlalu panas yang menyebabkan mikroorganisme didalamnya mati.
Kompos menggunakan Aktivator Stardec. Pembuatan
kompos ini diawali dengan menimbang bahan-bahan sesuai dengan perlakuan yang
telah ditentukan. Lebih rincinya kebutuhan kesuluruhan bahan disajikan pada
Tabel 4 dan Tabel 5. Semua bahan kompos diaduk merata dengan tangan lalu
ditaburkan 100 gram stardec per perlakuan. Kemudian bahan disiram dengan air
sampai kadar air 40-50%. Lalu dimasukan kedalam kantong plastik hitam 50 kg.
Kompos menggunakan stardec dibiarkan terbuka dalam tempat kompos tersebut dan sekali
seminggu kompos juga diaduk agar suhu tumpukan kompos tidak terlalu panas.
Semua bahan kompos yang yang telah berisi diletakan dalam sebuah ruangan yang
beratap sehingga terhindar dari air hujan dan cahaya matahari langsung. Setelah
30 hari kompos jerami padi telah memasuki masa pematangan. Kompos yang matang
ditandai dengan suhu tumpukan yang menurun dan tidak berbau busuk, bentuk fisik
kompos jerami padi menyerupai tanah dan berwarna kehitam-hitaman (Isroi dan
Widiastuti, 2005).
Pengamatan
Sampel kompos jerami dibawa ke
Laboratorium Kimia Tanah Universitas Andalas lalu dianalisis sifat Kima
komposnya. Rincian analisis sifat Kimia kompos di Laboratorium disajikan pada
Tabel 1.
Tabel 1.
Analisis Sifat Kimia Kompos
|
Analisis Sifat kimia
|
Satuan
|
Metoda
|
|
pH
|
-
|
Elektroda glass
|
|
C-Organik
|
%
|
Pengabuan kering
|
|
Nitrogen
|
%
|
Destruksi basah
|
|
C/N
|
-
|
Rasio
|
HASILDAN PEMBAHASAN
Hasil Analisis Nilai
pH Kompos Jerami Padi
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam
menunjukan bahwa pemberian aktivator EM4 (Effective
Microorganism) dan Stardec pada pembuatan kompos jerami padi berpengaruh
nyata terhadap kualitas nilai pH kompos jerami padi. Data pengamatan kompos
jerami dapat di lihat pada Tabel 2.
Tabel
2. Analisis nila pH kompos jerami padi
|
Perlakuan
|
pH
|
|
P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
|
6,79 b
|
|
P1(jerami padi 20 kg
+ EM4 20 ml)
|
7,14 ab
|
|
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
|
7,90 a
|
|
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
|
7,99 a
|
|
P4 (jerami padi 15 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
|
7,83 a
|
|
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
|
7,77 ab
|
|
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50gr)
|
8,05 a
|
|
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50gr)
|
7,63 ab
|
|
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr)
|
7,92 a
|
|
KK= 4,82 %
|
BNJ
= 0,99
|
Angka- angka yang
diikuti oleh huruf kecil yang sama pada baris adalah tidak berbeda nyata
menurut uji lanjut bedanyata jujur(BNJ) padataraf 5%
Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa nilai pH
kompos jerami padi berkisar antara 6,79 sampai 8,05. Nilai pH ini sudah sesuai
dengan pH ideal untuk kompos adalah sekitar
4-8. Nilai pH tertinggi terdapat
pada perlakuan P6 dengan komposisi
jerami 5 kg + pukan 15 kg ditambah
aktivator stardec yaitu 8,05. Nilai pH tersebut tidak berbeda nyata dengan
perlakuan P1, P2, P3, P4, P5, P7 dan P8, tetapi berbeda nyata dengan kontrol
(P0)
Tingginya pH perlakuan P6 ini disebabkan dari sumbangan kation-kation
basa hasil mineralisasi bahan kompos. Menurut Dalzell (1987),
mineralisasi adalah proses biologi untuk menguraikan bahan organik menjadi
bahan humus oleh mikroorganisme. Menurut Liao (1995) nilai pH yang
alkalis akan memudahkan bahan organik pupuk kompos mengalami volatilisasi
amonium, yaitu perubahan senyawa N amonium menjadi gas amonia yang akan
dibebaskan ke udara.
Nilai pH yang terendah terdapat pada
perlakuan P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator), hal ini disebabkan
oleh penggunaan jerami tanpa aktivator dan tanpa pupuk kandang. Proses
penguraian jerami berjalan lambat karena tidak ada organisme perombak, sehingga
kompos kurang terdekomposisi dan tingkat keasamannya akan tinggi sehingga nilai
pH nya akan rendah.
Hasil Analisis
C-Organik Kompos Jerami Padi
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam
menunjukan bahwa pemberian aktivator EM4 (Effective Microorganism4) dan Stardec
pada pembuatan kompos jerami padi berpengaruh nyata terhadap kandungan C-organik kompos jerami padi. Data pengamatan kompos jerami padi
dapat di lihat pada Tabel 3.
Tabel
3. Analisis C-organik kompos jerami padi
|
Perlakuan
|
C-organik
(%)
|
|
P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
|
23,18
ab
|
|
P1(jerami padi 20 kg
+ EM4 20 ml)
|
25,98
a
|
|
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
|
24,34
ab
|
|
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
|
21,64
abc
|
|
P4 (jerami padi 15 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
|
22,84
ab
|
|
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
|
23,18
ab
|
|
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50gr)
|
21,21
bc
|
|
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50gr)
|
15,03
d
|
|
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr)
|
17,39
cd
|
|
KK= 7,07 %
|
BNJ
= 4,41
|
Angka- angka yang
diikuti oleh huruf kecil yang sama pada baris adalah tidak berbeda nyata
menurut uji lanjut bedanyata jujur(BNJ) padataraf 5%
Berdasarkan hasil Tabel 3, Terlihat bahwa
rata-rata kandungan C-organik pada
kompos jerami berbeda nyata. Perlakuan P1: 25,98%, tidak berbeda nyata dengan
perlakuan P0: 23,18%, P2: 24,34%, P3:21,64%, P4: 22,84% dan P5:23,18%, namun
berbeda nyata dengan perlakuan, P6: 21,21%, P7: 15,03% dan P8: 17,39%.
Berdasarkan hasil analisis laboratorium semua kompos jerami memiliki kandungan
C-organik > 15%. Berdasarkan standar kualitas kompos menurut Persyaratan
Teknis Minimal Pupuk Organik kandungan C-organik pada semua perlakuan sudah memenuhi standar
yaitu 12 %.
Dilihat dari Tabel 3, dengan komposisi jerami
padi 20 kg di tambah dengan EM4( 20 ml) memiliki kandungan hara C- organik
tertinggi yaitu 25,98% C, meskipun
kandungan C-organik perlakuan P1 ini tertinggi belum tentu perlakuan ini
terbaik karena harus disesuaikan dengan kandungan Nitrogen kompos. Dalam proses
pengomposan C-organik kompos seharusnya rendah pada kompos tanpa aktivator.
Kandungan C-organik paling tinggi pada P1 berarti proses dekomposisi berjalan
lambat pada pembuatan kompos tersebut. Karbon organik setelah pengomposan
semakin menurun karena C dimanfaatkan oleh mikroorganisme perombak sebagai
sumber energi dan dilepaskan dalam bentuk CO2. Hal tersebut didukung
dengan pernyataan Jurgens (1997), secara umum konsentrasi total C-organik
turun secara bertahap selama proses pengomposan, hal ini disebabkan oleh
lepasnya karbondioksida melalui respirasi mikroorganisme.
Hal ini disebabkan berdasarkan kondisi
pengomposan di lapangan oleh kompos jerami dengan menggunakan aktivator EM4
kurang panas dari variasi tumpukan kompos yang menggunankan Stardec sehingga
tingkat kematangannya lebih rendah dan jumlah kandungan C-organik pada perlakuan ini lebih tinggi.
Karena C-organik berpungsi sebagai sumber energi dan pertumbuhan bagi mikroba
(Sutedjo, 1999).
Sedangkan kandungan hara C-organik terendah
terdapat pada perlakuan P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg
+ stardec 50gr) yaitu
15,03 % nilai ini tidak berbeda nyata dengan kompos P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr) yaitu 17,39 %. Hal
itu disebabkan oleh bahan kompos jerami itu
terdiri dari jerami dan kotoran sapi dengan mengunakan aktivator Stardec
dengan berbagai aktifitas bakteri yang terdapat dalam kandungan kotoran sapi
tersebut.
Sejalan dengan pendapat Djuarnani (2005)
selama hidupnya, mikroorganisme mengambil air dan oksigen dari udara. Makanan
yang diperoleh dari bahan organik yang akan diubah menjadi produk metabolisme
berupa karbondioksida (CO2), air (H2O),
humus dan energi. Sebagian dari energi yang dihasilkan digunakan oleh
mikroorganisme untuk pertumbuhan dan reproduksi.
Hasil Analisis
Nitrogen(N) Pupuk Kompos Jerami Padi
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam
menunjukan bahwa penggunaan berbagai aktivator EM4 (Effective Microorganism)
dan Stardec pada pembuatan kompos jerami berpengaruh nyata terhadap kualitas
kandungan Nitrogen kompos tetapi tidak berbeda nyata menurut uji lanjut BNJ 5%.
Tabel
4. Analisis Nitrogen Total kompos jerami padi
|
Perlakuan
|
Nitrogen
Total (%)
|
|
P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
|
0,69
a
|
|
P1(jerami padi 20 kg
+ EM4 20 ml)
|
0,71
a
|
|
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
|
0,85
a
|
|
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
|
1,18
a
|
|
P4 (jerami padi 15 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
|
1,83
a
|
|
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
|
0,99
a
|
|
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50gr)
|
1,11
a
|
|
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50gr)
|
1,29
a
|
|
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr)
|
1,86
a
|
|
KK= 38,81 %
|
BNJ
= 0,99
|
Angka- angka yang
diikuti oleh huruf kecil yang sama pada baris adalah tidak berbeda nyata
menurut uji lanjut bedanyata jujur(BNJ) padataraf 5%
Berdasarkan hasil Tabel 4, terlihat bahwa
penggunaan aktivator EM4 semakin rendah kompoisi jerami maka jumlah N semakin
meningkat begitu juga dengan penggunaan aktivator Stardec. Hal ini disebabkan oleh pengaruh kandungan N
yang tinggi pada kotoran sapi sebagai bahan komposisi kompos. Adapun kandungan unsur hara yang
terdapat dalam kotoran sapi segar yaitu N 0,65% ( Ridwan,
2006). Sedangkan kandungan nitrogen yang terdapat dalam jerami
segar adalah 0,04%. Ponnamperuna (1985) melaporkan kandungan hara jerami dari
berbagai negara berkisar antara 0,38-1,01% N; 0,01-0,12% P; 1,0-3,0% K; dan
2,5-7,0% Si dengan rata-rata 0,57% N;
0,07% P; 1,5% K, dan 3,09 Si.
Di dalam Stardec berisi beberapa mikroba,
salah satunya adalah mikroba proteolitik yang mengeluarkan enzim protease yang
dapat merombak protein menjadi polipeptida – polipeptida lalu menjadi peptida
sederhana dan menjadi asam amino bebas, CO2 dan air. Stardec
merupakan bubuk yang mengandung bibit mikroba, bibit mikroba ini berperan
sebagai starter dalam penguraian bahan organik sehingga dapat dirombak menjadi
kompos. Stardec merupakan bubuk yang mengandung bibit mikroba,
bibit mikroba ini berperan sebagai starter dalam penguraian bahan organik
sehingga dapat dirombak menjadi kompos (Sarwono, 2001).
Hasil Analisis Rasio
C/N Pupuk Kompos Jerami Padi
Berdasarkan analisis sidik ragam
menunjukkan bahwa pengaruh berbagai aktivator EM4 (Effective Microorganism) dan Stardec pada pembuatan kompos jerami
berpengaruh nyata terhadap kualitas kandungan C/N kompos. Data pengamatan
kompos jerami dapat di lihat pada Tabel 5.
Tabel
5. Analisis C/N Total kompos jerami padi
|
Perlakuan
|
Rerata
|
|
P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
|
36.13 ab
|
|
P1(jerami padi 20 kg
+ EM4 20 ml)
|
38.83 a
|
|
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
|
27.67 abc
|
|
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
|
19.34 abc
|
|
P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
|
12.44 c
|
|
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
|
18.59 bc
|
|
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50gr)
|
20.81 abc
|
|
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50gr)
|
12.16 c
|
|
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50gr)
|
11.58 c
|
|
KK= 30.99 %
|
BNJ= 19.49
|
Angka- angka yang
diikuti oleh huruf kecil yang sama pada baris adalah tidak berbeda nyata
menurut uji lanjut bedanyata jujur(BNJ) padataraf 5%
Berdasarkan Tabel 5, perlakuan P1 dengan
komposisi jerami padi 20 kg di tambah dengan EM4 20 ml memiliki kandungan hara
C/N rasio tertinggi yaitu 38,83 nilai ini tidak berbeda nyata dengan C/N
kontrol ( P0 ) yaitu 36,13. Tampaknya pada perlakuan ini penggunaan aktivator
EM4 tidak seefektif penggunaan stardec dalam proses pengomposan. Pada perlakuan
P0 bahan kompos yang digunakan adalah jerami padi saja sehingga prosees
pengomposan berjalan lambat karena dpengaruhi oleh kandungan C/N jerami padi
sangat tinggi. Menurut (Nuraini 2009) dalam penelitiannya kandungan C/N jerami
segar adalah 51,2. Nisbah
C/N yang optimum untuk pengomposan berkisar antara 25-40. Semakin rendah nilai
C/N bahan, waktu yang diperlukan untuk pembuatan pupuk bokashi semakin singkat (Gaur,1983).
Penelitian ini sudah standar kualitas kompos
menurut Standar kualitas kandungan C/N kompos yang ideal adalah 12 - 25. Rasio
C/N yang tinggi menunjukkan kandungan selulosa dan lignin yang tinggi pada
bahan, sehingga dekomposisi bahan sulit. Sebaliknya, C/N rasio yang rendah
menunjukkan kandungan selulosa dan lignin yang rendah, sehingga dekomposisi
bahan lebih mudah (Supadma, 2008 ).
Rasio C/N terendah adalah pada perlakuan P8: 11,58 % dengan komposisi
jerami padi 5 kg ditambah pukan 15 kg dengan menggunakan aktivator stardec. Hal
ini disebabkan oleh perlakuan ini didominasi oleh pukan dari kotoran sapi yang
rasio C/N yang renda sehingga proses degradasi berjalan cepat dan tingkat
kematangan kompos lebih tinggi sehingga kualitas kompos pada perlakuan ini
lebih baik. Selain itu , rasio C/N rendah pada perlakuan P8 juga disebabkan
karena kandungan C-organik perlakuan P8 juga paling rendah dan perlakuan lainya
yaitu 17,39 % ( lihat Tabel 3), sedangkan kandungan N nya yang paling tinggi
dari perlakuan lainnya yaitu 1,8 % (lihat Tabel 4). Berdasarkan penelitian ini
bahwa aktivator Stardec memiliki kualitas yang lebih baik dalam peubah rasio
C/N dibanding aktivator EM4.
Jika bahan organik miskin akan nitrogen atau
dengan kata lain C/N Rasio terlalu tinggi berkisar antara 25 - 40 maka
aktivitas mikroorganisme dalam mendegradasikan bahan organik akan menurun,
sehingga pengomposan akan berjalan lambat (Gaur, 1983). Semakin rendah nilai
C/N Rasio bahan, waktu yang dibutuhkan untuk pengomposan semakin singkat
(Indriani, 1999).
KESIMPULAN
1.
Penggunaan
aktivator EM4 dan Stardec dalam berbagai pengomposan jerami padi berpengaruh
nyata terhadap nilai pH, C-organik dan C/N kompos.
2.
Komposisi
yang tepat dalam pengomposan jerami padi adalah kompos perlakuan P8 ( pupuk
kandang dari kotoran sapi 15 kg + jerami padi 5 kg + Stardec 50gr) dengan kandungan C-organik : 17,39% , N: 1,86
% dan C/N : 11, 58.
DAFTAR PUSTAKA
BPS.
2011. Badan pusat statistik.
Kuantan Singingi.
Deptan, 2009. Dasar Dasar Penyuluhan Pertanian http: //www. pustaka.deptan. go.id. di akses 31 maret 2013 jam 10.00 WIB
Dalzell, H.W., Biddlestone, A.J., Gray,
K.R, dan Thuraraijan, K. 1991. Soil
Management: Compost Production and
Use In Tropical and Subtropical Environment. Sol Bulletin 56. Food and
Agriculture Organization of The United Nations
Djuarnani. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Kiat Mengatasi Permasalahan
Praktis. Agromedia Pustaka.
Gaur, A. C. 1983. A Manual of Rural Composting. Project Field Document No. 15 FAO,
Rome
Indriani. 1999. Membuat
Kompos Secara Singkat. Penebar Swadaya. Jakarta
Liao,
P. H., Achan & K. V. Lo. 1995. Removal
of N from swine manure waste waters by ammonia stripping. Bioresource
Technology. Elsevier Sciene Limited. 54:17-20
Jurgens,
R. 1997. Membuat, Menjual, dan Menerapkan, Inilah Era Baru
Kompos Pertanian. J.Biocycle. 38(35): 89-101
Nuraini, Nuraini, 2009. Pembuatan
Kompos Jerami Menggunakan Mikroba Perombak Bahan Organik. Buletin Teknik
Pertanian14:1
Ridwan. Ridwan,
2006. Kotoran ternak sebagai pupuk dan
sumber energy. Available at http://www. disnak. jabarprov.go.id /data/arsip di akses tanggal 20 juni 2014 jam 14: 30 WIB
Sarwono,
2001. Membuat Tanaman Cepat Berbuah.
Penebar Swadaya. Jakarta
Sinar Tani, 2011. Gerakan Menuju Pertanian Organik , Sinar Tani Edisi 19 – 25 Oktober 2011, Jakarta.
Sutedjo, 2008. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta
Supadma,
A., A. Nyoman dan D. M. Arthagama. 2008. Uji
formulasi kualitas pupuk kompos yang bersumber dari sampah organik dengan
penambahan limbah ternak ayam, sapi, babi dan tanaman pahitan. Jurnal Bumi
Lestari 8: 113-121.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar