Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 33-40


PENGARUH BERBAGAI VARIETAS DAN PEMBERIAN  PUPUK ORGANIK CAIR EXTRAGEN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN MELON
(Cucumis melo. L)

Elvidayanis, Heni Rosneti, dan Chairil Ezward
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan. Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau


ABSTRACT

Aimed of of research is knowing influence various varietas and giving of organic manure melt extragen to production and growth of melon. This research use random Device [of] group ( RAK) consist of 2 factor : V ( Varietas) consist of 3 level of V1 ( Varietas Mai- 119), V2 ( Glamourous Varietas), V3 ( Varietas Action- 434) factor of C ( Organic Manure melt extragen) consist of 4 level that is C0 (control), C1 (100 ml), C2 ( 200 ml), C3 ( 300 ml). From result of research show treatment various varietas singlely do not differ reality to all perameter of perception. giving of organic manure melt extragen singlely have an effect on reality to circular parameter of fruit weight and fruit, For highest treatment of fruit circumference is C2 ( organic manure melt extragen 200ml that is 44,13 , highest treatment of fruit weight is C3 ( 300 organic pupk of singk yaitu1,39 extragen). While test various varietas singlely and interaction do not give real influence to all perception parameter.

 Keyword : Organic Manure melt extragen, melon verietas



PENDAHULUAN

Buah melon (Cucumis melo, L) merupakan jenis buah yang berasal dari Afrika Timur, dan Afrika Timur Utara, kemudian tanaman melon ini berkembang ke Asia dan Eropa. Pada awalnya benih melon di Indonesia berasal dari luar Negeri. Setelah tahun 1990, melon berkembang cukup pesat diindonesia karena petani mulai banyak menanam melon dan kini menjadi buah pencuci mulut terpopuler (Hery, 2007).
Dilihat dari tipenya, dikenal dua tipe melon, yaitu tipe manis dan tipe tidak manis. Melon dengan tipe manis biasanya dikonsumsi sebagai buah segar, sedangkan melon tipe tidak manis dikonsumsi untuk sayur, olahan, campuran minuman dan lain-lain. Tipe Melon tidak manis kurang dikenal di Indonesia (Hery, 2007)
Kegunaan Buah melon sebagai makanan buah segar dengan kandungan vitamin C yang cukup tinggi. Kandungan nutrisi buah melon adalah 15,00 mg kalsium ; 25,00 mg fosfor ; 0,5 mg besi ; 34 mg Vitamin C ; 640 mg I.U Vitamin A ; dan 0,03 mg Vitamin B1. Buah melon mengandung antikoagulan yang disebut dengan adenosine sehingga mampu menghentikan penggumpalan sel darah yang dapat memicu timbulnya penyakit stroke atau jantung. Sementara itu, kandungan karotenoid buah melon yang tinggi dapat mencegah kanker dan menurunkan resiko serangan kanker paru-paru (Rizki, 2009).
Potensi berkembangnya melon di indonesia belum sejalan dengan Propinsi Riau dan Kabupaten Kuantan Singingi, melon belum banyak ditanam sebab banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman melon. antara lain: kurangnya ilmu petani tentang budidaya, terbatasnya pemakaian  varietas  unggul tanaman melon, dan penggunaan pupuk yang belum sesuai dengan dosis anjuran.
Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan  upaya yang dapat   meningkatkan produksi melon ialah dengan penggunaan varietas unggul, pemupukan yang sesuai dengan dosis, dan pemeliharaan yang intensif. Penggunaan varietas unggul mempunyai kelebihan dibandingkan dengan varietas lokal dalam hal produksi dan ketahanan terhadap hama dan penyakit, respon pemupukan sehingga produksi yang diperoleh baik kuantitas maupun kualitas dapat meningkat.Varietas unggul tanaman diperoleh melalui serangkaian penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan varietas dengan sifat-sifat yang diinginkan, seperti potensi hasil tinggi, umur genjah, tahan terhadap tekanan biotik dan abiotik tertentu, sesuai dengan selera konsumen, dan lain-lain ( Hery, 2007).
Jenis varietas unggul tanaman melon antara lain Varietas sunrise meta, Varietas apollo, glamour, action- 434 dan mai- 119. Varietas yang digunanakan dalam penelitian ini adalah varietas mai- 119, glamuor, dan action- 434. Varietas Mai- 119 memiliki kelebihan resistan terhadap penyakit  layu Bacterium, busuk buah, busuk batang  phitoptori infestan dan  tahan downy mildew. Mai-119 ini cocok di tanam pada ketinggian 0 – 500 m dari pemukaan laut.
Varietas glamuor memiliki kelebihan antara lain memiliki keunggulan produktivitas tinggi, daya simpan sesudah penen sangat bagus, dan beradaptasi dengan baik di dataran rendah sampai sedang. Sementara varietas action- 434 memiliki kelebihan diantaranya pertumbuhan tanaman kuat dan tegap, memiliki batang yang kokoh, berproduksi tinggi, tahan lama dalam penyimpanan, dan toleran terhadap penyakit layu, embun tepung, dan lalat buah, dan mampu beradaptasi didaerah dengan ketinggian mencapai 600 m diatas permukaan laut (Siregar dan Sobir, 2010).
Selain pengunaan varietas unggul, perlu juga penggunaan pupuk. Salah satu pupuk yang dapat digunakan adalah pupuk organik cair extragen. Pupuk organik cair extragen adalah pupuk organik cair dengan inokulan berbahan aktif mikrooganisme hidup yang berfungsi untuk  menambat dan menyediakan hara. Pupuk organik cair extragen pada takaran dan kondisi tertentu dapat dikombinasikan dengan pupuk kimia ataupun dalam pertanian organik yang di kombinasikan dengan pupuk kandang, kompos dan lainnya tanpa pupuk kimia. Extragen adalah biofertilizer yang terbuat dari bahan baku segar tanpa campuran bahan  kimia yang di olah mengunakan proses eksrak sehingga menghasilkan enzim (Rianto, 2011).
              Kandungan yang terdapat dalam pupuk organik extragen adalah unsur hara makro dan mikro, mikroorgansme (pseudomonas, Bacillus magetarium, Azotobacter, Yeast, Azosprillium, Actinomycetes, dan lactobacillus), zat pengatur tumbuh (Auksin, giberellin, dan Sitokinin), serta substansi asam humus 6,50%. (Rianto, 2011).
                 Pupuk organik cair exragen mempunyai banyak manfaaat diantaranya  memperbaiki struktur tanah sehingga meningkatkan kesuburan tanah, mampu menurunkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup, menghemat biaya pemupukan, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, meningkatkan hasil panen, dan merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman akar, batang, bunga, daun, dan buah (Tsabita, 2011).
                 Penelitian bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Berbagai Varietas dan Pemberian Pupuk Organik Cair Extragen Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Melon (Cucumis melo. L).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Pulau Panjang Hilir Kecamatan Inuman Kabupaten Suantan Singingi Propinsi Riau. penelitian dilaksanakan selama 3 bulan terhitung dari bulan September sampai dengan Nopember 2013.

Bahan dan Alat
              Bahan yang digunakan adalah benih melon varietas Mai 119, Glamour, dan Action 434, Pupuk Organik Cair Extragen, ZA, SP36, dan KCL. Sedangkan alat yang digunakan adalah kayu lanjaran, meteran, cangkul, sabit, gembor, tali rafiah, paku, papan label, cat, timbangan analitik dan alat tulis lainnya.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : faktor pertama adalah faktor V (Varitas) yang terdiri 3 taraf dan faktor kedua adalah faktor C (Pupuk Organik Cair extragen) yang terdiri dari 4 taraf.

Faktor V (Varietas Tanaman melon) terdiri 3 taraf :
V1 = Varieas Mai- 119
V2 = Varietas  Glamour
V3 = Action- 434

Faktor C (Pupuk Organik extragen) terdiri 4 taraf :
C0 = Tanpa pupuk organik cair extragen
C1 = Pemberian pupuk organik cair extragen
      = 100 ml/5 liter air
C2 = Pemberian pupuk organik cair extragen
      = 200 ml/5 liter air
C3 = Pemberian pupuk organik cair extragen
      = 300 ml/5 liter air

HASIL DAN PEMBAHASAN

Umur Muncul Bunga (hari)
              Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam, menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal beberapa varietas dan pemberian pupuk organik cair extragen, serta interaksi beberapa varietas dan pupuk organik cair extragen tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul bunga  melon.


Tabel 1. Hasil Rerata Umur Muncul Bunga Melon Dengan Uji Beberapa Varietas dan Pemberian Pupuk Organik Cair Extragen (hari)
FAKTOR
FAKTOR C

V
C0
C1
C2
C3
YV
V1
38,33
36,89
37,22
36,89
37,33
V2
38,00
35,77
36,77
36,55
36,78
V3
37,00
37,11
36,22
36,66
36,75
YC
38,17
36,33
37,00
36,72
37,05
KK=2,87%





Angka-angka pada baris da kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%
                                            
 

Dari Tabel 1 diatas menunjukkan perlakuan beberapa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap umur muncul bunga. Dari deskripsi varietas, varietas mai 119 umur muncul bunga 28 hari, hasil penelitian menunjukkan umur muncul bunga varietas ini yaitu (37,33 hari). Varietas glamuor umur muncul bunga yaitu 26 hari, hasil penelitian menunjukkan umur muncul bunga yaitu (36,78) hari. Varietas action 434 umur muncul bunga yaitu 25 hari, Hasil penelitian menunjukkan umur muncul bunga yaitu (36,75) hari.
Tidak berbedanya perlakuan beberapa varietas karena pengamatan umur muncul bunga dihitung mulai dari persemaian hingga tanam. Pada persemaian sampai bibit siap untuk ditanam membutuhkan waktu 10 hari. Sehingga umur muncul bunga yang ada pada deskripsi Mai 119- 28 hari, Glamuor 26, dan Action- 434 25 hari ditambah dengan umur bibit siap ditanam 10 hari. Maka umur muncul bunga menjadi 38 hari. Oleh karena itu rata-rata umur muncul bunga di atas 35 hari setelah tanam. 
Pada Tabel 1 menunjukkan perlakuan pupuk organik cair extragen secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap umur muncul bunga. Dimana hasil perlakuan C0 ( tanpa pemberian extragen) 38.17, C1 (100 ml) yaitu 36.33, C2 (200 ml) yaitu 37.00, C3 (300 ml) yaitu 36.72. Tidak berpengaruhnya pupuk organik cair extragen kerena pupuk organik ini dosis yang diberikan pada tanaman masih rendah dan rengnya masing terlalu dekat sehingga pupuk poc ini tidak berpengaruh nyata bagi tanaman melon. Selain itu, pupuk oganik cair extragen ini kandungan unsur hara makro (unsur hara nitrogen) kurang, padahal unsur hara nitrogen sangat berperan dalam pembentukan sel , jaringan , dan organ tanaman. Ia berfungsi sebagai sebagai bahan sintetis klorofil , protein , dan asam amino. Karena itu kehadirannya dibutuhkan dalam jumlah besar , terutama saat pertumbuhan vegetatif.  Bersama fosfor (P) , nitrogen digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Jika tanaman kekurangan unsur hara nitrogen dikenali dari daun bagian bawah. Daun itu menguning karena kekurangan klorofil. Lebih lanjut mengering dan rontok. Tulang-tulang di bawah permukaan daun muda tampak pucat. Pertumbuhan tanaman lambat , kerdil dan lemah (Muksin, 20013). Produksi bunga dan biji rendah. Tetapi ini hanya terjadi pada beberapa tanaman  saja yang mengalami pertumbuhan tanaman lambat, kerdil dan lemah.
Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan interaksi beberapa varietas dan pemberian pupuk organik cair exragen tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga, ini dikarenakan sifat genetik dari masing-masing varietas umur muncul bunga yang tidak jauh berbeda, dan dapat dilihat dari deskripsi tanaman. Sedangkan pupuk organik cair tidak berpengaruh karena telah terpenuhinya kebutuhan unsur hara tanaman dari pemberian pupuk anorganik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan tanaman umur muncul bunga yang tidak berbeda. Pemberian pupuk anorganik dapat merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya cabang, batang, daun, dan berperan penting dalam pembentukan hijau daun (Nyanjang, 2003). Pemupukan bertujuan mengganti unsur hara yang hilang dan menambah persediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk meningkatkan produksi dan mutu tanaman. Ketersediaan unsur hara yang lengkap dan berimbang yang dapat diserap oleh tanaman merupakan faktor yang menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Lebar Daun (cm)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan tunggal beberapa varietas dan pemberian pupuk organik cair extragen, serta interaksi beberapa varietas dan pupuk organik cair extragen tidak berpengaruh nyata terhadap lebar daun tanaman melon.

Tabel  2. Hasil Rerata Lebar Daun Melon dengan Uji Beberapa            Varietas dan Pemberian Pupuk Organik Cair Extragen  (cm)
FAKTOR
FAKTOR C

V
C0
C1
C2
C3
YV
V1
21,32
18,41
19, 85
19,80
19,84
V2
20,52
23,80
21,91
18,49
21,18
V3
21,98
18,71
21,48
20,57
20,69
YC
20,92
21,10
20,88
19,14
20,51
KK=9,66%





Angka-angka pada baris da kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%



Dari Tabel 2 di atas perlakuan beberapa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap lebar daun melon, dilihat dari deskripsi ke 3 varietas tersebut lebar daunnya rata-rata 18,83 cm, lebar daun varietas mai- 119 hasil penelitian yaitu (19,84 cm), varietas glamuor lebar daun  yaitu (21,18 cm) dan varietas action- 434 lebar daun (20,69 cm). Tidak berpengaruhnya varietas terhadap lebar daun melon  karena sewaktu penelitan ini sering terjadi hujan dan angin kencang yang terjadi pada malam hari sehingga tanaman melon tidak sepenuhnya mendapatkan cahaya matahari yang cukup, padahal tanaman melon harus mendapatkan cahaya matahari 10-12 jam/hari. Suhu tanaman melon untuk siang hari adalah 26°C dan malam hari <20°C, Suhu ini berpengaruh terhadap fisiologi tumbuhan antara lain bukaan stomata, laju transpirasi, laju penyerapan air dan nutrisi, fotosintesis, dan respirasi. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghambat proses pertumbuhan. Sesuai dengan pendapat (Desynur, 2012) Kekurangan cahaya matahari akan mengganggu proses fotosintesis dan pertumbuhan, meskipun kebutuhan cahaya tergantung pada jenis tumbuhan. Selain itu, kekurangan cahaya saat perkembangan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi, dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya berukuran kecil, tipis dan berwarna pucat ( tidak hijau). Selain sering terjadi hujan pada siang dan malam hari, juga tedapat pohon pisang dan pohon kelapa yang menyebabkan kurangnya cahaya yang diterima oleh tanaman melon, tetapi gejala ini hanya terjadi pada beberapa tanaman saja yang terdapat pada blok  I dan II pada barisan paling belakang.
Perlakuan pupuk organik cair extragen secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap lebar daun melon. Hasil penelitian adalah C0 (tanpa pemberian pupuk organik cair extragen) yaitu 20.92 cm,  perlakuan C1 (100 ml) lebar daun yaitu 21.10 cm, C2 (200 ml) lebar daun yaitu 20.88, dan C3 (300ml) lebar daun yaitu 19,84. Tidak berpengaruhnya lebar daun ini disebabkan karena di lihat dari tanah atau lahan tempat penelitian ini yaitu tanahnya sedikit bertekstur pasir. Tanah dengan tekstur dominan pasir ini cenderung mudah melepas unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Dalam keadaan tanah seperti ini, pertumbuhan akar tanaman akan berkembang dengan baik. Akar mudah untuk melakukan penetrasi ke dalam tanah. Drainase dan aerasi pada tekstur tanah dominan berpasir ini cukup baik, namun tekstur tanah ini cenderung mudah melepas unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Tanaman akan sulit mendapatkan unsur hara, dan pertumbuhan tanaman akan terganggu (Hariono, 2013). Untuk pertumbuhan tanaman yang baik, tanah dengan aerasi, drainase, serta kemampuan menyimpan air maupun unsur hara yang baik harus memiliki komponen pasir, debu, dan liat yang seimbang. Sehingga tanaman mampu tumbuh dalam keadaan yang optimal.
Interaksi beberapa varietas dan pemberian pupuk organik cair exragen tidak berpengaruh nyata terhadap lebar daun tanaman melon, ini disebabkan karena pupuk organik cair extragen yang diberikan rengnya terlalu dekat. Selain itu pemberian pupuk anorganik yang telah cukup menyedakan unsur hara tanaman melon. Fungsi dari pupuk anorganik ini dapat merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya cabang, batang, daun, dan berperan penting dalam pembentukan hijau daun (nyanjang, 2003).

Lingkar Buah (cm)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam  menunjukkan perlakuan beberapa varietas secara tunggal dan perlakuan interaksi beberapa varietas dengan pupuk organik cair extragen tidak memberikan pengaruh  nyata terhadap lingkar buah tanaman melon. Sedangkan perlakuan pupuk organik cair extragen secara tunggal berpengaruh nyata terhadap lingkar buah melon.



Tabel  3.        Hasil Rerata Lingkar Buah Tanaman Melon  dengan Uji Beberapa Varietas dan Pemberian Pupuk Organik Cair Extragen (cm)
FAKTOR
FAKTOR C

V
C0
C1
C2
C3
YV
V1
41,99
42,79
44,20
43,32
43,07
V2
42,11
43,54
44,05
44,55
43,56
V3
41,75
44,01
44,39
45,89
44,01
YC
42,05 b
43,16 ab
44,13 a
43,94 ab
43,32
KK=3,66%
BNJC=2,06




Angka-angka pada baris da kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%
           

Dari Tabel 3 diatas perlakuan beberapa varietas secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap lingkar buah melon, deskripsi dari masing-masing varietas yaitu rata-rata 31,33 cm. Hasil penelitian menunjukkan, varietas mai- 119 (43,07 cm), varietas glamuor (43,56 cm), varietas action- 434 (44,01 cm). Hasil penelitian menunjukkan lingkar buah lebih besar dari deskripsi dari masing-masing varietas. Hal ini disebabkan karena pemberian pupuk anorganik dan organik yang diberikan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Sehingga tanaman tidak kekurangan unsur hara. Apabila ketersedian unsur hara telah terpenuhi maka akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tanaman. Menurut pahan (2012) pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat di pengaruhi oleh ketersediaan unsur hara yang berada dalam tanah. Ditambahkan winarso (2005) bila unsur hara yang ada dalam tanah sudah tersedia dengan cukup dan sesuai dengan kebutuhan tanaman, maka dapat dimanfaatkanoleh tanaman untuk pertumbuhannya.
Tidak berpengaruhnya varietas terhadap lingkar buah melon dari hasil penelitian diduga karena ketiga macam varietas sama-sama varietas unggul, dan memiliki respon yang sama terhadap pemupukan, serta karena hidup pada lingkungan yang sama. Selain itu ketiga varietas mempunyai pertumbuhan yang relatif sama (berdasarkan deskripsi masing-masing varietas). Sehingga ketiga varietas mempunyai susunan genetik yang relatif sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Sitompul dan Guritno (2001) bahwa bahan tanam dengan susunan genetik yang relatif seragam memungkinkan menghasilkan dua tanaman yang hidup berdampingan memberikan tanggapan yang sama terhadap perubahan lingkungan.
Dari Tabel 3 diatas, menunjukkan bahwa Perlakuan pupuk organik cair extragen secara tunggal berpengaruh nyata terhadap lingkar buah melon. Perlakuan C2 (200 ml) tidak berbeda nyata dengan perlakuan C3 (300 ml), dan C1 (100 ml), tetapi berbeda dengan perlakuan C0 (tanpa pemberian extragen), perlakuan terbaik pemberian dosis extragen ialah pada perlakuan C2 (200 ml). Pada perlakuan ini lingkar buahnya yang paling besar (44,13) hal ini  disebabkan kerena dosis yang diberikan ketanaman tidak berlebihan dan juga tidak kekurangan (optimal). Jika tanaman diberikan dengan dosis yang sesuai maka tanaman akan tumbuh dengan baik dan sempurnna. Sesuai dengan pendapat (Leira, 2012) menyatakan tanaman akan tumbuh dengan baik apabila tersedia cukup unsur hara dalam tanah dan pemberian dosis pupuk yang tidak berlebihan.
 Perlakuan terendah dari pemberian pupuk organik cair extragen yaitu pada perlakuan C0 (tanpa pemberian pupuk organik cair extragen). Pada perlakuan ini lingkar buahnya yang paling kecil (42,05) hal ini disebabkan karena kekurangan unsur hara yang diberikan pada tanaman. Jika suatu tanaman kekurangan salah satu unsur hara maka tanaman tersebut pertumbuhannya tidak akan berkembang dengan sempurnna. Sesuai dengan pendapat (Mukhsin, 2013) kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sebagaimana mestinya yaitu ada kelainan atau penyimpangan-penyimpangan dan banyak tanaman yang mati muda gejala kekurangan  ini cepat atau lambat akan terlihat pada tanaman, tergantung pada  jenis dan sifat tanaman.  
Dari Tabel 3 menunjukkan perlakuan interaksi beberapa varietas dan pemberian pupuk organik cair exragen tidak berpengaruh nyata terhadap lingkar buah tanaman melon, ini dikarenakan pupuk organik cair extragen kandungan unsur hara makro yang sedikit, padahal unsur hara makro ini sangat dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar dibandingkan dengan unsur hara mikro. Beberapa contoh unsur hara makro diantaranya : Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S), unsur hara ini dalam kandungan pupuk organik cair extragen sangat sedikit oleh sebab itu pupuk ini tidak berpengaruh nyata terhadap lingkar buah melon. Sesuai dengan pendapat (Mukhsin, 2011) salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan lajunya pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman adalah tersedianya unsur-unsur hara yang cukup di dalam tanah.

Berat buah (kg)

Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan beberapa varietas secara tunggal dan perlakuan interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap berat buah tanaman melon, sedangkan perlakuan pupuk organik cair extragen memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat buah tanaman melon.


Tabel  4.      Hasil Rerata Berat Buah Melon dengan Uji Beberapa Varietas dan   Pemberian Pupuk Organik Cair Extragen  (kg)
FAKTOR
FAKTOR C

V
C0
C1
C2
C3
YV
V1
1,21
1,31
1,33
1,35
1,30
V2
1,26
1,35
1,41
1,43
1,36
V3
1,22
1,41
1,42
1,54
1,40
YC
1,24 b
1,33 ab
1,37 a
1,39 a
1,33
KK=7,40%
BNJC=0,11




Angka-angka pada baris da kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%


Dari Tabel 4  di atas uji beberapa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap berat buah melon, dari deskripsi varietas, varietas varietas Mai-119  2,5 kg hasil penelitian adalah (1,30 kg), varietas glamuor 1,36 kg hasil penelitian adalah (1,36 kg), dan action- 434 ( 2,5 kg) hasil penelitiannya yaitu 1,40 kg. Rendahnya berat buah hasil penelitian disebabkan oleh panen belum pada waktunya akibat dari bencana alam (banjir) sehingga panen di percepat yaitu umur 59 hari. Dimana  deskripsi varietas menyebutkan umur panen melon dari beberapa varietas yang digunakan adalah 65 hari. Tanaman melon terendam banjir dengan kedalaman yaitu 1 m. Lamanya waktu tanaman melon terendam banjir ialah 3 hari. Bila air yang tergenang selama beberapa hari dapat menyebabkan akar tidak dapat melaksanakan respirasi normal aerob namun terjadi respirasi anaerob. (Resosoedarmo, 2010). Selain terendam banjir pemberian pupuk organik cair extragen tidak sesuai dengan perlakuan yang sudah ditetapkan, perlakuan yang ditetapkan yaitu 4 kali perlakuan pemupukan, tetapi cuma dilakukan 3 kali pemupukan kerena melon sudah terkena banjir. Apabila pemupukan tidak sesuai dengan yang di terapkan dalam pemupukan maka tanaman tidak akan tumbuh dengan normal. Sesuai dengan pendapat Soegiman (1982) menegaskan bahwa tidak seimbangnya takaran pupuk yang diberikan dapat menurunkan hasil.
Perlakuan pupuk organik cair extragen secara tunggal  berpengaruh nyata terhadap berat buah melon. Dari hasil penelitian, perlakuan C3 (300 ml) tidak berbeda nyata dengan perlakuan C2 (200 ml), dan C1 (100 ml), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan C0 (tanpa pemberian extragen). Perlakuan yang paling tinggi adalah perlakuan C3 (300 ml). Ini disebabkan karena dosis pupuk yang diberikan seimbang, dan tidak kekurangan unsur hara. Sesuai dengan pendapat (Mukhsin, 2011) Salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan lajunya pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman adalah tersedianya unsur-unsur hara yang cukup di dalam tanah.
Untuk perlakuan perlakuan terendah yaitu  C0 (tanpa pemberian pupuk organik cair extragen) oleh karena itu unsur hara yang ada dalam tanah berkurang. Jika tanaman kekurang unsur hara maka tanaman tidak akan tumbuh dengan baik dan pertumbuhannya tidak optimal. Menurut pendapat Sarif (1986) menyatakan bahwa tanaman yang kekurangan unsur hara akan mengakibatkan lebih lambat akan tetapi sebaliknya apabila unsur hara yang diberikan dalam jumlah yang cukup besar maka dapat merusak tanaman itu sendiri.
Berpengaruhnya pupuk organik cair extragen terhadap berat buah melon disebabkan pupuk organik cair extragen memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro serta ZPT. Fungsi dari unsur hara makro dan mikro ini adalah untuk proses pertumbuhan, perkembangan, dan meningkatkan hasil yang optimal. Menurut pendapat Iskandar, (2003) menyatakan tanaman akan tumbuh dengan baik apabila tersedia cukup unsur hara bagi tanaman. Pemberian nutrisi merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhana hara, tujuan ini baru akan tercapai bila memperhatikan konsentrarasi dalam pemberian nutrisi dan unsur hara yang dikandung.
Interaksi beberapa varietas dan pemberian pupuk organik cair exragen tidak berpengaruh nyata terhadap berat buah tanaman melon, ini dikarenakan pupuk organik yang telah diberikan pada tanaman sudah terbawa oleh  air banjir. (Hariono, 2013) disebutkan bahwa keberadaan air berdasarkan klasifikasi biologi air di dalam tanah ada tiga bentuk yaitu : air kelebihan, air tersedia dan air tidak tersedia. Pada umumnya kelebihan air yang terikat pada kapasitas lapangan tidak menguntungkan tanaman tingkat tinggi. Bila terlalu banyak air, keadaannya merugikan pertumbuhan dan menjadi lebih buruk ketika mencapai titik jenuh. Pengaruh buruk yang lain dari kelebihan air adalah terlindinya unsur hara bersama gerakan air tersebut ke bawah.

KESIMPULAN

1.         Uji berbagai varietas secara tunggal tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati.  
2.         Uji pemberian pupuk organik cair extragen secara tunggal tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter penggamatan umur muncul bunga dan lebar daun, tetapi berpengaruh nyata terhadap lingkar buah dan berat buah melon. Perlakuan terbaik lingkar buah C2 (pupuk organik cair extragen 200ml yaitu 44,13 cm) dan berat buah C3 (pupuk organik cair extragen 300ml yaitu 1,39 kg).
3.         Uji berbagai varietas dan pemberian pupuk organik cair extragen secara interaksi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati.

DAFTAR PUSTAKA

Desynur, 2012. Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan Tanaman. Jakarta.
Hery N, 2007. Budidaya Melon. Azka press. Jakarta
Leira, 2012. Pupuk dan pemupukan. Bharata Karya Aksara. Jakarta
Mukhsin, 2013.  Akibat Kekurangan Unsur Hara. Bharata Karya Aksara. Jakarta
Nyanjang, R., A. A. Salim., Y. Rahmiati. 2003. Penggunaan Pupuk Majemuk NPK 25-7-7 Terhadap Peningkatan Produksi Mutu Pada Tanaman Teh Menghasilkan di Tanah Andisols. PT. Perkebunan Nusantara XII. Prosiding Teh Nasional. Gambung. Hal 181- 185.
Pahan, I. 2012. Manajemen Agribisnis Dari Hulu Hingga Hilir, Penebar Swadaya, Jakarta.
Rizqi, 2009. Manfaat Buah Melon . Penebar Swadaya. Jakarta.
Rianto, 2011. pupuk cair organik Extragen. PT Indoraya Mitra Persada 168. Jakarta
Resosoedarmo, 2010. Pengantar Ekologi. Bandung : Remaja Karya.
Siregar Firmansyah dan Sobir, 2010. Budidaya Melon Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta
Soegiman.1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara. Jakarta
Sitompul, S.M dan Guritno, B. 2001. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Yogyakarta: UGM Press
Soedarya, Arif. 2010. Agribisnis Melon. Pustaka Grafika. Bandung.
Tsabita, 2011. Pemakian Pupuk organik extragen. Bharatama Karya Aksara. Jakarta
Winarso, S., 2005. Kesuburan Tanah ; Dasar Kesehatan  dan Kualitas Tanah. Penerbit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar