Selasa, 04 Februari 2014

JGS VOL 3 HAL 85-92


UJI BEBERAPA VARIETAS DAN PEMBERIAN PUPUK BIO ORGANIK HERBAFARM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata. Sturt)



Asrul Nasrun, Rover dan Mashadi
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Teluk Kuantan


                                                                  ABSTRACT

           The research was conducted in the village of Pulau Sipan Inuman, Regency Kuantan District Inuman Singingi. The research was carried out for 4 months from June to September 2012. The design used in this study is a randomized block design (RAK) factorial consisting of 2 factors: factor V (maize varieties) consists of 3 levels: V1 = Varieties super sweet, sweet boy Variety V2 = 02, V3 = Variety bonanza cap arrows red. Factor B (providing organic bio herbafarm) consists of 4 levels, B0 = Without treatment / control, B1 = Bio organic herbafarm 3 ml, B2 = Bio organic herbafarm 6 ml, B3 = Bio organic herbafarm 9 ml. Then the data were analyzed statitistik and if F calculated is greater than F table, then proceed with testing Honestly Significant Difference (HSD) at the level of 5%. The results showed that a single treatment of the various varieties were not significantly different in all parameters of observation. The best treatment is herbafarm organic bio organic bio herbafarm B1 (3ml). While the interaction of various varieties and organic bio herbafarm administration significantly affect harvesting sweet corn crop. The best treatment is V3B3 (bonanza varieties and organic bio herbafarm 9ml (62.33 days).

Key word: bio organic herb farm, varieties


PENDAHULUAN

Jagung merupakan tanaman asli Benua Amerika, karena jagung telah ditanam oleh suku indian jauh sebelum Benua Amerika ditemukan. Tanaman pangan ini adalah makanan orang Indian. Daerah yang dianggap asal tanaman jagung adalah Meksiko, karena ditempat tersebut ditemukan jenggel dan biji jagung dalam gua-gua suku Indian (Purwono, 2007).
Biji jagung mengandung komponen nutrisi, seperti kalori (33 kalori), protein (2,2 gram), lemak (0,1 gram), hidrat arang (7,4 gram), kalsium (7 mg), besi (0,5 mg), vitamin A (200 SI), vitamin B1 (0,08 mg), vitamin C (8 mg), air (89,5 gram). Zat ini dibutuhkan untuk pakan maupun proses lainnya. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan usaha dalam bercocok tanam, agar biji yang dihasilkan lebih banyak dan padat sesuai apa yang diinginkan.
Jagung termasuk bahan pangan penting karena merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras. Sebagai salah satu sumber bahan pangan, jagung telah menjadi komoditas utama setelah beras. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia, jagung dijadikan sebagai bahan pangan utama. Di samping sebagai bahan pangan, jagung juga dikenal sebagai salah satu bahan baku untuk pakan ternak dan industri. Dengan banyaknya manfaat tanaman jagung ini, maka perlu dilakukan tindakan budidaya secara intensif.
Produksi jagung di Kabupaten Kuantan Singingi mengalami degradasi dari tahun ke tahun, pada tahun 2008 produksi jagung mencapai 1290,04 ton/ha, sedangkan pada tahun 2009 produksi jagung hanya mencapai 1180,91 ton pipilan kering/ha, penurunan produksi mencapai 109,13 ton/ha. Hal ini disebabkan tehnik budidaya yang kurang tepat, seperti penggunaan pupuk yang belum sesuai dengan rekomendasi (Badan Pusat Statistik, 2010).
    Jenis jagung yang dikembangkan masyarakat pada umumnya adalah jagung biasa dan jagung manis. Namun demikian, jagung yang banyak dikembangkan masyarakat dewasa ini adalah jagung manis, karena rasanya yang manis dan enak. Sehingga permintaan terhadap jagung manis meningkat dari waktu ke waktu. Untuk memenuhi permintaan perlu di tingkatkan produksi jagung manis.
Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi jagung manis adalah penggunaan bibit unggul, pemupukan yang berimbang, pengolahan tanah yang baik dan penggunaan dosis pupuk sesuai rekomendasi. Varietas unggul (jagung manis hibrida) adalah galur murni yang berasal dari dua induk yang sudah diseleksi sifat unggulnya. Varietas hibrida mempunyai satu atau lebih keunggulan khusus, seperti potensi hasil, tahan terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap lingkungan, produksi tinggi, tanaman berumur genjah 75-90 hari.
Varietas jagung hibrida diperoleh melalui seleksi, pada saat penanaman  perlu diadakan isolasi dari tanaman jagung lainnya, agar kemurnian varietas unggul itu dapat dipertahankan. Untuk aplikasinya perlu dicoba berbagai varietas jagung manis  yang dikombinasikan dengan penggunaan pupuk.
Dengan adanya pupuk bio organik herbafarm berupa produk sampingan dari olahan jamu PT. Sido Muncul dan didistribusikan oleh PT. Nutriend International (Anak perusahaan PT. Sido Muncul), diperkaya dengan mikroba seperti mikroba pelapuk atau pengurai, yang menjaga keseimbangan rantai makanan di alam. Mikroba itu sekaligus berperan dalam proses bioremediasi, yakni merombak senyawa- senyawa kimia pestisida atau herbisida menjadi  tidak berbahaya bagi lingkungan (Anonimus, 2009).
Pupuk bio organik herbafarm bukan hanya meningkatkan produksi budidaya tanaman pangan seperti jagung. Jika diaplikasikan pada tanaman Hortikultura seperti kentang, selada, terung, tomat, dan labu, pupuk organik herbafarm juga mampu meningkatkan produksi termasuk tanaman buah, perkebunan, kehutanan, dan tanaman  hias (Anonimus, 2009).
         Tujuan di laksanakan penelitian ini adalah Untuk mengetahui uji beberapa varietas terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis, untuk mengetahui pengaruh pemberian bio organik herbafarm terhadap  pertumbuhan dan produksi  jagung manis, dan untuk mengetahui interaksi uji beberapa varietas dan pemberian pupuk bio organik herbafarm  terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pulau Sipan Kecamatan Inuman  Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4 bulan yang dimulai bulan Juni sampai September 2012.
Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih Jagung manis diantaranya: Varietas Super sweet, Sweet boy 02, Bonanza cap panah merah, Sevin 85 S, furadan 3G. Sedangkan alat yang digunakan adalah gergaji, cangkul, sabit, paku, Handsparayer, Cat, papan label, martil, timbangan, gembor, meteran, ember dan alat-alat lain yang mendukung penelitian.

Metode Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancang Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : V (Varietas) terdiri dari 3 taraf dan B (Bio organik herbafarm) terdiri dari 4 taraf.

Faktor Varietas (V) terdiri dari 3 taraf :
V1  = Varietas Super sweet
V2  = Varietas Sweet boy 02
V3  = Varietas Bonanza cap panah merah

Faktor pemberian bio organik herbafarm (B)
        terdiri dari 4 taraf :

 
B0 = Tanpa pemberian bio organik herbafarm
B1 = Pemberian bio organik herbafarm = 3 ml/  
        liter air = 0,3%
B2 = Pemberian bio organik herbafarm = 6 ml/
        liter air = 0,6%
B3 = Pemberian bio organik herbafarm = 9 ml/
        liter air = 0,9%
            Kemudian masing–masing data akhir dianalisis secara statistik, apabilah F hitung lebih besar dari F tabel, maka dilanjutkan dengan Uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)
          Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal beberapa varietas tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman. Sedangkan pemberian pupuk bio organik herbafarm secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata tehadap tinggi tanaman dan interaksi beberapa varietas dan pupuk bio organik herbafarm tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman.





Tabel 1.  Hasil Rerata Tinggi Jagung Manis Dengan Uji Beberapa Varietas dan Pemberian Bio Oganik Herbafarm (cm)
Faktor V
(Varietas)
Faktor B (Bio organik herbafarm)

Rerata V
B0
B1
B2
B3
V1
134.78
189.06
150.33
187.06
165.31
V2
146.56
180.94
152.28
170.50
162.57
V3
166.22
168.72
139.83
163.89
159.67
Rerata B
149.19abc
179.57a
147.48bc
173.81ab
-
KK= 12,01%                                             BNJB = 31,13
Angka-angka pada baris dan kolom yang di ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% menurut Uji Lanjut BNJ.

         

          Dilihat dari Tabel di atas uji beberapa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis, karena dari deskripsi masing-masing varietas menunjukkan bahwa : varietas super sweet tinggi tanaman 200 cm, sedangkan varietas sweet boy tinggi tanaman 184 cm. Dari hasil penelitian menunjukkan hasil yang diperoleh dibawah standar.
          Tidak berpengaruhnya berbagai varietas ini secara tunggal terhadap tinggi tanaman, diduga karena curah hujan pada saat penelitian sangat kurang dan keadan ini agak lama sehingga akan menghambat proses vegetatif dan pada akhirnya tanaman jagung akan terhambat pertumbuhannya (Warisno, 1998).          
          Pemberian bio organik herbafarm secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman jagung. Hasil yang tertinggi adalah 179,57 cm yang dihasilkan pada perlakuan B1 yaitu pemberian bio organik herbafarm 3 ml dan perlakuan yang terendah adalah 147,48 cm yang dihasilkan pada perlakuan B2. Hal ini disebabkan pupuk bio organik menyediakan unsur hara baik makro maupun mikro yang berperan dalam penambatan maupun penyerapan hara oleh tanaman.
          Dari hasil analisis statistik sidik ragam pemberian bio organik herbafaram berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis. Berpengaruhnya pemberian bio organik herbafarm ini diduga karena bio organik herbafarm mempunyai hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman seperti Nitrogen, hormon tanaman dan beberapa mikroba biofertilizer yang mampu dapat merangsang pertumbuhan tanaman sehingga bio organik herbafarm berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman.
            Menurut samekto (2006) dalam pupuk daun ditambahkan unsur hara mikro dalam bentuk kelat, dengan zat adiktif cairan ganggang dan atau asam humat sesuai dengan kebutuhan, supaya kandungan hara esensialnya seimbang. Pupuk daun tidak hanya mengandung N,P dan K tetapi mengandung hormon dan vitamin.  

Umur Berbunga (hari)
          Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan tunggal beberapa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga jagung manis. perlakuan tunggal pupuk bio organik herbafarm memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga jagung manis dan interaksi beberapa varietas dan pemberian bio organik herbafarm juga tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga tanaman jagung manis.
          Dari Tabel uji beberapa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga jagung manis, dilihat dari deskripsi varietas, varietas bonanza umur muncul bunga 45 hari, hasil penelitian menunjukkan umur muncul bunga varietas ini dibawah standar yaitu (47,33 hari). Dilihat dari deskripsi varietas sweet boy umur muncul bunga yaitu 45 hari, hasil penelitian menunjukkan umur muncul bunga tanaman ini (47,83) hari.
          Umur berbunga pada tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh suatu perlakuan saja, akan tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan maupun genetik. Dimana fase vegetatif menjadi generatif merupakan perubahan yang sangat besar karena struktur jaringannya berbeda sekali
          Perubahan ini mencerminkan pemicu dari kelompok gen tertentu yang berperan dalam pembungaan. Tanaman akan menghasilkan bunga bila zat cadangan dan juga ditentukan oleh sifat tanaman dan faktor lingkungan. Umur berbunga tanaman tidak akan berpengaruh nyata antara tanaman satu dengan tanaman lainnya. Karena tanaman yang berasal dari varietas yang sama akan cendrung mempunyai sifat yang  sama pula (Lakitan, 2007).


Tabel 2. Hasil Rerata Umur Berbunga Jagung Manis dengan Uji Beberapa Varietas dan Pemberian Bio Organik Herbafarm (hari)
Faktor V
(Varietas)
Faktor B (Bio organik herbafarm)
Rerata V
B0
B1
B2
B3
V1
49.00
44.33
47.33
46.33
46.75
V2
49.67
43.67
48.67
49.33
47.83
V3
47.33
44.33
49.33
48.33
47.33
Rerata B
48.67a
44.11d
48.45ab
48.00abc
-
KK = 3,67                                        BNJB = 2,76
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji lanjut BNJ        

         

          Perlakuan tunggal bio organik herbafarm  secara tunggal berpengaruh nyata terhadap umur berbunga jagung manis. Dimana perlakuan tercepat berbunga adalah B1(3ml) yaitu 44,11 hari  dan perlakuan B0 adalah perlakuan yang lama berbunga yaitu 48,67 hari. Ini dikarenakan pemberian bio organik herbafarm dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit untuk mempercepat pembungaan hal ini sesuai dengan kandungan bio organik herbafarm terdapat mikroba pelarut phosfat.               Menurut sutedjo (2008) unsur Phosfat berperan dalam membantu pertumbuhan protein dan mineral yang sangat tinggi bagi tanaman, dapat mempercepat pertumbuhan akar, dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa, dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji dan juga dapat meningkatkan produksi biji-bijian.
          Dari hasil analisis statistik sidik ragam pemberian bio organik herbafaram berpengaruh nyata terhadap umur berbunga tanaman jagung manis. Hal ini di sebabkan umur berbunga pada tanaman tidak hanya tergantung pada pemberian pupuk akan tetapi ada faktor-faktor lain seperti lingkungan, sinar matahari maupun dari sifat genetis tanaman tersebut. Dalam hal ini bahwa pupuk bio organik herbafarm mengandung nutrisi organik yang bermanfaat bagi tanaman
          Sesuai dengan pendapat Jumin (1991) bahwa dengan adanya panas yang cukup, maka proses pembentukan bunga dan buah dapat berjalan dengan sempurna yang akan melancarkan proses pembentukan karbohidrat dan akan mempercepat reaksi-reaksi kimia atau biokimia yang akan memacu pertumbuhan menjadi lebih baik terutama dalam pembentukan buah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi umur berbunga dan umur panen tanaman.
          Interaksi beberapa varietas dan pemberian bio organik herbafarm tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga, ini dikarenakan  kandungan unsur hara phosfat tidak mencukupi berinteraksi dengan varietas jagung, karena unsur phosfat ini sangat dibutuhkan untuk pembungaan dan mempercepat umur panen jagung manis

Umur Panen (hari)
          Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas secara tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen tanaman. Sedangkan pemberian pupuk bio organik herbafarm secara tunggal maupun interaksi dan berbagai varietas memberikan pengaruh yang nyata tehadap umur panen tanaman jagung manis.
          Dari Tabel 3 uji beberapa varietas secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen jagung manis, hasil penelitian menunjukkan umur panen jagung manis varietas super sweet 63,92 hari, varietas sweet boy 64,33 hari dan varietas bonanza umur panen 64,33 hari.  Tidak berpengaruhnya berbagai varietas ini  dikarenakan sifat genetik yang terdapat pada tanaman tersebut dan curah hujan pada saat penelitian sangat kurang dan keadaan ini berlangsung agak lama.
          Menurut Warisno (1998) bila hujan sangat kurang pada saat  keluar malai dan rambut pada tongkol, dapat mengakibatkan gagalnya penyerbukan dan merusak daun.

Tabel 3.  Hasil Rerata Umur Panen Jagung Manis dengan Uji Beberapa    Varietas dan Pemberian Bio Organik Herbafarm (hari)
Faktor V (Varietas)
Faktor B (Bio Organik Herbafarm)
Rerata V
B0
B1
B2
B3
V1
66.00ab
64.00abc
62.33abcd
63.33abc
63.92
V2
66.67abcd
63.00abc
63.67abc
64.00abc
64.33
V3
66.67a
62.67abcd
65.67ab
62.33abcd
64.33
Rerata B
66.44a
63.22b
63.89b
63.22b
-
KK = 1,60                    BNJB =  2,04                             BNJVB  = 3,06
Angka-angka pada baris dan kolam yang diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji lanjut BNJ

         

            Pemberian bio organik herbafarm secara tungggal berpengaruh nyata terhadap umur panen jagung manis dikarenakan pupuk bio organik herbafarm dapat menyediakan hara esensial bagi tanaman, merangsang pertumbuhan tanaman dan memperkokoh batang tanaman serta memacu pertumbuhan tanaman dan juga dapat menambat N yang dibutuhkan oleh daun tanaman.     .
          Berdasarkan Tabel diatas, pemberian bio organik herbafarm secara tunggal berpengaruh nyata terhadap umur panen, perlakuan terbaik adalah perlakuan B1 yaitu 63,22 hari (Bio organik herbafarm 3ml). Perlakuan terendah adalah perlakuan B0 yaitu 66,44 hari. Ini menunjukkan perlakuan B1 sangat berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Jadi dengan perlakuan 1ml bio organik herbafarm dapat mempercepat umur panen.
          Perlakuan bio organik ini berpengaruh nyata terhadap umur panen diduga karena kandungan unsur hara dan mikro makro yang terdapat dalam bio organik herbafarm yang dapat memperpendek masa panen, memperpanjang umur produksi tanaman dan memperbaiki kualitas, daya tahan buah serta kuantitas hasil panen (Anonimus, 2009).
Menurut Partohardjono (1980) mengatakan lamanya pertumbuhan vegetatif memberikan kesempatan pada tanaman untuk menumpuk hasil fotosintesis lebih besar dan kemungkinan memperpanjang umur panen, bila faktor lingkungan seperti cahaya, suhu dan air yang saling menunjang. Karena umur suatu tanaman juga ditentukan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.
          Berpengaruhnya interaksi beberapa varietas dan pemberian bio organik herbafarm terhadap umur panen tanaman jagung ini diduga karena unsur hara yang ada dalam bio organik herbafarm dapat diserap oleh tanaman dan dosis yang digunakan sesuai dengan varietas jagung manis, sehingga bio organik  herbafarm ini dapat mempercepat umur panen tanaman jagung. Hal ini sesuai dengan manfaat herbafarm sebagai pelarut P. Unsur P sangat diperlukan untuk mempercepat panen tanaman.

Hasil Perplot (gram)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam (Lampiran 6k) menunjukan bahwa pemberian bio organik herbafarm secara tunggal dan beberapa varietas tanaman jagung manis tidak berpengaruh nyata terhadap hasil perplot tanaman jagung manis, demikian juga interaksi pemberian bio organik herbafarm  dan beberapa varietas tidak memberikan pengaruh nyata terhadap hasil perplot.


Faktor V
Faktor B(Bio Organik Herbafarm)

Rerata V
(Varietas)
B0
B1
B2
B3

V1
465.00
490.00
596.67
595.00
536.67
V2
530.00
513.33
503.67
491.67
509.67
V3
452.67
500.00
497.67
567.33
504.42
Rerata B
482.56
501.11
532.67
551.33
-
Tabel 4. Hasil Rerata Perplot Jagung Manis Dengan Uji Beberapa Varietas dan Pemberian Bio Organik Herbafarm (gram)

          Dari Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa perlakuan tunggal beberapa varietas dan perlakuan bio organik herbafarm secara tunggal maupun interaksi beberapa varietas dan bio organik herbafarm tidak berpengaruh nyata terhadap hasil perplot.
          Menurut Warisno (1998) tidak berpengaruhnya beberapa varietas ini terhadap hasil perplot, karena faktor curah hujan, pada waktu penelitian hujan sangat kurang dan keadaan ini agak lama demikian udara yang panas disertai suhu tinggi, kelembaban rendah akan mengakibatkan malai keluar lebih awal sehingga pembentukan bunga jantan sampai pengisian dan pemasakan biji menjadi sedikit pada akhirnya akan mempengaruhi hasil perplot tanaman jagung, menyebabkan tongkol jagung menjadi ringan dan hasil yang didapat juga rendah
          Pemberian bio organik herbafarm secara tunggal juga tidak berpengaruh nyata terhadap hasil perplot jagung. karena unsur P dalam herbafarm sangat sedikit sehingga belum mencukupi kebutuhan tanaman untuk berproduksi. Ketersediaan unsur P yang cukup pada periode awal pertumbuhan  akan berpengaruh terhadap pembentukan bagian reproduktif tanaman. Jika suplai P terbatas tidak saja akan menyebabkan pertumbuhan yang terhambat tetapi juga kualitas, kuantitas dan waktu panen.
          Menurut Hanafiah (2010) unsur P sangat di butuhkan tanaman dalam penyediaan energi kimiawi yang terlibat dalam produksi  panas, cahaya dan gerak. Respon tanaman terhadap unsur ini terutama terlihat pada sistem perakaran, pertumbuhan secara umum, mutu dan total produksi. Unsur P ini juga berperan vital dalam pembentukan biji dan buah sehingga pupuk P  juga disebut sebagai pupuk buah.
Perlakuan beberapa varietas dan pemberian pupuk bio organik herbafarm secara interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap hasil perplot. Hal ini disebabkan oleh kekurangan unsur hara dalam pembentukan biji terutama unsur hara P yang sedikit dan tidak tercukupi untuk kebutuhan tanaman jagung dalam pembentukan biji dan buah sehingga menyebabkan tidak berpengaruh nyata terhadap hasil perplot (Hanafiah, 2010).
          Menurut Effendi (1970) peran unsur P dalam tanaman yaitu pada pembentukan biji, senyawa-senyawa phosfat yang tersimpan di daun, batang dan jenggel dipindahkan dan disimpan di biji. Kekurangan unsure ini waktu berbunga mengakibatkan perkembangan stigma yang tidak sempurna demikian juga halnya dengan jenggel, barisan biji akan menjadi tidak beraturan dan banyak yang tidak berisi. 
         
KESIMPULAN DAN SARAN

1.      Uji beberapa varietas (V) tidak  berpengaruh terhadap semua parameter pengamatan yaitu tinggi tanaman, umur berbunga, umur  panen dan hasil perplot jagung manis.
2.      Pemberian bio organik herbafarm (B) berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman perlakuan terbaik B1 (Bio organik herbafarm 3ml yaitu 179,57cm), umur berbunga perlakuan terbaik B1 (Bio organik herbafarm 3ml yaitu 44,11 hari) dan umur panen perlakuan terbaik B1 (Bio organik herbafarm 3ml yaitu 63,22 hari).
3.      Interaksi beberapa varietas dan bio organik herbafarm berpengaruh nyata terhadap umur panen jagung manis hasil terbaik adalah V3B3 ( varietas bonanza 62,33 hari).

DAFTAR PUSTAKA

Agromedia, R. 2007. Budidaya Jagung Hibrida,. Jakarta.
Aksi Agraris Kanisius. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung, Kanisius, Yogyakarta.
Anonimus. 2002. Sweet corn. Penerbit swadaya. Jakarta
Anonimus. 2008. Jagung manis/ http://www. Googl. Co.id.search/g? (diakses 23 Desember 2012)
Anonimus. 2009. herbafarm solusi tuntas pertanian xl 481, Desember http:// www.google.co.id/ search?g = (Diakses 23 Desember 2012)
Anonimus. 2010. Pupuk- herbafarm. html. http://www. Googl.Co.id.search/g? (Di akses 23 Desember 2012)
Badan Pusat Statistik, 2010, Survei Lapangan Produksi Jagung, Kabupaten Kuantan Singingi.
Deptan. 2009. balitsereal litbang. Deptan go.id/ind/images/stories deskripsi 06 pdf http://www.googl.co.id.search//g? (Di akses 20 September 2012)
Dinas Tanaman Pangan Propinsi Riau, 2008, Prospek dan Peluang Agrobisnis Jagung, Pekanbaru
Dwijoseputro, D. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT.Gramedia. Jakarta
Effendi, S. 1970. Bercocok tanam jagung. Jakarta: penerbit CV. Yasaguna jakarta
Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell, 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.             Diterjemahkan oleh H.Susilo. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Hanafiah, A. K., 2010. Dasar-dasar Ilmu Tanah, Jakarta : Rajawali Pers
Harjadi, S. S. 1984. Pengantar Agronomi. PT Rajawali Press. Jakarta
Iskandar, D.2003. Pengaruh Dosis Pupuk N,P dan K Terhadap pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung manis Dilahan Kering.J. Saint Dan Teknologi BPPT, Vol 2 :1
Jumin, H. B. 1991. Ekofisiologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers. Jakarta.
Lakitan, B. 2007. Dasar-dasar fisiologi tumbuhan. Penerbit. Raja grafindo. Persada. Jakarta. 205 hal
Makmur, A. 2003. Pemuliaan Tanaman bagi Lingkungan Spesifik. IPB Press, Bogor.
Mentan. 2000. Jagung manis super Jenis file: pdf/ Adobe acrobat http:// directory.ung.ac.id / (Diakses 23 Desember 2012)
Mentan. 2005. Perundangan Deptan.Go.Id/admin/ k Mentan/ SK-456-05.pdf http://www. Googl.Co.id.search/g? (Di akses 23 Desembar 2012)
Partohardjono. 1980. Morfologi dan Fisiologi Padi. Puslitbangtan. Bogor.
Prabowo, A. Y. 2007. Teknis Budidaya : Budidaya Jagung. http://teknis-   budidaya-jagung.html/07/04/2011
Purwono, dan Rudi Hartono, 2005. Bertanam Jagung Unggul-cet 1.- Jakarta  : Penebar    Swadaya, 2005.
Purwono. 2007, Budidaya 8 jenis tanaman pangan unggul, Penebar Swadaya, Jakarta.
Salisbury., C. B. dan C.W.Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Penerbit ITB, Bandung.
Samekto, R, MP, 2006. Pupuk daun. PT Citra AJI PARAMA, Cet. Pertama. Yogyakarta. 55221.
Sentosa. 2010. Aflikasi herbafarm pada tanaman jagung http//  www.googl.co.id/search?g (diakses 15 september 2012)
Soegiman.1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara. Jakarta
Sutedjo. 2008. Pupuk dan Cara Pemupukan, PT Rinika Cipta, Jakarta.
Warisno. 1998. Jagung Hibrida. Seri Budi Daya, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. 81 p.
























































Tidak ada komentar:

Posting Komentar