KARAKTERISTIK FENOTIP KERBAU DI PADANG PENGGEMBALAAN
MANDI ANGIN
DESA SIKAKAK KECEMATAN CERENTI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
Pucer Indra, Lis Darti Roza, dan
Dihan Kurnia
Program Studi Peternakan Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake
Teluk Kuantan, Riau
ABSTRACT
This
research aims to determine the phenotypic characteristics of buffalo mud
quantitative and qualitative.
This
research was conducted on the 15th of August until the 20th of September at
Bath pasture Sikakak Wind Village District of Kuantan District Cerenti
Singingi. The
research material is adult swamp buffaloes consisting of 20 male buffaloes and
28 female buffaloes.
Methods
This study used a survey method.
By
looking at the quantitative and qualitative characteristics. Quantitative
characteristics of the field penggembalaaan buffalo mud bath in the wind
consists of a male buffalo pundak126.00 ± 5,54 cm high, 47.40 ± 7.89 in the
chest cm, chest circumference 160.95 ± 1,29 cm, body length 117.65 cm ± 5,15,
4,33 ± hip height 124.65 cm and body weight of 333.66 ± 4,52 kg while the
female buffalo shoulder height 127.17 ± 4.38cm, 44.14 ± 9,00 in the chest cm,
chest circumference 161.25 ± 1,22 cm, body length 117.64 ± 4.96 cm, hip height
125.85 cm ± 4,22, 4,34 ± 335.37 weight kg. Exhibits a characteristic qualitative
properties or characteristic buffalo mud covers round eye shape and blackish
brown, skin color and hair color 100% black, with a triangular head shape and a
convex shape to a circular horn rear and laterally up to the top. Males 80% to the side
and up to the top and 20% to the circular rear, 20% females aside and rose to
the top and 80% to the circular rear.
Keywords:
characteristics, buffalo mud phenotype, qualitative and quantitative
characteristics.
PENDAHULUAN
Kerbau memiliki potensi yang besar untuk
dikembangkan sebagai
penghasil daging dan tenaga kerja. Sebagai penghasil daging, kerbau dapat digemukkan dan
telah berperan sebagai ternak yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH), pemotongan
kerbau yang tidak terkendali telah mengakibatkan populasi kerbau makin lama semakin menurun
terutama populasi kerbau jantan dewasa. Sebagai ternak kerja, kerbau juga
dapat membantu menarik beban seperti membawa kayu dari hutan dan membajak sawah. Memelihara kerbau untuk membajak sawah sudah menjadi kegiatan
yang diwariskan secara turun temurun di daerah pertanian yang masih tradisional
yang belum menggunakan mekanisasi. Penggunaan tenaga kerja kerbau dapat juga memberikan tambahan penghasilan keluarga dari jasa penyewaan (Santosa, 2007). Sama halnya dengan daerah lain, kerbau
yang ada di Kabupaten kuantan singingi kerbau dipelihara
sebagai penambah biaya tambahan dan plasma nutfah
Mutu ternak kerbau dapat dilihat dari kemampuan genetiknya di mana ternak yang unggul akan menghasilkan keturunan yang unggul juga jika kondisi
lingkungannya mendukung. Jika dilihat dari bentuk luarnya (fenotip), ternak unggul
yang dicirikan oleh bobot tubuh yang standar dan adanya keseimbangan antara
bagian-bagian tubuh serta warna yang standar juga.
Produktivitas
kerbau cukup rendah dibandingkan sapi hal ini disebabkan karena secara genetik kerbau
mempunyai pertumbuhan lambat, masa bunting dan jarak beranak
yang lama dan gejala berahi yang sulit dideteksi (Putu et al,1994 ). Sementara itu
Praharani (2009) menyatakan bahwa rendahnya produktivitas ternak
kerbau berkaitan dengan dugaan terjadinya penurunan mutu genetik
karena terjadinya inbreeding yang
disebabkan perkawinan keluarga. Kawin dalam yang berlangsung terus menerus akan menurunkan performans
ternak kerbau, tingginya mortalitas dan rendahnya daya reproduksi
menyebabkan
menurunnya sifat fenotip misalnya ukuran tubuh, fertilitas dan daya tahan tubuh.
Kerbau yang dipelihara oleh masyarakat di
Kabupaten Kuantan Singingi khususnya padang penggembalaan Mandi Angin tidak diketahui asal usulnya, namun
secara nyata kerbau-kerbau tersebut telah beradaptasi dengan lingkungan yang
beriklim tropis dan kualitas pakan yang rendah.
Untuk mengatasi suhu lingkungan yang panas, kerbau biasanya berkubang di
tempat yang lekuk (cekung) dan berisi air sambil melakukan ruminansi.
Kondisi padang penggembalaan yang ditumbuhi
rumput lapangan saja sangat mempengaruhi status nutrisi ternak kerbau yang
digembalakan. Dapat dipastikan bahwa kebutuhan nutrisi tidak akan terpenuhi
baik kuantitas maupun kualitas jika tidak diberi pakan tambahan. Jika kondisi
ini terjadi secara terus menerus dan berlangsung lama maka akan mempengaruhi
performans dan produktivitas kerbau.
Tujuan penelitian
adalah untuk mengetahui larakteristik fenotip kerbau yamg dipelihara di padang
penggembalaan Mandi Angin Desa Sikakak
Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi baik yamg bersifat
kuantitatif maupun kualitatif.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan waktu
Penelitian ini dilakukan di
padang pengembalaan Mandi Angin Desa
Sikakak Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan
Singingi pada tanggal 15 Agustus 2013 sampai dengan pada tanggal
20 September 2013.
Bahan dan Alat
Materi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua kerbau dewasa
yang dikandangkan di padang penggembalaan Mandi Angin Desa
Sikakak
Kecamatan
Cerenti
Kabupaten
Kuantan
Singingi jumlah total keseluruhan kerbau sebanyak
64 ekor yang diambil datanya sebanyak 48 ekor terdiri dari 20 ekor Jantan dan 28 ekor Betina. Alat yang digunakan
adalah tongkat ukur, pita ukur, alat tulis dan camera.
Metode Penelitian
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan mengukur semua
kerbau yang dipelihara di padang penggembalaan Mandi Angin Desa
Sikakak Kecamatan Cerenti.
Variabel kuantitatif yang diukur pada penelitian ini adalah tinggi pundak, dalam
dada, lingkar dada, panjang badan, tinggi pinggul dan berat badan.
Parameter yang bersifat
kualitatif akan diambil melalui observasi atau pengamatan
langsung seperti bentuk tubuh, bentuk kepala, warna rambut dan warna kulit dan
warna mata
Data
kuantitatif yang diperoleh dianalisis dengan mencari
nilai
rata-rata, simpangan baku dan korelasi antar parameter menggunakan SPSS 17.
Data kualitatif dideskripsikan melalui gambar dan
ditabulasikan dalam bentuk persentase (%).
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Gambaran umum lokasi penelitian
Ibu kota Kecamatan Cerenti memiliki Luas wilayah: 456 km² atau sekitar 5.96% dari
keseluruhan luas Kabupaten Kuantan Singingi. Kecamatan Cerenti memiliki 2 Kelurahan: Kelurahan Koto Peraku dan Kelurahan Pasar Cerenti dan
memiliki 10 desa yaitu Desa : Sikakak, Pulau Jambu,
Pulau bayur Kompe Berangin,
Kampung Baru, Tanjung Medan, Teluk Pauh, Pulau Panjang, Pesikaian, Koto
Cerenti, Kelurahan Pasar cerenti, Kelurahan Koto Peraku.
Peternak kerbau di
Mandi Angin adalah kumpulan masyarakat yang memelihara kerbau milik sendiri, dimana pemeliharaan kerbau
dilakukan secara semi intensif dengan pola di lepas atau di gembalakan pada
pagi hari dan di kandangkan pada sore hari. Dalam aktivitasnya Mandi Angin memiliki aset dan
kesepakatan yang diambil secara musyawarah dan dipatuhi bersama. Aset Mandi Angin dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Aset Petani Mandi Angin
|
Nama
aset Jumlah Satuan
|
|
Anggota 24
Orang
Kerbau 64
Ekor
Padang
penggembalaan 1 Unit
Luas
padang penggembalaan 12
Ha
Kandang
kerbau 24 Unit
|
Menurut Atmadilaga
(1976) umumnya sistem pemeliharaan
ternak di Indonesia masih bersifat tradisional dan sifatnya selalu turun-temurun
tanpa mempertimbangkan prinsip ekonomi.
Penggunaan ukuran tubuh
selain untuk menaksir bobot badan dan karkas, dapat juga digunakan untuk
memberikan gambaran bentuk tubuh hewan sebagai cirri khas suatu bangsa ternak
tertentu (Dwiyanto, 1982).
Sarbaini (2004) menyatakan
bahwa penanda fenotip merupakan
penciri yang di tentukan atas dasar ciri-ciri fenotip yang dapat diamati atau
dilihat secara langsung, seperti ukuran –ukuran permukaan tubuh, bobot badan,
warna dan pola warna bulu tubuh, bentuk dan perkembangan tanduk dan sebagainya.
Parameter tubuh yang dapat
diukur meliputi panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, tinggi pinggul dan
bobot badan.
Tabel 2. Rataan parameter kuantitatif
|
Parameter yang diukur
|
Jantan Betina
|
|
Rata-rata dan simp.Baku Rata-rata dan simp.Baku
|
|
|
Bobot Badan (kg)
Tinggi Pundak (cm)
Dalam
Dada (cm)
Lingkar
Dada(cm)
Panjang
Badan(cm)
Tinggi
Pinggul(cm)
|
333.66 ± 4.52 335.37 ± 4.34
126.00 ± 4.54 127.17 ± 4.38
47.40 ± 7.89 44.14 ± 9.00
160.95
± 1.29 161.25 ± 1.22
117.65 ± 5.15 117.64± 4.96
124.65± 4.33 125.85 ± 4.22
|
Hasil pengukuran tinggi pundak kerbau jantan di Padang Penggembalaan Mandi Angin yaitu 126.00 ± 4.54 cm dimana jumlah
kerbau jantan yang diukur sebanyak 20 ekor, hasil pengukuran ini lebih tinggi dibandingkan
dengan hasil penelitian Yendraliza (2012) yaitu 124.40 cm yang dilakukan di kabupaten Kampar dan Saroji et al.,
(2010) dengan rataan 92.6 cm. Perbedaan
ini kemungkinan besar disebabkan oleh umur ternak yang berbeda dan lingkungan
yang berbeda (Noor, 2004).
Rataan dalam dada kerbau jantan yang
berada di Padang Penggembalaan Mandi Angin adalah 47.40 ± 7.89 cm, angka ini lebih tinggi dari
hasil penelitian Saroji et al., (2010) yaitu 47.3 cm yang dilakukan pada
kerbau rawa di desa Cibadak.
Hasil pengukuran lingkar dada pada kerbau
jantan di Padang Penggembalaan Mandi Angin (160.95 ± 1.29). Angka ini lebih tinggi dari penelitian Saroji et al., (2010) yaitu 120.0 cm dan lebih rendah di
bandingkan dengan ukuran kerbau rawa di Sumatra Utura yaitu 174 dan 177 cm
(Hidayat, 2007).
Hasil pengukuran
panjang badan kerbau jantan di Padang Penggembalaan Mandi Angin (117.65 ± 5.15
cm), hasil penelitian ini lebih tinggi dari hasil penelitian Saroji et al., (2010) yaitu 92 cm tetapi
lebih rendah di bandingkan dengan penelitian Praharani dan Triwulaningsih
(2007) dengan nilai rataan 131.00 cm, dan lebih rendah
dari ukuran kerbau di kabupaten Kampar 120.53 cm (Yendraliza, 2012).
Tinggi pinggul (TPg)
ini merupakan salah satu ukuran linear tubuh lainnya yang menunjukan dimensi
pertumbuhan kerbau. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan pada kerbau jantan
di Padang Penggembalaan Mandi Angin tinggi pinggul yaitu (124.65 ±4.33
cm), jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan penelitian Saroji et al., (2010) dengan nilai rataan 93.7 cm dan
penelitian Erdiansyah (2008) pada kerbau
rawa di Kabupaten Dompu. NTB yaitu 123 cm.
Berat
badan (BB) diperoleh dengan cara menggukanakan rumus Schoolrtm. Hal ini sesuai dengan pendapat Saleh (1982) dan Zubaidah (1994) yang menyatakan bahwa ukuran tubuh
dapat menduga bobot badan. Bobot badan kerbau jantan di Padang Penggembalaan Mandi
Angin (333.66 ± 4.52 Kg) dan sedangkan bobot badan
kerbau betina di Padang Penggembalaan Mandi Angin (335.37 ± 4.34Kg).
Sifat kualitatif adalah sifat
yang tidak dapat diukur tetapi dapat dibedakan secara tegas, misalnya warna
bulu, ada tidaknya tanduk dan sebagainya.
Sifat ini dikendalikan oleh satu atau beberaa gen dan sedikit atau tidak
samasekali dipengaruhi oleh lingkungan (Hardjosubroto, 1994). Parameter kualitatif yang diamati pada
penelitian ini yaitu bentuk dan warna mata, warna rambut, warna kulit, bentuk
kepala dan bentuk tanduk yang dapat di lihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Karakteristik Kualitatif kerbau dewasa di Padang Penggembalaan Mandi Angin
|
Kualitatif
|
Jantan
|
Betina
|
|
Bentuk dan warna mata
|
100% berwarna coklat
kehitaman
|
100% berwarna coklat
kehitaman
|
|
Warna kulit dan
warna rambut
|
100% berwarna abu-abu kehitaman
|
100% berwarna abu-abu
kehitaman
|
|
Bentuk tanduk
|
20 % melingkar
kebelakang 80 ke samping naik ke atas
|
80%
melingkar kebelakang
20% ke samping,
melengkung dan naik ke atas
|
|
Bentuk
Kepala
|
100% segi tiga cembung
|
100% segi tiga cembung
|
Bentuk dan warna mata kerbau dari hasil penelitian yang diamati di
Padang Penggembalaan Mandi Angin baik jantan maupun betina berbentuk bulat dan
berwarna coklat kehitaman dengan bagian pinggir di tumbuhi rambut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zulkarnaen et
al., (2008) yang menyatakan bentuk dan warna mata kerbau bulat dan berwarna
coklat kehitaman.
Menurut Mason (1974) pada kerbau
rawa tidak ditemukan warna kulitcoklat atau abu-abu coklat seperti yang terjadi
pada kerbau sungai. Warna kulit pada kerbau rawa pada umumnya adalah abu-abu, hal ini
di perkuat oleh Murti (2007) bahwa yang menutupi tubuh kerbau adalah abu-abu,
warna kulit kebiruan sampai abu-abu hitam dan kadang kala albino.
Kerbau rawa memiliki bentuk
kepala yang besar, muka segitiga panjang dan agak cembung dan memiliki ruang
jidad yang lebar yang ditumbuhi oleh bulu-bulu lebat dan rapi. Menurut Cockrill
(1974) bentuk tanduk biasanya melengkung kebelakang.
Bobot kebau jantan di pengaruhi oleh beberapa variabel, pada penelitian
ini pendugaan parameter menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil
pendugaan parameter pada persamaan bobot badan kerbau disajikan pada Tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4. Hasil
pendugaan parameter bobot badan kerbau jantan
|
Variabel Koefisien Regresi T hit P value VIF
|
|
|
Constanta -270.621 -1.881 081
Tinggi
pundak 1.534 1.353 1983 673
Dalam
dada - 451 -1.023 32 4 680
Lingkar
dada 3.540 14.49 20.00 1.391
Panjang
badan 3. 24 498 626 1.551
Tinggi
pinggul -1.408 -1.050 3114 665
|
|
|
Koefisien
Korelasi (R) = 0.975
F hit =53.838
R
Square =
0.951
Probability =0.000
Adjust
R Square = 0.933 Durbin
Watson =2.678
|
|
Bobot kebau jantan di pengaruhi oleh beberapa variabel, pada penelitian
ini pendugaan parameter menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil
pendugaan parameter pada persamaan bobot badan kerbau disajikan pada Tabel 8 dibawah ini.
Tabel 5. Hasil pendugaan parameter bobot badan kerbau
betina
|
Variabel Koefisien Regresi T hit P value VIF
|
|
Constanta
-269.493
-2.447 023
Tinggi pundak
1.454 1.582 128 4. 673
Dalam dada
-273
-889
383
2.196
Lingkar dada
3.525
20.696 000 1.264
Panjang badan 231 502 620 1.505
Tinggi pinggul
-1.297
-1.215
237 5.856
|
|
Koefisien Korelasi (R) = 0.980
F hit=104.174
R Square
=0.959
Probability=0.000
Adjust R Square =
0.950
Durbin Watson =1.534
|
KESIMPULAN
Karakteristik kuantitatif kerbau
lumpur di Padang Penggembalaan Mandi Angin Desa Sikakak terdiri dari tinggi
pundak, dalam dada, lingkar dada, panjang badan, tinggi pinggul dan bobot badan
pada kerbau jantan yaitu 126.0 ±4.54, 47.40±7.89, 160.95±1.29, 117.65±5.15,
124.65±4.33 dan 333.66±4.52, sedangkan ukuran tubuh kerbau betina
yaitu 127.17±4.38, 44.14±9.00, 161.25±1.22, 117.64±4.96, 125.85±4.22 dan 335.37±4.34.
Semua parameter tersebut berpengaruh
terhadap bobot badan kerbau, parameter yang paling dekat hubungan dengan
bobot badan adalah lingkar dada. Karakteristik sifat kualitatif menunjukan
sifat atau ciri khas kerbau lumpur meliputi bentuk mata bulat dan berwarna coklat
kehitaman, warna kulit dan warna rambut 100% hitam, dengan bentuk kepala
segitiga cembung dengan bentuk tanduk yang melingkar kebelakang.
Peternak diharapkan lebih
memperhatikan manajemen pemeliharaan dan reproduksi, hal ini dapat dilakukan
dengan memperbaiki mutu genetik melalui seleksi dan perkawinan silang.
DAFTAR PUSTAKA
Atmidilaga, D. 1976. Perbandingan Keuntungan Penggunaan Tanah
Melalui Peternakan dan Usaha Tani di Jawa.
Direktorat Perencanaan Peternakan.
Universitas Padjajaran, Bandung.
Cockrill, W.R. 1974. Observations on Skin Colour and
Hair Patterns.Cockrill, W.R (Editor). 1974 The Husbandry and Healtd of the
Domestic Buffa. Food Agriculture
Organization of the United Nation, Roma , Italy.
Dwiyanto,
K. dan Subandryo.1982. Peningkatan mutu genetik kerbau lokal diIndonesia. J.
Litbang Pertanian XIV (4):92-101.
Erdiansyah. E. 2008. Studi
Keragaman Fenotipe dan Pendugaan Genetik antar Kerbau Lokal di Kabupaten Dompu
Nusa Tenggara Barat. (Skripsi). Fakultas
Peternakan. Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Hardjosubroto (1994). Keragaman genetik ternak
kerbau di dalam: Subandriyo. 2006. Prosiding Lokakarya Nasional. Usaha Indonesia.
Murti, T.S. 2007.
Ilmu Ternak Kerbau. Kanisius, Yogyakarta
Mason, I.L. 1974. The husbandry and health of the
domesticbuffalo. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome.
Noor. 2008. Genetika Ternak.
Penebar Swadaya. Jakarta
Putu ,I.G.M. Sabrani,M.
Winugroho,T. Chaniago, Santoso, Tarmudji,A.A. Supriyadi dan P. Oktapiana. 1994.
Peningkatan Produksi dan Reproduksi Kerbau Kalang pada Agroekosistem Rawa di
Kalimantan. Laporan Hasil Penelitian.
Balai Penelitian Ternak Bogor bekerja sama dengan P4n.
Praharani, L dan E.
Triwulanningsih. 2007. Karakterisasi
Bibit Kerbau pada Agroekosistem Dataran Tinggi.
Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau. Puslitbangnak. Bogor. Bogor.
Sarbaini. 2004. Kajian
keragaman karakter eksternal dan DNA mikrosatelit Sapi Pesisir di Sumatera
Utara.(Disertasi). Program
Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor,
Bogor. Bogor.
Saroji, R. E. Sitompul, Jakarta, dan C. Sumantri.
2010. Karakteristik Ukuran Tubuh
Kerbau Rawa di Kabupaten Lebak dan Pandeglang, Provinsi Banten. http://peternakan.litbang.deptan.go.id/lokakarya/ikerbau11-6.pdf
Saleh , A.R. 1982. Korelasi antar bobot badan, lingkar
dada,lebar dada, dan dalam dada pada sapi ongole di Pulau Sumba. Media
Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hidayat . U. 2007. Karakteristik Fenotip Kerbau Banteng dan
Sumatra Utara. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Yendraliza, 2012. Karakteristik penampilan tubuh pejantan
unggul kerbau lumpur (Bubalus bubalis) di Kabuapten Kampar. Jurnal Agrinak. Vol 02 no 1.
Zubaidah, S. 1994. Pengkajian
beberapa cara pendugaan bobot badan sapi perah Fries Holland dengan Parameter
tubuh. (Skripsi). Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Zulkarnaen, B.
Gamarius, B. Ati, B. 2008. Ciri dan Karakteristik Kerbau http:// bereati.Blogspot.
Com/. Diakses, 14 Nopember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar