Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 71-78


ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN AYAM RAS PEDAGING DI PASAR TELUK KUANTAN KECAMATAKUANTAN TENGAH KABUPATEN KUANTAN SINGNGI

Pedri Grapika, Liz Darti Roza dan Meli sasmi
Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kuantan Singingi
Teluk Kuantan. Jln. Gatot Subroto KM 7 Jake
Teluk Kuantan, Riau

ABSTRACT

Broiler marketing channels in the Teluk Kuantan market there are three, namely: 1) breeders àwholesalers outside the area à retailersà end consumer; 2) à wholesalers breeders in the area à retailersà end consumer; 3) farmer àretailersà  end consumer. While the marketing functions performed by the marketing agency is the exchange function, physical function, and function facilities. Based on the analysis of marketing efficiency of broiler Teluk Kuantan markets, Central District of Kuantan, Kuantan Singingi, the most efficient are the three channels.
             
Keywords: Efficiency , market, broiler



PENDAHULUAN

Peternakan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia termasuk industri perunggasan. Perunggasan termasuk bisnis yang prospektif, meskipun disisi lain perunggasan juga sangat rentan terhadap beberapa permasalahan. Usaha peternakan unggas mempunyai peranan besar bagi perekonomian dalam negeri, karena dapat meningkatkan dan memperbaiki sektor perekonomian yaitu sebagai sumber pendapatan, menyediakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan nilai tambah dalam sektor hasil peternakan. Selain itu menghasilkan bahan pangan yang berkualitas tinggi khususnya protein hewani yang dapat menunjang ketersediaan daging bagi masyarakat. Salah satu komoditas unggulan yang menghasilkan daging adalah ayam ras pedaging (broiler).
Peningkatan jumlah penduduk yang ada di Riau juga menyebabkan meningkatnya kebutuhan terhadap konsumsi daging terutama terhadap ayam ras pedaging. Data Jumlah Populasi ayam  ras pedaging di Riau dari tahun 2009  sebanyak 29.710.959, pada tahun 2010 sebanyak 41.501.411, tahun 2011 menurun menjadi 38.043.692 dan pada tahun 2012 terjadi peningkatan yang sangat kecil yaitu sebanyak 39.761.110. Jumlah populasi ayam ras pedaging belum mencukupi untuk kebutuhan konsumsi daging ayam di Riau, hal ini ditandai banyak dijumpai pedagang yang masih mendatangkan ayam dari luar provinsi, seperti dari Daerah Jambi, Sumatera Barat, Medan dan lain sebagainya.
Kabupaten Kuantan Singingi merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Riau, bila dilihat dari data populasi ayam ras pedaging pada tahun 2012 hanya sebanyak 349.160 ekor, dari data tersebut masih sangat perlu di lakukan peningkatan budidaya oleh peternak ayam pedaging paling tidak untuk dapat memenuhi pasar lokal.
Pemasaran merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh kegiatan usaha, begitu pula halnya dengan usaha peternakan ayam ras pedaging. Pemasaran ayam ras pedaging merupakan suatu kegiatan yang melibatkan pihak-pihak yang berperan penting untuk mendistribusikan komoditi ayam ras pedaging mulai dari produsen sampai kepada konsumen.
Tujuan Penelitian untuk menganalisis saluran pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, dan efisiensi pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan Kecamatan Kuantan Tengah

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai September Tahun 2013 yang berlokasi di Pasar Teluk Kuantan Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau. Alasan pemilihan lokasi adalah: (1) lokasi ini terdapat beberapa peternak ayam ras pedaging dan beberapa pedagang yang melakukan proses pemasaran dalam daerah dan luar daerah.

Penentuan Responden
Penelitian ini menggunakan metode survei, yaitu suatu cara penelitian untuk memperoleh fakta dan keterangan tentang sesuatu yang ingin diteliti, baik dengan sensus maupun dengan responden (Nazir, 1988). Penelitian ini dilakukan dengan responden, meliputi responden peternak ayam ras pedaging dan pedagang. Jumlah dari responden tersebut adalah 23 orang, yang terdiri dari : 4 orang dari peternak luar daerah dan 3 orang dari peternak dalam daerah, 3 orang pedagang besar luar daerah dan 1 orang pedagang besar dalam daerah serta 12 orang pedagang pengecer di Pasar Teluk Kuantan Kecamatan Kuantan Tengah.
Metode yang digunakan untuk pengambilan responden pada pedagang yaitu dengan metode snowball sampling yakni dengan menentukan responden awal kemudian menentukan responden berikutnya berdasarkan informasi mula-mula berdasarkan informasi dari peternak responden, berikutnya berdasarkan lembaga pemasaran yang ditunjuk oleh peternak responden, dan seterusnya sampai kejenuhan responden atau responden sulit dicapai. Model ini digunakan karena target populasi lembaga pemasaran tidak diketahui dengan jelas dan sulit didekati dengan cara lainnya (Sarantakos, 1993).

Jenis dan Sumber Data
          Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari peternak, dan pedagang adalah keadaan usaha (umur peternak, pendidikan, jenis kelamin, jumlah produksi,harga, serta biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses pemasaran ayam ras pedaging) dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian.
          Data primer yang diperlukan dari lembaga pemasaran adalah jumlah ayam ras pedaging yang dijual-belikan, nilai penyusutan ayam ras pedaging, biaya-biaya pemasaran, harga beli/jual, tujuan penjualan dan ada tidaknya kerjasama sesama pedagang, serta permasalahan-permasalahan dalam pemasaran ayam ras pedaging.
           Data sekunder yaitu data yang diambil dari instansi terkait yang berhubungan dengan penelitian, diperoleh dari  Dinas Perternakan, Badan Pusat Statistik (BPS) dan sebagainya.

Metode Analisa Data 
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis kuantitatif, kemudian dilakukan pengolahan analisa data. Analisis deskriptif ditujukan untuk melihat keadaan lokasi, keadaan pedagang,mengidentifikasi lembaga pemasaran, menganalisa fungsi-fungsi dan saluran pemasaran. Sedangkan analisis kuantitatif untuk menganalisis marjin pemasaran, share peternak, dan efisiensi pemasaran. Analisis dengan metode kuantitatif diolah dengan menggunakan program Excel dan kalkulator.   

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Wilayah Penelitian
Kecamatan Kuantan Tengah merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi yang mempunyai jumlah penduduk 54.607 jiwa dengan luas wilayah 270.74 km2 dan terdiri dari 23 desa/kelurahan. ( sumber : Disdukpencapil ). Kecamatan Kuantan Tengah merupakan Ibukota Kabupaten Kuantan Singingi. Secara ekonomi daerah yang merupakan pusat kota perputaran ekonomi akan semakin cepat karena semua sektor akan terkonsentrasi pada daerah tersebut. Sehingga penduduk akan lebih banyak mendiami daerah tersebut, sehingga bagi pedagang-pedagang ayam ras pedaging berpeluang untuk memasarkan produknya.
Batas-batas wilayah Kecamatan Kuantan Tengah : Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Singingi dan Gunung Toar. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kuantan Hilir dan Sentajo Raya. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kuatan Mudik dan Hulu Kuantan. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Singingi dan Sentajo Raya.
Kecamatan Kuantan Tengah terdiri dari dan 3 Kelurahan dan 20 Desa yaitu : Kelurahan Pasar Taluk, Kelurahan Simpang Tiga, Kelurahan Sungai Jering, Desa Bandar Alai, Desa Pulau Kedundung, Desa Pulau Aro, Desa Seberang Taluk, Desa Pulau Baru, Desa Koto Tuo, Desa Kopah, Desa Munsalo, Desa Sawah, Desa Koto Taluk, Desa Koto Kari, Desa Pintu Gobang, Desa Jake, Desa Pulau Godang, Desa Jaya, Desa Beringing Taluk, Desa Sitorajo, Desa Seberang Taluk Hilir, Desa Titian Medang, Desa Pulau Banjar Kari.
Topografi Kecamatan Kuantan Tengah merupakan tanah datar dan berbukit-bukit dengan ketinggian sekitar 300 meter dari permukaan laut. Jenis tanah yang ada di Kecamatan Kuantan Tengah pada lapisan atas berjenis hitam gembur dan lapisan bawahnya berwarna Kuning.
Penduduk Kecamatan Kuantan Tengah berjumlah sebanyak 54.607 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 27.958 jiwa dan perempuan sebanyak 26.469 jiwa (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun 2013). Kecamatan Kuantan Tengah beriklim tropis dengan suhu udara berkisar 19,5 derajat celcius sampai dengan 34,2 derajat celcius. Kecamatan ini memiliki musim hujan dan musim kemarau, musim hujan terjadi pada bulan September sampai dengan bulan Maret dan musim kemaraunya terjadi pada bulan April sampai dengan bulan Agustus.
Sungai besar yang mengalir di Kecamatan Kuantan Tengah adalah Sungai Kuantan yang merupakan aliran dari sungai yang ada di propinsi Sumatera Barat yang bermuara ke Selat Malaka di Kabupaten Indragiri Hilir.

Karakteristik Responden
Responden pada penelitian berjumlah 23 orang, yang terdiri dari 4 orang peternak luar daerah dan 3 orang peternak dalam daerah, 3 orang pedagang besar luar daerah dan 1 orang pedagang besar dalam daerah, serta 12 orang dari pedagang pengecer ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan. Karakteristik yang diamati dalam penelitian ini meliputi umur responden, lama pendidikan yang telah ditempuh responden dan lama usaha yang telah dijalankan responden. Ada pun keadaan umum responden dapat dilihat pada Tabel 1.


Tabel 1. Karakteristik Responden
Responden
Jenis Kelamin
Rata-rata Umur                (th)
Rata-rata    Lama Pendidikan                    (th)
Rata-rata Lama usaha                                (th)
Laki-laki (jumlah)
Perempuan (jumlah)
Peternak
7
-
47.29
10.71
11.71
Pedagang Besar
3
1
41.75
11.25
10
Pedagang Pengecer
7
5
42.42
9.75
8.33


Pemasaran Ayam Ras Pedaging
Kegiatan pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan melibatkan beberapa lembaga pemasaran yang akan melakukan fungsi-fungsi pemasaran. Lembaga tersebut akan membentuk saluran pemasaran dalam melakukan tugas pemindahan  barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Hasil yang diperoleh berdasarkan metode snowball sampling, pedagang yang ada di Pasar Teluk Kuantan dikelompokkan menjadi dua yaitu pedagang besar, dan pedagang pengecer. Setiap lembaga pemasaran melakukan fungsi pemasaran yang berbeda sehingga keuntungan yang diperoleh tiap lembaga sangat berbeda. Pedagang ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan memperoleh keuntungan dari selisih harga yang diterima dari konsumen dengan harga yang dibayarkan ditambah biaya pemasaran.
 Selama proses pemasaran terdapat beberapa lembaga yang terlibat dalam aktivitas pemasaran, maka dapat dianalisis distribusi marjin pemasaran di antara lembaga-lembaga yang terlibat ini. Sistem pemasaran yang terjadi di Pasar Teluk Kuantan adalah konsumen langsung membeli ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dalam hal ini kebutuhan daging ayam ras pedaging.
Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran produk-produk pertanian sangat beragam tergantung dari jenis yang di Pasarkan, ada komoditi yang melibatkan banyak lembaga pemasaran dan ada pula yang melibatkan sedikit lembaga pemasaran. Kegiatan pemasaran ayam ras pedaging, melibatkan beberapa lembaga pemasaran dalam penyampaian komoditas dari peternak hingga konsumen, yaitu : peternak, pedagang besar dan pedagang pengecer. Setiap lembaga pemasaran umumnya melakukan fungsi-fungsi pemasaran berdasarkan kepentingan dan tujuan pemasaran.

Lembaga Pemasaran Ayam Ras Pedaging
Lembaga pemasaran yang berperan dalam menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen terdiri dari peternak, pedagang besar dan pedagang pengecer. Masing-masing lembaga pemasaran tidak mempunyai ikatan perjanjian yang resmi dengan pihak manapun, sehingga mereka bebas membeli dan menjual produknya kemanapun. Namun demikian, beberapa lembaga pemasaran mempunyai hubungan yang sangat baik dengan pihak pemasoknya, sehingga menimbulkan keterkaitan yang erat satu sama lain.

Peternak
Peternak dalam memasarkan ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan menjual langsung kepada pedagang besar luar dan dalam daerah dan pedagang pengecer, pedagang ini sudah biasa menjadi langganan dari peternak tersebut. Peternak terbagi dalam dua kelompok pemasaran, yaitu : Peternak luar daerah dan peternak dalam daerah
Peternak luar daerah adalah peternak yang melakukan usaha budidaya ayam ras pedaging diluar daerah dalam hal ini Payakumbuh, dengan melakukan penjualan kepada pedagang besar luar daerah.
Peternak dalam daerah adalah peternak yang melakukan usaha budidaya ayam ras pedaging di Kabupaten Kuantan Singngi dengan melakukan penjualan kepada pedagang besar dalam daerah dan pedagang pengecer yang ada di pasar Teluk Kuantan.

Pedagang Besar
Pedagang besar mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyampaian produk dari peternak kepada pedagang pengecer dan konsumen. Beberapa tahapan kegiatan yang dilakukan oleh pedagang besar yaitu, pengangkutan dan penyimpanan. Kegiatan tersebut menggambarkan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang besar, serta terbentuknya saluran pemasaran dari pedagang besar dikarenakan pedagang pengecer membeli ayam ras pedaging melalui pedagang besar. Perbedaan saluran yang terbentuk akan mempengaruhi biaya-biaya pemasaran dan keuntungan yang diperoleh pedagang besar, sehingga perbedaan tesebut dapat juga mempengaruhi keuntungan dari pedagang lainnya.
Pedagang besar merupakan pedagang yang melakukan volume pembelian dan penjualan dalam skala besar. Pedagang besar dalam pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan dikategorikan dalam dua kelompok pemasaran yaitu : Pedagang besar luar daerah dan pedagang besar dalam daerah.
Pedagang besar luar daerah adalah pedagang yang datang dari luar daerah (Payakumbuh) yang membawa atau menjual ayam ras pedaging ke dalam daerah (Pasar Teluk Kuantan/Kabupaten Kuantan Singingi). Pedagang besar luar daerah membeli ayam ras pedaging kepada peternak-peternak yang ada di Payakumbuh, kemudian dijual kepada pedagang pengecer di Pasar Teluk Kuantan, pedagang pengecer diluar Pasar Teluk Kuantan, pedagang pengumpul diluar Pasar Teluk Kuantan, rumah makan/warung nasi dan konsumen.
Pedagang besar dalam daerah merupakan pedagang yang membeli ayam ras pedaging dalam jumlah yang sangat banyak kepada peternak dalam daerah untuk didistribusikan kepada pedagang pengecer yang berada di Pasar Teluk Kuantan.

Pedagang Pengecer
Lembaga pemasaran pedagang pengecer merupakan pelaksana kegiatan terakhir dari pola penyaluran suatu barang atau jasa. Pedagang pengecer juga merupakan pedagang yang menjual langsung kepada konsumen. Pedagang pengecer melakukan pembelian kepada pedagang besar  dan ada juga membeli nya kepeternak, karena peternak ini langsung juga membawa ayam tersebut ke Pasar Teluk Kuantan. Pedagang pengecer ini membeli ayam ras pedaging  tidak dalam jumlah banyak, karena pedagang pengecer akan menjual kembali ayam tersebut ke konsumen dalam hari itu juga.

Saluran Pemasaran Ayam Ras Pedaging
Saluran pemasaran merupakan serangkaian lembaga pemasaan yang mengambil alih hak, atau membantu dalam pengalihan hak dalam hal ini pedagang membantu penyaluran komoditi ayam ras pedaging dari peternak hingga konsumen. Saluran pemasaran komoditi ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan melibatkan beberapa lembaga pemasaran, diantaranya : peternak, pedagang besar luar daerah, pedagang besar dalam daerah, pedagang pengecer dan konsumen.
Terdapat tiga pola saluran pemasaran yang dilalui pedagang ayam ras pedaging  di Pasar Teluk Kuantan, yaitu :
Saluran 1        : Peternak luar daerah - Pedagang Besar Luar Daerah - Pedagang Pengecer -     Konsumen
Saluran 2 : Peternak dalam daerah - Pedagang Besar Dalam Daerah - Pedagang Pengecer - Konsumen
Saluran 3        :  Peternak dalam daerah - Pedagang Pengecer - Konsumen

Fungsi-fungsi Pemasaran Ayam Ras Pedaging
Pada setiap lembaga pemasaran selalu melakukan berbagai fungsi-fungsi pemasaran. Namun fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pemasaran ini adalah kegiatan penjualan, penanggungan resiko, pembiayaan dan penyediaan informasi pasar. Hal tersebut dilakukan karena kegiatan tersebut dapat mempengaruhi tingkat efisiensi suatu proses pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan dapat dilihat pada Tabel 2.






Tabel 2. Fungsi-fungsi Pemasaran ayam ras Pedaging Menurut Lembaga-lembaga Pemasaran di  Pasar Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2013
Saluran
dan
Lembaga
Fungsi-fungsi Pemasaran
Pertukaran
Fisik
Fasilitas
Jual
Beli
Penyimpanan
Pengolahan
Pengangkutan
Grading
Resiko
Biaya
Saluran 1








Peternak luar daerah
-
-
-
-
-
-
-
Ped. Besar luar
-
Ped. pengecer
#
-
Saluran 2








Peternak daerah
-
-
-
-
-
-
-
Ped. Besar daerah
-
Ped. Pengecer
#
-
Saluran 3








Peternak
-
-
-
-
Ped. Pengecer
#
-
Keterangan : (-) Kegiatan tidak dilakukan    (√) Kegiatan dilakukan (#) Kegitan kadang dilakukan


Dari Tabel 2 terlihat bahwa : Peternak ayam ras pedaging melakukan fungsi pertukaran, yaitu kegiatan penjualan (fungsi penjualan). Pada umumnya fungsi penjualan dilakukan oleh peternak kepada pedagang besar luar dan dalam daerah, dan pedagang pengecer. Selain fungsi pertukaran, sebahagian peternak juga melakukan fungsi fisik yaitu pengangkutan, peternak melakukan pengangkutan mulai dari kandang tempat beternak ayam ras pedaging lalu dibawa ke Pasar yang ada di Teluk Kuantan yang tujuannya untuk dijual kepada pedagang pengecer dan konsumen.
Sedangkan sebahagian peternak juga melakukan fungsi fasilitas yaitu grading, penanggungan resiko, dan pembiayaan. Grading dilakukan oleh peternak yaitu peternak membawa ayam ras pedaging ke Pasar Teluk Kuantan berdasarkan ukuran yaitu ukuran minimal 0,6 kg, maksimal 1,5 kg dalam bentuk ayam hidup. sedangkan penanggungan resiko adalah resiko yang dihadapi peternak yaitu pengurangan bobot ayam ketika dalam perjalanan dari kandang sampai ke Pasar Teluk Kuantan. Pembiayaan yang dilakukan oleh peternak dalam proses pemasaran merupakan biaya-biaya yang dilakukan selama proses pemasaran.

Analisis Marjin Dan Efisiensi Pemasaran
Marjin pemasaran dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu segi harga dan biaya pemasaran. Pada analisis pemasaran sering menggunakan konsep marjin yang dipandang dari sisi harga. Marjin pemasaran merupakan selisih harga yang dibayar konsumen dan harga yang diterima peternak (produsen). Dengan menganggap bahwa selama proses pemasaran terdapat beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam aktifitas pemasaran ini, maka dapat dianalisis distribusi marjin pemasaran di antara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat (Sudiyono, 2001).
Marjin pemasaran didefinisikan sebagai perbedaan harga atau selisih harga yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima oleh produsen, atau dapat pula dinyatakan sebagai nilai dari jasa-jasa pelaksanaan kegiatan pemasaran sejak dari tingkat produsen sampai ke titik konsumen. Kegiatan untuk memindahkan barang dari titik produsen ke titik konsumen membutuhkan pengeluaran baik fisik maupun materi (Limbong dan Sitorus, 1987).
Marjin merupakan perbedaan harga atau selisih harga yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima peternak. Dalam hal ini marjin pemasaran pedagang besar adalah perbedaan harga yang dibayarkan kepada peternak dengan harga jual kepada pedagang  pengecer dan konsumen dalam saluran pemasaran dengan komoditi yang sama.
Margin pemasaran sering juga digunakan sebagai indikator efisiensi pemasaran. Menurut Soekartawi (2002), margin pemasaran merupakan perbedaan harga yang diterima petani sebagai produsen terhadap harga yang diterima konsumen. Pada Tabel 3 dapat dilihat hasil analisis margin, share harga dan efisiensi.




Tabel   3. Total Biaya, Margin, Share, dan Efisiensi Setiap Pelaku Lembaga Pemasaran Ayam Ras Pedaging di Pasar Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singngi Tahun 2013
No
Variabel
Saluran 1
Saluran 2
Saluran 3
1
Total Biaya (Rp/Kg)
3.227,20
1.544,49
1.299,69
2
Total Margin (Rp/Kg)
11.600
9.750
6.000
3
Share Peternak (%)
57,97
62,14
76
4
Efisiensi (%)
11,69
6
5,20


Berdasarkan Tabel 3. Terlihat pada masing-masing saluran pemasaran ayam ras pedaging di pasar Teluk Kuantan baik yang terdapat pada pola saluran 1, saluran 2 dan saluran 3, diperoleh total margin pemasaran pada pola saluran 1 sebesar 11.600, pola saluran 2 sebesar 9.750, pola saluran 3 sebesar 6.000 per kilogram.
Nilai efisiensi pada masing-masing saluran diperoleh nilai efisiensi pada pola saluran 1 sebesar 11.69%, artinya untuk memperoleh penerimaan 100% maka dibutuhkan biaya sebesar 11,69%, pada pola saluran 2 sebesar 6%, artinya untuk memperoleh penerimaan 100% maka dibutuhkan biaya sebesar 6%, pada pola saluran 3 sebesar 5.20%, artinya untuk memperoleh penerimaan 100% maka dibutuhkan biaya sebesar 5.20%. Dari ketiga pola saluran yang ada di Pasar Teluk Kuantan, saluran yang paling efisien terdapat pada pola saluran 3 yaitu saluran yang terdapat pada peternak dengan menjual nya langsung kepedagang pengecer dengan nilai efisiensi sebesar 5.20%.
Pada saluran 3 merupakan nilai tolal margin terkecil dibandingkan saluran pemasaran lainnya. Dikarenakan pada saluran 3 ini rantai pemasarannya lebih pendek dari saluran pemasaran lainnya, sehingga share peternak lebih tinggi sebesar 76 persen dan nilai efisiensi sebesar 5.20 persen.
Demikian dapat disimpulkan, bahwa semakin pendek rantai pemasaran, maka margin pemasaran akan semakin kecil, hal ini disebabkan pelaku pemasaran dalam mengambil keuntungan lebih sedikit dan juga total biaya yang ditimbulkan dalam proses penyampaian ayam ras pedaging kekonsumen juga lebih kecil.
Secara berturut-turut dari tiga pola saluran pemasaran yang ada, paling efisien adalah pada pola saluran 3 sebesar 5.20%, pola saluran 2 sebesar 6%, dan pola saluran 1 sebesar 11.69%. Pemasaran akan semakin efisien apabila nilai efisiensi lebih rendah, margin rendah dan share petani lebih tinggi. Kurang efisiennya pemasaran pada pola saluran 1 dan pola saluran 2 dibandingkan pola saluran 3, hal ini disebabkan posisi tawar peternak lemah, harga yang ditawarkan lebih rendah, dan masing-masing lembaga yang terlibat mengambil keuntungan.
Jika dilihat dari harga jual ditingkat peternak luar dan peternak dalam daerah, harga jual peternak dalam daerah lebih tinggi dibanding harga jual peternak luar daerah. Hal ini disebabkan karena adanya persaingan harga jual dengan pedagang besar luar daerah dan pedagang besar dalam daerah ke pedagang pengecer.
Lebih efisiennya saluran 3 disebabkan karena pada saluran 3 ini rantai pemasarannya lebih pendek, sehingga peternak dapat langsung menjual ayam ras pedaging dengan harga sama yang ditetapkan oleh pedagang besar luar daerah. Dengan demikian tingkat keuntungan peternak dalam daerah lebih besar dibanding peternak luar daerah, hal ini merupakan peluang bagi peternak dalam daerah untuk mengembangkan usaha peternakan ayam ras pedaging di Kabupaten Kuantan Singngi.
Namun peternak dalam daerah harus mampu meningkatkan daya saingnya terhadap pedagang besar dari luar daerah dengan cara memperluas kafasitas kandang, menentukan teknologi dalam penghematan pakan, dan menjaga kontinuitas produk agar tersedia setiap saat.

Farmer’s Share
Farmer’s share merupakan perbandingan antara harga yang diterima oleh peternak dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen, umumnya dinyatakan dalam persentase. Farmer’s share ini merupakan sebagai konsep balas jasa atas kegiatan yang dilakukan peternak dalam pemasaran. Besarnya farmer’s share dapat dilihat pada setiap pola saluran pemasarannya (Tabel 4 ).







Tabel 4. Farmer’s Share Pada Berbagai Pola Saluran Pemasaran ayam ras  Pedaging di Pasar Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi
Saluran Pemasaran
Harga di Tingkat
Peternak
Harga di Tingkat
Konsumen
Farmer’s Share


1
16.000.00
27.600.00
57,97
2
16.000.00
25.750.00
62,14
3
19.000.00
25.000.00
76


Farmer’s share mempunyai hubungan yang negatif dengan marjin pemasaran, semakin tinggi margin maka share peternak akan semakin semakin rendah. Pada penelitian ini share peternak pada pola saluran 1 sebesar 57,97%, pada pola saluran 2 sebesar 62,14%, dan pada pola saluran 3 sebesar 76%.
Share peternak tertinggi terdapat pada pola saluran 3 sebesar 76% sisanya  24% merupakan bahagian yang diterima oleh lembaga-lembaga pemasaran lainnya. Bahagian yang diterima peternak pada setiap saluran cukup besar namun penerimaan tersebut bukanlah merupakan Net Profit, karena biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses usaha petenakan dan proses produksi tidak dimasukkan dalam biaya pemasaran.
Besarnya Share peternak dibandingkan pelaku-pelaku lainnya dalam mengambil keuntungan tidak terlalu besar, hal ini disebabkan karena sumber informasi harga cepat diperoleh dari pedagang pengecer yang harga jual dari setiap pedagang hampir sama, sehingga harga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Dan dapat juga disebabkan oleh hubungan yang baik antara peternak dengan pedagang, sehingga informasi harga lebih terbuka.

KESIMPULAN

1.      Saluran pemasaran ayam ras pedaging yang terdapat dipasar Teluk Kuantan terdiri dari tiga pola saluran, yaitu :
1.                   Peternak luar daerah – Pedagang besar luar daerah – Pedagang pengecer – Konsumen
2.                   Peternak dalam daerah – Pedagang besar dalam daerah – Pedagang pengecer – Konsumen
3.                   Peternak dalam daerah – Pedagang Pengecer – Konsumen
2.      Dalam kegiatan pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan melibatan beberapa lembaga pemasaran dalam penyampaian komoditi ayam ras pedaging dari peternak hingga kekonsumen, diantaranya : Peternak luar dan dalam daerah, pedagang besar luar daerah, pedagang besar dalam daerah dan pedagang pengecer. Setiap dari lembaga tersebut melaksanaan fungsi-fungsi pemasaran yang terdiri dari : fungsi pertukaran (pembelian dan penjualan), fungsi fisik (penyimpanan, pengolahan, dan pengangkutan), fungsi fasilitas (grading, penanggungan resiko, dan pembiayaan).
3.   Hasil penelitian menunjukan bahwa, dari ketiga  saluran pemasaran ayam ras pedaging di Pasar Teluk Kuantan Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi saluran yang paling efisien ditemukan pada saluran ke 3, yaitu :  Peternak dalam daerah – pedagang besar dalam daera – konsumen.
    
DAFTAR PUSTAKA

Limbong, W. H dan Sitorus, P. 1987. Pengantar Tata Niaga Pertanian. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nazir, Moh. 1988, Metode penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Santoso, A. 2001. Kajian Sistem Agribisnis Pada Usahatani Tebu Rakyat Bebas Lahan Kering Dalam Upaya Pemberdayaan Petani tebu di Kabupaten Ngawi jawa Timur. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Sarantakos, S. 1993. Social Research. Macmillan Education Australia PTY. LTD. Australia.
Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-hasil Pertanian. PT. Raja Grafindo. Jakarta.
Sudiyono, A. 2001. Pemasaran Pertanian. Edisi Pertama. UUM Press. Penerbitan Universitas Brawijaya Malang. Malang.
  Wahyudhi, N. 2004. Analisis Pemasaran Kayu Jati di Hutan Rakyat Tectona grandis Kecamatan Gading Rejo Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung. Skripsi. Universitas Lampung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar