PENGARUH KONSENTRASI IAA (Indole Acetic Acid) DAN KINETIN
TERHADAP
PERTUMBUHAN SUB
KULTUR JARINGAN PISANG KEPOK (Musa paradisiaca L)
SECARA
IN-VITRO
Yoyon Riono, Rover dan
Tri Nopsagiarti
Prodi
Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl.
Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Fax (0760)7014730 Teluk Kuantan
ABSTRACT
The study was
carried out at the Laboratory of Plant Biotechnology Faculty of Agriculture,
University of Islam Riau Pekanbaru. The timing of the study during the three
months from November 2102 to January 2013. The design used in this study is the
factorial experiment in completely randomized design (CRD), which consists of
two factors and three replications. The first factor is the provision of IAA :
A0 (0 ppm), A1 (1 ppm), A2 (2 ppm), and A3 (3 ppm). While the second factor is
the provision of Kinetin : K0 (0 ppm), K1 (2 ppm), K2 (4 ppm), and K3 (6 ppm).
From the results of this study concluded that the provision of various
concentrations of IAA treatment and provision of various concentrations of
Kinetin treatment singly provide significant effect on all parameters of the
observations with the best treatment K3 (6 ppm kinetin administration) that
life emerged shoots (9:22 today), number of shoots K0 (3.94 fruit), shoot
height K3 (7:36 cm), root number K2 (15:44 fruit) and K2 root length (5.66 cm).
The interaction of treatment provision of various concentrations of IAA and
Kinetin gave significant effect on the age of the observation parameters appear
shoots with the best treatment in the combination treatment A0K1 (without
giving IAA and Kinetin giving 2 ppm), namely age emerged shoots (6.11 days) and
significantly affected the number of parameters shoots A1K0 (2:11 fruit) and
shoot height A3K3 (10.00 cm) and number of roots A3K0 (21:11 cm) and A2K3 root
length (8.93 cm).
Key words :
Pisang Kepok, IAA (Indol Acetic Acid), Kinetin, in-vitro.
PENDAHULUAN
Produksi buah pisang di Indonesia
menduduki urutan pertama diantara buah-buahan tropika yang lain (BPS 2008),
walaupun pernah mengalami penurunan drastis dari 3.805.431 ton pada tahun 1995
menjadi 3.023.485 ton di tahun 1996 dan 3.376.660 ton di tahun 2000. Hal
tersebut berpengaruh pada volume ekspor pisang; dari 76.982 ton di tahun 1998
menurun menjadi 2.222 ton di tahun 2000 (BPS 2000). Dari tahun 2001 sampai 2005
terjadi peningkatan produksi pisang berturut-turut adalah 4.300.422, 4.384.384,
4.177.155, 4.874.439 dan 5.177.608 ton (BPS 2005). Produksi pisang tahun 2008
meningkat menjadi 6.004.615 ton/tahun (BPS 2008) dan tahun 2009 menjadi
6.373.533 ton/tahun.
Dewasa ini,
kendala pengadaan bibit unggul secara konvensional adalah sulit mendapatkan
bibit yang berkualitas dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat, dengan demikian salah satu teknik yang terapkan
adalah teknik kultur jaringan, dimana teknik ini merupakan keunggulan
perbanyakan tanaman, melalui teknik kultur jaringan sangat dimungkinkan
mendapatkan bahan tanam dalam jumlah besar dalam jumlah singkat (Priyono et al., 2000).
Teknik kultur
jaringan akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan bagi proses pembiakan tersebut dapat
terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi beberapa hal berikut ini : Pemilihan
eksplan atau bahan tanaman, penggunaan media yang cocok, keadaan aseptik dan
pengaturan udara yang baik (Nugroho dan Sugito, 2002).
Menurut
Gunawan (1990), dari sekian banyak jenis media dasar yang digunakan dalam
teknik kultur jaringan, tampaknya media MS (Murashige-Skoog) mengandung jumlah
hara organik yang layak untuk memenuhi kebutuhan banyak jenis sel tanaman dalam
kultur jaringan.
Media tanam
memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan kultur jaringan. Dalam
media tanam kultur jaringan terdapat penambahan zat pengatur tumbuh. Tanaman
membutuhkan zat pengatur tumbuh alami (fitohormon) untuk proses pertumbuhan,
yaitu zat pengatur tumbuh auksin dan sitokonin. Zat pengatur tumbuh berfungsi
merangsang pertumbuhan tanaman, misalnya pertumbuhan akar, tunas, perkecambahan
dan sebagainya (Hendrayono dan Wijayani, 1994).
Zat pengatur
tumbuh golongan auksin terdiri dari Indol Asam Asetat (IAA), Indol Asam Butirat
(IBA), Naftalen Asam Asetat (NAA), dan 2,4 D. Zat pengatur tumbuh dalam
golongan Sitokonin terdiri dari Kinetin, Zeatin, Ribosil dan Benzil Aminopurin
(BAP) (Hendrayono dan Wijayani, 1994). Dalam pertumbuhan jaringan, sitokinin
bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap deferensiasi
jaringan (Hendrayono dan Wijayani, 1994).
Dalam kultur
jaringan, golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting adalah sitokinin dan
auksin (Gunawan, 1990), salah satunya adalah
IAA (Indol Asam Asetat) adalah zat pengatur tumbuh yang tergolong
kedalam auksin. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukan bahwa
auksin dapat meningkatkan sintesa protein. Dengan adanya kenaikan sintesa
protein, maka dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan.
Kinetin
(6-fufury amino purine) tergolong zat pengatur tumbuh dalam kelompok sitokonin.
Kinetin adalah kelompok sitokinin yang berfungsi untuk pengaturan pembelahan
sel dan morfogenesis. Dalam pertumbuhan jaringan tanaman, sitokinin
bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap deferensiasi
jaringan (Sriyanti dan Wijayani, 1994)
Komposisi
auksin dan sitokinin dalam media kultur jaringan memainkan peranan penting
dalam induksi dan regenerasi kalus menjadi tunas, pada eksplan tembakau yang
digunakan adalah daun muda yang ditanam pada media MS (Murashig-Skoog), yaitu
pada 2 : 3 telah berhasil menginduksi tunas dan akar
Tujuan dari
penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi IAA terhadap
pertumbuhan sub kultur jaringan pisang kepok secara in vitro (2) Untuk
mengetahui pengaruh konsentrasi Kinetin terhadap pertumbuhan sub kultur
jaringan pisang kepok secara in vitro (3) Untuk mengetahui pengaruh interaksi
konsentrasi IAA dan Kinetin terhadap pertumbuhan sub kultur jaringan pisang
kepok secara in vitro
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian
ini telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Islam Riau Jalan Kaharudin Nasution Km 113 Kelurahan Simpang Tiga,
Kecamatan Bukit Raya, Marpoyan, Kota Pekanbaru. Waktu penelitian ini
dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari bulan Nopember 2012 sampai Januari
2013.
Bahan dan Alat
Bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tunas subkultur pisang
kepok (hasil inisiasi dari tim laboratorium bioteknologi UIR) yang telah
disubkultur selama tiga bulan, bahan kimia Media Murashige-Skoog, aquades
steril, Alkohol 96%, vitamin, agar swallow, glukosa, tissue gulung, plastik
ukuran 1 kg IAA, Kinetin, deterjen, kertas tisu, kertas label, karet gelang,
label nama dan bahan-bahan lain yang
mendukung penelitian ini.
Sedangkan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laminar air flow cabinet, autoclave, timbangan analitik,
erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, petridish, jarum injeksi, pipet, pengaduk
kaca, pinset, scapel, lampu spritus, hand
sprayer, pisau, pH meter, botol kultur, kompor gas, panci berlapis enamel,
lemari penyimpan bahan kimia, tabung reaksi, labu ukur, gunting, rak kultur,
ember plastik, alat tulis dan alat-alat lain yang mendukung penelitian ini.
Rancangan Penelitian
Faktor
pertama (A) adalah IAA yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu :
A0 : Tanpa pemberian IAA
A1 : Pemberian IAA 1 ppm
A2 : Pemberian IAA 2 ppm
A3 : Pemberian IAA 3 ppm
Faktor kedua (K) adalah Kinetin
yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu :
K0
: Tanpa Pemberian Kinetin
K1 : Pemberian Kinetin 2 ppm
K2 : Pemberian Kinetin 4 ppm
K3 : Pemberian Kinetin 6 ppm
Seluruh
data dianalisis secara statistik dan diuji lanjut dengan uji lanjut Beda Nyata
Jujur (BNJ) Taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur Muncul Tunas (Hari)
Berdasarkan hasil
analisis sidik ragam dari data parameter Umur muncul tunas, pemberian berbagai
konsentrasi IAA berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas eksplan pisang
Kepok. Pemberian berbagai konsentrasi Kinetin juga berpengaruh nyata terhadap
umur eksplan pisang Kepok. Serta secara interaksi pemberian IAA dan Kinetin
juga berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas. Untuk lebih jelasnya
mengenai hasil pengamatan umur bertunas setelah dilakukan uji lanjut BNJ pada
taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Rerata
Umur Muncul Tunas (HST) Eksplan Pisang Kepok dengan perlakuan
konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
|
Konsentrasi
IAA
(ppm)
|
Konsentrasi
Kinetin (ppm)
|
Rerata
|
|||
|
K0
(0)
|
K1
(2)
|
K2
(4)
|
K3
(6)
|
||
|
A0
(0)
|
20.89 e
|
6.11 a
|
8.44 ab
|
9.00
b
|
11.11
c
|
|
A1
(1)
|
7.00 ab
|
16.33 d
|
17.55 d
|
6.56
ab
|
11.86
c
|
|
A2
(2)
|
7.33 ab
|
6.56 ab
|
11.00 bc
|
8.00
ab
|
8.22
a
|
|
A3
(3)
|
7.11 ab
|
8.78 ab
|
8.11 ab
|
13.33
c
|
9.33
b
|
|
Rerata
|
10.58
b
|
9.45
a
|
11.28
b
|
9.22
a
|
|
|
KK
= 9,82% BNJ A =
1,06 BNJ K = 1,06 BNJ AK = 2,94
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama
tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf 5%.
Secara
tunggal, pemberian konsentrasi IAA A2 (2 ppm) berbeda nyata dengan A3 (3 ppm)
A1 (1 ppm) A0 (tanpa IAA), sedangkan pemberian konsentrasi IAA A0 (tanpa IAA)
tidak berbeda nyata dengan A1 (1 ppm). Perlakuan IAA yang paling cepat
bertunasnya adalah A2 yaitu 8.22 HST diikuti oleh A3 dengan umur bertunas 9.33
HST kemudian A0 dengan umur bertunas 11.11 HST dan yang paling rendah adalah A1
dengan umur bertunas 11.86 HST.
Menurut
Lingga (1996) bahwa zat pengatur tumbuh merupakan senyawa oganik yang dalam
jumlah tertentu dapat mendukung atau menghambat proses pertumbuhan fisiologis
tanaman, juga berpengaruh terhadap aspek pertumbuhan, diferensiasi jaringan
maupun organ.
Dari tabel juga dapat dilihat bahwa
pemberian Kinetin secara tunggal K3 (6 ppm) dan K1 (2 ppm) berbeda nyata dengan
K0 (tanpa Kinetin) dan K2 (4 ppm). Perlakuan terbaik untuk umur tunas terdapat
pada perlakuan K3 yaitu 9.22 hari pada penelitian ini konsentrasi Kinetin yang
tinggi dapat mempercepat pertumbuhan tunas dan tunas-tunas yang dihasilkan
dengan konsentrasi 6 ppm 9.22 hari, K1 (2 ppm) 9.45 hari, menghasilkan tunas
yang lebih kokoh bila dibandingkan dengan perlakuan K0 (10.58 hari). Sedangkan
perlakuan K2 (4 ppm) pertumbuhan tunasnya terganggu karena kinetin yang
diberikan jumlahnya lebih rendah dan tunas-tunas yang dihasilkan lebih pendek,
hal ini diduga konsentrasi kinetin 4 ppm tidak
mampu untuk pembelahan sel, ini jelas terlihat bahwa dalam kultur
jaringan pisang kepok menginginkan konsentrasi relative tinggi yaitu 6 ppm, hal
ini menunjukan bahwa semakin tinggi pemberian kinetin maka akan semakin
meningkat pula pertumbuhan tunas eksplan pisang kepok.
Dari tabel 1, secara interaksi hasil
tercepat eksplan Pisang Kepok mengeluarkan tunas adalah pada perlakuan A0K1 (0
ppm IAA dan 2 ppm Kinetin) yaitu 6.11 HST dan perlakuan yang lama umur muncul
tunas adalah pada perlakuan A0K0 (tanpa IAA dan tanpa Kinetin) 20.89 HST.
Jumlah Tunas (buah)
Berdasarkan
hasil analisis sidik ragam dari data
hasil pengamatan parameter Jumlah Tunas, maka perlakuan secara tunggal IAA
berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas dan pemberian Kinetin secara
tunggal juga berpengaruh nyata terhadap
jumlah tunas pada eksplan pisang kepok. Secara interaksi terlihat bahwa
pemberian konsentrasi IAA dan Kinetin juga berpengaruh nyata terhadap jumlah
tunas. Untuk lebih jelasnya mengenai hasil pengamatan jumlah tunas setelah
dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2. Rerata Jumlah Tunas (buah) Eksplan Pisang Kepok dengan perlakuan konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
|
Konsentrasi
IAA
(ppm)
|
Konsentrasi
Kinetin (ppm)
|
Rerata
|
|||
|
K0
(0)
|
K1
(2)
|
K2
(4)
|
K3
(6)
|
||
|
A0
(0)
|
2.56
cd
|
2.11
d
|
2.78
cd
|
2.89
cd
|
2.58
c
|
|
A1
(1)
|
5.11
a
|
2.44
cd
|
2.78
cd
|
5.00
ab
|
3.83
a
|
|
A2
(2)
|
3.11
c
|
4.00
b
|
2.89
cd
|
2.11
d
|
3.03
b
|
|
A3
(3)
|
5.00
ab
|
4.78
ab
|
2.56
cd
|
2.11
d
|
3.61
a
|
|
Rerata
|
3.94
a
|
3.33
b
|
2.75
c
|
3.03
bc
|
|
|
KK
= 9,20% BNJ A =
0,30 BNJ K =
0,30 BNJ AK = 0,87
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama
tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf 5%.
Pemberian
konsentrasi IAA pada perlakuan A3 (3 ppm) dan A1 (1 ppm) berbeda nyata dengan
A2 (2 ppm) dan A0 (tanpa IAA). Jumlah tunas yang paling banyak terdapat pada
perlakuan A1 dengan jumlah tunas 3.83 buah dan diikuti oleh A3 dengan jumlah
tunas 3.61 buah, kemudian A2 dengan jumlah tunas 3.03 buah dan terakhir A0
dengan jumlah tunas 2.58 buah. Dari tabel dapat dilihat bahwa pemberian IAA
pada konsentrasi yang lebih rendah menghasilkan jumlah tunas yang banyak A1 dan
begitu juga eksplan pisang kepok yang konsentrasi nya tinggi A3 juga
menghasilkan tunas yang banyak namun IAA yang konsentrasinya sedang A2 dan
tanpa diberi IAA A0 mengalami
pertumbuhan tunas sedikit. Berarti eksplan pisang kepok menginginkan IAA yang
rendah yaitu 1 ppm atau IAA yang tinggi yaitu 3 ppm dalam memperbanyak jumlah
tunasnya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (1995) yang mengemukakan bahwa
pemberian zat pengatur tumbuh harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dengan
mengikuti konsentrasi anjuran, hal ini juga di karenakan IAA adalah sejenis hormon
auksin yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru karena
auksin terdapat pada pucuk-pucuk tunas muda atau pada jaringan meristem di
pucuk, hormon auksin juga berfungsi untuk merangsang daya kerja akar sehingga
dapat memenuhi kebutuhan makanan untuk perbanyakan jumlah tunas.
Pemberian konsentrasi Kinetin
pada perlakuan K0 (tanpa kinetin) dan K3 (6 ppm) berbeda nyata dengan K1 (2
ppm) dan K2 (4 ppm). Dilihat dari angka, perlakuan yang paling banyak jumlah
tunasnya adalah K0 dengan jumlah tunas 3.94 buah dan diikuti oleh K3 dengan
jumlah tunas 3.03 buah kemudian K1 dengan jumlah tunas 3.33 buah dan yang
paling sedikit jumlah tunasnya adalah K2 dengan jumlah tunas 2.72 buah.
Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan K0 (tanpa kinetin) hal ini diduga
fitohormon yang terdapat didalam tanaman mampu membentuk tunas walaupun tidak
ditambahkan zat pengatur tumbuh
Utami (1998) mengemukakan bahwa
sitokinin berperan memacu terjadinya sintesis RNA dan protein pada jaringan
yang selanjutnya dapat mendorong terjadinya pembelahan sel. Selain itu juga
dapat memacu jaringan untuk menyerap air dari sekitarnya sehingga proses
sintesis protein dan pembelahan sel dapat berjalan dengan baik.
Secara interaksi dapat dilihat bahwa perlakuan A1K0 yang merupakan
perlakuan terbaik dengan jumlah tunas 5.11 buah tidak berbeda nyata dengan
perlakuan A1K3, A3K0, dan A3K1 namun berbeda nyata dengan A2K1, A2K0, A0K3,
A2K2, A1K2, A0K2, A3K2, A0K0, A1K1, A3K3, A2K3, A0K1, jumlah tunas yang paling
sedikit terdapat pada perlakuan A0K1 dengan junlah tunas 2.11 buah
Tinggi tunas
Berdasarkan analisis
sidik ragam, pemberian utama konsentrasi IAA secara tunggal berpengruh nyata
terhadap tinggi tunas dan pemberian secara tunggal Kinetin juga memberikan
pengaruh nyata terhadap tinggi tunas pada eksplan pisang kepok. Serta secara
interaksi pemberian konsentrasi IAA dan Kinetin berpengaruh nyata terhadap
tinggi tunas. Untuk lebih jelasnya mengenai hasil pengamatan tinggi tunas
setelah dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut
ini.
Tabel 3. Rerata Tinggi Tunas (cm) Eksplan Pisang Kepok dengan perlakuan konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
|
Konsentrasi
IAA
(ppm)
|
Konsentrasi
Kinetin (ppm)
|
Rerata
|
|||
|
K0 (0)
|
K1 (2)
|
K2 (4)
|
K3 (6)
|
||
|
A0
(0)
|
4.32 c
|
6.20 bc
|
5.00 c
|
4.96 c
|
5.12 c
|
|
A1
(1)
|
5.08 c
|
5.12 c
|
5.57 c
|
7.45 b
|
5.81 b
|
|
A2
(2)
|
5.40 c
|
5.02 c
|
4.89 c
|
7.02 b
|
5.58 b
|
|
A3
(3)
|
6.20 bc
|
7.29 b
|
8.00 b
|
10.00 a
|
7.87 a
|
|
Rerata
|
5.25.c
|
5.91 b
|
5.86 b
|
7.36 a
|
|
|
KK =
7.36% BNJ A = 0.45 BNJ K = 0.45 BNJ AK = 1.29
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama
tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf 5%.
Secara tunggal, pemberian konsentrasi IAA 3 ppm (A3) berbeda nyata dengan
A1 (1 ppm), A2 (2 ppm) dan A0 (0 ppm), dilihat dari tinggi tunas tertinggi
terdapat pada perlakuan A3 yaitu dengan tinggi tunas 7.87 cm , diikuti A2
dengan tinggi tunas 5.85 cm kemudian A1 dengan tinggi tunas 5.81 cm dan
terendah adalah A0 dengan tinggi tunas 5.12 cm.
Abidin (1995) mengemukakan bahwa zat pengatur tumbuh
merupakan senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam konsentrasi yang
berbeda dapat merangsang, menghambat atau merubah tanaman secara kualitatif
maupun kuantitatif. Zat pengatur tumbuh IAA merupakan golongan auksin
disintesis yang paling sering digunakan dalam in-vitro.
Pemberian
konsentrasi Kinetin pada perlakuan K3 (6 ppm) berbeda nyata dengan K1 (2 ppm),
K2 (4 ppm) dan K0 (tanpa Kinetin). Perlakuan Kinetin yang paling tinggi tunasnya
adalah K3 yaitu 7.36 cm diikuti K1 dengan tinggi tunas 5.91 cm dan diikuti K2
dengan tinggi tunas 5.85 cm dan yang paling rendah adalah K0 (tanpa Kinetin)
Dari hasil penelitian Wilkins (1992) dalam Sutriana (2010) mengemukakan bahwa
pertumbuhan tunas tanaman terutama tinggi merupakan hasil pendayagunaan
fotosintesis yang ada didalam tanaman, kemudian pada sel terjadi proses
metabolisme sehingga sel-sel tanaman terus berkembang dan bertambah tunasnya,
kegiatan tersebut dapat aktif dengan adanya pemberian zat pengatur tumbuh pada
tanaman.
Secara
interaksi perlakuan A3K3 yang merupakan perlakuan terbaik berbeda nyata dengan
semua perlakuan yaitu A3K2, A1K3, A3K1, A2K3, A0K1, A3K0, A1K2, A2K0, A1K1,
A1K0, A2K1, A2K0, A0K3, A2K2, A0K0. Tinggi tunas yang paling tinggi adalah A3K3
dengan tinggi tunas 10.00 cm dan tunas terendah adalah A0K0 dengan tinggi tunas
4.32 cm, hal ini menggambarkan bahwa eksplan pisang kepok untuk pertumbuhan
tunas, IAA tinggi dan kinetin tinggi. Sedangkan tanpa pemberian IAA dan tanpa
pemberian kinetin pertumbuhan tunas pisang kepok terganggu dan menyebabkan
eksplannya menjadi kerdil.
Jumlah Akar
Berdasarkan
hasil analasis sidik ragam, dari data hasil pengamatan parameter Jumlah Akar,
maka perlakuan secara tunggal IAA, berpengaruh nyata terhadap jumlah akar dan
pemberian Kinetin secara tunggal juga
berpengaruh nyata terhadap jumlah akar pada eksplan pisang kepok. Secara interaksi antara
pemberian konsentrasi IAA dan Kinetin juga berpengaruh nyata terhadap jumlah
akar. Untuk lebih jelasnya mengenai hasil pengamatan jumlah akar setelah
dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4. Rerata Jumlah Akar
(buah)
Eksplan Pisang Kepok dengan perlakuan konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
|
Konsentrasi
IAA
(ppm)
|
Konsentrasi
Kinetin (ppm)
|
Rerata
|
|||
|
K0 (0)
|
K1 (2)
|
K2 (4)
|
K3 (6)
|
||
|
A0
(0)
|
13.33 c
|
11.67 c
|
14.44 bc
|
13.00 c
|
13.11 b
|
|
A1
(1)
|
5.22 d
|
5.33 d
|
8.56 cd
|
12.22 c
|
7.83 c
|
|
A2
(2)
|
15.55 b
|
8.33 cd
|
20.00 a
|
9.33 cd
|
13.30 b
|
|
A3
(3)
|
21.11 a
|
15.00 bc
|
18.78 ab
|
15.00 bc
|
17.47 a
|
|
Rerata
|
13.80 b
|
10.08 d
|
15.44 a
|
12.39 c
|
|
|
KK =
8.98% BNJ A = 1.25 BNJ K = 1.25 BNJ AK = 3.46
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama
tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf 5%.
Secara tunggal, pemberian konsentrasi IAA A3
(3 ppm) berbeda nyata dengan A2 (2 ppm), A0 (0 ppm) dan A1 (1 ppm). Perlakuan
IAA yang paling banyak jumlah akarnya adalah A3 yaitu 17.47 buah diikuti oleh
A2 yaitu 13.30 buah kemudian A0 dengan jumlah akar 13.11 buah dan paling
sedikit adalah A1 dengan jumlah akar 7.83 buah.
George dan Sherington (1984)
menyatakan auksin berpengaruh luas terhadap pertumbuhan, merangsang dan
mempercepat pertumbuhan akar, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas akar.
Pemberian
konsentrasi Kinetin pada perlakuan K2 (4 ppm) berbeda nyata dengan K0 (tanpa
kinetin) dan K3 (6 ppm) dan K1 ( 2 ppm). Angka tertinggi pada jumlah akar K2
yaitu 15.44 buah dan menginginkan kinetin yang sedang untuk pertumbuhan jumlah
akarnya dan jumlah akar yang dihasilkan dengan konsentrasi K2 (4 ppm)
menunjukan pertumbuhan yang baik, akarnya banyak dan bagus-bagus kalau dilihat
dan dibandingkan dengan K0 (tanpa kinetin) 13.30 buah yang sifat pertumbuhannya
sedikit. Sedangkan K1 (2 ppm) 10.08 buah, K3 (6 ppm) 12.39 buah pertumbuhan
jumlah akarnya terganggu , ternyata untuk pertumbuhan jumlah akar tidak cocok
untuk diberikan dalam jumlah sedang.
Dimana
Kinetin (sitokinin) dalam berbagai konsentrasi telah memberikan respon
pertumbuhan akar. Wattimena (2000), pada konsentrasi yang tinggi, sitokinin
mampu mendorong proliferasi tunas, dan sebaliknya dapat menghambat pembentukan
akar.
Secara
interaksi dapat dilihat bahwa perlakuan A3K0 tidak berbeda nyata dengan
perlakuan A2K2, A3K2, namun berbeda nyata dengan perlakuan A2K0, A3K3, A3K1,
A0K2, A0K0, A0K3, A1K3, A0K1, A2K3, A1K2, A2K1, A1K1, A1K0. Sedangkan jumlah
akar yang paling banyak adalah A3K0 yaitu dengan jumlah akar 21.11 buah dan
jumlah akar yang paling rendah adalah A1K0 yaitu dengan jumlah akar 5.22 buah
Menurut
Hendaryono dan Wijayanti (1994), penggunaan zat pengatur tumbuh akan mengiduksi
pembentukan kalus, tunas, dan jumlah akar. Hasil penelitian yang dilakukan
selama 30 hari menunjukkan bahwa eksplan daun tembakau Nicotiana tabacum L.
Prancak-95 yang diinokulasi dalam medium MS dengan penambahan zat pengatur
tumbuh IAA (auksin) dan Kinetin (sitokinin) dalam berbagai kombinasi
konsentrasi telah memberikan respon pertumbuhan tunas dan akar.
Panjang Akar
Berdasarkan analisis
sidik ragam dari data hasil pengamatan parameter Panjang akar , menunjukan
bahwa perlakuan secara tunggal IAA, berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas dan
pemberian Kinetin secara tunggal juga berpengaruh nyata terhadap panjang akar
pada eksplan pisang kepok. Secara interaksi antara pemberian konsentrasi IAA
dan Kinetin berpengaruh nyata terhadap panjang akar. Untuk lebih jelasnya
mengenai hasil pengamatan panjang akat setelah dilakukan uji lanjut BNJ pada
taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 5.
Rerata Panjang Akar (cm) Eksplan Pisang Kepok dengan
perlakuan konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
|
Konsentrasi
IAA
(ppm)
|
Konsentrasi
Kinetin (ppm)
|
Rerata
|
|||
|
K0 (0)
|
K1 (2)
|
K2 (4)
|
K3 (6)
|
||
|
A0
(0)
|
3.51 d
|
5.01 c
|
3.59 cd
|
3.71 cd
|
3.95 c
|
|
A1
(1)
|
3.74 cd
|
4.93 c
|
4.62 c
|
6.50 bc
|
4.95 b
|
|
A2
(2)
|
5.27 c
|
6.95 b
|
7.55 ab
|
8.93 a
|
7.18 a
|
|
A3
(3)
|
5.09 c
|
4.93 c
|
6.89 b
|
2.48 de
|
4.85 b
|
|
Rerata
|
4.40 b
|
5.46 a
|
5.66 a
|
5.41 a
|
|
|
KK =
9.82% BNJ A = 0.35 BNJ K = 0.35 BNJ AK = 1.49
|
|||||
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama
tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf 5%.
Pemberian
konsentrasi IAA pada Perlakuan A2 (2 ppm) berbeda nyata dengan A1 (1 ppm), A3
(3 ppm), A0 (0 ppm). Dilihat dari angka panjang akar paling tinggi dan
pertumbuhannya baik adalah A2 dengan
panjang akar 7.8 cm, diikuti A1 dengan panjang akar 4.95 cm kemudian A3 dengan
panjang akar 4.84 cm dan terendah adalah A0 dengan panjang akar 3.95 cm
IAA terdapat di akar pada konsentrasi yang hampir sama dengan di
bagian tumbuhan lainnya (Salisbury dan Ross 1995).
Pemberian konsentrasi Kinetin pada perlakuan
K2 (4 ppm/l), K1 (2 ppm/l), K3 ( 6 ppm/l) berbeda nyata dengan K0 (tanpa
kinetin). Perlakuan yang paling tinggi jumlah akarnya adalah K2 yaitu 5.66
cm diikuti oleh K1 yaitu 5.49 cm kmudian
K3 dengan panjang akar 5.41 cm dan yang rendah adalah K0 dengan panjang akar
4.40 cm.
Dilihat
dari tabel dapat dilihat dan diperhatikan bahwa secara interaksi perlakuan A2K3
tidak berbeda nyata dengan perlakuan A2K2, namun berbeda nyata dengan perlakuan
lainya yaitu A2K1, A3K2, A1K3, A2K0, A3K0, A0K1, A3K1, A1K1, A1K2, A1K0, A0K3,
A0K2, A0K0, A3K3. Dalam angka yang tinggi panjang akarnya adalah A2K3 (2 ppm
IAA dan 6 ppm kinetin) dengan panjang akar 8.93 cm dan yang paling rendah
adalah A3K3 (3 ppm IAA dan 6 ppm kinetin) dengan panjang akar 2.48 cm, Ini
berarti konsentrasi yang cocok untuk pemanjangan akar adalah 2 ppm IAA dan 4 ppm kinetin. Hal ini sesuai
dengan pendapat Ali (2007) bahwa keseimbangan auksin dan sitokinin mampu
mengontrol pembentukan akar secara in vitro.
KESIMPULAN
1.
Pemberian
perlakuan IAA berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan Umur muncul tunas
yaitu A2 (8.22 hari), jumlah tunas yaitu A1 (3.83 buah), tinggi tunas yaitu A3
(7.87 cm), jumlah akar yaitu (17.47 buah) dan panjang akar yaitu (7.8 cm).
2.
Pemberian
perlakuan Kinetin berpengaruh nyata terhadap parameter Umur muncul tunas yaitu
K3 (9.22 hari), jumlah tunas yaitu K0 (3.94 buah), tinggi tunas yaitu K3 (7.36
cm), jumlah akar yaitu (15.44 buah) dan panjang akar yaitu (5.66 cm).
3.
Interaksi
perlakuan IAA dan Kinetin berpengaruh nyata terhadap parameter Umur muncul
tunas yaitu A0A1 (6.11 hari), jumlah tunas yaitu A1K0 (5.11 buah), tinggi tunas
yaitu A3K3 (10.00 cm), jumlah akar yaitu (21.11 buah) dan panjang akar yaitu
(8.93 cm).
DAFTAR PUSTAKA.
Abidin. 1995. Zat Pengatur Tumbuh. Angkasa Bandung.
Bandung
Ali, G., Hadi, Z. Ali, M. Tariq. And M. A. Khan. 2007.
Callus Induction and in vitro Complete
Plant Regeneration of Different Cultivars ot Tobacco (Nicotiana tabacum L.) on Media of different Hormonal Concertation.
Bioteknology. Vol 6(4): 561-566
Badan Pusat Statistik 2009, Neraca Ekspor Impor Produksi Holtikultura. http//www.bps. co. id. 9
Februari 2005
Cahyono, B.1995. Pisang
Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Kanisius. Yokyakarta.
George, E. F. and P. D. Sherrington. 1984.
PlantPropogation by Tissue Culture.
Gunawan, L.W. 1992. Teknik
Kultur In Vitro dalam Hortikultura. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hendrayono, D. P. S. dan A. Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan, Pengenalan dan
Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Modern. Kanisius. Yokyakarta.
Lingga, P. 1996. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah.
Penebar swadaya. Jakarta.
Nugroho, A. dan Heru Sugito. 2002. Pedoman Pelaksanaan Teknik Kultur Jaringan. Penebar Swadaya
Jakarta.
Priyono, D. Suhandi, dan Matsaleh, 2000. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh IAA dan 2-IP
pada Kultur Jaringan Bakal Buah Pisang. Jurnal Holtikultura.
Salisbury, F. B. dan Ross, 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid
3. Terjemahan oleh Lukman dan Samaryono. ITB. Bandung
Sriyanti. D. P. dan A Wijayani 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yayasan Kanisius. Yokyakarta.
Suyanti dan A. Supriyadi. 2008. Pisang : Budidaya Pengolahan, dan Prospek Pasar.
Penebara Swadaya. Jakarta
Utami ESW. 1998. Pengaruh Penambahan Ragi Roti Sebagai
Alternatif Pengganti Zat Pengatur Tumbuh BA Untuk Diferensiasi Pada Kultur Jahe
Merah (Zingiber officinale var. sunti
val). Fakultas MIFA Universitas Airlangga.
Wattimena, G. A. 1988, 1991, 2000. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas. Institut
Pertanian Bogor. Bogor
Willkins, 1992. Bioteknologi Tanaman PAU IPB. Bogor.