PENERAPAN ASPEK TEKNIS PEMELIHARAAN
TERNAK KAMBING KACANG
DI KECAMATAN INUMAN KABUPATEN KUANTAN
SINGINGI
Ruspan, Lis Darti
Roza, Yoshi Lia Anggrayni
Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas
Islam Kuantan Singingi, Jln. GatotSubroto KM 7 Jake Teluk Kuantan, Riau.
ABSTRACT
Implementation
of technical aspects on goat rearing is a critical success factor raising
goats. The
purpose this research to know the technical aspects of the implementation of
maintenance performed by the bean goat breeders in District Inuman Singingi
Kuantan district. The
method used in this study is a survey method
with purposive sampling with the number of respondents 15 people. Data obtained by
selecting answers to questions put to respondents in the qualitative
questionnaire response options were given scoring where appropriate answers
that do not fit worth 3 1 worth of technical aspects of the application of
research results in the District Inuman goat rearing (1) the management of the
maintenance of 62.22% ( 2) seed 78.52% (3) 40.44% of feed, (4) perkandangan
93.89% (5) 47.11% disease control (6) management of reproductive 46.22%.
Keywords: goat nut,
technical aspects of the implementation, maintenance system.
PENDAHULUAN
Kambing kacang
merupakan salah satu jenis kambing yang umum di pelihara masyarakat dan
memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai komponen usaha tani di
berbagai agro-ekosistem. Kambing kacang
memiliki kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang relatif lebih baik
di bandingkan dengan beberapa jenis ternak ruminansia lain. Oleh karena itu
kambing kacang sering menjadi pilihan utama dan disukai diberbagai komunitas
petani, karena memiliki sifat yang jinak sehingga berkembang sentra-sentra
produksi kambing yang menyebar diberbagai agroekosistem.
Pengelolaan kambing
kacang dalam usaha tani sebagian besar masih dilakukan secara sambilan dengan
tujuan beternak sebagai tabungan, dengan demikian secara finansial komoditas
ini memiliki peran yang penting dalam perekonomian rumah tangga petani
(Ginting, 2009). Selain itu ternak
kambing sangat berperan dalam ritual keagamaan dan kegiatan sosial misalnya
dijadikan ternak kurban dan ternak potong untuk aqiqah. Khusus di Kabupaten
Kuantan Singingi ternak kambing juga dijadikan sebagai hadiah dalam kegiatan
pacu jalur.
Keberadaan kambing
kacang di Kabupaten Kuantan Singingi telah lama diakui masyarakat, hal ini
terbukti masyarakat telah memelihara ternak kambing secara turun-temurun dan
masih bersifat tradisional yang dicirikan dengan rendahnya kepemilikan,
minimnya modal dan penggunaan teknologi budidaya yang masih terbatas. Jenis kambing yang dipelihara umumnya adalah
kambing kacang dan bibit yang digunakan masih berasal dari bibit kambing lokal.
Berdasarkan data
Dinas Peternakan Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2012, populasi kambing
sebanyak 20 828 ekor naik 4.5% dari tahun 2011 dengan populasi 19 934 ekor.
Sementara itu populasi kambing di Kecamatan Inuman tahun 2012 sebanyak 1 419
ekor. Kepemilikan kambing di wilayah ini berkisar antara 1 sampai 9 ekor per
rumah tangga peternak.
Kecamatan Inuman
merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya alam cukup besar
untuk pengembangan kambing kacang, yang didukung dengan luasnya lahan
penggembalaan dan tersedianya limbah tanaman sebagai sumber pakan yang berasal
dari lahan tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Kambing kacang merupakan
ternak yang paling banyak dipelihara oleh masyarakat di pedesaan bersama dengan
ternak lain dengan pakan yang ada di sekitar pekarangan, padang penggembalaan
atau di lahan lainnya.
Pola pemeliharaan
kambing kacang di Kecamatan Inuman masih menggunakan sistem tradisional, dimana
semua ternak kambing dilepas dan dibiarkan mencari makan sendiri pada siang
hari dan dikandangkan pada malam hari. Bibit kambing yang dipelihara peternak
berasal dari daerah setempat yang didapatkan dengan membeli atau dengan
memelihara ternak kambing orang lain.
Jenis kandang kambing
kacang yang digunakan adalah jenis kandang berkolong di mana lantai kandang
berada sekitar satu meter di atas tanah, memiliki tangga untuk memasukkan
kambing. Bahan kandang menggunakan bahan sederhana: dinding terbuat dari papan dan kayu,
seadangkan atap terbuat dari seng dan daun rumbia. Cara mengatasi pengendalian
penyakit ternak kambing masih menggunakan obat tradisional. Sistem perkawinan
ini tidak mendapat perhatian yang serius dari peternak kambing, peternak tidak
melihat dari segi dewasa tubuh, dewasa kelamin dan perkawinan yang dilakukan
adalah perkawinan sedarah atau disebut dengan inbreeding.
Pemeliharaan kambing
kacang secara semi intensif sangat mungkin dilakukan. Kambing kacang dipelihara
di areal kandang yang berpagar sehingga kambing kacang tidak berkeliaran dan
tidak merusak tanaman pangan. Pola ini dapat memaksimalkan pemanfaatan kotoran
sebagai pupuk. Penggunakan limbah tanaman sebagai sumber pakan juga dapat
menambah alternative pakan selain
rumput, leguminosa dan daun semak belukar di pinggir jalan yang secara
kuantitatif sangat terbatas.
Direktorat Jenderal
Peternakan (1992) menyatakan aspek teknis yang meliputi: tatalaksana
pemeliharaan, bibit, pakan, perkandangan, pengendalian penyakit dan pengelolaan
reproduksi. Hal tersebut berkaitan dengan perilaku dan pengetahuan peternak
dalam penerapan aspek teknis pemeliharaan kacang. Secara umum peternak lebih
mengenal situasi dan kondisi sumber daya alam sekitarnya namun peternak kurang
memanfaatkannya untuk meningkatkan aspek teknis pemeliharaan ternak.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui penerapan aspek teknis pemeliharaan kambing kacang yang ditinjau
dari aspek: tatalaksana pemeliharaan, bibit, pakan, perkandangan, pengendalian
penyakit dan pengelolaan reproduksi di Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan
Singingi.
Hasil
penelitian berguna sebagai dasar mengambil kebijakan oleh Instansi terkait
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak sehingga dapat
meningkatkan populasi kambing kacang di Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan
Singingi. Untuk peternak, hasil
penelitian ini sebagai dasar memperbaiki teknis budidaya kambing kacang
sehingga tujuan beternak menghasilkan produksi yang tinggi dapat dicapai.
Kepada masyarakat diharapkan dorongan dan dukungan moral sehingga peternak
sadar dan mengubah perilaku dalam teknis budidaya kambing kacang. Perubahan
prilaku ke arah perbaikan dalam penerapan teknis budidaya kambing diharapkan
nak.akan memacu produksi kambing kacang dan pada akhirnya akan meningkatkan
pendapatan peternakan.
BAHAN DAN METODE
Waktu
dan Tempat Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan bulan Oktober sampai dengan bulan November 2013, bertempat di
Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi.
Responden Penelitian
Responden penelitian
sebanyak 15 peternak yang diperoleh dengan metode purposive sampling di mana peternak yang diambil ditentukan
berdasarkan jumlah kambing dewasa yang dimilikinya. Responden terpilih adalah
peternak yang memiliki kambing dewasa 4 (empat) ekor atau lebih yang berasal
dari 93 peternak kambing kacang.
Metode
Penelitian
Data
yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur yang berpedoman kepada
kuesioner yang disusun berdasarkan aspek teknis yang ingin diketahui. Data ini kemudian diberi skor berdasarkan
tingkat penerapan aspek teknis tersebut. Jika aspek teknis diterapkan secara
maksimal diberi skor 3, jika sebagian atau kadang-kadang diberi skor 2 dan jika
tidak ada penerapan aspek teknis diberi skor 1.
Data yang diperoleh
ditabulasi dan dianalisis untuk memperoleh rata-rata hitung (mean) dan
persentase.
1. Rata-rata hitung (mean)
Rata-rata hitung
adalah nilai yang diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai yang ada kemudian
dibagi jumlah sampel.
Rumus : 
Dimana:
n = Banyak data dalam sampel
2. Persentase (%)
Persentase
adalah nilai yang diperoleh dibagi nilai total dalam kumpulan dikali 100 %.
Dimana:
% = Persentase
Konsep Operasional
1. Aspek teknis adalah aspek teknis pemeliharaan yang
meliputi tatalaksana pemeliharaan, bibit, pakan, perkandangan, pengendalian
penyakit dan pengelolaan reproduksi.
2. Kategori skor
yang ditetapkan oleh DINJENNAK (1992) yaitu:
a.
Kategori
baik, jika persentase skor yang diperoleh 81-100%.
b.
Kategori
sedang, jika persentase skor yang diperoleh 61-80%.
c.
Kategori
kurang, jika persentase skor yang diperoleh kecil dari 60%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik
Responden
Responden penelitian berjumlah 15 orang
peternak dengan klasifikasi usia 26-45
tahun berjumlah 9 orang (60%) dan usia 46-65 tahun berjumlah 6 orang (40).
Dari data ini terlihat bahwa responden sebagian besar berusia produktif.
Menurut Setiana (2000), kondisi emosi pada usia produktif relatif stabil
sehingga mudah menerima pengarahan dan inovasi dari pihak-pihak yang lebih
menguasai hal tersebut dan didukung oleh adanya dorongan yang cukup kuat untuk
memperoleh pengalaman pada usia tersebut.
Tabel 1. Karakteristik
Responden.
|
No.
|
Karakteristik
|
Jumlah (Orang)
|
|
|
1.
|
Tingkat Umur
|
26 - 45
|
9
|
|
46 - 65
|
6
|
||
|
2.
|
Tingkat Pendidikan
|
SD
|
8
|
|
SLTP
|
7
|
||
|
3.
|
Pengalaman Beternak
|
2 - 8
|
11
|
|
9 - 13
|
5
|
||
Tabel
1 memperlihatnya bahwa tingkat pendidikan responden penelitian masih rendah yaitu tamat SD 8
0rang (53%) dan tamat SLTP 7 orang (47%). Dengan tingkatan pendidikan yang
rendah tersebut peternak sulit menyerap
teknologi yang diberikan oleh Penyuluh Peternakan atau informasi dari media
cetak lainnya sehingga beternak hanya dilakukan atas dasar pengalaman.
Kusumawati (2004) menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang baik akan cenderung
mudah untuk menerima informasi baru dalam teknik beternak yang baik, selain memberikan
tanggapan positif pada setiap kemajuan usaha beternak juga lebih matang untuk
memecahkan setiap permasalahan yang dihadapinya.
Responden
penelitian memiliki pengalaman beternak
2-8 tahun 11 orang (73%) dan 9-13 tahun 4 orang (27%). Menurut Suharsih
(1998), pengalaman merupakan faktor yang dapat menentukan maju mundurnya suatu
kegiatan usaha. Sementara itu Tatipikalawan (2006), menyatakan pengalaman
beternak merupakan faktor yang penting bagi peternak dalam mempertimbangkan dan
mengambil keputusan untuk menentukan jenis ternak yang dipelihara dan paling
bermanfaat bagi mereka.
Selanjutnya
hasil penelitian Misriani (2011) memperlihatkan bahwa pendapatan peternak berkorelasi positif
terhadap umur, tingkat pendidikan, lama pengalaman beternak dan jumlah ternak
yang dipelihara pada kelompok sapi Pesisir dan sapi Bali. Walaupun demikian
untuk meraih keberhasilan dalam beternak
tidak cukup modal pengalaman secara turun temurun saja, yang lebih penting
yaitu kemauan memperbaiki cara beternak dengan menerima dan menerapkan
inovasi-inovasi baru di bidang peternakan.
Penerapan
Aspek Teknis
Hasil
penelitian tentang penerapan aspek teknis pemeliharaan kambing kacang oleh
peternak di Kecamatan Inuman secara keseluruhan menunjukkan bahwa penerapan
aspek teknis pemeliharaan ternak kambing kacang di Kecamatan Inuman rata-rata
61.45%, capaian ini termasuk kategori sedang seperti terlihat pada Tabel 2.
Tabel 3. Penerapan Aspek Teknis Pemeliharaan
Kambing Kacang Di Kecamatan Inuman
|
No.
|
Aspek
Teknis
|
Skor
Maksimal
|
Rata-rata
Skor
|
Persentase
(%)
|
Kategori
|
|
1.
|
Tatalaksana
pemeliharaan
|
15
|
9.33
|
62.22
|
Sedang
|
|
2.
|
Bibit
|
9
|
7.07
|
78.52
|
Sedang
|
|
3.
|
Pakan
|
15
|
6.07
|
40.44
|
Kurang
|
|
4.
|
Perkandangan
|
12
|
11.3
|
93.89
|
Baik
|
|
5.
|
Penyakit
|
15
|
7.07
|
47.11
|
Kurang
|
|
6.
|
Reproduksi
|
15
|
6.93
|
46.22
|
Kurang
|
|
Jumlah/Rata-rata
|
81
|
47.77
|
61.45
|
Sedang
|
|
Tabel di atas memperlihatkan bahwa capaian persentase penerapan
aspek teknis pada pemeliharaan kambing kacang di Kecamatan Inuman
berturut-turut dari yang tertinggi sampai terndah sebagai berikut: aspek perkandangan
(93.89%), bibit (78.52%), tatalaksana pemeliharaan (62.22%), pengendalian
penyakit (47.11%), pengelolaan reproduksi (46.22%), pakan (40.44%).
Tatalaksana pemeliharaan
Tatalaksana pemeliharaan meliputi
kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan secara umum dengan 5 pertanyaan
seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Penerapan Aspek Teknis Tatalaksana Pemeliharaan
Di Kecamatan Inuman
|
No.
|
Aspek
Yang Diteliti
|
Skor
Maksimal
|
Rata-rata
Skor
|
Persentase
(%)
|
Kategori
|
|
1.
|
Sistem
pemeliharaan
|
3
|
2.00
|
66.67
|
Sedang
|
|
2.
|
Membersihkan
kandang ternak
|
3
|
2.53
|
84.44
|
Baik
|
|
3.
|
Memanfaatkan
kotoran kambing
|
3
|
2.67
|
88.89
|
Baik
|
|
4.
|
Pencatatan
|
3
|
1.00
|
33.33
|
Kurang
|
|
5.
|
Pemeliharaan
kambing dikandang
|
3
|
1.13
|
37.78
|
Kurang
|
|
Jumlah/Rata-rata
|
15
|
9.33
|
62.22
|
Sedang
|
|
Tabel di atas menunjukkan bahwa penerapan aspek teknis tatalaksana
pemeliharaan ternak kambing telah diterapkan sebesar 62.22% atau dikategorikan
sedang dengan jumlah skor 9.33 dari total skor 15. Aspek tatalaksana
pemeliharaan yang diterapkan oleh peternak secara keseluruhan berkategori
sedang namun jika dilihat satu per satu nilai tertinggi ada pada pemanfaatan
kotoran kambing. Hampir semua responden
telah memanfaatkan kotoran kambing sebagai pupuk (88.89%). Hal ini juga sejalan dengan kegiatan membersihkan kandang oleh peternak setiap
hari (84.44%).
Sudarmono
(2003) menyatakan bahwa penggunaaan kotoran sebagai
pupuk dapat melestarikan kesuburan tanah bahkan melestarikan lingkungan, serta
dapat meningkatkan kualitas dan nilai ekonomis dari kotoran ternak dalam setiap
usaha peternakan. Dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk didapatkan
keuntungan secara ekonomi yaitu nilai jual pupuk dan secara sosial nilai
kebersihan lingkungan sesuai dengan pendapat
Sosilorini, Sawitri dan
Muharlien (2007), kebersihan kandang wajib dijaga dan
sangat berpengaruh terhadap kesehatan ternak agar terhindar dari serangan
penyakit. Sebaiknya kandang dibersihkan setiap hari sehingga kotoran-kotoran
dan sisa pakan tidak sampai membusuk.
Nilai terendah berada pada pecatatan kejadian pada ternak di mana
peternak hanya melakukan pencatatan sekitar 33.33%. Kondisi ini membuktikan
bahwa usaha peternakan kambing kurang teradministrasi dengan baik. Pencatatan
perlu dilakukan karena dapat memberi informasi asal usul kambing secara
genetika, dapat mengetahui riwayat penyakit dan dapat memastikan umur kambing.
Pemeliharaan kambing kacang di Kecamatan Inuman masih
bersifat tradisional (ekstensif) dengan
skor rata-rata 1.13. Kondisi ini dapat dibuktikan dengan banyaknya kambing berkeliaran di jalan atau
memasuki perkarangan orang lain untuk mencari makan sendiri, sangat sedikit
campur tangan pemilik kambing. Pemilik hanya mencari kambingnya pada sore hari
untuk kemudian dimasukkan ke dalam kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Didiet (2008) yang menyatakan
bahwa sistem
pemeliharaan kambing masih dilaksanakan secara tradisional dengan cara
dikandangkan atau setengah digembalakan.
Bibit
Penampilan (performans) kambing ditentukan oleh faktor genetic
dari induknya yang dapat diturunkan dan dipengaruhi oleh lingkungan. Penerapan
aspek bibit kambing kacang di Kecamatan Inuman dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Penerapan Aspek Teknis Bibit Di Kecamatan Inuman
|
No.
|
Aspek
Yang Diteliti
|
Skor
Maksimal
|
Rata-rata
Skor
|
Persentase
(%)
|
Kategori
|
|
1.
|
Kondisi
bibit
|
3
|
2.40
|
80.00
|
Sedang
|
|
2.
|
Fenitip
kambing
|
3
|
1.87
|
62.22
|
Sedang
|
|
3.
|
Seleksi
bibit
|
3
|
2.80
|
93.33
|
Baik
|
|
Jumlah/Rata-rata
|
9
|
7.07
|
78.52
|
Sedang
|
|
Tabel di atas
menunjukkan bahwa penerapan aspek teknis bibit ternak kambing telah diterapkan
sebesar 78.52% atau kategori sedang
dengan skor capaian 7.07. Sebelum beternak, responden telah mengetahui kriteria
bibit ternak kambing yang akan dibeli atau dipilih untuk dijadikan bibit.
Mereka akan melihat kondisi bibit dari bentuk luar seperti bentuk tubuh secara
umum, seperti kaki yang kuat, pergerakan yang lincah dan gesit serta nafsu
makan yang baik.
Ukuran kuantitatif tubuh
seperti bobot badan, panjang badan, tinggi pundak, lingkar dada dan warna
rambut tidak terlalu dipertimbangkan oleh responden karena penerapan aspek
fenotip hanya 62.22%. Selanjutnya seleksi bibit oleh peternak lebih
memperhatikan kondisi ternak dari luar (fenotip) dibandingkan dari silsilah
(genetik) ternak tersebut.
Menurut Sutama, Budiarsana, Setiyanto dan Priyanti
(1995) secara umum ciri kondisi bibit yang baik adalah yang berbadan sehat,
tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggi terhadap
lingkungan. Seleksi bibit induk harus dapat menghasilkan anak secara teratur 3
kali dalam 2 tahun, frekuensi beranak kembar relatif tinggi dan bobot anak umur
sapih di atas rata-rata.
Karakteristik
kualitatif fenotip kambing yaitu warna bulu bervariasi dari putih campur hitam,
coklat atau hitam sama sekali, tanduk mengarah ke belakang dan membengkok
keluar, hidung lurus, leher pendek, telinga pendek berdiri tegak ke depan,
kepala kecil dan ringan. Berdasarkan kuantitatif betina umur 8-12 bulan tinggi
badan minimal 46 cm berat badan minimal 12 kg jantan umur 12-18 bulan tinggi
badan minimal 50 cm berat badan minimal 15 kg (Deptan, 2006)
Pakan
Pakan merupakan aspek
yang sangat penting dalam meningkatkan produksi ternak kambing. Kambing kacang
lebih menyukai memakan dedaunan dengan cara meramban dari pada memakan rumput.
Penerapan aspek teknis pakan dapat dilihat pada Tabel 5
Tabel 5. Penerapan Aspek Teknis Pakan Di
Kecamatan Inuman
|
No.
|
Aspek
Yang Diteliti
|
Skor
Maksimal
|
Rata-rata
Skor
|
Persentase
(%)
|
Kategori
|
|
1.
|
Jumlah
hijaatuan
|
3
|
1.00
|
33.33
|
Kurang
|
|
2.
|
Jenis
hijauan
|
3
|
2.00
|
66.67
|
Sedang
|
|
3.
|
Pemberian
konsentrat
|
3
|
1.07
|
35.56
|
Kurang
|
|
4.
|
Air
minum
|
3
|
1.00
|
33.33
|
Kurang
|
|
5.
|
Mineral
|
3
|
1.00
|
33.33
|
Kurang
|
|
Jumlah/Rata-rata
|
15
|
6.07
|
40.44
|
Kurang
|
|
Tabel
di atas memperlihatkan bahwa penerapan aspek teknis pakan ternak kambing telah
diterapkan sebesar 40.44% atau kategori kurang baik dengan jumlah rata-rata skor
6.07 dari skor maksimal 15. Penerapan teknologi pakan yang paling tinggi adalah
jenis hijauan yang dimakan kambing cukup
beragam (66.67%).
Hijauan
yang dimakan oleh kambing umumnya diperoleh dari padang penggembalaan, sekitar
rumah dan di pinggir jalan. Jenis yang dijumpai di padang penggembalaan adalah
rumput lapangan, putri malu dan semak-semak belukar. Sedangkan yang biasa
ditemukan di sekitar rumah adalah daun limbah tanaman Hal ini sesuai dengan
pendapat Didiet (2000) yang menyatakan bahwa
pakan ternak kambing terdiri dari pakan hijauan
yang berasal dari rumput-rumputan, daun-daunan dan hasil sampingan tanaman
pertanian.
Hardianto
(2000) menyatakan hijauan pakan ternak (HPT) yang paling umum digunakan dalam
budidaya kambing adalah jenis rumput-rumputan dan leguminosa. Hijauan pakan
ternak merupakan pakan dasar, karena merupakan komponen utama dari ransum
ternak, hijauan pakan ternak dapat merupakan jenis tanaman lokal, maupun yang
diintroduksi. Dari kelompok tanaman lokal jenis rumputan yang disukai kambing
antara lain adalah rumput Axonopus compressus (rumput pahit), Cynodon dactylon (rumput kawat), Ottocloa nodusa, sedangkan kelompok
introduksi jenis rumput-rumputan yang sangat cocok untuk ternak kambing antara
lain adalah Brachiaria ruziziensis, Brachiaria humidicola, Paspalum guonearum, Paspalum ateratum dan Stenotaphrum
secundatum.
Disamping pakan hijauan, responden yang
memberikan pakan konsentrat hanya
sekitar 2 orang dengan jenis konsentratnya berupa dedak padi. Kondisi ini
sesuai dengan pendapat Junjungan Sianipar, Aron Batubara, Setel Karokaro dan
Simon P.Ginting (2005) yang menyatakan bahwa pada
kondisi peternakan rakyat produktivitas ternak kambing relatif rendah, hal ini
disebabkan kualitas pakan yang diberikan kepada ternak relatif rendah dan
umumnya jarang diberikan pakan tambahan.
Responden menyatakan bahwa jumlah pakan yang diberikan tidak cukup kualitas dan
kuantitas, dapat dikatakan bahwa responden tidak peduli dengan kebutuhan
nutrisi kambing piaraannya. Padahal menurut Didiet (2000), kebutuhan pakan
kambing yang sedang dalam pertumbuhan dan kambing betina yang sedang bunting
sebanyak 60% rumput dan daun-daunan, 40% kacang-kacangan dan konsentrat
sebanyak 200-250 gr/ekor/hari. Kambing jantan dan
betina dewasa, sekaligus sebagai pemacek membutuhkan pakan sebanyak 75% rumput
dan daun-daunan, 25 % kacang-kacangan dan konsentrat sebanyak 200-250
gr/ekor/hari.
Hasil penelitian Junjungan Sianipar, Aron Batu
Bara, Setel Karokaro dan Simon P. Ginting (2005), kebutuhan nutrisi untuk kambing
kacang: bahan kering adalah 3.31% dari
bobot hidup, Protein kasar per hari per ekor 43 gr, energi tercerna per hari
2.0 Mcal/kg. Secara umum tingkat pemberian pakan tambahan sangat mempengaruhi
efisiensi nutrisi pakan, di mana semakin tinggi pemberian pakan tambahan maka
pemanfaatan ransum semakin efisien.
Responden tidak memikirkan jumlah
hijauan yang diberikan kepada kambingnya, pemberian konsentrat, air minum dan
mineral peternak juga kurang mendapatkan perhatian. Sugeng (1992) menyatakan jumlah pemberian pakan hijauan bagi ternak sangat
bervariasi, tergantung pada status fisiologisnya. Namun demikian jumlah
pemberian secara umum adalah 10-15% dari bobot badan ternak. Sebaiknya hijauan
yang diberikan tidak terlalu tua, sebab selain kurang disukai ternak kandungan
gizinya juga mengalami penurunan. Hijauan yang tidak terlalu muda dan juga
tidak terlalu tua lebih disukai ternak, sehingga rumput yangdiberikan hampir
tidak bersisa (semua dimakan).
Ginting (2009) menyatakan konsentrat diberikan sebanyak 200-300 gr
per ekor per hari. Komposisi konsentrat tergantung kepada bahan yang tersedia
di lokasi. Kebutuhan air minum
seekor kambing kurang lebih 1.5-2.5 liter per hari. Ternak mendapat asupan air
dari makanan, terutama hijauan yang dikonsumsi, namun jumlah ini tidak
mencukupi kebutuhan, terutama didaerah panas atau jika ternak digembalakan
setiap hari. Oleh karena itu, air minum harus tersedia didalam kandang setiap
saat. Mineral sangat baik untuk memenuhi kebutuhan kambing akan berbagai macam
mineral yang tidak dapat dipenuhi dari pakan.
Perkandangan
Pembuatan kandang
pada prinsipnya bertujuan untuk menjaga keamanan ternak dan menghindari
pencurian. Selain itu kandang berfungsi untuk menjaga kesehatan dan memudahkan
perawatan jika terjadi sakit. Penerapan aspek teknis perkandangan dapat dilihat
pada Tabel 6.
Tabel 6. Penerapan Aspek Teknis Perkandangan
Di Kecamatan Inuman
|
No
|
Aspek yang diteliti
|
Skor maksimal
|
Rata-rata skor
|
Persentase (%)
|
Kategori
|
|
1
2
3
4
|
Jarak kandang
kambing
Jenis kandang
Konstruksi
kandang
Tempat dan ruangan yang dimiliki
|
3
3
3
3
|
2.40
3.00
2.87
3.00
|
80
100
95.56
100
|
Baik
Baik
Baik
Baik
|
|
Jumlah/Rata-rata
|
12
|
11.27
|
93.89
|
Baik
|
|
Tabel di atas
menunjukkan bahwa aspek teknis perkandangan ternak kambing sebesar 93.89% atau
kategori baik dengan jumlah skor 11.27, skor maksimal 12. Aspek perkandangan
memperoleh persentase penerapan yang tinggi yaitu 93.89%. Penerapan tertinggi
adalah pada bentuk kandang (100%) yang dilengkapi dengan peralatan dan ruangan
yang cukup (100%), sedangkan yang agak rendah adalah jarak kandang kambing
dengan rumah (80%).
Seluruh responden
memiliki kandang berbentuk panggung atau berkolong yang dilengkapi dengan
tempat pakan, tempat mengumpulkan kotoran dan halaman bermain untuk kambing.
Kandang yang dimiliki peternak terbuat dari kayu dan papan dengan atap dari
bahan seng atau rumbia dengan ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara dan
sinar matahari. Letak kandang kambing berada jauh dari rumah peternak dengan
jarak rata-rata lebih dari 10 meter.
Roger
dan Subandryo (1997) menyatakan bahwa faktor yang harus diperhatikan dalam
pembuatan kandang adalah suhu, cahaya, ventilasi dan kelembaban. Artinya
kandang yang dibuat harus cukup mendapat cahaya matahari yang cukup, mempunyai
ventilasi yang baik dan mendapatkan udara segar. Bahan-bahan pembuat kandang
yaitu lantai, dinding dan tempat pakan harus terbuat dari bahan yang mudah
didapat dan tahan lama. Penempatan kandang cukup jauh dari rumah responden,
kondisi ini akan menyulitkan pengawasan
Pengendalian penyakit
Pengendalian penyakit
merupakan aspek yang sangat menentukan keberhasilan usaha ternak kambing.
Kambing yang sehat akan menghasilkan produksi yang tinggi oleh karena itu
pencegahan dan pemberantasan penyakit perlu dilakukan.
Tabel 7. Penerapan Aspek Teknis Pengendalian Penyakit di
Kecamatan Inuman
|
No.
|
Aspek
Yang Diteliti
|
Skor
Maksimal
|
Rata-rata
Skor
|
Persentase
(%)
|
Kategori
|
|
1.
|
Kandang
kambing dilengkapi
|
3
|
1.13
|
37.78
|
Kurang
|
|
2.
|
Jika
kambing menderita penyakit
|
3
|
2.07
|
68.89
|
Sedang
|
|
3.
|
Pemberian
vaksin
|
3
|
1.07
|
35.56
|
Kurang
|
|
4.
|
Jika
ada ternak yang sakit
|
3
|
1.80
|
60.00
|
Kurang
|
|
5.
|
Jika
membeli kambing yang baru
|
3
|
1.00
|
33.33
|
Kurang
|
|
Jumlah/Rata-rata
|
15
|
7.07
|
47.11
|
Kurang
|
|
Tabel di atas menunjukkan bahwa aspek teknis pengendalian penyakit
ternak kambing telah diterapkan sebesar 47.11% yang termasuk kategori kurang
dengan total rata-rata skor 7.07 dari nilai maksimal 15. Dari pertanyaan yang diberikan upaya
pengobatan telah dilakukan oleh sebagian responden, hal ini dapat dilihat pada
skor sekitar 68.89% dan 60%. Responden mengobati kambing yang sakit dengan obat
tradisional yang ada di sekitar tempat tinggal misalnya memberikan minyak
kelapa untuk mengatasi kembung, pemberian kunyit untuk luka dan daun sirih
untuk penyakit mata. Hal ini sesuai dengan pendapat Ali (2008) yang menyatakan
kambing yang sakit diberi pengobatan secara tradisional, karena lebih mudah
dilakukan dan bahan obat-obatannya mudah didapat seperti daun papaya, garam dan
air. Menurut Devendra dan Burs (1994) pencampuran belerang dengan oli bekas dapat
menyembuhkan penyakit skabies.
Upaya pencegahan yang dilakukan responden hanya sekitar 35.56% di
mana sebagian besar responden belum melakukan vaksinasi terhadap penyakit yang
disebabkan virus. Selanjutnya responden belum mengisolasi kambing jika membeli
kambing baru yang kemungkinan membawa bibit penyakit menular. Padahal menurut
Ali (2008) pemberian vaksin bertujuan untuk mencegah datangnya penyakit menular
yang diakibatkan oleh virus. Jika membeli ternak kambing yang baru harus
dipisahkan dari kelompok terlebih dahulu, karena kambing dapat menularkan
penyakit.
Pengelolaan Reproduksi
Hasil penelitian
pengelolaan reproduksi dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 8. Penerapan Aspek Teknis Pengelolaan Reproduksi Di
Kecamatan Inuman
|
No
|
Aspek yang diteliti
|
Skor maksimal
|
Rata-rata skor
|
Persentase (%)
|
Kategori
|
|
1
2
3
4
5
|
Perkawinan
yang biasa dilakukan
Saat pertama kali kambing
dikawinkan
Jarak kelahiran yang baik
Pejantan yang digunakan
Kambing bunting
|
3
3
3
3
3
|
1.00
1.13
2.80
1.00
1.00
|
33.33
37.78
93.33
33.33
33.33
|
Kurang
Kurang
Baik
Kurang
Kurang
|
|
Jumlah/rata-rata
|
15
|
6.93
|
46.22
|
Kurang
|
|
Tabel di atas menunjukkan bahwa aspek pengelolaan produksi ternak
kambing telah diterapkan sebesar 46.22% atau masih dalam kategori kurang dengan
total rata-rata skor 6.93. Dari 5 pertanyaan yang diajukan, responden
menyatakan jarak kelahiran kambing cukup baik yaitu sekitar 7 bulan,
dengan rata-rata skor capaian 2.8. Hal
ini senada dengan pendapat Ginting (2009) menyatakan jarak kelahiran yang baik sekitar 7 bulan
Aspek pengelolaan
reproduksi yang lain kurang mendapatkan perhatian dari responden hal ini
berkaitan dengan system pemeliharaan yang tradisional di mana ternak dibiarkan
kawin sendiri secara alami, dengan demikian pejantan yang mengawininya tidak
hasil seleksi dan betina tidak mencapai dewasa tubuh. Menurut Triwulaningsih, Susilawati dan Kustono (2009)
perkawinan kambing yang biasa dilakukan adalah secara alami, kambing akan kawin
pertama kali pada umur 7 bulan saat tanda berahi timbul dan kambing sudah
mencapai dewasa tubuh. Menurut Direktorat Jendral Peternakan (1992) pejantan
yang digunakan adalah pejantan unggul dan memenuhi persyaratan sebagai pejantan
unggul dan harus dihindari perkawinan kerabat dekat (inbreeding).
KESIMPULAN
Penerapan
aspek teknis pemeliharaan ternak kambing di Kecamatan Inuman secara keseluruhan
rata-rata sebesar 61.45%. Penerapan aspek teknis pemeliharaan ternak kambing
secara berturut-turut dari yang tertinggi sampai terendah adalah :
perkandangan, bibit, tatalaksana pemeliharaan, pengendalian penyakit,
pengelolaan reproduksi dan pemberian pakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali,
A. 2008. Ilmu Ternak Kambing. Suska Press. Riau.Badan Pusat Statistik. 2012.
Inuman Dalam Angka 2012. BPS Kabupaten Kuantan Singingi.
Didiet.
2008. Pemeliharaan Ternak Kambing. http://didiet20002000.wordpress.com/category/
pemeliharaan/ [14 Maret 2014].
Devendra,
C. dan Burns. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. ITB. Bandung.Direktorat
Jenderal Peternakan. 1992. Pedoman Identifikasi Faktor Penentu Teknis
Peternakan. Proyek Peningkatan Produksi Peternakan. [Diktat]. Direktorat
Jenderal Peternakan Departemen Pertanian. Jakarta.
Ginting,
S.P. 2009. Pedoman Teknis Pemeliharaan
Induk dan Anak Kambing Masa pra-Sapih. Loka Penelitian Kambing Potong Sei
Putih, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Sumatera Utara.
Hardianto,
R. 2000. Teknologi Complete Feed Sebagai Alternatif Pakan Ternak Ruminansia.
Makalah BPTP Jawa Timur. Malang.
Junjungan
Sianipar, Aron Batubara, Setel Karokaro dan Simon P.Ginting. 2005. Efisiensi Nutrisi Pada Kambing Kosta,
Gembrong dan Kacang. Loka Penelitian
Kambing Potong Sungai Putih, Deli Serdang. Prosiding Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner 2005. (Efficiency
Nutrition for Goats Costa, Gembrong and Kacang)
Misriani. 2011. Hubungan Karakteristik Peternak dan Jumlah Ternak yang
Dipelihara dengan Pendapatan pada Pembibitan Sapi Potong Rakyat di Kecamatan
Bayang Kabupaten Pesisir Selatan. [Skripsi]. Fakultas Peternakan Universitas Andalas.Padang
Direktorat
Jenderal Peternakan. 2006. Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba. Jakarta.
Roger, C. M dan Subandrio. 1997. Sheep and Goat Production
Handbook for Southeast Asia. Davis: Small Ruminant-Collaborative Reserch
Support Program, University of California Davis.
Setiana, L. 2000. Dampak Fasilitas Usaha Tani Terhadap
Motivasi Peternak Plasma Ayam Buras di Kabupaten Bantul. [Tesis].
Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sudarmono,
A. S dan Sugeng, Y. B. 2003. Beternak Domba. Penebar Swadaya. Jakarta.
Susilorini, T. E. M. E. Sawitri dan
Muharlien. 2007. Budidaya Ternak Potensial. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sugeng, B. 1992. Sapi Potong. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Suharsih. 1998.
Analisis Finansial Usaha Sapi Perah Kredit Bantuan Perusahaan Listrik Negara.
[Skripsi]. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Sutama, I. K. I. G.M.
Budiarsana, H. Setiyanto dan A. Priyanti, 1995. Productive and reproductive
performanced young Etawah-cross goats. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner.
Puslitbangnak. Bogor. 1: 8-85.
Triwulaningsih,
E. T. Susilawati dan Kustono. 2009. Reproduksi dan inovasiteknologi reproduksi:
Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar