Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 10-17


PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI AKTIVATOR PADA PEMBUATAN KOMPOS JERAMI PADI TERHADAP KANDUNGAN Fosfor (P) DAN Kalium (K)

Hendra Saputra Syahrudin, Tri Nopsagiarti, Deno Okalia
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan. Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau


ABSTRACT

The aimed of this research is to know the effect of used several activator in made paddy straw compost concerning C-organic and Nitrogen content. This study uses a Complete Randomized Design (CRD) Non Factorial with nine treatment level: PO = Straw 20 Kg without activator, P1 = Straw 20 Kg + EM4 20 ml, P2 = Straw 15 Kg + manure fertilizer 5 Kg + EM4 20 ml, P3 = Straw 10 Kg + manure fertilizer 10 Kg + EM4 20 ml, P4 = Straw 5 Kg + manure fertilizer 15 Kg + EM4 20 ml, P5 = Straw 20 Kg + Stardec + 50 gr, P6 = Straw 15 Kg + manure fertilizer 5 Kg + Stardec 50 gr, P7 = Straw 10 Kg + manure fertilizer 10 Kg + Stardec 50 gr, and P8 = Straw 5 Kg + manure fertilizer 15 Kg + Stardec 50 gr. The results showed EM4 and Stardec can use in composting paddy straw, and give significant affect at pH, and P. Compost with P8 treatment ( composition : Straw 5 Kg + manure fertilizer 15 Kg + Stardec 50 gr) had P nutrition better than other compost, with content : 0,60%. Used several activator in made paddy straw compost not significant affect regarding Kaliun content.

Key word : activator, manure, compost, straw


PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara agraris yang masyarakatnya hidup dibidang pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2012) Kabupaten Kuantan Singingi memiliki luas tanam pertanian 13.000 dan panen 10,982 ha dan produksi 47,408.63 ton tahun 2012 yang terdiri dari pertanian tanaman pangan dan tanaman perkebunan.
            Mengingat luasnya areal pertanian khususnya tanaman pangan maka kebutuhan akan pupuk untuk memenuhi unsur hara bagi tanaman juga tinggi selain pupuk organik petani juga membutuhkan pupuk organik sebagai sumber hara  bagi tanaman, salah satunya adalah pupuk kompos.
            Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang dapat digunakan sebagai pupuk kompos disamping itu mudah diperoleh di Kabupaten Kuantan Singingi. Sampai saat ini, penanganan limbah jerami padi oleh petani di Kabupaten Kuantan Singingi sebagian besar dilakukan dengan cara dibakar dan abunya digunakan sebagai pupuk. Penanganan limbah dengan cara dibakar mengakibatkan beberapa unsur hara seperti C dan S menjadi hilang dan apabila dilakukan secara terus-menerus dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan sekitarnya dan  nilai jerami padi sebagai pupuk umumnya terlupakan.
           Pembakaran jerami sebelum diberikan ke tanah sawah seperti yang biasa dilakukan oleh petani dinilai sangat merugikan, rata – rata pembakaran jerami akan mengakibatkan kehilangan hara 94 % C, 91 % N, 45 % P, 75 % K, 75 % S, 30 % Ca dan 20 % Mg dari total kandungan hara tersebut dalam jerami  (Suriadikarta, 2001 ). Menurut Arafah (2004) rata-rata kandungan unsur hara yang terkandung dalam jerami adalah 0,4 % N, 1,4 % P, dan 5,6 %.
           Berdasarkan kandungan hara jerami padi  dan kehilangan hara tersebut maka jerami padi dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos dan kompos jerami padi diharapkan dapat mengurangi timbulnya polusi dari kegiatan para petani yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi sehingga akan terbentuk jalur pemanfaatan limbah jerami padi.
            Menurut Isroi (2008) pupuk kompos jerami padi merupakan dekomposisi bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme dalam tanah misalnya EM4 dan Stardec.
            Kadar hara jerami padi, terutama N sangat rendah, dan agak sukar lapuk akan tetapi jerami mengandung silikat cukup tinggi, yang jarang ditambahkan petani ke lahan persawahan serta kurang didapat pada bahan organik lainnya (Munif, 2009). Selain itu mengingat sistem bertanam padi di Kabupaten Kuantan Singigi satu kali setahun, maka untuk mengatasi kebutuhan dan ketersediaan pupuk untuk musim tanam berikutnya maka perlu rasanya dilakukan pembuatan kompos jerami padi yang didipadukan dengan pupuk kandang (pukan) dari kotoran sapi.
           Menurut Ridwan (2006) pupuk kandang merupakan produk yang berasal dari limbah usaha peternakan adapun fungsi pupuk kandang yaitu memeperbaiki struktur tanah sebagai penyedia sumber hara makro dan mikro dengan kandungan unsur hara kotoran sapi yaitu N 0,65%; P 0,15%; K 0,30%; Ca 0,12%; Mg 0,10%; S 0,09%; Fe 0,004%.
           Menurut Barkelaar (2001) kompos dapat dibuat dari bermacam-macam sisa tanaman seperti jerami padi salah satu bahan organik yang sering diabaikan oleh sebagian besar petani ketika selesai panen adalah jerami padi. Hasil penelitian Mursida (2005) menunjukan bahwa pemberian kompos jerami padi dapat memberikan pengaruh yang lebih baik.
            Pada penelitian ini, bahan kompos jerami padi dikombinasikan dengan kotoran ternak sapi, kemudian diberi berbagai activator yaitu EM4 dan Stardec. Dan yang menjadi masalah adalah seberapa besar  kandungan Fosfor (P) dan Kalium (K) pada berbagai kompos jerami yang didekomposisikan dengan berbagai activator tersebut.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November sampai Januari 2014. Terdiri dari dua tahap yaitu tahap pembuatan kompos di Desa Pisang Berebus Kecamatan Gunung Toar dan tahap analisis Posfor (P) dengan Kalium (K) di Laboratorium Universitas Andalas Padang.

Bahan dan Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: garuk, Timbangan, Mesin Coper/Pencacah, Gembor, Ember, Sekop, Tali Rafia, Karung Plastik 50 kg, Jerami Padi, Pupuk Kandang, EM4, Stardec dan Gula Merah.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial yang terdiri dari sembilan taraf perlakuan dengan  tiga ulangan yaitu:
PO       = Jerami Padi 20 Kg tanpa aktivator
P1        = Jerami Padi 20 Kg + EM4 20 ml
P2     = Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg + EM4 20 ml
P3        = Jerami Padi 10 Kg + Pukan 10 Kg +
               EM4 20 ml
P4        = Jerami Padi 5 Kg + Pukan 15 Kg +
               EM4 20  ml
P5        = Jerami Padi 20 Kg + Stardec + 50 gr
P6        = Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg
                + Stardec 50 gr
P7        = Jerami Padi 10 Kg + Pukan 10 Kg
                + Stardec 50 gr
P8        = Jerami Padi 5 Kg + Pukan 5 Kg
                + Stardec 50 gr
Jika F hitung lebih besar dari F Tabel maka dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5%.

Pelaksanaan Penelitian
            Pembuatan kompos dikerjakan dalam bangunan yang memiliki lantai rata  dan bebas dari genangan air serta adanya atap yang melindungi dari terik matahari dan hujan, serta dekat dengan sumber bahan organik seperti jerami dan pupuk kandang. Setiap petakan percobaan dibuat dengan ukuran 1 x 1 m dengan jarak antar petakan 0,5 m. Persiapan Bahan Organik
            Jerami yang digunakan adalah jerami padi kering. Jerami tersebut dipotong-potong sepanjang ± 3 cm dengan mesin chopper agar proses pengomposan berlangsung cepat. Selain itu, juga disediakan pupuk kandang yaitu  pukan dari kotoran sapi. Tahap pembuatan kompos adapun langkah dalam tahap pembuatan pengomposan adalah:

Kompos menggunakan Aktivator EM4 Pembuatan kompos ini diawali dengan menimbang bahan-bahan sesuai dengan perlakuan yang telah ditentukan.
Selanjutnya jerami yang telah dicacah dicampurkan dengan cara diaduk merata menggunakan tangan. Lalu disiramkan 40 ml EM4/40kg bahan kompos (setara dengan dosis 1liter EM4/ton bahan kompos). Lalu kompos dilembabkan dengan disiramkan air menggunakan gembor sampai kadar air 40-50% (jika digenggam akan keluar cairan kental di sela-sela jari dan jika gumpalan dibuka bahan tidak hancur)
Bahan kompos lalu dimasukan ke dalam kantong plastik 50 kg, kemudian diikat bagian atasnya dengan tali setiap satu kali seminggu kompos dibuka dan diaduk merata agar kompos tidak terlalu panas yang menyebabkan mikroorganisme didalamnya mati.

Kompos menggunakan Aktivator Stardec
            Pembuatan kompos ini diawali dengan menimbang bahan-bahan sesuai dengan perlakuan yang telah ditentukan. Lebih rincinya kebutuhan kesuluruhan bahan disajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5. Semua bahan kompos diaduk merata dengan tangan lalu ditaburkan 100 gram stardec per perlakuan. Kemudian bahan disiram dengan air sampai kadar air 40-50%. Lalu dimasukan kedalam kantong plastik hitam 50 kg.
            Kompos menggunakan stardec dibiarkan terbuka dalam tempat kompos tersebut dan sekali seminggu kompos juga diaduk agar suhu tumpukan kompos tidak terlalu panas. Semua bahan kompos yang yang telah berisi diletakan dalam sebuah ruangan yang beratap sehingga terhindar dari air hujan dan cahaya matahari langsung. Setelah 30 hari kompos jerami padi telah memasuki masa pematangan. Kompos yang matang ditandai dengan suhu tumpukan yang menurun dan tidak berbau busuk, bentuk fisik kompos jerami padi menyerupai tanah dan berwarna kehitam-hitaman (Isroi dan Widiastuti, 2005).

            Sampel kompos jerami dibawa ke Laboratorium Kimia Tanah Universitas Andalas lalu dianalisis sifat Kima komposnya. Rincian analisis sifat Kimia kompos di Laboratorium disajikan pada Tabel 1.


Tabel 1. Analisis Sifat Kimia Kompos
Analisis Sifat kimia
Satuan
Metoda
pH
-
Elektroda glass
Posfor
%
Destruksi basah
Kalium
%
Destruksi basah


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Analisis pH Kompos Jerami Padi
            Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penggunaan aktivator pada pengomposan jerami padi memberikan pengaruh nyata terhadap nilai pH kompos. Data pengamatan nilai pH dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Rerata Nilai pH Kompos Jerami Padi

Perlakuan
Nilai pH


P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
6,79 b
P1 (jerami padi 20 kg  + EM4 20 ml)
7,14 ab
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
7,90 a
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
7,99 a
P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
7,83 ab
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
7,77 ab
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr)
8,05 a
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50 gr)
7,63 ab
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr)
7,92 a
Rerata
7,67
KK= 4,82%
BNJ 0,99
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.


Berdasarkan hasil analisis pH pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai pH kompos rata-rata 6,79 – 8,05. Nilai pH tertinggi terdapat pada perlakuan pada kompos P6 (Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg  + Stardec 50 gr) dengan pH 8,05; perlakuan P6 ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan dengan perlakuan P1, P2, P3, P4, P7, dan P8 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan P0 (Jerami Padi 20 Kg tanpa aktivator) dengan pH 6,79. Nilai pH terendah terdapat pada perlakuan P0 (Jerami Padi 20 Kg tanpa aktivator) dengan pH 6,79 ini disebabkan karena pada perlakuan kontrol tidak menggunakan aktivator yang berfungsi untuk mempercepat proses dekomposisi pada jerami padi sehingga masih melepaskan asam-asam organik dalam proses dekomposisinya. Walaupun kandungan pH pada perlakuan P0 hanya 6,79 akan tetapi keadaan seperti ini telah memenuhi standar dalam proses pengomposan. Persyaratan teknis minimal yang ditetapkan oleh yang dikeluarkan oleh Balai Badan Pengembangan dan Perluasan Kerja tahun 2007, pH untuk pupuk organik padat sekitar 4 – 8, berarti pH kompos pada penelitian ini sudah memenuhi standar. 
Nilai pH pada pengomposan dijelaskan oleh Isroi (2008) bahwa saat proses pengomposan  kisaran pH 5,5-8, memang sedikit netral menuju asam selama bakteri melakukan penguraian bahan organik. Kondisi ini akan menjadi netral saat bahan kompos matang. Selama tahap awal proses dekomposisi, akan terbentuk asam-asam organik. Kondisi asam ini akan mendorong  pertumbuhan jamur dan akan mendekomposisi lignin dan selulosa pada bahan kompos. Selama proses pembuatan kompos berlangsung, asam-asam organik tersebut akan menjadi netral dan kompos menjadi matang biasanya mencapai pH antara 6 – 8.
Seperti faktor lainnya proses pengomposan berlangsung. Jika keasaman terlalu tinggi atau terlalu basa konsumsi oksigen akan semakin naik dan akan memberikan hasil yang buruk bagi lingkungan. Keasaman yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan unsure nitrogen dalam bahan kompos jerami padi berubah menjadi ammonia sebaliknya dalam keadaan asam akan menyebabkan sebagian mikroorganisme mati. Mikroorganisme merupakan faktor terpenting dalam proses pengomposan karena mikroorganisme ini yang merombak bahan organik menjadi kompos. Sebagian besar dari mikroorganisme yang melakukan dekomposisi berasal dari bahan organik. Pengomposan akan berlangsung lama jika jumlah mikroorganisme pada awalnya sedikit. Populasi mikroorganisme selama berlangsungnya perombakan bahan organik akan terus berubah dan mikroorganisme ini dapat diperbanyak dengan menambahkan aktivator (Rahmawati, 2003)

Hasil Analisis Fosfor (P) Kompos Jerami Padi
            Berdasarkan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penggunaan berbagai aktivator pada pembuatan berbagai kompos jerami berpengaruh nyata terhadap kandungan hara Fosfor (P) pada kompos jerami padi. Rerata kandungan Fosfor (P) kompos jerami di sajikan pada Tabel 3.


Tabel 3. Rerata kandungan Fosfor (P) Kompos Jerami Padi
Perlakuan
% Kandungan P
PO (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
0,13 b
P1(jerami padi 20 kg  + EM4 20 ml)
0,50 b
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
0,51 b
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
0,35 b
P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
0,55 a
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
0,54 ab
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr)
0,54 ab
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50 gr)
0,49 b
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr)
0,60 a
Rerata
0,47
KK = 16,70 %
BNJ 0,22
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.


Pada Tabel 3 terlihat bahwa kandungan P tertinggi terdapat pada kompos perlakuan P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr) yaitu 0,60%, tidak berbeda nyata dengan kompos P5 dan P6 tetapi berbeda nyata dengan kompos perlakuan P0, P1, P2, P3 dan P4. Tampaknya dengan pemberian aktivator dapat meningkatkan kandungan hara P pada berbagai kompos jerami padi. Jika seluruh perlakuan dibandingkan dengan kompos perlakuan  P0  (jerami padi 20 kg tanpa aktivator) yang hanya mengandung 0,13 % P, maka terjadi peningkatan P sebesar 0,37 % pada kompos perlakuan P1 (jerami padi 20 kg  + EM4 20 ml). Kemudian terjadi peningkatan 0,38 % pada kompos P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml), peningkatan 0,22 % pada kompos P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml), peningkatan sebesar 0,42 % pada kompos P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml),peningkatan sebesar 0,41%  pada kompos P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr) dan P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr). Kemudian peningkatan sekitar 0,36 % pada kompos P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50 gr) dan peningkatan P tertinggi terdapat pada kompos P8 yaitu sebesar 0,47 %.
           Kandungan P yang tinggi pada kompos perlakuan P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr) karena adanya gabungan unsur hara dari bahan kompos yaitu jerami padi dan pupuk kandang dari kotoran sapi. Pada penelitian ini terlihat bahwa semakin banyak campuran kotoran sapi pada bahan kompos jerami padi maka kandungan P kompos menjadi lebih tinggi.
           Menurut Arafah dan Sirappa (2003)  jerami padi mengandung unsur hara yaitu 0,4 % N; 0,02 %; P 1,4 %; dan K 5,6 %.  Menurut Ridwan (2006) kotoran sapi berfungsi memperbaiki struktur tanah dan sebagai penyedia sumber hara makro dan mikro dan mengandung unsur hara  kotoran sapi N 0,65%; P 0,15%; K 0,30%; Ca 0,12%; Mg 0,10%; S 0,09%; Fe 0,004%. Berdasarkan standar pupuk organik menurut balai badan pengembangan dan perluasaan kerja tahun 2007 kandungan fosfor dalam kompos jerami padi pada semua perlakuan sudah memenuhi standar pupuk organik.
            Selain faktor campuran bahan dalam pengomposan, penggunaan aktivator juga sangat berpengaruh dalam meningkatkan kandungan P kompos jerami padi. Pada Tabel 3 terlihat jelas kompos yang menggunakan aktivator stardec rata-rata memiliki kandungan P lebih tinggi dari kompos yang menggunakan aktivator EM4. Hal ini karena pada aktivator stardec terdapat mikroorganisme perombakan lignin dan selulosa. Kandungan mikroorganisme dalam stardec antara lain lignolitik, selulotic, proteolitik, lipolitik, serta aminolitik, mikroorganisme lignolitik berperan dalam menguraikan ikatan lignoselulose menjadi selulose dan lignin. Lignin selanjutnya akan diuraikan lagi oleh enzim lignase menjadi derivat lignin yang lebih sederhana sehingga mampu mengikat NH4. Mikroba selulolitik akan mengeluarkan enzim selulose yang dapat menghirolisis selulosa menjadi selobiosa yang kemudian akan difermentasikan sehingga menghasilkan asam laktat, etanol, CO2, dan amonia yang dibutuhkan tanaman (Indriani, 2002).
Mikroorganisme proteolitik adalah bakteri yang memproduksi enzim protease ekstrakseluler, yaitu enzim pemecah protein menjadi asam-asam amino yang akan deaminasi dan menghasilkan amonia (NH3) yang diperlukan oleh tanaman dan bakteri. Mikroorganisme lipolitik akan menghasilkan enzim lipase yang berperan dalam perombakan lemak. Sementara mikroba amilolitik akan menghasilkan enzim amylase yang berperan dalam mengubah karbohidrat menjadi volatile fatty acid dan keto acids yang kemudian akan menjadi asam amino.Sedangkan kandungan terbanyak dari EM4 adalah mikroorganisme lactobacillus sp, bakteri penghasil asam laktat, serta dalam jauh sedikit bakteri fotosintetik streptomyces sp (Indriani, 2002).
Jasmaniar (2006) telah berhasil melaporkan bahwa mikroorganisme yang terkandung dalam bioaktivator dapat mempercepat laju pengomposan bahan organik sehingga kandungan fosfat dalam tanah dapat dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan. Kelebihan penggunaaan bioaktivator mempertahankan daya hidup mikroba hingga satu tahun, tidak mencemari lingkungan karena tidak mengandung senyawa kimiaan mempercepat proses pengomposan.
Selanjutnya, kandungan P pada kompos jerami padi terendah terdapat pada perlakuan P0 (jerami padi 40 kg tanpa aktivator). Hal ini disebabkan karena pada perlakuan kontrol (P0) tidak menggunakan aktivator EM4 ataupun stardec serta tidak ada penambahan pupuk kandang dari kotoran sapi.

Hasil Analisis K (Kalium) Kompos Jerami Padi
           
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penggunaan berbagai aktivator pada pembuatan kompos jerami padi memperlihatkan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap kandungan unsur hara K pada berbagai kompos jerami. Data rerata kandungan K berbagai kompos jerami padi di sajikan pada Tabel 4.
Pada Tabel 4 menunjukan rata-rata kandungan unsur hara K (Kalium) dalam kompos jerami padi  terlihat tidak ada perbedaan yang nyata. Meskipun tidak terdapat perbedaan nyata kandungan K berbagai kompos  tersebut, namun jika dilihat berdasarkan angka, maka kompos tanpa aktivator memiliki kandungan K terendah 0,80 %, karena pada perlakuan ini tidak menggunakan aktivator dan pupuk kandang. Hal ini juga sejalan dengan nilai pH dan kandungan P pada perlakuan P0 pada Tabel 2 dan 3 sebelumnya, dimana nilai pH dan P perlakuan P0 memang lebih rendah dari perlakuan kompos lainnya.
Berdasarkan Tabel 4 terlihat jelas bahwa penggunaan berbagai aktivator telah dapat meningkatkan persentase K kompos. Jika semua perlakuan dibandingkan dengan kandungan K terendah pada perlakuan P0 maka terjadi peningkatan K sebesar 0,47 %  pada kompos  P1(jerami padi 20 kg  + EM4 20 ml), sebesar  0,19 % pada kompos  P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml), sebesar 0,09 %  pada kompos P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml),  lalu meningkat sebesar 0,2 %  pada kompos P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml). Kemudian terjadi peningkatan sebesar 1,26 % pada kompos P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr). Pada  P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr) meningkat sebesar 0,79 %, sedangkan  pada kompos P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50 gr) meningkat sebesar 0,61 %., dan P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr)  sebesar 0,4 %.  Hal tersebut jika diuraikan lebih lanjut maka terdapat peningkatan kalium sebesar 0,09 -1,26 % pada seluruh perlakuan kompos dibandingkan dengan kontrol (perlakuan P0) dengan peningkatan K tertinggi terdapat pada perlakuan P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr).



Tabel 4. Kandungan Kalium (K) Kompos Jerami Padi
Perlakuan
% Kandungan K
PO (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
0,80
P1(jerami padi 20 kg  + EM4 20 ml)
1,27
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
0,99
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
0,89
P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
1,00
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
2,06
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr)
1,59
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50 gr)
1,41
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr)
1,28
Rerata
1,25
KK=15,66 %

Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.

           

Peningkatan K sekitar  0,09 - 1,26% ini jika dikaitkan dengan aplikasi pupuk organik dilapangan dengan dosis umum 20.000 kg/ha, maka pemberian kompos jerami padi selain kontrol (P0) pada penelitian ini akan dapat menyumbangkan hara kalium lebih banyak sekitar 18 kg – 252 kg/ha dibandingkan kompos P0. Hara K tersebut diharapkan dapat meningkatkan kalium tanah dan dimanfaatkan oleh tanaman. Kalium merupakan unsur hara esensial yang digunakan hampir pada semua proses untuk menunjang hidup tanaman. Petani sering menyebut bahwa kalium adalah unsur hara mutu, karena berpengaruh pada ukuran,rasa,bentuk,warna dan daya simpan.
Afandie (2002) menyataan kalium merupakan unsur hara utama ketiga setelah N dan P. Kalium mempunyai valensi satu dan diserap dalam bentuk ion K. Kalium tergolong unsur yang dalam tanaman baik dalam sel, dalam jaringan tanaman, Kalium banyak terdapat dalam sitoplasma. Tanaman menyerap kalium dalam bentuk ion K.  Kalium di dalam tanah ada dalam berbagai bentuk, yang potensi penyerapannya untuk setiap tanaman berbeda-beda. Ion-ion K di dalam air tanah dan ion-ion K yang di adsorpsi, dapat langsung diserap.
Secara umum fungsi kalium bagi tanaman, antara lain: Membentuk dan mengangkut karbohidrat, sebagai katalisator dalam pembentukan protein mengatur kegiatan berbagai unsur mineral, menetralkan reaksi dalam sel terutama dari asam organik, Menaikan pertumbuhan jaringan meristem, mengatur pergerakan stomata memperkuat tegaknya batang sehingga tanaman tidak mudah roboh, mengaktifkan enzim baik langsung maupun tidak langsung, meningkatkan kadar karbohidrat dan gula dalam buah, membuat biji tanaman menjadi lebih berisi dan padat, meningkatkan kualitas buah karena bentuk, kadar, dan warna yang lebih baik, membuat tanaman menjadi lebih tahan terhadap hama dan penyakit, membantu perkembangan akar tanaman (Afandie, 2002).
Selanjutnya, jika dibandingkan kompos yang menggunakan berbagai aktivator, maka penggunaan aktivator stardec menghasilkan kompos yang mengandung K lebih tinggi (P5, P6, P7 dan P8) dibandingkan dengan perlakuan kompos yang menggunakan aktivator EM4 (P1, P2, P3 dan P4). 
Hal ini disebabkan oleh proses pelapukan bahan-bahan organik yang dibantu oleh bahan stardec yang menguraikan bahan organik lebih sempurna sehingga unsur hara K di dalam kompos jerami padi  dilepaskan lebih banyak karena terjadi mineralisasi hara yang dibutuhkan tanaman. Hal ini didukung oleh pendapat Rohendi (2005) bahwa kompos telah matang dan sudah hancur akan mudah merealeasasi hara karena ukuran partikel sudah kecil karena bahan yang dikomposkan akan berpengaruh terhadap afektifitas keja mikroorganisma dan aerasi. Semangkin kecil ukuran partikel yang dikomposkan akan semangkin meningkatkan efektifitas kerja mikroorganisma namun demikian, ukuran partikel tidak boleh terlalu kecil karena  kalau terlalalu kecil ronga-ronga udara yang terdapat di antara partikel-partikel menjadi semangkit sempit. Jika ronga-ronga tersebut semangkin sempit maka ketersediaan oksigen (udara) yang dibutuhkan oleh reaksi sehingga dapat mengakibatkan proses penguraian bahan organik. Dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khusus nya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi dan mengontrol proses alami tersebut lebih cepat proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang dan penambahan aktivator pengomposan.
            Kualitas kompos sangat ditentukan oleh tingkat kematangannya. Selain itu kualitas kompos juga didentikkan dengan kandungan unsur hara  yang ada di dalamnya (Djuarnani, 2005). Meningkatnya kandungan K pada berbagai kompos jerami padi ini akan dapat meningkatkan ketersediaan hara K pada tanah, sehingga unsur hara K dapat memenuhi kebutuhan tanaman dan diserap tanaman dalam bentuk ion K. 
Senada dengan pendapat Efendi (2006) bahwa selain dari pelapukan mineral, bahan organik seperti jerami padi juga mengandung K yang tinggi yang dapat menambah K dalam tanah karena fungsi kalium tersebut pada tanaman adalah untuk pengembangan sel dan pengaturan tekanan osmosis.

KESIMPULAN

1.      Penggunaan berbagai aktivator (EM4 atau stardec) berpengaruh nyata terhadap pH berbagai kompos jerami padi.
2.      Penggunaan berbagai aktivator (EM4 atau stardec) memberikan pengaruh yang nyata terhadap kandungan Fosfor kompos jerami padi. Kandungan P tertinggi terdapat pada kompos perlakuan P8 (jerami padi 5  kg + pupuk kandang dari kotoran sapi 15 kg + stardec 50 gr) dengan kandungan P =  0,60%. Dan yang terendah pada kompos perlakuan P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator) dengan kandungan P= 0,13%
3.      Penggunaan berbagai aktivator (EM4 atau stardec) tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan kalium pada berbagai kompos jerami padi.

DAFTAR PUSTAKA

Arafah dan Sirappa. 2003. Kajian Penggunaan Jerami dan Pupuk N, P dan K       Pada Lahan Sawah Irigasi. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Vol 4 (1): 15-24.
Arafah. 2004. Efektivitas Pemupukan P dan K Pada Lahan Bekas Pemberian Jerami Selama 3 Musim Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah. Jurnal Sains dan Teknologi, Vol.4 (2):65-71.
Afandie, R.2002.ilmu kesuburan tanah.yogyakarta.penerbit kanisius.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2012. Kabupaten Kuantan Singingi.
Barkelaar, D. 2001. EDN Stories: SRI, The System of Rice Intensification: Less Can be More.http://www.echonet.org. Diakses : 18 November 2009. 20:18 WIB.
Djuarnani. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Kiat Mengatasi Permasalahan   Praktis.  Agromedia Pustaka. Jakarta.
Efendi. 2006. Ilmu Tanah. Universitas Sumatra Utara Medan.
Indriani,Y.H. 2002. Membuat Kompos Secara Kilat, PT. Penebar Swadaya, Jakarta.
Isroi. 2008. Rekayasa penggunaan sludge limbah ternak sebagai bahan pakan dan pupuk cair tanaman Indonesia Bogor.
Jasmaniar. 2006. Pengaruh Jenis Kompos dan Varieatas Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung. Skripsi S1 Fakultas Pertanian Universitas Taman Siswa Padang.
Mursida. 2005. Pengaruh Pemberian Beberapa Dosis Kompos Jerami Padi Hasil Pelapukan Trichoderma harzianum Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai (Capsicum annum). [Skripsi]. Padang. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. 55 hal.
Munif. 2009. Pemanfaatan Jerami Padi sebagai Pupuk Organik untuk Mengurangi Penggunaan Pupuk Kimia dan Subsidi Pupuk, Yogyakarta: Makalah diskusi dengan sekretaris menteri pertanian,   fakultas pertanian  UGM.
Ridwan. 2006. Kotoran Ternak Sebagai Pupuk dan Sumber Energi, Indenpenden Singgalang Indonesia Padang.
Rahmawati, S. 2003. Karakterisasi Asam Humat dari Kompos Gambut dan Kompos Daun Karet. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Rohendi. 2005. Lokakarya Sehari Pengelolaan Sampah Pasar DKI Jakarta. Sebuah Proseding. Bogor. 17. Februari 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar