PENGARUH VARIETAS DAN
WAKTU TANAM SECARA TUMPANGSARI (Intercroping)
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI
(Glycine max L (Merril)
Siswadi. A, Rover dan Chairil Edzward
Program Studi Agroteknologi Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake
Teluk Kuantan, Riau
ABSTRACT
This
Research aim to to know Influence of Varietas and Time Plant Tumpangsari (Intercroping) To Growth
and Production Soy ( Glycine Max L ( Merril) . This Research use random
device group ( Factorial RAK) consisting
of two factor : V (Varietas) which consist of 3 level of V1 ( Varietas Agromulyo), V2 ( Varietas
Pearl), V3 ( Varietas Rajabasa) and G factor ( time Plant Soy) consist of 3
level that is G1 ( Time Plant At The Same Time Soy With Maize), G2 ( Maize
planted 10 day after planting Soy) G3 (
maize planted 20 day after planting Soy). Result of research show treatment of
varietas have an effect on reality to bloomy age V2 ( 35,67) and dry seed
weight V2 (18,68). Treatment of
time plant not have an effect on reality to all treatment and treatment
interactionly time and varietas plant nor have an effect on reality to all
treatment.
Keyword : Varietas, Time planted, Soy,
Tumpangsari
PENDAHULUAN
Indonesia
merupakan negara yang mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar. Sebagian
besar penduduk Indonesia mengkonsumsi tempe dan tahu yang berbahan dasar
kedelai, dan kedelai merupakan sumber protein yang lebih murah dibandingkan
daging. Hal ini karena pada kedelai dan bahan olahannya dapat memenuhi
kebutuhan gizi bagi manusia. Kandungan gizi dalam tiap 100 gr kedelai terdapat
330 kalori, 35 % protein, 18 % lemak, dan 8 % air (Adisarwanto, 2005).
Pada
tahun 2011 produksi kedelai di Kabupaten Kuantan Singingi mengalami penurunan
dibandingkan dengan produksi tahun 2010, dimana pada tahun 2010 produksi
kedelai di Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 21,06 ton dengan produksivitas
1,11 ton/ha, sedangkan tahun 2011 produksi kedelai di Kabupaten Kuantan
Singingi sebanyak 14,50 ton/ha dengan produksivitas 1,21 ton/ha, (Buku Agenda
Tahunan Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi, 2010 – 2011).
Umumnya kekurangan produksi kedelai di
Indonesia disebabkan antara lain karena produktifitas yang masih rendah yang
disebabkan oleh faktor mutu benih, teknik budidaya, pengendalian hama dan
penyakit, pasca panen serta lingkungan (kesuburan tanah, iklim dan air).
Peningkatkan produksi tanaman dapat
ditingkatkan dengan teknik budidaya yang tepat, yaitu dengan cara penggunaan
benih atau bibit yang unggul, pengolahan tanah yang baik, penyediaan unsur hara
pada tanah, serta dalam menentukan sistem atau pola tanam yang akan digunakan.
Penggunaan atau pemilihan varietas unggul yang dapat memberikan hasil yang
lebih tinggi sehingga keuntungan petani menjadi lebih meningkat.
Sistem
tumpangsari merupakan suatu sistem produksi yang diterapkan atas pertimbangan
hayati dan ekonomi, dalam sistem tumpangsari telah banyak diketahui bahwa produksi
tanaman secara keseluruhan memberikan hasil yang lebih tinggi apabila kombinasi
tanaman yang diusahakan dalam sistem tumpangsari dilakukan dengan tepat. Hal
ini sesuai dengan pendapat Asadi (1997) bahwa keuntungan dari sistem
tumpangsari yaitu dapat menambah keragaman pangan sehubungan dengan perbaikan
gizi dan peningkatan produktivitas lahan.
Hal
lain yang perlu diperhatikan dalam pola tumpangsari adalah waktu tanam, karena
waktu tanam berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif, pertumbuhan vegetatif yang
lebih cepat dan dominan menguasai ruang, maka akan lebih mampu berkompetisi
dalam memperebutkan air, unsur hara dan cahaya dibandingkan dengan pertumbuhan
vegetatifnya yang lambat, akhirnya akan mempengaruhi produksi. Selanjutnya
Willey (1982) menyatakan bahwa dalam menyusun sistem tumpangsari perlu
memperhatikan kepekaan tanaman terhadap persaingan selama daur hidupnya. Banyak
tanaman pada periode tertentu jelas sangat sensitif dan cekaman pada periode
tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan hasil. Agar persaingan antara jenis
tanaman sekecil mungkin, maka perlu diatur agar permintaan sumber daya
pertumbuhan tertinggi untuk masing-masing jenis tanaman tidak terjadi pada
waktu yang bersamaan.
Waktu tanam mempunyai peranan yang penting
dalam sistem tumpangsari, terutama pada tanaman yang peka terhadap naungan.
Untuk mengurangi pengaruh tersebut,
waktu tanam jagung dan kedelai harus diatur agar pada periode kritis
dari suatu pertumbuhan terbadap persaingan dapat ditekan.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh varietas dan waktu tanam terhadap pertumbuhan dan produksi
Kedelai (Glycine max L Merril) secara
tumpangsari (Intercropping) dengan
Jagung (Zea mays), secara tunggal dan
interaksi
ALAT DAN BAHAN
Tempat Dan Waktu
Penelitian telah dilaksanakan di
Desa Pulau Panjang Hilir Kecematan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu
penelitian selama empat bulan terhitung dari bulan September- Desember 2013.
Bahan Dan Alat
Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah benih kedelai varietas, Agromulyo, Mutiara 1, Rajabasa,
Benih jagung varietas pioner, pupuk kotoran sapi, pupuk Urea, TSP, KCL, Decis
2,5 EC, dan Dithen M-45. Sedangkan alatnya adalah cangkul, sabit, paku, cat,
martil, Meteran, Timbangan, ember, handsprayer dan alat – alat tulis.
Metode Penelitian
Rancangan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial
yang terdiri dari 2 faktor yaitu : faktor V (Varietas Kedelai) yang terdiri
dari 3 taraf, dan faktor kedua adalah faktor G (waktu tanam kedelai) yang
terdiri dari 3 taraf. Seluruh Data dianalisis secara statistic dan jika F
hitung lebih besar dari F table maka dilakukan uji lanjut beda nyata jujur
(BNJ) pada taraf 5%.
Faktor
V (varietas kedelai) terdiri dari 3 taraf yaitu :
V1 = Agromulyo
V2 = Mutiara 1
V3 = Rajabasa
Faktor Kedua G (Waktu
tanam Kedelai) terdiri dari 3 taraf yaitu:
G1 = Waktu tanam
bersamaan kedelai dengan jagung
G2 = Jagung ditanam
10 hari setelah tanam Kedelai
G3 = Jagung ditanam
20 hari setelah tanam Kedelai
Pelaksanaan Penelitian
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman
kedelai (cm)
Setelah
dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pada
perlakuan varietas dan waktu tanam secara tumpangsari terhadap pertumbuhan dan
produksi kedelai secara tunggal dan secara interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman kedelai, rerata tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1.
Tabel.1.
Rerata tinggi tanaman kedelai berumur 4 minggu (cm).
|
Faktor V (Varietas)
|
|
Faktor G (Waktu
Tanam)
|
|
Rerata V
|
|
|
G1
|
G2
|
G3
|
|
|
V1
|
45,33
|
45,50
|
44,83
|
45,22
|
|
V2
|
43,67
|
43,67
|
48,33
|
45,22
|
|
V3
|
47,00
|
45,83
|
45,73
|
46,19
|
|
Rerata G
|
45,33
|
45,00
|
46,30
|
|
|
KK = 8,87 %
|
|
|
|
|
Tabel 1 diatas menunjukan bahwa pengamatan tinggi tanaman pada umur 4 minggu,
faktor varietas yang menghasilkan
tanaman tertinggi terdapat pada
varietas V3 Rajabasa dengan tinggi tanaman (46,19 cm), tercapainya angka
tertinggi pada varietas V3 ini, diduga pada varietas ini varietas dapat
melakukan aktivitasnya secara normal seperti melakukan proses fotosintesis,
respirasi, dan pertumbuhan akar untuk pertumbuhan tanaman .
Hal ini sesuai dengan pendapat Gardner (1991)
mengatakan bahwa ketersedian unsur hara merupakan bagian penting untuk tanaman
membentuk kloropil pada daun. Daun merupakan bagian organ utama fotosintesis
pada tanaman yang berperan penting dalam penyerapan cahaya dan pengambilan CO2
untuk proses fotosintesis.
Dilihat dari deskripsi rara – rata tinggi
tanaman kedelai yaitu 46,66 cm, dari hasil percobaan menunjukkan tinggi tanaman
beberapa varietas tanaman kedelai tidak
berbeda nyata. Hal ini di duga bahwa masing – masing varietas berada pada
lingkungan tumbuh yang sesuai sehingga didapatkan pertumbuhan yang hampir
seragam.
Sesuai dengan pendapat Darliah (2001) Bahwa
respon genotif terhadap faktor lingkungan biasanya terlihat dalam penampilan
fenotif dari tanaman bersangkutan dan salah satunya dapat dilihat dari
pertumbuhannya.
Berdasarkan Tabel 1 bahwa perlakuan waktu
tanam tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, perlakuan waktu tanam
tertinggi terdapat pada G3 (46,30 cm), hal ini di duga oleh faktor cahaya yang
diterima oleh kedelai menyebabkan rendahnya hasil fotosintesis pada kondisi
yang ternaungi sehingga penampilan tanaman kedelai semakin tinggi, sesuai
dengan pendapat Soetedjo (1992) yaitu bahwa kedelai yang ternaungi jagung dalam
sistem tumpangsari menunjukan bahwa semakin rendah sinar matahari yang diterima
kedelai semakin rapat tingkat penaungan yang akan menyebabkan pertumbuhan dan
penampilan tanaman menjadi tinggi.
Secara interaksi varietas juga tidak
memberikan yang berbeda nyata terhadap tinggi tanaman. Perlakuan terbaik
secara interaksi varietas dan waktu tanam terdapat pada V2G3 (Varietas Mutiara
1), Jagung ditanam 20 hari setelah tanam kedelai, dengan tinggi tanaman (48,33
cm). Tercapainya angka tertinggi pada varietas
ini, diduga pada varietas ini varietas dapat melakukan aktivitasnya
secara normal seperti melakukan proses fotosintesis, respirasi, dan pertumbuhan
akar untuk pertumbuhan tanaman .
Hal ini sesuai dengan pendapat Gardner (1991)
mengatakan bahwa ketersedian unsur hara merupakan bagian penting untuk tanaman
membentuk kloropil pada daun. Daun merupakan bagian organ utama fotosintesis
pada tanaman yang berperan penting dalam penyerapan cahaya dan pengambilan CO2
untuk proses fotosintesis.
Umur Munculnya Bunga
Tanaman Kedelai (hari)
Setelah dianalisis secara
statistik dari hasil sidik ragam, perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap
umur berbunga kedelai. Sedangkan perlakuan waktu tanam secara tunggal tidak
berpengaruh yang nyata terhadap umur berbunga kedelai. Begitu juga di perlakuan
interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga.
Rata-rata umur berbunga kedelai setelah diuji dengan uji lanjut BNJ pada taraf
5% dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rerata umur
berbunga kedelai dengan varietas dan
waktu tanam Secara tumpangsari
|
Faktor V (Varietas)
|
|
Faktor G (Waktu
tanam)
|
|
Rerata V
|
|
|
G1
|
G2
|
G3
|
|
|
V1
|
37,33
|
38,67
|
38,00
|
38,00 b
|
|
V2
|
36,00
|
35,67
|
35,33
|
35,67 a
|
|
V3
|
37,33
|
37,67
|
37,33
|
37,44 b
|
|
Rerata G
|
36,89
|
37,34
|
36,89
|
|
|
KK = 2,67 %
|
|
|
BNJ V= 1,20
|
|
Angka – angka yang ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak
berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Tabel 2 diatas menunjukan bahwa perlakuan
varietas memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap umur berbunga, perlakuan
V2 varietas Mutiara 1 (35,67 hst). Berdeda nyata dengan perlakuan V1 Varietas Agromulyo (38,00 hst) dan V3
Varietas Rajabasa (37,44 hst). Perlakuan V2 adalah perlakuan tercepat umur
berbunga tanaman kedelai, namun sebenarnya pada penelitian ini terjadi
keterlambatan umur berbunga berdasarkan deskripsi masing – masing varietas, pada perlakuan V1 (35 hst), V2 (30
hst) dan V3 (35 hst), sedangkan hasil penelitian perlakuan V1 (38 hst), V2
(35,67 hst), V3 (37,44 hst).
Hal ini diduga
karena jika tanaman kekurangan unsur hara
nitrogen dikenali dari daun bagian bawah. Daun itu menguning karena kekurangan
klorofil. Lebih lanjut mengering dan rontok. Tulang-tulang di bawah permukaan
daun muda tampak pucat. Pertumbuhan tanaman lambat , kerdil dan lemah Muksin
(2013). Produksi bunga dan biji rendah. Tetapi ini hanya terjadi pada beberapa
tanaman saja yang mengalami pertumbuhan
tanaman lambat, kerdil dan lemah.
Umur berbunga pada tanaman kedelai pada
varietas V2 tidaklah hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan juga di pengaruhi
oleh sifat genetik. Pembungaan merupakan fenomena fisiologi yang tidak
sederhana, dimana perubahan fase vegetatif dan generatif merupakan perubahan yang sangat besar karena
struktur jaringannya berbeda sekali. Perubahan besaran ini merupakan cerminan
dari pemacuan kelompok gen tertentu yang berperan pada pembungaan. Tanaman akan
berbunga bila terdapat zat cadangan dan ditentukan oleh sifat tanaman dan
faktor lingkungan.
Hal
ini sesuai juga dengan Armon (1991) yang mengatakan bahwa pembungaan pada
tanaman juga dipengaruhi oleh ketersedian unsur hara, cahaya, air dan faktor
lingkungan lainnya. Yang berperan penting dalam proses fotosintesis untuk
membentuk karbohidrat. Dimana pembungaan dipengaruhi oleh kadar karbohidrat pada
tanaman yang mana bila terjadi penurunan atau peningkatan karbohidrat akan
memperlambat atau mempercepat terjadinya proses pembungaan.
Perlakuan waktu tanam secara tunggal tidak
memberikan berbeda yang nyata terhadap umur berbunga. Perlakuan waktu tanam
umur berbunga tercepat terdapat pada G1 dan G3 (36,89 hst) Sedangkan waktu
tanam G3 (37,34 hst) keterlambatan umur
berbunga pada perlakuan waktu tanam secara tunggal disebabkan karena,
dipengaruhi oleh ketersedian unsur hara dan cahaya sesuai dengan pendapat Armon
(1991) yang mengatakan bahwa pembungaan pada tanaman juga dipengaruhi oleh
ketersedian unsur hara, cahaya, air dan faktor lingkungan lainnya. Yang
berperan penting dalam proses fotosintesis untuk membentuk karbohidrat. Dimana
pembungaan dipengaruhi oleh kadar karbohidrat pada tanaman yang mana bila
terjadi penurunan atau peningkatan karbohidrat akan memperlambat atau
mempercepat terjadinya proses pembungaan.
Secara interaksi varietas dan waktu tanam
tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga kedelai, dimana
pembungaan tercepat terdapat pada V2G3 (varietas Argomulyo), dengan umur
berbunga tanaman kedelai yaitu (35,33 hst). Hal ini diduga bahwa
masing – masing varietas berada pada lingkungan tumbuh yang sesuai. Sesuai
dengan pendapat Darliah (2001) Bahwa respon genotif terhadap faktor lingkungan
biasanya terlihat dalam penampilan fenotif dari tanaman bersangkutan dan salah
satunya dapat dilihat dari pertumbuhannya.
Umur Panen Kedelai
(hari)
Setelah
dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pada
perlakuan varietas dan waktu tanam secara tumpangsari terhadap pertumbuhan dan
produksi kedelai secara tunggal dan secara interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen
tanaman kedelai, rerata umur panen disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3.
Rerata umur panen tanaman kedelai dengan perlakuan varietas dan waktu tanam secara tumpangsari (hari)
|
Faktor V (Varietas)
|
|
Faktor G (Waktu
tanam)
|
|
Rerata V
|
|
|
G1
|
G2
|
G3
|
|
|
V1
|
83,00
|
85,00
|
83,00
|
83,67
|
|
V2
|
83,00
|
83,00
|
83,00
|
83,00
|
|
V3
|
83,00
|
83,00
|
84,00
|
83,33
|
|
Rerata G
|
83,00
|
83,67
|
83,33
|
|
|
KK = 1,81 %
|
|
|
|
|
Tabel 3 di atas menunjukan bahwa varietas yang tercepat panen terdapat pada varietas V2 (mutiara 1) dengan
umur panen yaitu (83 hst), dan umur
panen V3 yaitu (83,33 hst), umur panen terlama terdapat pada varietas V1
(83,67 hst), berdasarkan deskripsi masing – masing varietas pada perlakuan V1
(80-82 hst), V2 (+82 hst), dan V3 (82-85 hst),
tidak jauh berbeda dari hasil deskripsi hasil penelitian V1 (83,67 hst),
V2 (83 hst), V3 (83,33).
Hal ini karena ketersedian unsur hara dalam
jumlah yang seimbang, hal ini karena unsur hara dalam keadaan tersedia,
sehingga tanaman dapat memamfaatkannya. Karena apabila tanaman tidak dapat
memamfaatkan unsur hara yang tersedia secara optimal, maka tanaman akan semakin
cepat melakukan proses pemasakan buah atau biji.
Hal ini sesusai dengan pendapat Yustisia
(2002) mengatakan bahwa kekurangan unsur hara selama periode akhir dari siklus
hidup tanaman, cenderung mempercepat waktu pemasakan.
Apabila tanaman kekurangan kekurangan unsur
hara tanaman tidak akan dapat tumbuh dan berkembang dengan normal, hal ini
sesuai dengan pendapat Paulus (1992) yang mengatakan bahwa penyerapan unsur
hara oleh tanaman berlansung selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Sedangkan apabila tanaman kekurangan air akibat konpetisi dari sistem
tumpangsari ini akan berpengaruh kepada perubahan gerak potensial air. Dimana
air yang ada didalam tanaman akan keluar akibat dari rendahnya potensial air di
luar tanaman (lingkungan sekitar tanaman). Hal ini akan menyebabkan tanaman
menjadi kekurangan air (tanaman tress), yang dapat memacu umur panen lebih
cepat.
Hal ini sesuai dengan pendapat Tambing (1997)
mengemukakan bahwa kekurangan unsur hara pada waktu pengisian polong akan
mempercepat gugurnya daun dan memperpendek periode pengisian polong.
Berdasarkan Tabel 3 diatas perlakuan waktu
tanam tidak berbeda nyata terhadap umur panen kedelai, perlakuan waktu tanam
umur panen tercepat terdapat pada perlakuan G1 (83 hst) dan perlakuan waktu
tanam umur panen terlama terdapat pada perlakuan G2 (83,67 hst), hal ini diduga
oleh faktor lingkungan . Sesuai dengan pendapat Warsana (2009) mengatakan
pertumbuhan tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan
seperti suhu dan curah hujan.
Menurut Partohardjono (1980) mengatakan
lamanya pertumbuhan vegetativ memberikan kesempatan pada tanaman untuk menunpuk
hasil fotosintesis lebih besar dan kemungkinan memperpanjang umur panen.
Secara interaksi juga tidak berbeda nyata terhadap
umur panen kedelai, dimana perlakuan terbaik secara interaksi varietas dan
waktu tanam secara tumpangsari terdapat pada varietas V2G1 (83 hst) jagung
ditanam 10 hari setelah tanam kedelai. Hal ini diduga apabila tanaman tidak
dapat memamfaatkan unsur hara yang tersedia secara optimal, maka tanaman akan
semakin cepat melakukan proses pemasakan buah atau biji.
Hal ini sesuai dengan pendapat Yustisia
(2002) mengatakan bahwa kekurangan unsur hara selama periode akhir dari siklus
hidup tanaman, cenderung mempercepat waktu pemasakan.
Berat Biji Kering
Kedelai (ton/ha)
Setelah
dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam, perlakuan varietas
berpengaruh nyata terhadap berat biji kering kedelai. Sedangkan perlakuan waktu
tanam secara tunggal dan interaksi tidak berpengaruh yang nyata terhadap berat
biji kering kedelai. Rata-rata berat biji kering kedelai setelah diuji
dengan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.
Hasil Rerata tanaman kedelai dengan uji perlakuan varietas dan waktu tanam
secara tumpangsari (ton/ha)
|
Faktor V (Varietas)
|
|
Faktor G (Waktu
Tanam)
|
|
Rerata
|
|
|
G1
|
G2
|
G3
|
|
|
V1
|
14,87
|
11,37
|
15,43
|
13,89 b
|
|
V2
|
20,17
|
17,97
|
17,90
|
18,68 a
|
|
V3
|
10,00
|
11,70
|
12,37
|
11,36 b
|
|
Rerata G
|
15,01
|
13,68
|
15,23
|
|
|
KK = 23,82 %
|
|
BNJ V = 4,37
|
|
|
Angka – angka yang ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak
berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Tabel 4 diatas menunjukan bahwa perlakuan
varietas memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat biji kering kedelai V2
Varietas Mutiara 1 (18,68 gr/tanaman) dikompersi dalam bentuk ton/ha yaitu 2 (ton/ha).
Varietas V2
Mutiara 1 menghasilkan berat kering biji
tertinggi yaitu (18,68 gr/tanaman) dikompersi dalam bentuk ton/ha yaitu 2
(ton/ha), dan berat biji kering terendah terdapat pada varietas V3 (Rajabasa)
yaitu 11,36 gr/tanaman) dikompersi dalam bentuk ton/ha yaitu 1,2 (ton/ha).
Tingginya berat
biji kering kedelai pada varietas V2, hal ini disebabkan karena kebutuhan
tanaman akan unsur hara telah tercukupi, sehingga dapat memacu peningkatan
berat biji kering. Hal ini diduga karena pada varietas V2 jumlah biji yang
dihasilkan cukup besar dan berisi.
Berat biji kering
terendah terdapat pada varietas V3, menurut Raintung (2001) kekurangan unsur
hara pada tanaman akan menyebabkan berat biji akan menjadi lebih ringan dan
sedikit, pembentukan biji juga tidak akan sempurna, disebabkan kurangnya
aktivitas tanaman pada proses fotosintesis. Selain unsur hara yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai adalah cahaya. Dalam sistem
tumpangsari, hasil kedelai sangat menurun, ini merupakan pengaruh dari semakin
besarnya naungan yang diterima kedelai
sehingga mengganggu proses pembentukan biji.
Menurut Baharsyah
(1983) dalam yustisia (2002) segera setelah pembentukan polong dimulai, maka
fotosintat yang ditranslokasikan kebagian tanaman lain sangat sedikit hal ini
berarti bahwa sebagian besar bahan kering yang setelah pembungaan diangkut ke
polong. Apabila intensitas cahaya semakin berkurang, yang disebabkan oleh
turunnya proses fotosintesis dan terganggunya keseimbangan dalam sistem
pertanaman.
Persaingan antara
tanaman kedelai dengan jagung dalam memperoleh unsur hara dan cahaya yang
terjadi pada sistem tumpangsari, karena tanaman jagung morfologi tumbuhnya
lebih tinggi dari tanaman kedelai menjadi kahat cahaya, yang dapat berpengaruh
kepada hasil kedelai/menurunkan produksi kedelai. Menurut Yustisia (2002) bahwa
rendahnya penurunan hasil pada sistem tumpangsari karena terjadi kompetisi
cahaya matahari antara tanaman kedelai dengan jagung.
Berdasarkan Tabel 4, perlakuan waktu tanam
tidak berbeda nyata terhadap berat biji kering kedelai, perlakuaan waktu tanam
berat biji kering tertinggi terdapat pada perlakuan G3 yaitu (15,23
gram/tanaman), 20 hari sebelum tanam jagung, namun terus menurun G1 (15,01
gram/tanaman) waktu tanam bersamaan kedelai dengan jagung dan G2 (13,68
gram/tanaman) jagung ditanam 10 hari setelah tanam kedelai. Penurunan tersebut
disebabkan naungan dari daun jagung yang semakin melebar, sehingga kedelai
tidak dapat menerima cahaya matahari untuk berlangsungnya proses
fotosintesis.Menurut Willey (1979) Penurunan hasil pada salah satu atau kedua
tanaman dalam sistem tumpangsari dapat disebabkan pengaruh penaungan dari salah
satu tanaman.
Hasil biji kering menunjukkan penurunan dari
perlakuan G3 (15,23 gram/ tanaman) 20 hari sebelum tanam jagung, sampai
terendah pada perlakuan G2 (13,68 gram/tanaman) jagung ditanam 10 hari setelah
tanam kedelai. Hal ini selain disebabkan karena kompetisi sinar matahari juga
kompetisi terhadap kebutuhan air dan unsur hara. Kesumawati (1991) dalam Khalil
(2000) menunjukkan bahwa apabila 50% tajuk daun kacang ternaungi akan
mengurangi hasil fotosintesis, yang akhirnya hasil biji kacang akan menurun.
Secara interaksi juga tidak berbeda yang nyata
terhadap berat biji kering kedelai, dimana perlakuan terbaik secara interaksi
varietas dan waktu tanam secara tumpangsari terdapat pada varietas V2G1
(varietas mutiara 1) waktu tanam bersamaan dengan jagung dengan berat biji
tanaman yaitu (20,17 gr/tanaman). Hal ini diduga kebutuhan
tanaman akan unsur hara telah tercukupi dan mampu beradaptasi dengan
lingkungan, menurut Simatupang (1997)
mengatakan bahwa tingginya produksi suatu varietas dikarenakan varietas
tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
KESIMPULAN
1.
Perlakuan
varietas berpengaruh nyata terhadap parameter umur berbunga
V2 (35,67) (Varietas Mutiara 1), dan berat biji kering V2 (18,68) (Varietas Mutiara 1).
2.
Perlakuan
waktu tanam (G) tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter
pengamatan
3.
Perlakuan
secara interaksi varietas dan waktu tanam juga tidak berpengaruh nyata terhadap semua
parameter pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto.
T 2005. Kedelai Penebar Swadaya, Jakarta
Asadi. 1997. Pola
sistem tumpangsari Pendidikan
Pasca Tesis. UNAND, Padang
Armon. N, 1991. Pengaruh pupuk kandang dan emulsi Lateks
terhadap sipat fisika Tanah Psamment dan produksi tanaman
Kedelai (Glycine max ( L) Merril) Thesis Program pascasarjana KPK IPB-UNAND, Padang
Badan
pusat statistik. 2009. Riau Dalam Angka, Propinsi Riau
Balai
Penelitian Tanaman Pangan. 2013, Bogor
Buku Agenda Dinas Tanaman Pangan Kuantan
Singingi 2010-2011. Kabupaten Kuantan
Singingi
Darliah.
2001. Faktor fenotif
terhadap lingkungan penebar swadaya, Jakarta
Gardner. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya
Universitas Indonesia press, Jakarta
Khalil, M. 2000. Penentuan Waktu Tanam Kacang
Tanah dan Dosis Pupuk Posfat terhadap
Pertumbuhan, Hasil Kacang Tanah dan Jagung Dalam Sistem Tumpangsari. Agrista. Vol: 4 No 3.
Mukhsin. 2013. Akibat
Kekurangan Unsur Hara.Bharata KaryaAksara. Jakarta
Partohardjono.
1980. Panen pasca panen kansius,
Yogyakarta
Paulus. J. M, 1992. Pengaruh pemupukan nitrogen dan waktu
tanam terhadap Pertumbuhan dan hasil Jagung (Zea mays) diantara kelapa, Thesis program Pascasarjana KPK IPB-UNSRAT, Manado
Raintung. J, 2001, penaruh pemberian Fosfor dan Kalium
terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai (Glycine
max (L) Merril) Varietas 91 – 005, Thesis Program pascasarjana KPK
IPB-UNSRAT, Manado
Simatupang.
S. 1997. Berat biji kering, Jurnal Hortikultura 5 (1): 102-105
Soetedjo.
1992. Tumpangsari kedelai dengan jagung
penebar swadaya, Jakarta
Tambing. Y, 1997. Pengaruh Natrium Nitrat dan Cekaman air
pada fase Reproduktif Terhadap
pertumbuhan pembungaan dan hasil Kedelai (Glycine
max (L) Merril), Thesis Program Pascasarjana IPB, Bogor
Yustisia. 2002. Pengaruh system budidaya dan pemupukan N
melalui daun Tehadap pertumbuhan
dan hasil kedelai (Glycine max (L)
Merril) dan padi (Oryza sativa) dalam pola tumpangsari,
Thesis program Pascasarjana IPB Bogor
Willey. R. W. 1979. Intercropping – it’s importance and
research needs. Part I. Competition
and yield advantages. Field Crop Abst. 32:1-10.(http://www.batan.go.id/pdin/laporan/file/01%20deskripsi%20varietas.pdf) Diakses 08 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar