Selasa, 04 Februari 2014

JGS VOL 3 HAL 101-108


PENGARUH  KONSENTRASI IAA (Indole Acetic Acid) DAN KINETIN  TERHADAP PERTUMBUHAN SUB KULTUR JARINGAN  PISANG KEPOK (Musa paradisiaca L)
SECARA IN-VITRO

Yoyon Riono, Rover dan Tri Nopsagiarti
Prodi Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Swarnadwipa Teluk Kuantan
Jl. Gatot Subroto KM 7 Jake Tlpn. 081268855945 Fax (0760)7014730 Teluk Kuantan


ABSTRACT

The study was carried out at the Laboratory of Plant Biotechnology Faculty of Agriculture, University of Islam Riau Pekanbaru. The timing of the study during the three months from November 2102 to January 2013. The design used in this study is the factorial experiment in completely randomized design (CRD), which consists of two factors and three replications. The first factor is the provision of IAA : A0 (0 ppm), A1 (1 ppm), A2 (2 ppm), and A3 (3 ppm). While the second factor is the provision of Kinetin : K0 (0 ppm), K1 (2 ppm), K2 (4 ppm), and K3 (6 ppm). From the results of this study concluded that the provision of various concentrations of IAA treatment and provision of various concentrations of Kinetin treatment singly provide significant effect on all parameters of the observations with the best treatment K3 (6 ppm kinetin administration) that life emerged shoots (9:22 today), number of shoots K0 (3.94 fruit), shoot height K3 (7:36 cm), root number K2 (15:44 fruit) and K2 root length (5.66 cm). The interaction of treatment provision of various concentrations of IAA and Kinetin gave significant effect on the age of the observation parameters appear shoots with the best treatment in the combination treatment A0K1 (without giving IAA and Kinetin giving 2 ppm), namely age emerged shoots (6.11 days) and significantly affected the number of parameters shoots A1K0 (2:11 fruit) and shoot height A3K3 (10.00 cm) and number of roots A3K0 (21:11 cm) and A2K3 root length (8.93 cm).

Key words : Pisang Kepok, IAA (Indol Acetic Acid), Kinetin, in-vitro.


PENDAHULUAN

Produksi buah pisang di Indonesia menduduki urutan pertama diantara buah-buahan tropika yang lain (BPS 2008), walaupun pernah mengalami penurunan drastis dari 3.805.431 ton pada tahun 1995 menjadi 3.023.485 ton di tahun 1996 dan 3.376.660 ton di tahun 2000. Hal tersebut berpengaruh pada volume ekspor pisang; dari 76.982 ton di tahun 1998 menurun menjadi 2.222 ton di tahun 2000 (BPS 2000). Dari tahun 2001 sampai 2005 terjadi peningkatan produksi pisang berturut-turut adalah 4.300.422, 4.384.384, 4.177.155, 4.874.439 dan 5.177.608 ton (BPS 2005). Produksi pisang tahun 2008 meningkat menjadi 6.004.615 ton/tahun (BPS 2008) dan tahun 2009 menjadi 6.373.533 ton/tahun.
Konsumsi pisang di Indonesia cukup tinggi, pada tahun 2005 konsumsi buah pisang perkapita sebanyak 8.889 kg per tahun. Konsumsi ini lebih besar dibandingkan dengan konsumsi perkapita jeruk 6.24 kg per tahun dan papaya 3.28 kg per tahun (Suyanti dan Supryadi, 2008). Nilai ekspor pisang di Indonesia pada tahun 2006 adalah sebesar Rp. 15.923.313.840,-. Nilai ini merupakan jumlah yang besar sebagai pendapatan negara dari komoditas pisang sehingga pisang merupakan komoditas yang prospek pengembangannya masih terbuka lebar.
Menurut Cahyono (1995), permintaan komoditas pisang dalam negeri akan terus mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya pendidikan, meningkatnya pendapatan dan kesadaran akan pentingnya gizi masyarakat.
Dewasa ini, kendala pengadaan bibit unggul secara konvensional adalah sulit mendapatkan bibit yang berkualitas dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat,  dengan demikian salah satu teknik yang terapkan adalah teknik kultur jaringan, dimana teknik ini merupakan keunggulan perbanyakan tanaman, melalui teknik kultur jaringan sangat dimungkinkan mendapatkan bahan tanam dalam jumlah besar dalam jumlah singkat (Priyono et al., 2000).
Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan  bagi proses pembiakan tersebut dapat terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi beberapa hal berikut ini : Pemilihan eksplan atau bahan tanaman, penggunaan media yang cocok, keadaan aseptik dan pengaturan udara yang baik (Nugroho dan Sugito, 2002).
Menurut Gunawan (1990), dari sekian banyak jenis media dasar yang digunakan dalam teknik kultur jaringan, tampaknya media MS (Murashige-Skoog) mengandung jumlah hara organik yang layak untuk memenuhi kebutuhan banyak jenis sel tanaman dalam kultur jaringan.
Media tanam memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan kultur jaringan. Dalam media tanam kultur jaringan terdapat penambahan zat pengatur tumbuh. Tanaman membutuhkan zat pengatur tumbuh alami (fitohormon) untuk proses pertumbuhan, yaitu zat pengatur tumbuh auksin dan sitokonin. Zat pengatur tumbuh berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman, misalnya pertumbuhan akar, tunas, perkecambahan dan sebagainya (Hendrayono dan Wijayani, 1994).
Zat pengatur tumbuh golongan auksin terdiri dari Indol Asam Asetat (IAA), Indol Asam Butirat (IBA), Naftalen Asam Asetat (NAA), dan 2,4 D. Zat pengatur tumbuh dalam golongan Sitokonin terdiri dari Kinetin, Zeatin, Ribosil dan Benzil Aminopurin (BAP) (Hendrayono dan Wijayani, 1994). Dalam pertumbuhan jaringan, sitokinin bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap deferensiasi jaringan (Hendrayono dan Wijayani, 1994).
Dalam kultur jaringan, golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin (Gunawan, 1990), salah satunya adalah  IAA (Indol Asam Asetat) adalah zat pengatur tumbuh yang tergolong kedalam auksin. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukan bahwa auksin dapat meningkatkan sintesa protein. Dengan adanya kenaikan sintesa protein, maka dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan.
Kinetin (6-fufury amino purine) tergolong zat pengatur tumbuh dalam kelompok sitokonin. Kinetin adalah kelompok sitokinin yang berfungsi untuk pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis. Dalam pertumbuhan jaringan tanaman, sitokinin bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap deferensiasi jaringan (Sriyanti dan Wijayani, 1994)
Komposisi auksin dan sitokinin dalam media kultur jaringan memainkan peranan penting dalam induksi dan regenerasi kalus menjadi tunas, pada eksplan tembakau yang digunakan adalah daun muda yang ditanam pada media MS (Murashig-Skoog), yaitu pada 2 : 3 telah berhasil menginduksi tunas dan akar
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi IAA terhadap pertumbuhan sub kultur jaringan pisang kepok secara in vitro (2) Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Kinetin terhadap pertumbuhan sub kultur jaringan pisang kepok secara in vitro (3) Untuk mengetahui pengaruh interaksi konsentrasi IAA dan Kinetin terhadap pertumbuhan sub kultur jaringan pisang kepok secara in vitro

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau Jalan Kaharudin Nasution Km 113 Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Marpoyan, Kota Pekanbaru. Waktu penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari bulan Nopember 2012 sampai Januari 2013.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tunas subkultur pisang kepok (hasil inisiasi dari tim laboratorium bioteknologi UIR) yang telah disubkultur selama tiga bulan, bahan kimia Media Murashige-Skoog, aquades steril, Alkohol 96%, vitamin, agar swallow, glukosa, tissue gulung, plastik ukuran 1 kg IAA, Kinetin, deterjen, kertas tisu, kertas label, karet gelang, label nama dan bahan-bahan lain  yang mendukung penelitian ini.
Sedangkan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laminar air flow cabinet, autoclave, timbangan analitik, erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, petridish, jarum injeksi, pipet, pengaduk kaca, pinset, scapel, lampu spritus, hand sprayer, pisau, pH meter, botol kultur, kompor gas, panci berlapis enamel, lemari penyimpan bahan kimia, tabung reaksi, labu ukur, gunting, rak kultur, ember plastik, alat tulis dan alat-alat lain yang mendukung penelitian ini.

Rancangan Penelitian
Rancangan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor, faktor pertama adalah pemberian IAA (A) yang terdiri dari 4 taraf dan faktor kedua adalah  pemberian kinetin (K) yang terdiri dari 4 taraf.
Faktor pertama (A) adalah IAA yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu :
A0        : Tanpa pemberian IAA
A1        : Pemberian IAA 1 ppm 
A2        : Pemberian IAA 2 ppm 
A3        : Pemberian IAA 3 ppm 
Faktor kedua (K) adalah Kinetin yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu :
K0        : Tanpa Pemberian Kinetin        
K1 : Pemberian Kinetin 2 ppm   
K2 : Pemberian Kinetin 4 ppm   
K3 : Pemberian Kinetin 6 ppm
Seluruh data dianalisis secara statistik dan diuji lanjut dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) Taraf 5%. 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Umur Muncul Tunas (Hari)
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam dari data parameter Umur muncul tunas, pemberian berbagai konsentrasi IAA berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas eksplan pisang Kepok. Pemberian berbagai konsentrasi Kinetin juga berpengaruh nyata terhadap umur eksplan pisang Kepok. Serta secara interaksi pemberian IAA dan Kinetin juga berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas. Untuk lebih jelasnya mengenai hasil pengamatan umur bertunas setelah dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut ini.


Tabel 1.   Rerata Umur Muncul Tunas (HST) Eksplan Pisang Kepok dengan perlakuan konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
Konsentrasi IAA
(ppm)
Konsentrasi Kinetin (ppm)
Rerata
K0 (0)
K1 (2)
K2 (4)
K3 (6)
     A0    (0)
20.89  e
6.11  a
8.44  ab
9.00 b
11.11 c
     A1    (1)
7.00    ab
16.33  d
17.55  d
6.56 ab
11.86 c
     A2    (2)

7.33    ab
6.56  ab
11.00  bc
8.00 ab
8.22 a
     A3    (3)

7.11    ab
8.78   ab
8.11   ab
13.33 c
9.33 b
Rerata
10.58 b
9.45 a
11.28 b
9.22 a
  
KK = 9,82%          BNJ A  =  1,06           BNJ K = 1,06             BNJ AK = 2,94
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf  5%.

           

Secara tunggal, pemberian konsentrasi IAA A2 (2 ppm) berbeda nyata dengan A3 (3 ppm) A1 (1 ppm) A0 (tanpa IAA), sedangkan pemberian konsentrasi IAA A0 (tanpa IAA) tidak berbeda nyata dengan A1 (1 ppm). Perlakuan IAA yang paling cepat bertunasnya adalah A2 yaitu 8.22 HST diikuti oleh A3 dengan umur bertunas 9.33 HST kemudian A0 dengan umur bertunas 11.11 HST dan yang paling rendah adalah A1 dengan umur bertunas 11.86 HST.
Menurut Lingga (1996) bahwa zat pengatur tumbuh merupakan senyawa oganik yang dalam jumlah tertentu dapat mendukung atau menghambat proses pertumbuhan fisiologis tanaman, juga berpengaruh terhadap aspek pertumbuhan, diferensiasi jaringan maupun organ.
            Dari tabel juga dapat dilihat bahwa pemberian Kinetin secara tunggal K3 (6 ppm) dan K1 (2 ppm) berbeda nyata dengan K0 (tanpa Kinetin) dan K2 (4 ppm). Perlakuan terbaik untuk umur tunas terdapat pada perlakuan K3 yaitu 9.22 hari pada penelitian ini konsentrasi Kinetin yang tinggi dapat mempercepat pertumbuhan tunas dan tunas-tunas yang dihasilkan dengan konsentrasi 6 ppm 9.22 hari, K1 (2 ppm) 9.45 hari, menghasilkan tunas yang lebih kokoh bila dibandingkan dengan perlakuan K0 (10.58 hari). Sedangkan perlakuan K2 (4 ppm) pertumbuhan tunasnya terganggu karena kinetin yang diberikan jumlahnya lebih rendah dan tunas-tunas yang dihasilkan lebih pendek, hal ini diduga konsentrasi kinetin 4 ppm tidak  mampu untuk pembelahan sel, ini jelas terlihat bahwa dalam kultur jaringan pisang kepok menginginkan konsentrasi relative tinggi yaitu 6 ppm, hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi pemberian kinetin maka akan semakin meningkat pula pertumbuhan tunas eksplan pisang kepok.
            Dari tabel 1, secara interaksi hasil tercepat eksplan Pisang Kepok mengeluarkan tunas adalah pada perlakuan A0K1 (0 ppm IAA dan 2 ppm Kinetin) yaitu 6.11 HST dan perlakuan yang lama umur muncul tunas adalah pada perlakuan A0K0 (tanpa IAA dan tanpa Kinetin) 20.89 HST.


Jumlah Tunas (buah)
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam  dari data hasil pengamatan parameter Jumlah Tunas, maka perlakuan secara tunggal IAA berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas dan pemberian Kinetin secara tunggal  juga berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas pada eksplan pisang kepok. Secara interaksi terlihat bahwa pemberian konsentrasi IAA dan Kinetin juga berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas. Untuk lebih jelasnya mengenai hasil pengamatan jumlah tunas setelah dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut ini.


Tabel 2.   Rerata Jumlah Tunas (buah) Eksplan Pisang Kepok dengan perlakuan konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
Konsentrasi IAA
(ppm)
Konsentrasi Kinetin (ppm)
Rerata
K0 (0)
K1 (2)
K2 (4)
K3 (6)
     A0    (0)
2.56 cd
2.11 d
2.78 cd
2.89 cd
2.58 c
     A1    (1)
5.11 a
2.44 cd
2.78 cd
5.00 ab
3.83 a
     A2    (2)

3.11 c
4.00 b
2.89 cd
2.11 d
3.03 b
     A3    (3)

5.00 ab
4.78 ab
2.56 cd
2.11 d
3.61 a
Rerata
3.94 a
3.33 b 
2.75 c
3.03 bc
  
KK = 9,20%           BNJ A  =  0,30            BNJ K = 0,30             BNJ AK = 0,87
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf  5%.


Pemberian konsentrasi IAA pada perlakuan A3 (3 ppm) dan A1 (1 ppm) berbeda nyata dengan A2 (2 ppm) dan A0 (tanpa IAA). Jumlah tunas yang paling banyak terdapat pada perlakuan A1 dengan jumlah tunas 3.83 buah dan diikuti oleh A3 dengan jumlah tunas 3.61 buah, kemudian A2 dengan jumlah tunas 3.03 buah dan terakhir A0 dengan jumlah tunas 2.58 buah. Dari tabel dapat dilihat bahwa pemberian IAA pada konsentrasi yang lebih rendah menghasilkan jumlah tunas yang banyak A1 dan begitu juga eksplan pisang kepok yang konsentrasi nya tinggi A3 juga menghasilkan tunas yang banyak namun IAA yang konsentrasinya sedang A2 dan tanpa diberi IAA A0  mengalami pertumbuhan tunas sedikit. Berarti eksplan pisang kepok menginginkan IAA yang rendah yaitu 1 ppm atau IAA yang tinggi yaitu 3 ppm dalam memperbanyak jumlah tunasnya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (1995) yang mengemukakan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dengan mengikuti konsentrasi anjuran, hal ini juga di karenakan IAA adalah sejenis hormon auksin yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru karena auksin terdapat pada pucuk-pucuk tunas muda atau pada jaringan meristem di pucuk, hormon auksin juga berfungsi untuk merangsang daya kerja akar sehingga dapat memenuhi kebutuhan makanan untuk perbanyakan jumlah tunas.
     Pemberian konsentrasi Kinetin pada perlakuan K0 (tanpa kinetin) dan K3 (6 ppm) berbeda nyata dengan K1 (2 ppm) dan K2 (4 ppm). Dilihat dari angka, perlakuan yang paling banyak jumlah tunasnya adalah K0 dengan jumlah tunas 3.94 buah dan diikuti oleh K3 dengan jumlah tunas 3.03 buah kemudian K1 dengan jumlah tunas 3.33 buah dan yang paling sedikit jumlah tunasnya adalah K2 dengan jumlah tunas 2.72 buah. Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan K0 (tanpa kinetin) hal ini diduga fitohormon yang terdapat didalam tanaman mampu membentuk tunas walaupun tidak ditambahkan zat pengatur tumbuh
     Utami (1998) mengemukakan bahwa sitokinin berperan memacu terjadinya sintesis RNA dan protein pada jaringan yang selanjutnya dapat mendorong terjadinya pembelahan sel. Selain itu juga dapat memacu jaringan untuk menyerap air dari sekitarnya sehingga proses sintesis protein dan pembelahan sel dapat berjalan dengan baik.
Secara interaksi dapat dilihat bahwa perlakuan A1K0 yang merupakan perlakuan terbaik dengan jumlah tunas 5.11 buah tidak berbeda nyata dengan perlakuan A1K3, A3K0, dan A3K1 namun berbeda nyata dengan A2K1, A2K0, A0K3, A2K2, A1K2, A0K2, A3K2, A0K0, A1K1, A3K3, A2K3, A0K1, jumlah tunas yang paling sedikit terdapat pada perlakuan A0K1 dengan junlah tunas 2.11 buah

Tinggi tunas
Berdasarkan analisis sidik ragam, pemberian utama konsentrasi IAA secara tunggal berpengruh nyata terhadap tinggi tunas dan pemberian secara tunggal Kinetin juga memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tunas pada eksplan pisang kepok. Serta secara interaksi pemberian konsentrasi IAA dan Kinetin berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas. Untuk lebih jelasnya mengenai hasil pengamatan tinggi tunas setelah dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut ini.


Tabel 3.   Rerata Tinggi Tunas (cm) Eksplan Pisang Kepok dengan perlakuan konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
Konsentrasi IAA
(ppm)
Konsentrasi Kinetin (ppm)
Rerata
K0 (0)
K1 (2)
K2 (4)
K3 (6)
     A0    (0)
4.32 c
6.20 bc
5.00 c
4.96 c
5.12 c
     A1    (1)
5.08 c
5.12 c
5.57 c
7.45 b
5.81 b
     A2    (2)

5.40 c
5.02 c
4.89 c
7.02 b
5.58 b
     A3    (3)
6.20 bc
7.29 b
8.00 b
10.00 a
7.87 a
Rerata
5.25.c
5.91 b
5.86 b
7.36 a
  
KK = 7.36%              BNJ A = 0.45          BNJ K = 0.45           BNJ AK = 1.29
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf  5%.

  

Secara tunggal, pemberian konsentrasi IAA 3 ppm (A3) berbeda nyata dengan A1 (1 ppm), A2 (2 ppm) dan A0 (0 ppm), dilihat dari tinggi tunas tertinggi terdapat pada perlakuan A3 yaitu dengan tinggi tunas 7.87 cm , diikuti A2 dengan tinggi tunas 5.85 cm kemudian A1 dengan tinggi tunas 5.81 cm dan terendah adalah A0 dengan tinggi tunas 5.12 cm.
Abidin (1995) mengemukakan bahwa zat pengatur tumbuh merupakan senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam konsentrasi yang berbeda dapat merangsang, menghambat atau merubah tanaman secara kualitatif maupun kuantitatif. Zat pengatur tumbuh IAA merupakan golongan auksin disintesis yang paling sering digunakan dalam in-vitro.
       Pemberian konsentrasi Kinetin pada perlakuan K3 (6 ppm) berbeda nyata dengan K1 (2 ppm), K2 (4 ppm) dan K0 (tanpa Kinetin). Perlakuan Kinetin yang paling tinggi tunasnya adalah K3 yaitu 7.36 cm diikuti K1 dengan tinggi tunas 5.91 cm dan diikuti K2 dengan tinggi tunas 5.85 cm dan yang paling rendah adalah K0 (tanpa Kinetin) Dari hasil penelitian Wilkins (1992) dalam Sutriana (2010) mengemukakan bahwa pertumbuhan tunas tanaman terutama tinggi merupakan hasil pendayagunaan fotosintesis yang ada didalam tanaman, kemudian pada sel terjadi proses metabolisme sehingga sel-sel tanaman terus berkembang dan bertambah tunasnya, kegiatan tersebut dapat aktif dengan adanya pemberian zat pengatur tumbuh pada tanaman.
       Secara interaksi perlakuan A3K3 yang merupakan perlakuan terbaik berbeda nyata dengan semua perlakuan yaitu A3K2, A1K3, A3K1, A2K3, A0K1, A3K0, A1K2, A2K0, A1K1, A1K0, A2K1, A2K0, A0K3, A2K2, A0K0. Tinggi tunas yang paling tinggi adalah A3K3 dengan tinggi tunas 10.00 cm dan tunas terendah adalah A0K0 dengan tinggi tunas 4.32 cm, hal ini menggambarkan bahwa eksplan pisang kepok untuk pertumbuhan tunas, IAA tinggi dan kinetin tinggi. Sedangkan tanpa pemberian IAA dan tanpa pemberian kinetin pertumbuhan tunas pisang kepok terganggu dan menyebabkan eksplannya menjadi kerdil.

Jumlah Akar
Berdasarkan hasil analasis sidik ragam, dari data hasil pengamatan parameter Jumlah Akar, maka perlakuan secara tunggal IAA, berpengaruh nyata terhadap jumlah akar dan pemberian Kinetin secara tunggal juga  berpengaruh nyata terhadap jumlah akar pada eksplan  pisang kepok. Secara interaksi antara pemberian konsentrasi IAA dan Kinetin juga berpengaruh nyata terhadap jumlah akar. Untuk lebih jelasnya mengenai hasil pengamatan jumlah akar setelah dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut ini.





Tabel 4.  Rerata Jumlah Akar (buah) Eksplan Pisang Kepok dengan perlakuan konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
Konsentrasi IAA
(ppm)
Konsentrasi Kinetin (ppm)
Rerata
K0 (0)
K1 (2)
K2 (4)
K3 (6)
     A0    (0)
13.33 c
11.67 c
14.44 bc
13.00 c
13.11 b
     A1    (1)
5.22 d
5.33 d
8.56 cd
12.22 c
7.83 c
     A2    (2)

15.55 b
8.33 cd
20.00 a
9.33 cd
13.30 b
     A3    (3)
21.11 a
15.00 bc
18.78 ab
15.00 bc
17.47 a
Rerata
13.80 b
10.08 d
15.44 a
12.39 c
  
KK = 8.98%           BNJ A = 1.25            BNJ K = 1.25            BNJ AK = 3.46
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf  5%.


   Secara tunggal, pemberian konsentrasi IAA A3 (3 ppm) berbeda nyata dengan A2 (2 ppm), A0 (0 ppm) dan A1 (1 ppm). Perlakuan IAA yang paling banyak jumlah akarnya adalah A3 yaitu 17.47 buah diikuti oleh A2 yaitu 13.30 buah kemudian A0 dengan jumlah akar 13.11 buah dan paling sedikit adalah A1 dengan jumlah akar 7.83 buah.
George dan Sherington (1984) menyatakan auksin berpengaruh luas terhadap pertumbuhan, merangsang dan mempercepat pertumbuhan akar, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas akar.
Pemberian konsentrasi Kinetin pada perlakuan K2 (4 ppm) berbeda nyata dengan K0 (tanpa kinetin) dan K3 (6 ppm) dan K1 ( 2 ppm). Angka tertinggi pada jumlah akar K2 yaitu 15.44 buah dan menginginkan kinetin yang sedang untuk pertumbuhan jumlah akarnya dan jumlah akar yang dihasilkan dengan konsentrasi K2 (4 ppm) menunjukan pertumbuhan yang baik, akarnya banyak dan bagus-bagus kalau dilihat dan dibandingkan dengan K0 (tanpa kinetin) 13.30 buah yang sifat pertumbuhannya sedikit. Sedangkan K1 (2 ppm) 10.08 buah, K3 (6 ppm) 12.39 buah pertumbuhan jumlah akarnya terganggu , ternyata untuk pertumbuhan jumlah akar tidak cocok untuk diberikan dalam jumlah sedang.
Dimana Kinetin (sitokinin) dalam berbagai konsentrasi telah memberikan respon pertumbuhan akar. Wattimena (2000), pada konsentrasi yang tinggi, sitokinin mampu mendorong proliferasi tunas, dan sebaliknya dapat menghambat pembentukan akar.
Secara interaksi dapat dilihat bahwa perlakuan A3K0 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A2K2, A3K2, namun berbeda nyata dengan perlakuan A2K0, A3K3, A3K1, A0K2, A0K0, A0K3, A1K3, A0K1, A2K3, A1K2, A2K1, A1K1, A1K0. Sedangkan jumlah akar yang paling banyak adalah A3K0 yaitu dengan jumlah akar 21.11 buah dan jumlah akar yang paling rendah adalah A1K0 yaitu dengan jumlah akar 5.22 buah
Menurut Hendaryono dan Wijayanti (1994), penggunaan zat pengatur tumbuh akan mengiduksi pembentukan kalus, tunas, dan jumlah akar. Hasil penelitian yang dilakukan selama 30 hari menunjukkan bahwa eksplan daun tembakau Nicotiana tabacum L. Prancak-95 yang diinokulasi dalam medium MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh IAA (auksin) dan Kinetin (sitokinin) dalam berbagai kombinasi konsentrasi telah memberikan respon pertumbuhan tunas dan akar.

Panjang Akar

Berdasarkan analisis sidik ragam dari data hasil pengamatan parameter Panjang akar , menunjukan bahwa perlakuan secara tunggal IAA, berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas dan pemberian Kinetin secara tunggal juga berpengaruh nyata terhadap panjang akar pada eksplan pisang kepok. Secara interaksi antara pemberian konsentrasi IAA dan Kinetin berpengaruh nyata terhadap panjang akar. Untuk lebih jelasnya mengenai hasil pengamatan panjang akat setelah dilakukan uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel berikut ini





Tabel 5.   Rerata Panjang Akar (cm) Eksplan Pisang Kepok dengan perlakuan konsentrasi IAA dan konsentrasi Kinetin.
Konsentrasi IAA
(ppm)
Konsentrasi Kinetin (ppm)
Rerata
K0 (0)
K1 (2)
K2 (4)
K3 (6)
     A0    (0)
3.51 d
5.01 c
3.59 cd
3.71 cd
3.95 c
     A1    (1)
3.74 cd
4.93 c
4.62 c
6.50 bc
4.95 b
     A2    (2)
5.27 c
6.95 b
7.55 ab
8.93 a
7.18 a
     A3    (3)
5.09 c
4.93 c
6.89 b
2.48 de
4.85 b
Rerata
4.40 b
5.46 a
5.66 a
5.41 a
  
KK = 9.82%                 BNJ A = 0.35           BNJ K = 0.35       BNJ AK = 1.49
Angka-angka pada baris dan kolom yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji lanjut BNJ pada taraf  5%.
    

Pemberian konsentrasi IAA pada Perlakuan A2 (2 ppm) berbeda nyata dengan A1 (1 ppm), A3 (3 ppm), A0 (0 ppm). Dilihat dari angka panjang akar paling tinggi dan pertumbuhannya baik adalah  A2 dengan panjang akar 7.8 cm, diikuti A1 dengan panjang akar 4.95 cm kemudian A3 dengan panjang akar 4.84 cm dan terendah adalah A0 dengan panjang akar 3.95 cm
     IAA terdapat di akar pada konsentrasi yang hampir sama dengan di bagian tumbuhan lainnya (Salisbury dan Ross  1995). 
                 Pemberian konsentrasi Kinetin pada perlakuan K2 (4 ppm/l), K1 (2 ppm/l), K3 ( 6 ppm/l) berbeda nyata dengan K0 (tanpa kinetin). Perlakuan yang paling tinggi jumlah akarnya adalah K2 yaitu 5.66 cm  diikuti oleh K1 yaitu 5.49 cm kmudian K3 dengan panjang akar 5.41 cm dan yang rendah adalah K0 dengan panjang akar 4.40 cm.
                 Dilihat dari tabel dapat dilihat dan diperhatikan bahwa secara interaksi perlakuan A2K3 tidak berbeda nyata dengan perlakuan A2K2, namun berbeda nyata dengan perlakuan lainya yaitu A2K1, A3K2, A1K3, A2K0, A3K0, A0K1, A3K1, A1K1, A1K2, A1K0, A0K3, A0K2, A0K0, A3K3. Dalam angka yang tinggi panjang akarnya adalah A2K3 (2 ppm IAA dan 6 ppm kinetin) dengan panjang akar 8.93 cm dan yang paling rendah adalah A3K3 (3 ppm IAA dan 6 ppm kinetin) dengan panjang akar 2.48 cm, Ini berarti konsentrasi yang cocok untuk pemanjangan akar adalah  2 ppm IAA dan 4 ppm kinetin. Hal ini sesuai dengan pendapat Ali (2007) bahwa keseimbangan auksin dan sitokinin mampu mengontrol pembentukan akar secara in vitro.
    



KESIMPULAN

1.     Pemberian perlakuan IAA berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan Umur muncul tunas yaitu A2 (8.22 hari), jumlah tunas yaitu A1 (3.83 buah), tinggi tunas yaitu A3 (7.87 cm), jumlah akar yaitu (17.47 buah) dan panjang akar yaitu (7.8 cm).
2.     Pemberian perlakuan Kinetin berpengaruh nyata terhadap parameter Umur muncul tunas yaitu K3 (9.22 hari), jumlah tunas yaitu K0 (3.94 buah), tinggi tunas yaitu K3 (7.36 cm), jumlah akar yaitu (15.44 buah) dan panjang akar yaitu (5.66 cm).
3.     Interaksi perlakuan IAA dan Kinetin berpengaruh nyata terhadap parameter Umur muncul tunas yaitu A0A1 (6.11 hari), jumlah tunas yaitu A1K0 (5.11 buah), tinggi tunas yaitu A3K3 (10.00 cm), jumlah akar yaitu (21.11 buah) dan panjang akar yaitu (8.93 cm).


DAFTAR PUSTAKA.

Abidin. 1995. Zat Pengatur Tumbuh. Angkasa Bandung. Bandung
Ali, G., Hadi, Z. Ali, M. Tariq. And M. A. Khan. 2007. Callus Induction and in vitro Complete Plant Regeneration of Different Cultivars ot Tobacco (Nicotiana tabacum L.) on Media of different Hormonal Concertation. Bioteknology. Vol 6(4): 561-566
Badan Pusat Statistik 2009, Neraca Ekspor Impor Produksi Holtikultura. http//www.bps. co. id. 9 Februari 2005
Cahyono, B.1995. Pisang Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Kanisius. Yokyakarta.

George, E. F. and P. D. Sherrington. 1984. PlantPropogation by Tissue Culture.
Gunawan, L.W. 1992. Teknik Kultur In Vitro dalam Hortikultura. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hendrayono, D. P. S. dan A. Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan, Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Modern. Kanisius. Yokyakarta.
Lingga, P. 1996. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Penebar swadaya. Jakarta.
Nugroho, A. dan Heru Sugito. 2002. Pedoman Pelaksanaan Teknik Kultur Jaringan. Penebar Swadaya Jakarta.
Priyono, D. Suhandi, dan Matsaleh, 2000. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh IAA dan 2-IP pada Kultur Jaringan Bakal Buah Pisang. Jurnal Holtikultura.
Salisbury, F. B. dan Ross, 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Terjemahan oleh Lukman dan Samaryono. ITB. Bandung 
Sriyanti. D. P. dan A Wijayani 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yayasan Kanisius. Yokyakarta.
Suyanti dan A. Supriyadi. 2008. Pisang : Budidaya Pengolahan, dan Prospek Pasar. Penebara Swadaya. Jakarta
Utami ESW. 1998. Pengaruh Penambahan Ragi Roti Sebagai Alternatif Pengganti Zat Pengatur Tumbuh BA Untuk Diferensiasi Pada Kultur Jahe Merah (Zingiber officinale var. sunti val). Fakultas MIFA Universitas Airlangga.
Wattimena, G. A. 1988, 1991, 2000. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Willkins, 1992. Bioteknologi Tanaman PAU IPB. Bogor.