Kamis, 23 Januari 2014

Jurnal Green Swarnadwipa ISSN 2252-861X, Vol. 3 No. 1, Mei 2013 HAL 77-84


UJI PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA (16:16:16) DAN GROW QUICK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO ( Theobroma cacao L.)


Tabbrani, Rover dan Heni Rosneti
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Teluk Kuantan


ABSTRACT

This Research aim to to know Test Of  NPK Mutiara fertilizer ( 16:16:16) and Grow Quick To Growth Of Seed of Kakao ( Theobroma Cacao L.)" either through single and also interaction to growth of seed of kakao ( Cacao L Theobroma.). This Research have been executed at home Gauze Hall Seed of Holtikultura On Duty Crop Food, New Countryside Sentajo, District Of Great Sentajo, Kuantan Singingi. Time Research during 4 counted months Month from  July until November 2012. This research use Complete Random Device ( Factorial RAL) consisting of two each factor 4 level ( 4x4) by 3 restating. First factor is A  (NPK Mutiara ( 16:16:16) with doagse 0 gram, 8 gram, 16 gram and 24 gram. Factor B that is giving of Grow Quick with concentration 0 ml, 6 ml, 12 ml and 18 ml. NPK mutiara (16:16:16) fertilizer giving influence for weight of root, the best treatment is A3 = 8,17 gram. Grow Quick giving influence for weight of root with best treatment is B3 = 6,75 gram. Combination of NPK mutiara fertilizer (16:16:16) dan Grow Quick giving influence of treatment B3A3 = 11,33 gram.

Key word : NPK mutiara fertilizer, Grow quick, Kakao


PENDAHULUAN
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis untuk dikembangkan. Tanaman ini merupakan salah satu komoditi ekspor yang cukup potensial sebagai penghasil devisa negara. Kakao menduduki urutan ketiga pada subsektor perkebunan setelah tanaman kelapa sawit dan karet. Kakao dapat juga digunakan sebagai penyedia bahan baku untuk industri dalam negeri, baik industri bahan makanan maupun industri kosmetik. Disamping itu juga perkebunan kakao dapat menyediakan lapangan kerja bagi penduduk disentra produksi. Sejak tahun 1980 pemerintah memberi prioritas terhadap peningkatan produksi kakao sebagai salah satu mata dagang nonmigas yang dikembangkan secara cepat (Pusat Peneliti Kopi dan Kakao Indonesia, 2004).
Menurut data Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi (2011) Luas areal perkebunan adalah 278.642,20 ha dengan produksi mencapai 385.098,16 ton/ha/th. Luas perkebunan kakao yang dikelola di Kabupaten Kuantan Singingi 2.194,92 ha dengan produksi 1.815,64 ton/ha/th.
Perkembangan luas areal perkebunan kakao saat ini terus berlanjut di Indonesia, terutaman di Kabupaten Kuantan Singingi. Hal ini dibuktikan  permintaan akan bibit kakao oleh masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi terus meningkat. Pada tahun 2011 permintaan akan bibit kakao sebanyak 489.561 batang, yang tersebar di 12 (dua belas) kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi (Dinas Perkebunan Kuantan Singingi, 2011).
            Tanaman kakao dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif.  Salah satu cara perbanyakan bahan tanaman kakao adalah dengan menggunakan benih. Sampai saat ini perbanyakan bahan tanaman kakao lebih banyak dilakukan dengan cara perbanyakan dengan biji atau benih (generatif) dari pada perbanyakan dengan cangkok, okulasi dan stek (vegetatif) karena cepat menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak. Sedangkan cara vegetatif jarang dilakukan karena untuk mendapatkan bibit, cara-cara yang dilakukan cukup sulit dan jumlah yang dihasilkannya cukup sedikit (Pusat Peneliti Kopi dan Kakao Indonesia, 2004).
            Benih yang baik diperlukan untuk mendapatkan bibit yang baik sehingga pada akhirnya akan didapatkan produksi tanaman yang tinggi. Penggunaan benih yang kurang baik akan membawa akibat yang kurang baik pula terhadap produksi yang dihasilkan (Siregar, T. H. S., Riyadi, S. Dan Nuraini L., 2009).
            Salah satu hambatan yang ditemukan dalam penyediaan bibit kakao adalah sejumlah bibit yang tumbuh tidak sempurna atau pertumbuhannya terhambat. Kondisi ini disebabkan oleh pertumbuhan akar yang terganggu sehingga penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan bibit juga akan terganggu.
            Bibit kakao dalam pertumbuhan dan perkembangannya dibutuhkan akar yang bagus, sehingga memperluas daerah sebaran akar dan pada akhirnya akar tersebut akan meningkatkan daya serap akar terhadap unsur hara dan air bagi tanaman kakao (Irawan, 1995).
            Penyediaan unsur hara dilakukan melalui pemupukan seperti penggunaan pupuk NPK Mutiara (16:16:16). Pemberian pupuk ini sangat diperlukan, dimana pupuk NPK Mutiara (16:16:16) merupakan sumber nitrogen, posfor, kalium, kalsium dan magnesium yang sangat banyak dibutuhkan oleh tanaman (Marsono, Paulus Sigit, 2002).
            Kekurangan unsur-unsur ini dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga perlu penambahan unsur hara kedalam  media tanam yaitu dengan pemberian pupuk NPK Mutiara (16:16:16) yang diperlukan dalam pertumbuhan organ tanaman, diantaranya akar (Pusat Peneliti Kopi dan Kakao, 2004).
            Usaha untuk mempercepat proses pembentukan akar pada bibit dapat digunakan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). ZPT merupakan senyawa organik bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung dan mengatur proses fisiologis tumbuhan (Kusumo, 1994). Salah satu bahan yang termasuk ZPT adalah Grow Quick dan bahan yang terkandung didalamnya yaitu NAA, IBA  dan Vitamin B1 (Ilmu biologi, 2010).
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui uji pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan grow quick baik secara tunggal maupun interaksi terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.). Manfaat penelitian agar mendapatkan dosis pupuk NPK mutiara dan konsentrasi Grow Qiuck yang sesuai untuk pertumbuhan bibit kakao yang bagus.

BAHAN DAN METODA

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah Kasa Balai Benih Holtikultura Dinas Tanaman Pangan, Desa Kampung Baru Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya,  Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai bulan Juli 2012 sampai bulan November 2012.

Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kakao varietas Forestero (diperoleh dari PT. Tri Bakti Sarimas), pupuk NPK Mutiara (16:16:16), Grow Quick, Dithane M-45, polybag ukuran 20 x 30 cm, tanah top soil, pasir, pupuk kotoran kambing dan cat. Sementara alat-alat yang dipakai dalam penelitian ini adalah cangkul, ayakan 2 mm, polybag ukuran 30 x 20, kamera, handsprayer, parang, gergaji, cutter, palu, paku, jangka sorong, timbangan analitik, papan mal, meteran, gembor, pipet takar dan alat-alat tulis.

Metode Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) karena komoditi yang digunakan tanaman kakao, dimana kakao tergolong sebagai tanaman C3 yang mampu berfotosintesis pada suhu rendah atau pencahayaan tidak penuh dalam hal ini membutuhkan naungan untuk proses pertumbuhannya. Adapun faktorial terdiri dari 2 faktor yaitu faktor A (pupuk NPK mutiara 16:16:16) terdiri dari 4 taraf dan faktor B (Grow quick) terdiri dari 4 taraf.

Faktor A:
A0        : Tanpa pemberian pupuk NPK mutiara
A1                    : 8 gram per tanaman
A2        : 16 gram per tanaman  
A3                                : 24 gram per tanaman

Faktor B (Pemberian grow quick) :
B0       : Tanpa pemberian grow quick
B1        : 6 ml per liter air
B2        : 12 ml per liter air
B3        : 18 ml per liter air

Kemudian masing-masing data akhir dianalisis secara statistik dan apabila F hitung besar dari pada F tabel, maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
   Data hasil pengamatan terhadap parameter tinggi tanaman (cm) dianalisis secara statistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK Mutiara (16:16:16) dan Grow Quick baik secara tunggal maupun interaksi tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tinggi tananam kakao.





Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman Kakao (cm) Saat Umur 4 bulan Setelah Tanam    Dengan Pemberian Pupuk NPK Mutiara (16:16:16) dan Grow Quick
Grow Quick
Pupuk NPK Mutiara (16:16:16)
Rerata B
A0
A1
A2
A3
B0
37,22
37,77
37,89
38,33
37,80
B1
38,22
38,33
38,55
38,44
38,38
B2
38,55
38,88
38,77
39,22
38,86
B3
38,77
38,77
38,66
39,44
38,91
Rerata A
38,19
38,44
38,47
38,86
KK = 7,71%
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti huruf  kecil yang  sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ.

  

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) secara tunggal memberikan pengaruh yang hampir sama dengan tanpa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16). Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A3 yaitu 38,86 cm, sementara perlakuan terendah terdapat pada perlakuan A0 yaitu 38,19 cm. Hal ini diduga disebabkan karena pada biji adanya cotiledon (cadangan makanan) berupa karbohidrat, protein dan lemak sebagai sumber energi bagi tanaman untuk pertumbuhannya, sehingga pemberian perlakuan pupuk NPK mutiara (16:16:16) memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman kakao.
    Menurut Kamil (2011) menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman pada saat masih muda makanan bersumber dari biji. Pada biji adanya cotiledon yang terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak sebagai sumber makanan bagi benih. Dalam penelitian yang dilakukan, pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) juga dilakukan pada saat tanaman masih muda, sehingga pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman kakao.     
   Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian perlakuan Grow Quick  secara tunggal memberikan hasil yang hampir sama dengan tanpa pemberian  Grow Quick. Perlakuan yang memperlihatkan tinggi tanaman yang tertinggi yaitu pada perlakuan B3 yaitu 38,91 cm, sementara tinggi tanaman yang terendah pada perlakuan B0 yaitu 37,80 cm. Keadaan ini diduga disebabkan karena kemampuan potensi lapang dari benih untuk keperluan budidaya tidak mempunyai kekuatan tumbuh, sehingga tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman kakao.
   Tabel 1 menunjukkan bahwa interaksi pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman kakao. Kombinasi yang tertinggi terdapat pada perlakuan B3A3 yaitu 39,44 cm, sementara kombinasi terendah pada perlakuan B0A0 yaitu 37,22 cm. Hal ini diduga disebabkan karena tinggi tanaman kakao lebih dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Fotosintesis ketika tanaman masih muda intensitas naungan yang diberikan cukup tinggi, selanjutnya dikurangi secara bertahap seiring dengan semakin tuanya tanaman atau bergantung pada berbagai faktor tumbuh yang tersedia (Pusat Peneliti Kopi dan Kakao Indonesia, 2004).
   Selain itu, varietas yang digunakan sama yang berarti bahwa faktor genetik yang mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman kakao adalah sama,  sehingga mengakibatkan pemberian kombinasi antara pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick tidak mempengaruhi tinggi tanaman kakao. Hal ini sesuai pendapat Riyadi, et, al., (2010) yang menyatakan bahwa tinggi tanaman kakao dipengaruhi oleh intensitas naungan. Menurut Lakitan (1996) menyatakan bahwa laju dan kuantitas fotosintat sebagai hasil fotosintesis dapat mempengaruhi pertumbuhan. Kegiatan fotosintesis sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu, air dan unsur hara.

Diameter batang (mm)
   Data hasil pengamatan terhadap parameter diameter batang tanaman menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick baik secara tunggal maupun interaksi tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter diameter batang tanaman kakao (mm).

Tabel 2. Rerata Diameter Batang Tanaman Kakao (mm) Saat Umur 4 Bulan Setelah  Tanam Dengan Pemberian Pupuk NPK Mutiara (16:16:16) dan Grow Quick
Grow Quick
Pupuk NPK Mutiara (16:16:16)
Rerata B
A0
A1
A2
A3
B0
7,85
8,40
8,41
8,45
8,28
B1
8,56
8,71
8,47
8,63
8,59
B2
8,23
8,57
8,70
8,89
8,60
B3
8,68
8,74
8,90
9,77
9,02
Rerata A
8,33
8,61
8,62
8,94
KK = 8,91%
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti huruf  kecil yang  sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
    

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pupuk NPK mutiara (16:16:16) secara tunggal memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap parameter diameter batang tanaman kakao (mm). Perlakuan terbesar terdapat pada A3 yaitu 8,94 mm, sementara yang terkecil terdapat pada perlakuan A0 yaitu 8,33 mm. Hal ini disebabkan karena kulit benih dan struktur disekitarnya dapat mempengaruhi kemampuan perkecamabahan benih melalui penghambatan terhadap penyerapan air, unsur hara dan endogenous atau penghambatan pertumbuhan embrio. Sesuai pendapat Sutopo, et, al., (1997) menyatakan bahwa kulit benih dan struktur disekitarnya dapat mempengaruhi kemampuan perkecamabahan benih melalui penghambatan terhadap penyerapan air, pertukaran gas, endogenous atau penghambatan pertumbuhan embrio.
Dari Tabel 2 menunjukkan bahwa pemberian perlakuan Grow Quick secara tunggal memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap parameter diameter batang tanaman kakao (mm). Perlakuan terbesar terdapat pada B3 yaitu 9,02 mm, sedangkan yang terkecil terdapat pada perlakuan B0 yaitu 8,28 mm. Hal ini diduga disebabkan karena faktor fisiologis dari benih yang berhubungan dengan daya kecambah dan tumbuh benih yang tidak laju pertumbuhannya. Sifat benih ini berhubungan masalah pemasakan benih. Sesuai pendapat Sutopo, et. al., (1997) yang menyatakan bahwa pertumbuhan kecambah akan dipengaruhi faktor fisiologis yang berhubungan dengan daya kecambah dan tumbuh benih. Sifat ini berhubungan dengan masak fisiologis benih.
Selain itu turut mempengaruhi adalah lingkungan dalam hal ini cahaya,
kebutuhan benih terhadap cahaya untuk berkecambah berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman.  Benih yang dikecambahkan pada keadaan kurang cahaya atau gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi, yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotil, batang tanaman akan lemah dan kerdil (Pusat Peneliti Kopi dan Kakao Indonesia, 2004)
                 Tabel 2 memperlihatkan bahwa interaksi pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick memberikan hasil yang berbeda tidak nyata terhadap parameter diameter batang tanaman kakao (mm). Dimana hasil dari pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) menunjukkan nilai rerata yang hampir sama, dimana perlakuan A0 yaitu 8,33 mm hingga A3 yaitu 8,94 mm. Hal yang sama juga terjadi pada pemberian Grow Quick menunjukkan nilai rata-rata yang hampir sama B0 yaitu  8,28 mm hingga B3 yaitu 9,02 mm.
                 Pertambahan diameter batang tanaman (mm) memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan tinggi tanaman (cm), dalam pertumbuhan normal semakin tinggi tanaman maka diameter batang tanaman juga akan semakin besar dan begitu juga sebaliknya. Hal ini diduga disebabkan karena faktor fisik dari benih yang berhubungan dengan berat kering biji, dimana semakin tinggi berat kering biji maka akan semakin bagus hasil pertumbuhan dari biji tersebut. Sesuai pendapat Bewley dan Black (1995) yang menyatakan bahwa perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor fisik dari benih yang meliputi berat kering biji, ukuran benih dan penghambat perkecambahan. Kuswanto (1997) menambahkan bahwa proses perkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang meliputi air, temperatur, oksigen dan cahaya jika terpenuhi sehinga akan didapat hasil yang bagus.         

Jumlah Daun (helai)                                                                            
   Data hasil pengamatan terhadap parameter jumlah daun setelah dianalisis secara statistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick baik secara tunggal maupun interaksi memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap jumlah daun tanaman kakao (helai).


Tabel 3.  Rerata Jumlah Daun Tanaman Kakao (helai) Saat Umur 4 Bulan Setelah   Tanam Dengan Pemberian Pupuk NPK Mutiara (16:16:16) dan Grow Quick
Grow Quick
Pupuk NPK Mutiara (16:16:16)
Rerata B
A0
A1
A2
A3
B0
17,78
18,11
18,22
18,61
18,18
B1
18,11
18,55
18,77
18,77
18,55
B2
18,77
18,88
18,77
19,33
18,94
B3
18,88
18,89
18,66
19,77
19,05
Rerata A
18,39
18,61
18,61
19,12
KK =  6,97%
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti huruf  kecil yang  sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ.

           

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pupuk NPK mutiara (16:16:16) secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun tanaman kakao. Perlakuan yang terbanyak terdapat pada A3 yaitu 19,12 helai, sementara  perlakuan yang paling sedikit terdapat pada A0 yaitu 18,39 helai. Hal ini diduga disebabkan karena tidak tercipta iklim mikro di sekitar tajuk tanaman akibat dari peningkatan suhu tanah.
            Sesuai pendapat Siregar, et, al., (2009) yang meyatakan bahwa peningkatan suhu terutama suhu tanah dan iklim mikro di sekitar tajuk tanaman akan mempercepat kehilangan lengas tanah terutama pada musim kemarau. Meningkatnya konsentrasi CO2 diatmosfer sebenarnya berdampak positif terhadap proses fisiologis tanaman, tetapi pengaruh positif CO2 dihilangkan oleh peningkatan suhu atmosfer yang cenderung berdampak negatif terhadap proses fisiologis tersebut. Pengaruh positif peningkatan CO2 atmosfer merangsang proses fotosintesis, meningkatkan pertumbuhan tanaman tanpa diikuti oleh peningkatan kebutuhan air (transpirasi). Pengaruh negatif peningkatan CO2: meningkatnya suhu iklim global, berdampak pada peningkatan respirasi.
            Dari Tabel 3 menunjukkan bahwa pemberian perlakuan Grow Quick secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun tanaman kakao. Perlakuan terbanyak terdapat pada B3 yaitu 19,02 helai, sementara jumlah daun yang paling sedikit terdapat pada perlakuan B0 yaitu 18,18 helai. Hal ini diduga disebabkan karena kekurangan cahaya akan mengganggu proses fotosintesis pada daun tanaman kakao sehingga terhambat pertumbuhannya.
            Sesuai pendapat Pusat Peneliti Kopi dan Kakao Indonesia (2004) yang menyatakan bahwa cahaya merupakan faktor utama terjadinya proses fotosintesis untuk menghasilkan energi bagi tanaman untuk pertumbuhannya. Kekurangan cahaya pada saat pertumbuhan berlangsung akan menimbulkan gejala pada daun, dimana daun akan berukuran lebih kecil dan tidak berwarna hijau.
            Selain itu suhu juga ikut mempengaruhi terhadap faktor fisiologis tanaman kakao, tanaman kakao memiliki suhu ideal untuk tumbuh dengan bagus, jika suhu terlalu tinggi maupun terlalu rendah tanaman kakao akan terhambat pertumbuhannya. Sesuai pendapat Riyadi, et, al., (2010) yang menyatakan bahwa suhu merupakan faktor yang mempengaruhi terhadap fisiologis tanaman kakao antara lain  bukaan stomata, laju penyerapan air, nutrisi dan fotosintesis. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghambat proses pertumbuhan. Fotosintesis pada tumbuhan biasanya terjadi di daun. Suhu (30 °C hingga 32°C) merupakan suhu yang optimum dan suhu yang minimum (18 °C hingga 21°C). Suhu yang ideal untuk pertumbuhan kakao adalah (26 °C).
            Tabel 3 menunjukkan bahwa interaksi pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun tanaman kakao. Kombinasi  terbanyak terdapat pada perlakuan B3A3 yaitu 19,77 helai. Sementara kombinasi pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick  memiliki jumlah daun paling sedikit terdapat pada perlakuan B0A0 yaitu 17,78 helai. Pemberian secara interaksi pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick pada tanaman kakao memperlihatkan hasil tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun tanaman kakao. Hal ini diduga disebabkan karena faktor lingkungan.
            Ketersediaan unsur hara yang terdapat pada media tanam belum mencukupi bagi tanaman untuk pertumbuhan daun sehingga mengakibatkan pertumbuhan jumlah daun  yang berpengaruh tidak nyata. Menurut Pusat Peneliti Kopi dan Kakao Indonesiaa (2004) menyatakan bahwa faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman adalah ketersediaan air, CO2, cahaya, hara mineral dan suhu. Novita (1999) menambahkan bahwa proses fotosintesis akan berjalan dengan sempurnah dan fotosintat yang dihasilkan dapat digunakan untuk pertumbuhan daun baru dibutuhkan ketersediaan unsur hara.
            Pertumbuhan jumlah helai daun sangat erat kaitannya dengan pertambahan tinggi dan diameter batang tanaman kakao. Daun pada tanaman kakao keluar dari buku-buku batangnya, sehingga apabila batang tanaman semakin tinggi maka pertumbuhan jumlah helaian daun tanaman kakao menjadi semakin meningkat. Menurut Pramono Eko (2002) menyatakan bahwa jumlah daun tanaman kakao dipengaruhi oleh kemampuan tanaman dalam membentuk daun pada setiap pertumbuhan tinggi tanaman sehingga daun akan keluar pada buku-buku batang tanaman.
    
Berat Akar (gram)
              Data hasil pengamatan terhadap parameter berat akar setelah dianalisis secara statistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick baik secara tunggal maupun interaksi memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter berat akar tanaman kakao. Hasil uji lanjut pada taraf 5% dapat dilihat Tabel 4.


Tabel 4. Rerata Berat Akar Tanaman Kakao (gram) Saat Umur 4 Bulan Setelah Tanam Dengan  Pemberian Pupuk NPK Mutiara (16:16:16) dan Grow Quick
Grow Quick
Pupuk NPK mutiara (16:16:16)
Rerata B
A0
A1
A2
A3
B0
3,00f
4,00ef
4,33def
6,67bcd
4,50c
B1
4,00ef
5,00cdef
5,33bcdef
7,00bc
5,33bc
B2
4,00ef
5,00cdef
5,33bcdef
7,67b
5,50b
B3
4,67cdef
5,00cdef
6,00bcde
11,33a
6,75a
Rerata A
3,92c
4,75bc
5,25b
8,17a
KK = 14,14%         BNJ B = 0,19             BNJ A = 0,19               BNJ BA = 2,33
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti huruf  kecil yang  sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
    

Dari tabel diatas menunjukan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) secara tunggal memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter berat akar tanaman kakao. Perlakuan terberat terdapat pada perlakuan A3 yaitu 8,17 gram. Sementara berat akar terendah terdapat pada perlakuan A0 yaitu 3,92 gram yang memberikan pengaruh berbedah nyata. Hal yang sama juga memberikan pengaruh nyata yang terjadi pada perlakuan A1 yaitu 4,75 gram dan A2 yaitu 5,25 gram. Perlakuan A2 yaitu 5,25 gram berbeda nyata dengan A0 yaitu 3,92 gram, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan A1 yaitu 4,75 gram, perlakuan A1 yaitu 4,75 gram juga tidak berbeda nyata dengan perlakuan B0 yaitu 3,92 gram.
            Pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) secara tunggal pada parameter berat akar tanaman kakao telah mampu memacu tanaman dalam pertumbuhan akar yang bagus karena telah tersediah dalam jumlah yang cukup dan bentuk yang sesuai untuk diserap tanaman. Sesuai pendapat Suriatna (1995) menyatakan bahwa tanaman akan tumbuh dengan baik dan subur jika unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia dalam jumlah yang cukup dan bentuk yang sesuai untuk diserap tanaman. Subroto (1994) menambahkan bahwa unsur P yang cukup bagi tanaman mampu mengembangkan lebih banyak akar, apabila akar yang terbentuk oleh tanaman lebih banyak maka unsur hara yang diserap lebih banyak.
            Selain faktor diatas tanah juga ikut mempengaruhi pertumbuhan akar tanaman kakao, tanaman kakao bisa tumbuh bagus asalkan sifat fisik dan kimia terpenuhi. Hal ini sesuai pendapat Siregar, et, al., (2009) yang menyatakan bahwa tanaman kakao dapat tumbuh pada semua jenis tanah, asalkan sifat kimia dan fisik yang berperan terhadap pertumbuhan kakao terpenuhi. Tanaman kakao ideal tumbuh pada pH 6 – 7,5 jika melebihi dari pH 8 dan rendah dari 4 maka pertumbuhannya terhambat.
   Sementara untuk tekstur tanah yang ideal untuk pertumbuhan tanaman kakao adalah lempung liat berpasir dengan komposisi partikel tanah 30 - 40% liat, 50% pasir, dan 10 - 20% debu. Struktur demikian akan menciptakan gerakan air dan udara didalam tanah lancar, sehingga menguntungkan bagi akar dalam pertumbuhannya (Siregar, et, al., 2009).
   Tabel 4 menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi Grow Quick yang diberikan pada tanaman maka semakin tinggi pula berat akar tanaman. Perlakuan terberat terdapat pada B3 yaitu 6,75 gram yang berbeda nyata dengan perlakuan B2 yaitu 5,50 gram dan B1 yaitu 5,33 gram dan B0 yaitu 4,50 gram. Perlakuan B2 yaitu 5,50 gram berbeda nyata dengan B0 yaitu 4,50 gram, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan B1 yaitu 5,33 gram. Hal ini diduga disebabkan karena semakin bertambah umur tanaman maka akan bertambah juga berat akar tanaman.
   Dari Tabel 4 menunjukan bahwa kombinasi pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) pada perlakuan A3 dengan perlakuan B0 yaitu 6,67 gram, B1 yaitu 7,00 gram, dan B2 yaitu 7,67 gram hingga B3 11,33 gram juga mengalami peningkatan berat akar tanaman kakao. Hal yang sama juga terjadi pada pemberian Grow Quik pada perlakuan B0 yaitu 3,00 gram dengan peningkatan pupuk NPK mutiara (16:16:16) akan meningkatkan berat akar tanaman pada perlakuan A1 yaitu 4,00 gram hingga perlakuan A3 yaitu 6,67 gram.
Berat akar tanaman kakao tertinggi adalah pada kombinasi perlakuan B3A3 yaitu 11,33 gram dan yang terendah pada perlakuan B0A0 yaitu 3,00 gram. Hal ini diduga disebabkan karena perlakuan ini akan memacu tanaman untuk meningkatkan aktifitas fotosintesis sehingga menghasilkan asimilat lebih banyak yang akhirnya juga akan meningkatkan berat akar tanaman.
Sesuai pendapat Guritno (1995) menyatakan bahwa produksi fotosintesis yang lebih besar pada tanaman akan memungkinkan aktifitas fotosintesis sehingga menghasilkan asimilat lebih yang banyak dan pada akhirnya juga akan meningkatkan berat akar tanaman kakao.
Pemberian secara interaksi pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick yang berpengaruh nyata pada parameter berat akar tanaman kakao, namun tidak diiringi dengan pertumbuhan organ tanaman lain seperti tinggi tanaman, diameter batang tanaman, jumlah daun tanaman kakao. Hal ini diduga disebabkan karena penyeleksian mutu benih tidak selektif, lingkungan yang tidak mendukung (sinar matahari yang tidak merata) dan mutu benih itu sendiri yang rendah.
Rahardjo Pudji (2011) menambahkan bahwa standar mutu benih kakao terdiri dari tiga komponen mutu, yaitu mutu genetis, mutu fisiologis, serta mutuh fisik benih kakao. Mutu genetis benih kakao adalah mutu benih yang terkait dengan sifat-sifat yang diturunkan benih tersebut. Mutu fisiologis benih kakao adalah kemampuan benih berkecambah secara normal pada kondisi lingkungan yang optimal. Mutu fisik benih kakao adalah tingkat keutuhan benih berhubungan kadar air dan kemurnian benih.
   Berat akar terendah pada kombinasi perlakuan B0A0 yaitu 3,00 gram. Hal ini memperlihatkan bahwa tanpa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) sebagai pasokan unsur hara bagi tanaman akan membuat pertumbuhan tanaman lebih lambat sehingga mengakibatkan berat akarnya akan lebih rendah. Ditambah lagi dengan tanpa diberikan Grow Quick pada tanaman, sehingga tanaman tidak terpacu dalam pembelahan sel juga.
      
KESIMPULAN

Pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) berpengaruh nyata terhadap parameter berat akar tanaman, perlakuan terbaik adalah A3 = 8,17 gram, sementara perlakuan terendah adalah A0 = 3,92 gram. Pemberian Grow Quick berpengaruh nyata terhadap parameter berat akar tanaman, perlakuan terbaik adalah B3 = 6,75 gram, sementara perlakuan terjelek adalah A0 = 4,50 gram. Kombinasi pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter berat akar tanaman, kombinasi terbaik adalah B3A3 = 11,33 gram, sementara terendah adalah B0A0 = 3,00 gram.

DAFTAR PUSTAKA

Ade  Setiawan. 2007. Pemanfaatan Kotoran Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Agustina, L. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. PT. Rinika Cipta, Jakarta.
Anonim. 2002. Swet corn Baby corn. Penebar Swadaya, Jakarta.
Anwar, S. 1998. Pengaruh Jumlah dan Pemotongan Akar Tunggang Bibit Stum Mata Tidur terhadap Pertumbuhan dalam Kantong Plastik. Balai Penelitian Perkebunan Getas, Salatiga.
Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi. 2011. Laporan Tahunan Luas Tanaman Kakao. Teluk Kuantan.
Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi. 2011. Laporan Tahunan Permintaan Bibit Kakao Masing-Masing kecamatan. Teluk Kuantan.
Dwidjoseputro. 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia, Jakarta.
Font. 1994. Pemberian Pupuk Urea dan Dolomite Pada Tanah Masam, jurnal Universitas Sumatra Utara.
Gunawan. 1988. Teknik Kultur Jaringan. Pusat Antar Universitas Bekerjasama Dengan Intruktur Pertanian Bogor, Bogor.
Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ilmu Biologi. Com/2010/01. Hormon Auksin. Teluk kuantan,  2011.
Kamil, H. 2011. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu   dan Teknologi Benih. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Kusumo. 1994. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. CV Yasaguna, Jakarta.
Kuswanto. 1997. Teknologi Benih. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Lakitan. 1996. Holtikultura: Teori, Budidaya dan Paska Panen. Rajawali. CV.          Yasaguna, Jakarta.

 
Lewsman. 1991. The Moleculer Hormonal Basis of Plant. Growth resolution           Pergamon Pres, New York. 93-145 hal.
Mardawilis. 2004. Pemanfaatan Tanaman Optimum dan Efisiensi Penggunaan Pupuk         Nitrogen di Lahan Kering. Jurnal Dinamika Pertanian. 19(3) Hal : 303 – 314.
Irawan. 1995. Pengaruh Pemotongan Ujung Akar Tunggang Kecambah Kakao        dan Pemberian IBA Untuk Pertumbuhan Bibit. (Skripsi). Institut Pertanian     Bogor, Bogor.
Marsono, Paulus Sigit. 2002. Pupuk Akar Jenis dan Aplikasinya. Penebar Swadaya, Jakarta.
Novita. 1999. Pengaruh Pemberian Beberapa Jenis Pupuk Anorganik dan Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb) dilapangan. (Skripsi). Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNAND, Padang.