UJI
PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA (16:16:16) DAN GROW QUICK TERHADAP PERTUMBUHAN
BIBIT KAKAO ( Theobroma cacao L.)
Tabbrani, Rover dan Heni
Rosneti
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa
Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Teluk Kuantan
ABSTRACT
This
Research aim to to know Test Of NPK Mutiara fertilizer (
16:16:16) and Grow Quick To Growth Of Seed of Kakao ( Theobroma Cacao L.)"
either through single and also interaction to growth of seed of kakao ( Cacao L
Theobroma.). This Research have been executed at home Gauze Hall Seed of
Holtikultura On Duty Crop Food, New Countryside Sentajo, District Of Great
Sentajo, Kuantan Singingi. Time
Research during 4 counted months Month from July until November 2012. This research use
Complete Random Device ( Factorial RAL) consisting of two each factor 4 level (
4x4) by 3 restating. First factor is A (NPK
Mutiara (
16:16:16) with doagse 0 gram, 8 gram, 16 gram
and 24 gram. Factor B that is giving of Grow Quick with concentration 0
ml, 6 ml, 12 ml and 18 ml. NPK mutiara (16:16:16) fertilizer giving influence for weight of root, the
best treatment is A3 = 8,17 gram. Grow
Quick giving influence for weight of root with
best treatment is B3 = 6,75 gram. Combination of
NPK mutiara fertilizer (16:16:16)
dan Grow Quick giving influence of treatment B3A3
= 11,33 gram.
Key word : NPK mutiara
fertilizer, Grow quick, Kakao
PENDAHULUAN
Tanaman
kakao (Theobroma cacao L.) merupakan
salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis untuk dikembangkan.
Tanaman ini merupakan salah satu komoditi ekspor yang cukup potensial sebagai
penghasil devisa negara. Kakao menduduki urutan ketiga pada subsektor
perkebunan setelah tanaman kelapa sawit dan karet. Kakao dapat juga digunakan
sebagai penyedia bahan baku untuk industri dalam negeri, baik industri bahan
makanan maupun industri kosmetik. Disamping itu juga perkebunan kakao dapat
menyediakan lapangan kerja bagi penduduk disentra produksi. Sejak tahun 1980
pemerintah memberi prioritas terhadap peningkatan produksi kakao sebagai salah
satu mata dagang nonmigas yang dikembangkan secara cepat (Pusat Peneliti Kopi
dan Kakao Indonesia, 2004).
Menurut
data Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi (2011) Luas areal perkebunan
adalah 278.642,20 ha dengan produksi mencapai 385.098,16 ton/ha/th. Luas
perkebunan kakao yang dikelola di Kabupaten Kuantan Singingi 2.194,92 ha dengan
produksi 1.815,64 ton/ha/th.
Perkembangan
luas areal perkebunan kakao saat ini terus berlanjut di Indonesia, terutaman di
Kabupaten Kuantan Singingi. Hal ini dibuktikan
permintaan akan bibit kakao oleh masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi
terus meningkat. Pada tahun 2011 permintaan akan bibit kakao sebanyak 489.561
batang, yang tersebar di 12 (dua belas) kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi
(Dinas Perkebunan Kuantan Singingi, 2011).
Tanaman
kakao dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Salah satu cara perbanyakan bahan tanaman
kakao adalah dengan menggunakan benih. Sampai saat ini perbanyakan bahan
tanaman kakao lebih banyak dilakukan dengan cara perbanyakan dengan biji atau
benih (generatif) dari pada perbanyakan dengan cangkok, okulasi dan stek
(vegetatif) karena cepat menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak. Sedangkan
cara vegetatif jarang dilakukan karena untuk mendapatkan bibit, cara-cara yang
dilakukan cukup sulit dan jumlah yang dihasilkannya cukup sedikit (Pusat
Peneliti Kopi dan Kakao Indonesia, 2004).
Benih
yang baik diperlukan untuk mendapatkan bibit yang baik sehingga pada akhirnya
akan didapatkan produksi tanaman yang tinggi. Penggunaan benih yang kurang baik
akan membawa akibat yang kurang baik pula terhadap produksi yang dihasilkan
(Siregar, T. H. S., Riyadi, S. Dan Nuraini L., 2009).
Salah
satu hambatan yang ditemukan dalam penyediaan bibit kakao adalah sejumlah bibit
yang tumbuh tidak sempurna atau pertumbuhannya terhambat. Kondisi ini
disebabkan oleh pertumbuhan akar yang terganggu sehingga penyerapan unsur hara
yang diperlukan untuk pertumbuhan bibit juga akan terganggu.
Bibit
kakao dalam pertumbuhan dan perkembangannya dibutuhkan akar yang bagus,
sehingga memperluas daerah sebaran akar dan pada akhirnya akar tersebut akan
meningkatkan daya serap akar terhadap unsur hara dan air bagi tanaman kakao
(Irawan, 1995).
Penyediaan
unsur hara dilakukan melalui pemupukan seperti penggunaan pupuk NPK Mutiara
(16:16:16). Pemberian pupuk ini sangat diperlukan, dimana pupuk NPK Mutiara
(16:16:16) merupakan sumber nitrogen, posfor, kalium, kalsium dan magnesium
yang sangat banyak dibutuhkan oleh tanaman (Marsono, Paulus Sigit, 2002).
Kekurangan
unsur-unsur ini dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga
perlu penambahan unsur hara kedalam
media tanam yaitu dengan pemberian pupuk NPK Mutiara (16:16:16) yang
diperlukan dalam pertumbuhan organ tanaman, diantaranya akar (Pusat Peneliti
Kopi dan Kakao, 2004).
Usaha
untuk mempercepat proses pembentukan akar pada bibit dapat digunakan Zat
Pengatur Tumbuh (ZPT). ZPT merupakan senyawa organik bukan hara yang dalam
jumlah sedikit dapat mendukung dan mengatur proses fisiologis tumbuhan (Kusumo,
1994). Salah satu bahan yang termasuk ZPT adalah Grow Quick dan bahan yang
terkandung didalamnya yaitu NAA, IBA dan
Vitamin B1 (Ilmu biologi, 2010).
Adapun
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui uji pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan grow
quick baik secara tunggal maupun interaksi terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma
cacao L.). Manfaat penelitian agar mendapatkan dosis pupuk NPK mutiara dan
konsentrasi Grow Qiuck yang sesuai untuk pertumbuhan bibit kakao yang bagus.
BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu
Penelitian
ini telah dilaksanakan di Rumah Kasa Balai Benih Holtikultura Dinas Tanaman
Pangan, Desa Kampung Baru Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini
telah dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai bulan Juli 2012 sampai bulan
November 2012.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kakao varietas Forestero (diperoleh
dari PT. Tri Bakti Sarimas), pupuk NPK Mutiara (16:16:16), Grow Quick, Dithane M-45, polybag ukuran 20 x 30
cm, tanah top soil, pasir, pupuk kotoran kambing dan cat. Sementara alat-alat
yang dipakai dalam
penelitian ini adalah cangkul, ayakan 2 mm, polybag ukuran 30 x 20, kamera,
handsprayer, parang, gergaji, cutter, palu,
paku, jangka sorong, timbangan analitik, papan mal, meteran, gembor, pipet
takar dan alat-alat tulis.
Metode Penelitian
Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) karena
komoditi yang digunakan tanaman kakao, dimana kakao tergolong sebagai tanaman
C3 yang mampu berfotosintesis pada suhu rendah atau pencahayaan tidak penuh
dalam hal ini membutuhkan naungan untuk proses pertumbuhannya. Adapun faktorial
terdiri dari 2 faktor yaitu faktor A (pupuk NPK mutiara 16:16:16) terdiri dari
4 taraf dan faktor B (Grow quick) terdiri dari 4 taraf.
Faktor A:
A0 : Tanpa
pemberian pupuk NPK
mutiara
A1 : 8 gram
per tanaman
A2 : 16 gram per tanaman
A3 :
24 gram per tanaman
Faktor B (Pemberian grow quick) :
B0 :
Tanpa pemberian grow
quick
B1 : 6 ml
per liter air
B2 :
12 ml per liter air
B3 :
18 ml per liter air
Kemudian
masing-masing data akhir dianalisis secara statistik dan apabila F hitung besar
dari pada F tabel, maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ)
pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Data hasil pengamatan terhadap parameter
tinggi tanaman (cm) dianalisis secara statistik. Hasil
analisis menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK Mutiara (16:16:16) dan Grow
Quick baik secara tunggal maupun interaksi tidak memberikan pengaruh
yang berbeda nyata terhadap tinggi tananam kakao.
Tabel
1. Rerata Tinggi Tanaman Kakao (cm) Saat Umur 4 bulan Setelah Tanam Dengan Pemberian Pupuk NPK Mutiara
(16:16:16) dan Grow Quick
|
Grow
Quick
|
Pupuk
NPK Mutiara (16:16:16)
|
Rerata B
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
B0
|
37,22
|
37,77
|
37,89
|
38,33
|
37,80
|
|
B1
|
38,22
|
38,33
|
38,55
|
38,44
|
38,38
|
|
B2
|
38,55
|
38,88
|
38,77
|
39,22
|
38,86
|
|
B3
|
38,77
|
38,77
|
38,66
|
39,44
|
38,91
|
|
Rerata A
|
38,19
|
38,44
|
38,47
|
38,86
|
|
|
KK = 7,71%
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolam yang diikuti huruf
kecil yang sama adalah berbeda
nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Dari
tabel diatas menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) secara
tunggal memberikan pengaruh yang hampir sama dengan tanpa pemberian pupuk NPK
mutiara (16:16:16). Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan A3 yaitu 38,86
cm, sementara perlakuan terendah terdapat pada perlakuan A0 yaitu 38,19 cm. Hal
ini diduga disebabkan karena pada biji adanya cotiledon (cadangan makanan)
berupa karbohidrat, protein dan lemak sebagai sumber energi bagi tanaman untuk
pertumbuhannya, sehingga pemberian perlakuan pupuk NPK mutiara (16:16:16)
memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman
kakao.
Menurut Kamil (2011) menyatakan bahwa
pertumbuhan tanaman pada saat masih muda makanan bersumber dari biji. Pada biji
adanya cotiledon yang terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak sebagai
sumber makanan bagi benih. Dalam penelitian yang dilakukan, pemberian pupuk NPK
mutiara (16:16:16) juga dilakukan pada saat tanaman masih muda, sehingga
pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) tidak memberikan pengaruh nyata terhadap
parameter tinggi tanaman kakao.
Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian
perlakuan Grow Quick secara tunggal
memberikan hasil yang hampir sama dengan tanpa pemberian Grow Quick. Perlakuan yang memperlihatkan tinggi
tanaman yang tertinggi yaitu pada perlakuan B3 yaitu 38,91 cm, sementara tinggi
tanaman yang terendah pada perlakuan B0 yaitu 37,80 cm. Keadaan ini diduga
disebabkan karena kemampuan potensi lapang
dari benih untuk keperluan budidaya tidak mempunyai kekuatan tumbuh, sehingga tidak memberikan pengaruh yang
berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman kakao.
Tabel
1 menunjukkan bahwa interaksi pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow
Quick tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter tinggi
tanaman kakao. Kombinasi yang tertinggi terdapat pada perlakuan B3A3 yaitu
39,44 cm, sementara kombinasi terendah pada perlakuan B0A0 yaitu 37,22 cm. Hal
ini diduga disebabkan karena tinggi tanaman kakao lebih dipengaruhi oleh
intensitas cahaya. Fotosintesis
ketika tanaman masih muda intensitas naungan yang diberikan cukup tinggi,
selanjutnya dikurangi secara bertahap seiring dengan semakin tuanya tanaman
atau bergantung pada berbagai faktor tumbuh yang tersedia (Pusat Peneliti Kopi
dan Kakao Indonesia, 2004).
Selain itu, varietas yang digunakan sama yang
berarti bahwa faktor genetik yang mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman kakao
adalah sama, sehingga mengakibatkan
pemberian kombinasi antara pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick tidak
mempengaruhi tinggi tanaman kakao. Hal ini sesuai pendapat Riyadi, et, al., (2010) yang menyatakan bahwa
tinggi tanaman kakao dipengaruhi oleh intensitas naungan. Menurut Lakitan
(1996) menyatakan bahwa laju dan kuantitas fotosintat sebagai hasil
fotosintesis dapat mempengaruhi pertumbuhan. Kegiatan fotosintesis sangat
dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu, air dan
unsur hara.
Diameter batang (mm)
Data hasil pengamatan terhadap parameter
diameter batang tanaman menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16)
dan Grow Quick baik secara tunggal maupun interaksi tidak memberikan pengaruh
yang berbeda nyata terhadap parameter diameter batang tanaman kakao (mm).
Tabel 2. Rerata Diameter Batang Tanaman
Kakao (mm) Saat Umur 4 Bulan Setelah
Tanam Dengan Pemberian Pupuk NPK Mutiara (16:16:16) dan Grow Quick
|
Grow
Quick
|
Pupuk
NPK Mutiara (16:16:16)
|
Rerata B
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
B0
|
7,85
|
8,40
|
8,41
|
8,45
|
8,28
|
|
B1
|
8,56
|
8,71
|
8,47
|
8,63
|
8,59
|
|
B2
|
8,23
|
8,57
|
8,70
|
8,89
|
8,60
|
|
B3
|
8,68
|
8,74
|
8,90
|
9,77
|
9,02
|
|
Rerata A
|
8,33
|
8,61
|
8,62
|
8,94
|
|
|
KK = 8,91%
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolam yang diikuti huruf
kecil yang sama adalah berbeda
nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Dari
tabel diatas menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pupuk NPK mutiara (16:16:16)
secara tunggal memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap parameter
diameter batang tanaman kakao (mm). Perlakuan terbesar terdapat pada A3 yaitu
8,94 mm, sementara yang terkecil terdapat pada perlakuan A0 yaitu 8,33 mm. Hal
ini disebabkan karena kulit
benih dan struktur disekitarnya dapat mempengaruhi kemampuan perkecamabahan
benih melalui penghambatan terhadap penyerapan air, unsur hara dan endogenous
atau penghambatan pertumbuhan embrio. Sesuai pendapat Sutopo, et, al., (1997) menyatakan bahwa kulit
benih dan struktur disekitarnya dapat mempengaruhi kemampuan perkecamabahan
benih melalui penghambatan terhadap penyerapan air, pertukaran gas, endogenous
atau penghambatan pertumbuhan embrio.
Dari
Tabel 2 menunjukkan bahwa pemberian perlakuan Grow Quick secara tunggal memberikan
pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap parameter diameter batang tanaman
kakao (mm). Perlakuan terbesar terdapat pada B3 yaitu 9,02 mm, sedangkan yang
terkecil terdapat pada perlakuan B0 yaitu 8,28 mm. Hal ini diduga disebabkan
karena faktor fisiologis dari
benih yang berhubungan dengan daya kecambah dan tumbuh benih yang tidak laju
pertumbuhannya. Sifat benih ini berhubungan masalah pemasakan benih. Sesuai
pendapat Sutopo, et. al., (1997) yang
menyatakan bahwa pertumbuhan kecambah akan dipengaruhi faktor fisiologis yang
berhubungan dengan daya kecambah dan tumbuh benih. Sifat ini berhubungan dengan
masak fisiologis benih.
Selain itu turut mempengaruhi adalah lingkungan
dalam hal ini cahaya,
kebutuhan benih terhadap cahaya untuk berkecambah berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman. Benih yang dikecambahkan pada keadaan kurang cahaya atau gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi, yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotil, batang tanaman akan lemah dan kerdil (Pusat Peneliti Kopi dan Kakao Indonesia, 2004)
kebutuhan benih terhadap cahaya untuk berkecambah berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman. Benih yang dikecambahkan pada keadaan kurang cahaya atau gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi, yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotil, batang tanaman akan lemah dan kerdil (Pusat Peneliti Kopi dan Kakao Indonesia, 2004)
Tabel 2 memperlihatkan bahwa
interaksi pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick memberikan
hasil yang berbeda tidak nyata terhadap parameter diameter batang tanaman kakao
(mm). Dimana hasil dari pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) menunjukkan
nilai rerata yang hampir sama, dimana perlakuan A0 yaitu 8,33 mm hingga A3
yaitu 8,94 mm. Hal yang sama juga terjadi pada pemberian Grow Quick menunjukkan
nilai rata-rata yang hampir sama B0 yaitu
8,28 mm hingga B3 yaitu 9,02 mm.
Pertambahan
diameter batang tanaman (mm) memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan tinggi
tanaman (cm), dalam pertumbuhan normal semakin tinggi tanaman maka diameter
batang tanaman juga akan semakin besar dan begitu juga sebaliknya. Hal ini
diduga disebabkan karena faktor fisik dari benih yang berhubungan dengan berat
kering biji, dimana semakin tinggi berat kering biji maka akan semakin bagus
hasil pertumbuhan dari biji tersebut. Sesuai pendapat Bewley dan Black (1995) yang menyatakan bahwa
perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor fisik dari benih yang
meliputi berat kering biji, ukuran benih dan penghambat perkecambahan. Kuswanto
(1997) menambahkan bahwa proses perkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor
lingkungan yang meliputi air, temperatur, oksigen dan cahaya jika terpenuhi
sehinga akan didapat hasil yang bagus.
Jumlah
Daun (helai)
Data hasil pengamatan terhadap parameter
jumlah daun setelah dianalisis secara statistik. Hasil
analisis menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow
Quick baik secara tunggal maupun interaksi memberikan pengaruh yang berbeda
tidak nyata terhadap jumlah daun tanaman kakao (helai).
Tabel
3. Rerata Jumlah Daun Tanaman Kakao
(helai) Saat Umur 4 Bulan Setelah Tanam
Dengan Pemberian Pupuk NPK Mutiara (16:16:16) dan Grow Quick
|
Grow
Quick
|
Pupuk
NPK Mutiara (16:16:16)
|
Rerata B
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
B0
|
17,78
|
18,11
|
18,22
|
18,61
|
18,18
|
|
B1
|
18,11
|
18,55
|
18,77
|
18,77
|
18,55
|
|
B2
|
18,77
|
18,88
|
18,77
|
19,33
|
18,94
|
|
B3
|
18,88
|
18,89
|
18,66
|
19,77
|
19,05
|
|
Rerata A
|
18,39
|
18,61
|
18,61
|
19,12
|
|
|
KK = 6,97%
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolam yang diikuti huruf
kecil yang sama adalah berbeda
nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Dari tabel diatas menunjukkan
bahwa pemberian perlakuan pupuk NPK mutiara (16:16:16) secara tunggal tidak
memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun tanaman
kakao. Perlakuan yang terbanyak terdapat pada A3 yaitu 19,12 helai,
sementara perlakuan yang paling sedikit
terdapat pada A0 yaitu 18,39 helai. Hal ini diduga disebabkan karena tidak tercipta iklim mikro di sekitar tajuk
tanaman akibat dari peningkatan suhu tanah.
Sesuai pendapat
Siregar, et, al., (2009) yang
meyatakan bahwa peningkatan suhu terutama suhu tanah dan iklim mikro di sekitar
tajuk tanaman akan mempercepat kehilangan lengas tanah terutama pada musim
kemarau. Meningkatnya konsentrasi CO2 diatmosfer sebenarnya berdampak positif
terhadap proses fisiologis tanaman, tetapi pengaruh positif CO2 dihilangkan
oleh peningkatan suhu atmosfer yang cenderung berdampak negatif terhadap proses
fisiologis tersebut. Pengaruh positif peningkatan CO2 atmosfer merangsang
proses fotosintesis, meningkatkan pertumbuhan tanaman tanpa diikuti oleh
peningkatan kebutuhan air (transpirasi). Pengaruh negatif peningkatan CO2:
meningkatnya suhu iklim global, berdampak pada peningkatan respirasi.
Dari Tabel 3 menunjukkan bahwa
pemberian perlakuan Grow Quick secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang
berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun tanaman kakao. Perlakuan terbanyak
terdapat pada B3 yaitu 19,02 helai, sementara jumlah daun yang paling sedikit
terdapat pada perlakuan B0 yaitu 18,18 helai. Hal ini diduga disebabkan karena kekurangan cahaya akan mengganggu proses
fotosintesis pada daun tanaman kakao sehingga terhambat pertumbuhannya.
Sesuai
pendapat Pusat Peneliti Kopi dan Kakao Indonesia (2004) yang menyatakan bahwa
cahaya merupakan faktor utama terjadinya proses fotosintesis untuk menghasilkan
energi bagi tanaman untuk pertumbuhannya. Kekurangan cahaya pada saat
pertumbuhan berlangsung akan menimbulkan gejala pada daun, dimana daun
akan berukuran lebih kecil dan tidak berwarna hijau.
Selain itu suhu juga ikut mempengaruhi terhadap
faktor fisiologis tanaman kakao, tanaman kakao memiliki suhu ideal untuk tumbuh
dengan bagus, jika suhu terlalu tinggi maupun terlalu rendah tanaman kakao akan
terhambat pertumbuhannya. Sesuai pendapat Riyadi, et, al., (2010) yang menyatakan bahwa suhu merupakan faktor yang
mempengaruhi terhadap fisiologis tanaman kakao antara lain bukaan
stomata, laju penyerapan air, nutrisi dan fotosintesis. Suhu yang terlalu
tinggi atau terlalu rendah akan menghambat proses pertumbuhan. Fotosintesis
pada tumbuhan biasanya terjadi di daun. Suhu (30 °C hingga 32°C) merupakan suhu
yang optimum dan suhu yang minimum (18 °C hingga 21°C). Suhu yang ideal untuk
pertumbuhan kakao adalah (26 °C).
Tabel 3
menunjukkan bahwa interaksi pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow
Quick tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter jumlah
daun tanaman kakao. Kombinasi terbanyak
terdapat pada perlakuan B3A3 yaitu 19,77 helai. Sementara kombinasi pemberian
pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick
memiliki jumlah daun paling sedikit terdapat pada perlakuan B0A0 yaitu
17,78 helai. Pemberian secara interaksi pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow
Quick pada tanaman kakao memperlihatkan hasil tidak berbeda nyata terhadap
parameter jumlah daun tanaman kakao. Hal ini diduga disebabkan karena faktor
lingkungan.
Ketersediaan
unsur hara yang terdapat pada media tanam belum mencukupi bagi tanaman untuk
pertumbuhan daun sehingga mengakibatkan pertumbuhan jumlah daun yang berpengaruh tidak nyata. Menurut Pusat
Peneliti Kopi dan Kakao Indonesiaa (2004) menyatakan bahwa faktor lingkungan
yang sangat mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman adalah ketersediaan air,
CO2, cahaya, hara mineral dan suhu. Novita (1999) menambahkan bahwa proses
fotosintesis akan berjalan dengan sempurnah dan fotosintat yang dihasilkan
dapat digunakan untuk pertumbuhan daun baru dibutuhkan ketersediaan unsur hara.
Pertumbuhan jumlah helai daun sangat
erat kaitannya dengan pertambahan tinggi dan diameter batang tanaman kakao.
Daun pada tanaman kakao keluar dari buku-buku batangnya, sehingga apabila batang
tanaman semakin tinggi maka pertumbuhan jumlah helaian daun tanaman kakao
menjadi semakin meningkat. Menurut Pramono Eko (2002) menyatakan bahwa jumlah
daun tanaman kakao dipengaruhi oleh kemampuan tanaman dalam membentuk daun pada
setiap pertumbuhan tinggi tanaman sehingga daun akan keluar pada buku-buku
batang tanaman.
Berat
Akar (gram)
Data hasil
pengamatan terhadap parameter berat akar setelah dianalisis secara statistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa
pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick baik secara tunggal
maupun interaksi memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter
berat akar tanaman kakao. Hasil uji lanjut pada taraf 5% dapat dilihat Tabel 4.
Tabel
4. Rerata Berat Akar Tanaman
Kakao (gram) Saat Umur 4 Bulan Setelah Tanam Dengan Pemberian
Pupuk NPK Mutiara (16:16:16) dan Grow Quick
|
Grow
Quick
|
Pupuk
NPK mutiara (16:16:16)
|
Rerata B
|
|||
|
A0
|
A1
|
A2
|
A3
|
||
|
B0
|
3,00f
|
4,00ef
|
4,33def
|
6,67bcd
|
4,50c
|
|
B1
|
4,00ef
|
5,00cdef
|
5,33bcdef
|
7,00bc
|
5,33bc
|
|
B2
|
4,00ef
|
5,00cdef
|
5,33bcdef
|
7,67b
|
5,50b
|
|
B3
|
4,67cdef
|
5,00cdef
|
6,00bcde
|
11,33a
|
6,75a
|
|
Rerata A
|
3,92c
|
4,75bc
|
5,25b
|
8,17a
|
|
|
KK = 14,14% BNJ B = 0,19 BNJ A = 0,19 BNJ BA = 2,33
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolam yang diikuti huruf
kecil yang sama adalah berbeda
nyata pada taraf 5% menurut Uji Lanjut BNJ.
Dari
tabel diatas menunjukan bahwa pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) secara
tunggal memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter berat akar
tanaman kakao. Perlakuan terberat terdapat pada perlakuan A3 yaitu 8,17 gram.
Sementara berat akar terendah terdapat pada perlakuan A0 yaitu 3,92 gram yang
memberikan pengaruh berbedah nyata. Hal yang sama juga memberikan pengaruh
nyata yang terjadi pada perlakuan A1 yaitu 4,75 gram dan A2 yaitu 5,25 gram.
Perlakuan A2 yaitu 5,25 gram berbeda nyata dengan A0 yaitu 3,92 gram, namun
tidak berbeda nyata dengan perlakuan A1 yaitu 4,75 gram, perlakuan A1 yaitu
4,75 gram juga tidak berbeda nyata dengan perlakuan B0 yaitu 3,92 gram.
Pemberian pupuk NPK mutiara
(16:16:16) secara tunggal pada parameter berat akar tanaman kakao telah mampu
memacu tanaman dalam pertumbuhan akar yang bagus karena telah tersediah dalam
jumlah yang cukup dan bentuk yang sesuai untuk diserap tanaman. Sesuai pendapat
Suriatna (1995) menyatakan bahwa tanaman akan tumbuh dengan baik dan subur jika
unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia dalam jumlah yang cukup dan bentuk
yang sesuai untuk diserap tanaman. Subroto (1994) menambahkan bahwa unsur P
yang cukup bagi tanaman mampu mengembangkan lebih banyak akar, apabila akar
yang terbentuk oleh tanaman lebih banyak maka unsur hara yang diserap lebih
banyak.
Selain faktor
diatas tanah juga ikut mempengaruhi pertumbuhan akar tanaman kakao, tanaman
kakao bisa tumbuh bagus asalkan sifat fisik dan kimia terpenuhi. Hal ini sesuai
pendapat Siregar, et, al., (2009)
yang menyatakan bahwa tanaman kakao dapat tumbuh pada semua jenis tanah,
asalkan sifat kimia dan fisik yang berperan terhadap pertumbuhan kakao
terpenuhi. Tanaman kakao ideal tumbuh pada pH 6 – 7,5 jika melebihi dari pH 8
dan rendah dari 4 maka pertumbuhannya terhambat.
Sementara untuk tekstur
tanah yang ideal untuk pertumbuhan tanaman kakao adalah lempung liat berpasir
dengan komposisi partikel tanah 30 - 40% liat, 50% pasir, dan 10 - 20% debu. Struktur demikian akan
menciptakan gerakan air dan udara didalam tanah lancar, sehingga menguntungkan
bagi akar dalam pertumbuhannya (Siregar, et,
al., 2009).
Tabel 4 menunjukkan bahwa semakin tinggi
konsentrasi Grow Quick yang diberikan pada tanaman maka semakin tinggi pula
berat akar tanaman. Perlakuan terberat terdapat pada B3 yaitu 6,75 gram yang
berbeda nyata dengan perlakuan B2 yaitu 5,50 gram dan B1 yaitu 5,33 gram dan B0
yaitu 4,50 gram. Perlakuan B2 yaitu 5,50 gram berbeda nyata dengan B0 yaitu
4,50 gram, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan B1 yaitu 5,33 gram. Hal
ini diduga disebabkan karena semakin bertambah umur tanaman maka akan bertambah
juga berat akar tanaman.
Dari Tabel 4 menunjukan bahwa kombinasi
pemberian pupuk NPK mutiara (16:16:16) pada perlakuan A3 dengan perlakuan B0
yaitu 6,67 gram, B1 yaitu 7,00 gram, dan B2 yaitu 7,67 gram hingga B3 11,33
gram juga mengalami peningkatan berat akar tanaman kakao. Hal yang sama juga
terjadi pada pemberian Grow Quik pada perlakuan B0 yaitu 3,00 gram dengan
peningkatan pupuk NPK mutiara (16:16:16) akan meningkatkan berat akar tanaman
pada perlakuan A1 yaitu 4,00 gram hingga perlakuan A3 yaitu 6,67 gram.
Berat
akar tanaman kakao tertinggi adalah pada kombinasi perlakuan B3A3 yaitu 11,33
gram dan yang terendah pada perlakuan B0A0 yaitu 3,00 gram. Hal ini diduga
disebabkan karena perlakuan ini akan memacu tanaman untuk meningkatkan
aktifitas fotosintesis sehingga menghasilkan asimilat lebih banyak yang
akhirnya juga akan meningkatkan berat akar tanaman.
Sesuai
pendapat Guritno (1995) menyatakan bahwa produksi fotosintesis yang lebih besar
pada tanaman akan memungkinkan aktifitas fotosintesis sehingga menghasilkan
asimilat lebih yang banyak dan pada akhirnya juga akan meningkatkan berat akar
tanaman kakao.
Pemberian
secara interaksi pupuk NPK mutiara (16:16:16) dan Grow Quick yang berpengaruh
nyata pada parameter berat akar tanaman kakao, namun tidak diiringi dengan
pertumbuhan organ tanaman lain seperti tinggi tanaman, diameter batang tanaman,
jumlah daun tanaman kakao. Hal ini diduga disebabkan karena penyeleksian mutu
benih tidak selektif, lingkungan yang tidak mendukung (sinar matahari yang
tidak merata) dan mutu benih itu sendiri yang rendah.
Rahardjo Pudji (2011) menambahkan bahwa standar
mutu benih kakao terdiri dari tiga komponen mutu, yaitu mutu genetis, mutu
fisiologis, serta mutuh fisik benih kakao. Mutu genetis benih kakao adalah mutu
benih yang terkait dengan sifat-sifat yang diturunkan benih tersebut. Mutu
fisiologis benih kakao adalah kemampuan benih berkecambah secara normal pada
kondisi lingkungan yang optimal. Mutu fisik benih kakao adalah tingkat keutuhan
benih berhubungan kadar air dan kemurnian benih.
Berat akar terendah pada kombinasi perlakuan
B0A0 yaitu 3,00 gram. Hal ini memperlihatkan bahwa tanpa pemberian pupuk NPK
mutiara (16:16:16) sebagai pasokan unsur hara bagi tanaman akan membuat
pertumbuhan tanaman lebih lambat sehingga mengakibatkan berat akarnya akan
lebih rendah. Ditambah lagi dengan tanpa diberikan Grow Quick pada tanaman,
sehingga tanaman tidak terpacu dalam pembelahan sel juga.
KESIMPULAN
Pemberian
pupuk NPK mutiara (16:16:16) berpengaruh nyata terhadap parameter berat akar
tanaman, perlakuan terbaik adalah A3 = 8,17 gram, sementara perlakuan terendah
adalah A0 = 3,92 gram. Pemberian Grow Quick berpengaruh nyata terhadap
parameter berat akar tanaman, perlakuan terbaik adalah B3 = 6,75 gram,
sementara perlakuan terjelek adalah A0 = 4,50 gram. Kombinasi pupuk NPK mutiara
(16:16:16) dan Grow Quick memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap
parameter berat akar tanaman, kombinasi terbaik adalah B3A3 = 11,33 gram,
sementara terendah adalah B0A0 = 3,00 gram.
DAFTAR PUSTAKA
Ade Setiawan. 2007. Pemanfaatan Kotoran Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Agustina, L. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. PT. Rinika Cipta,
Jakarta.
Anonim. 2002. Swet corn Baby corn. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Anwar, S.
1998. Pengaruh Jumlah dan Pemotongan Akar
Tunggang Bibit Stum Mata Tidur terhadap Pertumbuhan dalam Kantong Plastik.
Balai Penelitian Perkebunan Getas, Salatiga.
Dinas
Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi. 2011. Laporan Tahunan Luas Tanaman Kakao. Teluk Kuantan.
Dinas
Perkebunan Kabupaten Kuantan Singingi. 2011. Laporan Tahunan Permintaan Bibit Kakao Masing-Masing kecamatan.
Teluk Kuantan.
Dwidjoseputro.
1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT.
Gramedia, Jakarta.
Font.
1994. Pemberian Pupuk Urea dan Dolomite
Pada Tanah Masam, jurnal Universitas Sumatra Utara.
Gunawan. 1988.
Teknik Kultur Jaringan. Pusat Antar
Universitas Bekerjasama Dengan
Intruktur Pertanian Bogor, Bogor.
Guritno.
1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman.
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ilmu
Biologi. Com/2010/01. Hormon Auksin. Teluk kuantan, 2011.
Kamil, H. 2011. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi
Benih. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Kusumo. 1994. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. CV
Yasaguna, Jakarta.
Kuswanto. 1997. Teknologi Benih. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Lakitan. 1996. Holtikultura: Teori, Budidaya dan Paska
Panen. Rajawali. CV. Yasaguna,
Jakarta.
|
Lewsman. 1991. The Moleculer Hormonal Basis of Plant.
Growth resolution Pergamon Pres, New York. 93-145 hal.
Mardawilis.
2004. Pemanfaatan Tanaman Optimum dan
Efisiensi Penggunaan Pupuk Nitrogen
di Lahan Kering. Jurnal Dinamika Pertanian. 19(3) Hal : 303 – 314.
Irawan. 1995. Pengaruh Pemotongan Ujung Akar Tunggang
Kecambah Kakao dan Pemberian IBA
Untuk Pertumbuhan Bibit. (Skripsi). Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Marsono,
Paulus Sigit. 2002. Pupuk Akar Jenis dan
Aplikasinya. Penebar Swadaya, Jakarta.
Novita.
1999. Pengaruh Pemberian Beberapa Jenis
Pupuk Anorganik dan Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Gambir (Uncaria
gambir Roxb) dilapangan. (Skripsi). Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas
Pertanian UNAND, Padang.