PENGARUH PEMBERIAN ZAT PERANGSANG
TUMBUH ROOTONE F DAN PUPUK NPK MUTIARATERHADAP PERTUMBUHAN SETEK LADA (Piper
nigrum. Linn)
Eko Budianto, Marlinda, Dan Chairil Ezward
Prodi Studi
Agroteknologi Fakultas pertanian Universitas Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan
ABSTRACT
The
purpose of this research was to determine the effect use of Rootone F and NPK Mutiara
Fertilizer at cuttings Pepper (Piper
nigrum
Linn). This research used a completely randomized design
(CRD) which consists of two factors: the first factor is the use of Rootone F
(Factor A), which consists of 4 levels, namely: A0 (Without growth stimulating
substances Rootone F), A1 (Rootone F with concentration of 50 mg / liter of
water), A2 (F Rootone with concentration of 100 mg / liter of water), A3
(Rootone F with a concentration of 150 mg / liter of water). The second factor is
NPK Mutiara (Factor B): B0 (Without giving NPK Mutiara), B1 (NPK 5 g / plant),
B2 (NPK10 g / plant), B3 (NPK 15 g / plant). Results of research
using various concentration Rootone F singely significant effect on all
parameters observed with the best treatment A2 (Rootone F use concentration of
100 mg / l of water), plant height (29 cm), Age show up sprout (28.33 days),
number of leaves (6.83 piece), the percentage of growth (100.00%). Treatment of several
dosage of NPK Mutiara singly significant effect on the parameters of observation with the best treatment B2 (NPK
Mutiara giving 10gr / plant). The treatment is the use of multiple dosage
interaction Rootone F and NPK mutiara fertilizer significant effect on the
parameters of the observation with the best treatment A2b2 (Rootone F use 100mg
/ l of water and the provision of NPK Mutiara 10gr / plant.
Keywords : Rootone
F, NPK, Cutting pepper
PENDAHULUAN
Tanaman Lada Piper nikrum linn salah satu tanaman tahunan yang ada di Indonesia,
lada memiliki dua tipe pertumbuhan merambat dan perdu. buahnya digunakan
sebagai bahan rempah-rempah. Untuk kebutuhan rumah tangga, Industri,
Obat-obatan, bisa juga digunakan sebagai bahan pengawet daging. Dan komoditas
Ekspor.
Tanaman lada ini merupakan sumber daya alam
yang semakin lama permintaannya semakin meningkat sesuai dengan tingkat
kemajuan, Untuk meningkatkan produksi lada perlu memperbaiki mutu bibit lada
tersebut (intensifikasi) dapat pula melalui usaha ekstensifikasi (Penambahan
lahan) dan replanting (peremajaan), untuk menjamin kebutuhan bibit demi
terlaksananya tujuan tersebut diatas maka diperlukan bibit dalam jumlah yang
banyak. Untuk memenuhi kebutuhan bibit lada diperbanyak dengan cara vegetatif yaitu
melalui penyetekan.
Usaha untuk peningkatan produksi tanaman
secara intensifikasi telah mulai menggunakan senyawa yang bersifat merangsang
tumbuh. Zat tumbuh senyawa organik yang mengandung zat hara dengan kosentrasi
rendah dapat mendorong, menghambat atau secara kwantitatip merubah pertumbuhan
dengan perkembangan tanaman.pemakaian zat perangsang yang tepat dan pemupukan
tanaman yang sesuai dengan dosis anjuran dapat menghasilkan bibit bermutu
tinggi. Selain pemberian ZPT untuk mendapatkan pertumbuhan yang lebih baik
perlu dipacu dengan pemberian pupuk NPK
Mutiara (16:16:16), penggunaan pupuk majemuk NPK Mutiara 16:16:16 yang
diberikan lewat akar dapat memberikan keuntungan dalam penghematan tenaga kerja
dan juga dapat memberikan 3 jenis unsur hara dalam 1 kali pemberian yaitu unsur
nitrogen, posfor dan kalium.
Pupuk NPK memegang peranan penting dalam
berbagai proses metabolisme tanaman. Kekurangan pupuk NPK dapat mengganggu
berbagai proses metabolisme dalam tubuh tanaman. Berdasarkan pemikiran diatas
penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh pemberian zat
perangsang tumbuh Rootone F dan pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan setek
lada ( Piper nigrum linn ).
Adapun tujaun penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi Rootone F dan Pupuk NPK
Mutiara terhadap pertumbuhan setek tanaman lada baik secara tunggal maupun
secara interaksi( Piper nigrum linn
).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah kasa Balai Benih Unggul ( BBU ) Dinas Tanaman Pangan
Desa Kampung Baru Sentajo Kecamatan Sentajo Raya Kabupaten Kuantan
Singingi Riau, Jalan Raya Teluk Kuantan Rengat. Penelitian akan dilaksanakan
selama empat bulan dari bulan Juni sampai dengan September 2013.
Bahan dan Alat
Bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Bibit Setek Lada. Media topsoil, Pupuk kandang kotoran ayam ras,
Pasir kali dengan perbandingan, 2, 2, 1, Rootone F, Pupuk NPK Mutiara, Papan
Label, Polibag 8 x 15 cm, Paku, plastik kaca, bambu, Pena, Kertas dan bahan-bahan lain yang mendukung penelitian ini. Alat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Cangkul, Gembor, Parang, Henspreyer,
timbangan analitik.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama adalah
penggunaan Rootone F (Faktor A) yang terdiri dari 4 taraf yaitu : A0 (Tanpa
pemberian zat perangsang tumbuh Rootone F), A1 (Rootone F dengan kosentrasi 50
mg/liter air), A2 (Rootone F dengan kosentrasi 100 mg/liter air), A3 (Rootone F
dengan kosentrasi 150 mg/liter air). Faktor kedua adalah pemberia NPK Mutiara
(Faktor B) terdiri dari 4 taraf yaitu : B0 (Tanpa pemberian NPK Mutiara), B1
(Pemberian pupuk NPK Mutiara 5 gram /tanaman), B2 (Pemberian pupuk NPK Mutiara
10 gram/tanaman), B3 (Pemberian NPK Mutiara 15 gram/tanaman). Semua data
dianalisis statistic, jika F table lebih besar dari F hitung maka dilakukan uji
lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Data hasil pengamatan terhadap parameter
tinggi tanaman Lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa
perlakuan secara tunggal dan interaksi
penggunaan berbagai dosis Rootone F dan pemberian Pupuk NPK Mutiara berpengaruh
nyata terhadap tinggi tanaman lada. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ)
pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.
Tabel
1. Rerata tinggi tanaman lada dengan penggunaan berbagai dosis Rootone F
dan pupuk NPK
Mutiara Pada Umur 3 Bulan.
|
FAKTOR A
|
FAKTOR B
|
ȲA
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
|
24,22 d
|
24,33 d
|
27,00 bc
|
27,22 bc
|
25,69 d
|
|
A1
|
27,33 bc
|
27,67 bc
|
28,89 b
|
27,66 bc
|
27,89 b
|
|
A2
|
26,67 c
|
28,78 bc
|
31,66 a
|
28,89 b
|
29,00 a
|
|
A3
|
24,22 d
|
26,55 cd
|
29,11 b
|
28,00 bc
|
26,97 c
|
|
ȲB
|
25,61 d
|
26,83 c
|
29,17 a
|
27,94 b
|
|
|
KK= 2,70%
|
BNJ A & B= 0.81
|
BNJ AB= 2.21
|
|||
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata
menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%
Berdasarkan
Tabel 1 dapat dilihat bahwa penggunaan Rootone F secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman lada. Hasil analisis sidik ragam
pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan pemberian Rootone F secara tuggal
memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman perlakuan terbaik
terdapat pada A2 ( pemberian Rootone f dengan kosentrasi 100 Mg/liter air) yaitu
dengan tinggi tanaman 29,00 cm, bahwa perlakuan A2 berbeda nyata terhadap
seluruh perlakuan, hasil pengamatan paling redah terdapat pada perlakuan A3
dengan tinggi tanaman (26,97cm).
Perlakuan
A2 dosis zat perangsang tumbuh Rootone F yang diaplikasikan dengan keadaan
seimbang sehingga Zat Perangsang Tumbuh Rootone berfungsi sebagai pemacu dan
penghambat pertumbuhan tanaman. Penggunaan Rootone F yang tepat akan
berpengaruh baik bagi pertumbuhan tanaman namun dalam jumlah yang terlalu
banyak justru akan merugikan tanaman karena akan meracuni tanaman tersebut.
Pada
perlakuan A1 tinggi tanamn yang
dihasilkan 27,89cm, karena pada perlakuan Rootone f kurang mencukupi untuk
rangsangan tumbuh. begitu juga pada perlakuan A3 tinggi tanaman 26,97 cm karena
dosis yang diberikan terlalu tinggi maka pertumbuhan setek lada tersebut
mangalami hambatan. Maka Rootone
F bila diaplikasikan secara tepat dosis akan dapat merangsang pertumbuhan akar,
sehingga dapat mencukup kebutuhan hara
yang dibutuhkan oleh tanaman. Sehingga tanaman dapat tumbuh baik dan tanaman
mudah dalam pertumbuhannya memperpanjang tunas/batang dan memperbanyak akar
tanaman.
Setelah
diamati pada Tabel 1 rerata tinggi tanamn menunjukan perlakuan B2 dengan dosis pupuk NPK mutiara
10gr/tanaman yaitu dengan tinggi tanamn 29,17cm berbeda nyata dengan semua
perlakuan. Dengan hasil terendah yaitu diperlakuan B1 dengan tinngi tanaman
(26,83cm) Pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan konsentrasi rendah tidak
memberikan pengaruh karena tidak mampu memenuhi hara yang dibutuhkan tanaman
hal ini terjadi pada perlakuan B1, bila pupuk diberikan dengan kosentrasi
tinggi tanaman mengalami setaknasi karena kebutuhan hara yang berlebih dapat
mengakibatkan tanaman keracunan hal ini terjadi pada perlakuan B3.
Pada
tahap pembibitan Pupuk menjadi faktor utama untuk penyedia unsur hara yang
dibutuhkan oleh tanaman supaya mendapatkan tanaman muda yang sehat, unsur hara
Nitrogen (N), dapat
menunjang pertumbuhan tanaman yang diperlukan untuk pembentukan tubuh tanaman
atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman. Unsur N merupakan unsur hara
utama bagi pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan
akar, Unsur P merupan sebagi perangsang dan dapat memperbaiki pH tanah sehingga
sangat perlu sekali untuk merangsang tinggi tanamn lada tersebut.
Pupuk NPK mutiara merupan pupuk majemuk
yang mempunyai kandungan hara yang komplit
untuk pertumbuhan generatif dan vegetatif untuk pertumbuhan akar batang
daun sehingga tanaman yang dihasilkan
selama dipembibitan pertumbuhan tumbuh dengan baik, dan diperkuat unsur hara yang cukup dapat memacu pertumbuhan perakaran batang dan daun. respon
tanaman terhadap unsur hara akan meningkat jika tepat pemupukan, waktu, dosis
dan cara pemberian dilakukan dengan tepat (Rahmayani 2006).
Hasil
analisis sidik ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi
penggunaan berbagai Dosis zat Perangsang Tumbuh Rootone F dan pemberian pupuk
NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman Lada dimana
kombinasi terbaik terdapat pada perlakuan A2B2 (Pemberian Rootone F dengan
dosis 100 Mg dengan lama perendaman 1 jam dan pemberian Pupuk NPK Mutiara
dengan dosis10 gr/ tanaman ) dengan tinggi 31,66 cm.
Dari
data Tabel 1 menunjukkan kombinasi perlakuan A2B2 dengan perlakuan (Pemberian Rootone F 100 mg/l air
dan pemberian Pupuk NPK Mutiara 10gr/tnaman) Yaitu dengan tinggi tanamn
31,66cm, perlakuan A2B2 berbeda nyata dengan seluruh perlakuan dengan hasil
terendah terdapat diperlakuan A2B0 dengan tinggi tanaman 26,67cm.
Penggunaan
Rootone F 100 mg / 1 Air dan pemberian NPK Mutiara 10 gr/Tanaman menghasilkan
tinggi tanaman Lada tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini
pemberian Rootone F yang diberikan kepada tanaman dapat memberikan pengaruh
terhadap pertumbuhan sehingga tanaman yang dihasikan cepat hidup, begitu juga
dengan pemberian hara N, P dan K pada
konsentrasi yang tepat. Tinggi tanaman ditentukan oleh zat perangsang tumbuh
Rootone F yang tepat dosis dan pupuk NPK Mutiara akan lebih dibutuhkan untuk
pertumbuhan seperti tinggi tanaman.
Kandungan
NPK Mutiara yang sangat berperan penting dalam pertumbuhan menambah tinggi
tanaman unsur hara (N) disamping unsur hara lain. Unsur hara N dapat
menunjang pertumbuhan tanaman dan pembentukan bagian-bagian vegetatif tanaman
terutama menambah tinggi tanaman. Unsur N merupakan unsur hara utama bagi
pertumbuhan setek dipembibitan untuk pertumbuhan tanaman seperti daun, batang
dan akar (Mulyani 2002). Rinsema (2008) menyatakan bahwa penyerapan air dan unsur hara cukup bagi
tanaman maka pertumbuhan dan kesuburan suatu tanaman akan semakin baik.
Mardawilis (2004) mengemukakan bahwa
tanaman memerlukan unsur hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium yang optimal untuk
pertumbuhan Vegetatif dan Generatif.
Umur Muncul Tunas ( Hari )
Data
hasil pengamatan terhadap umur muncul
tunas setek lada, setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa
perlakuan secara tunggal dan interaksi dengan perlakuan penggunaan Rootone F
dan pemberian pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur
muncul tunas tanaman lada. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%
dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.
Tabel
2. Rerata umur
muncul tunas Setek
Lada dengan penggunaan berbagai Dosis Rootone F dan
Pupuk NPK Mutiara
|
FAKTOR A
|
FAKTOR B
|
ȲA
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
|
45,00
|
43,00
|
40,00
|
40,00
|
42,00 c
|
|
A1
|
35,67
|
36,33
|
34,33
|
35,00
|
35,33 b
|
|
A2
|
30,00
|
29,00
|
28,00
|
28,33
|
28,83 a
|
|
A3
|
34,33
|
34,00
|
34,33
|
35,00
|
34,42 b
|
|
ȲB
|
36,25 b
|
35,58 ab
|
34,17 a
|
34,58 a
|
|
|
KK= 4,02%
|
BNJ A&B= 1,55
|
||||
Angka-angka pada baris da kolom yang
diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata
jujur (BNJ) pada taraf 5%
Berdasarkan
Tabel 2 dapat dilihat bahwa perlakuan penggunaan berbagai kosentrasi Rootone F
secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul tunas
tanaman lada dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A2 (penggunaan Rootone F dengan
dosis 100mg/liter air) yaitu 28,83 hari, perlakuan A2 berbeda nyata terhadap semua perlakuan.
Dan hasil terendah dalam perlakuan terdapat A1 yaitu 35hari
Dari
hasil percobaan ini, secara umum terlihat bahwa dosis yang tepat setek lada
dalam larutan Rootone F mampu meningkatkan pertumbuhan bibit setek lada.
Keadaan ini mengindikasikan bahwa pemakai Rootone F dengan konsentrasi 100
mg/liter air lebih memberikan pengaruh yang nyata dalam memacu mulcul tunas
baru dan meningkatkan pertumbuhan bibit setek lada, terutama dalam merangsang
dan memacu pertumbuhan awal stek (inisiasi akar dan tunas setek). Dugaan ini
diperkuat oleh laporan penelitian Rini (2000), dimana perendaman stek lada selama 1 jam dalam larutan
Rootone F mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akar serta tajuk
bibit setek lada selama masa pembimbibitan.
Nurdjannah
(2000) menyatakan, pemberian ZPT pada setek dimaksudkan untuk merangsang dan
memacu terjadinya pembentukan akar setek, sehingga pucuk cepat tumbuh serta
perpanjangan pucuk..
Hasil
analisis sidik ragam pada Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan Pupuk NPK Mutiara secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tumbuh tunas
baru tanaman lada
perlakuan terbaik terdapat pada
B2 (pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman, dengan
hari muncul tunas yaitu 34,17
hari, berbeda nyata dengan semua perlakuan, hasil terendah pada
perlakuan B2 35,58 hari.
Pemberian
pupuk melalui tanah atau perakaran dapat mengatasi kekurangan hara karena
pengaruhnya yang lama dan tersedia dalam kebutuhan pertumbuhannya. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk melalui tanah / perakaran dapat
meningkatkan pertumbuhan tanaman dan serapan hara. Serapan N, P dan K tanaman
sebagai pengaruh pupuk NPK Mutiara
cenderung lebih tinggi daripada perlakuan standar dan kontrol
(Rahmayani, 2006).
Perlakuan
Pupuk NPK Mutiara
yang menunjukkan angka tertinggi untuk persentase tumbuh 34,17 hari, B2 (pemberian Pupuk
NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman), hal ini karena dengan
pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10
gr/tanaman telah mampu memberikan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Pada masa pertumbuhan vegetatif lebih banyak seperti kandungan Nitrogen (N),
Nitrogen berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman, Nitrogen merupakan
unsur hara digunakan bagi tanaman untuk pertumbuhan vegetatif, tanaman akan
keliatan hijau dan banyak mengandung klorofil yang berfungsi dalam proses
fotosintesis. Pospat (P) berpungsi merangsang
pertumbuhan akar atau untuk pertumbuhan Vegetatif dan generatif tetapi untuk
pertumbuhan vegetatip setek sangat bagus memacu munculya tunas baru. Kalium (K)
berpungsi mempertahan kan kekebalan tubuh tanaman dari serangan hama dan
penyakit sehingga hasil yang maksimal akan terwujut (Sudarmo, 2002).
Perlakuan
Pupuk NPK Mutiara
terendah di tunjukkan angka 35,58
hari perlakuan B1
(pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 5
gr/tanaman). Apabila tanaman kekurangan unsur hara akan mengalami
defisiensi dan bila tanaman kelebihan unsur hara akan mengakibatkan keracunan
bagi tanaman. Sesuai pendapat
(Sudaryanti 2008) bahwa apabila tanaman kekurangan salah satu unsur hara
yang dibutuhkan maka pertumbuhan tanaman akan terganngu dan akan mengalami
defisiensi.
Hasil
analisis sidik ragam pada Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi
penggunaan berbagai Dosis zat Perangsang
Tumbuh (Rootone F) dan pemberian pupuk NPK Mutiara tidak berpengaruh nyata
terhadap umur muncul tunas tanaman Lada dimana kombinasi perlakuan terbaik
terdapat pada perlakuan A2B2 (Pemberian Rootone F dengan dosis 100 Mg dengan
lama perendaman 1 jam dan pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis10 gr/
tanaman ) dengan umur muncul tunas 28 hari.
Penggunaan Rootone F 100 mg / 1 Air dan pemberian pupuk NPK Mutiara 10 gr/Tanaman, menghasilkan pertumbuhan tanaman
yang tercepat. Penanaman setek lada
merupakan masa adaptasi tanaman dengan
lingkungan untuk merobah masa setaknasi menjadi kepertumbuhan vegetatif. Sejalan
dengan pendapat Herawan (2006) bahwa tahap pertumbuhan vegetatif setek adalah tahap paling kritis bagi tanaman lada, karena sulit di control kebutuhan kelembaban dan kebutuhan hara yang dibutuhkan
oleh setek tersebut.
Perlakuan
secara interaksi penggunaan zat
perangsang tumbuh Rootone F dan Pupuk NPK Mutiara menghasilkan
tumbuh tunas baru
yang baik karena Pupuk dan zat perangsang tumbuh yang
diberikan mampu memenuhi hara yang dibutuhkan setek lada dan juga pemberian pupuk NPK Mutiara dengan konsentrasi yang
tepat, dan perlakuan terbaik terdapat pada kombinasi perlakuan A2B2
(penggunaan zat perangsang tumbuh Rootone F dengan dosis 100 mg/liter air dan
pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman) dengan umur tumbuh 28 hari.
Jumlah Daun (Helai)
Data
hasil pengamatan terhadap parameter jumlah daun setek Lada, setelah dianalisis
sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal penggunaan zat
perangsang tumbuh Rootone F memberikan
pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman Lada. Hasil uji lanjut Beda
Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3.
Rerata jumlah daun lada
dengan penggunaan berbagai dosis Rootone F dan pupuk NPK
Mutiara.
|
FAKTOR A
|
FAKTOR B
|
ȲA
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
|
3,78 e
|
4,22 e
|
5,66 cd
|
5,44 d
|
4,78 c
|
|
A1
|
4,88 de
|
6,33 cd
|
7,44 bc
|
7,00 bc
|
6,41 b
|
|
A2
|
4,22 e
|
6,00 cd
|
9,66 a
|
7,44 bc
|
6,83 a
|
|
A3
|
4,22 e
|
5,55 cd
|
7,77 b
|
6,66 c
|
6,05 b
|
|
ȲB
|
4,27 d
|
5,52 c
|
7,64 a
|
6,64 b
|
|
|
KK= 6.54%
|
BNJ B= 0.43
|
BNJ AB= 1.17
|
|||
Angka-angka pada baris da kolom yang
diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata
jujur (BNJ) pada taraf 5%
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat
bahwa perlakuan penggunaan berbagai dosis Rootone F secaara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman lada dimana perlakuan terbaik
terdapat pada perlakuan A2 (penggunaan Rootone F dengan dosis 100 mg/liter air)
yaitu 6,83 helai berbeda nyata terhadap semua perlakuan.dari data tersebut
hasil terrendah pada perlakuan A3 yaitu 6,05 helai
Perlakuan
A2 ( penggunaan Rootone F dengan dosis 100 mg/liter air ) menghasilkan jumlah
daun terbanyak, karena kandungan Rootone
F yang diberikan pada setek mampu
memenuhi kebutuhan zat rangsang tumbuh yang diperlukan tanaman lada sehingga
setek cepat tumbuh dan mengeluarkan pucuk baru dan meningkatkan pertambahan
jumlah daun. Penggunaan Rootone F dengan dosis 100 mg/leter air yang dapat
memperbaiki dan merangsang pertumbuhan setek lada sehingga baik untuk
pertumbuhan daun yang dihasilkan cukup banyak. Rootone F yang cukup dapat
membantu pertumbuhan akar sehingga tunas baru akan cepat muncul atau tumbuh
sehingga batang dan daun yang dihasilkan akan lebih optimal (Riseksaane
2005).
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa
perlakuan NPK Mutiara secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap
jumlah daun tanaman lada, dimana perlakuan terbaik terdapat pada B2 (pemberian
Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman ) yaitu 7,64 helai daun, berbeda
nyata dengan semua parameter pengamatan, dengan hasil terendah pada perlakuan
B1 yaitu 5,52 helai
Perlakuan B2
menunjukkan angka tertinggi 7,64 helai daun dengan pemberian pupuk NPK
Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman hal ini karena dosis yang diberikan telah
dapat mencukupi kebutuhan hara tanaman lada, sedangkan perlakuan B1 menunjukkan
angka terendah 5,52 helai dan B3 menunjukan angka 6,64 helai dibawah perlakuan
B2. (Sudaryanti 2011) menyatakan bahwa
pupuk diberikan dalam konsentrasi yang terlalu rendah tidak dapat memenuhi
kebutuhan hara yang dibutuhkan oleh tanaman begitu juga kosentrasi tinggi akan mengakibatkan keracunan bagi
tanaman. Respon tanaman terhadap pemberian unsur hara apabila telah mencapai
batas optimum akan mengakibatkan penghambatan dan penurunan pertumbuhan hal ini
terjadi pada perlakuan B3.
Pemberian unsur hara dengan konsentrasi yang
rendah pengaruhnya terhadap tanaman tidak akan tampak (Rahmayani 2006),
sedangkan pada perlakuan pemberian NPK Mutiara, jumlah daun terbanyak terdapat
pada tanaman lada yang diberi pada konsentrasi 10 gr/tanaman, pada saat
penananman setek tidak memerlukan
konsentrasi pupuk hanya memerlukan Zat perangsang tumbuh Rootone F sesuai
dengan penelitian.
Fatmawati dan Susiyanti (2004) konsentrasi
pupuk NPK Mutiara diberikan kepada tanaman lada setelah tanaman bertunas muda
disaat itu tanaman lada memerlukan unsushara yang banyak untuk pertumbuhan.
Hasil analisis sidik ragam
menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai dosis Rootone
F dan pemeberian Pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata terhadap
jumlah daun tanaman lada dimana kombinasi perlakuan terbaik terdapat pada A2B2
(penggunaan Rootone F dengan kosentrasi 100mg/liter air dan Pupuk NPK Mutiara
kosentrasi 10 gr/tanaman) yaitu 9,66 helai berbeda nyata dengan semua
perlakuan, hasil terendah pada perlakuan interaksi terdapat pada perlakuan
A2B0, A3B0 dan A0B1 yaitu 4,22 helai.
Penggunaan
Rootone F 100 mg /l Air dan pemberian pupuk NPK Mutiara 10 gr/Tanaman,
menghasilkan pertumbuhan daun yang terbanyak pada perlakuan A2B2 yaitu 9,66
helai.
Rootone F yang diinteraksikan dengan pupuk NPK Mutiara dapat merangsang
pertumbuhan daun dan menyediakan unsur hara yang dibutuhkan setek lada melalui
asupan zat perangsang dan unsur hara tanaman tumbuh dan berkembang serta dapat
memperkokoh berdirinya tanaman, sehingga Rootone f dan Pupuk NPK Mutiara harus tersedia apa yang dibutuhkan tanaman.
Menurut Sudarmo (2002), bahwa pemupukan yang tepat cara, tepat waktu dan dosis
dengan cara di tabur ketanah dapat memberikan asupan unsur – unsur yang
dibutuhkan tanaman.
Pupuk NPK Mutiara akan mempengaruhi tanaman
yang sangat berbeda terhadap
pertumbuhannya tanaman tersebut. Selain dirangsang agar cepat tubuh dan
menghasilkan pucuk baru dan daun yang sehat, pemupukan diperlukan pula untuk
meningkatkan daya tahan/anti bodi sehingga pertumbuhan batang dan daun baru
akan cepat tumbuh. Pemupukan adalah setiap usaha pemberian pupuk yang bertujuan
menambah persediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman (Sarief 1996).
Persentase Tumbuh (%)
Data
hasil pengamatan terhadap parameter persentase tumbuh tanaman lada, setelah
dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal
penggunaan Rootone F berpengaruh nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada.
Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 4.
Berdasarkan
Tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan zat perangsang tumbuh Rootone f
memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada dimana
perlakuan persentase tumbuh terbaik terdapat pada perlakuan A2 (penggunaan Rootone F dengan
dosis 100mg/liter air) yaitu 100.00%. perlakuan A2 berbeda nyata dengan semua
perlakuan, persentase tubuh terendah terdapat pada perlakuan A1 dan A3 yaitu
91,67%
Tabel 4. Rerata persentase tumbuh setek Lada dengan penggunaan berbagai Dosis Rootone F dan Pupuk NPK Mutiara
|
FAKTOR A
|
FAKTOR B
|
ȲB
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
A0
|
75
|
100,00 a
|
100,00 a
|
91,67 ab
|
91,67 b
|
|
A1
|
100,00 a
|
91,67 ab
|
100,00 a
|
75,00 b
|
91,67 b
|
|
A2
|
100,00 a
|
100,00 a
|
100,00 a
|
100,00 a
|
100,00 a
|
|
A3
|
100,00 a
|
75,00 b
|
100,00 a
|
91,67 ab
|
91,67 b
|
|
ȲA
|
93,75 ab
|
91,67 b
|
100,00 a
|
89,58 c
|
93,75
|
|
KK= 7.36%
|
BNJ A & B = 6,84
|
BNJ AB = 18.66
|
|||
Angka-angka pada baris da kolom yang
diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata
jujur (BNJ) pada taraf 5%
Tingginya
persentase setek lada yang hidup diduga
dipengaruhi oleh penggunaan dosis
Rootone F, yang sesuai dengan kebutuhan setek lada tersebut
yang tepat. sehingga setek lada mampu beradaptasi dengan
lingkungannya dan tumbuh dengan baik selama di pembibitan, hal ini terlihat dari
kondisi bibit yang cukup segar, Penyungkupan dilakukan selama 4 minggu dengan cara bibit setek ditanam disungkup dengan plastik kaca berwarna putih untuk menjaga
kelembaban tetap tinggi.
Menurut
Wetherell (1992) salah satu cara untuk
menjaga kelembaban relatif tetap tinggi selama tahap penanaman bibit setek lada. Penyungkupan pada setiap satu minggu sekali harus dibuka untuk menjaga
kelembaban udara di dalam media terbukti meningkatkan
keberhasilan hidup setek lada,
penyiraman dilakukan dua hari untuk mencegah kekeringan pada setek selama dalam penyungkupan.
Riseksane (2005) Perendaman dengan menggunakan Rootone F mampu merangsang akar karena Rootone F zat perangsang tumbuh, mampu merangsang pertumbuhan akar. berperan mendorong pertumbuhan akar
sehingga persentase tumbuh bibit tinggi. Rootone F
merupakan hormon yang berperan dalam merangsang pertumbuhan akar.
Hasil
analisis sidik ragam pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan Pupuk NPK Mutiara secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap persentase tumbuh tanaman lada perlakuan terbaiknya yaitu B2 (pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman)
yaitu 100,00%, berbeda nyata dengan semua perlakuan, dengan persentase tumbuh terendah pada
perlakuan B3 yaitu 89,58%
Perlakuan
Pupuk NPK Mutiara
yang menunjukkan angka tertinggi untuk persentase tumbuh 100,00% B2 (pemberian Pupuk
NPK Mutiara dengan dosis 10 gr/tanaman), hal ini diduga karena
dengan pemberian Pupuk NPK Mutiara dengan dosis 10
gr/tanaman, telah mampu memberikan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Pada masa pertumbuhan vegetatif lebih banyak seperti kandungan Pospor (P) berfungsi untuk merangsang
pertumbuhan tanaman, P
merupakan unsur hara makro yang sangat
dibutuhkan tanaman untuk merangsang pertumbuhan Vegetatif dan Generatif.
Sedangkan N dapat memperbaiki tanaman akan keliatan hijau dan banyak
mengandung klorofil,
yang berfungsi dalam proses fotosintesis. Kandungan P juga mempunyai pungsi sebagai perangsang pertumbuhan
vegetatif misalnya untuk pertumbuhan akar sehingga akar cepat dalam
penyebarannya. sedangkan Kalium sebagai hara tanaman yang berpunsi sebagai anti
bodi tanaman setek lada dari serangan penyakit.
(Sudarmo, 2002).
Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 4
menunjukkan bahwa perlakuan secara interaksi penggunaan berbagai dosis Rootone
F dan pemeberian Pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang nyata terhadap
persentase tumbuh setek lada dimana kombinasi terbaik terdapat pada perlakuan
A2B2 (penggunaan Rootone F dengan kosentrasi 100mg/liter air dan Pupuk NPK
Mutiara kosentrasi 10 gr/tanaman) yaitu 100 %, perlakuan terbaik pada perlakuan
A2B2 dan tidah berbeda nyata dengan seluruh kombinasi perlakuan. Perlakuan A2B2
berbeda nyata dengan perlakuan A0B0 (Tannpa pemberian Rootone f dan Pupuk NPK
Mutiara) yaitu 75 %, A1B3 (pemberian Rootone F dengan kosentrasi 50 mg/liter air
dan Pupuk NPK Mutiara dengan kosentrasi 15 gr/tanaman) yaitu 75 %,
A3B1(pemberian Rootone F dengan kosentrasi 10 mg/l air dan pemberian Pupuk NPK
Mutiara dengan kosentrasi 5 gr/tanaman ) yaitu 75 %.
Penggunaan
Rootone F 100 mg / 1 Air dan pemberian pupuk NPK Mutiara 10 gr/Tanaman,
menghasilkan persentase tanaman yang terbaik Pada semua parameter pengamatan dan
berbeda nyata terhadap perlakuan, A0B0,A1B3,A3B1 relatif menunjukkan pertumbuhan dan hasil
yang rendah dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Penggunaan Rootone F dengan dosis 100 mg/leter air yang dapat
memperbaiki dan merangsang pertumbuhan setek lada sehingga baik untuk
pertumbuhan akar dan pucuk tanaman selama dalam pembibitan, sehingga persentase
tumbuh pada perlakuan A2B2 Hal ini
dipertegas oleh Gunawan (2003), bahwa rangsangan Rootone F mampu mempercapat
tumbuhnya akar dan tunas baru.
Pupuk NPK mutiara dosis yang kurang dapat
menghambat pertumbuhan vegetatif. dengan kandungan pupuk NPK Mutiara yang tepat
dosis dapat menyediakan unsur hara yang dibutuhkan setek lada tersebut. hara
yang diaplikasikan melalui akar tanaman dapat memenuhi kebutuhan haranya selama
dalam pertumbuhannya, sehingga di dalam media, zat perangsang dan pasokan Pupuk
NPK Mutiara harus tersedia. Menurut
Sudaryanti (2011), bahwa pemupukan yang tepat cara, tepat waktu dan dosis
dengan cara di tabur kan ke media tumbuh dapat memberikan asupan unsur yang
dibutuhkan tanaman.
KESIMPULAN
1.
Hasil
penelitian penggunaan berbagai dosis Rootone F secara tunggal memberikan
pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pengamatan dengan perlakuan
terbaik A2 (pemakaian Rootone F dengan dosis 100 mg/l air) yaitu tinggi tanaman
(29 cm), Umur muncul tunas (28,33 hari), jumlah daun (6,83 helai), persentase
tumbuh (100.00%).
2.
Perlakuan
pemberian berbagai dosis NPK Mutiara secara tunggal memberikan pengaruh yang
nyata terhadap parameter pengamatan dengan perlakuan terbaik B2 (pemberian NPK
Mutiara 10gr/tanaman) yaitu tinggi tanaman (29,17cm), muncul tunas (34,17hari),
jumlah daun (7,64helai), persentase tumbuh (100.00%).
3.
Perlakuan
secara interaksi penggunaan berbagai dosis Rootone F dan pemberian pupuk NPK Mutiara memberikan pengaruh yang
nyata terhadap parameter pengamatan dengan perlakuan terbaik A2B2 (penggunaan
Rootone F 100mg/l air dan pemberian NPK Mutiara 10gr/tanaman) dengan tinggi
tanaman (31,66cm), jumlah daun (9,66helai), dan persentase tumbuh (100.00%).
DAFTAR PUSTAKA
Aripin
dan Nurhayati, 1994. Pemeliharaan Tanaman.
Penebar swadaya Jakarta.
Cristina
Winarti dan Nanan Nurdjannah, 2010. Teknologi
pengolahan lada hitam dan lada putih. Balai besar penelitian dan
pengembangan pascapanen pertanian
Famawati, A.A., dan Susiyanti. 2004. Beberapa kosentrasi larutan pupuk dan beberapa media tanam.
Universitas Sultan Ageng . Serang.
Gunawan, I. 2003. Pengaruh
pemberian Rootone F pada pertumbuhan setek setek bunga melati, Sekripsi
Fakultas Pertanian UIR Pekanbaru
Herawan,
2006. Mengenal tanaman Tahunan.
Penebar Swadaya, Jakarta
Mardawilis,
2004. Jenis Pupuk Akar dan Aplikasinya.
Penebar Swadaya. Jakarta
Mulyani,
M.S. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan.
Rineka Cipta, Jakarta
Nurdjannah,
2000. Desain dan analisis eksperimen.
Balai informasi pertanian Jawa Timur
Rahmayani,
2006. Efektifitas pupuk pelengkap cair
dharmavit terhadap pertumbuhan, Produksi, Serta serapan hara NPK tanaman padi
sawah (Oriza sativa l. ) Varitas IR 64 pada latososol dermaga. Sekripsi S1
Departemen Ilmi tanah dan sumberdaya lahan, pakultas pertanian Institusi
Pertanian Bogor.
Rinsima,
2008. Kesuburan Tanah. Universitas
Lampun. Lampung
Riseksane,I.A.2005.
Pengaruh Lama Perendaman Biji dalam Auksi Terhadap Perkecambahan dan
pertumbuhan Akar manggis.Jurnal ilmu-ilmu
Pertanian Agr UMY. Vol 13 (2):83-91
Sarief,
E.S. 1996. Kesuburan dan pemupukan Tanah
Pertanian. Pustaka Buana, Bandung. 182 h.
Sudaryanti,
2011. Penggunaan pupuk NPK. Pusat
teknologi Produksi pertanian
Sudarmo,
2002. Kesuburan dan pemupukan tanah.
Pustaka Buana. Bandung
Wetherell,
D. F. 1982. Pengantar propagasi Tanaman
Secara Invitro. IKIP. Semarang Prees. Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar