UJI
BEBERAPA VARIETAS DAN PEMBERIAN PUPUK BIO ORGANIK HERBAFARM TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG MANIS
(Zea mays saccharata. Sturt)
Asrul Nasrun, Rover dan Mashadi
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa
Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Teluk Kuantan
ABSTRACT
The research was conducted in the village of Pulau Sipan Inuman, Regency Kuantan District Inuman Singingi. The research was carried out for 4 months from June to September 2012. The design used in this study is a randomized block design (RAK) factorial consisting of 2 factors: factor V (maize varieties) consists of 3 levels: V1 = Varieties super sweet, sweet boy Variety V2 = 02, V3 = Variety bonanza cap arrows red. Factor B (providing organic bio herbafarm) consists of 4 levels, B0 = Without treatment / control, B1 = Bio organic herbafarm 3 ml, B2 = Bio organic herbafarm 6 ml, B3 = Bio organic herbafarm 9 ml. Then the data were analyzed statitistik and if F calculated is greater than F table, then proceed with testing Honestly Significant Difference (HSD) at the level of 5%. The results showed that a single treatment of the various varieties were not significantly different in all parameters of observation. The best treatment is herbafarm organic bio organic bio herbafarm B1 (3ml). While the interaction of various varieties and organic bio herbafarm administration significantly affect harvesting sweet corn crop. The best treatment is V3B3 (bonanza varieties and organic bio herbafarm 9ml (62.33 days).
The research was conducted in the village of Pulau Sipan Inuman, Regency Kuantan District Inuman Singingi. The research was carried out for 4 months from June to September 2012. The design used in this study is a randomized block design (RAK) factorial consisting of 2 factors: factor V (maize varieties) consists of 3 levels: V1 = Varieties super sweet, sweet boy Variety V2 = 02, V3 = Variety bonanza cap arrows red. Factor B (providing organic bio herbafarm) consists of 4 levels, B0 = Without treatment / control, B1 = Bio organic herbafarm 3 ml, B2 = Bio organic herbafarm 6 ml, B3 = Bio organic herbafarm 9 ml. Then the data were analyzed statitistik and if F calculated is greater than F table, then proceed with testing Honestly Significant Difference (HSD) at the level of 5%. The results showed that a single treatment of the various varieties were not significantly different in all parameters of observation. The best treatment is herbafarm organic bio organic bio herbafarm B1 (3ml). While the interaction of various varieties and organic bio herbafarm administration significantly affect harvesting sweet corn crop. The best treatment is V3B3 (bonanza varieties and organic bio herbafarm 9ml (62.33 days).
Key word: bio organic herb farm, varieties
PENDAHULUAN
Jagung merupakan tanaman asli Benua Amerika, karena
jagung telah ditanam oleh suku indian jauh sebelum Benua Amerika ditemukan.
Tanaman pangan ini adalah makanan orang Indian. Daerah yang dianggap asal
tanaman jagung adalah Meksiko, karena ditempat tersebut ditemukan jenggel dan
biji jagung dalam gua-gua suku Indian (Purwono, 2007).
Biji jagung mengandung komponen nutrisi, seperti kalori
(33 kalori), protein (2,2 gram), lemak (0,1 gram), hidrat arang (7,4 gram),
kalsium (7 mg), besi (0,5 mg), vitamin A (200 SI), vitamin B1 (0,08 mg),
vitamin C (8 mg), air (89,5 gram). Zat ini dibutuhkan untuk pakan maupun proses
lainnya. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan usaha dalam bercocok tanam, agar
biji yang dihasilkan lebih banyak dan padat sesuai apa yang diinginkan.
Jagung termasuk bahan pangan penting karena merupakan
sumber karbohidrat kedua setelah beras. Sebagai salah satu sumber bahan pangan,
jagung telah menjadi komoditas utama setelah beras. Bahkan di beberapa daerah
di Indonesia, jagung dijadikan sebagai bahan pangan utama. Di samping sebagai
bahan pangan, jagung juga dikenal sebagai salah satu bahan baku untuk pakan
ternak dan industri. Dengan banyaknya manfaat tanaman jagung ini, maka perlu
dilakukan tindakan budidaya secara intensif.
Produksi jagung di Kabupaten Kuantan Singingi mengalami
degradasi dari tahun ke tahun, pada tahun 2008 produksi jagung mencapai 1290,04 ton/ha, sedangkan pada tahun 2009 produksi jagung hanya
mencapai 1180,91 ton pipilan kering/ha, penurunan produksi mencapai 109,13
ton/ha. Hal ini disebabkan tehnik budidaya yang kurang tepat, seperti
penggunaan pupuk yang belum sesuai dengan rekomendasi (Badan Pusat Statistik, 2010).
Jenis
jagung yang dikembangkan masyarakat pada umumnya adalah jagung biasa dan jagung
manis. Namun demikian, jagung yang banyak dikembangkan masyarakat dewasa ini
adalah jagung manis, karena rasanya yang manis dan enak. Sehingga permintaan
terhadap jagung manis meningkat dari waktu ke waktu. Untuk memenuhi permintaan
perlu di tingkatkan produksi jagung manis.
Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan produksi jagung manis adalah penggunaan bibit unggul, pemupukan
yang berimbang, pengolahan tanah yang baik dan penggunaan dosis pupuk sesuai
rekomendasi. Varietas unggul (jagung manis hibrida) adalah galur murni yang
berasal dari dua induk yang sudah diseleksi sifat unggulnya. Varietas hibrida
mempunyai satu atau lebih keunggulan khusus, seperti potensi hasil, tahan
terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap lingkungan, produksi tinggi,
tanaman berumur genjah 75-90 hari.
Varietas jagung hibrida diperoleh melalui seleksi, pada
saat penanaman perlu diadakan isolasi
dari tanaman jagung lainnya, agar kemurnian varietas unggul itu dapat
dipertahankan. Untuk aplikasinya perlu dicoba berbagai varietas jagung
manis yang dikombinasikan dengan
penggunaan pupuk.
Dengan adanya pupuk bio
organik herbafarm berupa produk sampingan dari olahan jamu PT. Sido Muncul dan didistribusikan
oleh PT. Nutriend International (Anak perusahaan PT. Sido Muncul), diperkaya dengan mikroba seperti
mikroba pelapuk atau pengurai,
yang menjaga keseimbangan rantai makanan di alam. Mikroba itu sekaligus berperan
dalam proses bioremediasi, yakni merombak senyawa- senyawa kimia pestisida atau
herbisida menjadi tidak
berbahaya bagi lingkungan (Anonimus, 2009).
Pupuk bio organik herbafarm
bukan hanya meningkatkan produksi budidaya
tanaman pangan seperti jagung. Jika diaplikasikan pada tanaman Hortikultura
seperti kentang, selada, terung, tomat, dan labu,
pupuk organik herbafarm juga mampu meningkatkan produksi termasuk tanaman
buah, perkebunan, kehutanan, dan tanaman
hias (Anonimus, 2009).
Tujuan di laksanakan penelitian ini adalah
Untuk mengetahui uji beberapa varietas terhadap
pertumbuhan dan produksi
jagung manis, untuk mengetahui pengaruh pemberian
bio organik herbafarm terhadap pertumbuhan
dan produksi jagung manis, dan untuk mengetahui interaksi uji
beberapa varietas dan pemberian pupuk bio organik herbafarm terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman
jagung manis.
BAHAN DAN
METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di
Desa Pulau Sipan Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Waktu yang digunakan
dalam penelitian ini adalah 4
bulan yang dimulai bulan Juni sampai September 2012.
Bahan dan Alat
Bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih Jagung manis diantaranya: Varietas Super sweet, Sweet boy 02, Bonanza
cap panah merah, Sevin 85 S, furadan 3G. Sedangkan alat yang digunakan adalah gergaji, cangkul, sabit, paku, Handsparayer, Cat, papan label, martil, timbangan, gembor, meteran, ember dan alat-alat lain yang mendukung penelitian.
Metode Penelitian
Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancang Acak Kelompok (RAK)
Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : V (Varietas) terdiri dari 3 taraf
dan B (Bio organik herbafarm) terdiri dari 4 taraf.
Faktor
Varietas (V) terdiri dari 3 taraf :
V1 = Varietas Super sweet
V2 = Varietas Sweet boy 02
V3 = Varietas Bonanza cap panah merah
Faktor pemberian bio organik herbafarm (B)
terdiri
dari 4 taraf :
|
B1 =
Pemberian bio organik herbafarm
= 3 ml/
liter
air = 0,3%
B2 =
Pemberian bio organik herbafarm = 6 ml/
liter
air = 0,6%
B3 =
Pemberian bio organik herbafarm = 9
ml/
liter
air = 0,9%
Kemudian
masing–masing data akhir dianalisis secara statistik, apabilah F hitung lebih besar dari F tabel, maka dilanjutkan dengan Uji
lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik ragam
menunjukkan bahwa perlakuan secara tunggal beberapa varietas tidak memberikan
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman. Sedangkan pemberian pupuk bio
organik herbafarm secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata tehadap tinggi
tanaman dan interaksi beberapa varietas dan pupuk bio organik herbafarm tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman.
Tabel 1. Hasil Rerata Tinggi Jagung Manis Dengan Uji
Beberapa Varietas dan Pemberian Bio Oganik Herbafarm (cm)
|
Faktor V
(Varietas)
|
Faktor B (Bio
organik herbafarm)
|
Rerata V
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
V1
|
134.78
|
189.06
|
150.33
|
187.06
|
165.31
|
|
V2
|
146.56
|
180.94
|
152.28
|
170.50
|
162.57
|
|
V3
|
166.22
|
168.72
|
139.83
|
163.89
|
159.67
|
|
Rerata B
|
149.19abc
|
179.57a
|
147.48bc
|
173.81ab
|
-
|
|
KK= 12,01%
BNJB = 31,13
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang di
ikuti huruf kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%
menurut Uji Lanjut BNJ.
Dilihat
dari Tabel di atas uji beberapa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap
tinggi tanaman jagung manis, karena dari deskripsi masing-masing varietas
menunjukkan bahwa : varietas super sweet tinggi tanaman 200 cm, sedangkan
varietas sweet boy tinggi tanaman 184 cm. Dari hasil penelitian menunjukkan
hasil yang diperoleh dibawah standar.
Tidak
berpengaruhnya berbagai varietas ini secara tunggal terhadap tinggi tanaman,
diduga karena curah hujan pada saat penelitian sangat kurang dan keadan ini
agak lama sehingga akan menghambat proses vegetatif dan pada akhirnya tanaman
jagung akan terhambat pertumbuhannya (Warisno, 1998).
Pemberian
bio organik herbafarm secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap
tinggi tanaman jagung. Hasil yang tertinggi adalah 179,57 cm yang dihasilkan
pada perlakuan B1 yaitu pemberian bio organik herbafarm 3 ml dan perlakuan yang
terendah adalah 147,48 cm yang dihasilkan pada perlakuan B2. Hal ini disebabkan
pupuk bio organik menyediakan unsur hara baik makro maupun mikro yang berperan
dalam penambatan maupun penyerapan hara oleh tanaman.
Dari
hasil analisis statistik sidik ragam pemberian bio organik herbafaram
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis. Berpengaruhnya
pemberian bio organik herbafarm ini diduga karena bio organik herbafarm
mempunyai hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman seperti Nitrogen, hormon
tanaman dan beberapa mikroba biofertilizer yang mampu dapat merangsang pertumbuhan
tanaman sehingga bio organik herbafarm berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman.
Menurut samekto (2006) dalam pupuk
daun ditambahkan unsur hara mikro dalam bentuk kelat, dengan zat adiktif cairan
ganggang dan atau asam humat sesuai dengan kebutuhan, supaya kandungan hara
esensialnya seimbang. Pupuk daun tidak hanya mengandung N,P dan K tetapi
mengandung hormon dan vitamin.
Umur Berbunga (hari)
Setelah dianalisis secara statistik
dari hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan tunggal beberapa varietas tidak
berpengaruh nyata terhadap umur berbunga jagung manis. perlakuan tunggal pupuk
bio organik herbafarm memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga
jagung manis dan interaksi beberapa varietas dan pemberian bio organik
herbafarm juga tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga tanaman jagung
manis.
Dari
Tabel uji beberapa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga
jagung manis, dilihat dari deskripsi varietas, varietas bonanza umur muncul
bunga 45 hari, hasil penelitian menunjukkan umur muncul bunga varietas ini
dibawah standar yaitu (47,33 hari). Dilihat dari deskripsi varietas sweet boy
umur muncul bunga yaitu 45 hari, hasil penelitian menunjukkan umur muncul bunga
tanaman ini (47,83) hari.
Umur
berbunga pada tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh suatu perlakuan saja, akan
tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan maupun genetik. Dimana fase vegetatif
menjadi generatif merupakan perubahan yang sangat besar karena struktur
jaringannya berbeda sekali
Perubahan
ini mencerminkan pemicu dari kelompok gen tertentu yang berperan dalam
pembungaan. Tanaman akan menghasilkan bunga bila zat cadangan dan juga
ditentukan oleh sifat tanaman dan faktor lingkungan. Umur berbunga tanaman
tidak akan berpengaruh nyata antara tanaman satu dengan tanaman lainnya. Karena
tanaman yang berasal dari varietas yang sama akan cendrung mempunyai sifat
yang sama pula (Lakitan, 2007).
Tabel 2.
Hasil Rerata Umur Berbunga Jagung Manis dengan Uji Beberapa Varietas dan
Pemberian Bio Organik Herbafarm (hari)
|
Faktor V
(Varietas)
|
Faktor B (Bio organik
herbafarm)
|
Rerata V
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
V1
|
49.00
|
44.33
|
47.33
|
46.33
|
46.75
|
|
V2
|
49.67
|
43.67
|
48.67
|
49.33
|
47.83
|
|
V3
|
47.33
|
44.33
|
49.33
|
48.33
|
47.33
|
|
Rerata B
|
48.67a
|
44.11d
|
48.45ab
|
48.00abc
|
-
|
|
KK =
3,67 BNJB = 2,76
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolam yang
diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut
Uji lanjut BNJ
Perlakuan
tunggal bio organik herbafarm secara
tunggal berpengaruh nyata terhadap umur berbunga jagung manis. Dimana perlakuan
tercepat berbunga adalah B1(3ml) yaitu 44,11 hari dan perlakuan B0 adalah perlakuan yang lama
berbunga yaitu 48,67 hari. Ini dikarenakan pemberian bio organik herbafarm dibutuhkan
dalam jumlah yang sedikit untuk mempercepat pembungaan hal ini sesuai dengan
kandungan bio organik herbafarm terdapat mikroba pelarut phosfat. Menurut
sutedjo (2008) unsur Phosfat berperan dalam membantu pertumbuhan protein dan
mineral yang sangat tinggi bagi tanaman, dapat mempercepat pertumbuhan akar,
dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman
dewasa, dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji dan juga dapat
meningkatkan produksi biji-bijian.
Dari
hasil analisis statistik sidik ragam pemberian bio organik herbafaram
berpengaruh nyata terhadap umur berbunga tanaman jagung manis. Hal ini di
sebabkan umur berbunga pada tanaman tidak hanya tergantung pada pemberian pupuk
akan tetapi ada faktor-faktor lain seperti lingkungan, sinar matahari maupun
dari sifat genetis tanaman tersebut. Dalam hal ini bahwa pupuk bio organik
herbafarm mengandung nutrisi organik yang bermanfaat bagi tanaman
Sesuai
dengan pendapat Jumin (1991) bahwa dengan adanya panas yang cukup, maka proses
pembentukan bunga dan buah dapat berjalan dengan sempurna yang akan melancarkan
proses pembentukan karbohidrat dan akan mempercepat reaksi-reaksi kimia atau
biokimia yang akan memacu pertumbuhan menjadi lebih baik terutama dalam
pembentukan buah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi umur berbunga dan umur
panen tanaman.
Interaksi
beberapa varietas dan pemberian bio organik herbafarm tidak berpengaruh nyata
terhadap umur berbunga, ini dikarenakan
kandungan unsur hara phosfat tidak mencukupi berinteraksi dengan
varietas jagung, karena unsur phosfat ini sangat dibutuhkan untuk pembungaan
dan mempercepat umur panen jagung manis
Umur Panen (hari)
Setelah dianalisis secara statistik
dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai varietas secara
tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen tanaman.
Sedangkan pemberian pupuk bio organik herbafarm secara tunggal maupun interaksi
dan berbagai varietas memberikan pengaruh yang nyata tehadap umur panen tanaman
jagung manis.
Dari Tabel 3 uji beberapa varietas
secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen jagung manis, hasil
penelitian menunjukkan umur panen jagung manis varietas super sweet 63,92 hari,
varietas sweet boy 64,33 hari dan varietas bonanza umur panen 64,33 hari. Tidak berpengaruhnya berbagai varietas
ini dikarenakan sifat genetik yang
terdapat pada tanaman tersebut dan curah hujan pada saat penelitian sangat
kurang dan keadaan ini berlangsung agak lama.
Menurut Warisno (1998) bila hujan
sangat kurang pada saat keluar malai dan
rambut pada tongkol, dapat mengakibatkan gagalnya penyerbukan dan merusak daun.
Tabel 3. Hasil Rerata Umur Panen Jagung Manis dengan
Uji Beberapa Varietas dan Pemberian Bio
Organik Herbafarm (hari)
|
Faktor V (Varietas)
|
Faktor B (Bio Organik
Herbafarm)
|
Rerata V
|
|||
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
||
|
V1
|
66.00ab
|
64.00abc
|
62.33abcd
|
63.33abc
|
63.92
|
|
V2
|
66.67abcd
|
63.00abc
|
63.67abc
|
64.00abc
|
64.33
|
|
V3
|
66.67a
|
62.67abcd
|
65.67ab
|
62.33abcd
|
64.33
|
|
Rerata B
|
66.44a
|
63.22b
|
63.89b
|
63.22b
|
-
|
|
KK =
1,60 BNJB = 2,04 BNJVB = 3,06
|
|||||
Angka-angka
pada baris dan kolam yang diikuti hurup kecil yang sama adalah tidak berbeda
nyata pada taraf 5% menurut Uji lanjut BNJ
Pemberian
bio organik herbafarm secara tungggal berpengaruh nyata terhadap umur panen
jagung manis dikarenakan pupuk bio organik herbafarm dapat menyediakan hara
esensial bagi tanaman, merangsang pertumbuhan tanaman dan memperkokoh batang
tanaman serta memacu pertumbuhan tanaman dan juga dapat menambat N yang
dibutuhkan oleh daun tanaman. .
Berdasarkan
Tabel diatas, pemberian bio organik herbafarm secara tunggal berpengaruh nyata
terhadap umur panen, perlakuan terbaik adalah perlakuan B1 yaitu 63,22 hari
(Bio organik herbafarm 3ml). Perlakuan terendah adalah perlakuan B0 yaitu 66,44
hari. Ini menunjukkan perlakuan B1 sangat berbeda nyata dengan perlakuan
lainnya. Jadi dengan perlakuan 1ml bio organik herbafarm dapat mempercepat umur
panen.
Perlakuan
bio organik ini berpengaruh nyata terhadap umur panen diduga karena kandungan
unsur hara dan mikro makro yang terdapat dalam bio organik herbafarm yang dapat
memperpendek masa panen, memperpanjang umur produksi tanaman dan memperbaiki
kualitas, daya tahan buah serta kuantitas hasil panen (Anonimus, 2009).
Menurut Partohardjono (1980)
mengatakan lamanya pertumbuhan vegetatif memberikan kesempatan pada tanaman
untuk menumpuk hasil fotosintesis lebih besar dan kemungkinan memperpanjang
umur panen, bila faktor lingkungan seperti cahaya, suhu dan air yang saling
menunjang. Karena umur
suatu tanaman juga ditentukan
oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.
Berpengaruhnya interaksi beberapa
varietas dan pemberian bio organik herbafarm terhadap umur panen tanaman jagung
ini diduga karena unsur hara yang ada dalam bio organik herbafarm dapat diserap
oleh tanaman dan dosis yang digunakan sesuai dengan varietas jagung manis,
sehingga bio organik herbafarm ini dapat
mempercepat umur panen tanaman jagung. Hal ini sesuai dengan manfaat herbafarm
sebagai pelarut P. Unsur P sangat diperlukan untuk mempercepat panen tanaman.
Hasil Perplot (gram)
Setelah dianalisis secara statistik dari hasil sidik
ragam (Lampiran 6k) menunjukan bahwa pemberian bio organik herbafarm secara
tunggal dan beberapa varietas tanaman jagung manis tidak berpengaruh nyata
terhadap hasil perplot tanaman jagung manis, demikian juga interaksi pemberian
bio organik herbafarm dan beberapa
varietas tidak memberikan pengaruh nyata terhadap hasil perplot.
|
Faktor V
|
Faktor B(Bio Organik
Herbafarm)
|
Rerata V
|
|||
|
(Varietas)
|
B0
|
B1
|
B2
|
B3
|
|
|
V1
|
465.00
|
490.00
|
596.67
|
595.00
|
536.67
|
|
V2
|
530.00
|
513.33
|
503.67
|
491.67
|
509.67
|
|
V3
|
452.67
|
500.00
|
497.67
|
567.33
|
504.42
|
|
Rerata B
|
482.56
|
501.11
|
532.67
|
551.33
|
-
|
Tabel 4. Hasil Rerata Perplot Jagung Manis Dengan Uji
Beberapa Varietas dan Pemberian Bio Organik Herbafarm (gram)
Dari Tabel 4 di atas dapat
dilihat bahwa perlakuan tunggal beberapa varietas dan perlakuan bio organik
herbafarm secara tunggal maupun interaksi beberapa varietas dan bio organik
herbafarm tidak berpengaruh nyata terhadap hasil perplot.
Menurut
Warisno (1998) tidak berpengaruhnya beberapa varietas ini terhadap hasil
perplot, karena faktor curah hujan, pada waktu penelitian hujan sangat kurang
dan keadaan ini agak lama demikian udara yang panas disertai suhu tinggi,
kelembaban rendah akan mengakibatkan malai keluar lebih awal sehingga
pembentukan bunga jantan sampai pengisian dan pemasakan biji menjadi sedikit
pada akhirnya akan mempengaruhi hasil perplot tanaman jagung, menyebabkan
tongkol jagung menjadi ringan dan hasil yang didapat juga rendah
Pemberian
bio organik herbafarm secara tunggal juga tidak berpengaruh nyata terhadap
hasil perplot jagung. karena unsur P dalam herbafarm sangat sedikit sehingga
belum mencukupi kebutuhan tanaman untuk berproduksi. Ketersediaan unsur P yang
cukup pada periode awal pertumbuhan akan
berpengaruh terhadap pembentukan bagian reproduktif tanaman. Jika suplai P
terbatas tidak saja akan menyebabkan pertumbuhan yang terhambat tetapi juga
kualitas, kuantitas dan waktu panen.
Menurut
Hanafiah (2010) unsur P sangat di butuhkan tanaman dalam penyediaan energi
kimiawi yang terlibat dalam produksi
panas, cahaya dan gerak. Respon tanaman terhadap unsur ini terutama
terlihat pada sistem perakaran, pertumbuhan secara umum, mutu dan total produksi.
Unsur P ini juga berperan vital dalam pembentukan biji dan buah sehingga pupuk
P juga disebut sebagai pupuk buah.
Perlakuan beberapa varietas dan pemberian pupuk bio organik herbafarm secara
interaksi tidak berpengaruh nyata
terhadap hasil perplot. Hal ini
disebabkan oleh kekurangan unsur hara dalam pembentukan biji terutama unsur
hara P yang sedikit dan tidak tercukupi untuk
kebutuhan tanaman jagung dalam pembentukan biji dan buah sehingga
menyebabkan tidak berpengaruh nyata terhadap hasil
perplot (Hanafiah, 2010).
Menurut Effendi (1970)
peran unsur P dalam tanaman yaitu pada pembentukan biji, senyawa-senyawa
phosfat yang tersimpan di daun, batang dan jenggel dipindahkan dan disimpan di
biji. Kekurangan unsure ini waktu berbunga mengakibatkan perkembangan stigma
yang tidak sempurna demikian juga halnya dengan jenggel, barisan biji akan
menjadi tidak beraturan dan banyak yang tidak berisi.
KESIMPULAN
DAN SARAN
1.
Uji beberapa varietas (V) tidak
berpengaruh terhadap semua parameter pengamatan yaitu tinggi tanaman,
umur berbunga, umur panen dan hasil
perplot jagung manis.
2.
Pemberian bio organik herbafarm (B) berpengaruh nyata terhadap
tinggi tanaman perlakuan terbaik B1 (Bio organik herbafarm 3ml yaitu 179,57cm),
umur berbunga perlakuan terbaik B1 (Bio organik herbafarm 3ml yaitu 44,11 hari)
dan umur panen perlakuan terbaik B1 (Bio organik herbafarm 3ml yaitu 63,22
hari).
3.
Interaksi beberapa varietas dan bio organik herbafarm berpengaruh
nyata terhadap umur panen jagung manis hasil terbaik adalah V3B3 ( varietas
bonanza 62,33 hari).
DAFTAR PUSTAKA
Agromedia, R. 2007. Budidaya Jagung Hibrida,. Jakarta.
Aksi Agraris Kanisius. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung, Kanisius, Yogyakarta.
Anonimus. 2002. Sweet
corn. Penerbit swadaya. Jakarta
Anonimus. 2009. herbafarm solusi tuntas pertanian xl
481, Desember http:// www.google.co.id/ search?g =
(Diakses 23 Desember 2012)
Anonimus. 2010. Pupuk-
herbafarm. html. http://www.
Googl.Co.id.search/g? (Di
akses 23 Desember 2012)
Badan
Pusat Statistik, 2010, Survei Lapangan Produksi Jagung, Kabupaten Kuantan Singingi.
Deptan. 2009. balitsereal litbang. Deptan
go.id/ind/images/stories deskripsi 06 pdf http://www.googl.co.id.search//g? (Di
akses 20 September 2012)
Dinas Tanaman Pangan Propinsi Riau, 2008, Prospek dan Peluang Agrobisnis Jagung,
Pekanbaru
Dwijoseputro, D. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan.
PT.Gramedia. Jakarta
Effendi, S. 1970. Bercocok tanam jagung. Jakarta:
penerbit CV. Yasaguna jakarta
Gardner,
F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell, 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Diterjemahkan
oleh H.Susilo. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Hanafiah, A. K., 2010. Dasar-dasar Ilmu Tanah, Jakarta
: Rajawali Pers
Harjadi, S. S. 1984. Pengantar Agronomi. PT Rajawali
Press. Jakarta
Iskandar, D.2003. Pengaruh Dosis Pupuk N,P dan K Terhadap pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung manis Dilahan Kering.J.
Saint Dan Teknologi BPPT, Vol 2 :1
Jumin,
H. B. 1991. Ekofisiologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Pers.
Jakarta.
Lakitan, B. 2007. Dasar-dasar
fisiologi tumbuhan. Penerbit. Raja grafindo. Persada. Jakarta. 205 hal
Makmur, A. 2003. Pemuliaan Tanaman bagi Lingkungan
Spesifik. IPB Press, Bogor.
Mentan. 2000. Jagung manis super Jenis file: pdf/ Adobe
acrobat http:// directory.ung.ac.id / (Diakses 23 Desember 2012)
Mentan. 2005. Perundangan Deptan.Go.Id/admin/ k
Mentan/ SK-456-05.pdf http://www. Googl.Co.id.search/g? (Di akses 23
Desembar 2012)
Partohardjono. 1980. Morfologi dan Fisiologi Padi. Puslitbangtan. Bogor.
Prabowo,
A. Y. 2007. Teknis Budidaya : Budidaya
Jagung. http://teknis- budidaya-jagung.html/07/04/2011
Purwono, dan Rudi Hartono, 2005. Bertanam Jagung Unggul-cet 1.- Jakarta : Penebar
Swadaya, 2005.
Purwono. 2007, Budidaya
8 jenis tanaman pangan unggul, Penebar Swadaya, Jakarta.
Salisbury., C. B. dan C.W.Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Penerbit ITB,
Bandung.
Samekto, R, MP, 2006. Pupuk daun. PT Citra AJI PARAMA, Cet. Pertama. Yogyakarta. 55221.
Sentosa. 2010. Aflikasi herbafarm pada tanaman jagung http// www.googl.co.id/search?g (diakses 15 september 2012)
Soegiman.1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara.
Jakarta
Sutedjo. 2008. Pupuk
dan Cara Pemupukan, PT Rinika Cipta, Jakarta.
Warisno. 1998. Jagung Hibrida. Seri Budi Daya, Penerbit
Kanisius, Yogyakarta. 81 p.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar