Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 99-104


KARAKTERISTIK FENOTIP KERBAU DI PADANG PENGGEMBALAAN MANDI ANGIN
DESA SIKAKAK KECEMATAN CERENTI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

Pucer Indra,  Lis Darti Roza, dan Dihan Kurnia
Program Studi Peternakan Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau

ABSTRACT

This research aims to determine the phenotypic characteristics of buffalo mud quantitative and qualitative. This research was conducted on the 15th of August until the 20th of September at Bath pasture Sikakak Wind Village District of Kuantan District Cerenti Singingi. The research material is adult swamp buffaloes consisting of 20 male buffaloes and 28 female buffaloes. Methods This study used a survey method. By looking at the quantitative and qualitative characteristics. Quantitative characteristics of the field penggembalaaan buffalo mud bath in the wind consists of a male buffalo pundak126.00 ± 5,54 cm high, 47.40 ± 7.89 in the chest cm, chest circumference 160.95 ± 1,29 cm, body length 117.65 cm ± 5,15, 4,33 ± hip height 124.65 cm and body weight of 333.66 ± 4,52 kg while the female buffalo shoulder height 127.17 ± 4.38cm, 44.14 ± 9,00 in the chest cm, chest circumference 161.25 ± 1,22 cm, body length 117.64 ± 4.96 cm, hip height 125.85 cm ± 4,22, 4,34 ± 335.37 weight kg. Exhibits a characteristic qualitative properties or characteristic buffalo mud covers round eye shape and blackish brown, skin color and hair color 100% black, with a triangular head shape and a convex shape to a circular horn rear and laterally up to the top. Males 80% to the side and up to the top and 20% to the circular rear, 20% females aside and rose to the top and 80% to the circular rear.

Keywords: characteristics, buffalo mud phenotype, qualitative and quantitative characteristics.


PENDAHULUAN

Kerbau memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai penghasil daging dan tenaga kerja. Sebagai  penghasil daging, kerbau dapat digemukkan dan telah berperan sebagai ternak yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH), pemotongan kerbau yang tidak terkendali telah mengakibatkan  populasi kerbau makin lama semakin menurun terutama populasi kerbau jantan dewasa. Sebagai ternak  kerja, kerbau juga dapat membantu menarik beban seperti membawa kayu dari hutan dan membajak sawah. Memelihara kerbau untuk membajak sawah sudah menjadi kegiatan yang diwariskan secara turun temurun di daerah pertanian yang masih tradisional yang belum menggunakan mekanisasi. Penggunaan tenaga kerja kerbau dapat juga  memberikan tambahan penghasilan keluarga dari jasa penyewaan (Santosa, 2007). Sama halnya dengan daerah lain, kerbau yang ada di Kabupaten kuantan singingi kerbau dipelihara sebagai penambah biaya tambahan dan plasma nutfah
Mutu ternak kerbau dapat dilihat dari kemampuan genetiknya di mana ternak yang unggul akan menghasilkan keturunan yang unggul juga jika kondisi lingkungannya mendukung. Jika dilihat dari bentuk luarnya (fenotip), ternak unggul yang dicirikan oleh bobot tubuh yang standar dan adanya keseimbangan antara bagian-bagian tubuh serta warna yang standar juga.
                Produktivitas kerbau cukup rendah dibandingkan sapi hal ini disebabkan karena secara genetik kerbau mempunyai pertumbuhan lambat, masa bunting dan jarak beranak yang lama dan gejala berahi yang sulit dideteksi (Putu et al,1994 ). Sementara itu Praharani (2009) menyatakan bahwa rendahnya produktivitas ternak kerbau berkaitan dengan dugaan terjadinya penurunan mutu genetik karena terjadinya inbreeding yang disebabkan perkawinan keluarga.  Kawin dalam yang berlangsung terus menerus akan menurunkan performans ternak kerbau, tingginya mortalitas dan rendahnya daya reproduksi  menyebabkan menurunnya sifat fenotip misalnya ukuran tubuh, fertilitas dan daya tahan tubuh.
Kerbau yang dipelihara oleh masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi  khususnya padang penggembalaan Mandi Angin tidak diketahui asal usulnya, namun secara nyata kerbau-kerbau tersebut telah beradaptasi dengan lingkungan yang beriklim tropis dan kualitas pakan yang rendah.  Untuk mengatasi suhu lingkungan yang panas, kerbau biasanya berkubang di tempat yang lekuk (cekung) dan berisi air sambil melakukan ruminansi.
Kondisi padang penggembalaan yang ditumbuhi rumput lapangan saja sangat mempengaruhi status nutrisi ternak kerbau yang digembalakan. Dapat dipastikan bahwa kebutuhan nutrisi tidak akan terpenuhi baik kuantitas maupun kualitas jika tidak diberi pakan tambahan. Jika kondisi ini terjadi secara terus menerus dan berlangsung lama maka akan mempengaruhi performans dan produktivitas kerbau.
                Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui larakteristik fenotip kerbau yamg dipelihara di padang penggembalaan Mandi Angin Desa Sikakak  Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi baik yamg bersifat kuantitatif maupun kualitatif.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan waktu
Penelitian ini dilakukan di padang  pengembalaan Mandi Angin Desa Sikakak Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi pada tanggal 15 Agustus 2013 sampai dengan pada tanggal 20 September  2013.

Bahan dan Alat

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua kerbau dewasa yang dikandangkan di padang penggembalaan Mandi Angin Desa Sikakak Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi jumlah total keseluruhan kerbau sebanyak  64 ekor yang diambil datanya sebanyak 48 ekor terdiri dari 20 ekor Jantan dan 28 ekor Betina. Alat yang digunakan adalah tongkat ukur, pita ukur, alat tulis dan camera.

Metode Penelitian
                Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan mengukur semua kerbau yang dipelihara di padang penggembalaan Mandi Angin Desa Sikakak Kecamatan Cerenti.
Variabel kuantitatif yang diukur pada  penelitian ini adalah tinggi pundak, dalam dada, lingkar dada, panjang badan, tinggi pinggul dan berat badan.
Parameter yang bersifat kualitatif akan diambil melalui observasi atau pengamatan langsung seperti bentuk tubuh, bentuk kepala, warna rambut dan warna kulit dan warna mata
                Data kuantitatif yang diperoleh dianalisis dengan mencari nilai rata-rata, simpangan baku dan korelasi antar parameter menggunakan SPSS 17. Data kualitatif dideskripsikan melalui gambar dan ditabulasikan dalam bentuk persentase (%).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran umum lokasi penelitian
                Ibu kota Kecamatan Cerenti memiliki Luas wilayah: 456 km² atau sekitar 5.96% dari keseluruhan luas Kabupaten Kuantan Singingi. Kecamatan Cerenti memiliki 2 Kelurahan: Kelurahan Koto Peraku dan Kelurahan Pasar Cerenti dan memiliki 10 desa yaitu Desa : Sikakak, Pulau Jambu, Pulau bayur Kompe Berangin, Kampung Baru, Tanjung Medan, Teluk Pauh, Pulau Panjang, Pesikaian, Koto Cerenti, Kelurahan Pasar cerenti, Kelurahan Koto Peraku.
                Peternak kerbau di Mandi Angin adalah kumpulan masyarakat yang memelihara kerbau milik sendiri, dimana pemeliharaan kerbau dilakukan secara semi intensif dengan pola di lepas atau di gembalakan pada pagi hari dan di kandangkan pada sore hari. Dalam aktivitasnya Mandi Angin memiliki aset dan kesepakatan yang diambil secara musyawarah dan dipatuhi bersama.  Aset Mandi Angin dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1. Aset Petani Mandi Angin
Nama aset                                          Jumlah                                          Satuan
Anggota                                                 24                                               Orang
Kerbau                                                   64                                               Ekor
Padang penggembalaan                         1                                               Unit
Luas padang penggembalaan              12                                                Ha
Kandang kerbau                                    24                                               Unit

               

Menurut Atmadilaga (1976) umumnya sistem pemeliharaan ternak di Indonesia masih bersifat tradisional dan sifatnya selalu turun-temurun tanpa mempertimbangkan prinsip ekonomi.
            Penggunaan ukuran tubuh selain untuk menaksir bobot badan dan karkas, dapat juga digunakan untuk memberikan gambaran bentuk tubuh hewan sebagai cirri khas suatu bangsa ternak tertentu (Dwiyanto, 1982).
                Sarbaini (2004) menyatakan bahwa penanda fenotip merupakan penciri yang di tentukan atas dasar ciri-ciri fenotip yang dapat diamati atau dilihat secara langsung, seperti ukuran –ukuran permukaan tubuh, bobot badan, warna dan pola warna bulu tubuh, bentuk dan perkembangan tanduk dan sebagainya. Parameter tubuh yang dapat diukur meliputi panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, tinggi pinggul dan bobot badan.


Tabel 2. Rataan parameter kuantitatif
Parameter yang diukur
Jantan                                    Betina
Rata-rata dan simp.Baku      Rata-rata dan simp.Baku
Bobot Badan  (kg)
Tinggi Pundak (cm)
Dalam Dada  (cm)
Lingkar Dada(cm)
Panjang Badan(cm)
Tinggi Pinggul(cm)
 333.66 ± 4.52                       335.37 ± 4.34
126.00 ± 4.54                       127.17 ± 4.38
47.40 ± 7.89                         44.14  ± 9.00
160.95  ± 1.29                      161.25 ± 1.22
117.65 ± 5.15                       117.64± 4.96
124.65± 4.33                        125.85 ± 4.22               


Hasil pengukuran tinggi pundak kerbau jantan di Padang Penggembalaan Mandi Angin  yaitu 126.00 ± 4.54  cm dimana jumlah kerbau jantan yang diukur sebanyak 20 ekor, hasil pengukuran ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Yendraliza (2012) yaitu 124.40 cm yang dilakukan di kabupaten Kampar dan Saroji et al., (2010) dengan rataan 92.6 cm.  Perbedaan ini kemungkinan besar disebabkan oleh umur ternak yang berbeda dan lingkungan yang berbeda (Noor, 2004). 
                Rataan dalam dada kerbau jantan yang berada di Padang Penggembalaan Mandi Angin adalah 47.40 ± 7.89 cm, angka ini lebih tinggi dari hasil penelitian Saroji et al., (2010) yaitu 47.3 cm yang dilakukan pada kerbau rawa di desa Cibadak.
                  Hasil pengukuran lingkar dada pada kerbau jantan di Padang Penggembalaan Mandi Angin (160.95 ± 1.29).  Angka ini lebih tinggi dari penelitian Saroji et al., (2010) yaitu 120.0 cm dan lebih rendah di bandingkan dengan ukuran kerbau rawa di Sumatra Utura yaitu 174 dan 177 cm (Hidayat, 2007). 
                Hasil pengukuran panjang badan kerbau jantan di Padang Penggembalaan Mandi Angin (117.65 ± 5.15 cm), hasil penelitian ini lebih tinggi dari hasil penelitian Saroji et al., (2010) yaitu 92 cm tetapi lebih rendah di bandingkan dengan penelitian Praharani dan Triwulaningsih (2007) dengan nilai rataan 131.00 cm, dan lebih rendah dari ukuran kerbau di kabupaten Kampar 120.53 cm (Yendraliza, 2012).  
                Tinggi pinggul (TPg) ini merupakan salah satu ukuran linear tubuh lainnya yang menunjukan dimensi pertumbuhan kerbau.  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada kerbau jantan  di Padang Penggembalaan Mandi Angin tinggi pinggul yaitu (124.65 ±4.33 cm), jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian Saroji et al., (2010) dengan nilai rataan 93.7 cm dan penelitian  Erdiansyah (2008) pada kerbau rawa di Kabupaten Dompu. NTB yaitu 123 cm. 
                Berat badan (BB) diperoleh dengan cara menggukanakan rumus Schoolrtm. Hal ini sesuai dengan pendapat Saleh (1982) dan Zubaidah (1994) yang menyatakan bahwa ukuran tubuh dapat menduga bobot badan.  Bobot badan kerbau jantan di Padang Penggembalaan Mandi Angin   (333.66 ± 4.52 Kg) dan sedangkan bobot badan kerbau betina di Padang Penggembalaan Mandi Angin (335.37 ± 4.34Kg).
                Sifat kualitatif adalah sifat yang tidak dapat diukur tetapi dapat dibedakan secara tegas, misalnya warna bulu, ada tidaknya tanduk dan sebagainya.  Sifat ini dikendalikan oleh satu atau beberaa gen dan sedikit atau tidak samasekali dipengaruhi oleh lingkungan (Hardjosubroto, 1994). Parameter kualitatif yang diamati pada penelitian ini yaitu bentuk dan warna mata, warna rambut, warna kulit, bentuk kepala dan bentuk tanduk yang dapat di lihat pada Tabel 3.


Tabel 3. Karakteristik Kualitatif kerbau dewasa di Padang Penggembalaan Mandi   Angin
Kualitatif
Jantan
Betina
Bentuk dan warna mata

100% berwarna coklat       kehitaman           
100%  berwarna coklat
kehitaman  
Warna kulit dan
warna rambut
100% berwarna abu-abu kehitaman               
100% berwarna abu-abu kehitaman
Bentuk tanduk


 20 % melingkar kebelakang 80 ke samping naik ke atas
80% melingkar kebelakang
20% ke samping, melengkung dan naik ke atas
Bentuk Kepala
100% segi tiga cembung
100% segi tiga cembung          
               

Bentuk dan warna mata kerbau dari hasil penelitian yang diamati di Padang Penggembalaan Mandi Angin baik jantan maupun betina berbentuk bulat dan berwarna coklat kehitaman dengan bagian pinggir di tumbuhi rambut.  Hal ini sesuai dengan pernyataan Zulkarnaen et al., (2008) yang menyatakan bentuk dan warna mata kerbau bulat dan berwarna coklat kehitaman.
                Menurut Mason (1974) pada kerbau rawa tidak ditemukan warna kulitcoklat atau abu-abu coklat seperti yang terjadi pada kerbau sungai.   Warna kulit pada kerbau rawa pada umumnya adalah abu-abu, hal ini di perkuat oleh Murti (2007) bahwa yang menutupi tubuh kerbau adalah abu-abu, warna kulit kebiruan sampai abu-abu hitam dan kadang kala albino.
                Kerbau rawa memiliki bentuk kepala yang besar, muka segitiga panjang dan agak cembung dan memiliki ruang jidad yang lebar yang ditumbuhi oleh bulu-bulu lebat dan rapi. Menurut Cockrill (1974) bentuk tanduk biasanya melengkung kebelakang.
Bobot kebau jantan di pengaruhi oleh beberapa variabel, pada penelitian ini pendugaan parameter menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil pendugaan parameter pada persamaan bobot badan kerbau disajikan pada Tabel 4 di bawah ini.


Tabel 4.  Hasil pendugaan parameter bobot badan kerbau jantan
Variabel              Koefisien Regresi          T hit                P value                 VIF

Constanta              -270.621                      -1.881               081
Tinggi pundak        1.534                           1.353               1983                     673
Dalam dada           - 451                            -1.023               32 4                      680
Lingkar dada           3.540                          14.49                20.00                    1.391
Panjang badan        3. 24                            498                   626                       1.551
Tinggi pinggul      -1.408                               -1.050                3114                     665

Koefisien Korelasi (R) = 0.975                                              F hit            =53.838
R Square                        = 0.951                                             Probability =0.000
Adjust R Square            = 0.933                                       Durbin Watson =2.678




Bobot kebau jantan di pengaruhi oleh beberapa variabel, pada penelitian ini pendugaan parameter menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil pendugaan parameter pada persamaan bobot badan kerbau disajikan pada Tabel 8 dibawah ini.


Tabel 5.  Hasil pendugaan parameter bobot badan kerbau betina
Variabel              Koefisien Regresi          T hit                  P value                           VIF
Constanta                 -269.493                  -2.447                     023
Tinggi pundak           1.454                       1.582                     128                           4. 673
Dalam dada              -273                         -889                        383                           2.196
Lingkar dada             3.525                       20.696                    000                          1.264
Panjang badan           231                          502                         620                          1.505
Tinggi pinggul         -1.297                      -1.215                      237                          5.856
Koefisien Korelasi (R) = 0.980                                                              F hit=104.174
R Square                       =0.959                                                    Probability=0.000
Adjust R Square           = 0.950                                           Durbin Watson =1.534


KESIMPULAN

            Karakteristik kuantitatif kerbau lumpur di Padang Penggembalaan Mandi Angin Desa Sikakak terdiri dari tinggi pundak, dalam dada, lingkar dada, panjang badan, tinggi pinggul dan bobot badan pada kerbau jantan yaitu 126.0 ±4.54, 47.40±7.89, 160.95±1.29, 117.65±5.15, 124.65±4.33 dan 333.66±4.52, sedangkan ukuran tubuh kerbau betina yaitu 127.17±4.38, 44.14±9.00, 161.25±1.22, 117.64±4.96, 125.85±4.22 dan 335.37±4.34. Semua parameter tersebut berpengaruh  terhadap bobot badan kerbau, parameter yang paling dekat hubungan dengan bobot badan adalah lingkar dada. Karakteristik sifat kualitatif menunjukan sifat atau ciri khas kerbau lumpur meliputi bentuk mata bulat dan berwarna coklat kehitaman, warna kulit dan warna rambut 100% hitam, dengan bentuk kepala segitiga cembung dengan bentuk tanduk yang melingkar kebelakang.
            Peternak diharapkan lebih memperhatikan manajemen pemeliharaan dan reproduksi, hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki mutu genetik melalui seleksi dan perkawinan silang.

DAFTAR PUSTAKA

Atmidilaga, D. 1976.  Perbandingan Keuntungan Penggunaan Tanah Melalui Peternakan dan Usaha Tani di Jawa.  Direktorat Perencanaan Peternakan.  Universitas Padjajaran, Bandung.
Cockrill, W.R. 1974. Observations on Skin Colour and Hair Patterns.Cockrill, W.R (Editor). 1974 The Husbandry and Healtd of the Domestic Buffa.  Food Agriculture Organization of the United Nation, Roma , Italy.
Dwiyanto, K. dan Subandryo.1982. Peningkatan mutu genetik kerbau lokal diIndonesia. J. Litbang Pertanian XIV (4):92-101.
Erdiansyah. E. 2008. Studi Keragaman Fenotipe dan Pendugaan Genetik antar Kerbau Lokal di Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat. (Skripsi).  Fakultas Peternakan.  Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hardjosubroto (1994). Keragaman genetik ternak kerbau di dalam: Subandriyo.  2006.  Prosiding Lokakarya Nasional.  Usaha Indonesia. 
Murti, T.S. 2007. Ilmu Ternak Kerbau. Kanisius, Yogyakarta
Mason, I.L. 1974. The husbandry and health of the domesticbuffalo. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome.
Noor. 2008. Genetika Ternak.  Penebar Swadaya. Jakarta
Putu ,I.G.M. Sabrani,M. Winugroho,T. Chaniago, Santoso, Tarmudji,A.A. Supriyadi dan P. Oktapiana. 1994. Peningkatan Produksi dan Reproduksi Kerbau Kalang pada Agroekosistem Rawa di Kalimantan. Laporan Hasil Penelitian.  Balai Penelitian Ternak Bogor bekerja sama dengan P4n.
Praharani, L dan E. Triwulanningsih. 2007.  Karakterisasi Bibit Kerbau pada Agroekosistem Dataran Tinggi.  Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau.  Puslitbangnak. Bogor. Bogor.
Sarbaini. 2004. Kajian keragaman karakter eksternal dan DNA mikrosatelit Sapi Pesisir di Sumatera Utara.(Disertasi).  Program Pascasarjana.  Institut Pertanian Bogor, Bogor. Bogor.
Saroji, R. E.  Sitompul, Jakarta, dan C.  Sumantri.  2010.  Karakteristik Ukuran Tubuh Kerbau Rawa di Kabupaten Lebak dan Pandeglang, Provinsi Banten. http://peternakan.litbang.deptan.go.id/lokakarya/ikerbau11-6.pdf
Saleh , A.R. 1982.  Korelasi antar bobot badan, lingkar dada,lebar dada, dan dalam dada pada sapi ongole di Pulau Sumba. Media Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hidayat . U. 2007.  Karakteristik Fenotip Kerbau Banteng dan Sumatra Utara.  Skripsi.  Fakultas Peternakan  Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Yendraliza, 2012.  Karakteristik penampilan tubuh pejantan unggul kerbau lumpur (Bubalus bubalis) di Kabuapten Kampar.  Jurnal Agrinak.  Vol 02 no 1.
Zubaidah, S. 1994. Pengkajian beberapa cara pendugaan bobot badan sapi perah Fries Holland dengan Parameter tubuh. (Skripsi). Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Zulkarnaen, B. Gamarius, B. Ati, B. 2008. Ciri dan Karakteristik Kerbau http:// bereati.Blogspot. Com/. Diakses, 14 Nopember 2011








Tidak ada komentar:

Posting Komentar