Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 79-84


PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN PUPUK GANDASIL B TERHADAP PRODUKSI TANAMAN MELON  (Cucumis melo L.)

Raja Awaludin, Marlinda, dan Mashadi
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan. Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau

ABSTRACT

This study use randomized block design (RBD) Factorial, which consists of two factors. The first factor is the composition of the Growing Media (Factor M) consists of 4 levels of treatment are: M1 (soil + sand in the ratio 1: 1), M2 (soil + sand + Cow Manure with a ratio of 1: 1: 1), M3 (soil + sand + Cow Manure with a ratio of 1: 1: 2), M4 ( Soil + Sand + Cow Manure in the ratio 1: 1: 3). A second factor is a factor G Gandasil B G0 (Without Gandasil B), G1 (2 g / L of water), G2 (4 g / L of water), G3 (6 g / L of water). From the research it can be concluded that : Treatment compost growing media contents are the sole significant effect on all parameters observed with the best treatment M 3 (soil + sand + Cow Manure with a ratio of 1: 1: 2) the flowers appear age 2 1, 1 1 days, age appears fruits 26.03 days, 54.45 days of harvesting, fruit weight 965.33 grams. Treatment Gandasil B singly significant effect on the parameters of age appear observation fruit with the best treatment G 3 (6 g), weight of 794.53 grams of fruit crops.

Keywords: Compost contents Growing Media, G andasil B, melon production.


PENDAHULUAN

Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu produk hortikultura yang banyak disukai oleh masyarakat. Daya tarik melon terletak pada cita rasa buahnya yang manis, beraroma harum dan menyegarkan, Buah melon mengandung cukup tinggi vitamin dan mineral sangat baik untuk kesehatan tubuh karna melon mengandung zat adenosin, yaitu zat antikoagulan yang berfungsi menghentikan penggumpalan sel darah yang dapat memicu timbulnya penyakit stroke, kandungan zat karotenoid pada melon cukup tinggi sehingga dapat mencegah kanker, terutama kanker paru-paru         ( Prajnanta, 2004 ).
Pada tahun 2009, produksi melon di Indonesia mencapai 56,883.00 ton (Departemen Pertanian, 2009). Pada tahun 2010 diperkirakan permintaan melon mencapai 372.242 ton dengan produksi 441.685 ton, sedangkan tingkat konsumsi mencapai 1,60 kg/kapita/tahun (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2004).
Upaya peningkatan produksi melalui teknik budidaya perlu diperhatikan, salah satu teknik yang dapat dilaksanakan adalah perbaikan media tanam. Media tanam sangat berpengaruh meningkatkan produksi melon, karena media tanam secara lansung akan mempengaruhi perkembangan akar yang berfungsi sebagai penyokong tanaman itu sendiri. Untuk media tanam yang tepat dan sesuai  dengan kebutuhan tanaman, perlu dilakukan pencampuran berbagai media tanam, terutama media yang mengandung bahan organik ( tanah, pupuk kandang dan pasir ), pemberian pupuk kandang untuk tanaman melon dilakukan pada saat pengolahan media tanam, penggunaan pupuk kandang sapi sebagai media tanam dapat memperbaiki struktur tanah dan mendorong perkembangan populasI mikro organisme tanah ( Rukmana, 1994 )
Selain faktor media tanam, supaya produksi melon dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk ataupun unsur hara yang tepat dan seimbang. Penggunaan pupuk sangat baik dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan hara selama tahap pertumbuhannya, sehingga produksi yang diperoleh sesuai yang diharapkan. Pemupukan melalui tanah kadang – kadang kurang bermanfaat karena beberapa unsur hara larut lebih dahulu dan hilang bersama air perkolasi atau mengalami fiksasi oleh koloid tanah, sehingga tidak dapat diserap tanaman.
Upaya yang dapat ditempuh agar pemupukan lebih efektif dan efisien dengan menggunakan pupuk pelengkap cair dan penyemprotan melalui daun.  Pada penelitian ini pupuk yang digunakan adalah pupuk Gandasil B. Pupuk Gandasil B merupakan pupuk anorganik makro atupun mikro yang berbentuk kristal yang digunakan untuk pertumbuhan generatif yaitu pembentukan bunga dan buah dengan demikian dapat menghasilkan produksi melon.
Pupuk Gandasil B merupakan pupuk daun mampu meningkatkan kegiatan fotosintesis dan daya angkut unsur hara dari dalam tanah ke dalam jaringan, mengurangi kehilangan Nitrogen dari jaringan daun, meningkatkan pembentukan karbohidrat, lemak dan protein, serta meningkatkan potensi hasil tanaman. Pupuk daun mengandung unsur makro dan mikro, sehingga kebutuhan tanaman akan unsur - unsur tersebut dapat terpenuhi. Pupuk daun Gandasil B mengandung N 6 %, P 20 %, K 30 %, dan Mg 3 %, unsur mikro yang terkandung di dalamnya adalah Mn, B, Cu, Co, dan Zn, dengan dosis 2 g/l air dan diberikan empat kali dapat memperpenjang umur panen, meningkatkan bobot kering tanaman, meningkatkan bobot segar buah, dan menambah tebal daging buah ( Surtinah, 2004 ).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Saik, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi. Pada bulan Mei sampai Agustus 2013.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih melon varietas F1 MAI 119, tanah, pupuk kandang sapi, pasir, fungisida Dithane M-45, pupuk Gandasil B, NPK dan insektisida Decis 25 EC. Sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul, parang, meteran, gembor, sekop, palu, paku, handspayer, polybag, kamera, timbangan dan alat – alat tulis.
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama adalah faktor ( M ) media tanam  yang terdiri dari 4 taraf dan faktor kedua adalah ( G ) pemberian pupuk gandasil B yang terdiri dari 4 taraf.
Faktor ( M ) media tanam terdiri atas 4 taraf yaitu :
M1 = Tanah + pasir ( 1:1 )
M2 = Tanah + pasir + pupuk kandang sapi ( 1:1:1 )
M3 = Tanah + pasir + pupuk kandang sapi ( 1:1:2 )
M4 = Tanah + pasir + pupuk kandang sapi ( 1:1:3 )
Faktor ( G ) pemberian pupuk gandasil B terdiri dari 4 taraf yaitu:
G0 = Tanpa pemberian pupuk gandasil B
G1 = Pemberian pupuk gandasil B = 2 gram/liter air
G2 = Pemberian pupuk gandasil B = 4 gram/liter air
G3 = Pemberian pupuk gandasil B = 6 gram/liter air

HASIL DAN PEMBAHASAN

Umur Muncul Bunga (hst)
Data pengamatan terhadap umur muncul bunga dianalisis secara statistik. Hasil analisis sidik ragam terhadap umur berbunga dengan perlakuan komposisi media dan gandasil B memberikan pengaruh nyata.  Rata – rata umur berbunga setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1.Rata – Rata Umur Muncul Bunga Kombinasi Perlakuan Komposisi Media Tanam (M)
            Dan Pemberian Pupuk Gandasil B (G) Terhadap Produksi Melon.

Faktor M
( media )
Faktor G

Rerata

G0

G1

G2

G3
M1
M2
M3
M4
25.78
25.56
22.00
21.67
24.78
21.11
20.22
21.66
24.11
21.22
21.67
20.89
22.22
20.00
20.56
21.89
24.22b
21.97ab
21.11a
21.53ab
Rerata
23.75
21.94
21.97
21.17

KK = 10.31%

BNJ M = 2.53







Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa perlakuan komposisi media tanam secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul bunga tanaman melon dimana perlakuan umur muncul bunga tercepat terdapat pada perlakuan M3 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:2) yaitu umur muncul bunga 21,11 hari. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan M3 tidak berbeda nyata dengan perlakuan M2 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:1) 21,97 hari, dan perlakuan M4 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:3) yaitu umur muncul bunga 21,53 hari. Namun berbeda nyata dengan perlakuan M1 (tanah + pasir, dengan perbandingan 1:1) 24,22 hari.
Lebih cepatnya umur berbunga pada perlakuan M3 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:2) dengan perlakuan lainnya, hal ini disebabkan karena kandungan unsur hara yang terdapat pada media tanam pupuk kandang sapi yaitu P 0,25%. Sehingga unsur hara Fosphor (P) yang terkandung di dalam komposisi media tanam sudah tersedia bagi tanaman. Oleh sebab itu, pemberian pupuk kandang sapi memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul bunga tanaman melon. Manfaat dari P membantu pertumbuhan protein dan mineral yang sangat tinggi bagi tanaman, dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan serta meningkatkan produksi tanamana melon (Sutedjo, 2008).
Pemberian perlakuan komposisi media dan gandasil B secara interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul bunga tanaman melon, karena belum terdapatnya keseimbangan antara berbagai komposisi media dan gandasil B.

Umur Muncul Buah (hst)
Data pengamatan terhadap umur muncul buah dianalisis secara statistik. Hasil analisis sidik ragam terhadap umur muncul buah dengan perlakuan komposisi media dan gandasil B memberikan pengaruh nyata.  Rata – rata umur muncul buah setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Rata – Rata Umur Muncul Buah Kombinasi Perlakuan Komposisi Media Tanam (M) Dan Pemberian Pupuk Gandasil B (G) Terhadap Produksi Melon.

Faktor M
( media )
Faktor G

Rerata
G0
G1
G2
G3
M1
M2
M3
M4
30.11
30.00
26.67
26.56
29.78
25.22
26.78
27.33
28.11
26.00
26.11
25.56
27.44
24.78
24.56
25.89
28.86b
26.50ab
26.03a
26.34ab
Rerata
28.34b
27.28ab
26.45ab
25.67a

KK = 7,51%

BNJ M = 2.22              BNJ G = 2.22







Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa perlakuan komposisi media tanam secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap muncul buah pertanaman melon dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M3 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:2) yaitu muncul buah 26,03 hari. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan M3 tidak berbeda nyata dengan M2 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:1) 26,50 hari, dan perlakuan M4 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:3) yaitu muncul buah 26,34 hari. Namun berbeda nyata dengan perlakuan M1 (tanah + pasir, dengan perbandingan 1:1) 28,86 hari.
Pemberian perlakuan pupuk kandang sapi M3 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:2) sebagai komposisi media tanam menghasilkan umur muncul buah pertanaman melon yang terbaik. Hal ini karena tersedianya unsur hara Fospor yang cukup, dimana pada  pertumbuhan generatif maupun reproduktif unsur hara yang banyak diperlukan adalah unsur P. Unsur P berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman, merangsang pembungaan dan pembuahan, merangsang pertumbuhan akar, merangsang pertumbuhan biji, merangsang pembelahan sel tanaman, dan memperbesar jaringan sel. Tanaman yang kebutuhan unsur hara P terpenuhi, maka pembentukan buah dan biji akan optimal. Ditambahkan oleh Harjadi (1992), bahwa tanaman akan tumbuh subur apabila unsur hara yang tersedia dapat diserap tanaman sesuai tingkat kebutuhan tanaman.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan pemberian berbagai konsentrasi Gandasil B memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul buah tanaman melon dimana perlakuan umur muncul buah tercepat terdapat pada perlakuan G3 (6 gr/l) yaitu umur muncul buah 25,67 hari.  Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan G3 berbeda nyata dengan perlakuan G1 (2 gr/l) dan perlakuan G0 (tanpa Gandasil B).
Pemberian perlakuan Gandasil B G3 (6 gr/liter air) menghasilkan umur muncul buah pertanaman melon yang terbaik. Ini merupakan konsentrasi yang tepat untuk pertumbuhan dan produksi tanaman melon terutama dalam mempercepat proses terbentuknya buah. Hal ini diduga tersedianya unsur hara Gandasil B yang terdiri dari unsur makro seperti N, P, K, Mg, dan unsur mikro Mn, B, Cu, Co, Mo, dan Zn, sangat menunjang terhadap pertumbuhan tanaman. Perlakuan yang seimbang akan memperoleh produksi yang baik, unsur hara yang ada didalam tanah selama masa pertumbuhan akan memperoleh produksi tanaman yang baik (Suprapto, 2001)
Pemberian Gandasil B (G) dengan perlakuan G3 mampu mensuplai unsur hara dan mampu meningkatkan hasil fotosintesis melalui peningkatan jumlah klorofil dalam daun dan meningkatkan aktivitas pembelahan dan pembesaran sel.sepanjang fase perkembangan tanaman, hasil asimilasi banyak digunakan untuk tumbuh dan berkembang dan kelebihan dari penggunaannya dapat disimpan sebagai senyawa cadangan. Pada prinsipnya apabila laju fotosintesis besar kegiatan respirasi kecil, dan transkolasi asimilat lancar maka produksi akan naik ( Jumin, 1992 ).

Umur Panen (hst)
Data pengamatan terhadap umur panen dianalisis secara statistik. Hasil analisis sidik ragam terhadap umur panen dengan perlakuan komposisi media dan gandasil B memberikan pengaruh nyata.  Rata – rata umur panen setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 3

.
Tabel 3. Rata – Rata Umur Panen Kombinasi Perlakuan Komposisi Media Tanam (M) Dan Pemberian Pupuk Gandasil B (G) Terhadap Produksi Melon.

Faktor M
( media )
Faktor G

Rerata M
G0
G1
G2
G3
M1
M2
M3
M4
62.78
55.34
58.56
54.67
59.11
53.56
55.44
55.66
58.11
55.56
56.11
53.89
59.22
53.33
54.22
54.89
59.81b
54.45a
56.08a
54.78a
Rerata
57.84
55.94
55.92
55.42

KK = 4.19%

BNJ M = 2.61







Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan komposisi media tanam secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen pertanaman melon dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M2 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:1) yaitu umur panen 54,45 hari. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan M2 tidak berbeda nyata dengan perlakuan M3 dengan perbandingan tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:2) 54,78 hari, dan perlakuan M4 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:3) 56,08 hari, berbeda nyata terhadap perlakuan M1 (tanah + pasir, dengan perbandingan 1:1) .59,81 hari.
Pemberian perlakuan pupuk kandang sapi sebagai komposisi media tanam menghasilkan umur panen pertanaman melon yang terbaik. Hal ini karena tersedianya unsur hara P dalam pupuk kandang sapi ini dimana pertumbuhan generatif maupun reproduktif unsur hara yang banyak diperlukan adalah unsur P.  Ditambahkan Wiryanta (2002), menyatakan Phospor (P) berperan penting sebagai penyusun inti sel lemak dan protein tanaman, sedangkan fungsi P adalah untuk pemasakan buah.
Pemberian perlakuan komposisi media dan Gandasil B secara interaksi tidak saling mempengaruhi terhadap parameter umur panen, karena kondisi cuaca yang tidak menunjang dalam proses penuaan. Tanaman melon membutuhkan sinar matahari lansung dengan demikian hasil yang diperoleh akan maksimal jika ternaungi akan menghambat pertumbuhannya.
Sesuai dengan pendapat jumin (1992) bahwa dengan adanya panas yang cukup, maka proses pembentukan bunga dan buah dapat berjalan dengan sempurna yang akan memperlancar proses pembentukan karbohidrat dan akan mempercepat reaksi - reaksi kimia atau biokimia yang akan memacu pertumbuhan menjadi lebih baik terutama dalam pembentukan buah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi umur panen tanaman.

Berat Buah (gr)

Data pengamatan terhadap berat buah dianalisis secara statistik. Hasil analisis sidik ragam terhadap Berat Buah dengan perlakuan komposisi media dan gandasil B memberikan pengaruh nyata.  Rata – rata berat buah setelah diuji  dengan BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 4.




Tabel 4. Rata – Rata Berat buah Kombinasi Perlakuan Komposisi Media Tanam (M) Dan Pemberian Pupuk Gandasil B (G) Terhadap Produksi Melon (gr).

Faktor M
 (media)
Faktor G

Rerata M
G0
G1
G2
G3
M1
474.60
577.78
561,11
608,33
555,37cd
M2
513.89
520.89
845.55
674.44
638.69bc
M3
592.22
700.00
774.44
930.00
749.17ab
M4
622.22
864.22
933.89
965.33
846.42a
Rerata G
550.73bc
665.72ab
736.55a
794.53a

KK=22,53%
BNJ M = 149,26
BNJ G = 149,26
Angka – angka yang  ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata  pada taraf  uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa uji berbagai komposisi media tanam secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat buah pertanaman melon dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan M4 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:3) yaitu berat buah 846,42 gr. Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan M4 tidak berbeda nyata dengan perlakuan M3 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:2) 749,17 gr, berbeda nyata terhadap perlakuan M2 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:1) 638,69 gr, M1 (tanah + pasir, dengan perbandingan 1:1) 555,67 gr.
Pemberian perlakuan komposisi media tanam M4 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi, dengan perbandingan 1:1:3) menghasilkan berat buah pertanaman melon yang terbaik. Hal ini karena tersedianya unsur hara Kalium 0,13% dalam pupuk kandang sapi, dimana pertumbuhan generatif maupun reproduktif unsur hara yang banyak diperlukan adalah unsur K. Dari hasil penelitian Iqbal (2008), pupuk kandang sapi mengandung hara C, N-total, P2O5 dan K2O masing-masing adalah 22, 1.7, 0.9 dan 0.3 %, serta aplikasi sebanyak 5 ton/ha nyata meningkatkan jumlah gabah dan jumlah gabah bernas padi dibandingkan kontrol.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan pemberian berbagai konsentrasi gandasil B memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat buah pertanaman melon dimana perlakuan berat buah pertanaman yang terbaik  terdapat pada perlakuan G3 (6 gr/liter air) yaitu berat buah pertanaman 794,53 gr.  Hasil uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5% menunjukkan perlakuan G3 tidak berbeda nyata dengan perlakuan G2 (6 gr/liter air) dan G1 (2 gr/liter air), namun berbeda nyata dengan perlakuan G0 (tanpa gandasil B).
Pemberian perlakuan Gandasil B G3 (6 gr/liter air) merupakan konsentrasi yang tepat untuk meningkatkan produksi tanaman melon terutama dalam menghasilkan berat buah pertanaman, hal ini disebabkan karena adanya unsur hara kalium yang dibutuhkan tanaman, sehingga tanaman secara terus menerus dapat melaksanakan proses metabolisme. Sutejo (1992) menyatakan semakin tinggi pemberian N, P, dan K semakin cepat pula sintesis karbohidrat yang diubah menjadi protein dan protoplasma. N dan Mg merupakan unsur penyusun klorofil juga meningkat sehingga proses fotosintesis meningkat pula dan pada akhirnya fotosintat yang dihasilkan dapat diangkut kebagian tanaman yang membutuhkannya. Unsur K mempercepat translokasi karbohidrat dari daun ke organ penyimpan seperti buah (Agustina, 1990).
Harjadi (2009) mengemukakan bahwa peningkatan berat buah dapat terjadi apabila fotosintesis lebih besar daripada respirasi sehingga terjadi penumpukan bahan organik didalam jaringan tanaman dalam jumlah yang cukup oleh karenanya unsur hara yang ada didalam tanah harus cukup tersedia bagi tanaman.

KESIMPULAN

1.      Perlakuan komposisi media tanam secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter  pengamatan dengan perlakuan terbaik M3 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi(1:1:2) yaitu umur muncul bunga 21,11 hari, muncul buah pertanaman M3 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi(1:1:2) 24,56 hari, umur panen M2 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi(1:1:1) 53,33 hari, dan berat buah M4 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi(1:1:3) 965,33 gr.
2.      Perlakuan pemberian berbagai Gandasil B secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pengamatan, dengan perlakuan terbaik G3 (6 gram/liter air) umur muncul buah 25,67 hari, dan berat buah 794,53 gr.
3.      Perlakuan secara interaksi komposisi media tanam dan gandasil B tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter pengamatan pada penelitian ini.

SARAN
Dari kesimpulan penelitian dapat disarankan kepada pihak yang ingin membudiyakan tanaman melon menggunakan  media tanam 1:1:2 (tanah + pasir + pupuk kandang sapi).

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, 1990. Nutrisi Tanaman. Rineka Cipta Jakarta.
Direktorat Jenderal Hortikultura. 2004. Standar Mutu Melon, Semangka, Markisa Segar, dan Laporan
Sinkronisasi Direktorat Tanaman Buah.Jakarta.
Departemen Pertanian. 2008. Volume ekspor komoditas buah-buahan di Indonesia periode 2003 -
2006. (diakses 13 Januari 2014).
Iqbal A. 2008. Potensi kompos dan pupuk kandang untuk produksi padi organik di tanah inceptisol.
Jurnal Akta Agrosia.
Jumin, H. B, 1992. Ekofisiologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers. Jakarta
Prajnanta,F.1998. Melon,Pemeliharaan Secara Intensif, Kiat Sukses Beragribisnis. Penebar Swadaya,
Jakarta
Rukmana, R. 1994. Budi Daya Melon Hibrida. Kanisius, Yogyakarta.
Surtinah 2004.Pengaruh Cekaman Air pada fase Tumbuh generatif dan Pemberian pupuk gandasil B
Terhadap kualitas Buah melon ( Cucumis melo L ).XIX:3 J. Dinamika Pertanian
Sutedjo, 2008. Pupuk dan Cara Pemupukan. Reneka Cipta. Jakarta.
Wiryanta, B., T. 2002. Bertanam Tomat. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar