PENGARUH PENAMBAHAN
EKSTRAK DAUN KATUK (SAOUROPUS ANDROGINUS)
DAN EKSTRAK TEMULAWAK (CURCUMA
XANTHORIZA) DALAM AIR MINUM TERHADAP PERFORMANS AYAM BROILER
Reski, Muslim dan
Yoshi Lia Anggrayni
Program Studi Peternakan Universitas Islam Kuantan Singingi Teluk Kuantan Jln. GatotSubroto KM 7 Jake
Teluk Kuantan, Riau
ABSTRACT
The
purpose of this research is to know the effect of pe addition of cinnamon leaf
extract (Sauropus androgynous) and ginger extract (Curcuma
xanthoriza) in the drinking water on performance (feed intake, body weight
gain and feed conversion) of broiler chickens. This research was
conducted for 35 days beginning on the date of 07 February to 13 March 2014,
located in the village of Koto Kari Central District of Kuantan Kuantan
District Singingi. These research tools used are stables, a drink and feed,
lights, buckets, lime, disinfectants , mortar and scales. While the material in
this study was a strain of broiler chickens as much as 80 tails Lohman,
cinnamon leaf extract, ginger extract, feed and drinking water. The method used in
this study is an experimental method using a completely randomized design (CRD)
with 4 treatments and consists of A (0% control), B (2% cinnamon leaf extract),
C (2% extract of ginger) and D (1% ekstak cinnamon leaf and 1% extract of
ginger) with 5 replicates each replication consisted of 4 broiler chickens. Parameters measured
included feed intake, body weight gain and feed conversion. The results showed
that the addition of leaf extract treatments cinnamon and ginger extract had no
significant effect (P> 0.05) on feed intake, body weight gain, feed
conversion. Treatment
in feed consumption are highest in treatment D (1% cinnamon leaf extract and 1%
extract of ginger) is 74.88 g / head / day, the body weight gain was highest in
treatment D (1% cinnamon leaf extract and 1% extract of ginger) ie 46.87 g /
head / day, feed conversion was lowest for the D treatment (1% cinnamon leaf
extract and 1% extract of ginger) is 1.60.
Keywords:
cinnamon Leaf Extract, Ginger Extract, performance, Broiler.
PENDAHULUAN
Ayam broiler adalah salah satu jenis ternak yang
memberikan kontribusi cukup besar dalam memenuhi kebutuhan protein asal hewani
masyarakat Indonesia. Setiap tahunnya kebutuhan masyarakat akan daging ayam broiler terus meningkat. Peningkatan ini terjadi karena
daging ayam broiler ini harganya hampir terjangkau
oleh semua kalangan masyarakat.
Ayam broiler merupakan salah satu jenis ternak unggas
yang memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat. Pada umur 5 – 6 minggu ayam
broiler sudah bisa dipanen. Ayam broiler
atau dikenal juga dengan ayam ras pedaging merupakan jenis ras unggulan hasil
persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi,
terutama dalam memproduksi daging ayam. Pemeliharaan broiler hanya membutuhkan
waktu yang singkat. Ayam broiler
mampu memproduksi daging secara optimal dengan hanya mengkonsumsi ransum dalam
jumlah relatif sedikit.
Pakan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok,
pertumbuhan dan reproduksi ternak. Pakan ternak cenderung memiliki harga yang
meningkat akan tetapi produksi bersifat fruktuatif sehingga peternak berupaya dalam penggunaan pakan. Ransum
merupakan gabungan dari beberapa bahan yang disusun sedemikian rupa dengan
formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak selama satu hari dan tidak
mengganggu kesehatan ternak. Ransum dapat dinyatakan berkualitas baik apabila
mampu memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah,
serta imbangan nutrien tersebut bagi ternak. Faktor penting yang harus
diperhatikan dalam formulasi ransum
broiler adalah kebutuhan protein, energi, serat kasar, Ca dan P.
Komponen nutrient tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi broiler
terutama untuk pertumbuhan dan produksi
daging. Selain itu diperlukan tambahan feed
additive kedalam ransum maupun dalam air minum untuk meningkatkan
pertumbuhan dan daya tahan tubuh ayam
broiler.
Feed
additive yang ditambahkan pada umumnya menggunakan antibiotik.
Fungsi feed additive adalah untuk menambah vitamin-vitamin,
mineral, dan antibiotik dalam ransum, memperbaiki konsumsi, meningkatkan daya cerna, meningkatkan dan menjaga
daya tahan tubuh terhadap
serangan penyakit dan pengaruh stress, merangsang pertumbuhan badan
(pertumbuhan daging menjadi baik), meningkatkan nafsu makan, dan meningkatkan
produsi daging maupun telur. Penggunaan antibiotik sebagai feed additive menghasilkan
residu dalam karkas broiler. Apabila
daging ayam dikonsumsi dikhawatirkan akan menjadi resistensi terhadap
antibiotik.
Beberapa efek yang mungkin timbul pada manusia akibat
residu antibiotik, antara lain alergi, menyebabkan gangguan kulit,
kardiovaskuler, traktus gastrointestinalis, diare dan sakit perut serta
urtikaria dan hipotensi. Hal tersebut menyebabkan munculnya masalah kesehatan
baru bagi manusia yang mengkonsumsi daging ayam. Bukan
hanya masalah kadar kolesterol yang tinggi dalam kandungan daging ayam tetapi
juga akan timbul masalah jika manusia mengkonsumsi daging ayam yang mengandung
residu antibiotik. Oleh karena itu masyarakat sudah mulai menghindari penggunaan
antibiotik sebagai imbuhan pakan atau feed
additive. Maka
diperlukan feed additive yang
bukan antibiotik.
Salah
satu feed additive alami yang berpotensi untuk menggantikan feed
additive komersial adalah daun katuk (Sauropus
androgynus) dan tanaman herbal seperti temulawak (Curcuma xanthorriza). Berdasarkan hasil
penelitian, daun katuk kaya akan β- karoten yaitu sebanyak 10.020 µg (Santoso et al., 2008). Ini berarti
pemberian ekstrak daun katuk dapat meningkatkan kadar pigmen
terutama β-karoten dalam karkas broiler. Selain itu, β-karoten sebagai
provitamin A dapat diubah menjadi vitamin A.
Tanaman katuk juga disamping mengandung vitamin A juga
mengandung vitamin E dan vitamin C. Kandungan vitamin A pada daun katuk dapat
memberikan warna karkas dan warna kuning telur yang lebih baik. Peranan vitamin
E dan C yang terkandung di dalam daun katuk berfungsi pada reproduksi unggas,
meningkatkan performans (efisiensi penggunaan pakan dan pertambahan berat badan), meningkatkan
produksi telur, memperkuat status imunoglobin, serta meningkatkan kandungan
vitamin E dan C pada produk pangan asal hewani sehingga asupan vitamin E dan C
pada konsumen meningkat.
Temulawak (Curcuma
xanthorriza) juga
telah lama dikenal sebagai tumbuhan herbal yang
mengandung zat aktif xanthorrhiza,
kurkumin / kurkuminoid, dan minyak atsiri (Sidik, 2006), yang berfungsi sebagai antibakteri dan dapat menghambat
pertumbuhan jamur, sekaligus sebagai zat antioksidan. Temulawak adalh jenis
tanaman yang bisa digunakan untuk menggantikan antibiotik sintetik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh penambahan ekstrak daun katuk dan ekstrak temulawak
dalam air minum terhadap performans (konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum dan mortalitas) ayam broiler.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan
pada tanggal 7 Februari 2014 sampai tanggal
13 Maret 2014, bertempat di Desa Koto Kari Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan
Singingi.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah kandang koloni (colony cage) yang terbuat dari kayu
yang berdinding
kawat dan berukuran 8m x 4m x 4m (PxLxT) yang dibagi menjadi 20 petak dan tiap
petak berukuran 0.6m x 0.6m x
0.6m, tiap petak masing-masing dilengkapi dengan tempat makan dan minum, bola lampu
pijar 25 watt, sekam, serta peralatan lain seperti timbangan digital dan dengan kapasitas 1 gr dan 50 gr, cutter, pisau, kompor, panci,
gilingan sampel, lesung.
Bahan akan yang digunakan
pada penelitian ini adalah Day Old Chick (DOC)
umur 1 hari sebanyak 80 ekor, ayam broiler yang digunakan adalah strain Lohman yang didatangkan dari Pekanbaru. Pakan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Vivo 311 dan Vivo 512.
Daun katuk dan Temulawak.
Metode Penelitian
Penelitian ini dirancang dengan
menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang
terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak
daun katuk dan ekstrak temulawak dengan dosis
pemberian sebagai berikut :
A0
: (Kontrol)
B1
: 2%
Ekstrak Daun Katuk Dalam Air Minum
C2
: 2%
Ekstrak Temulawak Dalam Air Minum
D3
: 1%
Ekstrak Daun Katuk + 1% Ekstrak Temulawak Dalam Air Minum
Data diuji statistis dan diuji lanjut
DNMRT pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsumsi Ransum
Berdasarkan data pada Tabel 1 dapat dilihat
bahwa rataan konsumsi ransum ayam broiler yaitu 73.63 gr/ekor/hari, dengan
urutan tertinggi sampai terendah adalah perlakuan D (1% daun katuk + 1%
temulaawak) yaitu 74.88 gr/ekor/hari, perlakuan B (2% daun katuk) yaitu 73.33
gr/ekor/hari, perlakuan C (2% temulawak) yaitu 73.28 gr/ekor/hari, perlakuan A
(0% kontrol) yaitu 72.94 gr/ekor/hari. Hasil analisis sidik ragam diketahui
bahwa perlakuan pemberian daun katuk dan temulawak dalam air minum tidak nyata
(P>0.05) terhadap konsumsi ransum ayam broiler strain lohmann.
Rataan konsumsi ransum ayam broiler strain
lohmann yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel
1. Rataan Konsumsi Ransum Ayam Broiler Selama Penelitian
|
Perlakuan
|
Konsumsi
Ransum (gr/ekor/hari)
|
|
A
(Kontrol)
|
72.94
|
|
B
(2% Daun Katuk)
|
73.33
|
|
C
(2% Temulawak)
|
73.38
|
|
D (1%Daun Katuk+1% Temulawak )
|
74.88
|
|
Rata-rata
|
73.63
|
Konsumsi ransum yang paling rendah adalah
perlakuan A (0% kontrol) yaitu 72.94 gr/ekor/hari, sedangkan konsumsi paling
tinggi diperoleh pada perlakuan D (1% daun katuk + 1% temulawak) yaitu 74.88
gr/ekor/hari, hal ini disebabkan karena daun katuk mempunyai zat gizi tinggi,
sebagai antibakteri, dan mengandung β-karoten sebagai zat aktif warna karkas
serta meningkatkan sistem imun dalam tubuh sehingga dapat memperbaiki konsumsi
ransum dan meningkatkan daya cerna dalam tubuh (Santoso, 2009).
Sedangkan temulawak mengandung xantorriza,
kurkumin dan minyak atsiri (Sidik, 2006), yang mana zat ini mampu meningkatkan
nafsu makan, memperbaiki kecernaan, penyerapan zat-zat makanan, sebagai
antibakteri dan dapat menghambat pertumbuhan jamur sekaligus sebagai
antioksidan.
Pertambahan Bobot
Badan
Rataan pertambahan bobot badan ayam broiler
strain lohmann yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel
2. Rataan Pertambahan Bobot Badan Ayam Selama Penelitian
|
Perlakuan
|
Pertambahan Bobot Badan
(gr/ekor/hari)
|
|
A
(0% Kontrol)
|
42.95
|
|
B
(2% Daun Katuk)
|
44.85
|
|
C
(2% Temulawak)
|
44.95
|
|
D
(1% Daun Katuk+1% Temulawak )
|
46.87
|
|
Rata-Rata
|
44.90
|
Berdasarkan data pada Tabel 2 dapat dilihat
bahwa rataan pertambahan bobot badan ayam broiler dari urutan tertinggi sampai
terendah adalah D (1% Daun katuk + 1% Temulawak) yaitu 46.87 gr/ekor/hari,
perlakuan C (2% Temulawak) yaitu 44.95 gr/ekor/hari, perlakuan B (2% Daun
katuk) yaitu 44.85 gr/ekor/hari, dan perlakuan A (Kontrol) 42.95 gr/ekor/hari.
Hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pemberian daun katuk dan
temulawak dalam air minum tidak nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot
badan ayam broiler strain lohmann.
Tingginya pertambahan bobot badan pada
perlakuan D (1% Daun katuk + 1% Temulawak) yaitu 46.87 disebabkan karena adanya
kombinasi antara daun katuk dan temulawak, yang mana daun katuk mengandung zat
gizi tinggi, sebagai antibakteri, antimikroba, dan mengandung β-karoten sebagai
zat aktif warna karkas serta meningkatkan sistem imun dalam tubuh (Santoso,
2009). Sedangkan temulawak mengandung xantorriza, kurkumin, dan minyak atsiri
(Sidik, 2006), yang mana zat ini mampu meningkatkan nafsu makan, memperbaiki
kecernaan, penyerapan zat-zat makanan, sebagai antibakteri dan dapat menghambat
pertumbuhan jamur sekaligus sebagai antioksidan. Berbeda tidak nyatanya pertambahan bobot badan yang diperoleh selama penelitian diduga
disebabkan karena konsumsi ransum yang tidak menunjukan berpengaruh nyata
sehingga jumlah zat makanan yang dicerna dan diserap tubuh untuk penbentukan
sel dan jaringan menjadi lebih sedikit. Hal ini juga diduga disebabkan karena
perbedaan bangsa ataupun genetik, dan bentuk ransum yang digunakan. Hal ini
sesuai dengan yang dinyatakan Rasyaf (1992), bahwa pertambahan bobot badan
unggas dipengaruhi oleh faktor keturunan, kuantitas dan kualitas pakan yang di
berikan dan penyakit. Suprijatna et al, (2005)
pertumbuhan ayam broiler dipengaruhi oleh faktor genetik, dimana masing-masing
ternak mempunyai kemampuan tumbuh yang berbeda-beda.
Konversi Ransum
Rataan
konversi ransum ayam broiler penggunaan daun katuk
dan temulawak dalam ransum yang diperoleh selama penelitian dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel
3. Rataan Konversi Ransum Ayam Broiler Selama Penelitian
|
Perlakuan
|
Konversi Ransum
|
|
A
(Kontrol)
|
1.70
|
|
B
(2 % Daun katuk)
|
1.64
|
|
C
(2 % Temulawak)
|
1.63
|
|
D
(1% Daun katuk +1%Temulawak)
|
1.60
|
|
Rata-Rata
|
1.64
|
Hasil analisis ragam dapat dilihat bahwa
pemberian daun katuk dan temulawak memberikan pengaruh
tidak nyata (P>0.05). Konversi
ransum terendah adalah pada perlakuan D (1% Daun
katuk+1% Temulawak)
yaitu 1.60. Perlakuan
tertinggi adalah perlakuan A (Kontrol)
yaitu 1.70.
Rendahnya konversi ransum pada perlakuan D (1% Daun
katuk+1% Temulawak) karena konsumsi ransum dan
pertambahan bobot badan dalam perlakuan ini juga
tertinggi. Konversi ransum merupakan perbandingan antara konsumsi ransum dengan
pertambahan bobot badan pada waktu bersangkutan.
Menurut Rasyaf (1991), konversi ransum dapat
digunakan sebagai gambaran koefisien produksi, semakin kecil nilai
konversi semakin efisien penggunaan ransum
dan demikian sebaliknya baik buruknya konversi ransum dipengaruhi oleh berbagai
faktor diantaranya mutu ransum, kesehatan ternak dan tata cara pemberian ransum.
Konversi ransum yang
diperoleh selama penelitian yaitu perlakuan A (kontrol) yaitu
1.70,
untuk perlakuan B (2% Daun katuk) yaitu 1.64, sedangkan
perlakuan C (2% Temulawak) yaitu 1.63 dan perlakuan D (1% Daun katuk dan 1% Temulawak) yaitu 1.60. Tinggi
rendahnya nilai konversi ransum sangat dipengaruhi oleh konsumsi ransum dan
penambahan bobot badan (Muis et al., 2010 dan Zahra et al., 2012).Sagala
(2009) menambahkan bahwa semakin baik kualitas ransum, semakin kecil pula nilai
konversi ransumnya. Ditambahkan oleh Siregar et al, (1992), bahwa semakin
kecil angka konversi ransum maka semakin baik efisiensi penggunaan pakan.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ayam broiler
selama 5 minggu. Semua perlakuan tidak beerpengaruh nyata (P>0.05).
Perlakuan terbaik dalam penelitian ini terdapat pada perlakuan D (1 % ekstrak
daun katuk + 1% ekstrak temulawak) yaitu konsumsi ransum 74.88 gr/ekor/hari,
pertambahan bobot badan 46.87 gr/ekor/hari dan penurunan konversi ransum 1.60.
SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan
level pemberian yang berbeda terutama pada perlakuan ekstrak daun katuk dan
ekstrak temulawak dan pencampuran antara ekstrak daun katuk dan ekstrak
temulawak.
DAFTAR PUSTAKA
Muis, H., Mirnawati
dan I. Martaguri. 2010. Pemanfaatan Ampas
Susu Kedelai Fermentasi Sebagai Pengganti Protein Bungkil Kedelai Dalam Ransum
Broiler. Jurnal Embrio. 3 : 89 – 97.
Rasyaf,
M. 1991.
Memelihara Ayam Broiler. Cetakan Kesembilan.Yayasan Kanisius. Yogyakarta.
. 1992. Pengolahan Peternakan Unggas
Pedaging. Kanisius. Yogyakarta.
Sagala, N. R. 2009. Pemanfaatan Semak Bunga Putih (Chromolena odorata) terhadap
Pertumbuhan dan IOFC dalam Ransum Burung Puyuh (Coturnix coturnixjaponica) Umur 1 Sampai 42 Hari.Skripsi.
Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Santoso. Y. Fenita dan Kususiyah. 2008. Penggunaan
Ekstrak Air Daun Katuk sebagai Feed Additive untuk Memproduksi Meat Designers
yang Efisien. Laporan Riset Unggulan Universitas. Universitas Bengkulu.
Bengkulu.
__________.
2009. Manfaat Daun Katuk Bagi Kesehatan Manusia dan Produktivitas Ternak. http://uripsantoso.wordpress.com/2009/08/24/
manfaat-daun-katuk-bagi-kesehatan-manusia-dan-produktivitas-ternak/.
Sidik, M. W., Moelyono dan A. Muchtadi. 1995. Temulawak, Curcuma xanthorriza Roxb. Seri Pustaka
Tanaman Obat dan Bahan Alam. Phyto Medica.
Siregar, A. P., M. C. Sarbani dan P. Suroparwiro. 1992.
Teknik beternak ayam pedaging di Indonesia. Margie Group. Jakarta.
Suprijatna, E., U.
Atmomarsono., dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Zahra, A. A., D.
Sunarti dan E. Suprijatna. 2012. Pengaruh
pemberian pakan bebas pilih (Free
choice feeding) terhadap performans produksi telur burung puyuh (Coturnix coturnix japonica).
Animal Agricultural Journal. 1: 1 – 11.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar