Selasa, 25 November 2014

JGS VOL 5 NO 1 ED MEI 2014 ISSN 2252-861X HAL 137-146


PENERAPAN ASPEK TEKNIS PEMELIHARAAN TERNAK KAMBING KACANG
DI KECAMATAN INUMAN KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

Ruspan, Lis Darti Roza, Yoshi Lia Anggrayni
Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kuantan Singingi, Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau.

ABSTRACT

Implementation of technical aspects on goat rearing is a critical success factor raising goats. The purpose this research to know the technical aspects of the implementation of maintenance performed by the bean goat breeders in District Inuman Singingi Kuantan district. The method used in this study is a survey method with purposive sampling with the number of respondents 15 people. Data obtained by selecting answers to questions put to respondents in the qualitative questionnaire response options were given scoring where appropriate answers that do not fit worth 3 1 worth of technical aspects of the application of research results in the District Inuman goat rearing (1) the management of the maintenance of 62.22% ( 2) seed 78.52% (3) 40.44% of feed, (4) perkandangan 93.89% (5) 47.11% disease control (6) management of reproductive 46.22%.

Keywords: goat nut, technical aspects of the implementation, maintenance system.


PENDAHULUAN

Kambing kacang merupakan salah satu jenis kambing yang umum di pelihara masyarakat dan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai komponen usaha tani di berbagai agro-ekosistem. Kambing kacang  memiliki kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang relatif lebih baik di bandingkan dengan beberapa jenis ternak ruminansia lain. Oleh karena itu kambing kacang sering menjadi pilihan utama dan disukai diberbagai komunitas petani, karena memiliki sifat yang jinak sehingga berkembang sentra-sentra produksi kambing yang menyebar diberbagai agroekosistem.
Pengelolaan kambing kacang dalam usaha tani sebagian besar masih dilakukan secara sambilan dengan tujuan beternak sebagai tabungan, dengan demikian secara finansial komoditas ini memiliki peran yang penting dalam perekonomian rumah tangga petani (Ginting, 2009).  Selain itu ternak kambing sangat berperan dalam ritual keagamaan dan kegiatan sosial misalnya dijadikan ternak kurban dan ternak potong untuk aqiqah. Khusus di Kabupaten Kuantan Singingi ternak kambing juga dijadikan sebagai hadiah dalam kegiatan pacu jalur.
Keberadaan kambing kacang di Kabupaten Kuantan Singingi telah lama diakui masyarakat, hal ini terbukti masyarakat telah memelihara ternak kambing secara turun-temurun dan masih bersifat tradisional yang dicirikan dengan rendahnya kepemilikan, minimnya modal dan penggunaan teknologi budidaya yang masih terbatas.  Jenis kambing yang dipelihara umumnya adalah kambing kacang dan bibit yang digunakan masih berasal dari bibit kambing lokal.
Berdasarkan data Dinas Peternakan Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2012, populasi kambing sebanyak 20 828 ekor naik 4.5% dari tahun 2011 dengan populasi 19 934 ekor. Sementara itu populasi kambing di Kecamatan Inuman tahun 2012 sebanyak 1 419 ekor. Kepemilikan kambing di wilayah ini berkisar antara 1 sampai 9 ekor per rumah tangga peternak.
Kecamatan Inuman merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya alam cukup besar untuk pengembangan kambing kacang, yang didukung dengan luasnya lahan penggembalaan dan tersedianya limbah tanaman sebagai sumber pakan yang berasal dari lahan tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Kambing kacang merupakan ternak yang paling banyak dipelihara oleh masyarakat di pedesaan bersama dengan ternak lain dengan pakan yang ada di sekitar pekarangan, padang penggembalaan atau di lahan lainnya.
Pola pemeliharaan kambing kacang di Kecamatan Inuman masih menggunakan sistem tradisional, dimana semua ternak kambing dilepas dan dibiarkan mencari makan sendiri pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari. Bibit kambing yang dipelihara peternak berasal dari daerah setempat yang didapatkan dengan membeli atau dengan memelihara ternak kambing orang lain.
Jenis kandang kambing kacang yang digunakan adalah jenis kandang berkolong di mana lantai kandang berada sekitar satu meter di atas tanah, memiliki tangga untuk memasukkan kambing. Bahan kandang menggunakan bahan sederhana:  dinding terbuat dari papan dan kayu, seadangkan atap terbuat dari seng dan daun rumbia. Cara mengatasi pengendalian penyakit ternak kambing masih menggunakan obat tradisional. Sistem perkawinan ini tidak mendapat perhatian yang serius dari peternak kambing, peternak tidak melihat dari segi dewasa tubuh, dewasa kelamin dan perkawinan yang dilakukan adalah perkawinan sedarah atau disebut dengan inbreeding.
Pemeliharaan kambing kacang secara semi intensif sangat mungkin dilakukan. Kambing kacang dipelihara di areal kandang yang berpagar sehingga kambing kacang tidak berkeliaran dan tidak merusak tanaman pangan. Pola ini dapat memaksimalkan pemanfaatan kotoran sebagai pupuk. Penggunakan limbah tanaman sebagai sumber pakan juga dapat menambah alternative pakan selain  rumput, leguminosa dan daun semak belukar di pinggir jalan yang secara kuantitatif sangat terbatas.
Direktorat Jenderal Peternakan (1992) menyatakan aspek teknis yang meliputi: tatalaksana pemeliharaan, bibit, pakan, perkandangan, pengendalian penyakit dan pengelolaan reproduksi. Hal tersebut berkaitan dengan perilaku dan pengetahuan peternak dalam penerapan aspek teknis pemeliharaan kacang. Secara umum peternak lebih mengenal situasi dan kondisi sumber daya alam sekitarnya namun peternak kurang memanfaatkannya untuk meningkatkan aspek teknis pemeliharaan ternak.                                   
            Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan aspek teknis pemeliharaan kambing kacang yang ditinjau dari aspek: tatalaksana pemeliharaan, bibit, pakan, perkandangan, pengendalian penyakit dan pengelolaan reproduksi di Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi.
            Hasil penelitian berguna sebagai dasar mengambil kebijakan oleh Instansi terkait untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak sehingga dapat meningkatkan populasi kambing kacang di Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi.  Untuk peternak, hasil penelitian ini sebagai dasar memperbaiki teknis budidaya kambing kacang sehingga tujuan beternak menghasilkan produksi yang tinggi dapat dicapai. Kepada masyarakat diharapkan dorongan dan dukungan moral sehingga peternak sadar dan mengubah perilaku dalam teknis budidaya kambing kacang. Perubahan prilaku ke arah perbaikan dalam penerapan teknis budidaya kambing diharapkan nak.akan memacu produksi kambing kacang dan pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan peternakan.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan bulan Oktober sampai dengan bulan November 2013, bertempat di Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi.

Responden Penelitian
            Responden penelitian sebanyak 15 peternak yang diperoleh dengan metode purposive sampling di mana peternak yang diambil ditentukan berdasarkan jumlah kambing dewasa yang dimilikinya. Responden terpilih adalah peternak yang memiliki kambing dewasa 4 (empat) ekor atau lebih yang berasal dari 93 peternak kambing kacang.

Metode Penelitian
            Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur yang berpedoman kepada kuesioner yang disusun berdasarkan aspek teknis yang ingin diketahui.  Data ini kemudian diberi skor berdasarkan tingkat penerapan aspek teknis tersebut. Jika aspek teknis diterapkan secara maksimal diberi skor 3, jika sebagian atau kadang-kadang diberi skor 2 dan jika tidak ada penerapan aspek teknis diberi skor 1.
Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis untuk memperoleh rata-rata hitung (mean) dan persentase.
1.     Rata-rata hitung (mean)
Rata-rata hitung adalah nilai yang diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai yang ada kemudian dibagi jumlah sampel.
Rumus :
Dimana:
 = Rata-rata untuk sampel
 = Jumlah semua harga X yang ada dalam kumpulan
n = Banyak data dalam sampel
2.   Persentase (%)
Persentase adalah nilai yang diperoleh dibagi nilai total dalam kumpulan dikali 100 %.
 x100 %
Dimana:
% = Persentase
= Harga x sampel
 = Total harga x dalam kumpulan
Konsep Operasional
1. Aspek teknis adalah aspek teknis pemeliharaan yang meliputi tatalaksana pemeliharaan, bibit, pakan, perkandangan, pengendalian penyakit dan pengelolaan reproduksi.
2.  Kategori skor yang ditetapkan oleh DINJENNAK (1992) yaitu:
a.   Kategori baik, jika persentase skor yang diperoleh 81-100%.
b.   Kategori sedang, jika persentase skor yang diperoleh 61-80%.
c.   Kategori kurang, jika persentase skor yang diperoleh kecil dari 60%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden
Responden penelitian berjumlah 15 orang peternak dengan klasifikasi usia  26-45 tahun  berjumlah 9 orang (60%)  dan usia 46-65 tahun berjumlah 6 orang (40). Dari data ini terlihat bahwa responden sebagian besar berusia produktif. Menurut Setiana (2000), kondisi emosi pada usia produktif relatif stabil sehingga mudah menerima pengarahan dan inovasi dari pihak-pihak yang lebih menguasai hal tersebut dan didukung oleh adanya dorongan yang cukup kuat untuk memperoleh pengalaman pada usia tersebut.


Tabel 1. Karakteristik Responden.
No.
Karakteristik
Jumlah (Orang)
1.
Tingkat Umur
26 - 45
9
46 - 65
6
2.
Tingkat Pendidikan
SD
8
SLTP
7
3.
Pengalaman Beternak
2 - 8
11
9 - 13
5

           

Tabel 1 memperlihatnya bahwa tingkat pendidikan responden  penelitian masih rendah yaitu tamat SD 8 0rang (53%) dan tamat SLTP 7 orang (47%). Dengan tingkatan pendidikan yang rendah tersebut  peternak sulit menyerap teknologi yang diberikan oleh Penyuluh Peternakan atau informasi dari media cetak lainnya sehingga beternak hanya dilakukan atas dasar pengalaman. Kusumawati (2004) menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang baik akan cenderung mudah untuk menerima informasi baru dalam teknik beternak yang baik, selain memberikan tanggapan positif pada setiap kemajuan usaha beternak juga lebih matang untuk memecahkan setiap permasalahan yang dihadapinya.
            Responden penelitian memiliki pengalaman beternak  2-8 tahun 11 orang (73%) dan 9-13 tahun 4 orang (27%). Menurut Suharsih (1998), pengalaman merupakan faktor yang dapat menentukan maju mundurnya suatu kegiatan usaha. Sementara itu Tatipikalawan (2006), menyatakan pengalaman beternak merupakan faktor yang penting bagi peternak dalam mempertimbangkan dan mengambil keputusan untuk menentukan jenis ternak yang dipelihara dan paling bermanfaat bagi mereka.
Selanjutnya hasil penelitian Misriani (2011) memperlihatkan bahwa  pendapatan peternak berkorelasi positif terhadap umur, tingkat pendidikan, lama pengalaman beternak dan jumlah ternak yang dipelihara pada kelompok sapi Pesisir dan sapi Bali. Walaupun demikian untuk meraih keberhasilan dalam  beternak tidak cukup modal pengalaman secara turun temurun saja, yang lebih penting yaitu kemauan memperbaiki cara beternak dengan menerima dan menerapkan inovasi-inovasi baru di bidang peternakan.

Penerapan Aspek Teknis
            Hasil penelitian tentang penerapan aspek teknis pemeliharaan kambing kacang oleh peternak di Kecamatan Inuman secara keseluruhan menunjukkan bahwa penerapan aspek teknis pemeliharaan ternak kambing kacang di Kecamatan Inuman rata-rata 61.45%, capaian ini termasuk kategori sedang seperti terlihat pada Tabel 2. 


Tabel 3. Penerapan Aspek Teknis Pemeliharaan Kambing Kacang Di Kecamatan Inuman
No.
Aspek Teknis
Skor Maksimal
Rata-rata Skor
Persentase (%)
Kategori
1.
Tatalaksana pemeliharaan
15
9.33
62.22
Sedang
2.
Bibit
9
7.07
78.52
Sedang
3.
Pakan
15
6.07
40.44
Kurang
4.
Perkandangan
12
11.3
93.89
Baik
5.
Penyakit
15
7.07
47.11
Kurang
6.
Reproduksi
15
6.93
46.22
Kurang
Jumlah/Rata-rata
81
47.77
61.45
Sedang


Tabel di atas memperlihatkan bahwa capaian persentase penerapan aspek teknis pada pemeliharaan kambing kacang di Kecamatan Inuman berturut-turut dari yang tertinggi sampai terndah sebagai berikut: aspek perkandangan (93.89%), bibit (78.52%), tatalaksana pemeliharaan (62.22%), pengendalian penyakit (47.11%), pengelolaan reproduksi (46.22%), pakan (40.44%).

Tatalaksana pemeliharaan
Tatalaksana pemeliharaan meliputi kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan secara umum dengan 5 pertanyaan seperti pada Tabel 3.


Tabel 3. Penerapan Aspek Teknis Tatalaksana Pemeliharaan Di Kecamatan Inuman
No.
Aspek Yang Diteliti
Skor Maksimal
Rata-rata Skor
Persentase (%)
Kategori
1.
Sistem pemeliharaan
3
2.00
66.67
Sedang
2.
Membersihkan kandang ternak
3
2.53
84.44
Baik
3.
Memanfaatkan kotoran kambing
3
2.67
88.89
Baik
4.
Pencatatan
3
1.00
33.33
Kurang
5.
Pemeliharaan kambing dikandang
3
1.13
37.78
Kurang
Jumlah/Rata-rata
15
9.33
62.22
Sedang


Tabel di atas menunjukkan bahwa penerapan aspek teknis tatalaksana pemeliharaan ternak kambing telah diterapkan sebesar 62.22% atau dikategorikan sedang dengan jumlah skor 9.33 dari total skor 15. Aspek tatalaksana pemeliharaan yang diterapkan oleh peternak secara keseluruhan berkategori sedang namun jika dilihat satu per satu nilai tertinggi ada pada pemanfaatan kotoran kambing.  Hampir semua responden telah memanfaatkan kotoran kambing sebagai pupuk (88.89%). Hal ini juga sejalan  dengan kegiatan  membersihkan kandang oleh peternak setiap hari (84.44%).
Sudarmono (2003) menyatakan bahwa penggunaaan kotoran sebagai pupuk dapat melestarikan kesuburan tanah bahkan melestarikan lingkungan, serta dapat meningkatkan kualitas dan nilai ekonomis dari kotoran ternak dalam setiap usaha peternakan. Dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk didapatkan keuntungan secara ekonomi yaitu nilai jual pupuk dan secara sosial nilai kebersihan lingkungan sesuai dengan pendapat  Sosilorini, Sawitri dan Muharlien (2007), kebersihan kandang wajib dijaga dan sangat berpengaruh terhadap kesehatan ternak agar terhindar dari serangan penyakit. Sebaiknya kandang dibersihkan setiap hari sehingga kotoran-kotoran dan sisa pakan tidak sampai  membusuk.
Nilai terendah berada pada pecatatan kejadian pada ternak di mana peternak hanya melakukan pencatatan sekitar 33.33%. Kondisi ini membuktikan bahwa usaha peternakan kambing kurang teradministrasi dengan baik. Pencatatan perlu dilakukan karena dapat memberi informasi asal usul kambing secara genetika, dapat mengetahui riwayat penyakit dan dapat memastikan umur kambing.
Pemeliharaan kambing kacang di Kecamatan Inuman masih bersifat   tradisional (ekstensif) dengan skor rata-rata 1.13. Kondisi ini dapat dibuktikan dengan  banyaknya kambing berkeliaran di jalan atau memasuki perkarangan orang lain untuk mencari makan sendiri, sangat sedikit campur tangan pemilik kambing. Pemilik hanya mencari kambingnya pada sore hari untuk kemudian dimasukkan ke dalam kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Didiet (2008) yang menyatakan bahwa sistem pemeliharaan kambing masih dilaksanakan secara tradisional dengan cara dikandangkan atau setengah digembalakan.

Bibit
Penampilan (performans) kambing ditentukan oleh faktor genetic dari induknya yang dapat diturunkan dan dipengaruhi oleh lingkungan. Penerapan aspek bibit kambing kacang di Kecamatan Inuman dapat dilihat pada Tabel 4.


Tabel 4. Penerapan Aspek Teknis Bibit Di Kecamatan Inuman
No.
Aspek Yang Diteliti
Skor Maksimal
Rata-rata Skor
Persentase (%)
Kategori
1.
Kondisi bibit
3
2.40
80.00
Sedang
2.
Fenitip kambing
3
1.87
62.22
Sedang
3.
Seleksi bibit
3
2.80
93.33
Baik
Jumlah/Rata-rata
9
7.07
78.52
Sedang
           

Tabel di atas menunjukkan bahwa penerapan aspek teknis bibit ternak kambing telah diterapkan sebesar 78.52%  atau kategori sedang dengan skor capaian 7.07. Sebelum beternak, responden telah mengetahui kriteria bibit ternak kambing yang akan dibeli atau dipilih untuk dijadikan bibit. Mereka akan melihat kondisi bibit dari bentuk luar seperti bentuk tubuh secara umum, seperti kaki yang kuat, pergerakan yang lincah dan gesit serta nafsu makan yang baik.
Ukuran kuantitatif tubuh seperti bobot badan, panjang badan, tinggi pundak, lingkar dada dan warna rambut tidak terlalu dipertimbangkan oleh responden karena penerapan aspek fenotip hanya 62.22%. Selanjutnya seleksi bibit oleh peternak lebih memperhatikan kondisi ternak dari luar (fenotip) dibandingkan dari silsilah (genetik) ternak tersebut.
 Menurut Sutama, Budiarsana, Setiyanto dan Priyanti (1995) secara umum ciri kondisi bibit yang baik adalah yang berbadan sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan. Seleksi bibit induk harus dapat menghasilkan anak secara teratur 3 kali dalam 2 tahun, frekuensi beranak kembar relatif tinggi dan bobot anak umur sapih di atas rata-rata.
Karakteristik kualitatif fenotip kambing yaitu warna bulu bervariasi dari putih campur hitam, coklat atau hitam sama sekali, tanduk mengarah ke belakang dan membengkok keluar, hidung lurus, leher pendek, telinga pendek berdiri tegak ke depan, kepala kecil dan ringan. Berdasarkan kuantitatif betina umur 8-12 bulan tinggi badan minimal 46 cm berat badan minimal 12 kg jantan umur 12-18 bulan tinggi badan minimal 50 cm berat badan minimal 15 kg (Deptan, 2006)

Pakan
Pakan merupakan aspek yang sangat penting dalam meningkatkan produksi ternak kambing. Kambing kacang lebih menyukai memakan dedaunan dengan cara meramban dari pada memakan rumput. Penerapan aspek teknis pakan dapat dilihat pada Tabel 5

Tabel 5. Penerapan Aspek Teknis Pakan Di Kecamatan Inuman
No.
Aspek Yang Diteliti
Skor Maksimal
Rata-rata Skor
Persentase (%)
Kategori
1.
Jumlah hijaatuan
3
1.00
33.33
Kurang
2.
Jenis hijauan
3
2.00
66.67
Sedang
3.
Pemberian konsentrat
3
1.07
35.56
Kurang
4.
Air minum
3
1.00
33.33
Kurang
5.
Mineral
3
1.00
33.33
Kurang
Jumlah/Rata-rata
15
6.07
40.44
Kurang


Tabel di atas memperlihatkan bahwa penerapan aspek teknis pakan ternak kambing telah diterapkan sebesar 40.44% atau kategori kurang baik dengan jumlah rata-rata skor 6.07 dari skor maksimal 15. Penerapan teknologi pakan yang paling tinggi adalah jenis hijauan yang dimakan  kambing cukup beragam (66.67%).
Hijauan yang dimakan oleh kambing umumnya diperoleh dari padang penggembalaan, sekitar rumah dan di pinggir jalan. Jenis yang dijumpai di padang penggembalaan adalah rumput lapangan, putri malu dan semak-semak belukar. Sedangkan yang biasa ditemukan di sekitar rumah adalah daun limbah tanaman Hal ini sesuai dengan pendapat Didiet (2000) yang menyatakan bahwa  pakan ternak kambing terdiri dari pakan hijauan yang berasal dari rumput-rumputan, daun-daunan dan hasil sampingan tanaman pertanian.
Hardianto (2000) menyatakan hijauan pakan ternak (HPT) yang paling umum digunakan dalam budidaya kambing adalah jenis rumput-rumputan dan leguminosa. Hijauan pakan ternak merupakan pakan dasar, karena merupakan komponen utama dari ransum ternak, hijauan pakan ternak dapat merupakan jenis tanaman lokal, maupun yang diintroduksi. Dari kelompok tanaman lokal jenis rumputan yang disukai kambing antara lain adalah rumput Axonopus compressus (rumput pahit), Cynodon dactylon (rumput kawat), Ottocloa nodusa, sedangkan kelompok introduksi jenis rumput-rumputan yang sangat cocok untuk ternak kambing antara lain adalah Brachiaria ruziziensis, Brachiaria humidicola, Paspalum guonearum, Paspalum ateratum dan Stenotaphrum secundatum.
Disamping pakan hijauan, responden yang memberikan  pakan konsentrat hanya sekitar 2 orang dengan jenis konsentratnya berupa dedak padi. Kondisi ini sesuai dengan pendapat Junjungan Sianipar, Aron Batubara, Setel Karokaro dan Simon P.Ginting (2005) yang menyatakan bahwa pada kondisi peternakan rakyat produktivitas ternak kambing relatif rendah, hal ini disebabkan kualitas pakan yang diberikan kepada ternak relatif rendah dan umumnya jarang diberikan pakan tambahan. 
Responden menyatakan bahwa jumlah  pakan yang diberikan tidak cukup kualitas dan kuantitas, dapat dikatakan bahwa responden tidak peduli dengan kebutuhan nutrisi kambing piaraannya. Padahal menurut Didiet (2000), kebutuhan pakan kambing yang sedang dalam pertumbuhan dan kambing betina yang sedang bunting sebanyak 60% rumput dan daun-daunan, 40% kacang-kacangan dan konsentrat sebanyak 200-250 gr/ekor/hari. Kambing jantan dan betina dewasa, sekaligus sebagai pemacek membutuhkan pakan sebanyak 75% rumput dan daun-daunan, 25 % kacang-kacangan dan konsentrat sebanyak 200-250 gr/ekor/hari.
Hasil penelitian Junjungan Sianipar, Aron Batu Bara, Setel Karokaro dan Simon P. Ginting (2005),  kebutuhan nutrisi untuk kambing kacang:  bahan kering adalah 3.31% dari bobot hidup, Protein kasar per hari per ekor 43 gr, energi tercerna per hari 2.0 Mcal/kg. Secara umum tingkat pemberian pakan tambahan sangat mempengaruhi efisiensi nutrisi pakan, di mana semakin tinggi pemberian pakan tambahan maka pemanfaatan ransum semakin efisien.
            Responden tidak memikirkan jumlah hijauan yang diberikan kepada kambingnya, pemberian konsentrat, air minum dan mineral peternak juga kurang mendapatkan perhatian.  Sugeng (1992) menyatakan jumlah pemberian pakan hijauan bagi ternak sangat bervariasi, tergantung pada status fisiologisnya. Namun demikian jumlah pemberian secara umum adalah 10-15% dari bobot badan ternak. Sebaiknya hijauan yang diberikan tidak terlalu tua, sebab selain kurang disukai ternak kandungan gizinya juga mengalami penurunan. Hijauan yang tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua lebih disukai ternak, sehingga rumput yangdiberikan hampir tidak bersisa (semua dimakan).
Ginting (2009) menyatakan konsentrat diberikan sebanyak 200-300 gr per ekor per hari. Komposisi konsentrat tergantung kepada bahan yang tersedia di lokasi.  Kebutuhan air minum seekor kambing kurang lebih 1.5-2.5 liter per hari. Ternak mendapat asupan air dari makanan, terutama hijauan yang dikonsumsi, namun jumlah ini tidak mencukupi kebutuhan, terutama didaerah panas atau jika ternak digembalakan setiap hari. Oleh karena itu, air minum harus tersedia didalam kandang setiap saat. Mineral sangat baik untuk memenuhi kebutuhan kambing akan berbagai macam mineral yang tidak dapat dipenuhi dari pakan.

Perkandangan
Pembuatan kandang pada prinsipnya bertujuan untuk menjaga keamanan ternak dan menghindari pencurian. Selain itu kandang berfungsi untuk menjaga kesehatan dan memudahkan perawatan jika terjadi sakit. Penerapan aspek teknis perkandangan dapat dilihat pada Tabel 6.


Tabel 6. Penerapan Aspek Teknis Perkandangan Di Kecamatan Inuman
No
Aspek yang diteliti
Skor maksimal
Rata-rata skor
Persentase (%)
Kategori
1
2
3
4
Jarak kandang kambing
Jenis kandang
Konstruksi kandang
Tempat dan ruangan yang dimiliki
3
3
3
3
2.40
3.00
2.87
3.00
80
100
95.56
100
Baik
Baik
Baik
Baik
Jumlah/Rata-rata
12
11.27
93.89
Baik
           

Tabel di atas menunjukkan bahwa aspek teknis perkandangan ternak kambing sebesar 93.89% atau kategori baik dengan jumlah skor 11.27, skor maksimal 12. Aspek perkandangan memperoleh persentase penerapan yang tinggi yaitu 93.89%. Penerapan tertinggi adalah pada bentuk kandang (100%) yang dilengkapi dengan peralatan dan ruangan yang cukup (100%), sedangkan yang agak rendah adalah jarak kandang kambing dengan rumah (80%).
Seluruh responden memiliki kandang berbentuk panggung atau berkolong yang dilengkapi dengan tempat pakan, tempat mengumpulkan kotoran dan halaman bermain untuk kambing. Kandang yang dimiliki peternak terbuat dari kayu dan papan dengan atap dari bahan seng atau rumbia dengan ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara dan sinar matahari. Letak kandang kambing berada jauh dari rumah peternak dengan jarak rata-rata lebih dari 10 meter.
Roger dan Subandryo (1997) menyatakan bahwa faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan kandang adalah suhu, cahaya, ventilasi dan kelembaban. Artinya kandang yang dibuat harus cukup mendapat cahaya matahari yang cukup, mempunyai ventilasi yang baik dan mendapatkan udara segar. Bahan-bahan pembuat kandang yaitu lantai, dinding dan tempat pakan harus terbuat dari bahan yang mudah didapat dan tahan lama. Penempatan kandang cukup jauh dari rumah responden, kondisi ini akan menyulitkan pengawasan

Pengendalian penyakit
Pengendalian penyakit merupakan aspek yang sangat menentukan keberhasilan usaha ternak kambing. Kambing yang sehat akan menghasilkan produksi yang tinggi oleh karena itu pencegahan dan pemberantasan penyakit perlu dilakukan.






Tabel 7. Penerapan Aspek Teknis Pengendalian Penyakit di Kecamatan Inuman
No.
Aspek Yang Diteliti
Skor Maksimal
Rata-rata Skor
Persentase (%)
Kategori
1.
Kandang kambing dilengkapi
3
1.13
37.78
Kurang
2.
Jika kambing menderita penyakit
3
2.07
68.89
Sedang
3.
Pemberian vaksin
3
1.07
35.56
Kurang
4.
Jika ada ternak yang sakit
3
1.80
60.00
Kurang
5.
Jika membeli kambing yang baru
3
1.00
33.33
Kurang
Jumlah/Rata-rata
15
7.07
47.11
Kurang


Tabel di atas menunjukkan bahwa aspek teknis pengendalian penyakit ternak kambing telah diterapkan sebesar 47.11% yang termasuk kategori kurang dengan total rata-rata skor 7.07 dari nilai maksimal 15.  Dari pertanyaan yang diberikan upaya pengobatan telah dilakukan oleh sebagian responden, hal ini dapat dilihat pada skor sekitar 68.89% dan 60%. Responden mengobati kambing yang sakit dengan obat tradisional yang ada di sekitar tempat tinggal misalnya memberikan minyak kelapa untuk mengatasi kembung, pemberian kunyit untuk luka dan daun sirih untuk penyakit mata. Hal ini sesuai dengan pendapat Ali (2008) yang menyatakan kambing yang sakit diberi pengobatan secara tradisional, karena lebih mudah dilakukan dan bahan obat-obatannya mudah didapat seperti daun papaya, garam dan air. Menurut Devendra dan Burs (1994) pencampuran belerang dengan oli bekas dapat menyembuhkan penyakit skabies.
Upaya pencegahan yang dilakukan responden hanya sekitar 35.56% di mana sebagian besar responden belum melakukan vaksinasi terhadap penyakit yang disebabkan virus. Selanjutnya responden belum mengisolasi kambing jika membeli kambing baru yang kemungkinan membawa bibit penyakit menular. Padahal menurut Ali (2008) pemberian vaksin bertujuan untuk mencegah datangnya penyakit menular yang diakibatkan oleh virus. Jika membeli ternak kambing yang baru harus dipisahkan dari kelompok terlebih dahulu, karena kambing dapat menularkan penyakit.
    
Pengelolaan Reproduksi
Hasil penelitian pengelolaan reproduksi dapat dilihat pada Tabel berikut.


Tabel 8. Penerapan Aspek Teknis Pengelolaan Reproduksi Di Kecamatan Inuman
No
Aspek yang diteliti
Skor maksimal
Rata-rata skor
Persentase (%)
Kategori
1
2
3
4
5
Perkawinan yang biasa dilakukan
Saat pertama kali kambing dikawinkan
Jarak kelahiran yang baik
Pejantan yang digunakan
Kambing bunting
3
3
3
3
3
1.00
1.13
2.80
1.00
1.00
33.33
37.78
93.33
33.33
33.33
Kurang
Kurang
Baik
Kurang
Kurang
Jumlah/rata-rata
15
6.93
46.22
Kurang


Tabel di atas menunjukkan bahwa aspek pengelolaan produksi ternak kambing telah diterapkan sebesar 46.22% atau masih dalam kategori kurang dengan total rata-rata skor 6.93. Dari 5 pertanyaan yang diajukan, responden menyatakan jarak kelahiran kambing cukup baik yaitu sekitar 7 bulan, dengan  rata-rata skor capaian 2.8. Hal ini senada dengan pendapat Ginting (2009) menyatakan  jarak kelahiran yang baik sekitar 7 bulan
Aspek pengelolaan reproduksi yang lain kurang mendapatkan perhatian dari responden hal ini berkaitan dengan system pemeliharaan yang tradisional di mana ternak dibiarkan kawin sendiri secara alami, dengan demikian pejantan yang mengawininya tidak hasil seleksi dan betina tidak mencapai dewasa tubuh.  Menurut Triwulaningsih, Susilawati dan Kustono (2009) perkawinan kambing yang biasa dilakukan adalah secara alami, kambing akan kawin pertama kali pada umur 7 bulan saat tanda berahi timbul dan kambing sudah mencapai dewasa tubuh. Menurut Direktorat Jendral Peternakan (1992) pejantan yang digunakan adalah pejantan unggul dan memenuhi persyaratan sebagai pejantan unggul dan harus dihindari perkawinan kerabat dekat (inbreeding).


KESIMPULAN

              Penerapan aspek teknis pemeliharaan ternak kambing di Kecamatan Inuman secara keseluruhan rata-rata sebesar 61.45%. Penerapan aspek teknis pemeliharaan ternak kambing secara berturut-turut dari yang tertinggi sampai terendah adalah : perkandangan, bibit, tatalaksana pemeliharaan, pengendalian penyakit, pengelolaan reproduksi dan pemberian pakan.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, A. 2008. Ilmu Ternak Kambing. Suska Press. Riau.Badan Pusat Statistik. 2012. Inuman Dalam Angka 2012. BPS Kabupaten Kuantan Singingi.
Didiet. 2008. Pemeliharaan Ternak Kambing. http://didiet20002000.wordpress.com/category/ pemeliharaan/ [14 Maret 2014].
Devendra, C. dan Burns. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. ITB. Bandung.Direktorat Jenderal Peternakan. 1992. Pedoman Identifikasi Faktor Penentu Teknis Peternakan. Proyek Peningkatan Produksi Peternakan. [Diktat]. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian. Jakarta.
Ginting, S.P. 2009.  Pedoman Teknis Pemeliharaan Induk dan Anak Kambing Masa pra-Sapih. Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Sumatera Utara.
Hardianto, R. 2000. Teknologi Complete Feed Sebagai Alternatif Pakan Ternak Ruminansia. Makalah BPTP Jawa Timur. Malang.
Junjungan Sianipar, Aron Batubara, Setel Karokaro dan Simon P.Ginting. 2005. Efisiensi Nutrisi Pada Kambing Kosta, Gembrong dan Kacang. Loka Penelitian Kambing Potong Sungai Putih, Deli Serdang. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005. (Efficiency Nutrition for Goats Costa, Gembrong and Kacang)
Misriani. 2011. Hubungan Karakteristik Peternak dan Jumlah Ternak yang Dipelihara dengan Pendapatan pada Pembibitan Sapi Potong Rakyat di Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan. [Skripsi]. Fakultas Peternakan Universitas Andalas.Padang
Direktorat Jenderal Peternakan. 2006. Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba. Jakarta.
Roger, C. M dan Subandrio. 1997. Sheep and Goat Production Handbook for Southeast Asia. Davis: Small Ruminant-Collaborative Reserch Support Program, University of California Davis.
Setiana, L. 2000. Dampak Fasilitas Usaha Tani Terhadap Motivasi Peternak Plasma Ayam Buras di Kabupaten Bantul. [Tesis]. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sudarmono, A. S dan Sugeng, Y. B. 2003. Beternak Domba. Penebar Swadaya. Jakarta.
Susilorini, T. E. M. E. Sawitri dan Muharlien. 2007. Budidaya Ternak Potensial. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sugeng, B. 1992. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suharsih. 1998. Analisis Finansial Usaha Sapi Perah Kredit Bantuan Perusahaan Listrik Negara. [Skripsi]. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Sutama, I. K. I. G.M. Budiarsana, H. Setiyanto dan A. Priyanti, 1995. Productive and reproductive performanced young Etawah-cross goats. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. Puslitbangnak. Bogor. 1: 8-85.
Triwulaningsih, E. T. Susilawati dan Kustono. 2009. Reproduksi dan inovasiteknologi reproduksi: Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar