ANALISIS KETAHANAN RENDANG PADA
BERMACAM KEMASAN TERHADAP KERUSAKAN YANG DISIMPAN PADA SUHU RUANG
Darmiwati
Laboratorium Teknologi Industri Pakan, Fakultas
Peternakan
Universitas Andalas Limau Manis Padang. Sumatera Barat
email : drtu2_ipb@yahoo.co.id
ABSTRACT
This
reseach was to determine the resistance rendang in various packaging for
damage, both mikrobiologis biokemis
and stored at room temperature (27oC). The materials used in
this research are beef, coconut milk, spices and a set of tools and chemicals
for robustness analysis rendang.
The
parameters observed are peroxide, Iod numbers, the total colony of bacteria,
fungi and yeasts. The
study used an experimental method in the laboratory with a completely
randomized design (CRD) 4 treatments and 5 replications. As the treatment is a
wide range of packaging among others A: Aluminium foil; B: brown glass
bottle; C:
Tupperware; D:
Plastic poliprolin.
All
data were analyzed statistically according to Steel and Torrie (1980). If there were significant
differences among treatments tested Duncan continued. The results showed
that packed rendang preformance aluminum foil packaging are stored for 10 days
providing the most well characterized resistance of low peroxide, total
colonies of bacteria, fungi and yeasts. Unless Iod lowest number found in
plastic packaging poliproline rendang.
Key
words : rending, packaging,damage
PENDAHULUAN
Masyarakat Indonesia merupakan
masyarakat majemuk yang ditandai oleh beragamnya bahasa dan masakan tradisional
khas masing-masing daerah.Hmpir setiap daerah di Indonesia memiliki makanan
dengan cirri khas dan keunikan tersendiri, terutama dalam hal penggunaan bahan
baku, teknik pengolahan dan cara pengujian kepada konsumen.
Pesatnya diversifikasi produk asal
daging, yang berkembang menjadi bermacam-macam produk makanan siap saji seperti
bistik daging, kornet, daging asap, sosis dan bakso tidak membuat tersingkirnya
produk local seperti rendang, kalio dan dendeng daging yang merupakan makanan
khas daerah Sumatera Barat.
Rendang dibuat dari bahan utama
daging sapi atau kerbau yang dimasak bersamaan dengan campuran santan kelapa,
cabe merah giling, bumbu atau rempah-rempah tertentu. Pemasakan dilakukan
sampai sebagian besar air menguap sehingga campuran santan, cabe dan bumbu
tersisa sebagai pasta hitam yang gurih dan berminyak (Astawan, 1986).
Menurut Astawan (1986) proses
pemasakan daging menjadi rendang tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap
kadar protein serta beberapa jenis vitamin dan mineral. Kandungan protei pada
rendang lebih tinggi dibandingkan dengan yang terdapat pada daging kornet dan
abon yaitu masing-masing 23,16 dan 18%. Beberapa vitamin dan mineral justru
meningkat akibat pemakaian rempah-rempah yang cukup berarti. Kandungan vitamin
rendang adalah vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, niasin, asm pantotenat.
Rendang kaya akan mineral kalsium, fosfor, besi masing-masing 474, 211 dan 14,9
mg per 100 gram. Selain kaya akan protein, vitamin dan mineral, rendang
mengandung energy sebesar 193 kkal per 100 gram. Rendang memiliki kandungan
lemak cukup tinggi, sebagian besar lemak rendang berasal dari santan yang
digunakan dalam pemasakan (Meizia. 1990).
Makanan berlemak atau berminyak
mudah sekali mengalami kerusakan oleh oksidasi lemak tidak jenuh selama penyimpanan.
Kerusakan lemak yang utama adalah terjadi ketengikan, yaitu timbulnya baud an
rasa tengik. Terjadinya ketengikan pada makanan akan menurunkan nilai gizi
seperti vitamin-vitamin A dan E serta asam-asam lemak asensial akan menjadi
rusak (Syarief dkk. 1990).
Rasa tengik diantaranya disebabkan
karna terbentuknya aldehida tidak jenuh yang dikenal dengan nama akrotein, yang
dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan (Syarief dkk 1990). Faktor yang
dapat mempercepat reaksi oksidasi adalah cahaya, panas dan oksigen. Kecepatan
oksidasi lemak yang dibiarkan diudara akan bertambah dengan kenaikan suhu dan
berkurang dengan penurunan suhu. Cahaya merupakan ekselerator terhadap
timbulnya ketengikan, sedangkan kombinasi dari cahaya dan oksigen dapat mempercepat
proses oksidasi (Ketaren, 1986).
Salah satu cara untuk mencegah atau
menghambat kerusakan lemak dalam bahan pangan, dapat dilakukan dengan cara
membungkus bahan pangan. Pembungkusan atau pembotolan makanan berminyak dalam
wadah berwarna dapat mengurangi kecepatan oksidasi (Winarno, 1993). Selain
oksidasi, mikroorganisme juga dapat menyebabkan kerusakan pada makanan
berminyak dan berlemak.
Menurut Winiati (2000) rendang
mengandung senyawa antioksidan dan antimikroba yang berasal dari bahan rempah-rempah seperti jahe, lengkuas,
kunyit, bawang putih, bawang merah, cabe dan daun-daunan. Walau demikian
senyawa tersebut hanya mampu mempertahankan daya simpan rendang tiga hari pada
suhu ruang. Ketahanan rendang yang disimpan pada suhu ruang dipengaruhi juga oleh
cara pemasakan, pengemasan dan kandungan air produk (Meizia, 1990).
Berdasarkan permasalahan diatas maka
dilakukan penelitian dengan judul “Analisis Ketahanan Rendang pada Bermacam
Kemasan Terhadap Kerusakan yang disimpan Pada Suhu Ruang”. Tujuan penelitian
ini menganalisis ketahanan rendang pada bermacam kemasan terhadap kerusakan
yang disimpan pada suhu ruang.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di
Laboratorium Teknologi Industri Pakan, Fakultas Peternakan Universitas Andalas
Padang, dimulai dari tanggal 27 Juni sampai tanggal 25 Juli 2006.
Bahan dan Alat
1.
Bahan
utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging sapi peranakan Onggol
bagian paha atas (top side) sebanyak
2 kg dan 12 butir kelapa.
2.
Bumbu
yang digunakan terdiri dari : jahe 100 gr, lengkuas 60 gr, kunyit 10 gr, cabe
500 gr, ketumbar 40 gr, bawang putih 150 gr, bawang merah 150 gr, daun salam 6
lembar, daun kunyit 6 lembar, sereh 4 batang, daun jeruk purut 10 lembar.
3.
Bahan
yang digunakan terdiri dari: Pereaksi Iod (13,2 gr iod, ltr asetat glacial, 2
ml brom); kloroform; larutan KI 15%; pelarut peroksida (60% asam asetat
glacial, 40% kloroform); kalium ionida jenuh, larutan pati 1%, larutan Natrium
thiosulfat 0,1 N.
4.
Alat-alat
yang digunakan terdiri dari: Parutan, wajan, pisau,telenan,panci, pisau,
almuniumfoil, botol gelas warna coklat, Tupperware, plastic poliprolin,
Erlenmeyer 250/300 ml, neraca analtik, stiker/shaker, kamar gelap, pipet, gelas
ukur, buret, hotplate, mikroskop, cawan petri, tabung reaksi, jarum ose, gelas
ukur, hand sprayer.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode
eksperimen, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5
ulangan. Sebagai perlakuan adalah berbagai jenis kemasan sebagai berikut:
A:
Alumuniumfoil
B:
Botol gelas warna coklat
C:
Tupperware
D:
Plastik poliprolin
Model
matematika dari Rancangan Acak Lengkap (RAL) menurut Steel and Torrie
(1980). Data yang diperoleh dianalisis
secara statistic dengan sidik ragam (table 5). Jika terdapat perbedaan antara perlakuan
maka dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Kemasan
Terhadap Bilangan Peroksida Rendang
Rataan bilangan peroksida dari
bermacam kemasan 10 hari penyimpanan pada suhu ruang dapat dilihat pada table 1
berikut:
Tabel
1. Rataan Bilangan Peroksida Rendang
|
Perlakuan
|
Bilangan Peroksida (meq / 1000gr)
|
|
A
B
C
D
|
19,49
a
28,14
b
27,89
b
35,41
c
|
Keterangan:
subskrip yang berbeda pada kolam yang sama menunjukan perbedaan yang sangat
nyata(p<<0,01).
Bilangan
peroksida yang diperoleh pada penelitian ini bervariasi mulai dari 19,49 sampai
35,41 meq/ 1000gr (table 1). Hasil analisis keragaman menunjukan terdapat perbedaan yang sangat
nyata (p<0,01) antar perlakuan terhadap bilangan peroksida. Setelah
dilakukan uji Duncan rendang yang dikemas dengan alumuniun foil berbeda sangat
nyata (p<0,01) dengan kemasan botol gelas warna coklat, Tupperware dan
plastic poliprolin. Kemasan botol gelas warna coklat dengan kemasan plastic
poliprolin, kemasan Tupperware dengan plastik poliprolin. Sedangkan kemasan
botol warna coklat dengan Tupperware memperlihatkan perbedaab yang tidak nyata
(P<0,05).Hal ini disebabkan oleh perbedaan sifat setiap kemasan dalam
menekan laju kerusakan asam lemak dari masakan rendang.
Hasil
penelitian menunjukan kemasan rendang dengan alumunium foil menghasilkan
bilangan peroksida paling rendah 19,49 meq/1000gr, karena alumunium foil dapat
mencegah terjadinya oksidasi yang disebabkan oleh iksigen dan cahaya. Menurut
Buckle et al, (1985) bahan pengemas
alumunium foil memiliki sifat lebih unggul dari plastik yakni lebih kedap udara
tahan terhadap suhu tinggi, lemak, air dan asam, tidak beracun dan higenis,
tidak menyerap cahaya akan tetapi memantulkan cahaya, licin dan mudah dibentuk.
Ditambahkan Syafrudin (2000) pengaruh cahaya dalam makanan yang mengandung
lemak dapat dieliminir dengan melapisi bagian luar bahan pembungkus menggunakan
kertas timah atau bahan-bahan yang bersifat opak.
Bilangan peroksida pada kemasan botol gelas
warna coklat 28,14 dan Tupperware 27,89 meq/1000 gr, lebih tinggi dari kemasan
alumunium foil. Hal ini karena masih terjadi oksidasi oleh oksigen yang masuk
melalui celah tutup botol. Menurut Winarno (1993) sifat kimia kemasan botol
yang stabil memungkinkan eadah tersebut dapat disimpan dalam jangka waktu lama
tanpa kerusakan, walaupun kadang-kadang pada tutup botol yang terbuat dari
logam terjadi perembesan udara dari luar kedalam botol. Dalam kemasan botol
gelas berwarna kerusakan rendang yang disebabkan oleh cahaya dapat dikurangi
dengan penggunaan botol gelas berwarna coklat. Menurut Syafrudin (2000)
penggunaan gelas dan kertas transparan dalam pembungkus bahan pangan berlemak,
warnanya harus dipilih sedemikian rupa sehingga sinar-sinar yang dapat menembus
adalah sinar gelombang panjang yang mengandung energy lebih rendah. Dengan
demikian peranan cahaya sebagai katalis pada proses oksidasi lemak semakin
berkurang. Selanjutnya Ketaren (1986) mengatakan bahan pembungkus yang mampu
mengabsorbsi sinar ultraviolet adalah bahan pembungkus yang berwarna warna biru
tua, hijau tua, coklat tua atau merah tua.
Pada kemasan Tupperware oksigen yang berperan
sebagai oksidasiasm lemak tidak dapat masuk karena tuppeware memiliki tutup
yang dirancang kedap udara, tetapi dapat ditembus oleh cahaya. Menurut Ketaren
(1986) cahaya berperan sebagai ekselerator pada oksidasi kostituen tidak jenuh
dalam lemak. Kostituen tidak jenuh dan jenuh serta molekul trigliserida yang
kena cahaya ultraviolet dalam jangka waktu lama menghasilkan aldehida dan metal
keton yang berbau tidak enak.
Bilangan peroksida yang paling tinggi dari
hasil penelitian ini terdapat pada kemasan plastik poliprolin 35,41 meq/1000
gr. Tingginya bilangan peroksida karena plastic bersifat transparan yang dapat
ditembus cahaya, tidak kedap air dan udara sehingga kurang baik digunakan
sebagai pengemas bahan pangan berminyak. Menurut Winarno (1993) penggunaan
plastik sebagai bahan pembungkus sangat terbatas tergantung macam makanan,
terutama karena plastik mudah terjadi pengembunan uap air, masih terjadi perembesan
udara melaui pori-pori plastik dan dapat ditembus cahaya. Ditambahkan Ketaren,
(1986) cahaya merupakan akselerator terhadap timbulnya ketengikan, sedangkan
kombinasi cahaya dan oksigen dapat mempercepat proses oksidasi. Radiasi
ionisasi merupakan salah satu akselerator, sedangkan sinar ultraviolet dan
sinar-sinar gelombang gelombang pendek berfungsi sebagai fotolisis persenyawaan
aldehida sehingga menghasilkan radikal bebas.
Menurut Alfiani (2002) poliprolin adalah
plastic yang sangat ringan, tidak tahan oksidasi dan cahaya, namun tahan
terhadap panas dan kikisan lebih lanjut. Selanjutnya syarief (1990) mengatakan
poliprolin mempunyai sifat utama ringan, mudah dibentuk, mempunyai kekuatan
tarik lebih besar, lebih kaku, tidak mudah sobek, tahan suhu tinggi, tidak baik
untuk makanan yang peka terhadap oksidasi.
Rendang pada penelitian ini masih baik untuk
dikonsumsi karena memiliki bilangan perosida masih rendah. Menurut Ketaren
(1986) jika jumlah peroksida dalam bahan pangan lebih besar dari 100 meq/1000
gr akan bersifat sangat berbau dan tidak dapat di makan.
Pengaruh Kemasan
Terhadap Bilangan Iod Rendang
Rataan bilangan Iod dari bermacam
kemasan 10 hari penyimpanan pada suhu ruang dapat dilihat pada table 2 berikut:
Tabel
2. Rataan Bilangan Iod Rendang
|
Perlakuan
|
Bilangan
Iod (gr Iod/100 gr)
|
|
A
B
C
D
|
13,27
a
13,04
a
13,89
a
11,54
b
|
Keterangan:
subskrip yang berbeda pada kolam yang sama menunjukan perbedaan yang sangat
nyata (p<0,01).
Bilangan Iod rendang yang diperoleh pada
penelitian ini bervariasi mulai dari 11,54 sampai 13,89 gr iod/100 gr (Tabel 2).
Hasil analisis keragaman menunjukan terdapat perbedaan yang nyata (p<0,05)
antar perlakuan terhadap bilangan Iod. Setelah dilakukan uji Duncan rendang
yang dikemas dengan alumunium foil , botol gelas warna coklat dan Tupperware
tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata (p<0,05) sedangkan kemasan plastic
poliprolin memperlihatkan perbedaan yang sangat nyata (p<0,05) dibandingkan
kemasan yang lain. Bilangan Iod merupakan nilai ketidak jenuhan minyak yang
berasal dari sifat alami masing-masing minyak.
Hasil penelitian jumlah bilangan Iod
pada kemasan plastic poliprolin saja yang berbeda nyata, karena sebagian kecil
lemak tidak jenuh pada kemasan plastic poliprolin mengalami kerusakan akibat
terjadinya proses oksidasi asam lemak. Menurut Ketaren (1986) oksidasi terjadi
pada ikatan rangkap tidak jenuh dalam asam lemak, setiap satu ikatan rangkap
tidak jenuh dapat mengabsorbsi dua atom oksigen, sehingga membentuk
persenyawaan peroksida yang bersifat labil. Peroksida ini dapat menguraikan
radikal tidak jenuh yang masih utuh sengga membentuk dua mulekul persenyawaan
oksida. Rendanlm kemasan alumunium foil,
botol gelas warna coklat dan tupperware juga mengalami proses oksidasi tetapi
kerusakan lemak tidak dapat diketahui dengan nyata.
Menurut Ketaren (1986) bilangan Iod
dapat juga digunakan untuk menggolongkan jenis minyak mengering dan minyak
bukan mengering. Minyak mengering mempunyai bilangan Iod lebih dari 130. Minyak
yang mempunyai bilangan iod antara 100-130 gr iod/100gr bersifat setengah
mongering. Menurut Eckey (1954) berdasarkan ketidak jenuhan yang diinyatakan
dengan bilangan Iod (Iodine volue) maka
minyak kelapa dimasukan kedalam golongan “non dryng oil” karena besar bilangan
Iod kurang dari 90 (7,5 sampai 10,5 gr iod/100 gr).
Pilliang dkk (1992) menambahkan
bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan mengandung asam lemak majemuk
tidak jenuh yang essensial yaitu linoleat dan linolenat. Sebaliknya minyak
kelapa mengandung asam-asam lemak jenuh seperti pada lemak hewani. Lemak daging
hewan mengandung asam lemak jenuh bervariasi antara 45% pada daging sapi sampai
28% daging ayam.
Dari hasil penelitian jumlah
bilangan Iod pada rendang lebih tinggi 11,54 -13,89gr iod/100gr, dibandingkan
bilangan iod minyak kelapa 7,5-10,5 gr iod/100gr, karena pada rendang terjadi
penambahan asam lemak tidak jenuh yang berasal dari lemak otot daging sapi yang
digunakan pada rendang. Sebagian besar minyak dari rendang berasal dari minyak
dalam santan kelapa yang digunakan dalam pembuatan rendang.
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan rendang yang
dikemas dalam kemasan alumunium foil yang disimpan selama 10 hari memberikan
ketahanan paling baik yang ditandai dari rendahnya bilangan peroksida. bilangan
Iod paling rendah terdapat pada rendan yang dikemas dalam kemasan plastik
poliprolin.
DAFTAR PUSTAKA
Afriani,
N. 2002., Pengaruh Lama Penyimpanan dan Lama Pembungkusan Wadah Gelas Terhadap
Stabilitas Emulsi dan Kualitas Santan Awet, Skripsi Fakultas Pertanian, UNAND.
Astawan,
M. 2004. Mengapa Kita Perlu Makan Daging http: // www.kompas.com /kesehatan. Dikunjungi
18 Mei 2006.
Buckle,
A.R.A. Edwards. F.G. Feed and Wooton. 1985. Ilmu Pangan Terjemahan dari
Parakasih,P.A UI press, Jakarta.
Eckey.
W, 1954. Vegetable Fats and Oil dalam Hang Book of Agriculture Reinhold
Publishing Corporation. New York.
Hamid,
A.1975.Ph dan Pembusukan Daging.Tesis FKH, IPB, Bogor.
Ketaren,
S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan UI Press, Jakarta.
Meizia,
M. 1990.Pengaruh Pemberian Antioksidan dan Cara Pemanasan pada Waktu Pembotolan
Terhadap Cita Rasa Rendang Setelah Penyimpanan 8 Minggu, Skripsi Fakultas
Pertanian Universitas Andalas, Padang.
Steel,
R.G.D and J.H. Torrie. 1980. Principles and Procedures of Statisties. A
Biometrical Approach. McGrow – Hill Book Company, INC. New York.
Syarief,
R. Halid .,H. 1990 Teknologi Penyimpanan Pangan, Pusat Antar Universitas.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Syafrudin,
K. 2000, Teknologi Minyak dan Lemak , Fakultas Pertanian. UNAND.
Pilliang
.W.G. Anwar. M.H 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Ilmu
Hayati, Institut Peertanian Bogor.
Winarno,
1993. Pengantar Teknologi Pangan. Gramedia, Jakarta.
Winiati,
P.R. 2000. Aktvitas Anti Mikroba Bumbu Masakan Tradisional Hasil Olahan
Industri Terhadap Bakteri Patogen dan Pembusuk http/www.iptek.net.id/ind/pustaka
pangan. Dikunjungi 19 Mei 2006 Jam13.00 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar