PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI AKTIVATOR
PADA PEMBUATAN KOMPOS JERAMI PADI TERHADAP KANDUNGAN Fosfor (P) DAN Kalium (K)
Hendra Saputra Syahrudin,
Tri Nopsagiarti, Deno Okalia
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian,
Universitas Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan. Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan,
Riau
ABSTRACT
The aimed of this research is to know the
effect of used several activator in made paddy straw compost concerning
C-organic and Nitrogen content. This study uses a Complete Randomized
Design (CRD) Non
Factorial with nine treatment level: PO = Straw 20 Kg without activator, P1 =
Straw 20 Kg + EM4 20 ml, P2 = Straw 15 Kg + manure fertilizer 5 Kg + EM4 20 ml,
P3 = Straw 10 Kg + manure fertilizer 10 Kg + EM4 20 ml, P4 = Straw 5 Kg +
manure fertilizer 15 Kg + EM4 20 ml, P5 = Straw 20 Kg + Stardec + 50 gr, P6 =
Straw 15 Kg + manure fertilizer 5 Kg + Stardec 50 gr, P7 = Straw 10 Kg + manure
fertilizer 10 Kg + Stardec 50 gr, and P8 = Straw 5 Kg + manure fertilizer 15 Kg
+ Stardec 50 gr. The results
showed EM4 and Stardec can use in composting paddy straw, and give significant
affect at pH, and P. Compost with P8 treatment ( composition : Straw 5
Kg + manure fertilizer 15 Kg + Stardec 50 gr) had P nutrition better than other
compost, with content : 0,60%. Used several activator in made paddy straw
compost not significant affect regarding Kaliun content.
Key word : activator, manure, compost, straw
PENDAHULUAN
Indonesia adalah
negara agraris yang masyarakatnya hidup dibidang pertanian. Berdasarkan data
Badan Pusat Statistik (2012) Kabupaten Kuantan Singingi memiliki luas tanam
pertanian 13.000 dan panen 10,982 ha dan produksi 47,408.63 ton tahun 2012 yang
terdiri dari pertanian tanaman pangan dan tanaman perkebunan.
Mengingat luasnya areal pertanian khususnya tanaman pangan maka
kebutuhan akan pupuk untuk memenuhi unsur hara bagi tanaman juga tinggi selain
pupuk organik petani juga membutuhkan pupuk organik sebagai sumber hara bagi tanaman, salah satunya adalah pupuk
kompos.
Jerami padi merupakan salah satu
limbah pertanian yang dapat digunakan sebagai pupuk kompos disamping itu mudah
diperoleh di Kabupaten Kuantan Singingi. Sampai saat ini, penanganan limbah
jerami padi oleh petani di Kabupaten Kuantan Singingi sebagian besar dilakukan
dengan cara dibakar dan abunya digunakan sebagai pupuk. Penanganan limbah
dengan cara dibakar mengakibatkan beberapa unsur hara seperti C dan S menjadi
hilang dan apabila dilakukan secara terus-menerus dapat menimbulkan pencemaran
terhadap lingkungan sekitarnya dan nilai
jerami padi sebagai pupuk umumnya terlupakan.
Pembakaran jerami sebelum diberikan
ke tanah sawah seperti yang biasa dilakukan oleh petani dinilai sangat
merugikan, rata – rata pembakaran jerami akan mengakibatkan kehilangan hara 94
% C, 91 % N, 45 % P, 75 % K, 75 % S, 30 % Ca dan 20 % Mg dari total kandungan
hara tersebut dalam jerami
(Suriadikarta, 2001 ). Menurut Arafah (2004) rata-rata kandungan unsur
hara yang terkandung dalam jerami adalah 0,4 % N, 1,4 % P, dan 5,6 %.
Berdasarkan kandungan hara jerami padi dan kehilangan
hara tersebut maka jerami padi dapat dimanfaatkan untuk
pembuatan kompos dan kompos jerami padi diharapkan dapat mengurangi timbulnya
polusi dari kegiatan para petani yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi
sehingga akan terbentuk jalur pemanfaatan limbah jerami padi.
Menurut Isroi (2008) pupuk kompos
jerami padi merupakan dekomposisi bahan organik atau proses perombakan senyawa
yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme dalam
tanah misalnya EM4 dan Stardec.
Kadar hara jerami padi,
terutama N sangat rendah, dan agak sukar lapuk akan tetapi jerami mengandung
silikat cukup tinggi, yang jarang ditambahkan petani ke lahan persawahan serta
kurang didapat pada bahan organik lainnya (Munif, 2009). Selain itu mengingat sistem bertanam padi di Kabupaten Kuantan Singigi satu kali setahun,
maka untuk mengatasi kebutuhan
dan ketersediaan pupuk untuk musim tanam berikutnya maka perlu rasanya dilakukan
pembuatan kompos jerami padi yang didipadukan dengan
pupuk kandang
(pukan) dari kotoran sapi.
Menurut Ridwan (2006) pupuk kandang merupakan produk yang berasal dari limbah usaha peternakan
adapun fungsi pupuk kandang yaitu memeperbaiki struktur tanah sebagai penyedia
sumber hara makro dan mikro dengan kandungan unsur hara kotoran sapi yaitu N
0,65%; P 0,15%; K 0,30%; Ca 0,12%; Mg 0,10%; S 0,09%; Fe 0,004%.
Menurut Barkelaar (2001) kompos
dapat dibuat dari bermacam-macam sisa tanaman seperti jerami padi salah satu
bahan organik yang sering diabaikan oleh sebagian besar petani ketika selesai
panen adalah jerami padi. Hasil penelitian Mursida (2005) menunjukan bahwa
pemberian kompos jerami padi dapat memberikan pengaruh yang lebih baik.
Pada penelitian ini, bahan kompos
jerami padi dikombinasikan dengan kotoran ternak sapi, kemudian diberi berbagai
activator yaitu EM4 dan Stardec. Dan yang menjadi masalah adalah seberapa
besar kandungan Fosfor (P) dan Kalium
(K) pada berbagai kompos jerami yang didekomposisikan dengan berbagai activator
tersebut.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan pada
bulan November sampai Januari 2014. Terdiri dari dua tahap yaitu tahap
pembuatan kompos di
Desa Pisang Berebus Kecamatan
Gunung Toar dan tahap analisis Posfor (P) dengan Kalium (K) di Laboratorium
Universitas Andalas Padang.
Bahan dan Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah: garuk, Timbangan, Mesin Coper/Pencacah, Gembor, Ember, Sekop, Tali
Rafia, Karung Plastik 50 kg, Jerami Padi, Pupuk Kandang, EM4, Stardec dan Gula
Merah.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial yang
terdiri dari sembilan taraf perlakuan dengan
tiga ulangan yaitu:
PO = Jerami Padi 20 Kg tanpa aktivator
P1 = Jerami Padi 20 Kg + EM4 20
ml
P2 = Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg + EM4
20 ml
P3 = Jerami Padi 10 Kg + Pukan 10 Kg +
EM4 20 ml
P4 = Jerami Padi 5 Kg + Pukan 15 Kg +
EM4 20 ml
P5 = Jerami Padi 20 Kg + Stardec + 50 gr
P6 = Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg
+ Stardec 50 gr
P7 = Jerami Padi 10 Kg + Pukan 10 Kg
+ Stardec 50 gr
P8 = Jerami Padi 5 Kg + Pukan 5 Kg
+ Stardec 50 gr
Jika
F hitung lebih besar dari F Tabel maka dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5%.
Pelaksanaan
Penelitian
Pembuatan kompos dikerjakan dalam
bangunan yang memiliki lantai rata dan
bebas dari genangan air serta adanya atap yang melindungi dari terik matahari
dan hujan, serta dekat dengan sumber bahan organik seperti jerami dan pupuk
kandang. Setiap petakan percobaan dibuat dengan ukuran 1 x 1 m dengan jarak
antar petakan 0,5 m. Persiapan Bahan Organik
Jerami yang digunakan adalah jerami
padi kering. Jerami tersebut dipotong-potong sepanjang ± 3 cm dengan mesin
chopper agar proses pengomposan berlangsung cepat. Selain itu, juga disediakan
pupuk kandang yaitu pukan dari kotoran
sapi. Tahap pembuatan kompos adapun langkah dalam tahap pembuatan pengomposan
adalah:
Kompos menggunakan
Aktivator EM4 Pembuatan kompos ini
diawali dengan menimbang bahan-bahan sesuai dengan perlakuan yang telah
ditentukan.
Selanjutnya jerami yang telah dicacah
dicampurkan dengan cara diaduk merata menggunakan tangan. Lalu disiramkan 40 ml
EM4/40kg bahan kompos (setara dengan dosis
1liter EM4/ton bahan kompos). Lalu kompos dilembabkan dengan disiramkan air
menggunakan gembor sampai kadar air 40-50% (jika digenggam akan keluar cairan
kental di sela-sela jari dan jika gumpalan dibuka bahan tidak hancur)
Bahan kompos lalu dimasukan ke
dalam kantong plastik 50 kg, kemudian diikat bagian atasnya dengan tali setiap
satu kali seminggu kompos dibuka dan diaduk merata agar kompos tidak terlalu panas yang menyebabkan mikroorganisme didalamnya mati.
Kompos menggunakan
Aktivator Stardec
Pembuatan kompos ini diawali dengan
menimbang bahan-bahan sesuai dengan perlakuan yang telah ditentukan. Lebih
rincinya kebutuhan kesuluruhan bahan disajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5. Semua
bahan kompos diaduk merata dengan tangan lalu ditaburkan 100 gram stardec per
perlakuan. Kemudian bahan disiram dengan air sampai kadar air 40-50%. Lalu
dimasukan kedalam kantong plastik hitam 50 kg.
Kompos menggunakan stardec dibiarkan terbuka dalam tempat kompos tersebut dan sekali
seminggu kompos juga diaduk agar suhu tumpukan kompos tidak terlalu panas.
Semua bahan kompos yang yang telah berisi diletakan dalam sebuah ruangan yang
beratap sehingga terhindar dari air hujan dan cahaya matahari langsung. Setelah
30 hari kompos jerami padi telah memasuki masa pematangan. Kompos yang matang
ditandai dengan suhu tumpukan yang menurun dan tidak berbau busuk, bentuk fisik
kompos jerami padi menyerupai tanah dan berwarna kehitam-hitaman (Isroi dan
Widiastuti, 2005).
Sampel kompos jerami dibawa ke
Laboratorium Kimia Tanah Universitas Andalas lalu dianalisis sifat Kima
komposnya. Rincian analisis sifat Kimia kompos di Laboratorium disajikan pada Tabel
1.
Tabel 1.
Analisis Sifat Kimia Kompos
|
Analisis Sifat kimia
|
Satuan
|
Metoda
|
|
pH
|
-
|
Elektroda glass
|
|
Posfor
|
%
|
Destruksi basah
|
|
Kalium
|
%
|
Destruksi basah
|
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Analisis
pH Kompos Jerami Padi
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam
menunjukkan bahwa penggunaan aktivator pada pengomposan jerami padi memberikan
pengaruh nyata terhadap nilai pH kompos. Data pengamatan nilai pH dapat dilihat
pada Tabel 2.
|
Tabel 2. Rerata Nilai pH Kompos Jerami Padi
|
|
|
Perlakuan
|
Nilai pH
|
|
P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
|
6,79 b
|
|
P1 (jerami padi 20 kg + EM4 20 ml)
|
7,14 ab
|
|
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
|
7,90 a
|
|
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
|
7,99 a
|
|
P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
|
7,83 ab
|
|
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
|
7,77 ab
|
|
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr)
|
8,05 a
|
|
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50 gr)
|
7,63 ab
|
|
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr)
|
7,92 a
|
|
Rerata
|
7,67
|
|
KK= 4,82%
|
BNJ 0,99
|
Angka
– angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Berdasarkan hasil analisis pH pada Tabel 2
dapat dilihat bahwa nilai pH kompos rata-rata 6,79 – 8,05. Nilai pH tertinggi
terdapat pada perlakuan pada kompos P6 (Jerami Padi 15 Kg + Pukan 5 Kg + Stardec 50 gr) dengan pH 8,05; perlakuan P6
ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan dengan perlakuan P1, P2, P3, P4, P7,
dan P8 tetapi berbeda nyata dengan perlakuan P0 (Jerami Padi 20 Kg tanpa
aktivator) dengan pH 6,79. Nilai pH terendah terdapat pada perlakuan P0 (Jerami
Padi 20 Kg tanpa aktivator) dengan pH 6,79 ini disebabkan karena pada perlakuan
kontrol tidak menggunakan aktivator yang berfungsi untuk mempercepat proses
dekomposisi pada jerami padi sehingga masih melepaskan asam-asam organik dalam
proses dekomposisinya. Walaupun kandungan pH pada perlakuan P0 hanya 6,79 akan
tetapi keadaan seperti ini telah memenuhi standar dalam proses pengomposan.
Persyaratan teknis minimal yang ditetapkan oleh yang dikeluarkan oleh Balai
Badan Pengembangan dan Perluasan Kerja tahun 2007, pH untuk pupuk organik padat
sekitar 4 – 8, berarti pH kompos pada penelitian ini sudah memenuhi standar.
Nilai pH pada pengomposan dijelaskan oleh
Isroi (2008) bahwa saat proses pengomposan
kisaran pH 5,5-8, memang sedikit netral menuju asam selama bakteri
melakukan penguraian bahan organik. Kondisi ini akan menjadi netral saat bahan
kompos matang. Selama tahap awal proses dekomposisi, akan terbentuk asam-asam
organik. Kondisi asam ini akan mendorong pertumbuhan jamur dan akan
mendekomposisi lignin dan selulosa pada bahan kompos. Selama proses pembuatan
kompos berlangsung, asam-asam organik tersebut akan menjadi netral dan kompos
menjadi matang biasanya mencapai pH antara 6 – 8.
Seperti faktor lainnya proses pengomposan
berlangsung. Jika keasaman terlalu tinggi atau terlalu basa konsumsi oksigen
akan semakin naik dan akan memberikan hasil yang buruk bagi lingkungan.
Keasaman yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan unsure nitrogen dalam bahan
kompos jerami padi berubah menjadi ammonia sebaliknya dalam keadaan asam akan
menyebabkan sebagian mikroorganisme mati. Mikroorganisme merupakan faktor
terpenting dalam proses pengomposan karena mikroorganisme ini yang merombak
bahan organik menjadi kompos. Sebagian besar dari mikroorganisme yang melakukan
dekomposisi berasal dari bahan organik. Pengomposan akan berlangsung lama jika
jumlah mikroorganisme pada awalnya sedikit. Populasi mikroorganisme selama
berlangsungnya perombakan bahan organik akan terus berubah dan mikroorganisme
ini dapat diperbanyak dengan menambahkan aktivator (Rahmawati, 2003)
Hasil Analisis
Fosfor (P) Kompos Jerami Padi
Berdasarkan analisis sidik ragam
menunjukkan bahwa penggunaan berbagai aktivator pada pembuatan berbagai kompos
jerami berpengaruh nyata terhadap kandungan hara Fosfor (P) pada kompos jerami
padi. Rerata kandungan Fosfor (P) kompos jerami di sajikan pada Tabel 3.
Tabel 3.
Rerata kandungan Fosfor (P) Kompos Jerami Padi
|
Perlakuan
|
% Kandungan P
|
|
PO (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
|
0,13 b
|
|
P1(jerami padi 20 kg
+ EM4 20 ml)
|
0,50 b
|
|
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
|
0,51 b
|
|
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
|
0,35 b
|
|
P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
|
0,55 a
|
|
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
|
0,54 ab
|
|
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr)
|
0,54 ab
|
|
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50 gr)
|
0,49 b
|
|
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr)
|
0,60 a
|
|
Rerata
|
0,47
|
|
KK = 16,70 %
|
BNJ 0,22
|
Angka
– angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Pada Tabel 3 terlihat bahwa kandungan P
tertinggi terdapat pada kompos perlakuan P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +
stardec 50 gr) yaitu 0,60%, tidak berbeda nyata dengan kompos P5 dan P6 tetapi
berbeda nyata dengan kompos perlakuan P0, P1, P2, P3 dan P4. Tampaknya dengan
pemberian aktivator dapat meningkatkan kandungan hara P pada berbagai kompos
jerami padi. Jika seluruh perlakuan dibandingkan dengan kompos perlakuan P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator) yang hanya
mengandung 0,13 % P, maka terjadi peningkatan P sebesar 0,37 % pada kompos
perlakuan P1 (jerami padi 20 kg + EM4 20
ml). Kemudian terjadi peningkatan 0,38 % pada kompos P2 (jerami padi 15 kg +
pukan 5 kg + EM4 20 ml), peningkatan 0,22 % pada kompos P3 (jerami padi 10 kg +
pukan 10 kg +EM4 20 ml), peningkatan sebesar 0,42 % pada kompos P4 (jerami padi
5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml),peningkatan sebesar 0,41% pada kompos P5 ( jerami padi 20 kg + stardec
50 gr) dan P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr). Kemudian
peningkatan sekitar 0,36 % pada kompos P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +
stardec 50 gr) dan peningkatan P tertinggi terdapat pada kompos P8 yaitu
sebesar 0,47 %.
Kandungan P yang tinggi pada kompos
perlakuan P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr)
karena adanya gabungan unsur hara dari bahan kompos yaitu jerami padi dan pupuk
kandang dari kotoran sapi. Pada penelitian ini terlihat bahwa semakin banyak
campuran kotoran sapi pada bahan kompos jerami padi maka kandungan P kompos
menjadi lebih tinggi.
Menurut Arafah dan Sirappa
(2003) jerami padi mengandung
unsur hara yaitu 0,4 % N; 0,02 %; P 1,4 %; dan K 5,6 %. Menurut Ridwan (2006) kotoran sapi berfungsi
memperbaiki struktur tanah dan sebagai penyedia sumber hara makro dan mikro dan
mengandung unsur hara kotoran sapi N
0,65%; P 0,15%; K 0,30%; Ca 0,12%; Mg 0,10%; S 0,09%; Fe 0,004%. Berdasarkan
standar pupuk organik menurut balai badan pengembangan dan perluasaan kerja
tahun 2007 kandungan fosfor dalam kompos jerami padi pada semua perlakuan sudah
memenuhi standar pupuk organik.
Selain faktor campuran bahan dalam
pengomposan, penggunaan aktivator juga sangat berpengaruh dalam meningkatkan
kandungan P kompos jerami padi. Pada Tabel 3 terlihat jelas kompos yang
menggunakan aktivator stardec rata-rata memiliki kandungan P lebih tinggi dari
kompos yang menggunakan aktivator EM4. Hal ini karena pada aktivator stardec
terdapat mikroorganisme perombakan lignin dan selulosa. Kandungan
mikroorganisme dalam stardec antara lain lignolitik, selulotic, proteolitik,
lipolitik, serta aminolitik, mikroorganisme lignolitik berperan dalam
menguraikan ikatan lignoselulose menjadi selulose dan lignin. Lignin
selanjutnya akan diuraikan lagi oleh enzim lignase menjadi derivat lignin yang
lebih sederhana sehingga mampu mengikat NH4. Mikroba selulolitik
akan mengeluarkan enzim selulose yang dapat menghirolisis selulosa menjadi
selobiosa yang kemudian akan difermentasikan sehingga menghasilkan asam laktat,
etanol, CO2, dan amonia yang dibutuhkan tanaman (Indriani, 2002).
Mikroorganisme
proteolitik adalah bakteri yang memproduksi enzim protease ekstrakseluler,
yaitu enzim pemecah protein menjadi asam-asam amino yang akan deaminasi dan
menghasilkan amonia (NH3) yang diperlukan oleh tanaman dan bakteri.
Mikroorganisme lipolitik akan menghasilkan enzim lipase yang berperan dalam
perombakan lemak. Sementara mikroba amilolitik akan menghasilkan enzim amylase
yang berperan dalam mengubah karbohidrat menjadi volatile fatty acid dan keto
acids yang kemudian akan menjadi asam amino.Sedangkan kandungan terbanyak dari
EM4 adalah mikroorganisme lactobacillus sp, bakteri penghasil asam laktat,
serta dalam jauh sedikit bakteri fotosintetik streptomyces sp (Indriani, 2002).
Jasmaniar
(2006) telah berhasil melaporkan bahwa mikroorganisme yang terkandung dalam
bioaktivator dapat mempercepat laju pengomposan bahan organik sehingga
kandungan fosfat dalam tanah dapat dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan.
Kelebihan penggunaaan bioaktivator mempertahankan daya hidup mikroba hingga
satu tahun, tidak mencemari lingkungan karena tidak mengandung senyawa kimiaan
mempercepat proses pengomposan.
Selanjutnya,
kandungan P pada
kompos jerami padi terendah terdapat pada perlakuan P0 (jerami padi 40 kg tanpa
aktivator). Hal ini disebabkan karena pada perlakuan kontrol (P0) tidak
menggunakan aktivator EM4 ataupun stardec serta tidak ada penambahan
pupuk kandang dari kotoran sapi.
Hasil Analisis K (Kalium) Kompos Jerami Padi
Berdasarkan hasil analisis
sidik ragam menunjukkan bahwa penggunaan berbagai aktivator pada pembuatan
kompos jerami padi memperlihatkan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap
kandungan unsur hara K pada berbagai kompos jerami. Data rerata kandungan K
berbagai kompos jerami padi di sajikan pada Tabel 4.
Pada Tabel 4
menunjukan rata-rata kandungan unsur hara K (Kalium) dalam kompos jerami
padi terlihat tidak ada perbedaan yang
nyata. Meskipun tidak terdapat perbedaan nyata kandungan K berbagai kompos tersebut, namun jika dilihat berdasarkan angka,
maka kompos tanpa aktivator memiliki kandungan K terendah 0,80 %, karena pada
perlakuan ini tidak menggunakan aktivator dan pupuk kandang. Hal ini juga
sejalan dengan nilai pH dan kandungan P pada perlakuan P0 pada Tabel 2 dan 3
sebelumnya, dimana nilai pH dan P perlakuan P0 memang lebih rendah dari
perlakuan kompos lainnya.
Berdasarkan Tabel 4
terlihat jelas bahwa penggunaan berbagai aktivator telah dapat meningkatkan
persentase K kompos. Jika semua perlakuan dibandingkan dengan kandungan K
terendah pada perlakuan P0 maka terjadi peningkatan K sebesar 0,47 % pada kompos
P1(jerami padi 20 kg
+ EM4 20 ml), sebesar 0,19 % pada
kompos P2 (jerami padi 15 kg
+ pukan 5 kg + EM4 20 ml), sebesar 0,09 %
pada kompos P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml), lalu meningkat sebesar 0,2 % pada kompos P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15
kg +EM4 20 ml). Kemudian terjadi peningkatan sebesar 1,26 % pada kompos P5 (
jerami padi 20 kg + stardec 50 gr). Pada
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr) meningkat sebesar
0,79 %, sedangkan pada kompos P7 (jerami
padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50 gr) meningkat sebesar 0,61 %., dan P8
(jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr) sebesar 0,4 %. Hal tersebut jika diuraikan lebih lanjut maka
terdapat peningkatan kalium sebesar 0,09 -1,26 % pada seluruh perlakuan kompos
dibandingkan dengan kontrol (perlakuan P0) dengan peningkatan K tertinggi
terdapat pada perlakuan P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr).
Tabel 4.
Kandungan Kalium (K) Kompos Jerami Padi
|
Perlakuan
|
% Kandungan K
|
|
PO (jerami padi 20 kg tanpa aktivator)
|
0,80
|
|
P1(jerami padi 20 kg
+ EM4 20 ml)
|
1,27
|
|
P2 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + EM4 20 ml)
|
0,99
|
|
P3 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg +EM4 20 ml)
|
0,89
|
|
P4 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg +EM4 20 ml)
|
1,00
|
|
P5 ( jerami padi 20 kg + stardec 50 gr)
|
2,06
|
|
P6 (jerami padi 15 kg + pukan 5 kg + stardec 50 gr)
|
1,59
|
|
P7 (jerami padi 10 kg + pukan 10 kg + stardec 50 gr)
|
1,41
|
|
P8 (jerami padi 5 kg + pukan 15 kg + stardec 50 gr)
|
1,28
|
|
Rerata
|
1,25
|
|
KK=15,66 %
|
Angka
– angka yang ikuti huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Peningkatan K sekitar 0,09 - 1,26%
ini jika dikaitkan dengan aplikasi pupuk organik dilapangan dengan dosis umum
20.000 kg/ha, maka pemberian kompos jerami padi selain kontrol (P0) pada
penelitian ini akan dapat menyumbangkan hara kalium lebih banyak sekitar 18 kg
– 252 kg/ha dibandingkan kompos P0. Hara K tersebut diharapkan dapat
meningkatkan kalium tanah dan dimanfaatkan oleh tanaman. Kalium merupakan
unsur hara esensial yang digunakan hampir pada semua proses untuk menunjang
hidup tanaman. Petani sering menyebut bahwa kalium adalah unsur hara mutu,
karena berpengaruh pada ukuran,rasa,bentuk,warna dan daya simpan.
Afandie (2002) menyataan kalium merupakan
unsur hara utama ketiga setelah N dan P. Kalium mempunyai valensi satu dan
diserap dalam bentuk ion K. Kalium tergolong unsur yang dalam tanaman baik
dalam sel, dalam jaringan tanaman, Kalium banyak terdapat dalam sitoplasma.
Tanaman menyerap kalium dalam bentuk ion K.
Kalium di dalam tanah ada dalam berbagai bentuk, yang potensi
penyerapannya untuk setiap tanaman berbeda-beda. Ion-ion K di dalam air tanah
dan ion-ion K yang di adsorpsi, dapat langsung diserap.
Secara umum fungsi kalium bagi tanaman,
antara lain: Membentuk dan mengangkut karbohidrat, sebagai katalisator dalam
pembentukan protein mengatur kegiatan berbagai unsur mineral, menetralkan
reaksi dalam sel terutama dari asam organik, Menaikan pertumbuhan jaringan
meristem, mengatur pergerakan stomata memperkuat tegaknya batang sehingga tanaman
tidak mudah roboh, mengaktifkan enzim baik langsung maupun tidak langsung,
meningkatkan kadar karbohidrat dan gula dalam buah, membuat biji tanaman
menjadi lebih berisi dan padat, meningkatkan kualitas buah karena bentuk,
kadar, dan warna yang lebih baik, membuat tanaman menjadi lebih tahan terhadap
hama dan penyakit, membantu perkembangan akar tanaman (Afandie, 2002).
Selanjutnya, jika dibandingkan kompos yang
menggunakan berbagai aktivator, maka penggunaan aktivator stardec menghasilkan
kompos yang mengandung K lebih tinggi (P5, P6, P7 dan P8) dibandingkan dengan
perlakuan kompos yang menggunakan aktivator EM4 (P1, P2, P3 dan P4).
Hal ini disebabkan oleh proses pelapukan
bahan-bahan organik yang dibantu oleh bahan stardec yang menguraikan bahan
organik lebih sempurna sehingga unsur hara K di dalam kompos jerami padi dilepaskan lebih banyak karena terjadi
mineralisasi hara yang dibutuhkan tanaman. Hal ini didukung oleh pendapat
Rohendi (2005) bahwa kompos telah matang dan sudah hancur akan mudah merealeasasi
hara karena ukuran partikel sudah kecil karena bahan yang dikomposkan akan
berpengaruh terhadap afektifitas keja mikroorganisma dan aerasi. Semangkin
kecil ukuran partikel yang dikomposkan akan semangkin meningkatkan efektifitas
kerja mikroorganisma namun demikian, ukuran partikel tidak boleh terlalu kecil
karena kalau terlalalu kecil ronga-ronga
udara yang terdapat di antara partikel-partikel menjadi semangkit sempit. Jika
ronga-ronga tersebut semangkin sempit maka ketersediaan oksigen (udara) yang
dibutuhkan oleh reaksi sehingga dapat mengakibatkan proses penguraian bahan
organik. Dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khusus nya
oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi dan
mengontrol proses alami tersebut lebih cepat proses ini meliputi membuat
campuran bahan yang seimbang dan penambahan aktivator pengomposan.
Kualitas kompos sangat ditentukan
oleh tingkat kematangannya. Selain itu kualitas kompos juga didentikkan dengan
kandungan unsur hara yang ada di
dalamnya (Djuarnani, 2005). Meningkatnya kandungan K pada berbagai kompos
jerami padi ini akan dapat meningkatkan ketersediaan hara K pada tanah,
sehingga unsur hara K dapat memenuhi kebutuhan tanaman dan diserap tanaman
dalam bentuk ion K.
Senada dengan
pendapat Efendi (2006) bahwa selain dari pelapukan mineral, bahan organik
seperti jerami padi juga mengandung K yang tinggi yang dapat menambah K dalam
tanah karena fungsi kalium tersebut pada tanaman adalah untuk pengembangan sel
dan pengaturan tekanan osmosis.
KESIMPULAN
1.
Penggunaan
berbagai aktivator (EM4 atau stardec) berpengaruh nyata terhadap pH berbagai
kompos jerami padi.
2.
Penggunaan
berbagai aktivator (EM4 atau stardec) memberikan pengaruh yang nyata terhadap
kandungan Fosfor kompos jerami padi. Kandungan P tertinggi terdapat pada kompos
perlakuan P8 (jerami padi 5
kg + pupuk kandang dari kotoran sapi 15 kg + stardec 50 gr) dengan
kandungan P = 0,60%. Dan yang terendah
pada kompos perlakuan P0 (jerami padi 20 kg tanpa aktivator) dengan kandungan
P= 0,13%
3.
Penggunaan
berbagai aktivator (EM4 atau stardec) tidak berpengaruh nyata terhadap
kandungan kalium pada berbagai kompos jerami padi.
DAFTAR PUSTAKA
Arafah dan Sirappa.
2003. Kajian Penggunaan Jerami dan Pupuk N, P dan K Pada Lahan Sawah Irigasi. Jurnal Ilmu
Tanah dan Lingkungan, Vol 4 (1): 15-24.
Arafah. 2004.
Efektivitas Pemupukan P dan K Pada Lahan Bekas Pemberian Jerami Selama 3 Musim
Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah. Jurnal Sains dan Teknologi,
Vol.4 (2):65-71.
Afandie,
R.2002.ilmu kesuburan tanah.yogyakarta.penerbit kanisius.
Badan Pusat Statistik
(BPS). 2012. Kabupaten Kuantan Singingi.
Barkelaar, D. 2001.
EDN Stories: SRI, The System of Rice Intensification: Less Can be
More.http://www.echonet.org. Diakses : 18 November 2009. 20:18 WIB.
Djuarnani.
2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Efendi.
2006. Ilmu Tanah. Universitas Sumatra Utara Medan.
Indriani,Y.H. 2002. Membuat
Kompos Secara Kilat, PT. Penebar Swadaya, Jakarta.
Isroi.
2008. Rekayasa penggunaan sludge limbah ternak sebagai bahan pakan dan pupuk
cair tanaman Indonesia Bogor.
Jasmaniar.
2006. Pengaruh Jenis Kompos dan Varieatas Terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Jagung. Skripsi S1 Fakultas Pertanian Universitas Taman Siswa Padang.
Mursida. 2005.
Pengaruh Pemberian Beberapa Dosis Kompos Jerami Padi Hasil Pelapukan
Trichoderma harzianum Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai (Capsicum
annum). [Skripsi]. Padang. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. 55 hal.
Munif.
2009. Pemanfaatan Jerami Padi sebagai Pupuk Organik untuk Mengurangi
Penggunaan Pupuk Kimia dan Subsidi Pupuk, Yogyakarta: Makalah diskusi
dengan sekretaris menteri pertanian, fakultas pertanian UGM.
Ridwan.
2006. Kotoran Ternak Sebagai Pupuk dan Sumber Energi, Indenpenden Singgalang
Indonesia Padang.
Rahmawati, S. 2003.
Karakterisasi Asam Humat dari Kompos Gambut dan Kompos Daun Karet. Jurusan
Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Rohendi. 2005.
Lokakarya Sehari Pengelolaan Sampah Pasar DKI Jakarta. Sebuah Proseding. Bogor.
17. Februari 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar