Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 25-32


PENGARUH PEMBERIAN ZAT PERANGSANG TUMBUH ROOTONE F DAN PUPUK NPK MUTIARATERHADAP PERTUMBUHAN SETEK LADA  (Piper nigrum. Linn)

Eko Budianto, Marlinda, Dan Chairil Ezward
Prodi Studi Agroteknologi Fakultas pertanian Universitas Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan

ABSTRACT

The purpose of this research was to determine the effect use of Rootone F and NPK Mutiara Fertilizer at cuttings Pepper (Piper nigrum Linn). This research used a completely randomized design (CRD) which consists of two factors: the first factor is the use of Rootone F (Factor A), which consists of 4 levels, namely: A0 (Without growth stimulating substances Rootone F), A1 (Rootone F with concentration of 50 mg / liter of water), A2 (F Rootone with concentration of 100 mg / liter of water), A3 (Rootone F with a concentration of 150 mg / liter of water). The second factor is NPK Mutiara (Factor B): B0 (Without giving NPK Mutiara), B1 (NPK 5 g / plant), B2 (NPK10 g / plant), B3 (NPK 15 g / plant). Results of research using various concentration Rootone F singely significant effect on all parameters observed with the best treatment A2 (Rootone F use concentration of 100 mg / l of water), plant height (29 cm), Age show up sprout (28.33 days), number of leaves (6.83 piece), the percentage of growth (100.00%). Treatment of several dosage of NPK Mutiara singly significant effect on the parameters of  observation with the best treatment B2 (NPK Mutiara giving 10gr / plant). The treatment is the use of multiple dosage interaction Rootone F and NPK mutiara fertilizer significant effect on the parameters of the observation with the best treatment A2b2 (Rootone F use 100mg / l of water and the provision of NPK Mutiara 10gr / plant.

Keywords : Rootone F, NPK, Cutting pepper


PENDAHULUAN

Tanaman Lada Piper nikrum linn salah satu tanaman tahunan yang ada di Indonesia, lada memiliki dua tipe pertumbuhan merambat dan perdu. buahnya digunakan sebagai bahan rempah-rempah. Untuk kebutuhan rumah tangga, Industri, Obat-obatan, bisa juga digunakan sebagai bahan pengawet daging. Dan komoditas Ekspor.
Tanaman lada ini merupakan sumber daya alam yang semakin lama permintaannya semakin meningkat sesuai dengan tingkat kemajuan, Untuk meningkatkan produksi lada perlu memperbaiki mutu bibit lada tersebut (intensifikasi) dapat pula melalui usaha ekstensifikasi (Penambahan lahan) dan replanting (peremajaan), untuk menjamin kebutuhan bibit demi terlaksananya tujuan tersebut diatas maka diperlukan bibit dalam jumlah yang banyak. Untuk memenuhi kebutuhan bibit lada diperbanyak dengan cara vegetatif yaitu melalui penyetekan.  
Usaha untuk peningkatan produksi tanaman secara intensifikasi telah mulai menggunakan senyawa yang bersifat merangsang tumbuh. Zat tumbuh senyawa organik yang mengandung zat hara dengan kosentrasi rendah dapat mendorong, menghambat atau secara kwantitatip merubah pertumbuhan dengan perkembangan tanaman.pemakaian zat perangsang yang tepat dan pemupukan tanaman yang sesuai dengan dosis anjuran dapat menghasilkan bibit bermutu tinggi. Selain pemberian ZPT untuk mendapatkan pertumbuhan yang lebih baik perlu dipacu dengan pemberian  pupuk NPK Mutiara (16:16:16), penggunaan pupuk majemuk NPK Mutiara 16:16:16 yang diberikan lewat akar dapat memberikan keuntungan dalam penghematan tenaga kerja dan juga dapat memberikan 3 jenis unsur hara dalam 1 kali pemberian yaitu unsur nitrogen, posfor dan kalium.
Pupuk NPK memegang peranan penting dalam berbagai proses metabolisme tanaman. Kekurangan pupuk NPK dapat mengganggu berbagai proses metabolisme dalam tubuh tanaman. Berdasarkan pemikiran diatas penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh pemberian zat perangsang tumbuh Rootone F dan pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan setek lada ( Piper nigrum linn ).
 Adapun tujaun penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi Rootone F dan Pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan setek tanaman lada baik secara tunggal maupun secara interaksi( Piper nigrum linn ).




BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah kasa Balai Benih Unggul ( BBU ) Dinas Tanaman Pangan Desa Kampung Baru Sentajo Kecamatan Sentajo Raya Kabupaten Kuantan Singingi Riau, Jalan Raya Teluk Kuantan Rengat. Penelitian akan dilaksanakan selama empat bulan dari bulan Juni sampai dengan  September  2013.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bibit Setek Lada. Media  topsoil, Pupuk kandang kotoran ayam ras, Pasir kali dengan perbandingan, 2, 2, 1, Rootone F, Pupuk NPK Mutiara, Papan Label, Polibag 8 x 15 cm, Paku, plastik kaca, bambu, Pena, Kertas dan bahan-bahan lain  yang mendukung penelitian ini. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cangkul, Gembor, Parang, Henspreyer, timbangan analitik.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama adalah penggunaan Rootone F (Faktor A) yang terdiri dari 4 taraf yaitu : A0 (Tanpa pemberian zat perangsang tumbuh Rootone F), A1 (Rootone F dengan kosentrasi 50 mg/liter air), A2 (Rootone F dengan kosentrasi 100 mg/liter air), A3 (Rootone F dengan kosentrasi 150 mg/liter air). Faktor kedua adalah pemberia NPK Mutiara (Faktor B) terdiri dari 4 taraf yaitu : B0 (Tanpa pemberian NPK Mutiara), B1 (Pemberian pupuk NPK Mutiara 5 gram /tanaman), B2 (Pemberian pupuk NPK Mutiara 10 gram/tanaman), B3 (Pemberian NPK Mutiara 15 gram/tanaman). Semua data dianalisis statistic, jika F table lebih besar dari F hitung maka dilakukan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
Data hasil pengamatan terhadap parameter tinggi tanaman Lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal dan  interaksi penggunaan berbagai dosis Rootone F dan pemberian Pupuk NPK Mutiara berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman lada. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.


Tabel 1. Rerata tinggi tanaman lada dengan penggunaan berbagai dosis  Rootone F dan pupuk NPK Mutiara Pada Umur 3 Bulan.
FAKTOR A
FAKTOR B
ȲA
B0
B1
B2
B3
A0
24,22 d
24,33 d
27,00 bc
27,22 bc
25,69 d
A1
27,33 bc
27,67 bc
28,89 b
27,66 bc
27,89 b
A2
26,67 c
28,78 bc
31,66 a
28,89 b
29,00 a
A3
24,22 d
26,55 cd
29,11 b
28,00 bc
26,97 c
ȲB
25,61 d
26,83 c
29,17 a
27,94 b

KK= 2,70%
BNJ A & B= 0.81
BNJ AB= 2.21
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%


Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa penggunaan Rootone F secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman lada. Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan pemberian Rootone F secara tuggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman perlakuan terbaik terdapat pada A2 ( pemberian Rootone f dengan kosentrasi 100 Mg/liter air) yaitu dengan tinggi tanaman 29,00 cm, bahwa perlakuan A2 berbeda nyata terhadap seluruh perlakuan, hasil pengamatan paling redah terdapat pada perlakuan A3 dengan tinggi tanaman (26,97cm).
Perlakuan A2 dosis zat perangsang tumbuh Rootone F yang diaplikasikan dengan keadaan seimbang sehingga Zat Perangsang Tumbuh Rootone berfungsi sebagai pemacu dan penghambat pertumbuhan tanaman. Penggunaan Rootone F yang tepat akan berpengaruh baik bagi pertumbuhan tanaman namun dalam jumlah yang terlalu banyak justru akan merugikan tanaman karena akan meracuni tanaman tersebut.
Pada perlakuan  A1 tinggi tanamn yang dihasilkan 27,89cm, karena pada perlakuan Rootone f kurang mencukupi untuk rangsangan tumbuh. begitu juga pada perlakuan A3 tinggi tanaman 26,97 cm karena dosis yang diberikan terlalu tinggi maka pertumbuhan setek lada tersebut mangalami hambatan. Maka Rootone F bila diaplikasikan secara tepat dosis akan dapat merangsang pertumbuhan akar, sehingga dapat mencukup kebutuhan  hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Sehingga tanaman dapat tumbuh baik dan tanaman mudah dalam pertumbuhannya memperpanjang tunas/batang dan memperbanyak akar tanaman.
Setelah diamati pada Tabel 1 rerata tinggi tanamn menunjukan  perlakuan B2 dengan dosis pupuk NPK mutiara 10gr/tanaman yaitu dengan tinggi tanamn 29,17cm berbeda nyata dengan semua perlakuan. Dengan hasil terendah yaitu diperlakuan B1 dengan tinngi tanaman (26,83cm) Pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan konsentrasi rendah tidak memberikan pengaruh karena tidak mampu memenuhi hara yang dibutuhkan tanaman hal ini terjadi pada perlakuan B1, bila pupuk diberikan dengan kosentrasi tinggi tanaman mengalami setaknasi karena kebutuhan hara yang berlebih dapat mengakibatkan tanaman keracunan hal ini terjadi pada perlakuan B3.
Pada tahap pembibitan Pupuk menjadi faktor utama untuk penyedia unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman supaya mendapatkan tanaman muda yang sehat, unsur hara Nitrogen (N), dapat menunjang pertumbuhan tanaman yang diperlukan untuk pembentukan tubuh tanaman atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman. Unsur N merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar, Unsur P merupan sebagi perangsang dan dapat memperbaiki pH tanah sehingga sangat perlu sekali untuk merangsang tinggi tanamn lada tersebut.
Pupuk NPK mutiara  merupan pupuk majemuk yang mempunyai kandungan hara yang komplit  untuk pertumbuhan generatif dan vegetatif untuk pertumbuhan akar batang daun sehingga tanaman yang dihasilkan  selama dipembibitan pertumbuhan tumbuh dengan baik, dan diperkuat  unsur hara yang cukup dapat memacu  pertumbuhan perakaran batang dan daun. respon tanaman terhadap unsur hara akan meningkat jika tepat pemupukan, waktu, dosis dan cara pemberian dilakukan dengan tepat (Rahmayani 2006).
Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai Dosis zat Perangsang Tumbuh Rootone F dan pemberian pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman Lada dimana kombinasi terbaik terdapat pada perlakuan A2B2 (Pemberian Rootone F dengan dosis 100 Mg dengan lama perendaman 1 jam dan pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis10 gr/ tanaman ) dengan tinggi 31,66 cm.
Dari data Tabel 1 menunjukkan kombinasi perlakuan A2B2 dengan  perlakuan (Pemberian Rootone F 100 mg/l air dan pemberian Pupuk NPK Mutiara 10gr/tnaman) Yaitu dengan tinggi tanamn 31,66cm, perlakuan A2B2 berbeda nyata dengan seluruh perlakuan dengan hasil terendah terdapat diperlakuan A2B0 dengan tinggi tanaman 26,67cm.
Penggunaan Rootone F 100 mg / 1 Air dan pemberian NPK Mutiara 10 gr/Tanaman menghasilkan tinggi tanaman Lada tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini pemberian Rootone F yang diberikan kepada tanaman dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan sehingga tanaman yang dihasikan cepat hidup, begitu juga dengan pemberian hara N, P dan K  pada konsentrasi yang tepat. Tinggi tanaman ditentukan oleh zat perangsang tumbuh Rootone F yang tepat dosis dan pupuk NPK Mutiara akan lebih dibutuhkan untuk pertumbuhan seperti tinggi tanaman.
Kandungan NPK Mutiara yang sangat berperan penting dalam pertumbuhan menambah tinggi tanaman unsur hara (N) disamping unsur hara lain. Unsur hara N dapat menunjang pertumbuhan tanaman dan pembentukan bagian-bagian vegetatif tanaman terutama menambah tinggi tanaman. Unsur N merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan setek dipembibitan untuk pertumbuhan tanaman seperti daun, batang dan akar (Mulyani 2002). Rinsema (2008) menyatakan bahwa  penyerapan air dan unsur hara cukup bagi tanaman maka pertumbuhan dan kesuburan suatu tanaman akan semakin baik. Mardawilis (2004)  mengemukakan bahwa tanaman memerlukan unsur hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium yang optimal untuk pertumbuhan Vegetatif dan Generatif.

Umur Muncul Tunas ( Hari )
Data hasil pengamatan terhadap  umur muncul tunas setek lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal dan interaksi dengan perlakuan penggunaan Rootone F dan pemberian pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas tanaman lada. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

Tabel 2. Rerata umur muncul tunas Setek Lada dengan penggunaan berbagai Dosis Rootone F dan Pupuk NPK Mutiara
FAKTOR A
FAKTOR B
ȲA
B0
B1
B2
B3
A0
45,00
43,00
40,00
40,00
42,00 c
A1
35,67
36,33
34,33
35,00
35,33 b
A2
30,00
29,00
28,00
28,33
28,83 a
A3
34,33
34,00
34,33
35,00
34,42 b
ȲB
36,25 b
35,58 ab
34,17 a
34,58 a

KK= 4,02%
BNJ A&B= 1,55

Angka-angka pada baris da kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%


Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa perlakuan penggunaan berbagai kosentrasi Rootone F secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas tanaman lada dimana perlakuan terbaik terdapat pada  perlakuan A2 (penggunaan Rootone F dengan dosis 100mg/liter air) yaitu 28,83 hari, perlakuan  A2 berbeda nyata terhadap semua perlakuan. Dan hasil terendah dalam perlakuan terdapat A1 yaitu 35hari    
Dari hasil percobaan ini, secara umum terlihat bahwa dosis yang tepat setek lada dalam larutan Rootone F mampu meningkatkan pertumbuhan bibit setek lada. Keadaan ini mengindikasikan bahwa pemakai Rootone F dengan konsentrasi 100 mg/liter air lebih memberikan pengaruh yang nyata dalam memacu mulcul tunas baru dan meningkatkan pertumbuhan bibit setek lada, terutama dalam merangsang dan memacu pertumbuhan awal stek (inisiasi akar dan tunas setek). Dugaan ini diperkuat oleh laporan penelitian Rini (2000), dimana perendaman stek lada selama 1 jam dalam larutan Rootone F mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akar serta tajuk bibit setek lada selama masa pembimbibitan.
Nurdjannah (2000) menyatakan, pemberian ZPT pada setek dimaksudkan untuk merangsang dan memacu terjadinya pembentukan akar setek, sehingga pucuk cepat tumbuh serta perpanjangan pucuk..  
Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan Pupuk NPK Mutiara secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tumbuh tunas baru tanaman lada perlakuan terbaik terdapat pada B2 (pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman, dengan hari muncul tunas yaitu 34,17 hari, berbeda nyata dengan semua perlakuan,  hasil terendah pada perlakuan B2  35,58 hari.
Pemberian pupuk melalui tanah atau perakaran dapat mengatasi kekurangan hara karena pengaruhnya yang lama dan tersedia dalam kebutuhan pertumbuhannya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk melalui tanah / perakaran dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan serapan hara. Serapan N, P dan K tanaman sebagai pengaruh pupuk NPK Mutiara  cenderung lebih tinggi daripada perlakuan standar dan kontrol (Rahmayani, 2006).
Perlakuan Pupuk NPK Mutiara yang menunjukkan angka tertinggi untuk persentase tumbuh 34,17 hari, B2 (pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman), hal ini karena dengan pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman telah mampu memberikan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Pada masa pertumbuhan vegetatif lebih banyak seperti kandungan Nitrogen (N), Nitrogen berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman, Nitrogen merupakan unsur hara digunakan bagi tanaman untuk pertumbuhan vegetatif, tanaman akan keliatan hijau dan banyak mengandung klorofil yang berfungsi dalam proses fotosintesis. Pospat (P) berpungsi merangsang pertumbuhan akar atau untuk pertumbuhan Vegetatif dan generatif tetapi untuk pertumbuhan vegetatip setek sangat bagus memacu munculya tunas baru. Kalium (K) berpungsi mempertahan kan kekebalan tubuh tanaman dari serangan hama dan penyakit sehingga hasil yang maksimal akan terwujut  (Sudarmo, 2002).
Perlakuan Pupuk NPK Mutiara terendah di tunjukkan angka 35,58 hari perlakuan B1 (pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 5 gr/tanaman). Apabila tanaman kekurangan unsur hara akan mengalami defisiensi dan bila tanaman kelebihan unsur hara akan mengakibatkan keracunan bagi tanaman. Sesuai pendapat (Sudaryanti 2008) bahwa apabila tanaman kekurangan salah satu unsur hara yang dibutuhkan maka pertumbuhan tanaman akan terganngu dan akan mengalami defisiensi.
Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai  Dosis zat Perangsang Tumbuh (Rootone F) dan pemberian pupuk NPK Mutiara tidak berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas tanaman Lada dimana kombinasi perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2B2 (Pemberian Rootone F dengan dosis 100 Mg dengan lama perendaman 1 jam dan pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis10 gr/ tanaman ) dengan umur muncul tunas 28 hari.
Penggunaan Rootone F 100 mg / 1 Air dan pemberian pupuk NPK Mutiara 10 gr/Tanaman, menghasilkan pertumbuhan tanaman yang tercepat. Penanaman setek lada merupakan masa adaptasi tanaman dengan lingkungan untuk merobah masa setaknasi menjadi kepertumbuhan vegetatif. Sejalan dengan pendapat Herawan (2006) bahwa tahap pertumbuhan vegetatif setek  adalah tahap paling kritis bagi tanaman lada, karena sulit di control kebutuhan kelembaban dan kebutuhan hara yang dibutuhkan oleh setek tersebut.
Perlakuan secara interaksi penggunaan zat perangsang tumbuh Rootone F dan Pupuk NPK Mutiara menghasilkan tumbuh tunas baru yang baik karena Pupuk dan zat perangsang tumbuh yang diberikan mampu memenuhi hara yang dibutuhkan setek lada dan juga pemberian pupuk NPK Mutiara dengan konsentrasi yang tepat, dan perlakuan terbaik terdapat pada kombinasi perlakuan A2B2 (penggunaan zat perangsang tumbuh Rootone F dengan dosis 100 mg/liter air dan pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman) dengan umur tumbuh 28 hari.

Jumlah Daun (Helai)
Data hasil pengamatan terhadap parameter jumlah daun setek Lada, setelah dianalisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal penggunaan zat perangsang tumbuh Rootone F  memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman Lada. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.


Tabel 3. Rerata jumlah daun lada dengan penggunaan berbagai dosis Rootone F dan pupuk NPK Mutiara.
 FAKTOR A
FAKTOR B
ȲA
B0
B1
B2
B3
A0
3,78 e
4,22 e
5,66 cd
5,44 d
4,78 c
A1
4,88 de
6,33 cd
7,44 bc
7,00 bc
6,41 b
A2
4,22 e
6,00 cd
9,66 a
7,44 bc
6,83 a
A3
4,22 e
5,55 cd
7,77 b
6,66 c
6,05 b
ȲB
4,27 d
5,52 c
7,64 a
6,64 b

KK= 6.54%
BNJ B= 0.43
BNJ AB= 1.17
Angka-angka pada baris da kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%


         Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan penggunaan berbagai dosis Rootone F secaara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2 (penggunaan Rootone F dengan dosis 100 mg/liter air) yaitu 6,83 helai berbeda nyata terhadap semua perlakuan.dari data tersebut hasil terrendah pada perlakuan A3 yaitu 6,05 helai
Perlakuan A2 ( penggunaan Rootone F dengan dosis 100 mg/liter air ) menghasilkan jumlah daun  terbanyak, karena kandungan Rootone F yang diberikan pada setek  mampu memenuhi kebutuhan zat rangsang tumbuh yang diperlukan tanaman lada sehingga setek cepat tumbuh dan mengeluarkan pucuk baru dan meningkatkan pertambahan jumlah daun. Penggunaan Rootone F dengan dosis 100 mg/leter air yang dapat memperbaiki dan merangsang pertumbuhan setek lada sehingga baik untuk pertumbuhan daun yang dihasilkan cukup banyak. Rootone F yang cukup dapat membantu pertumbuhan akar sehingga tunas baru akan cepat muncul atau tumbuh sehingga batang dan daun yang dihasilkan akan lebih optimal  (Riseksaane  2005).
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan NPK Mutiara secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada, dimana perlakuan terbaik terdapat pada B2 (pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman ) yaitu 7,64 helai daun, berbeda nyata dengan semua parameter pengamatan, dengan hasil terendah pada perlakuan B1 yaitu 5,52 helai
Perlakuan B2  menunjukkan angka tertinggi 7,64 helai daun dengan pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman hal ini karena dosis yang diberikan telah dapat mencukupi kebutuhan hara tanaman lada, sedangkan perlakuan B1 menunjukkan angka terendah 5,52 helai dan B3 menunjukan angka 6,64 helai dibawah perlakuan B2.  (Sudaryanti 2011) menyatakan bahwa pupuk diberikan dalam konsentrasi yang terlalu rendah tidak dapat memenuhi kebutuhan hara yang dibutuhkan oleh tanaman begitu juga kosentrasi  tinggi akan mengakibatkan keracunan bagi tanaman. Respon tanaman terhadap pemberian unsur hara apabila telah mencapai batas optimum akan mengakibatkan penghambatan dan penurunan pertumbuhan hal ini terjadi pada perlakuan B3.

Pemberian unsur hara dengan konsentrasi yang rendah pengaruhnya terhadap tanaman tidak akan tampak (Rahmayani 2006), sedangkan pada perlakuan pemberian NPK Mutiara, jumlah daun terbanyak terdapat pada tanaman lada yang diberi pada konsentrasi 10 gr/tanaman, pada saat penananman setek  tidak memerlukan konsentrasi pupuk hanya memerlukan Zat perangsang tumbuh Rootone F sesuai dengan penelitian.

Fatmawati dan Susiyanti (2004) konsentrasi pupuk NPK Mutiara diberikan kepada tanaman lada setelah tanaman bertunas muda disaat itu tanaman lada memerlukan unsushara yang banyak untuk pertumbuhan.

            Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai dosis Rootone F dan pemeberian Pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada dimana kombinasi perlakuan terbaik terdapat pada A2B2 (penggunaan Rootone F dengan kosentrasi 100mg/liter air dan Pupuk NPK Mutiara kosentrasi 10 gr/tanaman) yaitu 9,66 helai berbeda nyata dengan semua perlakuan, hasil terendah pada perlakuan interaksi terdapat pada perlakuan A2B0, A3B0 dan A0B1 yaitu 4,22 helai. 
Penggunaan Rootone F 100 mg /l Air dan pemberian pupuk NPK Mutiara 10 gr/Tanaman, menghasilkan pertumbuhan daun yang terbanyak pada perlakuan A2B2 yaitu 9,66 helai. Rootone F yang diinteraksikan dengan pupuk NPK Mutiara dapat merangsang pertumbuhan daun dan menyediakan unsur hara yang dibutuhkan setek lada melalui asupan zat perangsang dan unsur hara tanaman tumbuh dan berkembang serta dapat memperkokoh berdirinya tanaman, sehingga Rootone f dan Pupuk NPK Mutiara  harus tersedia apa yang dibutuhkan tanaman. Menurut Sudarmo (2002), bahwa pemupukan yang tepat cara, tepat waktu dan dosis dengan cara di tabur ketanah dapat memberikan asupan unsur – unsur yang dibutuhkan tanaman.

Pupuk NPK Mutiara akan mempengaruhi tanaman yang sangat  berbeda terhadap pertumbuhannya tanaman tersebut. Selain dirangsang agar cepat tubuh dan menghasilkan pucuk baru dan daun yang sehat, pemupukan diperlukan pula untuk meningkatkan daya tahan/anti bodi sehingga pertumbuhan batang dan daun baru akan cepat tumbuh. Pemupukan adalah setiap usaha pemberian pupuk yang bertujuan menambah persediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman (Sarief 1996).

Persentase Tumbuh (%)
Data hasil pengamatan terhadap parameter persentase tumbuh tanaman lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal penggunaan Rootone F berpengaruh nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 4.

Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan zat perangsang tumbuh Rootone f memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada dimana perlakuan persentase tumbuh terbaik terdapat pada  perlakuan A2 (penggunaan Rootone F dengan dosis 100mg/liter air) yaitu 100.00%. perlakuan A2 berbeda nyata dengan semua perlakuan, persentase tubuh terendah terdapat pada perlakuan A1 dan A3 yaitu 91,67%






Tabel 4. Rerata persentase tumbuh setek Lada dengan penggunaan berbagai Dosis Rootone F dan Pupuk NPK  Mutiara
FAKTOR A
FAKTOR B
ȲB
B0
B1
B2
B3
A0
75
100,00 a
100,00 a
91,67 ab
91,67 b
A1
100,00 a
91,67 ab
100,00 a
75,00 b
91,67 b
A2
100,00 a
100,00 a
100,00 a
100,00 a
100,00 a
A3
100,00 a
75,00 b
100,00 a
91,67 ab
91,67 b
ȲA
93,75 ab
91,67 b
100,00 a
89,58 c
93,75
KK= 7.36%
BNJ A & B = 6,84
BNJ AB = 18.66
Angka-angka pada baris da kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%


Tingginya persentase setek lada yang hidup diduga dipengaruhi oleh penggunaan dosis Rootone F, yang sesuai dengan kebutuhan setek lada tersebut yang tepat. sehingga setek lada mampu beradaptasi dengan lingkungannya dan tumbuh dengan baik selama di pembibitan, hal ini terlihat dari kondisi bibit yang cukup segar, Penyungkupan  dilakukan selama 4 minggu dengan cara bibit setek ditanam disungkup dengan plastik kaca berwarna putih untuk menjaga kelembaban tetap tinggi.
Menurut Wetherell (1992) salah satu cara untuk menjaga kelembaban relatif tetap tinggi selama tahap penanaman bibit setek lada. Penyungkupan pada setiap satu minggu sekali harus dibuka untuk menjaga kelembaban udara di dalam media terbukti meningkatkan keberhasilan hidup setek lada, penyiraman dilakukan dua  hari untuk mencegah kekeringan pada setek selama dalam penyungkupan.
Riseksane (2005) Perendaman dengan menggunakan Rootone F mampu merangsang akar karena Rootone F zat perangsang tumbuh, mampu merangsang pertumbuhan akar. berperan mendorong pertumbuhan akar sehingga persentase tumbuh bibit tinggi. Rootone F merupakan hormon yang berperan dalam merangsang pertumbuhan akar.
Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan Pupuk NPK Mutiara secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada perlakuan terbaiknya yaitu B2 (pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman) yaitu 100,00%, berbeda nyata dengan semua perlakuan, dengan persentase tumbuh terendah pada perlakuan B3 yaitu 89,58%
Perlakuan Pupuk NPK Mutiara yang menunjukkan angka tertinggi untuk persentase tumbuh 100,00% B2 (pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman), hal ini diduga karena dengan pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman, telah mampu memberikan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Pada masa pertumbuhan vegetatif lebih banyak seperti kandungan Pospor (P) berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman, P merupakan unsur hara makro yang sangat dibutuhkan tanaman untuk merangsang pertumbuhan Vegetatif dan Generatif. Sedangkan N dapat memperbaiki  tanaman akan keliatan hijau dan banyak mengandung klorofil, yang berfungsi dalam proses fotosintesis. Kandungan P juga mempunyai pungsi sebagai perangsang pertumbuhan vegetatif misalnya untuk pertumbuhan akar sehingga akar cepat dalam penyebarannya. sedangkan Kalium sebagai hara tanaman yang berpunsi sebagai anti bodi tanaman setek lada dari serangan penyakit.   (Sudarmo, 2002).
Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai dosis Rootone F dan pemeberian Pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh setek lada dimana kombinasi terbaik terdapat pada perlakuan A2B2 (penggunaan Rootone F dengan kosentrasi 100mg/liter air dan Pupuk NPK Mutiara kosentrasi 10 gr/tanaman) yaitu 100 %, perlakuan terbaik pada perlakuan A2B2 dan tidah berbeda nyata dengan seluruh kombinasi perlakuan. Perlakuan A2B2 berbeda nyata dengan perlakuan A0B0 (Tannpa pemberian Rootone f dan Pupuk NPK Mutiara) yaitu 75 %, A1B3 (pemberian Rootone F dengan kosentrasi 50 mg/liter air dan Pupuk NPK Mutiara dengan kosentrasi 15 gr/tanaman) yaitu 75 %, A3B1(pemberian Rootone F dengan kosentrasi 10 mg/l air dan pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan kosentrasi 5 gr/tanaman ) yaitu 75 %. 
Penggunaan Rootone F 100 mg / 1 Air dan pemberian pupuk NPK Mutiara 10 gr/Tanaman, menghasilkan persentase tanaman yang terbaik Pada semua parameter pengamatan dan berbeda nyata terhadap perlakuan, A0B0,A1B3,A3B1  relatif menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang rendah dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Penggunaan Rootone F dengan dosis 100 mg/leter air yang dapat memperbaiki dan merangsang pertumbuhan setek lada sehingga baik untuk pertumbuhan akar dan pucuk tanaman selama dalam pembibitan, sehingga persentase tumbuh pada perlakuan A2B2  Hal ini dipertegas oleh Gunawan (2003), bahwa rangsangan Rootone F mampu mempercapat tumbuhnya akar dan tunas baru.
Pupuk NPK mutiara dosis yang kurang dapat menghambat pertumbuhan vegetatif. dengan kandungan pupuk NPK Mutiara yang tepat dosis dapat menyediakan unsur hara yang dibutuhkan setek lada tersebut. hara yang diaplikasikan melalui akar tanaman dapat memenuhi kebutuhan haranya selama dalam pertumbuhannya, sehingga di dalam media, zat perangsang dan pasokan Pupuk NPK Mutiara  harus tersedia. Menurut Sudaryanti (2011), bahwa pemupukan yang tepat cara, tepat waktu dan dosis dengan cara di tabur kan ke media tumbuh dapat memberikan asupan unsur yang dibutuhkan tanaman.

KESIMPULAN

1.      Hasil penelitian penggunaan berbagai dosis Rootone F secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pengamatan dengan perlakuan terbaik A2 (pemakaian Rootone F dengan dosis 100 mg/l air) yaitu tinggi tanaman (29 cm), Umur muncul tunas (28,33 hari), jumlah daun (6,83 helai), persentase tumbuh (100.00%).
2.      Perlakuan pemberian berbagai dosis NPK Mutiara secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan dengan perlakuan terbaik B2 (pemberian NPK Mutiara 10gr/tanaman) yaitu tinggi tanaman (29,17cm), muncul tunas (34,17hari), jumlah daun (7,64helai), persentase tumbuh (100.00%).
3.      Perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai dosis Rootone F dan pemberian  pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan dengan perlakuan terbaik A2B2 (penggunaan Rootone F 100mg/l air dan pemberian NPK Mutiara 10gr/tanaman) dengan tinggi tanaman (31,66cm), jumlah daun (9,66helai), dan persentase tumbuh (100.00%).

DAFTAR PUSTAKA

Aripin dan Nurhayati, 1994. Pemeliharaan Tanaman. Penebar swadaya Jakarta.
Cristina Winarti dan Nanan Nurdjannah, 2010. Teknologi pengolahan lada hitam dan lada putih. Balai besar penelitian dan pengembangan pascapanen pertanian           
Famawati, A.A., dan Susiyanti. 2004. Beberapa kosentrasi larutan pupuk dan beberapa media tanam. Universitas Sultan Ageng . Serang.
Gunawan, I. 2003. Pengaruh pemberian Rootone F pada pertumbuhan setek setek bunga melati, Sekripsi Fakultas Pertanian UIR Pekanbaru  
Herawan, 2006. Mengenal tanaman Tahunan. Penebar Swadaya, Jakarta
Mardawilis, 2004. Jenis Pupuk Akar dan Aplikasinya. Penebar Swadaya. Jakarta
Mulyani, M.S. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta     
Nurdjannah, 2000. Desain dan analisis eksperimen. Balai informasi pertanian Jawa Timur 
Rahmayani, 2006. Efektifitas pupuk pelengkap cair dharmavit terhadap pertumbuhan, Produksi, Serta serapan hara NPK tanaman padi sawah (Oriza sativa l. ) Varitas IR 64 pada latososol dermaga. Sekripsi S1 Departemen Ilmi tanah dan sumberdaya lahan, pakultas pertanian Institusi Pertanian Bogor. 
Rinsima, 2008. Kesuburan Tanah. Universitas Lampun. Lampung      
Riseksane,I.A.2005. Pengaruh Lama Perendaman Biji dalam Auksi Terhadap Perkecambahan dan pertumbuhan Akar manggis.Jurnal ilmu-ilmu Pertanian Agr UMY. Vol 13 (2):83-91
Sarief, E.S. 1996. Kesuburan dan pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung. 182 h. 
Sudaryanti, 2011. Penggunaan pupuk NPK. Pusat teknologi Produksi pertanian
Sudarmo, 2002. Kesuburan dan pemupukan tanah. Pustaka Buana. Bandung
Wetherell, D. F. 1982. Pengantar propagasi Tanaman Secara Invitro. IKIP. Semarang Prees. Semarang 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar