ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN AYAM RAS
PEDAGING DI PASAR TELUK KUANTAN KECAMATAKUANTAN TENGAH KABUPATEN KUANTAN
SINGNGI
Pedri Grapika, Liz Darti
Roza dan Meli sasmi
Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas
Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake
Teluk Kuantan, Riau
ABSTRACT
Broiler marketing channels in the Teluk Kuantan market
there are three, namely: 1)
breeders àwholesalers
outside the area à retailersà
end consumer; 2) à wholesalers
breeders in the area à retailersà
end consumer; 3)
farmer
àretailersà end consumer. While the marketing
functions performed by the marketing agency is the exchange function, physical
function, and function facilities.
Based on the analysis of marketing efficiency of broiler Teluk
Kuantan markets, Central District of Kuantan, Kuantan Singingi, the most
efficient are the three channels.
Keywords:
Efficiency , market, broiler
PENDAHULUAN
Peternakan merupakan salah satu sektor
penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia termasuk industri perunggasan.
Perunggasan termasuk bisnis yang prospektif, meskipun disisi lain perunggasan juga sangat rentan terhadap beberapa permasalahan.
Usaha peternakan unggas mempunyai peranan besar bagi perekonomian dalam
negeri, karena dapat meningkatkan dan memperbaiki sektor perekonomian yaitu
sebagai sumber pendapatan, menyediakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan nilai
tambah dalam sektor hasil peternakan. Selain
itu menghasilkan bahan pangan yang berkualitas
tinggi khususnya protein hewani yang dapat menunjang ketersediaan daging bagi masyarakat. Salah satu komoditas
unggulan yang menghasilkan daging adalah ayam ras pedaging (broiler).
Peningkatan jumlah penduduk yang ada di Riau
juga menyebabkan meningkatnya kebutuhan terhadap konsumsi daging terutama
terhadap ayam ras pedaging. Data Jumlah Populasi ayam ras pedaging di Riau dari tahun 2009 sebanyak 29.710.959, pada tahun 2010 sebanyak
41.501.411, tahun 2011 menurun menjadi 38.043.692 dan pada tahun 2012 terjadi
peningkatan yang sangat kecil yaitu sebanyak 39.761.110. Jumlah populasi ayam
ras pedaging belum mencukupi untuk kebutuhan konsumsi daging ayam di Riau, hal
ini ditandai banyak dijumpai pedagang yang masih mendatangkan ayam dari luar
provinsi, seperti dari Daerah Jambi, Sumatera Barat, Medan dan lain sebagainya.
Kabupaten Kuantan
Singingi merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Riau, bila dilihat dari data
populasi ayam ras pedaging pada tahun 2012 hanya sebanyak 349.160 ekor, dari
data tersebut masih sangat perlu di lakukan peningkatan budidaya oleh peternak
ayam pedaging paling tidak untuk dapat memenuhi pasar lokal.
Pemasaran merupakan suatu
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh kegiatan usaha,
begitu pula halnya dengan usaha peternakan ayam ras pedaging. Pemasaran ayam ras
pedaging merupakan suatu kegiatan yang melibatkan
pihak-pihak yang berperan penting untuk mendistribusikan komoditi ayam ras pedaging mulai dari produsen sampai kepada
konsumen.
Tujuan Penelitian
untuk menganalisis saluran pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran,
dan efisiensi pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan Kecamatan
Kuantan Tengah
BAHAN DAN METODE
Waktu dan
Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan
Juli sampai September Tahun 2013 yang berlokasi di Pasar Teluk Kuantan Kecamatan Kuantan Tengah
Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau.
Alasan pemilihan lokasi adalah: (1) lokasi ini terdapat beberapa peternak ayam ras pedaging dan beberapa pedagang yang melakukan proses pemasaran dalam daerah dan luar daerah.
Penentuan Responden
Penelitian ini
menggunakan metode survei, yaitu
suatu cara penelitian untuk memperoleh fakta dan keterangan tentang sesuatu
yang ingin diteliti, baik dengan sensus maupun dengan responden (Nazir, 1988).
Penelitian ini dilakukan dengan responden, meliputi responden peternak ayam ras
pedaging dan pedagang. Jumlah dari responden tersebut adalah 23
orang, yang terdiri dari : 4 orang dari peternak luar daerah dan 3 orang dari
peternak dalam daerah, 3 orang pedagang besar luar daerah dan 1 orang pedagang
besar dalam daerah serta 12 orang pedagang pengecer di Pasar Teluk Kuantan
Kecamatan Kuantan Tengah.
Metode yang digunakan
untuk pengambilan responden pada pedagang yaitu dengan metode snowball sampling yakni dengan
menentukan responden awal kemudian menentukan responden berikutnya berdasarkan
informasi mula-mula berdasarkan informasi dari peternak
responden, berikutnya berdasarkan lembaga pemasaran yang ditunjuk oleh peternak
responden, dan seterusnya sampai kejenuhan responden atau responden sulit
dicapai. Model ini digunakan karena target populasi lembaga pemasaran tidak
diketahui dengan jelas dan sulit didekati dengan cara lainnya (Sarantakos,
1993).
Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan
dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh langsung dari peternak, dan pedagang
adalah keadaan usaha (umur peternak, pendidikan, jenis kelamin, jumlah produksi,harga, serta
biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses pemasaran ayam ras pedaging) dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian.
Data primer yang
diperlukan dari lembaga pemasaran adalah jumlah ayam ras
pedaging yang dijual-belikan, nilai penyusutan ayam ras pedaging, biaya-biaya pemasaran,
harga beli/jual, tujuan penjualan dan ada tidaknya
kerjasama sesama pedagang, serta
permasalahan-permasalahan dalam pemasaran ayam ras pedaging.
Data sekunder yaitu data yang diambil dari
instansi terkait yang berhubungan dengan penelitian, diperoleh dari Dinas Perternakan, Badan Pusat Statistik
(BPS)
dan sebagainya.
Metode
Analisa Data
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode analisis
deskriptif dan analisis kuantitatif, kemudian dilakukan pengolahan analisa
data. Analisis deskriptif ditujukan untuk melihat keadaan lokasi, keadaan
pedagang,mengidentifikasi lembaga pemasaran, menganalisa fungsi-fungsi dan
saluran pemasaran. Sedangkan analisis kuantitatif untuk menganalisis marjin
pemasaran, share peternak, dan
efisiensi pemasaran. Analisis dengan metode kuantitatif diolah dengan
menggunakan program Excel dan kalkulator.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Wilayah Penelitian
Kecamatan Kuantan
Tengah merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi
yang mempunyai jumlah penduduk 54.607 jiwa dengan luas wilayah 270.74 km2
dan terdiri dari 23 desa/kelurahan. ( sumber : Disdukpencapil ). Kecamatan Kuantan Tengah merupakan Ibukota Kabupaten Kuantan Singingi.
Secara ekonomi daerah yang merupakan pusat kota perputaran ekonomi akan semakin
cepat karena semua sektor akan terkonsentrasi pada daerah tersebut. Sehingga
penduduk akan lebih banyak mendiami daerah tersebut, sehingga bagi pedagang-pedagang ayam ras pedaging berpeluang untuk memasarkan produknya.
Batas-batas wilayah
Kecamatan Kuantan Tengah : Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Singingi
dan Gunung Toar.
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kuantan Hilir dan Sentajo Raya.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kuatan Mudik dan Hulu Kuantan.
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Singingi dan Sentajo Raya.
Kecamatan Kuantan
Tengah terdiri dari dan 3 Kelurahan dan 20 Desa yaitu : Kelurahan Pasar Taluk,
Kelurahan Simpang Tiga, Kelurahan Sungai Jering, Desa Bandar Alai, Desa Pulau
Kedundung, Desa Pulau Aro, Desa Seberang Taluk, Desa Pulau Baru, Desa Koto Tuo,
Desa Kopah, Desa Munsalo, Desa Sawah, Desa Koto Taluk, Desa Koto Kari, Desa
Pintu Gobang, Desa Jake, Desa Pulau Godang, Desa Jaya, Desa Beringing Taluk, Desa
Sitorajo, Desa Seberang Taluk Hilir, Desa Titian Medang, Desa Pulau Banjar
Kari.
Topografi Kecamatan
Kuantan Tengah merupakan tanah datar dan berbukit-bukit dengan ketinggian
sekitar 300 meter dari permukaan laut. Jenis tanah yang ada di Kecamatan
Kuantan Tengah pada lapisan atas berjenis hitam gembur dan lapisan bawahnya
berwarna Kuning.
Penduduk Kecamatan Kuantan Tengah berjumlah sebanyak 54.607 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 27.958 jiwa dan
perempuan sebanyak 26.469 jiwa (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun 2013).
Kecamatan Kuantan Tengah beriklim tropis dengan suhu udara berkisar 19,5
derajat celcius sampai dengan 34,2 derajat celcius. Kecamatan ini memiliki
musim hujan dan musim kemarau, musim hujan terjadi pada bulan September sampai
dengan bulan Maret dan musim kemaraunya terjadi pada bulan April sampai dengan
bulan Agustus.
Sungai besar yang mengalir di Kecamatan
Kuantan Tengah adalah Sungai Kuantan yang merupakan aliran dari sungai yang ada
di propinsi Sumatera Barat yang bermuara ke Selat Malaka di Kabupaten Indragiri
Hilir.
Karakteristik Responden
Responden pada
penelitian berjumlah 23 orang, yang terdiri dari 4 orang peternak luar
daerah dan 3 orang peternak dalam daerah, 3 orang pedagang besar luar daerah
dan 1 orang pedagang besar dalam daerah, serta 12 orang dari pedagang pengecer
ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan. Karakteristik
yang diamati dalam penelitian ini meliputi umur responden, lama pendidikan yang
telah ditempuh responden dan lama usaha yang telah dijalankan responden. Ada
pun keadaan umum responden dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Responden
|
Responden
|
Jenis Kelamin
|
Rata-rata Umur (th)
|
Rata-rata Lama
Pendidikan (th)
|
Rata-rata Lama usaha (th)
|
|
|
Laki-laki (jumlah)
|
Perempuan (jumlah)
|
||||
|
Peternak
|
7
|
-
|
47.29
|
10.71
|
11.71
|
|
Pedagang
Besar
|
3
|
1
|
41.75
|
11.25
|
10
|
|
Pedagang
Pengecer
|
7
|
5
|
42.42
|
9.75
|
8.33
|
Pemasaran
Ayam Ras Pedaging
Kegiatan
pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan melibatkan beberapa lembaga
pemasaran yang akan melakukan fungsi-fungsi pemasaran. Lembaga tersebut akan
membentuk saluran pemasaran dalam melakukan tugas pemindahan barang atau jasa dari produsen ke konsumen.
Hasil yang diperoleh berdasarkan metode snowball sampling, pedagang yang
ada di Pasar Teluk Kuantan dikelompokkan menjadi dua yaitu pedagang besar, dan
pedagang pengecer. Setiap lembaga pemasaran melakukan fungsi pemasaran yang
berbeda sehingga keuntungan yang diperoleh tiap lembaga sangat berbeda. Pedagang
ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan memperoleh keuntungan dari selisih
harga yang diterima dari konsumen dengan harga yang dibayarkan ditambah biaya
pemasaran.
Selama proses pemasaran terdapat beberapa
lembaga yang terlibat dalam aktivitas pemasaran, maka dapat dianalisis
distribusi marjin pemasaran di antara lembaga-lembaga yang terlibat ini. Sistem
pemasaran yang terjadi di Pasar Teluk Kuantan adalah konsumen langsung membeli
ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dalam hal ini kebutuhan daging ayam ras
pedaging.
Lembaga-lembaga
pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran produk-produk pertanian sangat
beragam tergantung dari jenis yang di Pasarkan, ada komoditi yang melibatkan
banyak lembaga pemasaran dan ada pula yang melibatkan sedikit lembaga pemasaran.
Kegiatan pemasaran ayam ras pedaging, melibatkan beberapa lembaga pemasaran
dalam penyampaian komoditas dari peternak hingga konsumen, yaitu : peternak,
pedagang besar dan pedagang pengecer. Setiap lembaga pemasaran umumnya
melakukan fungsi-fungsi pemasaran berdasarkan kepentingan dan tujuan pemasaran.
Lembaga
Pemasaran Ayam Ras Pedaging
Lembaga pemasaran yang berperan dalam
menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen terdiri dari
peternak, pedagang besar dan pedagang pengecer. Masing-masing lembaga pemasaran
tidak mempunyai ikatan perjanjian yang resmi dengan pihak manapun, sehingga
mereka bebas membeli dan menjual produknya kemanapun. Namun demikian, beberapa
lembaga pemasaran mempunyai hubungan yang sangat baik dengan pihak pemasoknya,
sehingga menimbulkan keterkaitan yang erat satu sama lain.
Peternak
Peternak
dalam memasarkan ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan menjual langsung
kepada pedagang besar luar dan dalam daerah dan pedagang pengecer, pedagang ini
sudah biasa menjadi langganan dari peternak tersebut. Peternak terbagi dalam
dua kelompok pemasaran, yaitu : Peternak luar daerah dan peternak dalam daerah
Peternak
luar daerah adalah peternak yang melakukan usaha budidaya ayam ras pedaging
diluar daerah dalam hal ini Payakumbuh, dengan melakukan penjualan kepada
pedagang besar luar daerah.
Peternak
dalam daerah adalah peternak yang melakukan usaha budidaya ayam ras pedaging di
Kabupaten Kuantan Singngi dengan melakukan penjualan kepada pedagang besar
dalam daerah dan pedagang pengecer yang ada di pasar Teluk Kuantan.
Pedagang Besar
Pedagang
besar mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyampaian produk dari
peternak kepada pedagang pengecer dan konsumen. Beberapa tahapan kegiatan yang
dilakukan oleh pedagang besar yaitu, pengangkutan dan penyimpanan. Kegiatan
tersebut menggambarkan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang
besar, serta terbentuknya saluran pemasaran dari pedagang besar dikarenakan
pedagang pengecer membeli ayam ras pedaging melalui pedagang besar. Perbedaan
saluran yang terbentuk akan mempengaruhi biaya-biaya pemasaran dan keuntungan
yang diperoleh pedagang besar, sehingga perbedaan tesebut dapat juga
mempengaruhi keuntungan dari pedagang lainnya.
Pedagang besar merupakan pedagang yang melakukan
volume pembelian dan penjualan dalam skala besar. Pedagang besar dalam
pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan dikategorikan dalam dua
kelompok pemasaran yaitu : Pedagang besar luar daerah dan pedagang besar dalam
daerah.
Pedagang
besar luar daerah adalah pedagang yang datang dari luar daerah (Payakumbuh)
yang membawa atau menjual ayam ras pedaging ke dalam daerah (Pasar Teluk
Kuantan/Kabupaten Kuantan Singingi). Pedagang besar luar daerah membeli ayam
ras pedaging kepada peternak-peternak yang ada di Payakumbuh, kemudian dijual
kepada pedagang pengecer di Pasar Teluk Kuantan, pedagang pengecer diluar Pasar
Teluk Kuantan, pedagang pengumpul diluar Pasar Teluk Kuantan, rumah
makan/warung nasi dan konsumen.
Pedagang
besar dalam daerah merupakan pedagang yang membeli ayam ras pedaging dalam
jumlah yang sangat banyak kepada peternak dalam daerah untuk didistribusikan
kepada pedagang pengecer yang berada di Pasar Teluk Kuantan.
Pedagang Pengecer
Lembaga
pemasaran pedagang pengecer merupakan pelaksana kegiatan terakhir dari pola
penyaluran suatu barang atau jasa. Pedagang pengecer juga merupakan pedagang
yang menjual langsung kepada konsumen. Pedagang pengecer melakukan pembelian
kepada pedagang besar dan ada juga
membeli nya kepeternak, karena peternak ini langsung juga membawa ayam tersebut
ke Pasar Teluk Kuantan. Pedagang pengecer ini membeli ayam ras pedaging tidak dalam jumlah banyak, karena pedagang
pengecer akan menjual kembali ayam tersebut ke konsumen dalam hari itu juga.
Saluran Pemasaran
Ayam Ras Pedaging
Saluran
pemasaran merupakan serangkaian lembaga pemasaan yang mengambil alih hak, atau
membantu dalam pengalihan hak dalam hal ini pedagang membantu penyaluran
komoditi ayam ras pedaging dari peternak hingga konsumen. Saluran pemasaran
komoditi ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan melibatkan beberapa lembaga
pemasaran, diantaranya : peternak, pedagang besar luar daerah, pedagang besar
dalam daerah, pedagang pengecer dan konsumen.
Terdapat
tiga pola saluran pemasaran yang dilalui pedagang ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan, yaitu :
Saluran 1 : Peternak luar daerah - Pedagang Besar
Luar Daerah - Pedagang Pengecer -
Konsumen
Saluran 2 : Peternak dalam daerah - Pedagang Besar Dalam
Daerah - Pedagang Pengecer - Konsumen
Saluran 3 :
Peternak dalam daerah - Pedagang Pengecer - Konsumen
Fungsi-fungsi Pemasaran Ayam Ras Pedaging
Pada setiap lembaga
pemasaran selalu melakukan berbagai fungsi-fungsi pemasaran. Namun
fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam
kegiatan pemasaran ini adalah kegiatan penjualan, penanggungan resiko, pembiayaan dan penyediaan informasi pasar.
Hal tersebut dilakukan karena kegiatan tersebut dapat mempengaruhi tingkat
efisiensi suatu proses pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran ayam ras pedaging di
Pasar Teluk Kuantan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Fungsi-fungsi Pemasaran ayam ras Pedaging
Menurut Lembaga-lembaga Pemasaran di
Pasar Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2013
|
Saluran
dan
Lembaga
|
Fungsi-fungsi
Pemasaran
|
|||||||
|
Pertukaran
|
Fisik
|
Fasilitas
|
||||||
|
Jual
|
Beli
|
Penyimpanan
|
Pengolahan
|
Pengangkutan
|
Grading
|
Resiko
|
Biaya
|
|
|
Saluran 1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Peternak
luar daerah
|
√
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Ped. Besar luar
|
√
|
√
|
√
|
-
|
√
|
√
|
√
|
√
|
|
Ped.
pengecer
|
√
|
√
|
#
|
√
|
-
|
√
|
√
|
√
|
|
Saluran 2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Peternak
daerah
|
√
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Ped. Besar daerah
|
√
|
√
|
√
|
-
|
√
|
√
|
√
|
√
|
|
Ped. Pengecer
|
√
|
√
|
#
|
√
|
-
|
√
|
√
|
√
|
|
Saluran 3
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Peternak
|
√
|
-
|
-
|
-
|
√
|
-
|
√
|
√
|
|
Ped.
Pengecer
|
√
|
√
|
#
|
√
|
-
|
√
|
√
|
√
|
Keterangan
: (-) Kegiatan tidak dilakukan (√)
Kegiatan dilakukan (#) Kegitan kadang dilakukan
Dari Tabel 2 terlihat
bahwa : Peternak ayam ras pedaging melakukan fungsi pertukaran, yaitu kegiatan
penjualan (fungsi penjualan). Pada umumnya fungsi penjualan dilakukan oleh
peternak kepada pedagang besar luar dan dalam daerah, dan pedagang pengecer.
Selain fungsi pertukaran, sebahagian peternak juga melakukan fungsi fisik yaitu pengangkutan, peternak melakukan
pengangkutan mulai dari kandang tempat beternak ayam ras pedaging lalu dibawa
ke Pasar yang ada di Teluk Kuantan yang tujuannya untuk dijual kepada pedagang
pengecer dan konsumen.
Sedangkan sebahagian peternak juga melakukan
fungsi fasilitas yaitu grading, penanggungan resiko, dan pembiayaan. Grading
dilakukan oleh peternak yaitu peternak membawa ayam ras pedaging ke Pasar Teluk
Kuantan berdasarkan ukuran yaitu ukuran minimal 0,6 kg, maksimal 1,5 kg dalam
bentuk ayam hidup. sedangkan penanggungan resiko adalah resiko yang dihadapi peternak
yaitu pengurangan bobot ayam ketika dalam perjalanan dari kandang sampai ke
Pasar Teluk Kuantan. Pembiayaan yang dilakukan oleh peternak dalam proses pemasaran merupakan biaya-biaya yang dilakukan selama proses
pemasaran.
Analisis Marjin Dan
Efisiensi Pemasaran
Marjin pemasaran dapat ditinjau dari
dua sisi, yaitu segi harga dan biaya pemasaran. Pada analisis pemasaran sering
menggunakan konsep marjin yang dipandang dari sisi harga. Marjin pemasaran
merupakan selisih harga yang dibayar konsumen dan harga yang diterima peternak
(produsen). Dengan menganggap bahwa selama proses pemasaran terdapat beberapa
lembaga pemasaran yang terlibat dalam aktifitas pemasaran ini, maka dapat dianalisis
distribusi marjin pemasaran di antara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat
(Sudiyono, 2001).
Marjin pemasaran didefinisikan
sebagai perbedaan harga atau selisih harga yang dibayar konsumen dengan harga
yang diterima oleh produsen, atau dapat pula dinyatakan sebagai nilai dari
jasa-jasa pelaksanaan kegiatan pemasaran sejak dari tingkat produsen sampai ke
titik konsumen. Kegiatan untuk memindahkan barang dari titik produsen ke titik
konsumen membutuhkan pengeluaran baik fisik maupun materi (Limbong dan Sitorus,
1987).
Marjin merupakan perbedaan harga
atau selisih harga yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima peternak.
Dalam hal ini marjin pemasaran pedagang besar adalah perbedaan harga yang
dibayarkan kepada peternak dengan harga jual kepada pedagang pengecer dan konsumen dalam saluran pemasaran
dengan komoditi yang sama.
Margin pemasaran sering juga digunakan sebagai indikator efisiensi pemasaran. Menurut
Soekartawi (2002), margin
pemasaran merupakan perbedaan harga yang diterima petani sebagai produsen
terhadap harga yang diterima konsumen. Pada Tabel 3 dapat dilihat hasil analisis margin, share harga dan efisiensi.
Tabel 3. Total Biaya, Margin, Share, dan Efisiensi
Setiap Pelaku Lembaga Pemasaran Ayam Ras Pedaging di Pasar Teluk Kuantan
Kabupaten Kuantan Singngi Tahun 2013
|
No
|
Variabel
|
Saluran 1
|
Saluran 2
|
Saluran 3
|
|
1
|
Total Biaya (Rp/Kg)
|
3.227,20
|
1.544,49
|
1.299,69
|
|
2
|
Total Margin (Rp/Kg)
|
11.600
|
9.750
|
6.000
|
|
3
|
Share Peternak (%)
|
57,97
|
62,14
|
76
|
|
4
|
Efisiensi (%)
|
11,69
|
6
|
5,20
|
Berdasarkan Tabel
3. Terlihat pada masing-masing saluran pemasaran ayam ras pedaging di pasar
Teluk Kuantan baik yang terdapat pada pola saluran 1,
saluran 2 dan saluran 3, diperoleh total margin
pemasaran pada
pola saluran 1 sebesar 11.600, pola saluran 2 sebesar 9.750,
pola saluran 3 sebesar 6.000 per kilogram.
Nilai efisiensi pada masing-masing saluran diperoleh nilai efisiensi pada
pola saluran 1 sebesar 11.69%, artinya untuk memperoleh penerimaan 100% maka
dibutuhkan biaya sebesar 11,69%,
pada pola
saluran 2 sebesar 6%, artinya untuk
memperoleh penerimaan 100% maka dibutuhkan biaya sebesar 6%, pada pola saluran 3 sebesar 5.20%, artinya untuk memperoleh penerimaan 100% maka
dibutuhkan biaya sebesar 5.20%. Dari ketiga pola saluran yang ada di Pasar Teluk
Kuantan, saluran yang paling efisien
terdapat pada pola
saluran 3 yaitu saluran yang
terdapat pada peternak
dengan menjual nya langsung kepedagang pengecer dengan nilai efisiensi sebesar 5.20%.
Pada saluran 3 merupakan nilai tolal margin terkecil dibandingkan saluran pemasaran lainnya. Dikarenakan
pada saluran 3 ini rantai
pemasarannya lebih pendek dari saluran pemasaran lainnya, sehingga share peternak lebih tinggi sebesar 76 persen dan
nilai efisiensi sebesar 5.20 persen.
Demikian dapat disimpulkan, bahwa semakin pendek rantai pemasaran, maka margin
pemasaran akan semakin kecil, hal
ini disebabkan pelaku pemasaran dalam mengambil keuntungan lebih sedikit dan
juga total biaya yang ditimbulkan dalam proses penyampaian
ayam ras pedaging kekonsumen juga lebih kecil.
Secara berturut-turut dari tiga pola saluran pemasaran yang ada, paling efisien adalah pada pola saluran 3 sebesar 5.20%, pola saluran 2 sebesar 6%, dan pola saluran 1 sebesar 11.69%. Pemasaran akan semakin efisien apabila nilai
efisiensi lebih rendah, margin rendah dan share
petani lebih tinggi. Kurang efisiennya pemasaran pada pola
saluran 1 dan pola saluran 2 dibandingkan pola saluran 3, hal ini disebabkan posisi tawar peternak lemah, harga yang ditawarkan
lebih rendah, dan masing-masing lembaga yang terlibat mengambil keuntungan.
Jika
dilihat dari harga jual ditingkat peternak luar dan peternak dalam daerah,
harga jual peternak dalam daerah lebih tinggi dibanding harga jual peternak
luar daerah. Hal ini disebabkan karena adanya persaingan harga jual dengan
pedagang besar luar daerah dan pedagang besar dalam daerah ke pedagang
pengecer.
Lebih
efisiennya saluran 3 disebabkan karena pada saluran 3 ini rantai pemasarannya
lebih pendek, sehingga peternak dapat langsung menjual ayam ras pedaging dengan
harga sama yang ditetapkan oleh pedagang besar luar daerah. Dengan demikian tingkat
keuntungan peternak dalam daerah lebih besar dibanding peternak luar daerah,
hal ini merupakan peluang bagi peternak dalam daerah untuk mengembangkan usaha
peternakan ayam ras pedaging di Kabupaten Kuantan Singngi.
Namun
peternak dalam daerah harus mampu meningkatkan daya saingnya terhadap pedagang
besar dari luar daerah dengan cara memperluas kafasitas kandang, menentukan
teknologi dalam penghematan pakan, dan menjaga kontinuitas produk agar tersedia
setiap saat.
Farmer’s
Share
Farmer’s share merupakan
perbandingan antara harga yang diterima oleh peternak
dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen, umumnya dinyatakan dalam
persentase. Farmer’s share ini merupakan sebagai konsep balas jasa atas kegiatan yang dilakukan peternak dalam pemasaran. Besarnya farmer’s
share dapat dilihat pada setiap pola saluran pemasarannya
(Tabel 4 ).
Tabel 4. Farmer’s Share Pada Berbagai Pola Saluran Pemasaran ayam ras Pedaging di Pasar Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi
|
Saluran Pemasaran
|
Harga di Tingkat
Peternak
|
Harga di Tingkat
Konsumen
|
Farmer’s Share
|
|
|
|
||
|
1
|
16.000.00
|
27.600.00
|
57,97
|
|
2
|
16.000.00
|
25.750.00
|
62,14
|
|
3
|
19.000.00
|
25.000.00
|
76
|
Farmer’s share mempunyai
hubungan yang negatif dengan marjin pemasaran, semakin tinggi margin maka share peternak akan semakin semakin rendah. Pada penelitian ini share peternak pada pola
saluran 1 sebesar 57,97%, pada pola saluran 2 sebesar 62,14%, dan pada pola
saluran 3 sebesar 76%.
Share peternak tertinggi terdapat pada pola saluran 3 sebesar 76% sisanya 24% merupakan bahagian yang diterima oleh lembaga-lembaga pemasaran lainnya. Bahagian yang diterima peternak pada setiap saluran cukup besar namun penerimaan
tersebut bukanlah merupakan Net Profit, karena biaya-biaya yang dikeluarkan
dalam proses usaha petenakan
dan proses produksi
tidak dimasukkan dalam biaya pemasaran.
Besarnya Share peternak dibandingkan pelaku-pelaku lainnya dalam mengambil keuntungan tidak
terlalu besar, hal ini disebabkan karena sumber informasi
harga cepat diperoleh dari pedagang
pengecer yang harga jual dari setiap pedagang
hampir sama, sehingga harga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Dan dapat
juga disebabkan oleh hubungan yang baik antara peternak dengan pedagang, sehingga informasi harga lebih
terbuka.
KESIMPULAN
1. Saluran
pemasaran ayam ras pedaging yang terdapat dipasar Teluk Kuantan terdiri dari
tiga pola saluran, yaitu :
1.
Peternak luar daerah – Pedagang besar luar daerah –
Pedagang pengecer – Konsumen
2.
Peternak dalam daerah – Pedagang besar dalam daerah –
Pedagang pengecer – Konsumen
3.
Peternak dalam daerah – Pedagang Pengecer – Konsumen
2.
Dalam kegiatan pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk
Kuantan melibatan beberapa lembaga pemasaran dalam penyampaian komoditi ayam
ras pedaging dari peternak hingga kekonsumen, diantaranya : Peternak luar dan
dalam daerah, pedagang besar luar daerah, pedagang besar dalam daerah dan
pedagang pengecer. Setiap dari lembaga tersebut melaksanaan fungsi-fungsi
pemasaran yang terdiri dari : fungsi pertukaran (pembelian dan penjualan),
fungsi fisik (penyimpanan, pengolahan, dan pengangkutan), fungsi fasilitas
(grading, penanggungan resiko, dan pembiayaan).
3.
Hasil penelitian menunjukan bahwa, dari ketiga saluran pemasaran ayam ras pedaging di Pasar
Teluk Kuantan Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi saluran yang
paling efisien ditemukan pada saluran ke 3, yaitu : Peternak dalam daerah – pedagang besar dalam
daera – konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Limbong,
W. H dan Sitorus, P. 1987. Pengantar Tata Niaga Pertanian. Jurusan Ilmu-Ilmu
Sosial Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nazir, Moh. 1988, Metode penelitian. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Santoso, A. 2001. Kajian Sistem Agribisnis Pada Usahatani
Tebu Rakyat Bebas Lahan Kering Dalam Upaya Pemberdayaan Petani tebu di
Kabupaten Ngawi jawa Timur. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Sarantakos,
S. 1993. Social Research. Macmillan Education Australia PTY. LTD. Australia.
Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran
Hasil-hasil Pertanian. PT. Raja Grafindo. Jakarta.
Sudiyono,
A. 2001. Pemasaran Pertanian. Edisi Pertama. UUM Press. Penerbitan Universitas
Brawijaya Malang. Malang.
Wahyudhi, N.
2004. Analisis Pemasaran Kayu Jati di Hutan Rakyat Tectona
grandis Kecamatan Gading Rejo Kabupaten Tanggamus Propinsi
Lampung. Skripsi. Universitas
Lampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar