PENGARUH
VARIETAS DAN WAKTU TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) SECARA
TUMPANGSARI (Intercropping) DENGAN
KACANG TANAH (Arachis hypogaea. L)
Martalia, Rover, dan Chairil
Ezward
Prodi
Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl.
Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Fax (0760)7014730 Teluk Kuantan
ABSTRACT
This research have been
executed by garden of attempt of College of Agronomy Swarnadwipa ( STIP-S),
Walke Gatot Subroto of KM 7 garden of Nenas Jake, Kuantan Singingi, this
research executed [ during 4 month;moon
counted from January until April 2013. This Research use Random Device [of]
Group ( Factorial RAK) consisted of 2 factor that is Factor V ( Varietas)
consisted of 4 level and W ( Time plant
sweet maize) consisted of 3 level. First
factor that is V1= Varietas Bonanza F1, V2= Varietas of Master Sweet, V3=
Varietas of Elephant and V4= Varieats Sheep. Factor of Second of time plant
sweet maize that is: W1= time plant maize of beloved which at the same time
with peanut, W2= planted sweet maize 1 week after peanut, W3= planted sweet
maize 2 week after peanut. Treatment time of planting
singly significantly affect plant height of sweet corn, which is contained in W1
treatment (106.54 cm), harvest contained
in W1 treatment (73.72 days), and the
results of sweet corn that is the W1 treatment (252, 22
gr). Treatment interaction
of varieties and planting
time gives significant
effect on harvest contained on
V1W1 (73.11 days),
and the results of sweet corn crop is present
in V3W1 (273.33 g)
Key word: peanut, varieties, zea mays
PENDAHULUAN
Usaha
pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatan pendapatan dan kesejahteraan
petani melalui peningkatan produksi, dimana sasarannya adalah untuk memenuhi
kebutuhan pangan dan dan untuk perbaikan gizi masyarakat. Hal tersebut dapat dipenuhi dengan
membudidayakan baik tanaman pangan maupun tanaman hortikultura. Tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan
karbohidrat, sedangkan tanaman hortikultura untuk memenuhi kebutuhan gizi. Tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan
masayarakat tersebut salah satu diantaranya adalah jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) dan Kacang
tanah ( Arachis hypogaea. L). Peningkatan
produksi tanaman akan berpengaruh kepada peningkatan pendapatan petani, salah
satu upayanya yaitu dengan mengusahakan penggunaan lahan yang seoptimal
mungkin, yaitu dengan cara mengusahakan beberapa jenis tanaman persatuan luas
dan waktu pada sistem pola tanam secara tumpangsari, dimana kacang tanah dan
jagung manis merupakan salah satu pilihan yang cukup potensial untuk
dikembangkan (Jumin, 1994).
Sistem
tanam tumpangsari adalah salah satu usaha sistem tanam dimana terdapat dua atau
lebih jenis tanaman yang berbeda ditanam secara bersamaan dalam waktu relatif
sama atau berbeda dengan penanaman berselang‐seling dan jarak
tanam teratur pada sebidang tanah yang sama.
Sistem tumpangsari merupakan suatu sistem produksi yang diterapkan atas
pertimbangan hayati dan ekonomi, dalam sistem tumpangsari telah banyak
diketahui bahwa produksi tanaman secara keseluruhan memberikan hasil yang lebih
tinggi apabila kombinasi tanaman yang diusahakan dalam sistem tumpangsari
dilakukan dengan tepat. Hal ini sesuai
dengan pendapat Asadi (1997), bahwa keuntungan dari sistem tumpangsari yaitu
dapat menambah keragaman pangan sehubungan dengan perbaikan gizi dan
peningkatan produktivitas lahan.
Pola sistem tumpangsari mengakibatkan terjadi
kompetisi secara intraspesifik dan interspesifik. Kompetisi dapat berpengaruh
negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Tetapi bagaimana sistem
tumpangsari dapat meminimalkan kompetisi diantara tanaman atau dapat saling
mendukung untuk pertumbuhan dan produksi dan meningkatkan produktivitas per
satuan luas lahan (Ridwan, 1992 dalam Herlina, 2011).
Hal
lain yang perlu diperhatikan dalam pola tumpangsari adalah waktu tanam, karena
waktu tanam berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif, pertumbuhan vegetatif
yang lebih cepat dan dominan menguasai ruang, maka akan lebih mampu
berkompetisi dalam memperebutkan air, unsur hara dan cahaya dibandingkan dengan
pertumbuhan vegetatifnya yang lambat, akhirnya akan mempengaruhi produksi.
Selanjutnya Willey (1982) dalam Herlina (2011)
menyatakan bahwa dalam menyusun sistem tumpangsari perlu memperhatikan kepekaan
tanaman terhadap persaingan selama daur hidupnya.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1). untuk mengetahui Pengaruh
Varietas dan Waktu Tanam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) secara Tumpangsari (Intercropping) dengan Kacang Tanah (Arachis hypogaea. L), 2). untuk mengetahui Pengaruh Varietas terhadap Pertumbuhan dan
Produksi Jagung Manis (Zea mays
saccharata Sturt) secara
Tumpangsari (Intercropping) dengan
Kacang Tanah (Arachis hypogaea. L), 3). Untuk mengetahui Pengaruh Waktu Tanam terhadap Pertumbuhan dan
Produksi Jagung Manis (Zea mays
saccharata Sturt) secara
Tumpangsari (Intercropping) dengan
Kacang Tanah (Arachis hypogaea. L).
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Penelitian ini
dilaksanakan di kebun percobaan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa,
Jalan Gatot Subroto Km 7 kebun Nenas Jake, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten
Kuantan Singingi. Waktu Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan terhitung dari
bulan Januari - April 2013.
Bahan dan Alat
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
benih jagung manis Bonanza F1 dan Master Sweet, benih kacang tanah varietas
Gajah dan Domba, pupuk kotoran sapi, pupuk Urea, TSP, KCl, Curaterr 3 GR, Decis
2,5 EC, dan Dithen M-45. Alatnya adalah
cangkul, sabit, paku, cat martil, timbangan, meteran, gembor, ember,
handsprayer dan alat-alat tulis.
Metode Penelitian
Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK )
Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : Faktor pertama V (Jagung Manis dengan Kacang Tanah)
terdiri dari 4 taraf yaitu:V1 : Bonanza F1 & Gajah V2 : Bonanza F1
&Domba V3 : Master Sweet & GajahV4 : Master
Sweet & Domba. Faktor
kedua W (Waktu Tanam Jagung
Manis) terdiri dari 3 taraf yaitu :W1 : Jagung Manis dengan Kacang Tanah Sama
Tanam. W2 : Jagung manis di tanam 1 minggu setelah kacang tanah W3
: Jagung ditanam 2 minggu setelah kacang tanah. Apabila F
hitung lebih besar dari F tabel maka dilanjutkan dengan Uji Lanjut Beda Nyata
Jujur ( BNJ ) pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi tanaman jagung manis (cm)
Setelah dianalisis secara statistik
dari hasil sidik ragam, perlakuan varietas secara tunggal tidak
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis. Sedangkan perlakuan
waktu tanaman secara tunggal berpengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman
jagung manis, dan secara interaksi perlakuan varietas dan waktu tanam tidak
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis. Rata-rata tinggi tanaman setelah diuji dengan
uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rerata Tinggi
Tanaman Jagung Manis dengan Pengaruh Varietas dan Waktu Tanam
|
Faktor V
|
Faktor W
|
Rerata V
|
||
|
W1
|
W2
|
W3
|
||
|
V1
|
106.93
|
97.67
|
90.09
|
98.23
|
|
V2
|
105.64
|
96.41
|
90.86
|
97.64
|
|
V3
|
108.19
|
98.96
|
92.93
|
100.03
|
|
V4
|
105.41
|
96.17
|
90.83
|
97.47
|
|
Rerata W
|
106.54a
|
97.30ab
|
91.18b
|
|
|
KK= 3,89%
|
BNJ W= 13,92
|
|||
Angka-angka pada baris dan kolom yang
diikuti huruf keci yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji BNJ.
Tabel (1) menunjukan bahwa pada
perlakuan varietas tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman
jagung manis, karena dalam hal ini varietas yang digunakan belum mampu tumbuh
dengan normal, karena pengaruh dari kacang tanah menurut hasil
penelitian tinggi tanaman jagung manis yang tertinggi terdapat pada V3 (100.03
cm) dan yang terendah terdapat pada V4 (97,47 cm). Pada perlakuan V3 dan V4
terjadi kompetisi dengan kacang tanah dalam memenuhi kebutuhan unsur hara. Hal ini sesuai dengan pendapat Tambing (1997)
mengatakan bahwa tanaman akan lebih pendek apabila kekurangan unsur hara.
Dari tabel (1) diatas
menunjukan bahwa perlakuan waktu tanam jagung manis secara tunggal berpengaruh
nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis, dimana tanaman yang tertinggi
terdapat pada W1 (106,54 cm) dan yang terendah terdapat pada W3 (91,18
cm). Setelah diuji lanjut perlakuan W1
(106,54 cm) tidak berbeda nyata dengan W2 (97,30 cm), tetapi berbeda nyata
dengan W3 (91,18 cm). Hal ini diduga
akar tanaman jagung manis pada awal pertumbuhan dapat tumbuh dengan baik dan
mampu beradaptasi dalam memanfaatkan unsur hara yang tersedia, sehingga tinggi
tanaman jagung manis pada perlakuan W1
lebih baik dibandingkan perlakuan waktu tanam lainnya. Sedangkan tanaman jagung manis pada W3
menunjukan tinggi tanaman yang terendah.
Ini disebabkan akar tanaman jagung manis tertekan pertumbuhannya akibat
perakaran kacang tanah telah berkembang pesat, maka kacang tanah lebih tinggi
kompetisinya.
Persaingan dalam
penyerapan unsur hara dan air pada perlakuan waktu tanam jagung manis yang
bersamaan dengan kacang tanah masih belum tampak karena tanaman jagung manis
memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan tanaman kacang tanah,
terutama pertumbuhan akarnya sehingga penyerapan hara dan air akan semakin
bebas. Begitu juga dengan penyerapan
cahaya matahari yang memiliki kebutuhan cahaya matahari lebih besar, selain
disebabkan bentuk morfologinya yang lebih tinggi juga karena tergolong tanaman
C4 yang rakus akan cahaya matahari
dibandingkan dengan morfologi tanaman kacang tanah yang pendek dan tergolong
tanaman C3 yang kapasitas fotosintesisnya rendah (Khalil, 2000).
Secara interaksi varietas dan waktu tanam
tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis,
dimana perlakuan terbaik terdapat pada V3W1 (varietas Master Sweet dengan
Gajah) dengan tinggi tanaman yaitu 108,19 cm, hal ini diduga kedua varietas
saling bersinergi untuk ditumpangsarikan dam mampu beradaptasi dilahan tersebut
sehingga dihasilkan tanaman jagung manis yang tertinggi.
Umur muncul bunga tanaman jagung manis
(hari)
Setelah
dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukan bahwa pada
perlakuan varietas dan waktu tanam pada pola tanam secara tumpangsari dengan
kacang tanah secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga
jagung manis, dan secara interaksi perlakuan varietas dan waktu tanam juga
tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur muncul bunga tanaman jagung
manis. Rerata umur muncul bunga disajikan pada tabel (2)
Tabel 2. Rerata Umur muncul bunga (hari), rerata pengaruh
varietas dan waktu tanam jagung manis pada pola tanam secara tumpangsari dengan
Kacang Tanah.
|
Faktor
V
|
Faktor W
|
Rerata V
|
||
|
W1
|
W2
|
W3
|
||
|
V1
|
57.00
|
52.00
|
54.67
|
54.56
|
|
V2
|
56.33
|
55.33
|
56.00
|
55.89
|
|
V3
|
52.00
|
51.67
|
53.67
|
52.44
|
|
V4
|
53.67
|
55.00
|
56.33
|
55.00
|
|
Rerata W
|
54.75
|
53.50
|
55.17
|
|
|
KK= 5,47%
|
||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang
diikuti oleh huruf kecil yang sama
adalah tidak berbeda nyata menurut BNJ pada taraf 5%.
Dari Tabel 2
diatas menunjukan bahwa perlakuan Varietas (V) baik secara tunggal maupun
interaksi tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap umur muncul
bunga tanaman jagung manis. Hal ini
ditunjukan bahwa masing-masing varietas yang diuji mempunyai kemampuan yang
sama. Secara tunggal varietas yang
terbaik terdapat pada perlakuan V3 dengan umur muncul bunga yaitu 52,44
hari.
Umur berbunga pada tanaman tidak hanya
dipengaruhi oleh suatu perlakuan saja tetapi
juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat hidupnya. Selain faktor
lingkungan dan genetik, faktor tanah, ketersediaan cahaya, air, maupun unsur
hara juga berperan dalam memicu proses pembungaan. Kemudian gangguan yang muncul dari tanaman
kacang tanah terhadap tanaman jagung manis, membuat tanaman jagung manis melakukan
adaptasi mengimbangi pertumbuhan tanaman kacang tanah dengan memanfaatkan air
dan unsur hara yang tersedia pada awalnya.
Ketersediaan unsur hara bagi tanaman jagung manis akan mempengaruhi
terhadap pertumbuhan fase vegetatif, dimana tanaman akan mempercepat fase
generatifnya. Hal ini sesuai dengan
penelitian Ijhon (2008) menyatakan bahwa pembungaan adalah fenomena fisiologi
yang tidak sederhana, dimana perubahan fase vegetatif menjadi generatif
merupakan perubahan yang sangata besar, tanaman akan menghasilkan bunga apabila
zat cadangan (unsur hara) berkurang.
Selanjutnya
menurut Mardawilis (2004) menambahkan bahwa bila unsur hara N dalam keadaan
kurang, maka pembentukan klorofil akan terganggu sehingga proses fotosintesis
terganggu dan akibatnya menurunkan kegiatan pembentukan protein. Sehingga akan mempercepat proses
pembunggaannya.
Berdasarkan tabel (2)
bahwa perlakuan waktu tanam secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap
umur muncul bunga, secara tunggal waktu tanam yang terbaik terdapat pada
perlakaun W2 dengan umur muncul bunga yaitu 53,50 hari. Ini terjadi akibat
kurangnya unsur hara dan air yang diserap oleh tanaman jagung manis tersebut
sehingga pertumbuhannya terganggu akibat cepatnya muncul bunga
Secara interaksi perlakuan varietas
dan waktu tanam tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap umur
muncul bunga. Perlakuan terbaik secara
interaksi varietas dan waktu tanam terdapat pada V3W2 (varietas master sweet
dengan domba) dengan umur muncul bunga 51,67 hari. Hal ini diduga kedua varietas ini sesuai dengan waktu tanam
tersebut.
Umur panen jagung manis (hari)
Setelah
dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam terhadap umur panen dengan
perlakuan varietas secara tunggal tidak berpengaru nyata terhadap umur panen
jagung manis, dan waktu tanam jagung manis secara tunggal memberikan pengaruh
yang nyata terhadap umur panen jagung manis. sedangkan perlakuan varietas dan
waktu tanam secara interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen
jagung manis. Rerata umur panen tanaman
jagung manis disajikan pada tabel 3
Tabel 3. Rerata umur panen Tanaman Jagung Manis dengan
perlakuan Varietas dan Waktu Tanam Secara Tumpangsari dengan kacang tanah (hari)
|
Faktor V
|
Faktor W
|
Rerata V
|
||
|
W1
|
W2
|
W3
|
||
|
V1
|
73.11a
|
73.55ab
|
76.11c
|
74.26
|
|
V2
|
73.33a
|
73.67ab
|
75.33abc
|
74.11
|
|
V3
|
74.44abc
|
74.44abc
|
73.78ab
|
74.22
|
|
V4
|
74.00abc
|
74.67abc
|
75.78bc
|
74.81
|
|
Rerata W
|
73.72a
|
74.08ab
|
75.25b
|
|
|
KK = 105 BNJ W=1,24 BNJ VW=2,30
|
||||
berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil
yang sama adalah tidak
Tabel (3) diatas
menunujukan bahwa perlakuan varietas secara tunggal tidak memberikan pengaruh
yang nyata terhadap umur panen jagung manis, hal ini dapat kita lihat bahwa rerata umur panen tidak menyimpang dari
deskripsi yang sudah ada. Dari hasil
penelitian menunjukan umur panen tanaman jagung manis yang terbaik terdapat
pada perlakuan V2 (74,11 hari) .
Meskipun umur panen V2 lebih cepat tetapi menurut tabel analisis sidik
ragam varietas ini tidak memberikan pengaruh
yang berbeda nyata.
Berdasarkan tabel (3)
diatas perlakuan waktu tanam secara tunggal berpengaruh nyata terhadap umur
panen jagung manis, dimana perlakuan terbaik terdapat pada W1 yaitu dengan umur
panen 73,72 hari. Berdasarkan uji lanjut
BNJ perlakuan W1(73,72 hari) tidak berbeda nyata dengan W2 (74,08 hari) tetapi
berbeda nyata dengan W3 (75,25 hari).
Ini disebabkan waktu tanam jagung manis tanaman tidak tertekan selama
fase generatif sehingga saat pengisian biji tidak terganggu, tetapi untuk W3
menunjukan umur panen yang paling lama.
walaupun W3 dikatakan umur panen yang paling lama tetapi ini sudah
sesuai dengan deskripsi. Dimana menurut
PT. Eas West Seed Indonesia, 2013) umur panen jagung manis Bonanza F1 yaitu 70-75 hari.
Waktu tanam berkaitan dengan kecepatan
tanaman menguasai ruang, tanaman yang cepat tumbuhnya akan lebih tinggi
kompetisinya dibandingkan dengan tanaman yang tumbuhnya lambat. Selain itu umur panen yang cepat dapat
terjadi karena sangat berhubungan dengan umur muncul bunga, dimana umur muncul
bunga akan menyebabkan proses penyerbukan akan menjadi lebih cepat, sehingga
umur panen juga akan menjadi lebih cepat.
Hal ini sesuai dengan pendapat Ezward (2010) yang menyatakan bahwa waktu
atau umur muncul bunga akan mempengaruhi waktu atau proses penyerbukan yang
akan berhubungan kepada waktu atau umur panen.
Disamping unsur hara, air juga
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Dimana air bermanfaat untuk
proses fotosintesis. Sesuai dengan
pendapat Tambing (1997) menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan tanaman
sangat dipengaruhi oleh perubahan arah potensial air.
Secara interaksi perlakuan varietas
dan waktu tanam memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen jagung
manis, dimana perlakuan terbaik adalah
terdapat pada V1W1 (73,11 hari), ini diduga
saat tanam varietas dengan waktu tanam yang digunakan mendapatkan unsur hara yang
seimbang dengan kacang tanah. Sehingga
berpengaruh terhadap parameter umur panen.
Menurut Partohardjono (1980)
mengatakan lamanya pertumbuhan vegetatif memberikan kesempatan pada tanaman
untuk menumpuk hasil fotosintesis lebih besar dan berkemungkinan memperpanjang
umur panen, bila faktor cahaya , suhu, dan air saling menunjang. Jumin (1978) menambahkan umur suatu tanaman
ditentukan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.
Hasil Tanaman Jagung Manis (gr/tanaman)
Dari hasil analisis sidik ragam
menunjukan bahwa perlakuan varietas secara tunggal maupun interaksi memberikan
pengaruh yang nyata terhadap hasil jagung manis, dan perlakuan waktu tanam baik
secara tunggal maupun interaksi memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil
jagung manis. Rerata hasil tanaman
jagung manis disajikan pada tabel (4).
Tabel 4. Rerata
hasil Tanaman Jagung Manis (gr/tanaman) dengan Perlakuan Varietas dan Waktu Tanam Secara Tumpangsari
Dengan Kacang Tanah.
|
Faktor V
|
Faktor W
|
Rerata V
|
||
|
W1
|
W2
|
W3
|
||
|
V1
|
263.33a
|
236.67ab
|
140.00d
|
213.33ab
|
|
V2
|
261.11a
|
174.44bcd
|
151.11cd
|
195.56b
|
|
V3
|
273.33a
|
265.56a
|
168.89bcd
|
235.93a
|
|
V4
|
211.11abcd
|
210.00abcd
|
216.67abc
|
212.59ab
|
|
Rerata W
|
252.22a
|
221.67a
|
169.17b
|
|
|
KK= 11,70% BNJ V=32,61 BNJ W=40,04 BNJ VW=73,86
|
||||
Angka-angka
pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda
nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ
Tabel (4)
menunjukan bahwa perlakuan varietas secara tunggal berpengaruh nyata terhadap
hasil jagung manis, dimana hasil yang tertinggi terdapat pada perlakuan V3
(varietas master sweet dengan gajah) deengan hasil pertanaman yaitu 235,93
gr dimana perlakuan ini tidak berbeda
nyata dengan V1 (varietas Bonanza F1 dengan Gajah) dengan hasil 213,33 gr dan
V4 (varietas Master Sweet dengan Domba), tetapi berbeda nyata dengan V2
(Varietas Bonanza F1 dengan Domba) dengan hasil pertanaman 195,56 gr. Hasil yang tertinggi terlihat pada
perlakuan V3(235,93 gr), dan hasil yang terendah terlihat pada perlakuan V2
(195,56 gr). Meskipu V3 disebut hasil
yang tertinggi dan V2 yang terendah, tapi sebenarnya kedua perlakuan tersebut
hasilnya masih dibawah deskripsi. Dimana
menurut PT. Eas West Seed Indonesia ,2013) jagung varietas Bonanza F1 bobot
pertanaman yaitu 480 gr. Ini diduga
varietas yang digunakan tidak dapat tumbuh dengan baik dan beradaptasi dengan
lingkungannya. Menurut Simatupang
(1997), menyatakan bahwa tingginya produksi suatu varietas dikarenakan varietas
tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungan.
Meskipun secara genetik varietas lain mempunyai potensi produksi yang
baik, tetapi karena masih dalam adaptasi, produksinya dapat lebih rendah dari
yang seharusnya.
Tabel (4)
menunjukan bahwa perlakuan waktu tanam secara tunggal memberikan pengaruh yang
nyata terhadap hasil jagung manis, diamana hasil jagung manis yang dipengaruhi
waktu tanam yaitu terdapat pada perlakuan W1 (252,22 gr), perlakuan ini tidak
berbeda nyata dengan W2 (221,67 gr), tetapi berbeda nyata W3 (169,17 gr). Hal ini disebakan pada awal pertumbuhannya tanaman
jagung manis tidak tertekan, mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mampu
berkompetisi dalam memanfaatkan unsur hara.
Sedangkan pada W3 tanaman jagung manis tertekan pertumbuhannya, karena
adanya kompetisi antara tanaman jagung manis dengan tanaman kacang tanah dalam
memanfaatkan unsur hara dan air, sehingga menunjukan hasil yang lebih rendah
dari pada yang lainnya.
Kesumawati
(1991) menyatakan bahwa bila unsur hara cukup (terutama unsur hara N) pada awal
pertumbuhan, tanaman akan tumbuh lebih cepat. Selain absorbsi N oleh tanaman
jagung berlangsung selama pertumbuhannya, pada saat pembungaan (bunga jantan
muncul) tanaman jagung juga mengabsorbsi N sebanyak 50 % dari seluruh
kebutuhannya. Bila jagung kekurangan unsur hara N, diameter tongkol jagung yang
terbentuk akan menjadi kecil dan kandungan protein dalam bijinya juga rendah.
Tabel (4)
menunjukan bahwa pada kombinasi perlakuan varietas dan waktu tanam pada sistem
secara tumpangsari dengan kacang tanah, secara interaksi memberikan pengaruh
yang nyata terhadap hasil jagung manis, dimana hasil jagung manis yang
terbaik yang dipengaruhi kombinasi
varietas dengan waktu tanam yaitu terdapat pada perlakuan V3W1 dengan hasil
pertanaman 273,33 gr, dimana perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan V3W2 (265,56
gr), V1W1 (263,33 gr), V2W1 (261,11 gr), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan
lainnya. Dari hasil penelitian tanaman
yang hasilnya lebih tinggi terdapat pada
perlakuan V3W1 (273,33 gr), ini diduga pada perlakuan ini tanaman dapat menekan
persaingan dan mampu memanfaatkan unsur
hara yang tersedia dari tanaman kacang tanah varietas Gajah. sedangkan hasil yang terendah terdapat pada perlakuan V1W3
(140,00 gr), ini diakibatkan pada awal pertumbuhan tanaman jagung manis telah
mendapatkan persaingan dalam memanfaatkan unsur hara, dimana dalam perlakuan
ini kacang tanah lebih duluan tumbuh, sehingga unsur hara yang tersedia sudah
dimanfaatkan oleh tanaman kacang tanah tersebut, mengakibatkan pertumbuhan
tanaman jagung manis terganggu, sehingga mengasilkan produksi yang lebih
rendah.
Fransiscus
(2006) mengatakan apabila tanaman memperoleh unsur hara yang cukup
mengakibatkan fotosintesis akan berlangsung baik, sehingga penumpukan bahan –
bahan organik hasil fotosintat dalam
biji lebih banyak dan akan berpengaruh pada produksi tanaman. Penurunan hasil pada salah satu atau kedua
tanaman dalam sistem tumpangsari dapat disebabkan pengaruh penaungan dari salah
satu tanaman oleh tanaman lainnya (Willey, 1979).
KESIMPULAN
1.
Perlakuan
varietas secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil jagung
manis yaitu pada perlakuan V3 (235,93 gr)
2.
Perlakuan
waktu tanam secara tunggal berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung
manis, yaitu terdapat pada perlakuan W1 (106,54 cm), umur panen yang terdapat
pada perlakuan W1 (73,72 hari), dan hasil jagung manis yaitu pada perlakuan W1
(252,22 gr).
3.
Perlakuan
interaksi varietas dan waktu tanam memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur
panen terdapat pada V1W1 (73,11 hari), dan hasil jagung manis pertanaman yaitu
terdapat pada V3W1 (273,33 gr)
DAFTAR PUSTAKA
Ezward. C. 2010. Uji Pola Tanam Antara Varietas Jagung dengan
Varietas Kedelai dan Pengaruh Efisien Dosis Imbangan N,P dan K Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Jagung dan Kedelai. Thesis Program Pasca Sarjana
Universitas Isalam Riau. Pekanbaru
Herlina. 2011. Pengaruh Variasi Jarak dan Waktu Tanam Jagung Manis dalam Sistem Tumpangsari Jagung
Manis dan Kacang tanah. Artikel
Pasca Sarjana Universitas Andalas. Padang
Ijhon. 2008. Peruahan Sifat Perkembangan Biji Tiga
Varietas Jagung( Zea mays L) yang di Pupuk Nitrogen. Thesis Program
Agronomi. Program Pascasarjana UIR.
Pekanbaru
Jumin.H.
B. 2002. Agroekologi. Suatu Pendekatan
Fisiologis. PT. Rajagrafindo Persada. Jakarta
Khalil. M. 2000. Pengaruh Varietas Kacang Tanah dan waktu
Tanam Jagung Manis Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Pada Sistem Tumpangsari,
Fakultas Pertanian Unsyiah Darussalam. Banda Aceh
Kesumawati. E. 1991. Pengaruh Populasi Tanaman Kedelai Kerhadap
Komponen Hasil Jagung didalam Tumpangsari Kedelai - Jagung. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Syiah
Kuala
Mardawilis. 2004. Pemanfaatan Tanam Optimal dan Efisiensi
Penggunaan Pupuk Nitrogen Pada Beberapa Varietas Jagung (Zea mays) dilahan
kering. Jurnal dinamika Pertanian. 19 (3): 303-314
PT. Eas West Seed Indonesia. 2013. Deskripsi
Jagung Manis Varietas Bonanza F1
PT. Bisi
Internasional. 2013. Deskripsi Jagung Manis Varietas Master Sweet. Jawa Timur
Fransiscus. 2006. Pemberian Beberapa Pupuk Organik Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Kacang Tanah (Archis hipogaea L). Skripsi Universitas Riau. Pekanbaru,
tidak dipublikasikan.
Ridwan M. 1992. Pengaruh jumlah benih jagung per lubang
tanam dalam pola tumpangsari jagung dengan kedelai terhadap produksi dan nisbah
kesetaraan lahan. Thesis Pasca Sarjana KPK-UNAND. Padang
Simatupang. S. 1997. Pengaruh Pemupukan Boraks Terhadap
Pertumbuhan dan Mutu Kubis Bunga. Jurnal Hortikultura 5 (1): 102-105
Tambing. 1997. Pengaruh Natrium Nitrat dan Cekaman Air Pada
Fase Reproduksi Terhadap Pertumbuhan Pembungaan dan Hasil Kedelai (Glyncine max
(L) Merrill). Thesis Program
Pascasarjana IPB. Bogor.
Willey. R. W. 1979. Intercropping – it’s importance and
research needs. Part I. Competition and yield advantages. Field Crop Abst.
32:1-10.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar