Selasa, 04 Februari 2014

JGS VOL 3 HAL 93-100


PENGARUH VARIETAS DAN WAKTU TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) SECARA TUMPANGSARI (Intercropping) DENGAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea. L)


Martalia, Rover, dan Chairil Ezward
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Fax (0760)7014730 Teluk  Kuantan

ABSTRACT

This research have been executed by garden of attempt of College of Agronomy Swarnadwipa ( STIP-S), Walke Gatot Subroto of KM 7 garden of Nenas Jake, Kuantan Singingi, this research  executed [ during 4 month;moon counted from January until April 2013. This Research use Random Device [of] Group ( Factorial RAK) consisted of 2 factor that is Factor V ( Varietas) consisted of  4 level and W ( Time plant sweet maize) consisted of  3 level. First factor that is V1= Varietas Bonanza F1, V2= Varietas of Master Sweet, V3= Varietas of Elephant and V4= Varieats Sheep. Factor of Second of time plant sweet maize that is: W1= time plant maize of beloved which at the same time with peanut, W2= planted sweet maize 1 week after peanut, W3= planted sweet maize 2 week after peanut. Treatment time of planting singly significantly affect plant height of sweet corn, which is contained in W1 treatment (106.54 cm), harvest contained in W1 treatment (73.72 days), and the results of sweet corn that is the W1 treatment (252, 22 gr). Treatment interaction of varieties and planting time gives significant effect on harvest contained on V1W1 (73.11 days), and the results of sweet corn crop is present in V3W1 (273.33 g)

Key word: peanut,  varieties, zea mays


PENDAHULUAN

  Usaha pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani melalui peningkatan produksi, dimana sasarannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan dan untuk perbaikan gizi masyarakat.  Hal tersebut dapat dipenuhi dengan membudidayakan baik tanaman pangan maupun tanaman hortikultura.  Tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, sedangkan tanaman hortikultura untuk memenuhi kebutuhan gizi.  Tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan masayarakat tersebut salah satu diantaranya adalah jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) dan Kacang tanah ( Arachis hypogaea. L). Peningkatan produksi tanaman akan berpengaruh kepada peningkatan pendapatan petani, salah satu upayanya yaitu dengan mengusahakan penggunaan lahan yang seoptimal mungkin, yaitu dengan cara mengusahakan beberapa jenis tanaman persatuan luas dan waktu pada sistem pola tanam secara tumpangsari, dimana kacang tanah dan jagung manis merupakan salah satu pilihan yang cukup potensial untuk dikembangkan (Jumin, 1994).                                        
Sistem tanam tumpangsari adalah salah satu usaha sistem tanam dimana terdapat dua atau lebih jenis tanaman yang berbeda ditanam secara bersamaan dalam waktu relatif sama atau berbeda dengan penanaman berselangseling dan jarak tanam teratur pada sebidang tanah yang sama.  Sistem tumpangsari merupakan suatu sistem produksi yang diterapkan atas pertimbangan hayati dan ekonomi, dalam sistem tumpangsari telah banyak diketahui bahwa produksi tanaman secara keseluruhan memberikan hasil yang lebih tinggi apabila kombinasi tanaman yang diusahakan dalam sistem tumpangsari dilakukan dengan tepat.  Hal ini sesuai dengan pendapat Asadi (1997), bahwa keuntungan dari sistem tumpangsari yaitu dapat menambah keragaman pangan sehubungan dengan perbaikan gizi dan peningkatan produktivitas lahan.
 Pola sistem tumpangsari mengakibatkan terjadi kompetisi secara intraspesifik dan interspesifik. Kompetisi dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Tetapi bagaimana sistem tumpangsari dapat meminimalkan kompetisi diantara tanaman atau dapat saling mendukung untuk pertumbuhan dan produksi dan meningkatkan produktivitas per satuan luas lahan (Ridwan, 1992 dalam Herlina, 2011).                                      
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pola tumpangsari adalah waktu tanam, karena waktu tanam berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif, pertumbuhan vegetatif yang lebih cepat dan dominan menguasai ruang, maka akan lebih mampu berkompetisi dalam memperebutkan air, unsur hara dan cahaya dibandingkan dengan pertumbuhan vegetatifnya yang lambat, akhirnya akan mempengaruhi produksi. Selanjutnya Willey (1982) dalam Herlina (2011) menyatakan bahwa dalam menyusun sistem tumpangsari perlu memperhatikan kepekaan tanaman terhadap persaingan selama daur hidupnya.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1). untuk mengetahui Pengaruh Varietas dan Waktu Tanam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) secara Tumpangsari (Intercropping) dengan Kacang Tanah (Arachis hypogaea. L), 2). untuk mengetahui Pengaruh Varietas terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) secara Tumpangsari (Intercropping) dengan Kacang Tanah (Arachis hypogaea. L), 3). Untuk mengetahui Pengaruh Waktu Tanam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) secara Tumpangsari (Intercropping) dengan Kacang Tanah  (Arachis hypogaea. L).


METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu
   Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa, Jalan Gatot Subroto Km 7 kebun Nenas Jake, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi. Waktu Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan terhitung dari bulan Januari - April 2013.

Bahan dan Alat
 yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih jagung manis Bonanza F1 dan Master Sweet, benih kacang tanah varietas Gajah dan Domba, pupuk kotoran sapi, pupuk Urea, TSP, KCl, Curaterr 3 GR, Decis 2,5 EC, dan Dithen M-45.  Alatnya adalah cangkul, sabit, paku, cat martil, timbangan, meteran, gembor, ember, handsprayer dan alat-alat tulis.

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK ) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : Faktor  pertama V (Jagung Manis dengan Kacang Tanah) terdiri dari 4 taraf yaitu:V1 : Bonanza F1 & Gajah V2 : Bonanza F1 &Domba V3 : Master Sweet & GajahV4 : Master Sweet & Domba. Faktor  kedua W  (Waktu Tanam Jagung Manis) terdiri dari 3 taraf yaitu :W1 : Jagung Manis dengan Kacang Tanah Sama Tanam. W2 : Jagung manis di tanam 1 minggu  setelah kacang tanah W3 : Jagung ditanam 2 minggu setelah kacang tanah. Apabila F hitung lebih besar dari F tabel maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata Jujur ( BNJ ) pada taraf 5%.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi tanaman jagung manis (cm)

   Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam, perlakuan varietas secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis. Sedangkan perlakuan waktu tanaman secara tunggal berpengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis, dan secara interaksi perlakuan varietas dan waktu tanam tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis.  Rata-rata tinggi tanaman setelah diuji dengan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 1.


Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman Jagung Manis dengan Pengaruh Varietas dan    Waktu Tanam
Faktor V
Faktor W
Rerata V
W1
W2
W3
V1
106.93
97.67
90.09
98.23
V2
105.64
96.41
90.86
97.64
V3
108.19
98.96
92.93
100.03
V4
105.41
96.17
90.83
97.47
Rerata W
106.54a
97.30ab
91.18b

KK= 3,89%
BNJ W= 13,92

Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf keci yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf  5% menurut Uji BNJ.


  Tabel (1) menunjukan bahwa pada perlakuan varietas tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis, karena dalam hal ini varietas yang digunakan belum mampu tumbuh dengan normal, karena pengaruh dari kacang tanah menurut hasil penelitian tinggi tanaman jagung manis yang tertinggi terdapat pada V3 (100.03 cm) dan yang terendah terdapat pada V4 (97,47 cm). Pada perlakuan V3 dan V4 terjadi kompetisi dengan kacang tanah dalam memenuhi kebutuhan unsur hara.  Hal ini sesuai dengan pendapat Tambing (1997) mengatakan bahwa tanaman akan lebih pendek apabila kekurangan unsur hara.
Dari tabel  (1) diatas menunjukan bahwa perlakuan waktu tanam jagung manis secara tunggal berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis, dimana tanaman yang tertinggi terdapat pada W1 (106,54 cm) dan yang terendah terdapat pada W3 (91,18 cm).  Setelah diuji lanjut perlakuan W1 (106,54 cm) tidak berbeda nyata dengan W2 (97,30 cm), tetapi berbeda nyata dengan W3 (91,18 cm).  Hal ini diduga akar tanaman jagung manis pada awal pertumbuhan dapat tumbuh dengan baik dan mampu beradaptasi dalam memanfaatkan unsur hara yang tersedia, sehingga tinggi tanaman  jagung manis pada perlakuan W1 lebih baik dibandingkan perlakuan waktu tanam lainnya.  Sedangkan tanaman jagung manis pada W3 menunjukan tinggi tanaman yang terendah.  Ini disebabkan akar tanaman jagung manis tertekan pertumbuhannya akibat perakaran kacang tanah telah berkembang pesat, maka kacang tanah lebih tinggi kompetisinya.
            Persaingan dalam penyerapan unsur hara dan air pada perlakuan waktu tanam jagung manis yang bersamaan dengan kacang tanah masih belum tampak karena tanaman jagung manis memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan tanaman kacang tanah, terutama pertumbuhan akarnya sehingga penyerapan hara dan air akan semakin bebas.  Begitu juga dengan penyerapan cahaya matahari yang memiliki kebutuhan cahaya matahari lebih besar, selain disebabkan bentuk morfologinya yang lebih tinggi juga karena tergolong tanaman C4 yang rakus akan cahaya matahari dibandingkan dengan morfologi tanaman kacang tanah yang pendek dan tergolong tanaman C3 yang kapasitas fotosintesisnya rendah (Khalil, 2000).
  Secara interaksi varietas dan waktu tanam tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis, dimana perlakuan terbaik terdapat pada V3W1 (varietas Master Sweet dengan Gajah) dengan tinggi tanaman yaitu 108,19 cm, hal ini diduga kedua varietas saling bersinergi untuk ditumpangsarikan dam mampu beradaptasi dilahan tersebut sehingga dihasilkan tanaman jagung manis yang tertinggi.

Umur muncul bunga tanaman jagung manis (hari)
    
   Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukan bahwa pada perlakuan varietas dan waktu tanam pada pola tanam secara tumpangsari dengan kacang tanah secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga jagung manis, dan secara interaksi perlakuan varietas dan waktu tanam juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul bunga tanaman jagung manis. Rerata umur muncul bunga disajikan pada tabel (2)


Tabel 2. Rerata Umur muncul bunga (hari), rerata pengaruh varietas dan waktu tanam jagung manis pada pola tanam secara tumpangsari dengan Kacang Tanah.
Faktor
V
Faktor W
Rerata V
W1
W2
W3
V1
57.00
52.00
54.67
54.56
V2
56.33
55.33
56.00
55.89
V3
52.00
51.67
53.67
52.44
V4
53.67
55.00
56.33
55.00
Rerata W
54.75
53.50
55.17

KK= 5,47%
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti  oleh huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut BNJ pada taraf 5%.


Dari Tabel 2 diatas menunjukan bahwa perlakuan Varietas (V) baik secara tunggal maupun interaksi tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap umur muncul bunga tanaman jagung manis.  Hal ini ditunjukan bahwa masing-masing varietas yang diuji mempunyai kemampuan yang sama.  Secara tunggal varietas yang terbaik terdapat pada perlakuan V3 dengan umur muncul bunga yaitu 52,44 hari. 
Umur berbunga pada tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh suatu perlakuan saja tetapi  juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat hidupnya. Selain faktor lingkungan dan genetik, faktor tanah, ketersediaan cahaya, air, maupun unsur hara juga berperan dalam memicu proses pembungaan.  Kemudian gangguan yang muncul dari tanaman kacang tanah terhadap tanaman jagung manis, membuat tanaman jagung manis melakukan adaptasi mengimbangi pertumbuhan tanaman kacang tanah dengan memanfaatkan air dan unsur hara yang tersedia pada awalnya.  Ketersediaan unsur hara bagi tanaman jagung manis akan mempengaruhi terhadap pertumbuhan fase vegetatif, dimana tanaman akan mempercepat fase generatifnya.  Hal ini sesuai dengan penelitian Ijhon (2008) menyatakan bahwa pembungaan adalah fenomena fisiologi yang tidak sederhana, dimana perubahan fase vegetatif menjadi generatif merupakan perubahan yang sangata besar, tanaman akan menghasilkan bunga apabila zat cadangan (unsur hara) berkurang.
   Selanjutnya menurut Mardawilis (2004) menambahkan bahwa bila unsur hara N dalam keadaan kurang, maka pembentukan klorofil akan terganggu sehingga proses fotosintesis terganggu dan akibatnya menurunkan kegiatan pembentukan protein.  Sehingga akan mempercepat proses pembunggaannya.  
Berdasarkan tabel (2) bahwa perlakuan waktu tanam secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap umur muncul bunga, secara tunggal waktu tanam yang terbaik terdapat pada perlakaun W2 dengan umur muncul bunga yaitu 53,50 hari. Ini terjadi akibat kurangnya unsur hara dan air yang diserap oleh tanaman jagung manis tersebut sehingga pertumbuhannya terganggu akibat cepatnya muncul bunga
Secara interaksi perlakuan varietas dan waktu tanam tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap umur muncul bunga.  Perlakuan terbaik secara interaksi varietas dan waktu tanam terdapat pada V3W2 (varietas master sweet dengan domba) dengan umur muncul bunga 51,67 hari.  Hal ini diduga  kedua varietas ini sesuai dengan waktu tanam tersebut.

Umur panen jagung manis (hari)

            Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam terhadap umur panen dengan perlakuan varietas secara tunggal tidak berpengaru nyata terhadap umur panen jagung manis, dan waktu tanam jagung manis secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen jagung manis. sedangkan perlakuan varietas dan waktu tanam secara interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen jagung manis.  Rerata umur panen tanaman jagung manis disajikan pada tabel 3



Tabel 3.  Rerata umur panen Tanaman Jagung Manis dengan perlakuan Varietas dan Waktu Tanam Secara Tumpangsari dengan kacang tanah  (hari)
Faktor V
Faktor W
Rerata V
W1
W2
W3
V1
73.11a
73.55ab
76.11c
74.26
V2
73.33a
73.67ab
75.33abc
74.11
V3
74.44abc
74.44abc
73.78ab
74.22
V4
74.00abc
74.67abc
75.78bc
74.81
Rerata W
73.72a
74.08ab
75.25b

KK = 105                     BNJ W=1,24                     BNJ VW=2,30
berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak


Tabel (3) diatas menunujukan bahwa perlakuan varietas secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen jagung manis, hal ini dapat kita lihat  bahwa rerata umur panen tidak menyimpang dari deskripsi yang sudah ada.  Dari hasil penelitian menunjukan umur panen tanaman jagung manis yang terbaik terdapat pada perlakuan V2 (74,11 hari) .  Meskipun umur panen V2 lebih cepat tetapi menurut tabel analisis sidik ragam varietas ini tidak memberikan pengaruh  yang berbeda  nyata. 
Berdasarkan tabel (3) diatas perlakuan waktu tanam secara tunggal berpengaruh nyata terhadap umur panen jagung manis, dimana perlakuan terbaik terdapat pada W1 yaitu dengan umur panen 73,72 hari.  Berdasarkan uji lanjut BNJ perlakuan W1(73,72 hari) tidak berbeda nyata dengan W2 (74,08 hari) tetapi berbeda nyata dengan W3 (75,25 hari).  Ini disebabkan waktu tanam jagung manis tanaman tidak tertekan selama fase generatif sehingga saat pengisian biji tidak terganggu, tetapi untuk W3 menunjukan umur panen yang paling lama.  walaupun W3 dikatakan umur panen yang paling lama tetapi ini sudah sesuai dengan deskripsi.  Dimana menurut PT. Eas West Seed Indonesia, 2013) umur panen jagung manis Bonanza F1  yaitu 70-75 hari.
Waktu tanam berkaitan dengan kecepatan tanaman menguasai ruang, tanaman yang cepat tumbuhnya akan lebih tinggi kompetisinya dibandingkan dengan tanaman yang tumbuhnya lambat.  Selain itu umur panen yang cepat dapat terjadi karena sangat berhubungan dengan umur muncul bunga, dimana umur muncul bunga akan menyebabkan proses penyerbukan akan menjadi lebih cepat, sehingga umur panen juga akan menjadi lebih cepat.  Hal ini sesuai dengan pendapat Ezward (2010) yang menyatakan bahwa waktu atau umur muncul bunga akan mempengaruhi waktu atau proses penyerbukan yang akan berhubungan kepada waktu atau umur panen.
Disamping unsur hara, air juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.  Dimana air bermanfaat untuk proses fotosintesis.  Sesuai dengan pendapat Tambing (1997) menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat dipengaruhi oleh perubahan arah potensial air.
Secara interaksi perlakuan varietas dan waktu tanam memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen jagung manis, dimana perlakuan terbaik  adalah terdapat pada V1W1 (73,11 hari), ini diduga  saat tanam varietas dengan waktu tanam yang  digunakan mendapatkan unsur hara yang seimbang dengan kacang tanah.  Sehingga berpengaruh terhadap parameter umur panen.
Menurut Partohardjono (1980) mengatakan lamanya pertumbuhan vegetatif memberikan kesempatan pada tanaman untuk menumpuk hasil fotosintesis lebih besar dan berkemungkinan memperpanjang umur panen, bila faktor cahaya , suhu, dan air saling menunjang.  Jumin (1978) menambahkan umur suatu tanaman ditentukan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.

Hasil Tanaman Jagung Manis (gr/tanaman)

Dari hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa perlakuan varietas secara tunggal maupun interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil jagung manis, dan perlakuan waktu tanam baik secara tunggal maupun interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil jagung manis.  Rerata hasil tanaman jagung manis  disajikan pada tabel (4).


Tabel 4. Rerata hasil Tanaman Jagung Manis (gr/tanaman) dengan Perlakuan    Varietas dan Waktu Tanam Secara Tumpangsari Dengan Kacang Tanah.
Faktor V
Faktor W
Rerata V
W1
W2
W3
V1
263.33a
236.67ab
140.00d
213.33ab
V2
261.11a
174.44bcd
151.11cd
195.56b
V3
273.33a
265.56a
168.89bcd
235.93a
V4
211.11abcd
210.00abcd
216.67abc
212.59ab
Rerata W
252.22a
221.67a
169.17b

KK= 11,70%         BNJ V=32,61          BNJ W=40,04     BNJ VW=73,86
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ


Tabel (4) menunjukan bahwa perlakuan varietas secara tunggal berpengaruh nyata terhadap hasil jagung manis, dimana hasil yang tertinggi terdapat pada perlakuan V3 (varietas master sweet dengan gajah) deengan hasil pertanaman yaitu 235,93 gr  dimana perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan V1 (varietas Bonanza F1 dengan Gajah) dengan hasil 213,33 gr dan V4 (varietas Master Sweet dengan Domba), tetapi berbeda nyata dengan V2 (Varietas Bonanza F1 dengan Domba) dengan hasil pertanaman 195,56 gr.       Hasil yang tertinggi terlihat pada perlakuan V3(235,93 gr), dan hasil yang terendah terlihat pada perlakuan V2 (195,56 gr).  Meskipu V3 disebut hasil yang tertinggi dan V2 yang terendah, tapi sebenarnya kedua perlakuan tersebut hasilnya masih dibawah deskripsi.  Dimana menurut PT. Eas West Seed Indonesia ,2013) jagung varietas Bonanza F1 bobot pertanaman yaitu 480 gr.  Ini diduga varietas yang digunakan tidak dapat tumbuh dengan baik dan beradaptasi dengan lingkungannya.  Menurut Simatupang (1997), menyatakan bahwa tingginya produksi suatu varietas dikarenakan varietas tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungan.  Meskipun secara genetik varietas lain mempunyai potensi produksi yang baik, tetapi karena masih dalam adaptasi, produksinya dapat lebih rendah dari yang seharusnya.   
Tabel (4) menunjukan bahwa perlakuan waktu tanam secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil jagung manis, diamana hasil jagung manis yang dipengaruhi waktu tanam yaitu terdapat pada perlakuan W1 (252,22 gr), perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan W2 (221,67 gr), tetapi berbeda nyata W3 (169,17 gr).  Hal ini disebakan pada awal pertumbuhannya tanaman jagung manis tidak tertekan, mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mampu berkompetisi dalam memanfaatkan unsur hara.  Sedangkan pada W3 tanaman jagung manis tertekan pertumbuhannya, karena adanya kompetisi antara tanaman jagung manis dengan tanaman kacang tanah dalam memanfaatkan unsur hara dan air, sehingga menunjukan hasil yang lebih rendah dari pada yang lainnya.       
Kesumawati (1991) menyatakan bahwa bila unsur hara cukup (terutama unsur hara N) pada awal pertumbuhan, tanaman akan tumbuh lebih cepat. Selain absorbsi N oleh tanaman jagung berlangsung selama pertumbuhannya, pada saat pembungaan (bunga jantan muncul) tanaman jagung juga mengabsorbsi N sebanyak 50 % dari seluruh kebutuhannya. Bila jagung kekurangan unsur hara N, diameter tongkol jagung yang terbentuk akan menjadi kecil dan kandungan protein dalam bijinya juga rendah.
Tabel (4) menunjukan bahwa pada kombinasi perlakuan varietas dan waktu tanam pada sistem secara tumpangsari dengan kacang tanah, secara interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil jagung manis, dimana hasil jagung manis yang terbaik  yang dipengaruhi kombinasi varietas dengan waktu tanam yaitu terdapat pada perlakuan V3W1 dengan hasil pertanaman 273,33 gr, dimana perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan V3W2 (265,56 gr), V1W1 (263,33 gr), V2W1 (261,11 gr), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.  Dari hasil penelitian tanaman yang hasilnya lebih tinggi terdapat  pada perlakuan V3W1 (273,33 gr), ini diduga pada perlakuan ini tanaman dapat menekan persaingan  dan mampu memanfaatkan unsur hara yang tersedia dari tanaman kacang tanah varietas Gajah.  sedangkan hasil  yang terendah terdapat pada perlakuan V1W3 (140,00 gr), ini diakibatkan pada awal pertumbuhan tanaman jagung manis telah mendapatkan persaingan dalam memanfaatkan unsur hara, dimana dalam perlakuan ini kacang tanah lebih duluan tumbuh, sehingga unsur hara yang tersedia sudah dimanfaatkan oleh tanaman kacang tanah tersebut, mengakibatkan pertumbuhan tanaman jagung manis terganggu, sehingga mengasilkan produksi yang lebih rendah.                  
Fransiscus (2006) mengatakan apabila tanaman memperoleh unsur hara yang cukup mengakibatkan fotosintesis akan berlangsung baik, sehingga penumpukan bahan – bahan organik hasil fotosintat  dalam biji lebih banyak dan akan berpengaruh pada produksi tanaman.  Penurunan hasil pada salah satu atau kedua tanaman dalam sistem tumpangsari dapat disebabkan pengaruh penaungan dari salah satu tanaman oleh tanaman lainnya (Willey, 1979).

KESIMPULAN

1.      Perlakuan varietas secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil jagung manis yaitu pada perlakuan V3 (235,93 gr)
2.      Perlakuan waktu tanam secara tunggal berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis, yaitu terdapat pada perlakuan W1 (106,54 cm), umur panen yang terdapat pada perlakuan W1 (73,72 hari), dan hasil jagung manis yaitu pada perlakuan W1 (252,22 gr).
3.      Perlakuan interaksi varietas dan waktu tanam memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen terdapat pada V1W1 (73,11 hari), dan hasil jagung manis pertanaman yaitu terdapat pada V3W1 (273,33 gr)


DAFTAR PUSTAKA

Ezward. C. 2010. Uji Pola Tanam Antara Varietas Jagung dengan Varietas Kedelai dan Pengaruh Efisien Dosis Imbangan N,P dan K Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung dan Kedelai. Thesis Program Pasca Sarjana Universitas Isalam Riau. Pekanbaru
Herlina. 2011. Pengaruh Variasi Jarak dan Waktu Tanam   Jagung Manis dalam Sistem Tumpangsari Jagung Manis  dan Kacang tanah. Artikel Pasca Sarjana Universitas Andalas. Padang
Ijhon. 2008. Peruahan Sifat Perkembangan Biji Tiga Varietas Jagung( Zea mays L) yang di Pupuk Nitrogen. Thesis Program Agronomi.  Program Pascasarjana UIR. Pekanbaru
Jumin.H. B.  2002. Agroekologi. Suatu Pendekatan Fisiologis. PT. Rajagrafindo Persada. Jakarta

Khalil. M. 2000. Pengaruh Varietas Kacang Tanah dan waktu Tanam Jagung Manis Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Pada Sistem Tumpangsari, Fakultas Pertanian Unsyiah Darussalam. Banda Aceh
Kesumawati. E. 1991. Pengaruh Populasi Tanaman Kedelai Kerhadap Komponen Hasil Jagung didalam Tumpangsari Kedelai - Jagung.  Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala
Mardawilis. 2004. Pemanfaatan Tanam Optimal dan Efisiensi Penggunaan Pupuk Nitrogen Pada Beberapa Varietas Jagung (Zea mays) dilahan kering. Jurnal dinamika Pertanian. 19 (3): 303-314
PT.  Eas West Seed Indonesia. 2013. Deskripsi Jagung Manis  Varietas Bonanza F1
PT. Bisi Internasional. 2013. Deskripsi Jagung Manis Varietas Master Sweet. Jawa Timur
Fransiscus. 2006. Pemberian Beberapa Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kacang Tanah (Archis hipogaea L). Skripsi Universitas Riau. Pekanbaru, tidak dipublikasikan.
Ridwan M. 1992. Pengaruh jumlah benih jagung per lubang tanam dalam pola tumpangsari jagung dengan kedelai terhadap produksi dan nisbah kesetaraan lahan. Thesis Pasca Sarjana KPK-UNAND. Padang
Simatupang. S. 1997. Pengaruh Pemupukan Boraks Terhadap Pertumbuhan dan Mutu Kubis Bunga. Jurnal Hortikultura 5 (1): 102-105
Tambing. 1997. Pengaruh Natrium Nitrat dan Cekaman Air Pada Fase Reproduksi Terhadap Pertumbuhan Pembungaan dan Hasil Kedelai (Glyncine max (L) Merrill). Thesis Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Willey. R. W. 1979. Intercropping – it’s importance and research needs. Part I. Competition and yield advantages. Field Crop Abst. 32:1-10.



















                                                                                                                        









Tidak ada komentar:

Posting Komentar