Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 91-98


PENGARUH VARIETAS DAN WAKTU TANAM SECARA TUMPANGSARI (Intercroping) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI  (Glycine max  L (Merril)
                                                                                                                                                                                          
Siswadi. A, Rover dan Chairil Edzward
Program Studi Agroteknologi Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau

ABSTRACT

This Research aim to to know Influence of Varietas and Time Plant Tumpangsari                     (Intercroping) To Growth and Production Soy ( Glycine Max L ( Merril) . This Research use random device  group ( Factorial RAK) consisting of two factor : V (Varietas) which consist of 3 level of V1        ( Varietas Agromulyo), V2 ( Varietas Pearl), V3 ( Varietas Rajabasa) and G factor ( time Plant Soy) consist of 3 level that is G1 ( Time Plant At The Same Time Soy With Maize), G2 ( Maize planted  10 day after planting Soy) G3 ( maize planted 20 day after planting Soy). Result of research show treatment of varietas have an effect on reality to bloomy age V2 ( 35,67) and dry seed weight V2          (18,68). Treatment of time plant not have an effect on reality to all treatment and treatment interactionly time and varietas plant nor have an effect on reality to all treatment.

 Keyword : Varietas, Time planted, Soy, Tumpangsari



PENDAHULUAN

              Indonesia merupakan negara yang mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar. Sebagian besar penduduk Indonesia mengkonsumsi tempe dan tahu yang berbahan dasar kedelai, dan kedelai merupakan sumber protein yang lebih murah dibandingkan daging. Hal ini karena pada kedelai dan bahan olahannya dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi manusia. Kandungan gizi dalam tiap 100 gr kedelai terdapat 330 kalori, 35 % protein, 18 % lemak, dan 8 % air (Adisarwanto, 2005).
   Pada tahun 2011 produksi kedelai di Kabupaten Kuantan Singingi mengalami penurunan dibandingkan dengan produksi tahun 2010, dimana pada tahun 2010 produksi kedelai di Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 21,06 ton dengan produksivitas 1,11 ton/ha, sedangkan tahun 2011 produksi kedelai di Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 14,50 ton/ha dengan produksivitas 1,21 ton/ha, (Buku Agenda Tahunan Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Kuantan Singingi, 2010 – 2011).
Umumnya kekurangan produksi kedelai di Indonesia disebabkan antara lain karena produktifitas yang masih rendah yang disebabkan oleh faktor mutu benih, teknik budidaya, pengendalian hama dan penyakit, pasca panen serta lingkungan (kesuburan tanah, iklim dan air).
Peningkatkan produksi tanaman dapat ditingkatkan dengan teknik budidaya yang tepat, yaitu dengan cara penggunaan benih atau bibit yang unggul, pengolahan tanah yang baik, penyediaan unsur hara pada tanah, serta dalam menentukan sistem atau pola tanam yang akan digunakan. Penggunaan atau pemilihan varietas unggul yang dapat memberikan hasil yang lebih tinggi sehingga keuntungan petani menjadi lebih meningkat.
   Sistem tumpangsari merupakan suatu sistem produksi yang diterapkan atas pertimbangan hayati dan ekonomi, dalam sistem tumpangsari telah banyak diketahui bahwa produksi tanaman secara keseluruhan memberikan hasil yang lebih tinggi apabila kombinasi tanaman yang diusahakan dalam sistem tumpangsari dilakukan dengan tepat. Hal ini sesuai dengan pendapat Asadi (1997) bahwa keuntungan dari sistem tumpangsari yaitu dapat menambah keragaman pangan sehubungan dengan perbaikan gizi dan peningkatan produktivitas lahan.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pola tumpangsari adalah waktu tanam, karena waktu tanam berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif, pertumbuhan vegetatif yang lebih cepat dan dominan menguasai ruang, maka akan lebih mampu berkompetisi dalam memperebutkan air, unsur hara dan cahaya dibandingkan dengan pertumbuhan vegetatifnya yang lambat, akhirnya akan mempengaruhi produksi. Selanjutnya Willey (1982) menyatakan bahwa dalam menyusun sistem tumpangsari perlu memperhatikan kepekaan tanaman terhadap persaingan selama daur hidupnya. Banyak tanaman pada periode tertentu jelas sangat sensitif dan cekaman pada periode tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan hasil. Agar persaingan antara jenis tanaman sekecil mungkin, maka perlu diatur agar permintaan sumber daya pertumbuhan tertinggi untuk masing-masing jenis tanaman tidak terjadi pada waktu yang bersamaan.
Waktu tanam mempunyai peranan yang penting dalam sistem tumpangsari, terutama pada tanaman yang peka terhadap naungan. Untuk mengurangi pengaruh tersebut,  waktu tanam jagung dan kedelai harus diatur agar pada periode kritis dari suatu pertumbuhan terbadap persaingan dapat ditekan.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh varietas dan waktu tanam terhadap pertumbuhan dan produksi Kedelai (Glycine max L Merril) secara tumpangsari (Intercropping) dengan Jagung (Zea mays), secara tunggal dan interaksi

ALAT DAN BAHAN

Tempat Dan Waktu
            Penelitian telah dilaksanakan di Desa Pulau Panjang Hilir Kecematan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu penelitian selama empat bulan terhitung dari bulan September-  Desember 2013.

Bahan Dan Alat
            Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kedelai varietas, Agromulyo, Mutiara 1, Rajabasa, Benih jagung varietas pioner, pupuk kotoran sapi, pupuk Urea, TSP, KCL, Decis 2,5 EC, dan Dithen M-45. Sedangkan alatnya adalah cangkul, sabit, paku, cat, martil, Meteran, Timbangan, ember, handsprayer dan alat – alat tulis.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : faktor V (Varietas Kedelai) yang terdiri dari 3 taraf, dan faktor kedua adalah faktor G (waktu tanam kedelai) yang terdiri dari 3 taraf. Seluruh Data dianalisis secara statistic dan jika F hitung lebih besar dari F table maka dilakukan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Faktor V (varietas kedelai) terdiri dari 3 taraf yaitu :
V1 = Agromulyo
V2 = Mutiara 1
V3 = Rajabasa

Faktor Kedua G (Waktu tanam Kedelai) terdiri dari 3 taraf yaitu:
G1 = Waktu tanam bersamaan kedelai dengan jagung
G2 = Jagung ditanam 10 hari setelah tanam Kedelai
G3 = Jagung ditanam 20 hari setelah tanam Kedelai

Pelaksanaan Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman kedelai (cm)

              Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pada perlakuan varietas dan waktu tanam secara tumpangsari terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai secara tunggal dan secara interaksi  tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman kedelai, rerata tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1.


Tabel.1. Rerata tinggi tanaman kedelai berumur 4 minggu (cm).
Faktor V (Varietas)

Faktor G (Waktu Tanam)

Rerata V

G1
G2
G3

V1
45,33
45,50
44,83
45,22
V2
43,67
43,67
48,33
45,22
V3
47,00
45,83
45,73
46,19
Rerata G
45,33
45,00
46,30

KK = 8,87 %






Tabel 1 diatas menunjukan bahwa  pengamatan tinggi tanaman pada umur 4 minggu, faktor  varietas yang  menghasilkan  tanaman  tertinggi terdapat pada varietas V3 Rajabasa dengan tinggi tanaman (46,19 cm), tercapainya angka tertinggi pada varietas V3 ini, diduga pada varietas ini varietas dapat melakukan aktivitasnya secara normal seperti melakukan proses fotosintesis, respirasi, dan pertumbuhan akar untuk pertumbuhan tanaman .
Hal ini sesuai dengan pendapat Gardner (1991) mengatakan bahwa ketersedian unsur hara merupakan bagian penting untuk tanaman membentuk kloropil pada daun. Daun merupakan bagian organ utama fotosintesis pada tanaman yang berperan penting dalam penyerapan cahaya dan pengambilan CO2 untuk proses fotosintesis.
Dilihat dari deskripsi rara – rata tinggi tanaman kedelai yaitu 46,66 cm, dari hasil percobaan menunjukkan tinggi tanaman beberapa varietas  tanaman kedelai tidak berbeda nyata. Hal ini di duga bahwa masing – masing varietas berada pada lingkungan tumbuh yang sesuai sehingga didapatkan pertumbuhan yang hampir seragam.
Sesuai dengan pendapat Darliah (2001) Bahwa respon genotif terhadap faktor lingkungan biasanya terlihat dalam penampilan fenotif dari tanaman bersangkutan dan salah satunya dapat dilihat dari pertumbuhannya.
Berdasarkan Tabel 1 bahwa perlakuan waktu tanam tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, perlakuan waktu tanam tertinggi terdapat pada G3 (46,30 cm), hal ini di duga oleh faktor cahaya yang diterima oleh kedelai menyebabkan rendahnya hasil fotosintesis pada kondisi yang ternaungi sehingga penampilan tanaman kedelai semakin tinggi, sesuai dengan pendapat Soetedjo (1992) yaitu bahwa kedelai yang ternaungi jagung dalam sistem tumpangsari menunjukan bahwa semakin rendah sinar matahari yang diterima kedelai semakin rapat tingkat penaungan yang akan menyebabkan pertumbuhan dan penampilan tanaman menjadi tinggi.
Secara interaksi varietas juga tidak memberikan yang berbeda nyata terhadap tinggi tanaman.  Perlakuan terbaik secara interaksi varietas dan waktu tanam terdapat pada V2G3 (Varietas Mutiara 1), Jagung ditanam 20 hari setelah tanam kedelai, dengan tinggi tanaman (48,33 cm). Tercapainya angka tertinggi pada varietas  ini, diduga pada varietas ini varietas dapat melakukan aktivitasnya secara normal seperti melakukan proses fotosintesis, respirasi, dan pertumbuhan akar untuk pertumbuhan tanaman .
 Hal ini sesuai dengan pendapat Gardner (1991) mengatakan bahwa ketersedian unsur hara merupakan bagian penting untuk tanaman membentuk kloropil pada daun. Daun merupakan bagian organ utama fotosintesis pada tanaman yang berperan penting dalam penyerapan cahaya dan pengambilan CO2 untuk proses fotosintesis.

Umur Munculnya Bunga Tanaman Kedelai (hari)
              Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam, perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap umur berbunga kedelai. Sedangkan perlakuan waktu tanam secara tunggal tidak berpengaruh yang nyata terhadap umur berbunga kedelai. Begitu juga di perlakuan interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga. Rata-rata umur berbunga kedelai setelah diuji dengan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Rerata umur berbunga kedelai dengan varietas dan  waktu tanam Secara tumpangsari
Faktor V (Varietas)

Faktor G (Waktu tanam)

Rerata V

G1
G2
G3

V1
37,33
38,67
38,00
38,00 b
V2
36,00
35,67
35,33
35,67 a
V3
37,33
37,67
37,33
37,44 b
Rerata G
36,89
37,34
36,89

KK = 2,67 %


BNJ V= 1,20

Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Tabel 2 diatas menunjukan bahwa perlakuan varietas memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap umur berbunga, perlakuan V2  varietas  Mutiara 1 (35,67 hst). Berdeda nyata dengan perlakuan V1 Varietas Agromulyo (38,00 hst) dan V3 Varietas Rajabasa (37,44 hst). Perlakuan V2 adalah perlakuan tercepat umur berbunga tanaman kedelai, namun sebenarnya pada penelitian ini terjadi keterlambatan umur berbunga berdasarkan deskripsi masing – masing  varietas, pada perlakuan V1 (35 hst), V2 (30 hst) dan V3 (35 hst), sedangkan hasil penelitian perlakuan V1 (38 hst), V2 (35,67 hst), V3 (37,44 hst).
Hal ini diduga karena  jika tanaman kekurangan unsur hara nitrogen dikenali dari daun bagian bawah. Daun itu menguning karena kekurangan klorofil. Lebih lanjut mengering dan rontok. Tulang-tulang di bawah permukaan daun muda tampak pucat. Pertumbuhan tanaman lambat , kerdil dan lemah Muksin (2013). Produksi bunga dan biji rendah. Tetapi ini hanya terjadi pada beberapa tanaman  saja yang mengalami pertumbuhan tanaman lambat, kerdil dan lemah.
Umur berbunga pada tanaman kedelai pada varietas V2 tidaklah hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan juga di pengaruhi oleh sifat genetik. Pembungaan merupakan fenomena fisiologi yang tidak sederhana, dimana perubahan fase vegetatif dan generatif  merupakan perubahan yang sangat besar karena struktur jaringannya berbeda sekali. Perubahan besaran ini merupakan cerminan dari pemacuan kelompok gen tertentu yang berperan pada pembungaan. Tanaman akan berbunga bila terdapat zat cadangan dan ditentukan oleh sifat tanaman dan faktor lingkungan.
   Hal ini sesuai juga dengan Armon (1991) yang mengatakan bahwa pembungaan pada tanaman juga dipengaruhi oleh ketersedian unsur hara, cahaya, air dan faktor lingkungan lainnya. Yang berperan penting dalam proses fotosintesis untuk membentuk karbohidrat. Dimana pembungaan dipengaruhi oleh kadar karbohidrat pada tanaman yang mana bila terjadi penurunan atau peningkatan karbohidrat akan memperlambat atau mempercepat terjadinya proses pembungaan.
Perlakuan waktu tanam secara tunggal tidak memberikan berbeda yang nyata terhadap umur berbunga. Perlakuan waktu tanam umur berbunga tercepat terdapat pada G1 dan G3 (36,89 hst) Sedangkan waktu tanam G3 (37,34 hst)  keterlambatan umur berbunga pada perlakuan waktu tanam secara tunggal disebabkan karena, dipengaruhi oleh ketersedian unsur hara dan cahaya sesuai dengan pendapat Armon (1991) yang mengatakan bahwa pembungaan pada tanaman juga dipengaruhi oleh ketersedian unsur hara, cahaya, air dan faktor lingkungan lainnya. Yang berperan penting dalam proses fotosintesis untuk membentuk karbohidrat. Dimana pembungaan dipengaruhi oleh kadar karbohidrat pada tanaman yang mana bila terjadi penurunan atau peningkatan karbohidrat akan memperlambat atau mempercepat terjadinya proses pembungaan.
Secara interaksi varietas dan waktu tanam tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga kedelai, dimana pembungaan tercepat terdapat pada V2G3 (varietas Argomulyo), dengan umur berbunga tanaman kedelai yaitu (35,33 hst). Hal ini diduga bahwa masing – masing varietas berada pada lingkungan tumbuh yang sesuai. Sesuai dengan pendapat Darliah (2001) Bahwa respon genotif terhadap faktor lingkungan biasanya terlihat dalam penampilan fenotif dari tanaman bersangkutan dan salah satunya dapat dilihat dari pertumbuhannya.

Umur Panen Kedelai (hari)
              Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pada perlakuan varietas dan waktu tanam secara tumpangsari terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai secara tunggal dan secara interaksi  tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen tanaman kedelai, rerata umur panen disajikan pada Tabel 3.


Tabel 3. Rerata umur panen tanaman kedelai dengan perlakuan varietas  dan waktu tanam secara tumpangsari (hari)
Faktor V (Varietas)

Faktor G (Waktu tanam)

Rerata V

G1
G2
G3

V1
83,00
85,00
83,00
83,67
V2
83,00
83,00
83,00
83,00
V3
83,00
83,00
84,00
83,33
Rerata G
83,00
83,67
83,33

KK = 1,81 %






Tabel 3 di atas menunjukan bahwa  varietas yang tercepat panen  terdapat pada varietas V2 (mutiara 1) dengan umur panen yaitu (83 hst),  dan umur panen V3 yaitu (83,33 hst), umur panen terlama terdapat pada varietas V1 (83,67 hst), berdasarkan deskripsi masing – masing varietas pada perlakuan V1 (80-82 hst), V2 (+82 hst), dan V3 (82-85 hst),  tidak jauh berbeda dari hasil deskripsi hasil penelitian V1 (83,67 hst), V2 (83 hst), V3 (83,33).
Hal ini karena ketersedian unsur hara dalam jumlah yang seimbang, hal ini karena unsur hara dalam keadaan tersedia, sehingga tanaman dapat memamfaatkannya. Karena apabila tanaman tidak dapat memamfaatkan unsur hara yang tersedia secara optimal, maka tanaman akan semakin cepat melakukan proses pemasakan buah atau biji.
Hal ini sesusai dengan pendapat Yustisia (2002) mengatakan bahwa kekurangan unsur hara selama periode akhir dari siklus hidup tanaman, cenderung mempercepat waktu pemasakan.
Apabila tanaman kekurangan kekurangan unsur hara tanaman tidak akan dapat tumbuh dan berkembang dengan normal, hal ini sesuai dengan pendapat Paulus (1992) yang mengatakan bahwa penyerapan unsur hara oleh tanaman berlansung selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sedangkan apabila tanaman kekurangan air akibat konpetisi dari sistem tumpangsari ini akan berpengaruh kepada perubahan gerak potensial air. Dimana air yang ada didalam tanaman akan keluar akibat dari rendahnya potensial air di luar tanaman (lingkungan sekitar tanaman). Hal ini akan menyebabkan tanaman menjadi kekurangan air (tanaman tress), yang dapat memacu umur panen lebih cepat.
Hal ini sesuai dengan pendapat Tambing (1997) mengemukakan bahwa kekurangan unsur hara pada waktu pengisian polong akan mempercepat gugurnya daun dan memperpendek periode pengisian polong.
Berdasarkan Tabel 3 diatas perlakuan waktu tanam tidak berbeda nyata terhadap umur panen kedelai, perlakuan waktu tanam umur panen tercepat terdapat pada perlakuan G1 (83 hst) dan perlakuan waktu tanam umur panen terlama terdapat pada perlakuan G2 (83,67 hst), hal ini diduga oleh faktor lingkungan . Sesuai dengan pendapat Warsana (2009) mengatakan pertumbuhan tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan seperti suhu dan curah hujan.
 Menurut Partohardjono (1980) mengatakan lamanya pertumbuhan vegetativ memberikan kesempatan pada tanaman untuk menunpuk hasil fotosintesis lebih besar dan kemungkinan memperpanjang umur panen.
Secara interaksi juga tidak berbeda nyata terhadap umur panen kedelai, dimana perlakuan terbaik secara interaksi varietas dan waktu tanam secara tumpangsari terdapat pada varietas V2G1 (83 hst) jagung ditanam 10 hari setelah tanam kedelai. Hal ini diduga apabila tanaman tidak dapat memamfaatkan unsur hara yang tersedia secara optimal, maka tanaman akan semakin cepat melakukan proses pemasakan buah atau biji.
Hal ini sesuai dengan pendapat Yustisia (2002) mengatakan bahwa kekurangan unsur hara selama periode akhir dari siklus hidup tanaman, cenderung mempercepat waktu pemasakan.

Berat Biji Kering Kedelai (ton/ha)
              Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam, perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap berat biji kering kedelai. Sedangkan perlakuan waktu tanam secara tunggal dan interaksi tidak berpengaruh yang nyata terhadap berat biji kering kedelai.  Rata-rata berat biji kering kedelai setelah diuji dengan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 4.



Tabel 4. Hasil Rerata tanaman kedelai dengan uji perlakuan varietas dan waktu tanam secara tumpangsari (ton/ha)
Faktor V (Varietas)

Faktor G (Waktu Tanam)

Rerata

G1
G2
G3

V1
14,87
11,37
15,43
13,89 b
V2
20,17
17,97
17,90
18,68 a
V3
10,00
11,70
12,37
11,36 b
Rerata G
15,01
13,68
15,23

KK = 23,82 %

BNJ V  = 4,37


Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Tabel 4 diatas menunjukan bahwa perlakuan varietas memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat biji kering kedelai V2 Varietas  Mutiara 1 (18,68 gr/tanaman) dikompersi dalam bentuk ton/ha yaitu 2 (ton/ha).
Varietas V2 Mutiara 1  menghasilkan berat kering biji tertinggi yaitu (18,68 gr/tanaman) dikompersi dalam bentuk ton/ha yaitu 2 (ton/ha), dan berat biji kering terendah terdapat pada varietas V3 (Rajabasa) yaitu 11,36 gr/tanaman) dikompersi dalam bentuk ton/ha yaitu 1,2 (ton/ha).
Tingginya berat biji kering kedelai pada varietas V2, hal ini disebabkan karena kebutuhan tanaman akan unsur hara telah tercukupi, sehingga dapat memacu peningkatan berat biji kering. Hal ini diduga karena pada varietas V2 jumlah biji yang dihasilkan cukup besar dan berisi.
Berat biji kering terendah terdapat pada varietas V3, menurut Raintung (2001) kekurangan unsur hara pada tanaman akan menyebabkan berat biji akan menjadi lebih ringan dan sedikit, pembentukan biji juga tidak akan sempurna, disebabkan kurangnya aktivitas tanaman pada proses fotosintesis. Selain unsur hara yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai adalah cahaya. Dalam sistem tumpangsari, hasil kedelai sangat menurun, ini merupakan pengaruh dari semakin besarnya naungan  yang diterima kedelai sehingga mengganggu proses pembentukan biji.
Menurut Baharsyah (1983) dalam yustisia (2002) segera setelah pembentukan polong dimulai, maka fotosintat yang ditranslokasikan kebagian tanaman lain sangat sedikit hal ini berarti bahwa sebagian besar bahan kering yang setelah pembungaan diangkut ke polong. Apabila intensitas cahaya semakin berkurang, yang disebabkan oleh turunnya proses fotosintesis dan terganggunya keseimbangan dalam sistem pertanaman.
Persaingan antara tanaman kedelai dengan jagung dalam memperoleh unsur hara dan cahaya yang terjadi pada sistem tumpangsari, karena tanaman jagung morfologi tumbuhnya lebih tinggi dari tanaman kedelai menjadi kahat cahaya, yang dapat berpengaruh kepada hasil kedelai/menurunkan produksi kedelai. Menurut Yustisia (2002) bahwa rendahnya penurunan hasil pada sistem tumpangsari karena terjadi kompetisi cahaya matahari antara tanaman kedelai dengan jagung.
Berdasarkan Tabel 4, perlakuan waktu tanam tidak berbeda nyata terhadap berat biji kering kedelai, perlakuaan waktu tanam berat biji kering tertinggi terdapat pada perlakuan G3 yaitu (15,23 gram/tanaman), 20 hari sebelum tanam jagung, namun terus menurun G1 (15,01 gram/tanaman) waktu tanam bersamaan kedelai dengan jagung dan G2 (13,68 gram/tanaman) jagung ditanam 10 hari setelah tanam kedelai. Penurunan tersebut disebabkan naungan dari daun jagung yang semakin melebar, sehingga kedelai tidak dapat menerima cahaya matahari untuk berlangsungnya proses fotosintesis.Menurut Willey (1979) Penurunan hasil pada salah satu atau kedua tanaman dalam sistem tumpangsari dapat disebabkan pengaruh penaungan dari salah satu tanaman.
Hasil biji kering menunjukkan penurunan dari perlakuan G3 (15,23 gram/ tanaman) 20 hari sebelum tanam jagung, sampai terendah pada perlakuan G2 (13,68 gram/tanaman) jagung ditanam 10 hari setelah tanam kedelai. Hal ini selain disebabkan karena kompetisi sinar matahari juga kompetisi terhadap kebutuhan air dan unsur hara. Kesumawati (1991) dalam Khalil (2000) menunjukkan bahwa apabila 50% tajuk daun kacang ternaungi akan mengurangi hasil fotosintesis, yang akhirnya hasil biji kacang akan menurun.
Secara interaksi juga tidak berbeda yang nyata terhadap berat biji kering kedelai, dimana perlakuan terbaik secara interaksi varietas dan waktu tanam secara tumpangsari terdapat pada varietas V2G1 (varietas mutiara 1) waktu tanam bersamaan dengan jagung dengan berat biji tanaman yaitu (20,17 gr/tanaman). Hal ini diduga kebutuhan tanaman akan unsur hara telah tercukupi dan mampu beradaptasi dengan lingkungan,  menurut Simatupang (1997) mengatakan bahwa tingginya produksi suatu varietas dikarenakan varietas tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

KESIMPULAN

1.   Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap parameter umur berbunga V2 (35,67) (Varietas Mutiara 1), dan berat biji kering V2 (18,68) (Varietas Mutiara 1).
2.   Perlakuan waktu tanam (G) tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan
3.   Perlakuan secara interaksi varietas dan waktu tanam juga tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto. T 2005. Kedelai Penebar Swadaya, Jakarta
Asadi. 1997. Pola sistem tumpangsari Pendidikan Pasca Tesis. UNAND, Padang
Armon. N, 1991. Pengaruh pupuk kandang dan emulsi Lateks terhadap sipat fisika Tanah Psamment dan produksi tanaman Kedelai (Glycine max ( L) Merril) Thesis Program pascasarjana KPK IPB-UNAND, Padang
Badan pusat statistik. 2009. Riau Dalam Angka, Propinsi Riau
Balai Penelitian Tanaman Pangan. 2013, Bogor
Buku Agenda Dinas Tanaman Pangan Kuantan Singingi 2010-2011. Kabupaten    Kuantan Singingi
Darliah. 2001. Faktor  fenotif  terhadap  lingkungan  penebar swadaya, Jakarta
Gardner. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya  Universitas Indonesia press, Jakarta
Khalil, M. 2000. Penentuan Waktu Tanam Kacang Tanah dan Dosis Pupuk Posfat             terhadap Pertumbuhan, Hasil Kacang Tanah dan Jagung Dalam Sistem           Tumpangsari. Agrista. Vol: 4 No 3.
Mukhsin. 2013.  Akibat Kekurangan Unsur Hara.Bharata KaryaAksara. Jakarta
Partohardjono. 1980. Panen pasca panen kansius, Yogyakarta
Paulus. J. M, 1992. Pengaruh pemupukan nitrogen dan waktu tanam terhadap Pertumbuhan dan hasil Jagung (Zea mays) diantara kelapa, Thesis program Pascasarjana KPK IPB-UNSRAT, Manado
Raintung. J, 2001, penaruh pemberian Fosfor dan Kalium terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai (Glycine max (L) Merril) Varietas 91 – 005, Thesis Program pascasarjana KPK IPB-UNSRAT, Manado
Simatupang. S. 1997. Berat biji kering, Jurnal Hortikultura 5 (1): 102-105
Soetedjo. 1992. Tumpangsari kedelai dengan jagung penebar swadaya, Jakarta
Tambing. Y, 1997. Pengaruh Natrium Nitrat dan Cekaman air pada fase    Reproduktif Terhadap pertumbuhan pembungaan dan hasil Kedelai (Glycine max (L) Merril), Thesis Program Pascasarjana IPB, Bogor
Yustisia. 2002. Pengaruh system budidaya dan pemupukan N melalui daun          Tehadap pertumbuhan dan hasil kedelai (Glycine max (L) Merril) dan padi            (Oryza sativa) dalam pola tumpangsari, Thesis program Pascasarjana IPB             Bogor
Willey. R. W. 1979. Intercropping – it’s importance and research needs. Part I.     Competition and yield advantages. Field Crop Abst. 32:1-10.(http://www.batan.go.id/pdin/laporan/file/01%20deskripsi%20varietas.pdf)      Diakses 08 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar