Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 85-90


PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN KATUK (SAOUROPUS ANDROGINUS) DAN EKSTRAK TEMULAWAK (CURCUMA XANTHORIZA) DALAM AIR MINUM TERHADAP PERFORMANS AYAM BROILER

Reski, Muslim dan Yoshi Lia Anggrayni
Program Studi Peternakan Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau

ABSTRACT

The purpose of this research is to know the effect of pe addition of cinnamon leaf extract (Sauropus androgynous) and ginger extract (Curcuma xanthoriza) in the drinking water on performance (feed intake, body weight gain and feed conversion) of broiler chickens. This research was conducted for 35 days beginning on the date of 07 February to 13 March 2014, located in the village of Koto Kari Central District of Kuantan Kuantan District Singingi. These research tools used are stables, a drink and feed, lights, buckets, lime, disinfectants , mortar and scales. While the material in this study was a strain of broiler chickens as much as 80 tails Lohman, cinnamon leaf extract, ginger extract, feed and drinking water. The method used in this study is an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and consists of A (0% control), B (2% cinnamon leaf extract), C (2% extract of ginger) and D (1% ekstak cinnamon leaf and 1% extract of ginger) with 5 replicates each replication consisted of 4 broiler chickens. Parameters measured included feed intake, body weight gain and feed conversion. The results showed that the addition of leaf extract treatments cinnamon and ginger extract had no significant effect (P> 0.05) on feed intake, body weight gain, feed conversion. Treatment in feed consumption are highest in treatment D (1% cinnamon leaf extract and 1% extract of ginger) is 74.88 g / head / day, the body weight gain was highest in treatment D (1% cinnamon leaf extract and 1% extract of ginger) ie 46.87 g / head / day, feed conversion was lowest for the D treatment (1% cinnamon leaf extract and 1% extract of ginger) is 1.60.

Keywords: cinnamon Leaf Extract, Ginger Extract, performance, Broiler.


PENDAHULUAN

Ayam broiler adalah salah satu jenis ternak yang memberikan kontribusi cukup besar dalam memenuhi kebutuhan protein asal hewani masyarakat Indonesia. Setiap tahunnya kebutuhan masyarakat akan daging ayam broiler terus meningkat. Peningkatan ini terjadi karena daging ayam broiler ini harganya hampir terjangkau oleh semua kalangan masyarakat.
Ayam broiler merupakan salah satu jenis ternak unggas yang memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat. Pada umur 5 – 6 minggu ayam broiler sudah bisa dipanen. Ayam broiler atau dikenal juga dengan ayam ras pedaging merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Pemeliharaan broiler hanya membutuhkan waktu yang singkat. Ayam broiler mampu memproduksi daging secara optimal dengan hanya mengkonsumsi ransum dalam jumlah relatif sedikit.
Pakan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan reproduksi ternak. Pakan ternak cenderung memiliki harga yang meningkat akan tetapi produksi bersifat fruktuatif sehingga peternak berupaya dalam penggunaan pakan. Ransum merupakan gabungan dari beberapa bahan yang disusun sedemikian rupa dengan formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak selama satu hari dan tidak mengganggu kesehatan ternak. Ransum dapat dinyatakan berkualitas baik apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi ternak. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam formulasi ransum  broiler adalah kebutuhan protein, energi, serat kasar, Ca dan P. Komponen nutrient tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi broiler terutama untuk  pertumbuhan dan produksi daging. Selain itu diperlukan tambahan feed additive kedalam ransum maupun dalam air minum untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh  ayam broiler.
 Feed additive yang ditambahkan pada umumnya menggunakan antibiotik. Fungsi  feed additive  adalah untuk menambah vitamin-vitamin, mineral, dan antibiotik dalam ransum, memperbaiki konsumsi, meningkatkan daya cerna, meningkatkan dan menjaga daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit dan pengaruh stress, merangsang pertumbuhan badan (pertumbuhan daging menjadi baik), meningkatkan nafsu makan, dan meningkatkan produsi daging maupun telur. Penggunaan antibiotik sebagai feed additive menghasilkan residu dalam karkas  broiler. Apabila daging ayam dikonsumsi dikhawatirkan akan menjadi resistensi terhadap antibiotik.
Beberapa efek yang mungkin timbul pada manusia akibat residu antibiotik, antara lain alergi, menyebabkan gangguan kulit, kardiovaskuler, traktus gastrointestinalis, diare dan sakit perut serta urtikaria dan hipotensi. Hal tersebut menyebabkan munculnya masalah kesehatan baru bagi manusia yang mengkonsumsi daging ayam. Bukan hanya masalah kadar kolesterol yang tinggi dalam kandungan daging ayam tetapi juga akan timbul masalah jika manusia mengkonsumsi daging ayam yang mengandung residu antibiotik. Oleh karena itu masyarakat sudah mulai menghindari penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan atau feed additive. Maka diperlukan feed additive yang bukan antibiotik.
Salah satu feed additive alami yang berpotensi untuk menggantikan feed additive komersial adalah daun katuk (Sauropus androgynus) dan tanaman herbal seperti temulawak (Curcuma xanthorriza).  Berdasarkan hasil penelitian, daun katuk kaya akan β- karoten yaitu sebanyak 10.020 µg (Santoso et al., 2008). Ini berarti pemberian ekstrak daun  katuk dapat meningkatkan kadar pigmen terutama β-karoten dalam karkas broiler. Selain itu, β-karoten sebagai provitamin A dapat diubah menjadi vitamin A.
Tanaman katuk juga disamping mengandung vitamin A juga mengandung vitamin E dan vitamin C. Kandungan vitamin A pada daun katuk dapat memberikan warna karkas dan warna kuning telur yang lebih baik. Peranan vitamin E dan C yang terkandung di dalam daun katuk berfungsi pada reproduksi unggas, meningkatkan performans (efisiensi penggunaan pakan dan pertambahan berat badan), meningkatkan produksi telur, memperkuat status imunoglobin, serta meningkatkan kandungan vitamin E dan C pada produk pangan asal hewani sehingga asupan vitamin E dan C pada konsumen meningkat.
Temulawak (Curcuma xanthorriza) juga telah lama dikenal sebagai tumbuhan herbal yang mengandung zat aktif xanthorrhiza, kurkumin / kurkuminoid, dan minyak atsiri (Sidik, 2006), yang berfungsi sebagai antibakteri dan dapat menghambat pertumbuhan jamur, sekaligus sebagai zat antioksidan. Temulawak adalh jenis tanaman yang bisa digunakan untuk menggantikan antibiotik sintetik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak  daun katuk dan ekstrak temulawak dalam air minum terhadap performans (konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum dan mortalitas) ayam broiler.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat
            Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2014 sampai tanggal 13 Maret 2014, bertempat di Desa Koto Kari Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi.

Alat dan Bahan
Alat-alat yang  digunakan adalah kandang koloni (colony cage) yang terbuat dari kayu yang  berdinding kawat dan berukuran 8m x 4m x 4m (PxLxT) yang dibagi menjadi 20 petak dan tiap petak berukuran 0.6m x 0.6m x 0.6m, tiap petak masing-masing dilengkapi dengan tempat makan dan minum, bola lampu pijar 25 watt, sekam, serta peralatan lain seperti timbangan digital dan dengan kapasitas 1 gr dan 50 gr, cutter, pisau, kompor, panci, gilingan sampel, lesung.
Bahan akan yang digunakan pada penelitian ini adalah Day Old Chick (DOC) umur 1 hari sebanyak 80 ekor, ayam broiler yang digunakan adalah strain Lohman yang didatangkan dari Pekanbaru. Pakan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Vivo 311 dan Vivo 512. Daun katuk dan Temulawak.

Metode Penelitian
            Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap  yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak daun katuk dan ekstrak temulawak dengan dosis pemberian sebagai berikut :

A0 : (Kontrol)
B1 : 2% Ekstrak Daun Katuk Dalam Air Minum
C2 : 2% Ekstrak Temulawak Dalam Air Minum
D3 : 1% Ekstrak Daun Katuk + 1% Ekstrak Temulawak Dalam Air Minum

         Data diuji statistis dan diuji lanjut DNMRT pada taraf 5%.




HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Ransum
Berdasarkan data pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa rataan konsumsi ransum ayam broiler yaitu 73.63 gr/ekor/hari, dengan urutan tertinggi sampai terendah adalah perlakuan D (1% daun katuk + 1% temulaawak) yaitu 74.88 gr/ekor/hari, perlakuan B (2% daun katuk) yaitu 73.33 gr/ekor/hari, perlakuan C (2% temulawak) yaitu 73.28 gr/ekor/hari, perlakuan A (0% kontrol) yaitu 72.94 gr/ekor/hari. Hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pemberian daun katuk dan temulawak dalam air minum tidak nyata (P>0.05) terhadap konsumsi ransum ayam broiler strain lohmann.
Rataan konsumsi ransum ayam broiler strain lohmann yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.        

      
Tabel 1. Rataan Konsumsi Ransum Ayam Broiler Selama Penelitian
Perlakuan
Konsumsi Ransum (gr/ekor/hari)
A  (Kontrol)
72.94
B  (2% Daun Katuk)
73.33
C  (2% Temulawak)
73.38
D (1%Daun Katuk+1% Temulawak )
74.88
Rata-rata
73.63


Konsumsi ransum yang paling rendah adalah perlakuan A (0% kontrol) yaitu 72.94 gr/ekor/hari, sedangkan konsumsi paling tinggi diperoleh pada perlakuan D (1% daun katuk + 1% temulawak) yaitu 74.88 gr/ekor/hari, hal ini disebabkan karena daun katuk mempunyai zat gizi tinggi, sebagai antibakteri, dan mengandung β-karoten sebagai zat aktif warna karkas serta meningkatkan sistem imun dalam tubuh sehingga dapat memperbaiki konsumsi ransum dan meningkatkan daya cerna dalam tubuh (Santoso, 2009).
Sedangkan temulawak mengandung xantorriza, kurkumin dan minyak atsiri (Sidik, 2006), yang mana zat ini mampu meningkatkan nafsu makan, memperbaiki kecernaan, penyerapan zat-zat makanan, sebagai antibakteri dan dapat menghambat pertumbuhan jamur sekaligus sebagai antioksidan.

Pertambahan Bobot Badan
Rataan pertambahan bobot badan ayam broiler strain lohmann yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Rataan Pertambahan Bobot Badan Ayam Selama Penelitian
                        Perlakuan
      Pertambahan Bobot Badan
                (gr/ekor/hari)
      A  (0% Kontrol)
                   42.95
      B  (2% Daun Katuk)
                   44.85
      C  (2% Temulawak)
                   44.95
      D  (1% Daun Katuk+1% Temulawak )
                   46.87
      Rata-Rata
                   44.90


Berdasarkan data pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa rataan pertambahan bobot badan ayam broiler dari urutan tertinggi sampai terendah adalah D (1% Daun katuk + 1% Temulawak) yaitu 46.87 gr/ekor/hari, perlakuan C (2% Temulawak) yaitu 44.95 gr/ekor/hari, perlakuan B (2% Daun katuk) yaitu 44.85 gr/ekor/hari, dan perlakuan A (Kontrol) 42.95 gr/ekor/hari. Hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pemberian daun katuk dan temulawak dalam air minum tidak nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler strain lohmann.
Tingginya pertambahan bobot badan pada perlakuan D (1% Daun katuk + 1% Temulawak) yaitu 46.87 disebabkan karena adanya kombinasi antara daun katuk dan temulawak, yang mana daun katuk mengandung zat gizi tinggi, sebagai antibakteri, antimikroba, dan mengandung β-karoten sebagai zat aktif warna karkas serta meningkatkan sistem imun dalam tubuh (Santoso, 2009). Sedangkan temulawak mengandung xantorriza, kurkumin, dan minyak atsiri (Sidik, 2006), yang mana zat ini mampu meningkatkan nafsu makan, memperbaiki kecernaan, penyerapan zat-zat makanan, sebagai antibakteri dan dapat menghambat pertumbuhan jamur sekaligus sebagai antioksidan. Berbeda  tidak nyatanya pertambahan bobot badan  yang diperoleh selama penelitian diduga disebabkan karena konsumsi ransum yang tidak menunjukan berpengaruh nyata sehingga jumlah zat makanan yang dicerna dan diserap tubuh untuk penbentukan sel dan jaringan menjadi lebih sedikit. Hal ini juga diduga disebabkan karena perbedaan bangsa ataupun genetik, dan bentuk ransum yang digunakan. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Rasyaf (1992), bahwa pertambahan bobot badan unggas dipengaruhi oleh faktor keturunan, kuantitas dan kualitas pakan yang di berikan dan penyakit. Suprijatna et al, (2005) pertumbuhan ayam broiler dipengaruhi oleh faktor genetik, dimana masing-masing ternak mempunyai kemampuan tumbuh yang berbeda-beda.

Konversi Ransum
Rataan konversi ransum ayam broiler penggunaan daun katuk dan temulawak dalam ransum yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.


Tabel 3. Rataan Konversi Ransum Ayam Broiler Selama Penelitian
                     Perlakuan
Konversi Ransum
   A (Kontrol)
1.70
   B (2 % Daun katuk)
1.64
   C (2 % Temulawak)
1.63
   D (1% Daun katuk +1%Temulawak)
1.60
   Rata-Rata
1.64


Hasil analisis ragam dapat dilihat bahwa pemberian daun katuk dan temulawak memberikan pengaruh tidak nyata (P>0.05). Konversi ransum terendah adalah pada perlakuan D (1% Daun katuk+1% Temulawak) yaitu 1.60. Perlakuan tertinggi adalah perlakuan A (Kontrol) yaitu 1.70. Rendahnya konversi ransum pada perlakuan D (1% Daun katuk+1% Temulawak) karena konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan dalam perlakuan ini juga tertinggi. Konversi ransum merupakan perbandingan antara konsumsi ransum dengan pertambahan bobot badan pada waktu bersangkutan.
Menurut Rasyaf (1991), konversi ransum dapat digunakan sebagai gambaran koefisien produksi, semakin kecil nilai konversi  semakin efisien penggunaan ransum dan demikian sebaliknya baik buruknya konversi ransum dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya mutu ransum, kesehatan ternak dan tata cara pemberian ransum.
Konversi ransum yang diperoleh selama penelitian yaitu perlakuan A (kontrol) yaitu 1.70, untuk perlakuan B (2% Daun katuk) yaitu 1.64, sedangkan perlakuan C (2% Temulawak) yaitu 1.63 dan perlakuan D (1% Daun katuk dan 1% Temulawak) yaitu 1.60. Tinggi rendahnya nilai konversi ransum sangat dipengaruhi oleh konsumsi ransum dan penambahan bobot badan (Muis et al., 2010 dan Zahra et al., 2012).Sagala (2009) menambahkan bahwa semakin baik kualitas ransum, semakin kecil pula nilai konversi ransumnya. Ditambahkan oleh Siregar et  al, (1992), bahwa semakin kecil angka konversi ransum maka semakin baik efisiensi penggunaan pakan.


KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ayam broiler selama 5 minggu. Semua perlakuan tidak beerpengaruh nyata (P>0.05). Perlakuan terbaik dalam penelitian ini terdapat pada perlakuan D (1 % ekstrak daun katuk + 1% ekstrak temulawak) yaitu konsumsi ransum 74.88 gr/ekor/hari, pertambahan bobot badan 46.87 gr/ekor/hari dan penurunan konversi ransum 1.60.

SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan level pemberian yang berbeda terutama pada perlakuan ekstrak daun katuk dan ekstrak temulawak dan pencampuran antara ekstrak daun katuk dan ekstrak temulawak.

DAFTAR PUSTAKA

Muis, H., Mirnawati dan I. Martaguri. 2010. Pemanfaatan Ampas Susu Kedelai Fermentasi Sebagai Pengganti Protein Bungkil Kedelai Dalam Ransum Broiler. Jurnal Embrio. 3 : 89 – 97.
Rasyaf, M. 1991. Memelihara Ayam Broiler. Cetakan Kesembilan.Yayasan             Kanisius. Yogyakarta.
               .  1992. Pengolahan Peternakan Unggas Pedaging. Kanisius. Yogyakarta.
Sagala, N. R. 2009. Pemanfaatan Semak Bunga Putih (Chromolena odorata) terhadap Pertumbuhan dan IOFC dalam Ransum Burung Puyuh (Coturnix coturnixjaponica) Umur 1 Sampai 42 Hari.Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Santoso. Y. Fenita dan Kususiyah. 2008. Penggunaan Ekstrak Air Daun Katuk sebagai Feed Additive untuk Memproduksi Meat Designers yang Efisien. Laporan Riset Unggulan Universitas. Universitas Bengkulu. Bengkulu.
__________. 2009. Manfaat Daun Katuk Bagi Kesehatan Manusia dan Produktivitas Ternak. http://uripsantoso.wordpress.com/2009/08/24/ manfaat-daun-katuk-bagi-kesehatan-manusia-dan-produktivitas-ternak/.
Sidik. 2006. Gerakan Nasional Minum Temulawak. http://www.majalah-farmacia.com. [28 April 2010]
Sidik, M. W., Moelyono dan A. Muchtadi. 1995. Temulawak, Curcuma xanthorriza Roxb. Seri Pustaka Tanaman Obat dan Bahan Alam. Phyto Medica.
Siregar, A. P., M. C. Sarbani dan P. Suroparwiro. 1992. Teknik beternak ayam pedaging di Indonesia. Margie Group. Jakarta.
Suprijatna, E., U. Atmomarsono., dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Zahra, A. A., D. Sunarti dan E. Suprijatna. 2012. Pengaruh pemberian pakan bebas pilih (Free choice feeding) terhadap performans produksi telur burung puyuh (Coturnix coturnix japonica). Animal Agricultural Journal. 1: 1 – 11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar